KEN AROK - EMPU GANDRING-24.

KEN AROK - EMPU GANDRING-24.

22:44 0
KEN AROK - EMPU GANDRING-24.
Orang-orang
Hati Putih itu ketika dikejar, lari naik ke sarang mereka di Gunung Anjasmoro. Dua orang adik
seperguruannya mengejar dan akhirnya berhadapan dengan Panembahan Pronosidhi sehingga terjadi
perkelahian. Akibatnya, Ki Gagaksampar patah tulang lengannya. Walaupun keduanya akhirnya sembuh,
akan tetapi mereka nyaris tewas oleh luka-luka mereka, dan dua orang murid kepala Hastorudiro tewas
sekeltik. Biarpun kemudian dia mendengar bahwa Panembahan Pronosidhi itu pun tewas, namun masih
ada ganjalan di dalam hatinya terhadap aliran Hati Putih yang dianggapnya mencari gara-gara dan lebih
dahulu mengorbankan api permusuhan antara kedua aliran itu. Kini, mendengar keterangan cucu
penambahan itu bahwa sebab permusuhan itu adalah fitnah dan Hastorudiro tertipu, tertu saja dia terkejut
dan heran, juga merasa penasaran.
"Bukan hanya Hastorudiro yang tertipu sehingga diadu-domba dengan Hati Putih, bahkan perkumpulan
Sabuk Tembogo juga diadu-domba dengan pasukan Kadipaten Tumapel, dan kami datang ke sini untuk
mengabarkan bahwa kini Hastorudiro juga diadu-domba dengan pasukan Tumapel. Sangat boleh jadi
bahwa dalam waktu dekat. Hastorudiro akan diserbu oleh pasukan Tumapel yang menganggap
Hastorudiro sebagai pemberontak-pemberontak karena ada anak buah Hastorudiro yang membunuh
empat orang perajurit Tumapel."
"Bohong! Kami tidak pernah memusuhi prajurit-prajurit Tumapel!" bentak Ki Kebosoro.
"Tentu saja, paman. Akan tetapi para senopati Tumapel tentu berpendapat lain karena prajurit-prajurit
Tumapel dibunuh oleh dua orang yang mempergunakan ilmu pukulan yang meninggalkan tapak tangan
merah."
Mendengar keterangan ini, Ki Kebosoro saling berpandangan dengan dua orang adik seperguruannya,
dan Pramudento berkata, "Ayah, jangan sembarangan percaya kepada orang lain. Siapa tahu kalau dia
orang yang bahkan menyebar fitnah dan mengadu-domba!"
"Joko Handoko, kami tidak dapat percaya begitu saja akan ceritamu tadi. Coba jelaskan apa yang telah
terjadi! Jelas bahwa empat orang murid Hati Putih mengacau kami, mereka mempergunakan ilmu-ilmu
Hati Putih dan mengaku murid-murid Hati Putih, bagaimana engkau mengatakan bahwa itu fitnah dan
kami tertipu? Apapula artinya bahwa kini kami diadu-domba dengan pasukan Tumapel? Ceritakan yang
jelas!"
"Baiklah, paman. Hati Putih memang diadu-domba dengan Hastorudiro. Empat orang yang mengacau
dan mengaku murid Hati Putih itu sebenarnya bukan murid-murid aliran kami. Akibat adu-domba itu,
para pembantu paman menyerbu Anjasmoro sehingga mengakibatkan kematian-kematian, juga kematian
eyang yang sudah berusia lanjut. Kemudian, pasukan Tumapel menangkap murid-murid Sabuk Tembogo
karena ada orang-orang yang mengaku murid-murid Sabuk Tembogo melakukan kejahatan-kejahatan di
Tumapel. Dan akhirnya, ada dua orang yang menggunakan ilmu-ilmu Hastorudiro membunuh empat
orang prajurit Tumapel, sehingga tentu saja senopati Tumapel akan menjadi marah sekali dan mungkin
akan mengerahkan pasukan untuk menyerbu ke sini." Joko Handoko berhenti bicara dan kini Wulandari
yang menyambung.
"Dan kami berdua yang mengetahui rahasia itu, dengan susah payah datang ke sini untuk
memperingatkan, akan tetapi bukan diterima dengan baik malah akan dihina!" dan dia pun memandang
kepada Pramudento, Ki Gagaksampar dan Ki Gagakmeto dengan sinar mata mengandung kemarahan.
"Hemmm, cerita itu sungguh tidak menyakinkan!" kata pula Pramudento yang masih tetap berprasangka
bahwa Joko Handoko hanya berbohong. "Siapa orangnya yang menyebar fitnah dan berusaha
mengadu-domba seperti itu?"
"Ya, siapakah yang hendak mengadu-domba secara keji itu, Joko Handoko?" tanya Ki Kebosoro.
"Yang melakukan semua itu adalah kaki tangan kerajaan Daha."
"Ehh..........!!" Empat orang itu mengeluarkan suara kaget dengan berbareng.
Joko Handoko mengangguk-angguk untuk menyakinkan hati mereka. "Aku tidak suka membohong.
Untuk apa aku berbohong? Sang Prabu Dandang Gendis hendak melemahkan Kadipaten Tumapel
dengan cara mengadu-domba antara kekuatan-kekuatan di Tumapel, dan itu dipimpin oleh Begawan
Buyut Wewenang yang dibantu oleh Ki Danyang Bagaskoro, Ki Bajulbiru, Ki Suroyudo dan Ki
Banyakluwo, masih dibantu banyak orang pandai dari Daha."
Mendengar banyak disebutnya tokoh-tokoh yang pandai dari Daha ini, Ki Kebosoro menjadi sangat
terkejut. "Akan tetapi......... bagaimana..... andika bisa tahu akan semua itu? Dan apa buktinya bahwa
ceritamu itu benar?"
Joko Handoko lalu bercerita singkat menceritakan pengalamannya, ketika Gajah Putih dan Gajah Ireng
berusaha menghancurkan perkumpulan Sabuk Tembogo, bahkan betapa mendiang Ki Danyang
Bagaskoro berusaha membunuh Dewi Pusporini puteri Senopati Pamungkas, kemudian dia menceritakan
ketika dia dan Wulandari ditawan oleh kaki tangan Begawan Buyut Wewenang.
"Karena kami ditangkap, maka terbonkarlah rahasia mereka itu dan kami tahu akan semua rahasia
mereka. Tentu rahasia mereka itu akan kami bawa sampai mati kalau saja akmi tidak diselamatkan oleh
Pangeran Maheso Walungan." Joko Handoko menutup ceritanya yang didengakan oleh Ki Kebosoro
dengan mata terbelalak.
"Ah, sungguh celaka kalau begitu.......!" katanya.
"Tapi, apa buktinya bahwa semua itu benar, ayah? Sebelum mempercayainya, kita harus melihat
buktinya lebih dulu!" Pramudento berseru. Di dalam hatinya, pemuda ini memang memihak Kerajaan
Daha, karena gurunya Ki Ageng Marmoyo dari Gunung Bromo adalah orang Daha juga tentu saja
berpihak kepada Kerajaan Daha.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar, suara banyak orang dan masuklah seorang murid Hastorudiro
dengan muka pucat dan dengan gugup dia melaporkan kepada Ki Kebosoro bahwa tempat mereka telah
dikepung oleh pasukan Tumapel yang besar jumlahnya!
"Hemm, agaknya itulah bukti kebenaran ceritaku tadi, Paman Kebosoro. Tentu para senopati Tumapel
marah dan menyerbu karena ada dua orang yang menyamar sebagai orang-orang Hastorudiro
membunuhi prajurit-prjurit Tumapel dengan ilmu pukulan yang bertapak merah," kata Joko Handoko.
"Jangan khawatir, Ayah. Biar aku yang akan menyambut mereka!" Kata Pramudento dengan suara
lantang dan sikap gagah,bahkan dia lalu meloncat keluar dari ruangan itu. Dengan muka berubah dan hati
cemas, Ki Kebosoro lalu mengejar keluar, diikuti pula oleh dua orang adik seperguruannya. Mereka
agaknya sudah melupakan Joko Handoko dan Wulandari.
Joko Handoko lalu mengajak gadis itu keluar. "Wulan, sebaiknya kita melihat perkembangannya dulu
sebelum menentukan apa yang harus kita lakukan."
"Kakang Joko Handoko, mereka adalah orang yang keras kepala dan tinggi hati, untuk apa kita lebih
lama tinggal di sini? Biarkan mereka diserbu dan dihancurkan oleh pasukan Tumapel, memang sudah
pantas mereka dihajar!"
Joko Handoko memegang lengan gadis itu dengan lembut. "Aihhh, engkau harus belajar sabar dan
tenang, Wulan. Tak baik menurutkan perasaan. Orang boleh saja bersikap keras terhadap kita, akan
tetapi mengapa kita hrus mengimbanginya? Kalau kita tahu bahwa kekerasan itu tidak baik, lalu kita
membalas dengan kekerasan, bukankah hal itu berarti tidak ada perbedaan antara mereka dengan kita?"
"Ah, kakang, aku tidak setuju. Apakah kata-katamu itu berarti bahwa kalau orang berbuat jahat
terhadap kita, maka kita bahkan harus berbuat baik terhadap mereka?"
"Mengapa tidak, Wulan? Kalau kita diserang, kita memang sudah sepatutnya membela diri, berusaha
menyelamatkan diri. Akan tetapi, kalau orang berbuat jahat terhadap kita lalu kita membalas dengan
perbuatan yang sama, maka mereka dan kita sama jahatnya! Bukankah demikian?"
"Tapi mereka yang memulai lebih dulu, kita hanya membalas?"
"Dulu atau kemudian tidak penting, diajeng Wulandari yang manis......."
"Eh, merayu, ya?" kata Wulandari, akan tetapi mukanya berubah merah dan bibirnya girang, sepasang
matanya tajam mengerling.
Joko Handoko tersenyum, dia tidak bermaksud merayu, hanya berkelakar untuk mendinginkan hati
gadis itu yang mulai panas.
