Showing posts with label TOKOH. Show all posts
Showing posts with label TOKOH. Show all posts

Ronggowarsito

05:46 0
Ronggowarsito
Seorang Filsuf Jawa dan Pujangga yang bernama Raden Bagus Burhan cicit dari Yasadipura II yang juga sebagai Pujangga di Kasunanan Surakarta.
Raden Ngabei Ronggowarsito mengabdikan diri di Kasunanan Surakarta pada masa Paku Buwono ke VII.

Sahabatnya Winters CF dari Belanda membantu dalam mempelajari kitab kitab kuno Jawa.
Banyak kitab dan serat yang sudah di tulis, termasuk Ramalan Jayabaya yang fenomenal
Salah satu serat yang di tulis adalah Serat Kalatidha tentang Jaman Edan.
Saya kutib sedikit tentang tulisan Falsafahnya.
Semoga bermanfaat.
*Falsafah RONGGO WARSITO*
_*REZEKI*_
_Rejeki iku ora iså ditiru.._
*(REJEKI ITU TIDAK BISA DITIRU)*
_Senajan pådå lakumu_
*(WALAU JALANMU SAMA)*
_Senajan pådå dodolan mu_
*(WALAU JUALANMU SAMA)*
_Senajan pådå nyambut gawemu_
*(WALAU PEKERJAANMU SAMA)*
_Kasil sing ditåmpå bakal bedå2_
*(HASIL YANG DITERIMA AKAN BERBEDA SATU SAMA LAIN)*
_Iså bedå nèng akèhé båndhå_
*(BISA LAIN DALAM BANYAKNYA HARTA)*
_Iså ugå ånå nèng Råså lan Ayemé ati, yaiku sing jenengé bahagia_
*(BISA LAIN DALAM RASA BAHAGIA DAN KETENTERAMAN HATI)*
_Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså_
*(SEMUA ITU ATAS KASIH DARI TUHAN YANG MAHA KUASA)*
_Såpå temen bakal tinemu_
*(BARANG SIAPA BER-SUNGGUH2 AKAN MENEMUKAN)*
_Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå_
*(BARANG SIAPA BERANI BERSUSAH PAYAH AKAN MENEMUKAN KEMULIAAN)*
_Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi_
*(BUKAN BANYAKNYA, MELAINKAN BERKAHNYA YANG MENJADIKAN CUKUP DAN MENCUKUPI)*
_Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså_
*(SUDAH DIGARISKAN OLEH TAKDIR BAHWA SEMUA YANG HIDUP ITU SUDAH DIBERI BEKAL OLEH YANG MAHA KUASA)*
_Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané_
*(JALAN HIDUP DAN REJEKI SUDAH TERSEDIA, DEKAT, SEPERTI UDARA YANG KITA HIRUP SETIAP HARINYA)*
_Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé, nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå_
*(TETAPI KADANG MANUSIA SILAU MATA DAN GELAP HATI, YANG JAUH KELIHATAN BERKILAU DAN MENARIK HATI.. TETAPI YANG DEKAT DIDEPANNYA DAN MENJADI TANGGUNG JAWABNYA DISIA-SIAKAN SEPERTI TAK ADA GUNA)*
_Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati_
*(REJEKI ITU SUDAH DISEDIAKAN OLEH ALLAH, TIDAK BAKAL BERKURANG UNTUK MENCUKUPI KEBUTUHAN MANUSIA DARI LAHIR SAMPAI MATI)*
_Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet_
*(TETAPI KALAU MENURUTI KEMAUAN MANUSIA YANG TIDAK ADA BATASNYA, SEMUA DIRASA KURANG MEMBUAT RUWET DI HATI DAN PIKIRAN)*
_Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké lan yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné_
*(PETUAH ORANG TUA, JALANILAH APA YANG ADA DIDEPAN MATA DAN JANGAN TERLALU BERHARAP LEBIH UNTUK YANG BELUM ADA.*
*KALAU MEMANG MILIKMU PASTI AKAN KETEMU, KALAU BUKAN JATAHMU, APALAGI SAMPAI MEREBUT MILIK ORANG MEMAKAI CÀRA TIDAK BAIK, ITU AKAN MEMBUAT HIDUPMU MERANA, SENGSARA DAN ANGKARA MURKA. SEMUA ITU AKAN SIRNA KEMBALI KE ASALNYA)*
_Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé_
*(MISALKAN KETENTERAMAN ITU BISA DIBELI DENGAN HÀRTA, ALANGKAH SENGSARANYA ORANG YANG TIDAK PUNYÀ)*
_Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI,_
*(UNTUNGNYA, KETENTERAMAN BISA DIMILIKI OLEH SIAPA SAJA YANG TIDAK MENGAGUNGKAN KEDUNIAWIAN, SUKA MENOLONG ORANG LAIN DAN MENSYUKURI HIDUPNYA)*
SUNGGING PRABANGKARA

SUNGGING PRABANGKARA

08:40 0
SUNGGING PRABANGKARA
Dari Buku “LEGENDA JEPARA”, penulis Hadi Priyanto :
Versi 1 mengenai Prabangkara!!!
Pada pemerintahan majapahit, yang rajanya pada saat itu ialah Raja Brawijaya ada seorang seniman lukis atau tatah terkenal yang bernama “Ki Sungging Adi Linuwih” atau dikenal sebagai “Ki Sungging Prabangkara”. Sang raja kemudian memerintahkan Ki Sungging Adi Linuwih untuk melukiskan Sang Permaisuri. Perintah atau Titah Sang Raja akhirnya dilaksanakan dengan baik dan berhasil diselesaikan tugas tersebut oleh Ki Sungging Adi Linuwih tepat waktu.
Saat proses pengerjaan, tanpa sengaja tinta hitam terpecik pada lukisan di pangkal paha Sang Permaisuri. Noktah hitam itu tentu membuat Sang Raja tercengang, ia merasa selain Sang Raja dan Sang Permaisuri sendiri tidak ada seorangpun yang mengtahui bahwa terdapat tahi lalat kecil dipangkal paha Sang Permaisuri. Karna itu Sang Raja berburuk sangka, bahwa Ki Sungging Adi Linuwih telah melihat permaisuri dalam keadaan telanjang.
Untuk memcahkan teka-teki ini Raja Brawijaya memerintahkan kembali Ki Sungging, perintah Sang Raja kali ini cukup berat. Perintah itu ialah, Ki Sungging harus membuat patung Sang Permaisuri di udara dengan menaiki layang-layang. Karena titah Sang Raja, Ki Sungging pun tak berani menolak. Setelah memohon kekuatan pada Sang Maha Kuasa, naiklah Ki Sungging keatas layang-layang dengan membawa perlengkapan memahat guna membuat patung Sang Permaisuri. Konon, Saat hampir menyelesaikan patung permaisuri angin bertiup sangat kencang.
Ki Sungging yang telah berada di udara bersama layang – layang terbawa kearah timur. Namun setelah puluhan kilometer, angin berbalik arah ke barat. Kejadian ini memnyebekan goncangan, sehingga patung setengah jadi itu jatuh disebuah pulau. Karena jatuhnya disebabkan angin yang membalik, maka pulau itu kemudian dinamakan bali(Bahasa Jawa : Mbalik). Patung tadi ditemukan masyarakat setempat, sehingga akhirnya orang bali sangat mahir dalam membuat patung.
Sementara itu, Ki Sungging bersama layang-layang kemudian terbang semakin rendah kemudian tersangkut diatas sebuah pohon di Pedukuhan bernama Belakang Gunung yang sekarang masuk wilayah Desa Mulyoharjo. Pahat dari Ki Sungging prabangkara akhirnya jatuh dan ditemukan oleh masyarakat di wilayah itu. Dari sinilah konon seni Ukir Jepara mulai berkembang.
Versi 2 Mengenai Prabangkara!!!
Konon berawal, saat Prabu Wijaya dalam perjalan melihat desa-desa di wilayah Majapahit dan mengalami kelelahan. Ia singgah kerumah punggawa kerajaan yang ada di desa. Punggawa ini memiliki seorang anak perempuan yang telah menjadi janda, tetapi parasnya sangat cantik. Akhirnya Sang Prabu mengangkatnya sebagai selir.
Dari Selir ini, lahirlah seorang anak tampan yang diberi nama “Jaka Prabangkara”. Ia pun mendidik prabangkara dengan berbagai bekal ilmu. Ternyata ia sangat pandai dalam hal melukis. Tentu Raja Brawijaya sangat senang serta terus berusaha mengembangkan kemampuannya.
Prabu Brawijaya akhirnya memerintahkan Jaka Prabangkara untuk melukis sang permaisuri. Namun ketika lukisan tanpa busana itu jadi, tanda lahir Permaisuri tergambr pula. Prabu Brawijaya menduga anaknya telah melkukan hal yang tak pantas dengan permaisurinya. Karena itu, Prabu Brawijaya murka dan berniat untuk membunuhnya. Namun atas nasehat para penasehat kerajaan, Prabu Brawijaya mengurungkan niatnya dan hanya mencari cara untuk mengusirnya dari kerajaan Majapahit.
Pada akhirnya ia memerintahkan Jaka Prabangkara untuk membuat patung permaisuri dengan cara memasukkan dalam sangkar raksasa yang diangkat naik ke angkasa dengan layang-layang raksasa. Rasa cemburu Prabu Brawijaya demikian hebat. Sehingga ketika layang-layng telah berada jauh di angkasa, ia memerintahkan prajuritnya untuk memutus talinya hingga layang-layang terbawa angin hingga jepara. Saat berada di atas Jepara, angin bertiup kencang hingga pahat Jaka Prabangkara ini konon ditemukan oleh seorang pengrajin dari belakang gunung yang bernama “Asmo Sawiran”. Setelah menemukan phat prabangkala ini, kemampuan mengkir asmo sawiran berkmbang pesat sehingga mempengruhi orang belakang gunung menjadi komunitas masyarakat yang pandai mengukir.
Versi 3 Mengenai Prabangkara!!!
Bermula dari Legenda Kanjeng Sunan Sungging di Kudus. Konon agar ia bisa melihat seluruh wilayah se-Nusantara, ia merambat naik tali layang-layang yang sangat tinggi. Namun ketika hampir menyentuh layang-layang, tali layang-layang itu putus. Ia terbawa angin hingga ke Yunan, Tiongkok dan kemudian ia menikah dengan wanita disana dan memilikianak yang diberi nama “The Sing Ling”. Setelah dewasa oleh ayahnya ia diperintahkan pergi ke Kudus untuk menyiarkan agama Islam. Ia tiba di kudus sekitar abad XV bersama “Jendral Cheng Hoo”.
Setelah berada di Kudus, The sing Ling lebih sering dipanggil dengan sebutan “Kiai Telingsing”. Ia tinggal di suatu daerah antara sungai Tanggul Angin dan Sungai Juana. Di samping menyebarkan ajaran Islam, Kyai Telingsing juga mengajarkan seni ukir kepada masyarakat di sekitarnya. Banyak orang berguru kesana, diantaranya adalah putra sahabatnya, “Raden Usman Haji(bernama Raden Ja’far Sidiq)”.Siswa Kyai Telingsing konon juga berasal dari Jepara, sehingga seni ukir di daerah ini bisa berkembang.
Sedangkan dari buku sejarah dan budaya, “ LEGENDA OBYEK-OBYEK WISATA” tahun 2007-2008 Penerbit Dinas Pariwisata Kab.Jepara
LEGENDA
Dikisahkan seorang ahli seni pahat dan lukis bernama Prabangkara yang hidup pada masa Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, pada suatu ketika sang raja menyuruh Prabangkara untuk membuat lukisan permaisuri raja sebagai ungkapan rasa cinta beliau pada permaisurinya yang sangat cantik dan mempesona.
Lukisan permaisuri yang tanpa busana itu dapat diselesaikan oleh Prabangkara dengan sempurna dan tentu saja hal ini membuat Raja Brawijaya menjadi curiga karena pada bagian tubuh tertentu dan rahasia terdapat tanda alami/khusus yang terdapat pula pada lukisan serta tempatnya/posisi dan bentuknya persis. Dengan suatu tipu muslihat, Prabangkara dengan segala peralatannya dibuang dengan cara diikat pada sebuah laying-layang yang setelah sampai di angkasa diputus talinya.
Dalam keadaan melayang-layang inilah pahat Prabangkara jatuh di suatu desa yang dikenal dengan nama Belakang Gunung di dekat kota Jepara. Di desa kecil sebelah utara kota Jepara tersebut sampai sekarang memang banyak terdapat pengrajin ukir yang berkualitas tinggi. Namun asal mula adanya ukiran disini apakah memang betul disebabkan karena jatuhnya pahat Prabangkara, belum ada data sejarah yang mendukungnya.
SEJARAH
Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, terdapat seorang patih bernama Sungging Badarduwung yang berasal dari Campa (Kamboja) ternyata seorang ahli memahat pula. Sampai kini hasil karya Patih tersebut masih bisa dilihat di komplek Masjid Kuno dan Makam Ratu Kalinyamat yang dibangun pada abad XVI.
Keruntuhan Kerajaan Majapahit telah menyebabkan tersebarnya para ahli dan seniman hindu ke berbagai wilayah paruh pertama abad XVI. Di dalam pengembangannya, seniman-seniman tersebut tetap mengembangkan keahliannya dengan menyesuaikan identitas di daerah baru tersebut sehingga timbulah macam-macam motif kedaerahan seperti : Motif Majapahit, Bali, Mataram, Pajajaran, dan Jepara yang berkembang di Jepara hingga kini.
Togog

