TEMANGGUNG

TEMANGGUNG

03:28 0
Sejarah Temanggung selalu dikaitkan dengan raja Mataram Kuno yang bernama Rakai Pikatan. Nama Pikatan sendiri dipakai untuk menyebutkan suatu wilayah yang berada pada sumber mata air di desa Mudal Kecamatan Temanggung. Disini terdapat peninggalan berupa reruntuhan batu-bebatuan kuno yang diyakini petilasan raja Rakai Pikatan. Sejarah Temanggung mulai tercatat pada Prasasti Wanua Tengah III Tahun 908 Masehi yang ditemukan penduduk dusun Dunglo Desa Gandulan Kecamatan Kaloran Temanggung pada bulan November 1983. Prasasti itu menggambarkan bahwa Temanggung semula berupa wilayah kademangan yang gemah ripah loh jinawi dimana salah satu wilayahnya yaitu Pikatan. Disini didirikan Bihara agama Hindu oleh adik raja Mataram Kuno Rahyangta I Hara, sedang rajanya adalah Rahyangta Rimdang (Raja Sanjaya) yang naik tahta pada tahun 717 M (Prasasti Mantyasih). Oleh pewaris tahta yaitu Rake Panangkaran yang naik tahta pada tanggal 27 November 746 M, Bihara Pikatan memperoleh bengkok di Sawah Sima. Jika dikaitkan dengan prasasti Gondosuli ada gambaran jelas bahwa dari Kecamatan Temanggung memanjang ke barat sampai kecamatan Bulu dan seterusnya adalah adalah wilayah yang subur dan tenteram (ditandai tempat Bihara Pikatan).
Pengganti raja Sanjaya adalah Rakai Panangkaran yang naik tahta pada tanggal 27 November 746 M dan bertahta selama kurang lebih 38 tahun. Dalam legenda Angling Dharma, keratin diperkirakan berada di daerah Kedu (Desa Bojonegoro). Di desa ini ditemukan peninggalan berupa reruntuhan. Di wilayah Kedu juga ditemukan desa Kademangan. Pengganti Rakai Panangkaran adalah Rakai Panunggalan yang naik tahta pada tanggal 1 april 784 dan berakhir pada tanggal 28 Maret 803. Rakai Panunggalan bertahta di Panaraban yang sekarang merupakan wilayah Parakan . Disini ditemukan juga kademangan dan abu jenasah di Pakurejo daerah Bulu. Selanjutnya Rakai Panunggalan digantikan oleh Rakai Warak yang diperkirakan tinggal di Tembarak. Disini ditemukan reruntuhan di sekitar Masjid Menggoro dan reruntuhan Candi dan juga terdapat Desa Kademangan. Pengganti Rakai warak adalah Rakai Garung yang bertahta pada tanggal 24 januari 828 sampai dengan 22 Pebruari 847. Raja ini ahli dalam bangunan candid an ilmu falak (perbintangan). Dia membuat pranata mangsa yang sampai sekarang masih digunakan. Karena kepandaiannya sehingga Raja Sriwijaya ingin menggunakannya untuk membuat candi. Namun Rakai Garung tidak mau walau diancam. Kemudian Rakai Garung diganti Rakai Pikatan yang bermukim di Temanggung. Disini ditemukan Prasasti Tlasri dan Wanua Tengah III. Disamping itu banyak reruntuhan benda kuno seperti Lumpang Joni dan arca-arca yang tersebar di daerah Temanggung. Disini pun terdapat desa Demangan.
Dari buku sejarah karangan I Wayan badrika disebutkan bahwa Rakai Pikatan selaku raja Mataram Kuno berkeinginan menguasai wilayah Jawa Tengah. Namun untuk merebut kekuasaan dari raja Bala Putra Dewa selaku penguasa kerajaan Syailendra tidak berani. Maka untuk mencapai maksud tersebut Rakai Pikatan membuat strategi dengan mengawini Dyah Pramudha Wardani kakak raja Bala Putra Dewa dengan tujuan untuk memiliki pengaruh kuat di kerajaan Syailendra. Selain itu Rakai Pikatan juga menghimpun kekuatan yang ada di wilayahnya baik para prajurit dan senapati serta menghimpun biaya yang berasal dari upeti para demang. Pada saat itu yang diberi kepercayaan untuk mengumpulkan upeti adalah Demang Gong yang paling luas wilayahnya. Rakai Pikatan menghimpun bala tentara dan berangkat ke kerajaan syailendra pada tanggal 27 Mei 855 Masehi untuk melakukan penyerangan. Dalam penyerangan ini Rakai Pikatan dibantu Kayu Wangi dan menyerahkan wilayah kerajaan kepada orang kepercayaan yang berpangkat demang. Dari nama demang dan wilayah kademangan kemudian muncul nama Ndemanggung yang akhirnya berubah menjadi nama Temanggung.
Catatan sejarah Temanggung berasal dari :
Prasasti Wanua Tengah III, Berkala arkeologi tahun 1994 halaman 87 bahwa Rakai Pikatan dinyatakan meninggal dunia pada tanggal 27 Mei 855 M.
Prasasti Siwagrha terjemahan Casparis (1956 - 288), pada tahun 856 M Rakai Pikatan mengundurkan diri.
Prasasti Nalanda tahun 860 (Casparis 1956, 289 - 294), Balaputra dewa dikalahkan perang oleh Rakai Pikatan dan Kayu Wangi.
Prasasti Wanua Tengah III, Berkala Aekeologi Tahun 1994 halaman 89, Rakai Kayu Wangi naik tahta tanggal 27 Mei 855 M.
Dalam buku karangan I Wayan Badrika halaman 154, Pramudya Wardani kawin dengan Rakai Pikatan dan naik tahta tahun 856 M. Balaputra Dewa dikalahkan oleh Pramudha wardani dibantu Rakai Pikatan (Prasasti Ratu Boko) tahun 856 M.

Catatan diatas dapat disimpulkan bahwa Rakai Pikatan mengangkat putranya Kayu Wangi. Selanjutnya mengundurkan diri dan meninggalkan Mataram untuk kawin dengan Pramudha Wardani. Dalam peperangan melawan Balaputra Dewa, Rakai Pikatan dibantu putranya Kayu Wangi.
Riwayat Singkat Hari Jadi Kabupaten Temanggung
Berdasarkan Surat Keputusan Komisaris Jenderal Hindia Belanda, Nomor 11 Tanggal 7 April 1826, Raden Ngabehi Djojonegoro ditetapkan sebagai Bupati Menoreh yang berkedudukan di Parakan, dengan gelar Raden Tumenggung Aria Djojonegoro. Setelah perang Diponegoro berakhir, beliau kemudian memindahkan Ibu Kota ke Kabupaten Temanggung. Kebijaksanaan pemindahan ini didasarkan pada beberapa hal; Pertama, adanya pandangan masyarakat Jawa kebanyakan pada sat itu, bahwa Ibu Kota yang pernah diserang dan diduduki musuh dianggap telah ternoda dan perlu ditinggalkan. Kedua, Distrik Menoreh sebuah daerah sebagai asal nama Kabupaten Menoreh, sudah sejak lama digabung dengan Kabupaten Magelang, sehingga nama Kabupaten Menoreh sudah tidak tepat lagi. Mengingat hal tersebut, atas dasar usulan Raden Tumenggung Aria Djojonegoro, lewat esiden Kedu kepada Pemerintah Hindia Belanda di Batavia, maka disetujui dan ditetapkan bahwa nama Kabupaten Menoreh berubah menjadi Kabupaten Temanggung. Persetujuan ini berbentuk Resolusi Pemerintah Hindia Belanda Nomor 4 Tanggal 10 Nopember 1834.
Mempertimbangkan bahwa Hari Jadi Daerah merupakan awal perjalanan sejarah, agar diketahui semua lapisan masyarakat, guna memacu meningkatkan semangat pembangunan dan pengembangan daerah, maka Pemerintah Kabupaten Dati II Temanggung menugaskan kepada DPD II KNPI Kabupaten Temanggung untuk mengadakan pelacakan sejarah dan seminar tentang Hari Jadi Kabupaten Temanggung. Dari hasil seminar tanggal 21 Oktober 1985, yang diikuti oleh Sejarawan, Budayawan dan Tokoh Masyarakat, ABRI, Rokhaniwan, Dinas/Instansi/Lembaga Masyarakat dan lain-lainnya, maka ditetapkan bahwa tanggal 10 Nopember 1834 sebagai Hari Jadi Kabupaten Temanggung.
Sumber temanggung kab go id.