"Sesungguhnya Wulan, yang paling penting bukan siapa yang lebih dulu berbuat jahat, melainkan
perbuatan jahat itu sendiri. Kalau orang lain berbuat jahat, maka hal itu adalah masalah orang yang
berbuat itulah. Sebaliknya, kalau kita juga melakukan hal yang sama, tak peduli apapun alasannya,
membalas dendam atau apa saja, maka perbuatan jahat yang kita lakukan ini merupakan masalah penting
pribadi kita sendiri."
"Wah, wahh jadi maksudmu, kalau ada orang membenci kita, maka kita harus membalas dengan
mencintainya? Mana mungkin?"
Joko Handoko tersenyum. "Bukan mencintainya, akan tetapi yang penting, kita tidak membencinya!
Kalau ada sedikit saja kebencian terkandung dalam batin kita, terhadap siapapun juga, maka berarti telah
ada racun mengeram di hati dan racun itu akan menimbulkan kesengsaraan batin. Sudahlah, Wulan mari
kita cepat kaluar untuk melihat apa yng terjadi di sana."
Mereka lalu cepat keuar dan ternyata para tamu sudah berkeruman di depan. Tentu saja pesta itu
terhenti, gamelan tadi tidak dipukul lagi, para penabuh gamelan bersama penari dan penyanyinya telah
bersembunyi di balik gong-gong besar. Joko Handoko dan Wulandari lalu menyelinap di antara para
tamu yang kini menjadi penonton. Seperti para tamu, mereka berdua ini memandang ke arah pihak tuan
rumah yang sudah berhadapan dengan belasan orang perwira yang memimpin pasukan Tumapel.
Ki Kebosoro didampingi oleh Pramudento berdiri saling menghadapi para perwira Tumapel, sedangkan
dua orang adik seperguruannya berdiri di belakang mereka. Kemudian belasan murid yang sudah
memiliki kepandaian tinggi berdiri pula di belakang dua orang kakek ini. Sikap mereka, terutama sekali
Pramudento, sama sekali tidak memperlihatkan rasa jerih, bahkan sikap mereka menantang. Agaknya
telah terjadi perbantahan di antara kedua pihak.
"Para perwira Tumapel, dengarkan baik-baik!" terdengar suara Pramudento lantang, agaknya dia sudah
marah sekali. "Semenjak dahulu sampai sekarang, aliran Hastorudiro kami tidak pernah memusuhi
kadipaten Tumapel, bahkan kami yang akan maju menanggulangi kalau ada pihak yang hendak
menganggu ketentraman Tumapel. Bagaimana sekarang andika datang dengan tuduhan yang
bukan-bukan? Sekali lagi kami menjawab bahwa tidak ada murid kami yang melakukan pembunuhan
terhadap prajurit-prajurit Tumapel!"
"Orang muda, biarlah ketua Hastorudiro yang bicara dengan kami. Dialah yang bertanggung jawab atas
semua ini!" kata seorang di antara para perwira yang berkumis tebal seperti kumis Raden Gatutkaca.
"Sama saja!" tiba-tiba Ki Kebosoro berkata. "Dia adalah anakku, dan jawabnya adalah jawabanku
pula!"
Perwira berkumis tebal ini mengangguk. "Ah, kiranya putera ketua Hastorudiro. Dengarlah kalian,
orang-orang Hastorudiro. Kami hanyalah utusan dari Sang Akuwu Tunggal Ametung, dan segala
bantahan kalian sebaiknya disampaikan saja didepan beliau. Sekarang tugas kami hanyalah menangkap
para pimpinan Hastorudiro yang berada di sini untuk kami hadapkan Gusti Akuwu."
"Kalau kami menolak ditangkap?" tanya Pramudento marah.
"Ha-ha, orang muda, jangan terlalu tinggi hati. Lihat, padukuhan ini telah dikepung oleh ratusan prajurit
kami dan kami sudah menerima tugas untuk mempergunakan kekerasan kalau perlu."
"Babo-babo! Kami tidak merasa bersalah dan selama ini kami tidak pernah menentang Kadipaten
Tumapel. Akan tetapi, kalau kami ditekan, kami akan melawan! Semut pun akan membela diri kalau
diinjak, apalagi kami adalah manusia-manusia gagah. Hayo, aku tantang para senopati Tumapel untuk
menangkap aku sebelum mengandalkan keroyokan ratusan orang prajurit! Apakah Tumapel mempunyai
senopati yang cukup tangguh dan berani untuk memangkap aku?" Pemuda iini menantang sambil
membusungkan dadanya, sikapnya sombong sekali sehingga diam-diam Wulandari ingin sekali melihat
sampai di mana kehebatan pemuda yang tinggi hati itu.
Hati para perwira yang bertugas untuk menangkap pimpinan Hastorudiro menjadi panas mendengar
tantangan yang sombong itu. Tentu saja Tumapel memiliki banyak orang-orang gagah dan
perwira-perwira yang berkepandaian tinggi, dan di antaranya adalah mereka yang kini memimpin
pasukan sebagai para pembantu Senopati Raden Pamungkas, senopati ini sendiri tidak maju ke depan,
menyerahkan kepada para pembantunya karena dia tidak ingin bersitegang dan berbantahan dengan
orang-orang yang telah memberontak terhadap Tumapel.
Seorang di antara para perwira itu bernama Manudibyo, seorang yang bertubuh tinggi besar seperti
raksasa, kepalanya yang besar dan tertutup kain panjang terurai dan matanya yang lebar selalu melotot
menyeramkan. Dia adalah seorang perwira yang tangguh dan disegani karena memiliki tenaga gagah di
samping ilmu pencak silat yang berasal dari daerah Parahyangan. Mendengar tantangan yang
memanaskan perutnya itu, Manudibyo tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Sambil mengeluarkan
gerengan seperti seekor harimau dia melangkah maju.
"Orang muda yang sombong! Orang macam engkau ini berani menentang para senopati Tumapel?
Babo-babo, sumbarmu seperti dapat meloncati Gunung Semeru dan menyelam dasar Laut Kidul! Biarlah
aku Manudibyo, menangkap dan menghajar mulutu yang lancang itu!"
Berkata demikian, si raksasa ini melangkah maju menghadapi Pramudento. Perwira berkumis tebal yang
memwakili senopati mendiamkan saja dan setuju kalau raksasa ini yang maju, karena dia tahu benar
bahwa di antara para perwira, Manudibyo boleh dianggap sebagai yang paling tangguh. Dia sendiri tidak
akan menang melawan Manudibyo, maka dia mengangguk dan mundur, memberi ruang yang cukup luas
bagi dua orang jagoan yang hendak bertanding itu. Teman-temannya juga mundur dan mereka
membentuk lingkaran bersama orang-orang Hastorudiro. Sikap mereka seperti sekelompok orang yang
hendak menyambung ayam jago, wajah mereka rata-rata gembira dan tegang karena hendak
menyaksikan pertarungan yang mengasikkan.
"Dento, hati-hati jangan sampai membunuh orang," kata Ki Kebosoro. Tentu saja bagi seorang seperti
dia, membunuh orang bukan hal yang terlalu hebat dan perlu diributkan. Akan tetapi dia maksudkan agar
puteranya tidak sampai membunuh perwira Tumapel karena hal itu hanya akan memperuncing keadaan.
Pramudento bukan seorang bodoh dan dia pun mengerti akan maksud kata-kata ayahnya.
"Harap ayah jangan khawatir. Tanpa membunuh pun aku akan mampu menundukkan semua jagoan
Tumapel satu demi satu, Ki Manudibyo, majulah!"
Manudibyo yang tidak dipandang sebelah mata oleh pemuda itu seperti, menjadi penasaran. "Bocah
sombong siapakah namamu? Aku tidak ingin tanganku yang tidak bermata terlanjur menewaskan orang
tidak kukenal namanya."
Pramudento tersenyum mengejek, dan melihat betapa kini Joko Handoko dan Wulandari telah
menyelinap dan brada di antara tamu, dia melempar kerling dan senyum kepada gadis itu. Wulandari
hanya memandang dengan mulut cemberut. Aneh, ia merasa tidak senang melihat pemuda itu bersikap
sombong sekali, akan tetapi di samping perasaan tidak senang ini, ia pun tertarik sekali. Harus diakuinya
bahwa Pramudento memang tampan dan gagah!
"Aku idak pernah menyembunyikan nama. Aku bernama Pramudento, putera tunggal ketua
Hastorudiro."
"Bagus, Pramudento, sekarang sambutlah pukulan ini!" bentak Manudibyo yang segera menerjang ke
depan. Lengannya yang panjang itu diangkat ke atas dan yang kiri menyambar turun ke arah ubun-ubun
kepala Pramudento, sedangkan yang kanan menyambar turun dengan cengkeraman ke arah dada.
Serangan yanghbat ini dilakukan dengan cepat, akan tetapi yang menggiriskan adalah suara angin bertiup
saking kuatnya kedua lengan itu menyambar turun. Rambut dan pakaian Pramudento sampai berkibar
tertiup angin pukulan yang sudah menyambar lebih dahulu sebelum tenaga tiba pada sasaranya.
Pemuda lulusan gemblengan Ki Ageng Marmoyo di Gunung Bromo itu mengenal serangan berbahaya
dan tahulah dia bahwa lawannya memiliki tenaga gajah, maka dia pun dengan tenang namun cepat,
mengelak dengan merendahkan tubuh tubuhnya dan meloncat ke belakang. Dengan gerakan ini, serangan
kedua tangan itu hanya mengenai tempat kosong. Akan tetapi, Manudibyo sudah bergerak cepat pula,
mengirim tendangan susulan dengan kaki kirinya yang panjang dengan jari-jari melebar. Kalau tendangan
ini, yang dilakukan dengan tenaga besar, mengenai tubuh Pramudento, tentu tubuh pemuda itu akan
terlempar jauh seperti bola ditendang!
"Wuuuuuuuttt.............!" Kembali tendangn itu melayang dan hanya mengenai tempat kosong karena
lebih dulu tubuh Pramudento sudah mengelak ke kiri.
