Showing posts with label CERITA RAKYAT. Show all posts
Showing posts with label CERITA RAKYAT. Show all posts
LEGENDA ULAR SUCI

LEGENDA ULAR SUCI

00:53 0
LEGENDA ULAR SUCI
Pada masa Kerajaan Majapahit ada seseorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwijendra atau Dang Hyang Nirarta.Beliau dikenal sebagai Tokoh penyebaran ajaran Agama Hindu dengan nama “Dharma Yatra “.Di Lombok beliau dikenal dengan nama “Tuan Semeru” atau guru dari Semeru (sebuah nama Gunung di Jawa Timur).
Pura Luhur Tanah Lot
Pada waktu beliau datang ke Bali untuk menjalankan misinya,yang berkuasa di Bali saat itu adalah Raja Dalem Waturenggong yang menyambut beliau dengan sangat hormat. Beliau menyebarkan agama Hindu sampai ke pelosok-pelosok Pulau Bali. Suatu ketika pada saat beliau menjalankan tugasnya, beliau melihat sinar suci dari arah tenggara dan beliau mengikutinya sampai pada sumbernya yang ternyata adalah sebuah sumber mata air. Tidak jauh dari tempat itu beliau menemukan sebuah tempat yang sangat indah yang disebut “Gili Beo”(Gili artinya Batu Karang dan Beo artinya Burung) jadi tempat itu adalah sebuah Batu Karang yang berbentuk burung.
Ditempat inilah beliau melakukan meditasi dan pemujaan terhadap Dewa Penguasa Laut. Lokasi tempat Batu Karang ini termasuk dalam daerah Desa Beraban,dimana di desa tersebut dikepalai oleh seorang pemimpin suci yang disebut “Bendesa Beraban Sakti”.Sebelumnya masyarakat Desa Beraban menganut ajaran monotheisme(percaya dan bersandar hanya pada satu orang pemimpin yang menjadi utusan Tuhan sperti Nabi)dalam waktu yang singkat banyak masyarakat Desa Beraban ini mengikuti ajaran Dang Hyang Nirarta yang kemudian membuat Bendesa Beraban Sakti sangat marah dan mengajak pengikutnya yang masih setia untuk mengusir Bhagawan suci ini.
Dengan kekuatan spiritual yang dimiliki Dhang Hyang Nirarta,beliau melindungi diri dari serangan Bendesa Baraban dengan memindahkan batu karang besar tempat beliau bermeditasi (Gili Beo) ke tengah lautan dan menciptakan banyak ular dengan selendangnya di sekitar batu karang sebagai pelindung dan penjaga tempat tersebut.Kemudian beliau memberi nama tempat itu “Tanah Lot” yang berarti Tanah di tengah Laut.
Akhirnya Bendesa Beraban mengakui kesaktian dan kekuatan spiritual dari Dang Hyang Nirarta,dan akhirnya Bendesa Beraban menjadi pengikut setia dan ikut menyebarkan ajaran Agama Hindu kepada penduduk setempat.Sebagai tanda terima kasih sebelum melanjutkan perjalanan beliau memberikan sebuah keris kepada Bendesa Beraban yang dikenal dengan nama “Keris Jaramenara atau Keris Ki Baru Gajah”.Saat ini keris itu disimpan di Puri Kediri yang sangat dikeramatkan dan di upacarai setiap hari raya Kuningan.Dan upacara tersebut di adakan di Pura Tanah Lot setiap 210 hari sekali,yakni pada “Buda Wage Lengkir”sesuai dengan penanggalan Kalender Bali.
Holy snake/ Ular Suci (Ular Poleng)
Jadi, menurut legenda ular ini merupakan jelmaan dari selendang yang dimiliki oleh Dhang Hyang Nirarta untuk menjaga Tanah Lot ini. Dari cerita ini, pasti kawan-kawan merasa kaget karena ular yang memiliki nama spesies Bungarus Candidus ini masih hidup sampai SEKARANG dari jaman tersebut.
Ular suci ini memiliki banyak nama, diantaranya Bungarus Candidus, Holy Snake, Ular Weling, Ular Belang, Blue Krait atau Malayan Krait. Nama weling berasal dari bahasa jawa yaitu welang-weling menunjuk kepada pola belang hitam-putih seperti warna kulit ular ini. Ular ini memiliki panjang maksimal hanya 2m dan penyebaran ular ini meliputi wilayah-wilayah dekat pantai hingga daerah pegunungan. Ular welang dikategorikan amat berbahaya karena bisanya yang bersifat mematikan, meskipun laporan kematian pada manusia akibat gigitan ular ini termasuk rendah.
Proses Wawancara dengan narasumber
Setelah kami observasi dan mengulas informasi dengan beberapa narasumber, kita mendapatkan informasi yang penting dan tak kalah menarik loh dari fakta-fakta yang umum tentang ular suci ini. Ada juga beberapa mitos yang terkandung.
Yang pertama kami mendapatkan informasi dari narasumber ular ini berusia ratusan abad. Jika dari sudut pandang analogika tidak mungkin ular spesies ini dapat hidup selama itu, namun dari sudut pandang cerita legenda “Dhang Hyang Nirarta menciptakan banyak ular dengan selendangnya di sekitar batu karang sebagai pelindung dan penjaga tempat tersebut”. Istilah “banyak” dari secuil kata legenda dapat diartikan ular tersebut dapat bertahan di Tanah Lot dengan cara berkembangbiak agar populasi spesies ular ini tidak punah di Tanah Lot.
Yang kedua, mengapa ular suci ini tidak ditempatkan di pure saja agar lebih dirawat?. Menurut mitosnya memang ular ini dijaga habitatnya yang berada di gua untuk menjaga area pure, maka masyarakat sengaja menempatkannya di gua didepan pure luhur.
Yang ketiga, apa yang terjadi jika ada orang yang bermaksud berbuat tidak senonoh kepada ular suci ini? Celakakah? Bahayakah?. Jawabannya, Ya… karena jenis ular ini ular beracun, Jika hal ini dipikir secara ilhmiah. Namun, jika menurut kepercayaan, orang yang melakukan hal tidak baik terhadap ular ini akan terkena suatu hal yang buruk dan mengerikan.
Yang keempat, kami mendapat informasi pengalaman dari salah satu pawang ular suci tersebut. Pernah ada suatu hal buruk yang terjadi pada seseorang yang berniat jahat dengan ular ini. ‘’Dulu pernah ada kejadian ada 2 orang laki-laki berwisata atau apa saya nggak tau, tapi kayaknya 2 orang itu bermaksud jahat entah apa, tiba-tiba waktu keluar tanah lot 2 orang itu kesurupan, dan syaratnya jika ingin sembuh harus diantar ke laut tanah lot dan dikeluarkan makhluk gaibnya, ada yang bilang kalau ‘’itu’’ adalah penjaga tanah lot yang diyakini oleh warga sekitar.
Yang kelima, dengan sebutan ular suci, mengapa para tourist tetap diizinkan mengunjunginya, padahal ular ini dianggap suci? Jawabannya, karena Pure Luhur yang diciptakan oleh legenda tersebut lebih suci dan hanya boleh dimasuki umat Hindhu, maka jika ular ini diletakkan di pure, maka kesucian pure akan berkurang terus menerus karena adanya tourist yang terus berdatangan hanya melihat ular. Maka dari itu ular suci ini sengaja dibiarkan hidup di habitatnya yaitu di gua tanah lot.
 Yang keenam, ular suci ini memiliki hubungan dengan air suci di tanah lot, pernah ditemukan terdapat terowongan antara goa ular suci ke tempat air suci.


Dari pernyataan-pernyataan diatas kami telah membeberkan semua fakta-fakta khusus tentang ular suci di tanah lot tersebut berdasarkan Informasi dari Narasumber. Dan dapat disimpulkan bahwa semua fakta yang terkandung tergantung pada kepercayaan kalian masing-masing. Dan jika kalian ingin melihat ular suci ini datanglah saat sore hari karena ular ini adalah hewan nocturnal. Kita dapat menarik garis kesimpulan bahwa sejarah asal mula munculnya ular suci sebenarnya hanyalah mitos yang telah dipercayai masyarakat setempat. Dan yang membuat pengunjung teratarik dengan ular suci ini karena cerita masyarakat yang telah mendarah daging.
JAKA SEMBUNG SINOPSIS

JAKA SEMBUNG SINOPSIS

07:56 1

Sinopsis

Pada zaman penjajahan Belanda, Parmin alias Jaka Sembung merupakan jawara sakti Kandanghaur. Ia memberontak atas ketidakadilan pemerintah Hindia Belanda yang mengharuskan para tawanan bekerja paksa. Untuk menumpas Jaka Sembung, Komandan Hindia Belanda setempat mengadakan sayembara. Jawara sakti Kohar awalnya kalah, tapi kemudian seorang dukun Jawa mengusulkan agar mereka menghidupkan kembali Si Hitam, seorang jagoan sakti kejam yang pernah mati di tangan guru Jaka Sembung. Si Hitam memiliki ajian gelap dan misterius Rawa Rontek yang membuatnya tak bisa mati bila tubuhnya menyentuh tanah.

Parmin dikhianati oleh salah seorang penduduk desa dan hendak ditangkap. Parmin kalah telak saat berhadapan dengan Si Hitam yang juga menguasai ilmu sihir dan ditangkap. Tidak hanya disiksa, kedua mata Parmin dicongkel secara keji oleh Komandan Hindia Belanda, dan walaupun berhasil meloloskan diri, dia disihir menjadi seekor babi hutan oleh Si Hitam. Usaha Parmin untuk melarikan diri akhirnya berhasil berkat bantuan kekasihnya, Surti . Surti membawa Jaka yang telah menjadi babi ke tengah hutan di mana mereka bertemu dengan guru Jaka, seorang petapa yang sakti. Surti yang mencintai Parmin rela untuk mengorbankan nyawanya demi kekasihnya tersebut. Surti rela menyumbangkan kedua matanya untuk "dicangkokkan" pada Parmin dalam sebuah ritual ajian mistik yang membahayakan nyawanya sendiri. Akhirnya Surti meninggal setelah memberikan kedua matanya kepada Parmin sebagai bentuk cinta sejatinya. Parmin yang sangat sedih bersumpah untuk membalas dendam pada Komandan Hindia Belanda yang keji dan Si Hitam.

Setelah berhasil memulihkan diri dan bekal ajian sakti dari gurunya, Jaka Sembung bergerak untuk memimpin rakyat desa dengan dibantu Maria, putri komandan Hindia Belanda yang tidak setuju dengan sikap keji ayahnya pada rakyat. Mereka berdua dan rakyat desa akhirnya menyerbu ke benteng Hindia Belanda dan juga Si Hitam dalam sebuah pertempuran final yang sengit, yang dimenangkan oleh Jaka sembung dan kawan kawan.............................................................................. Kisah lainnya lagi.... ASAL-USUL JAKA SEMBUNG BAJING IRENG
Alkisah Bajing Ireng adalah seorang pendekar wanita yang bernama asli Roijah dari Desa Kandang Haur. Melihat ketidak-adilan dan penderitaan rakyat, Bajing Ireng merampok harta orang-orang kaya dan tamak dan terutama para penjilat Kumpeni untuk didermakan kepada rakyat jelata yang menderita.
Penderitaan rakyat pada waktu itu bukan saja dari penjajah Belanda, tetapi juga akibat bencana alam yang bertubi-tubi. Suatu hari ketika pulang merampok di rumah Demang Asmara, Bajing Ireng dicegat oleh Jaka Sembung. Dia mengira bahwa Jaka Sembung (Joko Sembung) adalah orang bayaran Demang Asmara, maka Bajing Ireng langsung menyerang Jaka Sembung.
Sambil sibukmeladeni serangan Bajing Ireng, Jaka Sembung berusaha menjelaskan siapa sebenarnya dirinya. Setelah berhasil menjelaskan siapa dirinya sebenarnya, Bajing Ireng berbalik mengagumi ketangkasan Jaka Sembung yang bernama asli Parmin itu. Parmin adalah pendekar yang dianggap memberontak dan membahayakan pemerintahan Belada pada waktu itu. Dia adalah seorang buronan Belanda yang barang siapa bisa menangkapnya akan diberi hadiah yang besar oleh Belanda.
Demang Asmara yang sudah lama bersengkongkol dengan Kumpeni menyediakan diri dengan syarat jika berhasil menangka Jaka Sembung minta kedudukannya dinaikkan menjadi bupati. Dan Kumpeni pun sepakat, maka diaturlah siasat untuk menangkap Jaka Sembung dengan segala kelicikan Demang Asmara.
Dengan segala kelicikan Demang Asmara, akhirnya Jaka Sembung berhasil di tangkap dan dijebloskan kedalam penjara. Didalam penjara, Jaka Sembung mendapat perlakua bak binatang dan siksaan yang sagat berat. Penderitaannya di dalam tahanan seolah tiada hentinya.

