Showing posts with label LAIN-LAIN. Show all posts
Showing posts with label LAIN-LAIN. Show all posts
10 permainan tradisinoal indonesia

10 permainan tradisinoal indonesia

07:00 0
10 permainan tradisinoal indonesia
1. Permainan Benteng (gobak sodor)
adalah permainan yang dimainkan oleh dua grup, masing - masing terdiri dari 4 sampai dengan 8 orang. Masing - masing grup memilih suatu tempat sebagai markas, biasanya sebuah tiang, batu atau pilar sebagai 'benteng'.
Tujuan utama permainan ini adalah untuk menyerang dan mengambil alih 'benteng' lawan dengan menyentuh tiang atau pilar yang telah dipilih oleh lawan dan meneriakkan kata benteng. Kemenangan juga bisa diraih dengan 'menawan' seluruh anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi 'penawan' dan yang 'tertawan' ditentukan dari waktu terakhir saat si 'penawan' atau 'tertawan' menyentuh 'benteng' mereka masing - masing.
2. Congklak
Congklak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan.
Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji congklak atau buah congklak. Umumnya papan congklak terbuat dari kayu dan plastik, sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan congklak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain.
Pada awal permainan setiap lobang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain yang berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih lobang yang akan diambil dan meletakkan satu ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya. Bila biji habis di lobang kecil yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan mengisi, bisa habis di lobang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan memilih lobang kecil di sisinya. bila habis di lubang kecil di sisinya maka ia berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di lobang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa.
Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat dimabil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak.
3. Dor Tap
Dor Tap merupakan permainan yang mirip dengan Petak Umpet namun dimainkan oleh 2 kelompok. Kelompok yang lebih dulu berhasil menyebut nama lawan yang bersembunyi dapat diartikan bahwa lawan tersebut terkena tembakan. Permainan berakhir jika salah satu kelompok sudah habis tertembak.
4. Galah Asin
Galah Asin atau di daerah lain disebut Galasin atau Gobak Sodor adalah sejenis permainan daerah dari Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 - 5 orang. Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.
Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segiempat dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur. Anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas.
Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.
5.Gasing
Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Selain merupakan mainan anak-anak dan orang dewasa, gasing juga digunakan untuk berjudi dan ramalan nasib.
Sebagian besar gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari plastik, atau bahan-bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian badan gasing. Tali gasing umumnya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Panjang tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.
6. Kasti
Kasti atau Gebokan merupakan sejenis olahraga bola. Permainan yang dilakukan 2 kelompok ini menggunakan bola tenis sebagai alat untuk menembak lawan dan tumpukan batu untuk disusun. Siapapun yang berhasil menumpuk batu tersebut dengan cepat tanpa terkena pukulan bola adalah kelompok yang memenangkan permainan. Pada awal permainan, ditentukan dahulu kelompok mana yang akan menjadi penjaga awal dan kelompok yang dikejar dengan suit.
Kelompok yang menjadi penjaga harus segera menangkap bola secepatnya setelah tumpukan batu rubuh oleh kelompok yang dikejar. Apabila bola berhasil menyentuh lawan, maka kelompok yang anggotanya tersentuh bola menjadi penjaga tumpukan batu. Kerjasama antaranggota kelompok sangat dibutuhkan seperti halnya olahraga softball atau baseball.
7. Layang-layang
Permainan layang-layang, juga dikenali dengan nama wau merupakan satu aktivititas menerbangkan layang-layang tersebut di udara. Pada musim kemarau di Indonesia anak-anak selalu bermain layang-layang karena anginnya besar.
8. Petak Umpet
Dimulai dengan Hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi "kucing" (berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi). Si kucing ini nantinya akan memejamkan mata atau berbalik sambil berhitung sampai 25, biasanya dia menghadap tembok, pohon atau apasaja supaya dia tidak melihat teman-temannya bergerak untuk bersembunyi. Setelah hitungan sepuluh, mulailah ia beraksi mencari teman-temannya tersebut.
Jika ia menemukan temannya, ia akan menyebut nama temannya yang dia temukan tersebut. Yang seru adalah, ketika ia mencari ia biasanya harus meninggalkan tempatnya (base?). Tempat tersebut jika disentuh oleh teman lainnya yang bersembunyi maka batallah semua teman-teman yang ditemukan, artinya ia harus mengulang lagi, di mana-teman-teman yang sudah ketemu dibebaskan dan akan bersembunyi lagi. Lalu si kucing akan menghitung dan mencari lagi.
Permainan selesai setelah semua teman ditemukan. Dan yang pertama ditemukanlah yang menjadi kucing berikutnya.
Ada satu istilah lagi dalam permainan ini, yaitu 'kebakaran' yang dimaksud di sini adalah bila teman kucing yang bersembunyi ketahuan oleh si kucing disebabkan diberitahu oleh teman kucing yang telah ditemukan lebih dulu dari persembunyiannya.
9. Yo-yo
Yo-yo adalah suatu permainan yang tersusun dari dua cakram berukuran sama (biasanya terbuat dari plastik, kayu, atau logam) yang dihubungkan dengan suatu sumbu, di mana tergulung tali yang digunakan. Satu ujung tali terikat pada sumbu, sedangkan satu ujung lainnya bebas dan biasanya diberi kaitan. Permainan yo-yo adalah salah satu permainan yang populer di banyak bagian dunia. Walaupun secara umum dianggap permainan anak-anak, tidak sedikit orang dewasa yang memiliki kemampuan profesional dalam memainkan yo-yo.
Yo-yo dimainkan dengan dengan mengaitkan ujung bebas tali pada jari tengah, memegang yo-yo, dan melemparkannya ke bawah dengan gerakan yang mulus. Sewaktu tali terulur pada sumbu, efek giroskopik akan terjadi, yang memberikan waktu untuk melakukan beberapa gerakan. Dengan menggerakkan pergelangan tangan, yo-yo dapat dikembalikan ke tangan pemain, di mana tali akan kembali tergulung dalam celah sumbu.
10.Balap Karung
Balap karung adalah salah satu lomba tradisional yang populer pada hari kemerdekaan Indonesia. Sejumlah peserta diwajibkan memasukkan bagian bawah badannya ke dalam karung kemudian berlomba sampai ke garis akhir.
Taman Sari Jogjakarta

Taman Sari Jogjakarta

07:35 0

Taman Sari Jogjakarta mempunyai Paduraksa / Gapura .Gapura biasanya ada pada candi dan Kori Agung di kompleks Keraton Jawa dan Bali.
Paduraksa adalah pintu gerbang memasuki halaman atau ruangan yang lain sebagai akses penghubung.
Paduraksa berasal dari arsitektur Hindu Budha Nusantara.
Taman Sari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, di bangun jaman Sultan Hamengku Buwono I 1758-1769 ( Babad Mangkubumi)
Arsitekturnya bergaya Portugal dan Jawa, Perpaduan yang sangat indah.
Taman Sari Keraton Jogjakarta tempat pemandian Sultan dan Permaisuri juga para Selir ,beserta putri-putrinya.
Tidak boleh sembarangan orang boleh masuk karena tempat ini khusus untuk Keluarga Sultan.
Di dalamnya terdapat Lorong Bawah Tanah yaitu Sumur Gumuling.
Pembangunan Taman Sari di pimpin Bupati Madiun Rangga Prawira Sentolo ( Tumenggung Mangundipuro) tertulis dalam Babad Memanas dan Serat Reregan.
Kunjungan Bujangga Manik di Daerah Malang

Kunjungan Bujangga Manik di Daerah Malang

07:30 0
Kunjungan Bujangga Manik di Daerah Malang
Naskah Bujangga Manik merupakan salah satu naskah kuna berbahasa Sunda dan ditulis mungkin sekitar akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1500-an. Naskah ini ditulis pada daun nipah, dalam puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata, dan saat ini disimpan di Perpustakaan Bodley di Universitas Oxford sejak tahun 1627. Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata. Bujangga Manik menggambarkan geografi dan topografi Pulau Jawa pada saat naskah dibuat dan menyebutkan 450 nama tempat, gunung, dan sungai di dalamnya. Sebagian besar dari nama-nama tempat tersebut masih digunakan atau dikenali sampai sekarang.
Pada perjalanannya ke arah timur ia melewati sebelah utara Gunung Mahameru, dan setelah mencapai Gunung Brahma, ia mengunjungi (11. 816-823) Kadiran, Tandes, Ranobawa dan Dingding. Dalam Tantu Panggelaran nama tersebut adalah patapan Tandes (TP 72, 90, 122) dan Ranubhawa (TP 70). Berikut penuturan Bujangga Manik ketika melewati daerah Malang dan sekitarnya.
Sadatang ka Pali(n)tahan, samu(ng)kur ti Majapahit, na(n)jak ka gunung Pawitra, rabut gunung Gajah Mu(ng)kur.
[Setiba di Palintahan, setelah meninggalkan Majapahit, aku mendaki Gunung Pawitra, gunung suci Gajah Mungkur]

Ti ke(n)ca na alas Gresik, ti kidul gunung Rajuna
[Ke arah timur adalah wilayah Gresik, ke arah selatan Gunung Arjuna]

Ku ngaing geus kaleu(m)pangan, ngalalar ka Patukangan, datang ka Rabut Wahangan, leu(m)pang aing nyangwetankeun.
[Telah kulalui, aku berjalan melewati Patukangan, dan tiba di Rabut Wahangan, berjalan ke arah timur]

La(m)bung Gunung Mahameru, disorang kalereunana. Datang ka Gunung B(e)rahma, datang aing ka Kadiran, ka Tandes ka Ranobawa.
[Lereng Gunung Mahameru, aku melewatinya di sisi sebelah utara. Sampai di Gunung Brahma, tibalah aku di Kadiran, di Tandes, di Ranobawa]

Leu(m)pang aing ngaler-ngetan. Sacu(n)duk aing ka Dingding, eta hulu dewaguru.
[Berjalanlah aku ke timurlaut. Tibalah aku di Dingding, pusat kedudukan dewaguru]

Samu(ng)kur aing ti (i)nya, datang ka Panca Nagara.
[Sepergi dari tempat itu, tibalah di Panca Nagara]

Pada perjalanannya kembali ke barat ia melewati daerah selatan Gunung Mahameru dan melalui berturut-turut Pacira, Ranobawa, Kayu Taji, Kukub, Kasturi, Sagara Dalem dan Kagënëngan, kemudian tiba di Gunung Kawi (11. 1039-1049). Berikut uraian selanjutnya menurut Bujangga Manik:
Sacu(n)duk aing ka Cakru, sadiri aing / ti inya, /19r/ leu(m)pang aing maratngidul, datang ka lurah Kenep, cu(n)duk ka Lamajang Kidul, ngalalar ka Gunung Hiang, datang a(ing) ka Padra.
[Setelah aku tiba di Cakru, beranjak dari tempat itu, aku berjalan ke baratdaya, pergi ke wilayah Kenep, tiba di Lamajang Kidul, melewati Gunung Hiang, datang ke Padra]

