Showing posts with label KESENIAN. Show all posts
Showing posts with label KESENIAN. Show all posts
Kuda lumping

Kuda lumping

01:24 0
Kuda lumping
Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog. Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatera Utara dan di beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia.
Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Konon, tari kuda lumping adalah tari kesurupan. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda. Juga ada yang mengatakan ada hubungannya dengan tari Reog Ponorogo, dan Jaran Kepang dari Kediri dalam cerita Songgolangit.
Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.
Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.
Di Jawa Timur, seni ini akrab dengan masyarakat di beberapa daerah, seperti jamban, kolong jembatan, rel kereta, dan daerah-daerah lainnya. Tari ini biasanya ditampilkan pada ajang-ajang tertentu, seperti menyambut tamu kehormatan, dan sebagai ucapan syukur, atas hajat yang dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.
Dalam pementasanya, tari kuda lumping menggunakan kaca,beling,batu,dan jimat. Para penari kuda lumping sangat gila
Selain mengandung unsur hiburan dan religi, kesenian tradisional kuda lumping ini seringkali juga mengandung unsur ritual. Karena sebelum pagelaran dimulai, biasanya seorang pawang hujan akan melakukan ritual, untuk mempertahankan cuaca agar tetap cerah mengingat pertunjukan biasanya dilakukan di lapangan terbuka.
Dalam setiap pagelarannya, tari kuda lumping ini menghadirkan 4 fragmen tarian yaitu 2 kali tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri.
Pada fragmen Buto Lawas, biasanya ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus. Para penonton pun tidak luput dari fenomena kerasukan ini. Banyak warga sekitar yang menyaksikan pagelaran menjadi kesurupan dan ikut menari bersama para penari. Dalam keadaan tidak sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya.
Untuk memulihkan kesadaran para penari dan penonton yang kerasukan, dalam setiap pagelaran selalu hadir para datuk, yaitu orang yang memiliki kemampuan supranatural yang kehadirannya dapat dikenali melalui baju serba hitam yang dikenakannya. Para datuk ini akan memberikan penawar hingga kesadaran para penari maupun penonton kembali pulih.
Pada fragmen selanjutnya, penari pria dan wanita bergabung membawakan tari senterewe.
Pada fragmen terakhir, dengan gerakan-gerakan yang lebih santai, enam orang wanita membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian atraksi tari kuda lumping.
VERSI LAIN ASAL USUL KUDA LUMPING
Alkisah dizaman dahulu kala ditanah Jawa hiduplah seorang raja nan sakti mandraguna. Raja yang banyak mendengar kisah kepahlawanan Mahabrata. Beliau sangat kagum akan kisah perang Bharatayudha di Kurusetra yang dituturkan oleh para brahmana dan ksatria istana, dan raja yakin perang Bharatayudha akan berulang ditanah Jawa.
Beliau sangat tertarik tentang tentara berkuda dan Arjuna dengan kereta kudanya yang gambarnya dibawa oleh buyutnya dari tanah Alengka, karena beliau sesungguhnya keturunan pelarian Hindu Tamil dari tanah Alengka (Srilangka) negeri yang kini murtad memeluk agama Budha lantaran negerinya sering diejek sebagai negeri Rahwana terkutuk.
Eyang buyut sang raja Hindu melarikan diri ke Jawa Dwipa dan mendirikan kerajaan sekaligus memakai gelar aria, etnis sebuah suku bangsa terkemuka dari tanah India. Tetapi sayang, kulit beliau yang gelap kalau tak mau disebut hitam legam jadi penghalang untuk membedakan warna kulit dengan etnis aria yang sebenarnya lalu beliau mengajarkan kasta tanpa warna sampai kepada sang cucu yang kini memegang tampuk pemerintahan dan selalu menghayalkan punya pasukan berkuda.
Raja pun membuat sayembara kepada siapa saja yang tahu banyak tentang apa dan bagaimana pasukan berkuda yang sebenarnya maka akan dianugerahi kekayaan yang banyak. Hal tersebut didengar oleh pedagang Persia yang kemudian menghadap baginda sambil membawa gambar-gambar pasukan berkuda Persia yang kelihatan gagah perkasa.
“Wahai tuanku raja Jawa yang mulia sebaiknya baginda ikut hamba ke negeri hamba dan melihat sendiri agar tidak penasaran dihati dan mengetahui bahwa semua bukan sekedar gambar khayal sang pelukis”.
Raja membenarkan dan ringkas kata berangkatlah raja disertai hulu balang dan pengawal serta menteri naik ke perahu saudagar Persia. Hal itu terjadi karena raja Jawa tidak punya perahu dan buta ilmu pelayaran. Mereka pun mengarungi samudra sampai akhirnya tiba di bandar Persia. Beliau terpana oleh indahnya bangunan arsitektur Persia nan indah dan megah. Beliau juga terpesona oleh gagahnya tentara berkuda yang bukan hanya tentaranya saja yang posturnya besar tetapi kudanya juga besar-besar. Barisan berkuda yang teratur dengan derapnya yang gemuruh makin membuat raja tercengang.