Togog

08:02 1
Togog
Togog adalah wayang yang digunakan di dalam lakon apapun juga di pihak raksasa. Ia menjadi penunjuk jalan pada waktu raksasa yang diikutinya bertugas di luar negara.
Pengetahuan Togog akan jalan didapatnya karena sebagai hamba ia pernah mengikuti majikannya, ketika pergi ke negara-negara lain. Togog tidak mempunyai kesetiaan dan selalu berpindah dari majikan yang satu ke majikan yang lainnya.
Maka itu sesecrang yang tak setia pada pekerjaannya dan selalu berganti majikan, sering juga disebut seorang Togog.
Suara Togog besar. Cara membawakan suara demikian ialah dengan bersuara besar di leher.
Ia bersahabat dengan Semar yang terhitung lebih muda daripada Togog. Maka Semar pun menyapa Togog dengan kakang atau dengan kependekannya kang dengan menyebut namanya, jadi: Kang Togog.

Di mana Togog menghamba, ia disayang dan dipercaya oleh majikannya, sampai-sampai ia dipercaya untuk memberangkatkan tentara yang bertugas ke luar negara. Waktu Togog mendapat perintah untuk memberangkatkan tentara, dalang pun menyampaikan ucapan berikut:
Tersebutlah lurah Wijayamantri (Togog) telah tiba di tempat para raksasa berkumpul dan ia pun memerintahkan kepada Klek-engklek Balung atandak, supaya bersiap-siap berjalan ke negara Anu, tetapi perintahnya tak kedengaran dan naiklah ia ke panggung dan memukuli sesuatu barang untuk memberi tanda. Barang yang dipukuli untuk memberi tanda ialah: genta, keleleng, gubar, beri dan lonceng agung sebesar lumbung, setelah dipalu kedengaran hingga sejauh seperempat jam jalan. Raksasa-raksasa yang sedang bepergian dan mendengar tanda suara itu segera kembali dan bersiap siaga dengan senjata dan kendaraan. Yang menjadi kendaraan raksasa ialah senuk, memreng, blegdaba, bihal, badak dan singa yang kesemuanya itu membikin orang ketakutan. Ucap Engklek-engklek Balung tandak, “Ayo kawan, berdandanlah, kita pergi ke negara Anu.”
Kawan-kawan menyambut, “ Ikutlah, ikutlah. Jangan sampai ketinggalan prabot kita: tekor tempat darah dan pisau pemotong hati.” Riuhlah suara raksasa-raksasa bercampur suara binatang-binatang kendaraan seperti bunyi guruh di musim keempat.
Lurah Widyamantri turun dari panggung dan menghadap majikannya.
Bragalba bertanya, apakah Lurah Widyamantri sudah mengundangkan, supaya semua raksasa bersiap.
Jawab Widyamantni, “Sudah Kyai, setiap saat bisa berangkat.
Bragalba, “Marilah berangkat, selagi waktu masih pagi.”
Jawab: Mari, mari kita berangkat.
Bunyi gamelan mengiringi keberangkatan mereka.

Gamelan berhenti. Berkata Togog kepada Bilung, “Bilung, bagaimana ini. Katanya tadi diangkat sebagai pemimpin. Bagaimana aku bisa memimpin sampai ke negara yang dituju, kalau semua orang mau tinggal di belakang.”
Tetapi Togog dan Bilung menyusul jua.
Di tengah jalan mereka berjumpa dengan duta seorang raja. Dalam tanya-menanya mengenai tujuan mereka masing-masing, timbul pertengkaran dan terjadi perang, perang mana lazim disebut perang gagal, yakni perang berkesudahan tanpa jatuhnya korban-korban. Kedua pihak kemudian bersimpang jalan.

Togog bermata keran (juling), berhidung pesek (Jawa: pipih), bermulut mrongos (jongang), tak bergigi, berkepala botak, hanya berambut sedikit di tengkuk. Bergelang. Berkain slobog (nama batik). Berkeris dan berwedung.
===========
Togog kadang disebut Wijamantri , Catugora, Secawraga atau Secangragas, bahkan disebut nama lengkapnya Lurah Togog Wijamantri adalah tokoh wayang yang digunakan pada lakonapapun juga di pihak "kiri" atau raksasa.
Ia sebagai pelopor petunjuk jalan pada wakturaksasa yang diikutinya berjalan ke negeri lain.
PengetahuanTogog dalam hal ini, karena ia menjelajah banyak negeri dengan menghambakandirinya, dan sebentar kemudian pindah pada majikan yang lain hingga takmempunyai kesetiaan.
Karena itu kelakuan Togog sering diumpamakan padaseseorang yang tidak setia pada pekerjaannya dan sering berganti majikan.
Sebenarnya Togog dan Bilung dalam posisinya sebagai abdi, senantiasa berupayamemberikan pengarahan positif dengan menasihati tuannya agar tidak melaksanakanaksi yang bersifat jahat, namun sering kali nasihatnya tidak dilaksanakan.
Riwayat
Togog adalah putra dewa yang lahir sebelumSemar tapi karenatidak mampu mengayomi bumi maka Togog kembali keasal lagi alias tidak jadilahir dan waktu bersamaan lahirlah Semar.