Manudibyo semakin penasaran dan marah. Perkelahian itu ditonton banyak orang dan tentu dia merasa
malu karena tiga kali berturut-turut serangan hanya mengenai udara kosong saja. Dan pemuda itu setiap
kali mengelak, lalu bediri seolah-olah menanti datangnya serangan lanjutan tanpa membalas. Memang
demikianlah, setelah melihat gerakan-gerakan Manudibyo yang dilakukan secepatnya namun baginya
masih nampak lamban itu, dia pun mengerti bahwa lawannya ini hanya memiliki tenaga gajah itu saja.
Tidak ada keistimewaan lainnya, maka dengan mudah saja dia pun hanya mengandalkan kegesitannya
untuk menghadapi serangan-serangan itu dengan elakan-elakan.
Dan memang tepat perhitungannya. Manudibyo menyerang lagi makin lama makin sengit dan hebat, akan
tetapi karena bagi Pramudento gerakan itu datangnya lamban dan dapat diikuti dengan pandang mata
secara jelas, maka dia pun mudah saja menghindarkan diri dengan elakan yang gesit, ke kanan ke kiri,
meloncat atau ke belakang. Sampai dua puluh jurus Manudbyo menyerang terus, dan selalu seranganya
dapat dielakkan oleh Pramudento tanpa satu kali pun ditangkis. Manudibyo yang menyerang
terus-menerus itu, makin lama semakin ganas dan mempergunakan tenaga sekuat-kuatnya, tentu saja kini
terengah-engah. Dia mengeluarkan tenaga terlampau besar dan terus-menerus, hal ini amat melelahkan
dan jantungnya berdebar keras membutuhkan udara sebanyaknya maka dia pun megap-megap seperti
ikan terlempar ke darat. Peluhnya sudah membasahi leher dan mukanya, bajunya juga sudah basah.
Sementara itu, para anggota Hastorudiro lupa bahwa mereka semua telah dikepung pasukan besar.
Saking gembira hati mereka melihat betapa putera ketua mereka mempermainkan raksasa itu, mereka
brsorak dan bertepuk tangan setiap kali serangan Manudibyo mengenai tempat kosong dan raksasa itu
terhuyung, terbawa oleh kerasnya serangannya sendiri.
"Ahaa, hanya beginikah jagoan dari Kadipaten Tumapel? Ternyata tidak berapa hebat!" kata
Pramudento, sengaja membikin marah lawan. Dan ternyata dia behasil karena Manudibyo mengeluarkan
suara menggereng seperti harimau marah dan dia menubruk ke sana sini, ke mana saja Pramudento
mengelak. Pemuda itu dengan sengaja main kucing-kucingan, mengelak dengan lompatan cepat ke
kanan, kiri atau belakang agak jauh dan membiarkan lawan mengejarnya, menyerangnya lagi,
dielakkannya lagi sambil mengeluarkan suara-suara ejekan seperti "luput lagi", "Wah, tidak kena!",
"Meleset terus!" dan sebagainya yang membuat lawannya menjadi semakin bernafsu.Seperti mau putus
rasanya pernapasan Manudibyo setelah dia menyerang terus-menerus selama seperempat jam tanpa
henti, mengerahkan seluruh tenaganya, bahkan serangannya semakin ganas dan buas saja. Tubuhnya
terhuyung dan lemas, kalau dia berhenti untuk mengaso, lawannya mengejaknya.
“Ha,sudah habiskan ilmu-ilmumu? Cuma sekian saja? Sudah putuskah napasmu?”
Mendengar ejekan-ejekan ini, Manudibyo menjadi semakin garang. Tanpa memperdulikan keadaan
tubuhnya yang sudah terlalu lelah dan napasnya yang hampir putus itu, dia menyerang terus, kini
mencabut sebatang golok besar dan menyerang dengan senjata itu. Kalau sejak tadi dia menggunakan
goloknya, agaknya Pramudento tidak akan mempermainannya seenak itu walaupun tingkat
kepandaiannya Manudibyo masih jauh di bawah Pramudento. Sekarang, menggunakan golok itu bahkan
menguras tenaga Manudibyo semakin cepat lagi. Golok itu besar dan berat, walaupun bagi Manudibyo
yang bertenaga gajah golok itu seperti sehelai bulu saja, namun dalam keadaan kelelahan, kehabisan
tenaga dan napas, golok itu terasa seperti seratus kali beratnya!
“Hayo serang terus!” Pramudento mengejek sambil meloncat ke atas ketika golok menyerampang kedua
kakinya.
Manudibyo hampir tidak kuat lagi. “Keparat, hayoo balas lagi kalau kau laki-laki sejati!”
Parmudento merasa sudah cukup dia memperlihatkan kepandaiannya dan pamer ini tentu saja ditujukan
kepada para penonton, terutama sekali kepada Wulandari, gadis hitam manis yang menarik hatinya itu.
“Baik, rebahlah!” bentaknya dan tiba-tiba kakinya menendang, tepat mengenai pergelangan tangan
kanan Manudibyo sehingga goloknya terlepas, dan Pamudento mengirim tamparan dari atas, mengarah
kepada lawan. Melihat ini, Manudibyo berdongak dan menakis dengan tangan kanan, siap untuk
menangkap lengan lawan itu yang tentu akan dibuatnya patah-patah seperti orang mematah-matahkan
sebatang lidi saja. Akan tetapi, tiba-tiba Pramudento menarik tangan kirinya itu dan secepat kilat
menyambar, tangan kanannya dengan jari terbuka, menghantam dari bawah, ke arah leher lawan.
Kekk.....! Tubuh itu terpalanting roboh dan tidak mampu bergarak lagi. Ketika raksasa tadi
menengadah, lehernya terbuka dan bagian bawah tangan Pramudento, dengan tenaga yang sudah diukur
agar tidak terlalu keras datangnya, mengenai leher kiri bawah dagu raksasa itu yang seketika merasa
kepalanya sepeti disambar halilintar yang membuatnya roboh pingsan. Pingsan bukan hanya karena
pukulan, melainkan terutama sekali karena kehabisan tenaga dan napas.
“Singkirkan kerbau tolol itu!” tiba-tiba terdengar suara nyaring dan di situ sudah muncul seorang pria
berusia kurang lebih empat puluh tahun yang melihat pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang
senopati kadipaten, sedangkan di sampingnya berdiri seorang pemuda berusia kurang dari dua puluhan
tahun yang bertubuh tegap gagah dan berwajah penuh wibawa.
Joko Handoko yang sejak tadi nonton perkelahian itu, mengerutkan alisnya dan diam-diam menganggap
Pramudento sombong dan keterlaluan memamerkan kepandaiannya dan menghina lawan. Sebaliknya,
Wulandari tadi ikut bertepuk tangan memuji karena ia tahu bahwa pemuda itu ternyata memang hebat
dan memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi darinya! Kini, Joko Handoko terkejut munculnya
dua orang yang amat dikenalnya, juga Wulandari mengenal dua orang yang baru muncul. Gadis itu
memegang tangan Joko Handoko dan menekannya sebagai isyarat ketika ia mengenal dua orang itu.
Joko Handoko hanya mengangguk dan memandang penuh perhatian. Kiranya yang memimpin pasukan
mengepung itu adalah Senopati Raden Pamungkas sendiri, ayah dari Dewi Pusporini dan agaknya
dibantu pula oleh Ken Arok, saudaranya seayah berlainan ibu!
Sementara itu, Ken Arok yang kini teah memperoleh kemajuan pesat dalam pengabdiannya kepada
Sang Akuwu Tunggal Ametung, telah menjadi orang kepercayaan dan berpangkat perwira tinggi dalam
pasukan pengawal istana, dan kini diperbantukan kepala Senopati Pamungkas dalam menghadapi
Hastorudiro yang dianggap pemberontakan, telah maju menghampiri Pramudento.
“Pemberontak sombong! Berani engkau menentang utusan Kadipaten Tumapel?” sambil membentak
demikian, Ken Arok sudah menerjang dengan tamparan yang cukup kuat dan amat cepat ini,
Pramudento terkejut karena dia berhadapan dengan orang yang “berisi”, bukan sekedar besar tenaga
seperti Manudibyo tadi, maka dia pun tidak barani mengelak karena serangan itu cepat sekali datangnya,
melainkan mempergunakan lengan kirinya untuk menangkis sambil mengerahkan aji pukulan Tapak
Bromo.
“Dukk!!” keras sekali pertemuan antara dua lengan yang berisi tenaga sakti itu dan akibatnya, keduanya
terdorong mundur sampai dua langkah dan keduanya terkejut sekali ketika merasa betapa tenaga lawan
amat kuatnya. Ken Arok juga diam-diam terkejut. Lawannya memiliki tangan yang mengandung hawa
panas! Dia mengira bahwa itulah aji pukulan Hastorudiro {Tangan Berdarah}, akan tetapi sesunguhnya,
aji pukulan itu lebih hebat lagi, yaitu Tapak Bromo! Sebaliknya, Pramudento juga terkejut karena dia
mendapat kenyataan bahwa kekuatan lawan tidak berada di sebelah bawah tingkatnya.
Akan tetapi, sebelum dua orang pemuda yang sama-sama memiliki ilmui kepandaian tinggio ini saling
hantam lebih lanjut, tiba-tiba Senoapati Raden Pamungkas berseru kepada Ken Arok, “Anakmas,
hentikan saja perkelahian perorangan ini. Kita gempur saja pemberontak-pemberontak ini dengan
pasukan kita. Pasukan siaaaapp............!!”
Tentu saja keadaan gempar ketika pasukan itu bersorak dan berteriak sambil memperketat kepungan.
Semua anggota Hastorudiro sudah siap siaga untuk membela diri mati-matian, walaupun mereka maklum
bahwa menghadapi jumlah pasukan yang amat banyak, tentu mereka akan kalah dan akan dibasmi habis
kalau tidak menyerah dan menakluk.
Ki Kebosoro yang maklum pula akan hal ini, dan dia sudah mengenal senopati itu, lalu berseru,
“Kanjeng senopati, kami sungguh-sungguh tidak bersalah apa-apa!”
