Sejarah Kisah Peperangan Pati vs Mataram

Sejarah Kisah Peperangan Pati vs Mataram

01:00 0
Sejarah Kisah Peperangan Pati vs Mataram
( Kisah ini terdapat beberapa versi, jadi harap maklum bila terdapat perbedaan dengan versi lain... wallahualam bishshawab )

Tingkat kebenaran sejarah tradisional nusantara versi babad memang banyak dipertanyakan namun karena minimnya sumber valid yang tersisa pada periode itu tetap saja ia “dielu-elukan”, misal tak kurang dari seorang H. J. De Graaf.
Sejarah tersebut pada umumnya didominasi oleh catatan penguasa (pemenang) tentang pergolakan di seputaran 3-A, yakni tahta, harta dan wanita ---bandingkan dengan 3-G (gold, glory and gospel)--- yang tidak jarang justru terjadi di antara kalangan dekat sendiri sehingga berbuah perang saudara dan berdampak pada munculnya catatan tulis ataupun lisan semacam legenda atau serat tandingan atau katakanlah “dendam budaya” yang tidak jarang dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial untuk mempersedap praktek politik devide et impera-nya dan nuansanya masih terasa hingga sekarang. Dan, fenomena itu terjadi juga pada khasanah sejarah Pati (baca:Pathi) Jawa Tengah Indonesia.
Dalam versi babad, sejarah Pati beriring-erat dengan Mataram Islam (abad XVII) bahkan lahir dari rahim yang sama ---ada yang mengatakan beririsan pula dengan masa Majapahit (1293 hingga 1500 M)---, karenanya Pati-Mataram Islam (Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningkrat, sekarang) menorehkan catatan persaudaraan yang hangat, kerjasama politik-ekonomi-militer yang bermakna dan ironisnya diakhiri dengan perang saudara yang memilukan.
Sejarah kekuasaan Pati dimulai dari ketika Kerajaan Pajang yang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya sebagai kelanjutan dari Kerajaan Demak Bintara menghadapi tuntutan hak Harya Penangsang (Jipang-Bojonegoro) yang merasa paling legal sebagai pewaris tahta eks Kerajaan Demak itu, meski dalam prakteknya diskursus hak ini debateble. Sultan Hadi Widjoyo bermaksud mempertahankannya dan terjadilah perang. Untuk memadamkan “pemberontakan” ini Sultan Hadiwijaya medeklarasikan sayembara bahwa siapa yang bisa membunuh Harya Penangsang akan diberi hadiah.

Dan, majulah para tamtama Pajang yang berasal dari Selo Grobogan, yakni Kyai Penjawi dan Kyai Pemanahan serta Ki Juru Martani sebagai pengatur strategi dengan menggunakan seorang bocah Danang Sutawijaya sebagai eksekutornya. Atas keberhasilan itu mereka berdua diberi hadiah alas (hutan) mentaok (mataram) dan bumi Pati. Pemanahan memilih alas mentaok plus harta kekayaan dari nadzar Ratu Kalinyamat karena terbalasnya kematian suaminya oleh Harya Penangsang dan direalisir menjadi Kadipaten Mataram di bawah Kerajaan Pajang.
Sementara itu, Penjawi mendapatkan bumi Pati yang saat itu sudah merupakan kota dengan jumlah penduduk 10.000 jiwa, menjadi Kadipaten Pati juga di bawah Kerajaan Pajang. Sebagai catatan: oleh karena dari rahim kelahiran yang sama inilah dalam perkembangan hubungan Pati-Mataram ---meskipun kenyataannya Mataram pada akhirnya justru mencaplok Pajang sebagai Bapak kandungnya--- pihak Pati selalu berpendirian bahwa antara Mataram dan Pati secara politik sederajad yang notabene pendirian ini dipertahankannya hingga titik darah penghabisan.
Awalnya, Kadipaten Pati-Mataram di bawah Kerajaan Pajang hidup rukun karena setara dan bersaudara (adik-kakak). Namun setelah Mataram yang bercorak politik luar negeri ekspansionis dan dalam perkembangannya mampu melumat Kerajaan Pajang yang atasannya itu rupan-rupanya mulai memandang sebelah mata terhadap Pati. Logikanya barangkali adalah karena Pati merupakan bawahan Pajang dan semenjak Pajang takluk oleh Mataram, maka otomatis Pati ialah bawahan Mataram.
Penguasa Mataram setelah Panembahan Senopati wafat pada tahun 1601 M, di ganti oleh putranya Mas Jolang atau Sultan Anyakrawati kelak terkenal sebutan Sultan Seda Krapyak. Kemudian setelah Sultan Anyakrawati meninggal di ganti oleh putranya yaitu Raden Mas Anyokrokusuma. Cucu Panembahan Senopati ini menjadi Raja Mataram sangat terkenal tahun 1613 – 1645 M.
Penguasa di Kadipaten pati jiga mengalami perubahan. Setelah Adipati Pragola I wafat karena usia tua, kekuasaan diserahkan putranya yaitu Adipati Pragola II. Cucu Ki Ageng Penjawi ini memerintah Kadipaten Pati dengan arif bijaksana sehingga rakyatnya merasa aman sejahtera.
Adipati Pragola II (wasis Djoyo Kusumo) mempunyai istri bernama Raden Ajeng Tulak atau Ratu Mas Sekar yg merupakan Adik Sultan Agung.
Adipati Pragola II adalah adik ipar Sultan Agung Anyokrokusuma yang sama-sama merupakan keturunan Prabu Brawijaya Raja Majapahit.