Pada jaman kadewatandiceritakan Sanghyang Wenang mengadakan sayembara untukmemilih penguasa kahyangan dari ketiga cucunya yaitu Sanghyang Antaga (Togog), SanghyangIsmaya (Semar)dan Sanghyang Manikmaya (BataraGuru), untuk itu sayembara diadakan dengan cara : siapasaja dari ketiga cucunya tersebut yang dapat menelan dan memuntahkan kembaligunung Jamurdipa maka dialah yang akan terpilih menjadi penguasa kahyangan.
Giliran pertama Sanghyang Antaga mencoba untukmelakukannya, namun yang terjadi malah mulutnya robek dan jadi dowerseperti yang bisa kita lihat pada karakter Togog sekarang.
Giliran berikutnya adalah Sanghyang Ismaya yangmelakukannya, gunung jamurdipa dapat ditelan bulat-bulat tetapi tidak dapatdikeluarkan lagi, dan jadilah Semar berperut buncit karena ada gunung didalamnya sepertidapat kita lihat pada karakter Semar dalam wayangkulit. Karena sarana sayembara sudah musnah ditelan Semar maka yang berhakmemenangkan sayembara dan menjadi penguasa kadewatan adalah SanghyangManikmaya atau Batara Guru, cucu bungsu dari Sanghyang Wenang.
Adapun Togog danSemar akhirnya diutus turun ke marcapada (dunia manusia) untuk menjadipenasihat, dan pamong pembisik makna sejati kehidupan dan kebajikan padamanusia, yang pada akhirnya Semar dipilih sebagai pamong untuk para satriaberwatak baik.
Togog diutus sebagai pamong untuk para ksatria denganwatak buruk.

Riwayat lainnya
Syahdan, ketika dunia baru saja tercipta. Matahari, bulan dan bintangbertaburan di angkara. Samudra membentang luas. Alam sudah tercipta, tapi belumada manusia. Tersebutlah di alam dewata, Sanghyang Wenang, raja segala dewamemperanakkan seorang putra, Sanghyang Tunggal namanya. Di kerajaan jin, RajaBegawan Rekatatama mempunyai seorang putri cantik jelita, Dewa Rekatawati.
Setelah dewasa, Sanghyang Tunggal dan Dewi Rekatawatidinikahkan.
Tak lama kemudian Dewa Rekatawati mengandung. Di luarharapan, ia tidak melahirkan bayi, tapi sebutir telur. Dan begitu keluar darirahim, telur itu terbang, melesat ke angkasa, lalu jatuh di hadapan SanghyangWenang. Sanghyang Wenang yang sangat sakti, tahu, dari mana telur itu berasal,dan apa yang harus terjadi pada telur tersebut. Maka disabdanya telur itu, dantelur itu pun berubah menjadi mahluk.
Kulit telur menjadi bayilaki-laki, dinamai Sanghyang Antaga.
Putih telur juga menjadi seorang bayilelaki, dinamai Sanghyang Ismaya.
Kuning telurnya menjadi bayilaki-laki bernama Sanghyang Manikmaya.
Semulamereka rukun dan damai hidupnya.

Namun saat menginjak dewasa, Sanghyang Antagadan Sanghyang Ismaya bertengkar, memperebutkan tahta ayahnya, SanghyangTunggal.
Masing-masing mengklaim yang paling berhak menggantikan ayahnya, danmerasa paling sakti. Mereka bertengkar tiada habisnya.
SanghyangManikmaya lalu menengahi pertikaian kedua saudaranya. Tanpasepengetahuan ayahnya, ia mengusulkan kedua saudaranya ber lomba untukmenunjukkan kesaktian nya, siapa yang dapat menelan Gunung Garbawasa,dialah yang akan berkuasa. Di dalam gunung itu terkandung apa saja yang dibutuhkan untuk kehidupan manusia.

Setelahkeduanya setuju, maka pergilah mereka menuju Gunung Garbawasa.
PertamaSanghyang Antaga yang memulai sayembara. Ia mencoba nguntal gunung itu,tapi tak berhasil, meskipun sudah berulang kali mencoba, sampai mulutnya sobek.
Jadilah Sanghyang Antaga, dewa yang semula tampan wajahnya berubah menjadi jelek. Mulutnyalebar, karenasobek.
Saattiba giliran Sanghyang Ismaya, ia mengheningkan cipta. Dipandangnya GunungGarbawasa dalam-dalam. Ia membayangkan masuk kedalam rahim ibunya. Ia bertanya,bagaimana seorang mahluk sebesar dia pernah berada dalam rahim yang sekecilitu.
Itulah misteri jagad raya. Begitu ia sampai pada kesadaran ini, di-untal-nya Gunung Garbawasa yang ada dihadapannya.
Ia berhasil. celakanya, ia tak dapat mengeluarkankembali gunung itu. Ismaya sadar seharusnya tak boleh kebesaran jagat raya iniia taklukkan dengan nafsunya. Kini jagad raya inilah yang menghukumnya. Sejaksaat itu Sanghyang Ismaya menjadi buruk tampaknya.Perutnya besar dan bokongnya pun membesar pula ke belakang, tersodok puncakgunung yang ditelannya.

Marahlah Sanghyang Tunggal mengetahui kelakuan mereka, "Kalian dewa,tapi kelakuan kalian seperti manusia juga". Ungkapan Sanghyang Tunggalmengandung arti sesungguhnya telah direncana dalam rancangan jagad raya ini,bahwa manusia itu adalah mahluk yang pandai bertikai dan bertengkar di antarasesamanya.
Usai melampiaskan amarahnya, Sanghyang Tunggal mengusir kedua anaknya kedunia. Nama mereka pun diubah, Sanghyang Ismaya menjadi Semar, Sanghyang Antagamenjadi Togog. Semardititahkan untuk melindungi manusia yang baik yang dalam pewayangan diwakilikaum Pandawa. Sedangkan Togog diperintahkan menemani manusia jahat. Semarmemanggil Togog dengan sebutan “Kang Togog”.
Versi Cirebon , menyatakan Togog berasal Sanghyang Punggung, kakak Semar. Ibunya seorang wanita Selong (Ceylon,Srilanka), Semarmenyebutnya “Kakang Anom” karena lebih tua, namun mendapat wajah buruk lebihmuda dari Semar.
Sanghyang Punggung, juga berupaya menjadiRaja Kahyangan, namun gagal karena melorot dari Bale Mercupunda dan jatuh dihutan Kendalgrowong, yang kemudian digunakan untuk bertapa.
Di hutan iniia bertemu dengan Sanghyang Munged, yang berceritera kepada Sanghyang Punggung, bahwa iaingin mengubah dirinya berhubung ia termasuk daftar Pencarian Dewa, akibatmencuri ajimat Cupu Manik Astagina dan Cupu Ratna Tirta Kamandalu dariSuralaya.
CupuManik Astagina ini berisi minyak yang bisa membuat orang jadi kaya danCupu Ratna Kamandalu mengandung minyak untuk kekebalan.
Sanghyang Munget,menerapkan – memakai bungkus ajimat ke badannya, dan berubah menjadi Semar,kemudian diikuti Sanghyang Punggung, yang berubah menjadi Togog. Togog kemudianmenjadi panakawan Dasamuka.
Sebelumpemunculan Togog, dalang akan mengucapkan pustaka kramakawi :
Togog lurah Wijamantri,
Togog mungging (munggah ing ) bale,
Nabuh Bende siguntur
Atau:
Akuing Tejamantri,
Mungging bale
Mangutus gupuh nabuh tengara bala.
Di mana Togog menghamba tentu dipercaya oleh sang majikan untuk memerintahbala tentara yang akan berangkat ke negeri lain. Waktu ia mendapat perintahuntuk memberangkatkan bala tentara tersebut, dalang akan mengucapkan kata-katasebagai berikut:
”Tersebutlahlurah Wijamantri (Togog) telah tiba di tempat para raksasa berkumpul, memerintahkankepada “Klek-engklek Balung atandak”untuk bersiap akan berjalan ke negeri Anu, tetapi perintah itu tak didengar,maka naiklah ia ke panggung, memukul barang sebagai pertanda.
Adapun benda yang digunakan ialah genta, keleleng, gubar, beri dan loncengagung sebesar lumbung. Setelah dipalu dan para raksasa segera bersiap senjatadan kendaraan yang berbentuk senuk,memreng, blegdaba, bihal, badak dan singa yang mengaum dan meraungmendatangkan ketakutan pada banyak orang.”
“Ucapan Engklek-engklek Balung atandak: Marilah teman berdandanlah, akanpergi ke negeri Anu. Dan kemudian disahuti oleh temannya: Ikut-ikutlah, janganketinggalan perabot kita, tekor tempat darah, pisau pemotong hati.”
Sekalipun akan mengalahkan lawan atau musuhnya tetap harusberpegang pada etika seorang kesatria yang harus gentle, tidakpengecut, dan tidak memenangkan perkelahian dengan jalan yang licik.
Sekalipunmenang tidak boleh menghina dan mempermalukan lawannya. Itulah ajaran Ki LurahTogog yang sering kali diminta nasehatdan saran oleh para majikannya.

Namun toh akhirnya setiap nasehat, saran, masukan, aspirasiyang disampaikan Ki Lurah Togog tetapsaja tidak pernah digubris oleh majikannya, mereka tetap setia.
Ki Lurah Togogwalaupun menjabat posisi sentral sebagai penasehat, pengasuh dan pembim-bing, yang selalubermulut lantang menyuarakan pepeling, seolah peran mereka hanyasebagai obyek pelengkap penderita.
Walaupun Ki Lurah Togog selalugagal mengasuh majikannya para kesatria dur angkara, hingga sering berpindahmajikan untuk bersuara lantang mencegah kejahatan.

