Showing posts with label LAIN-LAIN. Show all posts
Showing posts with label LAIN-LAIN. Show all posts
10 permainan tradisinoal indonesia

10 permainan tradisinoal indonesia

07:00 0
10 permainan tradisinoal indonesia
1. Permainan Benteng (gobak sodor)
adalah permainan yang dimainkan oleh dua grup, masing - masing terdiri dari 4 sampai dengan 8 orang. Masing - masing grup memilih suatu tempat sebagai markas, biasanya sebuah tiang, batu atau pilar sebagai 'benteng'.
Tujuan utama permainan ini adalah untuk menyerang dan mengambil alih 'benteng' lawan dengan menyentuh tiang atau pilar yang telah dipilih oleh lawan dan meneriakkan kata benteng. Kemenangan juga bisa diraih dengan 'menawan' seluruh anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi 'penawan' dan yang 'tertawan' ditentukan dari waktu terakhir saat si 'penawan' atau 'tertawan' menyentuh 'benteng' mereka masing - masing.
2. Congklak
Congklak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan.
Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji congklak atau buah congklak. Umumnya papan congklak terbuat dari kayu dan plastik, sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan congklak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain.
Pada awal permainan setiap lobang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain yang berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih lobang yang akan diambil dan meletakkan satu ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya. Bila biji habis di lobang kecil yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan mengisi, bisa habis di lobang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan memilih lobang kecil di sisinya. bila habis di lubang kecil di sisinya maka ia berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di lobang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa.
Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat dimabil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak.
3. Dor Tap
Dor Tap merupakan permainan yang mirip dengan Petak Umpet namun dimainkan oleh 2 kelompok. Kelompok yang lebih dulu berhasil menyebut nama lawan yang bersembunyi dapat diartikan bahwa lawan tersebut terkena tembakan. Permainan berakhir jika salah satu kelompok sudah habis tertembak.
4. Galah Asin
Galah Asin atau di daerah lain disebut Galasin atau Gobak Sodor adalah sejenis permainan daerah dari Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 - 5 orang. Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.
Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segiempat dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur. Anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas.
Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.
5.Gasing
Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Selain merupakan mainan anak-anak dan orang dewasa, gasing juga digunakan untuk berjudi dan ramalan nasib.
Sebagian besar gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari plastik, atau bahan-bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian badan gasing. Tali gasing umumnya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Panjang tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.
6. Kasti
Kasti atau Gebokan merupakan sejenis olahraga bola. Permainan yang dilakukan 2 kelompok ini menggunakan bola tenis sebagai alat untuk menembak lawan dan tumpukan batu untuk disusun. Siapapun yang berhasil menumpuk batu tersebut dengan cepat tanpa terkena pukulan bola adalah kelompok yang memenangkan permainan. Pada awal permainan, ditentukan dahulu kelompok mana yang akan menjadi penjaga awal dan kelompok yang dikejar dengan suit.
Kelompok yang menjadi penjaga harus segera menangkap bola secepatnya setelah tumpukan batu rubuh oleh kelompok yang dikejar. Apabila bola berhasil menyentuh lawan, maka kelompok yang anggotanya tersentuh bola menjadi penjaga tumpukan batu. Kerjasama antaranggota kelompok sangat dibutuhkan seperti halnya olahraga softball atau baseball.
7. Layang-layang
Permainan layang-layang, juga dikenali dengan nama wau merupakan satu aktivititas menerbangkan layang-layang tersebut di udara. Pada musim kemarau di Indonesia anak-anak selalu bermain layang-layang karena anginnya besar.
8. Petak Umpet
Dimulai dengan Hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi "kucing" (berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi). Si kucing ini nantinya akan memejamkan mata atau berbalik sambil berhitung sampai 25, biasanya dia menghadap tembok, pohon atau apasaja supaya dia tidak melihat teman-temannya bergerak untuk bersembunyi. Setelah hitungan sepuluh, mulailah ia beraksi mencari teman-temannya tersebut.
Jika ia menemukan temannya, ia akan menyebut nama temannya yang dia temukan tersebut. Yang seru adalah, ketika ia mencari ia biasanya harus meninggalkan tempatnya (base?). Tempat tersebut jika disentuh oleh teman lainnya yang bersembunyi maka batallah semua teman-teman yang ditemukan, artinya ia harus mengulang lagi, di mana-teman-teman yang sudah ketemu dibebaskan dan akan bersembunyi lagi. Lalu si kucing akan menghitung dan mencari lagi.
Permainan selesai setelah semua teman ditemukan. Dan yang pertama ditemukanlah yang menjadi kucing berikutnya.
Ada satu istilah lagi dalam permainan ini, yaitu 'kebakaran' yang dimaksud di sini adalah bila teman kucing yang bersembunyi ketahuan oleh si kucing disebabkan diberitahu oleh teman kucing yang telah ditemukan lebih dulu dari persembunyiannya.
9. Yo-yo
Yo-yo adalah suatu permainan yang tersusun dari dua cakram berukuran sama (biasanya terbuat dari plastik, kayu, atau logam) yang dihubungkan dengan suatu sumbu, di mana tergulung tali yang digunakan. Satu ujung tali terikat pada sumbu, sedangkan satu ujung lainnya bebas dan biasanya diberi kaitan. Permainan yo-yo adalah salah satu permainan yang populer di banyak bagian dunia. Walaupun secara umum dianggap permainan anak-anak, tidak sedikit orang dewasa yang memiliki kemampuan profesional dalam memainkan yo-yo.
Yo-yo dimainkan dengan dengan mengaitkan ujung bebas tali pada jari tengah, memegang yo-yo, dan melemparkannya ke bawah dengan gerakan yang mulus. Sewaktu tali terulur pada sumbu, efek giroskopik akan terjadi, yang memberikan waktu untuk melakukan beberapa gerakan. Dengan menggerakkan pergelangan tangan, yo-yo dapat dikembalikan ke tangan pemain, di mana tali akan kembali tergulung dalam celah sumbu.
10.Balap Karung
Balap karung adalah salah satu lomba tradisional yang populer pada hari kemerdekaan Indonesia. Sejumlah peserta diwajibkan memasukkan bagian bawah badannya ke dalam karung kemudian berlomba sampai ke garis akhir.
Taman Sari Jogjakarta