Sejarah Temanggung Kabupaten
Dengan meninggalnya Raden Tumenggung Danuningrat Bupati Magelang, maka untuk mengatasi kevakuman pemerintahan, Pemerintah Hindia Belanda dengan cepat berusaha mencari penggantinya. Mendiang Bupati Magelang meninggalkan seorang putra yang bernama Raden Mas Aryo Danukusumo. Ia telah berdinas pada Pemerintah Hindia Belanda sebagai Wakil Kolektur Penghasilan Negeri dan telah menikah dengan putri Bupati Pekalongan. Raden Mas Aryo Danukusumo mempunyai dua orang anak. Ia dikenal sebagai pribumi yang sangat berbudi bahasa dan betapapun masih muda usianya, namun telah banyak mengambil alih kecakapan-kecakapan dari orang tuanya. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan antara lain kecakapan yang dimilikinya, akhirnya Raden Mas Aryo Danukusumo ditunjuk menjadi Bupati sementara daerah Magelang.
Sedangkan untuk daerah Kabupaten Menoreh, Pemerintah Hindia Belanda menunjuk Raden Ngabei Joyo Negoro sebagai Bupati sementara Menoreh. Pada tahun 1827 Raden Mas Aryo telah resmi menjadi Bupati tetap di daerah Magelang sedangkan Raden Ngabei Joyo Negoro telah menjadi Bupati di daerah Menoreh. Meskipun demikian pejabat I masih berkedudukan di Magelang. Setelah pemberontakan Pangeran Diponegoro berakhir, Raden Ngabei Joyo Negoro tidak mau lagi berkedudukan di Parakan. Sebagai kedudukan yang baru, Bupati Menoreh telah memilih Temanggung.
Sementara itu distrik Menoreh sebenarnya sudah tidak merupakan Kabupaten Menoreh lagi, oleh karena itu telah lama digabungkan dengan wilayah Kabupaten Magelang. Dengan demikian nama Kabupaten Menoreh sebenarnya sudah tidak tepat lagi dengan memperhatikan bahwa ibukota Kabupaten Menoreh berada di Temanggung, tempat Bupati bertempat tinggal. Dalam suratnya tanggal 13 September 1834 Residen Kedu CC. Kartnan mengusulkan untuk mengganti nama Kabupaten Menoreh menjadi Kabupaten Temanggung. Pemerintah Hindia Belanda sendiri dengan sebuah resolusi yang dikeluarkan di Batavia ( Jakarta ) pada tanggal 10 Nopember 1834 akhirnya juga memberikan persetujuan yang sama : “Menetapkan bahwa Kabupaten Menoreh ( Karisidenan Kedu ) semenjak sekarang akan memakai nama dari nama ibukotanya sendiri yakni Temanggung, bahwa asisten residen Probolinggo dengan pegawai yang diperbantukan kepadanya akan dipindahkan kesana dan pada waktu yang tepat semenjak sekarang akan memakai nama asisten residen Temanggung.” Berdasarkan sumber sejarah yang autentik tersebut dapat ditentukan “Titi Mangsa” hari jadi Kabupaten Temanggung, yakni jatuh pada tanggal 10 Nopember 1834 bertepatan pada hari Senin Wage tanggal 9 Rejeb tahun Jumakir 1762.
INFO depdagri
Benda Purbakala dan Peninggalan Serta Nilai Historis Temanggung
A. Candi Pringapus
Candi Pringapus adalah candi di desa Pringapus, Ngadirejo, Temanggung 22 Km arah barat laut ibu kota kabupaten Temanggung. Arca-arca berartistik Hindu yang erat kaitanya dengan Dewa Siwa menandakan bahwa Candi Pringapus bersifat Hindu Sekte Siwaistis. Candi tersebut dibangun pada tahun tahun 772 C atau 850 Masehi menurut prasasti yang ditemukan di sekitar candi ketika diadakan restorasi pada tahun 1932. Candi ini merupakan Replika Mahameru, nama sebuah gunung tempat tinggal para dewata. Hal ini terbukti dengan adanya adanya hiasan Antefiq dan Relief Hapsara-hapsari yang menggambarkan makhluk setengah dewa. Candi Pringapus bersifat Hindu Sekte Siwaistis. Hal ini terlihat dari adanya arca-arca bersifat Hindu yang erat kaitannya dengan Dewa Siwa. Sebagaimana lazimnya candi-candi Hindu yang memanifestasikan Siwa, posisi candi dan letak arca-arcanya selalu menjadi ciri khas yang memperhatikan penjuru mata angin. Pintu utama candi menghadap ke timur, dan dikanan-kirinya dijaga Kala dan Nandi. Kala adalah anak Siwa yang lahir dari persatuan antara Siwa dengan kekuatan alam yang dahsyat. Kala lahir sebagai raksasa sakti yang dapat mengalahkan semua dewa. Sedangkan Nandi adalah lembu putih kendaraan Siwa, sehingga dalam satu perwujudannya Siwa disebut Nandi Cwara.
Pada bagian lain terdapat Durga Mahesasuramardhini. Durga merupakan salah satu perwujudan Uma sebagai dewi cantik dengan berbagai macam senjata anugerah dewa. Sebagai Durga, Uma menurut legenda berhasil mengalahkan raksasa sakti berwujud kerbau yang mengganggu para Brahmana. Di dalam candi juga terdapat Yoni yaitu salah satu perwujudan Uma (Istri Siwa) yang berfungsi sebagai alas arca Siwa atau perwujudannya (biasanya Lingga) persatuan lingga dan Yoni merupakan simbol penciptaan alam semesta sekaligus simbol kesuburan. Sebagai saksi kebesaran sejarah masa silam, hal lain yang menarik dari Candi Pringapus adalah hiasa Kala berdagu seperti Kala type Jawa Timur.
Candi Pringapus relief masih utuh, Karakteristiknya yang unik membuat banyak wisatawan asing berdatangan, terutama dari Belanda, Belgia dan Amerika Serikat.Saat liburan.Wisata candi ini ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah termasuk anak-anak sekolah yang ingin mempelajari sejarah. Candi Pringapus pertama kali disebut Junghun dalam daftar reruntuhan candi-candi Jawa, yang didasarkan pada gambar Hoepermans. Setelah itu, gambar diperbarui oleh Brandes, Van Erp (1909) dan Knebel (1911). Situs candi ini juga terkait dengan Candi Perot yang ada di dekatnya (sekitar 300 meter), yang runtuh akibat badai besar tahun 1907 (kini hanya terlihat pondasi saja).
Menurut seorang arkeolog, Djulianto Susanto (Menentukan Pertanggalan Candi; 2003), sampai kini belum ada kesimpulan yang pasti mengenai kapan suatu candi mulai dibangun atau didirikan. Dari berbagai data arkeologi, tidak satu pun yang menyiratkan informasi secara akurat.Arkeolog Belanda EB Vogler pernah melakukan penelitian terhadap hiasan kala makara diatas pintu candi. Hasil dipetakan menjadi lima periode pertanggalan yaitu :

1. Periode I, yaitu masa sebelum tahun 650. Ia memperkirakan, ketika itu sudah ada bangunan ang terbuat dari bahan-bahan yang mudah rusak dan lapuk sehingga tanda-tanda arsitekturalnya tidak tersisa lagi.
2. Periode II (650-760), yang terjadi pada masa pemerintahan Raja Sanjaya dari Kerajaan Mataram Hindu. Gaya bangunan dipengaruhi oleh arsitektur Pallawa yang berasal dari India Selatan. Bangunan-bangunan candi dari periode ini pun sudah rusak, dan tidak mudah teridentifikasi.
3. Periode III (760-812), pada masa Dinasti Syailendra. Contoh bangunannya adalah Candi Borobudur, Pawon, Mendut, Kalasan dan sari.
4. Periode IV (8120-928), Pengaruh asing terutama gaya Chandiman (India) mulai memperkaya unsure-unsur candi. Contohnya antara lain Prambanan, sariwanm Plaosan dan Ngawen.
5. Periode V, yang berlangsung tahun 928 hingga akhir masa Hindu-Jawa. Bangunannya merupakan perkembangan dari gaya-gaya sebelumnya. Bangunan dari periode ini mulai diperkaya dengan unsur-unsur kesenian Jawa Timur, terutama bentuk kala. Contoh bangunannya antara lain Candi Pringapus, Sembodro, Ratna dan Srikandi.

B. Prasasti Gondosuli
Prasasti Gondosuli terletak di Desa Gondosili Kecamatan Bulu, sekitar 13 km arah barat etm, dengan memiliki Luas keseluruhan situs ini sekitar 4.992 m2. Pada tahun 832, sesuai dengan candrasengkala yang ada, Prasasti Gondosuli menjadi saksi bisu kejayaan Dinasti Sanjaya, terutama di masa pemerintahan Rakai Patahan (Rakaryan Patapan Pu Palar) sebagai raja di Mataram Hindu (Mataram Kuno). Nama Rakai Patapan juga dapat dijumpai dalam Prasasti Karang Tengah yaitu ditulis pada tahun 824.
Berdasarkan penelitian Prasasti Gondosuli memuat 11 baris tulisan. Tulisan tersebut menggunakan huruf Jawa Kuno, tapi menggunakan bahasa Melayu Kuno.Bahkan bentuk tulisannya mirip prasasti-prasasti di daerah Sriwijaya Andalas (Sumatera). Prasasti Gondosuli ditulis/dipahat pada batu besar dengan panjang 290 cm, lebar 110 cm dan tinggi 100 cm, sedangkan bidang yang ditulis brukuran 103 x 54 cm2. Dalam prasasti tersebut, pada baris pertama terdapat tulisan “Nama Syiwa Om Mahayana, sahin mendagar wa’zt tanta pawerus darma” yang berarti "Bakti kepada Desa Siwa, Om Mahayana (Orang Besar). Di semua batas hutan pertapaan, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, mendengarkan hasil pekerjaan/ perbuatan yang baik".Prasasti tersebut berisi penghibahan tanah, dimana tanah itu digunakan untuk bangunan suci/candi, serta untuk memperingati pembangunan patung raja (Hyang Haji) disebuah preseda yang disebut Sang Hyang Wintang.
Selain ditemukan prasasti ada pula reruntuhan bebatuan candi yang berserakan disekitarnya. Batu yang berserakan itu diperkirakan hanya bagian atas candi, sedangkan sebagian besar bangunan candi terpendam dalam tanah.Pernah ada upaya dari pihak terkait, yaitu Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah, untuk melakukan penggalian.Tapi upaya ini dihentikan karena tanah diatas bangunan candi yang terpendam digunakan untuk pemakaman umum dan juga terdapat makam seorang tokoh agama, Kiai Rofi’I, yang dikeramatkan oleh penduduk setempat.
Tidak seperti candi-candi yang lain, candi Gondosuli hingga kini masih berada dibawah timbunan tanah. Memang ada beberapa bagian batu candi yang sudah ditemukan lewah penggalian, namun menurut banyak ahli, Candi Gondosuli berukuran sangat besar sehingga kalau digali dapat menenggelamkan seluruh kawasan desa. Diperkirakan Candi Gondosuli adalah bekas istana sebuah kerajaan. Rajanya bernama Rahayan Patapan yang memeluk agama Hindu. Kendati sebagian besar dari batu-baruan candi masih tertutup tanah, akan tetapi di antara batu-batuan yang sudah ditemukan terdapat beberapa yang memiliki keistimewaan.

