Showing posts with label TEMPAT. Show all posts
Showing posts with label TEMPAT. Show all posts
Sejarah Bedug Agung Pendowo Purworejo

Sejarah Bedug Agung Pendowo Purworejo

22:32 0
Sejarah Bedug Agung Pendowo Purworejo
Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo memiliki peninggalan-peninggalan kuno yang sangat berharga, dan merupakan satu-satunya di Indonesia yaitu berupa Bedug.
Raden Adipati Cokronagoro pertama berkeinginan untuk melengkapi semua perlengkapan Masjid Agung Purworejo ini. Demikian pula beliau menghendaki sebuah Bedug yang akan dipakai sebagai pertanda telah masukknya saat Sholat Fardhu ( Wajib ) juga dapat dipakai untuk menandai segala kegiatan ibadah Umat Islam serta kenegaraan waktu itu.
Maka keinginan Raden Adipati ini diutarakanlah kepada para Suntono Kadipaten beserta para ‘Ulama’ Kadipaten Purworejo. kayu Jati Bang, yang batangya telah dipakai untuk membuat Soko Guru Masjid Agung serta Pendhopo Kadipaten, tinggal sisanya yang disebut Bongkot ( pangkal ). Bongkotnya kayu jati itu cukup besar, berdiameter hampir 2,50 meter.
Raden Adipati Cokronagoro sangat setuju untuk memanfaatkan bongkot kayu jati Bang tersebut dan memerintahkan kepada adindanya Raden Tumenggung Prawironagoro Wedana Bragolan untuk mengurusnya. Dengan dipimpin oleh Raden Tumenggung Prawironagoro, pembuatan Bedung Agung itu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dengan trampilnya para tukang kayu mengerjakan Bedug besar itu, digergaji dan dilubanginya bongkot kayu jati tersebut. Setelah dilubangi dan dihaluskan maka tinggallah ukuran yang sesungguhnya, yaitu diameter ( garis tengah ) 194 sentimeter pada bagian depan dan bagian belakang 180 sentimeter.
Dapat dibayangkan saat pembuatan lubang pada bongkot kayu jati tersebut, tentunya sangatlah sukar, karena kayunya sangat keras. Bahkan ada perkiraan dalam melubangi kayu itu dilakukan dengan membuat bara didalam kayu itu sendiri, sehingga akan terjadi lubang, kemudian dilanjutkan dengan dicungkil sedikit demi sedikit sampai akhirnya terbentuk lubang yang sangat bagus.
Tetapi dapat pula dilakukan pencungkilan mulai dari saat awal secara sedikit demi sedikit sampai pada akhirnya membentuk lubang yang diinginkan.

Yang jelas dalam proses pembuatan bedug itu sendiri, dilaksanakan dengan hati-hati dan permohonan kepada Allah SWT. Agar kelak Bedug yang terbentuk dapat bermanfaat dan berfungsi dengan baik.
Pada akhirnya pekerjaan yang cukup sulit itu selesai jugalah dikerjakan orang dengan ukuran sebagai berikut :
Garis tengah bagian depan = 194 cm
Garis tengah bagian belakang = 180 cm
Keliling lingkaran depan = 601 cm
Keliling lingkaran belakang = 564 cm
Panjang rata-rata = 292 cm

Bahan dari kayu Jati Bang bagian pangkalnya ( bongkot nya ) sisa kayu jati Pendowo, tidak terdapat sambungan, jadi utuh satu glundung. Kemudian Wedana Bragolan yang mendapat tugas memimpin pengerjaan bedug itu, yaitu Raden Tumenggung Prawironagoro, menghadap (sowan ) Kanjeng Raden Adipati Cokronagoro I untuk melaporkan, bahwa pembuatan Bedug Agung telah selesai dengan baik. Untuk selanjutnya tinggal menuggu perintah pengangkutannya ke kota Purworejo, yang jaraknya dari Dukuh Pendowo sampai ke kota Purworejo adalah 9 kilometer.
Mengingat pada masa itu jarak 9 kilometer adalah cukup jauh, apalagi jalannya belumlah seperti pada masa kini yang sudah beraspal dan halus. Pada masa itu, jalan dari Purwodadi sampai ke kota Purworejo masih merupakan jalan tanah yang belum rata dan bilamana dimusim hujan akan berlumpur, sedangkan pada musim panas berdebu penuh batu. Dikiri kanannya masih tertutup hutan dan dapuran bambu yang cukup rapat, sedangkan rumah penduduk masih jarang sekali. Maka masalah pengankutan Bedug Agung itu akan menjadi masalah yang cukup besar dan rumit.
Setelah Bupati Raden Adipati Cokronagoro menerima laporan dari adindanya Wedana Raden Tumenggung Prawironagoro, bahwa Bedug Agung telah selesai dibuat dan siap untuk segera diangkut ke Purworejo. Untuk pengankutan Bedug Agung tidaklah mudah karena membutuhkan tenaga yang ahli karena keadaan Bedug yang sangat besar dan tempat dimana Bedug itu dibuat karena hutan jati tersebut merupakan tempat yang agak menakutkan, wingit kata orang Jawa.
Disamping itu diperlukan juga ketajaman pikir serta kebijakan orang yang akan memimpin pengangkutan Bedug tersebut dengan melalui jalan pada saat itu yang kondisinya jelek. Tentulah hanya orang yang mempunyai daya linuwih sajalah yang akan berhasil melaksanakan tugas berat itu
Pada masa itu menurut tradisi masyarakat Jawa, setiap pekerjaan atau tugas yang akan dilaksanakan, haruslah dipimpin oleh kaum kerabat dari yang mempuyai perintah tersebut ( ingkang yasa ), setelah kemudian ternyata tidak ada yang sanggup, maka diperkenankan untuk dicarikan penggantinya dari orang luar kerabat yang yasa itu.

Demikian pula dengan tugas berat ini, bahwa ternyata kerabat Cokronagoro itu tidak ada yang sanggup atau bersedia untuk melaksanakannya. Maka akhirnya terpaksa harus dipilihkan orang luar. Kemudian dengan agak takut-takut, Tumenggung Prawironagoro mencoba mengajukan usul untuk memilih orang luar kerabat Cokronagaran, tetapi yang masih ada kaitannya dengan kerabat Cokronagaran.
Beliau mencoba mengusulkan Putra Menantunya sendiri sebagai pengemban tugas besar itu, yaitu Kyai Muhammad Irsyad yang menikah dengan putrinya.
Kyai Muhammad Irsyad ini adalah seorang Kyai serta Kaum ( Labai) dari pondok pesantren Solotiang di wilayah Loano.

Kyai Irsyad ini mempunyai kelebihan dan kecerdasan pikirnya dibanding dengan orang-orang lainnya. Setelah disampaikan usulannya serta alasan-alasan pengajuan menantunya itu kepada kanjeng Adipati, maka dengan harap-harap cemas Raden Tumenggung Prawironagoro menanti jawaban dari Kanjeng Adipati.
Tetapi kemudian ternyata usulan tersebut dapat diterima oleh Kanjeng Raden Adipati Cokronagoro. Demikian pula pada saat itu para pembesar Kadipaten pun menyetujuinya. Mereka percaya bahwa Kyai Muhammad Irsyad akan mampu mengatasi pekerjaan besar tersebut.
Dengan demikian dalam bahasa Jawa dikatakanlah bahwa Kyai Muhammad Irsyad itu ” sinengkaake ing ngaluhur ( diangkat menjadi orang besar ) oleh Kanjeng Raden Adipati Cokronagoro I. Kemudian para ahli yang terpilih Kanjeng Adipati Cokronagoro berkenan melantik Kyai Muhammad Irsyad menjadi Pembesar yang akan mengepalai pekerjaan besar dan mulia itu.
Kayu jati bakal bedug diikat dengan kuat, beberapa ujung tali pengikat itu ditarik secara ramai-ramai. Bagian bawah dilandasi dengan kayu panjang bulat beberapa buah, agar dalam penarikan terasa ringan karena kayu bulat tadi akan berputar.
Kemudian muka bedug dipasang lagi kayu-kayu bulat yang lain, demikian seterunya hingga sampai ke pos pertama kemudian berhenti untuk istirahat. Sepanjang perjalanan para pekerja bersorak-sorak Rambatirata, gugur gunung dengan diiringi gendang, angklung, seruling, bende dan tabuhan lainnya, sehingga menambah semangat para pekerja tadi. Riuh rendahlah suara para pekerja para pekerja dan para penonton disepanjang perjalan itu.
Sesampainya di Braak atau pos pemberhentian, para penarik bedug pun berhentilah untuk beristirahat. Di braak itu telah disiapkan makanan dan minuman, perangkat tetabuhan gamelan beserta ledeknya. Penduduk sekitarnya menyambut rombongan pekerja penarik bedug Agung itu.
Disaat istirahat dengan lemah gemulai para ledek ( Tandak ) itupun menari diiringi irama gamelan. Sesekali diantar mereka turut menari, berjoget dengan para ledek tersebut menambah gembiranya suasana. Demikian keadaan di Braak saat itu, sampai pada akhirnya mereka terlelap tidur.
Begitulah setiap Braak dicapai setiap harinya, hingga sampai Braak terakhir terjangkau. Maka diperkirakan memakan waktu 20 hari perjalanan penarikan Bedug Ageng tersebut.
Demikianlah Pos demi pos dilalui selama kurang lebih 20 hari dengan penuh semangat serta perhatian dari penduduk sekitarnya,akhirnya sampailah di Kota Purworejo
Di Kota Purworejo telah disiapkan penyambutan oleh Kangjeng Raden Adipati Cokronagoro beserta pembesar-pembesar Kabupaten dan Ulama-ulama, demikian pula penduduk Kota Purworejo turut mengelu-elukannya.
Di depan Gapura Masjid Agung, para penyambut telah siap siaga menunggu kedatangan Beduk Ageng yang akan menjadi kebanggaan seluruh rakyat Purworejo nantinya. Tak berapa lama terdengarlah suara bunyi-bunyian riuh rendah , puput serunai, gendang dan angklung serta sorak sorai para penarik beduk dan penonton, bercampur menjadi satu, gegap gemita tidak karuan suaranya.

