Showing posts with label GUNUNG. Show all posts
Showing posts with label GUNUNG. Show all posts
Misteri gunung Lawu

Misteri gunung Lawu

06:48 0
Misteri gunung Lawu
Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.
Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Praja Mangkunegaran.
Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar si pelaku diyakini bakal bernasib naas.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani.
Legenda gunung Lawu
Lawu.jpg

Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas).
Raden Fatah putra Brawijaya V dari putri champa ( Anarawati ) setelah dewasa beragama islam, berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak).
Melihat kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkannya wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.
Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem.
Saat itu Sang Prabu bertitah, "Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib dengan wilayah ke barat hingga wilayah gunung Merapi/gunung Merbabu, ke timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.
Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini.
Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.
Foto Setiyono Hadi.
GUNUNG BANCAK MAGETAN

GUNUNG BANCAK MAGETAN

06:54 1
Gunung Bancak Magetan
Disunting adari beberapa sumber, dengan harapan Magetan makin Top.

Gunung Bancak adalah sebuah perbukitan di lereng gunung Lawu sebelah timur. Tepatnya di wilayah Kabupaten Magetan sebelah selatan. Berbicara tentang Gunung Bancak, menurut cerica dari orang tua dahulu, banyak tersimpan misteri-misteri yang ada di Gunung bancak. LEGENDA GUNUNG BANCAK Dahulu kala pada jaman Ramayana, salah satu abdi dari Prabu Rama yang sakti mandraguna yang bernama Anoman sedang marah besar. Karena kemarahannya yang memuncah dan tak dapat dikendalikan, dia menendang puncak Gunung Lawu sampai terlempar jauh ke arah timur. Jadilah perbukitan Gunung Bancak. Sampai sekarang legenda itu masih dipercaya bahwasannya keberadaan Gunung Bancak merupakan puncak dari Gunung Lawu. Gungng Bancak / Gunung Emas Cerita dari orang tua dahulu bahwasannya Gunung bancak Magetan apabila dilihat dari sebelah timur pada waktu tertentu akan terlihat bercahaya seperti emas. Dari situlah maka gunung bancak disebut juga sebagai Gunung Kencono atau Gunung Emas. Ada juga cerita dari mulut ke mulut bahwa banyak orang yang berasal dari timur Gunung Bancak mencari pesugihan di situ tepatnya di bukit Seprecet ( masuk wilayah Desa Sundul ) yang dipercaya banyak orang sebagai kerajaan dari makhluk ALLAH yang ada di alam sebelah ( alam gaib maksudnya ). Cerita lain menyebutkan bahwasannya Gunung Bancak merupakan tempat penyimpanan dari harta karun peninggalan jaman dahulu yang berupa bongkahan emas dan sebagainya yang banyak orang menyebutnya sebagai Dana Revolusi ( kenyataannya serahkan saja pada yang mencetak jagat raya ini ) . Sarean Ratu Di Gunung Bancak Magetan ada sebuah makam peninggalan dari jaman kerajaan Mataram yang menyimpan jasat Eyang Maduretno yang terkenal dengan Sarean Ratu / Kuburan Ratu. Tepatnya di Gunung Bancak sebelah selatan yang masuk Desa Giripurno Kecamatan Kawedanan, Magetan. Cerita dari SESEPUH / Penerawangan Alam Gaib Ada sebuah benteng yang mengelilingi gunung bancak khususnya bukit Seprecet yang merupakan bagian dari wilayah Desa Sundul. Tetapi pagar benteng itubukan terbuat dari bahan sewajarnya sebuah benteng, tetapi benteng tersebut dari manusia yang sudah tersusun tiga sab. Dan masih banyak lagi cerita-cerita mistis lainnya seperti keberadaan Sendang Teleng Desa Sundul dan sebagainya. Terlepas dari kisah dan cerita di atas, Gunung Bancak mempunyai panorama alam yang indah. Sekarang keberadaannya yang sudah kembali menjadi hutan ( kebanyakan pohon jati ), sangat cocok untuk petualangan bagi pecinta alam untuk menyalurkan hobi mereka. Ratusan Rusa telah menghuni Gunung Bancak ini, juga pernah ditemuai kera, ular yang besar, ayam hutan, dan masih banyak lagi hewan yang menghuni perbukitan gunung bancak ini. Bagi para pecinta alam dan penyuka petualangan. tidaklah salah apabila anda menyempatkan diri berpetualang di Gunung Bancak ini. Bagi penyuka misteri silahkan saja menyibak banyak misteri yang ada di Gunung Bancak ini. Semoga info ini bisa menambah wawasan anda untuk lebih mengenal lagi Gunung Bancak dan melengkapi cerita dan tulisan yang sudah ada.
Masih banyak yang belum tahu bahwasannya Gunung Bancak menyimpan suatu kisah yang begitu melegenda di Magetan yang keberadaannya di buktikan dengan peninggalan sejarah berupa suatu makam yang sering di sebut oleh warga sekitar Gunung Bancak dengan Kuburan Ratu/ Sarean Ratu.
Dahulu cerita orang tua, di dalam makam tersebut ada peninggalan dari jaman kerajaan berupa gentong dan kendi yang terbuat dari emas , tetapi sudah hilang karena dicuri orang.
Terlepas dari cerita semua itu, Sarean Ratu merupakan suatu peninggalan sejarah yang seharusnya tidak boleh dilupakan begitu saja.
Penduduk sekitar setiap tahun baru islam ( 1 Suro/Muharam ) selalu melaksanakan do'a bersama/ tahlilan di Sarean Ratu untuk mendoakan arwah arwah beliau yang tentunya untuk mengenang jasa jasa beliau kepada daerah tersebut. Sehingga setiap tanggal 1 Suro di Sarean Ratu selalu ramai oleh para peziarah ataupun orang orang yang hanya berkunjung dan berlibur.

Jalan menuju Sarean Ratu sudah dibangun sejak masa Bapak Basofi Sudirman menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur sehingga bisa di akses dengan mudah memakai kendaraan roda dua, roda empat ataupun jalan kaki yang tentunya bisa sambil menikmati pemandangan alam sekitar gunung bancak yang begitu indah.
Bagi pecinta alam tentunya tempat ini merupakan tempat yang sangat sesuai untuk menyalurkan hobi berpetualang. Dengan di dukung suasana alam yang begitu indah tentunya akan mendapat suatu tantangan dan sensasi petualangan yang berbeda dari tempat lainnya.
Letak Geografis Gunung Bancak :
Gunung Bancak terletak diantara empat Kecamatan dari wilayah Kabupaten Magetan diantaranya :
1. Kecamatan Parang : Desa Sundul
2. Kecamatan Ngariboyo : Desa Banjarpanjang
3. Kecamatan Kawedanan : Desa Giripurno, Desa Ngentep
4. Kecamatan Lembeyan : Desa Krowe, Desa Pupus
Titik koordinat dari Gunung Bancak Magetan berada di sekitar titik 27,43.01.28 LS dan 111,23.29.73 BT.

Gunung Bancak : kumpulan banyak bukit
Kalau Anda mencoba melihat keberadaan Gunung Bancak dari foto hasil pencitraan satelit, mungkin akan terlihat bahwa Gunung Bancak hanya terdiri dari dua bukit. Tetapi dalam kenyataanya Gunung Bancak sendiri terdiri dari banyak bukit yang berkumpul menjadi satu dan membentuk suatu pegunungan yang dinamakan Gunung Bancak. Masing masing bukit tersebut diberi nama sesuai dengan nama puncak dari bukit tersebut. Diantaranya :
1. Bukit Seprecet
2. Bukit Semunu
3. Bukit Sekelir
4. Puntuk Simun
5. Bukit Ceme
6. Bukit Selenguk, dll

Sebenarnya masih banyak bukit bukit yang belum disebutkan karena memang tidak tahu nama namanya. Nama Nama di atas hanya sebatas pengetahuan yang ada saja.
Keadaan Alam
Dahulu sebagian besar tanah Gunung Bancak digunakan warga sekitar yang mempunya hak milik tanah di situ sebagai ladang yang sering ditanami ubi ubian untuk menopang kehidupan mereka. Tetapi sekarang seiring berkembangnya pengetahuan dan wawasan warga sekitar, ladang ladang yang dulu digunakan sebagai lahan pertanian sekarang dialih fungsikan sebagai hutan rakyat yang kebanyakan ditanami dengan pohon jati. Jadi kalau pada musim penghujan Gunung Bancak selalu berubah seperti layaknya hutan jati yang begitu lebat dan padat. Ditambah dengan tumbuh suburnya semak semak sehingga menjadikan Gunung Bancak seperti hutan belantara.
Untuk menopang pertanian masyarakat dan memudahkan mengangkutan hasil pertanian, sekarang ini di Gunung Bancak sudah ada akses jalan yang bisa dilewati oleh kendaraan semacam Truk untuk mengangkut kayu hasil hutan yang ada. Ada dua akses jalan yang membelah perbukitan di gunung ini yaitu :
Jalan antara Desa Sundul Kecamatan Parang yang terhubung dengan Desa Giripurno Kecamatan Kawedanan.
Jalan antara Desa Krowe Kecamatan Lembeyang yang terhubung dengan Desa Ngentep Kecamatan Kawedanan.

Dua akses jalan tersebut sangat membantu masyarakat sekitar untuk memperlancar mengangkut hasil pertanian dan hasil hutan.
Di tengah perbukitan Gunung Bancak ada semacam lembah yang lumayan luas dan datar yang digunakan sebagai lahan pertanian warga. Daerah itu lebih terkenal dengan daerah Telogo Asat ( telaga yang tidak ada airnya). Konon ceritanya dahulu memang ada yang mau membuat telaga di situ. Tetapi belum selesai karena keduluan oleh ayam jago yang berkokok, seperti layaknya asal usul tempat dan telaga dari daerah lain.