Taman Sari Jogjakarta

07:35 0

Taman Sari Jogjakarta mempunyai Paduraksa / Gapura .Gapura biasanya ada pada candi dan Kori Agung di kompleks Keraton Jawa dan Bali.
Paduraksa adalah pintu gerbang memasuki halaman atau ruangan yang lain sebagai akses penghubung.
Paduraksa berasal dari arsitektur Hindu Budha Nusantara.
Taman Sari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, di bangun jaman Sultan Hamengku Buwono I 1758-1769 ( Babad Mangkubumi)
Arsitekturnya bergaya Portugal dan Jawa, Perpaduan yang sangat indah.
Taman Sari Keraton Jogjakarta tempat pemandian Sultan dan Permaisuri juga para Selir ,beserta putri-putrinya.
Tidak boleh sembarangan orang boleh masuk karena tempat ini khusus untuk Keluarga Sultan.
Di dalamnya terdapat Lorong Bawah Tanah yaitu Sumur Gumuling.
Pembangunan Taman Sari di pimpin Bupati Madiun Rangga Prawira Sentolo ( Tumenggung Mangundipuro) tertulis dalam Babad Memanas dan Serat Reregan.
Kunjungan Bujangga Manik di Daerah Malang

Kunjungan Bujangga Manik di Daerah Malang

07:30 0
Kunjungan Bujangga Manik di Daerah Malang
Naskah Bujangga Manik merupakan salah satu naskah kuna berbahasa Sunda dan ditulis mungkin sekitar akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1500-an. Naskah ini ditulis pada daun nipah, dalam puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata, dan saat ini disimpan di Perpustakaan Bodley di Universitas Oxford sejak tahun 1627. Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata. Bujangga Manik menggambarkan geografi dan topografi Pulau Jawa pada saat naskah dibuat dan menyebutkan 450 nama tempat, gunung, dan sungai di dalamnya. Sebagian besar dari nama-nama tempat tersebut masih digunakan atau dikenali sampai sekarang.
Pada perjalanannya ke arah timur ia melewati sebelah utara Gunung Mahameru, dan setelah mencapai Gunung Brahma, ia mengunjungi (11. 816-823) Kadiran, Tandes, Ranobawa dan Dingding. Dalam Tantu Panggelaran nama tersebut adalah patapan Tandes (TP 72, 90, 122) dan Ranubhawa (TP 70). Berikut penuturan Bujangga Manik ketika melewati daerah Malang dan sekitarnya.
Sadatang ka Pali(n)tahan, samu(ng)kur ti Majapahit, na(n)jak ka gunung Pawitra, rabut gunung Gajah Mu(ng)kur.
[Setiba di Palintahan, setelah meninggalkan Majapahit, aku mendaki Gunung Pawitra, gunung suci Gajah Mungkur]

Ti ke(n)ca na alas Gresik, ti kidul gunung Rajuna
[Ke arah timur adalah wilayah Gresik, ke arah selatan Gunung Arjuna]

Ku ngaing geus kaleu(m)pangan, ngalalar ka Patukangan, datang ka Rabut Wahangan, leu(m)pang aing nyangwetankeun.
[Telah kulalui, aku berjalan melewati Patukangan, dan tiba di Rabut Wahangan, berjalan ke arah timur]

La(m)bung Gunung Mahameru, disorang kalereunana. Datang ka Gunung B(e)rahma, datang aing ka Kadiran, ka Tandes ka Ranobawa.
[Lereng Gunung Mahameru, aku melewatinya di sisi sebelah utara. Sampai di Gunung Brahma, tibalah aku di Kadiran, di Tandes, di Ranobawa]

Leu(m)pang aing ngaler-ngetan. Sacu(n)duk aing ka Dingding, eta hulu dewaguru.
[Berjalanlah aku ke timurlaut. Tibalah aku di Dingding, pusat kedudukan dewaguru]

Samu(ng)kur aing ti (i)nya, datang ka Panca Nagara.
[Sepergi dari tempat itu, tibalah di Panca Nagara]

Pada perjalanannya kembali ke barat ia melewati daerah selatan Gunung Mahameru dan melalui berturut-turut Pacira, Ranobawa, Kayu Taji, Kukub, Kasturi, Sagara Dalem dan Kagënëngan, kemudian tiba di Gunung Kawi (11. 1039-1049). Berikut uraian selanjutnya menurut Bujangga Manik:
Sacu(n)duk aing ka Cakru, sadiri aing / ti inya, /19r/ leu(m)pang aing maratngidul, datang ka lurah Kenep, cu(n)duk ka Lamajang Kidul, ngalalar ka Gunung Hiang, datang a(ing) ka Padra.
[Setelah aku tiba di Cakru, beranjak dari tempat itu, aku berjalan ke baratdaya, pergi ke wilayah Kenep, tiba di Lamajang Kidul, melewati Gunung Hiang, datang ke Padra]

La(m)bung Gunung Mahameru disorang kiduleunana.
[Lereng Gunung Mahameru, aku lewati dari sisi selatan]