Para penyambut di depan gapura masjid, bergoyang dan bergumam seperti suara lebah mendengung, semua melihat kearah datangnya suara gemuruh riuh rendah itu. Tampaklah didepan sendiri para penari, pentulan dan jathilan menari-nari mengikuti bunyi-bunyian, diikuti oleh para penabuh dan akhirnya tampaklah Kiayi Muhammad Irsyad bersama para pengirimnya berjalan didepan para penarik Bedug Agung itu. Di belakang sendiri para penggembira dari desa-desa yang dilalui turut mengiringinya dengan membawa serta bunyi-bunyiannya sendiri-sendiri.
Sesampainya didepan gapura Masjid Agung, rombongan tersebut berhenti. Para penari, pentulan jathilan dan lain sebagainya, menyibak memberikan jalan untuk lalunya Kyai Muhammad Irsyad.
Setelah Kayu Jati yang diperuntukan bagi Bedug Agung itu sampai di masjid Agung Kota Purworejo, maka untuk selanjutnya akan disempurnakan sebagaimana halnya sebuah bedug, yaitu dipasang penutup Bedug dari kulit. Karena besarnya bedug itu, maka diperlukan kulit penutup yang besar pula kemudian dicarilah kulit yang besar dari hewan besar. Pada masa itu masih banyak terdapat banteng. Maka jatuhlah pada pilihan hewan ini. Setelah kulit banteng didapat, lalu dipanggilmya seorang yang ahli Pemangkis ( penutup ) bedug yang terkenal di Purworejo
Sebelum di tutup, didalam bedug itu dipasang semacam gong sejumlah 2 buah, dipasang behadapan dengan maksud, apabila bedug itu di tabuh, maka akan diteruskan pada kedua gong tadi getarannya. Diharapkan suaranya akan bertambah nyaring. Dalam istilah ilmu alamnya ( fisika ) hal itu disebut resonansi.
Bedug Agung yang telah selesai diberi penutup dari kulit banteng tersebut, digantung pada kerangka kayu jati dengan rantai besi. Kemudian diletakkan disebelah selatan dalam serambi Masjid Agung. Disampingnya diletakkan sebuah khenthongan kayu jati yang agak besar, sebagai pembantu irama bedug bila di tabuh.
Pada awalnya Bedug Ageng itu adalah ditabuh orang apabila telah tiba saatnya Sholat Wajib yang Lima. Jadi didalam waktu satu hari Bedug Agung di pukul dengan irama tertentu sebanyak lima ( 5 ) kali. Pada masa itu pepohonan masih cukup rapat, dan udara tidak begitu kotor, suara bising dan hiruk pikuk tidak ada, maka suara serta gema dari bunyi Bedug Agung sangat keras terdengar.
Maka dimintalah lembu Ongale tadi untuk memenuhi kebutuhan Bedug Agung. Tentu saja pemiliknya tidak merasa keberatan untuk memberikannya. Akhirnya disembelih dan dikulitilah lembu itu serta disamak dengan baik agar diperoleh bahan penutup bedug yang kuat dan awet. Pada tanggal 13 Mei 1936, dipasanglah kulit lembu Ongale itu sebagai ganti kulit penutup Bedug Agung yang rusak tadi.
Penggantian kulit Bedug Agung yang terakhir ini, adalah pada bulan Mei tanggal 3 tahun 1993 Masehi. Yang diganti ialah kulit penutup bagian belakang, adapun penggatinya hanya kulit sapi biasa yang cukup besar pemberian seorang dermawan dari Cilacap. Anehnya bila kulit bedug sudah diberikan, maka dapat dipastikan beberapa saat kemusian salah satu bagian penutup itu terus rusak.Wallhu ’alam Bishshawab
Data - Data Bedug Ageng Pendowo – Kyai Bagelen
1Bahan Bedug : Bongkot (pangkal)pohon jati bang yang bercabang lima,yang berusia ratusan tahun
2Ukuran Bedug :
Panjang Badan Bedug : 292cm
Garis tengah depan : 194cm
Garis tengah belakang :180cm
Keliling bagian depan : 601cm
Keliling bagian belakang :564cm

3 Penutup Bedug Semula dari kulit Banteng .
1 Tangga l3Mei 1936 di ganti dengan kulit lembu Ongale
2 Bagian belakang diganti lagi dengan kulit sapi besar pada bulan Mei 1993
3 Paku penguat untuk penguat sekeliling kulit Penutup Bedug, diberikan paku keliling tersebut dari kayu jati
Jumlah paku keliling : Bagian depan = 112 buah
Bagian belakang = 98 buah

1. Waktu pembuatan diperkirakan antara tahun 1834 – 1840 Masehi
2. Dibuat atas perintah Kanjeng Raden Adipati Cokronagoro I , Bupati Purworejo pertama. Diangkut dari dukuh Pendowo, Bragolan, Purwodadi ke Masjid Agung Purworejo dengan pimpinan Kyai Haji Muhammad Irsyad, Kaum ( Na’ib ) desa Solotiang, Loano, Purworejo. Putra menantu Raden Tumenggung Prawironagoro Wedana Bragolan Purworejo
3. Bedung Agung ini akan dibunyikan pada hari-hari tertentu saja, tidak setiap hari seperti pada masa lampau, hal ini dilakukan untuk menghindari cepat rusaknya kulit penutup bedug itu sendiri, bila terlalu sering dipalu orang.
4. Hari-hari itu adalah, setiap hari Kamis, dimulai pada saat Shlolat Ashar, Sholat Maghrip, Isya’, Sholat Subuh dan menjelang Sholat Jum’at. Setelah itu berhenti. Lalu setiap menjelang Sholat Sunnat Hari Raya Fitrah ( Idul Fitri ) dan Qurban, pada saat detik-detik Proklamasi Tanggal 17 Agustus serta bila ada kejadian-kejadian penting lainnya. Selain hari-hari tersebut, Bedug Ageng ini tidak dibunyikan orang.
Orang yang bertugas untuk memukul Bedug Ageng ini ialah Bapak Amat Sa’bani, Bp. Jahri dan pada bila hari raya adalah Turmudi.
Diposkan oleh PSBG DIRGANTARA PURWOREJO
BERDIRINYA PURA MANGKUNEGARAN

BERDIRINYA PURA MANGKUNEGARAN

20:10 0
Berdirinya “Pura Mangkunegaran”.
PERJANJIAN SALATIGA 17 Maret 1745

Karena merasakan tindakan kompeni yang sewenang-wenang terhadap rakyat Kerajaan Mataram di Kartasura, maka pada tahun 1741 RM. Said meninggalkan Keraton Kartasura menuju Desa Nglaroh untuk menyusun pemberontakan melawan Belanda.
RM. Said yang berganti nama menjadi RM. Suryakusuma mulai membangun perlawanan di Desa Nglaroh dengan bermodalkan pasukan permulaan yang berjumlah 40.orang. Pada awal perjuangannya, RM. Suryakusuma bergabung dengan RM. Garendi atau yang terkenal dengan Sunan Kuning bersama Laskar Cina di bawah pimpinan Kapitan Sepanjang. Pada tahun 1743, RM. Garendi tertawan oleh Belanda di Surabaya dan di buang ke Afrika Selatan. Pasukan dapat di tumpas oleh Belanda sedangkan Kapitan Sepanjang hilang dalam pengejaran.
Tahap berikutnya, RM. Said bergabung dengan Pangeran Mangkubumi yang kelak menjadi Sultan dengan gelar Sultan Mangkubumi I. RM. Said yang juga terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyawa akhirnya memisahkan diri dari Pangeran Mangkubumi dan memimpin pasukannya sendiri melanjutkan perjuangannya melawan Kompeni Belanda.
Pangeran Mangkubumi pada th 1755 melakukan perundingan dengan pihak Belanda di Giyanti. Perjanjian tersebut menghasilkan kesepakatan yang antara lain memberi hak pada sang Pangeran untuk memerintah sebagian dari wilayah Kartasura ,dan oleh beliau kerajaan yang baru ini di namakan Ngayogjakarta Hadiningrat yang populer di sebut sebagai Yogyakarta, sedang rajanya bergelar Sultan Hamengkubuwono I.
Di saat RM. Said atau Pangeran Samber Nyawa mulai melakukan perlawanannya, Kerajaan Mataram yang berpusat di Kartasura diperintah oleh Pakubuwono II. Namun, sejak Keraton Kartasura dapat di rebut oleh RM. Garendi beserta laskar Cina pada tahun 1742, ibukota kerajaan pindah ke Surakarta. RM. Garendi beserta laskar Cinanya dapat di usir oleh Belanda setelah menduduki Keraton Kartasura selama 9 bulan. Pangeran Samber Nyawa tetap melanjutkan perjuangannya mulai dari daerah Kabupaten Sukoharjo, ke daerah Klaten,Wonogiri, Madiun, Karanganyar dan Sragen. Pakubuwono II wafat dan digantikan putranya yang bergelar Pakubuwono III dan berkedudukan di Surakarta. Raja baru ini mempunyai kebijaksanaan yang agak berbeda dengan pendahulunya. Beliau ingin mengakhiri pemberontakan Pangeran Samber Nyawa dengan melalui perundingan. Pemikiran demikian timbul antara lain karena saran dari Kompeni yang sudah kewalahan menghadapi Pangeran Samber Nyawa.
Sinuhun Pakubuwono III di paroh akhir tahun 1756 menulis surat kepada Pangeran Samber Nyawa agar kembali ke Surakarta untuk membantu beliau menjalankan pemerintahan, adapun mengenai hal-hal yang berkaitan dengan wilayah pemerintahan dan kedudukan Pangeran Sambernyawa dapat dirundingkan kelak. Akhirnya pada hari Kamis Pahing tanggal 4 Jumadilakir, tahun 1682 (M.1756), Pakubuwono III menjemput Pangeran Sambernyawa di Desa Tunggon untuk di ajak kembali ke Surakarta.
Pada awal tahun 1757, Gubernur Jenderal Belanda di Batavia menulis surat kepada Pakubuwono III di Surakarta, Sultan Hamengkubuwono I diYogyakarta ,dan RM. Said atau Pangeran Sambernyawa. Surat tersebut berisi undangan agar ketiganya bertemu di Salatiga untuk mengadakan perundingan.
Pada tanggal 17 Maret 1757 di dusun Kalicacing, Salatiga, perundingan tersebut dapat terlaksana. Menurut buku Babad KGPAA.Mangkunegara I,susunan formasi para peserta perundingan adalah sebagai berikut : Nicholas Harting sebagai wakil dari Gubernur Jenderal Belanda, yang dalam hal ini bertindak sebagai fasilitator duduk di tengah, di apit oleh Pakubuwono III, disebelah kanan dan Hamengkubuwono I dikirinya. Di hadapan mereka duduk Pangeran Sambernyawa. Perundingan ini disaksikan oleh kepala perwakilan VOC dan kedua patih, baik dari Surakarta maupun Yogyakarta, yaitu Mangkupraja dan Suryanegara.
Perundingan tersebut menghasilkan kesepakatan sebagai berikut :

Pangeran Sambernyawa di angkat sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati Mangkunegara I
Beliau berhak menguasai tanah seluas 4000 karya, serta semua daerah yang pernah dilewati selama mengadakan pemberontakan dan menjalankan roda pemerintahannya.
Beliau berhak mendirikan sebuah istana atau Puro sebagai pusat pemerintahannya di Surakarta, tetapi dengan syarat :
Dilarang membuat singgasana
Dilarang membuat alun-alun dengan beringin kurung
Dilarang membuat “Siti Inggil” dan balaiurung
Dilarang menjatuhkan hukuman mati

Istana dan Praja Mangkunegaran selanjutnya di kenal dengan nama “Pura Mangkunegaran”. Kesepakatan tersebut di atas di kenal dengan nama “Perjanjian Salatiga” DENGAN DEMIKIAN PADA TG 17 MARET 2007, USIA PURA MANGKUNEGARAN MENCAPAI GENAP 250 TAHUN.
Pemerintah Indonesia sangat menghargai jasa Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegara I sebagai pejuang kemerdekaan nasional. Hal itu terbukti dengan pengangkatan beliau sebagai pahlawan kemerdekaan nasional seperti yang
tertuang dalam keputusan Presiden RI. No. 048/TK tahun 1988, tanggal 17 Agustus 1988.
Setelah Mangkunegara I wafat, beliau digantikan oleh Mangkunegara II dan seterusnya, hingga saat ini yang menjabat sebagai pimpinan Pura Mangkunegaran adalah Sri Paduka Mangkunegara IX.
Sejak pemerintahan Mangkunegara I hingga Mangkunegara IX, Pura Mangkunegaran telah memberikan sumbangan yang besar bagi bangsa dan kebesaran nama Indonesia.
Karya-karya tari dan sastra, serta berbagai ragam seni budaya bermutu tinggi banyak yang lahir dari lingkungan Mangkunegaran. Peranan Pura Mangkunegaran di bidang pendidikan menghasilkan tokoh-tokoh nasional, serta putera bangsa yang berbobot.
Dalam perjuangan kemerdekaan nasional, banyak kerabat Mangkunegaran yang langsung terlibat dalam perjuangan fisik maupun non fisik.
Sebagai ungkapan terima kasih kepada mereka semua, serta untuk memupuk rasa persatuan dan kebangsaan yang akhir-akhir ini dirasakan agak pudar, maka seluruh jajaran Pura Mangkunegaran mengajak masyarakat luas untuk bersama-sama berpartisipasi merayakan “250 tahun Pura Mangkunegaran”. Dalam rangka mereaktualisasi Budaya Mangkunegaran, maka panitya mempunyai rencana untuk mengadakan Pagelaran-pagelaran , seminar-seminar, pameran-pameran, dan kegiatan lainnya.
Dengan memohon Ridho Allah SWT., Tuhan Yang Maha Pengasih, Peringatan “250 tahun Pura Mangkunegaran”, akan dimulai dengan acara selamatan di Kalicacing, Salatiga pada tanggal 17 Maret 2007, dan disusul dengan kegiatan2 lainnya yg akan berlangsung sepanjang tahun 2007

