10 FALSAFAH JAWA.

10 FALSAFAH JAWA.

02:28 0
10 FALSAFAH JAWA.
1. Urip Iku Urup
(Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik)

2. Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro
(Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).

3. Suro Diro Joyo Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
(segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar)

4. Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpa Bondho
(Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; Kaya tanpa didasari kebendaan)

5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
(Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).

6. Ojo Gumunan, Ojo Getunan, ojo Kagetan, ojo Aleman
(Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja).

7. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
(Janganlah bercita atau terkongkong oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).

8. Ojo Kuminter Mundak Keblinger, ojo Cidra Mundak Cilaka
(Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka).

9. Ojo Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
(Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak berubah niat dan kurang semangat).

10. Ojo Adigang, Adigung, Adiguno
(Jangan semena-mena, berasa berkuasa, berasa besar, berasa sakti)
KEN AROK - EMPU GANDRING-27.

KEN AROK - EMPU GANDRING-27.

07:15 0
KEN AROK - EMPU GANDRING-27.
Dugaannya memang tepat. Nampak para prajurit pengawal berjaga di sekitar gedung itu. Malam telah
larut dan kalau ia sengaja minta bertemu dengan Ken Arok, tentu akan gagal pula. Kalau memaksa
masuk, sebelum berjumpa dengan Ken Arok ia tentu menghadapi para pengawal dan dikeroyok, melihat
ini, ia menjadi semakin sedih dan menangislah Wulandari dan di bawah pohon asam di tepi jalan, tidak
jauh dari gedung besar itu.
Tiba-tiba muncul bayangan seorang laki-laki yang datang menghampiri Wulandari. “Siapakah engkau
dan mengapa menangis di sini?” tanya suara laki-laki itu, suaranya halus dan bayangan laki-laki itu
kelihatan gagah.
Melihat ada orang menegurnya, Wulandari cepat meloncat berdiri siap untuk mendamprat laki-laki yang
berani menegurnya. Akan tetapi begitu ia berdiri dan berhadapan dengan orang itu, cahaya bulan
menerangi wajah mereka dan keduanya terkejut. Keduanya saling mengenal karena laki-laki itu bukan
lain adalah Pramudento, putera Ki Kebosoro, ketua Hastorudiro.
”Ah........... kiranya ..........andika.......... diajeng Wulandari!” kata Pramudento agak gagap karna heran
dan juga girang, sejak pertama kali jumpa dengan Wulandari, dia memang tertarik sekali kepada dara
hitam manis yang lincah jenaka dan gagah perkasa ini. “Apakah yang telah terjadi,........... diajeng
Wulandari? Kenapa andika menangis di tengah malam seperti ini dan di tempat ini?”
Duka timbul kerena iba diri. Pikiran yang mengingat-ingat hal-hal yang tidak menyenangkan hati,
seolah-olah berubah menjadi tangan yang meremas-remas hati sehingga timbullah perasan nelangsa dan
duka, mendorong air mata yang keluar bercucuran. Dalam keadaan duka, iba ciri membutuhkan hiburan
akan tetapi kalau datang hiburan dari orang lain, dengan kata-kata yang mengandung iba, maka iba diri
menjadi semakin membesar dan mendatangkan keharuan yang mendorong lebih banyak lagi keluarnya air
mata. Mendengar pemuda perkasa itu menyebutnya diajeng, dengan ucapan yang bernada halus dan
penuh perhatian dan iba, Wulandari merasa semakin nelangsa saja, dan ia pun menagis lagi. Padahal,
ketika melihat ada orang muncul tadi, ia telah menghentikan tangisnya dan dalam kadaan siap siaga
menghadapi lawan. Kini ia menangis lagi, tersedu-sedan dan menutupi mukanya tanpa menjawab
pertanyaan Pramudento.
Pemuda itu cukup bijaksana untuk membiarkan Wulandari menyalurkan perasaan dukanya lewat
tangisnya. Setelah tangis itu agak mereda, diapun mendekat dan diam-diam mengagumi keindahan
rambut yang hitam lebat itu, leher yang berkulit kehitaman namun halus lembut dan indah bentuknya itu,
lalu berkata halus.
”Diajeng Wulandari, di dunia ini tidak ada kesulitan yang tidak dapat diatasi, asalkan hati kita sabar.
Kesabaran akan membuat kita tanang dan dapat mengambil tindakan yang bijaksana. Karena itu,
bersabarlah dan tahan air matamu, diajeng.”
Mendengar ucapan yang bijaksana itu Wulandari menghentikan tangisnya, mengusap air matanya dan ia
pun mengangkat muka memandang. Wajah Pramudento memang ganteng,tampan dan gagah maka di
bawah sinar bulan purnama, wajah itu nampak anggun dan menarik sekali. Ia pun mengangguk.
Bagaimana pun juga Pramudento ini adalah putera ketua Hastorudiro, jadi derajatnya tak jauh berbeda
dengan ia sendiri yang menjadi puteri ketua Sabuk Tembogo. Kedua perkumpulan itu memiliki sifat yang
tak jauh berbeda, keduanya adalah perkumpulan orang-orang gagah yang mengandalkan kepandaian dan
kekerasan, kadang-kadang untuk memaksakan kehendak seperti biasa watak jagoan-jagoan.
”Maafkan kelemahanku dan..... terima kasih.” Akhirnya Wulandari dapat juga berkata setelah hatinya
tenang kembali.
Pramudento tersenyum, maklum bahwa senyumnya yang membuka, bibir memperhatikan deretan giginya
yang putih rapi tentu akan mampu memikat hati setiap orang wanita, dan diapun duduk di tepi jalan, di
atas sebongkahbatu. ”Nah, begitu lebih baik, diajeng. Kalau andika percaya kepadaku, ceritakanlah apa
yang telah menjadi ganjalan hatimu, dan aku berjanji akan membantumu, diajeng, membantu untuk
mendatangkan penerangan dalam kegelapan dan menyingkirkan ganjalan dalam hatimu.” Peamudento
memang terkenal pandai merayu dan sudah berpengalaman menghadapi wanita, maka Wulandari yang
masih belum berpengalaman itu segera tertarikdan diam-diam dia harus mengakui bahwa pemuda ini
memang menyenangkan sekali, sikapnya manis budi dan tentu melindungi. Dan iapun teringat bahwa
Pramudento memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, jauh lebih tinggi darinya, maka kalau pemuda ini mau
membantunya, tentu akan labih mudah baginya untuk membunuh musuh besarnya, yaitu Ken Arok.
”Tentu saja aku percaya kepadamu, kakang Pramudento.” Karena pemuda itu menyebutnya diajeng, ia
pun merasa tidak enak kalau harus menyebut namanya begitu saja padahal jelas bahwa pemuda ini lebih
tua darinya. ”Aku menangis karena putus harapan melihat betapa penjagan di rumah perwira Ken Arok
demikian kuatnya sehingga sukar bagiku untuk menembusnya.”
Pramudento memandang tajam, matanya agak terbelalak karena dia merasa, heran mendengar. ”Ehh?
Apa maksudmu maka andika ingin menembus penjagaan para pengawal Ken Arok?”
Wulandari memandang dengan ragu, kemudian menarik napas panjang. ”Biarlah aku mengaku saja,
karena bukankah kita berdua sama-sama anak seorang ketua perkumpulan yang beraliran sama? Teru
terang saja, malam ini aku ingin membunuh Ken Arok.”
”Ahhh....!” Pramudento benar-benar tekejut, akan tetapi hatinya semakin tertarik. ”Kenapa kalau aku
boleh tahu sebabnya?”
”Mendiang ayahku tewas karena ulah Ken Arok. Ayah sedang menderita sakit ketka Ken Arok datang
dan menantangnya berkelahi. Ken Arok datang untuk membunuh ayah, untuk membalas dendam atas
kematian ayahnya, karena ayahnya memang dibunuh oleh ayahku, karena ayahya bejina dengan ibu
tiriku. Memang dia tidak langsung membunuh ayah, akan tetapi karena perkelahian itu, maka penyakit
ayah semakin parah dan ayah meninggal dunia. Kuanggap Ken Arok biang keladi kematian ayah, maka
malam ini aku ingin membunuhnya. Melihat penjagaan demikian ketat, aku menjadi putus asa dan saking
sedihku, aku menangis di sini.”
Pramudento mengangguk-angguk dan dia menatap wajah yang amat manis itu. Sepasang matanya
mengeluarkan sinar aneh, mulutnya tersenyum dan wajahnya berseri. Akan tetapi semua perubahan
wajah ini tidak nampak nyata oleh Wulandari karena hanya di terang cahaya bulan yang redup dan pucat.
”Ahh, memang sudah sepatutnya kalau engkau membunuh musuhmu itu, diajeng Wulandari. Dan jangan
khawatir, aku akan membantumu! Mengingat bahwa kita sealiran, engkau puteri tunggal ketua Sabuk
Tembogo dan aku putera tunggal ketua Hastorudiro, sudah sepatutnya kalau kita saling bantu. Aku akan
membantumu sampai berhasil, kalau perlu dengan taruhan nyawaku!”
”Ah, terima kasih, kakang Pramudento, terima kasih. Engkau sungguh baik sekali.” Wulandari berkata
dengan hati yang merasa lega. Ia jadi baru saja kehilangan Joko Handoko yang dicintainya, akan tetapi
agaknya para dewata menaruh hati iba kepadanya karena segera bertemu dengan seorang pemuda yang
demikian baiknya dan suka membantunya sehingga ia boleh mengharapkan keinginannya membunuh Ken
Arok terkabul.
”Ah, tidak sama sekali, diajeng. Kita memang sudah selayaknya kalau bantu membantu. Akan tetapi,