Bukan berarti mereka tidak setia. Sebaliknya dalam hal kesetiaan sebagaikelompok penegak kebenaran,Ki Lurah Togog patut menjadi teladan baik. Karena sekalipun sering dimaki,dibentak dan terkena amarah majikannya, Ki Lurah Togog tidak mau berkhianat.
Sekalipun selalu gagal memberi kritik dan saran kepada majikannya,mereka tetap teguh dalam perjuangan menegakkan keadilan, dan lagi-lagi, merekaselalu dimintai saran dan kritikan, namun serta-merta diingkari pula olehmajikan-majikan barunya. Itulah nasib Togog, yang mengisyaratkan nasib rakyatkecil yang selalu mengutarakan aspirasi dan amanat penderitaan rakyat namuntidak memiliki bargaining power.
Ibaratmenyirami gurun, seberapapun nasehat dan kritikan telah disiramkan di hati para“pemimpin” dur angkara, tak akan pernah membekas dalam watak paramajikannya.
Barangkali nasib kelompok punakawan Ki Lurah Togog mirip dengan apayang kini dialami oleh rakyat Indonesia. Suara hati nurani rakyat sulitmendapat tempat di hati para tokoh dan pejabat hing nusantaranagri.
Sekalipun sekian banyakpelajaran berharga di depan mata, namun manifestasi perbuatan dan kebijakanpolitiknya tetap saja kurang populer untuk memihak rakyat kecil “Togog dalamperenungannya merasakan keanehan dalam orde ini yang banyak orang beranggapanorde perubahan, tapi terasa perubahan yang membingungkan dari keseragaman
Anehnya, setiap pendapat walaupun mengandung kebenaran selalu disangsikan.”
Ki Ageng Gribig Kota Malang

Ki Ageng Gribig Kota Malang

07:31 0
Ki Ageng Gribig Kota Malang
Menjadi panutan bupati-bupati yang pernah berkuasa di Malang, makamnya menjadi jujugan orang yang sedang memburu jabatan. Disini beberapa pusaka juga pernah berhasil diambil.
Menyebut nama Ki Ageng Gribig, bayangan banyak orang akan langsung tertuju ke Kecamatan Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Memang, di Desa Krajan yang masuk wilayah kecamatan ini, setiap tahun digelar “yaqowiyu”, sebuah ritual yang mentradisi berkat amanatnya. Di kecamatan yang sama, tepatnya di Dukuh Jatinom, Desa Jatinom, juga terdapat bangunan batu merah dan kayu yang dipercaya sebagai makamnya.
Namun bagi masyarakat Keca­matan Kedung Kandang, Kota Malang, Jawa Timur, makam Ki Ageng Gribig ada di daerah mereka. Tepat­nya di sebuah kampung yang namanya juga mengambil nama tokoh tersebut; Jalan Ki Ageng Gribig Gang II. Makam yang diyakini sebagai perisitirahatan terakhirnya, berada dalam satu komplek dengan makam beberapa bupati Malang tempo dulu.
Seperti makam di Jatinom, ma­kam Ki Ageng Gribig di Kedung Kan­dang ini juga sangat dikeramatkan. Pada malam-malam tertentu, teruta ma malam Jum’at Legi, selalu saja ada peziarah yang meramaikan makamnya. Berbagai macam berkah tentu mereka harapkan, mulai keselamatan, penglarisari, gampang rejeki, hingga kebahagiaan lahir batin.
Beberapa waktu lalu, banyak pula orang yang datang ke makam ini untuk berburu pusaka. Berbagai pusaka memang diyakini banyak tersimpan di makam yang lokasinya tidak jauh dari Perumnas Sawojajar, Kota Malang ini. “Pernah ada yang berbasil mengambil keris di sini, Mas,” ungkap Thoyibi (84), juru kunci makam.
Menurut laki-laki yang sudah menjadi juru kunci sejak 1951 tersebut, tidak diketahui pasti apakah sekarang masih terdapat pusaka-pusaka lainnya. Satu yang pasti, Makam Ki Ageng Gribig tetap dikunjungi pe­ziarah saat malam-malam utama dalam kepercayaan Jawa. Termasuk oleh mereka yang sedang memburu karir atau jabatan pemerintahan. “Beberapa bupati pernah sowan ke sini saat masa pencalonan mereka,” kata Thoyibi.
Kedatangan mereka bisa jadi karena adanya makam-makam bupa­ti Malang terdahulu di komplek ma­kam ini. Di sini para calon pejabat tersebut memang tidak hanya berziarah ke makam Ki Ageng Gribig, tapi juga ke pusara para bupati. Bupati-bupati Malang tempo dulu terse­but adalah RAA. Notodiningrat (bu­pati I dan II), serta RTA. Notodining­rat (bupati III).
Masing-masing makam bupati tersebut dilindungi oleh cungkup berbentuk bangunan yang sangat kokoh. Di dalam setiap cungkup terdapat pu­la puluhan makam kerabat para bu­pati tersebut. Dalam papan putih yang terdapat di dekat pintu masuk cungkup bupati pertama misalnya, tertulis “Makam RAA Notodiningrat Bupati Malang Ke I Serta 25 Makam Kerabat Terdekat”.
Makam Ki Ageng Gribig1Makam Ki Ageng Gribig juga di­lindungi bangunan cungkup meski ukurannya tak sebesar 3 makam bupati. Di dalamnya pun hanya terda­pat 2 makam, dirinya dan istri. Berbeda dengan makam para bupati dan makam-makam lainnya, makam suami istri ini tidak bernisan. Hanya berupa dua gundukan tanah, dengan timbunan bunga-bunga di atasnya dalam naungan kelambu warna putih.
Keturunan Brawijaya
Lalu siapa sebenarnya Ki Ageng Gribig yang dikuburkan di tempat ini? Menurut beberapa sumber, dia adalah cicit Raja Majapahit, Brawijaya. Ayahnya bernama Pangeran Kedawung, salah seorang keturunan Lembu Niroto. Konon Ki Ageng Gribig adalah sa­lah satu murid kesayangan Sunan Kalijaga.

Sebagai ulama, Ki Ageng Gribig sangat terkenal dan dihormati di wilayah Malang sekitar 1650an. Ketika sudah meninggal dunia pun, makamnya begitu dihormati dan dikeramatkan, termasuk oleh penguasa waktu itu. Bupati Malang pertama bahkan merasa pemerintahannya yang berjalan bagus karena berkah Ki Ageng Gribig. “Karenanya dia berpesan, bila meninggal dunia dikuburkan dekat makam Ki Ageng Gribig,” jelas Thoyibi.
Riwayat Ki Ageng Gribig versi Malang tersebut agak berbeda de­ngan yang ada di Jatinom, Klaten. Meski sama-sama disebut sebagai keturunan Brawijaya, Ki Ageng Gribig versi Jatinom disebut sebagai putra Raden Mas Guntur atau Prabu Wasi Jaladara. Versi lain menyebut, Ki Ageng Gribig adalah keturunan Maulana Malik Ibrahim yang silsilah ke bawahnya menurunkan Maulana Ishaq, Sunan Giri, Sunan Prapen, dan Maulana Sulaiman (Ki Ageng Gribig).
Tokoh yang juga sering disebut sebagai Syekh Wasihatno itu menjadi pendakwah Islam dengan pusat di Desa Krajan, Jatinom, Klaten. Dia ju­ga termasuk tokoh yang berpengaruh karena memiliki hubungan dekat dengan Sultan Agung Hanyakrakusu- ma, raja Mataram. Bahkan Raden Ayu Emas, adik Sultan Agung, dinikahinya, hingga dirinya mendapat kekuasaan penuh sebagai ulama dan pemimpin tanah perdikan Mutihan di Jatinom.
Konon, Ki Ageng Gribig mampu melakukan perjalanan dari Jatinom ke Mekkah dalam waktu sangat singkat. Saking singkatnya, disebut bagai melempar batu, sehingga dia dapat pulang pergi Jatinom Mekkah setiap hari.
Suatu Jum’at di Bulan Safar, saat kembali dari perjalannya ke tanah suci, dia membawa oleh-oleh kue. Karena jumlahnya tidak mencukupi untuk dibagikan kepada penduduk, ia bersama istri kemudian membuat lebih banyak kue sejenis. Setelah jadi, sambil menyebarkan kue-kue kepada penduduk yang berebutaan, Ki Ageng meneriakkan “Ya Qowiyyu” (Tuhan, berilah kekuatan).
Kue tiruan dari Mekkah itu kemu­dian dikenal dengan nama apem, berasal dari kata bahasa Arab ‘Affan’ yang befmakna ampunan. Tradisi menyebar kue apem yang dimulai oleh Ki Ageng Gribig sejak 1589 Masehi atau 1511 Saka itu kemudian diteruskan setelah dia meninggal du­nia, sesuai amanatnya. Yaitu tradisi ‘yaqowiyyu’, di Desa Krajan, Jatinom, Klaten. •HK
Dinukil dari Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur
ASAL- USUL MBAH BUYUT GANGSAR ROOMO GRESIK