Sadatang ka Ranobawa, ngalalar ka Kayu Taji.
[Setelah datang ke Ranobawa, berjalan melewati Kayu Taji]

Samu(ng)kur aing ti inya, sacu(n)duk aing ka Kukub, datang aing ka Kasturi, cu(n)duk ka Sagara Dalem, ngalalar ka Kagenengan, sumengka ka Gunung Kawi, disorang kiduleunana.
[Setelah berangkat dari sana, tibalah aku di Kukub, aku pergi ke Kasturi, tiba di Sagara Dalem, berjalan melalui Kagenengan, mendaki Gunung Kawi, yang kulewati dari sisi selatan]

Sadatang ka Pamijahan, leu(m)pang aing ka baratkeun, ngalalar ka Gunung Anyar, cu(n)duk aing ka Daliring.
[Setiba ke Pamijahan, aku berjalan ke arah barat, melewati Gunung Anyar, tibalah aku di Daliring]

Sadatang ka Gunung Ka(m)pud, datang ka Rabut Pasajen. Eta hulu Rabut Palah, kabuyutan Majapahit, nu dise(m)bah ku na Jawa.
[Sesampai di Gunung Kampud, aku datang ke Rabut Pasajen. Tempat ini dataran tinggi Rabut Palah, tempat suci Majapahit, yang dimuliakan oleh orang Jawa]

Pacira adalah sebuah kategan (Tantu Panggelaran 69, 70) atau katyagan (Nagarakertagama 78:7 c), yang dalam pandangan Bujangga Manik rute itu mungkin terletak di sebelah timur Gunung Mahameru, mungkin sekarang tidak jauh dari Candipura dekat Pasirian. Kayu Taji adalah sebuah patapan (TP 70) dan Kukub adalah sebuah mandala (TP 90, 91, 94, 98, 99,. Nag 78:7 a). Keduanya terletak di dekat Gunung Mahameru tetapi letak pastinya kurang jelas. Bila merunut rute yang dilalui Bujangga Manik mungkin di sisi selatan atau barat dari Gunung Semeru. Hal itu berarti bahwa pusat keagamaan Kukub yang memainkan peran dalam Kidung Panji Margasmara terletak di selatan agak timur dari Singosari dan tidak di wilayah Gunung Hyang.
Kasturi terdaftar sebagai sebuah mandala di Nagarakertagama, dan di bagian lain disebutkan bersama-sama dengan Kukub dan Sagara sebagai kelompok tiga mandala dekat Gunung Mahameru. Sagara dalam Nagarakertagama mungkin dapat disamakan dengan Sagara Dalem menurut Bujangga Manik, yang harus ditempatkan di antara Gunung Mahameru dan Kagënëngan. Sagara adalah sebuah dharma (Nag 40, 73) yang letaknya tidak jauh di selatan Kota Malang. Sagara Dalem ini berbeda dengan mandala terkenal Sagara di Gunung Hyang, yang pernah dikunjungi oleh Hayam Wuruk (Nag. 32) dan disebutkan juga di Prasasti Batur dan Tantu Panggelaran (TP 114-115).
Di antara Gunung Kawi dan Gunung Kampud (sekarang: Kelud) Bujangga Manik melewati Gunung Anar (11. 1049-1055), yang mengingatkan kita pada catatan Pararaton bahwa pada tahun 1376 “hana gunung Anar“, ada (munculnya) sebuah gunung baru (Par. 29:34). Gunung Kelud merupakan vulkanik, sangat mungkin bahwa bukit baru yang telah terwujud itu adalah Gunung Anar yang dimaksud dalam catatan Pararaton.
Itulah catatan Bujangga Manik di sekitar Bromo dan Semeru. Dalam perjalanan pulang, Bujangga Manik melewati dan menyebutkan lagi beberapa nama tempat di atas. Beberapa nama tempat masih dapat dikenali sekarang, seperti Kagenengan, Sagara Dalem, Gajah Mungkur, Mahameru, Brahma. Beberapa nama tempat lainnya sudah tidak dikenali lagi sekarang, seperti Kayu Taji, Kukub dan Kasturi. Beberapa nama tempat lainnya dapat ditelusuri dengan membuat perbandingan dengan naskah-naskah lain seperti Nagarakretagama, Tantu Panggelaran, Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, Aji Saka, dan lain-lainnya.
Nama Sagara Dalem dalam uraian kisah perjalanan Bujangga Manik ini terletak di antara Gunung Mahameru (Semeru) dan Kagenengan yang berada di sebelah barat Gunung Semeru. Rupanya nama Sagara Dalem dapat ditemukan kembali sebagai nama Dukuh Segaran yang terletak di Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Di dukuh ini pernah ditemukan benda arkeologi yang berupa batu bata kuno di Punden Mbah Cengkaruk. Selain itu tak jauh dari Dukuh Segaran, kurang lebih 400 m ke selatan yaitu di Dukuh Watudakon terdapat sekumpulan batu candi yang mirip seperti permainan dakon, yang kemungkinan pada masa lampau digunakan sebagai sarana ritual keagamaan tertentu, kemungkinan juga sebagai alat untuk menghitung hari (pertanggalan).
Setelah melewati Sagara Dalem, Bujangga Manik melanjutkan perjalanan menuju Kagenengan. Nama Kagenengan pada saat ini diduga merupakan nama Desa Genengan yang terletak di sebelah barat Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Atau ada kemungkinan lain adalah Dukuh Kagenengan di Desa Parangargo, Kecamatan Wagir. Kagenengan pada masa lampau merupakan tempat suatu kelompok komunitas keagamaan. Dalam uraian Kitab Nagarakrtagama disebutkan bahwa Kagenengan merupakan sebuah pendharmaan dari Raja Rajasa (Ken Angrok). Berikut uraian dalam Negarakertagama: “…..krama subhakala sah nira ri singhasari mangidul mare kagenengan, humaturaken kabhaktini bhatara dharmma sawatekwatek nira tumut…” (Pada hari baik Baginda berangkat dari Singhasari ke selatan menuju Kagenengan, melakukan sembah bakti sujud pada Bhatara Dharma (leluhur) bersama seluruh pengiringnya…”).
Selanjutnya disebutkan bahwa Rajasa (Ken Angrok) pada tahun 1149 Saka (1227 Masehi) meninggal dan diabadikan di Kagenengan berwujud Siwa Buddha (….ring saka syabdhi rudra krama kalahanira mantukang swargga loka, kyating rat sang dhidharmma dwaya ring kagenengan sewa boddhengusana). Di bagian lain dikatakan bahwa Kagenengan merupakan tempat pendharmaan yang harus dijaga dan dicatat agar tidak timbul perselisihan pada keturunan Hayam Wuruk. Disebutkan: “….keh nikanang sudharma haji kaprakasita makadi ring kagenengan ….” (…..jumlah candi-candi makam raja tersebut yang pertama di Kagenengan…..). Selain itu di dalam Prasasti Mula-Malurung lempeng IIb disebutkan tentang pendharmaan kakek Wisnuwardhana yang terletak di Kagenengan (…makaswa rupan wisnwarccha nankane sang hyan dharmme kagnenan….).
Di Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji pernah ditemukan tinggalan arkeologi berupa lingga dari batu andesit. Sedangkan di Dukuh Kagenengan di Desa Parangargo, Kecamatan Wagir, di tanah sebelah selatan terdapat sebidang tanah tinggi yang diapit oleh dua sungai/jurang (Sokan) terdapat pecahan batu bata berukuran besar, fragmen batu, dan lingga kecil. Selain itu di Sokan juga ditemukan arca, guci dan sebuah prasasti batu, namun keberadaannya sekarang tidak diketahui lagi. .
Sumber:
Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca
Alih Bahasa Prasasti Dinoyo II, oleh Soewardono

