GAYATRI..... KEBO AREMA.... MAHISA ANENGAH.......

GAYATRI..... KEBO AREMA.... MAHISA ANENGAH.......

00:29 0
GAYATRI..... KEBO AREMA.... MAHISA ANENGAH........
Gayatri atau Rajapatni adalah nama salah satu istri Raden Wijaya raja pertama Majapahit (1293-1309) yang menurunkan raja-raja selanjutnya.
Silsilah Gayatri
Nagarakertagama menyebutkan Raden Wijaya menikahi empat orang putri Kertanagara raja terakhir Singhasari, yaitu Tribhuwana bergelar Tribhuwaneswari, Mahadewi bergelar Narendraduhita, Jayendradewi bergelar Prajnyaparamita, dan Gayatri bergelar Rajapatni. Selain itu, ia juga memiliki seorang istri dari Melayu bernama Dara Petak bergelar Indreswari.
Dari kelima orang istri tersebut, yang memberikan keturunan hanya Dara Petak dan Gayatri. Dari Dara Petak lahir Jayanagara, sedangkan dari Gayatri lahir Tribhuwano tunggadewi dan Rajadewi. Tribhuwanotunggadewi inilah yang kemudian menurunkan raja-raja Majapahit selanjutnya.
Peranan Gayatri dalam Perjuangan
Pararaton menyebutkan Raden Wijaya hanya menikahi dua orang putri Kertanagara saja. Pemberitaan tersebut terjadi sebelum Majapahit berdiri. Diperkirakan, mula-mula Raden Wijaya hanya menikahi Tribhuwaneswari dan Gayatri saja. Baru setelah Majapahit berdiri, ia menikahi Mahadewi dan Jayendradewi pula. Dalam Kidung Harsawijaya, Tribhuwana dan Gayatri masing-masing disebut dengan nama Puspawati dan Pusparasmi.
Pada saat Singhasari runtuh akibat serangan Jayakatwang tahun 1292, Raden Wijaya hanya sempat menyelamatkan Tribhuwana saja, sedangkan Gayatri ditawan musuh di Kadiri. Setelah Raden Wijaya pura-pura menyerah pada Jayakatwang, baru ia bisa bertemu Gayatri kembali.
Pararaton menyebutkan, Raden Wijaya bersekutu dengan bangsa Tatar (Mongol) untuk dapat mengalahkan Jayakatwang. Konon raja Tatar bersedia membantu Majapahit karena Arya Wiraraja menawarkan Tribhuwana dan Gayatri sebagai hadiah.
Kisah tersebut hanyalah imajinasi pengarang Pararaton saja, karena tujuan utama pengiriman pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese ke tanah Jawa adalah untuk menaklukkan Kertanagara.
Setelah Jayakatwang kalah, Raden Wijaya dan Arya Wiraraja ganti menghadapi pasukan Tatar. Dikisahkan dalam Pararaton bahwa, kedua putri siap untuk diserahkan dengan syarat tentara Tatar harus menyembunyikan senjata masing-masing, karena kedua putri tersebut ngeri melihat senjata dan darah. Maka, ketika pasukan Tatar, tanpa senjata, datang menjemput kedua putri, pasukan Raden Wijaya segera membantai mereka.
Gayatri Sepeninggal Jayanagara
Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit sejak tahun 1293. Ia meninggal tahun 1309 dan digantikan putranya, yaitu Jayanagara. Pada tahun 1328 Jayanagara mati dibunuh Ra Tanca.
Menurut Nagarakretagama, sebagai sesepuh keluarga kerajaan yang masih hidup, Gayatri berhak atas takhta. Akan tetapi Gayatri saat itu sudah mengundurkan diri dari kehidupan duniawi dengan menjadi Bhiksuni (pendeta Buddha). Ia lalu memerintahkan putrinya, yaitu Tribhuwanotunggadewi naik takhta mewakilinya pada tahun 1329 menggantikan Jayanagara yang tidak punya keturunan. Pada tahun 1350, Tribhuwanotunggadewi turun takhta bersamaan dengan meninggalnya Gayatri.
Nagarakretagama seolah memberitakan kalau takhta Jayanagara diwarisi Gayatri, karena ibu tirinya itu adalah putri Kertanagara. Mengingat Gayatri adalah putri bungsu, kemungkinan saat itu istri-istri Raden Wijaya yang lain sudah meninggal semua dan garis keturunan yang masih tersisa adalah dari Gayatri. Karena Gayatri telah menjadi pendeta, maka pemerintahannya pun diwakili oleh puterinya, Tribhuwanotunggadewi yang diangkat sebagai Rajaputri (Raja perempuan), sebutan untuk membedakan dengan istilah "Ratu" dalam bahasa Jawa yang berarti "penguasa".
Sementara pihak menganggap berita dalam Nagarakretagama tersebut kurang tepat, karena pada tahun 1351 Tribhuwanotunggadewi masih menjadi rajaputri, terbukti dengan ditemukannya prasasti Singasari. Nagarakretagama dan Pararaton juga memberitakan pada tahun 1362 Hayam Wuruk (raja keempat) mengadakan upacara Sraddha memperingati 12 tahun meninggalnya Gayatri Rajapatni.
KEBO AREMA DAN MAHISA ANENGAH DALAM PEMERINTAHAN KERTANEGARA
Prabu Kertanagara mempunyai Mahamentri bernama Empu Raganata yaitu seorang yang bijak dan cakap dalam melaksanakan tugasnya yang dikarenakan adanya perbendaan pandangan dengan prabu Kertanagara.
Mpu Raganata selalu memberikan nasehat – nasehat serta memberikan saran saran apabila Prabu Kertanagara mengalami kesulitan dalam pemerintahannya. Tanpa tedeng aking-aling ia berani mengemukakan pendapat dan keberatan-keberatannya terhadap sikap dan kepemimpinan prabu Kertanagara. Hal inilah yang tidak disukai oleh Kertanagara yang lebih mengagungkan kekuatannya sendiri.
Diantara Raja-Raja Singhasari, Raja Kertanagara yang pertama tama melepaskan pandangan ke luar Jawa. Prabu kertanagara ingin mendobrak politik tradisional yang hanya berkisar pada Janggala-Panjalu dan ingin mempunyai kerajaan yang lebih luas dan lebih besar dari kedua wilayah tersebut yang berupakan warisan dari Raja Erlangga.
Kebijakan baru tersebut mendapat tantangan dari pembesar pembesar Singhasari yang menganut politik lama sehingga untuk melancarkan kebijakannya, Raja Kertanagara tidak segan segan menyingkirkan para pembesar yang meghalanginya dan menggantikannya dengan pujabat lain yang mendukung kebijakannya.
Dalam kidung Panji Wijayakrama dan pararaton diuraikan bahwa pembesar yang telah lama mengabdi dalam pemerintahan Prabu Wisnuwardhana dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan politik baru yang dijalankan Prabu Kertanagara diturunkan jabatannya
Pemecatan Mahamantri Empu Raganata. Mpu Raganata akhirnya berhenti dari jabatannya sebagai patih dan diangkat sebagai Adyaksa di Tumapel, dan mengangkat Mahesa Anengah dan Panji Anggragani sebagai penggantinya.
Arya Wiraraja yang tidak sepaham dengan Prabu Kertanagara juga dilorot kedudukannya sebagai emung dipindahkan menjadi adipati di Madura Timur. Tumenggung Wirakerti diturunkan kedudukannya sebagai tumenggung menjadi Menteri Anggabaya (Mantri Pembantu) Pujangga Santasemreti meninggalkan istana dan pergi bertapa di hutan.
Perubahan ini menimbulkan kegelisahan diantara para pembesar istana dan rakyat.
Patih Kebo Arema dan Ramapati kemudian diandalkan sebagai penasehat politik Prabu Kertanagara dalam mengadakan hubungan dengan pembesar pembesar di Madura dan Nusantara.
Ramapati mengepalai Kabinet Mahamantri Agung yang terdiri dari Patih, Demung, Tumenggung, Rangga dan Kanuruhan. Akibat perubahan tersebut akhirnya timbul pemberontakan Kelana Bayangkara dan pemberotakan Cayaraja yang walaupun berhasil ditumpas namun menimbulkan kekisruhan dalam negeri.
Pelabuhan Melayu alias Jambi pada abad ke-7 adalah pelabuhan penting untuk lalu lintas kapal yang berlayar dari dan ke Tiongkok. Pelabuhan melayu menguasai pelayaran di selat malaka dan merupakan pangkalan untuk perluasan pengaruh Tiongkok di negeri selatan.
Hal tersebut disadari benar oleh Raja Kertanagara sehingga mengerahkan segala kekuatan tentara Singhasari untuk untuk merebut kekuasaan kerajaan melayu yang terkenal dengan sebutan Ekspedisi Pamalayu tahun 1275.
Ekspedisi Pamalyu
Pada tahun 1275 atau tahun saka 1197 Kertanegara mengirim tentaranya ke Melayu melalui pelabuhan Tuban dengan diantar oleh Mahisa Anengah Panji Angragani sampai dipelabuhan Tuban.
Pemberontakan Jayakatwang
Dalam bidang politik dan kehidupanj agama, Raja Kertanagara berhasil membawa pembaharuan dan sanggup melaksanakan apa yang dicita citakan, namun karena kurangnya kewaspadaan maka Raja Kertanagara dapat dijegal ditengah jalan oleh lawan-lawan politiknya.
Arya Wiraraja adalah mantan pejabat Singhasri yang dimutasi ke Sumenep karena dianggap sebagai penentang politik Kertanagara mendapat kesempatan baik untuk melampiaskan kemarahannya. Suatu hari Jayakatwang menerima kedatangan Wirondaya putra Aria wiraraja yang menyampaikan surat dari ayahnya,
Isi Surat Arya Wiraraja Sebagai Berikut “
“ Patik memberitahukan kepada Kanjeng sinuhun Prabu. Paduka Nata dapat disamakan dengan orang yang sedang berburu. Hendaklah waspada dan pandai memilih saat dan tempat yang sebaik baiknya. Sekarang inilah saat yang palig baik dan paling tepat. Tegal sedang tandus, tidak ada rumput, tidak ada ilalang, daun daun sedang gugur berhamburan di tanah. Bukitnya kecil kecil, jurangnya tidak berbahaya, hanya didiami harimau tua, yang sama sekali tidak menakutkan. Tidak ada kerbau, sapi, rusa yang bertanduk. Jika mereka itu sedang menyenggut rumut baiklah mereka itu diburu, pasti tidak berdaya. Satu satunya harimau yang tinggal adalah harimau guguh yang sudah tua renta yaitu Empu Raganata.”
Dari isi surat tersebut nyatalah bahwa Singhasari dalam keadaan kosong, satu satunya pahlawan yang dapat dibanggakan hanya Empu Raganata yang sudah tua renta.
Jayakatwang adalah bupati Gelang-Gelang .Jayakatwang juga sering kali disebut dengan nama Jayakatong, Aji Katong, atau Jayakatyeng. Dalam berita Cina ia disebut Ha-ji-ka-tang.
Setelah Jayakatwang membaca isi surat tersebut tahulah beliau makna yang tersirat dari surat wiraraja tersebut. Jayakatwang kemudian minta pendapat dari patihnya Wirondaya.
Jawabnya
“ Semenjak Prabu Kertanagara memimpin pemerintahan nasehat Empu Raganata dan wreda Mahamantri agung diabaikan dan cendrung menerima nasehat dari Mahamantri agung yang baru. Moyang paduka prabu Dandang gendis (Kertajaya) binasa karena pemberontakan ken Arok Raja Singhasari yang pertama. Prabu Kertajaya dan bala tentaranya musnah karena tindakan Ken Arok. Padukalah yang mempunyai kewajiban untuk membangun kembali Kerajaan Kadiri dan membalas kekalahan dari dari Prabu Kertajaya”.
Jayakatwang melaksanakan saran Aria Wiraraja. Ia mengirim pasukan kecil yang dipimpin Jaran Guyang menyerbu Singhasari dari utara. Bala tentara Daha dibawah pimpinan Jaran Guyang telah sampai diseda Mameling, banyak penduduk yang lari ketakutan dan mengungsi ke Singhasari. Utusan ari Mameling sudah samapai di Istana dan melaporkan tentang adannya pemberontakan tersebut, namun Prabu Kertanagara tidak percaya. Batu setalah menyaksikan sendiri para pengungsi mengalir ke kota barulah Prabu Kertanagara mengambil tindakan.
Melihat keadaan seperti itu, Kertanagara segera mengirim pasukan untuk menghadapi yang dipimpin oleh menantunya, bernama Raden Wijaya. Karena khawatir akan keselamatan Raden Wijaya yang masih muda Raja Kertanagara kemudian mengirim Patih Kebo Anengah untuk menyusul . Pasukan Jaran Guyang berhasil dikalahkan. Namun sesungguhnya pasukan kecil ini hanya bersifat pancingan supaya pertahanan kota Singhasari kosong.Pasukan kedua Jayakatwang menyerang Singhasari dari arah selatan dipimpin oleh Patih Mahisa Mundarang
Sepeninggal Kebo Anengah, pasukan utama musuh datang dari selatan menyerbu istana Singhasari. Sementara itu Prabu kertanagara tinggal di Istana didampingi Panji Anggragani. Beliau terperanjat mendengar sorak sorai bala tentara Daha yang telah memasuki halaman Istana. Empu Raganata dan Mahamantri Anggabaya Wirakreti memberi nasehat
“ adalah haram bagi seorang raja mati terbunuh oleh tentara musuh dalam keputrian . Lawanlah musuh yang menyerang “
Demikianlah Prabu Kertanagara kali ini mengindahkan nasehat Empu Raganata. Akhirnya Prabu Kertanagara, Empu Raganata,, Panji Anggragani dan Wirakreti gugur dalam perlawanan gigih melawan musuh yang tiba tiba datang menyerang Singhasari.
Pasukan pengawal ibukota sedikit lantaran sebagian besar pasukan dipimpin Sanggramawijaya (Raden Wijaya) untuk menumpas gerakan pasukan kediri yang lain yang merupakan pasukan pancingan.Namun demikian, pasukan pemberontak yang datang dari selatan ibu kota berhasil menewaskan Kertanagara.
Patih Kebo Anengah mendengar berita bahwa ibu kota telah runtuh. Ia segera berbalik arah tidak jadi menyusul Raden Wijaya. Ketika sampai di istana, ia akhirnya tewas juga di tangan para pemberontak.
KISAH KEBO AREMA LAINNYA
Adalah Kidung Harsawijaya yang pertama kali mencatat nama tersebut, yaitu kisah tentang Patih Kebo Arema di kala Singosari diperintah Raja Kertanegara. Prestasi Kebo Arema gilang gemilang. Ia mematahkan pemberontakan Kelana Bhayangkara seperti ditulis dalam Kidung Panji Wijayakrama hingga seluruh pemberontak hancur seperti daun dimakan ulat. Demikian pula pemberontakan Cayaraja seperti ditulis kitab Negarakertagama.
Kebo Arema bersama Mahisa Anengah pula yang menjadi penyangga politik ekspansif Kertanegara.
Sejarah heroik Kebo Arema membela Kertanegara hingga tewas dan Mahisa Anengah memang tenggelam. 
Buku-buku sejarah hanya mencatat Kertanegara sebagai raja terbesar Singosari, yang pusat pemerintahannya dekat Kota Malang.