Misalnya, ada sebuah Yoni berbentuk batu segi empat dengan lubang ditengah-tengahnya. Di dalam lubang Yoni tersbeut terdapat air yang menurut masyarakat setempat tidak pernah kering, sekalipun di musim kemarau. Yoni berlubang tersebut hingga saat ini masih dianggap memiliki kekuatan magis. Di samping Yoni, terdapat juga sebuah batu berbentuk setengah lingkaran. Menurut ceritera, pada jaman dahulu batu setengah lingkaran itu sering di gunakan Raja Dang Karayang Pupalar untuk bertapa jika kerajaannya menghadapi ancaman.
Prasasti Gandasuli merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuna ketika dikuasai oleh Wangsa Syailendra. Prasasti ini ditemukan di reruntuhan Candi Gondosuli, di Desa Gondosuli, Kecamatan Bulu, Temanggung, Jawa Tengah. Yang mengeluarkan adalah anak raja (pangeran) bernama Rakai Rakarayan Patapan Pu Palar, yang juga adik ipar raja Mataram, Rakai Garung.
Prasasti Gandasuli terdiri dari dua keping, disebut Gandasuli I (Dang pu Hwang Glis) dan Gandasuli II (Sanghyang Wintang). Ia ditulis menggunakan bahasa Melayu Kuna dengan aksara Kawi (Jawa Kuna), berangka tahun 792M. Teks prasasti Gandasuli II terdiri dari lima baris dan berisi tentang filsafat dan ungkapan kemerdekaan serta kejayaan Syailendra.
C. Situs Liyangan
Situs Liyangan ditemukan pada tahun 2008 yang berupa candi ukuran kecil dan hingga kini di kawasan penambangan pasir di lereng Gunung Sindoro itu masih ditemukan benda-benda bersejarah lain.Situs Liyangan berada di atas permukiman warga Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, berjarak sekitar 20 kilometer arah barat laut dari kota Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Untuk mengungkap keberadaan situs tersebut pada 14-20 April 2009 tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian terhadap benda-benda temuan yang terkubur pasir dengan kedalaman sekitar tujuh hingga 10 meter tersebut. Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga, Kabupaten Temanggung, Subekti Prijono, menyatakan, berdasarkan hasil penelitian tim Balai Arkeologi Yogyakarta, diperkirakan situs tersebut merupakan sebuah permukiman pada zaman Mataram Kuno.
Situs ini mempunyai keunikan yaitu memiliki yoni dengan 3 lingga (lingga yoni model poliandri). Keunikan ini jarang ditemui di Indonesia. Situs liyangannya sendiri berada di kedalaman 2 meteran dibawah tanah, kemungkinan di temukan penampang pasir yang hendak mengambil batu..Diperkirakan situs tersebut sebuah perdusunan karena di antara benda temuan terdapat sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu. Subekti menyebutkan, di kawasan dengan ketinggian sekitar 1.400 di atas permukaan air laut tersebut pertama kali ditemukan sebuah talud, yoni, arca, dan batu-batu candi. Penemuan selanjutnya berupa sebuah bangunan candi yang tinggal bagian kaki dan di atasnya terdapat sebuah yoni yang unik, tidak seperti umumnya, karena yoni ini memiliki tiga lubang.

Temuan terakhir yang cukup spektakuler pada akhir Maret 2010 berupa rumah panggung dari kayu yang hangus terbakar dan masih tampak berdiri tegak. Satu unit rumah tersebut berdiri di atas talud dari batu putih setinggi 2,5 meter. Selain itu juga ditemukan satu unit rumah kayu lain yang saat ini baru tampak pada bagian atapnya.
Ia menjelaskan, tim Balai Arkeologi memperkirakan kedua unit rumah itu merupakan bangunan rumah masa Mataram Kuno. Hal ini berdasarkan pada lokasi yang dekat dengan temuan candi Hindu yang berada di sebelah barat pada jarak sekitar 50 meter. Ditemukannya profil klasik Jawa Tengah pada kaki candi diperkirakan candi ini berasal dari abad sembilan Masehi. Diperkirakan bangunan rumah tersebut berada dalam satu kompleks dengan candi dan kemungkinan merupakan satu zaman.
Secara umum, potensi data arkeologi situs Liyangan tergolong tinggi berdasarkan indikasi, antara lain luas situs dan keragaman data berupa bangunan talud, candi, bekas rumah kayu dan bambu, strutur bangunan batu, lampu dari bahan tanah liat, dan tembikar berbagai bentuk. Selain itu, juga diperoleh informasi berupa struktur bangunan batu, temuan tulang dan gigi hewan, dan padi.
Berdasar gambaran hasil survei penjajakan Balai Arkeologi menyimpulkan, Situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks. Indikasi sebagai situs permukiman, situs ritual, dan situs "pertanian". Kompleksitas karakter tersebut membawa pada pemikiran, situs Liyangan adalah bekas perdusunan yang pernah berkembang pada masa Mataram Kuno.Ragam data dan karakter ini tergolong istimewa mengingat temuan ini satu-satunya situs yang mengandung data arkeologi berupa sisa rumah masa Mataram Kuno.
Batasan imajiner situs Liyangan berdasarkan survei diperkirakan tidak kurang dari dua hektar. Di area tersebut tersebar data arkeologi yang menunjukkan sebagai situs perdusunan masa Mataram Kuno.Mengingat sebagian situs terkubur lahar, sangat mungkin luasan situs lebih dari hasil survei.
Hasil penelitian tim Balai Arkeologi menyimpulkan, data arkeologi berupa sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu merupakan situs perdusunan masa Mataram Kuno sekitar 1.000 tahun lalu. Data tersebut merupakan satu-satunya yang pernah ditemukan di Indonesia sehingga memiliki arti sangat penting bukan hanya bagi pengembangan kebudayaan di Indonesia, tetapi juga dalam skala internasional.Untuk itu perlu dilakukan upaya penyelamatan guna penelitian dunia ilmiah.
Bekti Prijono juga menambahkan, situs tersebut berada di lahan milik penduduk dan dimanfaatkan untuk diambil pasirnya, dikhawatirkan situs akan rusak jika tidak dilakukan upaya penyelamatan. Atas kondisi ini, Subekti mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Pasalnya tanah itu masih milik warga. Aktivitas penggalian itu dikhawatirkan dapat merusak situs purbakala yang ada. Untuk membebaskan tanah pemerintah setempat perlu dana dan baru akan dibicarakan dengan DPRD untuk diusulkan dalam APBD.
D. Petilasan Jumprit
Jumprit adalah sebuah sumber mata air di Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Tempat ini dikaitkan dengan sang Nujum dari Majapahit yang disebutkan dalam Serat Chenthini. Dari sang Nujum inilah Jumprit mendapatkan namanya. Jumprit juga merupakan tempat pengambilan air suci untuk upacara Waisak yang diadakan di Borobudur. Setiap tahun, para pemeluk agama Buddha dari berbagai tempat dan negara datang ke Jumprit untuk mengambil air suci. Tempat ini menjadi ramai tiap menjelang bulan purnama di bulan Mei.
Kawasan ini berada di ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut (dpl) dan berada di lereng Gunung Sindoro tempatnya di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo. Jaraknya hanya sekitar 26 km dari barat laut kota Temanggung. Dahulu keberadaan Umbul Jumprit hanya diketahui oleh kalangan tertentu saja. Tetapi sejak awal 1980, jumlah pengunjung terus meningkat, terutama mereka yang ingin berziarah ke makam Ki Jumprit dan mandi kungkum di Umbul Jumprit.
Ki Jumprit yang merupakan ahli nujum di Kerajaan Majapahit. Ki Jumprit bukan hanya dikenal sakti mandraguna, tetapi juga salah seorang putra Prabu Brawijaya, Raja Majapahit. Alkisah ia meninggalkan kerajaan, agar bisa mengamalkan ilmu dan kesaktiannya kepada masyarakat luas. Perjalanan panjangnya berakhir di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung. Sebagai ahli nujum, Ki Jumprit pernah meramal suatu saat nanti Temanggung akan menjadi daerah makmur dan sebagian ramalannya tersebut terbukti. Banyak petani di lereng Sumbing dan Sindoro relative hidup berkecukupan melalui tanaman tembakau.
Beberapa tokoh masyarakat meyakini, Ki Jumprit adalah leluhur dari masyarakat Temanggung yang tersebar di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing. Namun hal ini masih memerlukan kajian mendalam, terutama dari aspek kesejarahan. Ada beberapa lokasi yang diyakini sebagai petilasan KI Jumprit begitu juga letak makamnya yang berada tak jauh dari Umbul Jumprit. Dua lokasi inilah yang kerap dikunjungi peziarah, terutama komunitas tertentu yang terbiasa melakukan tirakat.
Umbul Jumprit, mata air yang disucikan. Air umbul (sendang, mata air) adalah air keberkahan yang diambil para biksu dengan ritual khusus untuk digunakan dalam upacara Trisuci Waisak di Candi Borobudur. Umbul yang tak pernah kering ini juga "mengisi" Sungai Progo. Upacara pengambilan air di mata air yang diyakini sebagai tempat pertapaan Pangeran Singobarong dari Kerajaan Majapahit itu dimulai oleh kelompok biksu dari aliran Theravada.
KEN AROK - EMPU GANDRING-8

KEN AROK - EMPU GANDRING-8

22:55 0
KEN AROK - EMPU GANDRING-8
Kakek itu menarik napas panjang. "Tidak keliru, Joko Handoko. Eyangmu Empu Gandring adalah seorang empu yang sukar dicari tandingannya di jagat raya ini dalam keahliannya membuat keris pusaka.
Karena aku sendiri merasa tidak ada se-kuku hitamnya dibandingkan dengan dia dalam hal pembuatan keris, maka aku mencoba untuk mengimbangi keampuhan keris yang telah diberikan kepada ibumu untuk kelak menjadi milikmu itu dengan sebuah jurus yang kuberi nama Nogopasung."