"Pahlawan Nasional RM Said berjuang melawan penjajah bersama para Ulama, Pendekar, laskar Tionghoa dan prajurit wanita"
PANGERAN SAMBERNYAWA
Masalah tersebut, maka RM. Said atau Pangeran Sambernyawa, karena menyaksikan penderitaan rakyat Mataram akibat penindasan Kompeni, beliau memilih keluar dari Istana Kartasura dan membangun perlawanan terhadap VOC. Kompeni merasa kewalahan dan mengajak berdamai, tetapi selalu ditolak oleh Pangeran Sambernyawa. Namun setelah Paku Buwono III meminta beliau pulang ke Surakarta dengan maksud agar beliau membantu Sinuhun PB.III didalam mengendalikan Kerajaan Mataram, Pangeran Sambernyawa menerima ajakan tersebut dan selanjutnya bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Ario Adipati Mangkunegara, Menurut Babad Panambangan, pada saat PB.III menjemput RM.Said dari medan perang, beliau berkata bahwa segala sesuatu yang menyangkut kedudukan KGPAA. Mangkunegara akan dibicarakan di kemudian hari. Sebagai realisasi penyelesaian, maka diadakanlah perundingan di Desa Kalicacing Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757.
Pada dasarnya perundingan yang diadakan adalah perundingan antara RM.Said dengan PB.III. Namun, karena sejak Perjanjian Giyanti Tahun 1755 wilayah Kerajaan Mataram sudah terbagi menjadi dua kerajaan, yaitu Surakarta dan Yogyakarta, maka dalam perundingan tersebut, diikuti juga perwakilan dari Keraton Yogyakarta dan Perwakilan dari VOC yang bertindak sebagai saksi. Perundingan ini menghasilkan suatu perjanjian yang dikenal dengan nama PERJANJIAN SALATIGA. Sejak itu maka secara defacto dan dejure terbentuklah PRAJA MANGKUNEGARAN
BARISAN ULAMA
“Subhanullah Subhanullah Subhanullah Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar”. Kalimat ini senantiasa dikumandangkankan oleh Pangeran Sambernyawa dimanapun beliau berada. RM.Said mengangkat senjata bukan karena ingin menjadi raja, tetapi karena didorong oleh cita-cita luhur untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Mulat sariro hangrasa wani, melalui introspeksi diri yang terus menerus, maka akan menimbulkan keberanian untuk bertindak demi keadilan dan kebenaran. Bagi beliau, menjaga kebersihan batin adalah merupakan hal yang mutlak yang harus dilakukan dalam hidup ini. Para Kyai dan ulama tanpa ragu mendukung perjuangan beliau. Kyai Penambangan selalu berada disamping beliau dalam suka dan duka. Raden Penghulu, pimpinan ulama dari Bayat gugur ditembus peluru Belanda di saat bertempur bersama RM.Said. Pangeran Sambernyawa merupakan sosok pribadi yang tabah dan pemberani, tetapi penuh dengan welas asih.
BARISAN PRAJURIT WANITA
Ada ungkapan “witing klapa Jawata ing ngarsa pada, salugune wong wanita dasar nyata”. Wanita adalah bagaikan dewi yang turun ke bumi. Keberadaannya di dunia ini harus dihormati. Mereka diibaratkan sebagai pohon kelapa yang kokoh, tetapi luwes. Prinsip-prinsip inilah yang dipegang oleh Mangkunegara I dalam memperlakukan para wanita. Di saat dunia masih mempermasalahkan kesetaraan gender, beliau telah membentuk pasukan wanita yang bertempur dengan gagah berani disamping para pasukan pria. Pasukan ini dinamakannya “Ladrang Mangungkung”, yang berarti Pasukan yang mengepung musuh hingga tak berdaya dan itu telah terbukti di berbagai pertempuran melawan VOC.
PASUKAN PRIA
Rakyat Kerajaan Mataram adalah rakyat yang cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan. Hal ini terbukti sejak Sultan Agung Hanyakra Kusuma memimpin rakyatnya melawan penjajah. Semangat untuk melawan penindasan tersebut diwariskan kepada keturunan beliau yang bernama RM.Said. Para prajurit RM.Said bukanlah prajurit bayaran. Sebagian besar dari mereka adalah para petani, tukang penebang kayu, pemburu dan rakyat kecil lainnya. Mereka tergerak hatinya ketika mendengar pekik perjuangan yang dikumandangkan oleh RM.Said. Berjuang dan berjuang demi keadilan. Darah mereka tertumpah, dalam pertarungan demi pertarungan.
“Jer Basuki Mawa Bea, Rawe-Rawe rantas malang malang putung,
ojo nganggu gawe, marang kamardikan”.
"Semua tujuan harus ditebus melalui pengorbanan dan segala yang penghalang untuk tercapainya kemerdekaan, akan tersapu".
PRAJURIT TIONGHOA
Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, perjuangan melawan penindasan tidak mengenal sekat ethnis, suku dan agama. Pangeran Sambernyawa sangat memahami hal tersebut. Beliau berhasil mengajak seluruh masyarakat untuk “Hanebu Sa’uyun” Bersatu kokoh bagaikan seikat tebu melawan segala bentuk kejahatan. Sejarah mencatat bahwa seluruh rakyat Mataram termasuk ribuan etnis Tionghoa dibawah kepemimpinan Kapitan Sepanjang dan Tan Sin Ko alias Sinshe, bersatu padu, bahu membahu, bersama RM.Said dalam berjuang mengenyahkan penjajah dari bumi Nusantara. Darah para pejuang laskar Tionghoa ini tumpah menggenangi bumi pertiwi, menyatu dengan darah saudara-saudaranya dari suku Jawa. Darah yang telah tergenang berbaur tanpa dapat dibedakan lagi, apakah itu darah Tionghoa atau darah Jawa.
W A R O K
Pada saat RM.Said tiba didaerah Keduwang, Wonogiri, beliau bertemu dengan para pejuang yang gagah berani. Mereka menamakan dirinya sebagai warok. Mereka menyatakan keinginannya untuk mengikuti RM.Said berjuang melawan Kompeni. Kesaktian para pendekar ini telah terbukti dalam berbagai pertempuran.
“Suro Diro Jayaningrat lebur dening pangastuti”.
Segala kesaktian akan pudar kalau tidak menyatu dengan kebaikan.
KEMERDEKAAN
Tanggal 17 Agustus 1945, Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Mulai saat itu bangsa Indonesia memasuki babak kehidupan yang baru dan Praja Mangkunegaran meleburkan diri pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
Cita-cita agung dari para pejuang bangsa yang telah mendahului kita, termasuk Pahlawan Nasional RM.Said dan mereka yang telah berjuang bersamanya, perlu kita ujudkan secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan semboyan :
· Rumongso Melu Handarbeni
· Wajib Melu Hanggrumengkepi
· Mulat Sariro
· Angrosowani
Marilah kita jaga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai diakhir jaman. Semoga darah para martir yang telah membasahi tanah air, di saat mereka melaksanakan kewajibannya yang berupa “Melu Hanggrumengkepi” selalu mengingatkan kita akan pentingnya menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa.