Dendam Balung Wesi terhadap Ki Sapu Angin guru Jaka Sembung tak pernah padam membuat ia menjadi pembunuh dan melakukan perbuatan yang membabi buta karena dipengaruhi oleh ilusinya. Kehebatan pendekar sesat ini segera dimanfaatkan oleh seorang Demang, yaitu Juragan Asmara Cakradiningrat yang menjadi orang kepercayaan Kompeni Belanda dalam menindas setiap perjuangan rakyat di daerah Pasundan.
Selain Balung Wesi, Juragan Asmara menghimpun pula beberapa pendekar sesat untuk memerangi perjuangan rakyat yang dipimpin oleh Jaka Sembung. Sebagai seorang Pendekar yang disegani oleh Kompeni. Dalam perjuangannya melawan Kompeni yang dipimpin oleh Kapten De Koneng, Jaka Sembung dibantu oleh seorang pendekar wanita bernama Bajing Ireng. Bajing Ireng sebelumnya sudah berjuang melawan Kompeni seorang diri, dimana dia berlaku sebagai pencuri budiman, yaitu mencuri harta orang-orang kaya kepercayaan Kompeni maupun milik Kompeni sendiri untuk dibagikan pada rakyat yang miskin dan menderita.
Dalam perjuangannya, Jaka Sembung dan Bajing Ireng selalu dilindungi oleh gurunya masing-masing, yang masa sebelumnya para guru itu saling punya kaitan peristiwa sebelumnya dengan para pendekar sesat itu. Segala macam peristiwa dan penderitaan dialami baik oleh Jaka Sembung maupun Bajing Ireng dalam perjuangannya. Dan Musuh yang dihadapinya bukan saja para penjajah Kompeni, tapi juga bangsa sendiri yang rela menjual tenaga dan nyawanya untuk kepentingan sang penjajah.
Setelah melihat tekad dan keberanian dari Jaka Sembung dan Bajing Ireng, maka rakyat Pasundan bangkit kembali semangatnya untuk berjuang melawan kezaliman dan keserakahan Kompeni beserta pendukungnya.
Akhirnya dengan semangat yang menyala dan dukungan segenap masyarakat / rakyat Jaka Sembung dan Bajing Ireng akhirnya dapat menumpas Kompeni dibawah pimpinan Kapten De Koneng serta Juragan Asmara Cakradiningrat serta pengikutnya.
Anak Penggembala dan Serigala

Anak Penggembala dan Serigala

09:43 0
Anak Penggembala dan Serigala
Aesop

Seorang anak gembala selalu menggembalakan domba milik tuannya dekat suatu hutan yang gelap dan tidak jauh dari kampungnya. Karena mulai merasa bosan tinggal di daerah peternakan, dia selalu menghibur dirinya sendiri dengan cara bermain-main dengan anjingnya dan memainkan serulingnya.
Suatu hari ketika dia menggembalakan dombanya di dekat hutan, dia mulai berpikir apa yang harus dilakukannya apabila dia melihat serigala, dia merasa terhibur dengan memikirkan berbagai macam rencana.
Anak Penggembala dan SerigalaTuannya pernah berkata bahwa apabila dia melihat serigala menyerang kawanan dombanya, dia harus berteriak memanggil bantuan, dan orang-orang sekampung akan datang membantunya. Anak gembala itu berpikir bahwa akan terasa lucu apabila dia pura-pura melihat serigala dan berteriak memanggil orang sekampungnya datang untuk membantunya. Dan anak gembala itu sekarang walaupun tidak melihat seekor serigala pun, dia berpura-pura lari ke arah kampungnya dan berteriak sekeras-kerasnya, "Serigala, serigala!"
Seperti yang dia duga, orang-orang kampung yang mendengarnya berteriak, cepat-cepat meninggalkan pekerjaan mereka dan berlari ke arah anak gembala tersebut untuk membantunya. Tetapi yang mereka temukan adalah anak gembala yang tertawa terbahak-bahak karena berhasil menipu orang-orang sekampung.
Beberapa hari kemudian, anak gembala itu kembali berteriak, "Serigala! serigala!", kembali orang-orang kampung yang berlari datang untuk menolongnya, hanya menemukan anak gembala yang tertawa terbahak-bahak kembali.
Pada suatu sore ketika matahari mulai terbenam, seekor serigala benar-benar datang dan menyambar domba yang digembalakan oleh anak gembala tersebut.
Dalam ketakutannya, anak gembala itu berlari ke arah kampung dan berteriak, "Serigala! serigala!" Tetapi walaupun orang-orang sekampung mendengarnya berteriak, mereka tidak datang untuk membantunya. "Dia tidak akan bisa menipu kita lagi," kata mereka.
Serigala itu akhirnya berhasil menerkam dan memakan banyak domba yang digembalakan oleh sang anak gembala, lalu berlari masuk ke dalam hutan kembali.
Pembohong tidak akan pernah di percayai lagi, walaupun saat itu mereka berkata benar.
RUNTUHNYA MAJAPAHIT 2

RUNTUHNYA MAJAPAHIT 2

07:15 0
RUNTUHNYA MAJAPAHIT 2...........
BY DAMAR SHASHANGKA.....

BERDIRINYA GIRI KEDHATON........
Blambangan (Banyuwangi sekarang), sekitar tahun 1440 Masehi terkena wabah penyakit. Hal ini dikarenakan ketidaksadaran masyarakatnya yang kurang mampu menjaga kebersihan lingkungan. Blambangan diperintah oleh Adipati Menak Sembuyu, didampingi Patih Bajul Sengara.
Wabah penyakit itu masuk juga ke istana Kadipaten. Putri Sang Adipati, Dewi Sekardhadhu, jatuh sakit.
Ditengah wabah yang melanda, datanglah seorang ulama dari Samudera Pasai (Aceh sekarang), yang masih putra Syeh Ibrahim As-Samarqand, bernamaSyeh Maulana Ishaq. Dia ahli pengobatan. Mendengar Sang Adipati mengadakan sayembara, dia serta merta mengikutinya.
Dan berkat keahlian pengobatan yang dia dapat dari Champa, sangputri berangsur-angsur sembuh. Adipati Menak Sembuyu menepati janji. Sesuai isi sayembara, barangsiapa yang mampu menyembuhkan sang putri, jika lelaki akan dinikahkan jika perempuan akan diangkat sebagai saudara, maka, Syeh Maulana Ishaq dinikahkan dengan Dewi Sekardhadhu.

Namun pada perjalanan waktu selanjutnya, ketegangan mulai timbul. Ini disebabkan, Syeh Maulana Ishaq, mengajak Adipati beserta seluruh keluarga untuk memeluk agama Islam.Ketegangan ini lama-lama berbuntut pengusiran Syeh Maulana Ishaq dari Blambangan.Perceraian terjadi.
Dan waktu itu, Dewi Sekardhadhu tengah hamil tua. Keputusan untuk menceraikan Dewi Sekardhadhu dengan Syeh Maulana Ishaq ini diambil oleh Sang Adipati karena melihat stabilitas Kadipaten Blambangan yang semula tenang, lama-lama terpecah menjadi dua kubu.
Kubu yang mengidolakan Syeh Maulana Ishaq dan kubu yang tetap menolak infiltrasi asing ke wilayah mereka. Kubu pertama tertarik pada ajaran Islam, sedangkan kubu kedua tetap tidak menyetujui masuknya Islam karena terlalu diskriminatif menurut mereka.Antar kerabat jadi terpecah belah, saling curiga dan tegang. Ini yang tidak mereka sukai.

Sepeninggal Syeh Maulana Ishaq, ternyata masalah belum usai. Kubu yang pro ulama Pasai ini, kini menantikan kelahiran putra sang Syeh yang tengah dikandung Dewi Sekardhadhu.
Sosok Syeh Maulana Ishaq, kini menjadi laten bagi stabilitas Blambangan. Mendapati situasi ketegangan belum juga bisa diredakan, maka mau tak mau, Adipati Blambangan, dengan sangat terpaksa, memberikan anak Syeh Maulana Ishaq, cucunya sendiri kepada saudagar muslim dari Gresik.

Anak itu terlahir laki-laki.Dalam cerita rakyat dari sumber Islam, konon dikisahkan anak itu dilarung ketengah laut (meniru cerita Nabi Musa) dengan menggunakan peti. Konon ada saudagar muslim Gresik yang tengah berlayar. Kapal dagangnya tiba-tiba tidak bisa bergerak karena menabrak peti itu. Dan peti itu akhirnya dibawa naik ke geladak oleh anak buah sang saudagar. Isinya ternyata seorang bayi.Sesungguhnya itu hanya cerita kiasan.
Yang terjadi, saudagar muslim Gresik yang tengah berlayar di Blambangan diperintahkan untuk menghadap ke Kadipaten menjelang mereka hendak balik ke Gresik. Inilah maksudnya kapal tidak bisa bergerak. Para saudagar bertanya-tanya, ada kesalahan apa yang mereka buat sehingga mereka disuruh menghadap ke Kadipaten? Ternyata, di Kadipaten, Adipati Menak Sembuyu, dengan diam-diam telah mengatur pertemuan itu.
Sang Adipati memberikan seorang anak bayi, cucunya sendiri, yang lahir dari ayah seorang muslim. Anak itu dititipkan kepada para saudagar anak buah saudagar kaya di Gresik yang bernama Nyi Ageng Pinatih, yang seorang muslim.

Adipati Menak Sembuyu tahu telah menitipkan cucunya kepada siapa. Beliau yakin, cucunya akan aman bersama Nyi AgengPinatih. Hanya dengan jalan inilah, Blambangan dapat kembali tenang.Putra Syeh Maulana Ishaq ini, lahir pada tahun 1442 Masehi.
Sekembalinya dari Blambangan, para saudagar ini menghadap kepada majikan mereka,Nyi Ageng Pinatih sembari memberikan oleh-oleh yang sangat berharga. Seorang anak bayi keturunan bangsawan Blambangan. Bahkan dia adalah putra Syeh Maulana Ishaq, sosok yang disegani oleh orang-orang muslim. Nyi Ageng Pinatih tidak berani menolak sebuah anugerah itu.Diambillah bayi itu, dianggap anak sendiri. Karena bayi itu hadir seiring kapal selesai berlayar dari samudera, maka bayi itu dinamakan Jaka Samudera oleh Nyi Ageng Pinatih.
Jaka Samudera dibawa menghadap ke Ampel dhenta menjelang usia tujuh tahun. Dia tinggal disana. Belajar agama dari Sunan Ampel.Sunan Ampel yang tahu siapa Jaka Samudera yang sebenarnya dari Nyi Ageng Pinatih,Jaka Samudera adalah kemenakan Sunan Ampel sendiri. Oleh karenanya sosok anak ini sangat dia perhatikan dan diistimewakan. Sunan Ampel menganggapnya anak sendiri.
Sunan Ampel, dari hasil perkawinannya dengan putri kakak Adipati Tuban Wilwatikta,memiliki delapan putra dan putri.
Yang penting untuk diketahui adalah Makdum Ibrahim (NamaChampa-nya : Bong- Ang : kelak terkenal dengan sebutan Sunan Benang. Lama-lama pengucapannya berubah menjadi Sunan Bonang).
Yang kedua Abdul Qasim, terkenal kemudian dengan nama Sunan Derajat.
Yang ketiga Maulana Ahmad, yang terkenal dengan nama Sunan Lamongan.
Yang keempat bernama Siti Murtasi’ah, kelak dijodohkan dengan Jaka Samudera,yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Giri Kedhaton (Sunan Giri).
Yang kelima putri bernama Siti Asyiqah, kelak dijodohkan dengan Raden Patah (Tan Eng Hwat), putra Tan Eng Kian, janda Prabhu Brawijaya yang ada di Palembang itu.
Kekuatan Islam dibangun melalui tali pernikahan. Jaka Samudera, diberi nama lain olehSunan Ampel, yaitu Raden Paku. Kelak dia dikenal dengan nama Sunan Giri Kedhaton. Diaadalah santri senior. Sunan Ampel bahkan telah mencalonkan, mengkaderkan dia sebagaipenggantinya kelak bila sudah meninggal.
Sunan Giri sangat radikal dalam pemahaman keagamannya. Setamat berguru dari Ampeldhenta, dia pulang ke Gresik. Di Gresik, dia menyatukan komunitas muslim disana. Dia mendirikan Pesantren. Terkenal dengan nama Pesantren Giri.Namun dalam perkembangannya, Pesantren Giri memaklumatkan lepas dari kekuasaan Majapahit yang dia pandang Negara kafir.
Pesantren Giri berubah menjadi pusat pemerintahan.Maka dikenal dengan nama Giri Kedhaton (Kerajaan Giri). Sunan Giri, mengangkat dirinyasebagi khalifah Islam dengan gelar Prabhu Satmata (Penguasa Bermata Enam. Gelar sindirankepada Deva Shiva yang cuma bermata tiga).