ASAL- USUL MBAH BUYUT GANGSAR ROOMO GRESIK

09:05 0
ASAL- USUL MBAH BUYUT GANGSAR ROOMO GRESIK
Diantara makam bersejarah di desa Roomo hanyalah makam Mbah Buyut Gangsar yang paling ramai di ziarahi orang, terutama pada hari jum’at wage. Mereka datang dari berbagai daerah di kawasan Gresik dan sekitarnya Makam ini terletak tepat ditepi selatan jalan raya umum, yang pada pelebaran jalan raya tahun 2010 hampir mengenai dinding cungkup makamnya. Makam ini masih tetap di rawat dan terpelihara dengan baik oleh juru kuncinya yang bernama ibu Rukani, warga desa Roomo RT 3 RW 2.
Menurut cerita, makam ini dulu berada di utara jalan raya karena ada pembuatan jalan raya oleh Herman William Daendels, sekitar tahun 1808, maka makam ini di pindahkan ke selatan jalan agar tak merintangi jalan raya yang akan di buat oleh Daendels tersebut. Pada evakuasi jenazahnya ternyata mereka melihat kalau jasad ini masih segar dan utuh layaknya baru di makamkan. Tentu saja muncul banyak spekulasi masyarakat bahwa jenazah tersebut tentu orang yang keramat, sebab jasadnya utuh. Kalau memang benar keramat, maka kekeramatannya bukan hanya figurnya saja tetapi mbah Gangsar memang benar-benar lelaki yang berasal dari desa Kramat Inggil Gresik.
Cerita tutur masyarakat mengabarkan bahwa dahulu mbah Gangsar berasal desa Kramat yang konon hidup pada masa pemerintahan Giri Kedhaton. Namun tak ada petunjuk pasti masa Sunan Giri ke berapakah ia hidup. Mbah Gangsar adalah pedagang gramen atau pedagang aneka barang keliling. Saat berdagang, sesampainya di desa Roomo ia di rampok dan terjadilah duel yang tak berkesudahan saking digjayanya mereka.
Dalam kepayahan tersebut, mbah Gangsar menawarkan diri apa yang di maui penyamun itu, nyawanya ataukah hartanya. Perampok itu menginginkan dua-duanya, yaitu nyawa dan hartanya. Mbah Gangsar akhirnya kasihan terhadap rampok itu dan menunjukkan titik kelemahan dari kesaktian yang di milikinya yaitu bilamana mbun-mbunan kepalanya di jitak maka matilah dia. Perampok itu ingin mencoba apa benar yang dikatakannya. Dan memang benar bahwa dengan sekali jitak mbah Gangsar telah roboh dan tewas. Perampok itu lalu bingung dan menyesali perbuatannya.
Tewasnya mbah Gangsar di desa Roomo tak banyak warga yang tahu profil dirinya, baru kemudian pada saat banyak orang yang berkerumun tiba-tiba ada orang yang kebetulan lewat dan mengenali bahwa yang tewas itu adalah tetangganya di desa Kramat yang bernama asli Gangsar. Kabar kematian Gangsar telah menyebar ke tengah masyarakat. Masyarakat mengabarkan bahwa yang tewas adalah Gangsar orang kramat. Terjadi salah paham di antara para warga. Mereka beranggapan bahwa kramat sama dengan seorang wali yang mendapat karomah Allah, padahal kramat di sini adalah nama desa tempat tinggalnya. Salah kaprah mengaitkan karomah atau kramat pada dirinya telah berlangsung turun temurun. Kalau toh figur dirinya orang karomah maka dia memang mendapat dua kekeramatan. Keramat lantaran tersohor di isukan orang kramat, dan Kramat kedua adalah memang dia benar-benar berasal dari desa Kramat.
Kabar kematian orang kramat ini kemudian tersiar kemana-mana. Sejak saat itu banyak orang yang menziarahi makamnya khususnya pada hari jum’at wage. Mereka datang untuk berziarah dan berdoa kepada Allah dan bertawasul dengan pribadi mbah gangsar agar Allah berkenan menjadikan keluarga mereka orang-orang yang gangsar yang berarti lekas bisa faham ilmu, cerdas, dan selalu sukses. Selain itu mereka datang berziarah dengan maksud untuk mendoakan yang di makamkan di situ, mendoakan kaum muslim lain yang meninggal dunia.
Memang tak bisa di pungkiri bahwa dalam upaya mendekatkan diri kepadaNya, manusia mempunyai bermacam cara. Ada yang hatinya tergetar saat mendengar lantunan ayat Al-Qur’an dibacakan, ada sebagian lain yang nerasakan keagunganNya saat melihat pesona alam nan indah terhampar, ada juga yang menangis tatkala mendengar irama musik dan sebagainya. Begitu juga seeorang bisa saja merasakan kedamaian saat menghadiri pengajian akbar dengan gemuruh lantunan kalimat thoyibah dari ribuan orang yang hadir, atau mungkin saja seseorang dapat merasakan kedamaian saat bersunyi dan berdo’a di sebuah makam kuno yang mungkin itulah salah satu penyebab mengapa makam mbah buyut Gangsar banyak di ziarahi orang.
Bagaimanapun juga makam mbah Gangsar termasuk salah satu makam yang bersejarah di desa Roomo yang perlu kita jaga sebagai salah satu asset sejarah yang masih tersisa di desa Roomo. Wallahu a’lam bishshawab(Amir Syarifuddin)
sumber Dari MATASEGER Untuk Gresik dan Dunia
Nyai Ageng Tumengkang Sari

Nyai Ageng Tumengkang Sari

08:31 0
Nyai Ageng Tumengkang Sari
Seperti cerita tentang Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso, ada cerita yang hampir mirip terjadi di Gresik, khususnya di Dusun Sumur Songo yang kini menjadi Desa Sidokumpul. Dan cerita ini semakin dikuatkan oleh penuturan dari pengurus Makam Sumur Songo, Mbah Amin yang sudah berusia 65 tahun yang telah lama mengabdikan diri untuk menjaga makam ini.
Bedanya hanya tipis sekali, yaitu bentuk permintaan yang diberikan oleh si perempuan kepada sang peminangnya. Kalau Roro Jonggrang minta dibuatkan seribu candi dalam waktu semalam oleh Bandung Bondowoso, cerita dari Gresik ini yang tidak lain adalah kisah dari Nyai Ageng Tumengkang Sari yang minta dibuatkan sepuluh sumur oleh seorang Pangeran dari Kerajaan Majapahit.
Syahdan, Nyai Ageng Tumengkang Sari adalah seorang putri yang sangat ayu dan rupawan, yang merupakan putri dari Sunan Wruju, yang tidak lain adalah putra dari Sunan Giri. Tidak jauh berbeda dengan cerita Roro Jonggrang, Nyai Ageng Tumengkang Sari ingin dipinang oleh seorang pangeran tampan dari Kerajaan Majapahit yang juga terkenal sakti mandraguna yang sedang berkunjung ke Kerajaan Giri suatu waktu.
Wajah tampan, kesaktian dimiliki, namun sayang… Pangeran tersebut berbeda agama dengan Nyai Ageng Tumengkang Sari. Hatinya bergejolak, bagaimana bisa ia menerima lamaran dari seseorang yang berbeda keyakinan dengannya??? Ia adalah cucu dari seorang Sunan yang menyebarkan ajaran Agama Islam di Pulau Jawa ini, sedangkan pangeran tersebut berasal dari Kerajaan Majapahit yang dikenal menganut Agama Hindu.
Ingin rasanya Nyai Ageng Tumengkang Sari segera menolaknya, namun ia berpikir panjang. Apabila ia langsung menolak lamaran pangeran tersebut, maka pertumpahan darah pun terjadi, karena bisa dipastikan pangeran tersebut merasa malu dan tidak terima telah ditolak oleh Nyai Ageng Tumengkang Sari. Karena masih belum menemukan alasan yang tepat, akhirnya Nyai Ageng Tumengkang Sari memutuskan untuk turun gunung, meninggalkan Kerajaan Giri dan bersembunyi ke salah satu dusun yang sekarang berada di daerah Jalan Panglima Sudirman.
Dalam persembunyiannya tersebut, ia ditemani oleh pengasuhnya yang bernama Mbah Susilowati dan Mbah Singo sebagai pengawal pribadinya. Dengan mengandalkan keahliannya, ia pun banyak menolong warga setempat yang ingin melahirkan, coro Jowoné ngunu dadi dukun bayi…
Dalam persembunyiannya tersebut, selain ditemani oleh pengasuh dan pengawal pribadinya, ia juga diantu oleh Mbah Mbrojol, yang membantu menyiapkan racikan godhong-godhongan untuk orang yang telah melahirkan. Resep yang sudah diberikan oleh Nyai Ageng Tumengkang Sari, kemudian ditumbuk di sebuah pipisan sing mirip alu karo lumpang, sing biasané digawé ngalusno jamu.
Kembali ke cerita pangeran dari Kerajaan Majapahit…
Mendengar Nyai Ageng Tumengkang Sari melarikan diri dari Kerajaan Giri, pangeran tersebut akhirnya mencari tahu dimana keberadaan putri cantik yang ingin segera dipinangnya itu. Dengan mengerahkan pasukannya dan mengandalkan kesaktian yang dimilikinya, akhirnya pangeran tersebut dapat menemukan panggonané Nyai Ageng Tumengkang Sari dan menanyakan kembali perihal lamarannya yang sempat tertunda itu.