“Kalau begitu, menyerahlah kalian semua untuk kami bawa ke kadipaten!” bentak sang senopati.
“Ayah, kita tidak bersalah, tak parlu takut, lawan saja!” teriak Pramudento yang merasa terlalu rendah
kalau dia harus mengalah.
“Lawan saja, kakang Kabosoro!” teriak pula Ki Gagaksampar dan Ki Gagakmeto, dua orang yang juga
memiliki kekerasan hati.
Pada saat senopati hendak meneriakkan aba-aba penyerbuan, tiba-tiba terdengar suara halus namun
berwibawa, “Harap andika semua bersabar dan jangan bertempur!”
Semua orang memandang dan ternyata yang berseru itu adalah Joko Handoko yang sudah melompat ke
tengah medan perkelahian tadi, diikuti oleh Wulandari yang juga melompat dengn ringan dan sigapnya.
“Joko Handoko dan Wulandari..........!” Senopati Pamungkas berseru, terkejut ketika mengenal dua
orang muda ini.
“Adimas Ken Arok, harap bersabar dulu!” teriak pula Joko Handoko melihat betapa Ken Arok
memandang marah.
“Kakang, Joko Handoko!” Ken Arok berteriak sambil memandang marah kepada pemuda itu, “Apa
artinya ini? Andika berada di sini, apakah berarti bahwa andika kini sudah bergabung dengan para
pemberontak?”
“Dimas Ken Arok, harap jangan salah sangka. Tidak ada pemberontak di sini. Aku tidak, juga
Hastorudiro bukanlah pemberontak.” jawab Joko Handoko dengan suara lantang.
“Joko Handoko, apa maksudmu dengan ucapan itu?” Harap jelaskan!” Senopati Pamungkas
membentak dan memandang tajam.
Semua orang memandang dan mencurahkan perhatian sehingga suasana menjadi sunyi. Buhkan Ki
Kebosoro dan puteranya, juga adik-adik seperguruan dan para muridnya, kini mulai percaya akan
kebenaran cerita yang disampaikan Joko Handoko kepada mereka. Buktinya sudah ada, yaitu bahwa
pasukan Tumapel telah menyerbu tempat mereka dengan tuduhan pemberontakan, cocok dengan apa
yang diceritakan Joko Handoko tadi.
“Kanjeng Senopati, tentu paduka masih ingat akan apa yang telah terjadi terhadap puteri paduka dan
pihak Sabuk Tembogo. Saya dan diajeng Wulandari telah melakukan penyelidikan dan mendapat
kenyataan bahwa memang ada pihak ketiga yang sengaja menyebar fitnah dan mengadu dombakan
antara kekuatan-kekuatan di Tumapel, antara lain mengadu antara Kadipaten Tumapel dengan Sabuk
Tembogo, antara Hastorudiro dengan Hati Putih, kemudian bahkan berusaha membunuh puteri paduka
ketika menjadi tamu di rumah ketua Sabuk Tembogo. Dan sekarang, mengadu domba antara
Hastorudiro dengan pasukan Tumapel, dengan menjatuhkan fitnah, menyamar sebagai orang-orang
Hastorudiro untuk membunuhi para prajurit Tumapel. Karena itu, saya harap agar paduka suka
menghentikan pengepungan ini dan mendengar penuturan saya.”
Senopati Pamungkas memang pernah menduga bahwa setelah Sabuk Tembogo benar-benar tidak
pernah memberontak terhadap Tumapel, tentu ada pihak ketiga yang sengaja memburukkan nama
perkumpulan itu. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa pembunuhan terhadap para perajurit Tumapel
yang dilakukan oleh orang-orang bertopeng dengan menggunakan pukulan aji Hastorudiro juga bukan
orang-orang perkumpulan itu. Maka, mendengar penuturan Joko Handoko, dia terkejut bukan main.
“Joko Handoko, keterangan ini membingungkan dan juga berbahaya sekali. Kalau Hastorudiro bukan
pemberontak, lalu siapakah yang membunuhi para prajurit Tumapel itu? Tahukah engkau siapa
orangnya?”
“Saya tahu, Kanjeng Senopati. Bahkan saya bersama diajeng Wulandari pernah tertawan dan hampir
terbunuh oleh mereka. Mereka itulah yang mengatur siasat untuk mengadu domba antara
kekuatan-kekuatan di Tumapel, agar Tumapel menjadi kacau dan juga menjadi lemah.”
“Siapakah mereka itu?”
“Mereka adalah orang-orang pandai dari Kerajaan Daha, Kanjeng Senopati.”
Semua orang terkejut dan Ken Arok mengeluarkan seruan tertahan.
“Kakang Joko Handoko! Yakin benarkah andika akan keteranganmu itu, ataukah hanya dugaanmu
belaka?”
“Bukan hanya dugaan, dimas Ken Arok. Seperti kukatakan tadi, aku dan Wulandari bahkan pernah
ditawan mereka sendiri yang nyaris membunuh kami kalau saja kami tidak ditolong dan dibebaskan oleh
Pangeran Maheso Walungan sendiri. Rombongan oang-orang Daha yang berilmu itu dipimpin oleh
Begawan Buyut Wewenang, atas perintah Sang Prabu Dandang Gendis yang berniat melemahkan
Tumapel yang dianggap tidak tunduk terhadap kerajaan Daha. Mereka mempunyai orang-orang pandai
yang dapat melakukan pukulan seperti pukulan Hastorudiro, pandai memainkan Sabuk Tembogo, seperti
murid-murid Sabuk Tembogo, bahkan ada yang menyamar menjadi murid Hati Putih untuk mengadu
dombakan Hati Putih dengan Hastorudiro. Yang menjadi pimpinan adalah Begawan Buyut Wewenang
yang dibntu Ki Bajulbiru, Ki Suroyudo, Ki Banyakluwo, dan Ki Bagaskoro.”
Mendengar penuturan yang jelas itu, Senopati Pamungkas mengangguk-angguk. “Hemm, sungguh keji
sekali dan curang sekali usaha Sang Prabu Dandang Gendis itu!”
“Paman Senopati, kita serbu saja Daha!” Ken Arok berseru dengan marah karena dia pun percaya
penuh akan kebenaran cerita Joko Handoko.
“Anakmas, Ken Arok, kita tidak berwenang untuk melakukan hal itu. Dan apakah andika mengira
demikian mudahnya memukul Kerajaan Daha yang besar dan memiliki banyak sekali orang pandai dan
bala tentara yang besar itu? Tidak, kewajiban kita hanyalah melaporkan semua ini kepada Sang Akuwu
Tunggal Ametung dan beliau yang akan mengambil keputusan. Bagaimanapun juga, Tumapel memang
masih berada di bawah kekausaan Daha.”
Kini Ki Kebosoro lalu mempersilakan para pimpinan pasukan Tumapel itu untuk masuk dan ikut
berpesta menjadi tamu-tamu Agung, bahkan pasukan itu pun dipersilakan untuk ikut makan minum.
Sungguh peristiwa yang lucu dan menggembirakan. Pertempuran yang nyaris terjadi itu, yang tentu akan
mengalirkan banyak darah dan melayangkan banyak nyawa manusia, kini berubah sama sekali menjadi
pesta pora makan minum dan senda gurau antara kedua pihak!
Setelah selesai makan minum, Senopati Raden Pamungkas mengajak Joko Handoko dan Wulandari ikut
bersama ke Tumapel, untuk menjadi saksi dalam pelaporannya kepada Sang Akuwu, juga hendak
menjadi tamu di rumahnya karena senopati ini suka sekali kepada Joko Handoko dan Wulandari yang
dianggapnya selain pernah berbuat baik terhadap Dewi Pusporini, juga kini bahkan menjadi
pahlawan-pahlawan yang menyelamatkan Tumapel. Karena dibutuhkan sebagai saksi di depan Sang
Akuwu, tentu saja Joko Handoko dan Wulandari tidak dapat menolaknya dan mereka pun bersama
pasukan itu ke Tumapel.
Berkat ketrampilan dan kegagahannya, juga dibantu leh kedudukan Danyang Lohgawe yang menjadi
penasihat Sang Akuwu Tunggal Ametung dan amat dihargai karena kebijaksanaannya, maka sebentar
saja Ken Arok telah memperoleh kemajuan dan diangkat menjadi senopati muda dalam pasukan
pengawal kerajaan. Kemajuan ini terjadi semenjak Ken Arok bertemu dengan Danyang Lohgawe dan
barulah dia melihat betapa kehidupannya yang lalu itu sia-sia belaka. Kini dia menjadi seorang panglima
muda yang disegani dan dihormati. Akan tetapi, Ken Arok masih belum puas. Dia bercita-cita tinggi,
ingin mencapai kedudukan setinggi-tingginya. Dia mulai membanding-bandingkan kedudukannya
sekarang dengan kedudukan orang lain, dalam hal ini saja kedudukan orang yang lebih tinggi, seperti
Tunggal Ametung. Dia merasa tidak kalah dalam segalanya dengan Tunggal Ametung, akan tetapi kenapa
kedudukannya kalah jauh dan dia menjadi bawahan Sang Akuwu itu? Hal ini mendatangkan rasa
penasaran dan iri hati.
Manusia hidup takkan pernah berbahagia selama dia memandang jauh ke depan, selama dia
mengharapkan hal-hal yang lebih baik daripada keadaannya saat ini. Pengharapan akan keadaan yang
lebih baik itu dengan sendirinya mendatangkan rasa tidak puas dan kecewa akan keadaan saat ini. Dan
dia pun akan selalu menjadi korban dari keinginannya sendiri, takkan pernah puas selamanya karena dari
keinginannya dia selalu mengharapkan yang lebih baik. Dan keadaan ini oleh kita sudah dianggap amat
baik, dengan istilah cita-cita! Padahal, kebahagiaan terletak pada saat ini! Berbahgialah orang yang dapat
menikmati saat ini, sekarang, dalam keadaan bagaimana pun juga, tanpa memandang ke masa depan,
tanpa menginginkan hal yang lain daripada yang ada. Karena hidup adalah saat ini, kebahagiaan hidup
adalah dalam saat ini.