SALATIGA
(1740-1743)
Peristiwa yang terjadi di Salatiga pada tahun tersebut sangat erat hubungannya dengan apa yang terjadi di Keraton Kartasura. Pada masa itu yang bertahta di Kartasura adalah Paku Buwono II. Beliau mempunyai beberapa saudara, antara lain bernama Pangeran Arya Mangkunegoro, yang kemudian di buang ke Afrika Selatan oleh Kompeni dan wafat disana. Sebelum di buang, beliau berputra seorang laki-laki yang di beri nama RM.Said (Pangeran Sambernyawa). Pada masa itu kekejaman Kompeni mencapai puncaknya. Para petani di peras dan di Batavia lebih kurang 10.000 orang Tionghoa di bantai karena tidak mampu dibebani pajak yang tinggi. Sebagian dari mereka yang hidup, melakukan perlawanan terhadap Kompeni dan lari ke Jawa Tengah. Keadaan yang demikian menimbulkan keresahan rakyat dan para pemimpin dilingkungan Kerajaan Mataram. Para Bupati membakar semangat rakyatnya untuk berontak melawan Kompeni. Pemberontakan terhadap Kompeni tersebut dipelopori antara lain oleh Bupati Mengunoneng dari Pati, Bupati Martapura dari Grobogan dan Bupati dari Lasem yang bernama Martawijaya. Dalam waktu yang hampir bersamaan, RM.Said meninggalkan Keraton Kartasura menuju Desa Nglaroh, mengumpulkan pasukan permulaan yang berjumlah 40 orang dan melakukan serangan pada pos-pos Kompeni. Tindakan RM.Said diikuti oleh RM.Garendi, cucu Amangkurat III, raja yang di kudeta oleh Pakubuwono I. Ayah RM.Garendi yang bernama Pangeran Teposono terbunuh dalam suatu persekongkolan dan RM.Garendi lari kearah Grobogan dan Demak, membangun perlawanan terhadap Kompeni. Dengan demikian ada dua Pangeran yang keluar dari keraton dan mengadakan perlawanan terhadap kompeni pada saat itu yaitu, RM.Said dan RM.Garendi.
Laskar Cina pelarian dari Batavia di bawah pimpinan Kapiten Sepanjang bergabung dengan Laskar Cina lokal Jawa Tengah, di bawah pimpinan Sin She alias Tan Sin Ho.
Gabungan Laskar Cina ini bersatu dengan Laskar para bupati pemberontak di dalam melakukan perlawanan terhadap Kompeni. Sunan Pakubuwono II pada mulanya mendukung perjuangan mereka. Benteng Salatiga diduduki oleh Pasukan Kartasura, dibawah pimpinan Patih Pringgalaya. Namun tidak beberapa lama pasukan dimaksud di tarik ke Kartasura untuk membendung bala tentara Kompeni yang mengancam Keraton Kartasura. Sebagai gantinya Salatiga di pertahankan oleh satu detasemen Laskar Cina yang didatangkan dari Semarang.
Kompeni merasa tidak senang atas berpihaknya PB.II kepada pemberontak dan mengeluarkan berbagai ancaman. Disebabkan Pringgalaya takut atas ancaman Kompeni yang demikian itu dan untuk membuktikan bahwa dia tidak bersekongkol dengan Laskar Cina, maka pada tahun 1741 ia memenggal kepala seorang juru tulis Tionghoa, yang bernama Gow Ham Ko di Salatiga. Kepala Gow Ham Ko oleh Patih Pringgoloyo diserahkan kepada Kompeni. Hal ini membuat marah Patih Notokusumo, seseorang yang lebih senior dari Pringgalaya. Secara diam-diam dia memerintahkan semua pengikutnya untuk bergabung dengan pasukan Tionghoa dan pemberontak lainnya untuk menyerang kompeni di Semarang. Sayang, serangan
terhadap kompeni yang di Semarang mengalami kegagalan. Pasukan pemberontak mundur dan Patih Notokusumo di tangkap Belanda.
Sebagian besar pasukan yang mundur bertahan didaerah Salatiga dengan pertahanan Kali Tuntang. Berbagai kekuatan pemberontak, seperti pasukan Pringgalaya berada di Kalicacing, Pasukan Kyai Mas Yudonegoro, seorang ulama dari Semarang berada di bagian timur dan pasukan Cina di sekitar Kali Tuntang.
Kekalahan pasukan pemberontak di Semarang membuat PB.II ragu dan akhirnya memutuskan berbalik berpihak pada kompeni. Ia memerintahkan pasukannya di bawah Pringgalaya menggempur para pemberontak. Menanggapi situasi demikian itu, para bupati pemberontak dan pimpinan laskar Tionghoa berkumpul untuk mengangkat RM.Garendi sebagai raja Mataram pada tanggal 6 April 1742. Mereka berikrar akan melawan kompeni sampai ajal tiba. Sasaran mereka merebut benteng kompeni di Kartasura. Pertempuran pertama yang harus mereka hadapi ialah di Salatiga, dimana mereka harus berhadapan dengan Pringgalaya di Kalicacing yang sekarang berpihak pada VOC.
Setelah Salatiga jahtuh ketangan RM.Garendi, dengan mudah mereka merebut benteng kompeni di Kartasura dibawah Van Hohendorf. RM.Garendi di Kartasura bertemu dengan RM.Said yang selanjutnya keduanya bergabung melawan kompeni pada pertengahan 1742. Sementara itu Salatiga telah dikuasai oleh pasukan pemberontak yang terdiri dari laskar Cina, pasukan dibawah Kyai Mas Yudonegoro dan pasukan para bupati yang setia pada Patih Notokusumo.
Belanda merencanakan mengirim pasukan gerak cepat yang terdiri dari 300 prajurit Eropa dan 500 prajurit pribumi ke Salatiga, tapi mengalami kegagalan karena pasukan yang akan menjemput mereka sebelum memasuki Salatiga telah dipukul mundur ke Ampel.
Pada tanggal 19 Juni 1742 serangan besar-besaran akan dilancarkan ke kota Salatiga. Namun sebelum sampai tujuan, mereka ketakutan dan kembali ke Semarang, karena Kompeni melihat konsentrasi kekuatan pasukan Kyai Mas Yudonegoro. Pasukan gabungan dari RM.Garendi atau Sunan Kuning terus melakukan perlawanan pada kompeni di seluruh wilayah Jawa Tengah. Kali ini yang menjadi sasaran adalah Tanjung, Jepara. RM.Said bersama laskar Cina yang berkekuatan 800 orang bertempur melawan pasukan kompeni dibawah Kapten Mom di Welahan pada tanggal 24 Agustus 1742, namun pasukan ini karena kekuatan persenjataan yang tak seimbang terpaksa mundur. Sebagian diantaranya membuat pertahanan di Salatiga dan memasang barikade di Kali Tuntang. Pasukan kompeni dibawah Hohendorf gagal menembus barikade ini. Ditempat ini komandan dan laskar Cina, yaitu Kapitan Sepanjang telah mengeksekusi anak buahnya yang bernama Swa Ting Giap karena mau menyeberang ke pihak Kompeni.
Sunan Kuning atau RM.Garendi beserta Laskar Cina, Kyai Mas Yudonegoro, Bupati Mangunnoneng, serta Bupati Martapura, melakukan serangan ke Salatiga dan memaksa Patih Pringgalaya yang sudah berbalik membantu Kompeni, mundur ke Tengaran, kemudian Ampel.
Pasukan RM.Garendi terus mengejar pasukan Kartasura dibawah Pringgalaya dan akhirnya menyerbu benteng Kompeni di Kartasura. Di tempat ini, RM.Garendi beserta Laskar Cina bersatu dengan RM.Said melakukan perlawanan terhadap Kompeni.
Pertempuran yang terjadi di Salatiga, mulai sejak pasukan Pringgalaya menyerbu benteng Kompeni sampai dengan insiden pembunuhan juru tulis Tionghoa dan juga pertempuran antara RM.Garendi beserta Laskar Cina menyerang pasukan Pringgalaya yang telah berbalik sebagai sekutu Kompeni, diceriterakan secara detail dalam Buku Babad Keraton dalam bentuk tembang. Buku dengan huruf Jawa yang aslinya disimpan di British Library London, telah disalin dalam huruf Latin oleh Drs. I.W. Pantja Sunyata, Drs. Ignatius Supriyanto dan Prof. Dr. J.J. Ras.
Diposkan oleh Princess Dewi Mutiara Intan Berlian Pakidulan di 12.29
MASJID TIBAN WONOKERSO

MASJID TIBAN WONOKERSO

07:11 0
MASJID TIBAN WONOKERSO, 
Pusat Islam Pertama di Wonogiri
(dirangkum dari beberapa sumber)

PEMERINTAH melalui Dinas Purbakala, sejak tahun 2002 memutuskan Masjid Tiban Wonokerso Desa Sendangrejo Kecamatan Baturetno Kabupaten Wonogiri, sebagai bangunan bersejarah. Keberadaannya diproteksi dengan Undang-undang (UU) Kepurbakalaan nomor: 5 tahun 1992, dan dalam pengawasan Dirjen Kebudayaan Direktorat Perlindungan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Indonesia.
Masjid Tiban, menjadi bangunan masjid tertua di Kabupaten Wonogiri. Letaknya sekitar 40 kilometer arah selatan ibukota Kabupaten Wonogiri. Masjid yang didirikan para wali ini, keberadaannya diyakini lebih tua dibandingkan dengan Masjid Agung Demak. Sebab, lebih dulu ada sebelum masjid legendaris karya para wali di Demak dibangun.
Konon, Masjid Tiban Wonokerso, dijadikan maket sebelum menentukan bentuk, wujud, dan prototipe bangunan Majid Agung Demak. Dalam buku Sekitar Wali Sanga, karya Solichin Salam (penerbit Menara Kudus), ada beberapa versi tentang tanggal dan tahun pendirian Masjid Demak. Ada yang menyakini dibangun Kamis Kliwon malam Jumat Legi tanggal 1 Dulqoidah tahun Jawa 1428.
Versi lain menyebutkan, dibangun tahun Saka 1388 sesuai dengan candrasengkala 'Naga Salira Wani', serta sesuai gambar petir di pintu tengahnya. Pendapat lain menyebutkan, itu didirikan pada tahun Saka 1410, berdasarkan gambar bulus di dalam masjid.
Jauh waktu sebelum pendirian Masjid Demak, Masjid Tiban Wonokerso telah lebih dulu ada. Menurut legenda, masjid itu ditemukan pertama kali oleh Ki Ageng Tugu (Tuhu) Wono, tatkala membuka rimba di wilayah Sembuyan (Wonogiri selatan), untuk dijadikan tanah perdikan.
Waktu itu, Kiai Ageng Tuhu Wono, dibantu Kia Ageng Serang dan Kiai Gozali, beserta para pengikutnya. Betapa takjub, ketika membuka rimba Sembuyan, ditemukan masjid model rumah panggung terbuat dari kayu jati. Penemuan yang tiba-tiba ini, menjadikan masjid itu kemudian dinamakan Masjid Tiban (tiba-tiba ada).
Pembangun Masjid
Siapa yang membangun? Menurut legenda, itu dibangun oleh para wali, tatkala mengembara dalam rangka melaksanakan tugas Raja Demak Bintoro, untuk mencari kayu jati pilihan sebagai bahan baku saka guru (tiang induk) Masjid Agung Demak. Konon, para wali singgah di rimba Sembuyan dan sempat membuat masjid itu.
Namun ketika di rimba Sembuyan tak ditemukan kayu jati pilihan, para wali meneruskan perjalanannya menuju ke wilayah Keduwang dan menemukan hutan jati Donoloyo, yang pohonnya dinilai layak dipakai untuk membangun masjid Demak. Sejak ditinggalkan, lambat laun masjid tiban ditelan rimba Sembuyan, dan baru ditemukan lagi oleh Ki Ageng Tuhu Wono.
Dalam perkembangannya, Keraton Surakarta ikut memperhatikan keberadaan Masjid Tiban. Raja Paku Buwono, menugasi ulama Imam Muhamad untuk mengurus Masjid Tiban dan sekaligus menjadi imam. Dulu, keraton peduli memberikan bantuan dana pembelian minyak tanah untuk lampu penerangan masjid, dan membebaskan warga 'mutihan' (Islam) setempat dari pungutan pajak. Mencermati keberadaannya, Masjid Tiban diyakini sebagai pusat penyebaran Islam pertama di Wonogiri.
Berbicara masjid, masjid yang pertama kali dibangun di dunia adalah Masjidil Haram. Dibangun oleh Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Siti Hajar, pada sekitar 4.515 tahun yang lampau. Masjid kedua, adalah Masjidil Aqsa (Palestina), dibangun oleh Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Masjid ketiga, Masjid Quba' dibangun Rasulullah Muhamad SAW, bersama para pengikutnya saat hijrah ke Yatsrib (Madinah). Setelah itu, menyusul dibangun Masjid Nabawiy. Pendirian masjid, kemudian banyak bermunculan di berbagai tempat, menyebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke Indonesia.
( Bambang Purnomo / CN34 )
Legenda Sungai Brantas

Legenda Sungai Brantas

02:18 0
Legenda Sungai Brantas
Pada Jaman Dahulu, Di Jawa Timur ada sebuah kerajaan besar. Kerajaan Kahuripan namanya. Rajanya bernama Prabu Airlangga. Prabu Airlannga berasal dari Pulau Bali. Ia adalah seorang putra raja di Bali.
Saat usia Prabu Airlangga sudah tua, Ia ingin menjadi pertapa. Tahta Kerajaan Kahuripan akan di serahkan pada Putri Permaisurinya yang hanya seorang. Ia putri yang cantik jelita. Namanya Sanggramawijaya 
Sanggramawijaya menolak keinginan Ayahanda nya. Ia tidak punya keinginan menjadi Raja. Yang menjadi keinginan Sanggramawijaya adalah menjadi seorang pertapa. Ia lalu meminta restu ayahanda nya menjadi pertapa di Goa Selomangleng ( Di Kaki Gunung Klotok Kecamatan Mojoroto Kota Kediri). Ia pun mengubah namanya menjadi Dewi Kilisuci.

