Showing posts with label LEGENDA. Show all posts
Showing posts with label LEGENDA. Show all posts
LEGENDA ULAR SUCI

LEGENDA ULAR SUCI

00:53 0
LEGENDA ULAR SUCI
Pada masa Kerajaan Majapahit ada seseorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwijendra atau Dang Hyang Nirarta.Beliau dikenal sebagai Tokoh penyebaran ajaran Agama Hindu dengan nama “Dharma Yatra “.Di Lombok beliau dikenal dengan nama “Tuan Semeru” atau guru dari Semeru (sebuah nama Gunung di Jawa Timur).
Pura Luhur Tanah Lot
Pada waktu beliau datang ke Bali untuk menjalankan misinya,yang berkuasa di Bali saat itu adalah Raja Dalem Waturenggong yang menyambut beliau dengan sangat hormat. Beliau menyebarkan agama Hindu sampai ke pelosok-pelosok Pulau Bali. Suatu ketika pada saat beliau menjalankan tugasnya, beliau melihat sinar suci dari arah tenggara dan beliau mengikutinya sampai pada sumbernya yang ternyata adalah sebuah sumber mata air. Tidak jauh dari tempat itu beliau menemukan sebuah tempat yang sangat indah yang disebut “Gili Beo”(Gili artinya Batu Karang dan Beo artinya Burung) jadi tempat itu adalah sebuah Batu Karang yang berbentuk burung.
Ditempat inilah beliau melakukan meditasi dan pemujaan terhadap Dewa Penguasa Laut. Lokasi tempat Batu Karang ini termasuk dalam daerah Desa Beraban,dimana di desa tersebut dikepalai oleh seorang pemimpin suci yang disebut “Bendesa Beraban Sakti”.Sebelumnya masyarakat Desa Beraban menganut ajaran monotheisme(percaya dan bersandar hanya pada satu orang pemimpin yang menjadi utusan Tuhan sperti Nabi)dalam waktu yang singkat banyak masyarakat Desa Beraban ini mengikuti ajaran Dang Hyang Nirarta yang kemudian membuat Bendesa Beraban Sakti sangat marah dan mengajak pengikutnya yang masih setia untuk mengusir Bhagawan suci ini.
Dengan kekuatan spiritual yang dimiliki Dhang Hyang Nirarta,beliau melindungi diri dari serangan Bendesa Baraban dengan memindahkan batu karang besar tempat beliau bermeditasi (Gili Beo) ke tengah lautan dan menciptakan banyak ular dengan selendangnya di sekitar batu karang sebagai pelindung dan penjaga tempat tersebut.Kemudian beliau memberi nama tempat itu “Tanah Lot” yang berarti Tanah di tengah Laut.
Akhirnya Bendesa Beraban mengakui kesaktian dan kekuatan spiritual dari Dang Hyang Nirarta,dan akhirnya Bendesa Beraban menjadi pengikut setia dan ikut menyebarkan ajaran Agama Hindu kepada penduduk setempat.Sebagai tanda terima kasih sebelum melanjutkan perjalanan beliau memberikan sebuah keris kepada Bendesa Beraban yang dikenal dengan nama “Keris Jaramenara atau Keris Ki Baru Gajah”.Saat ini keris itu disimpan di Puri Kediri yang sangat dikeramatkan dan di upacarai setiap hari raya Kuningan.Dan upacara tersebut di adakan di Pura Tanah Lot setiap 210 hari sekali,yakni pada “Buda Wage Lengkir”sesuai dengan penanggalan Kalender Bali.
Holy snake/ Ular Suci (Ular Poleng)
Jadi, menurut legenda ular ini merupakan jelmaan dari selendang yang dimiliki oleh Dhang Hyang Nirarta untuk menjaga Tanah Lot ini. Dari cerita ini, pasti kawan-kawan merasa kaget karena ular yang memiliki nama spesies Bungarus Candidus ini masih hidup sampai SEKARANG dari jaman tersebut.
Ular suci ini memiliki banyak nama, diantaranya Bungarus Candidus, Holy Snake, Ular Weling, Ular Belang, Blue Krait atau Malayan Krait. Nama weling berasal dari bahasa jawa yaitu welang-weling menunjuk kepada pola belang hitam-putih seperti warna kulit ular ini. Ular ini memiliki panjang maksimal hanya 2m dan penyebaran ular ini meliputi wilayah-wilayah dekat pantai hingga daerah pegunungan. Ular welang dikategorikan amat berbahaya karena bisanya yang bersifat mematikan, meskipun laporan kematian pada manusia akibat gigitan ular ini termasuk rendah.
Proses Wawancara dengan narasumber
Setelah kami observasi dan mengulas informasi dengan beberapa narasumber, kita mendapatkan informasi yang penting dan tak kalah menarik loh dari fakta-fakta yang umum tentang ular suci ini. Ada juga beberapa mitos yang terkandung.
Yang pertama kami mendapatkan informasi dari narasumber ular ini berusia ratusan abad. Jika dari sudut pandang analogika tidak mungkin ular spesies ini dapat hidup selama itu, namun dari sudut pandang cerita legenda “Dhang Hyang Nirarta menciptakan banyak ular dengan selendangnya di sekitar batu karang sebagai pelindung dan penjaga tempat tersebut”. Istilah “banyak” dari secuil kata legenda dapat diartikan ular tersebut dapat bertahan di Tanah Lot dengan cara berkembangbiak agar populasi spesies ular ini tidak punah di Tanah Lot.
Yang kedua, mengapa ular suci ini tidak ditempatkan di pure saja agar lebih dirawat?. Menurut mitosnya memang ular ini dijaga habitatnya yang berada di gua untuk menjaga area pure, maka masyarakat sengaja menempatkannya di gua didepan pure luhur.
Yang ketiga, apa yang terjadi jika ada orang yang bermaksud berbuat tidak senonoh kepada ular suci ini? Celakakah? Bahayakah?. Jawabannya, Ya… karena jenis ular ini ular beracun, Jika hal ini dipikir secara ilhmiah. Namun, jika menurut kepercayaan, orang yang melakukan hal tidak baik terhadap ular ini akan terkena suatu hal yang buruk dan mengerikan.
Yang keempat, kami mendapat informasi pengalaman dari salah satu pawang ular suci tersebut. Pernah ada suatu hal buruk yang terjadi pada seseorang yang berniat jahat dengan ular ini. ‘’Dulu pernah ada kejadian ada 2 orang laki-laki berwisata atau apa saya nggak tau, tapi kayaknya 2 orang itu bermaksud jahat entah apa, tiba-tiba waktu keluar tanah lot 2 orang itu kesurupan, dan syaratnya jika ingin sembuh harus diantar ke laut tanah lot dan dikeluarkan makhluk gaibnya, ada yang bilang kalau ‘’itu’’ adalah penjaga tanah lot yang diyakini oleh warga sekitar.
Yang kelima, dengan sebutan ular suci, mengapa para tourist tetap diizinkan mengunjunginya, padahal ular ini dianggap suci? Jawabannya, karena Pure Luhur yang diciptakan oleh legenda tersebut lebih suci dan hanya boleh dimasuki umat Hindhu, maka jika ular ini diletakkan di pure, maka kesucian pure akan berkurang terus menerus karena adanya tourist yang terus berdatangan hanya melihat ular. Maka dari itu ular suci ini sengaja dibiarkan hidup di habitatnya yaitu di gua tanah lot.
 Yang keenam, ular suci ini memiliki hubungan dengan air suci di tanah lot, pernah ditemukan terdapat terowongan antara goa ular suci ke tempat air suci.