Mendengar Gresik melepaskan diri dari pusat kekuasan, Prabhu Brawijaya, sebagai Raja Diraja Nusantara yang sah, segera mengirimkan pasukan tempur untuk menjebol Giri Kedhaton.Darah tertumpah. Darah mengalir. Dan akhirnya, Giri Kedhaton bisa ditaklukkan.
Kekhalifahan Islam bertama itu tidak berumur lama. Namun kelak, setelah Majapahit hancur oleh seranganDemak Bintara, Giri Kedhaton eksis lagi mulai tahun 1487 Masehi. (Sembilan tahun setelah Majapahit hancur pada tahun 1478 Masehi).
Dari sumber Islam, banyak cerita yang memojokkan pasukan Majapahit. Konon SunanGiri berhasil mengusir pasukan Majapahit hanya dengan melemparkan sebuah kalam atau penanya. Kalam miliknya ini katanya berubah menjadi lebah-lebah yang menyengat. Sehingga membuat puyeng atau munyeng para prajurid Majapahit.
Maka dikatakan, ‘kalam’ yang bisa membuat ‘munyeng’ inilah senjata andalan Sunan Giri. Maka dikenal dengan nama‘Kalamunyeng’. Sesungguhnya, ini hanya kiasan belaka. Sunan Giri, melalui tulisan-tulisannya yang mengobarkan semangat ke-Islam-an, mampu mengadakan pemberontakan yang sempat‘memusingkan’ Majapahit.
Namun, karena Sunan Ampel meminta pengampunan kepada Prabhu Brawijaya, Sunan Giri tidak mendapat hukuman. Tapi gerak-geriknya, selalu diawasi oleh Pasukan Telik Sandhibaya (Intelejen) Majapahit.
Inilah kelemahan Prabhu Brawijaya. Terlalu meremehkan bara api kecil yang sebenarnya bisa membahayakan.Sabdo Palon dan Naya Genggong sudah mengingatkan agar seorang yang bersalah harus mendapatkan sangsi hukuman. Karena itulah kewajiban yang merupakan sebuah janji seorang Raja.
Salah satu kewajiban menjalankan janji suci sebagai AGNI atau API, yang harus mengadili siapa saja yang bersalah. Janji ini adalah satu bagian integral dari tujuh janji yang lain, yaitu ANGKASHA (Ruang), Raja harus memberikan ruang untuk mendengarkan suara rakyatnya,VAYU (Angin), Raja harus mampu mewujudkan pemerataan kesejahteraan kepada rakyatnya bagai angin, AGNI (Api), Raja harus memberikan hukuman yang seadil-adilnya kepada yang bersalah tanpa pandang bulu bagai api yang membakar, TIRTA (Air), Raja harus mampu menumbuhkan kesejahteraan perekonomian bagi rakyatnya bagaikan air yang mampu menumbuhkan biji-bijian, PRTIVI (Tanah), Raja harus mampu memberikan tempat yang aman bagi rakyatnya, menampung semuanya, tanpa ada diskriminasi, bagaikan tanah yang mau menampung semua manusia, SURYA (Matahari), Raja harus mampu memberikan jaminan keamanan kepada seluruh rakyat tanpa pandang bulu seperti Matahari yang memberikan kehidupan kepada mayapada, CHANDRA (Bulan), Raja harus mampu mengangkat rakyatnya dari keterbelakangan, dari kebodohan, dari kegelapan, bagaikan sang rembulan yang menyinari kegelapan dimalam hari, dan yang terakhir adalah KARTIKA (Bintang), serang raja harus dapat memberikan aturan-aturan hukum yang jelas, kepastian hukum bagi rakyat demi kesejahteraan, kemanusiaan, keadilan, bagaikan bintang gemintang yang mampu menunjukkan arah mata angin dengan pasti dikala malam menjelang.
Inilah DELAPAN JANJI RAJA yang disebutASTHAVRATA ( Astobroto ; Jawa). Dan menurut Sabdo Palon dan Naya Genggong, PrabhuBrawijaya telah lalai menjalankan janji sucinya sebagai AGNI.
Mendapati kondisi memanas seperti itu, Sunan Ampel mengeluarkan sebuah fatwa, Haram hukumnya menyerang Majapahit, karena bagaimanapun juga Prabhu Brawijaya adalah Imam yang wajib dipatuhi.
Setelah keluar fatwa dari pemimpin Islam se-Jawa, konflik mulai mereda.
Namun bagaimanapun juga, dikalangan orang-orang Islam diam-diam terbagi menjadi dua kubu. Yaitu kubu yang mencita-citakan berdirinya Kekhalifahan Islam Jawa, dan kubu yang tidak menginginkan berdirinya Kekhalifahan itu.

Kubu kedua ini berpendapat, dalam naungan Kerajaan Majapahit, yang notabene Shiva Buddha, ummat Islam diberikan kebebasan untuk melaksanakan ibadah agamanya. Bahkan, syari’at Islam pun boleh dijalankan didaerah-daerah tertentu.
Kubu pertama dipelopori oleh Sunan Giri, sedangkan kubu kedua dipelopori oleh SunanKalijaga, putra Adipati Tuban Wilwatikta, keponakan Sunan Ampel.
Kubu Sunan Giri mengklaim, bahwa golongan mereka memeluk Islam secara kaffah, secara bulat-bulat, makapantas disebut PUTIHAN (Kaum Putih). Dan mereka menyebut kubu yang dipimpin SunanKalijaga sebagai ABANGAN (Kaum Merah ).
Bibit perpecahan didalam orang-orang Islam sendiri mulai muncul. Hal ini hanya bagaikan api dalam sekam ketika Sunan Ampel masih hidup.
Kelak, ketika Majapahit berhasil dijebol oleh para militant Islam dan ketika Sunan Ampel sudah wafat, kedua kubu ini terlibat pertikaian frontal yang berdarah-darah (Yang paling parah dan memakan banyak korban,sampai-sampai para investor dari Portugis melarikan diri ke Malaka dan menceritakan di Jawatengah terjadi situasi chaos dan anarkhis yang mengerikan, adalah pertikaian antara Arya Penangsang, santri Sunan Kudus, penguasa Jipang Panolan dari kubu Putihan dengan JakaTingkir atau Mas Karebet, santri dari Sunan Kalijaga, penguasa Pajang dari kubu Abangan. Nanti akan saya ceritakan : Damar Shashangka).
Berdirinya Ponorogo.
Ki Ageng Kutu, Adipati Wengker, sebenarnya masih keturunan bangsawan Majapahit. Beliau masih keturunan Raden Kudha Merta, ksatria dari Pajajaran yang melarikan diri bersama Raden Cakradhara. Raden Kudha Merta berhasil menikah dengan Shri Gitarja, putri Raden Wijaya, Raja Pertama Majapahit. Sedangkan Raden Cakradhara berhasil menikahi Tribhuwanatunggadewi, kakak kandung Shri Gitarja.
Dari perkawinan antara Raden Cakradhara dengan Tribhuwanatunggadewi inilah lahir Prabhu Hayam Wuruk yang terkenal itu.
Sedangkan Raden Kudha Merta, menjadi penguasa daerah Wengker, yang sekarang dikenal dengan nama Ponorogo.
Ki Ageng Kutu adalah keturunan dari Raden Kudha Merta dan Shri Gitarja.
Melihat Majapahit, dibawah pemerintahan Prabhu Brawijaya bagaikan harimau yang kehilangan taringnya, Ki Ageng Kutu, memaklumatkan perang denganMajapahit.
Prabhu Brawijaya atau Prabhu Kertabhumi menjawab tantangan Ki Ageng Kutu dengan mengirimkan sejumlah pasukan tempur Majapahit dibawah pimpinan Raden Bathara Katong,putra selir beliau.

Peperangan terjadi. Pasukan Majapahit terpukul mundur. Hal ini disebabkan, banyak para prajurid Majapahit yang membelot dari kesatuannya dan memperkuat barisan Wengker. Pasukanyang dipimpin Raden Bathara Katong kocar-kacir.Raden Bathara Katong yang merasa malu karena telah gagal menjalankan tugas Negara,konon tidak mau pulang ke Majapahit. Dia bertekad, bagaimanapun juga, Wengker harus ditundukkan.
Inilah sikap seorang Ksatria sejati.Ada seorang ulama Islam yang tinggal di Wengker yang mengamati gejolak politik itu.Dia bernama Ki Ageng Mirah. Situasi yang tak menentu seperti itu, dimanfaatkan olehnya. Dia mendengar Raden Bathara Katong tidak pulang ke Majapahit, dia berusaha mencari kebenaran berita itu.
Dan usahanya menuai hasil. Dia berhasil menemukan tempat persembunyian Raden Bathara Katong.
Dia menawarkan diri bisa memberikan solusi untuk menundukkan Wengker karena dia sudah lama tinggal disana. Raden Bathara Katong tertarik. Namun diam-diam, Ki Ageng Mirah,menanamkan doktrin ke-Islam-an dibenak Raden Bathara Katong.
Jika ini berhasil, setidaknya peng-Islam-an Wengker akan semakin mudah, karena Raden Bathara Katong mempunyai akses langsung dengan militer Majapahit.

Jika-pun tidak berhasil membuat Raden Bathara Katong memeluk Islam, setidaknya, kelak dia tidak akan melupakan jasanya telah membantu memberitahukan titik kelemahan Wengker. Dan bila itu terjadi, Ki Ageng Mirah pasti akan menduduki kedudukan yang mempunyai akses luas menyebarkan Islam di Wengker.
Dan ternyata, Raden Bathara Katong tertarik dengan agama baru itu.
Selanjutnya, Ki Ageng Mirah mengatur rencana. Raden Bathara Katong harus pura-pura meminta suaka politik di Wengker. Raden Bathara Katong harus mengatakan untuk memohon perlindungan kepada Ki Ageng Kutu.
Dia harus pura-pura membelot dari pihak Majapahit.
Ki Ageng Kutu pasti akan menerima pengabdian Raden Bathara Katong.
Ki Ageng Kutupasti akan senang melihat Raden Bathara Katong telah membelot dan kini berada di fihaknya.

Manakala rencana itu sudah berhasil, Raden Bathara Katong harus mengutarakan niatnya untuk mempersunting Ni Ken Gendhini, putri sulung Ki Ageng Kutu sebagai istri.
Mengingat statusRaden Bathara Katong sebagai seorang putra Raja Majapahit, lamaran itu pasti akan disambut gembira oleh Ki Ageng Kutu..

Dan bila semua rencana berjalan mulus, Raden Bathara Katong harus mampu menebarkan pengaruhnya kepada kerabat Wengker.
Dia harus jeli dan teliti mengamati titik kelemahan Wengker.
Ni Ken Gendhini, putri Ki Ageng Kutu bisa dimanfaatkan untuk tujuan itu.
Bila semua sudah mulus berjalan, dan bila waktunya sudah tepat, maka Raden BatharaKatong harus sesegera mungkin mengirimkan utusan ke Majapahit untuk meminta pasukan tempur tambahan.
Bila semua berjalan lancar, Wengker pasti jatuh! Raden Bathara Katong melaksanakan semua rencana yang disusun Ki Ageng Mirah.
Dan atas kelihaian Raden Bathara Katong, semua berjalan lancar.
Ki Ageng Kutu, yang merasa masih mempunyai hubungan kekerabatan jauh dengan Raden Bathara Katong, dengan suka rela berkenan memberikan suaka politik kepadanya.
Ditambah, ketika Raden Bathara Katong mengutarakan niatnya untuk mempersunting Ni KenGendhini, Ki Ageng Kutu serta merta menyetujuinya.Rencana bergulir.
Umpan sudah dimakan. Tinggal menunggu waktu.Ni Ken Gendhini mempunyai dua orang adik laki-laki, Sura Menggala dan SuraHandaka. (Sura Menggala = baca Suromenggolo, sampai sekarang menjadi tokoh kebanggaan masyarakat Ponorogo. Dikenal dengan nama Warok Suromenggolo : Damar Shashangka).Ni Ken Gendhini dan Sura Menggala berhasil masuk pengaruh Raden Bathara Katong,sedangkan Sura Handaka tidak.
Raden Bathara Katong berhasil mengungkap segala seluk-beluk kelemahan Wengker dari Ni Ken Gendhini. Inilah yang diceritakan secara simbolik dengan dicurinya Keris Pusaka Ki Ageng Kutu, yang bernama Keris Kyai Condhong Rawe oleh Ni Ken Gendhini dan kemudian diserahkan kepada Raden Bathara Katong.
Condhong Rawe hanya metafora. Condhong berarti Melintang (Vertikal) dan Rawe berarti Tegak (Horisontal).
Arti sesungguhnya adalah, kekuatan yang tegak dan melintang dari seluruh pasukan Wengker, telah berhasil diketahui secara cermat oleh Raden Bathara Katong atas bantuan Ni Ken Gendhini.
Struktur kekuatan militer ini sudah bisa dibaca dan diketahui semuanya.
Dan manakala waktu sudah dirasa tepat, dengan diam-diam, dikirimkannya utusan kepada Ki Ageng Mirah. Utusan ini menyuruh Ki Ageng Mirah, atas nama Raden BatharaKatong, memohon tambahan pasukan tempur ke Majapahit.
Mendapati kabar Raden Bathara Katong masih hidup, Prabhu Brawijaya segera memenuhi permintaan pengiriman pasukan baru.
Majapahit dan Wengker diadu!

Majapahit dan Wengker tidak menyadari, ada pihak ketiga bermain disana! Ironis sekali.
JAKA JUMPUT DAN RADEN SITUBANDA

JAKA JUMPUT DAN RADEN SITUBANDA

07:57 0
JAKA JUMPUT DAN RADEN SITUBANDA (tamat)
Cerita rakyat babat alas asal usul nama kampung Surabaya
Raden Situbondo dan Gajah Seta yang melihat kejadian itu hanya membiarkannya. Perhatian mereka kini tertuju pada Trung yang mulai siuman. Gajah Seta memberikan bekal airnya untuk diminum si pendekar yang ditinggalkan sukma harimaunya.
“Kau baik-baik saja, Kisana?” tanya Gajah Seta.
“Kurang ajar! Berani-beraninya kalian mengikatku seperti ini! Hei kau!â bentaknya sambil menoleh ke arah Raden Situbondo. “Mengapa kau mengganggu pertarunganku, hampir saja kuremukan kepala bocah itu kalau saja kalian tidak muncul. Sungguh, demi seluruh sukma harimau di tempat ini, saudara-saudaraku sebentar lagi akan datang membebaskanku. Mereka akan mencabik-cabik daging kalian.” Sesudah mengucapkan sumpah serapah itu dia meneriakkan sesuatu dari dasar tenggorokannya, seolah aum harimau.

“Diamlah, Kisana! Kami hanya tidak ingin kau melukai saudara kami. Ijinkan kami memperkenalkan diri. Aku adalah Haryo Gajah Situbondo, dan ini adalah pamanku Gajah Seta. Kedatangan kami kemari hendak membuka hutan di wilayah ini. Aku harap kedatangan kami tidak mengganggumu.”
“Ah, persetan kalian. Ini pasti ulah para penjajah. Dasar kau antek penjajah, mau saja kalian diperalat mereka. Katakan pada mereka, Aku Trung dari selatan, tidak gentar dengan bedil-bedil mereka. Telah kuhabisi serombongan dari mereka di tapal batas Pasuruan. Kalau mereka hendak datang kemari, biar kuhabisi serombongan lagi di hutan ini.” Sehabis mengucapkan itu kembali dia mengaum.
“Dengar, Kisana. Aku juga tidak senang penjajah ada di tanahku. Terlebih mereka kerap memanfaatkan kita untuk meraup keuntungan. Lihatlah daerah-daerah di pesisir utara jawa telah mereka kuasai. Dan sekarang mereka hendak menguasai wilayah timur juga. Tiap perselisihan di antara kita, dimanfaatkan betul oleh mereka.
“Mungkin sebaiknya, Paman,” kali ini mengarah pada Gajah Seta. 
“Setelah membuka hutan ini aku akan pergi ke timur,” kata Raden Situbondo kemudian merenung.