Nyai Ageng Tumengkang Sari pun memutar otak, mencari akal bagaimana caranya ia bisa menolak lamaran tersebut. Sepintas yang ada di pikirannya saat itu adalah memberikan persyaratan yang sekiranya tidak bisa dipenuhi oleh pangeran tersebut.
Maka, ia pun berkata :“Aku gêlêm dadi bojomu, tapiné onok syaraté”, jaré Nyai Ageng Tumengkang Sari.
Ngroso nèk kesaktiané diukur, Pangeran dari Kerajaan Majapahit itu pun sesumbar : “Syarat opo sing Nyai jaluk, mêsthi tak turuti…”
Nyai Ageng Tumengkang Sari pun menyampaikan persyaratannya : “Nèk sak wêngi iki sampèan isyok nggawèkno éson sumur akèhé sepuluh, tak têrimo lamaranmu…”.
Dengan penuh percaya diri, Pangeran dari Kerajaan Majapahit itu pun menyanggupi persyaratan yang diajukan oleh Nyai Ageng Tumengkang Sari. Sementara itu, Nyai Ageng Tumengkang Sari begitu gelisah dan berusaha mencari akal untuk menggagalkan pinangan Pangeran tersebut. Nyai Ageng Tumengkang Sari kemudian berdoa meminta petunjuk dan pertolongan kepada Allah SWT.
Setelah selesai membuat sepuluh sumur sesuai dengan permintaan dari Nyai Ageng Tumengkang Sari, Pangeran pun menunjukkan hasil pekerjaannya dan berniat menagih janji kepada Nyai Ageng Tumengkang Sari untuk menjadi istrinya.
Nyai Ageng Tumengkang Sari akhirnya menemui pangeran dan melihat sumur yang telah di buatnya, kemudian ia menduduki salah satu sumur tersebut. Setelah itu, ia pun menghitung sumur- sumur yang ada tanpa menghitung sumur yang didudukinya…
“Siji, loro, têlu, … songo. Êndi, kok mèk songo ngéné? Kurang siji sumurmu iki, Pangeran…”, kata Nyai Ageng Tumengkang Sari.
Pangeran pun tidak percaya dan mencoba menghitung sumur-sumurnya yang sudah dibuatnya. Mboh gak ndêlok, mboh kêlalèn, Pangeran tersebut tidak menghitung satu sumur yang diduduki oleh Nyai Ageng Tumengkang Sari, hingga pada ahirnya sang Pangeran menyerah dan mengakui kekalahannya.
Karena kegagalannya nglamar Nyai Ageng Tumengkang Sari, pangeran tersebut pun marah dan menyampaikan sumpah serapahnya : “Arèk wèdok dusun kéné ojok onok sing nolak lamarané wong lanang manèh, sampèk onok sing nolak lamaranè wong lanang manèh koyok sing tak rasakno, dadi perawan tuwo sak lawasé…”.
Setelah berhasil menggagalkan lamaran Pangeran tersebut, Nyai Ageng Tumengkang Sari pun kembali melakukan kegiatannya untuk menolong para penduduk yang melahirkan. Namun entah karena terkena sumpah dari sang Pangean atau memang secara kebetulan, beliau meninggal di usia yang masih muda dan belum sempat menikah hingga maut menjemputnya.
Dari cerita inilah, ahirnya dusun tesebut dinamakan Dusun Sumur Songo. Adapun kearifan lokal yang berkembang di dusun ini selanjutya adalah bahwa makam Nyai Ageng Tumengkang Sari ini memiliki karomah, dapat memberikan kegangsaran atau kelancaran dalam proses melahirkan. Air dari Sumur Songo sendiri dipercaya dapat memberikan kesembuhan segala penyakit.
Biasanya, warga yang berasal dari Giri Gresik dan Dusun Sumur Songo, jika akan melahirkan, mereka membawa minyak kelapa kemudian membaca doa meminta kegangsaran kepada Allah SWT atas proses kelahiran anggota keluarganya, sambil mengirim doa kepada Nyai Ageng Tumengkang Sari, kemudian minyak yang dibawaya tersebut ditukarkan kepada sang juru kunci. Setelah mendapatkan minyak baru dari sang juru kunci, minyak tersebut dioleskan pada perut anggota yang mau melahirkan dan diyakini hal tersebut dapat memberikan kegangsaran atas proses persalinan.
Oleh : Lailiyatun Nafiah 
(Sumber: Buku Sang Gresik Bercerita karya komunitas Mata Seger bekerja sama dengan PT Smelting/roz)
sth
Ki Juru Martani ( Mertani )

Ki Juru Martani ( Mertani )

11:02 0
Ki Juru Martani ( Mertani )
Kyai Juru Martani (lahir: ? - wafat: Mataram, 1615) adalah tokoh cerdik yang menjabat sebagai patih pertama dalam sejarah Kesultanan Mataram, bergelar Kyai Adipati Mandaraka.
Silsilah Ki Juru Martani
Ki Juru Martani / Kyai Adipati Mandaraka posisinya begitu sentral dalam "Dinasty Mataram", baik sebagai perintis Mataram, sebagai anggota keluarga besar keturunan Brawijaya, sebagai tokoh agama maupun sebagai Penasehat Panembahan Senopati. Oleh karena itu kiranya perlu ada kajian khusus mengenai keberadaannya. Ada beberapa versi mengenai asal-usul Ki Juru Martani, diantaranya adalah :
Versi 1
Ki Juru Martani adalah putra Ki Ageng Saba atau Ki Ageng Madepandan, putra Sunan Kedul, putra Sunan Giri anggota Walisanga pendiri Giri Kedaton. Ibunya adalah putri dari Ki Ageng Sela, yang masih keturunan Brawijaya raja terakhir Majapahit (versi babad). Juru Martani memiliki adik perempuan bernama Nyai Sabinah yang menikah dengan Ki Ageng Pamanahan, putra Ki Ageng Ngenis, putra Ki Ageng Sela. Dengan demikian, Ki Ageng Pemanahan adalah adik sepupu sekaligus ipar Juru Martani. Juru Martani memiliki beberapa orang anak yang menjadi bangsawan pada zaman Kesultanan Mataram, antara lain Pangeran Mandura dan Pangeran Juru Kiting. Pangeran Mandura berputra Pangeran Mandurareja dan Pangeran Upasanta. Mandurareja pernah mencoba berkhianat pada pemerintahan Sultan Agung tetapi batal. Ia kemudian ikut menyerang Batavia yahun 1628 dan dihukum mati di sana bersama para panglima lainnya karena kekalahannya. Sementara itu Upasanta diangkat menjadi bupati Batang. Putrinya dinikahi Sultan Agung sebagai selir, yang kemudian melahirkan Amangkurat I.
Sunan Giri berputra (salah satu) :
Sunan Kedul / Sunan Giri II
Ki Ageng Made Pandan / Ki Ageng Saba
Ki Juru Martani
Pangeran Mandura
Pangeran Mandurareja
Pangeran Upasanta
Kanjeng Ratu Batang istri Sultan Agung
Amangkurat I
Pangeran Juru Kiting
Nyai Sabinah istri Ki Ageng Pamanahan

Versi 2
Ki Ageng Wanasaba merupakan cucu dari Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit dan merupakan putra Raden Bondan Kejawan, Lembu Peten , putra Brawijaya V yang menikah dengan Nawangsih, dan Nawangsih sendiri putri dari Ki jaka Tarub yang menikah dengan Dewi Nawang wulan ( epos Jaka Tarub ), memiliki putra 3 : Ki Ageng Wanasaba, Ki Ageng Getas Pandawa, dan Nyai Ageng Ngerang / Roro Kasihan.
Ki Ageng Wanasaba mempunyai Putra yaitu Pangeran Made Pandan, nama lain dari Ki Ageng Pandanaran. Pangeran Made Pandan mempunyai putra Ki Ageng Pakiringan yang mempunyai istri bernama Rara Janten. Dari pasangan ini mempunyai empat Putra yaitu Nyai Ageng Laweh, Nyai Ageng Manggar, Putri dan Ki juru Martani.
Bhre Kertabhumi memiliki putra :
Raden Bondan Kejawan menikah dengan Dewi Nawangsih, berputra :
Ki Ageng Wanasaba, berputra :
Pangeran Made Pandan / Ki Ageng Pandanaran, berputra :
Ki Ageng Pakringan menikah dengan Rara Janten, berputra :
Nyai Ageng Laweh
Nyai Ageng Manggar
Putri
Ki Juru Martani

Peran Awal Ki Juru Martani
Nama Juru Martani muncul dalam Babad Tanah Jawi sebagai tokoh yang mendesak Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi agar berani mengikuti sayembara menumpas Arya Penangsang.
Arya Penangsang adalah bupati Jipang Panolan yang telah membunuh Sunan Prawoto raja Demak tahun 1549. Sayembara diadakan oleh Hadiwijaya bupati Pajang dengan hadiah, tanah Pati dan Mataram.
Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi semula tidak berani mengikuti sayembara karena takut pada kesaktian Arya Penangsang. Setelah Ki Juru Martani berjanji menjadi pengatur strategi, maka keduanya pun berangkat mendaftar.
Ki Juru Martani sebagai Perintis Kesultanan Mataram

Perkembangan sejarah masuknya Agama Islam di Surakarta, tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Ki Ageng Henis. Mulanya Laweyan merupakan perkampungan masyarakat yang beragama Hindu Jawa. Ki Ageng Beluk, sahabat Ki Ageng Henis, adalah tokoh masyarakat Laweyan saat itu. Ia menganut agama Hindu, tetapi karena dakwah yang dilakukan oleh Ki Ageng Henis, Ki Ageng Beluk menjadi masuk Islam. Ki Ageng Beluk kemudian menyerahkan bangunan pura Hindu miliknya kepada Ki Ageng Henis untuk diubah menjadi Masjid Laweyan.
Kerajaan Mataram Islam dirintis oleh tokoh-tokoh keturunan Raden Bondan Kejawan putra Bhre Kertabhumi. Tokoh utama Perintis Kesultanan Mataram adalah Ki Ageng Pamanahan, Ki Juru Martani dan Ki Panjawi mereka bertiga dikenal dengan "Tiga Serangkai Mataram" atau istilah lainnya adalah "Three Musketeers from Mataram". Disamping itu banyak perintis lainnya yang dianggap berjasa besar terhadap terbentuknya Kesultanan Mataram seperti : Bondan Kejawan, Ki Ageng Wonosobo, Ki Ageng Getas Pandawa, Nyai Ageng Ngerang dan Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Made Pandan, Ki Ageng Saba, Ki Ageng Pakringan, Ki Ageng Sela, Ki Ageng Enis dan tokoh lainnya dari keturunanan masing-masing. Mereka berperan sebagai leluhur Raja-raja Mataram yang mewarisi nama besar keluarga keturunan Brawijaya majapahit yang keturunannya menduduki tempat terhormat dimata masyarakat dengan menyandang nama Ki, Ki Gede, Ki Ageng' Nyai Gede, Nyai Ageng yang memiliki arti : tokoh besar keagamaan dan pemerintahan yang dihormati yang memiliki kelebihan, kemampuan dan sifat-sifat kepemimpinan masyarakat.
Ada beberapa fakta yang menguatkan mereka dianggap sebagai perintis Kesultanan Mataram yaitu :
Fakta 1 : Tokoh-tokoh perintis tersebut adalah keturunan ke 1 sampai dengan ke 6 raja Majapahit terakhir Bhre Kertabhumi yang bergelar Brawijaya V, yang sudah dapat dipastikan masih memiliki pengaruh baik dan kuat terhadap Kerajaan yang memerintah maupun terhadap masyarakat luas;
Fakta 2 : Tokoh-tokoh tersebut adalah keturunan Silang/Campuran dari Walisongo beserta leluhurnya yang terhubung langsung kepada Imam Husain bin Ali bin Abu Thalib, yang sudah dapat dipastikan mendapatkan bimbingan ilmu keagamaan (Islam) berikut ilmu pemerintahan ala khilafah / kekhalifahan islam jajirah Arab. Hal ini terbukti dalam aktivitas keseharian mereka juga sering berdakwah dari daerah satu ke daerah lainnya dengan mendirikan banyak Masjid, Surau dan Pesantren;
Fakta 3 : Para perintis tersebut pada dasarnya adalah "Misi" yang dipersiapkan oleh para Seikh dan para Wali (Wali-7 dan Wali-9) termasuk para Al-Maghrobi yang bertujuan "mengislamkan Tanah Jawa" secara sistematis dan berkelanjutan dengan cara menyatu dengan garis keturunan kerajaan.
Fakta 4 : Suksesi Kesultanan Demak ke Kesultanan Pajang kemudian menjadi Kesultanan Mataram pada dasarnya adalah kesinambungan dari "Misi" sesuai Fakta 3, seperti juga yang terjadi dengan Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Sumedang Larang, Kerajaan Talaga Majalengka dan Kerajaan Sarosoan Banten, di luar adanya perebutan kekuasaan.