Dari pernyataan-pernyataan diatas kami telah membeberkan semua fakta-fakta khusus tentang ular suci di tanah lot tersebut berdasarkan Informasi dari Narasumber. Dan dapat disimpulkan bahwa semua fakta yang terkandung tergantung pada kepercayaan kalian masing-masing. Dan jika kalian ingin melihat ular suci ini datanglah saat sore hari karena ular ini adalah hewan nocturnal. Kita dapat menarik garis kesimpulan bahwa sejarah asal mula munculnya ular suci sebenarnya hanyalah mitos yang telah dipercayai masyarakat setempat. Dan yang membuat pengunjung teratarik dengan ular suci ini karena cerita masyarakat yang telah mendarah daging.
Lanjar Maibit.

Lanjar Maibit.

09:03 0

Di suatu ketika di desa maibit hiduplah seorang janda yang bernama Sri Penganti dan adiknya bernama Joko Grenteng.mereka tinggal di dekat sendang ( perairan terbuka/semacam kolam kecil).
keindahan dan kecantikan janda itu sangatlah terkenal,banyak pemuda yang mengagumi kecantikannya,salah satunya Dalang Budoyo (dari desa maner).
suatu ketika saat Sri Penganti atau biasa di sebut Lanjar Maibit (lanjar yang artinya semasa dia menikah belum pernah melakukan hubungan suami istri) sedang mandi di sendang tiba tiba Dalang Budoyo datang karena dia sangat mengagumi kecantikan Lanjar Maibit dia melihat Lanjar Maibit sedang mandi lalu dia naik ke atas pohon yang berada tak jauh dari tempat pemandian untuk memperhatikan Lanjar Maibit mandi dari atas pohon.tak sengaja lanjar maibit melihat bayangan di air yaitu bayangan Dalang Budoyo yang sedang memperhatikannya mandi dari atas pohon.saat melihat bayangan itu seketika Lanjar Maibit memakai selendangnya atau baju dan pergi meninggalkan tempat pemandiaanya.ternyata cincin Llanjar tertinggal di batu,Dalang Budoyo melihat cincin tersebut dan mengambilnya walaupun dia tidak bisa memiliki hati lanjar maibit tapi dia cukup senang mendapatkan cincin dari wanita yang sangatdi cintainya.
Selain Dalang Budoyo ada Begendung Kuwon (dari desa Pekuwon),Minak Jepolo (dari desa Sawahan/Logawe) dan masih banyak pemuda yang mengagumi Lanjar Maibit dan ingin menikahinya tapi mereka semua tidak ada yang bisa meluluhkan hati Lanjar Maibit.
Suatu ketika ada pemuda tampan yang bernama Minak Anggrang(dari padangan) putra Bupati Padangan sedang berburu burung di dekat sendang dia bertemu Lanjar Maibit dan dia terpesona oleh kecantikan sang Lanjar Maibit pada saat itu juga dia lansung jatuh cinta pada Lanjar ternyata Lanjar pun juga menyukai Minak Anggrang dan mereka pun menikah.
Suatu hari Minak Anggrang melihat istrinya sedang bersama pemuda pemuda itu tidak lain adalah Joko Grenteng yaitu adik dari Lanjar Maibit karena Minak Anggrang melihat kedekatan mereka diapun cemburu dan curiga kemudian Minak Anggrang menuduh bahwa JokoGrenteng selingkuhan Lanjar Maibit.Joko Grenteng menjelaskan bahwa mereka bersaudara,tetapi Minak Anggrang tidak mempercayainya dan Minak Anggrang menyuruh mereka membuktikan kalau mereka benar benar bersaudara.kemudian Joko Grenteng dan Lanjar Maibit setuju untuk melakukan bunuh diri berdasarkan syarat yang di berikan Minak Anggrang untuk membuktikan bahwa mereka bersaudara dan mereka tidak berselingkuh.jika posisi kepala mayat mereka berdua berbeda dengan posisi saat mereka di kubur(kepala bersingkuran)membuktikan bahwa mereka benar benar bersaudara dan mereka tidak bersalah dan jika posisi kepala mereka tidak berubah atau tetap pada posisi mereka saat di kuburkan(kepala saling berhadapan) itu berarti mereka membuktikan tidak bersaudara dan mereka bersalah.beberapa hari setelah kematian Joko Grenteng dan Lanjar Maibit Minak Anggrang mengali kuburan Joko Grenteng dan Lanjar untuk melihat posisi kepala mereka.dan ternyata posisi kepala mereka berdua berbeda dengan posisi mereka pada saat di kubur (kepala bersingkuran)yang artinya mereka benar benar bersaudara dan mereka tidak bersalah.mengetahui itu Minak Anggang sangat terkejut dan sangat menyesal karena dia tidak percaya pada penjelasan Joko Grenteng dan istri yang sangat di cintainya Lanjar Maibit
Penyesalan pada diri Minak Anggrang terus terasa setiap saat sampai Minak Anggrang jatuh sakit kemudian ajal menjemputnya.
Dari kejadian itu menjelaskan bahwa Lanjar Maibit memiliki kesatuan cantik luar maupun dalamdan kemurnian cinta yang di miliki oleh seorang wanita.oleh karena itu untuk menghormati kemurnian Lanjar Maibit orang orang di desa Maibit menyebut daerah di sekitar sendang sebagai sendang Lanjar Maibit.
Legenda Jaka Puring

Legenda Jaka Puring

19:23 0
Legenda Jaka Puring
(beberapa versi )