16Bersambung
KEN AROK - EMPU GANDRING-23.

KEN AROK - EMPU GANDRING-23.

06:55 0
KEN AROK - EMPU GANDRING-23.
Akan tetapi sang begawan tetap tenang dan menyeringai. "Bagi hamba, semua ini hanya siasat untuk
menaklukkan Joko Handoko agar di mau membantu tugas hamba. Mereka adalah musuh-musuh, kalau
tidak mau menyerah hukumannya hanyalah kematian."
"Tidak!" Pangeran Maheso Walungan membentak. "Selama ada aku di sini, kalian tidak boleh bertindak
sewenang-wenang. Joko Handoko dan Wulandari ini tidak bersalah. Mereka harus dibebaskan sekarang
juga."
"Akan tetapi, pangeran!" Begawan buyut Wewenang membantah. "Mereka sudah tahu akan semua
rahasia kita............!"
"Rahasiamu yang busuk, bukan rahasiaku. Kalau Tumapel bersikap memusuhi Daha, jalan satu-satunya
yang patut hanya menggempur dan menghajarnya, bukan dengan cara licik mengadu domba untuk
melemahkannya. Aku adalah seorang senopati, bahasaku hanyalah tindakan yang gagah dan jujur, bukan
dengan car-cara,yang licik dan curang. Joko Handoko dan Wulandari, sekarang kalian pergilah."
"Raden Maheso Walungan! Kalau paduka menentang hamba, berarti paduka menentang perintah
Sribaginda!" Begawan Buyut Wewenang berseru memperingatkan pangeran itu, sengaja mempergunakan
nama Sang Prabu Dandang Gendis untuk menggertak pangeran itu.
"Santi-santi-santi.............!" Tiba-tiba Ki Danyang Maruto melangkah maju dan sepasang matanya
mencorong memandang kepada Begawan Buyut Wewenang. "Buyut Wewenang, biarlah urusan ini
menjadi urusan antara engkau dan au saja. Aku yang membebaskan dua orang muda yang tidak bersalah
ini. Pangeran dan Sribaginda tidak perlu mencampurinya. Aku yang bertanggung jawab, mengingat
bahwa pemuda ini adalah cucu Panembahan Pronosidhi yang menjadi sahabat baikku."
Begawan Buyut Wewenang masih merasa sungkan dan tidak enak hati untuk bertentangan dengan
Pangeran Maheso Walungan yang juga merupakan senopati tangguh dari Daha, akan tetapi menghadapi
Ki Danyang Maruto, dia berbesar hati. Bagaimanapun juga, pendeta Siwa Buddha ini tidak memiliki
kedudukan, bahkan dalam banyak hal seringkali terjadi ketidaksesuaian paham antara para pendeta Siwa
Buddha dengan pendirian Sribaginda.
"Babo-babo, Danyang Maruto, bicaramu seperti seekor katak yang merasa dirinya sebesar bukit!
Engkau agaknya belum pernah mengenal kesaktianku. Lihat nagaku ini!"
Berkata demikian, Begawan Buyut Wewenang yang sengaja hendak memamerkan kesaktiannya,
melontarkan tongkat hitamnya ke udara, sambil mengeluarkan pekik melengking nyaring. Semua orang
terkejut dan memandang ke arah tongkat hitam yang dilontarkan ke atas itu dan semua mata terbelalak
karena melihat betapa tongkat hitam itu telah lenyap bentuknya dan nampaklah seekor ular naga yang
besar dengan sepasang mata mencorong, moncong lebar terbentang dan lidahnya merah seperti
mengeluarkan api dengan suara mendesis-desis! Melihat ini Joko Handoko juga terkejut an diapun cepat
mengerahkan tenaga saktinya. Namun, hal ini tidak melenyapkan bayangan naga itu, hanya naga itu
kadang-kadang nampak seperti tongkat asalnya, dan kadang-kadang berubah menjadi naga lagi dalam
pandang matanya.
"Santi-santi-santi.............! Andika seperti kanak-kanak saja, Buyut Wewenang!" Ki Danyang Maruto
lalu mengambil segemgam tanah damn melemparkan tanah itu ke arah bayangan naga itu sambil berkata,
"Segala sesuatu kembali kepada asalnya."
Dan naga itu pun terjatuh, mengeluarkan suara berkelotakan karena telah berubah menjadi sebatang
tongkat hitam berbentuk ular lagi!. Begawan Buyut Wewenang cepat mengambil tongkaytnya dan dia
nampak marah sekali. Akan tetapi pada saat itu, Pangeran Maheso Walungan sudah meloncat ke depan
dengan sikap marah.
"Paman Begawan Buyut Wewenang! Engkau sudahi semua permainan ini atau akan menganggapmu
sebagai seorang pembangkang!"
Sejenak kedua orang ini saling pandang dengan tajam. Akhirnya Begawan Buyut Wewenang menarik
napas panjang dan menundukkan mukanya. Dia tahu bahwa kalau dia bertekat menentang, tentu
pangeran ini dapat mengerahkan pasukannya dan hal ini tidak akan disukai oleh Sribaginda. Dan
mangedu ilmu di situ, belum tentu dia menang karena di situ terdapat Ki Danyang Maruto yang sakti, guru
dari Pangeran itu.
"Baiklah, Raden. Hamba menaati perintah paduka dan tidak akan menghalangi kalau paduka
membebaskan mereka berdua ini.
Pangeran Maheso Walungan menarik napas lega. Dia tahu bahwa kakek ini memiliki pengaruh di istana,
dan dia pun percaya bahwa kakek ini menjalankan tugas yang diperintahkan oleh kakaknya, Sribaginda.
Kalau sampai terjadi bentrokan, tentu setidaknya dia akan menerima teguran dari kakaknya.
"Joko Handoko dan Ni Wulandari, kalian boleh pergi sekarang," katanya kepada dua orang muda itu.
"Maaf, kanjeng pangeran," kata Joko Handoko. "Keris pusaka hamba dirampas oleh sang Begaawan,
hamba menuntut agar dikembalikan kepada hamba karena keris pusaka itu ciptaan Eyang Empu
Gandring dan merupakan pusaka pemberian ibu hamba."
Sang Pangeran kini memandang kepada Begawan Buyut Wewenang dan suaranya terdengar
memerintah dan penuh wibawa, "Paman begawan, harap andika kembalikan keris pusaka milik Joko
Handoko yang paman sita."
Kakek itu mengerutkan alisnya, merasa sayang kalau harus mengembalikan keris pusaka yang dia tahu
amat ampuh itu. Akan tetapi karena di situ terdapat sang pangeran dan gurunya, diapun tidak berani
membantah. Dengan gerakan marah dia mengambil keris dan sarungnya dari ikat pinggang dan
melemparkannya dengan pengerahan tenaga ke arah Joko Handoko. Pemuda ini cepat menyambut
dengan kedua tangannya dan biarpun lontaran itu amat kuat, dia dapat menerimanya dengan baik, lalu
menyimpan kembali kerisnya di ikat pinggang.
Joko Handoko lalu menghadap sang pangeran. "Kanjang pangeran, terima kasih atas kebaikan hati
paduka yang dilimpahkan kepada hamba berdua. Hamba akan mengingat paduka sebagai seorang
Pangeran yang gagah perkasa, adil dan bijaksana."
"Hamba tidak mungkin dapat melupakan budi kebaikan paduka yang telah menyelamatkan hamba dari
malapetaka," kata pula Wulandari dengan hati terharu. Ia tahu bahwa kalau tidak ada pangeran itu yang
menolongnya, tentu ia akan menderita siksaan yang lebih hebat dari pada segala siksa, walaupun ia masih
percaya bahwa pada saat terakhir, tentu Joko Handoko akan meronta, membebaskan dirinya dan
membelanya mati-matian.
Pangeran Maheso Walungan tersenyum dan memandang kepada mereka berdua dengan kagum.
"Kalau saja di Daha terdapat orang-orang muda seperti kalian......!"hanya demikianlah dia berkata. Joko
Handoko dan Wulandari lalu memberi hormat dan keluar dari dalam gedung itu. Pangeran Maheso
Walungan bersama gurunya, Ki Danyang Maruto juga segera kembali ke kota raja.
Peristiwa ini mengakhiri usaha Begawan Buyut Wewenang yang mengadu domba antara kekuatan yang
ada di Tumapel untuk melumpuhkan dan melemahkan Kadipaten Tumapel. Bukan saja karena Pangeran
Maheso Walungan memprotes, kepada Sribaginda yang segera mencabut kembali perintahnya dan
menyuruh Begawan Buyut Wewenang kembali ke kota raja, akan tetapi juga karena para tokoh di
Tumapel tidak dapat diadu-domba lagi setelah mereka mendengar tentang siasat licik yang dijalankan
oleh orang-orang Daha itu.

****
Para tokoh Tumapel tahu akan siasat itu dari peristiwa yang terjadi di kaki Gunung Arjuno, yaitu di
padukuhan perkumpulan Hastorudiro, seperti telah kita ketahui di bagian depan, empat orang perajurit
yang dipimpin oleh perwira Ranunilo, ketika berusaha merampas kembali Dewi Pusporini, telah terbunuh
oleh dua orang bertopeng yang menggunakan ilmu dari Hastorudiro, yaitu Pukulan maut yang
meninggalkan bekas telapak tangan merah seperti darah. Pukulan ini hanya dimiliki orang-orang
Hastorudiro (Tangan Berdarah), maka tentu saja ketika Ranunilo melapor kepada Senopati Raden
Pamungkas, senopati itu menjadi marah. Setelah melapor kepada Sang Akuwu tunggal Ametung tentang
semua peristiwa yang terjadi, sang akuwu memerintahkan untuk menyerbu perkumpulan Hastorudiro di
kaki Pegunungan Arjuno.