Alih Bahasa Prasasti Dinoyo II, oleh Soewardono

17:48 1
Alih Bahasa Prasasti Dinoyo II, oleh Soewardono

1. //*/ semoga bahagia//selamat tahun saka telah berjalan 773, bulan magha1, hari Was (paringkelan 6 hari), Umanis (pasaran 5 hari), Kamis (pekan 7 hari)2,

2. kedudukan planet di selatan, tanggal 8 śuklapakṣa3, pada waktu itu dang hwan4 sang penderma yaitu sang hiwil dari hujung5 membatasi sima6 (berupa) sawah yang diwariskan kepada dang hyang guru

3. candik. Sawah ( telah) diteliti(…..…) (dengan) saksi dalam hal ini (yaitu) wadwa7 (dari) sang pamget8 (bernama) dila, tuhan9 sang air paku10, tuha

4. n dari manapal11 (bernama) sang nawa, a(………..)n (bernama) sa(..)ma, bersama-sama dengan tuhan di kabhalan12, tuhan dari wadwarare13 (bernama) sang garasah, wa

5. huta14 (dari) sang panghunjangan15, mangha(mbin)16 (bernama) sa(……) mpu(………) sa(………….)ndi raman17 (yang) berdagang pada raman

6. kandal dengan berbagai tha(……) (itulah) yang menjadi saksi dalam membatasi sima//

7. //Selamat tahun saka telah berjalan 82(0) bulan srawana, tanggal 8 śuklapakṣa, hari Mawulu (paringkelan), Umanis, Ahad, kedudukan planet di tenggara.

8. pada waktu itu dang hwan (bernama) a(…)sa dari hujung memberikan (kembali) sawah (untuk) dijadikan sima (dan) diteliti bersama dengan saksi dalam hal ini(yaitu) wadwa pamge

9. t. (juga saksi) yang ikut membatasi (sima) adalah kanayakan18, (yaitu) rake manayu(ti) (bernama) mahandana, rake pamrattan, tuhan wadwarare, sang pangu

10. ran19, tuha dari kalula20 (bernama) hawikan, tuhan dari lampuran21, rake kalimunnan, citralekha22 (bernama) sang kresna, panghunjanga

11. n (……) manwa di (…….) wan(..) langwu (..) dengan wahuta yang winkas wkas23, (pa)tih24 (dari) raman srasti,

12. manghambin (..) tuha sa(…..)nu (dari) kahyunnan25 (bernama) si sumul, tuha wanwa26 (bernama) drahma, (juga) saksi

13. sang watang kras27 (bernama) wel-wel ayahnya (…….), (pa)tih (dari) tuha (….) pada waktu itu (……), (paru)jar28 (dari) dama

14. n29 (bernama) pu dipa, wariga30 (bernama) si malat, panurattan31 (dari) dang mpu hyang wrati32, ka(..)ri la(….)man
15. manggala33 dari raman wanglus dang(……..) surawa, hulu wa( ), demikian (pula) tetua desa
16. kandal// semoga selalu diberkahi//.

Catatan Terjemahan:
1) Bulan magha merupakan bulan yang ke sebelas dari perhitungan tahun saka. Urut-urutan bulan tersebut adalah: 1. Caitra, 2. Waisāka, 3. Jyesta, 4. Āsādha, 5. Srawana, 6. Bhadrawāda, 7. Asuji, 8. Kārtika, 9. Mārgasira, 10. Posya, 11. Māgha, dan 12. Phālguna (Casparis, 1978 :48).