Alkisah jaman dulu ada sebuah kadipaten di kaki Gunung Slamet bernama Kabupaten Pucangkembar. Sang bupati memerintah dengan bijaksana dan selalu memperhatikan nasib rakyatnya. Dia mempunyai anak yang cantik jelita bernama Sulastri. Karena kecantikannya banyak pemuda yang tertarik dan ingin melamarnya. Sebetulnya Sulastri sudah punya pria idaman hatinya yang bernama Raden Jono, tapi ia belum berani mengutarakannya pada orang tua.
Hingga pada suatu saat ada pemuda yang mau melamarnya, pemuda itu bernama Jaka Puring orangnya jelek lagi pula pincang jalannya dan punya kesaktian yang luar biasa sehingga ayahnya tidak berani untuk menolak lamaran dari Jaka Puring itu. Berita Sulastri akan diperistri oleh Jaka Puring terdengar oleh Raden Jono. Dengan hati gelisah, benci dan cemburu saat itu juga Raden Jono menghadap Bupati Pucangkembar dan menyampaikan maksud kedatangannya yaitu mau melamar putri bupati yang bernama Sulastri. Setelah mendengar maksud Raden Jono sebagai Bupati yang bijaksana, ia hanya menjawab “silahkan kalau Sulastri mau, dan jika ada kemarahan Jaka Puring kau harus tanggung jawab dan melindungi Sulastri”.
Setelah mendengar jawaban dari Sang Bupati, dengan naik kuda Raden Jono langsung mencari Jaka Puring, yang ternyata sedang menunggang kuda hendak membawa kabur calon istrinya itu. Setelah tau Raden Jono mengejar, Jaka Puring lari ke arah timur sejauh-jauhnya agar Raden Jono tidak mengejarnya. Tapi bagi Raden Jono itu bukan halangan dengan mudah ia menyusul Jaka Puring. Karena lelah Jaka Puring berhenti istirahat dan sambil mengguyang kudanya, tempat yang digunakan untuk mengguyang kudanya sekarang dikenal dengan nama GUYANGAN.
Keberadaan Jaka Puring di Guyangan sudah diketahui oleh Raden Jono, maka diseranglah Jaka Puring karena serangan Raden Jono tiba-tiba Jaka Puring lari ke selatan sambil menghalau prajuritnya Raden Jono. Sampai prajurit Jaka Puring banyak yang kelehan, pingsan bahkan ada yang mati. Melihat kejadian itu Jaka Puring secara diam-diam mencari air untuk memulihkan tenaga, tak disengaja prajurit yang mati disiram air itu ternyata hidup kembali atau PODO URIP, maka tempat itu oleh Jaka Puring diberi nama PODOURIP. Jaka Puring senang karena prajurit yang mati hidup dapat hidup kembali dan sehat, tapi Raden Jono tetap saja mengejar keberadaan Jaka Puring yang memba Sulastri. Jaka Puring terus lari keselatan, hingga pada akhirnya Jaka Puring tertangkap namun Jaka Puring tetap melawan dan terjadi perang tanding antara Jaka Puring dengan Raden Jono karena sama-sama sakti keduanya sampai terguling-guling di tanah dan sampai terasa pet-petan (pusing) tempat kejadian itu sekarang dikenal dengan nama PETANAHAN.
legenda-jaka-puringWalaupun keduanya pusing ia tetap tidak menghentikan peperangannya. Jaka Puring dengan terhuyung lari ke selatan. Sambil menunggang kuda sampailah di pantai dan menjumpai Sulastri yang diikat pada pohon pandan. Kemudian tempat tersebut terkenal dengan nama Pandan Kuning.
Selanjutnya setelah tau Sulastri ada pada Raden Jono, Jaka Puring tetap mengajak perang dengan Raden Jono dan Raden Jono pun tak takut, mereka saling kejar mengejar dalam perangnya, hingga akhirnya Jaka Puring terdesak dan terhalang gunung batu, dengan kesaktiannya Jaka Puring menabrakan tubuhnya ke gunung batu hingga berlubang (bolong) sehingga tempat itu dikenal dengan nama Karangbolong. Melihat kejadian itu Raden Jono tak sabar ingin cepat-cepat menghabisi Jaka Puring dan ia iangat senjata batu bulatnya, maka Raden Jono terus mengejar Jaka Puring, kali ini Jaka Puring harus menyebrang sungai yang agak lama, ketika sampai di tengah sungai Raden Jono melemparkan senjata batunya dan mengenai Jaka Puring maka berubahlan si Jaka Puring menjadi buaya putih. Tempat kejadiannya dikenal dengan nama Buayan. Kadang pada saat tertentu akan muncul buaya putih yang dikeramatkan oleh sebagian masyarakat. Akhirnya Raden Jono dan Sulastri menjadi suami istri dan kembali ke Kabupaten Pucangkembar. (dari berbagai sumber)
versi basa jawa
Nalika semana ana ing iring Gunung Slamet, ana kadipaten Pucang Kembar. Sang Adipati asma raden Citra Kusuma kang kagunga putri aran Dewi Sulastri. Dewi Sulastri banget sulistyo ing warna mula akeh jejaka kang pengena nglamar dadi garwane.
Adipati Bulupitu asma Raden Jaka Puring kepingin mundhut garwa Dewi Sulastri. Mula Jaka Puring ngaturake panglamar marang Adipati Citra Kusuma lan panglamare ditampa amarga Jaka Puring kondang sakti mandraguna. Dadi amung ngawekani krodane Jaka Puring. Wondene Dewi Sulastri mangu-mangu atur wangsulan marang kanjeng ramane amarga wis nduweni pilihan jejaka kang dadi wataganti asma Raden Jono, lan maneh ora tresna marang jaka puring awit rupane elek lan nduweni cacad.
Raden Jono bareng krungu Dewi Sulastri dilamar Jaka Puring banget muntabe lan banjur ngaturake panglamar marang SANG Adipati Citra Kusuma. Panglamare ditampa lamun bisa ngadahake krodhane Jaka Puring. Raden Jono nyaguhi.
Sawise nglamar ditampa, Jaka puring ngajak Dewi Sulastri menyang kadipaten Bulupitu. Raden Jono banjur nututi jengkare Jaka Puring lan bisa ketemu. Nalika Jaka Puring lagi ngaso sinambi nguyang jaran mula papan kono dijenengi Guyangan.
Jaka Puring saprajurite kasorah, perange banjur mlayu ngidul. Ing papan kono Jaka Puring sakbalane pada ngaso sawetara. Prajurite akeh sing pada nandang tatu lan ana uga sing tiwas. Prajurit sing pada tatu lan tiwas banjur didusi ngamgo banyu sumur, anehe sing tatu pada mari lan sing tiwas pada urip. Mula papan kono dijenengi Padha urip.
Raden Jono sabalane nututi ngidul, campuhe prajurit banjur perang rame lan pada dene sayahe nganti pet-petan meh semaput, mula papan kono dijenengi Petanahan. Jaka Puring sabalane mlayu ngidul maneh. Raden Jono nututi nanging kelangan lacak satemah atine monga-mungu apa arep diterusake apa ora. Mula papan kono dijenengi Munggu.
Jaka Puring mlayu ngidul maneh mlebu alas gadung. Prajurit pada kasrimpet-srimpet wit gadung. Mula papan kono dijenengi Karang Gadung. Jaka Puring mbacutake playune menyang pesisir. Ing kono Dewi Sulastri disingitake lan dierut ana grumbulan wit pandan kang godhonge kuning. Mula papan kono dijenengi Pandhan Kuning.
Ana grumbulan pndhan kuning Dewi Sulastri bisa direbut dening Raden Jono. Raden Jono terus ngoyak Jaka Puring ngajab patine kareban bisa ilang klilipe.
Jaka Puring mlayu ngalor ngulon mlebu desa sing wargane wis pada reja. Mula papan kono dijenengi Karangreja. Saka Karangreja Jaka Puring mlayu mangulon terus dioyak dening Raden Jono sabalane. Amarga perangane anane mung wong tuwa pada buron, mula papan kono dijenengi Tuwaburu.
Prajurit Jaka Puring wis kaenteken tenaga,atine nglokro lan maras atine ngadephi wadya balane Jono kang semangate ngendab-endabi. Amargi prajurit pada maras atine mula papan kono dijenengi Moros. Jaka Puring ngelam-elami prajurit satemah tuwuh maneh semangate. Ana ing satengahing marga nemokake kali cilik kang banyune mili ora tau asat. Wong kono ngarani criwikan. Prajurit Jaka Puring pada raup lan adu sana criwikan, mula papan kono dijenengi Criwik.
Sacedhake Criwik wong-wong pada kepenak utawa mulya uripe dadi petani tambak, mula papan kono dijenengi Tambak Mulyo. Jaka Puring terus mlayu ngulon keparan gunung karang. Kanthi kasektane Jaka Puring nabrak karang nganti bolong, mula papan kono dijenengi Karang Bolong.
Jaka Puring terus dioyak dening Raden Jono wusana nyebur kali. Ana kali kasebut Jaka Puring ditamani pusaka Bungkul Kencana dening Raden Jono. Wusanane Jaka Puring sirna salah kedadean malih dadi baya, mula papan kono dijenengi Buayan. Manut critane wong-wong sakupenge telatah kono terkadang ana kang diweruhi siluman baya putih.
(sumber Blog Pribadi Dwearto)