La(m)bung Gunung Mahameru disorang kiduleunana.
[Lereng Gunung Mahameru, aku lewati dari sisi selatan]

Sadatang ka Ranobawa, ngalalar ka Kayu Taji.
[Setelah datang ke Ranobawa, berjalan melewati Kayu Taji]

Samu(ng)kur aing ti inya, sacu(n)duk aing ka Kukub, datang aing ka Kasturi, cu(n)duk ka Sagara Dalem, ngalalar ka Kagenengan, sumengka ka Gunung Kawi, disorang kiduleunana.
[Setelah berangkat dari sana, tibalah aku di Kukub, aku pergi ke Kasturi, tiba di Sagara Dalem, berjalan melalui Kagenengan, mendaki Gunung Kawi, yang kulewati dari sisi selatan]

Sadatang ka Pamijahan, leu(m)pang aing ka baratkeun, ngalalar ka Gunung Anyar, cu(n)duk aing ka Daliring.
[Setiba ke Pamijahan, aku berjalan ke arah barat, melewati Gunung Anyar, tibalah aku di Daliring]

Sadatang ka Gunung Ka(m)pud, datang ka Rabut Pasajen. Eta hulu Rabut Palah, kabuyutan Majapahit, nu dise(m)bah ku na Jawa.
[Sesampai di Gunung Kampud, aku datang ke Rabut Pasajen. Tempat ini dataran tinggi Rabut Palah, tempat suci Majapahit, yang dimuliakan oleh orang Jawa]

Pacira adalah sebuah kategan (Tantu Panggelaran 69, 70) atau katyagan (Nagarakertagama 78:7 c), yang dalam pandangan Bujangga Manik rute itu mungkin terletak di sebelah timur Gunung Mahameru, mungkin sekarang tidak jauh dari Candipura dekat Pasirian. Kayu Taji adalah sebuah patapan (TP 70) dan Kukub adalah sebuah mandala (TP 90, 91, 94, 98, 99,. Nag 78:7 a). Keduanya terletak di dekat Gunung Mahameru tetapi letak pastinya kurang jelas. Bila merunut rute yang dilalui Bujangga Manik mungkin di sisi selatan atau barat dari Gunung Semeru. Hal itu berarti bahwa pusat keagamaan Kukub yang memainkan peran dalam Kidung Panji Margasmara terletak di selatan agak timur dari Singosari dan tidak di wilayah Gunung Hyang.
Kasturi terdaftar sebagai sebuah mandala di Nagarakertagama, dan di bagian lain disebutkan bersama-sama dengan Kukub dan Sagara sebagai kelompok tiga mandala dekat Gunung Mahameru. Sagara dalam Nagarakertagama mungkin dapat disamakan dengan Sagara Dalem menurut Bujangga Manik, yang harus ditempatkan di antara Gunung Mahameru dan Kagënëngan. Sagara adalah sebuah dharma (Nag 40, 73) yang letaknya tidak jauh di selatan Kota Malang. Sagara Dalem ini berbeda dengan mandala terkenal Sagara di Gunung Hyang, yang pernah dikunjungi oleh Hayam Wuruk (Nag. 32) dan disebutkan juga di Prasasti Batur dan Tantu Panggelaran (TP 114-115).
Di antara Gunung Kawi dan Gunung Kampud (sekarang: Kelud) Bujangga Manik melewati Gunung Anar (11. 1049-1055), yang mengingatkan kita pada catatan Pararaton bahwa pada tahun 1376 “hana gunung Anar“, ada (munculnya) sebuah gunung baru (Par. 29:34). Gunung Kelud merupakan vulkanik, sangat mungkin bahwa bukit baru yang telah terwujud itu adalah Gunung Anar yang dimaksud dalam catatan Pararaton.
Itulah catatan Bujangga Manik di sekitar Bromo dan Semeru. Dalam perjalanan pulang, Bujangga Manik melewati dan menyebutkan lagi beberapa nama tempat di atas. Beberapa nama tempat masih dapat dikenali sekarang, seperti Kagenengan, Sagara Dalem, Gajah Mungkur, Mahameru, Brahma. Beberapa nama tempat lainnya sudah tidak dikenali lagi sekarang, seperti Kayu Taji, Kukub dan Kasturi. Beberapa nama tempat lainnya dapat ditelusuri dengan membuat perbandingan dengan naskah-naskah lain seperti Nagarakretagama, Tantu Panggelaran, Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, Aji Saka, dan lain-lainnya.
Nama Sagara Dalem dalam uraian kisah perjalanan Bujangga Manik ini terletak di antara Gunung Mahameru (Semeru) dan Kagenengan yang berada di sebelah barat Gunung Semeru. Rupanya nama Sagara Dalem dapat ditemukan kembali sebagai nama Dukuh Segaran yang terletak di Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Di dukuh ini pernah ditemukan benda arkeologi yang berupa batu bata kuno di Punden Mbah Cengkaruk. Selain itu tak jauh dari Dukuh Segaran, kurang lebih 400 m ke selatan yaitu di Dukuh Watudakon terdapat sekumpulan batu candi yang mirip seperti permainan dakon, yang kemungkinan pada masa lampau digunakan sebagai sarana ritual keagamaan tertentu, kemungkinan juga sebagai alat untuk menghitung hari (pertanggalan).
Setelah melewati Sagara Dalem, Bujangga Manik melanjutkan perjalanan menuju Kagenengan. Nama Kagenengan pada saat ini diduga merupakan nama Desa Genengan yang terletak di sebelah barat Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Atau ada kemungkinan lain adalah Dukuh Kagenengan di Desa Parangargo, Kecamatan Wagir. Kagenengan pada masa lampau merupakan tempat suatu kelompok komunitas keagamaan. Dalam uraian Kitab Nagarakrtagama disebutkan bahwa Kagenengan merupakan sebuah pendharmaan dari Raja Rajasa (Ken Angrok). Berikut uraian dalam Negarakertagama: “…..krama subhakala sah nira ri singhasari mangidul mare kagenengan, humaturaken kabhaktini bhatara dharmma sawatekwatek nira tumut…” (Pada hari baik Baginda berangkat dari Singhasari ke selatan menuju Kagenengan, melakukan sembah bakti sujud pada Bhatara Dharma (leluhur) bersama seluruh pengiringnya…”).
Selanjutnya disebutkan bahwa Rajasa (Ken Angrok) pada tahun 1149 Saka (1227 Masehi) meninggal dan diabadikan di Kagenengan berwujud Siwa Buddha (….ring saka syabdhi rudra krama kalahanira mantukang swargga loka, kyating rat sang dhidharmma dwaya ring kagenengan sewa boddhengusana). Di bagian lain dikatakan bahwa Kagenengan merupakan tempat pendharmaan yang harus dijaga dan dicatat agar tidak timbul perselisihan pada keturunan Hayam Wuruk. Disebutkan: “….keh nikanang sudharma haji kaprakasita makadi ring kagenengan ….” (…..jumlah candi-candi makam raja tersebut yang pertama di Kagenengan…..). Selain itu di dalam Prasasti Mula-Malurung lempeng IIb disebutkan tentang pendharmaan kakek Wisnuwardhana yang terletak di Kagenengan (…makaswa rupan wisnwarccha nankane sang hyan dharmme kagnenan….).
Di Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji pernah ditemukan tinggalan arkeologi berupa lingga dari batu andesit. Sedangkan di Dukuh Kagenengan di Desa Parangargo, Kecamatan Wagir, di tanah sebelah selatan terdapat sebidang tanah tinggi yang diapit oleh dua sungai/jurang (Sokan) terdapat pecahan batu bata berukuran besar, fragmen batu, dan lingga kecil. Selain itu di Sokan juga ditemukan arca, guci dan sebuah prasasti batu, namun keberadaannya sekarang tidak diketahui lagi. .
Sumber:
Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca
Alih Bahasa Prasasti Dinoyo II, oleh Soewardono

Alih Bahasa Prasasti Dinoyo II, oleh Soewardono

17:48 1
Alih Bahasa Prasasti Dinoyo II, oleh Soewardono

1. //*/ semoga bahagia//selamat tahun saka telah berjalan 773, bulan magha1, hari Was (paringkelan 6 hari), Umanis (pasaran 5 hari), Kamis (pekan 7 hari)2,

2. kedudukan planet di selatan, tanggal 8 śuklapakṣa3, pada waktu itu dang hwan4 sang penderma yaitu sang hiwil dari hujung5 membatasi sima6 (berupa) sawah yang diwariskan kepada dang hyang guru

3. candik. Sawah ( telah) diteliti(…..…) (dengan) saksi dalam hal ini (yaitu) wadwa7 (dari) sang pamget8 (bernama) dila, tuhan9 sang air paku10, tuha

4. n dari manapal11 (bernama) sang nawa, a(………..)n (bernama) sa(..)ma, bersama-sama dengan tuhan di kabhalan12, tuhan dari wadwarare13 (bernama) sang garasah, wa

5. huta14 (dari) sang panghunjangan15, mangha(mbin)16 (bernama) sa(……) mpu(………) sa(………….)ndi raman17 (yang) berdagang pada raman

6. kandal dengan berbagai tha(……) (itulah) yang menjadi saksi dalam membatasi sima//

7. //Selamat tahun saka telah berjalan 82(0) bulan srawana, tanggal 8 śuklapakṣa, hari Mawulu (paringkelan), Umanis, Ahad, kedudukan planet di tenggara.

8. pada waktu itu dang hwan (bernama) a(…)sa dari hujung memberikan (kembali) sawah (untuk) dijadikan sima (dan) diteliti bersama dengan saksi dalam hal ini(yaitu) wadwa pamge

9. t. (juga saksi) yang ikut membatasi (sima) adalah kanayakan18, (yaitu) rake manayu(ti) (bernama) mahandana, rake pamrattan, tuhan wadwarare, sang pangu

10. ran19, tuha dari kalula20 (bernama) hawikan, tuhan dari lampuran21, rake kalimunnan, citralekha22 (bernama) sang kresna, panghunjanga

11. n (……) manwa di (…….) wan(..) langwu (..) dengan wahuta yang winkas wkas23, (pa)tih24 (dari) raman srasti,

12. manghambin (..) tuha sa(…..)nu (dari) kahyunnan25 (bernama) si sumul, tuha wanwa26 (bernama) drahma, (juga) saksi

13. sang watang kras27 (bernama) wel-wel ayahnya (…….), (pa)tih (dari) tuha (….) pada waktu itu (……), (paru)jar28 (dari) dama

14. n29 (bernama) pu dipa, wariga30 (bernama) si malat, panurattan31 (dari) dang mpu hyang wrati32, ka(..)ri la(….)man
15. manggala33 dari raman wanglus dang(……..) surawa, hulu wa( ), demikian (pula) tetua desa
16. kandal// semoga selalu diberkahi//.