menghadapi Ken Arok kita tidak boleh sembrono. Dia adalah seorang perwira tinggi yang mempunyai
pasukan yang kuat, maka kalau kita menyerang ke rumahnya, hal itu selain berbahaya, juga sukar sekali
dapat berhasil, kita harus menggunakan akal, memancing dia keluar atau menunggu sampai dia keluar
seorang diri berulah kita melakukan penyergapan. Dengan tenaga kita berdua, aku yakin engkau akan
dapat dengan mudah membunuhnya untuk membalas dendam.
Wulandari mengangguk-angguk, dapat menerima pendapat yang memang dianggapnya masuk akal ini.
”Baiklah, aku akan menuruti nasihatmu, kakang. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Ia memang
sedang bingung, tak tahu harus berbuat apa setelah ia, melepaskan diri dari pimpinan Joko Handoko.
Pemuda itulah yang biasa menjadi pembimbingnya, yang menentukan apa yang harus mereka lakukan.
Akan tetapi sekarang ia seorang diri saja di dunia ini. Sebelum bertemu dengan Joko Handoko, ia pun
sendirian dan sudah terbiasa hidup berkelana seorang diri. Akan tetapi setelah bertemu dengan pemuda
itu, ia bersandar sehingga kini, setelah kehilangan sandaran dan berdiri sendiri lagi, ia merasa canggung.
”Marilah ikut bersamaku, diajeng. Membunuh Ken Arok merupakan urusan besar, dan agar hasilnya
dapat pasti, kita harus minta bantuan guruku. Kebetulan sekali, guruku, yaitu Ki Ageng Marmoyo, baru
saja datang dari Gunung Bromo dan dengan bantuan beliau, biar Ken Arok sakti dan dibantu orang
banyak sekalipun, pasti dia akan terbunuh olehmu. Mari kita menemui guruku, tinggal di tempat rahasia
kami sambil menanti saat yang baik, yaitu munculnya Ken Arok di tempat terbuka sendirian saja.”
Karena tidak mengetahui jalan yang lebih beik, Wulandari mengangguk dan setuju saja lalu mengikuti
Pramudento yang membawanya pergi ke luar kota Tumapel, ke sebuah pondok yang berdiri terpencil di
lereng bukit yang penuh dengan hutan lebat. Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali baru mereka tiba di
situ dan Wulandari diajek menghadap kakek yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih. Kakek ini tinggi
kurus, rambut, kumis dan jenggotnya sudah putih semua. Jenggotnya berjuntai sampai ke dada.
Inilah Ki Ageng Marmoyo, seorang pendeta bertapa di lereng Gunung Bromo. Kakek ini beragama
Hindu Trimurti, dan dialah guru Pramudento, seorang yang sakti dan menjadi hamba hamba setia, dari
kerajaan Daha. Kakek ini masih sealiran dengann Begawan Sarutomo dan Begawan Buyut Wewenang,
bahkan masih sahabat karib. Hanya bedanya, kalau dua orang begawan itu masih suka mencari
kedudukan mulia untuk menyenangkan hatinya, Ki Ageng Marmoyo lebih suka mencari kedamaian hati
di lereng gunung. Akan tetapi sebagai sahabat karib orang-orang seperti Begawan Sarutomo dan
Begawan Buyut Wewenang, tentu saja Ki Ageng Marmoyo inipun tergolong orang yang belum bebas
daripada nafsu untuk mencari kesenangan bagi diri sendiri, walaupun jalan yang ditempuhnya untuk
mencari kesenangan itu berbeda dari dua orang rekannya.
Ki Ageng Marmoyo mengangguk-angguk ketika menerima sembah penghormatan Wulandari, sepasang
matanya yang masih terang itu bersinar-sinar dan diam-diam dia melempar senyum kepada muridnya
yang memiliki seorang kawan yang demikian manis dan gagahnya.
”O-ho-ho.......... jadi engkau puteri ketua Sabuk Tembogo? Bagus........... agus, jadilah sahabat baik
Pramudento, kalian cocok sekali untuk bekerja sama, heh-heh.......!” kakek itu berkata sambil terkekeh.
Diam-diam Wulandari merasa heran dan tidak senang kepada kakek ini. Sikapnya sama sekali tidak
halus seperti para pertapa yang saleh dan sinar matanya itu masih demikian panas ketika menjelajahi
wajah dan tubuhnya, seperti mata orang muda yang penuh nafsu saja. Akan tetapi karena kakek ini
gurunya Pramudento dan ia tahu bahwa Ki Ageng Marmoyo ini sakti sekali iapun mengambil sikap
hormat.
Siang hari itu, melihat betapa Wulandari nampak pucat dan lelah Pramudento mempersilahkan gadis itu
untuk beristirahat di dalam sebuah kamar di pondok itu. Kamar sederhana akan tetapi dengan sebuah
pembaringan kayu yang sederhana karena ia benar-benar merasa lelah sekali. Kedukaan yang
dideritanya semalam amat melelahkan dan ia pun cepat tidur pulas. Hal ini amat perlu baginya karena ia
harus dapat memulihkan tenaganya. Setelah kini ia bertemua dengan Pramudento, rasa nyeri di hatinya
agak terobati, maka Ia pun dapat tidur dengan nyenyak sekali. Setelah hari sore, barulah gadis ini
terbangun dari tidurnya.
Setelah mandi di sebuah anak sungai dalam hutan yang airnya jernih, Wulandari menemukan dirinya
kembali dan ia pun sudah tenang dan tenaganya sudah pulih. Iapun tidak berduka lagi kecuali kalau
teringat kepada Joko Handoko dan Pusporini, ia merasa jantungnya seperti tertusuk.
Akan tetapi agaknya Pramudento tidak ingin melihat ia berduka terus. Setelah selesai mandi dan kembali
ke pondok, pemuda itu menyambutnya dengan wajah riang. ”Bopo Guru dan aku ingin sekali menjamu
kehadiranmu dengan sedikit hidangan yang terkesan dari dusun yang berdekatan, diajeng Wulandari.”
”Ah, tidak perlu repot-repot, kakang Pramudento.”
”Tidak repot. Apakah engkau belum merasa lapar?”
”Lapar?” Diingatnya akan hal ini, tiba-tiba saja betapa Wulandari merasa betapa perutnya memang lapar
sekali. Semalam ia membuang banyak tenaga lahir batin, dan sehari ini pun tidur dan belum lapar, dan
biarlah nanti kumasakkan untuk kalian.”
Pramudento tersenyum dan kembali Wulandari harus mengagumi pemuda itu. Demikian gantengnya
kalau tersenyum, lenyap bayangan yang agak angkuh itu dan nampak ramah bukan main. ”Tidak usah
sungkan, Diajeng. Sudah kubeli dari dusun dan kini Bopo Guru sudah menanti. Mari kita makan
bersama.”
Biarpun merasa sungkan sebagai seorang tamu wanita, masih muda pula, harus menjadi beban tuan
rumah, terpaksa Wulandari mengikuti Pramudento masuk ke dalam pondok. Benar saja, di ruangan
pondok itu. Ki Ageng Marmoyo sudah duduk dan di depannya, diatas tikar, nampak hidangan nasi
tumpeng berikut segala lauk pauknya! Dan nasi itupun masih mengepul! Melihat ini, Wulandari diam-diam
menelan ludahnya.
”Heh-heh-heh, engkau nampak cantik sekali dengan rambutmu yang basah kuyup itu, anak baik,” kata
Ki Ageng Marmoyo. ”Mari............... mari makan bersama........”
Wulandari mengerutkan alisnya. ”Tidak sopan kalau saya ikut makan bersama, Eyang,” katanya lembut.
”Biarlah silahkan Eyang makan berdua bersama Pramudento, nanti saja akan makan sendiri setelah
Andika berdua selesai.” Pada jaman dahulu itu, memang wanita selalu harus jatuh di belakang!
”Ah, Diajeng, jangan sungkan-sungkan. Marilah kita mekan bersama agar lebih sedap,” kata
Pramudento membujuk.
”Benar, di dalam pondok ini hanya kita bertiga, kenapa makan saja tidak bersama-sama? Pula,
Pramudento membeli nasi tumpeng ini memang untuk menyambut kehadiranmu, Wulandari, karena itu
seyogiyanyalah engkau tidak menolak ajakannya untuk makan bersama.”
Wulandari adalah seorang gadis yang sejak kecil digembleng dengan kegagahan, tidak malu-malu seperti
gadis kebanyakan di jaman itu, maka ia pun tidak sungkan-sungkan lagi dan segera menghadapi hidangan
itu bersama Ki Ageng Marmoyo yang duduk di samping kanannya dan Pramudento yang duduk di
sebelah kiri. Wulandari makan tanpa ragu-ragu lagi karena memang perutnya lapar, dan hidangan itu pun
lezat dengan nasi putih masih hangat, beberapa macam sayur dan gudangan, ikan panggang dan gading
ayam goreng, ia makan dengan bernafsu dan lahap.
”Malam nanti aku akan pergi melakukan penyelidikan kapan kiranya Ken Arok keluar sendirian,
Diajeng. Kalau sudah ada ketentuan, kita akan menghadapinya, dan Bopo Guru akan membantu kita.”
”Ha-ha-ha, jangan khawatir. Dengan adanya aku di sini, Ken Arok tidak akan terlepas dari tanganmu,
Wulandari,” kata kakek itu sambil terbahak senang.
Mereka makan dan minum air manis dari pohon aren. Wulandari tidak begitu suka dengan minuman
yang agak masam ini, akan tetapi karena dara ini merasa sungkan terhadap tuan rumah, diminumnya juga
minuman itu dalam takaran yang agak banyak. Dan setelah mereka selesai makan, Wulandari merasa
kepalanya agak pening.
”Uhh, kepalaku menjad pening. Kakang Pramudento” ia mengaduh sambil memijit-mijit pelipis kepalnya.
”Ah, itu akibat minuman aren, Diajeng. Memang agak tua minuman itu, akan tetapi tidak mengapa, kalau
dipakai tidur-tiduran, tentu kepeningan itu akan segera hilang,” kata Pramudento, sementara itu Ki Ageng
Marmoyo terdengar tertawa terkekeh-kekeh, Wulandari bangkit berdiri, akan tetapi menjadi terhuyung
dan agaknya ia akan terjatuh lagi kalau saja tidak ada Pramudento yang cepat merangkul pundaknya.