Makam Eyang Maduretno / Sarehan Ratu
Di Gunung Bancak tepatnya di Desa Giripurno ada makam peninggalan jaman kerajaan yang sangat terkenal yang oleh warga sekitar disebut sebagai Kuburan Ratu atau Sarean Ratu. Makam tersebut juga terkenal sebagai Makan Eyang Maduretno yang masih keturunan dari Kerajaan Surakarta. Setiap tahun baru jawa 1 Suro selalu diadakan doa bersama di Makam Tersebut.
Makam G.B.R.Ay. Maduretno
Nama Lain: Makam Gunung Bancak, Pesarean Eyang Ronggo, Sarean Ratu
Lokasi: Puncak Gunung Bancak, Desa Giripurno, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan
Keadaan Umum: Makam G.B.R.Ay. Maduretno ini lebih dikenal masyarakat sekitar sebagai Sarean Ratu. Pada pesarean ini terdapat dua makam utama yakni makam G.B.R.Ay. Maduretno dan K.P.A.H. Ronggo Prawirodirdjo III. Makam utama terletak di dalam sebuah bangunan berbentuk rumah. Di muka bangunan rumah tersebut terdapat dua buah pohon yang seakan-akan menjadi gerbang masuk menuju bangunan utama. Di bawah salah satu pohon tersebut terdapat arca dwarapala. Fungsi arca dwarapala adalah menjaga gerbang masuk suatu tempat suci atau tempat penting. Dwarapala digambarkan dalam posisi jongkok bersiaga. Salah satu tangannya memegang senjata gada. Gada dianggap sebagai salah satu atribut atau simbol penghancur kegelapan yang mengancam.
Sejarah: K.P.A.H. Ronggo Prawirodirdjo III adalah Adipati Maospati Madiun ke III, sedangkan G.B.R.Ay. Maduretno adalah Putri Hamengku Buwono II dan merupakan permaisuri K.P.A.H. Ronggo Prawirodirdjo III.
K.P.A.H. Ronggo Prawirodirdjo III dihukum mati sebagai pemberontak melawan penjajahan Belanda dan dimakamkan di makam pemberontak Banyu Sumurup tahun 1810. Pada tahun 1957, K.P.A.H. Ronggo Prawirodirdjo III dinyatakan sebagai pejuang perintis perlawanan terhadap kolonialis Belanda oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan dimakamkan kembali di Gunung Bancak Desa Giripurno yang merupakan makam G.B.R.Ay. Maduretno.
Kegiatan Terkait: Upacara Bersih Desa setiap bulan Syuro (Kelender Jawa) dan ritual bersifat personal.
Foto Setiyono Hadi.
GUNUNG ARJUNA

GUNUNG ARJUNA

04:52 0
GUNUNG ARJUNA
Gunung Arjuno atau Gunung Arjuna terletak di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Gunung ini bertipe strato volcano (tidak aktif) dengan ketinggian 3.339 mdpl dan berada dalam satu punggungan dengan gunung Welirang active volcano yang mempunyai ketinggian 3.156 mdpl. Nama Arjuno sendiri berasal dari salah satu tokoh dalam pewayangan Mahabharata, yang terkenal sakti, pandai memanah dan ganteng yaitu Arjuna.
Menurut cerita dalam pewayangan, Gunung Arjuno dahulunya mempunyai ketinggian yang hampir menyentuh langit. Pada suatu saat Arjuno bertapa di puncak gunung ini sekian lamanya. Karena memang beliau suka bertapa untuk memperoleh kesaktian dan pusaka supaya dapat memenangkan perang Baratayudha. Karena pertapaannya itu, tiba-tiba dari dalam tubuhnya mengeluarkan sinar yang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Hal ini menimbulkan keresahan di Kahyangan Suralaya. Kawah condrodimuko mendidih dan menyemburkan muntahan lahar. Petir menggelegar dan gunung tempatnya bertapa menjadi terangkat menjulang ke langit.
Para Dewa sangat kuatir, dan kemudian mereka berkumpul mengadakan sidang yang dipimpin oleh Batara Guru. Para Dewa kemudian memutuskan bahwa hanya Batara Narada yang sanggup menyelesaikan masalah. Kemudian diutuslah Batara Narada turun ke Marcapada, mencari titah yang menjadi sumber peristiwa itu. Pada saat ia terbang, berputar-putar di angkasa, dilihatnya Arjuna sedang bertapa di puncak gunung. Berkata Batara Narada, “Cucuku Arjuna, bangunlah dari tapamu. Semua orang bahkan para Dewa akan menjadi celaka bila kau tak menghentikan tapamu.” Arjuna tersentak mendengar panggilan tersebut. Namun dia tidak menggubris hal tersebut, justru dia meneruskan bertapa. Dia berpikir bila dia tidak mau bangun pasti para dewa akan bingung dan pasti akan menghadiahkan banyak senjata dan kesaktian.
Batara Narada gagal membangunkan tapa Arjuna, bingung dan putus asa, Batara Narada segera terbang kembali ke Kahyangan. Sidang berikutnya pun segera digelar untuk mencari solusi bagaimana membangunkan sang Arjuna dari tapanya.
Akhirnya diputuskan untuk menurunkan Batara Ismaya yang menjelma menjadi Semar dan Togog untuk membangunkan tapa Arjuna. Mereka berdua segera bertapa di masing-masing sisi gunung tempat Arjuna bertapa. Setelah bertapa, tubuh mereka berubah menjadi tinggi besar hingga melampaui puncak gunung. Lalu mereka mengeruk bagian bawah gunung itu dan memotongnya. Mereka melemparkan potongan puncak gunung itu ke tempat lain.
Kemudian Arjuna segera terbangun dari tapanya. Dia memperoleh nasehat dari Semar bahwa tindakannya itu tidak benar. Gunung tempat Arjuna bertapa itu diberi nama Gunung Arjuna. Potongan gunung yang di lempar diberi nama Gunung Wukir.