Versi lain yang serupa
Jaka Puring
Pada masa kepemimpinan Kanjeng Susuhunan Sayidin Panotogomo yang memerintah pada tahun 1601 Kerajaan Mataram menguasai wilayah brang wetan dan brang kulon ( bahasa Jawa sebelah barat dan sebelah timur ) diantaranya Kadipaten Pucang Kembar yang dipimpin oleh Hadipati Citro Kusumo , Kadipaten Bulupitu di pimpin oleh Jaka Puring dan Kadipaten Karang Gumelem . Dalam cerita ini yang menjadi lakon adalah sebagian dari wilayah brang kulon .
Pada waktu itu Hadipati Pucang Kembar mempunyai putri yang cantik jelita bernama Dewi Sulastri . Hadipati Bulupitu Raden Jaka Puring terkenal sakti mandraguna tetapi belum punya istri dan dia menderita cacat yaitu bibirnya tebal sebelah ( istilah Jawa mengrot ) dan kakinya pincang , mendengar bahwa di Kadipaten Pucang Kembar ada seorang putri cantik anak dari Hadipati Citro Kusumo maka Jaka puring ingin membuktikan dan bermaksud mempersuntingnya sebagai istri .
Dan setelah Raden Jaka Puring melihat kecantikan Dewi Sulastri ia lalu melamarnya namun belum diterima atau masih ditangguhkan karena Jaka Puring adalah seorang pemuda yang cacat maka ia disuruh menunggu dan dipersilahkan untuk tinggal sementara di Pucang Kembar.
Tidak lama kemudian datanglah seorang pemuda tampan dari Kadipaten Karang Gumelem bernama Raden Jono yang bermaksud hendak melamar pekerjaan di Kadipaten Pucang Kembar sambil mencari saudara kandungnya yang bernama Raden Wiro Kusumo , namun Sang Hadipati Citro Kusumo bingung karena tidak ada pekerjaan untuk Raden Jono bersamaan dengan itu putri Sang Hadipati Citro Kusumo yaitu Dewi Sulastri melihat pemuda tampan itu maka tertarik hatinya dan mengajukan usul kepada Kanjeng Romonya ( bahasa Jawa Ayah ) agar Raden Jono diterima bekerja di Kadipaten Pucang Kembar . Akhirnya Sang Hadipati menerima Raden Jono sebagai juru taman di Kaputren Dewi Sulastri . Karena sering bertemu antara Raden Jono dan Dewi Sulastri saling jatuh cinta ( Pepatah Jawa mengatakan , ” Witeng Tresno Jalaran Soko Kulino ” ).
Sementara dalam penantiannya Raden Jaka Puring sudah jemu menunggu jawaban dari Dewi Sulastri . Ia merasa curiga dengan hubungan Dewi Sulastri dan Raden Jono maka sambil menunggu jawaban dari Dewi Sulastri , Raden Jaka Puring menyuruh Pangeran Usmono Usmani ( adik Dewi Sulastri ) untuk mengawasi gerak-gerik Dewi Sulastri dan Raden Jono . Berdasarkan pengamatannya , Pangeran Usmono Usmani melaporkan bahwa Dewi Sulastri telah menjalin cinta dengan Raden Jono . Mendengar laporan itu Raden Jaka Puring merasa tersinggung dan mengambil kesimpulan bahwa dirinya ditolak karena Dewi Sulastri berpacaran dengan Raden Jono . Jaka Puring marah dan terjadilah perang antara Raden Jono dan Raden Jaka Puring .
Singkat cerita pertempuran yang tidak seimbang itu membuat Raden Jono kalah dan lari mencari perlindungan ke Pesanggrahan Pring Ori ( kelak bernama Desa Ori di wilayah Kecamatan Kuwarasan ) . Raden Jono minta perlindungan pada Kyai Karyadi dan disuruh sembunyi di dalam lumbung dan di tutup pakai kapuk ( kapas ) , tidak lama kemudian Raden Jaka Puring sowan pada Kyai Karyadi dan menanyakan keberadaan Raden Jono namun sang Kyai membohonginya dan mengatakan bahwa Raden Jono tidak berada di pesanggrahan Pringori . Jaka Puring lalu pulang kembali ke Kadipaten Bulu Pitu
Setelah Jaka Puring pergi maka Raden Jono dikeluarkan dari lumbung dan ditanya apa sebabnya Raden Jono dikejar-kejar oleh Raden Jaka Puring . Raden Jono menceritakan pada Kyai bahwa perjalanannya ke Pucang Kembar untuk melamar pekerjaan sambil mencari saudara kandungnya Pangeran Wiro Kusumo setelah tiba di Pucang Kembar diterima sebagai juru taman dan dicintai oleh Dewi Sulastri sementara Raden Jaka Puring yang sedang menunggu jawaban dari Dewi Sulastri atas lamarannya yang sesungguhnya ditolak karena Raden Jaka Puring menderita cacat , namun karena tidak tega untuk mengatakan alasan yang sebenarnya maka lamaran atas Dewi Sulastri hanya ditangguhkan jawabannya dan dipersilahkan untuk tinggal sementara di Kadipaten Pucang Kembar sembari menunggu jawaban dari Dewi Sulastri . Tapi karena Dewi Sulastri talah jatuh cinta kepada Raden Jono akhirnya Raden Jaka Puring cemburu dan terjadi pertarungan antara Raden Jono dan Raden Jaka Puring sampai akhirnya Raden Jono kalah dan lari ke Pesanggrahan Pring Ori untuk menimba ilmu di pesanggrahan sehingga bisa mengalahkan Raden Jaka Puring dan memperisteri Dewi Sulastri .
Mendengar jawaban dari Raden Jono sang kyai memberi saran . Untuk mencapai tujuannya Raden Jono harus bersemedi ( bertapa ) di bawah pohon besar bernama Wit Benda ( Pohon Benda : bahasa Jawa ) dan pohon itu berada di daerah yang angker namun dalam melakukan semedi itu harus dengan hati yang tulus , suci dan sabar .
Raden Jono pun menurut pada kata-kata Kyai Karyadi ia pun melakukan semedi dengan sabar dan hati yang tulus dan akhirnya pertapaannya mendapatkan hasil dari yang Maha Kuasa dengan memperoleh pusaka berupa Bungkul Kencana ( keris : bahasa Jawa ) . Dan akhirnya Raden Jono pulang ke Pucang Kembar bertemu dengan Dewi Sulastri dan ternyata Raden Jaka Puring sudah berada di Pucang Kembar untuk menanyakan jawaban Dewi Sulastri atas lamarannya . Dewi Sulastri menjawab bahwa dia mau dipersunting oleh siapapun namun ia punya bebana awujud adon-adon / giri patembaya ( bahasa jawa permintaan pertarungan ) antara Raden Jono dan Jaka Puring . Maka terjadilah pertarungan sengit antar keduanya yang dimenangkan oleh Raden Jono maka dikawinkanlah Dewi Sulastri dengan Raden Jono sedang Raden Jaka Puring Lari dan pulang ke Bulu Pitu .
Bersamaan dengan itu Hadipati Pucang Kembar mendapat surat mandat ( nawala ) dari Susuhunan Sayidin Panatagama ( Raja Mataram ) untuk memberantas gerombolan berandal di Gunung Tidar. Akhirnya Hadipati Pucang Kembar Citro Kusumo memerintahkan menantunya sebagai bukti pengabdiannya untuk memberantas berandal di Gunung Tidar atau sebagai Duta Pamungkas. Maka walupun dengan perasaan berat meninggalkan Dewi Sulastri Raden Jono berangkat menjalankan tugas sebagai Duta Pamungkas dari Susuhunan Sayidin Panatagama ( Raja Mataram ) ke Gunung Tidar sebagai bukti pengabdian kepada mertua dan negara . Mendengar berita bahwa Raden Jono diberi mandat untuk menjadi Duta Pamungkas Raden Jaka Puring yakin bahwa Raden Jono pasti gugur melawan gerombolan berandal di Gunung Tidar maka Raden jaka Puring menuju ke Pucang Kembar untuk menemui dan merebut Dewi Sulastri .
Dalam keadaan Dewi Sulastri sendiri tanpa suami dipaksa oleh Raden Jaka Puring untuk mengikuti kemauan Raden Jaka Puring menjadi istrinya . Sebagai seorang istri yang setia kepada suami Dewi Sulastri tidak mau menghianati Raden Jono maka akhirnya Raden Jaka Puring membawa lari dengan paksa Dewi Sulastri keluar dari kaputren . Sementara itu Raden Jono sampai di Gunung Tidar menjelang malam dan menunggu munculnya gerombolan berandal . Setelah malam datang akhirnya gerombolan pengacau itu muncul dan bertarunglah Raden Jono melawan gerombolan yang terkenal bengis dan sakti mandraguna namun dengan kesaktian dan niat suci pengabdiannya kepada negara dan orang tua serta berbekal Pusaka Bungkul Kencana akhirnya Raden Jono bisa mengalahkan gerombolan berandal itu dan membunuh pimpinannya dengan Bungkul Kencana . Dalam keadaan keris terhunus diperut pimpinan gerombolan itu menyebut-nyebut nama saudara kandungnya ,” Aduh , Dimas Jono dimanakah keberadaanmu lihatlah Kangmasmu ini sedang sekarat dan jauh dari saudara ”. Mendengar rintihan itu Raden Jono tersentak dan menjawab perkataan dari pimpinan gerombolan itu yang ternyat saudara kandung yang selama ini dicarinya ,” Aduh Kakangmas maafkan adikmu ini yang hanya menjalankan tugas dan ternyata yang kubunuh adalah Kangmas Wiro Kusumo , maafkan adikmu ini yang tidak tahu bahwa yang akan kubunuh adalah Kangmas Wiro Kusumo ”.
Raden Jono memeluk Raden Wiro Kusumo yang sedang sekarat dan keduanya saling bertangisan sambil bermaafan akhirnya Raden Wiro Kusumo tewas di pangkuan Raden Jono .
Betapa sedihnya perasaan Raden Jono memikirkan garis hidupnya yang harus melaksanakan tugas negara dengan meninggalkan istri tercinta dan ternyata harus membunuh kakak kandungnya sendiri .