”Hati-hati, Diajeng, mari kuantar engkau ke kemarmu. Engkau harus beristirahat, dan tentu akan enak
kalau dipakai rebahan,” berkata demikian, Pramudento mempererat rangkulannya.
Terjadi keanehan pada diri Wulandari. Dalam keadaan biasa, tentu ia akan marah sekali melihat
kenyataan betapa Pramudento merangkul pundak dan lehernya, bahkan merangkul terlalu ketat dan
mesra. Akan tetapi aneh, ia sama sekali tidak marah, bahkan jantungnya berdebar dan ia merasa senang
sekali, aman dan mesra sehingga ia bahkan menyandarkan kepalanya di dada pemuda yang menuntunnya
ke dalam kamarnya! Setelah mereka memasuki kamar, diiringi suara ketawa terkekeh dari Ki Ageng
Marmoyo, Wulandari merasa seperti tenggelam ke dalam laut kemesraan yang amat nikmat dan
membuatnya tidak ingat akan apa-apa lagi. Ia bahkan tertawa lirih ketika Pramudento memeluk dan
menciumnya, ia seperti hanyut dalam gelombang kemesraan yang membuatnya mabok. Ia merasa seperti
melayang-layang di angkasa, takut kalau terbanting dan jatuh maka ia pun hanya menurut saja dibawa
melayang-layang oleh Pramudento yang ada saat itu merupakan satu-satunya orang yang menolongnya,
menyelamatkannya, dan menyenangkan hatinya. Kepeningan kepalanya terasa nyeri dan menyiksa kalau
dilawannya, akan tetapi kalau ia membiarkan tanpa perlawanan, menyerahkan diri sepenuhnya,
kepeningan itu menghanyutkan dan menimbulkan kenikmatan yang merenggut kesadarannya.
Wulandari merintih lirih dan membuka kedua matanya. Kepalanya terasa sedikit pening, akan tetapi
kesadarannya sudah pulih. Ia terkejut mendengar suara orang mendengkur di sisinya dan dapat
dibayangkan betapa kagetnya melihat Pramudento rebah di sisinya, terlantang dan mendengkur, hampir
telanjang bulat! Dan ia menahan jeritnya dengan tangan kiri menutup mulutnya keras-keras ketika ia
melihat betapa keadaan dirinya sendiri tidak jauh bedanya dengan keadaan Pramudento. Bagaikan
disengat kalajengking, ia pun melompat turun dari pembaringan, memunguti pakaiannya yang berserakan
di atas lantai. Ketika ia membungkuk untuk mengambil kembennya, ia melihat bahwa di bawah
pembaringan itu terdapat sebuah dian minyak kelapa dengan apinya yang kecil dan tenang, sebuah
cermin, telur ayam dan kembang setaman! Ia terbelalak memandang kesemuanya itu dan teringatlah ia
akan semua peristiwa yang terjadi semalam. Kembali ia menahan jeritnya. Ia telah ternoda! Ia telah
menyerahkan dirinya kepada Pramudento, bukan diperkosa, melainkan secara suka rela karena ia seperti
mabok dan tidak ingat apa-apa lagi di saat itu, dan kini ia tahu bahwa ia menyerahkan diri karena ia
berada di awah pengaruh ilmu hitam yang dipasang oleh Pramudento atau mungkin sekali oleh Ki Ageng
Marmoyo, guru pemuda itu.
Dengan kedua tangan menggigil Wulandari mengenakan pakaiannya, sejadi-jadinya air matanya
bercucuran akan tetapi ditahannya agar tidak ada suara keluar dari mulutnya yang dapat membangunkan
Pramudento yang masih mendengkur. Kemudian, melihat keris pusaka Nogopasung mengeletak di dekat
bantal, ia cepat menyambarnya, menghunus keris pusaka dan dengan kebencian dan kemarahan
memuncak, ia pun lalu menusukkan keris pusaka itu dengan kekuatan sepenuhnya ke arah dada
Pramudento yang masih tidur nyenyak.
”Ceppp.............. aughhhh........” Hanya satu kali Pramudento mengeluarkan suara lemah ini, matanya
terbelalak bingung, kemudian dia pun terkulai lemas dan tewas tak lama kemudian. Wulandari mencabut
keris ini dan melompat ke belakang melihat darah muncrat dari dada Pramudento. Barulah dia sadar
akan perbuatannya dan merasa ngeri. Kemudian, dengan keris pusaka masih di tangan ia lalu membuka
pintu dan meloncat ke luar dari dalam kamar, terus lari ke luar dari dalam kamar, terus lari keluar dari
pondok itu ke dalam kegelapan sisa malam dan larilah ia tanpa tujuan, asal menjauhi pondok itu. Ia
berlari sambil terisak dan keris pusaka Nogopasung masih di tangan kanannya. Hari masih pagi sekali,
walaupun sinar matahari yang masih berada di bawah ufuk timur sudah mulai mengusir kegelapan malam
dan mendatangkan pertanda bahwa kegelapan akan menghilang, namun cuaca masih remang-remang
ketika Wulandari berlari sambil menangis itu.
Karena berlari dengan pikiran tidak karuan, kacau dan hampir buta oleh tangis, dalam cuaca yang masih
gelap pula, di atas tanah yang asing bagi kakinya, ketika ia meloncati sebuah jurang kecil ia pun
terserimpet dan jatuh tersungkur. Untung tubuhnya terlatih sehingga dalam keadaan terjatuh, ia masih
sempat memegang keris Nogopasung dan ia cepat bergulingan sehingga tubuhnya tidak terbanting keras.
Ketika ia bangkit berdiri, di depannya telah berdiri seorang laki-laki yang kelihatanya teheran-heran
melihat tingkahnya. Namun, dengan mata terhalang air mata melihat laki-laki berdiri di depannya,
Wulandari sudah meloncat ke depan dan keris Nogopasung yang haus darah itu meluncur ke arah dada
orang itu, siap untuk minum darah segar!
”Diajeng Wulan..........!” Laki-laki itu dengan gerakan kaki yang ringan sekali mengelak, lalu menangkap
lengan kanan Wulandari yang memegang keris.
Mendengar suara ini, Wulandari membelalakkan mata dan ternyata yang diserangnya adalah Joko
Handoko.
”Kakang......!” Ia mengeluh dan air matanya makin membanjir. ”.......Kakang........,
uhu-hu-huuuuuhh..............!
”Diajeng Wulan........!” Joko Handoko berseru dan keduanya saling dekap. Wulandari menangis sampai
mengguguk sambil menyandarkan kepala dan menyembunyikan mukanya di dada Joko Handoko yang
mengelus rambutnya dan menepuk-nepuk pundaknya. Dia membiarkan gadis itu menangis sampai puas,
barulah dia bertanya.
”Apakah yang telah terjadi, Wulan? Mari kita duduk dan kau ceritakan semuanya kepadaku.”
Wulandari masih terisak-isak ketika dengan lambut Joko Handoko mendorongnya sehingga mereka
berdiri berhadapan. Akan tetapi Wulandari tidak mau duduk, melainkan berdiri dengan muka
ditundukkan dan pundaknya masih terguncang oleh tangis. Joko Handoko diam-diam merasa khawatir
dan terkejut ketika melihat Nogopasung di tangan Wulandari, keris pusaka itu telanjang dan
mengeluarkan hawa yang meggiriskan.
”Aku.......... aku baru saja membunuh......... Pramudento.........” katanya dengan suara terputus-putus.
Joko Handoko terbelalak kaget. ”Tapi kenapa.....?”
”Dia telah menodaiku!” kata Wulandari dan tiba-tiba saja sikapnya berubah keras dan beringas,
seolah-olah bayangan bahwa dirinya ternoda itu membuat kemarahannya bangkit kembali.
Joko Handoko semakin kaget mendengar ini. ”Tapi........ bagaimana hal itu bisa terjadi? Bukankah
engkau pergi untuk membunuh Ken Arok?”
”Kakang Joko, kau........ kau maafkan aku. Aku........ aku tidak tahan Kakang dan Mbakayu Dewi di
taman itu....... maka aku lalu teringat akan kematian ayah dan aku ingin membalas dendam. Keris Pusaka
Nogopasung kubawa. Di jalan aku bertemu dengan Pramudento yang membujukku katanya hendak
membantuku. Aku diajak pergi ke pondoknya dan diperkenalkan dengan gurunya, Ki Ageng Marmoyo,
kami lalu makan dan minum dan aku......... aku menjadi pening........ lalu.... lalu Prmudento membawaku
ke kamar, aku seperti tidak ingat apa-apa lagi.......... dan...... dan dia menodaiku. Paginya, aku melihat
bunga setaman di kolong pembaringan, tentu aku diguna-gunai. Aku marah dan membunuh Pramudento
yang masih tidur, dan aku lari, Kakang...........! Hu-hu-huuuuk, aku.......... aku telah ternoda dan tidak
ada artinya lagi hidup ini bagiku, Kakang!”
Joko Handoko bergerak cepat sekali, menangkap lengan kanan Wulandari dan dengan menggunakan
tenaganya dia berhasil merampas keris pusaka Nogopasung yang tadi hendak dipergunakan gadis itu
untuk membunuh diri.
”Wulan! Jangan berlaku bodoh! Membunuh diri bukan jalan yang terbaik!” bentak Joko Handoko
dengan muka pucat.
”Kakang Joko........!” Wulandari menjerit dan menubruk pemuda itu, kembali ia menangis sesenggukan
di dada Joko Handoko. Pemuda itu cepat menyelipkan keris telanjang itu di pinggangnya, lalu menghibur
Wulandari.
”Diajeng Wulan, segala yang terjadi dan menimpa diri kita di dunia ini sudah ada garisnya. Kita harus
berani menghadapinya betapa pahitnya pun. Yang tidak berani menghadapi kepahitan hidup adalah
seorang pengecut, dan aku yakin engkau bukanlah seorang pengecut. Hidup merupakan serangkaian
peristiwa yang sambung sinambung, membiarkan diri hanyut dan jatuh hanya oleh satu di antara
serangkaian peristiwa itu sungguh merupakan kebodohan. Sadar dan tenanglah, Wulan, kehidupan ini
masih panjang dan ceritanya belum habis untuk dirimu. Terang dan gelap silih berganti. Jangan takabur
kalau sedang terang dan jangan putus asa kalau sedang gelap.”