Nuwun...............
sty hadi
BERDIRINYA PURA MANGKUNEGARAN

BERDIRINYA PURA MANGKUNEGARAN

20:10 0
Berdirinya “Pura Mangkunegaran”.
PERJANJIAN SALATIGA 17 Maret 1745

Karena merasakan tindakan kompeni yang sewenang-wenang terhadap rakyat Kerajaan Mataram di Kartasura, maka pada tahun 1741 RM. Said meninggalkan Keraton Kartasura menuju Desa Nglaroh untuk menyusun pemberontakan melawan Belanda.
RM. Said yang berganti nama menjadi RM. Suryakusuma mulai membangun perlawanan di Desa Nglaroh dengan bermodalkan pasukan permulaan yang berjumlah 40.orang. Pada awal perjuangannya, RM. Suryakusuma bergabung dengan RM. Garendi atau yang terkenal dengan Sunan Kuning bersama Laskar Cina di bawah pimpinan Kapitan Sepanjang. Pada tahun 1743, RM. Garendi tertawan oleh Belanda di Surabaya dan di buang ke Afrika Selatan. Pasukan dapat di tumpas oleh Belanda sedangkan Kapitan Sepanjang hilang dalam pengejaran.
Tahap berikutnya, RM. Said bergabung dengan Pangeran Mangkubumi yang kelak menjadi Sultan dengan gelar Sultan Mangkubumi I. RM. Said yang juga terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyawa akhirnya memisahkan diri dari Pangeran Mangkubumi dan memimpin pasukannya sendiri melanjutkan perjuangannya melawan Kompeni Belanda.
Pangeran Mangkubumi pada th 1755 melakukan perundingan dengan pihak Belanda di Giyanti. Perjanjian tersebut menghasilkan kesepakatan yang antara lain memberi hak pada sang Pangeran untuk memerintah sebagian dari wilayah Kartasura ,dan oleh beliau kerajaan yang baru ini di namakan Ngayogjakarta Hadiningrat yang populer di sebut sebagai Yogyakarta, sedang rajanya bergelar Sultan Hamengkubuwono I.
Di saat RM. Said atau Pangeran Samber Nyawa mulai melakukan perlawanannya, Kerajaan Mataram yang berpusat di Kartasura diperintah oleh Pakubuwono II. Namun, sejak Keraton Kartasura dapat di rebut oleh RM. Garendi beserta laskar Cina pada tahun 1742, ibukota kerajaan pindah ke Surakarta. RM. Garendi beserta laskar Cinanya dapat di usir oleh Belanda setelah menduduki Keraton Kartasura selama 9 bulan. Pangeran Samber Nyawa tetap melanjutkan perjuangannya mulai dari daerah Kabupaten Sukoharjo, ke daerah Klaten,Wonogiri, Madiun, Karanganyar dan Sragen. Pakubuwono II wafat dan digantikan putranya yang bergelar Pakubuwono III dan berkedudukan di Surakarta. Raja baru ini mempunyai kebijaksanaan yang agak berbeda dengan pendahulunya. Beliau ingin mengakhiri pemberontakan Pangeran Samber Nyawa dengan melalui perundingan. Pemikiran demikian timbul antara lain karena saran dari Kompeni yang sudah kewalahan menghadapi Pangeran Samber Nyawa.
Sinuhun Pakubuwono III di paroh akhir tahun 1756 menulis surat kepada Pangeran Samber Nyawa agar kembali ke Surakarta untuk membantu beliau menjalankan pemerintahan, adapun mengenai hal-hal yang berkaitan dengan wilayah pemerintahan dan kedudukan Pangeran Sambernyawa dapat dirundingkan kelak. Akhirnya pada hari Kamis Pahing tanggal 4 Jumadilakir, tahun 1682 (M.1756), Pakubuwono III menjemput Pangeran Sambernyawa di Desa Tunggon untuk di ajak kembali ke Surakarta.
Pada awal tahun 1757, Gubernur Jenderal Belanda di Batavia menulis surat kepada Pakubuwono III di Surakarta, Sultan Hamengkubuwono I diYogyakarta ,dan RM. Said atau Pangeran Sambernyawa. Surat tersebut berisi undangan agar ketiganya bertemu di Salatiga untuk mengadakan perundingan.
Pada tanggal 17 Maret 1757 di dusun Kalicacing, Salatiga, perundingan tersebut dapat terlaksana. Menurut buku Babad KGPAA.Mangkunegara I,susunan formasi para peserta perundingan adalah sebagai berikut : Nicholas Harting sebagai wakil dari Gubernur Jenderal Belanda, yang dalam hal ini bertindak sebagai fasilitator duduk di tengah, di apit oleh Pakubuwono III, disebelah kanan dan Hamengkubuwono I dikirinya. Di hadapan mereka duduk Pangeran Sambernyawa. Perundingan ini disaksikan oleh kepala perwakilan VOC dan kedua patih, baik dari Surakarta maupun Yogyakarta, yaitu Mangkupraja dan Suryanegara.
Perundingan tersebut menghasilkan kesepakatan sebagai berikut :

Pangeran Sambernyawa di angkat sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati Mangkunegara I
Beliau berhak menguasai tanah seluas 4000 karya, serta semua daerah yang pernah dilewati selama mengadakan pemberontakan dan menjalankan roda pemerintahannya.
Beliau berhak mendirikan sebuah istana atau Puro sebagai pusat pemerintahannya di Surakarta, tetapi dengan syarat :
Dilarang membuat singgasana
Dilarang membuat alun-alun dengan beringin kurung
Dilarang membuat “Siti Inggil” dan balaiurung
Dilarang menjatuhkan hukuman mati