Senopati Raden Pamungkas kini berangkat sendiri memimpin pasukan yang duapuluh losin banyaknya
menuju ke Gunung Arjuno. Pada waktu itu, ketua perkumpulan Hastorudiro adalah Ki Kebosoro,
seorang yang memiliki aji kesaktian tangan berdarah, yang turun-temurun diwarisinya dari keluarganya.
Usianya sudah enampuluh lima tahun, tubuh pendek gemuk dan wataknya keras.
Perkumpulan Hastorudiro tak dapat dinamakan perkumpulan bersih. Sebaliknya malah, perkumpulan ini
condong ke golongan hitam, tidak segan melakukan kejahatan untuk membela kepentingan sendiri atau
memperebutkan harta. Namun, harus diakui bahwa di dalam dada Ki Kebosoro yang keras itu sama
sekali tidak terkandung sifat menentang atau memberontak terhadap Kadipaten Tumapel. Bahkan dia
selalu menekankan kepada para anak buahnya agar jangan melawan Para perajurit Tumapel, apa lagi
melakukan pembunuhan. Sedikitnya ada peragaan dan semangat patriot di dalam dada Ki Kebosoro.
Kalaupun ada anak buahnya yang kadang-kadang melakukan perampokan, maka mereka selalu
melakukan pekerjaan jahat ini di wilayah Daha dan tidak pernah mengganggu rakyat Tumapel sendiri.
Karena inilah, makan nama perkumpulan Hastorudiro tetap baik dan disegani di wilayah Tumapel.
Pada suatu hari, sejak pagi padukuhan Hastorudiro kedatangan banyak sekali tamu. Sejak pagi
orang-orang berdatangan memasuki dusun kecil yang menjadi pedukuhan atau sarang dari perkumpulan
itu. Tidak kurang dari seratus orang anggota Hastorudiro tinggal berkumpul di dusun itu. Sebuah rumah
yang cukup besar berdiri di tengah-tengah dan ini merupakan rumah tinggal dan tempat pertemuan dari
ketua Hstorudiro. Sedangkan para anggotanya tinggal di dalam pondok-pondok yang dibangun di sekitar
rumah besar itu. Para anggota ini tinggal bersama keluarga mereka sehingga perkampungan Hastorudiro
itu memiliki penghuni tidak kurang dari tiga ratus orang.
Pada hari itu, sejak kemarin semua pondok dan terutama sekali rumah besar tempat tinggal Ki
Kebosoro telah dihias dengan janur kuning dan kembang-kembang. Kiranya Hastorudiro sedang
mengadakan Pesta perayaan, merayakan usia delapan windu dari ketua Hastorudiro itu. Tentu saja
undangan disebar, terutama para tokoh-tokoh dan perkumpulan-perkumpulan yang terpandang di
wilayah Tumapel. Itulah sebabnya mengapa sejak pagi para tamu berdatangan dan mereka dipersilakan
duduk di ruangan besar dari rumah KI Kebosoro yang sudah nampak menyambut para tamu dengan
ketawanya yang bergelak dan suaranya yang nyaring. Ki Kebosoro dalam menyambut Para tamu dibantu
oleh dua orang. Laki-laki berusia enam puluh tahun. Yang seorang bertubuh tinggi kurus bermuka hitam
penuh cacar dan orang ini bernama Gagaksampar ada pun orang ke dua yang tinggi besar berwajah
gagah dan tampan bernama Ki Gagakmeto. Kedua orang ini adalah adik-adik seperguruan Ki Kebosoro
dan mereka merupakan pembantu-pembantu dan pimpinan dari perkumpulan Hastorudiro. Para murid
tertua yang jumlahnya belasan orang bertugas menerima tamu dan mempersilakan mereka duduk,
beramah tamah dengan mereka, sedangkan murid-murid rendahan bertugas menjadi pelayan dalam pesta
itu.
Ki Kebosoro sendiri dalam menyambut tamu-tamu kehormatan, ditemani oleh seorang pemuda berusia
duapuluh tahun lebih, berwajah tampan dan gagah, berpakaian mewah. Pemuda ini bernama
Pramudento, putera tunggal Ki Kebosoro. Semenjak kecil, Pramudento ditinggal mati ibunya dan setelah
istrinya mati, Ki Kebosoro tidak mempunyai anak lagi dari para selirnya, walaupun sudah kerap kali dia
berganti selir. Karena itu, tidak mengherankan kalau dia amat sayang kepada Pramudento. Selain
mewarisi ilmu-ilmu dari ayahnya, juga Pramudento oleh ayahnya dikirim kepada Ki Ageng Marmoyo,
terhitung uwa guru dari Ki Kebosoro sendiri, yang berdiam di lereng Gunung Bromo untuk berguru.
Maka, setelah selam tiga tahun digembleng oleh pertapa Bromo itu, kini tingkat kepandaian Pramudento
maju dengan pesatnya sampai melampui tingkat ayahnya! Hal ini membuat Ki Kebosoro manjadi
semakin bangga dan sayang kepada puteranya itu.
Banyak orang tua yang menyayang puteranya dengan hati penuh kebanggaan, dan kebanggaan ini sendiri
sudah menunjukkan, adanya pementingan diri sendiri, menuruti senangnga hati sendiri. Dan cinta kasih
yang sudah dilumuri oleh kepentingan diri sendiri itu tiada bedanya dengan kesenangan terhadap benda
yang dianggap menyenangkan dan berharga, dan sayang seperti itu condong untuk mudah luntur, yakni
apabila yang disayangnya itu tidak lagi mendatangkan kesenangan bagi dirinya! Dan sayang hanya kerena
perasaan bangga dan senang ini condong untuk membuat orang tua memanjakan puteranya. Kalau sudah
begini, maka orang tua meracuni pertumbuhan watak puteranya karena kemanjaan itu hanya
membesarkan si-aku yang selalu harus dituruti kehendaknya. Keinginannya untuk bersenang sendiri tanpa
memperdulikan orang lain. Memanjakan anak, menyanjung dan memuji-mujinya menumbuhkan perasaan
tinggi hati kepada jiwa anak, yang akan merasa bahwa dirinya amat baik, amat pandai, seperti yang
dipuji-puji selalu oleh orang tuanya, dan si anak akan terbiasa oleh gambaran tentang dirinya sendiri yang
terlalu tinggi.
Cinta kasih kepada anak memang membiarkan anak tumbuh wajar dan bebas, seperti penggembala
yang mengamati domba-dombanya, dibiarkan doma-domba itu berkeliaran di padang rumput, tanpa
batas. Hanya mengamati dari belakang, tutwuri handayani, turun tangan kalau melihat dombanya
menyeleweng, bukan demi diri sendiri melainkan demi si domba agar jangan sampai tersesat, jangan
sampai merusak tanaman orang, dan jangan sampai makan benda beracun. Perasaan sayang dan mesra
terhadap yang dikasihi bukanlah tumbuh dari kenginan untuk senang sendiri. Dan pendidikan terbaik
adalah perasaan cinta kasih itu sendiri, karena perasaan ini akan terasa oleh si anak, terasa dalam setiap
ucapan orang tua, setiap gerak-gerik orang tua, baik kalau sedang memberi nasihat atau sedang memberi
peringatan dan larangan.
Demikian pula halnya dengan Pramudento. Rara sayang ayahnya yang penuh pemanjaan ini membuat dia
merasa dirinya tinggi dan hebat, mendatangkan perasaan tinggi hati dan angkuh dalam batin pemuda itu.
Apalagi dia hidup di lingkungan orang-orang yang condong melakukan hal-hal yang jahat seperti
perampok, mempergunakan kekerasan mencapai semua keinginan sendiri, dan sebagainya.
Setelah matahari naik tinggi, di ruangan itu telah berkumpul tidak kurang dari seratus orang tamu dari
berbagai macam golongan. Akan tetapi melihat dandanan dan sikap mereka, sebagian besar adalah
jagoan-jagoan dan tokoh-tokoh pendekar di Tumapel. Kepada setiap tamu terhormat Ki Kebosoro
memperkenalkan puteranya yang baru beberapa bulan pulang dari Gunung Bromo. Semua tamu
memandang dengan kagum Pramudento memang seorang pemuda yang ganteng, gagah perkasa dan
menarik perhatian para tamu yang mempunyai anak perempuan. Akan senang hati mereka kalau
mempunyai seorang mantu seperti pemuda ini! Dan memang hal itu merupakan satu di antara keinginan
hati Ki Kebosoro. Dia ingin mencarikan jodoh puteranya, dan siapa lagi kalau bukan puteri-puteri para
tokoh itu yang pantas mendampingi hidup Pramudento, sebagai isterinya? Puteranya hanya pantas kalau
berjodoh dengan puteri-puteri dari tokoh-tokoh kenamaan di saat itu.
Di antara para tamu terdapat pula kurang lebih dua puluh orang wanita, yaitu isteri atau puteri tamu-tamu
yang membawa keluarganya. Tentu saja para wanita ini lebih tertarik lagi melihat Pramudento dan terjadi
bisik-bisik di antara mereka. Hal ini diketahui oleh Pramudento yang sejak tadi tersenyum-senyum manis
menjual lagak menjual mahal sehingga para tamu wanita itu menjadi semakin terpikat.