Jalur Pendakian Gunung Arjuno dan Gunung Welirang
Gunung Arjuna dengan ketinggian 3.339 mdpl, sejak jaman Majapahit sudah dijadikan tempat pemujaan. Seperti halnya gunung penanggungan yang terletak tidak begitu jauh dari gunung arjuna ini, keduanya banyak memiliki peninggalan sejarah berupa bangunan pemujaan. Dilereng-lereng gunung Arjuna yang berketinggian 3.339 mdpl tersebut banyak terdapat arca maupun candi peninggalan kerajaan Majapahit. Situs-situs kuno dan bersejarah ini banyak berserakan mulai dari kaki gunung sampai di puncak gunung arjuna Situs-situs Candi dan patung pemujaan peninggalan Jaman Majapahit itu hanya dapat dijumpai di jalur pendakian Purwosari, yakni tepatnya dari desa Tambak watu kec. purwodadi, kab. pasuruan. Suasana angker dan penuh magis masih menaunginya, karena situs-situs tersebut masih sering didatangi para pejiarah untuk bermeditasi dan berdoa, terutama para penganut kejawen, sehingga situs-situs kekunaan di gunung Arjuna ini terawat dan terjaga dengan baik. Terdapat beberapa gunung di sekitar Gunung Welirang-Arjuna diantaranya : Gn. Arjuna (3339 mdpl), Gn. Welirang (3156 mdpl), Gn. Kembar I (3051 mdpl), Gn. Kembar II (3126 mdpl), Gn. Ringgit (2477 mdpl). Gn. Arjuna- Welirang dapat didaki dan berbagai arah; arah Utara (Tretes), dan arah Timur (Lawang / Purwosari) dan dari arah Barat (Batu-Selecta). Ada empat jalur yang biasa ditempuh menuju puncak gunung Arjuno dan gunung Welirang yakni sebagai berikut: 1. Jalur Tretes 2. Jalur Lawang 3. Jalur Purwosari 4. Jalur Batu .
JALUR TRETES
Tretes merupakan tempat Wisata dan Hutan Wisata serta terdapat air terjun yang indah yaitu Air terjun Kakek Bodo. Di Tretes banyak tersedia hotel maupun Losmen, hawanya sejuk dan merupakan tempat peristirahatan yang nyaman. Dan Pos PHPA Tretes kita dapat langsung rnendaki Gunung Welirang dan juga Gunung Arjuno. Setelah berjalan antara 4 – 5 jam ke arah barat daya dari Tretes kita dapat berhenti dan bermalam di pondok tempat orang mencari bijih belerang, disini terdapat air yang cukup melimpah untuk memasak atau mandi, Hampir setiap hari sekitar 20 — 30 orang buruh mencari dan membawa batu belerang ke Tretes. Keesokan paginya pendakian dapat dilanjutkan ke puncak Welirang atau berbelok kita langsung kearah Gunung Arjuno. Perjalanan dari pondok sampai ke puncak Gunung Welirang, akan melewati hutan Cemara yang jalannya berbatu. Setelah berjalan 3 jam kita akan sampai di puncak Gunung Welirang. Di bawah puncak Welirang ada sebuah kawah yang menyemburkan gas belerang. Perjalanan dari Tretes sampai ke puncak Welirang memakan waktu 7 – 8 jam. Bila kita akan melanjutkan penjalanan menuju Gunung Arjuno maka setelah sesampai di puncak Gunung Welirang kita berjalan turun ± 10 menit tepatnya ke arah selatan. Hutan yang dilalui adalah hutan cemara dengan melewati sebuah jurang dan pinggiran Gunung Kembar Idan Gunung Kembar II. Setelah berjalan 6 – 7 jam kita akan sampai di puncak Arjuno. Tetapi sebelumnya kita akan melewati tempat yang dinamakan ;Pasar Dieng ; ketinggiannya hampir sama dengan puncak Gunung Arjuno dan terdapat batu yang sebagian tersusun rapi seperti pagar dan tanahnya rata agak luas. Dari sini untuk ke Puncak Gunung Arjuno hanya memakan waktu ± 10 menit. Untuk mencapai Gunung Arjuno dan Gunung Welirang dibutuhkan waktu 5 sampai 6 jam. Puncak Gunung Arjuno anginnya sangat kencang dan suhunya antara 5 - 10 derajat celcius. Disini kita dapat menikmati suatu Panorama yang sangat indah terutama bila malam hari, kita dapat melihat ke bawah, kota - kota seperti Surabaya, Malang, Batu, Pasuruan. serta laut utara dengan kerlipan lampu - lampu kapal. Puncak G. Arjuno disebut juga dengan Puncak Ogal - Agil atau Puncak Ringgit. Disekitar puncak bisa mendirikan tenda untuk bermalam. Rute turun dapat ke kota Lawang atau ke arah timur dengan melewati Hutan Cemara, Hutan tropis dan perdu. setelah itu kita akan melewati Perkebunan Teh Wonosari bagian utara. Turun ke arah Lawang lebih dekat dan menyingkat waktu daripada kembali ke arah Gunung Welirang / Tretes. Perjalanan turun ke arah Lawang kurang lebih 6 jam.
JALUR LAWANG
Mendaki Gunung Arjuno dari kota Lawang merupakan awal pendakian yang praktis karena kota Lawang mudah sekali kita tempuh baik dan arah Surabaya maupun Malang, selain itu Puncak Gunung Arjuno dapat langsung kita tuju dan arah ini. Bila kita menginginkan mendaki dari kota Lawang, dari arah Surabaya kita naik bus jurusan Malang dan turun di Lawang ( kira - kira 76 Km ) dan bila dari Malang, dari Terminal Arjosari kita naik bus menuju Lawang dengan jarak 18 Km. Dan Lawang kita naik kendaraan umum ( angkutan desa ) menuju desa Wonorejo sejauh 13 km. Pendakian ke puncak dimulai dari desa ini menuju ke Perkebunan Teh desa Wonosari sejauh 3 km. Di sini kita melapor pada petugas PHPA dan juga meminta ijin pendakian, persediaan air kita persiapkan juga di desa terakhir ini. Dari desa Wonosari terus berjalan dan melewati kebun teh Wonosari serta terus naik selama 3 – 4 jam perjalanan kita akan sampai di Oro -Oro Ombo yang merupakan tempat berkemah. Dari Oro - oro Ombo menuju ke puncak dibutuhkan waktu 6 - 7 jam perjalanan dengan melewati hutan lebat yang disebut hutan Lali Jiwo untuk menuju puncak terakhir ini. Setelah kita melewati Hutan Lali Jiwo kita akan melalui padang rumput yang jalannva menanjak ( curam ) sekali. Mendekati puncak, kita akan berjalan melewati batu - batu yang sangat banyak dan menjumpai tanaman yang sangat indah setelah itu kita akan mencapai puncak Gunung Arjuno. Rute pendakian lainnya yaitu dari kota Batu lewat Selecta yang terletak di sebelah Barat Gunung Welirang. Kota Batu merupakan tempat wisata yang memiliki sumber air hangat dari kaki Gunung Welirang dan keadaannva tidak berbeda jauh dengan Tretes. Dari arah Kediri atauMalang untuk menuju Batu kita dapat naik bus / Colt, selanjutnya perjalanan dari Batu menuju Selecta menggunakan Colt ( angkutan pedesaan ). Selecta salah satu tempat wisata yang ada di kota Batu dengan ketinggian 1.200 m dari permukaan laut. Setelah tiba di Selecta kita dapat bermalam haik di Hotel maupun Losmen. Besok paginya dengan colt, kita menuju desa Kebonsari. Di desa ini kita harus menyiapkan air secukupnya untuk perjalanan ke puncak dan kembalinya. Kita memulai pendakian dengan melewati ladang sayur - sayuran dan jalan setapak menuju ke arah timur laut dan terus naik melewati hutan tropika, dalam perjalanan ini samar - samar akan terlihat puncak Arjuno. Mendaki selama 5 – 6 jam akan mengantarkan kita pada punggungan gunung yang menghubungkan Puncak Gunung Welirang dan Gunung Arjuno, tepatnya sebelah tenggara Gunung Kembar I. Kita masih harus menempuh perjalanan 1 – 2 jam lagi untuk menuju puncak Gunung Welirang ke arah kiri atau Gunung Arjuno ke arah kanan selama 4 – 5 jam.
JALUR PURWOSARI.
Transport Surabaya – Pasar Purwosari dengan bus jarak tempuh 2 jam Pasar Purwosari Desa Tambak Watu Angkot desa warna kuning Rp.3.000,- jarak tempuh 1 jam atau naik ojek dengan ongkos Rp.7.000,-Perijinan Ijin bisa diurus Di desa Tambak Watu dengan membayar Rp.2.000,- per orang di Pos. Pendaftaran yang juga merangkap sebagai warung Dusun Tambak Watu. Pendaki bisa beristirahat transit di rumah Ibu Puji di desa Tambak Watu ini. Dari desa Tambak Watu inilah awal pendakian menapaki jalan setapak menuju puncak Arjuno. Awal pendakian akan melewati hutan pinus yang tertata rapi, sementara di sela - sela pohon pinus tersebut banyak ditanami pohon kopi dan pohon pisang. Suasana tenang, adem, ayem dan wingit mulai terasa begitu memasuki kawasan ini. Jalan Pendakian berupa macadam sampai menemui bak air / tendon air. Desa Tambak Watu – Gua Antaboga : +/- 1jam Gua yang bernama Gua Antaboga. Goa ini berada di bawah tebing batu menghadap utara,dengan kedalaman 1,5 m, lebar 1 m, serta mempunyai ketinggian 1,25 m. Di depan gua terbapat sebuah pondokan yang bisa digunakan para peziarah untuk melepas penat setelah satu setengah jam berjalan menuju goa ini. Terdapat air dan bisa didapat dari pipa yang berada sebelah kiri arah Puncak Arjuno dijalur pendakian. Gua Antaboga – Petilasan Eyang Abiyasa: +/- 1jam 30 menit Petilasan Eyang Abiyasa Jalan setapak disekitar situs ini ditata rapi dengan semen dan dikiri kanan jalan dibentuk taman - taman yang sangat rapi dan bersih. Terdapat kolam Dewi Kunti konon jika airnya diminum dapat memberikan keluhuran jiwa serta selalu ingat Hyang Kuasa. Di sini juga terdapat beberapa pondokan yang dibangun untuk pejiarah. Sekitar 50 meter agak ke bawah dari kedua petilasan ini terdapat situs Eyang Sekutrem. Petilasan ini dinaungi oleh pohon - pohon besar sehingga dari kejauhan sudah nampak kesan wingit dan angker. Petilasan Eyang sekutrem juga berupa kamar yang tertutup tembok. Lebar bangunan tersebut sekitar 2,5m x 2m. Di dalamnya ada sebuah arca yang terbuat dari batu andezit dengan tinggi sekitar 70 cm. Di petilasan ini selalu dinyalakan hio dan dupa yang menyebarkan bau harum. Eyang Abiyasa – Situs Eyang Sakri: +/- 10 menit Situs Eyang Sakri Petilasan ini berupa cungkup tertutup menghadap ke barat, terbuat dari kayu. Di dalamnya terdapat semacam makam batu yang membujur ke utara selatan. Di sampingnya berdiri sebuah pondok yang terbuat dari ilalang kering yang dapat digunakan untuk beristirahat maupun bermalam. Terdapat air dan bisa didapat dari pipa yang berada sebelah kiri arah Puncak Arjuno dijalur pendakian. Situs Eyang Saktri – Situs Eyang Semar: +/- 1jam 15menit Situs Eyang Semar ini terkenal paling angker, hindari menginap dilokasi ini, meskipun di sekitar situs ini terdapat tiga buah pondok dan sebuah aula yang dibangun oleh para pejiarah. Situs Eyang Semar-Wahyu Makutarama: +/- 30 menit Wahyu Makutarama Petilasan ini berupa bangunan andesit yang berukuran 7 x 7 m dengan tinggi sekitar 3 meter. Di bangunan batu ini terdapat dua buah Mahkota raja yang berdampingan. Ini merupakan sebuah simbol kebesaran dari seorang raja jaman duhulu. Sumber Air dari bak / tandon air. Wahyu Makutarama – Puncak Sepilar +/- 20 menit Puncak Sepilar Bila dari Sepilar, menuju arah kanan menyusuri satu bukit, sampailah di Candi Wesi. Di sini bisa dilihat tiga arca Pandawa, dahulunya terdapat lima buah patung namun patung Nakula dan Sadewa telah hilang dicuri. Di sebelah kiri bangunan Candi Sepilar bisa dilihat sebuah kuburan, yang menurut cerita merupakan merupakan tempat muksanya Eyang Semar. Di sebelah kanan situs ini di bangun sebuah pondokan oleh para pejiarah untuk menginap. Sekitar 100 meter ke arah kanan terdapat sumber mata air yang disebut sendang drajad. Puncak Sepilar – Candi Manunggale Suci +/- 3 jam Candi Manunggale Suci Candi ini hanyalah sebuah batu yang ditata seperti pondasi yang di atasnya terletak sebuah marmer yang bertuliskan huruf jawa dan di bawahnya lagi tertulis Sura Dira Jaya Diningrat Lebur Dining Pangastuti ( Kejahatan pasti kalah oleh kebaikan ). Dan di bawah tulisan ini tersebutlah namaMaha Resi Agung Prawira Harjana. Orang ini adalah pengikut setia Bung Karno. Candi Manunggale Suci – Puncak Arjuno +/- 5 jam Puncak Gn.Arjuno. Disekitar puncak gunung Arjuno banyak terdapat batu - batu besar yang berserakan, di sebelah utara puncak berupa jurang terjal berbatu-batu yang sangat indah. Sangat disayangkan batu - batu besar di puncak gunung Arjuno ini telah dicemari oleh coretan - coretan tangan - tangan mereka yang mengaku “Pecinta Alam”. Ke arah barat tampak di depan kita gunung Welirang yang selalu mengeluarkan asap, disamping gunung Welirang ke arah Barat Laut tampak gunung penanggungan yang runcing sempurna, dengan puncak yang menyerupai gunung semeru. Kearah timur kita dapat menyaksikan puncak gunung semeru yang sangat menawan. Di sebelah selatan kita berdiri gunung Kawi dan gunung Anjasmoro. Di puncak gunung Arjuno terdapat sebuah batu yang berbentuk singasana ( kursi ) yang sering dikunjungi para pejiarah untuk membakar hio dan dupa. Pada batu ini terdapat gambar cakra dan tulisan jawa yang berarti Maha Kuasa, disinilah tempat bertahta penguasa Alam Gaib gunung Arjuno, Jangan coba - coba untuk duduk atau menginjak batu ini, agar terhindar dari celaka.
JALUR BATU
Jalur pendakian dari arah batu, yang terletak di sebelah barat Gunung Welirang juga merupakan jalur yang menarik dan menyenangkan. Kota Batu, keadannya tidak berbeda jauh dengan jalur tretes, batu merupakan kota wisata memiliki panorama yang menarik. Batu disebut juga Kota Apel, dan mendapatkan julukan Swissnya Jawa, terletak dilembah Gunung Panderman dan lereng Gunung Arjuno. Memiliki kawasan wisata dengan sumber air hangat di Songgoriti. Untuk menuju Batu dari arah Kediri atau Malang kita dapat naik Bus atau kolt, selanjutnya dilanjutkan dengan minibus dari Batu menuju Desa Sumber Brantas lewar Selecta. Kita bias berhenti di Selecta, yang juga merupakan kawasan wisata yang ternama, terletak pada ketinggian 1.200 mdpl, udara yang sejuk dan tersediasarana wisata yang menyenangkan, kolam renang dan taman bunga, juga pasar buah dan sayur yang segar. Di Selecta banyak tersedia hotel maupun losmen dimana kita sapat bermalam. Di Desa Sumber Brantas (1.600 mdpl) terdapat mata air yang merupakan sumber dari Sungai Brantas yang mengalir ratusan kilometer, yang merupakan daerah lahan perhutani di Jawa Timur. Mata air ini kita harus menyiapkan air secukupnya untuk perjalanan kepuncak. Dari Sumber Brantas mengikuti jalan aspal kearah Pacet-Mojokerto sejauh 8 Km, dan kita akan sampai di Cagar Alam yang merupakan kawasan Taman Hutan Rakyat Suryo yang sedang dikembangkan fasilitasnya, untuk menikmati mandi air panas alami dari kaki Gunung Welirang. Di Desa Sumber Brantas kendaraan umum bias menurunkan kita di pos KSDA tetapi kita bias minta turun dengan perjanjian di ujung desa. Sebelum pendakian kita harus mendaftar kepada Petugas KSDA. Dari ujung desa kita memulai pendakian selama dua jam denngan melewati jalan berbatu yang menanjak dan lading sayur kea rah timur laut, sampai ke tepi Hutan Lali Jiwo sebelah barat. Dalam perjalanan ini samar-samar akan terlihat puncak arjuno. Untuk menyingkat waktu perjalanan kita bias juga menyewa sebuah Jeep di desa Sumber brantas ini untuk mengantarkan kita sampai akhir kebun sayur di tepi hutan. Setelah pendakian selama empat jam melintasi hutan tropis yang lebat, kita akan sampai di punggungan gunung yang menghubungkan puncak gunung welirang dan gunung arjuno, tepatnya sebelah tenggara gunung kembar I. disini terdapat persimpangan kearah kiri untuk menuju gunung welirang perjalanan selama 2-3 jam dan kearah kanan menuju gunung arjuno perjalanan selama 4-5 jam. Perjalanan mendekati puncak Gunung welirang di lereng sebelah barat, kita akan dimanjakan dengan padang edelweiss, di sepanjang perjalanan kita akan sering menjumpai Rusa, Kijang, Tupai, Lutung. -
(Sumber: blog.catatanhariankeong)