Ternyata kenyataan yang dilihatnya sekarang, lebih hebat dari gambar yang dibawa sang saudagar. Raja memuji dan menghayalkan kalau saja aku punya tentara berkuda seperti ini tentunya akulah raja terkuat di Jawa dan raja-raja sekitarku akan bertekuk lutut. Puas melihat-lihat, raja pun meminta diantar pulang dan ingin membawa serta kuda-kuda bahkan kalau bisa menyewa tentaranya sekaligus.
“Bagaimana baginda mau membawa kuda? Bukankah baginda, hulubalang serta menteri dan para pengawal sudah memenuhi seluruh ruangan perahu hamba?” tanya sang saudagar.
“Bahkan isteri hamba pun, masih hamba tinggal dipulau seribu demi paduka, karena kapal sudah terlalu penuh muatan” lanjutnya.
Maka diaturlah strategi baru, kuda akan dibawa oleh perahu lain sedangkan tentara Persia tetap tidak mau bekerja di tanah Jawa. Alasannya, mereka tidak doyan pecel dan rempeyek apa lagi tempe mendoan. Tetapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, ditengah samudra datanglah badai yang dahsyat. Baginda raja pucat pasi serta pasukan tak berdaya, perahu pengangkut kuda tenggelam, hanya karena keberuntungan sajalah beliau selamat dan setelah badai reda perjalanan dilanjutkan ketanah Jawa, setelah tiba ditanah Jawa baginda menggelar selamatan dan syukuran pada dewata yang telah melindunginya dan menyesalkan impiannya tentang pasukan berkuda yang belum terwujud dan kandas karena topan badai lautan.
Lalu beliau pergi ke gua untuk bertapa dan mohon petunjuk dewata. Beliau mendapat ilham atau wangsit dimana beliau bisa mewujudkan kedua keinginannya, yakni kuda sekaligus tentaranya. Bahkan ditambah petunjuk dimana orang Jawa sajalah yang bisa jadi kuda dan tentara. Syaratnya dalam wangsit itu hanyalah satu, beliau harus membuat kuda dari bahan gedek bambu dan ijuk agar bisa ditunggangi laskar yang akan jadi kuda.
“Suatu solusi atau jalan keluar yang sangat bagus” kata sang raja dalam hati.
Maka diperintahkanlah prajurit untuk membuat kuda gedek/bambu lalu mereka tunggangi. Namun sebelum jalan, kuda bambu itu dibacakan mantra-mantra terlebih dahulu agar mau makan rumput bahkan makan beling kalau-kalau rumputnya tak ada karena paceklik. Sang raja pun turut menari-nari kesenangan karena semua impiannya terwujud. Nah, mulai sejak itulah kuda gedek jadi sarana angkutan alternatif yang populer sampai saat ini. Dimana-mana ada, baik di tanah Jawa bahkan menyebar hingga ke negara tetangga yang selalu iri sama budaya kita–Malaysia. Kuda gedek alias kuda lumping alias kuda kepang alias jaran kepang alias reog jathilan dan entah apalagi namanya hingga kini masihlah sangat digemari.
sumber : Panji Budhoyo
ASAL USUL KESENIAN REOG PONOROGO ( dibagi beberapa versi )

ASAL USUL KESENIAN REOG PONOROGO ( dibagi beberapa versi )

02:06 0
ASAL USUL KESENIAN REOG PONOROGO
( dibagi beberapa versi )

VERSI : Dewi Sanggalangit
Dahulu kala ada seorang puteri yang cantik jelita bernama Dewi Sanggalangit. Ia puteri salah satu raja yang terkenal di Kediri. Karena wajahnya yang cantik jelita dan sikapnya yang lembut, banyak pangeran dan raja-raja ingin meminangnya unuk dijadikan sebagai istri.
Namun sayangnya Dewi Sanggalangit belum memiliki keinginan untuk berumah tangga sehinga membuat pusing kedua orang tuanya. Padahal kedua orang tuanya sudah sangat mendambakan seorang cucu ditengah-tengah keluarga mereka.
"Anakku, sampai kapan kau menolak setiap pangeran yang datang melamarmu?" Tanya raja pada suatu hari.
"Ayahanda, sebenarnya hamba belum berhasrat untuk bersuami. Namun jika ayahnda sangat mengharapkan hamba untuk menikah, baiklah. Tapi hamba meminta syarat, suami hamba harus memenuhi keinginan hamba".
"Lalu apa keinginanmu?"
"Hamba belum tahu.."
"Lho, kok aneh??" sahut baginda.
"Hamba akan bersemedi terlebih dahulu untuk meminta petunjuk Dewa. Setelah itu hamba akan menghadap ayahanda untuk menyampaikan keinginan hamba."

Demikianlah, lalu Dewi sanggalangit besemedi selama tiga hari tiga malam memohon petunjuk sang Dewa. Lalu pada hari keempat ia menghadap ayahandanya.
"Ayahanda, calon suami hamba harus mampu menghadirkan sebuah tontonan yang menarik. Tontonan atau pertunjukan yang belum pernah ada sebelumnya. Semacam tarian yang diiringi tabuhan dan gamelan, dilengkapi dengan barisan kuda kembar sebanyak seratus empat puluh ekor yang nantinya akan dijadikan sebagai pengiring pengantin. Terakhir harus dapat menghadirkan binatang berkepala dua.