Istana dan Praja Mangkunegaran selanjutnya di kenal dengan nama “Pura Mangkunegaran”. Kesepakatan tersebut di atas di kenal dengan nama “Perjanjian Salatiga” DENGAN DEMIKIAN PADA TG 17 MARET 2007, USIA PURA MANGKUNEGARAN MENCAPAI GENAP 250 TAHUN.
Pemerintah Indonesia sangat menghargai jasa Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegara I sebagai pejuang kemerdekaan nasional. Hal itu terbukti dengan pengangkatan beliau sebagai pahlawan kemerdekaan nasional seperti yang
tertuang dalam keputusan Presiden RI. No. 048/TK tahun 1988, tanggal 17 Agustus 1988.
Setelah Mangkunegara I wafat, beliau digantikan oleh Mangkunegara II dan seterusnya, hingga saat ini yang menjabat sebagai pimpinan Pura Mangkunegaran adalah Sri Paduka Mangkunegara IX.
Sejak pemerintahan Mangkunegara I hingga Mangkunegara IX, Pura Mangkunegaran telah memberikan sumbangan yang besar bagi bangsa dan kebesaran nama Indonesia.
Karya-karya tari dan sastra, serta berbagai ragam seni budaya bermutu tinggi banyak yang lahir dari lingkungan Mangkunegaran. Peranan Pura Mangkunegaran di bidang pendidikan menghasilkan tokoh-tokoh nasional, serta putera bangsa yang berbobot.
Dalam perjuangan kemerdekaan nasional, banyak kerabat Mangkunegaran yang langsung terlibat dalam perjuangan fisik maupun non fisik.
Sebagai ungkapan terima kasih kepada mereka semua, serta untuk memupuk rasa persatuan dan kebangsaan yang akhir-akhir ini dirasakan agak pudar, maka seluruh jajaran Pura Mangkunegaran mengajak masyarakat luas untuk bersama-sama berpartisipasi merayakan “250 tahun Pura Mangkunegaran”. Dalam rangka mereaktualisasi Budaya Mangkunegaran, maka panitya mempunyai rencana untuk mengadakan Pagelaran-pagelaran , seminar-seminar, pameran-pameran, dan kegiatan lainnya.
Dengan memohon Ridho Allah SWT., Tuhan Yang Maha Pengasih, Peringatan “250 tahun Pura Mangkunegaran”, akan dimulai dengan acara selamatan di Kalicacing, Salatiga pada tanggal 17 Maret 2007, dan disusul dengan kegiatan2 lainnya yg akan berlangsung sepanjang tahun 2007

"Pahlawan Nasional RM Said berjuang melawan penjajah bersama para Ulama, Pendekar, laskar Tionghoa dan prajurit wanita"
PANGERAN SAMBERNYAWA
Masalah tersebut, maka RM. Said atau Pangeran Sambernyawa, karena menyaksikan penderitaan rakyat Mataram akibat penindasan Kompeni, beliau memilih keluar dari Istana Kartasura dan membangun perlawanan terhadap VOC. Kompeni merasa kewalahan dan mengajak berdamai, tetapi selalu ditolak oleh Pangeran Sambernyawa. Namun setelah Paku Buwono III meminta beliau pulang ke Surakarta dengan maksud agar beliau membantu Sinuhun PB.III didalam mengendalikan Kerajaan Mataram, Pangeran Sambernyawa menerima ajakan tersebut dan selanjutnya bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Ario Adipati Mangkunegara, Menurut Babad Panambangan, pada saat PB.III menjemput RM.Said dari medan perang, beliau berkata bahwa segala sesuatu yang menyangkut kedudukan KGPAA. Mangkunegara akan dibicarakan di kemudian hari. Sebagai realisasi penyelesaian, maka diadakanlah perundingan di Desa Kalicacing Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757.
Pada dasarnya perundingan yang diadakan adalah perundingan antara RM.Said dengan PB.III. Namun, karena sejak Perjanjian Giyanti Tahun 1755 wilayah Kerajaan Mataram sudah terbagi menjadi dua kerajaan, yaitu Surakarta dan Yogyakarta, maka dalam perundingan tersebut, diikuti juga perwakilan dari Keraton Yogyakarta dan Perwakilan dari VOC yang bertindak sebagai saksi. Perundingan ini menghasilkan suatu perjanjian yang dikenal dengan nama PERJANJIAN SALATIGA. Sejak itu maka secara defacto dan dejure terbentuklah PRAJA MANGKUNEGARAN
BARISAN ULAMA
“Subhanullah Subhanullah Subhanullah Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar”. Kalimat ini senantiasa dikumandangkankan oleh Pangeran Sambernyawa dimanapun beliau berada. RM.Said mengangkat senjata bukan karena ingin menjadi raja, tetapi karena didorong oleh cita-cita luhur untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Mulat sariro hangrasa wani, melalui introspeksi diri yang terus menerus, maka akan menimbulkan keberanian untuk bertindak demi keadilan dan kebenaran. Bagi beliau, menjaga kebersihan batin adalah merupakan hal yang mutlak yang harus dilakukan dalam hidup ini. Para Kyai dan ulama tanpa ragu mendukung perjuangan beliau. Kyai Penambangan selalu berada disamping beliau dalam suka dan duka. Raden Penghulu, pimpinan ulama dari Bayat gugur ditembus peluru Belanda di saat bertempur bersama RM.Said. Pangeran Sambernyawa merupakan sosok pribadi yang tabah dan pemberani, tetapi penuh dengan welas asih.
BARISAN PRAJURIT WANITA
Ada ungkapan “witing klapa Jawata ing ngarsa pada, salugune wong wanita dasar nyata”. Wanita adalah bagaikan dewi yang turun ke bumi. Keberadaannya di dunia ini harus dihormati. Mereka diibaratkan sebagai pohon kelapa yang kokoh, tetapi luwes. Prinsip-prinsip inilah yang dipegang oleh Mangkunegara I dalam memperlakukan para wanita. Di saat dunia masih mempermasalahkan kesetaraan gender, beliau telah membentuk pasukan wanita yang bertempur dengan gagah berani disamping para pasukan pria. Pasukan ini dinamakannya “Ladrang Mangungkung”, yang berarti Pasukan yang mengepung musuh hingga tak berdaya dan itu telah terbukti di berbagai pertempuran melawan VOC.
PASUKAN PRIA
Rakyat Kerajaan Mataram adalah rakyat yang cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan. Hal ini terbukti sejak Sultan Agung Hanyakra Kusuma memimpin rakyatnya melawan penjajah. Semangat untuk melawan penindasan tersebut diwariskan kepada keturunan beliau yang bernama RM.Said. Para prajurit RM.Said bukanlah prajurit bayaran. Sebagian besar dari mereka adalah para petani, tukang penebang kayu, pemburu dan rakyat kecil lainnya. Mereka tergerak hatinya ketika mendengar pekik perjuangan yang dikumandangkan oleh RM.Said. Berjuang dan berjuang demi keadilan. Darah mereka tertumpah, dalam pertarungan demi pertarungan.
“Jer Basuki Mawa Bea, Rawe-Rawe rantas malang malang putung,
ojo nganggu gawe, marang kamardikan”.
"Semua tujuan harus ditebus melalui pengorbanan dan segala yang penghalang untuk tercapainya kemerdekaan, akan tersapu".
PRAJURIT TIONGHOA
Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, perjuangan melawan penindasan tidak mengenal sekat ethnis, suku dan agama. Pangeran Sambernyawa sangat memahami hal tersebut. Beliau berhasil mengajak seluruh masyarakat untuk “Hanebu Sa’uyun” Bersatu kokoh bagaikan seikat tebu melawan segala bentuk kejahatan. Sejarah mencatat bahwa seluruh rakyat Mataram termasuk ribuan etnis Tionghoa dibawah kepemimpinan Kapitan Sepanjang dan Tan Sin Ko alias Sinshe, bersatu padu, bahu membahu, bersama RM.Said dalam berjuang mengenyahkan penjajah dari bumi Nusantara. Darah para pejuang laskar Tionghoa ini tumpah menggenangi bumi pertiwi, menyatu dengan darah saudara-saudaranya dari suku Jawa. Darah yang telah tergenang berbaur tanpa dapat dibedakan lagi, apakah itu darah Tionghoa atau darah Jawa.
W A R O K
Pada saat RM.Said tiba didaerah Keduwang, Wonogiri, beliau bertemu dengan para pejuang yang gagah berani. Mereka menamakan dirinya sebagai warok. Mereka menyatakan keinginannya untuk mengikuti RM.Said berjuang melawan Kompeni. Kesaktian para pendekar ini telah terbukti dalam berbagai pertempuran.
“Suro Diro Jayaningrat lebur dening pangastuti”.
Segala kesaktian akan pudar kalau tidak menyatu dengan kebaikan.
KEMERDEKAAN
Tanggal 17 Agustus 1945, Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Mulai saat itu bangsa Indonesia memasuki babak kehidupan yang baru dan Praja Mangkunegaran meleburkan diri pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
Cita-cita agung dari para pejuang bangsa yang telah mendahului kita, termasuk Pahlawan Nasional RM.Said dan mereka yang telah berjuang bersamanya, perlu kita ujudkan secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan semboyan :
· Rumongso Melu Handarbeni
· Wajib Melu Hanggrumengkepi
· Mulat Sariro
· Angrosowani
Marilah kita jaga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai diakhir jaman. Semoga darah para martir yang telah membasahi tanah air, di saat mereka melaksanakan kewajibannya yang berupa “Melu Hanggrumengkepi” selalu mengingatkan kita akan pentingnya menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa.