”Akan tetapi, Kakang, apa artinya hidupku ini setelah kehilangan engkau lalu kehilangan harga diriku?”
Wulandari mengeluh dan Joko Handoko merasa terharu sekali. Ucapan ini merupakan pengakuan bahwa
gadis itu kehilangan dia, berarti gadis ini mencintainya, seperti yang telah diduganya.
”Diajeng Wulan, bagaimana engkau bisa mengatakan bahwa engkau kehilangan diriku?” Dia berhenti
sejenak dan menimbang-nimbang dalam hatinya. Harus diakuinya bahwa dia sangat suka kepada gadis
ini, bahkan mencintainya, akan tetapi sebagai seorang pria, dia lebih tertarik dan lebih mencintai Dewi
Pusporini. Terhadap Wulandari, cintanya lebih condong kepada cinta seorang kakak atau seorang
sahabat baik, walaupun harus diakuinya bahwa jarang ada gadis seperti Wulandari yang manis sekali,
lincah, jenaka dan juga memiliki kepandaian tinggi.
”Kakang, egkau.........engkau telah menjadi milik Mbakayu Dewi........”
”Hemmm, apakah andaikata benar demikian, berarti engkau kehilangan aku, Diajeng? Kita masih dapat
berhubungan dengan baik, menjadi saudara, atau sahabat yang paling baik. Dan jangan katakan bahwa
perbuatan terkutuk yang dilakukan Pramudento terhadap dirimu berarti melenyapkan harga dirimu dan
kehormatanmu. Dalam pandanganku, engkau masih tetap Wulandari yang gagah perkasa dan patut
dikagumi dan dihormati.”
Tiba-tiba Joko Handoko menarik Wulandari ke samping dan cepat memandang penuh selidik ke depan.
Wulandari ikut memandang dan ternyata yang muncul dengan berlari cepat adalah Ki Ageng Marmoyo!
Kakek itu nampak marah sekali, matanya mencorong dan begitu melihat Wulandari, dia lalu menggosok
kedua tangannya dan nampaklah asap tebal mengepul di antara kedua tangannya. Itulah Tapak Bromo,
aji pukulan yang amat hebat, yang berhawa panas dan ampuhnya menggiriskan!
”Babo-babo, perempuan iblis! Biar engkau akan lari ke neraka sekalipun akan tetap kukejar sampai
dapat! Engkau telah berani membunuh muridku si Pramudento! Engkau harus menebus dosamu itu
dengan badan dan nyawa. Badan dan nyawanya harus kau serahkan ke dalam tanganku! Menyerahlah,
atau kalau tidak, kepalamu akan hancur oleh tanganku!”
Joko Handoko maklum bahwa kakek ini amat sakti, jauh terlalu tangguh bagi Wulandari, maka dia pun
lalu melangkah maju melindungi Wulandari dan membungkuk dengan sembah hormat.
”Sadhu-sadhu-sadhu, semoga para dewata memberkahi orang yang penyabar. Paman panembahan,
harap suka bersabar dan dapat melihat kenyataan yang sebenanya terjadi. Memang harus diakui oleh
diajeng Wulandari bahwa ia telah membunuh Pramudento, akan tetapi hal itu dilakukannya karena ia
gelap mata saking marah dan sakit hatinya karena Pramudento telah menodainya!”
Ki Ageng Marmoyo agaknya baru sekarang melihat Joko Handoko. Ia mengerutkan alisnya dan
memandang dengan mata mencorong. Dia seorang sakti dan dapat melihat bahwa pemuda ini seorang
yang “berisi”, maka ia pun cepat membentak.
“Orang muda, siapakah Andika yang berani mencampuri urusan antara aku dan perempuan ini?”
“Nama saya Joko Handoko, paman panembahan. Saya tidak mencampuri urusan, melainkan harus
membela Diajeng Wulandari yang menjadi sahabat baik saya. Ia telah bercerita tentang peristiwa dengan
Pramudento dan a tidak bersalah, harap andika dapat mempertimbangkannya dengan bijaksana.”
“Pramudento tidak menodainya, tidak memperkosanya. Adalah perempuan ini sendiri yang tergila-gila
kepada Pramudento dan menyerahkan dengan suka rela.......”
“Bohong! Kau pendeta palsu tak perlu menyebar fitnah dan kebohongan! Setelah makan dan minum aku
menjadi pening dan tidak ingat apa-apa lagi, dan apa artinya kembang setaman, dian, telur dan cermin di
bawah pembaringanku itu? Engkau atau muridmu telah mempergunakan pembius dalam makanan atau
minuman, dan menggunakan guna-guna untuk melumpuhkan aku!”
Ki Ageng Marmoyo menjadi semakin marah. Tentu saja dia tahu bahwa muridnya menguasai gadis
dengan bantuan guna-guna darinya, akan tetapi untuk mengakui hal itu dia merasa malu. “Tak perlu
banyak cerewet, cepat emnyerah atau kepalamu akan kuhancurkan sekarang juga!” bentaknya sambil
melangkah maju.
“Pendeta jahanam! Biar kau bunuh seribu kali pun aku tidak sudi menyerah kepadamu!” Wulandari lalu
membentak marah.
“Keparat!” Ki Ageng Marmoyo melangkah maju, tangan kanannya menyambar dan hawa amat
panasnya menyambar ke arah Wulandari, disertai bunyi yang berdesing seperti sambaran pedang tajam.
Joko Handoko terkejut. Serangan itu merupakan serangan maut yang amat keji dan dia tahu betapa
kuatnya tangan maut itu. Maka dia pun berseru nyaring dan meloncat ke depan langsung menangkis
dengan lengan kirinya sambil mengerahkan tenaga sakti Nogopasung.
“Wuuuuuuttt........ desss.......!!” Akibat benturan kedua lengan itu, tubuh Joko Handoko terpental
sampai dua meter ke belakang, akan tetapi tubuh kakek itu pun terhuyung. Hal ini amat mengejutkan Ki
Ageng Marmoyo dan dia memandang kepada pemuda itu dengan lebih teliti. Tak disangkanya pemuda
itu memiliki tenaga yang demikian kuatnya. Di lain pihak, Joko Handoko kini yakin bahwa lawannya
benar-benar tangguh dan memiliki ilmu pukulan ampuh, maka tanpa ragu-ragu lagi dia pun mencabut
keris pusaka Nogopasung dari pinggangnya.
“Babo-babo........! agaknya keri ini yang telah dipergunakan untuk membunuh muridku. Sekarang aku
akan membunuh kalian dengan keris ini pula!” bentaknya dan dia pun menerjang dengan ganasnya.
Terjangan itu disambut oleh Joko Handoko dengan sama kerasnya pula, mempergunakan keris dan aji
Nogopasung yang ampuh. Berkali-kali terjadi benturan dua tenaga sakti yang dahsyat yang mambuat
keduanya terlempar ke belakang. Kan tetapi, karena Ki Ageng Marmoyo dapat merasakan betapa hawa
keris pusaka itu amat ampuh maka dia pun tidak berani mengadu kedua tangannya dengan keris secara
langsung. Hal ini membuat gerakannya menjadi kaku dan tidak leluasa karena dia harus selalu mengelak
dari sambaran ujung keris yang mengandung tenaga dahsyat itu. Setelah lewat tigapuluh jurus lebih, usia
tua menentukan perkelahian yang seimbang itu. Ki Ageng Marmoyo mulai terengah-engah kehabisan
napas dan dengan sendirinya, tenaga dan kecepannya pun banyak berkurang. Untung baginya bahwa
Joko Handoko memiliki batin yang bersih dan tenang, sehingga dalam keadaan seperti itu pemuda ini
masih selalu teringat bahwa dia tidak akan sembarangan membunuh orang. Ki Ageng Marmoyo tidak
bermusuhan dengannya, dan kalau kakek ini marah adalah karena kematian muridnya, sehingga
kemarahannya itu merupakan hal yang wajar dan dapat di maafkan.
Kakek itu pun tahu diri. Setelah napasnya hampir putus dan dia belum juga mampu mengalahkan Joko
Handoko walaupun dia telah mengerahkan kekuatan ilmu hitamnya untuk mempengaruhi pemuda itu
tanpa hasil, dia pun lalu mengeluarkan teriakan panjang karena kecewa dan dia pun meloncat jauh ke
belakang dan melaikan diri tanpa pamit lagi.
“Hemmm, berbahaya sekali. Kakek itu sungguh memiliki kesaktian yang hebat,” kata Joko Handoko
sambil menyimpan kerisnya, lalu dia menoleh kepada Wulandari yang sejak tadi hanya nonton saja
karena maklum bahwa tingkat kepandaiannya masih terlampau rendah untuk mencampuri perklahian itu.
“Diajeng Wulan, marilah engkau ikut bersamaku kembali ke rumah Kanjeng Senopati Pamungkas.
Mereka sekeluarga menanti-nanti kembalimu ke sana.”
Wajah Wulandari berubah merah. “Ke sana? Ahh...... aku..... aku tidak berani, aku malu Kakang........”
keluhnya.
Joko Handoko memegang kedua pundak gadis itu, ditegakkannya tubuh itu dan diangkatnya muka itu
dengan menyentuh dagunya. “Diajeng Wulan, pandanglah aku! Tidak percayakah engkau kepadaku
bahwa hal ini yang terbaik yang dapat kau lakukan? Engkau seperti adikku sendiri, engkaulah orang yang
akan kubela kalau sampai engkau diganggu orang lain. Kemana larinya kegagahanmu? Marilah,
tenangkan hatimu dan ikutlah bersamaku, kembalilah ke rumah paman Senopati Pamungkas. Mereka
semua sayang kepadamu, Diajeng, dan mereka semua cemas melihat kepergianmu.”
Akhirnya Wulandari dapat dibujuk oleh Joko Handoko dan mereka pun kembali ke Tumapel, ke rumah
Senopati Pamungkas. Tentu saja kembalinya Wulandari ini disambut dengan gembira oleh keluarga itu
apa lagi ketika mereka mendengar bahwa Wulandari tidak atau belum sampai membunuh Ken Arok.
Pertemuan mengharukan terjadi antara Wulandari dan Dewi Pusporini. Dua orang gadis ini berdiri
berhadapan, saling berpandangan tanpa kata karena pandang mata mereka saja sudah mengeluarkan
seribu satu macam kata. Dua pasang mata yang sama indah dan beningnya itu kemudian perlahan-lahan
menjadi basah dan Wulandari menjerit lirih sambil lari merangkul Dewi Pusporini.
KEN AROK - EMPU GANDRING-26.

