Showing posts with label TOKOH. Show all posts
Showing posts with label TOKOH. Show all posts

Ronggowarsito

05:46 0
Ronggowarsito
Seorang Filsuf Jawa dan Pujangga yang bernama Raden Bagus Burhan cicit dari Yasadipura II yang juga sebagai Pujangga di Kasunanan Surakarta.
Raden Ngabei Ronggowarsito mengabdikan diri di Kasunanan Surakarta pada masa Paku Buwono ke VII.

Sahabatnya Winters CF dari Belanda membantu dalam mempelajari kitab kitab kuno Jawa.
Banyak kitab dan serat yang sudah di tulis, termasuk Ramalan Jayabaya yang fenomenal
Salah satu serat yang di tulis adalah Serat Kalatidha tentang Jaman Edan.
Saya kutib sedikit tentang tulisan Falsafahnya.
Semoga bermanfaat.
*Falsafah RONGGO WARSITO*
_*REZEKI*_
_Rejeki iku ora iså ditiru.._
*(REJEKI ITU TIDAK BISA DITIRU)*
_Senajan pådå lakumu_
*(WALAU JALANMU SAMA)*
_Senajan pådå dodolan mu_
*(WALAU JUALANMU SAMA)*
_Senajan pådå nyambut gawemu_
*(WALAU PEKERJAANMU SAMA)*
_Kasil sing ditåmpå bakal bedå2_
*(HASIL YANG DITERIMA AKAN BERBEDA SATU SAMA LAIN)*
_Iså bedå nèng akèhé båndhå_
*(BISA LAIN DALAM BANYAKNYA HARTA)*
_Iså ugå ånå nèng Råså lan Ayemé ati, yaiku sing jenengé bahagia_
*(BISA LAIN DALAM RASA BAHAGIA DAN KETENTERAMAN HATI)*
_Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså_
*(SEMUA ITU ATAS KASIH DARI TUHAN YANG MAHA KUASA)*
_Såpå temen bakal tinemu_
*(BARANG SIAPA BER-SUNGGUH2 AKAN MENEMUKAN)*
_Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå_
*(BARANG SIAPA BERANI BERSUSAH PAYAH AKAN MENEMUKAN KEMULIAAN)*
_Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi_
*(BUKAN BANYAKNYA, MELAINKAN BERKAHNYA YANG MENJADIKAN CUKUP DAN MENCUKUPI)*
_Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså_
*(SUDAH DIGARISKAN OLEH TAKDIR BAHWA SEMUA YANG HIDUP ITU SUDAH DIBERI BEKAL OLEH YANG MAHA KUASA)*
_Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané_
*(JALAN HIDUP DAN REJEKI SUDAH TERSEDIA, DEKAT, SEPERTI UDARA YANG KITA HIRUP SETIAP HARINYA)*
_Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé, nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå_
*(TETAPI KADANG MANUSIA SILAU MATA DAN GELAP HATI, YANG JAUH KELIHATAN BERKILAU DAN MENARIK HATI.. TETAPI YANG DEKAT DIDEPANNYA DAN MENJADI TANGGUNG JAWABNYA DISIA-SIAKAN SEPERTI TAK ADA GUNA)*
_Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati_
*(REJEKI ITU SUDAH DISEDIAKAN OLEH ALLAH, TIDAK BAKAL BERKURANG UNTUK MENCUKUPI KEBUTUHAN MANUSIA DARI LAHIR SAMPAI MATI)*
_Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet_
*(TETAPI KALAU MENURUTI KEMAUAN MANUSIA YANG TIDAK ADA BATASNYA, SEMUA DIRASA KURANG MEMBUAT RUWET DI HATI DAN PIKIRAN)*
_Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké lan yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné_
*(PETUAH ORANG TUA, JALANILAH APA YANG ADA DIDEPAN MATA DAN JANGAN TERLALU BERHARAP LEBIH UNTUK YANG BELUM ADA.*
*KALAU MEMANG MILIKMU PASTI AKAN KETEMU, KALAU BUKAN JATAHMU, APALAGI SAMPAI MEREBUT MILIK ORANG MEMAKAI CÀRA TIDAK BAIK, ITU AKAN MEMBUAT HIDUPMU MERANA, SENGSARA DAN ANGKARA MURKA. SEMUA ITU AKAN SIRNA KEMBALI KE ASALNYA)*
_Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé_
*(MISALKAN KETENTERAMAN ITU BISA DIBELI DENGAN HÀRTA, ALANGKAH SENGSARANYA ORANG YANG TIDAK PUNYÀ)*
_Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI,_
*(UNTUNGNYA, KETENTERAMAN BISA DIMILIKI OLEH SIAPA SAJA YANG TIDAK MENGAGUNGKAN KEDUNIAWIAN, SUKA MENOLONG ORANG LAIN DAN MENSYUKURI HIDUPNYA)*
SUNGGING PRABANGKARA