2) Damais (1955 :252-253) membagi wara ini menjadi tiga yang dikenal diberbagai prasasti, yaitu Saptawara (7 hari) terdiri dari A=aditya, SO=soma, ANG=anggara, BU=budha, WR=wrhaspati, SU=sukra, SA= sanaiscara. Sadwara (6 hari) terdiri dari TU=tunglai, HA=hariyang, WU=wurukung, PA=paniruan, WA=was, MA=mawulu. Pancawara (5 hari) terdiri dari PA=pahing, PO=pon, WA=wagai, KA=kaliwuan, U=umanis

3) Pada masa Jawa kuna, perhitungan bulan dibagi menjadi 2 paksa. Suklapaksa (paro terang) adalah perhitungaan bulan mulai tanggal 1 s.d 15. Sedang tanggal 16 s.d 30 disebut krsnapaksa (paro gelap) (Zoetmulder, 2004 :1263 ; Mardiwarsito, 1986:607; Prawirasuganda,1951: 67-68).

4) Dang Hwan menurut kata asal adalah ‘dang’ yaitu sebutan bagi orang yang lebih dihormati (Mardiwarsito, 1986 :166-167 ; Zoetmulder, 2004 :194), dan ‘hwan’ yang artinya penggembala (Mardiwarsito, 1986 :228 ; Zoetmulder, 2004 :373). Sehingga diartikan ‘yang terhormat sang penggembala’. Mungkin di sini yang dimaksud adalah orang yang kaya akan binatang ternak.

5) Hujung sering disebut-sebut dalam prasasti-prasasti di Jawa Timur abad IX-X M. Merupakan wilayah watak kekuasaan rakryan Hujung.

6) Sima adalah sebidang tanah (sawah, desa, dan sejenisnya yang bebas dari pajak dan kewajiban-kewajiban lainnya ) (Mardiwarsito, 1986 :530; Zoetmulder, 2004 :1092). Biasanya diberikan oleh raja kepada seorang pejabat atau penduduk desa, atau untuk kepentingan suatu bangunan suci (Nastiti, 1982 :42).

7) Wadwa artinya bawahan atau anak buah (Mardiwarsito, 1986 :652 ; Zoetmulder, 2004 :1365 ; Wojosasito, 1977 :292).

8) Pamget asal katanya adalah pegat yang artinya putus (Mardiwarsito, 1986 :417 ; Zoetmulder, 2004 :801 ; Wojosasito, 1977 :198). Secara harfiah berarti orang yang memberi keputusan/ketetapan. Jabatan pamgat peranannya lebih kepada hal-hal yang bersifat keagamaan, hukum, dan sejenisnya (Trigangga, 2003 :37).

9) Tuhan artinya tuan, majikan, penguasa, orang yang berwenang ((Mardiwarsito, 1986 :614 ; Zoetmulder, 2004 :1282). Casparis (1956 :226-228), lebih memperjelas bahwa tuhan adalah pemimpin kelompok dari para pembantu rendahan di lingkungan rakai atau pamegat.

10) Airpaku berasal dari kata air dan paku/penetapan (Mardiwarsito, 1986 :390). Tetapi apa tugas dan kewajibannya belum jelas. Mungkin petugas yang menetapkan/menentukan air suci sebagai sarana upacara.

11) Tuhan ning Manapal artinya pejabat yang mengurusi para penari/pemain topeng. Akar katanya adalah Tapel yang artinya topeng (Mardiwarsito, 1986 :586; Zoetmulder, 2004 :1212).

12) Tuhan ni Kabhalan artinya pejabat di Kabhalan. Nama Kabhalan tersebut juga di prasasti Pamotoh 1198M, prasasti Waringin Pitu 1447M, serta Pararaton 1631M. Pada ketiga sumber tersebut ditulis ‘Kabalan’. Di daerah Cemorokandang kota Malang, sampai sekarang terdapat dukuh kuno bernama Kabalon.

13) Wadwarare adalah pasukan yang terdiri dari para pemuda (Mardiwarsito, 1986 :652).

14) Wahuta adalah gelar jabatan (Mardiwarsito, 1986 :653; Zoetmulder, 2004 :1368). Tapi apa tugasnya belum diketahui. Mengingat namanya sering diikuti oleh titel seseorang (wahuta dari ……), diduga ia adalah pembantu pelaksana.

15) Tidak diketahui apa peranan sang Panghunjańan. Dalam prasasti Gulung-gulung 929M, Linggasuntan 929M, dan Jeru-jeru 930M (Trigangga, 2003 :13 ;21 ; dan 30) nama wahuta dari Panghunjańan ini muncul lagi sebagai salah satu saksi dari penetapan sima.

16) Manghambin adalah nama suatu jabatan. Tetapi apa tugas dan kewajibannya belum jelas.

17) Raman mungkin sama dengan kata rāma, yang artinya tetua desa (Mardiwarsito, 1986 :461 ;Zoetmulder, 2004 :913).

18) Kanayakan berasal dari akar kata nayaka, yang artinya pemimpin (Zoetmulder, 2004 :695).Kanayakan berarti kelompok nayaka, atau kelompok para pemimpin (yaitu rake dan pamgat).

19) Pangurang kata dasarnya adalah kurang. Boechari berpendapat bahwa Pangurang adalah petugas pemungut pajak (Boechari,1981 :76).

20) Tuha dari kalula berarti pemimpin dari para abdi/pelayan (zoetmulder, 2004 :446).

21) Yang dimaksud dengan tuhan dari lampuran diduga adalah pemimpin kelompok dari pemain keliling (Zoetmulder, 2004 :566).