Tentu saja Joko Hamdoko merasa gembira bukan main.
"Wah, pantas sekali begitu sukar kiranya menguasai jurus ini. Eyang. Kiranya Eyang sengaja membuatkan untuk saya."
"Selama hampir setahun aku mutih (makan nasi dan air putih saja), baru berhasil. Dan engkau pun baru berlatih selama tiga bulan. Sedikitnya setahun baru engkau akan mampu menguasai jurus ini. Itupun harus kau lakukan dengan jalan mutih dan juga berpuasa sepekan sekali."
"Hal itu sudah kutaati dan saya lakukan sejak mempelajarinya, Eyang. Akan tetapi hasilnya ternyata menurut Eyang masih kurang memuaskan."
"Jurus itu dapat dimainkan dengan tangan kosong sebagai pengganti keris, juga tentu saja amat tepat kalau dimainkan dengan menggunakan keris, terutama keris Kyai Nogopasung sendiri. Belajarlah dengan giat, latihlah jurus itu dengan tekun dan perkuat batinmu. Perbanyak samadhi menghimpun tenaga batinmu, kurangi makan dan tidur."
"Baik, Eyang, akan saya taati perintah Eyang. Akan tetapi Eyang, kalau boleh saya memohon....."
Kakek itu memandangnya dengan tersenyum. "Apakah yang kau inginkan, Cucuku?"
"Saya masih penasaran karena selama tiga bulan ini saya sudah berlatih dengan sekuat tenaga. Kalau sampai sekarang masih belum baik hasilnya, lalu sampai yang bagaimanakah baiknya, Eyang. Sudilah Eyang memperlihatkan kepada saya jurus itu sampai pada puncak kesempurnaannya?"
"Heh-heh-heh, orang muda selalu memang ingin tahu. Akan tetapi memang demikianlah seharusnya.Kalau orang muda tidak memiliki keinginan tahu yang besar untuk mengerti segala hal di dunia ini, maka hidupnya seperti mandeg dan dia seperti sudah mati sebelum hayat meninggalkan badan. Hanya, kau nakal sekali, aku yang sudah setua ini masih disuruh menjual lagak! Ha-ha-ha!"
"Tapi, Eyang. Yang melihat hanya saya sendiri, tidak ada orang lain lagi, mana bisa dibilang menjual lagak?"
"Nah, nah, di sini letak kekuranganmu, cucuku. Jangan terlalu membiarkan dirimu terseret oleh suat arus yang menyita seluruh kewaspadaanmu sehingga engkau tidak melihat datangnya dua orang menuju ke sini." Kakek itu memandang arah kiri dan Joko Handoko juga memandang.
"Ibuuuu.......!" serunya, akan tetapi seruan yang disertai wajah gembira itu tiba-tiba saja ditahannya ketika dia melihat bahwa ibunya tidak datang sendirian, melainkan bersama seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, seorang pria yang dalam usia setengah tua itu masih nampak gagah dan tampan, dengan pakaian sebagai seorang priyayi, dengan sikap yang ramah dan senyumnya selalu menghias wajahnya yang tampan.
"Ah, Raden Pringgoloyo, sudah lamakah Raden mengunjungi padepokan kami yang sederhana ini?
Baik-baik sajakah keadaan Raden?"
Pria yang bernama Raden Pringgoloyo itu tersenyum, melirik ke arah Dyah Kanti lalu menoleh kepada Joko Handoko yang masih berdiri dengan kepala menunduk.

"Terima kasih Paman, dengan berkah dan doa restu paman panembahan, saya berada dalam keadaan selamat dan semoga paman sudi menerima sembah bakti saya. Paman selalu menyebut padepokan ini sederhana, buruk dan sebagainya, padahal yang saya kunjungi bukanlah padepokannya, melainkan orangnya,Paman. Saya baru saja tiba dankebetulan bertemu Diajeng Kanti di luar pintu padepokan." Lalu dia menoleh kepada Joko Handoko.
"Wah, keringatmu masih membasahi tubuh. Agaknya engkau baru saja berlatih. Sudah memperoleh kemajuan pesat, anakku Handoko?"
Makin sebal rasa hati Handoko mendengar sebutan "anak", mengingatkan bahwa orang ini akan menjadi ayah tirinya. Ibunya sudah mengambil keputusannya untuk menerima pinangan Raden Pringgoloyo ini,menjadi istri ke dua, dan kakeknya juga sudah menyetujuinya! Akan tetapi dia sendiri, yang tidak pernah
ditanya pendapatnya, diam-diam merasa iri dan tidak senang. Bagaimana ibunya, seorang yang begitu lama menjanda, kini tiba-tiba saja ingin kawin lagi, dan menjadi istri ke dua?

Akan tetapi karena ditanya, dan karena dia sejak muda sekali sudah diajar sopan santun oleh eyangnya,lalu menjawab, "Lumayan saja, Paman."
"Tidak seperti biasanya, Raden berkunjung begini pagi, biasanya di waktu senja. Apakah hanya akan anjang sono ataukah ada keperluan lain, Raden?" tanya Panembahan Pronosidhi dengan suaranya yang selalu halus dan sabar.
"Pertama untuk beranjang sono, dan kedua kalinya juga ada keperluan, paman panembahan. Saya datang untuk memohon persetujuan paman agar diperkenankan mangajak diajeng Dyah Kanti kekadipaten hari ini karena saya akan memeperkenalkan kepada keluarga saya, sebelum pernikahan dilangsungkan dengan resmi."
Wajah kakek itu nampak berseri. "Ah, suatu tindakan yang bijaksana sekali,raden. Akan tetapi perjalanan dari sini ke kadipaten bukan dekat."
"Kami mau naik kuda, Ayah," kata Dyah Kanti cepat. Ia adalah seorang keturunan pendekar sakti,biarpun wanita, ia memiliki kesaktian dan juga kesigapan. Menunggang kuda bukan merupakan hal yang sukar atau asing baginya.
"Jadi kau telah membawa dua ekor kuda, Raden? Baiklah, hati-hati di jalan dan jangan terlalu malam pulangnya nanti."
Dyah Kanti lalu menghampiri Joko Handoko dan mengelus kepala anaknya.

"Handoko, ibu mau pergi dulu ke kadipaten. Engkau minta dibawakan oleh-oleh apakah, anakku?"
"Kalau ibu hendak pergi, pergilah saja, aku tidak ingin dibawakan apa-apa Ibu. Terima kasih," kata Joko Handoko dan dia pun mulai bersilat lagi untuk latihan tanpa memperdulikan ibunya dan calon ayahnya itu.
Ibunya saling pandang dengan calon suaminya, lalu tersenyum masam dan berpamit dari ayahnya. Tak lama kemudian terdengar derap kaki dua ekor kuda yang membalap keluar dari padepokan, menuruniLereng Gunung Anjasmoro menuju Kadipaten Wonoselo, di mana Raden Pringgoloyo adalah keponakan
dari adipati di Wonoselo.

Setelah derap kaki kuda itu tidak terdengar lagi, barulah Panembahan
Pronosidhi menegur cucunya.

"Joko Handoko, hentikan latihanmu. Eyang mau bicara denganmu sebentar."
Pemuda itu menghentikan silatnya dan duduk bersimpuh di atas rumput, di depan batu hitam. "Ada perintah apakah, Eyang?"
"Aku ingin bicara denganmu tentang ibumu, Cucuku!"

Bersambung KEN AROK - EMPU GANDRING-9
SYEH BELU-BELU

SYEH BELU-BELU

06:56 0
Syekh Bela-Belu
Di daerah pantai selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, dekat pesisir yang kini dikenal dengan nama Parangtritis, terdapat dua buah bukit yang letaknya berdekatan. Dua buah bukit itu, yang sebuah dikenal dengan nama Bukit Sentana dan yang sebuah lagi bernama Bukit Pamancingan.
Dahulu kala, menurut cerita, di puncak kedua bukit itu masing-masing terdapat bangunan rumah untuk pondok. Yang tinggal di Pondok Pamancingan ialah Syekh Belabelu, sedang yang tinggal di pondok Bukit Sentana ialah Syekh Maulana Mahgribi.
Kedatangan Syekh Belabelu di Bukit Pamancingan itu jauh lebih dahulu dari kedatangan Syekh Maulana Mahgribi di Bukit Sentana.
Syekh Belabelu mula-mula bernama Raden Jaka Bandem atau raden dhandhun. Dia adalah putera Raja Majapahit, Prabu Brawijaya terakhir. Dengan berdirinya kerajaan Islam di Jawa Tengah di bawah pemerintahan Radeh Patah, maka kekuasaan dan pengaruh kerajaan Majapahit menjadi terdesak.
Kekuasaan kerajaan Majapahit runtuh, kerabat dan keluarga keraton Majapahit, yang masih hidup dan tidak mau memeluk Islam, lalu meninggalkan keraton untuk menyelamatkan diri.

Raden Jaka Bandem, salah seorang dari putera Prabu Brawijaya terakhir, beserta para pengikutnya sempat lolos dari keraton. Dengan maksud akan menyelamatkan diri, maka dicarinyalah tempat yang diperkirakan tidak mungkin terjangkau oleh pengaruh kekuasaan kerajaan di bawah pimpinan Raden Patah itu.
Lalu ditempuhnyalah perjalanan menyusuri pantai selatan menuju ke arah barat, sehingga akhirnya mereka sampai di suatu tempat, yang dikenal dengan nama Parangtritis. Raden Jaka Bandem lalu mengakhiri pengembaraannya.
Raden Jaka Bandem beserta para pengiringnya menetap di daerah itu. Mereka lalu mendirikan padepokan di puncak Bukit Pamancingan, dan Raden Jaka Bandemlah yang menjadi sesepuhnya.
Setelah berlangsung lama Raden Jaka Bandem menetap di padepokan yang terletak di puncak Bukit Pamancingan, datanglah Syekh Maulana Mahgribi ke wilayah pantai selatan. Syekh Maulana Mahgribi adalah seorang penyiar agama Islam yang diperintahkan oleh Raden Patah untuk menyebarkan ajaran agama Islam di wilayah ini. Di dalam pemerintahan kerajaannya, Raden Patah memiliki banyak sekali penyiar agama Islam. Syekh Maulana Mahgribi adalah salah seorang diantaranya.
Setelah menyaksikan keindahan alam di Pantai Parangtritis itu, tertariklah beliau untuk menetap di sana. Lebih-lebih lagi setelah diteliti lebih lanjut, ternyata puncak Bukit Sentana itu sesuai sekali dipergunakan untuk mendirikan pondok.
Bersama-sama dengan para pengikutnya, mulailah Syekh Maulana Mahgribi mengerjakan pembangunan pondok di puncak Bukit Sentana itu. Setelah pondok itu selesai dibangun, kemudian beliau mengumpulkan orang-orang ke dalam pondok barunya. Kepada orang-orang yang berkumpul di pondoknya itu, Syekh Maulana Mahgribi menyiarkan ajaran-ajaran agama Islam. Banyaklah orang tertarik akan ajaran-ajaran itu dan memeluk agama Islam. Bahkan Raden Jaka Bandem yang menjadi sesepuh di Padepokak Bukit Pamancingan, merasa terpikat pula oleh ajaran yang disiarkan oleh Syekh Maulana Mahgribi.