Dengan demikian dari keempat fafta di atas, jelas sudah bahwa terbentuknya Kesultanan Mataram pada khususnya dan Kesultanan Islam di Jawa pada umumnya merupakan strategi yang dipersiapkan oleh para Syeikh dan para Wali untuk mempercepat menyebarnya Islam di Tanah Jawa, sehingga salah satu persyaratan pembentukan Kesultanan Islam baik di Jawa maupun di daerah lainnya harus mendapatkan "Legitimasi/Pengesahan" dari Mekah dan/atau Turki, jalur untuk keperluan tersebut dimiliki oleh para "Ahlul Bait" seperti para Seikh dan para Wali.
Strategi untuk Membunuh Arya Penangsang

Strategi untuk mengalahkan adipati Jipang disusun rapi oleh Juru Martani. Mula-mula Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi mendaftar sayembara sambil membawa serta Sutawijaya (putra kandung Ki Ageng Pemanahan). Hadiwijaya merasa tidak tega karena Sutawijaya telah menjadi anak angkatnya. Maka, ia pun memberikan pasukan Pajang untuk mengawal Sutawijaya.
Pasukan Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi yang terdiri atas gabungan orang Pajang dan Sela berangkat dan menunggu di sebelah barat Sungai Bengawan Sore. Juru Martani melarang mereka menyeberang karena sungai tersebut sudah dimantrai oleh Sunan Kudus, guru Arya Penangsang.
Juru Martani kemudian menangkap tukang kuda musuh yang sedang mencari rumput. Telinga orang itu dipotong dan ditempeli surat tantangan atas nama Hadiwijaya.
Si tukang kuda pulang ke kadipaten Jipang melapor pada majikannya. Arya Penangsang marah melihat pembantunya dilukai, apalagi terdapat surat tantangan agar Arya Penangsang bertarung tanpa kawan melawan Hadiwijaya di tepi Sungai Bengawan Solo.
Arya Penangsang tidak kuasa menahan emosi. Ia pun berangkat melayani tantangan musuh. Siasat Juru Martani berhasil. Apabila surat tantangan dibuat atas nama Ki Ageng Pemanahan atau Ki Panjawi, pasti Arya Penangsang tidak sudi berangkat.
Arya Penangsang tiba di tepi timur Bengawan Sore berteriak-teriak menantang Hadiwijaya. Ia tidak berani menyeberang karena ingat pesan Sunan Kudus. Namun Juru Martani sudah menyusun rencana jitu. Sutawijaya disuruh naik kuda betina yang sudah dipotong ekornya.
Akibatnya, kuda jantan milik Arya Penangsang yang bernama Gagak Rimang bisa melihat alat vital si kuda betina. Kuda tersebut menjadi liar dan tidak terkendali sehingga membawa Arya Penangsang menyeberangi sungai mengejar kuda milik Sutawijaya.
Ketika Arya Penangsang baru saja mencapai tepi barat, Sutawijaya segera menusuk perutnya menggunakan tombak Kyai Plered. Perut Arya Penangsang robek dan ususnya terburai. Namun ia masih bertahan. Ususnya itu disampirkan pada pangkal keris pusakanya.
Arya Penangsang yang sudah terluka parah masih bisa meringkus Sutawijaya. Sutawijaya dicekik sampai tidak berdaya. Juru Martani meneriaki Arya Penangsang agar bertarung secara adil. Karena Sutawijaya bersenjata tombak pusaka Kyai Plered, maka ia juga harus memakai pusaka jika ingin membunuh Sutawijaya.
Maka, Arya Penangsang pun mencabut keris pusaka Kyai Setan Kober yang terselip di pinggangnya. Akibatnya, usus yang tersampir di pangkal keris tersebut ikut terpotong, sehingga Arya Penangsang pun menemui kematiannya.
Pasukan Jipang dipimpin Patih Matahun datang menyusul majikan mereka. Melihat Arya Penangsang tewas, mereka pun menyerbu untuk bela pati. Kesemuanya itu dapat ditumpas oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi.
Sayembara telah usai. Ki Juru Martani menyusun laporan palsu bahwa, Arya Penangsang mati dikeroyok Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Apabila Hadiwijaya di Pajang mengetahui kalau pembunuh sebenarnya adalah Sutawijaya, tentu ia akan lupa memberi hadiah tanah Mataram dan Pati, mengingat Sutawijaya adalah anak angkat Hadiwijaya.
Ki Juru Martani Sebagai Penasihat Sutawijaya

Setelah mengalahkan Arya Penangsang tahun 1549, Ki Ageng Pemanahan baru mendapatkan tanah Mataram sejak tahun 1556. Ki Juru Martani ikut bergabung di desa itu. Ki Ageng Pemanahan meninggal tahun 1575, digantikan Sutawijaya, yang berambisi menjadikan Mataram sebagai kerajaan merdeka.
Ki Juru Martani menjadi penasihat Sutawijaya. Ia juga mendukung perjuangan Sutawijaya selama masih berada pada jalan yang benar. Juru Martani pun berangkat bertapa ke puncak Gunung Merapi meminta bantuan penguasa di sana. Hasilnya, ketika terjadi perang melawan Pajang tahun 1582, Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan memuntahkan laharnya menyapu pasukan Sultan Hadiwijaya.
Kesaktian Ki Juru Martani

Juru Martani tidak hanya dikisahkan cerdik, tetapi juga memiliki kesaktian tinggi, meskipun tidak pernah diceritakan bertarung melawan musuh.
Babad Tanah Jawi mengisahkan, Sutawijaya memiliki putra sulung bernama Raden Rangga yang suka memamerkan kesaktiannya. Suatu hari Raden Rangga disuruh pergi ke rumah Juru Martani untuk berguru. Pemuda itu pun berangkat dengan setengah hati karena merasa lebih kuat daripada Juru Martani.
Sesampainya di tujuan, Juru Martani sedang salat. Raden Rangga menunggu di teras mushala sambil iseng melubangi batu lantai menggunakan jari. Juru Martani muncul dari dalam dan mengatakan kalau batu mushala tersebut keras jadi jangan buat mainan. Seketika itu juga, Raden Rangga tidak mampu lagi melubangi batu mushala dengan jarinya.
Sejak itu, Raden Rangga berguru pada Juru Martani dengan sepenuh hati karena ia yakin kalau orang tua yang dianggapnya lemah dan tidak pernah bertarung itu ternyata menyimpan kesaktian yang luar biasa.
Akhir Hayat Ki Juru Martani

Ki Juru Martani menjabat sebagai patih Kesultanan Mataram sejak pemerintahan Sutawijaya tahun 1586-1601. Dilanjutkan pemerintahan Mas Jolang putra Sutawijaya yang memerintah tahun 1601-1613. Lalu digantikan oleh Adipati Martapura putra Mas Jolang yang menjadi raja satu hari, dan dilanjutkan Sultan Agung putra Mas Jolang lainnya yang naik takhta sejak tahun 1613.
Kyai Juru Martani alias Adipati Mandaraka meninggal dunia pada tahun 1615. Kedudukannya sebagai patih Mataram kemudian digantikan oleh Tumenggung Singaranu. Dengan demikian, Juru Martani mengabdi di Mataram dalam waktu yang sangat lama, yaitu ikut membuka Alas Mentaok menjadi desa Mataram, sampai awal pemerintahan Sultan Agung, cicit Ki Ageng Pemanahan.
Sultan Agung memerintah sampai tahun 1645 kemudian digantikan oleh putranya, bergelar Amangkurat I yang lahir dari permaisuri keturunan Ki Juru Martani.
sumber Wikipedia
Kepustakaan
Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu
Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
Hayati dkk. 2000. Peranan Ratu Kalinyamat di jepara pada Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional
M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Ki Ageng Pemanahan

Ki Ageng Pemanahan

09:29 0
Ki Ageng Pemanahan
atau Pamanahan
Lahir Sela, Kesultanan Demak
Pasangan Nyai Sabinah
(Nyai Ageng Pemanahan)
Nama lengkap
Kyai Ageng Pamanahan /
Kyai Gede Mataram
Wangsa Majapahit Rajasa
Ayah Ki Ageng Enis
Ibu Nyai Ageng Enis
Agama Islam