22) Citralekha artinya lukisan atau penulis (Zoetmulder, 2004 :177). Yang berhubungan dengan penetapan sima biasanya adalah penulis prasasti.

23) Winkas wkas adalah pejabat yang tugasnya membawa berita atau membawa perintah dari atasan (Mardiwarsito, 1986 :673-674 ;Zoetmulder, 2004 :1410). Wahuta yang winkas wkas, mungkin pembantu yang tugasnya winkas wkas.

24) Patih adalah pejabat di tingkat daerah/watak, atau para pembantu rake dan pamgat (Boechari, 1981 :72).

25) Tidak dapat dipastikan kahyunnan ini nama suatu jabatan atau nama tempat. Nama ini muncul pula dalam prasasti Gulung-gulung 929M (Trigangga, 2003 :12-13). Juga dalam prasasti kahyunan 1161M sebagai nama desa (Damais, 1955 :73).

26) Tuha wanwa artinya orang yang mengkordinir desa, perkampungan (Mardiwarsito, 1986 :659 ;Zoetmulder, 2004 :1384).

27) Watang diartikan sebagai batang kayu, galah, tombak, tongkat (Mardiwarsito, 1986 :667). Sementara kras sama dengan keras (Mardiwarsito, 1985 :281). Sang watang kras mungkin sesuatu jabatan. Tetapi apa tugas dan kewajibannya tidak diketahui.

28) Parujar berasal dari kata ujar yang artinya perkataan. Parujar berarti pegawai yang tugas dan kewajibannya sebagai juru bicara (Mardiwarsito, 1986 :633).

29) Daman diduga adalah nama seorang pejabat desa, karena dalam prasasti Balingawan 891M (Brandes, 1913 :22) nama ini muncul berkali-kali bersama sederetan nama, yaitu dapunta ramyah, da(ng) pu hyang bharati, daman tarsa, dan da(ng) pu jala. Yang semuanya adalah penduduk desa Balingawan.

30) Wariga adalah ahli perbintangan yang bertugas mencari hari/saat yang baik untuk berbagai keperluan desa ((Mardiwarsito, 1986 :664).

31) Panurattan asal katanya adalah surat yang artinya yang ditulisi/digambari atau tulisan (Mardiwarsito, 1986 :549 ; Zoetmulder, 2004 :1155). Panurattan artinya orang yang mempunyai tugas sebagai juru tulis.

32) Sama dengan keterangan no.29

33) Manggala artinya pelindung/pemimpin di antara orang banyak (Mardiwarsito, 1986 :342 ; Zoetmulder, 2004 :649).

Dikutip dari: hurahura.wordpress.com
Judul Asli: Tinjauan Ulang tentang Prasasti Dinoyo II Tahun 820 Saka
Gelar Raja-Raja Mataram