Misteri Di Gunung Arjuno ( boleh percaya boleh tidak )
Gunung Arjuno atau Arjuna yang berketinggian 3.339 Mdpl terletak di Malang Jawa Timur. Di gunung ini banyak di temukan petilasan - petilasan bekas Kerajaan Majapahit selain berbagai lokasi obyek wisata seperti air terjun.
Akan tetapi, konon untuk mendaki Gunung Arjuno tersebut harus berhati - hati, karena menurut cerita masyarakat setempat, banyak pendaki yang tersesat dan tidak bisa pulang kembali. Dan berikut ini 5 misteri di Gunung Arjuno.
1. Petilasan
Di Gunung Arjuno terdapat banyak situs - situs petilasan peninggalan Kerajaan Majapahit dan Singasari. Beberapa petilasan tersebut yaitu, petilasan Eyang Antaboga, Eyang Abiyasa, Ayang Sekutrem, Eyang Sakri, Eyang Semar, Eyang Sri Makutharama dan petilasan Sepilar.

Namun menurut mitos yang beredar, petilasan - petilasan tersebut dijaga oleh Bambang Wisanggeni yang merupakan anak dari Arjuna dengan Bathari Dresanala. Petilasan - petilasan tersebut digunakan orang zaman dahulu untuk melakukan pertapaan.
Masyarakat percaya, orang yang melakukan pertapaan tersebut muksa ( menghilang dengan jasadnya ). Orang - orang muksa tersebut dipercaya masih berada di tempat tersebut dan menjaga tempat tersebut hingga waktu yang tidak diketahui.
2. Alas Lali Jiwo
Sebelum mencapai puncak Gunung Arjuno, terdapat tempat yang disebut oleh masyarakat sebagai Alas Lali Jiwo atau berarti hutan lupa diri. Menurut kepercayaan setempat, orang yang mempunyai niat jahat, jika melewati daerah tersebut akan tersesat dan lupa diri.

Menurut ahli spiritual, daerah tersebut memang banyak dihuni oleh para jin. Para pendaki kadang mendengar suara gamelan dan kemudian menghilang. Konon pendaki tersebut dibawa untuk dikawinkan dengan bangsa jin daerah tersebut.
Menurut mitos, para pendaki juga tidak boleh melanggar beberapa larangan, seperti pendaki tidak boleh berjumlah ganjil, tidak boleh memakai baju merah ( warna merah dominan ), dan tidak merusak situs - situs petilasan Kerajaan Majapahit yang tersebar di area pendakian Gunung Arjuna tersebut.
3. Arjuna
Konon, Arjuna pernah melakukan pertapaan di sebuah gunung dengan sangat khusyuk semala berbulan - bulan. Kemudian tubuhnya mengeluarkan sinar dan memiliki kekuatan yang luar biasa, hingga membuat Kahyangan kacau.

Kawah Condrodimuko menyemburkan laharnya, Bumi berguncang, petir menggelegar di siang hari, hujan turun dan menimbulkan banjir, dan gunung tempat Arjuna bertapa terangkat ke langit. Para Dewa yang khawatir, maka melakukan tindakan untuk menghentikan pertapaan dari Arjuna tersebut.
Kemudian Batara Ismaya diturunkan ke Bumi dengan menjelma menjadi Semar. Dengan kesaktiannya, Semar memotong puncak gunung tempat Arjuna bertapa dan melemparkannya ke tempat lain. Kemudian Arjuna terbangun dari pertapaannya dan mendapat nasehat dari Semar untuk tidak melakukan pertapaan lagi. Kemudian tempat pertapaan tersebut disebut Gunung Arjuna, dan potongannya diberi nama Gunung Wukir.
4. Pasar Dieng
Di wilayah pendakian menuju puncak Gunung Arjuno, dipercaya terdapat Pasar Dieng atau biasa disebut pasar hantu. Di areal Pasar Dieng tersebut terdapat makam para pendaki yang pernah meninggal di tempat tersebut. Wilayahnya yang datar dan luas merupakan areal yang cocok dijadikan sebuah pasar.