KEN AROK - EMPU GANDRING-26.

07:55 0
KEN AROK - EMPU GANDRING-26.
Malam itu, bulan purnama menerangi permukaan bumi. Sinarnya lembut namun cemerlang dan membuat
malam yang biasanya gelap menyeramkan kini menjadi terang menggembirakan. Joko Handoko gelisah
dalam kamarnya, tidak dapat memejamkan mata. Makin dipejamkan makin jelas bayangan wajah Dewi
Pusporini tersenyum manis, matanya yang jeli bersinar-sinar dan suaranya yang merdu terngiang di
telinganya. Kamar yang cukup bersih dan indah kelihatan seprti sebuah sangkar yang mengurungnya,
membuat dia merasa sesak untuk bernapas. Akhirnya, dengan hati-hati dan perlahan agar jangan
menimbulkan suara berisik, dia keluar dari dalam kamar itu dan memasuki taman yang luas dan yang
dipelihara dengan baik. Setelah memasuki taman bunga yang indah dan kini nampak semakin indah
karena tengelam dalam sinar bulan purnama, dadanya terasa lega dan dia menarik napas dalam-dalam
beberapa kali. Kemudian dia berjalan-jalan di taman itu, merasa seolh-olah bukan berada di dunia
melainkan di taman khayangan. Akan tetapi hanya sebentar saja keindahan taman itu mengalihkan
perhatiannya karena tak lama kemudian diapun sudah duduk melamun di atas bangku di dekat kolam
ikan, termenung memandang ke arah ikan-ikan emas yang berenang di bawah sinar bulan purnama, saling
kejar dan menggoyang daun-daun dan bunga teratai merah. Akan tetapi, bahkan di dalam kolam itu
nampak bayangan wajah sang puteri.
Berulang kali Joko Handoko menarik napas panjang dan mencela diri sendiri. Engkau tak tahu diri,
demikian celanya. Siapakah dia yang berani menaruh hati pada seorang puteri bangsawan seperti Dewi
Pusporini? Dia telah jatuh cinta. Hal ini dirasakannya benar. Tadinya dia mengira bahwa dia jatuh cinta
kepada Wulandari akan tetapi setelah dia berjumpa dengan Dewi Pusporini hatinya tertarik sepenuhnya
kepada gadis itu. Dia masih suka kepada Wulandari, suka sekali, akan tetapi harus diakuinya bahwa
hatinya lebih condong kepada Dewi Pusporini yang lebih lembut dan cantik jelita, juga bijaksana itu,
kenapa dia harus bertemu dan jatuh cinta kepada Dewi Pusporini, padahal tak mungkin dia akan dapat
bersanding dengan gadis itu sebagai suami isteri? Kalau dengan Wulandari harapannya besar. Dia melihat
bahwa gadis itu agaknya suka dan cinta kepadanya, dan karena ini Wulandari sudah menentukan jalan
hidupnya sendiri, akan mudahlah baginya kalau akan memperisteri gadis perkasa itu. Agaknya tinggal
mengulurkan tangannya tentu Wulandari akan menerimanya. Akan tetapi, dia bertemu dengan Dewi
Pusporini dan tergila-gila kepadanya.Bayangan di dalam air itu tersenum kepadanya. Betapa cantiknya!
Belum pernah dia merasakan hal seperti ini. Kemesraan yang menusuk hatinya sehingga baru
membayangkan wajah gadis itu saja sudah mendatangkan suatu kebahagian yang aneh, yang
membangkitkan seluruh hasrat hatinya untuk bertemu dengan gadis itu, untuk memandang wajahnya,
menikmati keindahan matanya, dan mendengar suaranya.
“Aduh, diajeng Dewi Pusporini.....................” bisiknya berkali-kali kepada bayangan wajah cantik jelita
yang nampak olehnya di permukaan air kolam. Demikian jelas wajah itu, cemerlang dengan senyumnya,
akan tetapi tiba-tiba dia tersentak kaget karena ternyata wajah itu adalah bayangan bulan yang tenggelam
di dalam dasar kolam! Dan diapun mencaci dirinya sendiri.
“Joko Handoko, kenapa engkau begini lemah?” Akan tetapi cacian itu pun segera lenyap karena
kembali sudah melamun.
Cinta asmara, memang sesuatu yang aneh, teramat indah teramat luas untuk dipelajari dan diselidiki
sehingga semenjak laksaan tahun yang lalu selalu menjadi bahan penulisan para cerdik pandai, para
sastrawan dan seniman. Agaknya tak mungkin manusia hidup tanpa cinta. Hidup tanpa cinta bagaikan
pohon tanpa bunga dan pohon itupun takkan berbuah, tanpa keindahan tanpa keharuman. Cinta asmara
merupakan suatu kewajaran alamiah, agaknya diperuntukkan sarana perkembangbiakan agar manusia
pria dan wanita saling tertarik, saling mendekati, melakukan hubungan badaniah yang merupakan puncak
dari cinta asmara sehingga mereka akan beranak dan manusia tidak akan sama melainkan bersambung
terus oleh keturunan demi keturunan, generasi demi generasi. Cinta asmara mengandung kemesraan yang
paling mendalam,keharuan yang paling halus, mengandung pula pengenyahan kepentingan diri sendiri
sehingga berani berkorban nyawa kalau perlu akan tetapi juga di suatu merupakan penonjolan ke-aku-an
yang paling besar karena di situ terdapat pula keinginan menguasai, memiliki, memonopoli. Ingin memiliki
dan dimiliki, menyenangkan dan disenangkan. Sayang bahwa sebagian besar dari kita menitik beratkan
kepada kesenangan dan kenikmatannya, sehingga berani mengambil peran terbesar dan terpenting. Kalau
begini, maka kekecewaan dalam hal ini akan membuat cinta asmara menjadi suatu penderitaan,
kekecewaan, cemburu, bahkan tidak aneh lagi kalau cinta asmara berbalik menjadi kebencian.
Betapa indah dan anehnya cinta kasih, suatu masalah yang patut kita renungkan, kita amati dan kita
pelajari setiap saat, dengan mengamati diri sendiri dan setiap orang manusia, tak peduli pangkatnya. Raja
diraja sampai kepada pengemis yang paling miskin, berekuk lutut terhadap satu ini, ialah cinta kasih.
Kalau cinta asmara sudah menguasai batin, baik raja diraja maupun pengemis, akan bertekuk lutut
menjadi boneka. Dipermainkan perasaan ini dapat membuatnya menangis air mata darah, dapat pula
membuatnya tertawa kegirangan sampai lewat batas. Cinta asmara dapat membuat seorang pria kasar
menjadi lemah lembut seperti sutera, sebaliknya dapat membuat seorang pria yang sopan santun dan
lembut berubah menjadi kasar dan keras seperti baja. Banyak pula terjadi betapa pria gagah perkasa
yang takkan gentar menghadapi pengeroyokan puluhan orang musuh, akan gemetar bertekuk lutut di
depan kaki wanita yang dicintainya, tak tahan menghadapi kerling matanya, atau senyumannya, atau
bahkan tangisnya!
Joko Handoko duduk termenung entah berapa lamanya, dia tidak ingat lagi. Waktu tidak ada lagi
baginya, yang ada hanya tenggelam ke dalam lamunan, membayangkan wajah gadis yang membuatnya
tergila-gila. Dia yang biasanya berpendengaran tajam karena kedua telinganya dan syaraf-syarafnya
terlatih baik, kini bahkan tidak tahu bahwa ada sesosok bayangan menghampirinya dengan langkah
satu-satu perlahan-lahan.
Setelah bayangan itu tiba hanya tiga meter di belakangnya dan menginjak daun kering sehingga
menimbulkan suara berkeresekan, barulah Joko Handoko mendengarnya dan pemuda ini pun sadar dari
lamunannya, lalu menoleh. Sepasang matanya terbelalak, pandang matanya terpesona karena di
depannya telah berdiri orang yang sejak tadi menjadi kembang lamunannya.
“Diajeng Dewi Pusporini..........” Bisiknya, hampir tidak terdengar sehingga gadis yang berdiri di
depannya itu hanya melihat betapa bibir pemuda itu bergerak-gerak menyebutkan namanya. Dan gadis
itu pun tersenyum, sepasang bibirnya merekah dan nampak sedikit kilatan giginya.
Joko Handoko semakin terpesona. Betapa cantiknya! Sinar bulan purnama yang lembut menimpa
rambut dan wajah itu, dengan sinar agak kehijauan, lembut dan membuat wajah gadis itu nampak agung
dan seperti bukan wajah manusia lagi, melainkan wajah bidadari kahyangan dalam dongeng. Joko
Handoko bangkit berdiri dan mereka berdiri saling berhadapan dengan jarak tiga meter, saling pandang.
Karena sampai lama pemuda itu hanya berdiri memandang tanpa pernah berkedip, seperti telah berubah
menjadi patung. Dewi Pusporini merasa kikuk juga dan ia pun tersenyum dan menunduk sebentar, lalu
mengangkat lagi mukanya memandang.
“Kakang Joko Handoko, herankah engkau melihat aku datang?” tanyanya sambil tersenyum dan
sepasang mata itu memandang lembut.
“Tidak.... tidak.... Diajeng...... Dewi” kata Joko Handoko dengan agak gagap, seperti orang yang baru
saja dibangunkan dari tidur secara mendadak.
“Kalau begitu, terkejutkah engkau?”
“Tidak..........? Mengapa harus terkejut? Taman ini adalah tamanmu, diajeng.........?
“Hemm, tidak gembirakah engkau dengan kedatanganku?”
“Tidak...........? Ah, tentu saja aku gembira sekali. Malam............ini indah sekali di taman, diajeng Dewi
Pusporini.”
“Aku...... aku tak dapat tidur maka keluar dari kamar memasuki taman ini.”