“Ceritakanlah padaku, Kisana,” tanya Gajah Seta. “Siapa engkau dan bagaimana engkau dan orang-orangmu bisa berada di hutan ini?”
“Kami berasal dari selatan,” kata Trung. “Sebuah tempat keramat bernama Lodaya. Suatu ketika kami membantu Bupati Pasuruan untuk mengenyahkan para penjajah. Pertempuran demi pertempuran kami menangkan. Ketika para prajurit mulai bersemangat, datang berita bahwa bangsawan-bangsawan yang semula mendukung kami jadi memusuhi kami. Akibatnya para prajurit menjadi terpecah. Dengan mudah laskar-laskar kami dipukul mundur dan kocar-kacir. Entah bagaimana nasib yang lain, aku beserta saudara-saudaraku dan dua ratus orang memilih tinggal dan bersembunyi di hutan ini atas bantuan Adipati Jangrana. Tidak mungkin kami kembali ke Lodaya karena pasti dengan mudah kami akan ditemukan.”
“Kini jumlah kami tinggal sembilan puluh orang,” lanjutnya sambil menunjuk keliling dengan wajahnya. âItulah saudara-saudaraku beserta rombongannya.”
Raden Situbondo dan Gajah Seta kaget karena ternyata di balik hutan kejauhan serombongan orang datang mendekat dengan senjata lengkap. Jawara di antara mereka nampak mengenakan ikat kepala bermotif loreng harimau. Dengan cepat dua orang berikat kepala itu mendahului rombongan, meloncati belukar dan akar-akar pohon yang menyeruak. Mereka mendarat beberapa langkah di hadapan Raden Situbondo dan Gajah Seta.
“Siapa kalian? Berani-beraninya kalian mengganggu ketenangan kami?” tanya salah seorang di antara mereka.
“Lepaskan kakang kami atau kalian akan binasa di sini,” sahut yang lain.

“Dengarkan aku, Kisana,” Gajah Seta memulai. “Kami tak hendak memulai pertarungan. Lepaskanlah saudara kalian, dan jamulah kami berdua di tempat kalian. Sebagai orang jauh, tentu suatu kehormatan bagi kami bila dapat singgah di tempat kalian. Kelak kami akan bercerita tentang keramahan kalian di tempat yang tidak kalian tahu.”
“Kalian diterima di sini, mari kita berkumpul di rumahku,” kata Trung setelah terlepas dari ikatan. âNamaku Trung, ini Wage dan Kalang beserta orang-orang kami. Kalian pasti lapar setelah mengalahkanku. Istri-istri kami pandai memasak. Kalian pasti akan menghabiskan banyak beras kami nanti,” kata Trung kemudian tertawa. Malam itu Raden Situbondo dan Gajah Seta bermalam di perkampungan Simo Bersaudaraâdisebut demikian karena jurus harimau yang mereka miliki. Mereka dijamu dengan meriah meskipun makanannya ala kadarnya mengingat kampung ini merupakan tempat persembunyian.
Sementara itu di bagian lain hutan Raden Joko Taruna nyaris pingsan. Tubuhnya terhuyung di antara pepohonan dan semak belukar. Lama dia berjalan serupa itu hingga suatu saat kakinya tersandung akar pohon. Tubuhnya terjerembab ke dalam semak-semak berduri. Kaki dan tangannya tersangkut tak bisa bergerak. Dia hanya bisa berteriak minta tolong dengan suaranya yang parau di tengah hutan itu sebelum pada akhirnya tak sadarkan diri.
Joko Jumput yang kebetulan berada tak jauh dari tempat itu segera mencari sumber teriakan. Dia menemukan Raden Joko Taruna pingsan. Segera dia angkat tubuh itu dan membawanya ke tempat yang lapang. Di sana dia rawat luka-luka Raden Joko Taruna sambil membersihkan bagian-bagian tubuh yang kotor. Tidak mungkin membawa si sakit keluar hutan dalam keadaan serupa itu. Demi menunggui si pingsan, Joko Jumput rela bermalam di dalam hutan. Jaka Taruna yang terkalahkan oleh Raden Situbanda sedang terjepit diantar dua buah pohon didekat sebuah sungai, karena patemon penemuan Jaka Taruna di pinggiran sungai, maka tempat tersebut disebut PETEMON KALI (penemuan di kali)
Esoknya Raden Situbondo memerintahkan agar menjemput Gajah Menggala beserta rombongannya di hutan timur untuk bergabung. Telah disepakati bahwa hutan tempat Simo bersaudara tinggal akan dibuka. Akan tetapi jati diri mereka tetap dirahasiakan. Mereka disamarkan sebagai rombongan Raden Situbondo. Raden Situbondo juga berpesan agar kelak jika tempat itu menjadi ramai agar diberi nama sesuai dengan nama mereka****. Trung, Wage, Kalang, dan yang lain setuju. Mereka juga bertanggung jawab menjaga keamanan di wilayah itu karena merekalah yang dianggap sebagai tetua.
Raden Situbondo merasa bahwa tugasnya membuka hutan telah selesai. Baginya sudah tidak penting lagi apakah Sang Putri menerima lamarannya atau tidak. Sekarang dia berharap bisa menyelesaikan tugas ini dengan sempurna kemudian berlayar pulang. Dia juga berangan-angan hendak menyebrangi laut dan menetap di sebuah tempat sekitar bekas kerajaan Blambangan, menjaga wilayah itu dari tangan-tangan penjajah. Kepedihannya padam disiram berbagai pengalaman selama membuka hutan dan cita-cita barunya menjaga tanah airnya dari penjajah. “Perjuangan membela tanah air masih panjang,” pikirnya.
Ketika orang-orang sibuk bekerja datanglah Joko Jumput. Kedatangannya kali ini menampakkan sikap permusuhan. Dia melewati orang-orang tanpa menghiraukannya. Kemudian dia berteriak.
“Hai, kau, Raden Situbondo. Ternyata aku keliru mengira kau sebagai seorang ksatria pilih tanding. Ternyata kau seorang pengecut yang menggunakan tangan orang lain untuk mengalahkan musuhmu. Kemari dan hadapilah aku jika kau seorang ksatria.”
Raden Situbondo yang merasa heran menghampiri Joko Jumput. Dengan segera dia menjawab, “Apa yang engkau maksud?”
“Aku hendak menuntut balas Raden Joko Taruna karena kalian telah memperlakukannya semena-mena.”

Tiba-tiba sebuah sumpit melayang mengenai tubuh Raden Situbondo. Semua orang terkejut, tak terkecuali Joko Jumput. Segera mereka memperhatikan sekeliling hutan mencari pemanah gelap itu. Gajah Seta dan beberapa orang lainnya mendekati Raden Situbondo. Beruntung Raden Situbondo cukup sigap sehingga sumpit itu tidak mengenai bagian tubuhnya yang vital. Meski begitu, sumpit itu telah dilumuri racun tua dari saripati pohon upas yang telah direndam. Bagian kulit yang terkena mata sumpit langsung merah terbakar.
Joko Jumput yang kaget melihat kejadian itu segera berbalik dan berteriak, “Pengecut kau, hai, Joko Taruna! Kenapa kau tidak keluar menantang Raden Situbondo dan malah melemparkan sumpit. Hendak aku bantu kau mengalahkan musuh-musuhmu, kini kau malah mengkhianati adu tandingku. Jangan lari kau, rasakan pembalasanku.”
“Tunggu!” Teriak Raden Situbondo mencegah Joko Jumput. 
“Biarkanlah dia pergi. Kelak dia akan memetik buah perbuatannya sendiri. Kalau kau sudi, bantulah aku menawar racun dalam senjata ini.”

“Sebelumnya, hamba sampaikan beribu maaf, Raden. Sepertinya hamba termakan tipuan Raden Joko Taruna.” Kata Joko Jumput sambil menghampiri Raden Situbondo. âDia mengatakan bahwa engkau telah memerintahkan Trung untuk mengalahkannya. Lalu dia meminta bantuan hamba karena dia tidak dapat melawan kalian seorang diri.”
“Bukan begitu ceritanya,” Kata Trung. “Akulah yang telah menghajarnya. Dia pemuda yang tak mengenal tata krama. Di hutan dia terus berteriak tanpa henti sehingga mengganggu pekerjaan kami. Hewan-hewan pada lari mendengar suaranya sehingga kami kesulitan berburu. Karena itu kami beri dia pelajaran. Raden Situbondo yang menyelamatkan dia dari kami. Seandainya Raden Situbondo tidak datang, tentu dia sudah jadi bulan-bulanan.”
“Aku kenal racun ini,â kata Joko Jumput. âIni seperti racun yang digunakan oleh pejuang-pejuang Maluku melawan penjajah. Aku bisa menyembuhkannya.”
“Paman,” kata Joko Jumput kepada Gajah Seta kemudian. “Lekas kejarlah Paman Menggala agar tidak melukai Joko Taruna. Kakang Trung ajaklah beberapa orang mencari tumbuhan penawar dan pergilah ke Kedung Gempol. Di sana ada sebuah sumber mata air yang segar. Kita akan membawa Raden Situbondo ke sana untuk diobati. Aku juga akan mencari penawarnya di hutan. Biarlah kakang Wage dan yang lainnya yang membawa Raden Situbondo ke Kedung Gempol. Letaknya tak jauh dari hutan yang telah kalian buka kemaren.”

Hampir tengah hari ketika Raden Situbondo tiba di Kedung Gempol. Mereka merebahkan tubuh Raden Situbondo tak jauh dari mata air. Begitu segar sumber air itu sampai-sampai orang berebut meminumnya, lupa dengan Raden Situbondo. Ketika seseorang teringat, mereka segera mengambilkan air dan meminumkannya kepada Raden Situbondo.
Tak lama kemudian Gajah Seta dan Gajah Menggala hadir. Raut wajah mereka dilumuri amarah. Tidak terima keponakannya menderita serupa itu. Mereka berjalan mondar-mandir di dekat aliran air tak sabar.

Beberapa saat kemudian datanglah rombongan Trung membawa tumbuh-tumbuhan penawar. Joko Jumput menyusul kemudian dengan langkah kaki yang lebih cepat. Segera dia bekerja dengan ramuan yang sudah didapat. Sebagian ada yang diperintahkan untuk menyiapkan perapian untuk merebus ramuan, sebagian lagi ditumbuk untuk dioleskan ke luka.
Racun yang menyerang itu membuat tubuh Raden Situbondo merasa demam. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya. Joko Jumput memerintahkan Gajah Seta agar memberi minum dari sumber air.
Malam itu Raden Situbondo merasakan demam. Tubuhnya serasa terbakar. Joko Jumput menolaknya dengan memberinya minum dalam jumlah yang lebih banyak dan mengompresnya.