Konon, pernah ada pendaki yang membuka tenda di wilayah Pasar Dieng tersebut untuk bermalam sebelum menuju puncak. Pada malam hari, ia dikejutkan dengan suasana ramai di luar tendanya, dan ia melihat sebuah pasar yang sangat ramai.
Pendaki tersebut dikabarkan berkeliling pasar dan membeli sebuah jaket. Kemudian ia kembali ke tenda, dan besok pagi ketika ia bangun; wilayah sekitar tendanya sepi tidak ada orang satu pun dan tidak ada bekas - bekas pasar. Jaket yang dibelinya masih ada, namun uang kembalian yang diberikan oleh pedagang pasar tersebut berubah menjadi daun.
5. Acara Ngundhuh Mantu
Cerita mistis di Gunung Arjuna memang kerap terdengar dan sudah menjadi bahan pembicaraan masyarakat sekitar, seperti tentang adanya lantunan musik Ngundhuh Mantu. Para pendaki atau penambang belerang kadang mendengar Ngundhuh Mantu, yaitu suara gamelan Jawa untuk acara pernikahan.

Menurut masyarakat, jika mendengar Ngundhuh Mantu maka lebih baik tidak meneruskan pendakian ke puncak Gunung Arjuna tersebut; karena jika memaksa meneruskan pendakian maka si pendaki biasanya akan tersesat dan hilang.
( sumber blog belantaraindonesia )
Ini Penyebab Pendaki Tersesat di Gunung Arjuna & Welirang?
Gunung Welirang

MALANG- Sejumlah pendaki dalam waktu berdekatan hilang di Gunung Arjuna dan Welirang. Apakah yang menyebabkan para pendaki tersebut hilang di gunung yang berada di Jawa Timur itu?
Gunung Arjuna dan Welirang dikenal masyarakat sekitar menyimpan banyak misteri. Di lereng-lereng gunung tersebut juga tersebar puluhan petilasan era kerajaan Majapahit yang berupa candi dan tempat-tempat pemujaan lainnya.
Beragam cerita mistis dari mulut ke mulut hingga saat ini masih sering didengar di kalangan masyarakat sekitar dan para pendaki yang pernah mendaki di gunung tersebut. Mulai dari cerita ngunduh mantu, pasar dieng atau pasar hantu, serta alas lali jiwo tentu tidak asing di telinga pendaki.
Fatkhur, salah satu warga sekitar lereng Gunung Arjuna-Welirang, yang sempat ditemui Okezone beberapa waktu lalu, mengatakan, cerita keangkeran dua gunung tersebut memang sudah muncul sejak lama. Bahkan sejak dirinya masih kecil sudah mendengar cerita mistis tersebut.
Apalagi, katanya, seringnya pendaki hilang dan tersesat ketika mendaki maupun turun juga selalu diiringi dengan beragam cerita yang muncul, baik dari pengakuan mereka maupun temannya.
Seperti halnya cerita ngunduh mantu; istilah ini menurut warga sekitar merupakan kejadian para pendaki, penambang belerang, maupun orang yang mendaki akan mendengar suara gamelan gending-gending pengantin.
"Jika mendengar suara tersebut, lebih baik tidak meneruskan perjalanan dan kembali turun," kata Fatkhur.
Konon, kata Fatkhur, orang yang nekad mendaki setelah mendengar suara gamelan jawa biasanya akan tersesat ketika turun sering hilang karena sudah diambil mantu oleh penguasa Arjuna-Welirang.
Selain itu, di tengah perjalanan menuju puncak gunung tersebut, para pendaki juga bakal melewati alas lali jiwo. Menurut kepercayaan warga sekitar, para pendaki juga bisa tersesat atau semacam terhipnotis ketika melintasi alas tersebut.
Sebelum menuju puncak Arjuna, pendaki juga akan melintas kawasan yang dinamakan Pasar Dieng atau pasar hantu, di mana pada malam-malam tertentu kawasan itu akan ramai seperti pasar malam bagi penghuni gaib.
Tak heran jika kita sering mendengar para pendaki tersesat, hilang, bahkan kesurupan di dekat tempat-tempat tersebut. Namun, terlepas dari beragam cerita mistis tersebut, keberadaan makhluk sejenis Jin dan alam gaib pasti adanya dipercayai selaku muslim.
Namun, lanjutnya, yang paling utama dan perlu diperhatikan sebelum melakukan pendakian adalah persiapan fisik, perlengkapan, dan mental, serta tingkah laku di alam bebas.
“Misalnya jangan suka berbicara kotor atau sembarangan, jangan mengambil, memetik, memotong dahan sembarangan, dan lain-lain,” ceritanya.
Mendakilah dengan rendah hati dan jangan sombong, karena puncak gunung bukanlah untuk ditaklukkan atau dibuat bangga ketika bisa mencapainya, namun sebagai sarana mendekatkan kita kepada penciptanya.
“Selama kita tak bermaksud buruk, maka hal buruk juga tidak akan menghampiri kita,” tuturnya.
( sumber News)
GUNUNG KEMUKUS