SUNGGING PRABANGKARA

08:40 0
SUNGGING PRABANGKARA
Dari Buku “LEGENDA JEPARA”, penulis Hadi Priyanto :
Versi 1 mengenai Prabangkara!!!
Pada pemerintahan majapahit, yang rajanya pada saat itu ialah Raja Brawijaya ada seorang seniman lukis atau tatah terkenal yang bernama “Ki Sungging Adi Linuwih” atau dikenal sebagai “Ki Sungging Prabangkara”. Sang raja kemudian memerintahkan Ki Sungging Adi Linuwih untuk melukiskan Sang Permaisuri. Perintah atau Titah Sang Raja akhirnya dilaksanakan dengan baik dan berhasil diselesaikan tugas tersebut oleh Ki Sungging Adi Linuwih tepat waktu.
Saat proses pengerjaan, tanpa sengaja tinta hitam terpecik pada lukisan di pangkal paha Sang Permaisuri. Noktah hitam itu tentu membuat Sang Raja tercengang, ia merasa selain Sang Raja dan Sang Permaisuri sendiri tidak ada seorangpun yang mengtahui bahwa terdapat tahi lalat kecil dipangkal paha Sang Permaisuri. Karna itu Sang Raja berburuk sangka, bahwa Ki Sungging Adi Linuwih telah melihat permaisuri dalam keadaan telanjang.
Untuk memcahkan teka-teki ini Raja Brawijaya memerintahkan kembali Ki Sungging, perintah Sang Raja kali ini cukup berat. Perintah itu ialah, Ki Sungging harus membuat patung Sang Permaisuri di udara dengan menaiki layang-layang. Karena titah Sang Raja, Ki Sungging pun tak berani menolak. Setelah memohon kekuatan pada Sang Maha Kuasa, naiklah Ki Sungging keatas layang-layang dengan membawa perlengkapan memahat guna membuat patung Sang Permaisuri. Konon, Saat hampir menyelesaikan patung permaisuri angin bertiup sangat kencang.
Ki Sungging yang telah berada di udara bersama layang – layang terbawa kearah timur. Namun setelah puluhan kilometer, angin berbalik arah ke barat. Kejadian ini memnyebekan goncangan, sehingga patung setengah jadi itu jatuh disebuah pulau. Karena jatuhnya disebabkan angin yang membalik, maka pulau itu kemudian dinamakan bali(Bahasa Jawa : Mbalik). Patung tadi ditemukan masyarakat setempat, sehingga akhirnya orang bali sangat mahir dalam membuat patung.
Sementara itu, Ki Sungging bersama layang-layang kemudian terbang semakin rendah kemudian tersangkut diatas sebuah pohon di Pedukuhan bernama Belakang Gunung yang sekarang masuk wilayah Desa Mulyoharjo. Pahat dari Ki Sungging prabangkara akhirnya jatuh dan ditemukan oleh masyarakat di wilayah itu. Dari sinilah konon seni Ukir Jepara mulai berkembang.
Versi 2 Mengenai Prabangkara!!!
Konon berawal, saat Prabu Wijaya dalam perjalan melihat desa-desa di wilayah Majapahit dan mengalami kelelahan. Ia singgah kerumah punggawa kerajaan yang ada di desa. Punggawa ini memiliki seorang anak perempuan yang telah menjadi janda, tetapi parasnya sangat cantik. Akhirnya Sang Prabu mengangkatnya sebagai selir.
Dari Selir ini, lahirlah seorang anak tampan yang diberi nama “Jaka Prabangkara”. Ia pun mendidik prabangkara dengan berbagai bekal ilmu. Ternyata ia sangat pandai dalam hal melukis. Tentu Raja Brawijaya sangat senang serta terus berusaha mengembangkan kemampuannya.
Prabu Brawijaya akhirnya memerintahkan Jaka Prabangkara untuk melukis sang permaisuri. Namun ketika lukisan tanpa busana itu jadi, tanda lahir Permaisuri tergambr pula. Prabu Brawijaya menduga anaknya telah melkukan hal yang tak pantas dengan permaisurinya. Karena itu, Prabu Brawijaya murka dan berniat untuk membunuhnya. Namun atas nasehat para penasehat kerajaan, Prabu Brawijaya mengurungkan niatnya dan hanya mencari cara untuk mengusirnya dari kerajaan Majapahit.
Pada akhirnya ia memerintahkan Jaka Prabangkara untuk membuat patung permaisuri dengan cara memasukkan dalam sangkar raksasa yang diangkat naik ke angkasa dengan layang-layang raksasa. Rasa cemburu Prabu Brawijaya demikian hebat. Sehingga ketika layang-layng telah berada jauh di angkasa, ia memerintahkan prajuritnya untuk memutus talinya hingga layang-layang terbawa angin hingga jepara. Saat berada di atas Jepara, angin bertiup kencang hingga pahat Jaka Prabangkara ini konon ditemukan oleh seorang pengrajin dari belakang gunung yang bernama “Asmo Sawiran”. Setelah menemukan phat prabangkala ini, kemampuan mengkir asmo sawiran berkmbang pesat sehingga mempengruhi orang belakang gunung menjadi komunitas masyarakat yang pandai mengukir.
Versi 3 Mengenai Prabangkara!!!
Bermula dari Legenda Kanjeng Sunan Sungging di Kudus. Konon agar ia bisa melihat seluruh wilayah se-Nusantara, ia merambat naik tali layang-layang yang sangat tinggi. Namun ketika hampir menyentuh layang-layang, tali layang-layang itu putus. Ia terbawa angin hingga ke Yunan, Tiongkok dan kemudian ia menikah dengan wanita disana dan memilikianak yang diberi nama “The Sing Ling”. Setelah dewasa oleh ayahnya ia diperintahkan pergi ke Kudus untuk menyiarkan agama Islam. Ia tiba di kudus sekitar abad XV bersama “Jendral Cheng Hoo”.
Setelah berada di Kudus, The sing Ling lebih sering dipanggil dengan sebutan “Kiai Telingsing”. Ia tinggal di suatu daerah antara sungai Tanggul Angin dan Sungai Juana. Di samping menyebarkan ajaran Islam, Kyai Telingsing juga mengajarkan seni ukir kepada masyarakat di sekitarnya. Banyak orang berguru kesana, diantaranya adalah putra sahabatnya, “Raden Usman Haji(bernama Raden Ja’far Sidiq)”.Siswa Kyai Telingsing konon juga berasal dari Jepara, sehingga seni ukir di daerah ini bisa berkembang.
Sedangkan dari buku sejarah dan budaya, “ LEGENDA OBYEK-OBYEK WISATA” tahun 2007-2008 Penerbit Dinas Pariwisata Kab.Jepara
LEGENDA
Dikisahkan seorang ahli seni pahat dan lukis bernama Prabangkara yang hidup pada masa Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, pada suatu ketika sang raja menyuruh Prabangkara untuk membuat lukisan permaisuri raja sebagai ungkapan rasa cinta beliau pada permaisurinya yang sangat cantik dan mempesona.
Lukisan permaisuri yang tanpa busana itu dapat diselesaikan oleh Prabangkara dengan sempurna dan tentu saja hal ini membuat Raja Brawijaya menjadi curiga karena pada bagian tubuh tertentu dan rahasia terdapat tanda alami/khusus yang terdapat pula pada lukisan serta tempatnya/posisi dan bentuknya persis. Dengan suatu tipu muslihat, Prabangkara dengan segala peralatannya dibuang dengan cara diikat pada sebuah laying-layang yang setelah sampai di angkasa diputus talinya.
Dalam keadaan melayang-layang inilah pahat Prabangkara jatuh di suatu desa yang dikenal dengan nama Belakang Gunung di dekat kota Jepara. Di desa kecil sebelah utara kota Jepara tersebut sampai sekarang memang banyak terdapat pengrajin ukir yang berkualitas tinggi. Namun asal mula adanya ukiran disini apakah memang betul disebabkan karena jatuhnya pahat Prabangkara, belum ada data sejarah yang mendukungnya.
SEJARAH
Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, terdapat seorang patih bernama Sungging Badarduwung yang berasal dari Campa (Kamboja) ternyata seorang ahli memahat pula. Sampai kini hasil karya Patih tersebut masih bisa dilihat di komplek Masjid Kuno dan Makam Ratu Kalinyamat yang dibangun pada abad XVI.
Keruntuhan Kerajaan Majapahit telah menyebabkan tersebarnya para ahli dan seniman hindu ke berbagai wilayah paruh pertama abad XVI. Di dalam pengembangannya, seniman-seniman tersebut tetap mengembangkan keahliannya dengan menyesuaikan identitas di daerah baru tersebut sehingga timbulah macam-macam motif kedaerahan seperti : Motif Majapahit, Bali, Mataram, Pajajaran, dan Jepara yang berkembang di Jepara hingga kini.
Togog