SALATIGA
(1740-1743)
Peristiwa yang terjadi di Salatiga pada tahun tersebut sangat erat hubungannya dengan apa yang terjadi di Keraton Kartasura. Pada masa itu yang bertahta di Kartasura adalah Paku Buwono II. Beliau mempunyai beberapa saudara, antara lain bernama Pangeran Arya Mangkunegoro, yang kemudian di buang ke Afrika Selatan oleh Kompeni dan wafat disana. Sebelum di buang, beliau berputra seorang laki-laki yang di beri nama RM.Said (Pangeran Sambernyawa). Pada masa itu kekejaman Kompeni mencapai puncaknya. Para petani di peras dan di Batavia lebih kurang 10.000 orang Tionghoa di bantai karena tidak mampu dibebani pajak yang tinggi. Sebagian dari mereka yang hidup, melakukan perlawanan terhadap Kompeni dan lari ke Jawa Tengah. Keadaan yang demikian menimbulkan keresahan rakyat dan para pemimpin dilingkungan Kerajaan Mataram. Para Bupati membakar semangat rakyatnya untuk berontak melawan Kompeni. Pemberontakan terhadap Kompeni tersebut dipelopori antara lain oleh Bupati Mengunoneng dari Pati, Bupati Martapura dari Grobogan dan Bupati dari Lasem yang bernama Martawijaya. Dalam waktu yang hampir bersamaan, RM.Said meninggalkan Keraton Kartasura menuju Desa Nglaroh, mengumpulkan pasukan permulaan yang berjumlah 40 orang dan melakukan serangan pada pos-pos Kompeni. Tindakan RM.Said diikuti oleh RM.Garendi, cucu Amangkurat III, raja yang di kudeta oleh Pakubuwono I. Ayah RM.Garendi yang bernama Pangeran Teposono terbunuh dalam suatu persekongkolan dan RM.Garendi lari kearah Grobogan dan Demak, membangun perlawanan terhadap Kompeni. Dengan demikian ada dua Pangeran yang keluar dari keraton dan mengadakan perlawanan terhadap kompeni pada saat itu yaitu, RM.Said dan RM.Garendi.
Laskar Cina pelarian dari Batavia di bawah pimpinan Kapiten Sepanjang bergabung dengan Laskar Cina lokal Jawa Tengah, di bawah pimpinan Sin She alias Tan Sin Ho.
Gabungan Laskar Cina ini bersatu dengan Laskar para bupati pemberontak di dalam melakukan perlawanan terhadap Kompeni. Sunan Pakubuwono II pada mulanya mendukung perjuangan mereka. Benteng Salatiga diduduki oleh Pasukan Kartasura, dibawah pimpinan Patih Pringgalaya. Namun tidak beberapa lama pasukan dimaksud di tarik ke Kartasura untuk membendung bala tentara Kompeni yang mengancam Keraton Kartasura. Sebagai gantinya Salatiga di pertahankan oleh satu detasemen Laskar Cina yang didatangkan dari Semarang.
Kompeni merasa tidak senang atas berpihaknya PB.II kepada pemberontak dan mengeluarkan berbagai ancaman. Disebabkan Pringgalaya takut atas ancaman Kompeni yang demikian itu dan untuk membuktikan bahwa dia tidak bersekongkol dengan Laskar Cina, maka pada tahun 1741 ia memenggal kepala seorang juru tulis Tionghoa, yang bernama Gow Ham Ko di Salatiga. Kepala Gow Ham Ko oleh Patih Pringgoloyo diserahkan kepada Kompeni. Hal ini membuat marah Patih Notokusumo, seseorang yang lebih senior dari Pringgalaya. Secara diam-diam dia memerintahkan semua pengikutnya untuk bergabung dengan pasukan Tionghoa dan pemberontak lainnya untuk menyerang kompeni di Semarang. Sayang, serangan
terhadap kompeni yang di Semarang mengalami kegagalan. Pasukan pemberontak mundur dan Patih Notokusumo di tangkap Belanda.
Sebagian besar pasukan yang mundur bertahan didaerah Salatiga dengan pertahanan Kali Tuntang. Berbagai kekuatan pemberontak, seperti pasukan Pringgalaya berada di Kalicacing, Pasukan Kyai Mas Yudonegoro, seorang ulama dari Semarang berada di bagian timur dan pasukan Cina di sekitar Kali Tuntang.
Kekalahan pasukan pemberontak di Semarang membuat PB.II ragu dan akhirnya memutuskan berbalik berpihak pada kompeni. Ia memerintahkan pasukannya di bawah Pringgalaya menggempur para pemberontak. Menanggapi situasi demikian itu, para bupati pemberontak dan pimpinan laskar Tionghoa berkumpul untuk mengangkat RM.Garendi sebagai raja Mataram pada tanggal 6 April 1742. Mereka berikrar akan melawan kompeni sampai ajal tiba. Sasaran mereka merebut benteng kompeni di Kartasura. Pertempuran pertama yang harus mereka hadapi ialah di Salatiga, dimana mereka harus berhadapan dengan Pringgalaya di Kalicacing yang sekarang berpihak pada VOC.
Setelah Salatiga jahtuh ketangan RM.Garendi, dengan mudah mereka merebut benteng kompeni di Kartasura dibawah Van Hohendorf. RM.Garendi di Kartasura bertemu dengan RM.Said yang selanjutnya keduanya bergabung melawan kompeni pada pertengahan 1742. Sementara itu Salatiga telah dikuasai oleh pasukan pemberontak yang terdiri dari laskar Cina, pasukan dibawah Kyai Mas Yudonegoro dan pasukan para bupati yang setia pada Patih Notokusumo.
Belanda merencanakan mengirim pasukan gerak cepat yang terdiri dari 300 prajurit Eropa dan 500 prajurit pribumi ke Salatiga, tapi mengalami kegagalan karena pasukan yang akan menjemput mereka sebelum memasuki Salatiga telah dipukul mundur ke Ampel.
Pada tanggal 19 Juni 1742 serangan besar-besaran akan dilancarkan ke kota Salatiga. Namun sebelum sampai tujuan, mereka ketakutan dan kembali ke Semarang, karena Kompeni melihat konsentrasi kekuatan pasukan Kyai Mas Yudonegoro. Pasukan gabungan dari RM.Garendi atau Sunan Kuning terus melakukan perlawanan pada kompeni di seluruh wilayah Jawa Tengah. Kali ini yang menjadi sasaran adalah Tanjung, Jepara. RM.Said bersama laskar Cina yang berkekuatan 800 orang bertempur melawan pasukan kompeni dibawah Kapten Mom di Welahan pada tanggal 24 Agustus 1742, namun pasukan ini karena kekuatan persenjataan yang tak seimbang terpaksa mundur. Sebagian diantaranya membuat pertahanan di Salatiga dan memasang barikade di Kali Tuntang. Pasukan kompeni dibawah Hohendorf gagal menembus barikade ini. Ditempat ini komandan dan laskar Cina, yaitu Kapitan Sepanjang telah mengeksekusi anak buahnya yang bernama Swa Ting Giap karena mau menyeberang ke pihak Kompeni.
Sunan Kuning atau RM.Garendi beserta Laskar Cina, Kyai Mas Yudonegoro, Bupati Mangunnoneng, serta Bupati Martapura, melakukan serangan ke Salatiga dan memaksa Patih Pringgalaya yang sudah berbalik membantu Kompeni, mundur ke Tengaran, kemudian Ampel.
Pasukan RM.Garendi terus mengejar pasukan Kartasura dibawah Pringgalaya dan akhirnya menyerbu benteng Kompeni di Kartasura. Di tempat ini, RM.Garendi beserta Laskar Cina bersatu dengan RM.Said melakukan perlawanan terhadap Kompeni.
Pertempuran yang terjadi di Salatiga, mulai sejak pasukan Pringgalaya menyerbu benteng Kompeni sampai dengan insiden pembunuhan juru tulis Tionghoa dan juga pertempuran antara RM.Garendi beserta Laskar Cina menyerang pasukan Pringgalaya yang telah berbalik sebagai sekutu Kompeni, diceriterakan secara detail dalam Buku Babad Keraton dalam bentuk tembang. Buku dengan huruf Jawa yang aslinya disimpan di British Library London, telah disalin dalam huruf Latin oleh Drs. I.W. Pantja Sunyata, Drs. Ignatius Supriyanto dan Prof. Dr. J.J. Ras.
Diposkan oleh Princess Dewi Mutiara Intan Berlian Pakidulan di 12.29
Biografi Tan Malaka

Biografi Tan Malaka

07:35 0
Biografi Tan Malaka
Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 – wafat di Jawa Timur, 1949 pada umur 51 tahun[1]) adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin komunis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris.
Dia kukuh mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan komunis, ia juga sering terlibat konflik dengan kepemimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan komunis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai "Pahlawan revolusi nasional" melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963.
Riwayat
Saat berumur 16 tahun, 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda.
Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda.
Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik
Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai.
Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang ke Kupang.
Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda.

Perjuangan
Tan Malaka juga seorang pendiri partai Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana semangatnya gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat.
Tokoh ini diduga kuat sebagai orang di belakang peristiwa penculikan Sutan Sjahrir bulan Juni 1946 oleh "sekelompok orang tak dikenal" di Surakarta sebagai akibat perbedaan pandangan perjuangan dalam menghadapi Belanda.
Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.
Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.
Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.
Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.
Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.
Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.
Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan
banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis "Menuju Republik Indonesia". Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.
Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya "Tan Malaka Bapak Republik Indonesia" memberi komentar: "Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah…."
Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.
Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta.
Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya[1].
Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949.
Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.
Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur berdasarkan serangkaian wawancara yang dilakukan pada periode 1986 sampai dengan 2005 dengan para pelaku sejarah yang berada bersama-sama dengan Tan Malaka tahun 1949. Dengan dukungan dari keluarga dan lembaga pendukung Tan Malaka, sedang dijajaki kerja sama dengan Departemen Sosial Republik Indonesia untuk memindahkan kuburannya ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tentu untuk ini perlu tes DNA, misalnya. Tetapi, Depsos dan Pemerintah Provinsi Jatim harus segera melakukannya sebelum masyarakat setempat secara sporadis menggali dan mungkin menemukan tulang belulang kambing yang bisa diklaim sebagai kerangka jenazah sang pahlawan nasional.
Tidak kurang dari 500 kilometer jarak ditempuh ribuan orang selama dua bulan dari Madiun ke arah Pacitan, lalu ke Utara, sebelum akhirnya mereka, antara lain Amir Sjarifuddin, ditangkap di wilayah perbatasan yang dikuasai tentara Belanda. Ia juga menemukan arsip menarik tentang Soeharto. Selama ini sudah diketahui bahwa Soeharto datang ke Madiun sebelum meletus pemberontakan. Soemarsono berpesan kepadanya bahwa kota itu aman dan agar pesan itu disampaikan kepada pemerintah. Poeze menemukan sebuah arsip menarik di Arsip Nasional RI bahwa Soeharto pernah menulis kepada ”Paduka Tuan” Kolonel Djokosoejono, komandan tentara kiri, agar beliau datang ke Yogya dan menyelesaikan persoalan ini. Soeharto menulis ”saya menjamin keselamatan Pak Djoko”. Dokumen ini menarik karena ternyata Soeharto mengambil inisiatif sendiri sebagai penengah dalam peristiwa Madiun. Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur. Lokasi tempat Tan Malaka disergap dan kemudian ditembak adalah Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis.
Madilog
Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.
Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.
Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.
Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.

setiyono hadi
Menaklukkan Diri Sendiri

Menaklukkan Diri Sendiri

18:19 0
Menaklukkan Diri Sendiri
Alkisah Punakawan.
Di sebuah balai yang nyaman dan asri, berkumpul sejumlah banyak orang, yang hendak mendatangi Ki Semar yang sedang ceramah. Terdapat 3 muridnya yang selalu mengikutinya, yaitu Bagong, Petruk, dan Gareng.