GUNUNG KEMUKUS

08:04 0
Gunung Kemukus terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen, 30 km sebelah utara Kota Solo. Untuk mencapai daerah ini tidak terlalu sulit, dari Solo bisa naik bus jurusan Purwodadi dan turun di Belawan (di sebelah kiri jalan akan kita temukan pintu gerbang yang bertuliskan “Daerah Wisata Gunung Kemukus”) dari sini bisa naik ojek atau berjalan kaki menuju tempat penyeberangan dengan perahu. Perlu diketahui bahwa sejak penggenangan Waduk Kedung Ombo, Gunung Kemukus menjadi seperti sebuah “pulau” tetapi pada waktu musim kemarau air akan surut dan praktis kita tidak memerlukan lagi jasa penyeberangan.
Gunung Kemukus identik sebagai kawasan wisata sex dan pesugihan. Dalam suatu aturan yang tidak resmi diwajibkan bahwa setiap peziarah harus berziarah ke makam Pangeran Samudro sebanyak 7 kali yang biasanya dilakukan pada malam Jum’at Pon dan Jum’at Kliwon atau pada hari-hari dan bulan yang diyakhini baik.
Nah mari kita ikuti sejarahnya meskipun masih ada yang menganggapnya hanya sebuah legenda rakyat daerah.
Dikisahkan tentang seorang Pangeran dari kerajaan Majapahit yang bernama Pangeran Samudro . Pangeran Samudro ini jatuh cinta kepada ibu tirinya sendiri (Dewi Ontrowulan). Ayahanda Pangeran Samudro yang mengetahui hubungan anak-ibu tersebut menjadi murka dan kemudian mengusir Pangeran Samudro.
Dalam kenestapaannya, Pangeran Samudro mencoba melupakan kesedihannya dengan melanglang buana, akhirnya ia sampai ke Gunung Kemukus. Tak lama kemudian sang ibu tiri menyusul anaknya ke Gunung Kemukus untuk melepaskan kerinduan.
Singkat cerita, ibu dan anak yang tengah dilanda asmara ini melepas kerinduan setelah sekian lama tidak bertemu. Namun, sebelum sempat ibu dan anak ini melalukan hubungan intim, penduduk sekitar memergoki mereka berdua yang kemudian merajamnya secara beramai-ramai hingga keduanya meninggal dunia.
Keduanya kemudian dikubur dalam satu liang lahat di gunung itu juga. Menurut cerita lainnya, sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir Pangeran Samudro sempat meninggalkan sebuah pesan yaitu kepada siapa saja yang dapat melanjutkan hubungan suami-istrinya yang tidak sempat terlaksana itu akan terkabul semua permintaannya.
"Baiklah aku menyerah, tapi dengarlah sumpahku. Siapa yang mau meniru perbuatanku , itulah yang menebus dosaku dan aku akan membantunya dalam bentuk apapun". Begitulah isi sumpah yang dilontarkan Pangeran Samudro sebelum akhirnya wafat.
Jika ingkar, maka kedua pasangan yang telah berjanji di makam Pangeran Samudro ini, akan jatuh miskin kembali. Bahkan, menurut mitos dan kepercayaan warga mereka atau titisan kedua pasangan yang melakukan ritual mesum berdua itu akan mengalami celaka.
Berbagai cerita tentang keberadaan Gunung Kemukus terus berhembus dari mulut ke mulut. Namun menurut beberapa warga desa yang tinggal di sekitar Gunung Kemukus menyebutkan jika keberadaan Gunung Kemukus tak lepas dari kisah Majapahit.
Salah satunya adalah Pardi (50) yang mengaku mengetahui kisah Gunung Kemukus dari sang ayah. Menurutnya, konon pada saat akhir runtuhnya kejayaan Majapahit yang di serang oleh Raden Patah dari Demak, Pangeran Samudra dan ibunya ikut ke Demak.
Selama tinggal di Demak, Pangeran Samudra belajar ilmu agama Islam dengan bantuan dari Sunan Kalijaga. Setelah dirasa cukup, pangeran Samudra diminta untuk menimba ilmu agama Islam kepada Kyai Ageng Gugur dari Desa Pandan Gugur di lereng Gunung Lawu. Sekian lama menimba ilmu dan dirasa cukup, akhirnya Pangeran Samudra berniat pulang kembali ke Demak.
Dalam perjalanan pulang mereka melewati Desa Gondang Jenalas (sekarang wilayah Gemolong) niatnya hanya berhenti sejenak untuk beristirahat. Namun akhirnya Pangeran Samudra tinggal lebih lama lagi untuk mensyiarkan agama Islam di desa tersebut.
Setelah dirasa cukup, perjalanan di lanjutkan kembali, namun dalam perjalanan tersebut, Pangeran Samudra jatuh sakit. Karena tak kuat menahan sakit akhirnya berhenti di Dukuh Doyong (sekarang wilayah Kecamatan Miri) dan akhirnya Pangeran Samudra meninggal dan jasadnya dimakamkan di perbukitan Dukuh Miri.
Oleh masyarakat lokasi bekas perawatan/peristirahatan Pangeran Samudro didirikan desa baru dan diberi nama “Dukuh Samudro” yang sampai kini terkenal dengan nama “Dukuh Mudro”.
Semula makam Pangeran Samudro masih sangat sepi karena masih berupa hutan, dan masih banyak dihuni oleh binatang-binatang buas. Lambat laun masyarakat mulai mulai banyak mendiami desa tersebut.
Selama berdiam di lokasi itu, masyakarat kerap melihat kabut hitam seperti asap yang berbentuk kukusan (tempat mengukus nasi terbuat dari bambu) tampak menyelimuti makam Pangeran Samudera yang dipercaya masih ada garis keturunan dengan Kerajaan Majapahit.
Kabut itu terlihat menjelang musim hujan atau musim kemarau, muncul seperti asap (kukus). Sebab itulah sampai saat ini gunung tempat lokasi makam Pangeran Samudra dikenal dengan nama Gunung Kemukus.
Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Sragen Purwadi Joko menilai maraknya kegiatan seksual di sekitar makam Pangeran Samudra di Gunung Kemukus, Desa/Kecamatan Sumber Lawang, Sragen, Jawa Tengah bermula dari cerita yang keliru.
Menurut Joko, cerita tentang Pangeran Samudra yang punya hubungan cinta dengan ibu tirinya, Ontrowulan, tidak benar. Dia menyayangkan munculnya mitos peziarah harus melakukan hubungan seksual sebelum berziarah di makam untuk mendapatkan berkah.
Joko mengatakan Pangeran Samudra adalah keturunan terakhir Raja Majapahit. Dia hijrah ke Demak setelah Majapahit runtuh.
Di Demak, Pangeran Samudra diminta belajar agama Islam di Gunung Lawu. "Saat pulang ke Demak, dia sakit hingga meninggal di Sumber Lawang,"
Mengetahui anaknya meninggal, ibu tiri Pangeran Samudra, Ontrowulan, melayat dan menangis di makamnya. Dari tangisan itu, Joko melanjutkan, jadilah sebuah sendang.
"Jadi bukan menangisi seorang kekasih. Tapi tangis seorang ibu kepada anaknya. Jarak usia keduanya terpaut jauh," ucapnya.
Wisata ziarah Gunung Kemukus di Jawa Tengah diberitakan media televisi Australia, Special Broadcasting Service (SBS). SBS adalah satu dari lima lembaga penyiaran berjaringan luas di Australia. Dalam program Dateline di SBS One yang berjudul "Sex Mountain", wartawan SBS, Patrick Abboud, bingung saat melihat praktek ritual seks di Gunung Kemukus yang bercampur dengan prostitusi. (Baca juga: Media Australia Sorot Ziarah Gunung Kemukus)
MENURUT LIPUTAN WARTAWAN TELEVISI AUSTRALIA SBS
Berawal dari liputan seorang wartawan televisi Australia, SBS, Patrick Abboud, Gunung Kemukus di Sragen, Jawa Tengah kembali menjadi buah bibir. Tak hanya di Tanah Air, tetapi juga bagi media asing.
Hasil liputan mengungkap ritual kontroversial dengan judul 'Sex Mountain' atau 'Gunung Seks' yang kemudian diunggah ke YouTube. Dalam rekaman berdurasi 14 menit yang dari hasil investigasi Abboud, menampakkan aktivitas warga yang berduyun-duyun datang ke Gunung Kemukus untuk mencari keberuntungan.
Ternyata tak hanya jurnalis asing dari Australia, Abboud yang pernah mengunjungi Gunung Kemukus untuk melakukan liputan. Reporter Global Mail, Aubrey Belford, juga melakukannya lebih dulu pada 2012.
Belford mengaku, saat ia mewawancarai salah seorang di sana, Suyono -- penjaga tiket masuk seharga Rp 5.000-- didapati informasi bahwa sebagian besar pengunjung mendatangi Gunung Kemukus untuk berziarah.
"Orang yang bertanggung jawab untuk mengutip biaya masuk peziarah mengatakan, sebagian besar peziarah yang datang untuk berdoa, bukan untuk melakukan hubungan seks," jelas Belford.
Belford menuturkan, sekelompok warga Muslim kala itu sempat mengancam akan menutup situs tersebut. Namun polisi mencegah hal itu terjadi.
"Ini adalah pariwisata," kata Suyono. "Setiap komponen, setiap elemen, setiap lapisan masyarakat meraup sesuatu dari pariwisata."
Menurut penuturan Belford dari Suyono, Pangeran Samodro adalah murid Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo, atau sembilan orang kudus, yang terlibat penyebaran Islam di seluruh nusantara. Dalam perjalanan tersebut, ia jatuh sakit dan sekarat di dekat Gunung Kemukus.
Ketika berita kematian Pangeran Samodro terdengar, sang ibu tiri -- yang ditegaskan Suyono tak memiliki hubungan khusus dengan Samodro-- bergegas ke kuburannya. Saat mencapai dasar bukit, dia menerima 'penglihatan' dari pangeran yang menyuruhnya untuk membasuh wajah di salah satu mata air.
Saat naik bukit, bunga jatuh dari rambutnya, dan tumbuh menjadi pohon Dewadaru langka di belakangnya. Saat mencapai kuburan, sang ibu tiri terjatuh dan meninggal. Tubuhnya kemudian menghilang.
Cerita itu berbeda dengan saat ini, bahwa Pangeran Samodro memiliki hubungan asmara dengan ibu tirinya.
"Saat itu ada seorang Pangeran bernama Samodra yang berselingkuh dengan ibu tirinya sendiri. Mereka kemudian memutuskan kabur ke gunung tersebut dan berhubungan intim di sana," tutur Abboud.
Keduanya kemudian bercinta di puncak Gunung Kemukus dan tertangkap basah. Mereka lalu dibunuh dan dikubur di sana. Namun kisah hubungan asmara ini kini malah dipraktikkan ramai-ramai oleh masyarakat dengan alasan mencari keberuntungan.
Media asing pun satu per satu mulai memberitakan salah satu gunung di Indonesia itu. Media Australia, sbs.com.au, menulis artikel terkait Gunung Kemukus berjudul 'Pilgrims flock to 'Sex Mountain' in search of fortune'. Sementara News.com.au menulis 'SBS Dateline journalist Patrick Abboud granted access to Indonesia’s Sex Mountain'.
Lalu ibtimes menjuduli artikel serupa dengan ‘Sex Mountain’ Becomes A Lucrative Pilgrimage Site In Indonesia'. Mirror.co.uk dengan 'Sex mountain: Married men and housewives sleep with strangers in bizarre religious ritual in Indonesia'.
Elite daily memasang tajuk pada berita Gunung Kemukus dengan 'People Sleep With Strangers At ‘Sex Mountain’ To Improve Their Luck'.
Sedangkan 'Welcome to Sex Mountain: The remote Indonesian religious site where married men, housewives and politicians go to have sex with strangers... to bring themselves good fortune' menjadi judul panjang dari media Inggris, Daily Mail.

PASAR BUBRAH DI GUNUNG MERAPI

19:51 0
Cerita Mitos .Pasar Bubrah Yang Ada Di Gunung Merapi.
.
Siapa yang tak kenal dengan Gunung Merapi? Gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta ini memang sangat terkenal di indonesia karena cukup aktif dalam hal erupsi. Tidak hanya itu saja, gunung ini juga terkenal karena berbagai macam mitos dan misteri yang dimilikinya.
.
Dalam dunia mistis, Gunung Merapi dianggap sebagai salah satu pusatnya kerajaan jin di Indonesia. Gunung ini juga punya kaitan yang sangat erat dengan laut selatan Jawa. Terdapat beberapa tempat di gunung ini yang dianggap angker, dari mulai lereng hingga kawah di puncaknya. Sebelum membahas lebih jauh mengenai misterinya, mari simak terlebih dahulu profil dari Gunung Merapi.
.
Gunung Merapi merupakan gunung yang berada di wilayah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, serta Kabupaten Klaten. Gunung ini memiliki ketinggian 2.968 m di atas permukaan laut. Sejak tahun 2004, kawasan hutan di sekitar puncaknya dijadikan sebagai Taman Nasional Gunung Merapi.
.
Gunung Merapi termasuk dalam gunung api paling aktif di dunia. Tercatat gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali semenjak tahun 1548. Menurut para ahli, gunung ini dapat meletus atau mengalami erupsi setiap dua hingga 5 tahun sekali.
.
Tempat Angker di Gunung Merapi
.
Seperti disinggung di atas, Gunung Merapi memiliki beberapa lokasi yang dianggap angker. Lokasi tersebut terbentang dari mulai hutan, lereng, hingga puncak gunungnya. Para penduduk di sana sangat menghormati tempat tersebut dan kita dilarang untuk menebang pohon, mengambil rumput, memindahkan, hingga merusak benda-benda yang ada di kawasan tersebut.
.
Selain larangan aktivitas tersebut, kita juga tidak boleh berbicara kotor atau berbuat maksiat di tempat tersebut. Jika melanggar, maka biasanya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Berikut adalah beberapa tempat angker yang ada di Gunung Merapi.
.
Pasar Bubrah
.
Pasar Bubrah.
.
Tempat angker yang paling terkenal di Gunung Merapi adalah Pasar Bubrah. Pasar Bubrah merupakan sebuah punggung bukit yang tepat berada di bawah kawah Merapi. Keadaan di lokasi ini cukup datar dan didominasi dengan bebatuan sisa letusan terdahulu. Di lokasi ini juga tidak terdapat pepohonan tinggi besar.
.
Jaraknya yang hanya satu kilometer sebelum kawah puncak Merapi membuat Pasar Bubrah menjadi lokasi favorit untuk beristirahat. Banyak pendaki yang mendirikan tenda di sini untuk bermalam dan menunggu matahari terbit keesokan harinya. Nah ketika malam hari itulah para pendaki biasanya mendengar suara riuh di lokasi tersebut.
.
Suara riuh tersebut mirip dengan aktivitas jual beli yang terjadi di pasar. Tidak hanya itu saja, suara alunan gamelan dan gending jawa juga terkadang sayup-sayup terdengar di antara keriuhan tersebut. Para masyarakat juga percaya jika bebatuan yang berserakan di lokasi tersebut merupakan warung dan meja makannya para makhluk halus pengunjung pasar tersebut.
.
Tidak sedikit dari pendaki yang menginap di Pasar Bubrah pernah melihat penampakan berbagai makhluk gaib. Beberapa di antaranya adalah penampakan wanita berambut panjang yang bergelantungan di bukit, atau makhluk gaib yang menyamar sebagai pendaki lain dengan atribut lengkap namun berjalan melayang.
.
Sosok keraton khas jawa juga sering muncul di lokasi ini. Sosok tersebut biasanya adalah para penjaga keraton dan nyai sinden dengan pakaian tradisionalnya yang khas. Bahkan ada juga yang pernah melihat pasukan perang tradisional dengan peralatan yang lengkap.
.
Gunung Wutoh dan Kawah Merapi