Setelah mempertimbangkan masak-masak, pada akhirnya dengan kebulatan hati Raden Jaka Bandem lalu masuk Islam. Dengan masuknya Raden Jaka Bandem menjadi pemeluk Islam, maka seluruh anak buah, pengikut, dan murid yang menutut ilmu di padepokan Bukit Pamancingan itu, secara serempak bersama-sama menerima ajaran Islam dan memeluk agama Islam.
Setelah Raden Jaka Bandem dan segenap pengikutnya masuk Islam, maka Padepokan Bukit Pamancingan itu berubah fungsinya menjadi pondok, sedang Raden Jaka Bandem, yang semula menjadi sesepuh padepokan itu, dengan sendirinya menjadi sesepuh pondok, dan namanya diganti menjadi Syekh Belabelu.
Menurut cerita, karena kesibukannya tidak ada lain kecuali hanya makan, maka tubuh Syekh Belabelu menjadi gemuk sekali. Karena dalam satu hari berkali-kali dia menanak nasi dan hal semacam itu dilangsungkan bertahun-tahun, maka “kerak nasi” terkumpul banyak sekali. Kerak nasi yang tidak sedikit jumlahnya itu lalu dijajarkan pada atap rumahnya dan pada dinding pondoknya.
Sejak masih muda, Raden Jaka Bandem yang sekarang telah berganti nama Syekh Belabelu, memiliki kegemaran atau kebiasaan tirakat atau bertapa. Bahkan setelah menjadi Syekh sekalipun, kebiasaannya bertapa itu masih tetap dipelihara dan dilanjutkan.
Cara Syekh Belabelu bertapa bernyata lain dari yang lain. Orang lain biasa melaksanakan puasa dengan jalan menjauhkan diri dari kenikmatan, setidak-tidaknya mengurangi segala macam kesenangan duniawi, misalnya makan dan tidur. Sedangkan Syekh Belabelu dalam pelaksanaan tapanya seakan-akan hanya mementingkan kepuasan dirinya pada soal makan saja. Di sepanjang hari kerjanya tidak ada lain kecuali hanya menanak nasi dan makan. Kalau nasi sudah masak dia makan sampai nasi itu habis dan setelah habis lalu menanak nasi lagi. Begitulah seterusnya. Versi lain menceritakan, Syekh Belabelu mengupas butir-butir padi satu persatu. Setelah terkumpul beras secukupnya, mulailah dia menanak beras itu menjadi nasi. Setelah nasi masak lalu ditebarkannyalah ke pasir. Kesibukan selanjutnya ialah memunguti butir-butir nasi itu satu persatu. Dibersihkannya pasir yang melekat pada butir-butir nasi itu, lalu mulailah dia memakannya. Dengan demikian maka tak pernah dia sempat beristirahat dan tidur.
Pada suatu ketika Syekh Maulana Mahgribi berkata kepada Syekh Belabelu, “Mengapa anda melaksanakan tapa dengan cara yang tidak lazim dilakukan orang?”
“Saya kira, dengan cara semacam inipun saya akan berhasil mencapai tujuan. Biarlah orang lain menjalankan dengan cara lain, sebaliknya biarkanlah saya menempuh dengan cara saya sendiri”, begitu jawab Syekh Belabelu. “Kalau anda masih menyangsikannya, marilah kita uji dan kita buktikan hasilnya. Anda bertapa dengan cara anda, dan saya dengan cara saya sendiri. Setelah kita laksanakan dalam waktu satu bulan, coba kita uji, mana yang lebih berhasil.”
Setelah itu, mulailah mereka berdua menjalankan tapa atau tirakat dengan cara mereka masing-masing. Setelah selang satu bulan, mulailah mereka akan mengetahui atau menguji, tapa siapakah yang lebih berhasil. Setelah itu mereka akan mengadakan perlombaan.
Perlombaan itu ialah mengadu kecepatan dalam menempuh jarak tertentu. Adapun jarak yang ditentukan harus ditempuh ialah dari pantai Parangtritis sampai ke Mekkah untuk sholat Jumat.
Pada hari yang telah ditentukan, Syekh Maulana Mahgribi pagi-pagi datang ke pondok Syekh Belabelu. Sesampai di sana, ternyata Syekh Belabelu masih sibuk menanak nasi, sama sekali tidak nampak adanya persiapan akan bepergian jauh.
“Bukankah telah ditentukan bahwa pagi ini kita akan ke Mekkah untuk sholat Jumat di sana?” kata Syekh Maulana Mahgribi.
“Ya, saya tidak melupakan ketentuan itu”, kata Syekh Belabelu. “Tetapi saya belum dapat berangkat sebelum makan. Silahkan anda berangkat dahulu. Selesai makan nanti saya segera menyusul.”
Kemudian berangkatlah Syekh Maulana Mahgribi menuju Mekkah. Sedang Syekh Belabelu dengan santainya makan nasi yang ditanaknya. Sama sekali tidak menampakkan raut muka cemas atau khawatir akan kalah dalam pertandingan melawan Syekh Maulana Mahgribi.
Sesampai di Mekkah, Syekh Maulana Mahgribi melihat telah banyak orang yang datang untuk sholat Jumat. Begitu masuk ke ruang masjid, Syekh Maulana menoleh ke kanan dan kiri, untuk mencari tempat duduk yang nyaman.
Tiba-tiba Syekh Maulana Mahgribi menjadi terkejut dan heran, setelah dilihatnya Syekh Belabelu telah duduk bersila di dalam ruangan masjid itu, di tempat yang tidak jauh dari tempat dia berdiri. Dengan tenangnya Syekh Belabelu tersenyum, melambaikan tangan dan memberi isyarat agar Syekh Maulana Mahgribi duduk di sampingnya. Syekh Maulana Mahgribi akhirnya duduk dan mengatakan bahwa dia mengakui keunggulan Syekh Belabelu.
Sumber:
Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta.

Makam Syekh Bela-Belu terletak di bukit antara dusun Grogol 10 dengan Dusun Mancingan, kira-kira 4 Km dari gerbang masuk Parangtritis. Jalan masuk ke makam berada di dusun Trembis, masuk ke arah kiri sebelum tanjakan dan belokan. Di sana ada tangga naik ke arah Makam.
Di Komplek makam itu terdapat dua punden nisan, yaitu makam Syekh Bela Belu dan makam syekh Damiakik / Damiaking. Mereka adalah pelarian dari anggota kerajaan Majapahit yang giat menyebarkan agama Islam . Sebagai ulama Bela Belu sering berpindah pindah sebelum menetap di tempat ini, sampal meninggal dunia.
Menurut beberapa sumber yang ada nama Syekh Bela-belu semasa mudanya adalah Jaka Bandem. Beliau termasuk putra dari Prabu Brawijaya terakhir yang melarikan diri saat Majaphit runtuh.
SEJARAH KOTA CILACAP

SEJARAH KOTA CILACAP

19:16 0
Sejarah Kota Cilacap (Jawa Tengah)
Cilacap, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Cilacap.
Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Brebes dan Kabupaten Banyumas di utara, Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Kebumen di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar (Jawa Barat) di sebelah Barat.

Berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Barat, Cilacap merupakan daerah pertemuan Budaya Jawa (Banyumasan) dengan Budaya Sunda (Priangan Timur).
Nusa Kambangan, sebuah pulau yang tertutup terdapat lembaga pemasyarakatan Kelas I, terdapat di kabupaten ini.
Pulau ini sering juga disebut sebagai AL Catraz-nya Indonesia.
Ada beberapa Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas I yang masih aktif antara lain: LP Permisan, LP Kembang Kuning, LPBatu, dan LP Besi.

1. Zaman Kerajaan Jawa
Penelusuran sejarah zaman kerajaan Jawa diawali sejak zaman Kerajaan Mataram Hindu sampai dengan Kerajaan Surakarta.
Pada akhir zaman Kerajaan Majapahit (1294-1478) daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap terbagi dalam wilayah-wilayah Kerajaan Majapahit, Adipati Pasir Luhur dan Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang wilayahnya membentang dari timur ke arah barat :

- Wilayah Ki Gede Ayah dan wilayah Ki Ageng Donan dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
- Wilayah Kerajaan Nusakambangan dan wilayah Adipati Pasir Luhur
- Wilayah Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Menurut Husein Djayadiningrat, Kerajaan Hindu Pakuan Pajajaran setelah diserang oleh kerjaan Islam banten dan Cirebon jatuh pada tahun 1579, sehingga bagian timur Kerajaan Pakuan Pajajaran diserahkan kepada Kerajaan Cirebon.
Oleh karena itu seluruh wilayah cikal-bakal Kabupaten Cilacap disebelah timur dibawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang dan sebelah barat diserahkan kepada Kerajaan Cirebon.