Raden Jono pun pulang ke Pucang Kembar membawa kemenangan berselimut kesedihan karena harus mengorbankan nyawa saudara kandungnya yang selama ini sedang dicarinya demi pengabdiannya kepada mertua dan negara. Sesampai di Pucang Kembar semakin terguncang perasaan Raden Jono mendapati Dewi Sulastri telah dibawa lari oleh Raden Jaka Puring . Dalam keadaan lelah dan terguncang Raden Jono pun mengembara mencari keberadaan Dewi Sulastri menjelajah setiap wilayah sampai akhirnya tiba di pesisir selatan .
Sementara itu pelarian Raden Jaka Puring membawa Dewi Sulastri juga ke pesisir selatan . Sepanjang perjalanan Raden Jaka Puring senantiasa merayu Dewi Sulastri agar bersedia malayaninya namun rasa cinta dan kesetiaannya kepada Raden Jono tetap dipegang teguh oleh Dewi Sulastri sampai akhirnya Raden Jaka Puring kehilangan kesabarannya dan akhirnya Dewi Sulastri diikat pada sebuah pohon pandan .
Bersamaan dengan itu perjalanan Raden Jono sudah sampai di tempat itu namun sebelum ia bertemu dengan Dewi Sulastri ternyata Raden Jaka Puring telah lebih dulu melihat kedatangannya . Dengan sekonyong- konyong Raden Jaka Puring menyerangnya sehingga terjadi pertempuran yang sengit antara Raden Jono melawan Raden Jaka Puring . Dalam pertempuran itu Raden Jaka Puring terdesak dan kalah lalu melarikan diri ke arah utara . Raden Jono lalu menemui Dewi Sulastri yang masih terikat di pohon pandan . Terjadi suatu keajaiban bahwa pohon pandan tempat mengikat Dewi Sulastri berubah warna menjadi kuning sedang pohon pandan yang lain tetap berwarna hijau . Maka oleh Raden Jono tempat itu diberi nama Pandan Kuning ( kelak menjadi Pesanggrahan Pandan Kuning ).
Keajaiban kembali terjadi , setelah Raden Jono melepas ikatan Dewi Sulastri mereka lalu ditemui oleh Nyi Roro Kidul ( Ratu Pantai Selatan ) dan bidadari dari kayangan Dewi Nawang Wulan . Oleh Nyi Roro Kidul Dewi Sulastri disuruh pulang ke Pucang Kembar dengan perlindungan dari Nyi Roro Kidul dan Dewi Nawang Wulan . Sedang Raden Jono disuruh mengejar raden Jaka Puring ke arah utara . Perjalanan Raden Jono mengejar Raden Jaka Puring ke arah utara masuk ke sebuah hutan lebat yang banyak ditumbuhi pohon gadung penuh duri sebagai tempat persembunyian Raden Jaka Puring .
Disetiap langkahnya Raden Jono kesrimpet-srimpet wit gadung ( bahasa Jawa terhalang pohon gadung ) hampir di setiap pori-pori kulitnya terselip duri gadung hingga darah bercucuran maka alas atau hutan itu oleh Raden Jono dinamakan Karanggadung ( kelak menjadi desa Karanggadung ) .
Pelarian Raden Jaka Puring terus ke arah utara namun Raden Jono kehilangan jejak maka langkahnya menjadi ragu-ragu selangkah berhenti lalu melangkah lagi dan berhenti lagi sambil dia menengok mau terus ke utara atau ke selatan atau ke barat atau ke timur . Langkahnya yang mandeg mangu ( ragu-ragu ) itu membuat Raden Jono memberi nama tempat dengan nama ” Manga-mangu ” yang artinya perasaan ragu-ragu ( kelak menjadi desa Munggu ) . Namun akhirnya raden Jono memutuskan untuk mengejar ke arah utara sehingga mereka bertemu dan kembali terjadi pertarungan antar keduanya dan masing-masing membuat benteng pertahanan ( kelak dikenal sebagai ” Beteng ” dan ” Pertahanan ” ) dalam perkembangannya wilayah itu bernama Petanahan / kelak menjadi desa Petanahan dan bekas bentengnya terkenal dengan nama ” Beteng ” .
Mereka terus bertarung sambil kejar-kejaran hingga sampai pada suatu tempat merasa kehausan dan hendak minum namun airnya berbau banger ( bahasa Jawa busuk ) yang konon dikarenakan bangkai manusia yang mati dan tidak dikubur dengan keajaiban hidup kembali ( pada urip , berasal dari bahasa Jawa ) dan tempat itu diberi nama Grumbul Banger Desa Padaurip ( kelak menjadi desa Padaurip ) .
Aksi kejar-kejaran itu terus ke arah utara sampai pada suatu tempat yang banyak ditumbuhi pohon Jati dan kehidupan masyarakatnya mulya ( sejahtera ) sehingga tempat itu dinamai Jatimulya ( kelak menjadi desa Jatimulya ) .
Kejar - kejaran dan pertarungan itu terus berlanjut ke utara sampai pada tempat / pekarangan yang banyak ditumbuhi wit gedang ( bahasa jawa pohon pisang ) lalu tempat itu diberi nama Karanggedang ( kelak menjadi Desa Karanggedang ) .
Dari Karanggedang mereka berlari kearah barat melewati sebuah sungai yang ditepi sungai itu banyak orang sedang memandikan (guyang ) hewan sehinga tempat itu dinamakan Guyangan.
Pengejaran dan pertarungan masih terus berlanjut kearah barat melewati sebuah grumbul atau alas yang berupa rumput alang- lang yang luas maka tepat itu diberi nama ” Alang – alang amba ” Kelak menjadi Desa Alang – alang Amba .
Pengejaran dan pertarunganpun terus berlanjut kearah selatan dalam keadaan sangat letih dan lemah mereka masih bisa bertahan hidup maka tempat itu diberi nama ” Kuwarasan ”. Merekapun terus bertarung dan saling mengejar menuju arah selatan sampai mereka berdua merasa kesal sendiri dan muring – muring ( bahasa Jawa marah –marah ) sambil istirahat Raden Jono memberi nama tempat itu ”Puring ”( Kelak menjadi pasar Puring ) .Walaupun dalam keadaan lelah dan letih Jaka Puring masih terus berusaha lari dan mencari hidup dan terus berlari ke selatan sampai di kisik / pesisir samudra yang tanahnya wedi ( bahasa jawa pasir ) yang setiap dilewati atau sepanjang kaki melangkah wedinya gugur alias ambruk maka tempat itu diberi nama ” Wedi Gugur ” kelak menjadi Pesanggrahan Wedi Gugur.
Raden Jaka Puring terus berusaha menghindar dari kejaran Raden Jono menuju kearah barat sampai akhirnya terjadi pertarungan lagi yang sangat sengit dan saling mengeluarkan kadigdayan ( kekuatan ) dan Raden Jaka Puring tersungkur sehingga tangan yang hendak diarahkan ke Raden Jono akhirnya mengenai karang sampai tembus / bolong sehingga tempat itu diberi nama Karangbolong , namun Raden Jaka Puring masih berusaha lari ke utara sampai akhirnya kehabisan tenaga sehingga tergelincir ke sungai dan pada kesempatan itu Raden Jono menghunus pusaka Bungkul Kencono dan menancapkanya ke tubuh Raden Jaka Puring dan terjadilah suatu keajaiban Raden Joko Puring berubah menjadi Buaya putih dan melontarkan sumpah serapah kepada Raden Jono bahwa dia menerima kekalahanya tidak bisa memperistri Dewi Sulastri dan menerima karma menjadi buaya putih namun bersumpah bahwa setiap keturunan Raden Jono yang memakai pakaian sama dengan yang dipakai oleh Dewi Sulastri akan menjadi mangsa / dimakan oleh buaya putih, Pakaian itu adalah mbayak ijo gadung ( Kebayak ), Jarit Amba Lurik ( Kain / tapih ) dan benting tritik ( stagen ). Atas kejadian itu oleh Raden Jono tempat itu diberi nama ”Buayan” kelak menjadi Kecamatan Buayan.
Dengan rasa letih dan tubuh yang penuh luka Raden Jono Pulang ke Pucang Kembar membawa perasaan suka cita atas kemenangannya melawan Raden Joko Puring dan perasaan rindu ingin segera bertemu Dewi Sulastri . Suasana penuh haru meliputi Kadipaten Pucang Kembar saat pertemuan antara Raden Jono dan Dewi Sulastri beserta keluarga kadipaten. Akhirnya Raden Jono di nobatkan sebagai Hadipati di Pucang Kembar.