Catatan Terjemahan:
1) Bulan magha merupakan bulan yang ke sebelas dari perhitungan tahun saka. Urut-urutan bulan tersebut adalah: 1. Caitra, 2. Waisāka, 3. Jyesta, 4. Āsādha, 5. Srawana, 6. Bhadrawāda, 7. Asuji, 8. Kārtika, 9. Mārgasira, 10. Posya, 11. Māgha, dan 12. Phālguna (Casparis, 1978 :48).

2) Damais (1955 :252-253) membagi wara ini menjadi tiga yang dikenal diberbagai prasasti, yaitu Saptawara (7 hari) terdiri dari A=aditya, SO=soma, ANG=anggara, BU=budha, WR=wrhaspati, SU=sukra, SA= sanaiscara. Sadwara (6 hari) terdiri dari TU=tunglai, HA=hariyang, WU=wurukung, PA=paniruan, WA=was, MA=mawulu. Pancawara (5 hari) terdiri dari PA=pahing, PO=pon, WA=wagai, KA=kaliwuan, U=umanis

3) Pada masa Jawa kuna, perhitungan bulan dibagi menjadi 2 paksa. Suklapaksa (paro terang) adalah perhitungaan bulan mulai tanggal 1 s.d 15. Sedang tanggal 16 s.d 30 disebut krsnapaksa (paro gelap) (Zoetmulder, 2004 :1263 ; Mardiwarsito, 1986:607; Prawirasuganda,1951: 67-68).

4) Dang Hwan menurut kata asal adalah ‘dang’ yaitu sebutan bagi orang yang lebih dihormati (Mardiwarsito, 1986 :166-167 ; Zoetmulder, 2004 :194), dan ‘hwan’ yang artinya penggembala (Mardiwarsito, 1986 :228 ; Zoetmulder, 2004 :373). Sehingga diartikan ‘yang terhormat sang penggembala’. Mungkin di sini yang dimaksud adalah orang yang kaya akan binatang ternak.

5) Hujung sering disebut-sebut dalam prasasti-prasasti di Jawa Timur abad IX-X M. Merupakan wilayah watak kekuasaan rakryan Hujung.

6) Sima adalah sebidang tanah (sawah, desa, dan sejenisnya yang bebas dari pajak dan kewajiban-kewajiban lainnya ) (Mardiwarsito, 1986 :530; Zoetmulder, 2004 :1092). Biasanya diberikan oleh raja kepada seorang pejabat atau penduduk desa, atau untuk kepentingan suatu bangunan suci (Nastiti, 1982 :42).

7) Wadwa artinya bawahan atau anak buah (Mardiwarsito, 1986 :652 ; Zoetmulder, 2004 :1365 ; Wojosasito, 1977 :292).

8) Pamget asal katanya adalah pegat yang artinya putus (Mardiwarsito, 1986 :417 ; Zoetmulder, 2004 :801 ; Wojosasito, 1977 :198). Secara harfiah berarti orang yang memberi keputusan/ketetapan. Jabatan pamgat peranannya lebih kepada hal-hal yang bersifat keagamaan, hukum, dan sejenisnya (Trigangga, 2003 :37).

9) Tuhan artinya tuan, majikan, penguasa, orang yang berwenang ((Mardiwarsito, 1986 :614 ; Zoetmulder, 2004 :1282). Casparis (1956 :226-228), lebih memperjelas bahwa tuhan adalah pemimpin kelompok dari para pembantu rendahan di lingkungan rakai atau pamegat.

10) Airpaku berasal dari kata air dan paku/penetapan (Mardiwarsito, 1986 :390). Tetapi apa tugas dan kewajibannya belum jelas. Mungkin petugas yang menetapkan/menentukan air suci sebagai sarana upacara.

11) Tuhan ning Manapal artinya pejabat yang mengurusi para penari/pemain topeng. Akar katanya adalah Tapel yang artinya topeng (Mardiwarsito, 1986 :586; Zoetmulder, 2004 :1212).

12) Tuhan ni Kabhalan artinya pejabat di Kabhalan. Nama Kabhalan tersebut juga di prasasti Pamotoh 1198M, prasasti Waringin Pitu 1447M, serta Pararaton 1631M. Pada ketiga sumber tersebut ditulis ‘Kabalan’. Di daerah Cemorokandang kota Malang, sampai sekarang terdapat dukuh kuno bernama Kabalon.

13) Wadwarare adalah pasukan yang terdiri dari para pemuda (Mardiwarsito, 1986 :652).

14) Wahuta adalah gelar jabatan (Mardiwarsito, 1986 :653; Zoetmulder, 2004 :1368). Tapi apa tugasnya belum diketahui. Mengingat namanya sering diikuti oleh titel seseorang (wahuta dari ……), diduga ia adalah pembantu pelaksana.

15) Tidak diketahui apa peranan sang Panghunjańan. Dalam prasasti Gulung-gulung 929M, Linggasuntan 929M, dan Jeru-jeru 930M (Trigangga, 2003 :13 ;21 ; dan 30) nama wahuta dari Panghunjańan ini muncul lagi sebagai salah satu saksi dari penetapan sima.

16) Manghambin adalah nama suatu jabatan. Tetapi apa tugas dan kewajibannya belum jelas.

17) Raman mungkin sama dengan kata rāma, yang artinya tetua desa (Mardiwarsito, 1986 :461 ;Zoetmulder, 2004 :913).

18) Kanayakan berasal dari akar kata nayaka, yang artinya pemimpin (Zoetmulder, 2004 :695).Kanayakan berarti kelompok nayaka, atau kelompok para pemimpin (yaitu rake dan pamgat).

19) Pangurang kata dasarnya adalah kurang. Boechari berpendapat bahwa Pangurang adalah petugas pemungut pajak (Boechari,1981 :76).

20) Tuha dari kalula berarti pemimpin dari para abdi/pelayan (zoetmulder, 2004 :446).

21) Yang dimaksud dengan tuhan dari lampuran diduga adalah pemimpin kelompok dari pemain keliling (Zoetmulder, 2004 :566).

22) Citralekha artinya lukisan atau penulis (Zoetmulder, 2004 :177). Yang berhubungan dengan penetapan sima biasanya adalah penulis prasasti.

23) Winkas wkas adalah pejabat yang tugasnya membawa berita atau membawa perintah dari atasan (Mardiwarsito, 1986 :673-674 ;Zoetmulder, 2004 :1410). Wahuta yang winkas wkas, mungkin pembantu yang tugasnya winkas wkas.

24) Patih adalah pejabat di tingkat daerah/watak, atau para pembantu rake dan pamgat (Boechari, 1981 :72).

25) Tidak dapat dipastikan kahyunnan ini nama suatu jabatan atau nama tempat. Nama ini muncul pula dalam prasasti Gulung-gulung 929M (Trigangga, 2003 :12-13). Juga dalam prasasti kahyunan 1161M sebagai nama desa (Damais, 1955 :73).

26) Tuha wanwa artinya orang yang mengkordinir desa, perkampungan (Mardiwarsito, 1986 :659 ;Zoetmulder, 2004 :1384).

27) Watang diartikan sebagai batang kayu, galah, tombak, tongkat (Mardiwarsito, 1986 :667). Sementara kras sama dengan keras (Mardiwarsito, 1985 :281). Sang watang kras mungkin sesuatu jabatan. Tetapi apa tugas dan kewajibannya tidak diketahui.

28) Parujar berasal dari kata ujar yang artinya perkataan. Parujar berarti pegawai yang tugas dan kewajibannya sebagai juru bicara (Mardiwarsito, 1986 :633).

29) Daman diduga adalah nama seorang pejabat desa, karena dalam prasasti Balingawan 891M (Brandes, 1913 :22) nama ini muncul berkali-kali bersama sederetan nama, yaitu dapunta ramyah, da(ng) pu hyang bharati, daman tarsa, dan da(ng) pu jala. Yang semuanya adalah penduduk desa Balingawan.

30) Wariga adalah ahli perbintangan yang bertugas mencari hari/saat yang baik untuk berbagai keperluan desa ((Mardiwarsito, 1986 :664).

31) Panurattan asal katanya adalah surat yang artinya yang ditulisi/digambari atau tulisan (Mardiwarsito, 1986 :549 ; Zoetmulder, 2004 :1155). Panurattan artinya orang yang mempunyai tugas sebagai juru tulis.

32) Sama dengan keterangan no.29

33) Manggala artinya pelindung/pemimpin di antara orang banyak (Mardiwarsito, 1986 :342 ; Zoetmulder, 2004 :649).

Dikutip dari: hurahura.wordpress.com
Judul Asli: Tinjauan Ulang tentang Prasasti Dinoyo II Tahun 820 Saka
Gelar Raja-Raja Mataram