“Minumlah ini, Raden.” Kata Joko Jumput. “Air ini adalah sumber kehidupan. Takkan racun itu meremas jantungmu selama kau meminum air ini.”
Sementara itu beberapa orang yang diutus untuk mengetahui keberadaan Raden Joko Taruna telah kembali. Mereka bercerita bahwa Raden Joko Taruna telah mengatakan kepada Adipati Surabaya bahwa Raden Situbondo telah berhasil dikalahkan dan dibunuh. Dengan demikian dialah yang menjadi pemenang sayembara untuk meminang Putri Adipati.
Segera diumumkan kepada penduduk bahwa Raden Joko Taruna yang telah memenangkan sayembara akan segera dikawinkan dengan Sang Putri. Akan diadakan pesta rakyat dalam perkawinan itu. Kadipaten akan menggelar hiburan untuk rakyat berupa tari-tarian tiga hari tiga malam. Gajah Seta dan Gajah Menggala mendengar cerita itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Esoknya Raden Situbondo bangun pagi sekali. Demamnya telah turun. Namun tubuhnya masih terasa lemas. Dia tengah berbincang dengan Joko Jumput di dekat mata air.
“Tuan, terima kasih telah menolong saya. Jasa tuan akan tinggal di dalam lubuk hati saya. Hamba hendak berpesan, kelak bila di tempat ini telah ramai berilah nama Banyu Urip***** agar waktu tidak menanggalkan kebaikan tuan. Dan ini adalah tempat yang bagus untuk pengobatan. Mungkin kelak sebuah balai pengobatan bisa dibangun di sini.”
“Kalau tidak keberatan, hamba hendak meminta bantuan sekali lagi. Susullah Raden Joko Taruna. Sampaikan kepada Adipati dan Sang Dewi kejadian yang sebenarnya di hutan ini. Aku tidak ingin Adipati dan Sang Dewi tertipu meski sebenarnya mereka juga gembira apabila Raden Joko Taruna yang muncul sebagai pemenang. Kabarkanlah bahwa engkaulah yang telah mengalahkanku dalam pertarungan. Aku lebih rela Sang Dewi menikah denganmu. Kau seorang ksatria pilih tanding yang menyembunyikan jati dirimu. Kau memiliki darah bangsawan Mataram. Kelak semua orang akan mengetahuinya.”
“Bawalah keris pusaka milikku sebagai bukti. Aku pasrahkan keris ini padamu. Aku yakin Adipati dan Sang Dewi lebih percaya padamu.”
Dengan berbekal keris pemberian Raden Situbondo, berangkatlah Joko Jumput menuju Kadipaten. Dia merasa heran, bagaimana dirinya bisa terlibat dalam konflik perebutan Putri Adipati. Tapi membayangkan sosok Sang Dewi membuat pikirannya mantap. Dia bertekad hendak mengungkap kecurangan Joko Taruna dan kemudian mempersunting Sang Dewi. Dia membayangkan bahwa ibunya yang telah tua akan merasa gembira.
Hampir tengah hari ketika Joko Jumput tiba di halaman Kadipaten. Kepada prajurit jaga dia mengatakan hendak bertemu dengan Adipati untuk mengambil imbalan karena telah memenangkan sayembara. Sempat terjadi perselisihan karena pemenang sayembara telah diumumkan. Tapi ketika Joko Jumput menunjukkan keris milik Raden Situbondo yang dibawanya, para prajurit jaga yang semula hendak mengusirnya kini berbondong-bondong mengantarkan Joko Jumput menuju halaman pendopo.
Adipati yang mendengar berita itu segera datang dan memerintahkan orang untuk memanggil Raden Joko Taruna. Para pembesar Kadipaten juga dipanggil. Ketika semua telah berkumpul, Joko Jumput dipersilahkan naik ke dalam pendopo.
“Mohon ampun sebelumnya, Paduka. Hamba kemari hendak menyampaikan bahwa Raden Situbondo telah hamba kalahkan.”
“Siapa sebenarnya engkau? Apakah benar engkau telah mengalahkan Raden Situbondo yang terkenal sebagai ksatria pilih tanding yang sakti mandraguna?” Tanya Adipati.
“Nama hamba Joko Jumput, Paduka. Ibu hamba adalah janda penjual jamu yang tinggal di daerah Praban. Mengenai perihal Raden Situbondo, hamba membawa bukti berupa keris milik Raden Situbondo.”
Semua orang yang hadir terkejut. Begitu juga dengan Adipati. Semua yang hadir mulai memperhatikan sosok Joko Jumput dengan lebih serius sambil melirik-lirik ke arah Raden Joko Taruna. Raden Joko Taruna merasa gelisah.
“Katakanlah padaku, hai, anak muda. Manakah yang harus kupercaya, orang yang pertama datang atau yang kemudian? Menurut hematku, kalaupun kalian berdua bersatu melawan Raden Situbondo, belum tentu kalian dapat mengalahkannya.
“Raden Joko Taruna,â Sekarang Adipati beralih pertanyaannya. âApakah benar engkau telah mengalahkan Raden Situbondo? Kenapa tiba-tiba ada orang lain yang mengakui kemenanganmu?”
“Ijinkan hamba bicara,” jawab Raden Joko Taruna. “Memang benar saya telah mengalahkan Raden Situbondo. Dia memang ksatria pilih tanding namun ternyata dia tidak tahan menghadapi jurus pamungkas hamba hingga dia terpental dan jatuh. Hamba tidak tahu apakah dia mati atau sekedar pingsan. Tapi hamba yakin Raden Situbondo pasti mati karena selama ini belum ada seorang pun yang dapat hidup menahan jurus pamungkas hamba. Hamba tidak meneruskan pertarungan karena musuh telah nyata-nyata hamba kalahkan.”
“Mungkin kebetulan pemuda ini berada di dekat situ kemudian mengambil keris milik Raden Situbondo yang sedang sekarat. Kemudian dia datang kemari berharap dapat menemukan kehidupan mulya dengan keris yang dicurinya.”
“Kalau memang benar begitu, Raden,” sela Joko Jumput sambil bangkit. “ ijinkan hamba menerima jurus pamungkas yang Raden miliki. Tak salah apa yang dikatakan Raden Situbondo. Engkau tidak dapat memahami belas kasih orang lain. Bukankah Raden Situbondo sendiri yang menyelamatkan engkau di hutan sana? Bukankah tangan hamba ini yang membebaskan engkau dari semak berduri? Hatimu seperti batu. Kelak engkau akan dikenal sebagai orang yang terbuat dari batu,” ucap Joko Jumput menggeledek.
Adipati tertarik dengan kata-kata yang dilontarkan Joko Jumput. Dia hendak bertanya lebih jauh mengenai kejadian sebenarnya di dalam hutan. Namun salah seorang pembesar Adipati yang masih berkerabat dengan Raden Joko Taruna menukas.
“Kenapa tidak diadakan adu tanding saja di antara mereka berdua. Barangsiapa yang keluar jadi pemenangnya, dialah yang akan mempersunting Sang Dewi karena tentu dialah yang dapat mengalahkan Raden Situbondo yang terkenal dengan ajian Gajah Panodya itu.” Dalam pikiran pembesar ini, kisah Raden Joko Taruna lebih bisa dia terima dibandingkan kisah dari pemuda gembel itu.
“Tidak!â Jawab Joko Jumput. ‘Hamba kemari tidak untuk bertarung demi memperebutkan Sang Dewi. Hamba kemari membawa sebuah kebenaran. Kebenaran ini harus diungkap. Kalau soal pertarungan, hamba yakin semua orang tahu siapa yang akan keluar jadi pemenangnya. Raden Joko Taruna bukan lawan yang sepadan bagi hamba.”
Mendengar dirinya dihina Raden Joko Taruna menjadi amarah. Dia pusatkan konsentrasi dan merapal ajian pamungkasnya. Dalam waktu singkat tubuhnya melesat menyerang ke tengah pendapa. Joko Jumput yang tidak siap menerima serangan itu terpental hingga ke halaman pendopo. Mulutnya berdarah namun dia segera bangkit menyongsong ulah tanding Raden Joko Taruna.
Pertarungan di halaman pendopo berlangsung seru. Raden Joko Taruna mengeluarkan segenap kesaktiannya. Namun setiap pukulan dan tendangannya selalu dapat dielakan. Dalam satu gerakan ceroboh Raden Joko Taruna terhuyung kehilangan keseimbangan. Joko Jumput dengan mudah menjatuhkan lawannya. Dengan satu jurus cepat Raden Joko Taruna rubuh tidak berdaya.
Orang-orang yang menyaksikan segera mengangkat Raden Joko Taruna dari tanah. Dengan dikalahkannya Raden Joko Taruna, maka Joko Jumput berhak menjadi pemenang sayembara. Adipati memutuskan bahwa Joko Jumputlah yang akan meminang Sang Putri. Segera dibuat pengumuman baru dan disebarkan kepada rakyat. Adipati merasa senang karena calon menantunya ini bukanlah seorang ksatria kacangan. Apalagi sang calon menantu memiliki keris sakti milik Raden Situbondo. Konon keris itu telah banyak digunakan di berbagai medan pertempuran dan tidak sedikit menyadap darah lawan-lawannya.
Malamnya diam-diam Raden Situbondo mendatangi wilayah keputrian, tempat di mana sang dewi berada. Dia hendak menyaksikan sang dewi untuk kali penghabisan. Dengan ajian bayu puputan dia masuk ke dalam istana keputrian tanpa diketahui.

“Tuan Putri,” tegur Raden Situbondo.
Sang dewi yang tengah memikirkan Joko Jumput tersentak mendengar namanya dipanggil. Hampir saja dia berteriak mengetahui ada sosok dalam gelap memanggilnya.
“Bagaimana engkau bisa kemari? Apakah yang hendak engkau perbuat padaku? Aku akan berteriak memanggil prajurit untuk menangkapmu.”
“Tunggu, tuan putri,” sela Raden Situbondo. “Kedatangan hamba kemari hanya untuk memastikan kebahagiaan tuan putri kelak. Hamba merasa lega karena Joko Jumputlah yang akan mempersunting engkau. Melihat engkau bahagia, meski pun dari jauh sudah cukup bagi hamba. Sebagai hadiah pernikahan, terimalah batu hijau bertuah ini. Kenakanlah sebagai perhiasan agar terpancar kecantikanmu. Dengan begitu gelora cinta hamba dapat terpuaskan. Kelak bila kalian telah tua, lihatlah batu itu dan kenanglah kalian berdua akan hamba yang hina ini.”
Setelah menyerahkan batu hijau bertuah itu, Raden Situbondo segera pergi dan menghilang dalam kepekatan malam. Sejak saat itu tidak banyak yang mendengar kabar mengenai dirinya. Sebagian orang mengatakan setelah kembali ke tanah Madura, dia menyebrangi laut dan membuka hutan di bekas wilayah Blambangan. Sebagian lagi mengatakan dia mati dalam perjalanan pulang ke tanah asalnya. Yang pasti, hutan-hutan yang telah dia buka kini menjadi perkampungan yang padat penduduknya. Di banyak tempat terpampang patung harimau untuk mengenang kisah Simo bersaudara.
Catatan :
* Hutan Kitri = Wonokitri, nama salah satu kampung yang ada di Surabaya
** Kupang menjadi nama depan kampung di Surabaya seperti Kupang Krajan, Kupang Gunung, Kupang Segunting, dan sebagainya.
*** Di daerah Praban Surabaya terdapat makam kuno yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan Joko Jumput.
**** Konon nama-nama kampung seperti Simo Katrungan, Simo Kewagean, atau pun Simo Kalangan berasal dari nama-nama yang ada dalam cerita ini.
***** Perkampungan yang terletak di sebelah timur perkampungan Simo
waluyo sugito
MENYUSURI JEJAK SANG “MACAN KEMAYORAN”

MENYUSURI JEJAK SANG “MACAN KEMAYORAN”

02:39 0
Siapa Sebenernya Macan Kemayoran !!!
MENYUSURI JEJAK SANG “MACAN KEMAYORAN”
Murtado “Macan Kemayoran”

Macan Kemayoran sekarang ini lebih dikenal sebagai PERSIJA, JAK Mania atau Salah satu Organisasi yang ada di Jakarta. bahkan anak sekolah sekarang pun banyak yang tidak tahu kalau “Macan Kemayoran” adalah julukan seorang Murtado pemuda kemayoran yang terkenal dalam “maen pukulan”. Sungguh ironi bagi masyarakat kemayoran yang seharusnya tahu cerita rakyat di wilayahnya.
Saya teringat ucapan seorang Jenderal Purnawirawan (Almarhum), sewaktu ikut mengantar bantuan logistik untuk gempa Jogya tahun 2006, beliau mengatakan “hanya Kemayoran yang punya Macan”. Memang benar adanya karena Macan Kemayoran nyata dan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa bagi mayarakat kemayoran pada jamannya. Kepopuleran julukan macan memang sudah ada di Betawi sejak dulu, ini adalah simbol identitas seseorang atau kelompok yang menunjukkan kepandaian atau kekuatan. Dari golongan ulama ada Guru Mughni yang di juluki “Kiai Macan Betawi”

Si Ronda Jawara yang berjuluk “Macan Betawi” ; juga Tan Liong Houw atau Latief Harris Tanoto, pesepakbola nasional yang terkenal tahun 1950-an yang bermain untuk klub sepakbola Persatuan Sepakbola Indonesia Jakarta (Persija) diberi julukan pendukungnya “Macan Betawi” dan Persija pun memiliki julukkan “Macan Kemayoran”. Tapi kepopuleran macan di kemayoran bahkan seantero betawi tak mampu bersaing dengan elang bondol dan salak condet yang merupakan hewan dan buah khas betawi yang di jadikan simbol Jakarta.
Lalu, kalau memang benar adanya Murtado “Macan Kemayoran”, siapa dandimana sekarang keturunannya? Media kemayoran pun mencari dan menyusuri jejak peninggalan atau para keturunan keluarga dari sang Macan Kemayoran ini. Setelah kesana-kemari, penyusuran pun berakhir di daerah Pasar Nangka tepatnya di dalam gang kecil di RW.010 Kelurahan Kebon Kosong.
Disinilah rumah tinggal dari keturunan Murtado “Macan Kemayoran”. Ikhwan Murtado atau lebih dikenal dengan bang Iwan Cepi Murtado si pemilik rumah, beliau adalah anak ke lima (bontot) dari ma’Siti istri ke 13 Murtado. Lahir di Kemayoran 70 tahun silam tepatnya 23 April 1942. Pria 3 anak dan 1 istri yang lebih pantas di panggil babe ini masih terlihat gagah dalam usianya yang sudah sepuh. Selain darah jawara yang mengalir dari orang tuanya, babe Iwan Cepi ini mantan prajurit angkatan darat pada tahun 1964 dan berdinas di Malang Jawa Timur dengan pangkat terakhir prajurit satu. Sekarang ini aktif di kegiatan sosial dan sebagai salah satu pendiri Lembaga Macan Kemayoran.

Bang Iwan Cepi Murtado saat syuting “Kampung Kemayoran”
Berikut perbincangan dengan bang Iwan Cepi Murtado.
bang Iwan, siapa dan dimana tinggalnya Murtado “Macan Kemayoran”?