Togog

08:02 1
Togog
Togog adalah wayang yang digunakan di dalam lakon apapun juga di pihak raksasa. Ia menjadi penunjuk jalan pada waktu raksasa yang diikutinya bertugas di luar negara.
Pengetahuan Togog akan jalan didapatnya karena sebagai hamba ia pernah mengikuti majikannya, ketika pergi ke negara-negara lain. Togog tidak mempunyai kesetiaan dan selalu berpindah dari majikan yang satu ke majikan yang lainnya.
Maka itu sesecrang yang tak setia pada pekerjaannya dan selalu berganti majikan, sering juga disebut seorang Togog.
Suara Togog besar. Cara membawakan suara demikian ialah dengan bersuara besar di leher.
Ia bersahabat dengan Semar yang terhitung lebih muda daripada Togog. Maka Semar pun menyapa Togog dengan kakang atau dengan kependekannya kang dengan menyebut namanya, jadi: Kang Togog.

Di mana Togog menghamba, ia disayang dan dipercaya oleh majikannya, sampai-sampai ia dipercaya untuk memberangkatkan tentara yang bertugas ke luar negara. Waktu Togog mendapat perintah untuk memberangkatkan tentara, dalang pun menyampaikan ucapan berikut:
Tersebutlah lurah Wijayamantri (Togog) telah tiba di tempat para raksasa berkumpul dan ia pun memerintahkan kepada Klek-engklek Balung atandak, supaya bersiap-siap berjalan ke negara Anu, tetapi perintahnya tak kedengaran dan naiklah ia ke panggung dan memukuli sesuatu barang untuk memberi tanda. Barang yang dipukuli untuk memberi tanda ialah: genta, keleleng, gubar, beri dan lonceng agung sebesar lumbung, setelah dipalu kedengaran hingga sejauh seperempat jam jalan. Raksasa-raksasa yang sedang bepergian dan mendengar tanda suara itu segera kembali dan bersiap siaga dengan senjata dan kendaraan. Yang menjadi kendaraan raksasa ialah senuk, memreng, blegdaba, bihal, badak dan singa yang kesemuanya itu membikin orang ketakutan. Ucap Engklek-engklek Balung tandak, “Ayo kawan, berdandanlah, kita pergi ke negara Anu.”
Kawan-kawan menyambut, “ Ikutlah, ikutlah. Jangan sampai ketinggalan prabot kita: tekor tempat darah dan pisau pemotong hati.” Riuhlah suara raksasa-raksasa bercampur suara binatang-binatang kendaraan seperti bunyi guruh di musim keempat.
Lurah Widyamantri turun dari panggung dan menghadap majikannya.
Bragalba bertanya, apakah Lurah Widyamantri sudah mengundangkan, supaya semua raksasa bersiap.
Jawab Widyamantni, “Sudah Kyai, setiap saat bisa berangkat.
Bragalba, “Marilah berangkat, selagi waktu masih pagi.”
Jawab: Mari, mari kita berangkat.
Bunyi gamelan mengiringi keberangkatan mereka.