Prabu Airlangga lalu berkeinginan menyerahkan tahta kerajaan pada putranya yang berasal dari selir ( Istri tidak resmi ). Kebetulan sekali, Ia memiliki dua putra dari selir. Kedua Putranya bernama Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan. Prabu kebingungan untuk memilih salah satu yang akan di beri tahta Kerajaan Kahuripan.
Prabu Airlangga berusaha mencari jalan keluar yang adil. Ia menyuruh Empu Baradha untuk pergi ke Bali. Empu Baradha disuruh meminta tahta kerajaan milik Ayahanda Prabu Airlangga di Pulau Bali untuk salah satu putranya.
Namun, Tahta kerajaan milik ayahanda Prabu Airlangga di Bali sudah diberikan kepada adik Prabu Airlangga.
" Tahta milik Ayahanda Prabu Airlangga di Pulau Bali sudah diberikan kepada adik Prabu Airlangga yang bernama Anak Wungsu!" Lapor Empu Baradha setibanya dari Pulau Bali.
" Tak apa-apa, Bapak Empu! Terima kasih Bapak Empu sudah melaksanakan apa yang kusuruh. Sekarang bantu aku membagi Kerajaan Ini dengan adil untuk kedua putraku, Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan!"
" Baiklah, Baginda Raja! Bagaimana kalau hamba yang membagi kerajaan Kahuripan ini menjadi dua bagian yang sama besar?"
" Itu lebih baik Bapak Empu! Tapi, bagaimana caranya Bapak Empu membagi kerajaan ini menjadi dua bagian sama besar?"
" Serahkan semuanya pada hamba,Baginda Raja! Hamba yang akan mengaturnya!"
" Baiklah Bapak Empu! Kuserahkan semua persoalan ini kepada Anda!"

Keesokan harinya, Empu Baradha terbang sambil membawa Kendi ( Teko dari tanah liat ) berisi air. Dari angkasa, ia tupahkan air kendi itu sambil terbang melintas persis di tengah-tengah Kerajaan Kahuripan. Ajaibnya, Tanah yang terkena tumpahan air Kendi langsung berubah menjadi sungai. Sungai itu semakin besar dan airnya deras. Sungai itu sekarang bernama Sungai Berantas.
Kerajaan Kahuripan pun sekarang terbagi menjadi dua bagian. Batasnya adalah ciptaan Empu Baradha. Prabu Airlangga pun menyerahkan dua bagian dari Kerajaan Kahuripan itu kepada Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan.
" Bagian Kerajaan Kahuripan sebelah timur sungai aku serahkan pada Putraku Mapanji Garasakan! Kerajaan itu aku beri nama Kerajaan Jenggala, Sedangkan bagian barat sungai aku serahkan pada putraku Sri Samarawijaya. Kerajaan itu kuberi nama Kerajaan Panjalu/Kadiri ( sekarang Kota Kediri )." titah Prabu Airlangga.
Kini tentramlah hati Prabu Airlangga. Ia dengan tenang pergi dari Kerajaan Kahuripan ( Sebelum terbelah ) untuk menjadi seorang pertapa. Prabu Airlangga menjadi pertapa di Pucangan. Ia mengganti namanya menjadi Maharesi Gentayu. Ketika meninggal dunia, Jenazah Prabu Airlangga dimakamkan di lereng Gunung Penanggungan sebelah timur.

Sungai Brantas
Sungai Brantas adalah sebuah sungai di Jawa Timur yang merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo.
Sungai Brantas bermata air di Desa Sumber Brantas (Kota Batu) yang berasal dari simpanan air Gunung Arjuno, lalu mengalir ke Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto. Di Kabupaten Mojokerto sungai ini bercabang dua manjadi Kali Mas (ke arah Surabaya) dan Kali Porong (ke arah Porong, Kabupaten Sidoarjo). Kali Brantas mempunyai DAS seluas 11.800 km² atau ¼ dari luas Provinsi Jatim. Panjang sungai utama 320 km mengalir melingkari sebuah gunung berapi yang masih aktif yaitu Gunung Kelud. Curah hujan rata-rata mencapai 2.000 mm per-tahun dan dari jumlah tersebut sekitar 85% jatuh pada musim hujan. Potensi air permukaan pertahun rata-rata 12 miliar m³. Potensi yang termanfaatkan sebesar 2,6-3,0 miliar m³ per-tahun.
Sejak abad ke 8, di DAS Kali Brantas telah berdiri sebuah kerajaan dengan corak agraris, bernama Kanjuruhan. Kerajaan ini meninggalkan Candi Badut dan prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M sebagai bukti keberadaannya. Wilayah hulu DAS Kali Brantas di mana kerajaan ini berpusat memang cocok untuk pengembangan sistem pertanian sawah dengan irigasi yang teratur sehingga tidak mengherankan daerah itu menjadi salah satu pusat kekuasaan di Jawa Timur (Tanudirdjo, 1997). Sungai Brantas maupun anak-anak sungainya menjadi sumber air yang memadai. Bukti terkuat tentang adanya budaya pertanian yang ditunjang oleh pengembangan prasarana pengairan (irigasi) yang intensif ditemukan di DAS Kali Brantas, lewat Prasasti Harinjing di Pare. Ada tiga bagian prasasti yang ditemukan, yang tertua berangka tahun 726 S atau 804 M dan yang termuda bertarikh 849 S atau 927 M. Dalam prasasti ini, disebutkan pembangunan sistem irigasi (yang terdiri atas saluran dan bendung atau tanggul) yang disebut dawuhan pada anak sungai Kali Konto, yakni Kali Harinjing (Lombard, 2000).
Sungai Brantas memiliki fungsi yang sangat penting bagi Jawa Timur mengingat 60% produksi padi berasal dari areal persawahan di sepanjang aliran sungai ini. Akibat pendangkalan dan debit air yang terus menurun sungai ini tidak bisa dilayari lagi. Fungsinya kini beralih sebagai irigasi dan bahan baku air minum bagi sejumlah kota disepanjang alirannya. Adanya beberapa gunung berapi yang aktif di bagian hulu sungai, yaitu Gunung Kelud dan Gunung Semeru menyebabkan banyak material vulkanik yang mengalir ke sungai ini. Hal ini menyebabkan tingkat sedimentasi bendungan-bendungan yang ada di aliran sungai ini sangat tinggi.
Merujuk khazanah sastra periode klasik, sungai Brantas inilah yang diduga kuat disebut sebagai Ci Ronabaya dalam naskah Perjalanan Bujangga Manik.
Permasalahan pokok di DAS Kali Brantas adalah fluktuasi air permukaan yang ditandai oleh dua peristiwa: kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim hujan. Kegagalan panen dan kelaparan menjadi akibat dari kekurangan air di musim kemarau, sebaliknya di musim hujan terjadi bencana yang mengakibatkan korban harta bahkan jiwa. Selain itu, kondisi aliran air Kali Brantas juga terkendala oleh endapan sedimen yang dihasilkan letusan Gunung Kelud (+1.781). Setiap 10 hingga 15 tahun, gunung ini meletus – melontarkan abu dan batu piroklastik ke bagian tengah dari DAS Kali Brantas – yang pada akhirnya menimbulkan gangguan fluvial pada aliran air Kali Brantas (Valiant, 2005).
Pengembangan Sumberdaya Air

Pengembangan DAS Kali Brantas dengan pendekatan «modern» dimulai sejak 1961 berlandaskan prinsip «satu sungai, satu rencana, satu manajemen terpadu» yang dilaksanakan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kebijaksanaan pemerintah dari waktu ke waktu. 
Alas Roban Kabupaten Batang

Alas Roban Kabupaten Batang

05:38 0
Alas Roban Kabupaten Batang
Alas Roban, hutan kecil di sebuah Kecamatan Gringsing, kecamatan yang terletak paling timur di Kabupaten Batang - Jawa Tengah. Jalanan yang begitu menanjak dan berkelok di sebuah bukit dengan rindangnya pepohonan jati berukuran besar. Jalur yang dikenal angker karena banyak kejadian yang tak lazim dan banyaknya kecelakaan. Di jalur lama (tengah) terdapat tugu keselamatan. Tak jauh dari itu terdapat makam petilasan Syekh Jangkung yang dulu pernah berkuasa di daerah itu, namun nisan untuk memperingatinya tumbang di dekat salah satu pohon jati yang cukup besar.
Roban berasal dari kata ‘rob’ yang berarti air naik, kata ini sangat dikenal oleh masyarakat pesisiran. Kampung Roban sendiri ada di Kecamatan Subah. Roban berada di daerah pantai Laut Jawa. Suasana tempat ini hingga sekarang masih saja diselimuti hawa mistik yang kental. Perkampungan Roban dahulu dikenal dengan Roban Siluman. Konon pada waktu yang telah lampau, masyarakat Roban banyak yang memiliki ilmu tinggi hingga dapat merubah dirinya sebagai buaya. Dari sinilah dikenal siluman buaya yang menjadikan Roban sebagai Roban Siluman.
Namun demikian Alas Roban dan Roban memiliki peran penting jika dilihat dari sejarahnya. Kabupaten Batang dahulu dikenal sebagai kawasan Alas Roban yang masih sepi belum seramai pemukiman penduduk sekarang ini. Alas Roban dikenal dengan tempatnya para siluman, lelembut, dan garong (perampok). Kawasannya terhitung mulai Perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Batang saat ini hingga Kota Pekalongan. Pada jaman Pemerintahan Sultan Agung Mataram Islam sekitar tahun 1620an, terjadi penolakan paham antara VOC dan Mataram yang sebelumnya menjalin diplomasi dalam kawasan dan penyediaan persenjataan. Sultan Agung bermaksud menggempur VOC yang berada di Batavia. Pasukan yang terlibat dalam penyerangan berasal dari berbagai tempat di Jawa. Untuk dapat mendukung persediaan logistik maka dibangun pos-pos pendukung logistik di berbagai tempat yang salah satunya di Alas Roban. Dalam membangun pos di Alas Roban, Sultan Agung mengutus Ki Bahurekso untuk membuka Alas Roban. Pembukaan konon dimulai dari Kecamatan Subah ke arah barat. Hal ini dimaksudkan untuk membuka lahan yang akan digunakan untuk menanam berbagai macam sumber makanan untuk mendukung kebutuhan logistik. Pada saat berada di Kali Lojahan (Kramat), Bahurekso berencana membuat bendungan. Namun di tempat yang akan di bangun bendungan terdapat kayu besar yang melintang di sungai. Kemudian beliau bertapa pada Malam Jum’at Kliwon untuk mendapatkan bantuan kekuatan. Kemudian kayu dapat diangkat dan dihancurkan, peristiwa ini disebut Ngembat Watang (Mengangkat Kayu) yang kemudian dijadikan nama Batang. Peristiwa pertapaan Ki Bahurekso kemudian diperingati dengan acara Kliwonan yang dilaksanakan setiap Jum’at Kliwon di Alun-Alun Kota Batang.
Pos yang dibangun diperkirakan berada di daerah Balekambang, Gringsing. Di sini terdapat pesanggrahan yang diyakini peninggalan Sultan Mataram. Ditambah dengan adanya patung ular yang mirip dengan Hardowaliko yang dipamerkan di Kraton Mataram Jogjakarta namun tanpa mahkota. Balekambang adalah sebuah bangunan diatas sumber mata air yang muncul dari tanah. Di sekitarnya terdapat rawa yang cukup luas yang kini berubah menjadi persawahan. Dapat dilihat dengan jelas bahwa persawahan di sekitarnya adalah sawah yang berdiri diatas bekas rawa karena tekstur tanahnya. Balekambang kemudian dijadikan sumber irigasi untuk sawah yang luas.
Jalur Tengah (lama) Alas Roban dibangun oleh Belanda, tak jauh dari jalur lama itu terdapat Goa Jepang. Goa Jepang dibangun sekitar tahun 1942 oleh Jepang. Di Batang ditemukan 2 Goa Jepang yaitu di Alas Roban dan Pantai Roban. Goa Jepang di Alas Roban terdapat sekitar 13 mulut goa buatan saat romusha dan 1 goa alami. 1 goa berkedalaman 30 meter lebih, dan 12 lainnya antara 5-20 meter letaknya berjajar di dekat sungai kecil. 1 goa alami terletak di atas bukit. Untuk goa buatan yang berkedalaman 30 meter lebih konon dapat menampung 8 tank ukuran tank saat itu. Sungai kecil yang ada di dekat goa ternyata adalah bekas jalur tank yang menghubungkan jalur lama dengan jalur lingkar yang baru dibangun tahun-tahun lalu.
Goa Pantai Roban dibangun sekitar 1942 dan digunakan hingga tahun 1948 oleh Jepang. Goa Pantai Roban ini terletak didekat Kali Ngodek yang cukup lebar dan berkedalaman 20 meter. Menurut saksi mata dahulu ini dijadikan pelabuhan Jepang saat memperebutkan Indonesia dengan Belanda. Goa tersebut dijadikan persembunyian oleh jepang. Jepang pada tahun 1945 saat kemerdekaan RI belum pergi dari Indonesia, mereka baru pergi dari Indonesia setelah sekutu melepaskan bom atom ke kota Nagasaki dan Hirosima.
Misteri Alas Roban (RUTE PALING MENYERAMKAN)
Meski terkenal sebagai kawasan hutan jati ‘spooky' di Jawa Tengah , tempat ini punya cerita tersendiri . Khususnya di ‘zaman silam', ketika ruas baru Alas Roban yang dibangun Pemerintah Indonesia belum ada. Semua jenis kendaraan, mulai bus umum, truk sampai kendaraan pribadi harus melintasi rute ini.