"Wah berat sekali syaratmu itu..!!" Sahut baginda.
Meski berat, namun syarat itu tetap diumumkan kepada rakyat-rakyatnya, tak terkecuali raja-raja dan pangeran dari negeri tetangga dan seberang.
Para pelamar yang tadinya menggebu-gebu unuk memperistri Dewi Sanggalangit banyak yang ciut nyalinya dan akhirnya mereka mengundurkan diri karena merasa syarat yang harus dipenuhi sangat mustahil dan berat.
Akhirnya tinggal dua orang saja yang tersisa dan menyatakan siap dan sanggup untuk memenuhi permintaan Dewi Sanggalangit. Mereka adalah Raja Singabarong dari Kerajaan Lodaya dan Raja Kelana Swandana dari Kerajaan Bandarangin.
Baginda Raja sangat terkejut mendengar kesanggupan kedua raja itu. Sebab raja Singabarong adalah manusia yang aneh, ia seorang manusia berkepala harimau. Wataknya buas dan kejam. Sedangkan Kelanasewandana adalah seorang raja yang berwajah tampan dan gagah, namun punya kebiasaan aneh. Suka pada anak laki-laki. Anak laki-laki dianggapnya sebagai gadis-gadis cantik.
Namun semua sudah terlanjur, Dewi Sanggalangit tidak bisa menggagalkan persyaratan yang telah diumumkannya.
Raja Singabarong bertubuh besar dan tinggi. Dari bagian leher keatas berwujud harimau yang meyeramkan. Berbulu lebat dan dipenuhi dengan kutu-kutu. Itulah sebabnya ia memeluhara seekor burung merak yang rajin mematuki kutu-kutunya.
Raja Singabarong telah memerintahkan kepada para abdinya untuk mencarikan kuda-kuda kembar. Mengerahkan para seniman untuk menciptakan sebuah tontonan yang menarik dan mendapatkan seekor binatang berkepala dua.. Namun pekerjaan tersebut ternyata tidak mudah. Kuda kembar sudah bisa dikumpulkan, namun tontonan dengan kreasi yang baru belum juga tercipta, demikian pula dengan binatang berkepala dua belum juga bisa didapatkan.
Maka pada suatu hari ia memanggil patihnya yang bernama Iderkala. Ia diutus oleh Raja Singabarong untuk menyelidiki kesiapan dari pesaingnya, Kelanaswandana. Patih Iderkala dan beberapa prajurit terlatihnya segera berangkat menuju kerajaan Bandarangin dengan menyamar sebagai seorang pedagang. Setelah mereka melakukan penyelidika dengan seksama selama beberapa hari, mereka kembali ke Lodaya.
"Ampun Baginda. Kiranya si Kelanasewanda hampir berhasil mewujudkan permintaan Dewi Sanggalangit. Hamba melihat lebih dari seratus kuda dikumpulkan. Mereka juga yelah menyiapkan tontonan yang menarik dan sangat menakjubkan." Patih Iderkala melaporkan.
"Wah Celaka..!! Kalau begitu, sebentar lagi dia dapat merebut Dewi Sanggalangit sebagai istrinya." Kata Raja Singabarong."Lalu bagaimana dengan binatang berkepala duanya?? Apa mereka juga sudah siapkan??"
"Hanya binatang itulah yang belum mereka siapkan Baginda, tapi nampaknya sebentar lagi mereka dapat menyiapkannya" Sambung Patih Iderkal.
"Patih Iderkala, mulai siapkan prajurit pilihan yang terbaik dengan persenjatan yang lengkap. Setiap saat mereka harus siap diperintah untuk menyerbu ke Bandarangin.
Demikianlah, Raja Singabarong ingin bermaksud untuk merebut hasil usaha keras Raja Kelanasewandana. Setelah mengadakan persiapan yang matang, Raja singabarong memerintahkan beberapa mata-matanya untuk menyelidiki perjalanan yang ditempuh Raja Kelanasewandana dari Wengker menuju Kediri. Rencananya Raja Singabarong akan menyerbu mereka diperjalanan dan merebut hasil usaha Raja Kelanaswandana untuk diserahkan sendiri kepada Dewi Sanggalangit.
Namun, Rencana Raja Sibgabarong hancur karena semua mata-mtanya berhasil ditangkap dan dibunuh oleh prajurit kerajaan Bandarangin karena kedok mereka terbongkar.
Sementara itu Raja Singabarong yang menunggu laporan dari pajurit mata-matanya yang di kirim ke kerajaan Bandarangin nampak gelisah. Ia segera memerintahkan kepada patih Iderkala untuk menyusul mereka ke perbatasan. Sementara ia sendiri pergi ke tamansari untuk menemui si burung merak, karena pada saat itu kepalanya terasa gatal sekali.
"Hai burung meak, cepat patukilah kutu-kutu dikepalaku!" Teriak aja Singabarong menahan gatal.
Burung merak yang biasa melakukan tugasnya segera hinggap di bahu Raja Singabarong dan mulai mematuki kutu-kutu yang bertebaran di kepala Raja Singabarong. Karena Patukan-patukan yang nikmat dari Burung Merak itu, Raja Singabarong sampai tertidur pulas. Ia sama sekali tak mengetahui keadaan diluar istana. Karena tak ada prajurit yang berani melapor kepadanya.