Gamelan berhenti. Berkata Togog kepada Bilung, “Bilung, bagaimana ini. Katanya tadi diangkat sebagai pemimpin. Bagaimana aku bisa memimpin sampai ke negara yang dituju, kalau semua orang mau tinggal di belakang.”
Tetapi Togog dan Bilung menyusul jua.
Di tengah jalan mereka berjumpa dengan duta seorang raja. Dalam tanya-menanya mengenai tujuan mereka masing-masing, timbul pertengkaran dan terjadi perang, perang mana lazim disebut perang gagal, yakni perang berkesudahan tanpa jatuhnya korban-korban. Kedua pihak kemudian bersimpang jalan.

Togog bermata keran (juling), berhidung pesek (Jawa: pipih), bermulut mrongos (jongang), tak bergigi, berkepala botak, hanya berambut sedikit di tengkuk. Bergelang. Berkain slobog (nama batik). Berkeris dan berwedung.
===========
Togog kadang disebut Wijamantri , Catugora, Secawraga atau Secangragas, bahkan disebut nama lengkapnya Lurah Togog Wijamantri adalah tokoh wayang yang digunakan pada lakonapapun juga di pihak "kiri" atau raksasa.
Ia sebagai pelopor petunjuk jalan pada wakturaksasa yang diikutinya berjalan ke negeri lain.
PengetahuanTogog dalam hal ini, karena ia menjelajah banyak negeri dengan menghambakandirinya, dan sebentar kemudian pindah pada majikan yang lain hingga takmempunyai kesetiaan.
Karena itu kelakuan Togog sering diumpamakan padaseseorang yang tidak setia pada pekerjaannya dan sering berganti majikan.
Sebenarnya Togog dan Bilung dalam posisinya sebagai abdi, senantiasa berupayamemberikan pengarahan positif dengan menasihati tuannya agar tidak melaksanakanaksi yang bersifat jahat, namun sering kali nasihatnya tidak dilaksanakan.
Riwayat
Togog adalah putra dewa yang lahir sebelumSemar tapi karenatidak mampu mengayomi bumi maka Togog kembali keasal lagi alias tidak jadilahir dan waktu bersamaan lahirlah Semar.

Pada jaman kadewatandiceritakan Sanghyang Wenang mengadakan sayembara untukmemilih penguasa kahyangan dari ketiga cucunya yaitu Sanghyang Antaga (Togog), SanghyangIsmaya (Semar)dan Sanghyang Manikmaya (BataraGuru), untuk itu sayembara diadakan dengan cara : siapasaja dari ketiga cucunya tersebut yang dapat menelan dan memuntahkan kembaligunung Jamurdipa maka dialah yang akan terpilih menjadi penguasa kahyangan.
Giliran pertama Sanghyang Antaga mencoba untukmelakukannya, namun yang terjadi malah mulutnya robek dan jadi dowerseperti yang bisa kita lihat pada karakter Togog sekarang.
Giliran berikutnya adalah Sanghyang Ismaya yangmelakukannya, gunung jamurdipa dapat ditelan bulat-bulat tetapi tidak dapatdikeluarkan lagi, dan jadilah Semar berperut buncit karena ada gunung didalamnya sepertidapat kita lihat pada karakter Semar dalam wayangkulit. Karena sarana sayembara sudah musnah ditelan Semar maka yang berhakmemenangkan sayembara dan menjadi penguasa kadewatan adalah SanghyangManikmaya atau Batara Guru, cucu bungsu dari Sanghyang Wenang.
Adapun Togog danSemar akhirnya diutus turun ke marcapada (dunia manusia) untuk menjadipenasihat, dan pamong pembisik makna sejati kehidupan dan kebajikan padamanusia, yang pada akhirnya Semar dipilih sebagai pamong untuk para satriaberwatak baik.
Togog diutus sebagai pamong untuk para ksatria denganwatak buruk.

Riwayat lainnya
Syahdan, ketika dunia baru saja tercipta. Matahari, bulan dan bintangbertaburan di angkara. Samudra membentang luas. Alam sudah tercipta, tapi belumada manusia. Tersebutlah di alam dewata, Sanghyang Wenang, raja segala dewamemperanakkan seorang putra, Sanghyang Tunggal namanya. Di kerajaan jin, RajaBegawan Rekatatama mempunyai seorang putri cantik jelita, Dewa Rekatawati.
Setelah dewasa, Sanghyang Tunggal dan Dewi Rekatawatidinikahkan.
Tak lama kemudian Dewa Rekatawati mengandung. Di luarharapan, ia tidak melahirkan bayi, tapi sebutir telur. Dan begitu keluar darirahim, telur itu terbang, melesat ke angkasa, lalu jatuh di hadapan SanghyangWenang. Sanghyang Wenang yang sangat sakti, tahu, dari mana telur itu berasal,dan apa yang harus terjadi pada telur tersebut. Maka disabdanya telur itu, dantelur itu pun berubah menjadi mahluk.
Kulit telur menjadi bayilaki-laki, dinamai Sanghyang Antaga.
Putih telur juga menjadi seorang bayilelaki, dinamai Sanghyang Ismaya.
Kuning telurnya menjadi bayilaki-laki bernama Sanghyang Manikmaya.
Semulamereka rukun dan damai hidupnya.