Gelar Raja-Raja Mataram

02:26 0
Gelar Raja-Raja Mataram
Tahukah anda mengapa gelar raja-raja Mataram begitu hebat dan luar biasa? Sebelumnya mari kita lihat gelar empat raja Mataram yang tersisa. Sebenarnya tidak empat raja, dua raja dan dua lagi penguasa wilayah. Tapi toh gelar keempatnya mirip-mirip dan luar biasa mentereng, walaupun hanya sebagian dari gelar panjangnya.
Pertama, Sultan Hamengkubuwono yang berarti yang memangku dunia. Artinya, seluruh dunia berada dalam pangkuannya. Kedua, Pakualam, menjadi paku atau sumber atau intisari, tidak hanya dunia, tetapi alam semesta. Ketiga, Mangkunegaran, memangku negara, dialah intisari dari negara. Keempat, Pakubuwono, menjadi paku dunia. Pendeknya, keempatnya menjadi inti dari seluruh dunia dan alam semesta, walaupun realitasnya, kekuasaannya hanya beberapa ratus/ribu hektar dengan supervisi ketat VOC dan Pemerintah Belanda.
Saya membaca buku G Moedjanto (1987) yang berjudul Konsep Kekuasaan Jawa: penerapannya oleh raja-raja Mataram, terbitan Kanisius. Gelar-gelar yang mentereng tersebut menurut Moedjanto karena seluruh keturunan raja Mataram berasal dari petani sehingga dibutuhkan gelar sebagai basis legitimasi kekuasaan. Hal ini dibuktikan dengan gelar Panembahan (yang dipakai Panembahan Senopati) yang sebenarnya bukan gelar untuk golongan ningrat. Juga gelar Ki Ageng (yang digunakan Ki Ageng Pemanahan) yang hanya menunjukkan legitimasi local diantara petani.
Sehingga, keturunan raja-raja Mataram adalah keturunan yang mencoba untuk terus memburu gelar sebagai basis penguat legitimasi kekuasaan. Istilahnya tetap mendapatkan: trahing kusuma, rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih. Saat berubah menjadi Mataram Islam, gelar Sultan dipakai karena menunjukkan adanya legitimasi atas Islam yang mulai menyebar. Gelar Sultan dipandang lebih tinggi dari gelar sebelumnya yang pernah ada. Perburuan gelar itu terhenti saat sudah mencapai level yang sudah tidak bisa lagi disamai oleh orang kebanyakan. Jadi perwujudan politik identitas oleh raja-raja Mataram dilakukan dengan menegaskan gelar kebangsawanan yang mustahil disamai oleh bangsawan lainnya.
Keturunan petani ini juga terus dipertanyakan, terutama oleh pemberontak. Trunojoyo, yang memberontak dan berhasil mengusir Amangkurat II dari keraton menghina bahwa keturunan raja Mataram itu ibarat tebu,” Raja Mataram iku dak umpakakake tebu, pucuke maneh cen legiyo, sanadjan bongkote ing mbiyen ya adem bae, sebab raja trahing wong tetanen; angor macula bae bari angona sapi” ( Raja Mataram itu saya umpamakan tebu; masakan ujungnya manis, pangkalnya saja sejak dulunya terasa tawar, sebab raja keturunan petani; lebih baik kalau mencangkul saja sambil menggembalakan sapi) (Medjanto 1987, hal. 84) . Trunojoyo kemudian ditangkap atas bantuan Pangeran Puger dan VOC. Kepalanya konon berada di bawah anak tangga menuju makam Imogiri. Siapapun yang akan berziarah ke Makam Imogiri akan menginjak kepala Trunojoyo.
Perlawanan terhadap raja Mataram bahkan juga dilakukan oleh seorang kepala desa. Namanya Ki Ageng Mangir (perhatikan gelar Ki Ageng Mangir Wanabaya yang mirip Ki Ageng Pemanahan) yang berkuasa di sekitar Kulonprogo, tak terlalu jauh dari pusat kekuasaan. Untuk meredam pemberontakan Mangir, Raja mengutus putrinya untuk menggoda Mangir dengan menjadi seniman keliling. Setelah terpikat, Mangir menikahi putri raja ini. Mangir kemudian dapat dibujuk untuk mengadap raja. Pada saat melakukan sungkem kepada mertuanya, raja menghantamkan kepala Mangir ke lantai. Mangir tewas seketika. Makamnya saat ini ada di Makam Kotagedhe dengan posisi yang paling mudah dikenali. Separuh makam berada di dalam tembok makam, dan separuhnya lagi berada di luar tembok. Jadi makam Mangir pas dibelah di bagian perut, separuh diluar, separuh di dalam. Hal ini untuk menunjukkan bahwa Mangir separuh dianggap sebagai menantu dan separuhnya pemberontak.
Masih menurut Moedjanto, basis petani bagi raja-raja Mataram ini membawa implikasi kekuasaan yang serius. Dalam tradisi petani, seandainya seorang petani memiliki sebidang sawah 10 hektar dengan 5 orang anak, maka biasanya masing-masing anak akan mendapatkan 2 hektar. Hal ini tentu saja tidak bisa dilakukan dalam kerajaan. Hanya putra mahkota yang menjadi pewaris seluruh kekuasaan raja. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan dalam hampir setiap pergantian raja di Mataram. Dalam proses pelantikan seorang raja, selalu ada orang yang dituakan (tetua kerajaan) yang akan melakukan pemakluman dengan mengatakan, kira-kira begini: “Atas perkenan Raja yang mendahului, putranya ….. menggantikan di atas tahta; maka bula ada yang tidak setuju ayo maju saja, saya yang akan menghadapi” (Moedjanto, hal 29). Belakangan, terutama setelah Amangkurat II (cucu Sultan Agung), VOC dan Belandalah yang melakukan fungsi tersebut.
Dalam sejarah Mataram, perebutan kekuasaan tidak jarang menjadi konflik yang berlarut-larut dan berakhir perang. Itu karena pemikiran setiap keturunan memiliki hak yang sama untuk meneruskan kekuasaan orangtuanya. Hal ini diperumit dengan tradisi raja yang umumnya memiliki banyak istri dengan status antara garwa ampenan (selir) dan prameswari (permaisuri). Selir biasanya dimiliki lebih dulu, bahkan sebelum yang bersangkutan menjadi raja, sehingga jika memiliki anak laki-laki, usianya akan lebih tua dari anak dari permasuri. Inilah kasus yang terjadi pada Sultan Agung yang menjadi raja (seharusnya Pangeran Martapura dari permaisuri).
Selain itu, cerita suksesi sering dilengkapi dengan wangsit dan mistis yang tak pernah menemukan pembenaran logis. Salah satu cerita suksesi paling menarik adalah tatkala Amangkurat II meninggal dunia. Konon, kemaluan sang raja tetap tegak walau dirinya sudah tak bernyawa. Dalam detik-detik yang menegangkan tersebut, Pangeran Puger (adik Amangkurat II) melihat ada cahaya di ujung kemaluan sang kakak. Pangeran Puger lalu mengecup ujung kemaluan tersebut dan konon itulah wangsit kekuasaan. Pangeran Puger kemudian menjadi raja Mataram dengan gelar Pakubuwono I, menggantikan keponakannya Amangkurat III atas dukungan VOC.
Cerita lain belakangan adalah transisi kekuasaan dari Sultan HB VIII ke Sultan HB IX sebagaimana ditulis dalam desertasi Seloseomardjan. Saat menjemput anaknya yang tiba di Batavia menggunakan kereta api, Sultan HB VIII telah sakit-sakitan. Sultan HB VIII meminta anaknya segera kembali ketika sedang di Belanda. Dalam perjalanan menggunakan kereta ke Yogyakarta, di tengah perjalanan, Sultan HB VIII menyerahkan keris Joko Piturun yang mendadak muncul kepada anaknya. Sultan HB VIII wafat tak lama setelah menyerahkan keris Joko Piturun yang dipercaya sebagai symbol kekuasaan Kasultanan Yogyakarta. Masih menurut Selosoemardjan, saat tiba di Stasiun Tugu, petir menggelegar di siang bolong yang menjadi pertanda Raja hebat akan muncul di Yogyakarta.
Jadi, kembali ke gelar raja-raja Mataram, dari sejarah kita tahu, kekuasaan adalah sesuatu yang akan selalu digugat, bahkan oleh saudaranya sendiri. Raja-raja Mataram adalah subjek dari gugatan-gugatan tersebut karena terlahir sebagai keturunan petani
MENGAPA PERANG BAYU LAYAK DIKENANG

MENGAPA PERANG BAYU LAYAK DIKENANG

07:38 0
MENGAPA PERANG BAYU LAYAK DIKENANG
(Oleh: Hasan Ali)

Perang Bayu adalah peperangan yang terjadi antara pasukan VOC Belanda dengan pejuang-pejuang Blambangan pada tahun 1771-1772 di Songgon.
Peperangan ini oleh pihak Belanda sendiri diakui sebagai peperangan yang paling menegangkan, paling kejam dan paling banyak memakan korban dari semua peperangan yang pernah dilakukan oleh VOC Belanda di manapun di Indonesia (Lekkerkerker, 1923 : 1056).
Di pihak Blambangan, peperangan ini merupakan peperangan yang sangat heroik-patriotik dan membanggakan, yang patut dicatat, dikenang dan dijadikan suri tauladan bagi anak cucu kita dalam mencintai, membela dan membangun daerahnya, Bumi Blambangan.
Dalam Perang Bayu tersebut pejuang-pejuang Blambangan dipimpin oleh Rempeg, seorang buyut Pangeran Tawang Alun, putra Mas Bagus Puri (Dalem Wiraguna) dengan ibu dari desa Pakis (Pigeaud, 1932: 255).
Mas Rempeg ini oleh pengikutnya dipercaya sebagai titisan Agung Wilis yang legendaris. Karena itu oleh Belanda, Mas Rempeg disebut dengan sebutan “Pseudo Wilis “, Wilis-semu. 
Mas Rempeg dengan hampir seluruh pengikutnya, seperti Patih Jagalara, Mas Ayu (Sayu) Wiwit, Bekel Utun, Udhuh, Runteb dan lain-lain, gugur dengan gagah berani dalam Perang Puputan Bayu tersebut.

Beberapa hal yang patut dicatat sebagai luar biasa dalam Perang Puputan Bayu ini antara lain:
1. Perang Bayu ini, yang memuncak pada tanggal 18 Desember 1771, diakui oleh Belanda sendiri sebagai peperangan yang paling menegangkan, paling kejam, dan paling banyak memakan kurban dari semua peperangan yang pernah dilakukan VOC dimanapun di seluruh Indonesia (Ibid. 1923 : 1056).

2. Begitu kejamnya dan penuh dendam peperangan yang terjadi di bayu tersebut, sampai-sampai apabila ada pasukan VOC yang tertangkap pejuang Blambangan, seperti yang terjadi antara lain pada Letnan Van Schaar, kepalanya dipotong, ditancapkan di ujung tombak, dan diarak keliling desa. Demikian juga sebaliknya, dari hampir semua pejuang Blambangan yang tertangkap di Bayu, kepalanya dipotong dan digantung-gantungkan di pohon-pohon atau ditancap-tancapkan di tonggak-tonggak pagar di sepanjang jalan desa (Ibid . 19123 : 1059). Kiranya sulit untuk dapat kita temukan kekejaman peperangan lokal seperti yang terjadi di Bayu ini di daerah-daerah lain di Indonesia.
3. Dari sejumlah 2.505 sisa pejuang Blambangan yang ditawan dan dibawa ke benteng Teluk Pangpang/Muncar, tidak sedikit yang dihukum mati dengan menenggelamkannya ke laut, disiksa dan direjam sampai mati (Ibid . 1923 : 1060). Suatu hukuman yang lebih bersifat “balas dendam” dari pada sekedar melakukan “hukuman” kepada musuh.
4. Untuk menghadapi Perang Bayu ini VOC telah mengerahkan tidak kurang dari 10.000 personil. (dengan peralatan lengkap dan senjata berat) yang didatangkan dari seluruh Jawa: dari garnisun-garnisun Batavia. Semarang (Korp Dragonders), Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Madura dan dari daerah-daerah pantai utara Jawa Timur (Ibid. 1923: 1057-1059). Suatu jumlah yang yang luar biasa besar menurut keadaan pada waktu itu.
5. Peperangan di Bayu ini telah memakan kurban tidak kurang 60.000 rakyat Blambangan yang gugur, hilang, atau menyingkir ke hutan (Epp. 1849 : 347). Namun perlulah diketahui bahwa jumlah penduduk seluruh Blambangan pada waklu itu tidak sampai 65.000 orang..! J.C . Bosc h. seorang pejabat Pemerintahan Belanda pernah menulis dari Bondowoso pada tahun 1848;
"…daerah inilah barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang satu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali …" (Anderson, 1982: 75 – 76).