Ketika Ki Semar selesai dari ceramahnya, Ia selalu tak lupa memberi kesempatan kepada setiap orang bertanya. Lalu 3 Muridnya bertanya kepada Beliau "Ki Semar, Aki ini orang yang sangat bijaksana, tutur kata dan perbuatan selalu sama, kami ingin bertanya kepada Ki Semar, sekiranya demikian banyak murid Ki Semar yang datang dan meminta petunjuk Aki".
Lalu Bagong berkata, "Dari sekian banyak murid Ki Semar terdapat Arjuna, Beliau seorang Jendral pemanah yang amat luar biasa, memilki kemampuan memanah 1000 panah semua dalam kecepatan sangat tinggi bisa mencapai sasarannya".
Dilanjutkan dengan Petruk berkata, "Yang Mulia Paduka Pandawa seorang Raja, beliau meminta nasehat kepada Aki sebelum menalukkan Kurawa, dan Beliau mampu memimpin peperangan yang jumlah pasukannya tidak sebanding dengan Kurawa yang jauh lebih banyak, tapi bisa memenangkanya".
Kemudian Gareng berkata, "Gatot kaca pun berguru dengan Aki, Beliau memiliki kemampuan amat luar biasa, mampu terbang dengan kecepatan kilat, memiliki kekuatan amat luar biasa, mampu menalukan Raksasa, Iblis, Setan, Asura, orang jahat, mampu menegakan keadilan dan sebagainya".
Lalu mereka bertanya pada Ki Semar, "Kami bertiga bertanya pada Ki Semar, apa yang membuat mereka mau belajar dari diri Aki? 
Apakah Aki memiliki kekuatan yang amat luar biasa membuat mereka mau belajar kepada Aki? 
Apakah yang Aki taklukan sehingga mereka mau belajar dengan Aki?
Apa yang Mereka pelajari sebenarnya dari Aki?
Kami Mohon Petunjuk Aki?

Lalu Ki Semar tersenyum dengan pertanyaan ketiga muridnya. Lalu Ia menjawab, "Aku tidak memiliki kemampuan apapun dari mereka, dan tidak ada mahluk apapun yang ku taklukan selain diriku sendiri. 
Ketahuilah wahai murid-muridku, di dunia ini tidak ada kekuatan yang lebih baik daripada menaklukan dirimu sendiri dari angkara murka, kesombongan, kemalasan, kesenangan yang berlebihan, ketamakan, iri hati, tidak puas, dan semua perbuatan nista yang dapat merugikan semua pihak, renungkanlah baik baik, dan jalankan apa yang ku nasehatkan pada kalian.
Wahai muridku bahwa sesungguhnya perbuatan, akar pikiran dan ucapan dirimu sendiri yang tidak layak dilakukan adalah musuh terbesar dalam batin mu".

Lalu mereka bertiga, "Ooooh, ternyata seperti itu Aki, pantaslah Aki menjadi panutan bagi kami semua, untuk mengikis semua kebatilan dalam diri kami. Mulai sekarang kami akan renungkan semua nasihat diri kami, dan akan kami jalani semua nasehat dari Aki setiap harinya dalam diri kami".
Seputar Kerajaan Blambangan

Seputar Kerajaan Blambangan

18:30 0
Seputar Kerajaan Blambangan
Menerima tambahan buat wacana baca
Rahayu
Reruntuhan bangunan setinggi satu meter itu terlihat jelas begitu tanah di area persawahan digali. Terbuat dari batu bata, dengan struktur rapat tanpa spasi. Satu batu bata memiliki ukuran tiga kali lebih besar dari batu bata yang dipakai orang sekarang.
Reruntuhan bangunan itu salah satu temuan dalam survei awal Situs Macan Putih yang dipelopori arkeolog Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Profesor Inajati, sejarawan Sri Margana, dan Forum Masyarakat Penyelamat Sejarah Macan Putih, awal Juli lalu. Forum Masyarakat mempercayai bekas bangunan itu merupakan benteng timur ketika pusat Kerajaan Blambangan dibangun di Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, Jawa Timur.
Seperti dilihat Tempo, bekas bangunan itu kian rusak karena aktivitas oknum warga. Di sekitar area sawah, Tempo menemukan banyak batu bata yang pecah. Tim survei juga mendapati ratusan benda bersejarah di sebuah area kebun kelapa seluas lima hektare. Nasibnya sama. Gerabah serta keramik asal Cina dan Eropa tak lagi utuh. Bahkan Gunawan (bukan nama sebenarnya), warga setempat, mengaku telah menjual ratusan keramik, patung, dan perhiasan kuno kepada seseorang asal Bali.
Situs Macan Putih itu dipercaya para peneliti sebagai cikal-bakal Kabupaten Banyuwangi. Di sinilah Kerajaan Blambangan mencapai puncak kejayaan dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Bali, Situbondo, Jember, Bondowoso, dan Lumajang.
Kerajaan Blambangan merupakan kerajaan Hindu terakhir di Jawa. Kerajaan ini lahir pada 1295, dua tahun setelah Majapahit berdiri. Raja Majapahit Raden Wijaya memberikan "Istana Timur" ini kepada Arya Wiraraja (Adipati Sumenep) dengan ibu kota di Lumajang karena ia telah membantu perjuangan mendirikan Majapahit. Setelah keruntuhan Majapahit pada abad ke-15, Kerajaan Blambangan mampu bertahan hingga abad ke-18.
Namun riwayat Kerajaan Blambangan tak pernah disebut dalam sejarah nasional Indonesia. Selama ini, masih sedikit sejarawan yang menelhti Blambangan. Peninggalannya pun bisa dihitung dengan jari. Riwayat kerajaan ini mayoritas berupa cerita rakyat yang kental dengan legenda atau mitos, seperti kisah Damarwulan-Menakjingga, yang kerap dibawakan dalam seni pertunjukan.
Menurut peneliti dan dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember, Jawa Timur, Edi Burhan Arifin, eksistensi Kerajaan Blambangan memang sering terlupakan dalam catatan sejarah nasional. Bahkan kesan Kerajaan Blambangan sebagai dongeng, legenda, atau mitos lebih kuat ketimbang sejarah. Apalagi bukti-bukti seperti prasasti boleh dibilang minim, sehingga silsilah atau keturunan para pemangku kekuasaan di kerajaan itu nyaris tak terdeteksi atau diketahui secara runtut dan pasti.
Padahal, tutur Edi, dalam catatan sejarah, terutama catatan ahli-ahli Belanda, Kerajaan Blambangan berumur lebih panjang dua abad dari usia Kerajaan Majapahit. "Kerajaan Blambangan adalah kerajaan terakhir yang ditaklukkan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) Belanda dengan perlawanan paling gigih," kata Ketua Laboratorium Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember ini.
Secara historis, Edi menambahkan, eksistensi Kerajaan Blambangan berawal dari sebutan "Balumbungan" yang berarti lumbung. Jadi Blambangan merupakan pusat logistij yang kaya akan sumber daya alam. Wilayahnya terbentang dari Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, hingga Lumajang.
Karena potensi kekayaan itu, Kerajaan Blambangan kemudian menjadi rebutan. Menurut Edi, hal itu bisa dilihat dari upaya penaklukan atau pencaplokan Blambangan oleh banyak pihak, dari Kerajaan Majapahit, Mataram Islam, hingga VOC.
l l l
Sejarah Kerajaan Blambangan kian terang ketika sejarawan dari Universitas Gadjah Mada, Sri Margana, melakukan penelitian. Pada 2007, Margana menuangkan hasil penelitiannya dalam disertasi doktoral di Universitas Leiden, Belanda, berjudul Java's Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan, c 1763-1813.
Saat ini Margana, 40 tahun, berada di Belanda untuk menyelesaikan penelitiannya tentang sejarah kebudayaan Banyuwangi dari masa Hindu hingga kontemporer. Dalam disertasinya, Margana mengungkapkan, selama tiga abad setelah keruntuhan Majapahit, Blambangan kerap diliputi peperangan karena diperebutkan kerajaan-kerajaan yang memiliki dua faksi politik berbeda. Di barat ada Kerajaan Demak dan Mataram Islam, sedangkan di timur ada kerajaan-kerajaan Hindu di Bali (Gelgel, Buleleng, dan Mengwi). Bali sangat berkepentingan terhadap Blambangan sebagai benteng terakhir untuk menghambat ekspansi Islam di Jawa yang digencarkan Mataram.
Pelbagai peperangan itu membuat pusat Kerajaan Blambangan berpindah hingga enam kali. Dimulai pada masa Arya Wiraraja di Lumajang, kemudian ke Panarukan (sekarang masuk Situbondo) dan Kedawung (sekitar Jember). Berikutnya, pusat kerajaan semakin terdesak ke pedalaman Banyuwangi, yakni di Macan Putih (Kecamatan Kabat), Lateng (Kecamatan Rogojampi), Ulupampang (Muncar), dan terakhir di Kota Banyuwangi.
Blambangan masuk masa damai tanpa peperangan ketika beribu kota Macan Putih, yang dipimpin Raja Tawang Alun II (1655-1692). Raja inilah yang membawa Blambangan ke puncak kejayaan, lepas dari kekuasaan Mataram dan Bali. Menurut Margana, salah satu kebesaran Tawang Alun ditunjukkan dengan jumlah istrinya yang mencapai 400 orang. Saat Tawang Alun II dikremasi, sebanyak 270 istrinya ikut membakar diri (sati). "Inilah peristiwa sati yang terbesar dalam sejarah Indonesia," katanya.
Untuk menghormati Raja Tawang Alun II, masyarakat setempat membangun sebuah sanggar pamujan atau tempat semadi. Menurut juru kunci Nuruddin, tempat itu dibangun pada 1968. Bangunannya berupa pendapa kecil berkeramik dan bertirai putih. Di tengahnya tertanam sebuah batu, dengan dua buah payung. Tempat seluas hampir satu hektare itu dikelilingi tembok setinggi dua meter. "Banyak yang bersemadi di sini," ujar Nuruddin.
Menurut Margana, tempat itu mungkin sisa dari "de kuil van Matjan Poetih", seperti yang ada dalam lithograph Engelhard tahun 1802 dan lukisan Assistant Resident Banyuwangi tahun 1850.
Setelah kematian Tawang Alun II, Blambangan kembali dikuasai Bali, yakni Kerajaan Buleleng dan Mengwi. Selama satu abad pendudukan Mengwi, ribuan orang Bali menyeberang dan menetap di Blambangan. Sedangkan wilayah Blambangan bagian barat, seperti Lumajang, dicaplok Surapati, yang telah menjadikan Pasuruan sebagai daerah kekuasaannya. "Inilah yang membuat budaya masyarakat Banyuwangi saat ini lebih dekat dengan pengaruh Bali ketimbang Jawa pada umumnya," kata Margana.
Pada 1743, Raja Mataram Pakubuwana II menyerahkan Blambangan kepada VOC sebagai imbalan telah merebut Ibu Kota Kartasura dari tangan pemberontak. Namun VOC tak segera melakukan pendudukan karena terseret ke konflik Mataram yang tak kunjung selesai hingga 1757.
VOC baru melakukan ekspedisi militer ke Blambangan pada Februari 1767. VOC menyertakan sekutunya dari Kerajaan Mataram, Pasuruan, Banger, Surabaya, dan Madura. Kedatangan pasukan koalisi VOC ini disambut gembira oleh rakyat Blambangan yang ingin melepaskan diri dari Bali. Mereka berharap VOC membuat masa depan Blambangan lebih baik. Kemudian terjadilah pembunuhan besar-besaran terhadap orang Bali, terutama oleh orang-orang Bugis di Blambangan yang membantu VOC. Hanya dalam satu bulan, VOC dengan mudahnya menduduki Blambangan.
Namun euforia terhadap kehadiran VOC itu hanya berlangsung singkat. Empat bulan setelah VOC menjalankan pemerintahannya di Blambangan, muncul pemberontakan yang dipimpin Wong Agung Wilis-saudara tiri dan mantan patih raja terakhir Blambangan, Pangeran Adipati Danuningrat (1736-1764). Pemberontakan Wilis itu berlangsung setahun, yang berakhir dengan penangkapan Wilis pada 1768. Wilis dan pengikutnya dibuang ke Pulau Banda.
Pemberontakan terbesar meletus di bawah pimpinan Susuhunan Jagapati, yang membangun benteng di Bayu (kini masuk Kecamatan Songgon, Banyuwangi). Ribuan warga Blambangan berbondong-bondong meninggalkan desanya bergabung dengan pasukan Jagapati. Kerajaan Mengwi juga mengirimkan bantuan pasukan. Pertempuran pecah pada Desember 1771, yang berakhir dengan kemenangan pasukan Jagapati. Pemimpin VOC, Vaandrig Schaar dan Cornet Tinne, tewas. Ratusan prajurit Madura yang dibawa VOC juga nyaris tanpa sisa.
Kemenangan Blambangan itu dibalas setahun kemudian. VOC mendatangkan ribuan prajurit tambahan dari Madura, Surabaya, dan Besuki. Untuk mengontrol pasukan Jagapati, VOC mendirikan benteng di dekat Bayu. Lumbung-lumbung padi milik pasukan Jagapati dibakar, sehingga kelaparan menyerang rakyat Blambangan, disusul kematian dan merebaknya wabah penyakit. Pasukan Jagapati terus berkurang. Pada Oktober 1772, pasukan Jagapati dipatahkan.
Jagapati tewas dalam pertempuran itu. Tubuh dan kepala para prajurit Blambangan yang tewas digelantungkan di pepohonan sekitar benteng. Menurut Margana, ini adalah peperangan tersadis dalam sejarah Indonesia. Masyarakat Banyuwangi menyebut peperangan ini sebagai Puputan Bayu. Meminjam istilah dari Bali, puputan berarti perang habis-habisan. Populasi rakyat Blambangan menyusut drastis akibat perang ini, dari 80 ribu jiwa menjadi hanya 8.000 jiwa.
Untuk mengenang peperangan ini, pada 2004, pemerintah Banyuwangi membangun monumen Puputan Bay, di pintu masuk Desa Bayu, Kecamatan Songgon. Adapun tempat peperangannya sendiri berada 5 kilometer dari monumen, berupa sebuah rawa di kaki Gunung Raung yang dikelilingi hutan pinus seluas sekitar delapan hektare. Kini daerah yang bernama Rowo Bayu itu menjadi tujuan wisata alam. Masyarakat Hindu di Banyuwangi dan Bali juga menjadikan Rowo Bayu sebagai tempat bersuci atau bersemadi.
l l l
PascA pemberontakan Jagapati, Blambangan memulai periode baru. Ibu kota Blambangan dipindahkan ke Ulupampang (kini Muncar) karena wabah penyakit dan faktor keamanan. Tak ingin mengulang kesalahan, VOC kemudian memilih bupati Islam keturunan Blambangan, Mas Alit, yang bergelar Raden Tumenggung Wiraguna. Kehadiran Mas Alit diterima luas oleh rakyat Blambangan karena ia berasal dari keluarga yang dihormati. Ayahnya adalah bekas kepala menteri Pangeran Danuningrat, raja terakhir Blambangan. Yang paling penting bagi VOC, Mas Alit belum pernah menjalin aliansi dengan orang Bali. Saat berusia 6 tahun, Mas Alit telah dibawa ke Madura oleh Panembahan Madura, Cakradiningrat.
Kabupaten Blambangan kemudian dipecah dua dengan Gunung Raung sebagai batas. Bagian barat terdiri atas empat kabupaten baru, yakni Jember, Prajekan, Sentong (sekarang Kabupaten Bondowoso), dan Sabrang atau Renes, yang dipimpin mantan patih Bupati Surabaya, Sumadirana. Sedangkan Blambangan timur, yang dipimpin Mas Alit, meliputi tiga kabupaten baru: Ketapang, Ulupampang, dan Grajagan (saat ini ketiganya masuk Kabupaten Banyuwangi).
Sisa-sisa Keraton Blambangan di Ulupampang masih bisa disaksikan di Desa Tembokrejo, Muncar. Ada dua situs di sana: Situs Umpak Songo dan Situs Sitihinggil. Situs Umpak Songo, yang berarti sembilan penyangga, berupa reruntuhan yang menyisakan 49 batu besar dengan sembilan batu di antaranya berlubang di bagian tengah. Batu yang berlubang itu diduga kuat berfungsi sebagai umpak atau penyangga. Situs itu diduga bekas balai pertemuan. Sedangkan Situs Sitihinggil dulu dipakai VOC untuk memata-matai musuh dari Bali yang menyeberang melalui Selat Bali.
Juru kunci Situs Umpak Songo, Soimin, mengklaim, situs ini ditemukan oleh kakeknya, Nadi Gede, saat membabat hutan pada 1916. Kakeknya datang ke Muncar sebagai perantau dari Bantul, Jawa Tengah. Awalnya, Nadi Gede tak pernah tahu fungsi batu-batu itu. Namun ia mendapat jawaban ketika pada 1928 Pakubuwana datang ke Umpak Songo. "Dari Pakubuwana, kami tahu bahwa ini bekas ibu kota Blambangan," ujarnya.
Kondisi situs itu sangat memprihatinkan. Dari luas sekitar dua hektare, kini hanya tersisa seperdelapannya akibat terdesak oleh rumah-rumah yang dibangun keturunan Nadi Gede. Menurut Soimin, ada sekitar 20 kepala keluarga kerabatnya yang mendirikan rumah di sekitar situs.
Akan halnya Pelabuhan Ulupampang sampai kini tetap ramai sebagai pelabuhan ikan. Ada 18.039 nelayan yang bergantung pada pelabuhan ini. Pada 2009, nelayan di pelabuhan ini menghasilkan 32 ribu ton ikan, yang menjadikan Muncar sebagai pelabuhan ikan terbesar di Indonesia.
Karena wabah penyakit pula, akhirnya ibu kota Blambangan dipindahkan ke Banyuwangi. Bupati Wiraguna atau Mas Alit bersama rombongan pindah ke Banyuwangi pada 20 November 1774 tengah malam. Keesokan harinya, mereka tiba sekaligus menempati ibu kota kabupaten yang baru. "Mas Alit menjadi Bupati Blambangan terakhir sekaligus Bupati Banyuwangi pertama," kata sejarawan Margana. Keraton Mas Alit kini menjadi pendapa kabupaten. Sejak itu, Blambangan menjalani kehidupan baru sebagai daerah Islam bernama Banyuwangi.
Ika Ningtyas, Mahbub Djunaidi, Nurdin Kalim
Blambangan di 21.37
Berbagi
RUNTUHNYA MAJAPAHIT 2