“Akupun tidak dapat tidur dan biasanya, kalau malam aku memang suka berada di taman ini, apa lagi
kalau bulan sedang purnama. Dan ikan-ikan emas dalam kolam ini menjadi kesayanganku.” Ia melangkah
maju dan berdiri di tepi kolam, melihat ikan-ikan emas berenang ke sana-sini dengan gerakan halus
seperti terbang di udara saja layaknya.
“Memang indah sekali.................” kata Joko Handoko, makin terpesona dan tidak tahu harus bicara
apa, akan tetapi kedua kakinya melangkah menghampiri dan dia berdiri di dekat dara itu, memandang ke
dalam kolam.
Bulan purnama bersinar dengan sepenuhnya, tanpa dihalangi awan dan karena tempat mereka berdiri itu
bebas dari halangan pohon, maka mereka nampaklah bayangan mereka di permukaan air kolam.
“Lihat, kakangmas Joko, bayangan kita nampak di dalam air seperti dalam cermin saja?” tiba-tiba Dewi
Pusporini menuding ke depan kakinya, dia mana bayangan mereka kelihatan di dalam air dengan amat
jelasnya.
“Sudah sejak tadi aku melihat bayanganmu di dalam air ini, diajeng.”
“Ehhh......? Mana mungkin? Aku baru saja datang, Kakangmas Joko!” tanya dara itu sambil
memandang heran. Memang ia baru saja datang. Setelah bercakap-cakap dengan Wulandari, ia melihat
gadis yang lincah dan riang itu mengantuk, maka setelah membiarkan Wulandari tertidur pulas, ia turun
dari pembaringan dan dia pergi ke belakang, ke dalam taman karena ia ingin menikmati cahaya bulan di
taman itu, seperti biasa kalau bulan sedang purnama. Tak disangkanya bahwa di situ ia akan bertemu
dengan Joko Handoko. Andaikata ia tahu lebih dahulu bahwa pemuda itu berada di taman, tentu ia tidak
akan berani memasuki taman, malu.
Joko Handoko merasa terkejut sendiri dengan ucapannya tadi. Dia masih seperti dalam keadan
terpesona sehingga kata-kata itu terloncat begitu saja dari mulutnya. Kini, melihat gadis itu memandang
kepadanya dengan heran dan tajam menyelidik, jantungnya berdebar penuh ketegangan, akan tetapi dia
menarik napas panjang.
“Aku tidak membohong, diajeng Dewi. Sejak tadi aku melihat bayanganmu di dalam kolam itu, bahkan
di dalam kamar, bayanganmu selalu nampak olehku sehingga aku menjadi gelisah dan keluar ke dalam
taman ini.”
“Ahhhh.............!” Dewi Pusporini mengeluarkan seruan tertahan dan menggunakan tangan untuk
menutup mulutnya agar ia tidak berseru terlalu keras, tubuhnya seperti menjadi lemas dan karena kedua
kakinya terasa gemetar, dara itu lalu menghampiri bangku di tepi kolam dan duduk di ujung bangku.
Dengan jantung berdebar ia bertanya lirih, “Kakangmas Joko Handoko, apa....... apa maksud
kata-katamu itu.....?” Suaranya juga terdengar gemetar maka ia tidak bicara banyak.
Joko Handoko juga duduk di ujung yang lain dari bangku panjang itu. Biarpun dia seorang gemblengan
yang biasanya bersikap tenang tidak mudah merasa gentar, akan tetapi sekarang dia merasa jantungnya
berdebar dan seluruh tubuhnya gemetar!
“Diajeng Dewi Pusporini, harap maafkan aku yang sungguh tidak tahu diri...... aku sudah lupa siapa
diriku dan siapa pula dirimu, aku telah lancang sekali, berani jatuh cinta kepadamu. Diajeng, maafkan
aku, akan tetapi sejak pertemuan kita pertama kali itu, bahkan setelah pertemuan kedua ini, aku.... aku
seperti menjadi gila. Ke mana pun aku berada, bayangamu selalu nampak di depan mata.......”
Hening sejenak. Keduanya menundukkan mukanya. Joko Handoko dengan hati gelisah karena dia
menduga bahwa sang puteri itu tentu akan merasa terhina dan marah kepadanya, sikapnya pasrah karena
dia memang sudah siap menerima kemarahan Pusporini, bahkan siap menerima hukuman apapun juga.
Sedangkan Dewi Pusporini menundukkan mukanya karena terharu, dan kedua matanya mulai
membasah. Akhirnya ia tidak dapat menahan keharuan hatinya dan air matanya pun runtuh, ia terisak lirih
dan mengusap air mata dengan sapu tangan.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya rasa hati Joko Handoko mendengar suara isak tertahan itu. Dia
cepat mengangkat mukanya dan memandang dengan wajah pucat. Celaka, pikirnya, tentu dara itu
merasa terhina sekali sampai menangis!
“Aduh, diajeng...............harap jangan menangis. Maafkan kelancanganku, ampunkanlah kalau aku
menyakiti hatimu dengan kelancanganku, aku........ tidak bermaksud menghinamu, diajeng............”
Mendengar suara lembut penuh penyesalan yang dikeluarkan dengan suara gemetar itu Pusporini merasa
seperti ditusuk-tusuk hatinya dan ia pun menangis semakin terisak! Tentu saja Joko Handoko menjadi
semakin khawatir dan menyesal. Dia bangkit berdiri dan berkata halus,
“Diajeng Dewi Pusporini, aku mengaku bersalah kepadamu. Aku lancang mulut, aku tidak tahu diri,
berani menyatakan cinta kepada seorang puteri seperti engkau. Andaikata engkau sudi memaafkan aku
sekalipun, aku takkan pernah dapat memaafkan diriku sendiri, diajeng, aku akan menyesal
kelancanganku selama hidupku. Mohon pamit, diajeng, dan berhentilah menangis, hatiku hancur melihat
engkau menangis karena ulahku.........”
Joko Handoko melangkah pergi dengan terhuyung dan seluruh tubuhnya lemas sekali. Ingin dia
menangis, akan tetapi ditahannya perasaan dukanya yang melanda hatinya. Cinta asmara memang
merupakan sarang dari suka-duka, susah-senang, sedih-gembira yang datang silih berganti
mempermainkan korban-korbannya.
“Kakang mas Joko ............!” seruan lirih bercampur isak ini membuat Joko Handoko tersentak kaget
dan seketika gerakan kakinya terhenti. Dia memutar tubuhnya dan melihat betapa dara itu menangis
sambil menuupi muka dengan kedua tangannya. “Jangan........jangan pergi........”
Joko Handoko membelalakkan kedua matanya, hampir tidak percaya akan pendengarannya sendiri.
Benarkah itu suara Pusporini yang melarangnya pergi? Dia pun melangkah satu-satu menghampiri bangku
itu dan berdiri di dekat Dewi Pusporini yang masih menundukkan muka yang ditutupinya dengan kedua
tangan, pundaknya bergoyang perlahan dalam tangisnya.
“Diajeng, engkau............ menangis...............?” tanyanya ragu.
Dewi Pusporini menahan isaknya, sapu tangannya sudah basah semua dan ia pun tanpa mengangkat
mukanya berkata lirih, “Aku menangis........ bukan karena terhina............. melainkan kerena ............
karena bangga dan haru, kakang mas Joko.........”
Hampir Joko Handoko tidak percaya akan pendengarannya sndiri. “Diajeng Dewi........ apakah ini
berarti bahwa engkau juga...........”
Kini Pusporini mengangkat mukanya yang kemerahan dan masih basah air mata. “Kakangmas Joko,
semenjak engkau menolongku aku pun tidak pernah dapat melupakanmu, dan aku...... aku selalu
mengharapkan...............”
Joko Handoko hampir berteriak saking gembiranya dan dia memegang kedua tangan dara itu yang
masih duduk di atas bangku. “Diajeng, tidak mimpikah aku? Jadi engkau bersedia untuk menjadi
isteriku?”
Dua pasang tangan itu saling berpegangan dan jari tangan saling cengkeram. “Aku akan merasa bahagia
sekali, Kakangmas. Akan tetapi, aku hanya seorang wanita yang hanya mentaati kehendak ayah ibuku,
karena itu, kau pinanglah aku kepada orangtuaku.”
“Baik, akan kulakukan diajeng!” kata Joko Handoko dengan gembira sekali, “Aku akan mohon kepad
ibuku, kepada ayah tiriku, agar mereka suka mengajukan pinangan, akan tetapi......... apakah ayahmu
akan suka bermantukan seorang......... petani dusun seperti aku, diajeng?”
“Huusshhhh, kakangmas, kenapa berkata demikian? Kanjeng Romo bukan seorang yang haus akan
kedudukan atau harta benda, dan dia selalu memuji di depanku. Kurasa dia akan senang hati........”
“Ssttt...............!” tiba-tiba Joko Handoko melepaskan pegangan tangannya dan melangkah mundur
menoleh ke kiri dan memandang ke arah bagian yang gelap karena bayangan pohon. Akan tetapi tidak
nampak seorang pun di sana.
“Ada apa, kakangmas?”
“Aku melihat berkelebat bayangan orang tadi, akan tetapi dia sudah pergi. Sebaiknya engkau kembali
ke dalam rumah, diajeng. Tidak baik untukmu, kalau sampai kelihatan orang lain pertemuan kita ini.”
Dewi Pusporini mengangguk, bangkit bediri sambil berkata “Aahh, alangkah senangnya kalau aku
menjadi gadis dusun biasa sehingga dapat bercengkerama denganmu setiap waktu tanpa takut melanggar
kesopanan, kakangmas, harap engkau cepat-cepat mengajukan pinangan, aku menanti dengan sabar dan
setia.”
“Baiklah, diajeng dan percayalah kepadaku, aku cinta padamu!”