Kerajaan Pajang diganti dengan Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan Senopatipada tahun 1587-1755, maka daerah cikal bakal Kabupaten Cilacap yang semula di bawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang diserahkan kepada Kerajaan Mataram .
Pada tahun 1595 Kerajaan Mataram mengadakan ekspansi ke Kabupaten Galuh yang berada di wilayah Kerajaan Cirebon.
Menurut catatan harian Kompeni Belanda di Benteng Batavia, tanggal 21 Pebruari 1682 diterima surat yang berisi terjemahan perjalanan darat dari Citarum, sebelah utara Karawang ke Bagelen.
Nama-nama yang dilalui dalam daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap adalah Dayeuhluhur dan Limbangan.

2. Zaman Penjajahan Belanda
Pembentukan Onder Afdeling Cilacap (dua bulan setelah Residen Launy bertugas) dengan besluit Gubernur Jenderal D.De Erens tanggal 17 Juli 1839 Nomor 1, memutuskan :

"Demi kepentingan pelaksanaan pemerintahan daerah yang lebih rapi di kawasan selatan Banyumas dan peningkatan pembangunan pe,abuhan Cilacap, maka sambil menunggu usul organisasi distrik-distrik bagian selatan yang akan menjadi bagiannya, satu dari tiga Asisten Resident di Karesidenan ini akan berkedudukan di Cilacap".
Karena daerah Banyumas Selatan dianggap terlalu luas untuk dipertahankan oleh Bupati Purwokerto dan Bupati Banyumas maka dengan Besluit tanggal 27 Juni 1841 Nomor 10 ditetapkan :"Patenschap" Dayeuhluhur dipisahkan dari Kabupaten Banyumas dan dijadikan satu afdeling tersendiri yaitu : afdeling Cilacap dengan ibu kota Cilacap, yang menjadi tempat kedudukan kepala Bestuur Eropa Asisten Residen dan Kepala Bestuur Pribumi Rangga atau Onder Regent.
Dengan demikian Pemerintah Pribumi dinamakan Onder Regentschap setaraf dengan Patih Kepala Daerah Dayeuhluhur.

Bagaimanapun pembentukan afdeling memenuhi keinginan Bupati Purwokerto dan Banyumas yang sudah lama ingin mengurangi daerah kekuasaan masing-masing dengan Patenschap Dayeuhluhur dan Distrik Adiraja.
Adapun batas Distrik Adiraja yang bersama pattenschap Dayeuhluhur membentuk Onder Regentschap Cilacap menurut rencana Residen Banyumas De Sturier tertanggal 31 Maret 1831 adalah sebagai berikut :
Dari muara Sungai Serayu ke hulu menuju titik tengah ketinggian Gunung Prenteng.
Dari sana menuju puncak, turun ke arah tenggara pegunungan Kendeng, menuju puncak Gunung Gumelem (Igir Melayat).
dari sana ke arah selatan mengikuti batas wilayah Karesidenan Banyumas menuju ke laut.
Dari sana kearah barat sepanjang pantai menuju muara Sungai Serayu.
dari batas-batas Distrik Adiraja dapat diketahui bahwa Distrik Adiraja sebagai cikal-bakal eks Kawedanan Kroya lebih besar dari pada eks. Kawedanan Kroya , karena waktu itu belum terdapat Distrik Kalireja, yang dibentuk dari sub bagian Distrik Adiraja dan sebagai Distrik Banyumas.
Sehingga luas kawasan Onder Regentschap Cilacap masih lebih besar dari luas Kabupaten Cilacap sekarang.

Pada masa residen Banyumas ke-9 Van de Moore mengajukan usul Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 3 Oktober 1855 yang ditandatangani Gubernur Jenderal Duijmaer Van Tuist, kepada Menteri Kolonial Kerajaan Belanda dalam Kabinet Sreserpt pada tanggal 29 Desember 1855 Nomor 86, dan surat rahasia Menteri Kolonial tanggal 5 Januari 1856 Nomor 7/A disampaikan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Usul pembentukan Kabupaten Cilacap menurut Menteri Kolonial bermakna dua yaitu permohonan persetujuan pembentukan Kabupaten Cilacap dan organisasi bestir pribumi dan pengeluaran anggaran lebih dari F.5.220 per tahun yang keduanya memerlukan persetujuan Raja Belanda,setelah menerima surat rahasia Menteri Kolonial Pemerintah Hindia Belanda dengan besluit Gubernur Jenderal tanggal 21 Maret 1856 Nomor 21 antara lain menetapkan Onder Regentschap Cilacap ditingkatkan menjadi Regentschap (Kabupaten Cilacap).

Daftar Nama Bupati Cilacap :
1. R. Tumenggung Tjakra werdana II (1858-1873)
2. R. Tumenggung Tjakra Werdana III (1873-1875)
3. R. Tumenggung Tjakra Werdana IV (1875-1881)
4. R.M Adipati Tjakrawerdaya (1882-1927)
5. R.M Adipati Arya Tjakra Sewaya (1927-1950)
6. Raden Mas Soetedjo (1950-1952)
7. R. Witono (1952-1954)
8. Raden Mas Kodri (1954-1958)
9. D.A Santoso (1958-1965)
10. Hadi Soetomo (1965-1968)
11. HS. Kartabrata (1968-1974)
12. H. RYK. Moekmin (1974-1979)
13. Poedjono Pranyoto (1979-1987)
14. H. Mohamad Supardi (1987-1997)
15. H. Herry Tabri Karta, SH (1997-2002)
16. H. Probo Yulastoro, S.Sos, MM, M.Si (2002- sekarang)

Daftar KEcamatan di CILACAP :
1. Adipala
2. Bantarsari
3. Binangun
4. Cilacap Selatan
5. Cilacap Tengah
6. Cilacap Utara
7. Cimanggu
8. Cipari
9. Dayeuhluhur
10. Gandrung Mangu
11. Jeruklegi
12. Kampung Laut
13. Karang Pucung
14. Kawunganten
15. Kedungreja
16. Kesugihan
17. Kroya
18. Majenang
19. Maos
20. Nusawungu
21. Patimuan
22. SAmpang
23. Sidareja
24. Wanareja

VISI DAN MISI
VISI
Visi Pemerintah Kabupaten Cilacap sesuai RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kabupaten Cilacap Tahun 2008-2012 adalah
"Terciptanya Pemerintahan yang Tangguh, Terpercaya dan Mandiri Guna Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat"

MISI
Untuk mewujudkan visi Kabupaten Cilacap ditetapkan misi sebagai berikut:
1. Menyelenggarakan pemerintahan daerah secara efisien dan efektif dengan mensinergikan upaya-upaya bersama antara pemerintah, swasta dan masyarakat (Good Governance).
2. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia baik sumberdaya aparatur maupun sumberdaya masyarakat secara luas sebagai modal dasar bagi pelaksanaan otonomi daerah.
3. Memberikan pelayanan prima dalam rangka menumbuhkan iklim investasi yang sehat.
4. Penguatan struktur perekonomian daerah melalui penguatan potensi ekonomi lokal.
5. Meningkatkan pembangunan atau penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur ekonomi, perdagangan, pendidikan dan kesehatan untuk mencapai derajat manusia yang bermartabat.
6. Meningkatkan kemampuan keuangan daerah dengan mengoptimalkan sumber-sumber pendapatan daerah melalui kebijakan yang berpihak pada masyarakat.

LAMBANG DAERAH
Bentuk dan Wujud Lambang Daerah

Bintang Segi Lima;
Melambangkan keluhuran cita-cita masyarakat Daerah yang berkepribadian Pancasila.

Tugu Pahlawan dengan lidah api diatas gelombang Laut Selatan;
Tugu Pahlawan melambangkan perjuangan heroik masyarakat Daerah dimasa Revolusi 1945.
Lidah api menunjukkan hitungan 5, berarti perjuangan yang berdasarkan Pancasila.
Gelombang Laut Selatan dengan lekuk gelombang berjumlah 4 dihubungkan dengan lidah api (5) berarti bahwa perjuangan yang berkobar-kobar sejak Revolusi 45 berdasarkan UUD 45 dan jiwa juang 45.

Kembang Wijayakusuma;
Merupakan lambang Wahyu Negara pada saat masih berbentuk kerajaan.

Wijayakusuma menjadi nama pengenal khas dan merupakan lambang hidup daerah.
Kembang ini hanya ada dan tumbuh di Cilacap saja (bunga gaib).

Padi dan Kapas;
Melambangkan keluhuran cita-cita masyarakat Daerah mewujudkan masyarakat adil dan makmur dalam mengemban Amanat Penderitaan Rakyat.
Padi dan Kapas bermakna kegiatan masyarakat di bidang pangan dan sandang.
Jumlah butir padi 17 dan kapas 8, dihubungkan dengan Kembang Wijayakusuma yang berkelopak 4 dan berdaun bunga 5, menunjukkan betapa keramatnya Proklamasi Tujuhbelas Delapan Empatlima.

Ikan Hiu;
Ikan Hiu melambangkan Cilacap berada di daerah pantai laut selatan, penghasil ikan, dan sebagian dari masyarakatnya adalah nelayan.

Warna Lambang Daerah dan maknanya
Warna Merah Hati :
keberanian, keuletan, kewaspadaan serta melambangkan perjuangan yang gagah berani
Warna Kuning Emas :
keluhuran didalam mengemban tugas
Warna Putih :
kesucian jiwa
Warna Hitam :
ketenangan dan ketabahan
Warna Hijau :
kesuburan dan kemakmuran
Warna Biru Laut / Biru Tua :
Cilacap terletak di pantai selatan, Samudera Indonesia

Seluruh warna menggambarkan kepribadian masyarakat Daerah.
MOTTO :
JALA BHUMI WIJAYAKUSUMA CAKTI

JALA : Air, Lautan
BHUMI : Tanah, Daratan
WIJAYAKUSUMA : Bunga Kejayaan
CAKTI : Ilmu Tertinggi

Artinya adalah :
"Kemampuan membudidayakan bumi, laut, air untuk kemakmuran"

sejak 1986 Kabupaten Cilacap telah memilik lagu sesanti berjudul Cilacap Bercahaya, ciptaan Sumardi HS, lirik ditulis oleh mantan Bupati Cilacap, HM Supardi.
Sesanti
CILACAP BERCAHAYA
Bersih Elok Rapi Ceria Hijau Aman Jaya

WEbsite Resmi : Cilacap
KEN AROK - EMPU GANDRING-8

KEN AROK - EMPU GANDRING-8

07:25 0
KEN AROK - EMPU GANDRING-8
Kakek itu menarik napas panjang. "Tidak keliru, Joko Handoko. Eyangmu Empu Gandring adalah seorang empu yang sukar dicari tandingannya di jagat raya ini dalam keahliannya membuat keris pusaka.