“Murtado tuh babe ane, babe seorang pemude kampung nyang dikenal alim dan kagak sombong. Pergaulannye ampe kemane aje dan selalu menghormati ame nyang tua-an. Waktuntu rumenye ade di tenge kampung. kalo sekarang kire-kire di samping Polsek Kemayoran (nyang udeh jadi rumah makan). Babe di juluki macan kemayoran ame penduduk kampung, dimane waktu ntu kampung kemayoran di pegang/di kuasai ame mandor Bacankaki tangan bek Lihun ( Bek Lihun dan Mandor Bacan adalah Kaki tangan Kompeni Belanda). Sepak terjang ni orang bedua, selalu bikin resah penduduk kampung. Tukang meres penduduk, bawa lari anak perawan, meminta pakse hasil panen dan laen-laen. Nyang jelas penduduk kagak ade nyang demen ame bek Lihun dan mandor bacan. Bek lihun terkenal sebagai seorang jawara nyang gak ade tandingannye. Semua jawara yang ade di kemayoran maupun dari luar kemayoran kagak ade nyang sanggup ngejatohin die. Emang pada waktu itu kemayoran dikenal banyak nyang jago maen pukulan. Nah cuman pemuda Murtado lah nyang mampu ngejatohin sang jawara bek lihun. Kejadiannya waktu pemuda Murtado menolong anak perawan nyang di “godain” ame mandor bacan. Sejurus dua jurus mandor bacan berhasil di taklukan dan dibuat lari kebirit-birit. Mandor bacan pun melaporkan kejadian yang menimpanya ke Bek Lihun. Mandor bacan pun balik lagi mencari Pemuda Murtado bersama bek lihun. Terjadilah perkelahian antara murtado dan bek lihun yang di tonton sama penduduk kampung kemayoran. Bek lihun pun berhasil di jatuhkan ame murtado, nah semenjak itulah babe ane di juluki Macan Kemayoran.
”bang, emang bener babe Murtado istrinya ada 13?
“sebenernye sih bukan istrinye ade 13 orang, tapi babe pernah kimpoi ampe 13 kali. Nah ane anak kelime dari bini babe nyang ketigebelas. Sodare kandung ane udeh pade kagak ade semue
”Kalo babe murtado lahir taon berape bang?
“Wah kalu ntu ane gak tau pastinye, ente itung aje sendiri. Babe ane meninggal taon 1959 di rumah salah satu abang ane di daerah kebon sirih. Di kubur di utan panjang, nah waktu tuh kuburan di gusur, di pindahin di karet. Babe meninggal pada umur 90 taon. Nah ente itung deh kapan lahirnye.
”Jadi babe lahir taon 1869?
“Kalo ente ngitungnye udeh bener, ye segitu. Karena babe ane hidup di jamannya si pitung. Pitung kalo mo ke depok musti lewatin kemayoran, die dateng dari arah muara ( skarang suntermuara). Kalo si pitung kan terkenal jawara pesisir asal rawabelong.
”Maen pukulan babe ame si pitung samagak?
“Wah gak tau ane, Kalo babe beguru nyedi daerah condet. Guru Sandang namenye
”Abang bangga jadi anak babe murtado?
“Ye udeh jelas bangga dong….., babe tuh menurut ane pahlawan kampung kemayoran. babe selalu membela penduduk dari ancaman kaki tangan kompeni. Ini di buktikan dengan di terbitkannya buku cerita rakyat pada tahun 1982 oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
”Bang, kenapa anak sekarang mengenal Macan Kemayoran bukan sebagai sosok Murtado melainkan julukan Klub Sepakbola Persija Jakarta?
“Persija lapangan bolanye dulu emang di Kemayoran, mangkanye julukannye Macan Kemayoran. tapi gak tau kenape trus di pindain ke Menteng. Kalo anak sekarang gak tahu siape sosok Macan Kemayoran nyang menjadi julukan Persija ye…. gak bisa di salahin juga, bisa jadi emang kagak ade nyang kasih tau atau emang gak mau tau. Anak sekarang kan jarang nyang mo tahu sejarah, cerita asal-usul kampungnye, siape pelaku sejarah dan lain-lain. mungkin di sekolahnye gak di ceritain kali, ame guru sejarahnye, buku ceritenye aje taon 82, tau deh sekarang ade ape kagak. kalo ane setuju tuh ape kate Bung Karno “JAS MERAH” jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Karena waktu yang sudah menjelang magrib, kami akhiri perbincangan dengan bang Iwan Cepi Murtado sampai disini. Beliau berpesan kepada kami
“ tolong lestarikan sejarah dan budaya Betawi di Kemayoran”.

Sumber: kaskus
KEN AROK - EMPU GANDRING-28.

KEN AROK - EMPU GANDRING-28.

19:06 0
KEN AROK - EMPU GANDRING-28.
( Disadur dan digubah dari karya Eyang Kho Ping Hoo )

“Mbakayu Dewi........”
“Wulan........!” Wulandari menangis sesenggukan dan Pusporini juga bercucuran air mata, lalu ia
merangkul leher Wulandari dan ditariknya dengan lambut memasuki kamar mereka. Senopati Pamungkas
dan isterinya hanya dapat memadang dengan penuh keharuan, dan Joko Handoko merasa lega bahwa di
antara dua orang gadis itu tidak timbul kebencian seperti yang dikhawatirkannya.
“Anakmas Joko Handoko, menurut pendapat kami, sebaiknya kalau engkau cepat pulang dan
memberitahukan ibu dan ayah tirimu untuk segera datang bersamamu ke sini melakukan pinangan itu.
Baru lega hati kami kalau hal itu terlaksana, Anakmas.”
“Baiklah, akan saya lakukan perintah itu, Kanjeng Paman,” jawab Joko Handoko. Dia tidak mau
bercerita tentang peristiwa memalukan yang menimpa diri Wulandari. “Akan tetapi saya ingin pergi
mencari Kanjeng Eyang Empu Gandring lebih dahulu untuk mengunjungi beliau.”
Selagi Joko Handoko bercakap-cakap dengan Senopati itu dan isrinya, di dalam kamar terjadi
percakapan yang menarik antara Wulandari dan Pusporini. Sambil merangkul mereka memasuki kamar
dan setelah menutupkan daun pintu, Pusporini mengajak Wulandari duduk berdampingan di atas
pembaringan. “Wulan, apa yang kaulakukan itu sungguh terlalu terburu nafsu, adikku. Kalau aku yang
menjadi penghalang kebahagianmu, mbakayumu ini bersedia untuk mengalah, Wulan. Bialah aku mundur
agar engkau dapat hidup berbahagia dengan dia.” Ucapan itu keluar dengan suara yang jujur dan
setulusnya.
Wulandari merangkul dan menciumi pipi Pusporini yang masih basah. Ia merasa malu sekali. Kiranya
puteri Senopati ini memiliki hati yang amat mulia.
“Tidak, mbakayu Dewi. Tidak ada urusan kalah mengalah dalam hal ini. Dia mencintaimu seorang, dan
mbakayu juga cinta padanya. Adapun aku.....ah, aku tak tahu diri. Aku akan pulang saja untuk mengurus
Sabuk Tambogo, karena setelah banyak mengalami hal-hal yang hebat, aku ingin menjaga, agar Sabuk
Tembogo jangan sampai terbawa dalam kesesatan. Tugasku masih banyak, mbakayu Dewi, dan aku
tidak ingin menjadi lemah dan cengeng.”
Kini Pusporini yang menciumi pipi yang agak pucat dari Wulandari. “Diajeng Wulan, hatiku takkan
pernah tenteram kalau aku membiarkan engkau merana karena kegagalanmu ini. Engkau tidak akan
patah hati?”
Wulandari tersenyum pahit dan menggeleng kepala. “Kenapa harus patah hati? Kakang Joko Handoko
amat bik kepadaku, walaupun cintanya jatuh kepadamu. Kalau aku tidak dapat mencintainya
sebagai....... calon istri, biarlah aku mencintainya sebagai seorang adik, atau sahabat baik......
seperti........... seperti yang telah dikatakannya kepadaku.......” Wulandari memejaman matanya agar air
matanya tidak runtuh kembali.
Dewi Pusporini merasa terharu sekali. “Engkau berhati mulia, adikku. Orang seperti engkau ini tentu
akan mendapatkan seorang suami yang tidak kalah mulianya dari pada Kakangmas Joko Handoko.”
Akan tetapi tiba-tiba terdengar jawaban yang tegas dari gadis itu. “Tidak, selamanya aku tidak akan
bersuami!”
Tentu saja Pusporini terkejut sekali dan dia memandang Wulandari dengan mata penuh selidik.
“Tapi........ tapi kenapakah, adikku?”
Ditanya demikian, tiba-tiba Wulandari menangis lagi karena pertanyaan itu seperti pedang beracun yang
menusuk ulu hatinya. Perih dan mengingatkannya kembali akan malapetaka yang menimpa dirinya.
Berkali-kali ia menggeleng kepala dan akhirnya dapat juga ia berkata, “Tidak......... tidak.......! Aku
sudah tidak berharga lagi, Mbakayu, aku.... aku telah ternoda dan tak seorang pun laki-laki di dunia ini
mau menjadi suamiku......”
“Apa.......?” Pusporini merangkul Wulandari, dan mengguncang-guncang pundaknya, mukanya pucat.
Pikiran buruk menyelinap dalam kepalanya. Jangan-jangan hubungan yang amat erat antara Wulandari
dan Joko Handoko telah sampai ke tingkat yang demikian jauhnya sehingga gadis ini telah menyerahkan
diri kepada Joko Handoko. “Apa maksud ucapanmu tadi Wulan? Apa maksudmu?” Ia setengah
menjerit.
Tanpa mengangkat mukanya yang menunduk, dan dengan suara bercampur isak, Wulandari berkata
lirih, “Baru malam tadi terjadinya.....” Dan dia menceritakan pengalamannya ketika ia melarikan diri tanpa
pamit dari kamar itu, betapa ia ternoda oleh Pramudento yang kemudian dibunuhnya.
Mendengar penuturan itu, Dewi Pusporini menjadi lemas seluruh tubuhnya. Bermacam-macam perasaan
mengaduk hatinya. Perasaan lega karena ternyata bukan Joko Handoko yang menodai Wulandari,
perasaan iba mendengar nasib buruk yang menimpa diri gadis ini dan juga terkejut mendengar betapa
Wulandari membunuh putera ketua Hastorudiro.
“Ah, kasihan sekali engkau, Diajeng! Aku harus berbuat sesuatu! Aku harus berbuat sesuatu
untukmu........!” Berkali-kali puteri senopati itu berkata demikian sambil mengepal tangan kanannya.
Wulandari memaksa tersenyum. “Sudahlah, Mbakayu. Tadinya aku pun ingin membunuh diri saja, akan
tetapi kakang Joko Handoko menyadarkanku dan mencegahku. Aku sekarang mau pergi, harus cepat
pulang, dan memimpin Sabuk Tembogo. Itulah tugas hidupku satu-satunya sekarang. Selamat tinggal,
mbakayu Dewi, semoga engkau akan hidup berbahagia bersama kakang Joko......” Gadis itu lalu
melangkah keluar sambil mengusap semua air matanya sehingga ketika ia tiba di ruangan dalam, tidak
ada lagi air mata mengalir keluar walaupun matanya masih merah dan wajahnya masih jelas menunjukkan
bekas tangis.
Dewi Pusporini juga menahan diri, mengikuti keluar dan bersikap tenang ketika Wulandari berpamit dari
ayah ibunya, juga gadis itu berpamit dari Joko Handoko. “Selamat tinggal, Kakang Joko Handoko dan
terima kasih atas segala budi kebaikan yang telah kau limpahkan kepadaku selama ini.” Dengan gagah
dan tenang, Wulandari lalu pergi meninggalkan mereka, diikuti pandang penuh iba oleh Joko Handoko
dan Dewi Pusporini karena hanya dua orang itulah yang tahu akan nasib buruk yang menimpa diri
Wulandari.
Joko Handoko juga mohon diri untuk pergi mencari Empu Gandring setelah dia menyatakan
kesanggupannya untuk dalam waktu secepat mungkin mengajak ibu dan ayah tirinya untuk berkunjung
kepada keluarga senopati itu dan mengajukan pinangan secara resmi.