Sumber RPJMDes Desa Karanggadung
Legenda Sungai Brantas

Legenda Sungai Brantas

02:18 0
Legenda Sungai Brantas
Pada Jaman Dahulu, Di Jawa Timur ada sebuah kerajaan besar. Kerajaan Kahuripan namanya. Rajanya bernama Prabu Airlangga. Prabu Airlannga berasal dari Pulau Bali. Ia adalah seorang putra raja di Bali.
Saat usia Prabu Airlangga sudah tua, Ia ingin menjadi pertapa. Tahta Kerajaan Kahuripan akan di serahkan pada Putri Permaisurinya yang hanya seorang. Ia putri yang cantik jelita. Namanya Sanggramawijaya 
Sanggramawijaya menolak keinginan Ayahanda nya. Ia tidak punya keinginan menjadi Raja. Yang menjadi keinginan Sanggramawijaya adalah menjadi seorang pertapa. Ia lalu meminta restu ayahanda nya menjadi pertapa di Goa Selomangleng ( Di Kaki Gunung Klotok Kecamatan Mojoroto Kota Kediri). Ia pun mengubah namanya menjadi Dewi Kilisuci.

Prabu Airlangga lalu berkeinginan menyerahkan tahta kerajaan pada putranya yang berasal dari selir ( Istri tidak resmi ). Kebetulan sekali, Ia memiliki dua putra dari selir. Kedua Putranya bernama Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan. Prabu kebingungan untuk memilih salah satu yang akan di beri tahta Kerajaan Kahuripan.
Prabu Airlangga berusaha mencari jalan keluar yang adil. Ia menyuruh Empu Baradha untuk pergi ke Bali. Empu Baradha disuruh meminta tahta kerajaan milik Ayahanda Prabu Airlangga di Pulau Bali untuk salah satu putranya.
Namun, Tahta kerajaan milik ayahanda Prabu Airlangga di Bali sudah diberikan kepada adik Prabu Airlangga.
" Tahta milik Ayahanda Prabu Airlangga di Pulau Bali sudah diberikan kepada adik Prabu Airlangga yang bernama Anak Wungsu!" Lapor Empu Baradha setibanya dari Pulau Bali.
" Tak apa-apa, Bapak Empu! Terima kasih Bapak Empu sudah melaksanakan apa yang kusuruh. Sekarang bantu aku membagi Kerajaan Ini dengan adil untuk kedua putraku, Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan!"
" Baiklah, Baginda Raja! Bagaimana kalau hamba yang membagi kerajaan Kahuripan ini menjadi dua bagian yang sama besar?"
" Itu lebih baik Bapak Empu! Tapi, bagaimana caranya Bapak Empu membagi kerajaan ini menjadi dua bagian sama besar?"
" Serahkan semuanya pada hamba,Baginda Raja! Hamba yang akan mengaturnya!"
" Baiklah Bapak Empu! Kuserahkan semua persoalan ini kepada Anda!"

Keesokan harinya, Empu Baradha terbang sambil membawa Kendi ( Teko dari tanah liat ) berisi air. Dari angkasa, ia tupahkan air kendi itu sambil terbang melintas persis di tengah-tengah Kerajaan Kahuripan. Ajaibnya, Tanah yang terkena tumpahan air Kendi langsung berubah menjadi sungai. Sungai itu semakin besar dan airnya deras. Sungai itu sekarang bernama Sungai Berantas.
Kerajaan Kahuripan pun sekarang terbagi menjadi dua bagian. Batasnya adalah ciptaan Empu Baradha. Prabu Airlangga pun menyerahkan dua bagian dari Kerajaan Kahuripan itu kepada Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan.
" Bagian Kerajaan Kahuripan sebelah timur sungai aku serahkan pada Putraku Mapanji Garasakan! Kerajaan itu aku beri nama Kerajaan Jenggala, Sedangkan bagian barat sungai aku serahkan pada putraku Sri Samarawijaya. Kerajaan itu kuberi nama Kerajaan Panjalu/Kadiri ( sekarang Kota Kediri )." titah Prabu Airlangga.
Kini tentramlah hati Prabu Airlangga. Ia dengan tenang pergi dari Kerajaan Kahuripan ( Sebelum terbelah ) untuk menjadi seorang pertapa. Prabu Airlangga menjadi pertapa di Pucangan. Ia mengganti namanya menjadi Maharesi Gentayu. Ketika meninggal dunia, Jenazah Prabu Airlangga dimakamkan di lereng Gunung Penanggungan sebelah timur.