Diluar istana pasukan Bandarangin telah menyerbu dan mengalahkan prajurit Lodaya. Bahkan patih Iderkala yang dikirim ke perbatasan elah tewas terlebih dahulu karena berpapasan dengan pasukan Bandarangin. Ketika pertempuran itu sudah merambat ke dalam istana dekat tamansari, barulah Raja Singabarong terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ribut-ribut. Sementara si burung merak masih saja terus mematuki kutu-kutu di kepala Raja Singabarong. Jika dilihat secara sepintas dari depan Raja Singabarong terlihat seperti binatang berkepala dua yaitu berkepala harimau dan merak.
"Hai mengapa diluar sana ribut-ribut...!!!" Teriak Raja Singabarong marah.
Namun tak ada jawaban, kecuali berkelebatnya bayangan seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Raja Kelanasewandana.
Raja Singabarong terkejut sekali. "Hai Raja Kelanasewandana mau apa kau datang kemari..??"
"Jangan pura-pura bodoh!!" Sahut Raja Kelanasewandana. "Bukankah kau hendak merampas usahaku dalam memenuhi persyaratan Dewi Sanggalangit..!!"
"Hemm, jadi kau sudah tahu??" Sahut Raja Singabarong dengan penuh rasa malu.
"Ya, maka aku akan menghukummu!!"
Lalu Raja kelanaswandana mengeluarkan kesaktiannya. Seketika kepala Raja Singabarong menjadi berubah. Burung merak yang tadinya hinggap di bahunya lalu menempel dan menyatu dengan kepala Raja Singabarong. Raja Singabarong marah bukan kepalang, lalu ia mencabut kerisnya dan meloncat untuk menyerang Raja Kelanasewandana. Namun Raja Kelanasewandana segera mengayunkan cambuk saktinya yang bernama Samandiman ketubuh Raja Singabarong. Cambuk itu dapat megeluarkan hawa panas dan suaranya seperti halilintar.
Begitu terkena sabetan Cmbuk itu, Raja Singabarong terpental dan mengglepar-glepar diatas tanah. Seketika ubuhnya terasa lemah dan berubah menjadi binatang aneh, berkepala dua yaitu harimau dan merak. Ia tidak dapat berbicara dan akalnya pun hilang. Raja Kelanasewandana segera memerintahka prajuritnya untuk menangkap Singabarong dan membawanya ke negeri Bandarangin.
Beberapa hari kemudian Raja Kelanasewandana mengirim utusan yang memberitahukan Raja Kediri bahwa ia segera datang membawa persyaratan Dewi Sanggalangit. Raja Kediri langsung memanggil Dewi Sanggalangit.
"Anakku apa kau benar-benar bersedia menjadi istri dari Raja Kelanasewandana??"
"Ayahanda, apakah Raja Kelanasewandana sanggup untuk memenuhi semua persyaratan yang telah hamba sampaikan??"
"Tentu saja, Dia akan datang dengan semua persyaratan yang kau ajukan, masalahnya sekarang apakah kau tidak menyesal jika harus menjadi istri Raja Kelanasewandana??".
"Jika hal itu sudah menjadi jodoh, hamba akan menerimanya sebagai Suami hamba ayahanda, dan hamba akan merubah kebiasaan buruk Raja Kelanasewandana yang suka kepada laki-laki itu."
Demikianlah, pada hari yang sudah ditentukan datanglah rombongan Raja Kelanasewandana dengan kesenian yang diberi nama Reog sebagai pengiring. Raja Kelanaswandana datang dengan iringan seratus empat puluh ekor kuda kembar, dengan suara gamelan, kendang, dan terompet aneh yang menimbulkan perpaduan suara aneh tapi merdu dan mendayu-dayu. Ditambah lagi dengan hadirnya binatang aneh yang berkepala dua, yaitu harimau dan merak.
Pada akhirnya Dewi Sanggalangit lalu menikah dengan Raja Kelanaswandana dan Dewi Sanggalangit diboyong ke kerajaan Bandarangin di Wengker ( Ponorogo ) untuk dijadikan permaisurinya. Lalu kesenian ini dinamai sebagai Reog Ponorogo yang sering kita lihat di pertunjukan.
VERSI LAIN
Menurut legenda Reog atau Barongan bermula dari kisah Demang Ki Ageng Kutu Suryonggalan yang ingin menyindir Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Sang Prabu pada waktu itu sering tidak memenuhi kewajibannya karena terlalu dipengaruhi dan dikendalikan oleh sang permaisuri. Oleh karena itu dibuatlah barongan yang terbuat dari kulit macan gembong (harimau Jawa) yang ditunggangi burung merak. Sang prabu dilambangkan sebagai harimau sedangkan merak yang menungganginya melambangkan sang permaisuri. Selain itu agar sindirannya tersebut aman, Ki Ageng melindunginya dengan pasukan terlatih yang diperkuat dengan jajaran para warok yang sakti mandraguna. Di masa kekuasaan Adipati Batorokatong yang memerintah Ponorogo sekitar 500 tahun lalu, reog mulai berkembang menjadi kesenian rakyat. Pendamping Adipati yang bernama Ki Ageng Mirah menggunakan reog untuk mengembangkan kekuasaannya.