Namun saat menginjak dewasa, Sanghyang Antagadan Sanghyang Ismaya bertengkar, memperebutkan tahta ayahnya, SanghyangTunggal.
Masing-masing mengklaim yang paling berhak menggantikan ayahnya, danmerasa paling sakti. Mereka bertengkar tiada habisnya.
SanghyangManikmaya lalu menengahi pertikaian kedua saudaranya. Tanpasepengetahuan ayahnya, ia mengusulkan kedua saudaranya ber lomba untukmenunjukkan kesaktian nya, siapa yang dapat menelan Gunung Garbawasa,dialah yang akan berkuasa. Di dalam gunung itu terkandung apa saja yang dibutuhkan untuk kehidupan manusia.

Setelahkeduanya setuju, maka pergilah mereka menuju Gunung Garbawasa.
PertamaSanghyang Antaga yang memulai sayembara. Ia mencoba nguntal gunung itu,tapi tak berhasil, meskipun sudah berulang kali mencoba, sampai mulutnya sobek.
Jadilah Sanghyang Antaga, dewa yang semula tampan wajahnya berubah menjadi jelek. Mulutnyalebar, karenasobek.
Saattiba giliran Sanghyang Ismaya, ia mengheningkan cipta. Dipandangnya GunungGarbawasa dalam-dalam. Ia membayangkan masuk kedalam rahim ibunya. Ia bertanya,bagaimana seorang mahluk sebesar dia pernah berada dalam rahim yang sekecilitu.
Itulah misteri jagad raya. Begitu ia sampai pada kesadaran ini, di-untal-nya Gunung Garbawasa yang ada dihadapannya.
Ia berhasil. celakanya, ia tak dapat mengeluarkankembali gunung itu. Ismaya sadar seharusnya tak boleh kebesaran jagat raya iniia taklukkan dengan nafsunya. Kini jagad raya inilah yang menghukumnya. Sejaksaat itu Sanghyang Ismaya menjadi buruk tampaknya.Perutnya besar dan bokongnya pun membesar pula ke belakang, tersodok puncakgunung yang ditelannya.

Marahlah Sanghyang Tunggal mengetahui kelakuan mereka, "Kalian dewa,tapi kelakuan kalian seperti manusia juga". Ungkapan Sanghyang Tunggalmengandung arti sesungguhnya telah direncana dalam rancangan jagad raya ini,bahwa manusia itu adalah mahluk yang pandai bertikai dan bertengkar di antarasesamanya.
Usai melampiaskan amarahnya, Sanghyang Tunggal mengusir kedua anaknya kedunia. Nama mereka pun diubah, Sanghyang Ismaya menjadi Semar, Sanghyang Antagamenjadi Togog. Semardititahkan untuk melindungi manusia yang baik yang dalam pewayangan diwakilikaum Pandawa. Sedangkan Togog diperintahkan menemani manusia jahat. Semarmemanggil Togog dengan sebutan “Kang Togog”.
Versi Cirebon , menyatakan Togog berasal Sanghyang Punggung, kakak Semar. Ibunya seorang wanita Selong (Ceylon,Srilanka), Semarmenyebutnya “Kakang Anom” karena lebih tua, namun mendapat wajah buruk lebihmuda dari Semar.
Sanghyang Punggung, juga berupaya menjadiRaja Kahyangan, namun gagal karena melorot dari Bale Mercupunda dan jatuh dihutan Kendalgrowong, yang kemudian digunakan untuk bertapa.
Di hutan iniia bertemu dengan Sanghyang Munged, yang berceritera kepada Sanghyang Punggung, bahwa iaingin mengubah dirinya berhubung ia termasuk daftar Pencarian Dewa, akibatmencuri ajimat Cupu Manik Astagina dan Cupu Ratna Tirta Kamandalu dariSuralaya.
CupuManik Astagina ini berisi minyak yang bisa membuat orang jadi kaya danCupu Ratna Kamandalu mengandung minyak untuk kekebalan.
Sanghyang Munget,menerapkan – memakai bungkus ajimat ke badannya, dan berubah menjadi Semar,kemudian diikuti Sanghyang Punggung, yang berubah menjadi Togog. Togog kemudianmenjadi panakawan Dasamuka.
Sebelumpemunculan Togog, dalang akan mengucapkan pustaka kramakawi :
Togog lurah Wijamantri,
Togog mungging (munggah ing ) bale,
Nabuh Bende siguntur
Atau:
Akuing Tejamantri,
Mungging bale
Mangutus gupuh nabuh tengara bala.
Di mana Togog menghamba tentu dipercaya oleh sang majikan untuk memerintahbala tentara yang akan berangkat ke negeri lain. Waktu ia mendapat perintahuntuk memberangkatkan bala tentara tersebut, dalang akan mengucapkan kata-katasebagai berikut:
”Tersebutlahlurah Wijamantri (Togog) telah tiba di tempat para raksasa berkumpul, memerintahkankepada “Klek-engklek Balung atandak”untuk bersiap akan berjalan ke negeri Anu, tetapi perintah itu tak didengar,maka naiklah ia ke panggung, memukul barang sebagai pertanda.
Adapun benda yang digunakan ialah genta, keleleng, gubar, beri dan loncengagung sebesar lumbung. Setelah dipalu dan para raksasa segera bersiap senjatadan kendaraan yang berbentuk senuk,memreng, blegdaba, bihal, badak dan singa yang mengaum dan meraungmendatangkan ketakutan pada banyak orang.”
“Ucapan Engklek-engklek Balung atandak: Marilah teman berdandanlah, akanpergi ke negeri Anu. Dan kemudian disahuti oleh temannya: Ikut-ikutlah, janganketinggalan perabot kita, tekor tempat darah, pisau pemotong hati.”
Sekalipun akan mengalahkan lawan atau musuhnya tetap harusberpegang pada etika seorang kesatria yang harus gentle, tidakpengecut, dan tidak memenangkan perkelahian dengan jalan yang licik.
Sekalipunmenang tidak boleh menghina dan mempermalukan lawannya. Itulah ajaran Ki LurahTogog yang sering kali diminta nasehatdan saran oleh para majikannya.