6. Untuk merebut Blambangan, khususnya untuk peperangan di Bayu ini, VOC telah menghabiskan dana seharga 8 (delapan)’ Ton emas yang merupakan pukulan telak terhadap keuangan VOC pada waktu itu. Pimpinan VOC di Batavia kemuclian menghitungnya sebagai “tidak sumbut”, tidak sesuai dengan kemungkinan apa yang dapat diperoleh sebagai imbalan dari Blambangan (Op. cit. 1823 : 1067).
7. Perang Bayu memang berakhir pada tanggal 11 Oktober 1772, namun perlawanan rakyat dalam benluk pemberontakan-pemberontakan lokal masih terjadi di berbagai daerah di Blambangan sampai berpuluh tahun kemudian (1815), yang dipimpin oleh sisa-sisa pasukan Bayu yang membandel dan pantang menyerah, yang oleh orang-orang Belanda dikatakan sebagai orang-orang Bayu yang “liar” (Lekkerkerker, 1926 : 401-402)
KOMIK PETRUK GARENG

KOMIK PETRUK GARENG

21:33 0
KOMIK PETRUK GARENG Bagi anak-anak yang tumbuh di tahun 1980-an sampai awal 1990-an, pasti tidak melewatkan komik Petruk-Gareng karya Tatang S. Komik Petruk-Gareng Tatang S. dicetak dalam kertas murahan. Hitam-putih. Tidak ada gambar berwarna kecuali halaman sampul. Setiap halaman komik umumnya hanya terdiri dari dua panel. Yang juga paling diingat dari komik Petruk-Gareng rekaan Tatang S. tentulah ceritanya. Cerita biasanya berlangsung di Desa Tumaritis, tempat Petruk, Gareng, Bagong, dan ayah mereka, Semar, tinggal. Dan, pembaca setianya pasti ingat ada dua tema cerita yang sering disodorkan Tatang lewat komik petruk-Gareng-nya: yaitu kisah mistis Petruk ketemu/digoda setan, hantu, dedemit, dan sebangsanya; serta Petruk dan/atau Gareng jadi superhero pahlawan Tumaritis (Megaloman Tumaritis, Batman Tumaritis, Superman Tumaritis) yang siap membasmi kejahatan. Kisah Petruk/Gareng ketemu setan sangat tipikal, dan di kemudian hari paling dikenang pembacanya. Biasanya, Petruk ketemu gadis cantik bahenol di tengah jalan sendirian. Bersikap gentleman dengan berharap bisa dijadikan pacar, Petruk menawarkan diri mengantar sang gadis pulang. Nah, biasanya, si gadis minta diantar ke rumahnya di suatu tempat. Petruk sadar tempat yang dimaksud kuburan, lantas bertanya pada sang gadis cantik nan bahenol tadi. Pada bagian ini, kemudian si gadis memperlihatkan jati diri aslinya: sesosok setan menyeramkan dengan lidah terjulur dan buah dada menggantung. Petruk lantas lari terbirit-birit. Kali lain, Petruk bermalam di rumah si gadis. Eh, begitu bangun di pagi hari, ia berada di atas kuburan, bukan di rumah gedong. Tatang sangat jago menggambar cewek cantik nan bahenol. Karakter cewek-cewek komik Petruk-Gareng Tatang S. selalu digambarkan berparas cantik dengan rambut panjang terjuntai dan dada yang montok. Petruk-Gareng memang bukan tokoh sembarangan. Mereka dibuat seolah-olah berasal dari pinggiran Jakarta, punya impian, namun mewakili kesialan rakyat kecil yang kadang mimpinya tergilas nasib kejam ibu kota. Ceritanya juga sangat sederhana. Kadang Petruk-Gareng mengisi waktu luang dengan memancing, kerja serabutan, selalu kantong kempes (tongpes) alias gak punya duit, hingga cinta tanah air sebab terlalu terlibat kegiatan ronda.
Ragam: Cerita Tentang Perjalanan, Pencerahan Dan Kebesaran Sunan Pandanaran (Edisi I)

Ragam: Cerita Tentang Perjalanan, Pencerahan Dan Kebesaran Sunan Pandanaran (Edisi I)

19:26 0
Ragam: Cerita Tentang Perjalanan, Pencerahan Dan Kebesaran Sunan Pandanaran (Edisi I)
By Wawan Surajah

Gapura Pamuncar Pintu Masuk Makam Sunan Pandanaran
Sunan Bayat atau juga Sunan Pandanaran adalah sosok besar dalam sejarah penyebaran agama Islam terutama di kawasan Jawa Tengah. Sosok yang hidup di masa yang sama dengan Wali Sanga ini berjuang selama 25 tahun untuk menyebarkan agama bersama sahabat dan pengikutnya dari kawasan Bayat, Klaten.
Di Bayat pula Sunan dimakamkan dan di sana pula kemudian sebuah kompleks pemakaman megah dibangun untuk mengenang jasa-jasanya. Sosok besar nyaris tidak pernah luput dengan cerita-cerita besar yang muncul selama hidup mereka, termasuk di diri Sunan Pandanaran, baik selama dia hidup bahkan setelah wafatnya.
Dari masa dia masih menjabat status sosial keduniawian hingga saat pencerahan, dari saat dia memilih jalan Islam hingga dia meninggal dunia, tidak pernah sosok besarnya lepas dari cerita-cerita kebesaran. Baik cerita “kedewaan” hingga cerita kebijaksanaannya sebagai seorang manusia telah berkembang dan diceritakan turun temurun hingga saat ini.
Dalam edisi pertama Ragam cerita Sunan Pandanaran kali ini akan diceritakan tentang Sunan Bayat yang masih menjabat sebagai Adipati Pandanaran, bupati Semarang, di saat sedang terjadi transisi dari kerajaan Hindu Buddha Majapahit ke kerajaan Islam Mataram.
Beberapa bagian dari cerita ini juga tertuang dalam jurnal berbahasa Inggris yang diterbitkan dalam sebuah buku kumpulan jurnal tentang dunia Islam berjudul “The Muslim World: Special Issue” dalam edisi 91, September 2001, yang berjudul “The Pilgrimage to Tembayat: Tradition and Revival in Indonesia Islam,” tulisan dari Nelly van Doorn-Harder (Valparaiso University) dan Kees de Jong (Universitas Duta Wacana Yogyakarta).
Masa Menjadi Bupati Semarang
Sunan Pandanaran dahulu kala menjabat sebagai seorang bupati Semarang, dia dikenal sebagai sosok pemimpin yang kikir. Hidupnya bergelimang harta. Dia suka membeli barang dengan harga rendah dan menjualnya dengan harga yang tinggi untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.
Datangah suatu waktu Sunan Kalijaga yang ingin mengajak bupati untuk masuk Islam. Namun Sunan tidak datang begitu saja. Sunan datang dengan menyamar sebagai seorang penjual rumput.
Sunan Kalijaga datang membawa satu karung rumput (alang-alang – bahasa Jawa) pada Sunan Pandanaran yang kala itu masih bergelar Adipati. Rumputnya pun dibeli dengan harga murah seperti biasanya. Yang tidak biasa dari hari itu adalah ketika Adipati Pandanaran membuka karung rumput dan dia menemukan pusaka (kandelan) yang terbuat dari emas tersembunyi di dalam rumput.
Emas dalam karung ini sebenarnya hanyalah sebuah ujian kejujuran yang diberikan Sunan Kalijaga pada Adipati. Sunan Kalijaga bukan tanpa maksud melakukan itu semua. Sebuah pesan sebenarnya dia kirimkan melalui alang-alang dan kandelan tadi, tetapi sayang Adipati tidak menangkap maksudnya dan justru senang mendapati emas.
Kata “alang” dalam alang-alang sejatinya mengandung arti “menolak”. Dengan memberikan sekarung rumput tadi, Sunan sebenarnya mempertanyakan kenapa Adipati selalu menolak ajakan Sunan untuk masuk Islam.
Sedangkan dalam kata “kandelan” terkandung kata “andel” yang dapat diartikan sebagai “mempercayai”. Dan jika saja Adipati mengerti nasihat yang ada dalam maksud Sunan Kalijaga, maka dia akan membaca nasihat tadi sebagai “Percayalah dan kembalikan kepadaku.”
Adipati tidak mengembalikan emas tadi tetapi justru kemudian membangun rumah mewah yang berdekorasikan emas. Setelah rumah itu jadi, dia mengadakan pesta besar dikediaman barunya itu.
Sunan Kalijaga tentu saja tidak diundang, namun dia tetap datang ke pesta itu, tanpa disadari oleh siapa pun. Namun karena dia hanya mengenakan pakaian sederhana, tidak ada orang di dalam pesta itu yang memperhatikan keberadaannya. Dan setelah dia mengganti baju dengan pakaian mewah, barulah dia dipersilahkan duduk bersama tamu-tamu penting Adipati.
Setelah berakhirnya pesta, Sunan kembali mengganti pakaian yang dikenakannya dengan pakaian biasa. Hal itu dipandang aneh oleh Adipati dan dianggap sebagai lelucon saja. Padahal dari tindakan itu, terkandung sebuah pesan spiritual yang dalam. Namun, lagi-lagi Adipati tidak membaca pesan Sunan Kalijaga.
Setelah cara-cara yang dipakainya menemui kegagalan. Sunan menyadari bahwa dia harus menggunakan cara keras untuk membuat bupati mengerti maksudnya.
Sunan Kalijaga kembali mendatangi Adipati dan kali ini menyamar sebagai seorang peminta-minta. Beberapa kali bupati melemparkan koin padanya namun pengemis itu tidak juga pergi. Melihat hal itu, Adipati pun murka.
Di saat itu pula pengemis tadi menjelaskan niat kedatangannya ke hadapan Adipati. Pengemis itu datang bukan untuk uang melainkan untuk mendengar suara bedug pertanda waktu sholat tiba. Setelah itu, pengemis tadi melemparkan tanah yang digenggamnya ke arah Adipati.
Adipati terkaget-kaget dengan apa yang dilihatnya saat itu. Tanah yang tadi dilempar oleh pengemis berubah menjadi sebongkah emas sesaat setelah dia tangkap. Dan di saat itu pula Adipati mendapatkan pencerahan tentang kehidupan dunia yang hanya bersifat sementara.
Barulah kemudian Adipati Pandanaran mengeri apa yang dimaksudkan Sunan Kalijaga dan bersedia dibimbing Sunan. Namun sebelum lebih jauh lagi, Sunan mengajukan empat syarat pada Adipati jika dia ingin menjadi muridnya. Keempat syarat tadi adalah:
1. Bupati harus berdoa dengan rutin dan mengajarkan Islam, mengajak semua penduduk yang berada di wilayah kekuasaanya masuk ke agama Islam.
2. Adipati harus memberi makan santri dan ulama, membuat bedug di langgar-langgar.
3. Memberi dan menyumbang dengan ikhlas dan menyerahkan kekayaannya pada yang membutuhkan dalam bentuk zakat.
4. Ikut pulang ke rumah Sunan Kalijaga dan menjadi orang yang bersedia menyalakan lampu rumah Sunan.
Dan barulah setelah itu kisah Adipati Pandanaran, seorang yang baru saja berjanji untuk lepas dari keduniawian, berlanjut untuk menuntut ilmu pada Sunan Kalijaga di Jabalkat, Bayat. Dan kisah selanjutnya dari Adipati Pandanaran adalah kisah perjalannnya menuju Jabalkat bersama istrinya.
Ragam: Cerita Tentang Perjalanan, Pencerahan, Dan Kebesaran Sunan Pandanaran (Edisi II)
Perjalanan Menaiki Anak Tangga Gunung Jabalkat Tembayat
Setelah Sunan Kalijaga mengajukan empat syarat yang harus dipenuhi oleh Adipati Pandanaran, Adipati akhirnya melakukan perjalanan ke Jabalkat, Tembayat. Dalam perjalanan tersebut, Adipati tidak sendiri melainkan ditemani oleh istrinya, Nyi Ageng Kaliwungu, yang tidak mau meninggalkan suaminya.
Kisah perjalanan Adipati Pandanaran menuju Gunung Jabalkat mencari Sunan Kalijaga penuh dengan rintangan dan cerita yang membesarkan namanya hingga dikenal luas oleh masyarakat pada waktu itu. Cerita-cerita tentang kesaktian dan kebijakan Adipati akhirnya mengantarkan Adipati pada gelar Sunan Pandanaran dan diterima baik oleh masyarakat luas dan juga mereka yang masih lekat dengan kepercayaan Orang Jawa di saat itu.
Tidak hanya jasanya dalam menyebarkan agama Islam, hingga saat ini masyarakat luas percaya bahwa dalam perjalanan tersebut Sunan Pandanaran adalah sosok besar yang memberikan nama pada beberapa tempat di Jawa seperti Salatiga, Boyolali, Wedi dan Jiwo. Bahkan Sunan Pandanaran juga yang disebut-sebut-sebagai sosok yang meninggalkan jejak kesaktian seperti Sendang Kucur dan batu Kali Pepe.
Perjalanan Panjang Dari Semarang Menuju Gunung Jabalkat
Perjalanan yang penuh dengan petualangan ditempuh Sunan Bayat dengan jarak kurang lebih 120 km. Dan dalam perjalanan ini lah Adipati Pandanaran diramalkan menjadi seorang pemimpin besar umat Muslim nantinya.
Adipati tidak melakukan perjalanannya seorang diri. Karena tidak ingin meninggalkan suaminya yang memilih jalan agama dengan meninggalkan semua kekayaannya dan melakukan perjalanan panjang mencari Sunan Kalijaga di Gunung Jabalkat, Nyi Ageng Kaliwungu, memilih ikut bersama suaminya.
Namun tidak sepenuhnya Nyi Ageng Kaliwungu dapat meninggalkan segala kekayaan yang dimiliki seperti yang dilakukan Adipati. Dalam perjalanan itu, dia memasukan beberapa perhiasan dalam tongkat bambu yang dibawanya dengan maksud untuk berjaga-jaga selama di perjalanan.
Apa yang dilakukan istrinya ternyata menuntun pada sebuah perkenalan dengan dua perampok yang nantinya menjadi pengikut setia Sunan Bayat. Hal itu berawal ketika mereka sampai pada suatu daerah (kini Salatiga) dan di sana mereka dihentikan oleh dua orang perampok bernama Sambang Dalan dan seorang rekannya.
Saat mereka meminta harta benda, Adipati yang tidak membawa apa-apa menyuruh dua perampok tadi mengambil bambu yang dibawa istrinya. Adipati juga mengatakan bahwa isi dalam bambu itu cukup untuk memenuhi kebutuhan seumur hidup mereka. Adipati juga berpesan agar mereka tidak melukai istrinya.
Namun sifat serakah para perampok makin menjadi karena mengira istrinya pasti membawa barang berharga lainnya. Kedua perampok tadi pun mulai menggeledah istri Adipati untuk menemukan benda berharga lainnya. Seketika pula istri Adipati berteriak minta pertolongan.
Dari kejadian ini dipercaya nama kota Salatiga berasal. Saat itu Adipati berujar, “Wong salah kok isih tega temen” (Sudah berbuat salah tetap saja tega). Dan dia juga menyebut bahwa mereka bertiga telah berbuat salah. Dan kemudian lokasi perampokan itu disebut Salatiga yang berasal dari kata “salah” dan “tiga”, Salahtiga (Salatiga).
Dari kejadian itu juga dua perampok yang menghentikan perjalanan mereka mendapatkan pelajaran. Sambang Dalan disebut oleh Adipati telah berbuat keterlaluan seperti domba (hewan) dan seketika itu pula wajahnya berubah menyerupai domba. Rekan dari Sambang Dalan ketakutan melihat kejadian itu hingga tubuhnya gemetaran (Jawa – ngewel). Saat itu juga berubah menyerupai ular.
Mereka berdua akhirnya menyesali perbuatan mereka dan memohon ampun kepada Adipati. Mereka juga berjanji untuk mengabdi dan setia kepada Adipati dan akan ikut dalam perjalanan menuju Jabalkat. Dua perampok tadi akhirnya menjadi pengikut pertama Adipati setelah sang istri dan dijuluki sebagai Syeh Domba (Sambang Dalan) dan Syeh Kewel (yang ngewel dan berwajah ular).
Cerita perjalanan Adipati berlanjut saat mereka sampai ke daerah yang sekarang dikenal dengan nama Boyolali. Di daerah itu Adipati yang berjalan di depan meninggalkan jauh istri yang menggendong anaknya. Hingga pada akhirnya karena kelelahan di tengah terik matahari Adipati duduk beristirahat di atas batu besar menunggu rombongannya yang tertinggal.
Dari kejadian ini Nyi Ageng Kaliwungu kemudian berujar, “Karo bojo mbok ojo lali” (Jangan lupa dengan istri). Dan setelah kejadian tersebut nama Boyolali yang dipercaya berasal dari frase “mbok ojo lali” mulai digunakan untuk menyebut daerah itu.
Jejak kisah perjalanan juga terdengar di kawasan Wedi (kecamatan di sebelah utara Bayat). Nama Wedi dipercaya juga berasal dari kisah perjalanan Sunan, tidak berbeda dengan nama Salatiga dan Boyolali. Di tempat ini Adipati memilih untuk menetap dan bekerja sementara sebelum kembali melanjutkan perjalananannya.
Dua pengikut setianya, Syeh Domba dan Syeh Kewel, diminta untuk menetap di gunung untuk menjalankan meditasi hingga Adipati kembali akan melanjutkan perjalanan. Di daerah ini Adipati bekerja pada seorang juragan beras bernama Gus Slamet. Konon di Wedi inilah nama besar Sunan kian dikenal di kalangan masyarakat.
Saat menetap di Wedi terdapat tiga kisah tentang kesaktian yang ditunjukan oleh Sunan. Kejadian pertama adalah kejadian asal mula nama Wedi. Kejadian yang melibatkan seorang penjual beras dan Adipati.
Suatu hari saat Adipati diminta untuk mencari beras oleh majikannya dia bertemu dengan seorang penjual di jalan. Penjual itu membawa gerobak dan akan menuju pasar. Ketika ditanya apakah dia membawa beras (karena berniat untuk membelinya), penjual tadi mengatakan tidak. Dia berbohong pada Adipati karena tidak mau menjual beras kepada Adipati dan justru mengatakan dia sedang membawa wedi (pasir).
Penjual itu kemudian melanjutkan perjalannya ke pasar untuk menjual berasnya. Namun dia sangat terkejut ketika sampai di pasar dan membongkar muatannya. Dia mendapati semua beras yang dibawanya telah berubah menjadi wedi, persis seperti apa yang dikatakannya pada Adipati.
Kejadian berikutnya adalah saat Adipati membantu istri majikannya, Nyi Tasik, untuk berjualan makanan di pasar. Suatu hari, setibanya di pasar untuk berjualan sama seperti setiap harinya, Nyi Tasik lupa membawa kayu bakar. Nyi Tasik kemudian memarahi Adipati karena hal itu dan saat menghadapi hal itu dia justru menawarkan tangannya sebagai pengganti kayu bakar.
Sesaat kemudian Adipati meletakan tangan di tungku masak dan seketika itu pula api menyembur dari tangannya seperti kayu yang terbakar api. Hal itu tentu tidak hanya menakjubkan bagi Nyi Tasik tetapi juga bagi masyarakat yang kemudian banyak mengenal nama Adipati Pandanaran. Dan konon setelah kejadian itu, Nyi Tasik menjadi salah satu pengikut Sunan dan turut dalam perjalanan ke Gunung Jabalkat.
Kisah terakhir Adipati di Wedi adalah saat Adipati menjadi tukang pengisi air wudhu. Suatu hari saat menjalankan tugasnya dia menggunakan keranjang bambu untuk mengisi air dalam padasan (gentong tempat menyimpan air wudhu). Tentu saja semua orang terkejut melihat kejadian itu karena mereka mendapati tidak setetes air pun keluar melalui sela rajutan bamboo yang digunakan Adipati untuk mengisi padasan.
Kemudian tiba waktu saat Adipati Pandanaran melanjutkan perjalanan menuju Gunung Jabalkat. Kini dia bersiap menerima petunjuk dan arahan yang lebih dari Sunan Kalijaga. Dalam perjalanan itu dia tak lupa menjemput kedua pengikut setianya, Syeh Domba dan Syeh Kewel, dari tempat meditasi mereka.
Dalam perjalanan menuju Jabalkat ini kembali lagi ada satu cerita tentang kesaktian Adipati. Cerita itu diawali dengan anak Adipati yang menangis karena kehausan. Adipati tidak dapat menemukan sumber mata air di kawasan itu, dan kemudian sebuah peristiwa magis terjadi. Terdapat dua versi cerita tentang bagaimana kejadian ini berlangsung, yaitu:
Ada yang percaya bahwa Adipati menggunakan tongkatnya untuk memunculkan sumber mata air di lokasi tadi. Dia menghujamkan tongkatnya hingga air mengucur dan tidak berhenti keluar dari lubang itu hingga membentuk sumur.
Cerita lain yang juga dipercaya warga di sana saat ini adalah Adipati menggunakan kukunya untuk memunculkan sumber air. Dia menggoreskan kukunya ke tanah. Dan seketika itu juga dari bekas goresan kuku Adipati menyembur air hingga membentuk genangan air.
Dari genangan itu kemudian anak dan istri Adipati dapat mengobati rasa haus mereka tadi. Konon genangan air jejak dari kesaktian Adipati itu adalah Sendang Kucur yang terdapat di dalam hutan angker Kucur yang terletak di Paseban, Bayat, Klaten.
Kelanjutan kisah dari perjalanan ini adalah sampainya Adipati dan rombongan di Gunung Jabalkat dan di sana dia mendapatkan nama Sunan Pandanaran atau Sunan Bayat atau Sunan Tembayat. Di sana pula dengan segala ketenaran yang telah dimilikinya selama perjalanan dia menjalankan tugas syiar Islam ke seluruh penjuru Jawa khususnya Jawa Tengah dengan mendirikan masjid yang sekaligus menjadi pesantren pertama.
Ragam: Cerita Tentang Perjalanan, Pencerahan Dan Kebesaran Sunan Pandanaran (Edisi III/Terakhir)
By Wawan Surajah