Reog mengacu pada beberapa babad, Salah satunya adalah babad Kelana Sewandana. Babad Klana Sewandana yang konon merupakan pakem asli seni pertunjukan reog. Mirip kisah Bandung Bondowoso dalam legenda Lara Jongrang, Babad Klono Sewondono juga berkisah tentang cinta seorang raja, Sewondono dari Kerajaan Wengker bandarangin, yang hampir ditolak oleh Dewi Sanggalangit dari Kerajaan Kediri. Sang putri meminta Sewondono untuk memboyong seluruh isi hutan ke istana sebagai mas kawin. Demi memenuhi permintaan sang putri, Sewandono harus mengalahkan penunggu hutan, Singa Barong (dadak merak). Namun hal tersebut tentu saja tidak mudah. Para warok, prajurit, dan patih dari Wengker pun menjadi korban. Bersenjatakan cemeti pusaka Samandiman, Sewondono turun sendiri ke gelanggang dan mengalahkan Singobarong. Pertunjukan reog digambarkan dengan tarian para prajurit yang tak cuma didominasi para pria tetapi juga wanita, gerak bringasan para warok, serta gagah dan gebyar kostum Sewandana, sang raja pencari cinta.
Versi lain dalam Reog Ponorogo mengambil kisah Panji. Ceritanya berkisar tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana mencari gadis pujaannya, ditemani prajurit berkuda dan patihnya yang setia, Pujangganong. Ketika pilihan sang prabu jatuh pada putri Kediri, Dewi Sanggalangit, sang dewi memberi syarat bahwa ia akan menerima cintanya apabila sang prabu bersedia menciptakan sebuah kesenian baru. Dari situ terciptalah Reog Ponorogo. Huruf-huruf reyog mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi: Rasa kidung/ Ingwang sukma adiluhung/ Yang Widhi/ Olah kridaning Gusti/ Gelar gulung kersaning Kang Maha Kuasa. Unsur mistis merupakan kekuatan spiritual yang memberikan nafas pada kesenian Reog Ponorogo.
Warok
Warok sampai sekarang masih mendapat tempat sebagai sesepuh di masyarakatnya. Kedekatannya dengan dunia spiritual sering membuat seorang warok dimintai nasehatnya atas sebagai pegangan spiritual ataupun ketentraman hidup. Seorang warok konon harus menguasai apa yang disebut Reh Kamusankan Sejati, jalan kemanusiaan yang sejati.
Warok adalah pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara kebaikan dan kejahatan dalam cerita kesenian reog. Warok Tua adalah tokoh pengayom, sedangkan Warok Muda adalah warok yang masih dalam taraf menuntut ilmu. Hingga saat ini, Warok dipersepsikan sebagai tokoh yang pemerannya harus memiliki kekuatan gaib tertentu. Bahkan tidak sedikit cerita buruk seputar kehidupan warok. Warok adalah sosok dengan stereotip: memakai kolor, berpakaian hitam-hitam, memiliki kesaktian dan gemblakan.Menurut sesepuh warok, Kasni Gunopati atau yang dikenal Mbah Wo Kucing, warok bukanlah seorang yang takabur karena kekuatan yang dimilikinya. Warok adalah orang yang mempunyai tekad suci, siap memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. “Warok itu berasal dari kata wewarah. Warok adalah wong kang sugih wewarah. Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik”.“Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa” (Warok adalah orang yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin).
Syarat menjadi Warok
Warok harus menjalankan laku. “Syaratnya, tubuh harus bersih karena akan diisi. Warok harus bisa mengekang segala hawa nafsu, menahan lapar dan haus, juga tidak bersentuhan dengan perempuan. Persyaratan lainnya, seorang calon warok harus menyediakan seekor ayam jago, kain mori 2,5 meter, tikar pandan, dan selamatan bersama. Setelah itu, calon warok akan ditempa dengan berbagai ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan. Setelah dinyatakan menguasai ilmu tersebut, ia lalu dikukuhkan menjadi seorang warok sejati. Ia memperoleh senjata yang disebut kolor wasiat, serupa tali panjang berwarna putih, senjata andalan para warok. Warok sejati pada masa sekarang hanya menjadi legenda yang tersisa. Beberapa kelompok warok di daerah-daerah tertentu masih ada yang memegang teguh budaya mereka dan masih dipandang sebagai seseorang yang dituakan dan disegani, bahkan kadang para pejabat pemerintah selalu meminta restunya.
Gemblakan
Selain segala persyaratan yang harus dijalani oleh para warok tersebut, selanjutnya muncul disebut dengan Gemblakan. Dahulu warok dikenal mempunyai banyak gemblak, yaitu lelaki belasan tahun usia 12-15 tahun berparas tampan dan terawat yang dipelihara sebagai kelangenan, yang kadang lebih disayangi ketimbang istri dan anaknya. Memelihara gemblak adalah tradisi yang telah berakar kuat pada komunitas seniman reog. Bagi seorang warok hal tersebut adalah hal yang wajar dan diterima masyarakat. Konon sesama warok pernah beradu kesaktian untuk memperebutkan seorang gemblak idaman dan selain itu kadang terjadi pinjam meminjam gemblak. Biaya yang dikeluarkan warok untuk seorang gemblak tidak murah. Bila gemblak bersekolah maka warok yang memeliharanya harus membiayai keperluan sekolahnya di samping memberinya makan dan tempat tinggal. Sedangkan jika gemblak tidak bersekolah maka setiap tahun warok memberikannya seekor sapi. Dalam tradisi yang dibawa oleh Ki Ageng Suryongalam, kesaktian bisa diperoleh bila seorang warok rela tidak berhubungan seksual dengan perempuan. Hal itu konon merupakan sebuah keharusan yang berasal dari perintah sang guru untuk memperoleh kesaktian.