Salah satu kebiasaan yang dilakukan orangtua saya ketika kami -putra-putrinya-masih kecil adalah berwisata dengan mobil pribadi dari Jawa Timur ke Jawa Tengah saat liburan sekolah anak-anak. Dan itu artinya melintasi rute sepanjang Pantura dari Surabaya sampai Semarang, ditambah Jogjakarta, Solo sampai Temanggung dan Parakan.
Salah satu rute favorit kami sebagai anak-anak di bawah limabelas tahun adalah Alas Roban, lengkap dengan segala kisah ‘spooky' yang dimilikinya. Seperti kondisinya sebagai bagian dari Grote Postweg, jalanan licin tanpa penerangan di malam hari dengan lintasan berliku-liku alias meliuk-liuk yang bisa bikin perut mual, sampai begal atau rampok yang menunggu di tempat-tempat strategis.
Termasuk juga ‘wingitnya' atau seramnya si hutan sendiri dalam deskripsi visual. Sebelum masuk hutan dan sesudah keluar hutan, terdapat begitu banyak resto dan warung makanan. Termasuk sate kambing muda Subali di daerah Subah yang cukup terkenal itu. Tapi begitu masuk hutan sejauh 1 km, tak ada warung apapun yang bisa dijadikan tempat ‘ngiras' atau mengudap makanan.
Jelajah Keangkeran Alas Roban, Batang, Jawa Tengah.
Adakah perjalanan yang lebih menyeramkan yang melebihi perjalanan melewati Alas Roban? Zaman dulu Alas Roban terkenal angker, gung liwang-liwung, gawat keliwat liwat menjadi momok menakutkan bagi masyarakat ataupun sopir ketika melewatinya. Bagaimana dengan sekarang? Misteri apa sebenarnya yang menyelimuti hutan angker ini?
Menuju Alas Roban dari Semarang, bisa ditempuh 2 jam perjalanan dengan mengendarai sepeda motor. Setelah perbatasan Kendal di sebelah barat, alas itu bisa dicapai kira-kira lima belas menit perjalanan.
Ada dua jalur yang harus dipilih ketika sampai di Desa Kutosari. Kalau Anda melewati Alas Roban yang sebenarnya, maka ambil jalur kanan. Dari jalur sebelah kanan ini, jalur lurus yang ditempuh juga akan menemui muara 2 jalur lagi. Nah, jalur yang terkenal menyeramkan adalah jalur yang sebelah kiri.
Sebenarnya, saat ini jalur Alas Roban terbagi menjadi tiga. Jalur yang pertama melewati sisi selatan, dengan jalanan menanjak dengan beton putih. Jalur ini dimulai dari Desa Kutosari seperti yang disebutkan di atas. Jalan ini baru dibangun sekitar tahun 2000-an. Kemudian jalur yang kedua, ini dimulai dari Desa Plelen. Jalur dari Plelen ini bercabang dua. Jalur asli Alas Roban yang terletak di kiri. Sementara jalur yang kanan atau jalur yang ketiga, berada di sisi utara yang dibangun sekitar tahun 1990-an.
Keangkeran Alas Roban memang sudah terkenal sejak dulu. Utamanya ketika dua jalur di sisi selatan dan utara belum dibangun. Setiap pengendara pasti mengalami peristiwa yang berbeda-beda ketika melewatinya. Hal ini karena memang jalanan yang turun-naik, menikung tajam, dengan kiri kanan terdapat tebing atau jurang.
Tetapi bukan itu sebenarnya yang menyeramkan. Dahulu, ketika akan lewat jalur ini akan melewati dua tantangan sekaligus. Tantangan pertama, tantangan yang kelihatan mata, yaitu adanya gerombolan penjahat dan bajing loncat yang siap menggasak barang bawaan apa saja. Dulu, karena rawannya, kendaraan yang melintas malam hari tidak berani. Untuk kendaraan yang datang dari arah timur atau Semarang berhenti di depan Pasar Plelen. Sementara dari arah barat atau Jakarta, istirahat di Banyuputih. Mereka baru berani melintasi jalan Alas Roban ketika pukul 05.00 WIB. Kalaupun ada yang berani melintas malam hari, harus menunggu kendaraan lainnya.
Tantangan yang kedua, tantangan makhluk halus, yaitu gerombalan berbagai makhluk halus yang siap ”menggoda” siapa saja. Godaan antara sopir yang satu dengan yang lain jelas berbeda. Dan godaan ini bisa berakibat fatal karena seringkali terjadi kecelakaan karena si sopir melihat sesuatu penampakan.
Jika menengok ke belakang, jalan raya Alas Roban hanya ada satu, yaitu Jalan Raya Poncowati. Jalan itu dibuat pada era pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36. Dia memerintah antara tahun 1808 hingga 1811. Dan untuk membangun jalan ini, ribuan orang Indonesia meninggal karena tak kuat. Orang-orang Indonesia dipaksa. Orang-orang yang meninggal tersebut kemudian dikubur begitu saja.
Namun demikian, Alas Roban memiliki peran penting jika dilihat dari sejarahnya. Kabupaten Batang dahulu dikenal sebagai kawasan Alas Roban yang masih sepi belum seramai pemukiman penduduk sekarang ini. Alas Roban dikenal dengan tempat para siluman, lelembut, dan garong (perampok). Pada zaman Pemerintahan Sultan Agung Mataram Islam sekitar tahun 1620-an, terjadi penolakan paham antara VOC dan Mataram yang sebelumnya menjalin diplomasi dalam kawasan dan penyediaan persenjataan.
CERITA MISTERI ALAS ROBAN@
Warung Makan Gaib
kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman gaib yg cukup membuat kami sekeluarga trauma & berfikir jutaan kali untuk sembarangan berhenti di jalan utk mengisi perut.
waktu itu saya masih tinggal di secang magelang. kami sekeluarga akan pergi ke jakarta menggunakan kendaraan pribadi. sejak pagi saya & keluarga sudah sibuk prepared & packing. kami sekeluarga berniat akan berlibur sekaligus silaturahmi ke saudara di jakarta, lalu kami berniat berangkat dr magelang sore hari. jadi per jalanan akan lebih santai & bapak berniat menghindari keramaian kl melakukan perjalanan jarak jauh disiang hari.
dan berangkatlah kami sekeluarga dr magelang kira2 jam 4 sore dari magelang, rute yang kami ambil melalui jalur utara. selama perjalanan kami tidak memiliki firasat buruk apapun. Dan perjalanan panjang pun dimulai. Tak terasa hari sudah mulai gelap, dan adzan magrib sudah berkumandang. kami memutuskan utk istirahat sejenak dimasjid sekaligus menunaikan sholat magrib. setelah selesai sholat, kami pun melanjutkan perjalanan. semakin jauh kami melaju semakin larut malam yang menemani perjalanan, yang semula di awal perjalanan, suasana didalam mobil begitu ramai & penuh canda tawa saya dan kedua adik saya, berubah perlahan menjadi suasana sepi. mungkin karena ibu & kedua adik saya sudah tidur terlelap. dan yang masih terjaga saat itu hanya saya dan bapak. jam menunjukan pukul 10.30 malam, kami sudah memasuki area alas roban, jalanan berliku ditengah hutan & tanah alas, jauh dari kehidupan kota. disini suasana sudah mulai mencekam. bapak mengurangi laju kecepatan mobil karena kondisi jalan yg gelap & berliku penuh tanjakan turunan yang kiri dan kanan nya jurang. saya & bapak merasa ada hal yg ganjil & aneh, sejak kami memasuki area alas roban, kami tidak berpapasan dengan kendaran lain seperti bus antar provinsi & kendaraan lainnya , padahal jalur ini termasuk rute yang sering digunakan untuk menuju kota tegal. setelah melaju beberapa saat tiba2 ” Bruaaaaakkkk…!!! ” astagfirullah…mobil yang kami naiki menabrak sesuatu ditengah jalan.
Bapak langsung menepikan mobil kepinggir jalan dan mengambil senter yg ada di dashboard. saya & bapak kemudian turun dari mobil melihat situasi apa yang terjadi. ibu & kedua adik yg terbangun mendengar suara benturan tadi. langsung panik & mau keluar mobil, namun bapak melarangnya dan menyuruh ibu & adik2 tetap didalam.kemudian saya bergegas memeriksa bagian depan mobil & bapak memeriksa bagian bawah sampai belakang mobil. saya bener2 yakin benturan sekeras tadi seharusnya bisa membuat bamper mobil penyok atau memecahkan lampu kabut mobil, namun setelah saya periksa dengan seksama, tidak ada satu pun goresan di bagian depan mobil, bahkan debu & sedikit lumpur yang menempel pd bamper mobil pun masih utuh tak tersentuh. jujur saya kaget & heran. lalu bapak yang memeriksa bagian bawah sampai belakang mobil juga tidak menemukan benda yang kami tabrak tadi. kemudian saya memanggil bapak agar ikut memeriksa bagian depan mobil, mungkin dengan mencari berdua bisa menemukan kerusakan mobil akibat benturan keras tadi. kami sudah memeriksa beberapa kali ,setiap sudut bagian depan mobil, tidak ada satupun bekas benturan. lalu, apakah yang kami tabrak tadi? karena kami merasa ada yang tidak beres, saya & bapak lekas masuk kedalam mobil untuk melanjutkan perjalanan. kedua adik ku langsung pindah posisi duduk, yang semula duduk di kursi paling belakang pindah ke kursi tengah bersama ibu, dan saya duduk di kursi depan menemani bapak. kami pun terus melaju di kegelapan malam alas roban, jam menunjukan pukul 12 malam. kedua adik ku sudah tertidur lagi, yang terjaga kali ini saya, bapak & ibu. tidak lama kemudia , hujan mulai turun, hujan nya hanya rintik2 namun cukup menggangu pandangan, sampai bapak harus membunyikan klakson disetiap akan memasuki tikungan yang tajam.
saya & ibu sengaja tidak membahas kejadian tadi, agar bapak tetap tenang & bisa berkonsentrasi dijalan. lalu dr kejauhan terlihat ada sepercik cahaya neon, allhamdullilah. sudah terlihat pemukiman, setelah semakin dekat ternyata itu sebuah warung makan pecel lele kecil tepat di sudut tikungan dibawah pohon, untuk menenangkan suasana kami memutuskan untuk singgah sejenak. saya & keluarga turun dr mobil, entah karena mengantuk atau ceroboh, kaki saya terbentur pasak penanda kilometer area. tertulis disitu kilometer 15. saya & keluarga masuk kedalam warung tersebut. penjualnya menyambut kami dengan ramah tamah, dengan logat khas pekalongan. kami memesan makanan & minuman panas. iseng2 saya bertanya, ” kok jam segini masih buka pak? bapak jual an ny sendirian?” penjual ny menjawab ” iya mas, ini sudah mau tutup kok, eh mas nya dateng, saya jualan sama istri saya. itu istri saya mas,” saya & bapak kaget, sejak kapan ada orang yang berdiri di samping pintu masuk warung. padahal tadi kami masuk lewat arah yang sama dan sekitarnya pohon besar. ya sudah lah, saya tidak terlalu memperdulikannya. karena perhatian saya tertuju pada ayam yang sedang di goreng. he…3x.
kami makan dengan lahap, dan ternyata rasa sambal ny enak, sangat cocok dilidah. sampai saya nambah sambal nya 2x. setelah kenyang menyantap ayam goreng. kami bergegas kembali ke mobil, saat mau masuk mobil, kaki saya terbentur pasak penanda kilometer 15 tadi. oke saya ceroboh. karena letak pasak itu persis didekat pintu mobil. jadi wajar kl saya terbentur pasak itu. mobil kami pun mulai melaju ditemani hujan rintik2 yang terus menguyur area alas roban. setelah beberapa saat akhirnya kami keluar dr area alas roban dan menuju tegal ,
singkat cerita , kami sudah menyelesaikan liburan kami di jakarta, karena tidak ingin mengalami kejadian seperti kemarin lagi. bapak memutuskan untuk berangkat dari jakarta pagi hari jadi ketika memasuki alas roban lagi, hari masih siang. setelah berjam-jam kami menempuh perjalanan. kami memasuki area alas roban sekitar jam 1 siang. lalu saya penasaran dengan warung pecel lele yang waktu itu kami singgah i. rasa sambal nya enak. namun sayang, warung pecel lele biasa nya buka ketika sore menjelang malam hari. adik saya tiba2 ingin buang air kecil. bapak kemudian menepikan mobil di tikungan jalan yg agak luas. dan menyuruh adik untuk buang air kecil mepet dengan mobil. sambil istirahat sejenak sekaligus menikmati pemandangan alas roban di siang hari, tidak dipungkiri kalau pemandangan alas roban sangat indah. kemudian saya melihat pasak kilometer bertuliskan kilometer 15. saya kaget luar biasa. itu pasak yang membentur kaki ku tempo hari. dan posisi pasak itu persis di tepi jurang. dan seingat ku, posisi warung pecel lele waktu itu kira2 3 meter di belakang pasak tadi. saya langsung memanggil bapak & ibu. dan menujukan pasak tadi dan lokasi warung. setelah diamati, tikungan nya persis seperti waktu itu, ada pohon besar ditepi jalan & pasak bertuliskan kilometer 15, namun 1meter belakang pasak itu sudah jurang yang sangat dalam. kesimpulannya. waktu itu kami sedang makan di pinggir jalan tepat melayang diatas jurang. hanya satu hal yang bisa menjelaskan kejadian tersebut. kami singgah di warung gaib.
Alas Roban, angker dan dikenal tempat pembuangan mayat
Cerita misteri soal Alas Roban sudah terdengar sejak dulu. Alas Roban terletak di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Daerah ini sejak dulu terkenal angker.
Setiap pengendara yang ingin melintas jalan raya Alas Roban selalu merinding. Tidak hanya jalannya yang berkelok, tapi cerita-cerita mistis sudah kuat membekas.
Kawasan hutan jati di Plelen, Gringsing itu pernah dikenal sebagai tempat pembuangan mayat pada tahun 1980-an. Mayat-mayat itu adalah korban dari penembak misterius (Petrus). Semua korbannya dibuang ke Alas Roban.
Tidak hanya itu, daerah tersebut sudah sering terjadi puluhan kecelakaan lalu lintas. Sudah banyak yang meninggal di sana akibat kecelakaan. Lalu, muncul cerita-cerita mistis beredar di masyarakat. Ada yang pernah melihat kuntilanak, pocong sampai genderuwo.
Dulu, jika malam hari, sepanjang jalur Alas Roban memang gelap. Masih dikelilingi pohon-pohon jati. Jalannya pun tidak lurus, ada yang berkelok dan menanjak curam. Wajar, jika setiap pengendara melintasi jalan tersebut selalu was-was.
Sekarang, cerita itu sudah berubah. Sekarang sudah dibangun jalan baru. Ada jalur alternatif jika pengendara ingin menuju Semarang atau sebaliknya menuju Jakarta. Ada dua jalan tembus yang dibangun tahun 1990-an dan 2000-an.
Tidak hanya cerita angker saja, jalan raya Alas Roban pernah dikenal rawan tindak kejahatan. Jalur yang berliku dan panjang membuat pengendara takut melewati jalan tersebut sendiri jika malam hari.
Banyak penjahat mulai dari begal sampai bajing loncat. Saking rawannya, kendaraan yang melintas malam hari tidak berani. Untuk kendaraan yang datang dari arah timur Semarang berhenti di depan Pasar Plelen. Sementara dari arah barat Jakarta, istirahat di Banyuputih.
Mereka baru berani melintasi jalan Alas Roban ketika pukul 05.00 WIB. Kalau pun ada yang berani melintas malam hari, harus menunggu kendaraan lainnya. Minimal enam kendaraan.
Sekarang cerita angker dan rawan kejahatan secara perlahan mulai hilang di benak masyarakat. Jalan raya Alas Roban lambat laun mulai ramai baik mobil atau motor. Dan, di sekitar pinggir jalan kini juga sudah banyak orang menjajakan makanan.
Cerita Mistis Alas Roban Yang Angker
Cerita Mistis Keangkeran alas roban Batang jawa tengah, Pengalaman ini terjadi sekitar setahun lalu. Waktu itu ada rombongan rekan YVC Surabaya yang mampir kebatang, tujuan mereka untuk menghadiri pernikahan salah satu membernya yang kebetulan dapat orang batang (pedalaman). Singkat cerita, malam sekitar jam 10an, saya dan Brosigit ketua YVC batang, mengantar rombongan YVC Surabaya ketempat tujuan, kami janjian dengan salah satu kerabat mempelai disebuah kecamatan namanya Tulis (masih wilayah jalan pantura sebelum Alas roban).
(Masuk kepedalaman melewati jalan aspal kabupaten 10km, lalu menyusuri jalan tanah pedesaan sekitar 5 kiloan). sampai ditujuan, kami ngopi-ngopi, makan cemilan dan ngobrol santai, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 1 malam (dini hari). Saya dan brosigitpun pamitan hendak pulang kebatang.. oh..iya..nama desa tersebut wana segara kalau dalam bahasa Indonesia artinya Lautan monyet… Dalam hati berkata.. wah..uji nyali lagi nih.. kami riding beriringan bro sigit didepan saya dibelakang menyusuri jalan pedesaan menuju jalan kabupaten menuju Tulis.Sialnya kami kesasar (suasananya seperti disandiwara radio maklampir).. gelap. sepi dan dingin sekali… tidak ada orang yang bisa ditanya, kamipun riding pake filling saja… ditengah jalan pedesaan..tengkuk saya mulai merinding…krosak..krosak.. terlintas beberapa kelebat bayangan hitam seperti bergelantungan dipohon2 pinggir jalan pedesaan… seperti monyet sedang berayun-ayun.. namun saya berusaha tenang dan membaca-baca do’a sebisa saya.. Alhamdulillah ketemu juga jalan aspal yang menuju tulis, Kami berhenti sejenak..Bro sigit meminta saya agar riding bersebelahan… (saya mengerti maksud bro sigit )..kami melanjutkan perjalanan.. setelah menempuh sekitar 5km,.. srippiit..tercium bau bangkai yang menyengat… tengkuk mulai merinding…dalam hati berkata… waduh kuntilanak nih… sepanjang perjalanan tetap terus membaca doa-doa..sekitar beberapa detik kemudian.. muncul sosok putih berambut putih panjang duduk dibelakang jok brosigit… namun sepertinya brosigit tidak tahu.. hanya saya yang dilihatin mahluk tersebut… jantung mulai berdetak kencang.. badan serasa kaku.. tapi saya berusaha tetap tenang sambil terus membaca-baca do’a… namun simahluk sepertinya menatap kearah saya terus… terlihat lampu depan motor saya dan brosigit agak redup cahayanya… lalu sekitar 10 meter didepan kami melawati pohon besar reflek saya bunyikan klakson… simahlukpun menghilang.. Alhamdulillah kami selamat sampai dibatang… Bro sigit bertanya.. mas tadi kenapa lampu kita redup ya??.. saya nggak cerita apa-apa kebrosigit hingga sekarang…
Begitulah cerita duo riding melewati jalan pedesaan yang angker..
Foto Setiyono Hadi.
SEJARAH SINGKAT CADAS PANGERAN