Kompleks Pemakaman Sunan Pandanaran Gunung Jabalkat Tembayat
Kisah terakhir dari Sunan Pandanaran adalah masa ketika dirinya sampai di Tembayat. Di Tembayat Sunan menderikan sebuah masjid di atas Gunung Jabalkat yang sekaligus difungsikan sebagai tempat pendidikan agama. Tempat itu pun akhirnya menjadi pesantren pertama atau sekolah asrama pertama di Jawa Tengah.
Namun usaha yang dilakukan Sunan tidaklah semudah itu. Setelah memilih jalan agama dan melakoni perjalanan yang penuh petualangan ternyata mambatan masih saja ada saat dia berada di Tembayat. Salah satunya adalah perlawanan dari para pemimpin mistis Jawa. Disebutkan dalam kisah ini adalah seorang pemimpin di Jawa harus memiliki kekuatan sakti di luar kekuatan pengetahuan dan wibawa. Dan di saat seseorang memiliki itu semua, barulah semua kalangan di Jawa percaya dengan maksud keberadaanya.
Selain meninggalkan jejak cerita pada saat dirinya menyebarkan agama Islam dari Tembayat. Ternyata kekuatan kebesaran Sunan masih terasa hingga pada masa Sultan Agung, yang hidup di masa setelah Sunan. Beberapa kisah pertemuan Sultan dan Sunan juga beredar dan menjadi salah satu cerita tentang awal mula berdirinya kompleks pemakaman Sunan Bayat yang megah dan elok.
Masa Kebesaran Sunan di Tembayat
Di awal tugas di Tembayat inilah saat Sunan Pandanaran mendapat perlawanan dari pemimpin mistis Jawa. Mereka adalah orang-orang yang mempertanyakan kekuatan sakti yang dimiliki oleh Sunan. Salah satunya adalah perlawanan dari Prawira Sakti, seorang penganut ilmu kebatinan.
Sunan menerima tantangan Prawira Sakti untuk melakukan uji kewibawaan. Beberapa tantangan dilakoni oleh Sunan dan yang pertama adalah tantangan untuk menangkap merpati yang dilepas ke udara oleh Prawira. Yang dilakukan Sunan untuk menangkap merpati itu adalah dengan hanya melemparkan sandal kayunya. Dan dengan sekali lempar burung itu berhasil dijatuhkan.
Tantangan kedua adalah menangkap topi yang oleh Prawira dilempar ke langit jauh hingga tak terlihat oleh mata. Dengan sebelah sandal kayu yang masih ada Sunan berhasil dengan sangat mudah mengenai topi itu dan lolos tantangan kedua.
Pada tantangan ketiga Sunan ditantang untuk mencari keberadaan Prawira yang bersembunyi. Keberadaan Prawira tidak tampak karena dia bersembunyi dengan cara yang tidak biasa. Namun dengan mudah Sunan berhasil menemukan keberadaan Prawira yang bersembunyi di bawah sebongkah batu besar.
Setelah tiga tantangan berhasil dilalui dengan mudah oleh Sunan. Kini giliran Sunan memberikan satu tantangan pada Prawira. Dan sekarang menjadi giliran Prawira untuk mencari keberadaan Sunan yang bersembunyi. Dan Prawira yang sakti gagal menjalankan tantangan Sunan karena tidak dapat menemukan Sunan yang bersembunyi di antara kedua alisnya.
Selain cerita tentang kesaktian yang dimiliki Sunan untuk menghadapi perlawanan para pemimpin mistis Jawa beredar juga cerita tentang kebesaran yang lainnya. Dikisahkan adalah suara adzan yang terlalu kuat dan keras yang didengar oleh salah satu Wali yang berada di Demak.
Suara adzan tadi ternyata adalah suara dari panggilan sholat Sunan Pandanaran dari Tembayat, ratusan kilometer jaraknya. Tentu saja suara yang terlalu keras itu mengganggu Wali tadi hingga kemudian dia meminta Sunan untuk menurunkan suara adzan yang dibuatnya. Menyaguhi permintaan Wali tadi, Sunan kemudian memindahkan masjid yang berada di puncak Jabalkat. Dan dengan kesaktiannya Sunan menarik masjid tadi hingga sampai di lereng gunung.
Kebesaran Sunan Setelah Meninggal
Kebesaran nama Sunan sebagai seorang pemimpin agama tetap terjaga hingga dirinya meninggal setelah menjalankan syiar selama 25 tahun di Tembayat. Salah satu yang membuktikan kebesaran nama Sunan adalah Sultan Agung, pemimpin besar kerajaan Mataram, yang merubah makam Sunan hingga menjadi salah satu kompleks pemakaman termegah di Jawa.
Bukti bahwa Sultan pernah berada di Tembayat ditemukan dalam catatan seorang pemimpin kolonial Belanda (1631 – 1634) yang menyebutkan bahwa penguasa Mataram pergi ke suatu tempat yang bernama Tembaijat untuk melakukan pengorbanan.
Keberadaan Sultan di Tembayat dianggap lazim karena dalam hirarki kekuatan Jawa seorang penguasa “diwajibkan” untuk mencari saran dan petunjuk kepada mereka yang disucikan atau diagungkan. Dan orang suci yang ada di wilayah Mataram adalah Sunan Bayat yang berada di Tembayat.
Terdapat dua cerita yang beredar tentang kunjungan Sultan Agung itu. Dan dari kedua cerita tadi semuanya berujung pada penghormatan yang dilakukan Sultan kepada Sunan dengan membangun kompleks pemakaman.
Kisah pertama yang beredar hingga saat ini adalah ketika suatu hari Sultan bersama orang kepercayaannya, Juru Taman, tersesat di dalam hutan di sekitar istananya. Sultan terpisah dari Juru Taman dan tidak dapat menemukannya hingga dia merasa putus asa. Hingga akhirnya Sultan memutuskan untuk melakoni pertapaan sebagai usaha menemukan jalan keluar.
Ternyata usaha Sultan menemui kebuntuan hingga secara tiba-tiba muncul sesosok priyayi yang muncul ke hadapan Sultan dan menawarkan bantuan kepadanya. Sultan menyambut bantuan orang itu dengan menceritakan masalah yang dihadapinya. Orang tadi kemudian menyarankan Sultan untuk mempelajari sebuah ilmu terlebih dahulu hingga selesai.
Setelah Sultan menyaguhinya dan menyelesaikannya baru priyayi tadi memperkenalkan diri sebagai Sunan yang tinggal di Bayat. Sosok Sunan tadi kemudian membantu Sultan untuk pulang kembali keistananya. Secara ajaib sosok Sunan tadi menggunakan lengan bajunya untuk memindahkan Sultan hingga kembali keistananya dalam sekejap.
Sesampainya di istana barulah Sultan bertemu dengan Juru Taman. Saat itu pula Sultan baru mengetahui bahwa ternyata selama dicari Juru Taman justru pergi ke tempat tinggal istri-istri Sultan. Semua orang menyambut dengan bahagia kepulangan Sultan dan sebagai balas jasa atas bantuan sosok Sunan tadi Sultan Agung mengatakan akan membangun kompleks pemakaman baru untuk kuburan Sunan Bayat.
Pembangunan akhirnya dilaksanakan dan menggunakan cara yang luar biasa. Semua itu dilakukan karena Sunan dianggap sebagai sosok suci dan luar biasa. Seluruh kebutuhan dipilih dengan teliti termasuk para pekerja bangunan. Para pekerja itu harus memiliki perilaku yang santun dengan rohani yang mendukung.
Terpilihlah 300.000 orang sebagai pekerja kompleks pemakaman Sunan Bayat. Ratusan ribu pekerja tadi dikisahkan duduk berderet dari lokasi tambang batu hingga makam. Mereka duduk dengan posisi bersila dan dengan kedua tangannya mereka memindahkan satu per satu batu-batu dari tambang hingga ke makam.
Kisah tentang apa yang dilakukan ratusan ribu pekerja ini kemudian memunculkan gambaran tentang besarnya pengorbanan yang dilakukan untuk membangun kompleks pemakaman Sunan. Dan dengan pengorbanan yang besar itu, kompleks pemakaman Sunan dianggap sebagai salah satu makam tercantik yang pernah ada di Jawa.
Kisah kedua tentang pertemuan Sultan Agung dengan sosok Sunan Bayat adalah dalam sebuah pergelaran wayang kulit. Saat itu Sultan sedang menyaksikan pergelaran wayang kulit yang berada jauh dari istananya. Di saat itulah Sultan menyadari ancaman yang sedang dihadapinya. Ancaman itu antara lain adalah konspirasi kerajaan Balambangan dan Bali untuk melawan Mataram dan juga pengkhianatan Juru Taman yang menjalin hubungan dengan istri Sultan dan ingin menggantikan posisi Sultan.
Menyadari hal-hal tadi membuat Sultan putus asa hingga jatuh bersujud. Di dalam sujudnya Sultan memohon ampun kepada Tuhan atas dosa-dosanya hingga menempatkan Sultan pada posisi yang sulit. Di saat itu pula muncul di hadapan Sultan sosok orang tua. Sosok itu dipercaya sebagai sosok Sunan Bayat.
Sosok Sunan Bayat yang menemui Sultan kemudian berusaha membantu Sultan agar dapat pulang ke istana secepat mungkin. Sosok itu menggunakan tongkatnya untuk menolong Sultan. Dengan mengayunkan tongkat, Sultan pun terlempar jauh hingga sampai di istana secepat kilat. Dan dari kisah itu, konon Sultan berterima kasih pada sosok Sunan Pandanaran dengan merenovasi makamnya dengan bentuk dan gaya yang luar biasa
Mari Berwisata! Kompleks Pemakaman Sunan Bayat di Gunung Jabalkat
April 3, 2013 By Wawan Surajah 3 Comments