Namun toh akhirnya setiap nasehat, saran, masukan, aspirasiyang disampaikan Ki Lurah Togog tetapsaja tidak pernah digubris oleh majikannya, mereka tetap setia.
Ki Lurah Togogwalaupun menjabat posisi sentral sebagai penasehat, pengasuh dan pembim-bing, yang selalubermulut lantang menyuarakan pepeling, seolah peran mereka hanyasebagai obyek pelengkap penderita.
Walaupun Ki Lurah Togog selalugagal mengasuh majikannya para kesatria dur angkara, hingga sering berpindahmajikan untuk bersuara lantang mencegah kejahatan.

Bukan berarti mereka tidak setia. Sebaliknya dalam hal kesetiaan sebagaikelompok penegak kebenaran,Ki Lurah Togog patut menjadi teladan baik. Karena sekalipun sering dimaki,dibentak dan terkena amarah majikannya, Ki Lurah Togog tidak mau berkhianat.
Sekalipun selalu gagal memberi kritik dan saran kepada majikannya,mereka tetap teguh dalam perjuangan menegakkan keadilan, dan lagi-lagi, merekaselalu dimintai saran dan kritikan, namun serta-merta diingkari pula olehmajikan-majikan barunya. Itulah nasib Togog, yang mengisyaratkan nasib rakyatkecil yang selalu mengutarakan aspirasi dan amanat penderitaan rakyat namuntidak memiliki bargaining power.
Ibaratmenyirami gurun, seberapapun nasehat dan kritikan telah disiramkan di hati para“pemimpin” dur angkara, tak akan pernah membekas dalam watak paramajikannya.
Barangkali nasib kelompok punakawan Ki Lurah Togog mirip dengan apayang kini dialami oleh rakyat Indonesia. Suara hati nurani rakyat sulitmendapat tempat di hati para tokoh dan pejabat hing nusantaranagri.
Sekalipun sekian banyakpelajaran berharga di depan mata, namun manifestasi perbuatan dan kebijakanpolitiknya tetap saja kurang populer untuk memihak rakyat kecil “Togog dalamperenungannya merasakan keanehan dalam orde ini yang banyak orang beranggapanorde perubahan, tapi terasa perubahan yang membingungkan dari keseragaman
Anehnya, setiap pendapat walaupun mengandung kebenaran selalu disangsikan.”
Ki Ageng Gribig Kota Malang