.
Kawah Merapi
Gunung Wutoh juga dianggap sebagai tempat yang cukup angker di Gunung Merapi. Lokasi tersebut dipercaya sebagai pintu gerbang utama menuju Keraton Merapi yang terletak di kawah puncaknya. Masyarakat percaya jika Gunung Wutoh ini dijaga oleh makhluk halus yang bernama “Nyai Gadung Melati”.
.
Nyai Gadung Melati merupakan pemimpin pasukan Keraton Merapi dan memiliki tugas untuk melindungi lingkungan serta hewan ternak yang ada di kawasannya. Nyai Gadung Melati seringkali menampakkan diri dalam mimipi penduduk sekitar Gunung Merapi dengan mengenakan pakaian berwarna hijau daun melati. Mimpi itu biasanya dianggap sebagai pertanda akan terjadi letusan dalam waktu dekat.
.
Tempat Angker Lainnya
.
Selain tiga lokasi di atas, masih banyak tempat lainnya di Gunung Merapi yang dianggap angker dan tersebar di berbagai wilayah. Tempat-tempat tersebut di antaranya adalah Bukit Turgo, Telaga putri, Muncar, Goa Jepang, Plawangan, Bebeng, Ringin Putih, Umbul Temanten, dan Watu Gajah.
.
Beberapa hutan juga dianggap memiliki aura mistis yang sangat kuat seperti Hutan Gamelan dan Bingungan serta Hutan Pijen dan Blumbang. Hutan Patuk Alap-alap juga dianggap angker karena dipercaya sebagai tempat penggembalaan ternak milik Keraton Merapi.
.
Keraton Merapi

.
Di atas telah banyak disinggung jika Gunung Merapi dikuasai oleh kerajaan gaib yang sering disebut sebagai Keraton Merapi. Keraton Merapi ini sudah ada semenjak jaman Keraton Mataram. Bedanya, Keraton Merapi semuanya dihuni dan dikendalikan oleh bangsa jin.
.
Keraton Merapi dikenal memiliki hubungan yang erat dengan Keraton Mataram pada masa lampau. Bahkan ada sebuah cerita yang mengatakan jika Keraton Merapi membantu Kerajaan Mataram untuk mengalahkan Kerajaan Pajang dengan cara menewaskan pasukan Kerajaan pajang lewat letusannya.
.
Keraton Merapi memiliki banyak tokoh terkenal yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga penduduk sekitar Merapi. Berikut adalah beberapa tokoh yang dipercaya sebagai penghuni dari Keraton Merapi:
.
1.Eyang Merapi
.
Eyang Merapi merupakan seorang raja alias pemimpin dari para makhluk gaib yang mendiami Keraton Merapi.
.
2.Eyang Sapu Jagad
.
Eyang Sapu Jagad merupakan penunggu kawah Merapi dan menjadi pengambil keputusan apakah Merapi akan meletus atau tidak. Eyang Sapu Jagad memiliki dua orang panglima yang bernama Kyai Grinjing Wesi dan Kyai Grinjing Kawat.

3.Eyang Megantara
.
Eyang Megantara merupakan salah satu tokoh pemuka yang tinggal di puncak Merapi. Tugasnya adalah untuk mengendalikan cuaca dan mengawasi daerah sekitar Merapi.

4.Nyi Gadung Melati
.
Seperti diulas di atas, Nyi Gadung Melati merupakan pimpinan para pasukan wanita Keraton Merapi dan bertugas untuk menjaga kesuburan tanaman dan juga menjaga binatang ternak di sekitar Gunung Merapi.
.
5.Eyang Antaboga
.
Tokoh selanjutnya adalah Eyang Antaboga yang ditugaskan untuk menjaga keseimbangan gunung agar tidak sampai tenggelam ke dalam bumi.
.
6.Kyai Petruk
.
Kyai Petruk bertanggung jawab terhadap keselamatan penduduk Merapi. Ia ditugaskan untuk memberi tahu warga ketika akan terjadi letusan sehingga mereka dapat menyelamatkan diri.
.
7.Kyai Sapu Angin
.
Kyai sapu Angin merupakan salah satu pimpinan roh halus yang bertugas untuk mengatur arah angin.
.
8.Kyai Wola Wali
.
Kyai Wola Wali merupakan salah satu tokoh yang tinggal di istana Keraton Merapi. Tugasnya adalah untuk menjaga dan membersihkan teras Keraton Merapi.
.
Kartadimejo
Selain sebagai komandan pasukan, Kartadimejo juga bertugas untuk menjaga ternak dan satwa yang ada di gunung. Ia juga sering memberikan informasi mengenai waktu terjadinya letusan kepada para penduduk di sekitar Gunung Merapi.
.
Nah itulah berbagai macam mitos dan juga misteri yang banyak diperbincangkan mengenai Gunung Merapi. Banyak orang yang percaya dengan mitos tersebut namun tidak sedikit pula yang menganggapnya hanya mitos. Orang-orang yang tidak percaya biasanya melihat berbagai fenomena tersebut dari sisi ilmiah.
.
Sebagai contoh, suara riuh yang terjadi di Pasar Bubrah merupakan efek dari angin malam yang bertiup dengan kencang di daerah tersebut. Angin tersebut bertiup kencang dari bawah melewati lereng-lereng sehingga akan menghasilkan fenomena suara yang berisik seperti layaknya keadaan di sebuah pasar.
.
Selain itu, keberadaan tempat-tempat yang dianggap angker tersebut juga merupakan cara nenek moyang kita agar kita tidak merusak alam. Dengan adanya larangan menebang pohon dan semacamnya, maka secara otomatis wilayah tersebut akan tetap asri dan akan menopang kehidupan penduduk di sekitarnya dengan baik.
LIMA MITOS DI GUNUNG CEREMAI