RUNTUHNYA MAJAPAHIT 2

07:15 0
RUNTUHNYA MAJAPAHIT 2...........
BY DAMAR SHASHANGKA.....

BERDIRINYA GIRI KEDHATON........
Blambangan (Banyuwangi sekarang), sekitar tahun 1440 Masehi terkena wabah penyakit. Hal ini dikarenakan ketidaksadaran masyarakatnya yang kurang mampu menjaga kebersihan lingkungan. Blambangan diperintah oleh Adipati Menak Sembuyu, didampingi Patih Bajul Sengara.
Wabah penyakit itu masuk juga ke istana Kadipaten. Putri Sang Adipati, Dewi Sekardhadhu, jatuh sakit.
Ditengah wabah yang melanda, datanglah seorang ulama dari Samudera Pasai (Aceh sekarang), yang masih putra Syeh Ibrahim As-Samarqand, bernamaSyeh Maulana Ishaq. Dia ahli pengobatan. Mendengar Sang Adipati mengadakan sayembara, dia serta merta mengikutinya.
Dan berkat keahlian pengobatan yang dia dapat dari Champa, sangputri berangsur-angsur sembuh. Adipati Menak Sembuyu menepati janji. Sesuai isi sayembara, barangsiapa yang mampu menyembuhkan sang putri, jika lelaki akan dinikahkan jika perempuan akan diangkat sebagai saudara, maka, Syeh Maulana Ishaq dinikahkan dengan Dewi Sekardhadhu.

Namun pada perjalanan waktu selanjutnya, ketegangan mulai timbul. Ini disebabkan, Syeh Maulana Ishaq, mengajak Adipati beserta seluruh keluarga untuk memeluk agama Islam.Ketegangan ini lama-lama berbuntut pengusiran Syeh Maulana Ishaq dari Blambangan.Perceraian terjadi.
Dan waktu itu, Dewi Sekardhadhu tengah hamil tua. Keputusan untuk menceraikan Dewi Sekardhadhu dengan Syeh Maulana Ishaq ini diambil oleh Sang Adipati karena melihat stabilitas Kadipaten Blambangan yang semula tenang, lama-lama terpecah menjadi dua kubu.
Kubu yang mengidolakan Syeh Maulana Ishaq dan kubu yang tetap menolak infiltrasi asing ke wilayah mereka. Kubu pertama tertarik pada ajaran Islam, sedangkan kubu kedua tetap tidak menyetujui masuknya Islam karena terlalu diskriminatif menurut mereka.Antar kerabat jadi terpecah belah, saling curiga dan tegang. Ini yang tidak mereka sukai.

Sepeninggal Syeh Maulana Ishaq, ternyata masalah belum usai. Kubu yang pro ulama Pasai ini, kini menantikan kelahiran putra sang Syeh yang tengah dikandung Dewi Sekardhadhu.
Sosok Syeh Maulana Ishaq, kini menjadi laten bagi stabilitas Blambangan. Mendapati situasi ketegangan belum juga bisa diredakan, maka mau tak mau, Adipati Blambangan, dengan sangat terpaksa, memberikan anak Syeh Maulana Ishaq, cucunya sendiri kepada saudagar muslim dari Gresik.