Ki Ageng Gribig Kota Malang

07:31 0
Ki Ageng Gribig Kota Malang
Menjadi panutan bupati-bupati yang pernah berkuasa di Malang, makamnya menjadi jujugan orang yang sedang memburu jabatan. Disini beberapa pusaka juga pernah berhasil diambil.
Menyebut nama Ki Ageng Gribig, bayangan banyak orang akan langsung tertuju ke Kecamatan Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Memang, di Desa Krajan yang masuk wilayah kecamatan ini, setiap tahun digelar “yaqowiyu”, sebuah ritual yang mentradisi berkat amanatnya. Di kecamatan yang sama, tepatnya di Dukuh Jatinom, Desa Jatinom, juga terdapat bangunan batu merah dan kayu yang dipercaya sebagai makamnya.
Namun bagi masyarakat Keca­matan Kedung Kandang, Kota Malang, Jawa Timur, makam Ki Ageng Gribig ada di daerah mereka. Tepat­nya di sebuah kampung yang namanya juga mengambil nama tokoh tersebut; Jalan Ki Ageng Gribig Gang II. Makam yang diyakini sebagai perisitirahatan terakhirnya, berada dalam satu komplek dengan makam beberapa bupati Malang tempo dulu.
Seperti makam di Jatinom, ma­kam Ki Ageng Gribig di Kedung Kan­dang ini juga sangat dikeramatkan. Pada malam-malam tertentu, teruta ma malam Jum’at Legi, selalu saja ada peziarah yang meramaikan makamnya. Berbagai macam berkah tentu mereka harapkan, mulai keselamatan, penglarisari, gampang rejeki, hingga kebahagiaan lahir batin.
Beberapa waktu lalu, banyak pula orang yang datang ke makam ini untuk berburu pusaka. Berbagai pusaka memang diyakini banyak tersimpan di makam yang lokasinya tidak jauh dari Perumnas Sawojajar, Kota Malang ini. “Pernah ada yang berbasil mengambil keris di sini, Mas,” ungkap Thoyibi (84), juru kunci makam.
Menurut laki-laki yang sudah menjadi juru kunci sejak 1951 tersebut, tidak diketahui pasti apakah sekarang masih terdapat pusaka-pusaka lainnya. Satu yang pasti, Makam Ki Ageng Gribig tetap dikunjungi pe­ziarah saat malam-malam utama dalam kepercayaan Jawa. Termasuk oleh mereka yang sedang memburu karir atau jabatan pemerintahan. “Beberapa bupati pernah sowan ke sini saat masa pencalonan mereka,” kata Thoyibi.
Kedatangan mereka bisa jadi karena adanya makam-makam bupa­ti Malang terdahulu di komplek ma­kam ini. Di sini para calon pejabat tersebut memang tidak hanya berziarah ke makam Ki Ageng Gribig, tapi juga ke pusara para bupati. Bupati-bupati Malang tempo dulu terse­but adalah RAA. Notodiningrat (bu­pati I dan II), serta RTA. Notodining­rat (bupati III).
Masing-masing makam bupati tersebut dilindungi oleh cungkup berbentuk bangunan yang sangat kokoh. Di dalam setiap cungkup terdapat pu­la puluhan makam kerabat para bu­pati tersebut. Dalam papan putih yang terdapat di dekat pintu masuk cungkup bupati pertama misalnya, tertulis “Makam RAA Notodiningrat Bupati Malang Ke I Serta 25 Makam Kerabat Terdekat”.
Makam Ki Ageng Gribig1Makam Ki Ageng Gribig juga di­lindungi bangunan cungkup meski ukurannya tak sebesar 3 makam bupati. Di dalamnya pun hanya terda­pat 2 makam, dirinya dan istri. Berbeda dengan makam para bupati dan makam-makam lainnya, makam suami istri ini tidak bernisan. Hanya berupa dua gundukan tanah, dengan timbunan bunga-bunga di atasnya dalam naungan kelambu warna putih.
Keturunan Brawijaya
Lalu siapa sebenarnya Ki Ageng Gribig yang dikuburkan di tempat ini? Menurut beberapa sumber, dia adalah cicit Raja Majapahit, Brawijaya. Ayahnya bernama Pangeran Kedawung, salah seorang keturunan Lembu Niroto. Konon Ki Ageng Gribig adalah sa­lah satu murid kesayangan Sunan Kalijaga.

Sebagai ulama, Ki Ageng Gribig sangat terkenal dan dihormati di wilayah Malang sekitar 1650an. Ketika sudah meninggal dunia pun, makamnya begitu dihormati dan dikeramatkan, termasuk oleh penguasa waktu itu. Bupati Malang pertama bahkan merasa pemerintahannya yang berjalan bagus karena berkah Ki Ageng Gribig. “Karenanya dia berpesan, bila meninggal dunia dikuburkan dekat makam Ki Ageng Gribig,” jelas Thoyibi.
Riwayat Ki Ageng Gribig versi Malang tersebut agak berbeda de­ngan yang ada di Jatinom, Klaten. Meski sama-sama disebut sebagai keturunan Brawijaya, Ki Ageng Gribig versi Jatinom disebut sebagai putra Raden Mas Guntur atau Prabu Wasi Jaladara. Versi lain menyebut, Ki Ageng Gribig adalah keturunan Maulana Malik Ibrahim yang silsilah ke bawahnya menurunkan Maulana Ishaq, Sunan Giri, Sunan Prapen, dan Maulana Sulaiman (Ki Ageng Gribig).
Tokoh yang juga sering disebut sebagai Syekh Wasihatno itu menjadi pendakwah Islam dengan pusat di Desa Krajan, Jatinom, Klaten. Dia ju­ga termasuk tokoh yang berpengaruh karena memiliki hubungan dekat dengan Sultan Agung Hanyakrakusu- ma, raja Mataram. Bahkan Raden Ayu Emas, adik Sultan Agung, dinikahinya, hingga dirinya mendapat kekuasaan penuh sebagai ulama dan pemimpin tanah perdikan Mutihan di Jatinom.
Konon, Ki Ageng Gribig mampu melakukan perjalanan dari Jatinom ke Mekkah dalam waktu sangat singkat. Saking singkatnya, disebut bagai melempar batu, sehingga dia dapat pulang pergi Jatinom Mekkah setiap hari.
Suatu Jum’at di Bulan Safar, saat kembali dari perjalannya ke tanah suci, dia membawa oleh-oleh kue. Karena jumlahnya tidak mencukupi untuk dibagikan kepada penduduk, ia bersama istri kemudian membuat lebih banyak kue sejenis. Setelah jadi, sambil menyebarkan kue-kue kepada penduduk yang berebutaan, Ki Ageng meneriakkan “Ya Qowiyyu” (Tuhan, berilah kekuatan).
Kue tiruan dari Mekkah itu kemu­dian dikenal dengan nama apem, berasal dari kata bahasa Arab ‘Affan’ yang befmakna ampunan. Tradisi menyebar kue apem yang dimulai oleh Ki Ageng Gribig sejak 1589 Masehi atau 1511 Saka itu kemudian diteruskan setelah dia meninggal du­nia, sesuai amanatnya. Yaitu tradisi ‘yaqowiyyu’, di Desa Krajan, Jatinom, Klaten. •HK
Dinukil dari Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur
ASAL- USUL MBAH BUYUT GANGSAR ROOMO GRESIK