LIMA MITOS DI GUNUNG CEREMAI

23:31 0

Lima Mitos di Gunung Ciremai
.
Gunung Ciremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Gunung Ciremai yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat mempunyai ketinggian 3.078 Mdpl.
.
Secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat.
.
Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.
.
Seperti umumnya gunung-gunung tinggi lainnya di Indonesia, gunung Ciremai yang berjarak lebih kurang 25 km arah selatan kota Cirebon ini juga memiliki beragam mitos. Berikut mitos-mitos yang melingkupi kemisteriusan gunung Ciremai.
.
1. Tempat Bermusyawarahnya Para Wali.
.
Masyarakat yang tinggal di lingkungan sekitar Gunung Ciremai meyakini gunung itu adalah lokasi pertemuan para Wali Songo. Mitos bahwa Gunung Ciremai merupakan tempat pertemuan para wali tampaknya relevan dengan nama Gunung Ciremai itu sendiri yang berasal dari kata "cerem/pencereman" yang berarti perundingan/musyawarah.
.
Banyak orang yang percaya kalau jalur pendakian gunung Ciremai melalui pos Linggar Jati adalah jalur yang dahulu dipakai Wali Songo untuk menuju Batulingga. Konon Wali Songo dalam melakukan perjalanan mendaki gunung Ciremai di pandu oleh kakeknya Sunan Gunung Jati, salah seorang anggota Wali songo yang tinggal di Cirebon. Pendakian dimulai dari desa Linggar Jati, dan Pos Cibunar adalah tempat pertama rombongan Wali Songo beristirahat.
.
Medan pendakian lewat jalur ini memang terkenal paling sulit di banding dengan jalur-jalur lain seperti dari Palutungan maupun Majalengka. Sampai-sampai kakek Sunan Gunung Jati kelelahan (maklum karena pengaruh usia) pas dipertengahan gunung.
.
Kakek Sunan gunung Jati akhirnya memutuskan untuk tidak meneruskan pendakiannya dan memilih beristirahat dan mempersilahkan rombongan Wali Songo untuk meneruskan pendakian dengan ditemani oleh empat orang pengawal sang kakek.
.
Kakek Sunan Gunung Jati memilih istirahat sembari duduk bersila di atas batu besar. Batu inilah yang sekarang di kenal dengan sebutan Batu Lingga. Karena saking lamanya duduk untuk berkhalwat, sampai-sampai batu tempat duduk ini meninggalkan bekas dan berbentuk daun waru atau jantung.
.
Kakek Sunan Gunung Jati sampai lama di tengah gunung Ciremai karena sampai Walisongo sudah turun, Sang Kakek tidak mau ikut turun dikarenakan malu. Karenanya ada yang menyebutnya Satria Kawirangan.
.
Di bagian atas dari Pos Batu Lingga ada pos Sangga Buana, kalau di perhatikan pohon-pohonnya berbentuk unik. Yakni pucuknya meliuk ke arah bawah semua. Konon para pengawal Sang Kakek yang mestinya menemani Wali Songo ternyata juga tidak kuat meneruskan pendakian.
.
Akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti jejak Sang Kakek. Dan sebagai penghormatan kepada Sang Kakek, mereka membungkukkan badannya ke bawah ke arah Sang Kakek beristirahat. Para pengawal inilah yang konon berubah menjadi pepohonan yang pucuk-pucuknya meliuk ke bawah.
.
Sampailah rombongan Wali Songo di bawah puncak 1 ciremai bertepatan dengan waktu sholat ashar tiba. Wali Songo pun menunaikan sholat jamaah ashar di bawah puncak satu. Usai sholat ashar rombongan Walisongo memutuskan untuk istirahat dan makan bersama.
.
Namun ketika akan mulai memasak, ternyata semua persediaan lauk pauk dan bumbu-bumbunya sudah habis. Cuma ada garam dapur saja yang tersisa. Mungkin inilah yang menjadi asal usul nama Puncak Pengasinan yang merupakan puncak 2 gunung Ciremai. Dinamakan sebagai Puncak Pengasinan karena para wali Songo cuma makan nasi dengan garam yang asin rasanya.
.
Perjalanan Wali Songo pun di lanjutkan sampai ke puncak 1. Dan untuk menghormati Kakek dari Sunan Gunung Jati, Wali Songo berdo'a memohon petunjuk kepada Allah bagaimana cara penghormatan bagi Sang kakek yang sudah bersusah payah ikut memandu pendakian ini. Dengan Izin dan Kuasa Allah SWT, puncak tempat Wali Songo berdiri amblas ke dalam sampai kedalaman yang sejajar dengan tempat Kakek Sunan Gunung Jati beristirahat di Batu Lingga.
.
Sekitar tahun 1521-1530, Sunan Gunung Jati diyakini kembali bertapa di puncak gunung Ciremai. Ketika itu bangsa Portugis begitu kuat menekan para ulama, pejuang dan rakyat kecil. Menjelang peperangan, Sunan Gunung Jati naik ke puncak Ciremai sendirian untuk bertapa, menyendiri dan bermunajad kepada Tuhan.
.
Dari hasil munajad inilah yang diyakini membuat Sunan Gunung Jati memerintahkan Falatehan untuk menyerbu pasukan Portugis di Sunda Kelapa yang mengakibatkan hengkangnya Portugis dari tanah Jawa..
.
2.Nyi Linggi Dan Dua Ekor Macan Tutul
.
Satu mitos yang selalu menjadi perbincangan masyarakat sekitar Gunung Ciremai adalah misteri Nyi Linggi dan dua macan kumbang. Menurut salah satu juru kunci Ciremai, setelah Sunan Gunung Jati tidak bertapa di Batulingga, maka Nyi Linggi datang ke tempat tersebut menggantikan Sunan Gunung Jati.
.
Namun kedatangan Nyi Linggi ke Batulingga tidak sendirian, ia ditemani oleh dua ekor binatang kesayangannya yaitu macan tutul. Kedatangan Nyi Linggi ke Batulingga ingin mendapatkan ilmu kedigdayaan.
.
Tapi sayangnya Nyi Linggi gagal memperoleh ilmu yang diinginkan. Nyi Linggi meninggal dunia di Batulingga sementara pengiringnya yaitu dua ekor macan tutul itu hilang entah ke mana. Kabarnya setelah peristiwa itu kejadian aneh sering terjadi di sekitar Batulingga yaitu munculnya sosok Nyi Linggi dan dua ekor macan tutulnya.
.
3.Singgasana Nyi Pelet
.
Konon, Gunung Ceremai dipercaya sebagai singgasana kerajaan Nini Pelet. Menurut Masruri dalam bukunya berjudul: Rahasia Pelet, Nini Pelet ini merupakan tokoh yang memiliki kesaktian hebat, khususnya di bidang percintaan. Dia adalah tokoh yang merebut kitab "Mantra Asmara" ciptaan tokoh sakti bernama Ki Buyut Mangun Tapa.
.
Salah satu isi dari ajian dalam kitab tersebut adalah ilmu "Jaran Goyang" yang dikenal ampuh mengikat hati lawan jenis. Uniknya, ilmu itu sampai kini masih dipelajari oleh kebanyakan orang, terutama para paranormal.
.
Sementara itu, Ki Buyut Mangun Tapa, si pencipta ilmu "Jaran Goyang", setelah meninggal dimakamkan di Desa Mangun Jaya, Blok Karang Jaya, Indramayu, Jawa Barat. Untuk Masyarakat di sekitar makam itu meyakini sering muncul harimau siluman yang dipercaya peliharaan ki buyut. Konon, harimau itu sering muncul pada tengah malam, khususnya malam Jumat Kliwon dan Selasa Legi.
.
Konon kabarnya Gunung Ceremai menjadi sarang harimau bermata satu. Menurut legenda makhluk itu merupakan tunggangan sekaligus sekutu dari Nini Pelet. Kabarnya, harimau bermata satu itu tinggal di antara rimbun ranting kering yang menyerupai goa di gunung itu. Dari tempat itu dapat terlihat hamparan langit dan awan yang luas. Tak hanya itu, latar gunung Slamet pun dapat terlihat jelas dari tempat itu.
.
4. Jalak Hitam dan Tawon Hitam
.
Ketika perjalanan sudah mencapai Pengalap atau pos VI, berarti pendakian telah mencapai separuh. Dan harus berhati-hati jika sudah memasuki Pengalap atau pos VI. Pengalap berarti jemputan. Di pos Pengalap setiap pendaki akan didatangi dua binatang yang sampai sekarang masih menjadi misteri keberandaannya yaitu Jalak Hitam dan Tawon Hitam. Sampai sekarang tidak ada seorangpun yang tahu mengapa Jalak Hitam selalu mengiringi pendaki dari Pengalap ke Seruni. Dan juga Tawon Hitam yang selalu datang mengganggu.
.
5. Larangan Membuang Air Seni
.
Salah satu mitos yang berkembang soal gunung Ceremai adalah larangan membuang air seni ke tanah. Biasanya pantangan itu diberitahu oleh kuncen gunung Ceremai kepada para pendaki sebelum melanjutkan perjalanannya.
.
Konon, jika tak dituruti akan mendapat bala sehingga para pendaki yang mempercayai pantangan tersebut membuang air seninya kedalam botol atau plastik. Karenanya tak heran sepanjang jalur pendakian gunung Ciremai banyak dahan dan ranting pohon yang digantungi plastik atau botol plastik yang berisi air seni.
.
Pantangan tersebut ujung-ujungnya berdampak pada kerusakan alam gunung Ciremai. Bayangkan dalam beberapa tahun kedepan, berapa banyak pendaki yang akan naik ke gunung ciremai ?. Berapa orang yang percaya pantangan itu dan akan buang air seni dalam botol dan plastik ?. Berapa banyak pula sampah-sampah plastik yang akan bertambah dan merusak ke asrian alam gunung Ciremai ?.
.
Itulah sebagian kecil mitos-mitos tentang gunung Ciremai. Masih banyak mitos lain yang beredar di masyarakat seperti mitos pos Kuburan Kuda, yang dipercaya merupakan kuburan dua kuda tentara Jepang di masa penjajahan. Jika melewati daerah ini sering terdengar ringkikan kuda tanpa ada wujudnya.
.
Ada pula mitos pos Papa Tere yang dianggap angker karena pernah terjadi pembunuhan terhadap seorang anak oleh ayah tirinya. Mitos pos Sangga Buana dan Pengasungan juga dikabarkan angker karena sering terdengar derap langkah kaki para serdadu Jepang. Menurut cerita, tempat ini dulunya menjadi tempat pembuangan tawanan perang dari Indonesia.
.
Belum lagi mitos-mitos yang dikisahkan dari pengalaman para pendaki gunung seperti penampakan kuntilanak, Orang tinggi besar, kakek-kakek jaman dulu, suara aneh angin badai, semua korek api tidak bisa menyala dan masih banyak lagi kejadian tidak masuk akal lainnya sehingga yang menimbulkan mitos-mitos baru.
.
Cerita mistik dari mulut ke mulut ini memang sukar diuji kebenarannya. Dan misteri gunung Ciremai mungkin selamanya akan tetap tak terungkap. Tetapi tidak ada salahnya kita mengetahui cerita-cerita tersebut. Bukan untuk diyakini apalagi ditakuti tetapi untuk menambah wawasan kekayaan tradisi suatu masyarakat.
.
Kepercayaan masyarakat setempat menjadi warna tersendiri ketika berkaitan dengan beredarnya cerita misteri Gunung Ciremai. Bagaimanapun keadaannya, percaya atau tidak semua itu kembali kepada pemikiran dan penilaian masing-masing.
.
Satu hal yang harus dihargai dari mitos gunung Ciremai ini adalah posisinya sebagai salah satu kekayaan cerita rakyat di Jawa Barat. Sebuah khazanah kekayaan cerita atau budaya lisan yang tetap harus dihargai dan dipelihara keasriannya.