Karena aku sendiri merasa tidak ada se-kuku hitamnya dibandingkan dengan dia dalam hal pembuatan keris, maka aku mencoba untuk mengimbangi keampuhan keris yang telah diberikan kepada ibumu untuk kelak menjadi milikmu itu dengan sebuah jurus yang kuberi nama Nogopasung."
Tentu saja Joko Hamdoko merasa gembira bukan main.
"Wah, pantas sekali begitu sukar kiranya menguasai jurus ini. Eyang. Kiranya Eyang sengaja membuatkan untuk saya."
"Selama hampir setahun aku mutih (makan nasi dan air putih saja), baru berhasil. Dan engkau pun baru berlatih selama tiga bulan. Sedikitnya setahun baru engkau akan mampu menguasai jurus ini. Itupun harus kau lakukan dengan jalan mutih dan juga berpuasa sepekan sekali."
"Hal itu sudah kutaati dan saya lakukan sejak mempelajarinya, Eyang. Akan tetapi hasilnya ternyata menurut Eyang masih kurang memuaskan."
"Jurus itu dapat dimainkan dengan tangan kosong sebagai pengganti keris, juga tentu saja amat tepat kalau dimainkan dengan menggunakan keris, terutama keris Kyai Nogopasung sendiri. Belajarlah dengan giat, latihlah jurus itu dengan tekun dan perkuat batinmu. Perbanyak samadhi menghimpun tenaga batinmu, kurangi makan dan tidur."
"Baik, Eyang, akan saya taati perintah Eyang. Akan tetapi Eyang, kalau boleh saya memohon....."
Kakek itu memandangnya dengan tersenyum. "Apakah yang kau inginkan, Cucuku?"
"Saya masih penasaran karena selama tiga bulan ini saya sudah berlatih dengan sekuat tenaga. Kalau sampai sekarang masih belum baik hasilnya, lalu sampai yang bagaimanakah baiknya, Eyang. Sudilah Eyang memperlihatkan kepada saya jurus itu sampai pada puncak kesempurnaannya?"
"Heh-heh-heh, orang muda selalu memang ingin tahu. Akan tetapi memang demikianlah seharusnya.Kalau orang muda tidak memiliki keinginan tahu yang besar untuk mengerti segala hal di dunia ini, maka hidupnya seperti mandeg dan dia seperti sudah mati sebelum hayat meninggalkan badan. Hanya, kau nakal sekali, aku yang sudah setua ini masih disuruh menjual lagak! Ha-ha-ha!"
"Tapi, Eyang. Yang melihat hanya saya sendiri, tidak ada orang lain lagi, mana bisa dibilang menjual lagak?"
"Nah, nah, di sini letak kekuranganmu, cucuku. Jangan terlalu membiarkan dirimu terseret oleh suat arus yang menyita seluruh kewaspadaanmu sehingga engkau tidak melihat datangnya dua orang menuju ke sini." Kakek itu memandang arah kiri dan Joko Handoko juga memandang.
"Ibuuuu.......!" serunya, akan tetapi seruan yang disertai wajah gembira itu tiba-tiba saja ditahannya ketika dia melihat bahwa ibunya tidak datang sendirian, melainkan bersama seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, seorang pria yang dalam usia setengah tua itu masih nampak gagah dan tampan, dengan pakaian sebagai seorang priyayi, dengan sikap yang ramah dan senyumnya selalu menghias wajahnya yang tampan.
"Ah, Raden Pringgoloyo, sudah lamakah Raden mengunjungi padepokan kami yang sederhana ini?
Baik-baik sajakah keadaan Raden?"
Pria yang bernama Raden Pringgoloyo itu tersenyum, melirik ke arah Dyah Kanti lalu menoleh kepada Joko Handoko yang masih berdiri dengan kepala menunduk.

"Terima kasih Paman, dengan berkah dan doa restu paman panembahan, saya berada dalam keadaan selamat dan semoga paman sudi menerima sembah bakti saya. Paman selalu menyebut padepokan ini sederhana, buruk dan sebagainya, padahal yang saya kunjungi bukanlah padepokannya, melainkan orangnya,Paman. Saya baru saja tiba dankebetulan bertemu Diajeng Kanti di luar pintu padepokan." Lalu dia menoleh kepada Joko Handoko.
"Wah, keringatmu masih membasahi tubuh. Agaknya engkau baru saja berlatih. Sudah memperoleh kemajuan pesat, anakku Handoko?"
Makin sebal rasa hati Handoko mendengar sebutan "anak", mengingatkan bahwa orang ini akan menjadi ayah tirinya. Ibunya sudah mengambil keputusannya untuk menerima pinangan Raden Pringgoloyo ini,menjadi istri ke dua, dan kakeknya juga sudah menyetujuinya! Akan tetapi dia sendiri, yang tidak pernah
ditanya pendapatnya, diam-diam merasa iri dan tidak senang. Bagaimana ibunya, seorang yang begitu lama menjanda, kini tiba-tiba saja ingin kawin lagi, dan menjadi istri ke dua?

Akan tetapi karena ditanya, dan karena dia sejak muda sekali sudah diajar sopan santun oleh eyangnya,lalu menjawab, "Lumayan saja, Paman."
"Tidak seperti biasanya, Raden berkunjung begini pagi, biasanya di waktu senja. Apakah hanya akan anjang sono ataukah ada keperluan lain, Raden?" tanya Panembahan Pronosidhi dengan suaranya yang selalu halus dan sabar.
"Pertama untuk beranjang sono, dan kedua kalinya juga ada keperluan, paman panembahan. Saya datang untuk memohon persetujuan paman agar diperkenankan mangajak diajeng Dyah Kanti kekadipaten hari ini karena saya akan memeperkenalkan kepada keluarga saya, sebelum pernikahan dilangsungkan dengan resmi."
Wajah kakek itu nampak berseri. "Ah, suatu tindakan yang bijaksana sekali,raden. Akan tetapi perjalanan dari sini ke kadipaten bukan dekat."
"Kami mau naik kuda, Ayah," kata Dyah Kanti cepat. Ia adalah seorang keturunan pendekar sakti,biarpun wanita, ia memiliki kesaktian dan juga kesigapan. Menunggang kuda bukan merupakan hal yang sukar atau asing baginya.
"Jadi kau telah membawa dua ekor kuda, Raden? Baiklah, hati-hati di jalan dan jangan terlalu malam pulangnya nanti."
Dyah Kanti lalu menghampiri Joko Handoko dan mengelus kepala anaknya.

"Handoko, ibu mau pergi dulu ke kadipaten. Engkau minta dibawakan oleh-oleh apakah, anakku?"
"Kalau ibu hendak pergi, pergilah saja, aku tidak ingin dibawakan apa-apa Ibu. Terima kasih," kata Joko Handoko dan dia pun mulai bersilat lagi untuk latihan tanpa memperdulikan ibunya dan calon ayahnya itu.
Ibunya saling pandang dengan calon suaminya, lalu tersenyum masam dan berpamit dari ayahnya. Tak lama kemudian terdengar derap kaki dua ekor kuda yang membalap keluar dari padepokan, menuruniLereng Gunung Anjasmoro menuju Kadipaten Wonoselo, di mana Raden Pringgoloyo adalah keponakan
dari adipati di Wonoselo.

Setelah derap kaki kuda itu tidak terdengar lagi, barulah Panembahan
Pronosidhi menegur cucunya.

"Joko Handoko, hentikan latihanmu. Eyang mau bicara denganmu sebentar."
Pemuda itu menghentikan silatnya dan duduk bersimpuh di atas rumput, di depan batu hitam. "Ada perintah apakah, Eyang?"
"Aku ingin bicara denganmu tentang ibumu, Cucuku!"

Bersambung KEN AROK - EMPU GANDRING-9
KEN AROK - EMPU GANDRING-7

KEN AROK - EMPU GANDRING-7

08:23 0
KEN AROK - EMPU GANDRING-7
Ken Arok yang melarikan diri itu sampai ke Dusun Kapundungan. Hari sudah siang ketika memasuki dusun itu dan di sebuah tegalan yang sunyi dia melihat sebuah perkelahian. Seorang pemuda remaja sedang dikeroyok olah enam pemuda lain, bahkan di antara para pengeroyok itu ada yang sudah besar dan dewasa.
Akan tetapi anak yang bertubuh tinggi kurus itu melakukan perlawanan dengan gigih.Pakaiannya sudah robek-robek dan tubuhnya sudah babak-belur, akan tetapi dia masih terus melawan pengeroyokan enam orang itu.
“Tangkap dia!”
“Hantam saja pencuri itu!”
“Mentang-mentang anak pinisepuh desa mau main curi milik orang saja!”
Biarpun Ken Arok mendengar ucapan-ucapan itu yang menyatakan bahwa anak yang sedang dikeroyok itu agaknya mencuri sesuatu, namun jiwa keadilannya memberontak melihat seorang anak dikeroyok begitu banyak orang. Apalagi kalau hanya mencuri, dia sendiri pernah melakukannya karena dia pun anak pencuri!
Maka timbul jiwa setia kawan dan tanpa banyak cakap lagi Ken Arok terjun ke
gelanggang perkelahian iu membela anak tinggi kurus.
Semua anak yang mengeroyok tidak mengenal Ken Arok, akan tetapi Ken Arok yang tadi sudah memungut sepotong kayu dan kini mengamuk, mengejutkan dan membuat mereka gentar karena diantara mereka ada yang terkena pukulan di kepalanya sampai benjol-benjol dan larilah mereka berhamburan meninggalkan Ken Arok dan anak yang tadi dikeroyok.