Kewajiban setiap warok untuk memelihara gemblak dipercaya agar bisa mempertahankan kesaktiannya. Selain itu ada kepercayaan kuat di kalangan warok, hubungan intim dengan perempuan biarpun dengan istri sendiri, bisa melunturkan seluruh kesaktian warok. Saling mengasihi, menyayangi dan berusaha menyenangkan merupakan ciri khas hubungan khusus antara gemblak dan waroknya. Praktik gemblakan di kalangan warok, diidentifikasi sebagai praktik homoseksual karena warok tak boleh mengumbar hawa nafsu kepada perempuan.
Saat ini memang sudah terjadi pergeseran dalam hubungannya dengan gemblakan. Di masa sekarang gemblak sulit ditemui. Tradisi memelihara gemblak, kini semakin luntur. Gemblak yang dahulu biasa berperan sebagai penari jatilan (kuda lumping), kini perannya digantikan oleh remaja putri. Padahal dahulu kesenian ini ditampilkan tanpa seorang wanita pun.
Reog di masa sekarang
Seniman Reog Ponorogo lulusan sekolah-sekolah seni turut memberikan sentuhan pada perkembangan tari reog ponorogo. Mahasiswa sekolah seni memperkenalkan estetika seni panggung dan gerakan-gerakan koreografis, maka jadilah reog ponorogo dengan format festival seperti sekarang. Ada alur cerita, urut-urutan siapa yang tampil lebih dulu, yaitu Warok, kemudian jatilan, Bujangganong, Klana Sewandana, barulah Barongan atau Dadak Merak di bagian akhir. Saat salah satu unsur tersebut beraksi, unsur lain ikut bergerak atau menari meski tidak menonjol. Beberapa tahun yang lalu Yayasan Reog Ponorogo memprakarsai berdirinya Paguyuban Reog Nusantara yang anggotanya terdiri atas grup-grup reog dari berbagai daerah di Indonesia yang pernah ambil bagian dalam Festival Reog Nasional. Reog ponorogo menjadi sangat terbuka akan pengayaan dan perubahan ragam geraknya.
TARI BEDHAYA KETAWANG DAN RATU KIDUL

TARI BEDHAYA KETAWANG DAN RATU KIDUL

05:26 0
TARI BEDHAYA KETAWANG DAN RATU KIDUL
Sejak zaman dahulu hingga kini orang mengungkapkan, bercerita atau mengabadikan suatu moment yang menggembirakan atau sedih dengan berbagai cara, mulai dari syair, lagu, musik hingga tarian.
Tarian pada masa lampu kebanyakan datang dari dalam istana, selain karena sering digunakan untuk menghibur raja-raja tarian juga sebagian memiliki makna-makna yang sakral atau memiliki peran penting dalam suatu upacara.
Keindahan Tari Bedhaya Ketawang
Tari Bedhaya Ketawang , datang dari keraton di Jawa Tengah, seperti keraton Yogjakarta dan keraton Solo. Tari ini juga bukan sembarang tari yang digunakan hanya untuk menghibur, tetapi lebih dari itu tari Bedhaya Ketawang memiliki makna-makna tertentu dan hanya di hadirkan pada moment-moment tertentu sehingga membuatnya menjadi sangat special.
Sejarah mula adanya tari Bedhayang Ketawang menurut Kitab Wedbapradangga, tari Bedhaya Ketawang diciptakan oleh Sultan Agung kemudian tari ini juga disempurnakan oleh Kanjeng Ratu Kencanasari, penguasa laut selatan atau lebih dikenal dengan Kanjeng Ratu Kidul. Sultan Agung pada ritual semedinya.
Mendengar suara tetembangan dalam keheningan cipta, rasa, dan karsanya itu, sang raja begitu terkesan dengan apa yang didengarnya kemudian setelah cukup bersemedi sang raja memanggil empat orang yaitu Tumenggung Alap-alap Kanjeng Panembahan Purboyo, Pangeran Karang Gayam II, dan Kyai Panjang Mas. Sultan Agung menceritakan hasil kesaksian batinnya kepada mereka. Dari sini terciptalah tarian diberi nama Bedhaya. Hal tersebut juga yang menjadikan sakralnya Tari Bedhaya Ketawang.
Kangjeng Ratu Kidul dan Bedaya Ketawang
Legenda Kanjeng Ratu Kidul sangat melekat pada dinasti Kerajaan Mataram.