Gelar Raja-Raja Mataram

02:26 0
Gelar Raja-Raja Mataram
Tahukah anda mengapa gelar raja-raja Mataram begitu hebat dan luar biasa? Sebelumnya mari kita lihat gelar empat raja Mataram yang tersisa. Sebenarnya tidak empat raja, dua raja dan dua lagi penguasa wilayah. Tapi toh gelar keempatnya mirip-mirip dan luar biasa mentereng, walaupun hanya sebagian dari gelar panjangnya.
Pertama, Sultan Hamengkubuwono yang berarti yang memangku dunia. Artinya, seluruh dunia berada dalam pangkuannya. Kedua, Pakualam, menjadi paku atau sumber atau intisari, tidak hanya dunia, tetapi alam semesta. Ketiga, Mangkunegaran, memangku negara, dialah intisari dari negara. Keempat, Pakubuwono, menjadi paku dunia. Pendeknya, keempatnya menjadi inti dari seluruh dunia dan alam semesta, walaupun realitasnya, kekuasaannya hanya beberapa ratus/ribu hektar dengan supervisi ketat VOC dan Pemerintah Belanda.
Saya membaca buku G Moedjanto (1987) yang berjudul Konsep Kekuasaan Jawa: penerapannya oleh raja-raja Mataram, terbitan Kanisius. Gelar-gelar yang mentereng tersebut menurut Moedjanto karena seluruh keturunan raja Mataram berasal dari petani sehingga dibutuhkan gelar sebagai basis legitimasi kekuasaan. Hal ini dibuktikan dengan gelar Panembahan (yang dipakai Panembahan Senopati) yang sebenarnya bukan gelar untuk golongan ningrat. Juga gelar Ki Ageng (yang digunakan Ki Ageng Pemanahan) yang hanya menunjukkan legitimasi local diantara petani.
Sehingga, keturunan raja-raja Mataram adalah keturunan yang mencoba untuk terus memburu gelar sebagai basis penguat legitimasi kekuasaan. Istilahnya tetap mendapatkan: trahing kusuma, rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih. Saat berubah menjadi Mataram Islam, gelar Sultan dipakai karena menunjukkan adanya legitimasi atas Islam yang mulai menyebar. Gelar Sultan dipandang lebih tinggi dari gelar sebelumnya yang pernah ada. Perburuan gelar itu terhenti saat sudah mencapai level yang sudah tidak bisa lagi disamai oleh orang kebanyakan. Jadi perwujudan politik identitas oleh raja-raja Mataram dilakukan dengan menegaskan gelar kebangsawanan yang mustahil disamai oleh bangsawan lainnya.
Keturunan petani ini juga terus dipertanyakan, terutama oleh pemberontak. Trunojoyo, yang memberontak dan berhasil mengusir Amangkurat II dari keraton menghina bahwa keturunan raja Mataram itu ibarat tebu,” Raja Mataram iku dak umpakakake tebu, pucuke maneh cen legiyo, sanadjan bongkote ing mbiyen ya adem bae, sebab raja trahing wong tetanen; angor macula bae bari angona sapi” ( Raja Mataram itu saya umpamakan tebu; masakan ujungnya manis, pangkalnya saja sejak dulunya terasa tawar, sebab raja keturunan petani; lebih baik kalau mencangkul saja sambil menggembalakan sapi) (Medjanto 1987, hal. 84) . Trunojoyo kemudian ditangkap atas bantuan Pangeran Puger dan VOC. Kepalanya konon berada di bawah anak tangga menuju makam Imogiri. Siapapun yang akan berziarah ke Makam Imogiri akan menginjak kepala Trunojoyo.
Perlawanan terhadap raja Mataram bahkan juga dilakukan oleh seorang kepala desa. Namanya Ki Ageng Mangir (perhatikan gelar Ki Ageng Mangir Wanabaya yang mirip Ki Ageng Pemanahan) yang berkuasa di sekitar Kulonprogo, tak terlalu jauh dari pusat kekuasaan. Untuk meredam pemberontakan Mangir, Raja mengutus putrinya untuk menggoda Mangir dengan menjadi seniman keliling. Setelah terpikat, Mangir menikahi putri raja ini. Mangir kemudian dapat dibujuk untuk mengadap raja. Pada saat melakukan sungkem kepada mertuanya, raja menghantamkan kepala Mangir ke lantai. Mangir tewas seketika. Makamnya saat ini ada di Makam Kotagedhe dengan posisi yang paling mudah dikenali. Separuh makam berada di dalam tembok makam, dan separuhnya lagi berada di luar tembok. Jadi makam Mangir pas dibelah di bagian perut, separuh diluar, separuh di dalam. Hal ini untuk menunjukkan bahwa Mangir separuh dianggap sebagai menantu dan separuhnya pemberontak.
Masih menurut Moedjanto, basis petani bagi raja-raja Mataram ini membawa implikasi kekuasaan yang serius. Dalam tradisi petani, seandainya seorang petani memiliki sebidang sawah 10 hektar dengan 5 orang anak, maka biasanya masing-masing anak akan mendapatkan 2 hektar. Hal ini tentu saja tidak bisa dilakukan dalam kerajaan. Hanya putra mahkota yang menjadi pewaris seluruh kekuasaan raja. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan dalam hampir setiap pergantian raja di Mataram. Dalam proses pelantikan seorang raja, selalu ada orang yang dituakan (tetua kerajaan) yang akan melakukan pemakluman dengan mengatakan, kira-kira begini: “Atas perkenan Raja yang mendahului, putranya ….. menggantikan di atas tahta; maka bula ada yang tidak setuju ayo maju saja, saya yang akan menghadapi” (Moedjanto, hal 29). Belakangan, terutama setelah Amangkurat II (cucu Sultan Agung), VOC dan Belandalah yang melakukan fungsi tersebut.
Dalam sejarah Mataram, perebutan kekuasaan tidak jarang menjadi konflik yang berlarut-larut dan berakhir perang. Itu karena pemikiran setiap keturunan memiliki hak yang sama untuk meneruskan kekuasaan orangtuanya. Hal ini diperumit dengan tradisi raja yang umumnya memiliki banyak istri dengan status antara garwa ampenan (selir) dan prameswari (permaisuri). Selir biasanya dimiliki lebih dulu, bahkan sebelum yang bersangkutan menjadi raja, sehingga jika memiliki anak laki-laki, usianya akan lebih tua dari anak dari permasuri. Inilah kasus yang terjadi pada Sultan Agung yang menjadi raja (seharusnya Pangeran Martapura dari permaisuri).
Selain itu, cerita suksesi sering dilengkapi dengan wangsit dan mistis yang tak pernah menemukan pembenaran logis. Salah satu cerita suksesi paling menarik adalah tatkala Amangkurat II meninggal dunia. Konon, kemaluan sang raja tetap tegak walau dirinya sudah tak bernyawa. Dalam detik-detik yang menegangkan tersebut, Pangeran Puger (adik Amangkurat II) melihat ada cahaya di ujung kemaluan sang kakak. Pangeran Puger lalu mengecup ujung kemaluan tersebut dan konon itulah wangsit kekuasaan. Pangeran Puger kemudian menjadi raja Mataram dengan gelar Pakubuwono I, menggantikan keponakannya Amangkurat III atas dukungan VOC.
Cerita lain belakangan adalah transisi kekuasaan dari Sultan HB VIII ke Sultan HB IX sebagaimana ditulis dalam desertasi Seloseomardjan. Saat menjemput anaknya yang tiba di Batavia menggunakan kereta api, Sultan HB VIII telah sakit-sakitan. Sultan HB VIII meminta anaknya segera kembali ketika sedang di Belanda. Dalam perjalanan menggunakan kereta ke Yogyakarta, di tengah perjalanan, Sultan HB VIII menyerahkan keris Joko Piturun yang mendadak muncul kepada anaknya. Sultan HB VIII wafat tak lama setelah menyerahkan keris Joko Piturun yang dipercaya sebagai symbol kekuasaan Kasultanan Yogyakarta. Masih menurut Selosoemardjan, saat tiba di Stasiun Tugu, petir menggelegar di siang bolong yang menjadi pertanda Raja hebat akan muncul di Yogyakarta.
Jadi, kembali ke gelar raja-raja Mataram, dari sejarah kita tahu, kekuasaan adalah sesuatu yang akan selalu digugat, bahkan oleh saudaranya sendiri. Raja-raja Mataram adalah subjek dari gugatan-gugatan tersebut karena terlahir sebagai keturunan petani
MENGAPA PERANG BAYU LAYAK DIKENANG

