RATU SIMA

19:48 0
Shima adalah ratu penguasa Kerajaan Kalingga yang terletak di pantai utara Jawa Tengah sekitar tahun 674 Masehi. Ia menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan, serta untuk mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur. Tradisi mengisahkan seorang raja asing yang meletakkan kantung berisi emas di tengah-tengah persimpangan jalan dekat alun-alun ibu kota Kalingga. Raja asing ini melakukan hal itu karena ia mendengar kabar tentang kejujuran rakyat Kalingga dan berniat menguji kebenaran kabar itu. Tidak seorangpun berani menyentuh kantung yang bukan miliknya itu, hingga suatu hari tiga tahun kemudian, seorang putra Shima, sang putra mahkota secara tidak sengaja menyentuh kantung itu dengan kakinya. Mulanya Sang Ratu menjatuhkan hukuman mati untuk putranya, akan tetapi para pejabat dan menteri kerajaan memohon agar Sang Ratu mengurungkan niatnya itu dan mengampuni sang pangeran. Karena kaki sang pangeran yang menyentuh barang yang bukan miliknya itu, maka Ratu menjatuhkan hukuman memotong kaki sang pangeran.

Menurut Carita Parahyangan Cicit Ratu Shima adalah Sanjaya yang menjadi Raja Galuh, dan menurut Prasasti Canggal adalah pendiri Kerajaan Medang di Mataram.
Berdasarkan Naskah Wangsakerta disebutkan bahwa Ratu Shima berbesan dengan penguasa terakhir Tarumanegara.
Kerajaan Kalingga
Kalingga atau Ho-ling (sebutan dari sumber Tiongkok) adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6 masehi. Sumber sejarah kerajaan ini , kebanyakan diperoleh dari sumber catatan China, tradisi kisah setempat, dan naskah Carita Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian pada abad ke-16 menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.
Cerita Parahayangan
Berdasarkan naskah Carita Parahyangan yang berasal dari abad ke-16, putri Maharani Shima, Parwati, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh. Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu Brantasenawa. Sanaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M).
Setelah Maharani Shima meninggal pada tahun 732 M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.
Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada putranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban. Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran.
Pada abad ke-5 muncul Kerajaan Ho-ling (atau Kalingga) yang diperkirakan terletak di utara Jawa Tengah. Keterangan tentang Kerajaan Ho-ling didapat dari prasasti dan catatan dari negeri Cina. Pada tahun 752, Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah taklukan Sriwijaya dikarenakan kerajaan ini menjadi bagian jaringan perdagangan Hindu, bersama Malayu dan Tarumanagara yang sebelumnya telah ditaklukan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Buddha.
Fakta
Di Puncak Rahtawu (Gunung Muria) dekat dengan Kecamatan Keling, Jepara di sana terdapat empat arca batu, yaitu arca Batara Guru, Narada, Togog, dan Wisnu. Sampai sekarang belum ada yang bisa memastikan bagaimana mengangkut arca tersebut ke puncak itu mengingat medan yang begitu berat. Pada tahun 1990, di seputar puncak tersebut, Prof Gunadi[3] dan empat orang tenaga stafnya dari Balai Arkeologi Nasional Yogyakarta (kini Balai Arkeologi Yogyakarta) menemukan Prasasti Rahtawun. Selain empat arca, di kawasan itu ada pula enam tempat pemujaan yang letaknya tersebar dari arah bawah hingga menjelang puncak. Masing-masing diberi nama (pewayangan) Bambang Sakri, Abiyoso, Jonggring Saloko, Sekutrem, Pandu Dewonoto, dan Kamunoyoso.
Berita Cina
Berita keberadaan Ho-ling juga dapat diperoleh dari berita yang berasal dari zaman Dinasti Tang dan catatan I-Tsing.
Catatan dari zaman Dinasti Tang
Cerita Cina pada zaman Dinasti Tang (618 M - 906 M) memberikan tentang keterangan Ho-ling sebagai berikut.
Ho-ling atau disebut Jawa terletak di Lautan Selatan. Di sebelah utaranya terletak Ta Hen La (Kamboja), di sebelah timurnya terletak Po-Li (Pulau Bali) dan di sebelah barat terletak Pulau Sumatera.
Ibukota Ho-ling dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.
Raja tinggal di suatu bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan singgasananya terbuat dari gading.
Penduduk Kerajaan Ho-ling sudah pandai membuat minuman keras dari bunga kelapa
Daerah Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah.

Catatan dari berita Cina ini juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Ho-ling diperintah oleh Ratu Hsi-mo (Shima). Ia adalah seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Ho-ling sangat aman dan tentram.
Catatan I-Tsing
Catatan I-Tsing (tahun 664/665 M) menyebutkan bahwa pada abad ke-7 tanah Jawa telah menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha Hinayana. Di Ho-ling ada pendeta Cina bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam Bahasa Cina. Ia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra. Kitab terjemahan itu antara lain memuat cerita tentang Nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita Nirwana dalam agama Buddha Hinayana.
Peninggalan Kerajaan Ho-ling adalah:
Prasasti Tukmas
Prasasti Tukmas ditemukan di ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang di Jawa Tengah. Prasasti bertuliskan huruf Pallawa yang berbahasa Sanskerta. Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa
Prasasti Sojomerto
Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuna dan berasal dari sekitar abad ke-7 masehi. Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu.
Candi Angin
Candi Angin ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Candi Bubrah, Jepara
Candi Bubrah ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Kedua temuan prasasti ini menunjukkan bahwa kawasan pantai utara Jawa Tengah dahulu berkembang kerajaan yang bercorak Hindu Siwais. Catatan ini menunjukkan kemungkinan adanya hubungan dengan Wangsa Sailendra atau kerajaan Medang yang berkembang kemudian di Jawa Tengah Selatan.
SEJARAH SINGKAT RATU SHIMA
Sejak dulu ternyata Kota Jepara telah menghasilkan 3 tokoh wanita yang sangat tangguh dan fenomenal yang tercatat dalam sejarah Indonesia, yaitu Ratu Shima, Ratu Kalinyamat serta RA Kartini. Presiden Soekarno pada tanggal 2 Mei 1964 sosok RA. Kartini dinyatakan sebagai pahlawan nasional.
Secara histioris Ratu Shima berasal dari kerajaan Kalingga (sekitar abad ke 6). Ratu Shima merupakan sosok pimpinan yang jujur adil dan tegas sehingga sangat dicintai oleh rakyatnya. Sebagai penguasa tunggal di Kerajaan Kalingga, Ratu Shima dikenal memiliki peraturan yang tegas soal pencurian. Hukum potong tangan diterapkan bagi siapa saja yang mencuri barang milik orang lain. Hukum yang dibuat itupun berlaku untuk seluruh rakyat termasuk keluarga kerajaan. Sebuah bentuk persamaan hak di mata hukum. Salah satu perundangan yang benar-benar dipegang teguh adalah potong tangan terhadap para pencuri, meski yang melakukan hal itu anaknya sendiri sekali pun.
Ratu Shima adalah ratu penguasa Kerajaan Kalingga yang terletak di pantai utara Jawa Tengah sekitar abad 6 M. Ia menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan, dan mengajarkan rakyatnya senantiasa jujur.

Nyidam
Nyidam merupakan hal yang lumrah bagi wanita hamil. Siapa saja tatkala hamil seringkali merasakan yang namanya Nyidam. Bahkan, seorang ratu pun bisa merasakan nyidam saat hamil. Nyidam selalu diidentikan dengan permintaan atau keinginan yang aneh-aneh. Sehingga, seringkali membutuhkan pengorbanan untuk memenuhi nyidam itu. Meski sulit dan butuh pengorbanan nyidam harus terpenuhi, jika nyidamnya tidak terpenuhi, mitos yang beredar luas di masyarakat, konon kelak ketika si jabang bayi lahir akan selalu ngiler (mengeluarkan air liur).
Sebagai wanita, Ratu Shima kala tengah mengandung tujuh bulan pun mengalami rasa nyidam. Meskipun seorang ratu, Ratu Shima kala itu nyidam buah kecapi. Buah yang rame rasanya, manis-asam-segar. Sang Ratu Shima ingin mencari dan memetik sendiri buah yang diingini itu. Ratu Shima tak ingin mengutus punggawanya mencarikan buah tersebut. Pasalnya, Ratu Shima khawatir jika mengutus punggawanya, begitu kembali ke hadapannya buah yang diingini sudag tidak segar lagi.
Dari Keling rombongan berjalan kaki menuju ke arah barat. Setengah hari berjalan Ratu Shima belum juga menemukan buah yang diidamkan itu. Beberapa desa pun sudah dilewati, tapi hasil pencariannya itu masih nihil. Saat tiba di suatu wilayah yang banyak ditumbuhi pohon rembulung, Ratu Shima beserta pengikutnya beristirahat. Kini tempat yang dijadikan peristirahatan tersebut diberi nama Desa Bulungan. Setelah rasa lelah hilang, rombongan kembali melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Baru berjalan beberapa waktu, para punggawa Ratu Shima berteriak, "kecapi... kecapi....kecapi," berulang ulang. Ya, ternyata mereka telah menemukan sejumlah pohon kecapai yang tengah berbuah lebat. Tanpa ragu lagi, Ratu Shima segera turun dari tandunya. Bergegas memetik buah kecapi yang diidamkan itu. Oleh sebab itulah, wilayah di sebelah selatan Desa Bulungan itu kini dinamakan Desa Kecapi

Ada beberapa hal penting yang bertautan positif antara Kerajaan Kalingga yang bercorakkan Hindu Siwais dengan dunia peradaban islam , yaitu dalam sejarah Islam pada tahun 30 Hijriyah atau 651 M Khalifah Ustman bin Affan pernah mengirimkan utusanya ke Daratan Cina dengan misi mengenalkan islam, waktu itu hanya berselang 20 tahun dari wafanya Rasulullah SAW dan utusan tersebut sebelum sampai tujuan bersinggah dulu di Nusantara.
Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan ( 644-657 M) juga pernah mengutus delegasinya bernama Muawiyah bin Abu Sufyan pernah mengirimkan utusanya ke tanah Jawa yaitu ke Jepara (pada saat itu namanya Kalingga). Hasil kunjungan duta Islam ini adalah raja Jay Sima, putra Ratu Sima dari Kalingga, masuk Islam, kemudian kalangan bangsawan Jawa yang memeluk islam adalah Rakeyan Sancang seorang Pangeran dari Tarumanegara, Rakeyan Sancang hidup pada kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (656-661) .
Rakeyan Sancang diceritakan, pernah turut serta membantu Imam Ali dalam pertempuran menalukkan Cyprus, Tripoli dan Afrika Utara, serta ikut membangun kekuasaan Muslim di Iran, Afghanistan dan Sind (644-650 M). Kemudian yang tercatat dalam sejarah raja Sriwijaya yang masuk islam adalah Sri Indravarman setelah kerusuhan Kanton meletus dimana banyak imigran muslim Cina masuk ke wilayah Sriwijaya yang terjadi pada Islam masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (Dinasti Umayyah).

KISAH LAINNYA...
Bila dilihat dari sejarah keberadaan Kerajaan Kalingga, pada pemerintahan Ratu Shima telah terjadi kontak perdagangan dan keagamaan antara Kerajaan Kalingga dengan dengan para peadagang Gujarat yang sebagian besar dari para pedagang Arab dan Persia, kemudian hubungan Kalingga dengan Cina yang juga telah terurai dalam cerita Dinasti Tang dan cerita I-Tsing.
Terjadinya kontak dagang dan keagamaan ini adalah wajar mengingat kerajaan Kalingga adalah kerajaan yang besar yang terletak di daerah Pantai Utara Jepara sehingga Ratu Shima dalam memimpin pemerintahan pada saat itu sudah bisa menyerap berbagai informasi dari dunia luar baik dari Tanah Arab dan Persia (Iran) maupun dari Daratan Cina bahkan Ratu Shima sudah mengetahui agama tauhid yang dibawa Nabi Muhammad SAW, hal ini karena hanya ada sedikit selisih tahun sejak kelahiran Nabi, Nabi Muhammad SAW lahir 20 April 571 jika ditambah umurnya yang hanya 63 tahun lebih 3 hari maka 571+63 = 632 M ( Nabi Muhammad SAW wafat 8 Juni 632 M) , sedangkan Ratu Shima sudah ada mulai tahun 567 M, tidak menutup kemungkinan Ratu Shima pernah hidup sejaman dengan Nabi Muhammad SAW.
Pada prinsipnya Ratu Shima tidak menerapkan hukuman mati/penggal leher pada rakyatnya, melainkan sebatas melakukan penerapan hukuman potong anggota badan bagi mereka yang benar-benar melakukan tindak kejahatan sebagai efek jera bagi siapa saja yang melakukan tindak kejahatan tanpa pandang bulu walaupun anaknya sendiri sekalipun, hal itu dibuktikan sendiri maklumatnya dengan menjatuhkan hukuman potong tangan kanan terhadap anaknya sendiri yang telah melakukan kesalahan, disamping itu penerapan hukuman potong tersebut secara tidak langsung telah mendidik rakyat dan para pegawai kerajaan untuk senantiasa bersikap jujur dan adil pada diri sendiri, keluarga dan negaranya.
Kondisi penerapan hukum yang adil, tegas dan tidak pandang bulu berimplikasi terhadap turunya tindak kejahatan di wilayah Kerajaan Kalingga yang mendorong terwujudnya pola tatanan pemerintahan yang stabil, kondusif, aman, nyaman dan sejahtera.

Kisah Lain lagi Ratu Shima
Setelah di teliti akhirnya para ahli sejarah menyatakan bahwa Kalingga adalah sebuah kerajaan yang berada di daerah Keling Jepara, bernama Kerajaan Kalingga yang diperintah oleh seorang Ratu bernama Shima. Ratu Shima memerintah kerajaan Kalingga dengan sangat keras, tetapi adil dan bijaksana. Semua rakyat tunduk dan tidak ada yang berani melanggar perintahnya, dalam menegakkan keadilan dan hukum, Ratu Shima tidak pandang bulu, potong tangan dan potong kaki. Walaupun dari keluarga kerajaan, tidak pandang bulu.
Dari segi kehidupan Kerajaan Kalingga yang diperintah oleh Ratu Shima, perekonomiannnya sangat maju. Pasar, pelayaran, pelabuhan sangat ramai. Pada abad ke tujuh kerajaan Kalingga sudah memasuki peradaban dan kemajuan yang sangat pesat, serta di kenal sampai di Semenanjung Malaya,Thailand dan Negara Negara di Asia.
Pada tahun 1960 seorang petani di Keling Jepara menemukan benda-benda peninggalan Kerajaan Kalingga berupa cincin, gelang, liontin dan lain-lain. Kala itu saya melihat benda-benda bersejarah tersebut sempat dipamerkan di kota. Benda-benda Ratu Shima bersejarah kemudian diserahkan ke Museum Jakarta. Dengan ditemukannya benda purbakala bersejarah tersebut adalah bukti bahwa Kerajaan Kalingga yang diperintah oleh Ratu Shima, kerajaannya benar-benar ada di daerah Keling Jepara, bukan daerah Keling Malaya.
Pada tahun 1989 seorang Ustadz bernama H. Saidan akan melakukan ekspedisi kilas balik keabad ke tujuh. Guna meneliti dan membuktikan keberadaan Kerajaan Kalingga, di daerah Keling Jepara, sewaktu diperintah oleh seorang Ratu yang adil, bijaksana dan terkenal sampai di Negara Cina pada zaman Dinasti Tang sekitar tahun 664-665.
Rencana melakukan ekspedisi kilas balik telah dipersiapkan dengan matang, si Ustadz akan mendeteksi dan menerawang lokasi dimana kerajaan Holing atau Kalingga pernah berdiri. Persiapan petualangan akan diperkirakan selama tiga hari tiga malam dalam memasuki hutan yang angker dan penuh misteri. Mahluk halus jin, gendruwo, syetan, demit yang di sinyalir banyak gentayangan dan menempati bekas puing-puing kerajaan Kalingga. Ustadz H. Saidan seorang petualang, kemungkinan akan di ganggu oleh orang-orang jahat. Bagi Ustadz H. Saidan tidak ada masalah, ilmu dan kekuatan Asma’ akan mampu menangkis segala kejahatan, sudah dimiliki. Binatang-binatang buas, macan, ular dan lain-lain, tidak ada masalah sudah di antisipasi. Nasi kering dan air putih telah dibawa untuk memasuki hutan, sebagai bekal konsumsi. Jarak dari kota Jepara ke arah keling sekitar 35 km. Setelah sampai desa sekitar hutan, Ustadz H Saidan disarankan oleh penduduk setempat agar jangan melanjutkan perjalanan memasuki hutan, karena sangat berbahaya. Ustadz H. Saidan telah memasuki hutan lebat yang disinyalir adalah bekas lokasi Kerajaan Holing/Kalingga. Ustadz H. Saidan telah bersiap memusatkan konsentrasi fokus. Ilmu pertama untuk melihat isi bumi dan langit adalah ilmu “Membedah bumi dan memeras langit” setelah itu akan kelihatan isi yang ada dibumi dan di langit terlihat jelas. Lebih akurat dari pada radar, dan alat canggih zaman sekarang.
Akhirnya keluarlah Ratu Shima sosok yang gagah perkasa, tinggi besar memakai mahkota bertahta permata dan batu merah delima di posisi depan mahkota. Terjadi dialog panjang, kemudian mahkota dilepas dipakaikan oleh Ratu Shima keatas kepala Ustadz H. Saidan. Satu hal yang luar biasa, begitu Ustadz H. Saidan memakai mahkota Ratu Shima, maka dunia terasa ada di pelupuk mata, kelihatan kota di sekitar Jepara, seperti Kudus, Pati, Rembang, Semarang, dan lebih jauh lagi, terlihat sangat jelas. Itu terjadi saat Ustadz H. Saidan dalam posisi berada dekat sekali dengan Ratu Shima.
Peristiwa luar biasa tersebut dalam keadaan sadar, mata terbuka. Disitulah Ustadz H. Saidan tahu, bahwa kalau melihat fisik, bodi dan wajah. Ratu Shima adalah seorang laki-laki, bukan seorang perempuan, ternyata “Raja” bukan seperti dalam buku sejarah.Gagah dan berwibawa. Dua alam menyatu dan bertemu antara Raja Shima dan Ustadz H. Saidan. Kemudian Ustadz H. Saidan diberi benda-benda perhiasan yang berwarna kuning mas. Tetapi akhirnya perhiasan-perhiasan tersebut dikembalikan ke lokasi semula karena bukan dari mas, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Terbukti bahwa kerajaan Holing yang pernah di sinyalir oleh Dinasti Tang dan para ahli sejarah pada tahun 665, berada di semenanjung Keling Malaya, ternyata berada didaerah Keling Jepara Jawa Tengah. Dengan bukti-bukti yang sangat otentik serta melihat keberadaan Raja Shima. Juga pertemuan yang spektakuler Ustadz H.Saidan dengan Raja Shima.

Kisah dari Sumber lain lagi yang serupa
RAJAPUTERI KALINGGA

Di Jawa Tengah, Ratu Sima atau Ratu Simo dengan Kerajaan Kalingganya relatif terkenal. Beberapa kota bahkan sempat mengabadikan nama Sima dan Kalingga sebagai nama jalan di kota-kota tersebut.
Bekas-bekas kerajaan Kalingga sampai saat ini masih banyak terlihat di daerah Dieng. Sementara itu nama Ratu Sima sendiri juga sering dikaitkan dengan sosok wanita yang sangat cantik. Namun siapa sesungguhnya Ratu Sima ini?
Menurut catatan sejarah, Ratu Sima adalah isteri Kartikeyasinga yang menjadi raja Kalingga antara tahun 648 sampai dengan 674 M. Ayahanda Kartikeyasinga adalah Raja Kalingga yang tidak diketahui namanya, yang memerintah antara tahun 632 sampai dengan 648. Sementara itu ibunda Kartikeyasinga berasal dari Kerajaan Melayu Sribuja yang beribukota di Palembang. Raja Melayu Sribuja – yang dikalahkan Sriwijaya tahun 683 M - adalah kakak dari ibunda Prabu Kartikeyasinga Raja Kalingga .
Kalau suami dan nenek moyang suaminya diketahui asal-usulnya, maka siapa sesungguhnya leluhur Ratu Sima sendiri ? Apakah ia seorang wanita kebanyakan yang karena cantik lalu dipersunting oleh anak raja? Ataukah seorang puteri raja taklukan ? Ataukah mungkin anak raja negeri sahabat ? Tidak ada catatan yang jelas. Namun demikian yang hampir dapat dipastikan, Ratu Sima dengan suaminya merupakan leluhur raja-raja di Jawa Tengah, Jawa Timur dan bahkan Jawa Barat pada periode-periode kemudian.
Ratu Sima, pemeluk Hindu Syiwa, semula adalah wanita di belakang layar sewaktu suaminya, Kartikeyasinga, menjadi Raja Kalingga sejak tahun 648. Ratu Sima dengan Kartikeyasinga mempunyai dua orang anak, yaitu Parwati dan Narayana (Iswara) .
Untuk mempererat persahabatan dengan Galuh dengan maksud untuk menghadapi Sriwijaya yang saat itu beraliansi dengan Sunda, Kartikeyasinga dan isterinya Ratu Sima menjodohkan anaknya yang bernama Parwati dengan Amara (Mandiminyak), anak Raja Galuh Wretikandayun .
Parwati, dari perkawinan tersebut, melahirkan Sanaha pada tahun 661/662 M. Dengan perkawinan itu terbentuklah dua blok yang salin berhadapan, yaitu Blok Sriwijaya-Sunda dan Blok Kalingga-Galuh yang notabene sesungguhnya masih termasuk dalam satu rumpun keluarga .
Saat Kartikeyasinga wafat tahun 674, Ratu Sima mengambil alih posisi suaminya sebagai raja sampai dengan tahun 695 M dengan gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara. Dalam pemerintahannya, menantunya, Mandiminyak dan adik iparnya, Narayana, diangkat menjadi pembantu-pembantunya . Pemeritahan di pusat kerajaan oleh Ratu Sima didelegasikan kepada 4 orang menteri yang mengatur negara beserta 28 negara taklukan yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur .
Saat Ratu Sima menggantikan suaminya sebagai Raja Kalingga, Sriwijaya yang saat itu dirajai Sri Jayanasa (berkuasa antara tahun 669-692 M) sedang gencar-gencarnya melakukan ekspansi. Negeri Melayu Sribuja (beribukota di Palembang), asal ibu mertua Ratu Sima, diserbu oleh Sriwijaya sejak tahun 670 M. Lantas pada tahun 675, hampir separuh wilayah Kerajaan Melayu diduduki dan akhirnya tahun 683 M diduduki secara penuh oleh Sriwijaya dengan mengerahkan tentaranya sebanyak sekitar 2 laksa (20.000 orang) . Dengan demikian Sriwijaya dapat menguasai seluruh Sumatera dan Semenanjung Malaya . Pada waktu itu ajakan damai dari Sri Jayanasa ditolak oleh Ratu Sima .
Untuk memperkuat persahabatan yang sudah terjalin sebelumnya dengan Kerajaan Galuh dalam upaya menghadapi Sriwijaya, Ratu Sima menyetujui perkawinan Sena dengan Sanaha. Sena adalah anak Mandiminyak dengan Pohaci Rababu sedangkan Sanaha adalah anak Mandiminyak dengan Parwati. Perkawinan sedarah ini membuahkan anak yang diberi nama Sanjaya (683 M-754 M)
Menurut sejarah, Ratu Sima – yang janda - sempat dipinang oleh Sri Jayanasa. Ratu Sima menolaknya. Oleh sebab itu pada tahun 686 Sriwijaya bermaksud menyerang Kalingga. Mengetahui rencana ini, Tarusbawa, raja Sunda, turun tangan dan mengirim surat kepada Sri Jayanasa bahwa ia tidak setuju dengan rencana itu. Alasannya adalah agar jangan timbul kesan bahwa gara-gara pinangannya ditolak oleh Ratu Sima, maka Sri Jayanasa hendak menyerbu Kalingga. Mau tak mau Sri Jayanasa terpaksa menyetujui usul Tarusbawa, yang juga adalah saudaranya sendiri. Kapal-kapal Kalingga, yang waktu itu sempat ditahan, dilepaskan setelah hartanya dirampas. Tindakan Sriwijaya hanya sekedar mengganggu keamanan laut Kalingga .
Sri Jayanasa Raja Sriwijaya mangkat tahun 692 M dan digantikan oleh Darmaputra (692-704). Sedangkan Ratu Sima mangkat 3 tahun kemudian, yaitu tahun 695 M. Sebelum mangkat, Kerajaan Kalingga dibagi dua. Di bagian utara disebut Bumi Mataram (dirajai oleh Parwati, 695 M-716 M). Di bagian selatan disebut Bumi Sambara (dirajai oleh Narayana, adik Parwati, yang bergelar Iswarakesawa Lingga Jagatnata Buwanatala, 695 M-742 M).
Sanjaya (cucu Parwati) dan Sudiwara (cucu Narayana) kelak menjadi suami isteri. Perkawinan mereka adalah perkawinan antara sesama cicit Ratu Sima. Anak hasil perkawinan mereka bernama Rakai Panangkaran yang lahir tahun 717 M. Dialah yang di kemudian hari menurunkan raja-raja di Jawa Tengah.
Pelajaran yang patut disimak dari riwayat Ratu Sima ini antara lain adalah :
Ratu Sima termasuk manusia yang tidak mau menyerah terhadap kodratnya sebagai wanita. Begitu suaminya meninggal, ia tampil menggantikan. Dalam menghadapi ekspansi Sriwijaya, ia juga tegar bahkan membangun aliansi dengan Kerajaan Galuh.
Drangkum dari berbagai sumber....
LIMA MITOS DI GUNUNG CEREMAI

LIMA MITOS DI GUNUNG CEREMAI

23:31 0

Lima Mitos di Gunung Ciremai
.
Gunung Ciremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Gunung Ciremai yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat mempunyai ketinggian 3.078 Mdpl.
.
Secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat.
.
Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.
.
Seperti umumnya gunung-gunung tinggi lainnya di Indonesia, gunung Ciremai yang berjarak lebih kurang 25 km arah selatan kota Cirebon ini juga memiliki beragam mitos. Berikut mitos-mitos yang melingkupi kemisteriusan gunung Ciremai.
.
1. Tempat Bermusyawarahnya Para Wali.
.
Masyarakat yang tinggal di lingkungan sekitar Gunung Ciremai meyakini gunung itu adalah lokasi pertemuan para Wali Songo. Mitos bahwa Gunung Ciremai merupakan tempat pertemuan para wali tampaknya relevan dengan nama Gunung Ciremai itu sendiri yang berasal dari kata "cerem/pencereman" yang berarti perundingan/musyawarah.
.
Banyak orang yang percaya kalau jalur pendakian gunung Ciremai melalui pos Linggar Jati adalah jalur yang dahulu dipakai Wali Songo untuk menuju Batulingga. Konon Wali Songo dalam melakukan perjalanan mendaki gunung Ciremai di pandu oleh kakeknya Sunan Gunung Jati, salah seorang anggota Wali songo yang tinggal di Cirebon. Pendakian dimulai dari desa Linggar Jati, dan Pos Cibunar adalah tempat pertama rombongan Wali Songo beristirahat.
.
Medan pendakian lewat jalur ini memang terkenal paling sulit di banding dengan jalur-jalur lain seperti dari Palutungan maupun Majalengka. Sampai-sampai kakek Sunan Gunung Jati kelelahan (maklum karena pengaruh usia) pas dipertengahan gunung.
.
Kakek Sunan gunung Jati akhirnya memutuskan untuk tidak meneruskan pendakiannya dan memilih beristirahat dan mempersilahkan rombongan Wali Songo untuk meneruskan pendakian dengan ditemani oleh empat orang pengawal sang kakek.
.
Kakek Sunan Gunung Jati memilih istirahat sembari duduk bersila di atas batu besar. Batu inilah yang sekarang di kenal dengan sebutan Batu Lingga. Karena saking lamanya duduk untuk berkhalwat, sampai-sampai batu tempat duduk ini meninggalkan bekas dan berbentuk daun waru atau jantung.
.
Kakek Sunan Gunung Jati sampai lama di tengah gunung Ciremai karena sampai Walisongo sudah turun, Sang Kakek tidak mau ikut turun dikarenakan malu. Karenanya ada yang menyebutnya Satria Kawirangan.
.
Di bagian atas dari Pos Batu Lingga ada pos Sangga Buana, kalau di perhatikan pohon-pohonnya berbentuk unik. Yakni pucuknya meliuk ke arah bawah semua. Konon para pengawal Sang Kakek yang mestinya menemani Wali Songo ternyata juga tidak kuat meneruskan pendakian.
.
Akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti jejak Sang Kakek. Dan sebagai penghormatan kepada Sang Kakek, mereka membungkukkan badannya ke bawah ke arah Sang Kakek beristirahat. Para pengawal inilah yang konon berubah menjadi pepohonan yang pucuk-pucuknya meliuk ke bawah.
.
Sampailah rombongan Wali Songo di bawah puncak 1 ciremai bertepatan dengan waktu sholat ashar tiba. Wali Songo pun menunaikan sholat jamaah ashar di bawah puncak satu. Usai sholat ashar rombongan Walisongo memutuskan untuk istirahat dan makan bersama.
.
Namun ketika akan mulai memasak, ternyata semua persediaan lauk pauk dan bumbu-bumbunya sudah habis. Cuma ada garam dapur saja yang tersisa. Mungkin inilah yang menjadi asal usul nama Puncak Pengasinan yang merupakan puncak 2 gunung Ciremai. Dinamakan sebagai Puncak Pengasinan karena para wali Songo cuma makan nasi dengan garam yang asin rasanya.
.
Perjalanan Wali Songo pun di lanjutkan sampai ke puncak 1. Dan untuk menghormati Kakek dari Sunan Gunung Jati, Wali Songo berdo'a memohon petunjuk kepada Allah bagaimana cara penghormatan bagi Sang kakek yang sudah bersusah payah ikut memandu pendakian ini. Dengan Izin dan Kuasa Allah SWT, puncak tempat Wali Songo berdiri amblas ke dalam sampai kedalaman yang sejajar dengan tempat Kakek Sunan Gunung Jati beristirahat di Batu Lingga.
.
Sekitar tahun 1521-1530, Sunan Gunung Jati diyakini kembali bertapa di puncak gunung Ciremai. Ketika itu bangsa Portugis begitu kuat menekan para ulama, pejuang dan rakyat kecil. Menjelang peperangan, Sunan Gunung Jati naik ke puncak Ciremai sendirian untuk bertapa, menyendiri dan bermunajad kepada Tuhan.
.
Dari hasil munajad inilah yang diyakini membuat Sunan Gunung Jati memerintahkan Falatehan untuk menyerbu pasukan Portugis di Sunda Kelapa yang mengakibatkan hengkangnya Portugis dari tanah Jawa..
.
2.Nyi Linggi Dan Dua Ekor Macan Tutul
.
Satu mitos yang selalu menjadi perbincangan masyarakat sekitar Gunung Ciremai adalah misteri Nyi Linggi dan dua macan kumbang. Menurut salah satu juru kunci Ciremai, setelah Sunan Gunung Jati tidak bertapa di Batulingga, maka Nyi Linggi datang ke tempat tersebut menggantikan Sunan Gunung Jati.
.
Namun kedatangan Nyi Linggi ke Batulingga tidak sendirian, ia ditemani oleh dua ekor binatang kesayangannya yaitu macan tutul. Kedatangan Nyi Linggi ke Batulingga ingin mendapatkan ilmu kedigdayaan.
.
Tapi sayangnya Nyi Linggi gagal memperoleh ilmu yang diinginkan. Nyi Linggi meninggal dunia di Batulingga sementara pengiringnya yaitu dua ekor macan tutul itu hilang entah ke mana. Kabarnya setelah peristiwa itu kejadian aneh sering terjadi di sekitar Batulingga yaitu munculnya sosok Nyi Linggi dan dua ekor macan tutulnya.
.
3.Singgasana Nyi Pelet
.
Konon, Gunung Ceremai dipercaya sebagai singgasana kerajaan Nini Pelet. Menurut Masruri dalam bukunya berjudul: Rahasia Pelet, Nini Pelet ini merupakan tokoh yang memiliki kesaktian hebat, khususnya di bidang percintaan. Dia adalah tokoh yang merebut kitab "Mantra Asmara" ciptaan tokoh sakti bernama Ki Buyut Mangun Tapa.
.
Salah satu isi dari ajian dalam kitab tersebut adalah ilmu "Jaran Goyang" yang dikenal ampuh mengikat hati lawan jenis. Uniknya, ilmu itu sampai kini masih dipelajari oleh kebanyakan orang, terutama para paranormal.
.
Sementara itu, Ki Buyut Mangun Tapa, si pencipta ilmu "Jaran Goyang", setelah meninggal dimakamkan di Desa Mangun Jaya, Blok Karang Jaya, Indramayu, Jawa Barat. Untuk Masyarakat di sekitar makam itu meyakini sering muncul harimau siluman yang dipercaya peliharaan ki buyut. Konon, harimau itu sering muncul pada tengah malam, khususnya malam Jumat Kliwon dan Selasa Legi.
.
Konon kabarnya Gunung Ceremai menjadi sarang harimau bermata satu. Menurut legenda makhluk itu merupakan tunggangan sekaligus sekutu dari Nini Pelet. Kabarnya, harimau bermata satu itu tinggal di antara rimbun ranting kering yang menyerupai goa di gunung itu. Dari tempat itu dapat terlihat hamparan langit dan awan yang luas. Tak hanya itu, latar gunung Slamet pun dapat terlihat jelas dari tempat itu.
.
4. Jalak Hitam dan Tawon Hitam
.
Ketika perjalanan sudah mencapai Pengalap atau pos VI, berarti pendakian telah mencapai separuh. Dan harus berhati-hati jika sudah memasuki Pengalap atau pos VI. Pengalap berarti jemputan. Di pos Pengalap setiap pendaki akan didatangi dua binatang yang sampai sekarang masih menjadi misteri keberandaannya yaitu Jalak Hitam dan Tawon Hitam. Sampai sekarang tidak ada seorangpun yang tahu mengapa Jalak Hitam selalu mengiringi pendaki dari Pengalap ke Seruni. Dan juga Tawon Hitam yang selalu datang mengganggu.
.
5. Larangan Membuang Air Seni
.
Salah satu mitos yang berkembang soal gunung Ceremai adalah larangan membuang air seni ke tanah. Biasanya pantangan itu diberitahu oleh kuncen gunung Ceremai kepada para pendaki sebelum melanjutkan perjalanannya.
.
Konon, jika tak dituruti akan mendapat bala sehingga para pendaki yang mempercayai pantangan tersebut membuang air seninya kedalam botol atau plastik. Karenanya tak heran sepanjang jalur pendakian gunung Ciremai banyak dahan dan ranting pohon yang digantungi plastik atau botol plastik yang berisi air seni.
.
Pantangan tersebut ujung-ujungnya berdampak pada kerusakan alam gunung Ciremai. Bayangkan dalam beberapa tahun kedepan, berapa banyak pendaki yang akan naik ke gunung ciremai ?. Berapa orang yang percaya pantangan itu dan akan buang air seni dalam botol dan plastik ?. Berapa banyak pula sampah-sampah plastik yang akan bertambah dan merusak ke asrian alam gunung Ciremai ?.
.
Itulah sebagian kecil mitos-mitos tentang gunung Ciremai. Masih banyak mitos lain yang beredar di masyarakat seperti mitos pos Kuburan Kuda, yang dipercaya merupakan kuburan dua kuda tentara Jepang di masa penjajahan. Jika melewati daerah ini sering terdengar ringkikan kuda tanpa ada wujudnya.
.
Ada pula mitos pos Papa Tere yang dianggap angker karena pernah terjadi pembunuhan terhadap seorang anak oleh ayah tirinya. Mitos pos Sangga Buana dan Pengasungan juga dikabarkan angker karena sering terdengar derap langkah kaki para serdadu Jepang. Menurut cerita, tempat ini dulunya menjadi tempat pembuangan tawanan perang dari Indonesia.
.
Belum lagi mitos-mitos yang dikisahkan dari pengalaman para pendaki gunung seperti penampakan kuntilanak, Orang tinggi besar, kakek-kakek jaman dulu, suara aneh angin badai, semua korek api tidak bisa menyala dan masih banyak lagi kejadian tidak masuk akal lainnya sehingga yang menimbulkan mitos-mitos baru.
.
Cerita mistik dari mulut ke mulut ini memang sukar diuji kebenarannya. Dan misteri gunung Ciremai mungkin selamanya akan tetap tak terungkap. Tetapi tidak ada salahnya kita mengetahui cerita-cerita tersebut. Bukan untuk diyakini apalagi ditakuti tetapi untuk menambah wawasan kekayaan tradisi suatu masyarakat.
.
Kepercayaan masyarakat setempat menjadi warna tersendiri ketika berkaitan dengan beredarnya cerita misteri Gunung Ciremai. Bagaimanapun keadaannya, percaya atau tidak semua itu kembali kepada pemikiran dan penilaian masing-masing.
.
Satu hal yang harus dihargai dari mitos gunung Ciremai ini adalah posisinya sebagai salah satu kekayaan cerita rakyat di Jawa Barat. Sebuah khazanah kekayaan cerita atau budaya lisan yang tetap harus dihargai dan dipelihara keasriannya.
KEN AROK - EMPU GANDRING-6

KEN AROK - EMPU GANDRING-6

20:42 0
KEN AROK - EMPU GANDRING-6
Dalam hati penuh keprihatinan Bango Samparan mulai mencari-cari dan akhirnya pada suatu malam, bertemulah di dengan anak itu di tengah jalan! Bukan main girang rasa hati Bango Samparan. Perjumpaann ini dianggapnya pula sebagai petunjuk para Dewata!
“Ken Arok, engkaukah itu?” tergurnya ketika mereka berpapasan di jalan.
“Paman Bango Samparan? Hendak ke manakah, Paman?”
“Mencarimu, anakku. Sudah beberapa hari mencarimu ke Pangkur dan Cempoko, kiranya bertemu di sini.”
“Ada keperluan apakah Paman mencariku?” tanya Ken Arok, kedua kakinya siap untuk melarikan diri kalau orang ini diutus Pak Lurah Lebak untuk menangkapnya.
Bango Samparan bukan seorang bodoh. Dia sudah mendengar tentang kekalahan kekalahan Ken Arok yang menyebabkan Ki dan Nyi Lembong terpaksa menghambakan diri ke di Lebak.

“Aihh, anakku yang baik. Aku sudah mendengar tentang nasibmu yang
amat buruk. Aku merasa kasihan kepadamu dan aku sudah bertemu dengan kedua orang tuamu. Mereka menyerahkan engkau kepadaku untuk memelihara dan mendidikmu.
Marilah, Nak, kau ikut bersamaku ke rumahku dan mulai sekarang engkau kuanggap sebagai anakku sendiri.”

Hampir Ken Arok tak dapat mempercayai pendengarannya sendiri. Dia sudah berkeliaran ke sana sini, sudah sampai ke Dusun Kapundungan, mencari pekerjaan. Akan tetapi siapa memberi pekerjaan kepada seorang anak kecil yang tenaganya belum beberapa kuat? Seringkali dia menderita lapar dan haus, dan hanya hatinya yang kuat dan tabah sajalah yang membuat dia masih dapat bertahan.
Dan kini, dalam perjalanannya menuju ke Dusun Karuman, tiba-tiba saja dia bertemu dengan Ki Bango Samparan, juga seorang penjudi besar, yang tiba-tiba saja menawarkan diri untuk memelihara dan mendidiknya, mengambilnya sebagai anak.
Serta merta dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu. “Terima kasih Paman,terima kasih atas kebaikan hati paman kepada aku, anak yang malang ini...”
Paman?

"Engkau sekarang menjadi anakku, harus menyebut bapak kepadaku, ibu
kepada istriku dan saudara kepada anak-anakku!” kata Bango Samparan dengan girang,membangkitkan Ken Arok dan menggandengnya, membawanya pulang ke Karuman.

Ki Bango Samparan mempunyai dua orang istri. Yang pertama bernama Genuk Buntu.
Nyi Genuk Buntu tidak mempunyai anak, oleh karena itu ketika suaminya membawa pulang Ken Arok menjadi anak angkat, Nyi Genuk girang sekali. Apalagi Ken Arok adalah seorang anak yang berwajah tampan dan bertubuh sehat. Tidak kalah oleh anak-anaktirinya.

Istri ke dua Bango Samparan bernama Tirtoyo dan istri muda inilah yang
mempunyai banyak anak. Ada lima orang anaknya, empat pertama laki-laki bernama Panji Bawuk, Panji Kuncang, Panji Kunal dan Panji Kenengkung, sedangkan yang bungsu seorang anak perempuan bernama Cucupuranti, yang sudah menjadi perawan cilik yang manis, sebaya dengan Ken Arok yang sudah berusia empat belas tahun.

Entah kebetulan, memang para dewa memberkahi Bango Samparan lewat Ken Arok, buktinya, ketika ada perjudian besar-besaran, Bango Samparan mengajak Ken Arok dan diapun memperolah kemenangan yang amat besar! Memang tak dapat disangkal bahwa perjalanan hidup manusia ini banyak sekali dipengeruhi oleh “Hal-hal yang kebetulan!"
Yang dinamakan hal yang kebetulan adalah hal-hal yang terjadi di luar persangkaan kita,di luar perhitungan akal, bahkan kadang-kadang merupakan hal yang agaknya tidak mungkin. Banyak manusia mengalami perubahan hidup yang amat besar hanya karena “kebetulan” itulah!
Dan yang kebetulan ini, yang tak dapat diperhitungkan dengan akal ini, itulah yang mujijat, yang gaib, yang tak terjangkau oleh akal pikiran, seolah-oleh sudah “ada yang mengaturnya”. Padahal, semua yang terjadi itu, betapa pun penuh
rahasia, sesungguhnya bersumber dari diri pribadi. Ada orang bicara tentang rejeki.
Orang boleh mencari makan, boleh mencari uang, akan tetapi rejeki orang tidaklah
sama. Seolah-olah pada diri setiap manusia sudah ada takaran dan ukurannya sendiri-sendiri.
Betapapun banyaknya kita mendapatkan hasil, kalau memang takarannya hanya
segelas kecil, maka selebihnya akan tumpah dari gelas itu, meluap dan meluber akhirnya yang tinggal hanya satu gelas itu saja, entah melalui pembiayaan karena sakit, entah karena kehilangan, kebakaran dan lain lagi. Kalau takarannya itu segentong besar, biar nampak air rejeki mengalir sedikit-sedikit, akhirnya akan penuh juga segentong besar karena tidak ada yang tumpah. Dan besar kecilnya takaran atau ukuran inilah yang terletak pada diri sendiri!

Dengan cara hidup kita, dengan isi batin kita yang lahir menjadi perbuatan-perbuatan, maka “takaran” ini bisa saja membesar maupun mengecil!
Hasil yang diperoleh Bango Samparan dan yang dapat menolong keadaannya yang serba sulit itu membuat dia dan istri pertamanya semakin cinta kepada Ken Arok. Akan tetapi,hal ini menimbulkan iri dalam hati para anak istri muda itu, kecuali Cucupuranti tentu saja karena setelah berkenalan, segera nampak keakraban antara Cucupuranti yang manis dengan Ken Arok yang ganteng.
Justru keakraban agak mesra inilah yang membuat hati istri muda Bango Samparan semakin tidak suka. Mulailah terjadi perselisihan dan bentrokan karena Ken Arok dalam keluaga Ki Bango Samparan.
Sejak kecil Ken Arok adalah anak yang miskin, hanya anak keluarga maling. Akan tetapi justru dalam kemiskinannya itu tumbuh suatu keangkuhan yang bukan bersifat kesombongan melainkan harga diri yang tinggi, tidak mau tunduk dan tidak mau merendah terhadap orang lebih kaya. Demikianlah watak Ken Arok.
Melihat betapa keluarga istri muda ayah angkatnya itu tidak suka kepadanya, pada suatu malam dia minggat dari rumah itu.
“Kakang Arok....!” Tiba-tiba terdengar bisikan halus ketika dia sudah meninggalkan
rumah itu dengan diam-diam, di sebuah jalan tikungan yang sunyi. Dia berhenti dan menoleh. Kiranya Cucupuranti yang memanggilnya dan dia pun membalikkan tubuhnya menghadapi perawan remaja itu.

“Kau kah itu, Puranti? Kenapa kau menyusulku? Katakan saja kepada Bapak Bango
Samparan bahwa aku tidak mau lagi kembali ke sana, aku ingin merantau.”

“Aku tidak disuruh oleh Bapak, Kakang.”
“Habis, mau apa kau menyusulku?”
“Kakang Arok, aku mau ikut kalau kau pergi.”
“Ikut? Ehhh..... kenapa? Bukankah kau tinggal senang-senang di rumah bersama
saudara-saudaramu?”

“Tapi aku..... aku tidak mau kau tinggalkan, Kakang.”
Sesuatu yang aneh terjadi dalam dada Ken Arok. Jantungnya berdebar keras dan dia pun melangkah maju. “Puranti, kenapa begitu?”
“Kakang...... aku akan bersedih kalau kau tidak ada. Aku.... aku senang sekali
bersamamu, Kakang Arok.” Dan anak itu pun menangis.

Ken Arok merangkulnya dan Cucupuranti menangis di pundaknya. Ken Arok mengelus rambut yang panjang halus itu. “Aku pun suka kepadamu, Puranti. Akan tetapi aku harus pergi merantau. Tak baik aku makan nasi orang begitu saja tanpa bekerja yang berarti.
Aku akan merantau mencari pekerjaan, dan kalau kelak aku sudah menjadi orang yang berhasil, aku akan datang, menjumpaimu.”
“Benar, Kakang? Dan kau akan mengajakku untuk hidup bersamamu?”
Ken Arok terkejut. “Hidup.... bersamaku? Maksudmu... maksudmu menjadi.... istriku?”
Dari atas dada Ken Arok, dara itu mengangkat mukanya memandang. Kedua pipinya masih basah. Ia mengangguk.
“Apa engkau tidak mau, kakang? Katakanlah engkau suka padaku?”
“Yaaa..... ya.... aku suka, tapi..... ah, bagaimana nanti sajalah, Puranti. Pendeknya, aku berjanji bahwa kelak aku akan menjemputmu.”
Kau tidak akan lupa kepadaku?” tanya dara itu manja.

“Aku? Lupa padamu? Ah, siapa bisa melupakan perawan manis seperti engkau ini?” Dan entah apa yang menggerakkan, tahu-tahu Ken Arok menundukkan mukanya dan bibirnya menyentuh bibir gadis itu, hidungnya menyentuh pipi. Akan tetapi hanya sebentar saja lalu diangkatnya lagi mukanya yang menjadi merah dan dadanya gemetar.
“Kenapa, Kakang? Lagi, Kakang......!” bisik Cucupuranti.
Ken Arok tidak menjawab, lalu kini mencium dengan hidungnya pada pipi kedua gadis itu dengan penuh kasih sayang, lalu melepaskan pelukannya. “Aku pergi, Puranti!” Dan seperti dikejar setan dia pun lari dari situ.

“Kakang Arok......!” Puranti berteriak mengejar, akan tetapi Ken Arok tidak perduli dan berlari semakin cepat sampai lenyap dan gadis itu tidak mampu mengejarnya lagi,melainkan menangis dan pulang memberi laporan bahwa Ken Arok telah minggat.
Setelah lari agak jauh, Ken Arok berhenti. Napasnya terengah-engah, bukan karena lari tadi melainkan hal lain. Dia merasa terheran-heran dan tidak sadar bahwa dia mulai menginjal akhil balik, masa remaja yang mulai dewasa, sudah menginjak masa birahi.
BERSAMBUNG - KEN AROK - EMPU GANDRING 7.
MISTERI WANGSIT DAN MOKSANYA PRABU SILIWANGI

MISTERI WANGSIT DAN MOKSANYA PRABU SILIWANGI

20:38 0
Misteri Wangsit Siliwangi dan Muksonya (Menghilang) Prabu Siliwangi.
.
“Wangsit Siliwangi selalu mengundang rasa penasaran, sebab amanat ini penuh misteri. Salah satu ungkapan dalam wangsit disebutkan kalau pada suatu saat akan ada yang menelusuri sejarah Sunda yang sebenarnya, hanya semakin menambah rasa penasaran dari novel ini bahwa sejarah Sunda belum benar-benar terkuak.”
Ketegangan antara Prabu Siliwangi dan Pangeran Cakrabuana memuncak setelah hubungan antara Cirebon-Demak semakin mesra di satu pihak, dan di pihak lain Pajajaran sendiri mulai main mata dengan Portugis yang baru menguasai Malaka. Kemesraan hubungan Cirebon-Demak ditandai dengan dipersatukannya para putra kedua negeri itu dalam ikatan perkawinan. Sementara penjajakan kerja sama yang dilakukan Pajajaran dengan Portugis yang membuat Cirebon-Demak panas dingin, dilakukan salah satu alasannya mengantisipasi kekuatan maritim Cirebon-Demak. Pelanggaran Cirebon yang membuat Prabu Siliwangi mempersiapkan pasukan perang secara besar-besaran adalah kenyataan di mana Tumenggung Jagabaya yang diutus untuk menyelesaikan masalah justru tak kembali ke Pajajaran. Pergeseran kehidupan akibat hadirnya Islam ini, dinilai menjadi sumber petaka bagi Pajajaran.

Sejatinya ketidaksenangan Prabu Siliwangi bukan terhadap Kesultanan Cirebon dan Islam semata, melainkan karena hubungan dengan Demak yang terlalu akrab pemicu membuncahnya kemarahan. Selangkah sebelum genderang perang ditabuh, purohita Pajajaran, Ki Purwagalih mengingatkan.
″Cirebon sebenarnya bukan siapa-siapa sekalipun akhir-akhir ini sering berulah. Bukankah Syarif Hidayatullah yang menjadi Susuhunan Jati sekarang adalah putra dari Nyimas Ratu Rarasantang, putri Gusti Prabu sendiri? Bukankah Pangeran Cakrabuana yang tak lain adalah Prabu Anom Walangsungsang, putra Gusti Prabu sendiri? Bagaimana tanggapan negeri-negeri sahabat juga Portugis yang telah bersedia untuk kerja sama, jika seorang kakek memerangi cucunya sendiri dengan pasukan perang luar biasa seperti ini? Ampun Gusti Prabu, aku terlalu lancang bicara seperti ini!” jelas Ki Purwagalih menunduk makin dalam. Prabu Siliwangi mendengus pada angin.
Wangsit Prabu Siliwangi
Wangsit Prabu Siliwangi mengandung hakekat yang sangat tinggi oleh karena di dalamnya digambarkan situasi kondisi sosial beberapa masa utama dengan karakter pemimpinnya dalam kurun waktu perjalanan panjang sejarah negeri ini pasca kepergian Prabu Siliwangi (ngahyang/menghilang). Peristiwa itu ditandai dengan menghilangnya Pajajaran.
Sesuai sabda Prabu Siliwangi bahwa kelak kemudian akan ada banyak orang yang berusaha membuka misteri Pajajaran. Namun yang terjadi mereka yang berusaha mencari hanyalah 0rang-orang sombong dan takabur.
Seperti diungkapkan dalam naskah tersebut berikut ini :
”Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.”
Artinya :
“Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. Dan bahkan berlebihan kalau bicara.”

Namun dalam naskah Wangsit Siliwangi ini dikatakan bahwa pada akhirnya yang mampu membuka misteri Pajajaran adalah sosok yang dikatakan sebagai ”Budak Angon” (Anak Gembala). Sebagai perlambang sosok yang dikatakan oleh Prabu Siliwangi sebagai orang yang baik perangainya.
”Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi.”
Artinya :
”Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri de¬ngan wewangian.”
Selanjutnya dikatakan juga apa yang dilakukan oleh sosok ”Budak Angon” ini sbb :
”Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.”

Artinya :
”Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala; Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng, tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui, tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. Setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.”
Dari bait di atas digambarkan bahwa sosok ”Budak Angon” adalah sosok yang misterius dan tersembunyi. Apa yang dilakukannya bukanlah seperti seorang penggembala pada umumnya, akan tetapi terus berjalan mencari hakekat jawaban dan mengumpulkan apa yang menurut orang lain dianggap sudah tidak berguna atau bermanfaat. Dalam hal ini dilambangkan dengan ranting daun kering dan tunggak pohon. Sehingga secara hakekat yang dimaksudkan semua itu sebenarnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan sejarah kejadian (asal-usul/sebab-musabab) termasuk karya-karya warisan leluhur seperti halnya yang kita baca ini. Dimana hal-hal semacam itu karena kemajuan jaman oleh generasi digital sekarang ini dianggap sudah usang/kuno tidak berguna dan bermanfaat. Pada akhirnya yang tersirat dalam hakekat perjalanan panjang sejarah negeri ini adalah berputarnya Roda Cokro Manggilingan (pengulangan perjalanan sejarah).

CANDI CETO

02:53 0
Candi Ceto

Candi Ceto ( ejaan bahasa Jawa latin: cethå) merupakan candi bercorak agama Hindu yang diduga kuat dibangun pada masa-masa akhir era Majapahit (abad ke-15 Masehi). Lokasi candi berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1496 m di atas permukaan laut[1], dan secara administratif berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.
Kompleks candi digunakan oleh penduduk setempat dan juga peziarah yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan. Candi ini juga merupakan tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan asli Jawa/Kejawen.
Penemuan
Laporan ilmiah pertama mengenai Candi Ceto dibuat oleh van de Vlies pada tahun 1842[1]. A.J. Bernet Kempers juga melakukan penelitian mengenainya. Ekskavasi (penggalian) untuk kepentingan rekonstruksi dan penemuan objek terpendam dilakukan pertama kali pada tahun 1928 oleh Dinas Purbakala (Commissie vor Oudheiddienst) Hindia Belanda. Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhannya mulai diteliti, candi ini diperkirakan berusia tidak jauh berbeda dari Candi Sukuh, yang cukup berdekatan lokasinya.
Riwayat kompleks percandian
Ketika ditemukan keadaan candi ini merupakan reruntuhan batu pada 14 teras/punden bertingkat, memanjang dari barat (paling rendah) ke timur, meskipun pada saat ini tinggal 13 teras, dan pemugaran dilakukan pada sembilan teras saja. Strukturnya yang berteras-teras ("punden berundak") memunculkan dugaan akan sinkretisme kultur asli Nusantara dengan Hinduisme. Dugaan ini diperkuat oleh aspek ikonografi. Bentuk tubuh manusia pada relief-relief menyerupai wayang kulit, dengan wajah tampak samping tetapi tubuh cenderung tampak depan. Penggambaran serupa, yang menunjukkan ciri periode sejarah Hindu-Buddha akhir, ditemukan juga di Candi Sukuh.
Pemugaran pada akhir 1970-an yang dilakukan sepihak oleh Sudjono Humardani, asisten pribadi Soeharto (presiden kedua Indonesia) mengubah banyak struktur asli candi, meskipun konsep punden berundak tetap dipertahankan. Pemugaran ini banyak dikritik oleh para pakar arkeologi, mengingat bahwa pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam. Beberapa objek baru hasil pemugaran yang dianggap tidak original adalah gapura megah di bagian depan kompleks, bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan, patung-patung yang dinisbatkan sebagai Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, serta phallus, dan bangunan kubus pada bagian puncak punden.
Selanjutnya, Bupati Karanganyar periode 2003-2008, Rina Iriani, dengan alasan untuk menyemarakkan gairah keberagamaan di sekitar candi, menempatkan arca Dewi Saraswati, sumbangan dari Kabupaten Gianyar, pada bagian timur kompleks candi, pada punden lebih tinggi daripada bangunan kubus.
Susunan bangunan
Inskripsi pada gapura teras ke-7

Pada keadaannya yang sekarang, kompleks Candi Ceto terdiri dari sembilan tingkatan berundak. Sebelum gapura besar berbentuk candi bentar, pengunjung mendapati dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk (yaitu teras ketiga) merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman. Pada aras ketiga terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Ceto.
Sebelum memasuki aras kelima (teras ketujuh), pada dinding kanan gapura terdapat inskripsi (tulisan pada batu) dengan aksara Jawa Kuna berbahasa Jawa Kuna berbunyi pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397[1]. Tulisan ini ditafsirkan sebagai fungsi candi untuk menyucikan diri (ruwat) dan penyebutan tahun pembuatan gapura, yaitu 1397 Saka atau 1475 Masehi. Di teras ketujuh terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, surya Majapahit (diduga sebagai lambang Majapahit), dan simbol phallus (penis, alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. Terdapat penggambaran hewan-hewan lain, seperti mimi, katak, dan ketam. Simbol-simbol hewan yang ada, dapat dibaca sebagai suryasengkala berangka tahun 1373 Saka, atau 1451 era modern. Dapat ditafsirkan bahwa kompleks candi ini dibangun bertahap atau melalui beberapa kali renovasi.
Pada aras selanjutnya dapat ditemui jajaran batu pada dua dataran bersebelahan yang memuat relief cuplikan kisah Sudamala, seperti yang terdapat pula di Candi Sukuh. Kisah ini masih populer di kalangan masyarakat Jawa sebagai dasar upacara ruwatan. Dua aras berikutnya memuat bangunan-bangunan pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut digunakan sebagai tempat pelangsungan upacara-upacara keagamaan. Pada aras ketujuh dapat ditemui dua arca di sisi utara dan selatan. Di sisi utara merupakan arca Sabdapalon dan di selatan Nayagenggong, dua tokoh setengah mitos (banyak yang menganggap sebetulnya keduanya adalah tokoh yang sama) yang diyakini sebagai abdi dan penasehat spiritual Sang Prabu Brawijaya V.
Pada aras kedelapan terdapat arca phallus (disebut "kuntobimo") di sisi utara dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Pemujaan terhadap arca phallus melambangkan ungkapan syukur dan pengharapan atas kesuburan yang melimpah atas bumi setempat. Aras terakhir (kesembilan) adalah aras tertinggi sebagai tempat pemanjatan doa. Di sini terdapat bangunan batu berbentuk kubus.
Di bagian teratas kompleks Candi Ceto terdapat sebuah bangunan yang pada masa lalu digunakan sebagai tempat membersihkan diri sebelum melaksanakan upacara ritual peribadahan (patirtan). Di timur laut bangunan candi, dengan menuruni lereng, ditemukan sebuah kompleks bangunan candi yang kini disebut sebagai Candi Kethek ("Candi Kera").
Bacpacker ke Candi Ceto
Jika tak membawa kendaraan pribadi, maka satu – satunya jalan menuju Candi Ceto adalah dengan naik ojek.
Tarif ojek Candi Sukuh – Candi Ceto ditarik Rp 40.000,- (biasanya Rp 50.000,-) Pergi – Pulang.
> Alternatif lainnya, kita bisa naik bus ¾ dari Terminal Karangpandan dan turun di Terminal Kemuning yang merupakan terminal terakhir dan terletak di tempat yang lebih tinggi serta dikeliling Kebun Teh.
> Ojek dari sini Rp 18.000,- entah untuk sekali jalan.
> Sebelum kita tiba di Candi Ceto, sepeda motor ditarik Rp 2.000,- dan biaya masuk Candi Ceto Rp 2.500,- sama dengan biaya masuk Candi Sukuh.
Sejarah Candi Ceto
Candi Ceto merupakan salah satu candi yang dibenci para arkeolog (candi yang lainnya adalah Candi Cangkuang) karena saat dipugar oleh Soedjono Hoemardani, asisten pribadi Presiden Soeharto pada tahun 1975/1976, struktur bangunan asli candi dirubah dan beberapa bangunan barupun ditambahkan, termasuk gapura bersayap di pintu masuk candi dan juga bangunan candi utama di teras paling tinggi.
Jika kita jeli, maka pada loket tiket, lihatlah bagian atasnya, ada papan kecil yang bertuliskan :
Sangat disayangkan bahwa “pemugaran” atau lebih tepat disebut pembangunan oleh “seseorang” terhadap candi Cetha ini tidak memperhatikan konsep arkeologi, sehingga hasilnya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Candi Ceto diketemkan kembali oleh Van der Vlis pada tahun 1842. Setelah itu, Candi Ceto diteliti oleh beberapa ahli seperti W.F. Sutterheim, K.C. Crucq, N.j. Krom, A.J. Bernet Kempers, dan Riboet Darmosoetopo.
Candi Ceto sendiri terdiri dari 13 teras yang membentang arah timur – barat sepanjang 190 meter dan sekarang yang ada hanya 11 teras, entah kemana perginya 2 teras yag lain. Dari tulisan yang diketemukan di lokasi candi (beberapa terpahat pada dinding gapura bentar yang runtuh) Candi Ceto dibangun pada tahun 1451-1475 yang merupakan masa akhir Kerajaan Majapahit.
Teras yang masih asli adalah teras ketujuh, dimana pada teras ini terdapat sangkalan memet (sandi angka tahun) berupa tiga katak, mimi, kepiting, belut, dan tiga kadal. Menurut Bernet Kempers, arkeolog Belanda, relief kepiting, belut, dan mimi merupakan sengkalan yang berbunyi welut (3) wiku (7) anahut (3) iku = mimi (1), menunjukkan angka tahun 1373 Saka atau 1451 Masehi, tahun didirikannya candi Ceto.
Pada gapura diteras ini terdapat kalimat yang menyebutkan bahwa Candi Ceto digunakan sebagai tempat ruwatan tahun 1397 Saka atau 1475 Masehi. Hal ini diperkuat dengan relief – relief Samudramanthana dan Garudeya.
Masih pada teras ini terdapat Kalacakra atau lingga (kelamin laki-laki) dengan panjang sekitar dua meter; juga terdapat simbol matahari dalam lingkaran yang merupakan Surya Majapahit, simbol dari Kerajaan Majapahit.
Candi Ceto Kini
Seperti candi – candi di Bali, Candi Ceto madih digunakan hingga sekarang oleh masyarakat sekitar yang uniknya, mulai dari zaman dahulu hingga sekarang masih beragama Hindu, hal ini terlihat dari bentuk pagar rumah mereka yang berbentuk gapura bentar.
Selain itu, Candi Ceto memiliki arca – arca yang sangat unik. Arca dikaki masuk dipahat pada dua sisinya, yaiut sisi depan da sisi belakang. Arca jenis ini hanya dapat diketemukan di Candi Ceto dan Situs Menggung.
Jika cuaca cerah, maka dari Candi Ceto kita dapat melihat kota Solo, hingga Gunung Merapi dan Gunung Merbabu (hal ini tentu saja akan semakin terlihat indah jika malam datang karena gemerlap lampu kota akan terlihat dari sini). Karena berada pada tempat yang tinggi,Candi Ceto sering tertutup kabut dan hal ini memberi nilai plus akan situs bersejarah ini karena seakan – akan kita berada di negeri kahyangan dengan gapura – gapuranya yang menyembul diantara kabut.
Hal menyenangkan dari Candi Ceto adalah dalam perjalanannya. Untuk menju candi ini, kita akan melewati kebun teh Kemuning yang berbukit – bukit dan seluruhnya di selimuti oleh warna hijau dari tanaman teh. Tak heran, walau jalanannya agak rusak dan penuh tanjakan terjal, banyak remaja yang betah nongkrong berlama – lama disini.
Jika ingin menikmati pemandangan malam di sini, jangan bingung, sebab penduduk sekitar telah membuka penginapam. Ada banyak penginapan disini, dan kebanyakan terpusat di bawah pintu masuk menuju Candi Ceto. Jangan lupa pilih yang berfasilitas air panas dan bawa jaket yang tebal, karena udara disini benar – benar dingin.
Jika mengunjungi Candi Ceto, jangan lupa untuk mengunjungi Candi Kethek dan Pura Saraswati yang letaknya tak jauh dari Candi Ceto.