Dara itu mengerling dan mukanya menjadi merah, tetapi blasan langkah kemudian ia berhenti, menoleh
dan melihat pemuda itu masih bediri, mematung dan mengikutinya dengan pandang mata, ia pun berkata,
“Aku pun cinta padamu, kakangmas.” Dan ia pun berlari-lari kecil kembali memasuki pintu belakang.
Setelah mengikuti bayangan kekasihnya itu sampai lenyap di pintu belakang. Joko Handoko meloncat ke
bawah pohon di mana dia tadi melihat bayangan orang. Akan tetapi tak nampak seorang pun juga
manusia. Mungkin dia salah pandang, pikirnya. Mungkin bayangan pohon tertiup angin. Hatinya
terlampau gembira, untuk memusingkan bayangan yang tadi dilihatnya bekelebat itu, dan dia pun cepat
kembali ke kamarnya dan sekali ini, kembali ia tidak dapat tidur, dan kembali wajah Dewi Pusporini
terbayang, akan tetapi betapa bedanya keadaan hatinya. Kalau tadi gelisah, kini dia tidak dapat tidur
saking gembiranya!
Di kamar lain, yaitu kamar Dewi Pusporini, dara ini pun merasa gelisah. Akan tetapi bukan hanya karena
kegembiraan hatinya setelah bertemu dengan Joko Handoko, melainkan karena ketika ia tidak melihat
Wulandari yang tadi tidur pulas ketika ia meninggalkannya. Ke mana gerangan perginya gadis itu? Dewi
Pusporini mencari-cari, akan tetapi tidak berhasil, dan para dayang juga tidak ada, yang melihat gadis itu
keluar. Ingin sekali Dewi Pusporini melaporkan hilangnya Wulandari ini kepada ayahnya, akan tetapi
karena ayahnya sudah tidur dan hari telah larut malam, ia tidak berani membikin ribut. Ingin pula ia
menceritakannya kepada Joko Handoko akan tetapi bagaimana ia dapat menghubungi, pemuda itu? Ada
sesuatu yang menggelisahkan hatinya. Bukankah tadi Joko Handoko mengatakan bahwa dia melihat
berkelibatnya bayangan orang? Jangan-jangan Wulandari yang tadi berkunjung, ke taman. Wajahnya
berubah merah membayangkan hal ini. Tentu Wulandari melihat keadaan mereka! Walaupun hanya saling
berpegang tangan, namun jelaslah tentu baik orang lain bahwa di antara ia dan Joko Handoko ada
hubungan yang mesra. Dan ia pun teingat akan akrabnya hubungan antara Wulandari dan Joko
Handoko! Ah jangan-jangan Wulandari juga mencintai pemuda itu, dan menjadi patah hati dan melarikan
diri. Pucat wajah Dewi Pusporini mendengar akan hal ini. Ia sangat suka kpada Wulandari dan sama
sekali tidak ingin melukai hatinya. Ia benar-benar merasa sangat khawatir seingga semalaman itu ia tidak
dapat tidur pulas.
Pada keesokan harinya, dengan muka agak pucat dan rambut kusut, pagi-pagi sekali Dewi Pusporini
mengetuk pintu kamar ayah ibunya. Ketika daun pintu dibuka, ia pun menyerbu ke dalam dan berkata
kepada ayahnya.
“Kanjeng romo, diajeng Wulandari lenyap semalam dari kamar kami!”
Tentu saja senopati, itu terkejut dan heran. “Apa kau bilang? Lenyap? Bagaimana hal itu bisa terjadi?”
“Saya tidak tahu, kanjeng romo. Saya...... eh, tidur nyenyak dan ketika pada malam hari terbangun, ia
sudah tidak ada. Agaknya ia pergi tanpa pamit, romo.”
“Aneh! Apakah terjadi percekcokan antara kalian?”
“Ah, tidak, kanjeng romo. Kami bercakap-cakap dengan baik sampai tertidur.”
“Harus beri tahu kepada anakmas Joko Handoko..... eh, jangan-jangan......... dia pun pergi tanpa
pamit.”
Terkejut sekali hati Dewi Pusporini mendengar ini. “Tidak mungkin! Tidak mungkin dia pergi begitu saja
tanpa pamit!”
“Eh, bagaimana kau bisa tahu? Wulandari juga pergi tanpa pamit,” kata ayahnya sambil memandang
wajah puterinya. Pusporini menunduk dengan muka agak kemerahan.
“Kakang Joko Handoko adalah seorang yang halus budi, kanjeng romo. Saya kira, dia tidak akan, pergi
begitu saja tanpa, pamit.”
Senopati Pamungkas lalu mengutus seorang pelayan untuk pergi memanggil pemuda itu, dan tak lama
kemudian Joko Handoko pun datang menghadap. Dia hatinya bertukar pandang dengan Dewi Pusporini,
dengan pandang mata yang mesra, akan tetapi tidak berani mengeluarkan kata-kata terhadap puteri itu.
“Anakmas Joko Handoko menurut pelaporan Dewi, Wulandari semalam telah pergi tanpa pamit.
Apakah anakmas tahu akan kepergiannya?”
Tentu saja Joko Handoko mengetahuinya, bahkan dia pagi tadi panik ketika mendapat kenyataan
bahwa. Keris pusakanya yang dia tinggal di dalam kamar ketika dia pergi ke taman, telah lenyap.
Sebagai gantinya, dia mendapatan sehelai kertas dengan tulisan Wulandari yang meninggalkan pesan.
Singkat kepadanya.
Kakang Joko Handoko,
Aku pergi dulu, keris pusakamu ku
pinjam untuk kupakai Ken Arok
yang menyebabkan kematian ayahku.
Wulandari yang malang.
Tentu saja Joko Handoko terkejut bukan main dan merasa heran. Selama ini, walaupun tak pernah
memperdulikan Ken Arok, gadis itu nampaknya tidak pernah mendendam kepada Ken Arok. Pula,
kematian KI Bragolo ialah karena menderita sakit, walaupun mungkin sakitnya semakin parah karena
harus bertanding dengan melawan Ken Arok yang hendak membunuhnya. Dan keris Nogopasung
dibawanya untuk menghadapi Ken Arok. Hal ini dapat dimengertinya karena gadis itupun tahu, bahwa ia
tidak dapat menandingi ketangguhan Ken Arok, dan tentu saja gadis itu mengharapkan dapat menang
kalau mempergunakan keris pusaka Nogopasung yang ampuh itu. Tidak. Gadis itu harus dikejarnya dana
dicegahnya mencari dan menantang Ken Arok! Akan tetapi diam-diam, dia merasa heran sekali mengapa
terjadi perubahan demikia tiba-tiba pada diri Wulandari. Rasanya tidak masuk di akal kalau Wulandari
melakukan hal itu, pergi diam-diam dan membawa kerisnya. Tentu ada sesuatu yang menyebabkan ia
dan Joko Handoko teringat akan bayangan semalam di taman. Mengingat ini, tiba-tiba wajahnya menjadi
pucat. Itukah sebabnya? Wulandarikah banyangan itu? Wulandari telah melihat pertemuannya yang
mesra dengan Dewi Pusporini, dan hal ini menyebabkan gadis itu menjadi nekat, mencuri keris pusaka
dan pergi meninggalkannya! Dan ini hanya berarti bahwa gadis itu merasa berduka dan cemburu! Dan itu
menandakan bahwa, Wulandari mencintainya!
Ketika pagi itu dia dipanggil, dia mengerti bahwa tentu urusan perginya Wulandari yang
menyebabkannya. Maka, mengahadapi pertanyaan Senopati Pamungkas, diapun tidak terkejut dan
menjawab sejujurnya.
“Kanjeng paman senopati, saya sudah mengetahuinya. Karena diajeng Wulandari meninggalkan sepucuk
surat, walaupun saya. Merasa heran dan tidak mengerti akan sikapnya itu. Inilah surat yang
ditinggalkannya di dalam kamar saya,” Joko Handoko mengeluarkan surat itu dan melihat surat ini, Dewi
Pusporini yang sejak semalam merasa tidak enak hati, segera emngambil dari tangannya.
“Aku ingin sekali membaca suratnya!” katanya dan dia pun membaca dan memandang kepada Joko
Handoko yang segera menundukkan mukanya karena dari sinar gadis itu diapun maklum bahwa
Pusporini sudah mengerti akan persoalannya.
“Ohhh............... Wulandari.......!” Pusporini mengeluh.
Melihat sikap puterinya, Senopati Pamungkas mengambil surat itu dari tangan anaknya. Apa sih isinya?
Dan diapun membacanya. Akan tetapi dia menjadi terheran-haran dan tidak mengerti mengapa
Wulandari melakukan hal itu.
“Anakmas Joko, apa arti semua ini?”
“Sudah jelas, kanjeng paman. Dimas Ken Arok pernah menyerang mendiang Ki Bragolo ayah diajeng
Wuladari untuk membalas kematian ayah kami, yaitu Raden Ginantoko yang dahulu terbunuh oleh Ki
Bragolo. Walaupun dimas Ken Arok tidak jadi membunuhnya, namun Ki Bragolo tewas karena serangan
jantung pada saat itu dia baru saja mengalami serangan itu. Dan agaknya diajeng Wulandari mendendam
dan kini pergi untuk mencari dimas Ken Arok, untuk membalas dendam.”
“Ahhh............! Kenapa ia begitu nekat? Kenapa mencuri pinjam keris pusaka dan tidak
memberitahukan kepadamu akan niatnya yang nekat itu? Bagaimana mungkin ia dapat menang
menghadapi Ken Arok yang sakti itu?”
“Saya harus cepat mengejar dan mencarinya, kanjeng paman, dan mencegah niatnya itu.
Mudah-mudahan saja saya tidak akan telambat. Saya mohon diri, kanjeng paman,” kata Joko Handoko
tanpa menjawab semua pertanyaan itu. Dia memang sudah siap untuk pergi, ketika dipanggil tadi.
“Pergilah, kakangmas Joko, pergilah dengan cepat dan cegahlah ia melakukan perbuatan nekat dan
berbahaya lagi,” Pusporini berkata dengan suara memohon dan ayahnya terkejut melihat suara anaknya
mengandung isak tangis. Akan tetapi dia pun setuju agar pemuda itu cepat melakukan pengejaran.
“Memang engkau harus cepat melakukan pengejaran dan mencegahnya, anakmas.”
Suaminya segera menjawab. “Wulandari semalam pergi tanpa pamit, meninggalkan surat kepada Joko
Handoko bahwa ia meminjam keris pusakanya untuk membunuh Ken Arok. Agaknya Dewi yang
mengetahui sebabnya mengapa Wulandari mengambil keputusan demikian nekatnya. Nah, Dewi,
Sekarang ibumu juga hadir untuk mendengarkan keteranganmu.”
Dengan masih di pangkuan ibunya karena ia merasa malu untuk memandang orang tuanya, Dewi
Pusporini lalu bercerita. “Malam tadi, setelah Wulandari tidur, saya keluar dari kamar dan pergi ke
taman. Kanjeng Romo dan kanjeng ibu tentu sudah mengetahui akan kebiasaan dan kesukaan saya yang
senang bergadang di dalam taman di bawa sinar bulan purnama. “Ia berhenti sebentar untuk melihat
bagaimana sikap kedua orang tuanya.
“Hemm, lalu bagaimana?” tanya ayahnya dan ibunya juga memandang dengan penuh perhatian.
Dewi Pusporini memperoleh ketabahandan iapun kini duduk bersimpuh di atas lantai, menundukkan
muka da melanjutkan. “Saya sama sekali tidak menduga bahwa di dalam taman itu telah ada lain orang,
dia adalah Kakangmas Joko Handoko. Pertemuan yang tidak kami sengaja itu membawa kami kepada
percakapan dan dalam kesempatan ini, kami.........saling membuka rahasia kami.”
“Maksudmu bagaimana?” tanya ibunya karena dara itu kembali berhenti bicara.
“Kami......... kami saling jatuh cinta, ibu.............” Akhirnya gadis itu dapat mengeluarkan kata-kata yang
membuka rahasia hatinya. Ayah ibunya saling pandang, tersenyum dan tidak menjadi terkejut. Sudah
berkali-kali Dewi Pusporini dilamar orang, akan tetapi, gadis itu selalu menyatakan keberatan dan belum
mau sehingga hal ini mengesalkan hati mereka. Merekapun tidak mau sembrono mengambil mantu
sembarang orang saja untuk menjadi suami puteri mereka. Dan mereka berdua harus mengaku bahwa
Joko Handoko adalah seorang pemuda yang amat baik. Hanya sedikit hal yang mengecewakan hati sang
senopati, yaitu bahwa Joko Handoko tidak mau menerima anugerah jabatan yang ditawarkan oleh sang
akuwu.
“Kanjeng romo dan kenjeng ibu tidak.......... marah bukan?”
Ibunya menyetuh pundaknya dengan lembut. “Kenapa mesti, marah, anakku? Joko Handoko adalah,
seorang pemuda yang baik.”
“Lanjutkan ceritamu!” kata senopati, tidak seramah isterinya. “Apa yang kalian lakukan dan kemudian
bagaimana?”
Mendengar nada suara ayahnya, Pusporini terkejut.
“Kanjeng Romo, biarpun kami saling mencintai, namun kami tidak melakukan sesuatu yang rendah.
Kami hanya berpegang tangan saja ketika saat itu Kakangmas Joko mengatakan bahwa dia melihat
bayangan yang berkelebat. Akan tetapi ketika dicari, bayangan itu sudah lenyap. Tak lama kemudian
kami berpisah dan saya masuk kembali ke dalam kamar. Akan tetapi, ketika saya masuk, Wulandari
telah tiada dalam kamar.”
“Kenapa kau tidak memberitahu kepadaku?”
“Kanjeng Romo dan Kanjeng Ibu sudah tidur, saya tidak berani membikin ribut. Pula, saya belum yakin
bahwa Wulandari pergi tanpa pamit, hal itu baru saya ketahui ketika membaca suratnya yang ditinggalkan
untuk kakangmas Joko.”
Hening sejenak. Sang senopati diam dan mengerutkan alisnya, kemudian mengangguk-angguk.
“Hemmm, jadi menurut dugaanmu, bayangan itu adalah Wulandari dan ketika ia melihat engkau dan
anakmas Joko Handoko, ia menjadi cemburu, marah dan melakukan perbuatan nekat itu? Kalau begitu
halnya, engkau sama sekali tidak bersalah, anakku dan tidak perlu engkau menyesali peristiwa itu karena
itu adalah kesalahan Wulandari sendiri.”
”Saya........... saya hanya kasihan dan khawatir sekali,kanjeng romo.”
Keluarga itu memang merasa gelisah dan mereka menanti kembalinya Joko Handoko untuk mendengar
berita tentang Wulandari yang telah menjadi nekat itu.
Ke manakah perginya Wulandari? Malam itu memang belum tidur pulas ketika Dewi Pusporini
meninggalkan pembaringan lalu keluar dari dalam kamar. Wulandari yang sudah mengantuk melihat
temannya itu pergi, akan tetapi ia diam saja, mengira bahwa Pusporini pergi untuk suatu keperluan dan
akan segera kembali. Akan tetapi, setelah agak lama teman itu tidak kembali ke kamar, ia pun menjadi
heran dan hal ini mengusir kantuknya. Tidak enak rasanya rebah sendirian saja di kamar orang, ditinggal
pergi pemilik kamar. Ia bangkit dan turun dari pembaringan, membereskan sanggul rambutnya yang
terlepas, lalu menghampiri daun jendela. Ia tahu bahwa di luar jendela itu adalah sebuah taman yang luas
dan indah. Dibukanya daun jendela. Cahaya bulan redup dan sejuk menyerbu kamar, membawa pula
bau, semerbak harum.
”Oohhh.......” Wulandari menarik napas panjang dan terpesona melihat keindahan malam itu. Taman itu
bermandikan sinar bulan, dan bau semerbak harum datang dari pohon Arum Dalu yang sedang
berkembang, penuh dengan bunga kecil-kecil berwarna putih yang amat harum di waktu malam
walaupun di siang hari tidak berbau sedap sama sekali.
Keindahan taman itu sejenak mempesona Wulandari, kemudian manarik hatinya untuk keluar, dari
kamar melalui pintu belakang dan masuk ke dalam taman. Ia ingin memetik seranting penuh bunga Arum
Dalu.
Akan tetapi pada saat itu dia mendengar suara orang bercakap-cakap lirih. Ia menjadi terejut dan
curiga, lalu berindap-indap ia masuk lebih dalam ke taman itu. Dapat dibayangkan betapa kaget rasa
hatinya ketika melihat Joko Handoko dan Dewi Pusporini berada di tengah-tengah taman itu, dalam
pertemuan yang nampak olehnya demikian asyik-masyuk, demikian mesra! Joko Handoko berdiri di
depan Pusporini yang duduk di bangku, dua pasang tangan mereka, saling genggam dan terdengar
olehnya suara Joko Handoko, “Diajeng, tidak mimpikah aku? Jadi engkau besedia untuk menjadi
isteriku?”
Kemudian terdengar jawaban Pusporini lirih, ”Aku akan merasa bahagia sekali, kakangmas...........”
Selanjutnya Wulandari tidak mendengar apa-apa lagi karena ia merasa pandang matanya berkunang,
kepalanya pening dan tubuhnya pening dan tubuhnya menggigil. Joko Handoko, yang menjadi tumpuan
harapanya, yang menjadi pegangan hidupnya, satu-satunya pria yang dicintanya, satu-satunya orang yang
dikasihaninya, kini, sedang memadu cinta dengan Dewi Pusporini! Ah, ia tidak dapat membayangkan apa
yang akan dilakukannya terhadap wanita yang berani merebut Joko Handoko darinya kalau bukan Dewi
Pusporini. Mungkin akan dibunuhnya! Akan tetapi, justru yang dicinta oleh Joko Handoko adalah Dewi
Pusporini, wanita yang disayangnya, yang dianggapnya saudara sendiri!
“Oohhhh................!” Wulandari terhuyung-huyung, hampir terjatuh, akan tetapi ia cepat menguasai
dirinya dan dalam keadaan dibakar cemburu ini, timbullah duka yang amat mendalam dan teringatlah ia
akan keadaan dirinya, betapa ia hidup sebatangkara, betapa ayahnya telah meninggal dunia dan teringat
akan kematian ayahnya, ia pun ingat kepada Ken Arok yang dianggapnya penyebab kematian ayahnya.
Ia kini tidak mempunyai apa-apa lagi, tidak memiliki harapan lagi. Ken Arok harus dibunuhnya untuk
membalas dendam kematian ayahnya! Dan ia pun tahu betapa saktinya Ken Arok, maka ia lalu cepat
memasuki kamar Joko Handoko untuk mengambil keris pusaka Nogopasung yang oleh pemiliknya
ditinggalkannya di atas meja. Dengan keris pusaka yang ampuh itu ia akan menghadapi Ken Arok.
Diambilnya keris pusaka itu, ditulisnya cepat-cepat sebuah surat singkat untuk Joko Handoko dan ai pun
cepat melarikan diri meninggalkan gedung Senopati Pamungkas tanpa pamit.
Dengan keris pusaka Nogopasung terselip di pinggang, Wulandari lari dengan cepat memasuki lorong,
yang sunyi. Ia berlari sambil menangis. Bayangan Joko Handoko dan Dewi Pusporini dalam taman tadi
selalu membayanginya dan bayangan itu seperti ujung keris berkarat menusuki perasan hatinya. Hatinya
penuh dengan duka, penuh dengan cemburu dan iri hati kepada Dewi Pusporini. Hatinya terasa perih
sekali.
Wulandari sudah tahu di mana letak gedung tempat tinggal perwira tinggi Ken Arok. Maka iapun pergi
menuju ke tempat itu. Ia tahu bahwa Ken Arok sakti dan sebagai seorang panglima, tentu saja rumahnya
dijaga banyak pengawal. Ia tidak boleh sembrono, harus berhati-hati jangan sampai ia mengalami
kegagalan. Kalau sampai ia gagal membunuh Ken Arok, ia akan merasa malu sekali kepada Joko
Handoko. Ia akan membunuh diri saja dengan keris pusaka Nogopasung kalau sampai gagal.