Legenda ini sangat melekat di masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di sepanjang Laut Selatan. Begitu pula oleh Kerajaan Mataram, termasuk Keraton Kasunanan, Kangjeng Ratu Kidul dianggap sebagai Dewi Laut yang mampu menjaga eksistensi kerajaan. Bahkan kemudian terjadilah “perkawinan abadi” antara Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram yang tergambar dalam Tari Bedaya Ketawang. Kepercayaan tersebut kemudian melahirkan konsep filosofi Jawa, pajupat kalima pancer, yang terkandung maksud ke empat penjuru mata angin yang memiliki kekuatan spiritual untuk menjaga kehidupan Keraton. Di sebelah timur dijaga oleh Kangjeng Sunan Lawu, seorang keturunan Majapahit yang berhasil meloloskan diri saat runtuhnya Majapahit dan kemudian menjadi lari ke Puncak Lawu. Di sebelah barat dijaga oleh oleh Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton yang berada di Gunung Merapi, sementara di sebelah utara dijaga oleh Bathari Durga, sang Dewi Hutan, yang berada di Hutan Krendhawahana. Sementara Kanjeng Ratu Kidul berada di arah selatan.
Tari Bedhaya Ketawang merupakan tarian sakral dan suci yang dipentaskan saat raja baru bertahta atau pada peringatan ulang tahun raja (tingalan jumenengan dalem). Mengutip kitab Wedhapradangga, pencipta Tari Bedaya Ketawang adalah Sultan Agung, raja terbesar Kerajaan Mataram bersama Kanjeng Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan.
Tari Bedhaya Ketawang ini menggambarkan cinta birahi Kangjeng Ratu Kidul dengan Panembahan Senapati. Segala geraknya melukiskan bujuk rayu dan cumbu birahi walaupun selalu dapat dielakkan oleh Senapati, bahkan Ratu Kidul selalu memohon kepadanya agar mau menetap di samudera dan bersinggasana di Sakadhomas Bale Kencana. Namun Senapati tidak mau mengikuti kehendak Ratu Kidul itu karena masih ingin mencapai sangkan paran. Selanjutnya dengan perkataan yang santun, ia akhirnya mau memperisteri, dengan konsekuensi secara keturunannya yang bertahta di Jawa akan terikat janji dengan Ratu Kidul pada saat peresmian kenaikan tahta.
Kanjeng Ratu Kidul sendirilah yang diminta datang ke daratan untuk mengajarkan Tari Bedhaya Ketawang ini kepada penari-penari kesayangan raja. Pelajaran itu diberikan setiap hari Anggara Kasih yang jatuh Selasa Kliwon. Gamelan yang dipakai untuk mengiringi Tari Bedhaya Ketawang juga khusus, yakni gamelan Kiai Kaduk Manis dan Kiai Manis Renggo. Suasana khusuk harus tetap terjaga selama tarian ini dipentaskan. Selain berhubungan dengan suasana sakral dan religius, Bedhaya Ketawang juga dipentaskan setahun sekali pada saat upacara peringatan ulang tahun kenaikan tahta. Selama tarian berlangsung tidak ada hidangan yang keluar dan tidak dibenarkan untuk merokok atau aktivitas lain yang bisa mengurangi kekhidmatan jalannya upacara adat suci itu.
Mengingat Tari Bedhaya Ketawang merupakan tarian suci, maka para penarinya pun juga harus suci, baik pada saat latihan maupun pada waktu pergelarannya. Aturan ini harus benar-benar diterapkan, sebab menurut adat yang dipercaya, para penari itu akan langsung berhubungan dengan Kanjeng Ratu Kidul. Untuk itu, dibutuhkan penari yang sudah cukup dewasa jiwanya sehingga kekhusukan dan ketekunannya menari dapat terjamin. Bila sedang halangan bulanan, lebih baik tidak mendaftarkan diri dulu sehingga dibutuhkan juga penari-penari cadangan.
Ada kepercayaan pada saat Tari Bedhaya Ketawang dipentaskan, Kanjeng Ratu Kidul selalu hadir bahkan ikut menari. Tidak setiap orang dapat melihatnya, kecuali mereka yang
sangat peka inderawinya. Begitu pula saat latihan, Ratu Kidul akan membetulkan setiap kesalahan para penarinya yang terkadang penari merasakan kehadirannya. Penari Bedhaya
Ketawang berjumlah sembilan orang, masing-masing disebut batak, endhel ajeg, endhel weton, apit ngarep, apit mburi, apit meneg, gulu, dhadha, dan boncit. Selama menari tentu saja susunannya tidak tetap dan berubah-ubah sesuai adegan yang dilambangkan.
Tarian Bedhaya Ketawang ini dipentaskan di Sasana Sewaka dengan selalu menempatkan posisi raja berada di kanan mereka. Namun pada saat kompleks Keraton Kasunanan terbakar pada 1985 silam, Paku Buwono XII memindahkannya ke Keraton Kulon dan sempat dipergelarkan di sana selama tiga kali. Ini dilakukan demi eksistensi raja. Selama raja masih menduduki tahta, maka Bedhaya Ketawang harus tetap ada.