MENGAPA PERANG BAYU LAYAK DIKENANG

07:38 0
MENGAPA PERANG BAYU LAYAK DIKENANG
(Oleh: Hasan Ali)

Perang Bayu adalah peperangan yang terjadi antara pasukan VOC Belanda dengan pejuang-pejuang Blambangan pada tahun 1771-1772 di Songgon.
Peperangan ini oleh pihak Belanda sendiri diakui sebagai peperangan yang paling menegangkan, paling kejam dan paling banyak memakan korban dari semua peperangan yang pernah dilakukan oleh VOC Belanda di manapun di Indonesia (Lekkerkerker, 1923 : 1056).
Di pihak Blambangan, peperangan ini merupakan peperangan yang sangat heroik-patriotik dan membanggakan, yang patut dicatat, dikenang dan dijadikan suri tauladan bagi anak cucu kita dalam mencintai, membela dan membangun daerahnya, Bumi Blambangan.
Dalam Perang Bayu tersebut pejuang-pejuang Blambangan dipimpin oleh Rempeg, seorang buyut Pangeran Tawang Alun, putra Mas Bagus Puri (Dalem Wiraguna) dengan ibu dari desa Pakis (Pigeaud, 1932: 255).
Mas Rempeg ini oleh pengikutnya dipercaya sebagai titisan Agung Wilis yang legendaris. Karena itu oleh Belanda, Mas Rempeg disebut dengan sebutan “Pseudo Wilis “, Wilis-semu. 
Mas Rempeg dengan hampir seluruh pengikutnya, seperti Patih Jagalara, Mas Ayu (Sayu) Wiwit, Bekel Utun, Udhuh, Runteb dan lain-lain, gugur dengan gagah berani dalam Perang Puputan Bayu tersebut.

Beberapa hal yang patut dicatat sebagai luar biasa dalam Perang Puputan Bayu ini antara lain:
1. Perang Bayu ini, yang memuncak pada tanggal 18 Desember 1771, diakui oleh Belanda sendiri sebagai peperangan yang paling menegangkan, paling kejam, dan paling banyak memakan kurban dari semua peperangan yang pernah dilakukan VOC dimanapun di seluruh Indonesia (Ibid. 1923 : 1056).

2. Begitu kejamnya dan penuh dendam peperangan yang terjadi di bayu tersebut, sampai-sampai apabila ada pasukan VOC yang tertangkap pejuang Blambangan, seperti yang terjadi antara lain pada Letnan Van Schaar, kepalanya dipotong, ditancapkan di ujung tombak, dan diarak keliling desa. Demikian juga sebaliknya, dari hampir semua pejuang Blambangan yang tertangkap di Bayu, kepalanya dipotong dan digantung-gantungkan di pohon-pohon atau ditancap-tancapkan di tonggak-tonggak pagar di sepanjang jalan desa (Ibid . 19123 : 1059). Kiranya sulit untuk dapat kita temukan kekejaman peperangan lokal seperti yang terjadi di Bayu ini di daerah-daerah lain di Indonesia.
3. Dari sejumlah 2.505 sisa pejuang Blambangan yang ditawan dan dibawa ke benteng Teluk Pangpang/Muncar, tidak sedikit yang dihukum mati dengan menenggelamkannya ke laut, disiksa dan direjam sampai mati (Ibid . 1923 : 1060). Suatu hukuman yang lebih bersifat “balas dendam” dari pada sekedar melakukan “hukuman” kepada musuh.
4. Untuk menghadapi Perang Bayu ini VOC telah mengerahkan tidak kurang dari 10.000 personil. (dengan peralatan lengkap dan senjata berat) yang didatangkan dari seluruh Jawa: dari garnisun-garnisun Batavia. Semarang (Korp Dragonders), Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Madura dan dari daerah-daerah pantai utara Jawa Timur (Ibid. 1923: 1057-1059). Suatu jumlah yang yang luar biasa besar menurut keadaan pada waktu itu.
5. Peperangan di Bayu ini telah memakan kurban tidak kurang 60.000 rakyat Blambangan yang gugur, hilang, atau menyingkir ke hutan (Epp. 1849 : 347). Namun perlulah diketahui bahwa jumlah penduduk seluruh Blambangan pada waklu itu tidak sampai 65.000 orang..! J.C . Bosc h. seorang pejabat Pemerintahan Belanda pernah menulis dari Bondowoso pada tahun 1848;
"…daerah inilah barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang satu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali …" (Anderson, 1982: 75 – 76).

6. Untuk merebut Blambangan, khususnya untuk peperangan di Bayu ini, VOC telah menghabiskan dana seharga 8 (delapan)’ Ton emas yang merupakan pukulan telak terhadap keuangan VOC pada waktu itu. Pimpinan VOC di Batavia kemuclian menghitungnya sebagai “tidak sumbut”, tidak sesuai dengan kemungkinan apa yang dapat diperoleh sebagai imbalan dari Blambangan (Op. cit. 1823 : 1067).
7. Perang Bayu memang berakhir pada tanggal 11 Oktober 1772, namun perlawanan rakyat dalam benluk pemberontakan-pemberontakan lokal masih terjadi di berbagai daerah di Blambangan sampai berpuluh tahun kemudian (1815), yang dipimpin oleh sisa-sisa pasukan Bayu yang membandel dan pantang menyerah, yang oleh orang-orang Belanda dikatakan sebagai orang-orang Bayu yang “liar” (Lekkerkerker, 1926 : 401-402)