Sungai Brantas
Sungai Brantas adalah sebuah sungai di Jawa Timur yang merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo.
Sungai Brantas bermata air di Desa Sumber Brantas (Kota Batu) yang berasal dari simpanan air Gunung Arjuno, lalu mengalir ke Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto. Di Kabupaten Mojokerto sungai ini bercabang dua manjadi Kali Mas (ke arah Surabaya) dan Kali Porong (ke arah Porong, Kabupaten Sidoarjo). Kali Brantas mempunyai DAS seluas 11.800 km² atau ¼ dari luas Provinsi Jatim. Panjang sungai utama 320 km mengalir melingkari sebuah gunung berapi yang masih aktif yaitu Gunung Kelud. Curah hujan rata-rata mencapai 2.000 mm per-tahun dan dari jumlah tersebut sekitar 85% jatuh pada musim hujan. Potensi air permukaan pertahun rata-rata 12 miliar m³. Potensi yang termanfaatkan sebesar 2,6-3,0 miliar m³ per-tahun.
Sejak abad ke 8, di DAS Kali Brantas telah berdiri sebuah kerajaan dengan corak agraris, bernama Kanjuruhan. Kerajaan ini meninggalkan Candi Badut dan prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M sebagai bukti keberadaannya. Wilayah hulu DAS Kali Brantas di mana kerajaan ini berpusat memang cocok untuk pengembangan sistem pertanian sawah dengan irigasi yang teratur sehingga tidak mengherankan daerah itu menjadi salah satu pusat kekuasaan di Jawa Timur (Tanudirdjo, 1997). Sungai Brantas maupun anak-anak sungainya menjadi sumber air yang memadai. Bukti terkuat tentang adanya budaya pertanian yang ditunjang oleh pengembangan prasarana pengairan (irigasi) yang intensif ditemukan di DAS Kali Brantas, lewat Prasasti Harinjing di Pare. Ada tiga bagian prasasti yang ditemukan, yang tertua berangka tahun 726 S atau 804 M dan yang termuda bertarikh 849 S atau 927 M. Dalam prasasti ini, disebutkan pembangunan sistem irigasi (yang terdiri atas saluran dan bendung atau tanggul) yang disebut dawuhan pada anak sungai Kali Konto, yakni Kali Harinjing (Lombard, 2000).
Sungai Brantas memiliki fungsi yang sangat penting bagi Jawa Timur mengingat 60% produksi padi berasal dari areal persawahan di sepanjang aliran sungai ini. Akibat pendangkalan dan debit air yang terus menurun sungai ini tidak bisa dilayari lagi. Fungsinya kini beralih sebagai irigasi dan bahan baku air minum bagi sejumlah kota disepanjang alirannya. Adanya beberapa gunung berapi yang aktif di bagian hulu sungai, yaitu Gunung Kelud dan Gunung Semeru menyebabkan banyak material vulkanik yang mengalir ke sungai ini. Hal ini menyebabkan tingkat sedimentasi bendungan-bendungan yang ada di aliran sungai ini sangat tinggi.
Merujuk khazanah sastra periode klasik, sungai Brantas inilah yang diduga kuat disebut sebagai Ci Ronabaya dalam naskah Perjalanan Bujangga Manik.
Permasalahan pokok di DAS Kali Brantas adalah fluktuasi air permukaan yang ditandai oleh dua peristiwa: kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim hujan. Kegagalan panen dan kelaparan menjadi akibat dari kekurangan air di musim kemarau, sebaliknya di musim hujan terjadi bencana yang mengakibatkan korban harta bahkan jiwa. Selain itu, kondisi aliran air Kali Brantas juga terkendala oleh endapan sedimen yang dihasilkan letusan Gunung Kelud (+1.781). Setiap 10 hingga 15 tahun, gunung ini meletus – melontarkan abu dan batu piroklastik ke bagian tengah dari DAS Kali Brantas – yang pada akhirnya menimbulkan gangguan fluvial pada aliran air Kali Brantas (Valiant, 2005).
Pengembangan Sumberdaya Air

Pengembangan DAS Kali Brantas dengan pendekatan «modern» dimulai sejak 1961 berlandaskan prinsip «satu sungai, satu rencana, satu manajemen terpadu» yang dilaksanakan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kebijaksanaan pemerintah dari waktu ke waktu. 
LEGENDA TOMBAK IBU RATU KIDUL