REOG KENDANG

08:32 0
Reog Kendang

Reog kendang adalah kesenian tradisional dari Kabupaten Tulungagung yang berbeda dengan reog lainnya. Sebenarnya Reog kendang lebih mirip pada kumpulan penari jenis alat musik tifa atau jimbe yang di padukan dengan kesenian jaranan, karena dalam bahasa jawa bernama kendang. Di tempat lain, kesenian serupa bernama reog dogdog dari sunda, reog Cemandi dari Sidoarjo dan reog bulkio dari Blitar
Sejarah
Berawal pada banyaknya para Gemblak dari kadipaten Sumoroto yang mencari jati diri ke kota tulungagung pada zaman kolonial belanda untuk berkerja sebagai penambang batu marmer dan petani cengkih. Untuk menghilangkan rasa penat setelah berkerja, di buatlah sebuah alat musik sejenis ketipung yang hanya memiliki satu sisi untuk di pukul. karena memiliki kesamaan dengan para gemblak lainnya, akhirnya dibuatlah sebuah kesenian tersebut dengan tarian, Konon para Gemblak adalah para pemain kuda lumping pada kesenian Reog Ponorogo.
Pada awalnya, Reog kendang bernama tabuhan kendang. karena pada perkembangan zaman, Tabuhan kendang di kaloborasikan menjadi satu dengan Reog Kadiri (saat ini bernama Jaranan) yang merupakan sebuah hiburan rakyat pada waktu itu, Selain itu Para Gemblak adalah mantan pemain Reog Ponorogo, maka dinamakanlah Reog Kendang yang khas dan tercipta di kota Tulungagung.
Alur Cerita
Sebenarnya Reog Kendang menceritak kisah tentang perjalanan para mantan Gemblak mencari jati diri. karena perkembangan zaman, banyak versi cerita yang di gunakan dalam pementasan.
Versi Panji Klono Sewandono
Cerita pada versi ini tidak berbeda dengan cerita asal mula Reyog ponorogo maupun Jaranan. Hanya Saja pada Reog kendang menceritakan kegigihan para prajurit dari bantarangin ke kerajaan Daha, Terutama para pembawa alat musik kendang hingga membungkuk yang disebabkan beratnya kendang.
Versi Letusan Gunung Kelud
Sedangkan versi gunung kelud tecipta pada tahun 2014 sebagai kebiasaan masyarakat Tulungagung yang tinggal di sekitar gunung kelud, yang selalu menghadapi letusan gunung kelud dan untuk menghilangkan unsur gemblak yang dianggap tidak etis pada lingkungan sosial. Disimpulkan pada cerita versi ini menceritakan tentang prajurit arak-arakan prajurit Daha mengiringi pengantin Ratu Kilisuci ke Gunung Kelud, untuk menyaksikan dari dekat hasil pekerjaan Jathasura, sudahkah memenuhi persyaratan atau belum.
Tokoh dan Kostum
Tokoh pada Reog Kendang ialah :
Pakaian penari reog kendang yang masih mengadopsi pakaian Jathilan gemblak reog Ponorogo hingga sat ini

1. Penari pembawa kendang, dengan mengenakan pakaian Jathilan yang ada pada reyog dan menggunakan udeng yang biasa di gunakan oleh para Warok saat itu dengan bentuk Candi Bentar peninggalan majapahit, yang saat ini juga di gunakan masyarakat Banyuwangi dan pendekar Minang. Selain itu di beri aksesoris tambahan kain dibentuk bundar yang melingkar di kepala yang merupakan penghargaan dari kerajaan Jepang atas kerja keras para Gemblak yang membantu akomodasi bahan untuk perang.
2. Penari Buta, dengan kostum yang menyeramkan (Status di hilangkan)
3. Penari Kuda Kepang, dengan anyaman kuda dan kostum jathilan
4. Penari Babi, dengan patung tipis berbentuk babi
5. Penari topeng naga, dengan topeng bernama jepaplok
6. Warok, dengan pakaian penadon.

Gerakan Khas
Para penari kendang memiliki gerakan tari yang khas, yaitu membungkuknya badan. hal ini dikarenakan membawa alat musik kendang saat perjalanan dari kerajaan bantarangin ke kerajaan Daha. Versi lain menatakan bahwa badan yang membungkuk karena para gemblak yang taat, setia dan patuh kepada Warok, maka dari itu sosok warok selalu ada pada kesenian reog kendang tulungagung sebagai pawang atau bomoh.
Perkembangan
apabila pada dahulu reog Kendang dimainkan oleh Seorang pria saja, Kini Reog Kendang juga di tarikan oleh gadis-gadis yang cantik semenjak reog ponorogo mengganti penari jathilan dari pria menjadi gadis cantik jelita, Hal seperti ini juga dilakukan oleh seniman tari remo.
Musik
Musik yang digunakan pada kesenian Reog Kendang menggunakan perkusi Gamelan Reog seperti Selompret, Gong, Kenong, Kempul, dan tanpa Angklung. tetapi bunyi tetabuhan kendang yang di bawa oleh penari masih dapat di dengarkan, Selain itu juga terdapat nyanyian campursari yang lama.
Sebagai Pengiring Tradisi
Di desa Lowayu kecamatan Dukun kabupaten Gresik, Jawa Timur terdapat kegiatan Tradisi sedekah bumi setiap tahunnya yang sudah berlangsung lama. Tradisi bernamakan Gurdo tersebut selalu menampilkan Reog Kendhang Tulungagungan untuk arak-arakan tradisi tersebut. Namun tradisi dari desa Lowayu tersebut kini sudah tidak ada.