Selesai pesta berjalan dengan meriahnya dan tidak ada lagi tamu baru yang datang, tiba-tiba muncul
seorang pemuda dan seorang gadis yang segera menarik perhatian pihak tuan rumah dan para tamu
karena pemuda itu walaupun berpakaian sederhana, nampak halus dan tampan, sedangkan gadis itupun
manis sekali mereka ini Joko Handoko dan Wulandari. Ketika keduanya lolos dari Dusun Memeling
karena pertolongan Pangeran Maheso Walungan dan Ki Danyang Maruto, mereka lalu cepat-cepat pergi
ke Gunung Anjasmoro untuk berkunjung kepada perkumpulan Hastorudiro. Seperti diketahui, eyang dari
Joko Handoko, Panembahan Pronosidhi, telah tewas ketika tempat pertapaannya diserbu oleh
orang-orang dari Hastorudiro. Akan tetapi kunjungan Joko Handoko dan Wulandari ke tempat itu sama
sekali bukan dengan maksud membalas dendam atas kematian kakeknya. Sama sekali tidak. Sebelum
meninggal dunia, Panembahan Pronosidhi sendiri sudah meninggalkan pesan kepada Joko Handoko agar
jangan membalas dendam terhadap Hastorudiro, apalagi setelah dia mendengar dari Buyut Wewenang
dan anak buahnya bahwa semua peristiwa itu memang diatur oleh orang-orang Daha, merupakan siasat
untuk mengadu domba antara orang-orang Tumapel sendiri, Kunjungan ini justeru untuk memberi
peringatan kepada Hastorudiro akan fitnah yang dilakukan oleh orang-orang Daha itu telah membunuh
empat orang perajurit Tumapel dengan pukulan yang meninggalkan bekas tangan merah, dan tentu
Kadipaten Tumapel akan marah kepada perkumpulan ini dan bukan tidak mungkin akan mengirim
pasukan untuk membasmi Hastorudiro yang tentu dianggap memberontak! Juga dia ingin memberi
penjelasan bahwa urusan antara aliran Hati Putih yang dipimpin kakeknya dan Hastorudiro yang dipimpin
Ki Kebosoro, tentu juga disebabkan oleh fitnah keji yang dilakukan oleh orang-orang daha.
Melihat munculnya dua orang tamu baru yang datangnya agak terlambat, Ki Gagaksampar segera
menyambut keluar karena pada saat itu ,Ki Kebosoro dan Pramudento sedang menajamu tamu-tamu
agungnya yang duduk di tempat kehormatan, sedangkan Ki Gagaksampar bertugas juga sibuk di meja
lain melayani para tamu.
Melihat bahwa pemuda dan gadis itu adalah orang-orang yang tidak dikenalnya, Ki Gagaksampar
mengerutkan alisnya. Akan tetapi dia tetap menyambut mereka karena dia mengira bahwa tentu dua
orang ini datang mewakili orang tua atau guru mereka. Apalagi gadis itu demikian cantik manis dan Ki
Gagaksampar yang bermuka hitam penuh cacar itu bukan seorang pria yang alim.
"Selamat datang di padukuhan kami. Andika berdua siapakah dan dari mana? Saya Ki Gagaksampar
mewakili kakang Kebosoro untuk menyambut tamu yang baru datang," katanya sambil menyeringai dan
matanya menatap tajam dan menjelajahi wajah Wulandari yang cantik manis. Berkerut gadis itu betapa
orang bermuka hitam buruk ini memandanginya tanpa menyembunyikan rasa kagumnya dan sinar kurang
ajar bermain di pandang mata itu.
Joko Handoko membungkuk sebagai tanda hormat dan dengan sikap sopan dia pun menjawab,
"Maafkan kami, Paman. Sesungguhnya kami tidak tahu bahwa Hastorudiro sedang mengadakan pesta
perayaan dan maafkan kalau kedatangan kami mengganggu. Akan tetapi kami mempunyai urusan penting
untuk disampaikan kepada ketua Hastorudiro, yaitu paman Kebosoro."
Ki Gagaksampar memandang tak senang. Siapa pemuda ini yang berani mengganggu pesta mereka?
Kalau ada urusan, kenapa tidak datang lain hari saja? Akan tetapi karena di situ ada Wulandari, dia tidak
mau memperlihatkan sikap kasar dan menahan kemarahannya.
"Kisanak, kalau engkau mempunyai keperluan dengan ketua kami, sebaiknya lain hari saja datang lagi ke
sini."
"Akan tetapi urusan yang akan kami sampaikan ini penting sekali, paman," tiba-tiba Wulandari berkata.
"Kalau tidak disampaikan sekarang, takut kalau-kalau akan terlambat. Harap kau panggilkan ketua
Hastorudiro sebentar saja agar kami dapat menyampaikan urusan kami."
Kini Gagaksampar mengamati gadis itu dan mulutnya menyeringai semakin lebar, memperburuk muka
yang tak sedap dipandang itu. "Bocah ayu, ada urusan apa sih engkau demikian ingin bertemu dengan
Kakang Kebosoro?Kalau ada urusan, sampaikan saja kepada aku, Gagaksampar, tentu beres. Aku
memwakili kakang Kebosoro dan aku adalah adik seperguruannya? Nah, bocah manis, lekas katakan,
ada urusan apakah agar jangan mengganggu perayaan kami ini."
"Sekali-lagi maaf, Paman," kata Joko Handoko. "Hanya kepada ketua Hastorudiro saja kami dapat
menyampaikan urusan yang amat rahasia dan penting ini, tidak kepada orang lain."
Ki Gagaksampar memandang marah. Ucapan-ucapan itu, walaupun sopan, baginya berarti bahwa dua
orang muda ini tidak percaya kepadanya! "Hemm, katakan siapa engkau dan dari mana, mungkin aku
akan melaporkan tentang kedatanganmu kepada kakang Kebosoro."
"Nama saya Joko Handoko, paman, dan saya datang dari lereng Anjasmoro......."
"Heh, Andika dari aliran Hati Putih?" Kakek itu membentak dan beberapa orang tamu yang duduknya
agak di pinggir menoleh dan karena mereka melihat seorang gadis manis sekali, mereka tertarik dan terus
memandang keluar.
Joko Handoko menggangguk. "Benar, Paman, saya adalah cucu dari mendiang Eyang Panembahan
Pronosidhi............."
"Babo-babo keparat! Kiranya mata-mata dari Hati Putih yang sengaja datang untuk mengacau!
Mampus kau di tanganku!" Sambil membentak dengan suara nyaring, Ki Gagaksampar menerjang dan
menghantam ke arah kepala Joko Handoko. Tamparan itu hebat sekali karena dilakukan dengan
pengerahan tenaga Hastorudiro{Tangan Berdarah}! Akan tetapi, Joko Handoko cepat mengelak dan
ketika lawannya menyusulkan serangan bertubi-tubi sampai tiga kali, dia masih dapat mengelak dengan
mudah.
"Heiii, engkau ini sungguh kasar dan tidak tahu aturan!" Wulandari membentak dan ia pun sudah melolos
sabuk tembaga dari pinggangnya, lalu menyerang Ki Gagaksampar untuk membantu Joko Handoko yang
didesak oleh kakek itu.
"Wuut-wuuuutt, singg..........!" Sabuk itu menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar.
Ki Gagaksampar meloncat ke belakang untuk mengelak. "Babo-babo! Sabuk Tembogo! Kiranya
engkau ini bocah manis adalah murid Sabuk Tembogo. Kenapa Sabuk Tembogo ikut-ikutan membantu
Hati Putih memusuhi kami?"
Joko Handoko membungkuk lagi. "Paman, harap dengarkan dulu, sesungguhnya kami datang bukan
untuk bermusuhan, melainkan untuk membicarakan hal yang teramat penting dengan ketua Hastorudiro."
"Keparat! Siapa percaya omongan Hati Putih? Namanya saja Hati Putih, akan tetapi hatinya berbulu dan
jahat! Siapa dapat melupakan ini?" Dan dia pun mengangkat sedikit kain penutup kepala yang kiri
sehingga nampak betapa kepalanya botak dan daun telinganya yang kiri buntung dan tinggal sedikit saja.
Inilah luka yang dideritanya ketika dia ikut menyerbu ke Anjasmoro, ketika dalam pembelaan diri
mendiang Panembahan Pronosidhi mempergunakan aji kesaktian Nogopasung. "Kami sudah mendengar
tentang kematian Panembahan Pronosidhi dan kami sudah menganggap habis semua urusan. Eh, tidak
tahunya kamu ini tikus cilik berani datang mencari keributan!"
"Kakang Gagaksampar, apakah yang terjadi? Siapa pemuda ini?" Tiba-tiba Ki Gagakmeto yang berlari
keluar mendengar suara ribut-ribut, bertanya, memandang keduanya dengan penuh perhatian.
Dibandingkan dengan Gagaksampar Ki Gagakmeto ini lebih mata keranjang lagi.
Melihat munculnya seorang laki-laki berusia enam puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan berwajah
tampan gagah, Joko Handoko cepat memberi hormat. "Maaf, apakah paman ketua perkumpulan
Hastorudiro?"
Ki Gagakmeto menoleh kepada Joko Handoko dan menggeleng kepala, lalu dia memandang lagi wajah
Wulandari, melihat sabuk tembaga di tangan gadis itu. "Eh-eh, bukankah itu sabuk tembaga yang berada
di tanganmu, bocah ayu? Ki Bragolo memiliki murid semanis ini? Sungguh mengagumkan!"
Tentu saja Wulandari marah sekali mendengar ucapan itu. Ia dan Joko Handoko bersusah payah datang
ke tempat ini untuk memperingatkan Hastorudiro akan ancaman bahaya yang menjadi akibat fitnah
orang-orang Daha, akan tetapi mereka disambut secara kurang ajar sekali.
"Paman ini adalah cucu Panembahan Pronosidhi!" kata Gagaksampar dan mendengar ini, seketika
Gagakmeto membalikkan tubuhnya, menghadapi Joko Handoko dengan mata melotot marah. Dia
mengangkat lengan kirinya ke atas dan nampak oleh Joko Handoko betapa lengan itu, di bawah siku,
nampak bengkok, tanda bahwa lengan itu pernah patah tulangnya. Dan memang tulang lengan kiri itu
pernah patah terkena sambaran aji kesaktian Nogopasung yang dipergunakan mendiang Panembahan
Pronosidhi ketika membela diri dari pengeroyokan orang-orang Hastorudiro.
"Keparat, engkau harus membayar hutang kakekmu kepadaku!" Dan seperti juga Ki Gagaksampar tadi,
tiba-tiba saja Ki Gagakmeto sudah menyerang dengan pukulan dahsyat ke arah dada Joko Handoko.