SEJARAH SINGKAT CADAS PANGERAN

06:54 0
SEJARAH SINGKAT CADAS PANGERAN
Cadas Pangeran yaitu nama sebuah tempat yang dilalui jalan raya Bandung-Cirebon. Disanalah terdapat patung pangeran kornel yang sedang bersalaman menggunakan tangan kiri dengan deandels,sedangkan tangan kanannya memegang senjata.
Kisah diawali dengan wafatnya bupati Sumedang yaitu bupati Surya Negara,anaknya yang bernama Raden Jamu yang pada saat itu masih berumur 20 tahun,sehingga belum dapat diangkat menjadi bupati untuk menggantikan ayahnya karena tidak memenuhi syarat. Akhirnya setelah melalui mufakat dipilihlah Demang Tanubaya sebagai Bupati yang baru,tak lama ia digantikan oleh Demang Patrakusumah. Raden Jamu melarikan diri saat akan dinikahkan dengan Raden Ayu Candranegara menuju Limbangan. Dari limbangan, Raden Jamu menuju Cianjur disana Raden Jamu di angkat menjadi Wedana di Cikalong. Melihat keadaan Sumedang yang semrawut Bupati Cianjur mengirimkan surat untuk Gubernur di Batavia. Akhirnya Bupati Sumedang yang pada saat itu adalah Tanubaya II di gantikan oleh Raden Jamu dengan gelar Adipati Suryanegara atau Pangeran Kusumahdinata atau Pangeran Kornel sebagai adipati Sumedang yang ke-12.
Dibawah pimpinan Pangeran Kusumahdinata Sumedang mencapai kemakmurannya. Namun pada saat itu pemerintah Belanda mengutus Herman Willem Daendels sebagai gubernur Jendral dihindia Belanda. Daendelslah yang memerintahkan untuk membangun jalan sepanjang 100km dari Anyer-Panarukan. Pembuatan jalan ini dimulai dari Anyer terus ke Serang, ke Tanggerang, ke Jakarta, Bogor, Bandung dan sampailah diSumedang.
Ribuan pekerja rodi yang meninggal paling banyak didaerah Bandung-Sumedang. Didaerah tersebut memang memiliki medan yang berbukit cadas dan rawan longsor. Bila tidak hati-hati,banyak pekerja yang meninggal karena tertimbun tanah longsor maupun tertimpa bebatuan besar. Banyak pula yang terjerembab kejurang selama pembangunan jalan itu.