“Terima kasih, Kawan,” Kata anak tinggi kurus itu sambil tersenyum.
Ken Arok merasa semakin suka. Anak ini tabah sekali, pikirnya. Sudah pakaiannya robek-robek,badannya babak belur, hidungnya dan bibirnya berdarah, masih dapat tersenyum dan berterima kasih padanya.

“Tidak mengapa sobat. Sebetulnya kau mencuri apa sih sampai mereka itu begitu marah mengeroyokmu?”
Wajah pemuda kurus itu berubah agak khawatir dan sampai lama dia tidak menjawab, hanya memandang wajah Ken Arok penuh selidik. Melihat ini, Ken Arok tertawa.
“Jangan khawatir, aku pun kadang-kadang mencuri kalau terpaksa dan kalau kelaparan.”
Wajah pemuda itu nampak lega dan tersenyum kembali. “Aku tidak kelaparan dan keluargaku cukup mampu. Ketahuilah bahwa ayahku adalah Ki Ageng Sagenggeng, buyut (ketua dusun) di Sagenggeng.”
Ken Arok membelalakkan matanya. “Wah ini baru namanya aneh sekali! Anak seorang buyut kok nyolong! Apa sih yang kau curi?”
“Aku mencuri bukan karena kelaparan akan tetapi karena tidak dapat manahan keinginan mulutku. Aku mencuri ini......!” Dia lalu lari ke balik semak dan keluar kembali membawa sebuah paha kambing yang
sudah dikuliti, paha yang gemuk bergajih.

“Ha-ha-ha!” Ken Arok tertawa bergelak.
“Aku setuju seratus persen kau mencurinya. Baru melihatnya saja sudah keluar air liurku. Mari kita cepat panggang dan makan bersama, sobat baik!”
Keduanya tertawa cekikikan dan segera membuat api unggun dan memanggang paha kambing itu lalu makan bersama tanpa banyak cakap lagi. Setelah merasa puas, kenyang dan paha itu tinggal tulangnya saja, barulah ia bertanya, “Sobat yang gagah, siapakah engkau?”

“Namaku Ken Arok.”
“Dan namaku Tito, panjangnya Panji Tito.”
“Namamu gagah seperti orangnya. Kau berani menghadapi pengeroyokan enam orang tanpa lari,sungguh gagah sekali.”
“Kau lebih gagah lagi. Setelah kau mengamuk dengan kayu itu, tikus-tikus itu lari tunggang langgang,ha-ha-ha,” Panji Tito tertawa girang lalu disambungnya,
“Eh, Ken Arok, engkau dari mana dan hendak ke manakah? Di mana rumahmu?”
“Rumahku?” Ken Arok membentangkan kedua tangannya sambil berdiri tegak dengan kedua kaki terentang. “Semua inilah rumahku, lihat, langit itu atapku. T anah ini lantai rumahku, pohon-pohon dangunung-gunung itu dinding rumahku!”
Panji Tito tertawa geli. “Wah, katakan saja engkau ini seorang gelandangan yang tak mempunyai rumah.
Eh, Ken Arok, kalau begitu, mari ikut saja dengan aku. Akan kuhadapkan kau kepada ayahku dan akan kuminta agar dia suka menerimamu.”

Tentu saja ini sangat menyenangkan hati Ken Arok dan berangkatlah kedua orang pemuda itu menuju kerumah Panji Tito di Dusun Sagenggeng, sebuah dusun yang agak jauh juga dari tempat itu.
Ki Ageng Sahoyo, yaitu pinisepuh Dusun Sagenggeng menerima Ken Arok dengan senang hati.
Anaknya, Panji Tito, dikabarkan nakal di luaran maka ia mengharap agar Ken Arok, pemuda yang nampaknya pendiam dan cerdik itu, akan dapat menemaninya dan membawanya menjadi seorang anak yang baik. Sama sekali dia tidak menduga bahwa Ken Arok adalah anak seorang pencuri, bahkan
seorang penjudi besar! Dia seolah-olah memasukkan seekor harimau untuk menghajar seekor kucing!

Di Dusun Sagenggeng itu terdapat seorang pendeta yang berjuluk Begawan Jumantoko seorang kakek yang usianya sudahlimapuluh tahun lebih dan terkenal sebagai seorang ahli sastra, juga ahli pencak silat yang sakti mandraguna.
Bagawan ini hanya mempunyai sebuah cacat saja, yaitu dia suka sekali kepada
wanita yang cantik sehingga sudah terkenallah kalau ada wanita yang cantik berguru kepadanya tentu wanita itu akan digodanya dan akhirnya, berkat kepandaiannya dan kesaktiannya, wanita itu menjadi kekasihnya.

Di padepokannya yang luas itu entah tedapat berapa wanita-wanita muda yang menjadi murid, juga pelayan, juga kekasihnya! Namun karena pendeta itu memang pandai dan suka menolong orang, wanita-wanita itu dengan rela menyerahkan diri kepada pendeta itu, bukan karena paksaan.
Begawan Jumantoko ini memang bukan sembarangan orang. Dia masih terhitung kadang (saudara seperguruan) dari Panembahan Pronosidi yang bertapa di Lereng Gunung Anjasmoro, dan sungguh pun dalam hal ilmu kanuragan dan kesaktian dia belum dapat menandingi kakak seperguruannya itu, namun dalam hal sastra dia jauh lebih menang.
Setelah Ken Arok menjadi anak angkat Ki Ageng Sahono, pinisepuh Dusun Sagenggeng, Ki Ageng Sahono lalu membujuk puteranya untuk suka menjadi murid dan mengabdi kepada Begawan Jumantoko.
Sudah berkali-kali dia membujuk tapi anak itu tidak suka berguru kepada kakek yang gila peerempuan itu. Akan tetapi setelah kini Ken Arok menemaninya, akhirnya Panji Tito mau juga menerima bujukan itu.
Ken Arok sendiri merasa gembira bukan main ketika diajak pergi berguru. Dia memang ingin memperlihatkan bahwa dia sesungguhnya keturunan Sang Hyang Brahma, pandai dan sakti, tidak kalah oleh orang lain!

Demikanlah, mulai hari itu, mereka berdua diterima menjadi murid dan atau cantrik dari Begawan Jumantoko yang tentu saja merasa girang memperoleh bantuan tenaga dua orang pemuda yang akan meringankan pekerjaan para pelayan atau muridnya. Dan di tempat inilah, berbeda dengan Panji Tito
yang tidak suka berdekatan dengan wanita genit, Ken Arok menjadi semakin dewasa dan cepat matang berkat asuhan dan bimbingan para murid perempuan yang cantik-cantik dan genit-genit itu.!

****
"Angger, Joko Handoko, bukan begitu caraya melakukan jurus itu. Masih kurang "isi", karena yang kau mainkan itu hanya kulitnya saja, hanya nampak indah namun tanpa memiliki daya serang yang besar.
Lihat pohon di depanmu itu hanya bergoyang daunnya saja."

Ucapan itu keluar dari mulut Panembahan Pronosidhi yang duduk bersila di atas batu hitam, sedangkan di depannya, seorang pemuda yang berkulit kuning putih dan berwajah tampan sedang memperlihatkan latihan ilmu pencak silat. Sejak tadi, panembahan itu hanya menonton saja, kadang-kadang mengangguk-angguk karena cucunya ini ternyata telah mampu mewarisi hampir seluruh ilmu pencak silat yang diajarkannya semenjak anak itu masih kecil sekali.
Joko Handoko adalah cucunya, putera dari anak perempuannya, Dyah Kanti. Seperti yang kita ketahui, ayah anak ini adalah mendiang Ginantoko yang tewas ketika anak itu masih dalam kandungan ibunya. Oleh Panembahan Pronosidhi, Dyah Kanti yang menjadi janda itu diajak pulang ke padepokannya di lereng Pegunungan Anjasmoro.
Setelah anak itu terlahir, oleh kakeknya diberi nama Joko Handoko dan anak ini memang tampan sekali, seperti mendiang ayahnya.
Karena menerima gemblengan dari kakeknya sendiri penuh kasih sayang, apalagi karena memang Joko Handoko memiliki bakat yang amat baik, maka setelah kini berusia delapan belas tahun, Joko Handoko telah menjadi seorang pemuda yang sakti mandraguna, bukan hanya pandai memainkan jurus-jurus ampuh dari pencak silat aliran Hati Putih dari kakeknya, akan tetapi juga memiliki kekuatan sakti didalam tubuhnya berkat latihan semadhi dan bertapa.

Akan tetapi diam-diam dia merasa penasaran karena hanya mendengar bahwa ayahnya telah meninggal dunia ketikia dia masih dalam kandungan tanpa
diketahuinya apa sebab kematiannya karena baik ibunya maupun kakeknya tidak pernah bercerita tentang kematian ayahnya itu.

"Eyang Panembahan, jurus yang paling akhir Eyang berikan kepada saya ini memang sukar bukan main,"
Pemuda itu mengakhiri gerakan silatnya dan menyeka keringat yang membasahi leher, dada dan mukanya.
Sang panembahan tersenyum dan mengelus jenggotnya yang sudah putih semua walaupun usianya baru enam puluh tahun. Ketika dia tersenyum, nampak bahwa giginya masih utuh dan putih bersih, tanda bahwa panembahan ini menjaga baik-baik kesehatan tubuhnya.

"Angger, cucuku, jangan merasa heran kalau jurus itu tidak mudah, karena jurus itu, walaupun pada dasarnya masih bersumber kepada aliran Hati Putih, yaitu aliran silat kita, akan tetapi jurus itu adalah ciptaanku sendiri yang kuberi nama Jurus Nogopasung!"
"Nogopasung......." Pemuda itu terperanjat. "Eyang, bukankah Nogopasung itu nama keris pusaka milik ibu yang katanya merupakan peninggalan dari ayah, dan ciptaan atau tempaan dari Eyang Empu Gandring?"

BERSAMBUNG - KEN AROK - EMPU GANDRING 8.