Showing posts with label KERAJAAN. Show all posts
Showing posts with label KERAJAAN. Show all posts
Seputar Kerajaan Blambangan

Seputar Kerajaan Blambangan

18:30 0
Seputar Kerajaan Blambangan
Menerima tambahan buat wacana baca
Rahayu
Reruntuhan bangunan setinggi satu meter itu terlihat jelas begitu tanah di area persawahan digali. Terbuat dari batu bata, dengan struktur rapat tanpa spasi. Satu batu bata memiliki ukuran tiga kali lebih besar dari batu bata yang dipakai orang sekarang.
Reruntuhan bangunan itu salah satu temuan dalam survei awal Situs Macan Putih yang dipelopori arkeolog Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Profesor Inajati, sejarawan Sri Margana, dan Forum Masyarakat Penyelamat Sejarah Macan Putih, awal Juli lalu. Forum Masyarakat mempercayai bekas bangunan itu merupakan benteng timur ketika pusat Kerajaan Blambangan dibangun di Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, Jawa Timur.
Seperti dilihat Tempo, bekas bangunan itu kian rusak karena aktivitas oknum warga. Di sekitar area sawah, Tempo menemukan banyak batu bata yang pecah. Tim survei juga mendapati ratusan benda bersejarah di sebuah area kebun kelapa seluas lima hektare. Nasibnya sama. Gerabah serta keramik asal Cina dan Eropa tak lagi utuh. Bahkan Gunawan (bukan nama sebenarnya), warga setempat, mengaku telah menjual ratusan keramik, patung, dan perhiasan kuno kepada seseorang asal Bali.
Situs Macan Putih itu dipercaya para peneliti sebagai cikal-bakal Kabupaten Banyuwangi. Di sinilah Kerajaan Blambangan mencapai puncak kejayaan dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Bali, Situbondo, Jember, Bondowoso, dan Lumajang.
Kerajaan Blambangan merupakan kerajaan Hindu terakhir di Jawa. Kerajaan ini lahir pada 1295, dua tahun setelah Majapahit berdiri. Raja Majapahit Raden Wijaya memberikan "Istana Timur" ini kepada Arya Wiraraja (Adipati Sumenep) dengan ibu kota di Lumajang karena ia telah membantu perjuangan mendirikan Majapahit. Setelah keruntuhan Majapahit pada abad ke-15, Kerajaan Blambangan mampu bertahan hingga abad ke-18.
Namun riwayat Kerajaan Blambangan tak pernah disebut dalam sejarah nasional Indonesia. Selama ini, masih sedikit sejarawan yang menelhti Blambangan. Peninggalannya pun bisa dihitung dengan jari. Riwayat kerajaan ini mayoritas berupa cerita rakyat yang kental dengan legenda atau mitos, seperti kisah Damarwulan-Menakjingga, yang kerap dibawakan dalam seni pertunjukan.
Menurut peneliti dan dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember, Jawa Timur, Edi Burhan Arifin, eksistensi Kerajaan Blambangan memang sering terlupakan dalam catatan sejarah nasional. Bahkan kesan Kerajaan Blambangan sebagai dongeng, legenda, atau mitos lebih kuat ketimbang sejarah. Apalagi bukti-bukti seperti prasasti boleh dibilang minim, sehingga silsilah atau keturunan para pemangku kekuasaan di kerajaan itu nyaris tak terdeteksi atau diketahui secara runtut dan pasti.
Padahal, tutur Edi, dalam catatan sejarah, terutama catatan ahli-ahli Belanda, Kerajaan Blambangan berumur lebih panjang dua abad dari usia Kerajaan Majapahit. "Kerajaan Blambangan adalah kerajaan terakhir yang ditaklukkan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) Belanda dengan perlawanan paling gigih," kata Ketua Laboratorium Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember ini.
Secara historis, Edi menambahkan, eksistensi Kerajaan Blambangan berawal dari sebutan "Balumbungan" yang berarti lumbung. Jadi Blambangan merupakan pusat logistij yang kaya akan sumber daya alam. Wilayahnya terbentang dari Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, hingga Lumajang.
Karena potensi kekayaan itu, Kerajaan Blambangan kemudian menjadi rebutan. Menurut Edi, hal itu bisa dilihat dari upaya penaklukan atau pencaplokan Blambangan oleh banyak pihak, dari Kerajaan Majapahit, Mataram Islam, hingga VOC.
l l l
Sejarah Kerajaan Blambangan kian terang ketika sejarawan dari Universitas Gadjah Mada, Sri Margana, melakukan penelitian. Pada 2007, Margana menuangkan hasil penelitiannya dalam disertasi doktoral di Universitas Leiden, Belanda, berjudul Java's Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan, c 1763-1813.
Saat ini Margana, 40 tahun, berada di Belanda untuk menyelesaikan penelitiannya tentang sejarah kebudayaan Banyuwangi dari masa Hindu hingga kontemporer. Dalam disertasinya, Margana mengungkapkan, selama tiga abad setelah keruntuhan Majapahit, Blambangan kerap diliputi peperangan karena diperebutkan kerajaan-kerajaan yang memiliki dua faksi politik berbeda. Di barat ada Kerajaan Demak dan Mataram Islam, sedangkan di timur ada kerajaan-kerajaan Hindu di Bali (Gelgel, Buleleng, dan Mengwi). Bali sangat berkepentingan terhadap Blambangan sebagai benteng terakhir untuk menghambat ekspansi Islam di Jawa yang digencarkan Mataram.
Pelbagai peperangan itu membuat pusat Kerajaan Blambangan berpindah hingga enam kali. Dimulai pada masa Arya Wiraraja di Lumajang, kemudian ke Panarukan (sekarang masuk Situbondo) dan Kedawung (sekitar Jember). Berikutnya, pusat kerajaan semakin terdesak ke pedalaman Banyuwangi, yakni di Macan Putih (Kecamatan Kabat), Lateng (Kecamatan Rogojampi), Ulupampang (Muncar), dan terakhir di Kota Banyuwangi.
Blambangan masuk masa damai tanpa peperangan ketika beribu kota Macan Putih, yang dipimpin Raja Tawang Alun II (1655-1692). Raja inilah yang membawa Blambangan ke puncak kejayaan, lepas dari kekuasaan Mataram dan Bali. Menurut Margana, salah satu kebesaran Tawang Alun ditunjukkan dengan jumlah istrinya yang mencapai 400 orang. Saat Tawang Alun II dikremasi, sebanyak 270 istrinya ikut membakar diri (sati). "Inilah peristiwa sati yang terbesar dalam sejarah Indonesia," katanya.
Untuk menghormati Raja Tawang Alun II, masyarakat setempat membangun sebuah sanggar pamujan atau tempat semadi. Menurut juru kunci Nuruddin, tempat itu dibangun pada 1968. Bangunannya berupa pendapa kecil berkeramik dan bertirai putih. Di tengahnya tertanam sebuah batu, dengan dua buah payung. Tempat seluas hampir satu hektare itu dikelilingi tembok setinggi dua meter. "Banyak yang bersemadi di sini," ujar Nuruddin.
Menurut Margana, tempat itu mungkin sisa dari "de kuil van Matjan Poetih", seperti yang ada dalam lithograph Engelhard tahun 1802 dan lukisan Assistant Resident Banyuwangi tahun 1850.
Setelah kematian Tawang Alun II, Blambangan kembali dikuasai Bali, yakni Kerajaan Buleleng dan Mengwi. Selama satu abad pendudukan Mengwi, ribuan orang Bali menyeberang dan menetap di Blambangan. Sedangkan wilayah Blambangan bagian barat, seperti Lumajang, dicaplok Surapati, yang telah menjadikan Pasuruan sebagai daerah kekuasaannya. "Inilah yang membuat budaya masyarakat Banyuwangi saat ini lebih dekat dengan pengaruh Bali ketimbang Jawa pada umumnya," kata Margana.
Pada 1743, Raja Mataram Pakubuwana II menyerahkan Blambangan kepada VOC sebagai imbalan telah merebut Ibu Kota Kartasura dari tangan pemberontak. Namun VOC tak segera melakukan pendudukan karena terseret ke konflik Mataram yang tak kunjung selesai hingga 1757.
VOC baru melakukan ekspedisi militer ke Blambangan pada Februari 1767. VOC menyertakan sekutunya dari Kerajaan Mataram, Pasuruan, Banger, Surabaya, dan Madura. Kedatangan pasukan koalisi VOC ini disambut gembira oleh rakyat Blambangan yang ingin melepaskan diri dari Bali. Mereka berharap VOC membuat masa depan Blambangan lebih baik. Kemudian terjadilah pembunuhan besar-besaran terhadap orang Bali, terutama oleh orang-orang Bugis di Blambangan yang membantu VOC. Hanya dalam satu bulan, VOC dengan mudahnya menduduki Blambangan.
Namun euforia terhadap kehadiran VOC itu hanya berlangsung singkat. Empat bulan setelah VOC menjalankan pemerintahannya di Blambangan, muncul pemberontakan yang dipimpin Wong Agung Wilis-saudara tiri dan mantan patih raja terakhir Blambangan, Pangeran Adipati Danuningrat (1736-1764). Pemberontakan Wilis itu berlangsung setahun, yang berakhir dengan penangkapan Wilis pada 1768. Wilis dan pengikutnya dibuang ke Pulau Banda.
Pemberontakan terbesar meletus di bawah pimpinan Susuhunan Jagapati, yang membangun benteng di Bayu (kini masuk Kecamatan Songgon, Banyuwangi). Ribuan warga Blambangan berbondong-bondong meninggalkan desanya bergabung dengan pasukan Jagapati. Kerajaan Mengwi juga mengirimkan bantuan pasukan. Pertempuran pecah pada Desember 1771, yang berakhir dengan kemenangan pasukan Jagapati. Pemimpin VOC, Vaandrig Schaar dan Cornet Tinne, tewas. Ratusan prajurit Madura yang dibawa VOC juga nyaris tanpa sisa.
Kemenangan Blambangan itu dibalas setahun kemudian. VOC mendatangkan ribuan prajurit tambahan dari Madura, Surabaya, dan Besuki. Untuk mengontrol pasukan Jagapati, VOC mendirikan benteng di dekat Bayu. Lumbung-lumbung padi milik pasukan Jagapati dibakar, sehingga kelaparan menyerang rakyat Blambangan, disusul kematian dan merebaknya wabah penyakit. Pasukan Jagapati terus berkurang. Pada Oktober 1772, pasukan Jagapati dipatahkan.
Jagapati tewas dalam pertempuran itu. Tubuh dan kepala para prajurit Blambangan yang tewas digelantungkan di pepohonan sekitar benteng. Menurut Margana, ini adalah peperangan tersadis dalam sejarah Indonesia. Masyarakat Banyuwangi menyebut peperangan ini sebagai Puputan Bayu. Meminjam istilah dari Bali, puputan berarti perang habis-habisan. Populasi rakyat Blambangan menyusut drastis akibat perang ini, dari 80 ribu jiwa menjadi hanya 8.000 jiwa.
Untuk mengenang peperangan ini, pada 2004, pemerintah Banyuwangi membangun monumen Puputan Bay, di pintu masuk Desa Bayu, Kecamatan Songgon. Adapun tempat peperangannya sendiri berada 5 kilometer dari monumen, berupa sebuah rawa di kaki Gunung Raung yang dikelilingi hutan pinus seluas sekitar delapan hektare. Kini daerah yang bernama Rowo Bayu itu menjadi tujuan wisata alam. Masyarakat Hindu di Banyuwangi dan Bali juga menjadikan Rowo Bayu sebagai tempat bersuci atau bersemadi.
l l l
PascA pemberontakan Jagapati, Blambangan memulai periode baru. Ibu kota Blambangan dipindahkan ke Ulupampang (kini Muncar) karena wabah penyakit dan faktor keamanan. Tak ingin mengulang kesalahan, VOC kemudian memilih bupati Islam keturunan Blambangan, Mas Alit, yang bergelar Raden Tumenggung Wiraguna. Kehadiran Mas Alit diterima luas oleh rakyat Blambangan karena ia berasal dari keluarga yang dihormati. Ayahnya adalah bekas kepala menteri Pangeran Danuningrat, raja terakhir Blambangan. Yang paling penting bagi VOC, Mas Alit belum pernah menjalin aliansi dengan orang Bali. Saat berusia 6 tahun, Mas Alit telah dibawa ke Madura oleh Panembahan Madura, Cakradiningrat.
Kabupaten Blambangan kemudian dipecah dua dengan Gunung Raung sebagai batas. Bagian barat terdiri atas empat kabupaten baru, yakni Jember, Prajekan, Sentong (sekarang Kabupaten Bondowoso), dan Sabrang atau Renes, yang dipimpin mantan patih Bupati Surabaya, Sumadirana. Sedangkan Blambangan timur, yang dipimpin Mas Alit, meliputi tiga kabupaten baru: Ketapang, Ulupampang, dan Grajagan (saat ini ketiganya masuk Kabupaten Banyuwangi).
Sisa-sisa Keraton Blambangan di Ulupampang masih bisa disaksikan di Desa Tembokrejo, Muncar. Ada dua situs di sana: Situs Umpak Songo dan Situs Sitihinggil. Situs Umpak Songo, yang berarti sembilan penyangga, berupa reruntuhan yang menyisakan 49 batu besar dengan sembilan batu di antaranya berlubang di bagian tengah. Batu yang berlubang itu diduga kuat berfungsi sebagai umpak atau penyangga. Situs itu diduga bekas balai pertemuan. Sedangkan Situs Sitihinggil dulu dipakai VOC untuk memata-matai musuh dari Bali yang menyeberang melalui Selat Bali.
Juru kunci Situs Umpak Songo, Soimin, mengklaim, situs ini ditemukan oleh kakeknya, Nadi Gede, saat membabat hutan pada 1916. Kakeknya datang ke Muncar sebagai perantau dari Bantul, Jawa Tengah. Awalnya, Nadi Gede tak pernah tahu fungsi batu-batu itu. Namun ia mendapat jawaban ketika pada 1928 Pakubuwana datang ke Umpak Songo. "Dari Pakubuwana, kami tahu bahwa ini bekas ibu kota Blambangan," ujarnya.
Kondisi situs itu sangat memprihatinkan. Dari luas sekitar dua hektare, kini hanya tersisa seperdelapannya akibat terdesak oleh rumah-rumah yang dibangun keturunan Nadi Gede. Menurut Soimin, ada sekitar 20 kepala keluarga kerabatnya yang mendirikan rumah di sekitar situs.
Akan halnya Pelabuhan Ulupampang sampai kini tetap ramai sebagai pelabuhan ikan. Ada 18.039 nelayan yang bergantung pada pelabuhan ini. Pada 2009, nelayan di pelabuhan ini menghasilkan 32 ribu ton ikan, yang menjadikan Muncar sebagai pelabuhan ikan terbesar di Indonesia.
Karena wabah penyakit pula, akhirnya ibu kota Blambangan dipindahkan ke Banyuwangi. Bupati Wiraguna atau Mas Alit bersama rombongan pindah ke Banyuwangi pada 20 November 1774 tengah malam. Keesokan harinya, mereka tiba sekaligus menempati ibu kota kabupaten yang baru. "Mas Alit menjadi Bupati Blambangan terakhir sekaligus Bupati Banyuwangi pertama," kata sejarawan Margana. Keraton Mas Alit kini menjadi pendapa kabupaten. Sejak itu, Blambangan menjalani kehidupan baru sebagai daerah Islam bernama Banyuwangi.
Ika Ningtyas, Mahbub Djunaidi, Nurdin Kalim
Blambangan di 21.37
Berbagi
Mitologi Sang Ratu Kidul

Mitologi Sang Ratu Kidul

07:40 0
Mitologi Sang Ratu Kidul
Di dalam keraton banyak ditemukan berbagai macam lambang dalam segi kehidupan, dimulai dari bentuk dan cara mengatur bangunan, mengatur penanaman pohon yang dianggap keramat, mengatur tempat duduk, menyimpan dan memelihara pusaka, macam pakaian yang dikenakan dan cara mengenakannya, bahasa yang harus dipakai, tingkah laku, pemilihan warna dan seterusnya. Keraton juga menyimpan dan melestarikan nilai-nilai lama, Mitos yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat dan komunitas karaton adalah mitos Kangjeng Ratu Kidul.
Kedudukan mitos itu sangat menonjol, karena tanpa mengenal mitos Kangjeng Ratu Kidul, orang tidak akan dapat mengerti makna dari tarian sakral Bedhaya Ketawang, yang sejak Paku Buwana X naik tahta, setiap setahun sekali tarian itu dipergelarkan pada acara ulang tahun penobatan Raja. Tanpa mengenal mitos itu makna Panggung Sangga Buwana akan sulit dipahami, demikian pula mengenai mitos yang dulu dikenal rakyat sebagai lampor.
‘Gung pra peri perayangan ejim
sumiwi Sang Sinom
Prabu Rara yekti gedhe dhewe.
(kutipan dari “Babad Nitik”)
terjemahkan:
segenap makhluk halus jin
bersembah pada Sang Ratu
yang besar tak bertara

Terdapat berbagai macam versi mitos Kangjeng Ratu Kidul antara lain berdasarkan cerita pujangga Yosodipuro. 
Di kerajaan Kediri, terdapat seorang putra raja Jenggala yang bernama Raden Panji Sekar Taji yang pergi meninggalkan kerajaannya untuk mencari daerah kekuasaan baru. Pada masa pencariannya sampailah ia di hutan Sigaluh yang didalamnya terdapat pohon beringin berdaun putih dan bersulur panjang yang bernama waringin putih. Pohon itu ternyata merupakan pusat kerajaan para lelembut (mahluk halus) dengan Sang Prabu Banjaran Seta sebagai rajanya.

Berdasarkan keyakinannya akan daerah itu, Raden Panji Sekar Taji melakukan pembabatan hutan sehingga pohon waringin putih tersebut ikut terbabat. Dengan terbabatnya pohon itu si Raja lelembut yaitu Prabu Banjaran Seta merasa senang dan dapat menyempurnakan hidupnya dengan langsung musnah ke alam sebenarnya. Kemusnahannya berwujud suatu cahaya yang kemudian langsung masuk ke tubuh Raden Panji Sekar Taji sehingga menjadikan dirinya bertambah sakti.
Alkisah, Retnaning Dyah Angin-Angin adalah saudara perempuan Prabu Banjaran Seta yang kemudian menikah dengan Raden Panji Sekar Taji yang selanjutnya dinobatkan sebagai Raja. Dari hasil perkawinannya, pada hari Selasa Kliwon lahirlah putri yang bernama Ratu Hayu. Pada saat kelahirannya putri ini menurut cerita, dihadiri oleh para bidadari dan semua mahluk halus. Putri tersebut diberi nama oleh eyangnya (Eyang Sindhula), Ratu Pegedong dengan harapan nantinya akan menjadi wanita tercantik dijagat raya. Setelah dewasa ia benar-benar menjadi wanita yang cantik tanpa cacat atau sempurna dan wajahnya mirip dengan wajah ibunya bagaikan pinang dibelah dua. Pada suatu hari Ratu Hayu atau Ratu Pagedongan dengan menangis memohon kepada eyangnya agar kecantikan yang dimilikinya tetap abadi. Dengan kesaktian eyang Sindhula, akhirnya permohonan Ratu Pagedongan wanita yang cantik, tidak pernah tua atau keriput dan tidak pernah mati sampai hari kiamat dikabulkan, dengan syarat ia akan berubah sifatnya menjadi mahluk halus yang sakti mandra guna (tidak ada yang dapat mengalahkannya).
Setelah berubah wujudnya menjadi mahluk halus, oleh sang ayah Putri Pagedongan diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk memerintah seluruh wilayah Laut Selatan serta menguasai seluruh mahluk halus di seluruh pulau Jawa. Selama hidupnya Ratu Pagedongan tidak mempunyai pedamping tetapi ia diramalkan bahwa suatu saat ia akan bertemu dengan raja agung (hebat) yang memerintah di tanah Jawa. Sejak saat itu ia menjadi Ratu dari rakyat yang mahluk halus dan mempunyai berkuasa penuh di Laut Selatan.
Kekuasaan Ratu Kidul di Laut Selatan juga tertulis dalam serat Wedatama yang berbunyi:
Wikan wengkoning samodra,
Kederan wus den ideri,
Kinemat kamot hing driya,
Rinegan segegem dadi,
Dumadya angratoni,
Nenggih Kangjeng Ratu Kidul,
Ndedel nggayuh nggegana,
Umara marak maripih,
Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda.
terjemahan:
Tahu akan batas samudra
Semua telah dijelajahi
Dipesona nya masuk hati
Digenggam satu menjadi
Jadilah ia merajai
Syahdan Sang Ratu Kidul
Terbang tinggi mengangkasa
Lalu datang bersembah
Kalah perbawa terhadap
Junjungan Mataram

[setubuh alamai-senyawa Illahi]
Yang artinya : Mengetahui/mengerti betapa kekuasaan samodra, seluruhnya sudah dilalui/dihayati, dirasakan dan meresap dalam sanubari, ibarat digenggam menjadi satu genggaman, sehingga terkuasai. Tersebutlah Kangjeng Ratu Kidul, naik ke angkasa, datang menghadap dengan hormat, kalah wibawa dengan raja Mataram.
Ada versi lain dari masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang menceritakan bahwa pada jaman kerajaan Pajajaran, terdapat seorang putri raja yang buruk rupa dan mengidap penyakit kulit bersisik sehingga bentuk dan seluruh tubuhnya jelak tidak terawat.Oleh karena itu, Ia diusir dari kerajaan oleh saudara-saudaranya karena merasa malu mempunyai saudara yang berpenyakitan seperti dia. Dengan perasaan sedih dan kecewa, sang putri kemudian bunuh diri dengan mencebur ke laut selatan.
Pada suatu hari rombongan kerajaan Pajajaran mengadakan slametan di Pelabuhan Ratu. Pada saat mereka tengah kusuk berdoa muncullah si putri yang cantik dan mereka tidak mengerti mengapa ia berada disitu, kemudian si putri menjelaskan bahwa ia adalah putri kerajaan Pajajaran yang diusir oleh kerajaan dan bunuh diri di laut selatan, tetapi sekarang telah menjadi Ratu mahluk halus dan menguasai seluruh Laut Selatan. Selanjutnya oleh masyarakat, ia dikenal sebagai Ratu Kidul.
Dari cerita-cerita mitos tentang Kanjeng Ratu Kidul, jelaslah bahwa Kanjeng Ratu Kidul adalh penguasa lautan yang bertahta di Laut Selatan dengan kerajaan yang bernama Keraton Bale Sokodhomas.
Mitos Pertemuan Kanjeng Ratu Kidul Dengan Penembahan Senopati
Sebelum Panambahan Senopati dinobatkan menjadi raja, beliau melakukan tapabrata di Dlepih dan tapa ngeli. Dalam laku tapabratanya, beliau selalu memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dapat membimbing dan mengayomi rakyatnya sehingga terwujud masyarakat yang adil dan makmur.
Dalam cerita, pada waktu Panembahan Senopati melakukan tapa ngeli, sampai di tempuran atau tempat bertemunya aliran sungai Opak dan sungai Gajah Wong di dekat desa Plered dan sudah dekat dengan Parang Kusumo, Laut Selatan tiba-tiba terjadilah badai dilaut yang dasyat sehingga pohon-pohon dipesisir pantai tercabut beserta akarnya, ikan-ikan terlempar di darat dan menjadikan air laut menjadi panas seolah-olah mendidih. Bencana alam ini menarik perhatian Kangjeng Ratu Kidul yang kemudian muncul dipermukaan laut mencari penyebab terjadinya bencana alam tersebut.
Dalam pencariannya, Kanjeng Ratu Kidul menemukan seorang satria sedang bertapa di tempuran sungai Opak dan sungai Gajah Wong, yang tidak lain adalah Sang Panembahan Senopati. Pada waktu Kanjeng Ratu Kidul melihat ketampanan Senopati, kemudian jatuh cinta. Selanjutnya Kanjeng Ratu Kidul menanyakan apa yang menjadi keinginan Panembahan Senopati sehingga melakukan tapabrata yang sangat berat dan menimbulkan bencana alam di laut selatan, kemudian Panembahan menjelaskan keinginannya
Kanjeng Ratu Kidul memperkenalkan diri sebagai raja di Laut Selatan dengan segala kekuasaan dan kesaktiannya. Kanjeng Ratu Kidul menyanggupi untuk membantu Panembahan Senopati mencapai cita-cita yang diinginkan dengan syarat, bila terkabul keinginannya maka Panembahan Senopati beserta raja-raja keturunannya bersedia menjadi suami Kanjeng Ratu Kidul. Panembahan Senopati menyanggupi persyaratan Kanjeng Ratu Kidul namun dengan ketentuan bahwa perkawinan antara Panembahan Senopati dan keturunannya tidak menghasilkan anak. Setelah terjadi kesepakatan itu maka alam kembali tenang dan ikan-ikan yang setengah mati hidup kembali.
Adanya perkawinan itu konon mengandung makna simbolis bersatunya air (laut) dengan bumi (daratan/tanah). Ratu Kidul dilambangkan dengan air sedangkan raja Mataram dilambangkan dengan bumi. Makna simbolisnya adalah dengan bersatunya air dan bumi maka akan membawa kesuburan bagi kehidupan kerajaan Mataram yang akan datang.
Menurut sejarah bahwa Panembahan Senopati sebagai raja Mataram yang beristrikan Kanjeng Ratu Kidul tersebut merupakan cikal bakal atau leluhur para raja Mataram ,termasuk Keraton Surakarta Hadiningrat. Oleh karena itu maka raja-raja keraton Surakarta sesuai dengan janji Panembahan Senopati yaitu menjadi suami dari Kanjeng Ratu Kidul. Dalam perkembangannya, raja Paku Buwana III selaku suami Kanjeng Ratu Kidul telah mendirikan Panggung Sangga Buwana sebagai tempat pertemuannya. Selanjutnya tradisi raja-raja Surakarta sebagai suami Kanjeng Ratu Kidul berlangsung terus sampai dengan raja Paku Buwana X. Alkisah Paku Buwana X yang merupakan suami Ratu Kidul sedang bermain asmara di Panggung Sangga Buwana. Pada saat mereka berdua menuruni tangga Panggung yang curam tiba-tiba Paku Buwana X terpeleset dan hampir jatuh dari tangga tetapi berhasil diselamatkan oleh Kanjeng Ratu Kidul. Dalam kekagetannya itu Ratu Kidul berseru : “Anakku ngGer…………..” (Oh……….Anakku). Apa yang diucapkan oleh Kanjeng Ratu Kidul itu sebagai Sabda Pandito Ratu artinya sabda Raja harus ditaati. Sejak saat itu hubungan kedudukan mereka berdua berubah bukanlah lagi sebagai suami istri , tetapi hubungannya sebagai ibu dan anak, begitu pula terhadap raja-raja keturunan Paku Buwana X selanjutnya.
PANGGUNG SANGGA BUWANA DAN MITOSNYA
Secara mistik kejawen, Panggung Sangga Buwana dipercaya sebagai tempat pertemuan raja-raja Surakarta dengan Kanjeng Ratu Kidul, oleh karena itu letak Panggugu Sangga Buwana tersebut persis segaris lurus dengan jalan keluar kota Solo yang menuju ke Wonogiri. Konon, menurut kepercayaan, hal itu memang disengaja sebab datangnya Ratu Kidul dari arah Selatan.
Pada puncak bangunan Panggung Sangga Buwana yang berbentuk seperti topi bulat terdapat sebuah hiasan seekor naga yang dikendarai oleh manusia sambil memanah. Menurut Babad Surakarta, hal itu bukan sekedar hiasan semata tetapi juga dimaksudkan sebagai sengkalan milir. Bila diterjemahkan dalam kata-kata sengkalan milir itu berbunyi Naga Muluk Tinitihan Janma, yang berarti tahun 1708 Jawa atau 1782 Masehi yang merupakan tahun berdirinya Panggung Sangga Buwana (Naga=8, Muluk=0, Tinitihan=7, dan Janma=1)
Arti lain dari sengkalan milir tersebut adalah: 8 diartikan dengan bentuknya yang segi delapan, 0 yang diartikan dengan tutup bagian atas bangunan yangberbentuk seperti topi, 7 adalah manusia yang mengendarai naga sambil memanah dan 1 diartikan sebagai tiang atau bentuk bangunannya yang seperti tiang.
Namun demikian, sebenarnya nama Panggung Sangga Buwana itu sendiri juga merupakan sebuah sengkalan milir yang merupakan kependekan dari kata Panggung Luhur Sinangga Buwana. Dari nama tersebut lahir dua sengkalan sekaligus yang bila diterjemahkan akan didapati dua jenis tahun yaitu tahun Jawa dan tahun Hijryah. Untuk sengkalan tahun Hijryah, Panggung berarti gabungan dua kata, PA dan AGUNG. Pa adalah huruf Jawa dan Agung adalah besar berarti huruf Jawa Pa besar yaitu angka delapan. Sedangkan Sangga adalah gabungan kata SANG da GA yang merupakan singkatan dari Sang atau sembilan dan Ga adalah huruf Jawa atau angka Jawa yang nilainya satu. Serta kata Buwana yang artinya dunia, yang bermakna angka satu pula. Dengan demikian menunjukkan angka tahun 1198 Hijryah.
Kemudian untuk sengkalan tahun Jawa kata Panggung Luhur Sinangga Buwana. Panggung juga tediri dari PA dan AGUNG yang berarti huruf Jawa Pa besar sama dengan 8. Luhur mempunyai makna tanpa batas yang berarti angka 0. Sinangga bermakna angka 7 dan Buwana bermakna angka 1. Shingga bila digabungkan mempunyai arti yang sama yaitu tahun 1708 Jawa. Kedua tahun tersebut, baik tahun Jawa dan Hijryah bila dimaksukkan atau dikonversikan ke tahun Masehi sama-sama menunjukkan angka 1782, saat pembangunan panggung tersebut.
Pada Panggung Sangga Buwana masih didapati sebuah sengkalan milir yang pada jaman penjajahan Belanda dirahasiakan adanya. Sebab diketahui sengkalan terakhir ini berupa sebuah ramalan tentang tahun kemerdekaan Indonesia, sehingga jelas akan menimbulkan bahaya apabila diketahui oleh Belanda. Selain itu yang namanya ramalan memang tidak boleh secara gegabah diumumkan, mengingat ketakaburan manusia yang dapat ditaksirkan akan mendahului takdir Tuhan.
Sengkalan rahasia yang dimaksud adalah terletak pada puncak atas panggung yang telah disinggung yaitu Naga Muluk Tinitihan Janma. Bentuk dari hiasan tersebut adalah manusia yang naik ular naga tengah beraksi hendak melepaskan anak panah dari busurnya, sedangkan naganya sendiri digambarkan memakai mahkota. 
Hal ini merupakan Sabda terselubung dari Sunan PB III yang kemudian ketika disuruh mengartikan kepada seorang punjangga karaton Surakarta yang bernama Kyai Yosodipuro, juga cocok yaitu ramalan tahun kemerdekaan bangsa Indonesia adalah tahun 1945.

Naga atau ular diartikan melambangkan rakyat jelata dan mahkotanya berarti kekuasaan. Dengan demikian keseluruhan sosok naga tersebut menggambarkan adanya kekuasaan ditangan rakyat jelata. Dan gambarkan manusia yang mengendarainya dengan siap melepaskan anak panah diartikan sebagai sasaran, kapan tepatnya kekuasaan berada ditangan rakyat.
Sebenarnya sosok manusia mengendarai naga tersebut dipasang juga untuk mengetahui arah mata angin dan tiang yang berada dipuncaknya dan digunakan untuk penangkal petir. Hal tersebut oleh Kyai Yosodipuro dibaca sebagai sengkalan juga yaitu keblat Rinaras Tri Buwana. Keblat = 4, Rinaras = 6, Tri = 3 dan Buwana = 1 atau tahun 1364 Hijryah, bila dimasukan atau dikonversikan ke tahun Masehi akan menjadi 1945 yang merupakan tahun kemerdekaan bangsa Indonesia. Sayangnya bangunan Sangga Buwana beserta hiasan asli dipuncaknya itu pernah terbakar dilalap api tahun 1954, tetapi hingga sekarang kepercayaan masyarakat dan legenda akan bangunan tersebut tidak pernah punah sehingga mereka tetap menghormati dan menghargainya dengan cara selalu melakukan upacara sesaji atau yang lazim disebut caos dahar pada setiap hari Selasa Kliwon atau Anggoro Kasih, setiap malam Jumat dan saat menjelang upacara-upacara kebesaran karaton.
Bangunan Panggung Sangga Buwana apabila dilihat sebagai sumbu dari bangunan karaton secara keseluruhan yang menghadap ke arah utara, maka semua Bangunan yang berada di sebelah kiri Panggung Sangga Buwana mempunyai hubungan vertikal dan yang sebelah kanan mempunyai hubungan horisontal. Hubungan vertikal tersebut yaitu hubungan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai kegiatan spiritual misalnya : bangunan Jonggring Selaka, Sanggar Palanggatan, Sanggar Segan, Mesjid Bandengan, Mesjid Pudyasana, Mesjid Suranatan, Mesjid Agung, Gereja Protestan Gladag dan Gereja Katolik Purbayan. Sedangkan hubungan horizontal yaitu kegiatan duniawi manusia misalnya Pasar Gading, Pasar Kliwon, Pasar Gedhe, dan sebelah timur lagi terdapat sarana transportasi Begawan Solo.
Panggung Sangga Buwana juga mempunyai arti sebagai penyangga bumi memiliki ketinggian kira-kira 30 meter sampai puncak teratas. Didalam lingkungan masyarakat Solo terdapat sebuah kepercayaan bahwa bangunan-bangunan yang berdiri di kota Solo tidak boleh melebihi dari Panggung Sangga Buwana karena mereka sangat menghormati rajanya dan mempercayai akan kegiatan yang terjadi di puncak bangunan tersebut sehingga apabila ada bangunan yang melanggarnya maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
BENTUK PANGGUNG SANGGA BUWANA
Bentuk fisik dari Panggung Sangga Buwana adalah segi delapan atau hasta walu dalam istilah Jawa. Bentuk yang segi delapan itu diartikan sebagai hasta brata yang menurut filosifi orang Jawa adalah sifat kepepimpinan, jadi diharapkan setiap pemimpin mempunyai sifat yang demikian. Filsafat Jawa selalu berorientasi pada alam karana dengan alam mereka dapat menikmati hidup dan merasakan komunikasi batin manusia dengan Sang Pencipta. Orang Jawa juga mempercayai bahwa apabila bangunan yang tidak menghiraukan alam lingkungan maka bangunan tersebut akan jauh dari situasi manusiawi.
Ajaran hasta brata atau delapan laku yang merupakan ajaran kepemimpinan bagi setiap manusia. Dari ajaran tersebut diharapkan setiap pemimpin mempunyai sifat-sifat seperti watak kedelapan unsur alam yaitu:
1. Matahari yang diartikan sebagai seorang pemimpin harus dapat menjadi sumber hidup orang lain.
2. Bulan mengartikan penerangan dalam kegelapan.
3. Bintang sebagai petunjuk arah bagi yang tersesat
4. Bumi yang maksudnya seorang pemimpin yang baik harus kuat menerima beban hidup yang diterimanya.
5. Mendhung diharapkan sebagai pemimpin tidak mempunyai sifat yang tidak pilih kasih.
6. Api yang berarti mematangkan yang mentah
7. Samodra/Air dimaksudkan bahwa pemimpin harus dapat memahami segala kebaikan dan keburukan
8. Angin yang apabila berada dimanapun juga harus dapat membawa kesejukkan.
Seorang pemimpin yang dihormati oleh rakyatnya karena rakyat mengharapkan dengan hadirnya pemimpin yang mempunyai sifat demikian maka mereka pasti akan hidup rukun, tentram dan damai sejahtera.
Dari bentuk fisik bangunan Panggung Sangga Buwana juga melambangkan sebagai simbol lingga yang yang berdampingan dengan yoni yaitu Kori Srimanganti. Dalam kepercayaan agama hindu, lingga dan yoni melambangkan Dewa Shiwa atau Dewa Kesuburan. Simbol lingga dan yoni juga terukir atau terekam dalam bentuk ornamen di Kori Srimanganti yang berarti bahwa sebagai perantara kelahiran manusia yang juga mengingatkan hidup dalam alam paberayan senantiasa bersikap keatas dan kebawah serta ke kanan dan ke kiri. Hal ini semua mengandung arti bahwa manusia harus selalu ingat adanya Yang Menitahkan dan sekaligus mengakui bahwa manusia hanya sebagai yang dititahkan. Sedangkan ke kanan dan ke kiri dapat diartikan manusia selalu hidup bermasyarakat.
Panggung Sangga Buwana yang melambangkan lingga diartikan juga sebagai suatu kekuatan yang dominan disamping menimbulkan lingga-yoni yang juga merupakan lapisan inti atau utama dari urut-urutan bangunan Gapura Gladag di Utara hingga Gapura Gading di Selatan. Lingga dan yoni merupakan kesucian terakhir dalam hidup manusia, hal ini kemudian menimbulkan sangkang paraning dumadi yaitu dengan lingga dan yoni terjadilah manusia. Jadi dengan kata lain kesucian dalam hubungannya dengan filsafat bentuk secara simbolik dapat melambangkan hidup.
Panggung yang dilambangkan sebagai lingga dan Srimanganti sebagai yoni, juga merupakan suatu pasemon atau kiasan goda yang terbesar. Maksudnya, lingga adalah penggoda yoni, dan sebaliknya yoni merupakan penggoda lingga. Seterusnya, panggung dan kori itu juga merupakan lambang yang bisa diartikan demikian: seorang lelaki dalam menghadapi sakaratul maut, yaitu ketika ia hampir berangkat menuju ke hadirat Tuhan, ia akan sangat tergoda oleh wanita atau sebaliknya. Begitu pula sebaliknya wanita, ketika dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa ia pun sangat tergoda atau sangat teringat akan pria atau kekasihnya. Begitulah makna yang terkandung atau perlambang yang terkandung di dalam Panggug Sangga Buwana bersama Kori Srimanganti yang selalu berdekatan.
FUNGSI PANGGUNG SANGGA BUWANA
Versi lain mengatakan bahwa Panggung Sangga Buwana ditilik dari segi historisnya, pendirian bangunan tersebut disengaja untuk mengintai kegiatan di Benteng Vastenburg milik Belanda yang berada disebelah timur laut karaton. Memang tampaknya, walaupun karaton Surakarta tuduk pada pemerintahan Belanda, keduanya tetap saling mengintai. Ibarat minyak dan air yang selalu terpisah jelas kendati dalam satu wadah. Belanda mendirikan Benteng Vastenburg untuk mengamati kegiatan karaton, sedangkan PB III yang juga tidak percaya pada Belanda, balas mendirikan Panggung Sangga Buwana untuk mengintai kegiatan beteng.
Namun tak-tik PB III sempat diketahui oleh Belanda. Setidaknya Belanda curiga terhadap panggung yang didirikan itu. Dan ketika di tegur, PB III berdalih bahwa panggung tersebut didirikan untuk upacara dengan Kangjeng Ratu Kidul semata tanpa tendensi politik sedikitpun.
Lantai teratas merupakan inti dari bangunan ini, yang biasa disebut tutup saji. Fungsi atau kegunaan dari ruang ini bila dilihat secara strategis dan filosofis atau spiritual adalah:
1. Secara strategis, dapat digunakan untuk melihat Solo dan sekitarnya. Untuk dapat melihat kota Solo dari lantai atas panggung dan tidak sembarangan orang yang dapat menaiki, ada petugas yang memang bertugas untuk melihat dengan menggunakan teropong atau kadang-kadang raja Surakarta sendiri yang melakukan pengintaian. Pada jaman dulu raja sering naik keatas untuk melihat bagaimana keadaan kota, rakyat dan musuh.
2. Segi filosofi dan spiritualnya, Panggung Sanggga Buwana merupakan salah satu tempat yang mempunyai hubungan antara Kengjeng Ratu Kencono Sari dengan raja Jawa setempat. Hal yang memperkuat keyakinan bahwa raja-raja Jawa mempunyai hubungan dengan Kangjeng Ratu Kidul atau Kangjeng Ratu Kencono Sari yang dipercaya sebagai penguasa laut dalam hal ini di Laut Selatan dan raja sebagai penguasa daratan, jadi komunikasi didalam tingkatan spiritual antara raja sebagai penguasa didaratan dan Kangjeng Ratu Kencono Sari sebagai penguasa lautan dikaitkan dengan letak geografis Nusantara sebagai negara maritim.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ruang tutup saji ini digunakan sebagai:
– tempat meditasi bagi raja, karena letaknya yang tinggi dan ruang ini memberikan suasana hening dan tentram
– tempat meraga sukma bagi raja, untuk mengadakan pertemuan dengan Kangjeng Ratu Kidul.
– Tempat untuk mengawasi keadaan atau pemandangan sekeliling karaton.
Pada lantai teratas digunakan untuk bersemedi raja dan pertemuan dengan Kangjeng Ratu Kidul terdapt dua kursi yang diperuntukkan bagi raja (kursi sebelah kiri) dan Ratu Kidul (kursi sebelah kanan) yang menghadap ke arah selatan. Arah orientasi dari bangunan ini adalah ke selatan; pintu masuk dari arah selatan dengan tujuan untuk menghormati Kanjeng Ratu Kidul sebagai penguasa Laut Selatan. Diantara dua buah kursi terdapat sebuah meja yang digunakan untuk meletakkan panggageman Kanjeng Ratu Kidul didalam sebuah kotak. Pangageman tersebut diganti setiap tahun menjelang acara Jumenengan raja.
Menurut cerita, pada saat mengadakan pertemuan dengan raja, Kanjeng Ratu Kidul mengenakan pakaiannya dan seketika itu juga beliau berwujud seperti manusia. Setelah pertemuan selesai, Kanjeng Ratu Kidul kembali ke alamnya dengan sebelumnya mengembalikan ageman yang dikenakannya ke dalam kotak.
Didalam ruang tutup saji yang berdiameter kira-kira 6 meter, pada bagian tepat ditengah ruangan terdapat kolom kayu yang secara simbolis menunjukkan bahwa segala kegiatan yang dilakukan di tutup saji mempunyai hubungan dengan Tuhan. Kayu yang digunakan adalah kayu jati yang berasal dari hutan donoloyo yang dianggap angker bagi orang jawa.
Jakarta, Senin Pahing, 
pukul ; 09.37 – by Satmata
KEN AROK - EMPU GANDRING-17.

KEN AROK - EMPU GANDRING-17.

08:33 0
KEN AROK - EMPU GANDRING-17.
"Biarlah aku yang mewakili Sabuk Tembogo!" Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan Wulandari
telah meloncat ke tengah ruangan menghadapi Gajah Ireng. Ki Bragolo hendak mencegah namun tidak
keburu sehingga terpaksa diam saja, hanya memandang dengan hati gelisah. Dia tahu bahwa puterinya itu
memiliki kepandaian lebih tinggi dari Sentono, dan terutama sekali memiliki garakan yang jauh lebih
lincah. Akan tetapi dia masih meragukan apakah puterinya akan mampu menandingi Gajah Ireng yang
tangguh itu.
Akan tetapi, tiba-tiba Gajah Putih melangkah maju. "Adi Ireng, engkau sudah cukup berjasa
mengalahkan dua orang jagoan lawan. Mengasolah dan biarkan aku yang menghadapi anak perempuan
yang manis itu."
Gajah Ireng tersenyum lalu mengundurkan diri dan gajah Putih yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa
itu berdiri tegak dengan kedua kaki dipentang lebar, berhadapan dengan Wulandari yang nampak kecil.
Wajah gadis ini sudah menjadi merah mendengar ucapan Gajah Putih yang mengatakan ia seorang anak
perempuan yang manis dengan demikian mengejek.
"Kalau tidak salah, andika adalah puteri Ki Bragolo. Sungguh bahagia sekali Ki Bragolo memiliki
seorang anak yang begitu cantik manis dan gagah perkasa." kata Gajah Putih dengan wajah penuh
senyum menyeringai. "Akan tetapi, anak manis. Lebih baik engkau mundur saja. Sayang kalau sampai
kulitmu yang halus itu lecet atau tubuhmu yanmg kecil ramping dan padat ini terbanting babak bundas.
Engkau sama sekali bukan lawanku!"
"Manusia sombong! Kamu yang tadi mengusulkan pertandingan adu ilmu secara persahabatan, antara
tuan rumah dan tamunya yang dihormati. Akan tetapi kata-katau kotor dan beracun melebihi senjata
seorang mush. Majulah dan jangan kira aku takut menghadapi kebesaran tubuhmu dan kelebaran
mulutmu!"
Ucapan Wulandari ini sungguh pedas dan tajam menusuk, akan tetapi Gajah Putih tetap tersenyum
menyeringai. Dia memang seorang mata keranjang dan kini menghadapi seorang dara remaja yang
demikia manisnya, hatinya gembira sekali. Apalagi dia memperoleh kesempatan untuk mengadu ilmu
dengan gadis ini, hatinya senang bukan main. Inilah kesempatan baik baginya untuk bersentuhan kulit, dan
mempermainkan gadis ini sesuka hatinya tanpa ada yang dapat melarang karena bukankah mereka itu
akan bertanding mengadu ilmu? Pula, andaikata ada yang melarang, diapun tidak takut. "Hem, sudah
kukatakan, kalian lebih baik maju bersama!" Gajah Ireng berkata dengan nada mengejek. Ucapan ini
membuktikan kesombongannya. Sentono tidak menjawab, melainkan memutar senjatanya dan menubruk
ke depan.
"Lihat sabukku!" namun seperti halnya adiknya tadi, tiba-tiba tubuh lawannya berkelebat lenyap. Dia tadi
sudah menonton pertandingan antara adiknya dan lawan ini, maka dia sudah memutar dan menggerakkan
sabuknya, menyerang ke bagian belakang dan kanan kiri dengan cepat. Akan tetapi kembali Gajah Ireng
dapat mengelak dengan amat mudahnya dan balas menyerang.
Pasar taruhan di luar ruangan itu kini sepi. Para anak buah Sabuk Tembogo tidak ada yang berani
bertaruh karena mereka semua jerih melihat gerak cepat yang luar biasa dari Gajah Ireng dan memang
rasa khawatir mereka beralasan. Sebentar saja, seperti halnya Sentanu tadi, Sentono juga hanya mampu
melindungi dirinya, tidak sempat lagi untuk balas menyerang dan bahkan agaknya Gajah Ireng ingin cepat
mengakhiri pertandingan itu. Lewat lima belas jurus, tiba-tiba ujung sabuk tembaga itu terlihat ujung kain
ikat kepala dan selagi Sentono berusaha manarik kembali sabuk tembaganya, tiba-tiba kaki Gajah Ireng
meluncur dan menendang.
"Dess....!" tubuh Sentono terpelanting keras dan biarpun dia juga tidak terluka parah, namun karena
tubuhnya sudah terbanting, berarti dia sudah kalah. Dia bangkit dengan muka merah dan tanpa berkata
apa-apa lagi dia mengundurkan diri.
"Biarlah aku yang mewakili Sabuk Tembogo!" Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan Wulandari
telah meloncat ke tengah ruangan menghadapi Gajah Ireng. Ki Bragolo hendak mencegah namun tidak
keburu sehingga terpaksa diam saja, hanya memandang dengan hati gelisah. Dia tahu bahwa puterinya itu
memiliki kepandaian lebih tinggi dari Sentono, dan terutama sekali memiliki garakan yang jauh lebih
lincah. Akan tetapi dia masih meragukan apakah puterinya akan mampu menandingi Gajah Ireng yang
tangguh itu.
Akan tetapi, tiba-tiba Gajah Putih melangkah maju. "Adi Ireng, engkau sudah cukup berjasa
mengalahkan dua orang jagoan lawan. Mengasolah dan biarkan aku yang menghadapi anak perempuan
yang manis itu."
Gajah Ireng tersenyum lalu mengundurkan diri dan gajah Putih yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa
itu berdiri tegak dengan kedua kaki dipentang lebar, berhadapan dengan Wulandari yang nampak kecil.
Wajah gadis ini sudah menjadi merah mendengar ucapan Gajah Putih yang mengatakan ia seorang anak
perempuan yang manis dengan demikian mengejek.
"Kalau tidak salah, andika adalah puteri Ki Bragolo. Sungguh bahagia sekali Ki Bragolo memiliki
seorang anak yang begitu cantik manis dan gagah perkasa." kata Gajah Putih dengan wajah penuh
senyum menyeringai. "Akan tetapi, anak manis. Lebih baik engkau mundur saja. Sayang kalau sampai
kulitmu yang halus itu lecet atau tubuhmu yanmg kecil ramping dan padat ini terbanting babak bundas.
Engkau sama sekali bukan lawanku!"
"Manusia sombong! Kamu yang tadi mengusulkan pertandingan adu ilmu secara persahabatan, antara
tuan rumah dan tamunya yang dihormati. Akan tetapi kata-katau kotor dan beracun melebihi senjata
seorang mush. Majulah dan jangan kira aku takut menghadapi kebesaran tubuhmu dan kelebaran
mulutmu!"
Ucapan Wulandari ini sungguh pedas dan tajam menusuk, akan tetapi Gajah Putih tetap tersenyum
menyeringai. Dia memang seorang mata keranjang dan kini menghadapi seorang dara remaja yang
demikia manisnya, hatinya gembira sekali. Apalagi dia memperoleh kesempatan untuk mengadu ilmu
dengan gadis ini, hatinya senang bukan main. Inilah kesempatan baik baginya untuk bersentuhan kulit, dan
mempermainkan gadis ini sesuka hatinya tanpa ada yang dapat melarang karena bukankah mereka itu
akan bertanding mengadu ilmu? Pula, andaikata ada yang melarang, diapun tidak takut.
"Ha-ha-ha, sungguh andika seperti seekor kuda betina liar yang amat cantik. Semakin liar semakin
menarik untuk ditundukkan! Kalau tidak salah, nama andika tadi adalah Wulandari. Nama yang amat
manis, semanis orangnya. Wulandari, sebagai puteri Ki Bragolo, aku yakin bahwa semua ilmu dari Sabuk
Tembogo tentu telah kau warisi sehingga dengan melihat ilmu silatmu, sama saja dengan menjajagi
tingginya tingkat kepandaian ketua Sabuk Tembogo. Nah, perlihatkan kepandaianmu, manis!"
Ki Bragolo merasa betapa dadanya panas dan hampir saja dia melompat ke depan untuk memaki dan
menyerang raksasa bermuka putih itu. Akan tetapi, keadaan tidak mengijinkan karena mereka itu tidak
saling bermusuhan, melainkan sebagai tamu yang hendak menguji ilmu kepandaian pihak tuan rumah.
Maka diapun menekan saja kemarahannya, menahan sabar dan memandang ke arah puterinya dengan
hati penuh kekhawatiran.
Joko Handoko mengerutkan alisnya.Sejak tadu diapun diam saja dan menganggap bahwa adu ilmu ini
hanya merupakan pelampiasan kecewa dari pihak pemimpin pasukan Tumapel. Akan tetapi tentu saja
dia tidak dapat mencampuri urusan adu ilmu itu. Betapapun juga, melihat sikap Gajah Ireng dan kini
sikap Gajah Putih yang terlalu menghina dan teramat sombong, diam-diam dia mendongkol bukan main.
Diapun mengerti bahwa melihat tingkat kepandaiannya, Wulandari tidak akan mampu mengalakan Gajah
Ireng, apalagi Gajah Putih yang sabagai kakak Gajah Ireng tentu saja memiliki tingkat kepandaian yang
lebih tinggi lagi. Akan tetapi, dia sendiri hanya seorang tamu, dan dia telah menyembunyikan
kepandaiannya sehingga pihak tuan rumah sendiri tidak tahu dan menganggap dia seorang sahabat baik
yang tidak memiliki kepandaian silat. Bagaimana dia dapat mencampuri kalau pihak tuan rumah maju
sendiri menghadapi tantangan para tamu? Kalau dia campur tangan, hal itu tentu akan menimbulkan
perasaan malu terhadap pihak tuan rumah. Maka biarpun diam-diam dia merasa khawatir sekali, dia
tetap diam saja, hanya siap siaga menjaga segala kemungkinan dan diam-diam diapun bersiap-siap untuk
melindungi Wulandari kalau-kalau gadis itu terancam bahaya.
Kini Gajah Putih sudah mengeluarkan sepasang sarung tangan hitam dan mengenakan sepasang sarung
tangan itu untuk melindungi kedua tangannya. Itulah senjatanya, sepasang sarung tangan yang amat kuat,
tahan menghadapi bacokan senjata tajam. Banda itu terbuat dari semacam sutera yang amat ulet dan kuat
merupakan benda kuno yang datang dari Negeri Cina dan di tangan Gajah Putih yang bertenaga raksasa
itu, sarung tangan ini menjadi senjata yang amat ampuh.
Sementara itu, Wulandari sudah tidak sabar lagi. Begitu lawannya sudah selesai mengenakan sarung
tangan, ia mengelebatkan sabuk tembaganya sambil membentak nyaring, sebagai tanda bahwa ia mulai
dengan serangannya. Akan tetapi yang diserang tidak menggerakkan tubuhnya, hanya kedua tangannya
saja bergerak.
"Tak-tring-trang.........!" Bekali-kali sabuk tembaga itu bertemu dengan kedua tangan yang berlindung
sarung tangan dan selalu sabuk itu terpental. Makin keras Wulandari mengayun senjatanya, semakin kuat
pula senjatanya terpental sehingga ia merasa betapa telapak tangannya menjadi panas dan perih. Ia
merasa terkejut bukan main dan ia pun cepat mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk berloncatan ke
sana sini mengitari tubuh lawan dan mengayun sabuk tembaganya untuk menyerang bagian-bagian yang
berbahaya seperti tengkuk, ubun-ubun kepala, lambung, pusar, sekitar muka, pergelangan tangan, siku,
lutut dan sebagainya. Gadis ini memang memiliki gerakan lincah, walaupun tidak secepat gerakan Gajah
Ireng, namun cukup cepat sehingga tubuhnya nampak berkelebatan. Sebaliknya, Gajah Putih hanya
mengeluarkan suara ketawa-ketawa dan tubuhnya tetap tegak hanya kakinya yang bergeser maju
mundur, sehingga tubuhnya berbalik ke sana sini, menghadapi lawan ke mana saja lawan meloncat dan
menangkis setiap lecutan sabuk tembaga dengan kedua tangannya yang dilindungi sarung tangan.
Terdengar lagi suara nyaring berdentingan ketika sabuk itu bertemu sarung tangan.
"Ha-ha-ha, engkau hebat juga, anak manis!" Gajah Putih mengejek dan tiba-tiba saja tangan kanannya
menangkap ujung sabuk tembaga, tangan kiri mencengkeram ke arah siku kanan Wulandari. Dara ini
terkejut bukan main, terpaksa melepaskan sabuknya dan menarik tangannya karena kalau tidak, tentu
sikunya akan kena cengkeram. Gajah Putih tertawa bergelak, kedua tangannya menekuk-nekuk dan
sabuk tembaga itu patah-patah menjadi empat potong lalu dilemparkannya ke atas tanah. Dengan sikap
sombong dia pun kini melepaskan sepasang sarung tangannya dan menyimpannya kembali.
"Keparat, berani kau merusak senjataku!" Wulandari yang marah sekali bahwa ia berhadapan dengan
lawan yang jelas lebih tangguh darinya. Tubuhnya sudah mencelat ke depan dan kedua tangannya sudah
menyerang dengan ganas, yang kanan mencengkeram ke arah kepala, yang kiri menghantam ke arah ulu
hati. Serangan ini hebat sekali dan andaikata mengenai sasaran, biarpun Gajah Putih memiliki kepandaian
tinggi, dapat menimbulkan bahaya maut baginya.
"Plak! Plak!" Gajah Putih menyambut kedua tangan dan tahu-tahu kedua tangan gadis itu telah
ditangkapnya pada pergelangan. Tentu Wulandari terkejut bukan main, apalagi ketika lawan itu tertawa
bergelak dengan muka yang begitu dekat dengan mukanya sehingga dara itu ini dapat mencium bau
busuk dari mulut yang terbuka itu. Dengan cepat, Wulandari mempergunakan tenaga tangkapan lawan
pada kedua pergelangan tangannya untuk mengangkat tubuh, menggerakkan kedua kakinya menendang
ke arah pusar dan muka lawan.
Gajah Putih sudah merasa girang sekali mempermainkan gadis itu dan berhasil menangkap kedua
pergelangan tangan yang kulitnya helus dan hangat itu. Akan tetapi, dia terkejut sekali melihat betapa
gadis yang telah ditangkapnya itu ternyata masih mampu melakukan serangan yang demikia hebatnya.
Serangan itu amat berbahaya sehingga dia mengeluarkan seruan kaget dan terpaksa mendorong tubuh itu
ke atas, melepaskan pegangannya agar dia terhindar dari ancaman kedua kaki Wulandari. Tubuh gadis
itu telempar ke atas. Wulandari menggerakkan tubuhnya dan berjungkir balik sampai tiga kali di udara.
Akan tetapi, Gajah Putih melihat kesempatan baik dan dia pun meloncat, tangannya mencengkeram.
"Iiihhh......!" Wulandari menjerit ketika ujung kemben{sabuk} di pinggangnya tertangkap lawan dan
ketika Gajah Putih menarik dengan bentakan kuat, tubuh itu berputar dan kembennya sudah tertarik
separuh, hampir telepas. Semua orang terkejut dan memandang dengan menahan napas karena kalau
sampai kemben atau sabuk itu terlepas, tentu kain yang membungkus tubuh gadis itu akan terlepas dan
merosot turun.
"Gajah Putih, jangan kurang ajar engkau!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan nampak sinar
terang berkelebat menyambar ke arah kemben dan putuslah kemben itu dan Wulandari terlepas dari
ancaman ditelanjangi oleh Gajah Putih. Gadis itu dengan muka merah hampir menangis saking marahnya
dan malunya, terpaksa mundur dan berdiri di pinggir dengan mata melotot ke arah Gajah Putih.
Kiranya yang membikin putus kemben itu untuk menghindarkan Wulandari dari penghinaan adalah Ki
Bragolo sendiri. Orang tua ini sudah mempergunakan sabuk tembaganya unguk menyelamatkan muka
puterinya dan kini, dengan muka saking marahnya, dia berdiri menghadapi Gajah Putih. Dua orang yang
sama tinggi besarnya, hanya bedanya kalau muka Ki Bragolo agak kehitaman dan gagah perkasa, muka
lawannya putih halus.
Gajah Putih masih menyeringai. "Ha-ha, akhirnya Ki Bragolo maju sendiri. Memang sudah lama sekali
aku mendengar nama besar Ki Bragolo ketua Sabuk Tembogo dan sungguh beruntung hari ini aku dapat
merasakan sendiri sampai di mana kehebatannya, apakah kepandaiannya yang sebesar namanya."
"Gajah Putih!" Ki Bragolo membentak. "Apakah sebenarnya yang menjadi kehendakmu?"
"Eh? Apa kehendakku? Ki Bragolo, bukankah kita berhadapan sebagai tuan rumah dan tamu yang
hendak memeriahkan suasana dengan mengadu ilmu?"
"Gajah Putih! Sudah bertahun-tahun kami membantu Kadipaten Tumapel dan mengenal
tokoh-tokohnya. Akan tetapi baru hari ini kami mengenal namamu dan melihat engkau dan Gajah Ireng
membantu pasukan Tumapel. Akan tetapi sikapmu tidak bersahabat. Selain engkau memancing
diadakannya adu kepandaian, juga engkau dan adikmu sengaja hendak melakukan penghinaan terhadap
kami. Jelas bahwa di balik adu kepandaian ini, tersembunyi sesuatu yang busuk dalam benakmu!"
"Ha-ha-ha, Ki Bragolo. Memang baru hari ini kami menghambakan diri kepada Tumapel. Dan apakah
anehnya kalau adu kepandaian ada yang menang dan kalah? Dan tidak aneh pula kalau pihak yang kalah
menjadi pahit dan marah-marah seperti sikapmu sekarang ini. Ha-ha-ha!"
Tentu saja Ki Bragolo menjadi semakin marah.Di situ terdapat Ranunilo sebagai pemimpin pasukan
Tumapel dan perwira ini tidak berkata sesuatu, maka dia merasa terdesak omongan dan hal ini
membuatnya menjadi semakin marah. "Gajah Putih, manusia sombong! Keluarkan senjatamu dan
majulah!"
Gajah Putih sudah mengenakan sepasang sarung tangan hitam tadi dan kini sambil menyeringai lebar dia
melangkah maju. "Aku sudah siap untuk menghadapi pertandingan terakhir ini. Ingat, Ki Bragolo, dua
orang muridmu dan puterimu sudah kalah, maka kalau sekali ini engkau kalah, berarti Sabuk Tembogo
harus mengakui keunggulan kami!"
"Hentikan ocehanmu dan lihat senjataku!" Ki Bragolo dan diapun sudah maju dengan cepat. Sabuk
Tembaga di tangannya merupakan senjata yang amat berat dan ampuh, dan ketika dia menyerang, maka
serangannya ini sama sekali tidak boleh disamakan dengan serangan sabuk tembaga di tangan kedua
muridnya atau puterinya tadi. Gajah Putih juga tidak berani memandang rendah, maklum betapa hebatnya
sabuk tembaga yang berat dan digerakkan dengan tenaga kuat itu. Dia cepat mengelak dan dengan
tamparan tangannya kea rah dada lawan.
Ki Bragolo berhasil mengalak pula dan membalas kini dengan hantaman lebih kuat ke arah leher lawan.
Sabuk tembaga di tangannya lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar yang panjang berkilauan. Gajah
Putih menggerakkan tangan kanannya, menyambut senjata itu dengan tangannya yang terlindung sarung
tangan.
"Trakkk.....!" Keduanya terdorong mundur. Kiranya mereka memiliki tenaga yang seimbang
kekuatannya. Terjadilah pertandingan yang mata seru dan kini mereka yang menonton di luar ruangan itu
sudah sibuk lagi membuat taruhan yang lebih berani dan besar jumlahnya. Bagaimanapun juga, para
murid Sabuk Tembogo tentu saja menjagoi guru mereka karena mereka yakin bahwa guru mereka itu
amat sakti. Sebaliknya, para perajurit Tumapel yang sudah mendapat hati dengan
kemenangan-kemenangan berturut-turut dari kedua orang jagoan mereka, kini menyambut taruhan itu
dengan berani pula.
Setelah lewat lima puluh jurus, nampaklah bahwa Gajah Putih mulai dapat mendesak lawannya. Dia baru
berusia empat puluh dua tahun sedangkan Ki Bragolo sudah berusia hampir tujuh puluh tahun. Usia tua
membuat Ki Bragolo kalah daya tahan dan panjang napasnya, apalagi dia harus mainkan sabuk tembaga
yang beratnya belasan kati, sedangkan lawannya yang melindungi kedua tangan dengan sarung tangan itu
bertangan kosong saja. Dan Memang, tingkat kepandaian Gajah Putih masih sedikit lebih unggul
dibandingkan Ki Bragolo. Hal ini diketahui dengan jelas oleh Joko Handoko sehingga pemuda ini
menjadi semakin mendongkol saja. Dia juga melihat betapa Wulandari dapat menduga akan kedaan
ayahnya sehingga gadis itu hampir menangis saking gelisah, marah, dan malunya. Hancurlah nama Sabuk
Tembogo sekali ini, piker Joko Handoko. Seharusnya dia merasa senang dan puas, karena bukankah Ki
Bragolo itu pembunuh ayah kandungnya? Biarpun dia tidak mendendam , setidaknya dia seharusnya puas
dan senang melihat Sabuk Tembogo dihancurkan orang lain. Akan tetapi sungguh aneh. Dia sama sekali
tidak merasa puas atau senang. Sebaliknya, dia malah merasa mendongkol dan tidak senang kepada
Gajah Putih yang amat sombong itu. Dan diapun, seperti Ki Bragolo, mulai menaruh perasaan curiga
terhadap kedua orang itu. Jelaslah bahwa sebagai pembantu-pembantu baru dari Tumapel, mereka
berdua itu terlalu menonjolkan niat mereka untuk membikin malu dan menghina Sabuk Tembogo,
seolah-olah mereka berdua menaruh dendam atau membenci perkumpulan itu.
Saat yang dinanti-nanti dan dikhawatirkan Joko Handoko pun tiba. Ketika dengan tenaga yang tersisa
tidak berapa banyak lagi itu Ki Bragolo dengan nekat menyerang dengan sabetan sabuk tembaga di
tangannya, mengarah kepada lawan, Gajah Putih menyambutnya dengan kedua tangan sambil
menggerakkan tenaga.
"Dess......!" Tubuh Ki Bragolo terhuyung dan sabuk tembaga hampir terlepas dari tangannya. Pada saat
itu, Gajah Putih sudah mengirim tendangan yang sudah diperhitungkan sebelumnya.
"Bukk....!" Tendangan itu mengenai paha Ki Bragolo yang mencoba mengelak. Dan tubuh kakek itupun
terjengkang dan terbanting keras! Ki Bragolo bangkit berdiri menahan sakit. Dengan muka merah dia lalu
berkata, "Aku yang sudah tua dan tiada guna ini mengaku kalah."
"Ha-ha-ha!" Gajah Putih tertawa bergelak dan berdiri tegak, bertolak pinggang dan sengaja dia
memandang ke arah Wulandari yang menundukkan muka dengan sedih.
"Masih adakah jagoan Sabuk Tembogo yang mau mencoba untuk maju? Ataukah hanya sekian saja
kehebatan Sabuk Tembogo? Dengan kekuatan seperti itu saja berani untuk mengusik seorang senopati
Tumapel!"
Ranunilo mengerutkan alisnya. Gajah Putih sudah keterlaluan bicaranya, pikir perwira ini. Bukankah dia
sudah setuju dan menanti permintaan Dewi Pusporini dan meraka semua dijamu sebagai tamu? Mengadu
ilmu kepandaian antara orang-orang gagah adalah wajar, akan tetapi sikap Gajah Putih ini sungguh
keterlaluan, seolah-olah sengaja mencari perkara!
Tiba-tiba terdengar suara yan tenang namun lantang. "Aku masih ada, sebagai wakil Sabuk Tembogo
untuk menerima pelajaran!"
Semua orang memandang dan Wulandari hampir saja berteriak kaget. Kiranya yang maju adalah Joko
Handoko! Ia tahu bahwa pemuda itu tidak pandai apa-apa, seorang yang lemah walaupun pemberani
dan dia menduga bahwa majunya Joko Handoko karena penasaran melihat sikap sombong Gajah Putih.
Pemuda itu hanya maju bermodalkan keberanian belaka. Juga Ki Bragolo terkejut dan khawatir. Akan
tetapi ayah dan anak ini tentu saja tidak dapat melarang karena mereka berada di tempat yang dihadiri
oleh banyak tamu. Maka mereka hanya memandang dengan alis berkerut dan sinar mata membayangkan
kekhawatiran.
Gajah Putih juga memandang dan melihat majunya seorang pemuda yang bersikap tenang, berpakaian
sederhana namun memiliki sinar mata mencorong penuh keberanian, diapun bersikap hati-hati. "Siapakah
andika? Apakah seorang murid Sabuk Tembogo?" tanyanya.
Joko Handoko menggeleng kepala. "Bukan, aku hanya seorang tamu biasa saja yang tidak rela melihat
tuan rumah diejek dan dihina. Karena itu, aku akan maju menghadapimu, Gajah Putih."
"Kakang Handoko, jangan, engkau tidak biasa berkelahi, bagaimana mau melawan dia?" Wulandari
berteriak dan gadis ini sudah lari memasuki arena itu, menghadapi Gajah Putih. "Gajah Putih, engkau
sudah berhasil mengalahkan kami, sudahlah. Dia ini sahabat dan tamu kami, sama sekali tidak biasa
berkelahi dan tidak memiliki ilmu kepandaian silat, maka mundurlah dan pertandingan dinyatakan
selesai!"
"Benar!" kata Ki Bragolo. "Dan biarkan aku atas nama Sabuk Tembogo mengaku kalah terhadap
kepandaian kalian berdua." Kakek inipun tidak menghendaki tamunya celaka.
"Ha-ha-ha-ha!" Gajah Putih tertawa bergelak dengan lagak sombong. "Pemuda yang lemah ini dengan
berani hendak melawan aku, berarti dia hendak membela Sabuk Tembogo dengan nekat. Aihh, agaknya
dibalik kenekatanmu ini ada pamrihnya!" dia melirik ke arah Wulandari dan melanjutkan. "Dan agaknya
aku tahu apa pamrihnya, heh-heh, tentu karena melihat puteri Sabuk Tembogo yang cantik manis!"
"Tutup mulutmu yang busuk!" Wulandari membentak marah.
Joko Handoko lalu berkata kapada Wulandari, "Wulan, mundurlah. Paman Bragolo, maafkan, kalau
saya tidak boleh mewakili Sabuk Tembogo, saya akan maju atas nama sendiri. Sebagai seorang tamu,
tentu saya pun bebas untuk mengadu ilmu dengan mereka, bukan?"
Wulandari dan ayahnya saling pandang. Ki Bragolo kini berpikiran lain. Dia lalu menarik tangan anaknya
dan diajaknya mundur. Dia menduga bahwa mungkin sekali tamu mudanya yang nampak lemah lembut ini
menyimpan rahasia. Kalau tidak demikian, tentu tidak akan segila itu menantang Gajah Putih yang sudah
mengalahkan dia.
Joko Handoko kini menghadapi Gajah Putih. "Orang sombong engkau mendengar sendiri. Aku kini
menantangmu untuk mengadu ilmu, bukan sebagai wakil Sabuk Tembogo, melainkan atas namaku
sendiri."
"Babo-babo, engkau agaknya bosan hidup!" Gajah Putih kini memandang marah. "Siapakah engkau,
orang muda, dan dari aliran mana?"
"Namaku Joko Handoko dan aku bukan dari aliran manapun."
"Mundurlah, kakang Putih, biar aku yang menghajarnya. Engkau sudah dua kali melawan musuh."
Tiba-tiba Gajah Ireng maju dan melihat ini, Gajah Putih tertawa mundur. Dia pun merasa agak rikuh
kalau harus melawan seorang pemuda lemah yang tidak mempunyai aliran, maka biarlah adiknya yang
akan menghajar pemuda lancang itu.
"Heh, orang muda lancing. Tahukah engkau bahwa mengadu ilmu bukan halmain-main? Besar sekali
kemungkinannya akan keluar dengan tubuh babak budas, lecet-lecet bahkan setengah mati!" kata Gajah
Ireng.
"Gajah Ireng, kemungkinan itu berlaku pula atas dirimu," jawab Joko Handoko dengan sikap masih
tenang. "Engkau manusia sombong, besar kepala, kejam, dan kurang ajar. Sama sekali bukan seperti
seekor gajah yang biasanya tenang dan sabar. Engkau lebih pantas memakai nama tikus, tikus ireng
karena mukamu hitam, dan watakmu seperti tikus, licik dan mengandalkan kecepatan."
Semua orang yang mendengarkan ucapan Joko Handoko ini terbelalak. Alangkah beraninya pemuda ini.
Gajah Ireng jelas amat sakti, telah mengalahkan dua orang murid kepala dari Sabuk Tembogo dan kini
pemuda itu berani memaki dan mengejeknya seperti itu. Ada pula yang Manahan ketawa, yaitu para
murid Sabuk Tembogo. Bagaimanapun juga,mereka merasa penasaran dan membenci dua orang Gajah
itu, akan tetapi tidak berdaya. Kalau sekarang ada orang berani menghina dan mempermainkan dua
orang musuh itu, tentu saja hati mereka merasa geli dan senang, walaupun mereka tahu bahwa pemuda
tampan itu sungguh mencari penyakit saja.
Dan Gajah Ireng memang menjadi marah sekali. Mukanya yang hitam menjadi semakin hitam karena
darahnya naik ke muka, matanya melotot dan mulutnya cemberut. Dia memang pendiam, tidak pandai
bicara seperti kakaknya. Saking marahnya, dia semakin tak pandai bicara.
"Bersiaplah untuk mampus!" bentaknya dan dia pun sudah menyerang dengan kedua tangan dikepal,
menghantam dari kanan kiri kea rah muka dan dada Joko Handoko. Serangan itu hebat sekali, cepat dan
mengandung tenaga kuat. Kedua tangannya bergerak dengan kecepatan yang sukar diikuti pandang mata
sehingga para anggota Sabuk Tembogo menjadi silau dan gelisah. Juga Wulandari menonton dengan
kedua tangan saling mencengkeram. Hatinya gelisah sekali. Diam-diam Wulandari teloah jatuh cinta pada
Joko Handoko, maka melihat betapa pria yang dikasihaninya terancam, ia merasa khawatir bukan main.
Joko Handoko mengeluarkan seruan kaget dan mengelak dengan kaku sehingga dua pukulan itu hampir
menyerempet sasaran. Dia memang sengaja melakukan hal ini, padahal tentu saja dia sudah dapat
mengikuti gerakan lawan dengan baik sehingga mudah baginya untuk menghindarkan diri. Hal ini tentu
saja membuat semua orang semakin khawatir dan mereka menahan napas. Sebaliknya, Gajah Ireng
menjadi gembira sekali semangatnya bertambah dan sambil menyeringai lebar dia pun mendesak lagi
dengan serangan-serangan yang lebih cepat. Ingin dia merobohkan pemuda ini secepat mungkin, dengan
pukulan keras agar pemuda lancing ini tahu rasa. Akan tetapi, kini dialah yang harus menahan seruan
heran dan aneh. Pemuda itu terhuyung ke sana sini, mengelak dengan kaku, akan tetapi semua
serangannya luput. Sampai sepuluh jurus dia terus menerus melakukan serangan, makin lama semakin
cepat, dean semua serangannya tetap tak dapat menyentuh lawan.
Kini semua orang mengikuti perkelahian ini dengan kedua mata terbelalak dan mulut ternganga, hampir
tak pernah berkedip karena tidak ingin melepaskan pandang dari jalannya perkelahian yang luar biasa itu.
Wulandari juga terbelalak seperti ayahnya, dan gadis ini hampir tidak dapat mempercayai pandang
matanya sendiri. Biarpun gerakannya kacau sampai terhuyung-huyung, dan biarpun pukulan-pukulan
Gajah Ireng itu kadang-kadang nyaris mengenai sasaran, namun begitu jauh, semua pukulan Gajah Ireng
itu tidak ada yang mengenai tubuh Joko Handoko.
"Heiiii, Tikus Ireng, kenapa kau tidak memukul sungguh-sungguh? Jangan main-main, pukullah dengan
cepat,masa dari tadi luput melulu!" Joko Handoko berteriak dan hampir saja lambungnya menjadi
sasaran sebuah tendangan lawan. Dimiringkan tubuh hampir terjengkang, dan tidak sengaja tangannya
bergerak ke bawah.
"Tukk!!" Dua buah jari tangannya yang mengandung tenaga sakti amat kuat itu telah mengetuk tulang
kering di kaki kiri yang menendang.
"Ouwww........!" Gajah Ireng tidak dapat menahan teriakannya karena tulang kering yang diketuk
rasanya nyeri bukan main, kiut miut rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum yang menembus ke jantungnya.
Dia mengangkat kaki kiri, memeganginya dan berjingkrak-jingkrak dengan kaki kanan, berputar-putaran.
Tulang kering pada kaki itu tidak patah, akan tetapi nyerinya bukan alang kepalang.
Kalau semua orang tadi melongo menahan napas dan tidak berkedip, kini meledaklah suara ketawa dan
sorak sorai para anak buah Sabuk Tembogo melihat betapa Gajah Ireng jingkrak-jingkrak memegangi
kaki kiri sambil berputaran.
"Heii, tikus Ireng, kau kenapa sih? Mau adu ilmu ataukah menari? Kalau mau menari pun yang baik
jangan berjingkrak seperti monyet kepedasen begitu!" Joko Handoko sengaja mengejek dan semua
orang tertawa geli. Mereka para murid Sabuk Tembogo, tidak melihat bagaimana Gajah Ireng terketuk
tulang keringnya karena gerakan Gajah Ireng tadi terlampau cepat. Akan tetapi Wulandari dan ayahnya
melihat dan kini meraka saling bertukar pandang. Mereka masih keheranan karena sebegitu jauhnya Joko
Handoko sama sekali belum memperlihatkan bahwa dia pandai bersilat. Gerakan –gerakannya masih
kaku dan selalu mengelak dengan kacau, maka bagaimanan mungkin kini tahu-tahu Gajah Ireng terpukul
kakinya sampai kesakitan seperti itu? Kalau tidak melihat sendiri, tentu mereka akan menduga bahwa
Gajah Ireng hanya pura-pura saja untuk mempermainkan Joko Handoko.
Gajah Ireng menjadi marah bukan main. Matanya merah dan mulutnya berbusa. Dia merasa penasaran
sekali dan masih belum sadar bahwa dia berhadapan dengan lawan yang tingkat kepandaiannya jauh
lebih tinggi darinya. Dia mengira pukulan pada tulang kering kakinya tadi hanya kebetulan saja.
Betapapun juga, karena rasanya nyeri bukan main, kemarahannya memuncak dan dia sudah melolos kain
ikat kepalanya yang menjadi senjata istimewa baginya dan dia tadi telah mempermainkan dua murid
kepala dari Ki Bragolo dengan senjatanya itu. Melihat ini, kembali Wulandari merasa gelisah sekali dan
kedua kakinya sampai menggigil ketika ia membayangkan betapa ampuhnya senjata ini dan betapa Joko
Handoko kini benar-benar terancam bahaya maut. Akan tetapi, ia tidak dapat berbuat apapun kecuali
nonton dengan jantung berdebar tegang.
"Hei, tikus!" Joko Handoko mengejek lagi. "Kau berani membuka kepalamu tanpa ikat kepala?Awas,
bisa masuk angin nanti, dan lebih mudah bagiku untuk mengetuk kepalamu sampai benjol-benjol!"
"Keparat, mampuslah kau! Gajah Ireng kini hampir gila saking marahnya dan dia pun sudah meloncat
dengan kecepatan terbang sambil mengayun kain ikat kepalanya. Terdengar suara ledakan-ledakan kecil
ketika kain itu melecut-lecut seperti ujung cambuk. Seperti tadi, Joko Handoko terhuyung-huyung dan
selalu mengelak, nampaknya terhuyung dan kacau namun lecutan kain itu tak pernah menyentuh
tubuhnya. Dan betapapun cepatnya Gajah Ireng bergerak, tetap saja kainnya tidak pernah dapat
menyentuh tubuhnya. Dan betapapun cepatnya Gajah Ireng bergerak, tetap saja kainnya tidak pernah
dapat menyentuh lawan. Tentu saja dia menjadi semakin penasaran.
Para penonton kini bersorak-sorak, bukan hanya para anggota Sabuk Tembogo, bahkan ada perajurit
pasukan Tumapel yang bertepuk tangan memuji Joko Handoko. Sukar diterima akal mereka betapa
pemuda yang nampaknya tidak pandai silat itu dapat menghindarkan diri dari serangan-serangan yang
demikian cepat dan gencarnya. Gerakan Gajah Ireng amat cepat, namun ternyata Joko Handoko lebih
cepat lagi walaupun nampaknya kacau dan terhuyung-huyung.
"Kakang Handoko, balaslah! Balaslah!" tiba-tiba Wulandari berteriak, suaranya nyaring melengking
mengatasi sorak sorai para penonton yang merasa lucu, juga tegang dan gembira menyaksikan jalannya
perkelahian yang aneh itu.
"Hem, Tikus Ireng, kau dengar itu? Aku harus membalas. Awas kepalamu yang tidak bertutup kain,
kubikin benjol-benjol!"
Tiba-tiba saja semua orang terkejut karena tubuh Joko Handoko seperti lenyap, dan tahu-tahu
terdengar suara Gajah Ireng mengaduh-aduh. Segera nampak tubuhnya terpelanting dan kini orang-orang
melihat lagi Joko Handoko berdiri tegak memandang kepada bekas lawannya yang merangkak bangun,
kedua tangan meraba-raba kepalanya dan benar-benar di kepala itu nampak benjolan-benjolan sebesar
telur-telur ayam. Akibat ketukan-ketukan jari tangan Joko Handoko. Dia tidak memberi pukulan maut,
namun cukup mambuat kepala itu benjol-benjol dan terasa nyeri. Dengan mulut masih mengaduh-aduh,
Gajah Ireng lalu terhuyung menghampiri kakaknya dan menjatuhkan diri di atas kursi.
Gajah Putih kini meloncat dan terdengar dia mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau
marah. Matanya melotot mamandang ke arah wajah Joko Handoko dan dia pun membentak marah,
"Joko Handoko! Tak perlu engkau berpura-pura seperti orang bodoh! Katakan siapa gurumu dan dari
aliran mana agar aku tidak salah tangan membunuh orang yang tidak punya nama!"
"Sudah kukatakan bahwa namaku Joko Handoko, dan engkau bernama Celeng Putih....."
"Gajah Putih!" bentak raksasa bermuka putih itu marah dan terdengar banyak orang tertawa riuh rendah.
"Siapa bilang Gajah Putih? Coba tanyakan saudara-saudara itu, bukankah engkau lebih patut bernama
Celeng Putih?"
"Keparat, kau hendak menyembunyikan aliranmu, pengecut!" Gajah Putih berteriak dan dia sudah
mengenakan sepasang sarung tangannya yang yang ampuh.
"Engkaulah yang menyembunyikan keadaanmu yang sebenarnya, dan engkaulah yang pengecut maka
kau banyak cerewet dan tidak lekas turun tangan menyerangku."

10Bersambung KEN AROK - EMPU GANDRING-18.
Sejarah Kisah Peperangan Pati vs Mataram

Sejarah Kisah Peperangan Pati vs Mataram

01:00 0
Sejarah Kisah Peperangan Pati vs Mataram
( Kisah ini terdapat beberapa versi, jadi harap maklum bila terdapat perbedaan dengan versi lain... wallahualam bishshawab )

Tingkat kebenaran sejarah tradisional nusantara versi babad memang banyak dipertanyakan namun karena minimnya sumber valid yang tersisa pada periode itu tetap saja ia “dielu-elukan”, misal tak kurang dari seorang H. J. De Graaf.
Sejarah tersebut pada umumnya didominasi oleh catatan penguasa (pemenang) tentang pergolakan di seputaran 3-A, yakni tahta, harta dan wanita ---bandingkan dengan 3-G (gold, glory and gospel)--- yang tidak jarang justru terjadi di antara kalangan dekat sendiri sehingga berbuah perang saudara dan berdampak pada munculnya catatan tulis ataupun lisan semacam legenda atau serat tandingan atau katakanlah “dendam budaya” yang tidak jarang dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial untuk mempersedap praktek politik devide et impera-nya dan nuansanya masih terasa hingga sekarang. Dan, fenomena itu terjadi juga pada khasanah sejarah Pati (baca:Pathi) Jawa Tengah Indonesia.
Dalam versi babad, sejarah Pati beriring-erat dengan Mataram Islam (abad XVII) bahkan lahir dari rahim yang sama ---ada yang mengatakan beririsan pula dengan masa Majapahit (1293 hingga 1500 M)---, karenanya Pati-Mataram Islam (Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningkrat, sekarang) menorehkan catatan persaudaraan yang hangat, kerjasama politik-ekonomi-militer yang bermakna dan ironisnya diakhiri dengan perang saudara yang memilukan.
Sejarah kekuasaan Pati dimulai dari ketika Kerajaan Pajang yang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya sebagai kelanjutan dari Kerajaan Demak Bintara menghadapi tuntutan hak Harya Penangsang (Jipang-Bojonegoro) yang merasa paling legal sebagai pewaris tahta eks Kerajaan Demak itu, meski dalam prakteknya diskursus hak ini debateble. Sultan Hadi Widjoyo bermaksud mempertahankannya dan terjadilah perang. Untuk memadamkan “pemberontakan” ini Sultan Hadiwijaya medeklarasikan sayembara bahwa siapa yang bisa membunuh Harya Penangsang akan diberi hadiah.

Dan, majulah para tamtama Pajang yang berasal dari Selo Grobogan, yakni Kyai Penjawi dan Kyai Pemanahan serta Ki Juru Martani sebagai pengatur strategi dengan menggunakan seorang bocah Danang Sutawijaya sebagai eksekutornya. Atas keberhasilan itu mereka berdua diberi hadiah alas (hutan) mentaok (mataram) dan bumi Pati. Pemanahan memilih alas mentaok plus harta kekayaan dari nadzar Ratu Kalinyamat karena terbalasnya kematian suaminya oleh Harya Penangsang dan direalisir menjadi Kadipaten Mataram di bawah Kerajaan Pajang.
Sementara itu, Penjawi mendapatkan bumi Pati yang saat itu sudah merupakan kota dengan jumlah penduduk 10.000 jiwa, menjadi Kadipaten Pati juga di bawah Kerajaan Pajang. Sebagai catatan: oleh karena dari rahim kelahiran yang sama inilah dalam perkembangan hubungan Pati-Mataram ---meskipun kenyataannya Mataram pada akhirnya justru mencaplok Pajang sebagai Bapak kandungnya--- pihak Pati selalu berpendirian bahwa antara Mataram dan Pati secara politik sederajad yang notabene pendirian ini dipertahankannya hingga titik darah penghabisan.
Awalnya, Kadipaten Pati-Mataram di bawah Kerajaan Pajang hidup rukun karena setara dan bersaudara (adik-kakak). Namun setelah Mataram yang bercorak politik luar negeri ekspansionis dan dalam perkembangannya mampu melumat Kerajaan Pajang yang atasannya itu rupan-rupanya mulai memandang sebelah mata terhadap Pati. Logikanya barangkali adalah karena Pati merupakan bawahan Pajang dan semenjak Pajang takluk oleh Mataram, maka otomatis Pati ialah bawahan Mataram.
Penguasa Mataram setelah Panembahan Senopati wafat pada tahun 1601 M, di ganti oleh putranya Mas Jolang atau Sultan Anyakrawati kelak terkenal sebutan Sultan Seda Krapyak. Kemudian setelah Sultan Anyakrawati meninggal di ganti oleh putranya yaitu Raden Mas Anyokrokusuma. Cucu Panembahan Senopati ini menjadi Raja Mataram sangat terkenal tahun 1613 – 1645 M.
Penguasa di Kadipaten pati jiga mengalami perubahan. Setelah Adipati Pragola I wafat karena usia tua, kekuasaan diserahkan putranya yaitu Adipati Pragola II. Cucu Ki Ageng Penjawi ini memerintah Kadipaten Pati dengan arif bijaksana sehingga rakyatnya merasa aman sejahtera.
Adipati Pragola II (wasis Djoyo Kusumo) mempunyai istri bernama Raden Ajeng Tulak atau Ratu Mas Sekar yg merupakan Adik Sultan Agung.
Adipati Pragola II adalah adik ipar Sultan Agung Anyokrokusuma yang sama-sama merupakan keturunan Prabu Brawijaya Raja Majapahit.

Adipati Pragola II dalam nenjalankan roda pemerintahan di Kadipaten Pati mendapat dukungan penuh dari enam tumenggung. Ke enam tumenggung tersebut yaitu, Tumenggung Mangunjaya, Adipati Kenduruan, Tumenggung Ramananggala, Tumenggung Tohpati, Adipati Sawunggaling, dan Tumenggung Sindurejo. Mereka telah bersumpah setia untuk membela buni Pati hingga titik darah penghabisan.
Awal perselisihan dan adudomba
Ketika Mataram sedang memusatkan perhatian menyusun kekuatan untuk menggempur daerah Surabaya, Adipati Pragola II berselisih dengan pembesar di Jepara. Perselisihan tersebut hingga memuncak dan sang Adipati Pragola mengirim ke enam Tumenggung ke Jepara untuk menyelesaikannya. Keesokan harinya dengan seribu prajurit tempat kediaman penguasa Jepara di porakporandakan hingga rata dengan tanah.
Patih Jepara Ki Laksamana marah atas peristiwa tersebut dan pergi melapor ke penguasa Mataram. Ki Laksamana sampai di Mataram di terima oleh Tumenggung Endranata. Patih Ki Laksana melapor bahwa Adipati Pragola Pati akan memberontak Mataram.
Pada pisowahan agung di kerajaan Mataram, yg bersamaan dengan hari raya, dihadiri oleh para punggawa kerajaan dan para pimpinan antara lain dari Bagelan, Grobogan, Kudus, Kalinyamat, Demak, dan Lasem.
Satu-satunya yg tidak hadir adalah Adipati Pragola II dari Kadipaten Pati. Ketidak hadiran Adipati Pragola II dalam pisowahan karena alasan yg sama seperti Adipati Pragola I ayahnya,yang beranggapan bahwa Pati dan Mataram itu sedrajat.
Mengetahui adik iparnya tidak hadir Sultan Agung marah besar dan menanyakan pada raden Purbaya,belum sempat menjawab sudah di dahului oleh Tumenggung Endranata, bahwa Adipati Pragola II akan memberontak Mataram, bahkan Adipati Pragola II sudah menginventasisasi berbagai senjata untuk menggulingkan Raja Mataram.
Laporan ini membuat Raja Mataram hati-hati sehingga ia mengirimkan telik sandi ke Pati, untuk mengetahui sepak terjang Adipati Joyo Kusumo, laporan yang diterima sesuai dengan apa yang pernah dilaporkan istri Kyai Demang bahwa Pati sedang menyusun kekuatan. Raja Mataram segera mengirimkan pasukan ke Pati. Pasukan ini sebenarnya akan dipersiapkan untuk melawan Surabaya. konsentrasi Mataram sedang disibukan dengan penumpasan Surabaya.. Tapi dialihkan menuju ke wilayah Pati guna mencegah terjadinya pemberontakan di wilayah tersebut.
Perang saudara ini bisa dicegah dengan mengadakan perkawinan politik antara anak Sultan Agung dengan anak Joyo Kusumo, dan ini sangat efektif untuk meredam pemberontakan di Wilayah Pati. Pasukan Mataram kemudian dialihkan kembali ke penyerangan Surabaya Disamping itu juga untuk mencegah terjadinya pemberontakan wilayah, Pati salah satu kekuatan yang menjadi perhitungan politik Sultan Agung, sehingga harus dipertahankan supaya tetap mendukung Mataram.
Adi pati Joyo Kusumo gagah berani tampil sebagai pemimpin wilayah Pantai, mereka mengumpulkan Penguasa Utara di Juana. Bahkan ketika pengirimin pasukan untuk menyerang Surabaya ia menjadi panglimanya menggantikan Adipati Sujanapura yang gugur dalam pertempuran. Adipati Joyo Kusumo juga ikut dalam menumpas Pemberontakan Tuban. ‎bersama Lasem bahu membahu untuk menundukan kekuatan dan strategi perang Tuban dengan besar-besaran,. sedangkan palimanya Adipati Martoloyo lebih senang menunggu musuh daripada menyerang dahuluan. Joyo Kusumo juga pernah menjadi ‎panglima yang gagah berani. Ia bahu membahu dengan pasukan Tumenggung Alap-alap
Setelah penyerangan Surabaya selesai, penarikan pasukan kembali ke wilayahnya masing-masing. Temenggung Endranata mulai kasak-kusuk di dalam Keraton Mataram, ia menterjemahkan mimpi Sultan Agung, tentang kedatangan seorang berbaju putih yang mengharuskan menyingkirkan empat orang terkemuka yang dapat menjadi duri dalam daging di Mataram. Temenggung Endratara membisikan siapa saja yang menjadi penghalang Sultan Agung.
Adipati endranata melemparkan isyu bahwa Pati akan mengadakan penyerangan terhadap Mataram.. Pargola memperluas wilayahnya dengan mengangkat enam Bupati MangunJaya, Kanduruwan,Raja Menggala, Toh Pati, Sawunggaling dan Sindurejo. Mereka ia bersumpah sampai titik darah penghabisan
Kisah awal peperangan
Raja Sultan Agung memanggil beberapa adipati menghadap ke Mataram, Raja menanyakan kenapa Adipati Pragola tidak menghadap. Temenggung Endranata menerangkan bahwa Pati tengah menyusun kekuatan dengan penguasa-penguasa pantai utara, kecuali Demak yang masih setia kepada Mataram, hal ini membuat murka Sultan Agung.
Akhirnya Sultan Agung memutuskan Pati di serbu. Pati diserbu dari tiga penjuru, yaitu arah timur, selatan dan barat. Ratusan ribu prajurit Mataram dikerahkan untuk menghancurkan Pati. Kadipaten Pati memang dianggap oleh Sultan Agung yg paling kuat karena satu-satunya wilayah yg belum terkalahkan.
Persiapan dilakukan mulai dari penunjukan para pimpinan, persenjataan, dan perbekalan selama perang. Sebagai Senapati Mataram untuk menyerang Pati ditunjuk Tumenggung Alap-alap.
Raja mengatur pasukan sebelah kanan yang dipimpin Adipati Martoloyo membawai pasukan Mancanegara, pasukan ini bermukim di Pekuwon Juwana bagian timur.
Pasukan Mataram dari arah selatan dipimpin oleh Pangeran Madura yg membawahi prajurit Kedu, Begalan dan Pamijen, pasukan ini mendirikan tenda-tenda perkemahan di kaki Gunung Kendeng sekitar daerah Cengkalsewu sebelah selatan Pati.
Pasukan dari arah barat dipimpin oleh Pangeran Sumedang (Rangga Gempol) yang membawahi pasukan khusus berkuda,pasukan ini mendirikan barak di sekitar wilayah Matraman Margorejo sebelah barat Pati.
Terakhir keluarga Raja yang memimpin pasukan-pasukan Pamejagan mataram. Pengawal pribadi terdiri dari 2.000 prajurit semua kapendak yang ada diantara mereka harus mengikuti raja.
Pasukan mengepung melewati Pajang dan Taji sehingga banyak penduduk berlarian menuju ke Kota Pati. Kadipaten Pati dikepung prajurit dari segala penjuru, pasukan telik sandi Pati melaporkan bahwa ada gerakan dari pasukan menuju Pati yang dipimpin langsung oleh Sultan Agung.
Adipati Pati mengumpulkan rakyatnya yang masih setia untuk berkumpul menyelenggarakan pesta. Untuk pengikutnya yang setia sebab esok akan mengadakan pertempuran habis-habisan.
Jalannya Peperangan
Adipati Pragola II mengetahui wilayah Pati sudah di kepung rapat oleh pasukan musuh.,ia tetap tegar dan tidak akan mundur selangkah pun. Apalagi seluruh rakyat Pati mendukung untuk mempertahankan kedaulatan rakyat Pati hingga titik darah penghabisan. Semua prajurit Kadipaten Pati sudah siap siaga menempati pos-pos pertahanan yg sudah ditentukan. Para punggawa Kadipaten Pati juga tidak tinggal diam, mereka memimpin laskar andalan yg terdiri dari prajurit-prajurit terlatih.
Pasukan Pati mengenakan pakaian yang sama hitam-hitam, sedangkan rakyat berpakaian seadanya. Mereka berkumpul menunggu Adipati Pragola yang sedang siap-siap, ia mandi, mengenakan baju yang sangat bagus, melengkapi diri dengan pakaian-pakain pusaka (Kere Wojo), dan jimat pusaka.
Adipati Pati bersama pasukannya menuju sector kanan, Serangan Pati ditujukan pada sayap kanan pasukan Mataram yang berada dibawah pimpinan Matralaya, dalam pasukan itu juga ada Adipati Endranata berada. Pihak Mataram mengalami kekalahan besar, dihajar dengan pasukanPati dengan kekuatan penuh, sehingga pasukan Mataram ditarik mundur sampai daerah perbatasan. Sisa-sisa Pasukan Mataram kocar-kacir menyelamatkan diri, misalnya Raja Niti, Mangun Oneng dan Kertajaya. Mataram lari ke Kunduruan, Pasukan Mataram meminta pertimbangan dengan Eyang Kunduruan agar membantu pasukan Mataram, namun Eyang tidak mau sehingga terjadi penyerbuan di kenduruan. Eyang Kunduruan telah siap dengan pasukan penuh ditambah Pasukan dari Adipati Pati. Mereka bahu-membahu memukul Pasukan Mataram, Pasukan Eyang Kunduruan mengusir Pasukan Mataram sampai di luar desa.
Melihat kemenangan di tangan Adipati Pati Pragola, dalam pertempuran ini Temenggung Endranata melarikan diri dan membelot ke Pasukan Pati. Juga pusat dan sayap kiri pasukan Mataram menderita kerugian besar, Pasukan Sawung Galing berhasil memporakporandakan pasukan inti Mataram, sehingga hanya keluarga Raja dengan 2000 pengawal yang masih bertahan.
Adipati Pragola mengobrak-abrik strategi Kalajengking, dia menyerang Pasukan tengah menuju ke arah Susuhunan. Pasukan Temenggung Singanaru dihajar habis-habisan sehingga seluruh anak buahnya tewas, Temenggung Singanaru berlari menyelamatkan diri, ia kehilangan seluruh anak buahnya, sehingga menimbulkan keadaan darurat.
Pasukan Adipati Pati terlena, setelah memenangkan pertarungan, sehingga dia menarik pasukan Pati kembali ke markasnya, pengejaran terhadap Pasukan Mataram hanya sampai di tapal batas saja. Mereka tidak mengejar lagi karena menduga sisa Pasukan Mataram kembali ke Mataram.
Raja Mataram memerintahkan mundur semua pasukan, untuk menyusun kembali Pasukan Mataram yang tersisa. Banyak Pasukan Mataram yang kocar-kacir kehilangan induk semangnya. Sultan Mataram memerintahkan Pasukan Mataram yang ada di tiga sector, sayap kanan, kiri dan tengah untuk tidak melakukan serangan, ditahan dulu pasukannya menunggu komando berikutnya.
Raja Mataram di dalam hutan, mengumpulkan para pemimpin pasukan untuk mengkaji ulang strategi perang, dan untuk menemukan stategi baru untuk menundukan Pati. kemudian memukul gong pusaka Kiai Bicak, tetapi tidak berbunyi. Ia kehilangan semangat dan berdoa kepada Allah, setelah itu gong berbunyi lagi dengan suara nyaring, ini menggobarkan semangat para prajurit Mataram, yang tadinya sudah mundur. Sekarang mereka maju lagi untuk bertempur.
Sisa Pasukan Mataram yang bertahan ditapal batas, dan pasukan yang masih di hutan Jepara, Purwodadi, Kudus bergabung kembali dengan Pasukan Sultan Mataram, setelah telik sandi menginstruksikan untuk segera merapat dan bertemu dengan pasukan Sultan Mataram, sambil menunggu bantuan dari Kerajaan Mataram yang akan menyerbu Surabaya, untuk dialihkan dahulu membantu Pasukan Mataram yang mau menyerang Pati.
Meskipun demikian, Adipati Pragola masih yakin akan kemenangannya. Ia mengadakan pembunuhan besar-besaran pada pihak Mataram. Raja Mataram segera mengirim pasukan tambahan danmengarahkan pengawal dan keluarganya, yang dipimpin oleh Pangeran Purbaya dan keluarganya. Mereka merapat bergabung dengan sisa pasukan Mataram dengan menggunakan strategi kombinasi, mengecoh pertahanan Pati. Pasukan Mataram bergerak melawan Adipati Kunduruan di daerah Selatan, Prawirataruna, Temenggung Toh Pati dan Tumenggung Mangunjaya bertahan di arah timur, Tumenggung Sindurejo dan Raja Menggala bertahan di sector Barat melawan gempuran Pasukan Tumenggung Alap-alap. sedangkan Pasukan Tumenggung Sawunggaling kocar-kacir melawan pasukan inti, ia tertangkap Pasukan Mataram dan di ekskusi ditempat.
Meskipun demikian, Adipati Pragola dengan semangat menyala-nyala maju ke depan, tetapi Raja Mataram menyerahkan tombak Kiyai Baru kepada Lurah Kapedak, Naya Derma. Tepat ketika raja sekali lagi memukul gongnya Naya Derma menusuk Pragola sehingga mengakibatkan luka ringan sebelah kiri. Pargola jatuh dari kudanya kemudian ia bangkit, dan memacu kudanya keluar dari kepungan Pasukan Mataram. Dia berlari untuk merawat lukanya, ditengah jalan kudanya berhenti dan Sang Adipati Wafat di Sendang Sani pada hari Jum’at Wage tanggal 4 Oktober 1627 M. . Mendengar Adipati Pragola wafat. Temenggung Endranata dan pasukannya membelot, menganggap ini suatu alasan untuk kembali ke Pasukan Mataram. Semua pasukan Pati dimusnahkan, juga mereka yang ditangkap hidup lebih suka memilih mati.
Raja memerintahkan agar jenazah Pragola ditegakan dan jimat-jimatnya diambil. Melihat percikan darah pada Kiai Baru, raja mengerti bahwa adiknya terbunuh dengan senjata itu.
Sementera itu Tumenggung Mangunjaya melarikan diri ke dalam istana dan menyampaikan berita kekalahan kepada para wanita disana juga kepada empat menteri jaga : Sura Prameya, Rangga Jaladra, Sura Antaka dan Pengalasan. Mereka bertempur terus sampai mati dengan 200 prajurit yang masih ada. Ini dilakukan dialun-alun, hanya Mangunjaya yang membawa berita kekalahan kepada para wanita, mereka cepat berlari meninggalkan Kadipaten Pati menuju ke Gunung Prawata. Melalui pintu belakang bersama putra mahkota yang masih muda.
Temenggung Alap-alap dengan beberapa pasukannya mengobrak-abrik Pasukan Pati, mereka memporakporandakan istana dan menguras habis istana bersama dengan pengikut-pengikutnya, kekayaannya dirampas dan rumahnya dibakar diratakan dengan tanah. ia memerintahkan untuk membawa para wanita ke Mataram.
Sultan Mataram bertemu dengan adiknya yang juga istri Pragola, ia bertanya kenapa Pati harus memberontak terhadap Mataram, janda Pragola menceritakan bahwa Sultan Mataram dan Pragola Pati diadu domba oleh Adipati Endranata. Raja Mataram marah besar, sehingga ia memerintahkan Martalulut dan Singanegara untuk membunuh Adipati Endranata dan dipertontonkan ususnya di Pasar Gede.
Adipati Pragolo Djoyo Kusumo sebagai tokoh Pahlawan Sejati Korban Fitnah dari pejabat yang Lalim.
Dalam pertarungan Adipati Pragola II terluka namun ia tetap melanjutkan pertempuran,lawan yg menghadang diterjang,yg lari diburu, dalam pengejaran musuh di sekitar sumber mata air sani, tiba-tiba kuda sang Adipati mendadak berhenti tidak mau berlari. Adipati Pragola II luka parah dan akhirnya wafat pada hari Jum’at Wage tanggal 4 Oktober 1627 M. Adipati Pragola II rela berkorban hingga titik darah penghabisan, Adipati gugur di medan perang untuk mempertahankan wilayah dan kedaulatan negeri Pati. Namanya harun dikenang dan diagungkan oleh masyarakat Pati. Adipati Pragola II dimakamkan di Dukuh Sani Desa Tamansari Kecamatan Tlogowungu Kabupaten Pati.

Adipati Pragola II rela berkorban hingga titik darah penghabisan, Adipati gugur di medan perang untuk mempertahankan wilayah dan kedaulatan negeri Pati. Namanya harum dikenang dan diagungkan oleh masyarakat Pati.
Tentu saja, tewasnya Adipati junjungannya yang berarti kehancuran Kadipaten Pati dapat dimaklumi secara psikologis membawa luka yang mendalam bagi rakyatnya. Mulai saat itu hingga sekarang sebagai tanda peringatan atas naasnya Adipati Pragola II yang sangat dihormatinya itu hari Jumat Wage menjadi hari yang disakralkan oleh (sebagian) orang-orang Pati.‎

sumber blog wiyonggo seto
Tambahan Kisah lain versi lain .....
Cerita ini sebenarnya berawal dari Karya sastra seorang Pujangga Keraton Kartosuro, pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono II (1727-1749), bernama R. Ngabehi Ronggo Janur, berjudul Serat Pranacitro.
PRAHARA DI BUMI PATI
WASIS JOYOKUSUMO II
Hubungan baik terjalin kembali setelah terdahulunya Pragola I mengadakan pemberontakan terhadap Mataram. Perkawinan adalah sangat efektif digunakan untuk menyatukan dua wilayah yang bertikai, Joyo Kusumo menikah sama adik Sultan Agung. Kerukunan ini terjalin untuk memperluas kekuasaan Mataram di tanah Jawa.
Wasis Joyo Kusumo II mau melamar Putri pengusaha kaya dari Jepara. Ia melamar dengan mengirimkan dua ekor gajah ditambah dengan tiga sampai empat orang terkemuka yang membawa emas,perak, bahkan pakaian yang berharga dan sirih. Akan tetapi peminangan ini ditolak karena gadis tersebut telah dipinang oleh orang lain. Sehingga dibawa pulang seperangkat lamaran kembali ke Pati.
Joyo Kusumo marah, ia mengirimkan beberapa prajurit untuk menyerang rumah orang kaya tersebut. Hal ini didengar oleh Kiai Demang Laksamana kemudian membantu orang kaya tersebut dengan membawa pasukan bersenjata dan seseorang pembesar Jepara juga membantu membawa beberapa prajurit.[1] Mereka bergabung mengantisipasi bahwa Pati akan menguasai daerah-daerah lain sekitarnya. Kia Demang juga mengirim istrinya menghadap ke Mataram guna melaporkan bahwa telah terjadi penyerbuan di wilayah Jepara untuk memperebutkan seorang gadis cantik asal Jepara selain itu juga akan menundukan wilayah Jepara.
Laporan ini membuat Raja Mataram hati-hati sehingga ia mengirimkan telik sandi ke Pati, untuk mengetahui sepak terjang Adipati Joyo Kusumo, laporan yang diterima sesuai dengan apa yang pernah dilaporkan istri Kyai Demang bahwa Pati sedang menyusun kekuatan. Raja Mataram segera mengirimkan pasukan ke Pati.[2] Pasukan ini sebenarnya akan dipersiapkan untuk melawan Surbaya. konsentrasi Mataram sedang disibukan dengan penumpasan Surabaya.. Tapi dialihkan menuju ke wilayah Pati guna mencegah terjadinya pemberontakan di wilayah tersebut.
Perang saudara ini bisa dicegah dengan mengadakan perkawinan politik antara anak Sultan Agung dengan anak Joyo Kusumo, dan ini sangat efektif untuk meredam pemberontakan di Wilayah Pati. Pasukan Mataram kemudian dialihkan kembali ke penyerangan Surabaya Disamping itu juga untuk mencegah terjadinya pemberontakan wilayah, Pati salah satu kekuatan yang menjadi perhitungan politik Sultan Agung, sehingga harus dipertahankan supaya tetap mendukung Mataram.
Adi pati Joyo Kusumo gagah berani tampil sebagai pemimpin wilayah Pantai, mereka mengumpulkan Penguasa Utara di Juana. Bahkan ketika pengirimin pasukan untuk menyerang Surabaya ia menjadi panglimanya menggantikan Adipati Sujanapura yang gugur dalam pertempuran. Adipati Joyo Kusumo juga ikut dalam menumpas Pemberontakan Tuban. Ia bersama Lasem bahu membahu untuk menundukan kekuatan dan strategi perang Tuban dengan besar-besaran,. sedangkan palimanya Adipati Matralaya lebih senang menunggu musuh daripada menyerang dahuluan. Joyo Kusumo juga pernah menjadi panglima yang gagah berani. Ia bahu membahu dengan pasukan Tumenggung Alap-alap
Setelah penyerangan Surabaya selesai, penarikan pasukan kembali ke wilayahnya masing-masing. Temenggung Endranata mulai kasak-kusuk di dalam Keraton Mataram, ia menterjemahkan mimpi Sultan Agung, tentang kedatangan seorang berbaju putih yang mengharuskan menyingkirkan empat orang terkemuka yang dapat menjadi duri dalam daging di Mataram. Temenggung Endratara membisikan siapa saja yang menjadi penghalang Sultan Agung.
Adipati endranata melemparkan isyu bahwa Pati akan mengadakan penyerangan terhadap Mataram.. Pargola memperluas wilayahnya dengan mengangkat enam Bupati MangunJaya, Kanduruwan,Raja Menggala, Toh Pati, Sawunggaling dan Sindurejo. Mereka ia bersumpah sampai titik darah penghabisan
Raja Sultan Agung memanggil beberapa adipati menghadap ke Mataram, raja menanyakan kenapa Adipati Pragola tidak menghadap. Temenggung Endranata menerangkan bahwa Pati tengah menyusun kekuatan dengan penguasa-penguasa pantai utara, kecuali Demak yang masih setia kepada Mataram, hal ini membuat murka Sultan Agung.
Raja mengatur pasukan sebelah kanan yang dipimpin Adipati Matralaya membawai pasukan Mancanegara, pasukan ini bermukim di Pekuwon Juwana. bagian timur sebelah kiri Pangeran Sumedang yang memimpin bagian barat. Orang-orang Madura memimpin bagian tengah, dibelakang itu rakyat dari Kedu, Bagelan dan Pemijen, pasukannya mendirikan benteng pertahanan di kaki Gunung Kendeng, di daerah Cengkal Sewu sebelah selatan Pati. Terakhir keluarga Raja yang memimpin pasukan-pasukan Pamejagan mataram. Pengawal pribadi terdiri dari 2.000 prajurit semua kapendak yang ada diantara mereka harus mengikuti raja.
Pasukan mengepung melewati Pajang dan Taji sehingga banyak penduduk berlarian menuju ke Kota Pati. Kadipaten Pati dikepung prajurit dari segala penjuru, pasukan telik sandi Pati melaporkan bahwa ada gerakan dari pasukan menuju Pati yang dipimpin langsung oleh Sultan Agung. Adipati Pati mengumpulkan rakyatnya yang masih setia untuk berkumpul menyelenggarakan pesta. Untuk pengikutnya yang setia sebab esok akan mengadakan pertempuran habis-habisan.
Pasukan Pati mengenakan pakaian yang sama hitam-hitam, sedangkan rakyat berpakaian seadanya. Mereka berkumpul menunggu Adipati Pragola yang sedang siap-siap, ia mandi, mengenakan baju yang sangat bagus, melengkapi diri dengan pakaian-pakain pusaka (Kere Wojo), dan jimat pusaka.
Adipati Pati bersama pasukannya menuju sector kanan, Serangan Pati ditujukan pada sayap kanan pasukan Mataram yang berada dibawah pimpinan Matralaya, dalam pasukan itu juga ada Adipati Endranata berada. Pihak Mataram mengalami kekalahan besar, dihajar dengan pasukanPati dengan kekuatan penuh, sehingga pasukan Mataram ditarik mundur sampai daerah perbatasan. Sisa-sisa Pasukan Mataram kocar-kacir menyelamatkan diri, misalnya Raja Niti, Mangun Oneng dan Kertajaya. Mataram lari ke Kunduruan, Pasukan Mataram meminta pertimbangan dengan Eyang Kunduruan agar membantu pasukan Mataram, namun Eyang tidak mau sehingga terjadi penyerbuan di kenduruan. Eyang Kunduruan telah siap dengan pasukan penuh ditambah Pasukan dari Adipati Pati. Mereka bahu-membahu memukul Pasukan Mataram, Pasukan Eyang Kunduruan mengusir Pasukan Mataram sampai di luar desa.
Melihat kemenangan di tangan Adipati Pati Pragola, dalam pertempuran ini Temenggung Endranata melarikan diri dan membelot ke Pasukan Pati. Juga pusat dan sayap kiri pasukan Mataram menderita kerugian besar, Pasukan Sawung Galing berhasil memporakporandakan pasukan inti Mataram, sehingga hanya keluarga Raja dengan 2000 pengawal yang masih bertahan.
Adipati Pragola mengobrak-abrik strategi Kalajengking, dia menyerang Pasukan tengah menuju ke arah Susuhunan. Pasukan Temenggung Singanaru dihajar habis-habisan sehingga seluruh anak buahnya tewas, Temenggung Singanaru berlari menyelamatkan diri, ia kehilangan seluruh anak buahnya, sehingga menimbulkan keadaan darurat.
Pasukan Adipati Pati terlena, setelah memenangkan pertarungan, sehingga dia menarik pasukan Pati kembali ke markasnya, pengejaran terhadap Pasukan Mataram hanya sampai di tapal batas saja. Mereka tidak mengejar lagi karena menduga sisa Pasukan Mataram kembali ke Yogyakarta.
Raja Mataram memerintahkan mundur semua pasukan, untuk menyusun kembali Pasukan Mataram yang tersisa. Banyak Pasukan Mataram yang kocar-kacir kehilangan induk semangnya. Sultan Mataram memerintahkan Pasukan Mataram yang ada di tiga sector, sayap kanan, kiri dan tengah untuk tidak melakukan serangan, ditahan dulu pasukannya menunggu komando berikutnya.
Raja Mataram di dalam hutan, mengumpulkan para pemimpin pasukan untuk mengkaji ulang strategi perang, dan untuk menemukan stategi baru untuk menundukan Pati. kemudian memukul gong pusaka Kiai Bicak, tetapi tidak berbunyi. Ia kehilangan semangat dan berdoa kepada Allah, setelah itu gong berbunyi lagi dengan suara nyaring, ini menggobarkan semangat para prajurit Mataram, yang tadinya sudah mundur. Sekarang mereka maju lagi untuk bertempur.
Sisa Pasukan Mataram yang bertahan ditapal batas, dan pasukan yang masih di hutan Jepara, Purwodadi, Kudus bergabung kembali dengan Pasukan Sultan Mataram, setelah telik sandi menginstruksikan untuk segera merapat dan bertemu dengan pasukan Sultan Mataram, sambil menunggu bantuan dari Kerajaan Mataram yang akan menyerbu Surabaya, untuk dialihkan dahulu membantu Pasukan Mataram yang mau menyerang Pati.
Meskipun demikian, Adipati Pragola masih yakin akan kemenangannya. Ia mengadakan pembunuhan besar-besaran pada pihak Mataram. Raja Mataram segera mengirim pasukan tambahan dan mengarahkan pengawal dan keluarganya, yang dipimpin oleh Pangeran Purbaya dan keluarganya. Mereka merapat bergabung dengan sisa pasukan Mataram dengan menggunakan strategi kombinasi, mengecoh pertahanan Pati. Pasukan Mataram bergerak melawan Adipati Kunduruan di daerah Selatan, Prawirataruna, Temenggung Toh Pati dan Tumenggung Mangunjaya bertahan di arah timur, Tumenggung Sindurejo dan Raja Menggala bertahan di sector Barat melawan gempuran Pasukan Tumenggung Alap-alap. sedangkan Pasukan Tumenggung Sawunggaling kocar-kacir melawan pasukan inti, ia tertangkap Pasukan Mataram dan di ekskusi ditempat.
Meskipun demikian, Adipati Pragola dengan semangat menyala-nyala maju ke depan, tetapi Raja Mataram menyerahkan tombak Kiyai Baru kepada Lurah Kapedak, Naya Derma. Tepat ketika raja sekali lagi memukul gongnya Naya Derma menusuk Pragola sehingga mengakibatkan luka ringan sebelah kiri. Pargola jatuh dari kudanya kemudian ia bangkit, dan memacu kudanya keluar dari kepungan Pasukan Mataram. Dia berlari untuk merawat lukanya, ditengah jalan kudanya berhenti dan ia meninggal dunia di Sendang Sani. Mendengar Adipati Pragola wafat. Temenggung Endranata dan pasukannya membelot, menganggap ini suatu alasan untuk kembali ke Pasukan Mataram. Semua pasukan Pati dimusnahkan, juga mereka yang ditangkap hidup lebih suka memilih mati.
Raja memerintahkan agar jenazah Pragola ditegakan dan jimat-jimatnya diambil. Melihat percikan darah pada Kiai Baru, raja mengerti bahwa adiknya terbunuh dengan senjata itu.
Sementera itu Tumenggung Mangunjaya melarikan diri ke dalam istana dan menyampaikan berita kekalahan kepada para wanita disana juga kepada empat menteri jaga : Sura Prameya, Rangga Jaladra, Sura Antaka dan Pengalasan. Mereka bertempur terus sampai mati dengan 200 prajurit yang masih ada. Ini dilakukan dialun-alun, hanya Mangunjaya yang membawa berita kekalahan kepada para wanita, mereka cepat berlari meninggalkan Kadipaten Pati menuju ke Gunung Prawata. Melalui pintu belakang bersama putra mahkota yang masih muda.
Temenggung Alap-alap dengan beberapa pasukannya mengobrak-abrik Pasukan Pati, mereka merampok istana dan menguras habis istana bersama dengan pengikut-pengikutnya, kekayaannya dirampas dan rumahnya dibakar diratakan dengan tanah. ia memerintahkan untuk membawa para wanita ke Mataram.[3]
Sultan Mataram bertemu dengan adiknya yang juga istri Pragola, ia bertanya kenapa Pati harus memberontak terhadap Mataram, janda Pragola menceritakan bahwa Sultan Mataram dan Pragola Pati diadu domba oleh Adipati Endranata. Raja Mataram marah besar, sehingga ia memerintahkan Martalulut dan Singanegara untuk membunuh Adipati Endranata dan dipertontonkan ususnya di Pasar Gede.[4]
RORO MENDUT & PRANACITRO
Pasukan Mataram berhasil membumi hanguskan Kadipaten Pati. Tembok-tembok sebagai benteng runtuh di hancurkan Mataram. Semua harta kekayaan Kadipaten Pati di rampas di bawa pulang ke Mataram.[5] Termasuk boyongan gadis-gadis cantik dari pesisir pantai utara jawa.
Temenggung Wiroguno merupakan salah satu temenggung yang ikut dalm penyerangan Kadipaten Pati, ia memperoleh hadiah putri boyongan dari Pati, yakni Roro Mendut yang masih belia dan jelita. Tetapi Roro Mendut tidak sudi diperistri Wiroguno yang sudah renta itu.
Roro Mendut adalah seorang gadis cantik sehingga banyak pemuda-pemuda naksir kepadanya. Roro Mendut berpacaran dengan pemuda Pati Bernama Bagus Kemuda. Ada juga seorang pemuda asal Madura yang tinggal di Pati bernama Kuda Panoleh, yang mencoba mengganggunya. Namun rasa cintanya kandas karena ia menjadi boyongan Temenggung Wiroguno akibat Kadipaten Pati kalah perang.
Temenggung Wiroguno mencintai Roro Mendut, sehingga ia dibuatkan kaputren untuk ditinggali dengan mbok Mbannya. Roro Mendut selalu bermuram durja karena harus berpisah dengan kekasihnya yang harus mati ditangan orang-orang Mataram. Kesedihannya makin memuncak tatkala ia harus dibawa oleh Temenggung Wiraguno, orang Mataram yang telah merebut kebahagiaanya.
Roro Mendut tidak kuat menahan perasaannya, ia berencana untuk melarikan diri dari Kadipaten, untuk lepas dari cengkraman Temunggung Wiroguno. Pada suatu malam ia Berkemas-kemas mau minggat dari Kaputren.
Roro Mendut menjadi pelarian yang terus dikejar-kejar oleh Temunggung Wiroguno, berpindah-pindah tempat menghindari pasukan Temenggung Wiroguno, sehingga ia harus menyamar sebagai kawulo alit agar tidak dapat dihendus oleh telik sandi temenggung Wiroguno.
Ia memilih berjualan rokok di pinggir jalan yang ternyata laris sekali. Meski harga puntung rokoknya jauh lebih mahal dari pada rokok yang masih utuh, namun ternyata peminatnya justru membludak.
“Hai Roro Mendut mengapa sampai demikian ?” Tanya seorang pembeli yang amat penasaran.
“mau tahu sebabnya?, tentu saja karena puntung rokok itu bekas kena bibirku dan telah leceh dengan air ludahku yang manis dan harum!” jadi tegasnya, semakin pendek puntung bekas hisapan bibir sensual si Mendut, semakin nikmat citra rasanya. Puntung tersebut cukup lama dalam jepitan bibir hangat berliur.
Beberapa waktu kemudian, ia bertemu dengan salah seorang pelanggannya yang masih muda, gagah, tampan dan kaya. Pemuda tersebut Pranacitra, anak lelaki Janda Singobarong. Kemudian keduanya saling mabuk kepayang. Namun hubungan mereka kepergok juga oleh Ki Wiroguno. Mereka diburu serta tertangkap di pinggir Kali Opak (sungai Opak) yang sedang banjir. Akhirnya Pranacitro tewas diujung keris Ki Tumenggung Wiroguno. Rara Mendut ikut Bela-Pati dengan menubrukkan badannya pada keris yang masih berlumuran darah dalam genggaman Tumenggung Wiroguno..” ( versi lain mengatakan bahwa tusukan keris Tumenggung Wiroguna setelah menancap ditubuh pranacitra menembus pula ketubuh rara mendut )
[1]Pasukan Joyo Kusumo mengirim 3000 prajurit untuk menyerang rumah orang kaya tersebut. Hal ini didengar oleh Kiai Demang Laksamana kemudian membantu orang kaya tersebut dengan membawa 400 orang bersenjata dan seseorang pembesar Jepara membawa 300 prajurit.
[2] Pasukan Mataram terdiri dari 30.000 personil.
[3] Tumenggung Alap-alap bersama 1.000 prajurit merampok keraton Pragola yang masih dipertahankan 200 orang dan merampas wanita-wanitanya. Para wanita priyayi harus diangkut dengan tandu.
[4] Ada versi lain bahwa Adipati Alap-alap melakukan bumihangus di kadipaten pati, sehingga istri Pragola Pati, lari dikejar sampai ke barat Desa Puri, maka Desa itu dinamakan Matraman.
[5] Cerita ini sebenarnya berawal dari Karya sastra seorang Pujangga Keraton Kartosuro, pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono II (1727-1749), bernama R. Ngabehi Ronggo Janur, berjudul Serat Pranacitro.