ASAL- USUL MBAH BUYUT GANGSAR ROOMO GRESIK

09:05 0
ASAL- USUL MBAH BUYUT GANGSAR ROOMO GRESIK
Diantara makam bersejarah di desa Roomo hanyalah makam Mbah Buyut Gangsar yang paling ramai di ziarahi orang, terutama pada hari jum’at wage. Mereka datang dari berbagai daerah di kawasan Gresik dan sekitarnya Makam ini terletak tepat ditepi selatan jalan raya umum, yang pada pelebaran jalan raya tahun 2010 hampir mengenai dinding cungkup makamnya. Makam ini masih tetap di rawat dan terpelihara dengan baik oleh juru kuncinya yang bernama ibu Rukani, warga desa Roomo RT 3 RW 2.
Menurut cerita, makam ini dulu berada di utara jalan raya karena ada pembuatan jalan raya oleh Herman William Daendels, sekitar tahun 1808, maka makam ini di pindahkan ke selatan jalan agar tak merintangi jalan raya yang akan di buat oleh Daendels tersebut. Pada evakuasi jenazahnya ternyata mereka melihat kalau jasad ini masih segar dan utuh layaknya baru di makamkan. Tentu saja muncul banyak spekulasi masyarakat bahwa jenazah tersebut tentu orang yang keramat, sebab jasadnya utuh. Kalau memang benar keramat, maka kekeramatannya bukan hanya figurnya saja tetapi mbah Gangsar memang benar-benar lelaki yang berasal dari desa Kramat Inggil Gresik.
Cerita tutur masyarakat mengabarkan bahwa dahulu mbah Gangsar berasal desa Kramat yang konon hidup pada masa pemerintahan Giri Kedhaton. Namun tak ada petunjuk pasti masa Sunan Giri ke berapakah ia hidup. Mbah Gangsar adalah pedagang gramen atau pedagang aneka barang keliling. Saat berdagang, sesampainya di desa Roomo ia di rampok dan terjadilah duel yang tak berkesudahan saking digjayanya mereka.
Dalam kepayahan tersebut, mbah Gangsar menawarkan diri apa yang di maui penyamun itu, nyawanya ataukah hartanya. Perampok itu menginginkan dua-duanya, yaitu nyawa dan hartanya. Mbah Gangsar akhirnya kasihan terhadap rampok itu dan menunjukkan titik kelemahan dari kesaktian yang di milikinya yaitu bilamana mbun-mbunan kepalanya di jitak maka matilah dia. Perampok itu ingin mencoba apa benar yang dikatakannya. Dan memang benar bahwa dengan sekali jitak mbah Gangsar telah roboh dan tewas. Perampok itu lalu bingung dan menyesali perbuatannya.
Tewasnya mbah Gangsar di desa Roomo tak banyak warga yang tahu profil dirinya, baru kemudian pada saat banyak orang yang berkerumun tiba-tiba ada orang yang kebetulan lewat dan mengenali bahwa yang tewas itu adalah tetangganya di desa Kramat yang bernama asli Gangsar. Kabar kematian Gangsar telah menyebar ke tengah masyarakat. Masyarakat mengabarkan bahwa yang tewas adalah Gangsar orang kramat. Terjadi salah paham di antara para warga. Mereka beranggapan bahwa kramat sama dengan seorang wali yang mendapat karomah Allah, padahal kramat di sini adalah nama desa tempat tinggalnya. Salah kaprah mengaitkan karomah atau kramat pada dirinya telah berlangsung turun temurun. Kalau toh figur dirinya orang karomah maka dia memang mendapat dua kekeramatan. Keramat lantaran tersohor di isukan orang kramat, dan Kramat kedua adalah memang dia benar-benar berasal dari desa Kramat.
Kabar kematian orang kramat ini kemudian tersiar kemana-mana. Sejak saat itu banyak orang yang menziarahi makamnya khususnya pada hari jum’at wage. Mereka datang untuk berziarah dan berdoa kepada Allah dan bertawasul dengan pribadi mbah gangsar agar Allah berkenan menjadikan keluarga mereka orang-orang yang gangsar yang berarti lekas bisa faham ilmu, cerdas, dan selalu sukses. Selain itu mereka datang berziarah dengan maksud untuk mendoakan yang di makamkan di situ, mendoakan kaum muslim lain yang meninggal dunia.
Memang tak bisa di pungkiri bahwa dalam upaya mendekatkan diri kepadaNya, manusia mempunyai bermacam cara. Ada yang hatinya tergetar saat mendengar lantunan ayat Al-Qur’an dibacakan, ada sebagian lain yang nerasakan keagunganNya saat melihat pesona alam nan indah terhampar, ada juga yang menangis tatkala mendengar irama musik dan sebagainya. Begitu juga seeorang bisa saja merasakan kedamaian saat menghadiri pengajian akbar dengan gemuruh lantunan kalimat thoyibah dari ribuan orang yang hadir, atau mungkin saja seseorang dapat merasakan kedamaian saat bersunyi dan berdo’a di sebuah makam kuno yang mungkin itulah salah satu penyebab mengapa makam mbah buyut Gangsar banyak di ziarahi orang.
Bagaimanapun juga makam mbah Gangsar termasuk salah satu makam yang bersejarah di desa Roomo yang perlu kita jaga sebagai salah satu asset sejarah yang masih tersisa di desa Roomo. Wallahu a’lam bishshawab(Amir Syarifuddin)
sumber Dari MATASEGER Untuk Gresik dan Dunia