Pemuda ini merasa mendongkol juga. Tak disangkanya bahwa orang-orang Hastorudiro begini kasar dan
sukar diajak bicara secara baik. Melihat datangnya pukulan yang amat dahsyat, dia pun mengangkat
lengannya menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Duukkkk........!" Dua lengan yang terisi tenaga sakti yang amat kuat bertemu di udara dan akibatnya,
tubuh Ki Gagakmeto terhuyung ke balakang sedangkan Joko Handoko masih berdiri tegak! Hal ini
bukan saja mengejutkan dua orang adik seperguruan ketua Hastorudiro itu, akan tetapi juga membuat
mereka marah.
"Kalian ini orang-orang kurang ajar, menyambut tamu seperti ini!" Wulandari sudah membentak lagi dan
ia pun memutar sabuk tembaganya menghadang di depan Joko Handoko. Sebaliknya, Joko Handoko
malah khawatir melihat sikap Wulandari yang galak karena dia tahu bahwa tingkat kepandaian dua orang
itu saja sudah lebih tinggi dari tingkat gadis itu.
"Paman berdua mundurlah, biar aku menghadapi pengacau-pengacau ini!" Tiba-tiba terdengar suara
halus dan tiba-tiba saja sebuah tangan yang sudah menangkap ujung sabuk tembaga yang diputar oleh
Wulandari. Gadis itu terkejut, sukar dipercaya bahwa ada orang mampu menangkap ujung sabuk yang
diputarnya, karena hal itu lebih berbahaya dari pada menangkap sebatang pedang tajam yang sedang
diputar. Akan tetapi jelas bahwa sabuknya telah ditangkap ujungnya dan ketika ia mencoba untuk
menariknya, sabuk itu tetap saja terpegang dan tidak terlepas dari pegangan orang. Ia pun memandang
penuh perhatian. Dua pasang mata bertemu dan pemuda yang menangkap ujung sabuk tembaga itu
tersenyum ketika melihat bahwa yang memegang sabuk tembaga adalah seorang gadis yang masih muda
dan cantik manis sekali.
"Ah, kiranya seorang adik yang manis sekali! Sungguh mengherankan, siapakah andika dan mengapa
andika membikin ribut di sini?" Pramudento bertanya sambil melepaskan ujung sabuk tembaga.
"Dua ekor monyet tua ini yang membikin ribut. Kami datang baik-baik dan mereka menyambut dengan
serangan! Wulandari menjawab dengan ketus, agak jenuh karena maklum bahwa pemuda tampan yang
muncul ini tangguh bukan main, dan agaknya lebih tangguh dari pada dua orang kakek itu. Pramudento
menoleh dan memandang kepada dua orang paman gurunya dengan heran mengapa dua orang itu
menerima kunjungan seorang gadis semanis dia dengan kasar.
"Pemuda itu adalah cucu Panembahan Pronosidhi dari Anjasmoro!" teriak Ki Gagaksampar. Mendengar
disebutnya nama ini, Pramudento mengerutkan alisnya, lalu melangkah maju menghadapi Joko Handoko.
"Jadi kamu datang untuk memwakili aliran Hati Putih dan memata-matai kami?" bentak Pramudento
dengan sikap mengejek dan memandang rendah. "Apakah kamu berkepala tiga dan berlengan enam
maka berani sekali menentang kami?" Berkata demikian Pramudento sudah menggerakkan tangan kirinya
menampar. Cepat sekali gerakannya, dan ketika Joko Handoko melangkah mundur mengelak, dia
merasa betapa ada hawa panas sekali keluar dari telapak tangan pemuda itu. Terkejutlah Joko Handoko
karena dia tahu bahwa pemuda ini kejam sekali, begitu menyerangnya telah mempergunakan aji pukulan
yang ganas, yang kalau mengenai sasaran tentu akan berbahaya sekali.
Sebelum Pramudento menyerang lagi, terdengar seruan Ki Kebosoro. "Dento, tahan......." Kakek ketua
aliran Hastorudiro ini tadi mendengar ribut-ribut dan cepat melangkah keluar. Dia segera menahan
puteranya yang kelihatan hendak menyerang seorang pemuda yang tidak dikenalnya.
"Dento, apa yang telah terjadi? Siapakah ki sanak ini?" Dia memandang kepada Joko Handoko. Melihat
kakek yang pendek gemuk dan sikapnya penuh wibawa ini, Joko Handoko menduga bahwa tentu inilah
ketua aliran Hastorudiro, maka dia cepat maju dan membungkuk dengan sikap hormat.
"Maafkan kami, Paman. Saya bernama Joko Handoko dari Gunung Anjasmoro, dan ini adalah diajeng
Wulandari, puteri ketua Sabuk Tambogo. Kami sengaja datang untuk bertemu dengan ketua
Hastorudiro. Apakah paman yang menjadi ketua perkumpulan Hastorudiro?"
Diam-diam Ki Kebosoro juga terkejut mendengar bahwa pemuda itu datang dari Gunung Anjasmoro,
akan tetapi dia dapat menahan perasaannya dan tidak sembrono seperti dua orang adik seperguruannya
atau puteranya.
"Hemmm, orang muda, aku adalah Ki Kebosoro, ketua aliran Hastorudiro. Andika datang dari
Anjasmoro, apakah dari aliran Hati Putih?"
"Tidak keliru, paman Kebosoro, aku adalah cucu mendiang eyang Panembahan Pronosidhi, akan tetapi
kedatanganku ini sama sekali tidak ada urusannya dengan kesalahpahaman yang terjadi antara
Hastorudiro dan Hati Putih, justeru kedatanganku ini untuk menjelaskan segalanya, karena kedua pihak
telah menjadi korban fitnah dan adu domba paman.
Ki Kebosoro mengerutkan alisnya dan memandang wajah itu penuh selidik.
"Orang muda, apa maksud kata-katamu itu?" Joko Handoko menoleh ke kanan kiri dan melihat betapa
banyak tamu yang kini memperhatikan percakapan mereka, dia pun membungkuk lagi. "Paman
Kebosoro, rahasia yang akan kusampaikan ini teramat penting, bahkan menyangkut keselamatan
Hastorudiro yang terancam bahaya. Dapatkah kita bicara di dalam agar tidak terdengar orang lain?"
"Kakang Kebosoro kenapa melayani bocah dari aliran Hati Putih? Biarlah aku membunuhnya" kata Ki
Gagaksampar yang membuka ikat kepala sehingga nampak kepala botaknya dan telinga yang buntung
karena hatinya terasa panas, membuat kepalanya menjadi panas pula. Orang ini memang biasanya
membiarkan kepala botaknya telanjang begitu saja dan hanya karena ada pesta parayaan maka dia
menutup kepala botaknya dengan kain kepala.
Akan tetapi Kebosoro melihat sikap yang amat tenang dan serius dari pemuda itu, dan dia pun dapat
melihat bahwa pemuda ini, betapapun sederhana sikapnya, namun memiliki wibawa yang cukup kuat. Dia
bukan orang yang sembrono mengandalkan kekuatan sendiri saja seperti adik-adik seperguruannya, dan
karena inilah membuat dia berwibawa dan dapat menjadi ketua aliran Hastorudiro yang terkenal.
"Adik Gagaksampar, jangan mengotorkan pesta kita dengan keributan. Kalau dia mau bicara biarkan
dia bicara dulu. Mari, orang muda mari kita masuk ke dalam sebentar."
Joko Handoko dan Wulandari mengikuti tuan rumah dengan hati lega walaupun Wulandari merasa
khawatir kalau-kalau mereka akan terjebak pula seperti pernah terjadi pada diri mereka ketika dijebak
dan ditawan orang-orang Daha. Akan tetapi ia pun tidak mau memperlihatkan rasa khawatirnya dan
berjalan di samping Joko Handoko dengan sikap gagah. Biarpun tidak puas melihat sikap ayahnya yang
mau menerima dua orang tamu muda itu. Namun Pramudento dan dua orang paman seperguruannya
tidak berani membantah kehendak Ki Kebosoro dan mereka bertiga pun berjalan di belakang dua orang
tamu itu. Para tamu yang tadinya mengharapkan untuk dapat melihat keributan atau perkelahian yang
terjadi, menjadi tenang kembali melihat betapa tuan rumah mambawa dua orang muda itu masuk ke
dalam dan pesta pun dilanjutkan dengan meriah.
Ki Kebosoro membawa dua orang tamu muda itu ke belakang yang kosong dan sepi. Dengan sikap
tegas dan singkat dia mempersilakan dua orang muda duduk. Mereka berenam duduk menghadapi meja
panjang dan Ki Kebosoro segera berkata.
"Nah, sekarang engkau boleh bicara. Apa yang hendak kau katakan kepada kami?"
"Paman Kebosoro, sebelum Eyang Panembahan Pronosidhi meninggal dunia, beliau berpesan kepadaku
agar aku tidak menaruh dendam terhadap Hastorudiro atas kematiannya yang disebabkan oleh
penyerbuan orang-orang Hastorudiro ke Anjasmoro........."
"Hemm, kalau mau membalas dendam pun boleh!" tiba-tiba Pramudento memotong dengan suara tegas
dan menantang.
Joko Handoko tersenyum memandangnya. "Sobat, Andika sungguh penuh prasangka." Lalu dia
memandang lagi kepada Kebosoro dan melanjutkan. "Karena itu, sedikit pun tidak terkandung dendam
dalam hatiku terhadap Hastorudiro, apalagi setelah aku melihat kenyataan aliran Hati Putih kena fitnah
dan Hastorudiro tertipu sehingga terjadilah penyerangan ke Anjasmoro itu".
"Orang muda, apa maksudmu?" Ki Kebosoro membentak sambil menatap tajam wajah Joko Handoko.
Peristiwa dengan aliran Hati Putih itu memang merupakan ganjalan di dalam hatinya. Mula-mula ada
empat orang yang mengaku murid aliran Hati Putih mengacau dan menyerang orang-orang Hastorudiro,
kemudian empat orang murid itu melarikan diri kembali ke Anjasmoro, dikejar oleh dua orang adik
seperguruan, yaitu Ki Gagaksampar dan Ki Gagakmeto bersama tiga orang murid kepala.
15Bersambung