Anak itu terlahir laki-laki.Dalam cerita rakyat dari sumber Islam, konon dikisahkan anak itu dilarung ketengah laut (meniru cerita Nabi Musa) dengan menggunakan peti. Konon ada saudagar muslim Gresik yang tengah berlayar. Kapal dagangnya tiba-tiba tidak bisa bergerak karena menabrak peti itu. Dan peti itu akhirnya dibawa naik ke geladak oleh anak buah sang saudagar. Isinya ternyata seorang bayi.Sesungguhnya itu hanya cerita kiasan.
Yang terjadi, saudagar muslim Gresik yang tengah berlayar di Blambangan diperintahkan untuk menghadap ke Kadipaten menjelang mereka hendak balik ke Gresik. Inilah maksudnya kapal tidak bisa bergerak. Para saudagar bertanya-tanya, ada kesalahan apa yang mereka buat sehingga mereka disuruh menghadap ke Kadipaten? Ternyata, di Kadipaten, Adipati Menak Sembuyu, dengan diam-diam telah mengatur pertemuan itu.
Sang Adipati memberikan seorang anak bayi, cucunya sendiri, yang lahir dari ayah seorang muslim. Anak itu dititipkan kepada para saudagar anak buah saudagar kaya di Gresik yang bernama Nyi Ageng Pinatih, yang seorang muslim.

Adipati Menak Sembuyu tahu telah menitipkan cucunya kepada siapa. Beliau yakin, cucunya akan aman bersama Nyi AgengPinatih. Hanya dengan jalan inilah, Blambangan dapat kembali tenang.Putra Syeh Maulana Ishaq ini, lahir pada tahun 1442 Masehi.
Sekembalinya dari Blambangan, para saudagar ini menghadap kepada majikan mereka,Nyi Ageng Pinatih sembari memberikan oleh-oleh yang sangat berharga. Seorang anak bayi keturunan bangsawan Blambangan. Bahkan dia adalah putra Syeh Maulana Ishaq, sosok yang disegani oleh orang-orang muslim. Nyi Ageng Pinatih tidak berani menolak sebuah anugerah itu.Diambillah bayi itu, dianggap anak sendiri. Karena bayi itu hadir seiring kapal selesai berlayar dari samudera, maka bayi itu dinamakan Jaka Samudera oleh Nyi Ageng Pinatih.
Jaka Samudera dibawa menghadap ke Ampel dhenta menjelang usia tujuh tahun. Dia tinggal disana. Belajar agama dari Sunan Ampel.Sunan Ampel yang tahu siapa Jaka Samudera yang sebenarnya dari Nyi Ageng Pinatih,Jaka Samudera adalah kemenakan Sunan Ampel sendiri. Oleh karenanya sosok anak ini sangat dia perhatikan dan diistimewakan. Sunan Ampel menganggapnya anak sendiri.
Sunan Ampel, dari hasil perkawinannya dengan putri kakak Adipati Tuban Wilwatikta,memiliki delapan putra dan putri.
Yang penting untuk diketahui adalah Makdum Ibrahim (NamaChampa-nya : Bong- Ang : kelak terkenal dengan sebutan Sunan Benang. Lama-lama pengucapannya berubah menjadi Sunan Bonang).
Yang kedua Abdul Qasim, terkenal kemudian dengan nama Sunan Derajat.
Yang ketiga Maulana Ahmad, yang terkenal dengan nama Sunan Lamongan.
Yang keempat bernama Siti Murtasi’ah, kelak dijodohkan dengan Jaka Samudera,yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Giri Kedhaton (Sunan Giri).
Yang kelima putri bernama Siti Asyiqah, kelak dijodohkan dengan Raden Patah (Tan Eng Hwat), putra Tan Eng Kian, janda Prabhu Brawijaya yang ada di Palembang itu.
Kekuatan Islam dibangun melalui tali pernikahan. Jaka Samudera, diberi nama lain olehSunan Ampel, yaitu Raden Paku. Kelak dia dikenal dengan nama Sunan Giri Kedhaton. Diaadalah santri senior. Sunan Ampel bahkan telah mencalonkan, mengkaderkan dia sebagaipenggantinya kelak bila sudah meninggal.
Sunan Giri sangat radikal dalam pemahaman keagamannya. Setamat berguru dari Ampeldhenta, dia pulang ke Gresik. Di Gresik, dia menyatukan komunitas muslim disana. Dia mendirikan Pesantren. Terkenal dengan nama Pesantren Giri.Namun dalam perkembangannya, Pesantren Giri memaklumatkan lepas dari kekuasaan Majapahit yang dia pandang Negara kafir.
Pesantren Giri berubah menjadi pusat pemerintahan.Maka dikenal dengan nama Giri Kedhaton (Kerajaan Giri). Sunan Giri, mengangkat dirinyasebagi khalifah Islam dengan gelar Prabhu Satmata (Penguasa Bermata Enam. Gelar sindirankepada Deva Shiva yang cuma bermata tiga).

Mendengar Gresik melepaskan diri dari pusat kekuasan, Prabhu Brawijaya, sebagai Raja Diraja Nusantara yang sah, segera mengirimkan pasukan tempur untuk menjebol Giri Kedhaton.Darah tertumpah. Darah mengalir. Dan akhirnya, Giri Kedhaton bisa ditaklukkan.
Kekhalifahan Islam bertama itu tidak berumur lama. Namun kelak, setelah Majapahit hancur oleh seranganDemak Bintara, Giri Kedhaton eksis lagi mulai tahun 1487 Masehi. (Sembilan tahun setelah Majapahit hancur pada tahun 1478 Masehi).
Dari sumber Islam, banyak cerita yang memojokkan pasukan Majapahit. Konon SunanGiri berhasil mengusir pasukan Majapahit hanya dengan melemparkan sebuah kalam atau penanya. Kalam miliknya ini katanya berubah menjadi lebah-lebah yang menyengat. Sehingga membuat puyeng atau munyeng para prajurid Majapahit.
Maka dikatakan, ‘kalam’ yang bisa membuat ‘munyeng’ inilah senjata andalan Sunan Giri. Maka dikenal dengan nama‘Kalamunyeng’. Sesungguhnya, ini hanya kiasan belaka. Sunan Giri, melalui tulisan-tulisannya yang mengobarkan semangat ke-Islam-an, mampu mengadakan pemberontakan yang sempat‘memusingkan’ Majapahit.
Namun, karena Sunan Ampel meminta pengampunan kepada Prabhu Brawijaya, Sunan Giri tidak mendapat hukuman. Tapi gerak-geriknya, selalu diawasi oleh Pasukan Telik Sandhibaya (Intelejen) Majapahit.
Inilah kelemahan Prabhu Brawijaya. Terlalu meremehkan bara api kecil yang sebenarnya bisa membahayakan.Sabdo Palon dan Naya Genggong sudah mengingatkan agar seorang yang bersalah harus mendapatkan sangsi hukuman. Karena itulah kewajiban yang merupakan sebuah janji seorang Raja.
Salah satu kewajiban menjalankan janji suci sebagai AGNI atau API, yang harus mengadili siapa saja yang bersalah. Janji ini adalah satu bagian integral dari tujuh janji yang lain, yaitu ANGKASHA (Ruang), Raja harus memberikan ruang untuk mendengarkan suara rakyatnya,VAYU (Angin), Raja harus mampu mewujudkan pemerataan kesejahteraan kepada rakyatnya bagai angin, AGNI (Api), Raja harus memberikan hukuman yang seadil-adilnya kepada yang bersalah tanpa pandang bulu bagai api yang membakar, TIRTA (Air), Raja harus mampu menumbuhkan kesejahteraan perekonomian bagi rakyatnya bagaikan air yang mampu menumbuhkan biji-bijian, PRTIVI (Tanah), Raja harus mampu memberikan tempat yang aman bagi rakyatnya, menampung semuanya, tanpa ada diskriminasi, bagaikan tanah yang mau menampung semua manusia, SURYA (Matahari), Raja harus mampu memberikan jaminan keamanan kepada seluruh rakyat tanpa pandang bulu seperti Matahari yang memberikan kehidupan kepada mayapada, CHANDRA (Bulan), Raja harus mampu mengangkat rakyatnya dari keterbelakangan, dari kebodohan, dari kegelapan, bagaikan sang rembulan yang menyinari kegelapan dimalam hari, dan yang terakhir adalah KARTIKA (Bintang), serang raja harus dapat memberikan aturan-aturan hukum yang jelas, kepastian hukum bagi rakyat demi kesejahteraan, kemanusiaan, keadilan, bagaikan bintang gemintang yang mampu menunjukkan arah mata angin dengan pasti dikala malam menjelang.
Inilah DELAPAN JANJI RAJA yang disebutASTHAVRATA ( Astobroto ; Jawa). Dan menurut Sabdo Palon dan Naya Genggong, PrabhuBrawijaya telah lalai menjalankan janji sucinya sebagai AGNI.
Mendapati kondisi memanas seperti itu, Sunan Ampel mengeluarkan sebuah fatwa, Haram hukumnya menyerang Majapahit, karena bagaimanapun juga Prabhu Brawijaya adalah Imam yang wajib dipatuhi.
Setelah keluar fatwa dari pemimpin Islam se-Jawa, konflik mulai mereda.
Namun bagaimanapun juga, dikalangan orang-orang Islam diam-diam terbagi menjadi dua kubu. Yaitu kubu yang mencita-citakan berdirinya Kekhalifahan Islam Jawa, dan kubu yang tidak menginginkan berdirinya Kekhalifahan itu.

Kubu kedua ini berpendapat, dalam naungan Kerajaan Majapahit, yang notabene Shiva Buddha, ummat Islam diberikan kebebasan untuk melaksanakan ibadah agamanya. Bahkan, syari’at Islam pun boleh dijalankan didaerah-daerah tertentu.
Kubu pertama dipelopori oleh Sunan Giri, sedangkan kubu kedua dipelopori oleh SunanKalijaga, putra Adipati Tuban Wilwatikta, keponakan Sunan Ampel.
Kubu Sunan Giri mengklaim, bahwa golongan mereka memeluk Islam secara kaffah, secara bulat-bulat, makapantas disebut PUTIHAN (Kaum Putih). Dan mereka menyebut kubu yang dipimpin SunanKalijaga sebagai ABANGAN (Kaum Merah ).
Bibit perpecahan didalam orang-orang Islam sendiri mulai muncul. Hal ini hanya bagaikan api dalam sekam ketika Sunan Ampel masih hidup.
Kelak, ketika Majapahit berhasil dijebol oleh para militant Islam dan ketika Sunan Ampel sudah wafat, kedua kubu ini terlibat pertikaian frontal yang berdarah-darah (Yang paling parah dan memakan banyak korban,sampai-sampai para investor dari Portugis melarikan diri ke Malaka dan menceritakan di Jawatengah terjadi situasi chaos dan anarkhis yang mengerikan, adalah pertikaian antara Arya Penangsang, santri Sunan Kudus, penguasa Jipang Panolan dari kubu Putihan dengan JakaTingkir atau Mas Karebet, santri dari Sunan Kalijaga, penguasa Pajang dari kubu Abangan. Nanti akan saya ceritakan : Damar Shashangka).
Berdirinya Ponorogo.
Ki Ageng Kutu, Adipati Wengker, sebenarnya masih keturunan bangsawan Majapahit. Beliau masih keturunan Raden Kudha Merta, ksatria dari Pajajaran yang melarikan diri bersama Raden Cakradhara. Raden Kudha Merta berhasil menikah dengan Shri Gitarja, putri Raden Wijaya, Raja Pertama Majapahit. Sedangkan Raden Cakradhara berhasil menikahi Tribhuwanatunggadewi, kakak kandung Shri Gitarja.
Dari perkawinan antara Raden Cakradhara dengan Tribhuwanatunggadewi inilah lahir Prabhu Hayam Wuruk yang terkenal itu.
Sedangkan Raden Kudha Merta, menjadi penguasa daerah Wengker, yang sekarang dikenal dengan nama Ponorogo.
Ki Ageng Kutu adalah keturunan dari Raden Kudha Merta dan Shri Gitarja.
Melihat Majapahit, dibawah pemerintahan Prabhu Brawijaya bagaikan harimau yang kehilangan taringnya, Ki Ageng Kutu, memaklumatkan perang denganMajapahit.
Prabhu Brawijaya atau Prabhu Kertabhumi menjawab tantangan Ki Ageng Kutu dengan mengirimkan sejumlah pasukan tempur Majapahit dibawah pimpinan Raden Bathara Katong,putra selir beliau.