****
Dengan hati bulat Joko Handoko mencari pondok Empu Gandring di Dusun Lulumbung. Sudah bulat
tekadnya untuk mengembalikan keris pusaka Nogopasung kepada Empu Gandring yang
menciptakannya. Keris itu menjadi terlalu haus darah, pikirnya. Semenjak minum darah ayahnya
kandungnya, Ginantoko dan kekasihnya Galuhsari, agaknya keris pusaka Nogopasung menjadi seperti
seekor ular naga yang hidup dan haus darah. Kini telah minum darah baru, darahnya Pramudento yang
tewas dalam keadaan tidur, berarti dalam keadaan penasaran. Nyawa tiga orang itu tentu akan
mempengaruhi keris itu dan menciptakan hawa yang kejam dan haus darah. Berat rasa tangannya
memegang keris pusaka itu sekarang. Dia tidak menghendaki keris itu minum darah manusia semakin
banyak lagi, maka jalan satu-satunya hanyalah mengembalikan kepada penciptanya. Dia percaya bahwa
guru dari mendiang ayahnya itu seorang sakti yang bijaksana, tentu dapat pula membersihkan keris
Nogopasung. Setelah keris pusaka itu bersih, barulah ia aka menerimanya sebagai sebatang keris pusaka
yang patut dijadikan senjata pembela diri, bukan menjadi senjata pembunuh seperti keadaan keris itu
sekarang ini.
Joko Handoko agaknya belum cukup waspada untuk dapat melihat bahwa sebab akibat seluruhnya
berada di tangan manusia sendiri. Keris pusaka Nogopasung, seperti segala macam senjata lain di dunia
ini, bahkan seperti segala macam benda di dunia ini, tidak dapat dinamakan baik atau buruk. Baik
ataupun buruk baru timbul setelah dinilai oleh manusia, dan baik atau buruk itu baru nampak setelah
benda dipergunakan oleh manusia. Asal keris datang dari besi mulia yang berada di dalam tanah. Besi
yang berada di dalam tanah, apakah itu baik atau buruk? Tidak baik tidak buruk, wajar saja. Akan tetapi
setelah dibuat menjadi sebatang keris, baik atau burukkah? Kalau hanya diletakkan saja atau digantung,
juga tidak baik atau buruk. Setelah berada di tangan orang dan oleh orang itu dipergunakan, barulah
keris itu dapat dikatakan baik atau buruk, melihat perbuatan apa yang dilakukan dengan keris itu.
Tidakkah segala macam benda, di dunia itu demikian pula halnya! Api nama benda itu. Bisa baik bisa
buruk. Baik kalau untuk masak, membuat penerangan, pemanasan dan sebagainya. Akan tetapi buruk
kalau untuk membakar rumah orang! Pisau dapat juga berguna dan menjadi baik kalau untuk pekerjaan
bermanfaat, akan tetapi menjadi buruk kalau dipergunakan untuk menusuk perut orang lain.
Tidak sukar menemukan pondok Empu Gandring di Dusun Lulumbung. Semua orang mengenal kakek
ini. Seorang empu pembuat keris pusaka yang amat terkenal, sakti dan pandai sekali para senopati
sampai adipati, hampir semua memesan keris buatan Empu Gandring.
Ketika Joko Handoko tiba di pondok itu dia menemukan Empu Gandring sedang duduk seorang diri di
dalam bengkel pembuatan keris, duduk termenung dan agaknya sedang betistirahat. Tempat itu penuh
dengan alat-alat pembuat keris, baja-baja yang masih kasar, keris-keris yang baru nampak bentuknya
saja dan belum jadi dan belum “diisi”. Kakek itu nampak agung dan berwibawa dalam usianya yang
sudah tujuh puluh lima tahun atau tujuh puluh enam tahun, sudah nampak tua walaupun wajahnya masih
segar penuh semangat dan sepasang matanya masih mencorong dan mulutnya masih membayangkan
senyum penuh pengertian.
Melihat seorang pemuda yang datang-datang terus bersimpuh dan menyembahnya, Empu Gandring
tersenyum. Senang hatinya melihat seorang pemuda tampan yang wajahnya mengeluarkan sinar
cemerlang itu. Seorang pemuda yang baik, pikirnya. “Tejo-tejo sulaksono.........! Siapakah andika ini,
orang muda? Dan ada keperluan apakah gerangan andika datang ke tempatku yang buruk ini?”
“Maafkan saya, Eyang. Salahkah dugaan saya bahwa eyang adalah Empu Gandring ahli pembuat keris
pusaka?”
Empu Gandring tersenyum lebar dan mengangguk-angguk. “Dugaanmu benar, orang muda.”
“Kalau begitu, Eyang. Saya Joko Handoko dari lereng Anjasmoro menghaturkan sembah bakti kepada
Eyang.”
“Joko Handoko? Dari Anjasmoro katamu? Eh, eh, nanti dulu........, Sepasang mata yang masih tajam itu
kini mencermati wajah Joko Handoko. Wajah pemuda ini tidak asing baginya, seperti pernah dikenalnya,
dan sebutan lereng Anjasmoro membuatnya mengangguk-angguk dan teringat. Wajah ini mirip sekali
dengan wajah muridnya, mendiang Raden Ginantoko dan bukankah isteri mendiang muridnya itu, Dyah
Kanti, puteri Panembahan Pronosidhi, sahabat baiknya yang tinggal di Anajasmoro? “Joko Handoko,
kiranya tidak banyak meleset dugaanku kalau aku mengatakan bahwa tentu ada hubungannya antara
engkau dan Panembahan Pronosidihi di lereng Ajasmoro!”
“Mendiang Panembahan Pronosidhi di lereng Anjasmoro!”
“Mendiang Panembahan Pronosidhi adalah eyang saya, ayah dari ibu kandung saya, Eyang.”
“Ha-ha, tak salah lagi, andika tentu putera mendiang Ginantoko dan Dyah Kanti, tidakkah begitu?”
“Benar sekali, Eyang.”
“Akan tetapi engkau tadi menyebut mendiang Panembahan Pronosidihi. Jadi sahabatku itu telah
mendahuluiku kembali ke alam kelanggengan?”
“Beliau menjadi korban adu domba yang dilakukan oleh orang-orang Daha terhadap kekuatan-kekuatan
di Tumapel, Eyang.” Joko Handoko lalu menceritakan semua pengalamannya tentang adu domba yang
dilakukan Kerajaan Daha untuk memperlemah kedudukan Tumapel dan tentang serangan orang-orang
Hastorudiro kepada eyangnya sehungga mengakibatkan meninggalnya eyangnya yang sudah tua.
Kemudian dia menceritakan pula usahanya untuk membongkar rahasia itu sampai berhasil, juga tentang
pertemuannya dengan Ken Arok, saudaranya seayah berlainan ibu. Mendengar disebutnya nama Ken
Arok, kakek itu mengerutkan alisnya. Sebelum Joko Handoko tadi tiba, dia pun termenung memikirkan
Ken Arok. Sampai sekarang,sudah tiga bulan lewat dan dia belum membuatkan keris yang dipesan oleh
putera Ginantoko yang lain itu. Jauh sekali bedanya antara Ken Arok dan pemuda ini, walaupun
keduanya putera Ginantoko. Pandang mata Ken Arok penuh keinginan dan nafsu, sebaliknya pemuda ini
memiliki sinar mata yang bijaksana dan matang.
“Ceritamu menarik sekali, kulup, dan senang hatiku mendengar bahwa engkau telah berjasa terhadap
Tumapel,telah berhasil membongkar ahasia yang berbahaya dan dapat mengacaukan Tumapel itu. Dan
sekarang, apakah maksud kunjunganmu ini?”
“Pertama-tama, saya ingin menghaturkan sembah bakti saya kepada eyang. Dan kedua kalinya, saya
ingin menghaturkan keris pusaka ini kepada eyang.” Berkata demikian, Joko Handoko mengambil keris
pusaka Nogopasung berikut sarungnya, menyerahkannya kepada Empu Gandring dengan kedua tangan.
Kakek itu memandang heran, lalu menerima keris itu, dan mengamatinya.
“Jagat Dewo Bathoro.........” dia mengeluh. Bukankah ini keris Nogopasung?”
“Benar sekali, Eyang. Keris Nogopasung ciptaan eyang sendiri, keris yang telah minum darah aah
kandung saya.”
Kakek itu menarik napas panjang dan menggangguk-angguk. “Benar, darah ayahmu dan darah
Galuhsari, isteri ketua Sabuk Tembogo.” Dia menarik keris itu dari sarungnya dan matanya terbelalak.
“Ah.......? Keris ini ternoda darah baru.....!”
“Benar sekali, Eyang, dan karena itulah maka keris pusaka ini saya bawa ke sini untuk saya haturkan
kepada eyang.”
“Maksudmu? Apakah engkau telah mepergunakan keris ini untuk membunuh orang secara penasaran?”
“Tidak sama sekali, Eyang. Memang beberapa kali terpaksa saya mempergunakan keris pemberian ibu
ini untuk menghadapi lawan yang tangguh, akan tetapi di tangan, saya, keris ini belum pernah minum
darah orang lain. Akan tetapi, baru bebrapa hari yang lalu keris ini dipergunakan oleh orang lain untuk
membunuh. Karena itulah, saya berpikir bahwa keris ini menjadi haus darah dan terlampau keji, dan saya
bawa ke sini untuk saya kembalikan kepada Eyang dengan harapan agar Eyang sudi membersihkannya
dari hawa jahat yang membuatnya haus darah.”
Empu Gandring mengangguk-angguk. Senang sekali dia mendengar kata-kata Joko Handoko karena
dari ucapan itu saja dia tahu bahwa pemuda ini adalah seorang bijaksana yang biarpun memiliki
kepandaian namun tidak suka mepergunakan kekerasan untuk membunuh orang. Teringatlah dia akan
Panembahan Pronosidhi yang bijaksana. Panembahan itu bijaksana dan lemah lembut, juga tidak suka
akan kekerasan, akan tetapi pada saat terakhir, kakek itu tewas dalam perkelahian! Dia tersenyum
mencela diri sendiri. Bukankah hidup ini merupakan perjuangan dan perkelahian yang tiada akhirnya?
Baru berakhir kalau kalah dalam perkelahian dan mati. Andaikata tidak berkelahi melawan manusia lain,
tentu akan berkelahi melawan penyakit usia tua dan sebagainya sampai kalah dan terpaksa meninggalkan
dunia fana ini.
“Keris ini pada mulanya bukan keris yang jahat, kulup. Kan tetapi, darah pria dan wanita sekaligus
menodainya sehingga dia tidak dapat dicuci. Noda ini melekat terus. Sekarang, keris itu telah minum
darah seorang dan hal ini memudahkan bagiku untuk membersihkan noda yang melekat padanya. Akan
tetapi, harus kutapai agar dia dapat bersih benar, juga sarungnya dan gagangnya harus diganti. Baiklah,
akan kukerjakan pembersihan keris Nogopasung ini, kulup. Dalam waktu setengah tahun, andika boleh
datang lagi untuk mengambilnya sebagai sebatang keris pusaka bersih dan ampuh, juga mengandung
hawa baik yang memperterang nasib pemiliknya.”
“Terima kasih, Eyang.” Joko Handoko merasa girang sekali dan setelah bercakap-cakap dengan Empu
Gandring, dia lalu bermohon diri untukk cepat pulag mencari ibunya dan ayah tirinya, yaitu Raden
Prainggojoyo yang tinggal di Kadipaten Wonoselo.
Setelah Joko Handoko pergi, Empu Gandring lalu mulai dengan pekerjaannya yang menyenangkan
hatinya, yaitu berusaha untuk membersihkan keris pusaka Nogopasung dari hawa jahat. Untuk itu dia
harus bersamadhi dan berpuasa, mengenakan pakaian putih-putih yang bersih dan pekerjaan itu dia mulai
pada hari itu juga.
Berhari-hari Empu Gandring tidak menerima pesanan keris baru dengan alasan sibuk dan banyak
pekerjaan. Semua akan terjadi dengan lancar dan baik kalau saja sebulan lebih kemudian tidak muncul
Ken Arok di tempat kerjanya! Pemunculan pemuda yang berpakaian indah dan garang itu mengejutkan
hati Empu Gandring yang pada saat itu sedang mengerjakan pembersihan keris pusaka Nogopasung.
Begitu masuk dan memberi hormat degan singkat kepada kakek itu. Ken Arok lalu menanyakan keris
pesanannya.
“Bagaimana, Eyang. Sudah jadikah keris pesanan saya lima bulan yang lalu itu?” Bertanya demikian,
Ken Arok mengamati keris yang sedang digosok-gosok dan dicuci oleh kakek itu. Keris itu nampak
kasar dan gagangnya bahkan terbuat dari kayu cangkring. Maka keris masih bekas gemblengan dan
masih hitam menghangus oleh api. Sebatang keris yang buruk sekali rupanya.
Empu Gandring menggelang kepalanya dan meanjutkan pekerjaannya. Keris pusaka Nogopasung itu
telah digembleng dan dibakar untuk mengusir hawa jahat yang terkandung di dalamnya, namun masih
belum dapat bersih. Dengan tekun dia menggosok dan mencucinya sejak beberapa hari ini.
“Aku belum sempat, angger Ken Arok. Seperti andika lihat sendiri, aku sedang sibuk membersihkan
keris pusaka ini dan belum sempat mengerjakan keris pesananmu.”
Wajah Ken Arok Menjadi merah. Kemarahan menyelinap di dalam hatinya dan sepasang matanya
berkilat. Akan tetapi dia tertarik mendengar kakek itu menyebut keris yang dicucinya dan yang buruk itu
sebagai keris pusaka.
“Maaf, Eyang. Keris pusaka apakah yang sedang eyang kerjakan itu? Bolehkan saya melihatnya
sebentar saja?”
Empu Gandring mengulurkan tangannya dan Ken Arok mengambil keris itu, memegang gagannya yang
buruk dan tebuat dari kayu cangkrik sederhana itu. Keris itu jelek sekali, pamornya telah terbakar dan
kasar sekali buatannya, sama sekali tidak memberi kesan sebagai keris pusaka yang ampuh. Akan tetapi
karena kakek itu menyebutnya sebagai keris pusaka, Ken Arok mengamati penuh perhatian.
“Keris ini keris pusaka yang ampuh sekali, angger, dan sedang kubersihkan untuk melenyapkan hawa
jahat yang terkandung di dalamnya.”
Bukan main girang rasa hati Ken Arok mendengar ucapan itu. “Kalau begitu, Eyang. Biar saya pinjam
sebentar keris ini, kupinjam selama satu bulan saja.”
“Jangan, Angger. Tidak boleh, karena keris ini belum bersih benar.”
Marahlah Ken Arok. “Hemm, keris macam begini saja apa sih ampuhnya, Eyang? Rupanya saja buruk,
tentu tidak mengandung keampuhan sama sekali!”“Jangan berkata demikian, Angger Ken Arok. Keris ini
ampuhnya menggiriskan dan agaknya sukar ditemukan orang yang akan mampu menahan keampuhanya.
Jangan lama-lama andika memegangnya, berikan kembali kepadaku untuk kubersihkan. Keris ini
berbahaya sekali, Angger,hawa jahat mempengaruhi orang yang memegangnya.” Berkata demikian,
Empu Gandring lalu mengulurkan tangan hendak mengambil kembali keris pusaka Nogopasung itu. Akan
tetapi tiba-tiba Ken Arok yang sudah marah itu menjadi beringas. Benarkah keris ini ampuh sekali?
Untuk mencobanya tidak ada orang yang lebih sakti dari pada Empu Gandring sendiri! Dan kakek ini
memang layak dibunuh kerena telah mengecewakannya, tidak memenuhi pesanannya. Maka, tanpa
berkata apa-apa, selagi kakek itu tidak menduga dan mengulur tangan hendak menerima keris akan
tetapi tiba-tiba dia menusukkan keris itu pada dada Empu Gandring.
“Ceppp!” Dada yang biasanya kebal dan sakti itu tembus! Ken Arok meloncat ke belakang dan
mencabut kerisnya dan tubuh Empu Gandring terkulai. Kakek itu menggunakan tangan kiri menutup luka
di dadanya, tangan kanannya ke atas dan dia memandang kepada Ken Arok dengan mata seperti
mencorong, mengeluarkan suara sinar yang menakutkan.
“Wahai Ken Arok........andika telah berbuat khianat dan keji. Para dewata menjadi saksi bahwa keris ini
kelak akan membunuhmu, membunuh keturunanmu sampai tujuh turunan.” Setelah berkata demikian
tubuh tua itu terkulai dan napasnya pun terhenti. Sejenak Ken Arok tertegun, terkejut oleh perbuatannya.
Namun tidak ada penyesalan di dalam hatinya. Memang sudah direncanakannya untuk membunuh Empu
Gandring setelah dia memperoleh sebaang keris yang ampuh, karena kakek itu merupakan saksi pertama
bahwa dia mencari sebatang keris yang ampuh di tempat itu. Dia memandang keris buruk rupa di
tangannya, setengah kagum dan puas, setengah masih agak ragu-ragu. Benarkah keris ini ampuh, atau
tubuh Empu Gandring ang sudah terlalu tua dan kehilangan kesaktiannya? Dia tidak boleh gagal dan
harus yakin benar akan keampuhan keris pusaka di tangannya itu. Maka dia lalu menusukkan keris itu
pada lumpang batu tempat pengumpulan, bekas-bekas gosokan keris dan lumpang itu pun pecah menjadi
dua potong dengan amat mudahnya. Dia menusukkan lagi keris itu pada besi landasan tempaan keris dan
landasan itu pun pecah menjadi dua potong. Bukan main girang rasa hati Ken Arok karena keris itu
benar-benar ampuh sekali. Empu Gandring telah berjasa kepadanya.
Ken Arok memandang mayat yang rebah di atas lantai itu dan berkata, “Jika kelak tercapai semua
cita-citaku dan aku menjadi orang besar, saya tidak akan melupakan anak cucu para pandai besi di
Lulumbang!” Setelah berkata demikian dia pun menyelinap pergi meninggalkan tempat itu. Sudah
diaturnya bahwa ketika dia tadi datang dan masuk ke tempat pekerjaan Empu Gandring, tidak seorang
pun mengetahuinya dan kini pun keluar tanpa diliat orang lain.
Kesenangan bukanlah sesuatu yang buruk ataupun jahat. Segala macam kesenangan di dunia ini telah
menjadi hak kita manusia untuk kita nikmati. Untuk dapat menikmatinya, Ketika kita lahir telah terbawa
oleh kita, segala sarana untuk dapat menikmati kesenangan. Panca indera kita lengkap sehingga kita
dapat menikmati kesenangan dari pendengaran, penglihatan, penciuman, makanan dan perabaan. Yang
menimbulkan kejahatan dan penyelewengan adalah pengejarannya, pengejaran terhadap kesenangan
yang muncul dari si-aku yang ingin selalu senang. Pengejaran akan selalu suatu ujuan menghasilkan segala
macam cara! Kekayaan adalah diantara kesenangan yang telah menjadi hak untuk kita nikmati, namun
pengejarannya menimbulkan korupsi, manipulasi, segala kecurangan dalam perdagangan dan usaha,
pencurian, penipuan, dan segala “cara” sesat lainnya untuk mencapai tujuanya, yaitu mendapatkan uang
yang dianggap mendatangkan kesenangan. Pengejaran terhadap kesenangan sex menimbulkan
penjinahan, perkosaan, pelacuran. Pengejaan terhadap kesenangan dari kedudukan dan kekuasaan
menimbulkan pertentangan, perusahaan, bahkan perang!
Kesengan sendiri merupakan anugerah bagi kita dan kita hendak menikmatinya. Berbahagialah dia yang
dapat menikmati segala macam yang ada dan yang jatuh kepadanya. Pengejaran terhadapat kesenangan
menyembunyikan pamrih terhadap segala perbuatan kita sehingga perbuatan itu menyadi palsu.
Pengejaran ini merupakan suatu penyakit yang akan kambuh terus. Suatu pengejaran berhasil, akan
timbul bosan dan disusul oleh pengejaran yang lain, demikian terus tiada habisnya. Pengamatan terhadap
diri sendiri akan membuka mata, menimbulkan kewaspadaan dan kesadaran sehingga penyakit ini pun
akan sembuh sama sekali, pengejaran akan terhenti sampai di sini saja. Bukan berarti MENOLAK
kesenangan, melainkan menikmati apa yang ada tanpa mengotori badan dengan pengejaran.