======
'''Cadas Pangeran''' adalah nama suatu tempat, kira-kira enam kilometer sebelah barat daya kota Sumedang, yang dilalui jalan raya Bandung—Cirebon. Pemberian nama ini terkait dengan pembangunan Jalan Raya Pos Daendels yang melintasi daerah ini. Karena medan yang berbatu cadas, lima ribuan jiwa pekerja kehilangan nyawanya. Hal ini membuat marah penguasa Kabupaten Sumedang, Pangeran Kusumadinata (1791-1828) yang lebih populer dengan sebutan Pangeran Kornel, dan ia memprotes Daendels atas kesemena-menaan dalam pembangunan jalan itu.

Adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels yang memprakarsai pembangunan jalan "maut" tersebut pada tahun 1809. Dahsyatnya, proyek jalan itu hanya membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Jalur Anyer-Panarukan itu dibangun mula-mula sebagai jalan raya pos yang menghubungkan Pulau Jawa pada tahun 1809. Namun, keberhasilan Daendels itu tak terlepas dari penderitaan ratusan ribu warga Jawa yang disuruh kerja paksa atau rodi tanpa bayaran sesen pun. Tak terhitung lagi, ribuan pribumi yang tewas, baik yang melawan maupun meninggal dunia akibat kerja rodi.

Maklum saja, Daendels terkenal dengan kekejamannya dan berlaku sangat keras, yang disukai oleh Kaisar Prancis Napoleon--Prancis saat itu menguasai Kerajaan Belanda. Sebaliknya, bagi bangsa Indonesia, kekejian Daendels sangat dibenci hingga ia mendapat julukan "Mas Galak" atau "Mas Guntur". Julukan itu sesuai dengan tindak tanduknya yang kerap menekan kekuasaan raja-raja atau penguasa setempat, khususnya terhadap wong cilik. Walau begitu, sejumlah "inlader" akhirnya nekat menentang Daendels meski nyawa menjadi taruhan. Namun, tak seluruh rakyat memberontak terhadap kehendak "Si Tuan Besar" itu.

Satu di antara yang menonjol adalah Peristiwa Cadas Pangeran. Betapa tidak, ribuan pekerja rodi yang meninggal paling banyak terjadi di kawasan antara Bandung-Sumedang sepanjang kurang lebih tiga km. Di daerah tersebut memang memiliki medan yang berbukit cadas dan rawan longsor. Bila tak hati-hati, banyak pekerja yang mati ketimbun tanah longsor maupun tertimpa batu-batu besar. Banyak pula yang terjerembab ke jurang selama pembangunan jalan itu. Belum lagi sejumlah binatang buas yang kerap memangsa beberapa buruh rodi yang keletihan di malam hari.


Kabar mengenai ribuan penduduk Sumedang yang tewas akibat kerja rodi tentu membuat gusar penguasa setempat saat itu, yaitu Pangeran Kusumahdinata atau lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Kornel. Dia pun merasa terpanggil untuk membela rakyatnya dari tindasan Daendels. Pangeran Kornel segera mengutus beberapa orang kepercayaannya ke lokasi pembuatan jalan yang masih berupa hutan belantara, bercadas keras dengan berbagai binatang buas yang masih berkeliaran. Setelah meneliti keadaan di lapangan, orang-orang suruhan Pangeran Kornel mengungkapkan bahwa kondisi para pekerja paksa sangat memprihatinkan. Bahkan, mereka cuma mempergunakan peralatan atau perkakas yang tergolong sederhana untuk memapras tebing.


Selain kurang peralatan, hambatan lain dalam pembuatan jalan itu adalah perbekalan makanan yang tak mencukupi. Tak heran, buruh rodi banyak yang terjangkit sejumlah penyakit, seperti malaria. Gangguan binatang buas dan hawa dingin yang menusuk di malam hari, turut menambah kesengsaraan para pekerja.


Atas kenyataan itulah, Pangeran Kornel berencana secara terang-terangan melawan Daendels di hadapan para pekerja dan masyarakat Sumedang. Disusunlah rencana pemberontakan terhadap Mas Galak. Setelah rencana dianggap matang, Pangeran Kornel bersama sejumlah pengawalnya pergi ke lokasi kerja rodi tersebut. Dia pun sabar menanti kedatangan Daendels.


Akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga. Di kejauhan tampak Daendels menunggang kuda dengan didampingi segelintir pasukannya. Daendels memang secara rutin kerap mengawasi pembuatan jalan di daerah bercadas tersebut. Pangeran Kornel mencegat rombongan Gubernur Jenderal yang kejam itu, tepatnya di Desa Ciherang.

Tentu saja Daendels kegirangan melihat kedatangannya disambut sendiri oleh penguasa setempat. Tanpa rasa curiga, dia segera mengulurkan tangan kepada Pangeran Kornel. Bukan kepalang terkejutnya Daendels, saat Pangeran Kornel menyambut ulurannya dengan tangan kiri. Tak cuma itu, penguasa Sumedang ini juga menghunus keris Naga Sastra di tangan kanannya.
Dengan pancaran mata yang tajam tanpa berkedip, Pangeran Kornel terus menatap lawannya. Sontak, keangkuhan Daendels luntur seketika. Dia pun terheran-heran dengan perlakuan dari Pangeran Kornel atau Bupati Sumedang itu. Setelah hilang rasa kagetnya, Daendels bertanya kepada Pangeran Kornel mengenai sikapnya itu.

Tanpa perasaan takut, Pangeran Kornel menjawab bahwa pekerjaan yang dibebankan kepada rakyat Sumedang terlalu berat. Setelah mengucapkan alasannya, Pangeran Kornel menantang Daendels duel satu lawan satu. Layaknya seorang ksatria, Pangeran Kornel berkata bahwa regent (bupati) Sumedang yang bernama Pangeran Kusumahdinata lebih baik berkorban sendiri ketimbang harus mengorbankan rakyat Sumedang yang tak berdosa.


Mendengar alasan yang tegas dan jelas tersebut, serta sadar akan situasi yang tidak menguntungkan baginya, Daendels pun luluh keberaniannya. Kemudian Daendels berjanji akan mengambil alih pekerjaan pembuatan jalan oleh Pasukan Zeni Belanda. Sedangkan rakyat Sumedang diperkenankan hanya membantu saja.

Ternyata itu hanyalah akal-akalan Daendels. Buktinya, beberapa hari kemudian, dia membawa ribuan pasukan Kompeni dan hendak menumpas perlawanan Pangeran Kornel. Pertempuran pun berkecamuk di sana. Rakyat Sumedang serta merta angkat senjata membantu junjungan mereka. Lantaran kekuatan yang tak seimbang, akhirnya tentara penjajah berhasil memadamkan pemberontakan Pangeran Kornel dengan memakan korban yang tak sedikit. Sedangkan Pangeran Kornel yang gagah berani itu gugur di ujung bedil pasukan Belanda.

Semenjak itulah, jalan yang melintasi medan berbukit itu dinamakan Cadas Pangeran. Ini untuk mengenang keberanian Pangeran Kornel yang rela gugur dalam memperjuangkan atau membela kepentingan rakyat Sumedang yang sangat dicintainya.(ANS/Dari Berbagai Sumber dan Tradisi Sejarah Lisan Masyarakat Pasundan)

=================
Kisah Misteri Cadas Pangeran Sumedang
Bagi masyarakat Sumedang nama Cadas Pangeran memang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga dalam hal keangkerannya. Pasalnya kisah misteri cadas pangeran Sumedang kerap sekali diperbincangkan dari mulut ke mulut oleh berbagai kalangan masyarakat. Benarkah terdapat keganjilan dengan tempat dan lokasi tersebut? Simak langsung di bawah ini.
kisah-misteri-cadas-pangeran-sumedang-jawa-barat

Cadas Pangeran merupakan nama sebuah wilayah di daerah Sumedang Jawa Barat yang sangat terkenal akan sejarah di masa lalunya.
Peristiwa pembuatan jalan yang menghubungkan antara Kabupaten Cirebon dan Bandung merupakan salah satu peristiwa besar yang hingga kini masih kerap menjadi cerita masyarakat Indonesia tentang menggambarkan kekejaman penjajahan di Indonesia.
Bagaimana tidak, pembangunan jalan raya ini diwarnai dengan peristiwa-peristiwa kejam dari bangsa Belanda terhadap penduduk pribumi.
Menurut berbagai sumber yang menuliskan sejarah kota Sumedang pada masa kekuasaan Pangeran Kusumadinata ke-9 pembangunan jalan di wilayah Cadas Pangeran ini menimbulkan korban jiwa lebih dari lima ribu pekerja paksa.
Selain tekstur tanah berupa cadas kanan dan kiri tempat tersebut yang berupa jurang tajam membuat ribuan pekerja meninggal dunia. Karena peristiwa ini pula konon Pangeran Kusumadinata IX marah dan mengecam aksi Belanda yang tidak manusiawi.
Jauh setelah peristiwa mengenaskan itu terjadi kini Jlan cadas pangeran kerap disebut-sebut sebagai salah satu jalan yang menakutkan serta kerap terjadi peristiwa-peristiwa aneh diluar nalar manusia di sepanjang jalan tersebut.
Tak heran jika banyak orang yang menganggap cadas pangeran merupakan jalan terangker yang terdapat di wilayah Sumedang Jawa Barat.
Tanjakan curam serta belokan yang tajam diwarnai dengan jurang di kanan kiri jalan seakan tepat menggambarkan jalan raya penghubung cirebon dan bandung ini. Selain pemandangan alam yang indah di kanan kiri bukit rupanya kisah misteri kerap pula terjadi di wilayah ini khususnya kisah tentang makhluk gaib yang kerap dituturkan masyarakat.
Sebut saja Rinto, seorang perantau di Bandung yang sedang melakukan perjalanan menuju kampung halamannya di Jawa Tengah memasuki ruas jalan Cadas Pangeran sudah terlalu larut sekitar pukul 01.15 WIB. Meskipun ia memakai kendaraan roda dua sendirian namun tekad nya untuk segera sampai ke kampung halaman untuk memastikan istri nya baik-baik saja setelah melakukan persalinan anak pertama mereka.
Sekitar 10 menit melewati jalan berliku tersebut Rinto sebenarnya sudah sangat tidak nyaman, terlebih suasana pada malam itu tidak seperti biasanya. Jalanan terlihat sangat sepi dari kendaraan.
Sial bagi Rinto ketika melewati tanjakan yang curam motornya mogok entah karena apa, kemudian ia memutuskan untuk menepikan motor dan mencoba memperbaikinya.
Tak jauh dari tempat ia membongkar perlengkapan bengkelnya tiba-tiba ia melihat sosok bayangan hitam dari seberang jalan tepatnya di bawah pohon besar yang ia tak mengetahui apa jenisnya.
Belum juga motornya menyala ia mencoba untuk memperhatikan suara gemerosak seperti benda jatuh dari atas tersebut. Tiba-tia ia melihat sosok hitam berbulu seperti tikus namun kian lama kian membesar hingga tubuhnya saja menjadi tinggi setinggi pohon yang berada di samping jalan cadas pangeran sehingga ia pun harus mendangak untuk melihat wajah dari makhluk itu yang tidak pula tertampak.

Segera setelah dikagetkan dengan makhluk hitam berbulu lebat tersebut ia segera mengemasi peralatan nya dan menyurung motornya untuk turun melaju menuju ke bawah dengan motor tetap mogok.
Untung saja setelah lewat dari suasana menakutkan itu , motornya bisa diperbaiki dan bisa hidup lagi, dan bisa selamat sampai dirumah.......... ( kisah ini boleh dipercaya boleh tidak, karena kisahnya kurang meyakinkan )