LEGENDA TOMBAK IBU RATU KIDUL

10:01 0
Legenda Tombak Ibu Ratu Kidul
Menyelusuri sejarah secara detail memang sangatlah sulit untuk kita kaji, disamping perbedaan zaman yang kita alami saat ini jauh tertinggal dengan zaman mereka, namun secara maknawi, tidak semua sejarah musnah begitu saja dan tanpa bisa dibuktikan, karena fakta disini akan mengupasnya. Bercerita tentang tokoh yang satu ini sampai kapanpun terus menjadi prokontra kalayak rame, suatu mithos dan kenyataan sejarah, akan terus mewarnai pemahaman orang-orang yang belum paham sejatinya siapa Ibu Ratu Pantai Selatan, sesungguhnya. Mereka saling membenarkan pendapatnya masing-masing dengan mengatas namakan keluarga atau silsilah garis keturunannya. Wal hasil, dalam pemahaman sesungguhnya mereka masih dalam tarap katanya, inilah kisah selengkapnya yang disarikan dalam kitan kuno. Terboekanja Puelo Djawa / terbukanya pulau Jawa, karangan Habib Syeikh Muhammad Idrus, ditulis pada tahun 1845, yang dinukil dari Nabiyullah Hidir AS. Kisah perempuan yang semasa hidupnya ngahyang / raib, bermula dari Istri Nabiyullah Sulaiman AS, yang bernama Ratu Bilqis, setelah suaminya wafat kehadirat Allah SWT. Beliau ngahyang karena cintanya yang begitu besar terhadap suaminya, namun Allah berkehendak lain, beliau akhirnya ditempatkan menjadi ratu laut selatan dibawah perintah Nabiyullah Hidir AS, yang mengepalai seluruh Abdul Jumud, Ahmar, Abyad, Qorin dan Junu, di wilayah Timur Tengah. Juga Nyimas Ayu Nilam, atau Kencana wungu, atau Dewi Sekar Wangi atau Dewi Nawang Wulan, istri Jaka Tarub, yang kini menjadi ratu pantai selatan, bagian Cilacap. Siti Aisah atau Dewi Pembanyun atau Nyimas Rara Ayu, Pokeshi, keturunan Demak, yang ibunya dinikahi oleh Prabu Siliwangi, beliau pada akhirnya ngahyang dan menjadi Ratu Pantai Selatan, bagian Demak Yogyakarta dan Solo. Dewi Nawang dan Nawang Sari, putri dari Prabu Siliwangi yang menikah dengan Ratu Palaga Inggris, beliau juga ngahyang dan menjadi penguasa pantai selatan, setelah kerajaan ayahandanya raib akibat ditanam Lidi Lanang. Dewi Sekar Sari atau Dewi Andini, salah satu putri Dewi Nawang Wulan, beliau sejak lahir telah menempati salah satu wilayah pantai selatan, yang menguasai Abdul Jumud dan Ahmar, bagian Sukabumi, Garut dan sekitarnya. Dalam hal ini Misteri tidak membedarkan secara detail tentang sejati diri mereka, namun hanya menceritakan perjalanan 7 tombak yang pernah menjadi bagian dari hidup Dewi Nawang Wulan, putri dari Prabu Siliwangi, yang kini telah diwariskan pada manusia bumi. Secara rinci 7 tombak yang dimaksud dalam kisah kali ini punya nama dan gelar sebagai berikut :
Tombak Cakra Langit, bergelar, Tombak Kesyahidan. Motif, lurus dengan kinatah emas murni berbentuk jangkar melingkar, ditengah badan menjulang empat tombak kecil melingkari kepala, dengan kinatah berlian red diamond memutar. Tombak ini diberikan kepada Kanjeng Suanan KaliJaga, untuk melawan kesaktian Prabu Siliwangi, atas perintah Prabu Panatagama Tajuddin Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dalam penyebaran agama Islam, dan tombak ini sebagai cindra mata perkawinannya Dewi Nawang Wulan, dengan Sunan KaliJaga. Silsilah tombak Cakra Langit, akhirnya turun temurun diwariskan kepada ahlul Khosois, diantaranya, Quthbul Abdal, Syeikh Malaka Tajuddin, Makassar, Quthbul Muqoiyyad, Syeikh Hasyim bin Asy’ari, Aceh, yang diturunkan kepada muridnya Ahmad Suyuti bin Jamal, Kalimantan, Quthbul Autad Min Zumhur Ulama, Ki Tholkha Kalisapu, Mbah Hamid, KiPanjul dan kini berada ditangan Min ahlillah Qurbatul Wilayah Syareatul Khotam, namun sayang tidak boleh dipublikasikan.
Tombak Punjul Wilayah, bergelar, tombak Antakusuma. Tombak ini diberikan kepada putrinya Andini, sebagai lambang dari tahta istananya yang dikemudian hari diberikan kepada suaminya Dampu Awuk, gunung Sembung. Lalu diturunkan kepada putrandannya yang bernama, Raden Sa’id atau pangeran LungBenda Jaya Negara. Dari Raden Sa’id, akhirnya berpindah tangan karena dicuri oleh segerombolan aliran hitam yang mengatas namakan perguruan “Kijang Kencana” yang dikepalai oleh murid sakti Pangeran Ambusana, Weleri Jawa Tengah. Baru setelah 20 tahun ditangannya, tombal Punjul akhirnya dimiliki seorang pertapa sakti Buyut Ajigung Ajiguna, setelah adu kesaktian. Kisah tombak ini turun temurun dijaga oleh sebagian bangsa Hindu dan pada akhirnya raib dihutan Banyuwangi Jawa Timur, dan baru setelah seorang Waliyullah kamil, Mbah Hafidz, yang berasal dari Timur Tengah, menduduki wilayah tersebut, akhirnya tombak Punjuk Wilayah, tetap terjaga. Kini tombak Punjul, masih dijaga oleh muridnya yang bernama Ki Panjalu Pati Jawa Tengah. Bentuk tombak Punjul Wilayah. Motif lurus, urat air hujan (Majapahit) warna hitam kebiruan, dengan lima ujung mata tombak mengarah kedepan. Tombak ini sudah dirombak dari bentuk aslinya oleh Mbah Hafidz, sebagai suatu pengelabuan dimasa yang akan datang agar tidak disalah gunakan.
Tombak Panatagama, bergelar, Raja Maemun. Pemberian dari Sulthonul Jin Maemun Indramayu. Motif tiga cabang tombak kedepan, urat besi aji meteor legam, hitam bersisik tanpa pamor, dihiasi 7 batu merah delima, 3 zamrud Colombia dan 4 shapire Srilangka serta 11 batu biduri air. Silsilah tombak ini Misteri hanya kedapatan 4 orang dan lainnya tidak diketahui, yaitu, Syeikh Abdullah Al-Fanani Min Rijalullah, Syeikh Qosim Al-Jawi, Syeikh Mudaim, dan Ki Toha Tegal Gubug.
Tombak Cemeti Rosul, bergelar Tombak Alam Jagat Raya. Tombak ini bermula dari pemberian Rosulullah, berupa cemetipanjang (Besi panjang) yang diberikan kepada Nabiyullah Hidir AS, sewaktu dibaiat Maqomul A’dzom, di alamus Sama tingkat enam, yang kemudian diberikan kepada Dewi Nawang Wulan, sewaktu dibaiat Syahadatiyyah oleh Ahli Rijal bangsa Rububiyyah ahlul Barri. Lewat mandat Dewi Nawang Wulan, bahan tadi dibentuk oleh abdi dalem, Empu Jalaga Widesa, berupa tombak mata satu dengan urat bumi yang sangat indah. Baru disaat kota Cirebon diserang oleh pasukan tamtama Lewmunding, Tombak ini diserahkan kepada Syeikh Magelung Sakti, sebagai benteng pertahanan paling kuat kota Pesisir. Lalu tujuh tahun setelah itu, tombak tadi diserahkan kepada Andika Syeikh Muhyi Pamijahan, atas ilafat Syeikh Sanusi goa gunung Mujarrob, yang menyatakan sudah waktunya berpindah tempat. Dari Syeikh Sanusi, Tombak Cemeti Rosul, akhirnya dirubah bentuk menjadi sebatang keris Budho madya kuno dengan urat alami jagat raya yang selalu menitikkan air disela uratnya, cara perubahan keris ini menurut pandangan Syeikh sanusi, sebagai lambang penyatuan antara Islam dan Kejawen yang diajarkan bangsa Waliyullah, pada masa itu. Sarung kerisnya dibuat dari kayu Kaukah, dengan dihiasi 21 batu merah delima, 41 zamrud Colombia, 17 shapire Birna, 70 berlian putih, dan 4 pink shapire srilangka. Pada tahun 1961, keris ini diberikan kepada Habib Muhammad bin Khudhori, Magelang, atas hawatif yang diterimanya untuk mengambil secara langsung didalam goa gunung Mujarrob, Tasikmalaya Jawa Barat. Dan pada tahun 1998, sebelum beliau wafat, keris ini diberikan kepada Habib Syeikh Arba’atul ‘Amadu, atas mandat langsung dari Syeikh Sanusi. Kelebihan dari wujud keris ini tidak bisa di foto dengan kamera digital maupun otomatis lainnya. Kini Keris Cemeti Rosul, sedang dipinjam oleh Ahlullah Quthbul Muthlak Habib Ali bin Ja’far Alawi, Arab Saudi.
Tombak Karara Reksa, bergelar, Tombak Derajat. Motif bergerigi dengan cabang berantai lebih dari sepuluh. Warna putih gading dengan bentuk tumpul, memancarkan cahaya putih kehitaman. Tombak ini hasil riyadho Dewi Nawang Wulan Sendiri, sewaktu masih menjadi murid Ki Ageng Surya Pangeran Kuncung Anggah Buana (Ki Buyut Trusmi) Bahan yang dimilik tombak ini berasal dari kembang pinang yang sudah membatu. Kisah tombak Karara Reksa, selalu muncul sewaktu-waktu disaat menjelang pemilihan president, dan kini tombak tersebut masih terpelihara dialam istana ghoib laut selatan.
Tombak Karara Mulya, bergelar, Tombak Mangku Mulyo. Tombak ini tidak diketahui pembuatnya, hanya saja setelah dipegang Dewi Nawang Wulan, tombak ini dihadiahkan atas perkawinan putrinya yang bernama, Nyimas Anting Retno Wulan, untuk suaminya Pangeran Jaladara, putra Kyai Ageng Bintaro Kejuden. Dari Pangeran Jaladara, diturunkan kepada putranya, Pangeran Seto Bulakamba, dan kemudian diwariskan pada gurunya Ki Alam Jagat Bumi, Banten, lalu turun temurun diberikan kepada Syeikh Asnawi Banten, Syeikh Masduki Lasem, Syeikh Samber Nyawa Purwodadi, Mbah Hafidz Banyuwangi dan yang terakhir kepada Habib Husein bin Umar bin Yahya Pekalongan. Asli dari bentuk tombak Karara Mulya, disetiap ujung sampai pangkal bawah berjeruji sangat tajam seperti mata kail pancing, namun demi menjaga kelestarian dari keberadaan tombak fenomenal ini akhirnyaHabib Husein, merombaknya seperti yang anda lihat saat ini.
Tombak Tulungagung, bergelar Tombak Sapta Jati. Tombak ini diwariskan secara langsung dari tangan Dewi Nawang Wulan, sebagai tanda terima kasihnya, atas keluhuran derajat Habib Husein, yang mau menyelamatkan bumi Pekalongan, dari amukan tsunami hingga tidak sampai terjadi. Kisah ini terjadi pada tahun 1998, bulan Pebruari, tepatnya selasa kliwon. Kini tombak tersebut dirubah sedikit dari bentuk semula yang aslinya seperti segi tiga menjadi tombak lurus dengan pahatan panel bunga. Dan sebagai pengantar terakhir dari Misteri. Kisah ini sudah dapat restu dari beberapa orang terkait kecuali Habib Husein bin Umar, karena beliau kini sudah (Alm).

Semoga dengan pembedaran kisah 7 tombak fenomenal yang barusan Misteri bedarkan, menjadikan kita sadar diri dengan apa yang selama ini banyak kita dengar. Karena apapun benda bertuah kelas wahid, tidak bakal jatuh pada manusia yang masih memegang, katanya, dan aku-aku sebagai pedoman hidup. wallahualam bishshawab
sumber blog jurukunci. / wisbenbae