****
Sesuai dengan niat yang telah berbulan-bulan direncanakan, Ken Arok menyembunyikan keris pusaka
itu dan pada suatu hari dia memamerkan keris pusaka, yang buruk rupa itu kepada seorang sahabatnya
yang bernama Kebo Hijio, seorang perwira pasukan pengawal yang disayang oleh Tunggal Ametung dan
dekat dengan Sang Akuwu itu.
“Lihat Dimas Kebo Hijo, biarpun kelihatan jelek, keris ini merupakan keris pusaka yang ampuh bukan
main dan dapat menambah kekuatan orang yang memegangnya” Ken Arok lalu mendemonstrasikan
keampuhan keris itu dengan memecahkan batuan dan mematahkan sebatang linggis besi dengan keris itu.
Kebo Hijo terbelalak kagum. Keris itu seperti keris yang belum jadi, tangkainya saja dari kayu
cangkring yang masih ada durinya sederhana sekali, dan dilekatkan pada keris itu memakai damar. Akan
tetapi keris itu ternyata ampuh bukan main!
“Keris yang habat!” katanya dengan pandang mata penuh kagum.
“Sayang rupanya buruk sehingga aku merasa malu untuk memakainya,” kata pula Ken Arok memancing.
Pancingannya kena. “Kalau begitu Kakangmas Ken Arok, kalau boleh biar aku yang memakainya. Biar
aku ketularan kesaktiannya.”
Ken Arok pura-pura merasa keberatan sehingga kawannya itu mendesak lagi. Sudah menjadi watak
setiap orang manusia bahwa benda yang sukar didapat itu menambah semangat untuk memperolehnya.
Hal ini diketahui benar oleh Ken Arok. Akhirnya dia mengalah. “Baiklah, kau boleh memijam keris itu,
Dimas. Akan tetapi dengan janji agar jangan beritahukan kepada siapa juga bahwa keris ini milikku.
Boleh kau katakan milikmu saja. Asal jangan sampai rusak atau hilang.”
Bukan main girangnya Kebo Hijo. Dipakainya keris itu dan dalam waktu beberapa hari saja semua
orang di Tumapel tahu belaka bahwa Kebo Hijo memiliki sebatang keris yang buruk akan tetapi ampuh.
Pemuda itu agaknya tidak dapat menahan diri untuk memamerkan keris kepada siapa saja. Hal ini pun
sudah diperhitungkan oleh Ken Arok sehingga diam-diam dia merasa girang sekali. Semua siasatnya
berjalan dengan lancar dan baik menurut rencananya.
Pada malam yang sudah direncanakannya, Ken Arok menyelinap keluar dari rumahnya tanpa diketahui
seorang pun dan diam-diam dia pun menuju ke tempat Kebo Hijo. Dengan Aji penyirepan Ken Arok
berhasil membuat Kebo Hijo tertidur nyenyak sekali di dalam kamarnya dan Ken Arok lalu menyelinap
masuk, membuka daun jendela dan melompat ke dalam kamar itu. Dengkur Kebo Hijo sama sekali tidak
terganggu oleh sedikit suara berisik yang timbul ketika Ken Arok membuka jendela. Mudah baginya
untuk mencuri keris pusaka Nogpasung yang terkletak di atas meja, kemudian dia menutupkan lagi daun
jendela dan melenyapkan bekas-bekas tangannya. Kamar itu nampak seperti biasa dan tidak pernah
dibongkar orang.
Sesuai dengan rencananya, malam itu Ken Dedes menunggunya di dalam tanam. Ketika Ken Arok,
dengan keris pusaka di pinggangnya, melompat dari pagar taman, Ken Dedes yang sejak sore tadi
nampak pucat dan gelisah, terkejut akan tetapi tak jadi berteriak ketika melihat bahwa yang datang
adalah kekasihnya.
Ken Arok merangkul kekasihnya dan berbisik, “Sudah tidurkah dia?”
Ken Dedes mengangguk dan berbisik kembali. “Sesuai dengan rencanamu, malam ini aku menjauhkan
diri dan dia tidur sendirian di dalam kamar semadhinya. Tadi sudah kudengar dengkurnya. Akan
tetapi....... Kakangmas...... sudah benarkah jalanan yang kita ambil ini? Apakah tidak ada jalan dan cara
lain?”
Ken Arok memegang kedua pundak kekasihnya, “Tidak ada jalan lain, dia atau aku yang harus mati
agar seorang di antara kami dapat hidup di sampingmu untuk selamanya, Diajeng. Apakah engkau
ragu-ragu? Tinggal kau pilih, dia atau aku........!”
Mendengar ini menggigil tubuh Ken Dedes dan ia merangkul pemuda itu dan menyandarkan mukanya di
dada yang bidang itu, lalu ia mengeluh lirih. “Ah, aku cinta padamu, Kakangmas, tentu aku memilih
engkau, akan tetapi aku khawatir, aku takut kalau engkau akan gagal.......ahhh.......”
“Jangan khawatir, Diajeng. Kalau aku gagal, berarti aku mati dan engkau tetap menjadi istri Tunggal
Ametung, aku tidak akan menyangkut dirimu. Akan tetapi tidak mungkin gagal. Ingat, aku adalah
keturunan Sang Hyang Brahma sehingga para dewata tentu akan melindungiku!”
Dengan bantuan Ken Dedes, tentu saja Ken Arok dapat memasuki rumah Tungggal Ametung dengan
mudah dan tanpa diketahui orang lain. Ken Dedes lalu bersembunyi di dalam kamarnya sendiri, mukanya
pucat dan hatinya gelisah bukan main. Ia menjatuhkan diri di atas pembaringan, menutupi kedua
telinganya dengan bantal agar tidak mendengar sesatu karena hatinya merasa ngeri.
Sementara itu, Ken Arok menyelinap masuk ke dalam kamar samadhi Sang Akuwu Tunggal Ametung.
Terdengar suara dengkur Sang Akuwu dan benar saja, dia mendapatkan pembesar itu sedang tidur
nyenyak. Ken Arok menghunus keris pusaka Nogopasung, mengerahkan aji kesaktiannya, kemudian
dengan sepenuh tenaganya, dia menusukkan keris pusaka itu ke dada kiri Sang Akuwu. Keris Pusaka
Nogopasung itu memang amat ampuh dan haus darah. Begitu dadanya tembus, Sang Akuwu terbelalak
dan mulutnya bergerak-gerak, namun tidak ada suara yang keluar dari Sang Akuwu yang juga sakti itu
masih mampu bangkit duduk, akan tetapi keampuhan keris pusaka itu membuat dia terjengkang kembali
dan tewas seketika. Ken Arok meloncat keluar dan meninggalkan keris pusaka itu di dada Sang Akuwu
Tunggal Ametung.
Tidak ada seorang pun kecuali dirinya sendiri yang menjadi saksi pembunuhan keji ini. Yang tahu akan
rahasia itu hanya Ken Dedes, ada pula yang dapat menduga bahwa yang membunuh Tunggal Ametung
adalah Ken Arok, dan mereka yang tahu itu tentu saja Ki Bango Samparan dan Ki Danyang Lohgawe.
Akan tetapi dua orang ini adalah ayah-ayah angkat Ken Arok yang membela pemuda itu sehingga rahasia
itu akan aman.
Biarpun berasal dari rakyat kecil, ternyata Ken Arok merupakan seorang yang pandai dan bijaksana.
Dia bukan hanya memberi hadiah kepada mereka yang telah berjasa kepadanya, yang pernah
menolongnya ketika dia menjadi orang buruan, akan tetapi dia juga tidak melupakan orang-orang yang
telah menjdi korban usahanya mencapai tujuan, seperti keturunan Kebo Hijo dan Empu Gandring. Dia
dengan royal menyebar harta di bekas isatan Akuwu Tunggal Ametung, bukan hanya untuk memperbesar
rasa suka dan kesetaian orang-orang yang sudah mendukungnya, akan tetapi juga untuk menghapus
segala dendam yang ditujukan kepadanya, mengubah segala perasaan benci menjadi perasaan suka.
Kebesaran Ken Arok bukan berhenti sampai di situ saja. Bintangnya menjadi semakin terang cemerlang.
Sungguh merupakan kebetulan yang amat menguntungkan dirinya bahwa pada waktu itu, di Kerajaan
Daha timbul perpecahan agama. Sang Prabu Dandang Gendis yang lebih condong membela agama
Hindu karena pembantu dan penasihatnya seperti Begawan Surotomo dan Begawan Buyut Wewenang
memeluk agama itu, mulai melakukan penekanan terhadap para pendeta yang beragama Siwa Budha.
Para pendeta Siwa Budha ini, termasuk Ki Danyang Maruto, tidak mau menjolat-jilat kepada Sang
Prabu Dandang Gendis seperti yang dilakukan oleh para pendeta Hindu Trimurti. Oleh karena itu, sang
prabu menekan dan memaksa mereka untuk lebih menghormatinya, menyembah-nyembahnya. Hal ini
ditolak oleh para pendeta Siwa Budha sehingga Sang Prabu Dandang Gendis menjadi marah. Menuruti
bujukan Begawan Sarutomo dan kawan-kawannya, Raja Daha itu hendak menangkap semua pendeta
Siwa Budha dan terjadilah perpecahan. Pada pendeta Siwa Budha lalu melarikan diri kepada raja baru
Kerajaan Singosari di Tumapel itu. Makin kuatlah kedudukan Ken Arok yang kini menjadi Sang Prabu
Sri Rajasa Bhatara Sang Amarwabumi!
Seperti tercatat dalam sejarah, kelak terjadilah perang antara kerajaan baru Singosari melawan
Kerajaan Daha, dan Kerajaan Daha dapat dikalahkan dan ditaklukkan. Maka, Raja Singosari yang
dahulunya bernama Ken Arok, seorang penjudi, bahkan pernah menjadi perampok, kini menjadi
Maharaja di Pulau Jawa!
Tentu saja Ken Arok tidak melupakan saudara tirinya, yaitu Joko Handoko. Diundangnya saudaranya
itu. Joko Handoko sudah mendengar akan kemajuan pesat yang dicapai Ken Arok, akan tetapi dia
memang tidak tertarik untuk memperoleh kedudukan, maka dia pun hanya mendengar dari jauh saja
betapa Ken Arok kini menjadi raja dan menikah dengan janda almarhum Tunggal Ametung yang tewas
dibunuh Kebo Hijo. Ketika panggilan tiba, Joko Handoko Yang sedang mempersiapkan diri untuk
meminang Dewi Pusporini itu, terpaksa memenuhi panggilan dan dia pun terpaksa menunda niatnya
mengajak orang tuanya meminang dan berangkat ke Tumapel.

20Bersambung ke 29 TAMMAT...