Ki Ageng Pamanahan (sebutan lainnya: Ki Gede Pamanahan atau Kyai Gede Mataram) adalah tokoh yang dianggap menurunkan raja-raja dinasti Mataram (Islam), menurut naskah Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha. Ia adalah keturunan orang-orang Sela (nama lama untuk Pati) yang hijrah ke Pajang dan pada tahun 1556 mendapat mandat oleh Sultan Adiwijaya (sultan Pajang waktu itu) untuk memimpin bumi Mataram sebagai bupati. Putranya, Bagus Srubut atau R.Ng. Sutawijaya, kelak menjadi orang pertama dari dinasti Mataram yang menguasai Kesultanan Mataram sebagai Panembahan Senapati.
Riwayat pribadi
Narasi dalam Babad Tanah Jawi menyebutkan bahwa Pamanahan adalah putra Ki Ageng Enis dan cucu Ki Ageng Sela. Ki Ageng Enis bertempat tinggal di Laweyan. Mereka adalah termasuk dalam rombongan orang-orang dari Sela, suatu tempat yang sekarang bagian dari Kabupaten Grobogan (yaitu Desa Selo), yang hijrah ke Pajang untuk membantu Hadiwijaya, adipati Pajang (sekarang wilayah Surakarta).
Babad Tanah Jawi tidak menyebutkan nama kecilnya. Ia menikah dengan sepupunya sendiri, yaitu Nyai Sabinah, putri Nyai Ageng Saba (kakak perempuan Ki Ageng Henis). Menurut Sedjarah Dalem, nama kecilnya adalah Bagus Kacung, atau Castioeng menurut van der Horst (1707). Ia memiliki saudara angkat bernama Ki Penjawi. Keduanya belajar pada Ki Ageng Sela. Dalam perkembangan lebih lanjut, Ki Gede Pamanahan diangkat menjadi lurah wiratama oleh bupati Pajang.
Nama "Pamanahan" diambil dari tempat tinggalnya setelah dewasa, yaitu suatu tempat di utara Laweyan bernama Pamanahan (sekarang menjadi Manahan, kawasan yang dikenal sebagai pusat keolahragaan di Kota Surakarta). Suatu petilasan berupa sendhang (kolam mata air) yang konon menjadi tempat Ki Gede Pamanahan biasa membersihkan diri masih dapat ditemukan. Di masa pemerintahannya, atas prakarsa Poerbatjaraka, Pangeran Adipati Mangkunegara VII membangunkan tembok yang mengelilingi tempat tersebut.
Setelah pindah ke Mataram, ia dijuluki sebagai Kyai (Ki) Ageng Mataram. Bersama-sama putra dan para pengikutnya, ia membuka Hutan (Alas) Mentaok (episode "Babat Alas Mentaok" ini populer dalam lakon-lakon panggung kethoprak Mataraman di masa kini), yang terletak di Kotagede, Yogyakarta sekarang. Perkampungan baru ini lalu menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Mataram ketika Pajang kemudian tunduk pada Mataram.
Ki Ageng Pamanahan, isteri dan putranya setelah wafat dimakamkan di kompleks Pemakaman Kotagede yang berada di selatan Masjid Kotagede.
Peran awal
Menurut Babad Tanah Jawi, sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546, Kesultanan Demak mengalami krisis politik akibat perebutan takhta. Putranya yang naik takhta, bergelar Sunan Prawata, tewas dibunuh atas perintah sepupunya sendiri, yaitu Arya Penangsang, adipati Jipang. Arya Penangsang, yang didukung Sunan Kudus, juga membunuh Pangeran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat (Jepara), putri Sultan Trenggana. Sejak itu, Ratu Kalinyamat memilih hidup bertapa di Gunung Danaraja (kompleks Gunung Muria) menunggu kematian Arya Penangsang.
Tidak cukup itu saja, Arya Penangsang juga mengirim utusan untuk membunuh Hadiwijaya di Pajang tetapi gagal. Sunan Kudus pura-pura mengundang keduanya untuk berdamai. Hadiwijaya datang ke Kudus dikawal Ki Pamanahan. Pada kesempatan itu, Ki Pamanahan berhasil menyelamatkan Hadiwijaya dari jebakan yang sudah dipersiapkan Sunan Kudus.
Dalam perjalanan pulang, Hadiwijaya singgah ke Gunung Danaraja menemui Ratu Kalinyamat. Ki Pamanahan bekerja sama dengan Ratu Kalinyamat membujuk Hadiwijaya supaya bersedia menghadapi Arya Penangsang. Sebagai imbalan, Ratu Kalinyamat memberikan cincin pusakanya kepada Ki Pamanahan.
Melawan Arya Penangsang
Hadiwijaya segan memerangi Arya Penangsang karena masih sama-sama anggota keluarga Kesultanan Demak. Maka, ia pun mengumumkan sayembara, barang siapa bisa membunuh Arya Penangsang akan mendapatkan hadiah tanah Mataram dan Pati.
Ki Pamanahan dan Ki Penjawi mengikuti sayembara atas desakan Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Pamanahan). Putra Ki Pamanahan yang juga anak angkat Hadiwijaya, bernama Sutawijaya ikut serta. Hadiwijaya tidak tega sehingga memberikan pasukan Pajang untuk melindungi Sutawijaya.
Perang antara pasukan Ki Pamanahan dan Arya Penangsang terjadi di dekat Bengawan Sore. Berkat siasat cerdik yang disusun Ki Juru Martani, Arya Penangsang tewas di tangan Sutawijaya.
Ki Juru Martani menyampaikan laporan palsu kepada Hadiwijaya bahwa Arya Penangsang mati dibunuh Ki Pamanahan dan Ki Penjawi. Apabila yang disampaikan adalah berita sebenarnya, maka dapat dipastikan Hadiwijaya akan lupa memberi hadiah sayembara mengingat Sutawijaya adalah anak angkatnya.
Membuka Mataram
Hadiwijaya memberikan hadiah berupa tanah Mataram dan Pati. Ki Pamanahan yang merasa lebih tua mengalah memilih Mataram yang masih berupa hutan lebat, sedangkan Ki Penjawi mandapat daerah Pati yang saat itu sudah berwujud kota.
Bumi Mataram adalah bekas kerajaan kuno yang runtuh tahun 929. Seiring berjalannya waktu, daerah ini semakin sepi sampai akhirnya tertutup hutan lebat. Masyarakat menyebut hutan yang menutupi Mataram dengan nama Alas Mentaok.
Setelah kematian Arya Penangsang tahun 1549, Hadiwijaya dilantik menjadi raja baru penerus Kesultanan Demak. Pusat kerajaan dipindah ke Pajang, di daerah pedalaman. Pada acara pelantikan, Sunan Prapen cucu (Sunan Giri) meramalkan kelak di daerah Mataram akan berdiri sebuah kerajaan yang lebih besar daripada Pajang.
Ramalan tersebut membuat Sultan Hadiwijaya resah. Sehingga penyerahan Alas Mentaok kepada Ki Pamanahan ditunda-tunda sampai tahun 1556. Hal ini diketahui oleh Sunan Kalijaga, guru mereka. Keduanya pun dipertemukan. Dengan disaksikan Sunan Kalijaga, Ki Pamanahan bersumpah akan selalu setia kepada Sultan Hadiwijaya.
Maka sejak tahun 1556 itu, Ki Pamanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani, pindah ke Hutan Mentaok, yang kemudian dibuka menjadi desa Mataram. Ki Pamanahan menjadi kepala desa pertama bergelar Ki Ageng Mataram. Adapun status desa Mataram adalah desa perdikan atau daerah bebas pajak, di mana Ki Ageng Mataram hanya punya kewajiban menghadap saja.
Babad Tanah Jawi juga mengisahkan keistimewaan lain yang dimiliki Ki Ageng Pamanahan selaku leluhur raja-raja Mataram. Konon, pad suatu hari, Ki Pamanahan pergi mengunjungi sahabatnya di desa Giring. Pada saat itu Ki Ageng Giring baru saja mendapatkan buah kelapa muda bertuah yang jika diminum airnya sampai habis, si peminum akan menurunkan raja-raja Jawa.
Ki Pamanahan tiba di rumah Ki Ageng Giring dalam keadaan haus. Ia langsung menuju dapur dan menemukan kelapa muda ajaib itu. Dalam sekali teguk, Ki Pamanahan menghabiskan airnya. Ki Giring tiba di rumah sehabis mandi di sungai. Ia kecewa karena tidak jadi meminum air kelapa bertuah tersebut. Namun, akhirnya Ki Ageng Giring pasrah pada takdir bahwa Ki Ageng Pamanahan yang dipilih Tuhan untuk menurunkan raja-raja pulau Jawa, meski demikian Ki Ageng Giring menyampaikan keinginan kepada Ki Ageng Pemanahan agar salah seorang anak turunnya kelak bisa turut menjadi raja di Mataram.
Dari musyawarah diperoleh kesepakatan bahwa keturunan Ki Ageng Giring akan diberi kesempatan menjadi raja tanah Jawa pada keturunan yang ketujuh.
Ki Ageng Pamanahan memimpin desa Mataram sampai meninggal tahun 1584. Ia digantikan putranya, yaitu Sutawijaya sebagai pemimpin desa selanjutnya.Kelak Sutawijaya menjadi raja Mataram Islam yang pertama dengan nama Panembahan Senopati.
sumber wikipedia
Kepustakaan
Silsilah Ki Ageng Pamanahan versi Mangkunegaran
The Kartasura Dinasty - Genealogy, Christopher Buyers, October 2001 - September 2008
Penyebaran Islam di Nusantara
Imam Leluhur Seikh dan Wali Nusantara
Jalur Keturunan Nabi Muhammad SAW melalui Husain bin Ali
Maulana Pelopor Dakwah Nusantara
Beberapa versi Asal-usul Jaka Tarub
Ki Ageng Penjawi
Sejarah Singkat Keraton-Keraton Lama Jawa
Babad Tanah Jawi. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi
H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
Purwadi. (2007). Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu