Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra

Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra

19:39 0
Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra inilah yang di sebut dalam negarakartagama dalam 
Pupuh XL

1. Pada tahun Saka lautan dasa bulan (1104) ada raja perwira yuda, Putera Girinata, konon kabarnya, lahir di dunia tanpa ibu, Semua orang tunduk, sujud menyembah kaki bagai tanda bakti, Ranggah Rajasa nama beliau, penggempur musuh pahlawan bijak.
2. Daerah luas sebelah timur gunung Kawi terkenal subur makmur, Di situlah tempat putera sang Girinata menunaikan darmanya, Menggirangkan budiman, menyirnakan penjahat, meneguhkan negara, Ibu negara bernama Kutaraja, penduduknya sangat terganggu.
3. Tahun Saka lautan dadu Siwa (1144) beliau melawan raja Kediri, Sang adiperwira Kretajaya, putus sastra serta tatwopadesa, Kalah, ketakutan, melarikan diri ke dalam biara terpencil, Semua pengawal dan perwira tentara yang tinggal, mati terbunuh.
4. Setelah kalah narapati Kediri, Jawa di dalam ketakutan, Semua raja datang menyembah membawa tanda bakti hasil tanah, Bersatu Janggala Kediri di bawah kuasa satu raja sakti, Cikal bakal para raja agung yang akan memerintah pulau Jawa.
5. Makin bertambah besar kuasa dan megah putera sang Girinata, Terjamin keselamatan pulau Jawa selama menyembah kakinya, Tahun Saka muka lautan Rudra (1149) beliau kembali ke Siwa pada, Dicandikan di Kagenengan bagai Siwa, di Usana bagai Buda.
Sebenar bisa dianalisa ketika sang ranggah rajasa menyatukan jenggala dan panjalu daha dengan mengalah kan sang kertajaya raja panjalu daha....
Siapa sosok ranggah rajasa yang di gambarkan ken arok merujuk ( parararton ) sangat sulit mengambarkan siapa beliau...silisilah juga alasan yang tepat penyebab sang rangga menaklukan raja kertajaya..1144 saka
alasan yang paling masuk akal adalah konflik yang telah berlangsung sejak airlangga memecah kahuripan menjadi dua bagian panjalu dan jenggala...konflik antar bersaudara panjalu daha dan jenggala berlangsung beberapa periode ..walau sempat mereda akibat perkawinan sri kameswara dan sasi kirana ....( cerita panji )
konflik memanas dengan naiknya sri kertajaya sebagai pengganti sri kameswara yang wafat... dimana raja jenggala sang girinita (girinda) merasa kertajaya merebut tahta ( cucu) putra mahkota anak dari sri kameswara dan sasi kirana...
girinda ( jenggala) menyeranga panjalu ini membuat kertajaya keluar dari istana dalam prasasti kamulan...

serangan balik panjalu ke jenggala membuat sang girinata ( girinda,) tersingkir dari istana kedaton jenggala tumapel kemudian di kuasai panjalu dengan seorang tumenggung dari panjalu daha ..kalau dipararaton di sebut tunggul ametung ....dan di sinilah di mulai cerita rangga rajasa ( ken arok ) 
perlu di ketahui rangga rajasa adalah putera raja jenggala sang girinata ..juga merupakan adik sasi kirana pelarian di lereng timur kawi ...di sinilah rangga rajasa mengumpulkan sisa sisa kekuatan jenggala ...dalam berbagai cerita pararaton banyak bahasa tirai yang perlu kajian serta analisa ...seperti pelarian dia yang di gambarkan sebagai seorang penjahat ....ini kontroversi praraton...( paraton harus di petani )

Mengapa rangga rajasa adalah penerus jenggala juga daha panjalu ....bisa dirunut alur uraian negarakertagama tentang penyebutan putera sang girinata di atas (negarakartagama)...dan ini menjadi titik terang ken endok ( pararaton ) adalah selir dari dari raja jenggala sang girinata (girinda) atau juga bisa permaisuri kerajaan jenggala yang di asingkan panjalu kemunkinan ken endok di jadikan selir oleh tunggul ametung di tempatkan di wil selatan lereng kawi (balitar supaya mudah pengawasanya)
Petualangan rangga rajasa dalam mencari dan mengumpulkan kekuatan bisa dilihat perjalanan mulai dari area selatan lereng kawi dengan lohgawe..dengan tita seggengeng..juga kunjungan sang rangga di rabut katu yang kemungkinan daerah perbukitan tersebut adalah tempat pemujaan dan pengumpulan para pengikut jenggala yang tersingkir ..posisi yang strategis rabut katu ( gunung/bukit katu) yang dekat dengan wilayah wagir utara ( desa peradaban tua) dan selatan wilayah jalur akses ke selatan menuju barat arah panjalu 
rabut katu yang bisa di lihat dari semua daerah timur kawi sangat strategis sebagai penggalangan kekuatan dinasti jenggala...
rabut katu dalam cuaca cerah bisa di lihat di semua area kecuali terhalang gunung kawi

Sang rangga beserta rakyat jenggala ( tumapel) pertama menyerang istana lama jenggala kedaton tumapel ...yang di kuasai bawahan panjalu daha (tunggul ametung ) ....serangan ini membuat semua pengikut jenggala bangkit memerdekaan wilayah jenggala di timur gunung kawi .setelah beberapa saat menaklukan wilayah timur semeru lamajang ..panarukan ..madura..serangan di lanjutkan ke daha panjalu dan membuat kertajaya tewas dan dimulailah dinasti rangga rajasa atau dinasti rajasa atau juga dalam penyebutan negarakartagam trah girindra ..girinata ..raja raja gunung...
rangga rajasa memulai perdamaian dengan menghilangkan nama panjalu menjadi daha sedang nama jenggala masih di pakai ...dengan menyatukan di bawah tumapel ...

Sri rangga rajasa meskipun dalam negarakartagama tidak di sebutkan kematian yang tidak wajar ..tapi dalam pararaton di kisahkan Terbunuh oleh putra tiri .anushapati ...meskipun secara singkat 1222-1227....
Meskipun banyak misteri terpendam.dan kontroversi sri rangga rajasa ..ken arok atau putera girinata...
telah menancapkan tonggak pulihnya dinasti dinasti kerajaan jawa yang pasang surut karena perpecahan dan konflik kelak ketika singhasari ( tumapel ) runtuh akibat dendam keluarga kertajaya ..maka ketutunan wangsa rajasa girinata mendirikan wilwatikta dan selalu memberi pesan dengan tarian panji akan rekonsiliasi dua keluarga daha dan jenggala agar suatu saat konflik itu tidak terulang...

analisa dan penelusuran kebangkitan jenggala tumapel oleh Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra
Arifin Joyosingo
WARNA HIJAU (MENGANALISA SEJARAH SUNDA DAN JAWA)

WARNA HIJAU (MENGANALISA SEJARAH SUNDA DAN JAWA)

18:30 0
Kenapa warna/kata "hijau" menjadi sangat penting dalam menganalisa sejarah bangsa Sunda (Nusantara/Indonesia)?
Di Aceh terkenal dengan kisah Putri Hijau dan Meriam, di Padang terkenal dengan Laskar Hijau, di Jawa Nyai Roro Kidul tidak suka dengan yang berpakaian "Hijau", lalu ada Raksasa Hijau atau Buto Ijo pemangsa manusia dan di masyarakat Jawa Barat dikenal juga dengan sebutan Buta Hejo serta peribahasa "hejo tihang" dan lolondokan...yang pasti bukan si Hulk...yah !
1. Kisah "Putri Hijau dan Meriam" yang menjadi mithos masyarakat Sumatra Utara (Melayu/Deli/Medan) pada prinsipnya adalah kode yang dibuat oleh para leluhur bangsa setelah jatuhnya Kedatukan Aceh dan Kedatukan Deli menjadi "kesultanan" akibat serangan dari negara yang berbendera hijau. Selat Malaka sebagai gerbang masuk kerajaan Nusantara mulanya disusupi kaum 'pedagang' (padahal tentara) yang diam-diam mengembangkan pengaruhnya secara politis melalui nilai-nilai "agama" maka dari itu sebabnya Aceh disebut sebagai "Serambi ...." (tempat berkumpulnya Laskar Hijau). Pergantian nama dari "datuk" (kedatukan/kedaton) menjadi "sultan" (kesultanan) pada dasarnya menegaskan bahwa pemerintahan/raja sudah tidak dibawah Kemaharajaan Nusantara yang saat itu masih menetapkan konsep Kedatukan (Kedaton) dan Keratuan (Keraton).
2. Keruntuhan (pengkhianatan) Aceh dan Deli menyebabkan Indra Giri (Padang) melahirkan cerita si Malin Kundang, yang maksudnya adalah sindiran tentang "putra bangsa yang berkhianat kepada Ibu Pertiwi, mengingkari ajaran serta kedaulatan negara" itulah yang disebut sebagai manusia batu (biadab). Lalu, kisah ini benar-benar terjadi ketika seorang pemuda yang baru pulang dari negeri Hijau memimpin pasukan dan membantai ribuan putra bangsa yang tinggal di daerah Bonjol (sekarang malah jadi pahlawan...*%$#@*?).
3. Kejatuhan kerajaan Indra Giri (Sriwijaya) -pun pada prinsipnya diawali oleh runtuhnya kerajaan Aceh dan Deli, sehingga pasukan tentara "hijau" dapat masuk tanpa halangan melalui daratan. Artinya serangan dilakukan lewat dua arah (melalui darat dan laut) hingga bantuan dari Majapahit dengan pasukan maritimnya tidak dapat menyapu bersih para penyerbu terutama yang lewat daratan. Dalam sejarah yang telah diselewengkan dikatakan bahwa disekitar Pulau Bangka dan Belitung terdapat Bajak Laut (padahal pasukan perang angkatan laut) dan konon Majapahit menyerang Indra Giri (Sriwijaya), itu jelas salah dan ngawur...sebab Nusantara pada saat itu merupakan negara kesatuan yang utuh dan berdaulat. Pasukan hijau telah memutar balikan fakta (gilanya bangsa kita malah mendukung cerita palsu dan konyol itu...? Logikanya, mana mungkin ada bajak laut berani beroperasi di negeri angkatan laut terbesar se Asia Tenggara), bahkan tercatat bahwa Laksamana Laut Ma Ceng Ho (Panglima Perang Lautan) beserta pasukannya kabur ke Pulau Bangka (...anehnya penjahat itu malah disanjung sebagai duta agama yang terhormat sampai dibuatkan filmnya...teu eling sugan mah!).
4. Pulau Jawa sebagai pusat kekuatan maritim terbesar di Asia Tenggara yang terkenal dengan mithos Nyai Roro Kidul atau Ratu Laut Selatan (itu menurut negara-negara di Barat) bereaksi keras "Nyai Roro Kidul/Siluman Penjaga Laut tidak suka kepada yang berpakaian HIJAU. Hal ini pada dasarnya adalah sikap dan ketegasan bahwa ajaran (baju/pakaian) hijau adalah musuh bangsa Nusantara....Padahal arti kata Ratu Laut Selatan itu maksudnya KERAJAAN MARITIM DI LAUT SELATAN (samudara Hindia dan Pasifik), kata RATU bukan berarti queen melainkan KING (untungnya kita turunan udang dan ubur-ubur jadi tidak terprofokasi)
5. Di Jawa Barat dikenal dengan mithos "Buta Hejo" ...munjung ka buta hejo...sedang di Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut "Buto Ijo" akhirnya di Bali menjadi "Buta Kala" sosok mahluk mengerikan yang gemar mencari korban (untungnya kita semua termasuk kaum Du'afa).
6. Di Jawa Barat sebagai wilayah Rama, mengajarkan sindiran "hejo tihang" bagi orang-orang yang tidak punya pendirian dan "si londok paeh nundutan" bagi mereka yang terlena. (bahkan ada penjahat "kolor hijau"...%@$#*!)
Begitu kira-kira analisa sejarah yang didasari oleh sistem tanda lewat mithos (legenda?) Analisa sejarah seperti ini umumnya tidak terlalu disukai oleh mayoritas masyarakat Indonesia, tapi digemari oleh suku-suku di pedalaman yang masih setia kepada Maharajanya.
Sungguh ironis, Nusantara (Indonesia) diserang habis-habisan oleh laskar hijau hingga akhirnya terkuasi...anehnya mayoritas rakyat Indonesia malah membela ajaran kaum penjajah itu, lebih edannya lagi mayoritas bangsa Indonesia malah ikut-ikutan memuja leluhur bangsa penjajah tersebut (Arab) serta menghinakan ajaran para leluhur bangsanya sendiri.
Tidak ada sedikitpun rasa terima-kasih kepada negara, kepada leluhur bangsa, kepada ajaran, kepada tanah air yang memberikan kehidupan....! Orang Indonesia sama sekali bukan orang Arab...lah kok yang dipuja malah tanah Arab, leluhur Arab, bahasa Arab hingga anakpun diberi nama kearab-araban. Arab tidak pernah memberi apapun kepada bangsa Indonesia...sebaliknya orang Indonesia tiap tahunnya setor lewat prosesi haji.
purwono wahyudi
SEMBILAN FILOSOFI JAWA YANG DIAJARKAN OLEH SUNAN KALIJAGA

SEMBILAN FILOSOFI JAWA YANG DIAJARKAN OLEH SUNAN KALIJAGA

09:24 0
SEMBILAN FILOSOFI JAWA YANG DIAJARKAN OLEH SUNAN KALIJAGA
1. URIP IKU URUP
"Hidup itu Nyala. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik"

2. MEMAYU HAYUNING BAWANA
Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak

3. SURO DIRO JOYO JAYADININGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI 
"Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar"

4. NGLURUK TANPO BOLO, MENANG TANPO NGASORAKE, SEKTI TANPO AJI-AJI, SUGIH TANPO BONDHO 
"Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; Kaya tanpa didasari kebendaan"

5. DATAN SERIK LAMUN KETAMAN, DATAN SUSAH LAMUN KALANGAN 
"Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu"

6. OJO GUMUNAN, OJO GETUNAN, OJO KAGETAN, OJO ALEMAN 
"Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja"

7. OJO KETUNGKUL MARANG KALUNGGUHAN, KADONYAN LAN KEMAREMAN
"Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi"

8. OJO KUMINTER MUNDAK KEBLINGER, OJO CIDRA MUNDAK CILAKA
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka

9. OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNO
Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti.

BAGIKAN JIKA BERMANFAAT
Alih Bahasa Prasasti Dinoyo II, oleh Soewardono

Alih Bahasa Prasasti Dinoyo II, oleh Soewardono

17:48 1
Alih Bahasa Prasasti Dinoyo II, oleh Soewardono

1. //*/ semoga bahagia//selamat tahun saka telah berjalan 773, bulan magha1, hari Was (paringkelan 6 hari), Umanis (pasaran 5 hari), Kamis (pekan 7 hari)2,

2. kedudukan planet di selatan, tanggal 8 śuklapakṣa3, pada waktu itu dang hwan4 sang penderma yaitu sang hiwil dari hujung5 membatasi sima6 (berupa) sawah yang diwariskan kepada dang hyang guru

3. candik. Sawah ( telah) diteliti(…..…) (dengan) saksi dalam hal ini (yaitu) wadwa7 (dari) sang pamget8 (bernama) dila, tuhan9 sang air paku10, tuha

4. n dari manapal11 (bernama) sang nawa, a(………..)n (bernama) sa(..)ma, bersama-sama dengan tuhan di kabhalan12, tuhan dari wadwarare13 (bernama) sang garasah, wa

5. huta14 (dari) sang panghunjangan15, mangha(mbin)16 (bernama) sa(……) mpu(………) sa(………….)ndi raman17 (yang) berdagang pada raman

6. kandal dengan berbagai tha(……) (itulah) yang menjadi saksi dalam membatasi sima//

7. //Selamat tahun saka telah berjalan 82(0) bulan srawana, tanggal 8 śuklapakṣa, hari Mawulu (paringkelan), Umanis, Ahad, kedudukan planet di tenggara.

8. pada waktu itu dang hwan (bernama) a(…)sa dari hujung memberikan (kembali) sawah (untuk) dijadikan sima (dan) diteliti bersama dengan saksi dalam hal ini(yaitu) wadwa pamge

9. t. (juga saksi) yang ikut membatasi (sima) adalah kanayakan18, (yaitu) rake manayu(ti) (bernama) mahandana, rake pamrattan, tuhan wadwarare, sang pangu

10. ran19, tuha dari kalula20 (bernama) hawikan, tuhan dari lampuran21, rake kalimunnan, citralekha22 (bernama) sang kresna, panghunjanga

11. n (……) manwa di (…….) wan(..) langwu (..) dengan wahuta yang winkas wkas23, (pa)tih24 (dari) raman srasti,

12. manghambin (..) tuha sa(…..)nu (dari) kahyunnan25 (bernama) si sumul, tuha wanwa26 (bernama) drahma, (juga) saksi

13. sang watang kras27 (bernama) wel-wel ayahnya (…….), (pa)tih (dari) tuha (….) pada waktu itu (……), (paru)jar28 (dari) dama

14. n29 (bernama) pu dipa, wariga30 (bernama) si malat, panurattan31 (dari) dang mpu hyang wrati32, ka(..)ri la(….)man
15. manggala33 dari raman wanglus dang(……..) surawa, hulu wa( ), demikian (pula) tetua desa
16. kandal// semoga selalu diberkahi//.

Catatan Terjemahan:
1) Bulan magha merupakan bulan yang ke sebelas dari perhitungan tahun saka. Urut-urutan bulan tersebut adalah: 1. Caitra, 2. Waisāka, 3. Jyesta, 4. Āsādha, 5. Srawana, 6. Bhadrawāda, 7. Asuji, 8. Kārtika, 9. Mārgasira, 10. Posya, 11. Māgha, dan 12. Phālguna (Casparis, 1978 :48).

2) Damais (1955 :252-253) membagi wara ini menjadi tiga yang dikenal diberbagai prasasti, yaitu Saptawara (7 hari) terdiri dari A=aditya, SO=soma, ANG=anggara, BU=budha, WR=wrhaspati, SU=sukra, SA= sanaiscara. Sadwara (6 hari) terdiri dari TU=tunglai, HA=hariyang, WU=wurukung, PA=paniruan, WA=was, MA=mawulu. Pancawara (5 hari) terdiri dari PA=pahing, PO=pon, WA=wagai, KA=kaliwuan, U=umanis

3) Pada masa Jawa kuna, perhitungan bulan dibagi menjadi 2 paksa. Suklapaksa (paro terang) adalah perhitungaan bulan mulai tanggal 1 s.d 15. Sedang tanggal 16 s.d 30 disebut krsnapaksa (paro gelap) (Zoetmulder, 2004 :1263 ; Mardiwarsito, 1986:607; Prawirasuganda,1951: 67-68).

4) Dang Hwan menurut kata asal adalah ‘dang’ yaitu sebutan bagi orang yang lebih dihormati (Mardiwarsito, 1986 :166-167 ; Zoetmulder, 2004 :194), dan ‘hwan’ yang artinya penggembala (Mardiwarsito, 1986 :228 ; Zoetmulder, 2004 :373). Sehingga diartikan ‘yang terhormat sang penggembala’. Mungkin di sini yang dimaksud adalah orang yang kaya akan binatang ternak.

5) Hujung sering disebut-sebut dalam prasasti-prasasti di Jawa Timur abad IX-X M. Merupakan wilayah watak kekuasaan rakryan Hujung.

6) Sima adalah sebidang tanah (sawah, desa, dan sejenisnya yang bebas dari pajak dan kewajiban-kewajiban lainnya ) (Mardiwarsito, 1986 :530; Zoetmulder, 2004 :1092). Biasanya diberikan oleh raja kepada seorang pejabat atau penduduk desa, atau untuk kepentingan suatu bangunan suci (Nastiti, 1982 :42).

7) Wadwa artinya bawahan atau anak buah (Mardiwarsito, 1986 :652 ; Zoetmulder, 2004 :1365 ; Wojosasito, 1977 :292).

8) Pamget asal katanya adalah pegat yang artinya putus (Mardiwarsito, 1986 :417 ; Zoetmulder, 2004 :801 ; Wojosasito, 1977 :198). Secara harfiah berarti orang yang memberi keputusan/ketetapan. Jabatan pamgat peranannya lebih kepada hal-hal yang bersifat keagamaan, hukum, dan sejenisnya (Trigangga, 2003 :37).

9) Tuhan artinya tuan, majikan, penguasa, orang yang berwenang ((Mardiwarsito, 1986 :614 ; Zoetmulder, 2004 :1282). Casparis (1956 :226-228), lebih memperjelas bahwa tuhan adalah pemimpin kelompok dari para pembantu rendahan di lingkungan rakai atau pamegat.

10) Airpaku berasal dari kata air dan paku/penetapan (Mardiwarsito, 1986 :390). Tetapi apa tugas dan kewajibannya belum jelas. Mungkin petugas yang menetapkan/menentukan air suci sebagai sarana upacara.

11) Tuhan ning Manapal artinya pejabat yang mengurusi para penari/pemain topeng. Akar katanya adalah Tapel yang artinya topeng (Mardiwarsito, 1986 :586; Zoetmulder, 2004 :1212).

12) Tuhan ni Kabhalan artinya pejabat di Kabhalan. Nama Kabhalan tersebut juga di prasasti Pamotoh 1198M, prasasti Waringin Pitu 1447M, serta Pararaton 1631M. Pada ketiga sumber tersebut ditulis ‘Kabalan’. Di daerah Cemorokandang kota Malang, sampai sekarang terdapat dukuh kuno bernama Kabalon.

13) Wadwarare adalah pasukan yang terdiri dari para pemuda (Mardiwarsito, 1986 :652).

14) Wahuta adalah gelar jabatan (Mardiwarsito, 1986 :653; Zoetmulder, 2004 :1368). Tapi apa tugasnya belum diketahui. Mengingat namanya sering diikuti oleh titel seseorang (wahuta dari ……), diduga ia adalah pembantu pelaksana.

15) Tidak diketahui apa peranan sang Panghunjańan. Dalam prasasti Gulung-gulung 929M, Linggasuntan 929M, dan Jeru-jeru 930M (Trigangga, 2003 :13 ;21 ; dan 30) nama wahuta dari Panghunjańan ini muncul lagi sebagai salah satu saksi dari penetapan sima.

16) Manghambin adalah nama suatu jabatan. Tetapi apa tugas dan kewajibannya belum jelas.

17) Raman mungkin sama dengan kata rāma, yang artinya tetua desa (Mardiwarsito, 1986 :461 ;Zoetmulder, 2004 :913).

18) Kanayakan berasal dari akar kata nayaka, yang artinya pemimpin (Zoetmulder, 2004 :695).Kanayakan berarti kelompok nayaka, atau kelompok para pemimpin (yaitu rake dan pamgat).

19) Pangurang kata dasarnya adalah kurang. Boechari berpendapat bahwa Pangurang adalah petugas pemungut pajak (Boechari,1981 :76).

20) Tuha dari kalula berarti pemimpin dari para abdi/pelayan (zoetmulder, 2004 :446).

21) Yang dimaksud dengan tuhan dari lampuran diduga adalah pemimpin kelompok dari pemain keliling (Zoetmulder, 2004 :566).

22) Citralekha artinya lukisan atau penulis (Zoetmulder, 2004 :177). Yang berhubungan dengan penetapan sima biasanya adalah penulis prasasti.

23) Winkas wkas adalah pejabat yang tugasnya membawa berita atau membawa perintah dari atasan (Mardiwarsito, 1986 :673-674 ;Zoetmulder, 2004 :1410). Wahuta yang winkas wkas, mungkin pembantu yang tugasnya winkas wkas.

24) Patih adalah pejabat di tingkat daerah/watak, atau para pembantu rake dan pamgat (Boechari, 1981 :72).

25) Tidak dapat dipastikan kahyunnan ini nama suatu jabatan atau nama tempat. Nama ini muncul pula dalam prasasti Gulung-gulung 929M (Trigangga, 2003 :12-13). Juga dalam prasasti kahyunan 1161M sebagai nama desa (Damais, 1955 :73).

26) Tuha wanwa artinya orang yang mengkordinir desa, perkampungan (Mardiwarsito, 1986 :659 ;Zoetmulder, 2004 :1384).

27) Watang diartikan sebagai batang kayu, galah, tombak, tongkat (Mardiwarsito, 1986 :667). Sementara kras sama dengan keras (Mardiwarsito, 1985 :281). Sang watang kras mungkin sesuatu jabatan. Tetapi apa tugas dan kewajibannya tidak diketahui.

28) Parujar berasal dari kata ujar yang artinya perkataan. Parujar berarti pegawai yang tugas dan kewajibannya sebagai juru bicara (Mardiwarsito, 1986 :633).

29) Daman diduga adalah nama seorang pejabat desa, karena dalam prasasti Balingawan 891M (Brandes, 1913 :22) nama ini muncul berkali-kali bersama sederetan nama, yaitu dapunta ramyah, da(ng) pu hyang bharati, daman tarsa, dan da(ng) pu jala. Yang semuanya adalah penduduk desa Balingawan.

30) Wariga adalah ahli perbintangan yang bertugas mencari hari/saat yang baik untuk berbagai keperluan desa ((Mardiwarsito, 1986 :664).

31) Panurattan asal katanya adalah surat yang artinya yang ditulisi/digambari atau tulisan (Mardiwarsito, 1986 :549 ; Zoetmulder, 2004 :1155). Panurattan artinya orang yang mempunyai tugas sebagai juru tulis.

32) Sama dengan keterangan no.29

33) Manggala artinya pelindung/pemimpin di antara orang banyak (Mardiwarsito, 1986 :342 ; Zoetmulder, 2004 :649).

Dikutip dari: hurahura.wordpress.com
Judul Asli: Tinjauan Ulang tentang Prasasti Dinoyo II Tahun 820 Saka
Gelar Raja-Raja Mataram

Gelar Raja-Raja Mataram

02:26 0
Gelar Raja-Raja Mataram
Tahukah anda mengapa gelar raja-raja Mataram begitu hebat dan luar biasa? Sebelumnya mari kita lihat gelar empat raja Mataram yang tersisa. Sebenarnya tidak empat raja, dua raja dan dua lagi penguasa wilayah. Tapi toh gelar keempatnya mirip-mirip dan luar biasa mentereng, walaupun hanya sebagian dari gelar panjangnya.
Pertama, Sultan Hamengkubuwono yang berarti yang memangku dunia. Artinya, seluruh dunia berada dalam pangkuannya. Kedua, Pakualam, menjadi paku atau sumber atau intisari, tidak hanya dunia, tetapi alam semesta. Ketiga, Mangkunegaran, memangku negara, dialah intisari dari negara. Keempat, Pakubuwono, menjadi paku dunia. Pendeknya, keempatnya menjadi inti dari seluruh dunia dan alam semesta, walaupun realitasnya, kekuasaannya hanya beberapa ratus/ribu hektar dengan supervisi ketat VOC dan Pemerintah Belanda.
Saya membaca buku G Moedjanto (1987) yang berjudul Konsep Kekuasaan Jawa: penerapannya oleh raja-raja Mataram, terbitan Kanisius. Gelar-gelar yang mentereng tersebut menurut Moedjanto karena seluruh keturunan raja Mataram berasal dari petani sehingga dibutuhkan gelar sebagai basis legitimasi kekuasaan. Hal ini dibuktikan dengan gelar Panembahan (yang dipakai Panembahan Senopati) yang sebenarnya bukan gelar untuk golongan ningrat. Juga gelar Ki Ageng (yang digunakan Ki Ageng Pemanahan) yang hanya menunjukkan legitimasi local diantara petani.
Sehingga, keturunan raja-raja Mataram adalah keturunan yang mencoba untuk terus memburu gelar sebagai basis penguat legitimasi kekuasaan. Istilahnya tetap mendapatkan: trahing kusuma, rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih. Saat berubah menjadi Mataram Islam, gelar Sultan dipakai karena menunjukkan adanya legitimasi atas Islam yang mulai menyebar. Gelar Sultan dipandang lebih tinggi dari gelar sebelumnya yang pernah ada. Perburuan gelar itu terhenti saat sudah mencapai level yang sudah tidak bisa lagi disamai oleh orang kebanyakan. Jadi perwujudan politik identitas oleh raja-raja Mataram dilakukan dengan menegaskan gelar kebangsawanan yang mustahil disamai oleh bangsawan lainnya.
Keturunan petani ini juga terus dipertanyakan, terutama oleh pemberontak. Trunojoyo, yang memberontak dan berhasil mengusir Amangkurat II dari keraton menghina bahwa keturunan raja Mataram itu ibarat tebu,” Raja Mataram iku dak umpakakake tebu, pucuke maneh cen legiyo, sanadjan bongkote ing mbiyen ya adem bae, sebab raja trahing wong tetanen; angor macula bae bari angona sapi” ( Raja Mataram itu saya umpamakan tebu; masakan ujungnya manis, pangkalnya saja sejak dulunya terasa tawar, sebab raja keturunan petani; lebih baik kalau mencangkul saja sambil menggembalakan sapi) (Medjanto 1987, hal. 84) . Trunojoyo kemudian ditangkap atas bantuan Pangeran Puger dan VOC. Kepalanya konon berada di bawah anak tangga menuju makam Imogiri. Siapapun yang akan berziarah ke Makam Imogiri akan menginjak kepala Trunojoyo.
Perlawanan terhadap raja Mataram bahkan juga dilakukan oleh seorang kepala desa. Namanya Ki Ageng Mangir (perhatikan gelar Ki Ageng Mangir Wanabaya yang mirip Ki Ageng Pemanahan) yang berkuasa di sekitar Kulonprogo, tak terlalu jauh dari pusat kekuasaan. Untuk meredam pemberontakan Mangir, Raja mengutus putrinya untuk menggoda Mangir dengan menjadi seniman keliling. Setelah terpikat, Mangir menikahi putri raja ini. Mangir kemudian dapat dibujuk untuk mengadap raja. Pada saat melakukan sungkem kepada mertuanya, raja menghantamkan kepala Mangir ke lantai. Mangir tewas seketika. Makamnya saat ini ada di Makam Kotagedhe dengan posisi yang paling mudah dikenali. Separuh makam berada di dalam tembok makam, dan separuhnya lagi berada di luar tembok. Jadi makam Mangir pas dibelah di bagian perut, separuh diluar, separuh di dalam. Hal ini untuk menunjukkan bahwa Mangir separuh dianggap sebagai menantu dan separuhnya pemberontak.
Masih menurut Moedjanto, basis petani bagi raja-raja Mataram ini membawa implikasi kekuasaan yang serius. Dalam tradisi petani, seandainya seorang petani memiliki sebidang sawah 10 hektar dengan 5 orang anak, maka biasanya masing-masing anak akan mendapatkan 2 hektar. Hal ini tentu saja tidak bisa dilakukan dalam kerajaan. Hanya putra mahkota yang menjadi pewaris seluruh kekuasaan raja. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan dalam hampir setiap pergantian raja di Mataram. Dalam proses pelantikan seorang raja, selalu ada orang yang dituakan (tetua kerajaan) yang akan melakukan pemakluman dengan mengatakan, kira-kira begini: “Atas perkenan Raja yang mendahului, putranya ….. menggantikan di atas tahta; maka bula ada yang tidak setuju ayo maju saja, saya yang akan menghadapi” (Moedjanto, hal 29). Belakangan, terutama setelah Amangkurat II (cucu Sultan Agung), VOC dan Belandalah yang melakukan fungsi tersebut.
Dalam sejarah Mataram, perebutan kekuasaan tidak jarang menjadi konflik yang berlarut-larut dan berakhir perang. Itu karena pemikiran setiap keturunan memiliki hak yang sama untuk meneruskan kekuasaan orangtuanya. Hal ini diperumit dengan tradisi raja yang umumnya memiliki banyak istri dengan status antara garwa ampenan (selir) dan prameswari (permaisuri). Selir biasanya dimiliki lebih dulu, bahkan sebelum yang bersangkutan menjadi raja, sehingga jika memiliki anak laki-laki, usianya akan lebih tua dari anak dari permasuri. Inilah kasus yang terjadi pada Sultan Agung yang menjadi raja (seharusnya Pangeran Martapura dari permaisuri).
Selain itu, cerita suksesi sering dilengkapi dengan wangsit dan mistis yang tak pernah menemukan pembenaran logis. Salah satu cerita suksesi paling menarik adalah tatkala Amangkurat II meninggal dunia. Konon, kemaluan sang raja tetap tegak walau dirinya sudah tak bernyawa. Dalam detik-detik yang menegangkan tersebut, Pangeran Puger (adik Amangkurat II) melihat ada cahaya di ujung kemaluan sang kakak. Pangeran Puger lalu mengecup ujung kemaluan tersebut dan konon itulah wangsit kekuasaan. Pangeran Puger kemudian menjadi raja Mataram dengan gelar Pakubuwono I, menggantikan keponakannya Amangkurat III atas dukungan VOC.
Cerita lain belakangan adalah transisi kekuasaan dari Sultan HB VIII ke Sultan HB IX sebagaimana ditulis dalam desertasi Seloseomardjan. Saat menjemput anaknya yang tiba di Batavia menggunakan kereta api, Sultan HB VIII telah sakit-sakitan. Sultan HB VIII meminta anaknya segera kembali ketika sedang di Belanda. Dalam perjalanan menggunakan kereta ke Yogyakarta, di tengah perjalanan, Sultan HB VIII menyerahkan keris Joko Piturun yang mendadak muncul kepada anaknya. Sultan HB VIII wafat tak lama setelah menyerahkan keris Joko Piturun yang dipercaya sebagai symbol kekuasaan Kasultanan Yogyakarta. Masih menurut Selosoemardjan, saat tiba di Stasiun Tugu, petir menggelegar di siang bolong yang menjadi pertanda Raja hebat akan muncul di Yogyakarta.
Jadi, kembali ke gelar raja-raja Mataram, dari sejarah kita tahu, kekuasaan adalah sesuatu yang akan selalu digugat, bahkan oleh saudaranya sendiri. Raja-raja Mataram adalah subjek dari gugatan-gugatan tersebut karena terlahir sebagai keturunan petani
RADEN MAS SAID ALAP ALAP SAMBERNYOWO

RADEN MAS SAID ALAP ALAP SAMBERNYOWO

11:09 0
Raden Mas Said dilahirkan di Keraton Kartasura pada 17 April 1725. Ayahnya bernama Kangjeng Pangeran Arya Mangkoenagoro dan ibunya Raden Ayu Wulan, puteri dari pangeran Balitar. Ayahnya dikenal sebagai pangeran yang cerdik berkat pengetahuannya yang mendalam tentang sastra dan tradisi Jawa. Itulah sebabnya ia dianggap pantas menggantikan tahta ayahnya yaitu Amangkurat IV. Namun suasana politik keraton Kartasura tidak terlalu nyaman bagi sang pangeran. Sejak adiknya naik tahta dengan gelar Pakubuwana II, ia malahan dianggap duri dalam daging bagi klik kerajaan yaitui bunda raja, Gusti Kangjeng Ratu Ageng dan Patih Danureja. Ia pun difitnah dan akhirnya dibuang ke Ceylon sampai ke Kaapstad. Sejak pembuangan ayahnya itu, Raden Mas Said dan adiknya Raden Mas Ambia dan Raden Mas Sabar hidup menyedihkan. Mereka sebelumnya juga telah ditinggal ibunya. Ketiga anak itu hidup dalam suasana kemelaratan dan tersisih dari kehidupan istana. Tidak ada lagi pada mereka terpancar gambaran sebagai putera calon raja. Namun pada sisi lain melalui kehidupan yang penuh penderitaan ini ia sangat akrab dengan rakyat kecil. Teman dekat mereka yang selalu menemani adalah Raden Sutawijaya dan Raden Suradiwangsa. Menjelang usia 14 tahun oleh Pakubuwana II, Raden Mas Said diangkat menjadi seorang Manteri Gandek dengan gelar Raden Mas Ngabehi Suryakusuma dengan mendapat tanah lungguh( jabatan) seluas 50 karya. Ketika terjadi pelarian orang-orang Cinadari Batavia meluas ke Kartasura pada 1740 sempat timbul perlawanan rakyat kepada penguasa VOC di Kartasura. Atas huru-hara ini Raden Mas Said bersimpati pada perlawanan rakyat. Pasukan pemberontakan yang dipimpin oleh Mas Garendi berhasil menduduki keraton. Kondisi keraton yang kurang aman dan kekhawatiran akan keselamatan adik-adiknya, Raden Mas Said memutuskan untuk meninggalkan istana diikuti oleh teman-temannya seperti Sutawijaya dan Suradiwangsa. Atas saran Suradiwangsa Raden Mas Said dianjurkan untuk pergi ke Nglaroh, daerah tempat Suradiwangsa pada 1741. Selama di Nglaroh Raden Mas Said bersama adik-adiknya dan pengikutnya melakukan latihan perang sebagai persiapan melawan Belanda. Di Nglarohlah kharisma Raden Mas Said mulai bersinar. Ia tumbuh menjadi pemimpin perjuangan melawan Belanda. Sebagai pemimpin perjuangan ia mengangkat Raden Sutawijaya sebagai panglima perang dan diberi gelar Raden Ngabehi Rangga Panambang. Sementara Suradiwangsa diangkat sebagai patih dan diberi gelar Kyai Kudanawarsa. Sejak 1741 Raden Mas Said mengobarkan perlawanan terhadap Belanda selama 16 tahun. Periode perang pertama (1741-1742) bergabung dengan Sunan Kuning di Randu Lawang. Periode kedua selama sembilan tahun (1743-1752) bersama dengan Pangeran Mangkubumi. Periode ketiga selama lima tahun (1752-1757) Raden Mas Said berjuang sendiri melawan VOC, Sultan Hamengku Buwana I danPakubuwana III. Selama perjuangannya yang sangat panjang, berpindah-pindah medan pertempuran, dan melelahkan itu Raden Mas Said selalu didampingi oleh neneknya Raden Ajeng Sumanarsa, kedua isterinya (Kangjeng Ratu Bendara dan Mas Ayu Matah Ati), putera-puteranya serta pengikut setianya. Mereka semua terlatih duduk di atas punggung kuda, naik-turun pegunungan dan lembah, serta pandai dalam bertahan hidup. Kesatuan mereka yang selalu berhasil dijaga karena semangat TIJI-TIBEH. Keteguhan Raden Mas Said dalam berjuang akhirnya berhasil memaksakan perjanjian politik dengan Pakubuwana III di Salatiga yang mendasari berdirinya pemerintahan Mangkunegaran. Fakta Sejarah di tulis oleh : - Sudharmono S,U – dosen jurusan fakultas sastra dan seni rupa universitas sebelas maret surakarta - Drs. Susanto , M. Hum – dosen jurusan sejarah fakultas sastra universitas sebelas maret surakarta
Saat Ki Bagoes Hadikoesoemo Menolak Perintah Seikerei ~

Saat Ki Bagoes Hadikoesoemo Menolak Perintah Seikerei ~

19:37 0

Saat Ki Bagoes Hadikoesoemo Menolak Perintah Seikerei ~
.
Cerita hari ini membahas ritual seikerei yang wajib dilaksanakan rakyat Indonesia saat penjajahan Jepang dan saat-saat menegangkan ketika tokoh Muhammadiyah Ki Bagoes Hadikoesoemo dipanggil Jepang karena menolak seikerei.
.
Seikerei adalah sikap menghormat dan membungkukkan badan ke arah matahari terbit setiap pagi, setiap pertemuan umum, dan setiap nama Tenno Haika, Kaisar Jepang, disebut.
.
Sejumlah ulama dengan gagah berani menolak melakukan hal itu. Sebut saja Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), pemimpin sebuah pesantren di Tasikmalaya, Jawa Barat KH Zaenal Mustafa, dan Ki Bagoes Hadikoesoemo. Alasan yang dikemukakan pun senada, seikerei bertentangan dengan ajaran Islam dan merusak tauhid. 
.
Perlawanan Ki Bagoes Hadikoesoemo untuk menolak
seikerei diwujudkan saat pimpinan Muhammadiyah periode 1942-1953 itu menerbitkan maklumat yang ditujukan kepada umat Islam untuk tidak melakukan
seikerei.
.
Larangan melakukan seikerei didengar pimpinan Kempeitai. Menurut Wikipedia, Kempeitai adalah Satuan Polisi Militer Jepang yang ditempatkan di seluruh wilayah Jepang termasuk daerah jajahan.
.
Kempeitai pun memanggil Ki Bagoes untuk menghadap Kempeitai di Yogyakarta. Pemanggilan Ki Bagoes oleh Kempeitai itu tak hanya membuat khawatir pria yang lahir di Yogyakarta, 24 November 1890 itu. Rekan-rekannya dan rakyat pun waswas. Apalagi, Jepang terkenal kejam terhadap siapa saja yang membangkang kebijakan Jepang.
.
Singkat cerita, Ki Bagoes kemudian memenuhi panggilan Kempeitai, diterima oleh Kepala Kempeitai Kolonel Tsuda. Apa yang terjadi dalam pertemuan itu?
.
Di salah satu sudut ruangan tempat digelarnya Pameran Tokoh Ki Bagoes Hadikoesoemo di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jalan Imam Bonjol, Jakarta, terpampang percakapan antara Ki Bagoes dengan Kolonel Tsuda.
.
"Tuan Ki Bagoes, saya minta kepada semua orang Islam dan Muhammadiyah agar melakukan upacara seikerei!" kata Tsuda.
.
Ki Bagoes menjawab,"Tidak mungkin Tuan. Agama Islam melarang."
.
Kolonel Tsuda tak terima. Dia kembali meminta agar Ki Bagoes memerintahkan rakyat untuk melakukan seikerei.
.
"Kalau tidak tahu, maka saya beritahu bahwa membungkuk kepada sesama manusia itu dilarang oleh agama saya," jawab Ki Bagoes.
.
Sang Kolonel tetap tak terima. Dia kembali menegaskan bahwa seikerei itu sebuah perintah dan wajib dilaksanakan. Tetapi, Ki Bagoes tetap pada pendiriannya. Malah, pria yang lahir dengan nama R Dayat atau Hidayat itu meminta agar Kolonel Tsuda yang memerintahkan langsung.
.
Kolonel Tsuda pun menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan Ki Bagoes yang memerintahkan. Tuan pemimpin Islam, orang Islam akan menurut."
.
"Tidak bisa Tuan. Agama melarang. Saya tidak bisa memerintahkan itu," jawab anak dari Raden Kaji Lurah Hasyim yang menjabat sebagai abdi dalem Lurah bidang keagamaan di Keraton Sri Sultan Hamengku Buwono VIII itu.
.
Mendengar jawaban Ki Bagoes, Kolonel Tsuda menggebrak meja. Ki Bagoes pun terkejut. Dia mencoba tenang, lalu mengatakan,"Tuan menganut agama seperti saya, sekalipun berlainan. Tentu Tuan juga tidak mau melanggar ajaran agama Tuan. Seperti kami orang Islam tidak mau melanggar ajaran kami."
.
Dan, percakapan berhenti sampai di situ. Bahkan, keduanya minum teh bareng. Ki Bagoes pulang dan bersujud syukur karena Jepang tidak berhasil menaklukkan hatinya dan tidak pula berani memerintahkan kekerasan agar umat Islam melakukan seikerei. 
.
Sumber: Bahan Pameran Tokoh "Ki Bagoes Hadikoesoemo" di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jalan Imam Bonjol, Jakarta
PETILASAN BATURSIGIT NGROTO

PETILASAN BATURSIGIT NGROTO

00:40 0
PETILASAN BATURSIGIT NGROTO
Setelah rakit yang rusak selesai diperbaiki, perjalanan dilanjutkan lagi. Tetapi ketika sampai di suatu pedukuhan (sekarang daerah Ngroto-Gubug), ada salah satu rakit tersangkut pohon di pinggir sungai. Karena tali pengikat rakit putus, rombongan berhenti untuk mengikatnya.
Ketika para santri sedang mengikat rakit, tiba-tiba terdengar suara adzan magrib dari arah dukuh di dekatnya. Para santri bergegas menuju dukuh itu, untuk melaksanakan sholat. Ketika bertanya pada penduduk, dijawab bahwa di daerah itu tidak ada surau. Akhirnya para santri melaksanakan sholat pada sebidang tanah datar, yang terletak di pinggir sungai. Demikian juga waktu Imsya, suara adzan terdengar kembali. Mereka berusaha mengamati arah datangnya suara adzan itu. Menurut mereka datangnya suara adzan dari arah Barat Laut, searah dengan kraton Glagahwangi.
Konon cerita di tempat itu, rombongan bermufakat akan mendirikan masjid. Mereka akan mendirikan masjid itu, hanya dalam waktu semalam. Malam itu bulan bersinar sangat terang, sehingga sinarnya dapat membantu para santri dalam bekerja. Secara beramai-ramai mereka mendirikan tiang-tiang calon masjid, kadang diselingi pula oleh bunyi palu dan gergaji memotong kayu.
Ternyata suara ramai mereka membangunkan penduduk pedukuhan itu. Karena bulan bersinar terang, penduduk mengira sudah pagi. Perawan desa bergegas mengambil padi dari lumbung, untuk ditumbuk menjadi beras. Sebentar kemudian terdengar ramai, suara antan beradu dengan lesung.
Bunyi orang menumbuk padi itu, telah membangunkan ayam milik penduduk pedukuhan. Binatang itu berlari ke tempat orang yang sedang menumbuk padi, untuk mencari ceceran gabah di sekitarnya. Semakin ramailah ditempat itu oleh adanya suara ayam mengais gabah, yang kadang diselingi suara kokok ayam jantan bersahut-sahutan. Terkejutlah para santri mendengar suara kokok ayam, dan mereka mengira hari sudah pagi. Lemaslah tubuh mereka semua, karena upaya mendirikan masjid dalam semalam telah gagal. Sambil menggerutu mereka membongkar masjid yang hampir jadi, dan diusung ke pinggir sungai untuk diikat menjadi rakit.
Ketika para santri sedang membongkar bangunan masjid, ternyata bulan masih bersinar tinggi di atas. Barulah mereka semua sadar, bahwa saat itu masih tengah malam. Mereka mencari arah datangnya suara kokok ayam, yang ternyata dari tempat para perawan yang menumbuk padi. Karena badan lelah kurang tidur, ada seorang santri mengeluarkan umpatan kepada para perawan desa itu.
Konon dalam umpatannya mengatakan, sampai besok di dukuh itu akan selalu ada perawan tidak laku kawin. Menurut cerita masyarakat desa Ngroto sekarang, umpatan itu ternyata menjadi kenyataan. Konon sejak dulu hingga sekarang, di desa Ngroto selalu ada perawan desa tidak laku kawin. Apakah hal itu disebabkan umpatan santri zaman dulu

wa llahu a’lam bish shawab.

Bekas tempat akan didirikannya masjid tersebut, oleh penduduk pedukuhan diberinya nama ”Batur Sigit ”, (batur artinya tanah yang tinggi, sedangkan sigit artinya masjid). Karena tanah itu sampai sekarang terkenal wingit, sehingga masyarakat desa Ngroto tidak ada yang berani menggunakannya sebagai ladang atau tempat tinggal.
LEGENDA ULAR SUCI

LEGENDA ULAR SUCI

00:53 0
LEGENDA ULAR SUCI
Pada masa Kerajaan Majapahit ada seseorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwijendra atau Dang Hyang Nirarta.Beliau dikenal sebagai Tokoh penyebaran ajaran Agama Hindu dengan nama “Dharma Yatra “.Di Lombok beliau dikenal dengan nama “Tuan Semeru” atau guru dari Semeru (sebuah nama Gunung di Jawa Timur).
Pura Luhur Tanah Lot
Pada waktu beliau datang ke Bali untuk menjalankan misinya,yang berkuasa di Bali saat itu adalah Raja Dalem Waturenggong yang menyambut beliau dengan sangat hormat. Beliau menyebarkan agama Hindu sampai ke pelosok-pelosok Pulau Bali. Suatu ketika pada saat beliau menjalankan tugasnya, beliau melihat sinar suci dari arah tenggara dan beliau mengikutinya sampai pada sumbernya yang ternyata adalah sebuah sumber mata air. Tidak jauh dari tempat itu beliau menemukan sebuah tempat yang sangat indah yang disebut “Gili Beo”(Gili artinya Batu Karang dan Beo artinya Burung) jadi tempat itu adalah sebuah Batu Karang yang berbentuk burung.
Ditempat inilah beliau melakukan meditasi dan pemujaan terhadap Dewa Penguasa Laut. Lokasi tempat Batu Karang ini termasuk dalam daerah Desa Beraban,dimana di desa tersebut dikepalai oleh seorang pemimpin suci yang disebut “Bendesa Beraban Sakti”.Sebelumnya masyarakat Desa Beraban menganut ajaran monotheisme(percaya dan bersandar hanya pada satu orang pemimpin yang menjadi utusan Tuhan sperti Nabi)dalam waktu yang singkat banyak masyarakat Desa Beraban ini mengikuti ajaran Dang Hyang Nirarta yang kemudian membuat Bendesa Beraban Sakti sangat marah dan mengajak pengikutnya yang masih setia untuk mengusir Bhagawan suci ini.
Dengan kekuatan spiritual yang dimiliki Dhang Hyang Nirarta,beliau melindungi diri dari serangan Bendesa Baraban dengan memindahkan batu karang besar tempat beliau bermeditasi (Gili Beo) ke tengah lautan dan menciptakan banyak ular dengan selendangnya di sekitar batu karang sebagai pelindung dan penjaga tempat tersebut.Kemudian beliau memberi nama tempat itu “Tanah Lot” yang berarti Tanah di tengah Laut.
Akhirnya Bendesa Beraban mengakui kesaktian dan kekuatan spiritual dari Dang Hyang Nirarta,dan akhirnya Bendesa Beraban menjadi pengikut setia dan ikut menyebarkan ajaran Agama Hindu kepada penduduk setempat.Sebagai tanda terima kasih sebelum melanjutkan perjalanan beliau memberikan sebuah keris kepada Bendesa Beraban yang dikenal dengan nama “Keris Jaramenara atau Keris Ki Baru Gajah”.Saat ini keris itu disimpan di Puri Kediri yang sangat dikeramatkan dan di upacarai setiap hari raya Kuningan.Dan upacara tersebut di adakan di Pura Tanah Lot setiap 210 hari sekali,yakni pada “Buda Wage Lengkir”sesuai dengan penanggalan Kalender Bali.
Holy snake/ Ular Suci (Ular Poleng)
Jadi, menurut legenda ular ini merupakan jelmaan dari selendang yang dimiliki oleh Dhang Hyang Nirarta untuk menjaga Tanah Lot ini. Dari cerita ini, pasti kawan-kawan merasa kaget karena ular yang memiliki nama spesies Bungarus Candidus ini masih hidup sampai SEKARANG dari jaman tersebut.
Ular suci ini memiliki banyak nama, diantaranya Bungarus Candidus, Holy Snake, Ular Weling, Ular Belang, Blue Krait atau Malayan Krait. Nama weling berasal dari bahasa jawa yaitu welang-weling menunjuk kepada pola belang hitam-putih seperti warna kulit ular ini. Ular ini memiliki panjang maksimal hanya 2m dan penyebaran ular ini meliputi wilayah-wilayah dekat pantai hingga daerah pegunungan. Ular welang dikategorikan amat berbahaya karena bisanya yang bersifat mematikan, meskipun laporan kematian pada manusia akibat gigitan ular ini termasuk rendah.
Proses Wawancara dengan narasumber
Setelah kami observasi dan mengulas informasi dengan beberapa narasumber, kita mendapatkan informasi yang penting dan tak kalah menarik loh dari fakta-fakta yang umum tentang ular suci ini. Ada juga beberapa mitos yang terkandung.
Yang pertama kami mendapatkan informasi dari narasumber ular ini berusia ratusan abad. Jika dari sudut pandang analogika tidak mungkin ular spesies ini dapat hidup selama itu, namun dari sudut pandang cerita legenda “Dhang Hyang Nirarta menciptakan banyak ular dengan selendangnya di sekitar batu karang sebagai pelindung dan penjaga tempat tersebut”. Istilah “banyak” dari secuil kata legenda dapat diartikan ular tersebut dapat bertahan di Tanah Lot dengan cara berkembangbiak agar populasi spesies ular ini tidak punah di Tanah Lot.
Yang kedua, mengapa ular suci ini tidak ditempatkan di pure saja agar lebih dirawat?. Menurut mitosnya memang ular ini dijaga habitatnya yang berada di gua untuk menjaga area pure, maka masyarakat sengaja menempatkannya di gua didepan pure luhur.
Yang ketiga, apa yang terjadi jika ada orang yang bermaksud berbuat tidak senonoh kepada ular suci ini? Celakakah? Bahayakah?. Jawabannya, Ya… karena jenis ular ini ular beracun, Jika hal ini dipikir secara ilhmiah. Namun, jika menurut kepercayaan, orang yang melakukan hal tidak baik terhadap ular ini akan terkena suatu hal yang buruk dan mengerikan.
Yang keempat, kami mendapat informasi pengalaman dari salah satu pawang ular suci tersebut. Pernah ada suatu hal buruk yang terjadi pada seseorang yang berniat jahat dengan ular ini. ‘’Dulu pernah ada kejadian ada 2 orang laki-laki berwisata atau apa saya nggak tau, tapi kayaknya 2 orang itu bermaksud jahat entah apa, tiba-tiba waktu keluar tanah lot 2 orang itu kesurupan, dan syaratnya jika ingin sembuh harus diantar ke laut tanah lot dan dikeluarkan makhluk gaibnya, ada yang bilang kalau ‘’itu’’ adalah penjaga tanah lot yang diyakini oleh warga sekitar.
Yang kelima, dengan sebutan ular suci, mengapa para tourist tetap diizinkan mengunjunginya, padahal ular ini dianggap suci? Jawabannya, karena Pure Luhur yang diciptakan oleh legenda tersebut lebih suci dan hanya boleh dimasuki umat Hindhu, maka jika ular ini diletakkan di pure, maka kesucian pure akan berkurang terus menerus karena adanya tourist yang terus berdatangan hanya melihat ular. Maka dari itu ular suci ini sengaja dibiarkan hidup di habitatnya yaitu di gua tanah lot.
 Yang keenam, ular suci ini memiliki hubungan dengan air suci di tanah lot, pernah ditemukan terdapat terowongan antara goa ular suci ke tempat air suci.


Dari pernyataan-pernyataan diatas kami telah membeberkan semua fakta-fakta khusus tentang ular suci di tanah lot tersebut berdasarkan Informasi dari Narasumber. Dan dapat disimpulkan bahwa semua fakta yang terkandung tergantung pada kepercayaan kalian masing-masing. Dan jika kalian ingin melihat ular suci ini datanglah saat sore hari karena ular ini adalah hewan nocturnal. Kita dapat menarik garis kesimpulan bahwa sejarah asal mula munculnya ular suci sebenarnya hanyalah mitos yang telah dipercayai masyarakat setempat. Dan yang membuat pengunjung teratarik dengan ular suci ini karena cerita masyarakat yang telah mendarah daging.
MENGAPA PERANG BAYU LAYAK DIKENANG

MENGAPA PERANG BAYU LAYAK DIKENANG

07:38 0
MENGAPA PERANG BAYU LAYAK DIKENANG
(Oleh: Hasan Ali)

Perang Bayu adalah peperangan yang terjadi antara pasukan VOC Belanda dengan pejuang-pejuang Blambangan pada tahun 1771-1772 di Songgon.
Peperangan ini oleh pihak Belanda sendiri diakui sebagai peperangan yang paling menegangkan, paling kejam dan paling banyak memakan korban dari semua peperangan yang pernah dilakukan oleh VOC Belanda di manapun di Indonesia (Lekkerkerker, 1923 : 1056).
Di pihak Blambangan, peperangan ini merupakan peperangan yang sangat heroik-patriotik dan membanggakan, yang patut dicatat, dikenang dan dijadikan suri tauladan bagi anak cucu kita dalam mencintai, membela dan membangun daerahnya, Bumi Blambangan.
Dalam Perang Bayu tersebut pejuang-pejuang Blambangan dipimpin oleh Rempeg, seorang buyut Pangeran Tawang Alun, putra Mas Bagus Puri (Dalem Wiraguna) dengan ibu dari desa Pakis (Pigeaud, 1932: 255).
Mas Rempeg ini oleh pengikutnya dipercaya sebagai titisan Agung Wilis yang legendaris. Karena itu oleh Belanda, Mas Rempeg disebut dengan sebutan “Pseudo Wilis “, Wilis-semu. 
Mas Rempeg dengan hampir seluruh pengikutnya, seperti Patih Jagalara, Mas Ayu (Sayu) Wiwit, Bekel Utun, Udhuh, Runteb dan lain-lain, gugur dengan gagah berani dalam Perang Puputan Bayu tersebut.

Beberapa hal yang patut dicatat sebagai luar biasa dalam Perang Puputan Bayu ini antara lain:
1. Perang Bayu ini, yang memuncak pada tanggal 18 Desember 1771, diakui oleh Belanda sendiri sebagai peperangan yang paling menegangkan, paling kejam, dan paling banyak memakan kurban dari semua peperangan yang pernah dilakukan VOC dimanapun di seluruh Indonesia (Ibid. 1923 : 1056).

2. Begitu kejamnya dan penuh dendam peperangan yang terjadi di bayu tersebut, sampai-sampai apabila ada pasukan VOC yang tertangkap pejuang Blambangan, seperti yang terjadi antara lain pada Letnan Van Schaar, kepalanya dipotong, ditancapkan di ujung tombak, dan diarak keliling desa. Demikian juga sebaliknya, dari hampir semua pejuang Blambangan yang tertangkap di Bayu, kepalanya dipotong dan digantung-gantungkan di pohon-pohon atau ditancap-tancapkan di tonggak-tonggak pagar di sepanjang jalan desa (Ibid . 19123 : 1059). Kiranya sulit untuk dapat kita temukan kekejaman peperangan lokal seperti yang terjadi di Bayu ini di daerah-daerah lain di Indonesia.
3. Dari sejumlah 2.505 sisa pejuang Blambangan yang ditawan dan dibawa ke benteng Teluk Pangpang/Muncar, tidak sedikit yang dihukum mati dengan menenggelamkannya ke laut, disiksa dan direjam sampai mati (Ibid . 1923 : 1060). Suatu hukuman yang lebih bersifat “balas dendam” dari pada sekedar melakukan “hukuman” kepada musuh.
4. Untuk menghadapi Perang Bayu ini VOC telah mengerahkan tidak kurang dari 10.000 personil. (dengan peralatan lengkap dan senjata berat) yang didatangkan dari seluruh Jawa: dari garnisun-garnisun Batavia. Semarang (Korp Dragonders), Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Madura dan dari daerah-daerah pantai utara Jawa Timur (Ibid. 1923: 1057-1059). Suatu jumlah yang yang luar biasa besar menurut keadaan pada waktu itu.
5. Peperangan di Bayu ini telah memakan kurban tidak kurang 60.000 rakyat Blambangan yang gugur, hilang, atau menyingkir ke hutan (Epp. 1849 : 347). Namun perlulah diketahui bahwa jumlah penduduk seluruh Blambangan pada waklu itu tidak sampai 65.000 orang..! J.C . Bosc h. seorang pejabat Pemerintahan Belanda pernah menulis dari Bondowoso pada tahun 1848;
"…daerah inilah barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang satu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali …" (Anderson, 1982: 75 – 76).

6. Untuk merebut Blambangan, khususnya untuk peperangan di Bayu ini, VOC telah menghabiskan dana seharga 8 (delapan)’ Ton emas yang merupakan pukulan telak terhadap keuangan VOC pada waktu itu. Pimpinan VOC di Batavia kemuclian menghitungnya sebagai “tidak sumbut”, tidak sesuai dengan kemungkinan apa yang dapat diperoleh sebagai imbalan dari Blambangan (Op. cit. 1823 : 1067).
7. Perang Bayu memang berakhir pada tanggal 11 Oktober 1772, namun perlawanan rakyat dalam benluk pemberontakan-pemberontakan lokal masih terjadi di berbagai daerah di Blambangan sampai berpuluh tahun kemudian (1815), yang dipimpin oleh sisa-sisa pasukan Bayu yang membandel dan pantang menyerah, yang oleh orang-orang Belanda dikatakan sebagai orang-orang Bayu yang “liar” (Lekkerkerker, 1926 : 401-402)
Lanjar Maibit.

Lanjar Maibit.

09:03 0

Di suatu ketika di desa maibit hiduplah seorang janda yang bernama Sri Penganti dan adiknya bernama Joko Grenteng.mereka tinggal di dekat sendang ( perairan terbuka/semacam kolam kecil).
keindahan dan kecantikan janda itu sangatlah terkenal,banyak pemuda yang mengagumi kecantikannya,salah satunya Dalang Budoyo (dari desa maner).
suatu ketika saat Sri Penganti atau biasa di sebut Lanjar Maibit (lanjar yang artinya semasa dia menikah belum pernah melakukan hubungan suami istri) sedang mandi di sendang tiba tiba Dalang Budoyo datang karena dia sangat mengagumi kecantikan Lanjar Maibit dia melihat Lanjar Maibit sedang mandi lalu dia naik ke atas pohon yang berada tak jauh dari tempat pemandian untuk memperhatikan Lanjar Maibit mandi dari atas pohon.tak sengaja lanjar maibit melihat bayangan di air yaitu bayangan Dalang Budoyo yang sedang memperhatikannya mandi dari atas pohon.saat melihat bayangan itu seketika Lanjar Maibit memakai selendangnya atau baju dan pergi meninggalkan tempat pemandiaanya.ternyata cincin Llanjar tertinggal di batu,Dalang Budoyo melihat cincin tersebut dan mengambilnya walaupun dia tidak bisa memiliki hati lanjar maibit tapi dia cukup senang mendapatkan cincin dari wanita yang sangatdi cintainya.
Selain Dalang Budoyo ada Begendung Kuwon (dari desa Pekuwon),Minak Jepolo (dari desa Sawahan/Logawe) dan masih banyak pemuda yang mengagumi Lanjar Maibit dan ingin menikahinya tapi mereka semua tidak ada yang bisa meluluhkan hati Lanjar Maibit.
Suatu ketika ada pemuda tampan yang bernama Minak Anggrang(dari padangan) putra Bupati Padangan sedang berburu burung di dekat sendang dia bertemu Lanjar Maibit dan dia terpesona oleh kecantikan sang Lanjar Maibit pada saat itu juga dia lansung jatuh cinta pada Lanjar ternyata Lanjar pun juga menyukai Minak Anggrang dan mereka pun menikah.
Suatu hari Minak Anggrang melihat istrinya sedang bersama pemuda pemuda itu tidak lain adalah Joko Grenteng yaitu adik dari Lanjar Maibit karena Minak Anggrang melihat kedekatan mereka diapun cemburu dan curiga kemudian Minak Anggrang menuduh bahwa JokoGrenteng selingkuhan Lanjar Maibit.Joko Grenteng menjelaskan bahwa mereka bersaudara,tetapi Minak Anggrang tidak mempercayainya dan Minak Anggrang menyuruh mereka membuktikan kalau mereka benar benar bersaudara.kemudian Joko Grenteng dan Lanjar Maibit setuju untuk melakukan bunuh diri berdasarkan syarat yang di berikan Minak Anggrang untuk membuktikan bahwa mereka bersaudara dan mereka tidak berselingkuh.jika posisi kepala mayat mereka berdua berbeda dengan posisi saat mereka di kubur(kepala bersingkuran)membuktikan bahwa mereka benar benar bersaudara dan mereka tidak bersalah dan jika posisi kepala mereka tidak berubah atau tetap pada posisi mereka saat di kuburkan(kepala saling berhadapan) itu berarti mereka membuktikan tidak bersaudara dan mereka bersalah.beberapa hari setelah kematian Joko Grenteng dan Lanjar Maibit Minak Anggrang mengali kuburan Joko Grenteng dan Lanjar untuk melihat posisi kepala mereka.dan ternyata posisi kepala mereka berdua berbeda dengan posisi mereka pada saat di kubur (kepala bersingkuran)yang artinya mereka benar benar bersaudara dan mereka tidak bersalah.mengetahui itu Minak Anggang sangat terkejut dan sangat menyesal karena dia tidak percaya pada penjelasan Joko Grenteng dan istri yang sangat di cintainya Lanjar Maibit
Penyesalan pada diri Minak Anggrang terus terasa setiap saat sampai Minak Anggrang jatuh sakit kemudian ajal menjemputnya.
Dari kejadian itu menjelaskan bahwa Lanjar Maibit memiliki kesatuan cantik luar maupun dalamdan kemurnian cinta yang di miliki oleh seorang wanita.oleh karena itu untuk menghormati kemurnian Lanjar Maibit orang orang di desa Maibit menyebut daerah di sekitar sendang sebagai sendang Lanjar Maibit.
KOMIK PETRUK GARENG

KOMIK PETRUK GARENG

21:33 0
KOMIK PETRUK GARENG Bagi anak-anak yang tumbuh di tahun 1980-an sampai awal 1990-an, pasti tidak melewatkan komik Petruk-Gareng karya Tatang S. Komik Petruk-Gareng Tatang S. dicetak dalam kertas murahan. Hitam-putih. Tidak ada gambar berwarna kecuali halaman sampul. Setiap halaman komik umumnya hanya terdiri dari dua panel. Yang juga paling diingat dari komik Petruk-Gareng rekaan Tatang S. tentulah ceritanya. Cerita biasanya berlangsung di Desa Tumaritis, tempat Petruk, Gareng, Bagong, dan ayah mereka, Semar, tinggal. Dan, pembaca setianya pasti ingat ada dua tema cerita yang sering disodorkan Tatang lewat komik petruk-Gareng-nya: yaitu kisah mistis Petruk ketemu/digoda setan, hantu, dedemit, dan sebangsanya; serta Petruk dan/atau Gareng jadi superhero pahlawan Tumaritis (Megaloman Tumaritis, Batman Tumaritis, Superman Tumaritis) yang siap membasmi kejahatan. Kisah Petruk/Gareng ketemu setan sangat tipikal, dan di kemudian hari paling dikenang pembacanya. Biasanya, Petruk ketemu gadis cantik bahenol di tengah jalan sendirian. Bersikap gentleman dengan berharap bisa dijadikan pacar, Petruk menawarkan diri mengantar sang gadis pulang. Nah, biasanya, si gadis minta diantar ke rumahnya di suatu tempat. Petruk sadar tempat yang dimaksud kuburan, lantas bertanya pada sang gadis cantik nan bahenol tadi. Pada bagian ini, kemudian si gadis memperlihatkan jati diri aslinya: sesosok setan menyeramkan dengan lidah terjulur dan buah dada menggantung. Petruk lantas lari terbirit-birit. Kali lain, Petruk bermalam di rumah si gadis. Eh, begitu bangun di pagi hari, ia berada di atas kuburan, bukan di rumah gedong. Tatang sangat jago menggambar cewek cantik nan bahenol. Karakter cewek-cewek komik Petruk-Gareng Tatang S. selalu digambarkan berparas cantik dengan rambut panjang terjuntai dan dada yang montok. Petruk-Gareng memang bukan tokoh sembarangan. Mereka dibuat seolah-olah berasal dari pinggiran Jakarta, punya impian, namun mewakili kesialan rakyat kecil yang kadang mimpinya tergilas nasib kejam ibu kota. Ceritanya juga sangat sederhana. Kadang Petruk-Gareng mengisi waktu luang dengan memancing, kerja serabutan, selalu kantong kempes (tongpes) alias gak punya duit, hingga cinta tanah air sebab terlalu terlibat kegiatan ronda.