Regol Sinaga Kompleks Pemakaman Sunan Bayat Klaten
Membayar tiket masuk seharga Rp 2.000 mungkin bukan hal yang memberatkan untuk memasuki sebuah kawasan wisata. Tetapi jika harus menaiki 250 anak tangga yang cukup menanjak terlebih dahulu untuk bisa menikmati kawasan itu baru terasa berat bagi sebagian orang.
Adalah Makam Tembayat, makam dari Sunan Bayat yang terletak di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, yang terletak di atas perbukitan Gunung Jabalkat. Lokasi makam yang berada di ketinggian 860 meter dpl ini dapat dicapai dengan terlebih dahulu menaiki 250 anak tangga.
Sunan Bayat adalah seorang tokoh religius penyebar agama Islam di kawasan Jawa Tengah pada abad 16. Sunan Bayat berjuang menyebarkan agama Islam pada waktu yang sama dengan Wali Sanga. Dan karena kebesaran nama dan pengaruhnya, Sunan Bayat bahkan dianggap sebagai Wali yang kesepuluh dari Wali Sanga.
Sunan Bayat yang memiliki banyak nama dan sebutan adalah murid dari Sunan Kalijaga. Setelah mendapatkan pencerahan dan menyebarkan agama Islam dari kawasan Bayat, sosoknya mendapatkan julukan Sunan Bayat. Namun ada juga yang menamainya sebagai Sunan Tembayat, Sunan Padang Aran, Sunan Pandanaran, atau Ki Ageng Pandanaran.
Gapura Panemut Kompleks Pemakaman Sunan Bayat Klaten
Kompleks pemakaman Sunan Bayat dibangun pada tahun 1620 M oleh raja besar Mataram, Sultan Agung. Sebelum dijadikan kompleks pemakaman oleh Sultan Agung, makam Sunan Bayat diperkirakan sudah dibangun sejak tahun 1526 M, seperti yang tertera pada Gapura Segara Muncar (1448 Saka) yang terdapat di bawah bukit dan berfungsi sebagai pintu gerbang pertama pemakaman.
Kompleks pemakaman yang pernah dianggap sebagai salah satu kompleks pemakaman termegah di era Kerajaan Mataram ini memiliki bagian-bagian yang menunjukan budaya peralihan dari Hindu ke Islam. Hal itu dapat dilihat dari keberadaan gapura-gapura Hindu di dalam kompleks pemakaman. Namun yang membuat gapura ini berbeda adalah tidak adanya ornamen binatang seperti yang biasa ada dalam gapura Hindu.
Gapura Pamuncar Kompleks Pemakaman Sunan Bayat Klaten
Dan memang masa perjuangan Sunan Bayat dalam menyebarkan agama Islam adalah pada masa transisi kekuasaan dan kebudayaan dari kerajaan Hindu Buddha Majapahit ke kerajaan Islam Mataram.
Sunan Bayat yang dipercaya sebagai seorang Bupati Semarang sebelum dirinya menjadi seorang pemimpin agama adalah tokoh utama dalam kompleks pemakaman Tembayat. Kompleks pemakaman yang berada di Gunung Cokro Kembang (bagian dari perbukitan Gunung Jabalkat) terbagi dalam beberapa bagian penting sebelum peziarah mencapai makam Sunan Bayat yang berada pada bagian paling atas.
Gapura Balekencur Kompleks Pemakaman Sunan Bayat Klaten
Dimulai dari pintu gerbang pertama adalah Gapura Segara Muncar, lalu Gapura Dhuda, dan pintu ketiga yaitu Gapura Pangrantungan. Gapura Pangrantungan berada di “garis finis” dari 250 anak tangga menuju makam. Di kompleks gapura ini terdapat Bangsal Nglebet (untuk tamu wanita) dan Bangsal Jawi (untuk pria) sebagai lokasi beristirahat dan menghela nafas setelah lelah menapaki anak tangga.
Di bangsal ini pula, pengunjung wajib mendaftarkan diri sebelum masuk ke area pemakaman. Pengunjung kembali harus mengeluarkan “uang donasi” di bangsal ini untuk biaya tiket. Dari bangsal ini pengunjung kemudian mengarah ke kompleks pemakaman sahabat Sunan dan kembali akan menemukan Gapura Panemut yang juga memiliki gaya bangunan Hindu.
Masuk lebih dalam lagi kita akan melewati Gapura Pamuncar, Gapura Balekencur, dan Gapura Prabayeksa, gapura terakhir sebelum memasuki makam Sunan. Dari gapura terakhir tadi pengunjung akan bertemu dengan seorang juru doa yang duduk di depan sebuah perapian yang terletak di bawah Regol Sinaga.
Gentong Sinaga Kompleks Pemakaman Sunan Tembayat Klaten
Juru doa ini adalah seseorang yang dapat dimintai bantuan untuk memintakan izin dan mendoakan peziarah yang datang mengunjungi makam Sunan Bayat. Di kanan dan kiri Regol Sinaga yang berpintu tiga diletakan masing-masing sebuah gentong yang diberi nama Gentong Sinaga, yang dipercaya sebagai padasan atau tempat air wudhu Sunan Bayat.
Gentong Sinaga Kompleks Pemakaman Sunan Pandanaran Klaten
Beberapa peziarah yang datang atau meninggalkan makam Sunan selalu menyempatkan diri untuk meminum air dari dalam gentong atau menyimpan sedikit dalam botol untuk dibawa pulang. Dari Regol Sinaga pengunjung dapat langsung masuk ke dalam bangunan utama yang terdapat di puncak bukit ini.
Di dalam bangunan inilah Sunan Bayat dimakamkan. Makam Sunan Bayat terdapat di tengah bangunan tersembunyi dalam bilik kayu berbentuk persegi mirip seperti Ka’bah di Mekah. Banyak peziarah yang masuk, akan mengantri di samping makam untuk dapat mendekati makam Sunan. Beberapa dari mereka juga terlihat sibuk menyalin teks Jawa yang tertulis pada sebuah batu yang diletakan di samping makam.
Di samping makam Sunan Bayat terdapat dua makam istri Sunan Bayat yaitu Nyi Ageng Kali Wungu dan Nyi Ageng Krakitan. Sementara (bagian dalam) di depan pintu masuk bangunan utama terdapat beberapa makam sahabat-sahabat Sunan Bayat.
Dari dalam makam Sunan Bayat pengunjung kemudian dapat mengunjungi dua makam sahabat Sunan yang berada di bagian luar bangunan utama. Dua makam itu adalah makam Dampu Awang dan Ki Pawilangan.
Dampu Awang dipercaya sebagai seorang pedagang dari Semarang dan dia adalah seorang keturunan Tionghoa. Makam Dampu Awang tampak berbeda dengan makam lainnya karena ukuran panjang yang tidak biasa. Ukuran makam Dampu Awang tampak sangat panjang daripada makam-makam lain yang ada didekatnya termasuk milik Ki Pawilangan.
Makam Dampu Awang Pemakaman Sunan Padang Aran
Sebuah tradisi unik sering dilakukan oleh para peziarah saat mengunjungi makam Dampu Awang dan Ki Pawilangan. Tersebar cerita kuno bahwa bagi siapa yang berhasil menyentuh dua batu nisan (masing-masing di bagian ujung) makam Dampu Awang dengan membentangkan tangannya, maka keinginannya akan terkabul. Dan bagi kerabat yang pertama menyentuh orang yang berhasil tadi juga akan mendapatkan sebagian dari berkahnya.
Sedangkan cerita kuno pada makam Ki Pawilangan adalah bagi siapa yang menghitung jumlah batu hias pada makam sebanyak tiga putaran dengan jumlah berbeda dan membesar. Maka dia akan mendapatkan berkah. Sementara jika hasil perhitungan selama tiga kali menghasilkan jumlah menurun maka dia akan mendapatkan kebalikannya.
Kebanyakan pengunjung yang datang ke kompleks pemakaman Sunan Bayat adalah para peziarah yang datang dari Jawa Tengah terutama Semarang. Hal ini bisa jadi karena latar belakang asal-usul Sunan yang datang dari Semarang sebelum menjalani hidup religius di bawah bimbingan Sunan Kalijaga.
Selain makam Sunan Bayat, pengunjung juga dapat mengunjungi Masjid Golo, dengan bedugnya, yang dibangun oleh Sunan Bayat. Ada juga makam Syeh Domba di Gunung Cakaran, pengikut setia Sunan, yang diceritakan pernah berkepala domba karena merampok istri Sunan. Atau makam Syeh Kewel di Makam Sentana, pengikut setia Sunan, yang diceritakan pernah berkepala Ular karena juga turut merampok istri Sunan.
Kompleks Pemakaman Sunan Pandanaran Paseban Bayat Klaten
Dan seperti halnya kawasan sakral lainnya di Jawa, lokasi ini juga menggelar sebuah acara budaya yang sudah menjadi tradisi. Upacara Ruwatan atau Jodangan digelar oleh warga di sana setiap tanggal 27 pada hari Jum’at Kliwon di bulan Ruwah. Upacara ini adalah upacara peringatan jasa besar Sunan Bayat yang digelar dengan rangkaian upacara bersih makam, mengganti kain penutup makam, selamatan, serta pertunjukan Reog.
Untuk dapat mencapai lokasi kompleks pemakaman Sunan Bayat yang terletak di Kecamatan Bayat, perjalanan dengan mobil atau motor dapat dipilih. Kurang lebih perjalanan akan memakan waktu kurang dari satu jam dari kota Solo. Jalur terdekat yang dapat diambil adalah jalur Wonosari, Juwiring, Pedan, Cawas/Trucuk kemudian Bayat. Jalur ini lebih cepat ditempuh daripada harus masuk melalui jalur Klaten kota.