Peperangan terjadi. Pasukan Majapahit terpukul mundur. Hal ini disebabkan, banyak para prajurid Majapahit yang membelot dari kesatuannya dan memperkuat barisan Wengker. Pasukanyang dipimpin Raden Bathara Katong kocar-kacir.Raden Bathara Katong yang merasa malu karena telah gagal menjalankan tugas Negara,konon tidak mau pulang ke Majapahit. Dia bertekad, bagaimanapun juga, Wengker harus ditundukkan.
Inilah sikap seorang Ksatria sejati.Ada seorang ulama Islam yang tinggal di Wengker yang mengamati gejolak politik itu.Dia bernama Ki Ageng Mirah. Situasi yang tak menentu seperti itu, dimanfaatkan olehnya. Dia mendengar Raden Bathara Katong tidak pulang ke Majapahit, dia berusaha mencari kebenaran berita itu.
Dan usahanya menuai hasil. Dia berhasil menemukan tempat persembunyian Raden Bathara Katong.
Dia menawarkan diri bisa memberikan solusi untuk menundukkan Wengker karena dia sudah lama tinggal disana. Raden Bathara Katong tertarik. Namun diam-diam, Ki Ageng Mirah,menanamkan doktrin ke-Islam-an dibenak Raden Bathara Katong.
Jika ini berhasil, setidaknya peng-Islam-an Wengker akan semakin mudah, karena Raden Bathara Katong mempunyai akses langsung dengan militer Majapahit.

Jika-pun tidak berhasil membuat Raden Bathara Katong memeluk Islam, setidaknya, kelak dia tidak akan melupakan jasanya telah membantu memberitahukan titik kelemahan Wengker. Dan bila itu terjadi, Ki Ageng Mirah pasti akan menduduki kedudukan yang mempunyai akses luas menyebarkan Islam di Wengker.
Dan ternyata, Raden Bathara Katong tertarik dengan agama baru itu.
Selanjutnya, Ki Ageng Mirah mengatur rencana. Raden Bathara Katong harus pura-pura meminta suaka politik di Wengker. Raden Bathara Katong harus mengatakan untuk memohon perlindungan kepada Ki Ageng Kutu.
Dia harus pura-pura membelot dari pihak Majapahit.
Ki Ageng Kutu pasti akan menerima pengabdian Raden Bathara Katong.
Ki Ageng Kutupasti akan senang melihat Raden Bathara Katong telah membelot dan kini berada di fihaknya.

Manakala rencana itu sudah berhasil, Raden Bathara Katong harus mengutarakan niatnya untuk mempersunting Ni Ken Gendhini, putri sulung Ki Ageng Kutu sebagai istri.
Mengingat statusRaden Bathara Katong sebagai seorang putra Raja Majapahit, lamaran itu pasti akan disambut gembira oleh Ki Ageng Kutu..

Dan bila semua rencana berjalan mulus, Raden Bathara Katong harus mampu menebarkan pengaruhnya kepada kerabat Wengker.
Dia harus jeli dan teliti mengamati titik kelemahan Wengker.
Ni Ken Gendhini, putri Ki Ageng Kutu bisa dimanfaatkan untuk tujuan itu.
Bila semua sudah mulus berjalan, dan bila waktunya sudah tepat, maka Raden BatharaKatong harus sesegera mungkin mengirimkan utusan ke Majapahit untuk meminta pasukan tempur tambahan.
Bila semua berjalan lancar, Wengker pasti jatuh! Raden Bathara Katong melaksanakan semua rencana yang disusun Ki Ageng Mirah.
Dan atas kelihaian Raden Bathara Katong, semua berjalan lancar.
Ki Ageng Kutu, yang merasa masih mempunyai hubungan kekerabatan jauh dengan Raden Bathara Katong, dengan suka rela berkenan memberikan suaka politik kepadanya.
Ditambah, ketika Raden Bathara Katong mengutarakan niatnya untuk mempersunting Ni KenGendhini, Ki Ageng Kutu serta merta menyetujuinya.Rencana bergulir.
Umpan sudah dimakan. Tinggal menunggu waktu.Ni Ken Gendhini mempunyai dua orang adik laki-laki, Sura Menggala dan SuraHandaka. (Sura Menggala = baca Suromenggolo, sampai sekarang menjadi tokoh kebanggaan masyarakat Ponorogo. Dikenal dengan nama Warok Suromenggolo : Damar Shashangka).Ni Ken Gendhini dan Sura Menggala berhasil masuk pengaruh Raden Bathara Katong,sedangkan Sura Handaka tidak.
Raden Bathara Katong berhasil mengungkap segala seluk-beluk kelemahan Wengker dari Ni Ken Gendhini. Inilah yang diceritakan secara simbolik dengan dicurinya Keris Pusaka Ki Ageng Kutu, yang bernama Keris Kyai Condhong Rawe oleh Ni Ken Gendhini dan kemudian diserahkan kepada Raden Bathara Katong.
Condhong Rawe hanya metafora. Condhong berarti Melintang (Vertikal) dan Rawe berarti Tegak (Horisontal).
Arti sesungguhnya adalah, kekuatan yang tegak dan melintang dari seluruh pasukan Wengker, telah berhasil diketahui secara cermat oleh Raden Bathara Katong atas bantuan Ni Ken Gendhini.
Struktur kekuatan militer ini sudah bisa dibaca dan diketahui semuanya.
Dan manakala waktu sudah dirasa tepat, dengan diam-diam, dikirimkannya utusan kepada Ki Ageng Mirah. Utusan ini menyuruh Ki Ageng Mirah, atas nama Raden BatharaKatong, memohon tambahan pasukan tempur ke Majapahit.
Mendapati kabar Raden Bathara Katong masih hidup, Prabhu Brawijaya segera memenuhi permintaan pengiriman pasukan baru.
Majapahit dan Wengker diadu!

Majapahit dan Wengker tidak menyadari, ada pihak ketiga bermain disana! Ironis sekali.
Menaklukkan Diri Sendiri

Menaklukkan Diri Sendiri

06:47 0
Menaklukkan Diri Sendiri
Alkisah Punakawan.
Di sebuah balai yang nyaman dan asri, berkumpul sejumlah banyak orang, yang hendak mendatangi Ki Semar yang sedang ceramah. Terdapat 3 muridnya yang selalu mengikutinya, yaitu Bagong, Petruk, dan Gareng.

Ketika Ki Semar selesai dari ceramahnya, Ia selalu tak lupa memberi kesempatan kepada setiap orang bertanya. Lalu 3 Muridnya bertanya kepada Beliau "Ki Semar, Aki ini orang yang sangat bijaksana, tutur kata dan perbuatan selalu sama, kami ingin bertanya kepada Ki Semar, sekiranya demikian banyak murid Ki Semar yang datang dan meminta petunjuk Aki".
Lalu Bagong berkata, "Dari sekian banyak murid Ki Semar terdapat Arjuna, Beliau seorang Jendral pemanah yang amat luar biasa, memilki kemampuan memanah 1000 panah semua dalam kecepatan sangat tinggi bisa mencapai sasarannya".
Dilanjutkan dengan Petruk berkata, "Yang Mulia Paduka Pandawa seorang Raja, beliau meminta nasehat kepada Aki sebelum menalukkan Kurawa, dan Beliau mampu memimpin peperangan yang jumlah pasukannya tidak sebanding dengan Kurawa yang jauh lebih banyak, tapi bisa memenangkanya".
Kemudian Gareng berkata, "Gatot kaca pun berguru dengan Aki, Beliau memiliki kemampuan amat luar biasa, mampu terbang dengan kecepatan kilat, memiliki kekuatan amat luar biasa, mampu menalukan Raksasa, Iblis, Setan, Asura, orang jahat, mampu menegakan keadilan dan sebagainya".
Lalu mereka bertanya pada Ki Semar, "Kami bertiga bertanya pada Ki Semar, apa yang membuat mereka mau belajar dari diri Aki? 
Apakah Aki memiliki kekuatan yang amat luar biasa membuat mereka mau belajar kepada Aki? 
Apakah yang Aki taklukan sehingga mereka mau belajar dengan Aki?
Apa yang Mereka pelajari sebenarnya dari Aki?
Kami Mohon Petunjuk Aki?

Lalu Ki Semar tersenyum dengan pertanyaan ketiga muridnya. Lalu Ia menjawab, "Aku tidak memiliki kemampuan apapun dari mereka, dan tidak ada mahluk apapun yang ku taklukan selain diriku sendiri. 
Ketahuilah wahai murid-muridku, di dunia ini tidak ada kekuatan yang lebih baik daripada menaklukan dirimu sendiri dari angkara murka, kesombongan, kemalasan, kesenangan yang berlebihan, ketamakan, iri hati, tidak puas, dan semua perbuatan nista yang dapat merugikan semua pihak, renungkanlah baik baik, dan jalankan apa yang ku nasehatkan pada kalian.
Wahai muridku bahwa sesungguhnya perbuatan, akar pikiran dan ucapan dirimu sendiri yang tidak layak dilakukan adalah musuh terbesar dalam batin mu".

Lalu mereka bertiga, "Ooooh, ternyata seperti itu Aki, pantaslah Aki menjadi panutan bagi kami semua, untuk mengikis semua kebatilan dalam diri kami. Mulai sekarang kami akan renungkan semua nasihat diri kami, dan akan kami jalani semua nasehat dari Aki setiap harinya dalam diri kami".