Adipati Pragola II dalam nenjalankan roda pemerintahan di Kadipaten Pati mendapat dukungan penuh dari enam tumenggung. Ke enam tumenggung tersebut yaitu, Tumenggung Mangunjaya, Adipati Kenduruan, Tumenggung Ramananggala, Tumenggung Tohpati, Adipati Sawunggaling, dan Tumenggung Sindurejo. Mereka telah bersumpah setia untuk membela buni Pati hingga titik darah penghabisan.
Awal perselisihan dan adudomba
Ketika Mataram sedang memusatkan perhatian menyusun kekuatan untuk menggempur daerah Surabaya, Adipati Pragola II berselisih dengan pembesar di Jepara. Perselisihan tersebut hingga memuncak dan sang Adipati Pragola mengirim ke enam Tumenggung ke Jepara untuk menyelesaikannya. Keesokan harinya dengan seribu prajurit tempat kediaman penguasa Jepara di porakporandakan hingga rata dengan tanah.
Patih Jepara Ki Laksamana marah atas peristiwa tersebut dan pergi melapor ke penguasa Mataram. Ki Laksamana sampai di Mataram di terima oleh Tumenggung Endranata. Patih Ki Laksana melapor bahwa Adipati Pragola Pati akan memberontak Mataram.
Pada pisowahan agung di kerajaan Mataram, yg bersamaan dengan hari raya, dihadiri oleh para punggawa kerajaan dan para pimpinan antara lain dari Bagelan, Grobogan, Kudus, Kalinyamat, Demak, dan Lasem.
Satu-satunya yg tidak hadir adalah Adipati Pragola II dari Kadipaten Pati. Ketidak hadiran Adipati Pragola II dalam pisowahan karena alasan yg sama seperti Adipati Pragola I ayahnya,yang beranggapan bahwa Pati dan Mataram itu sedrajat.
Mengetahui adik iparnya tidak hadir Sultan Agung marah besar dan menanyakan pada raden Purbaya,belum sempat menjawab sudah di dahului oleh Tumenggung Endranata, bahwa Adipati Pragola II akan memberontak Mataram, bahkan Adipati Pragola II sudah menginventasisasi berbagai senjata untuk menggulingkan Raja Mataram.
Laporan ini membuat Raja Mataram hati-hati sehingga ia mengirimkan telik sandi ke Pati, untuk mengetahui sepak terjang Adipati Joyo Kusumo, laporan yang diterima sesuai dengan apa yang pernah dilaporkan istri Kyai Demang bahwa Pati sedang menyusun kekuatan. Raja Mataram segera mengirimkan pasukan ke Pati. Pasukan ini sebenarnya akan dipersiapkan untuk melawan Surabaya. konsentrasi Mataram sedang disibukan dengan penumpasan Surabaya.. Tapi dialihkan menuju ke wilayah Pati guna mencegah terjadinya pemberontakan di wilayah tersebut.
Perang saudara ini bisa dicegah dengan mengadakan perkawinan politik antara anak Sultan Agung dengan anak Joyo Kusumo, dan ini sangat efektif untuk meredam pemberontakan di Wilayah Pati. Pasukan Mataram kemudian dialihkan kembali ke penyerangan Surabaya Disamping itu juga untuk mencegah terjadinya pemberontakan wilayah, Pati salah satu kekuatan yang menjadi perhitungan politik Sultan Agung, sehingga harus dipertahankan supaya tetap mendukung Mataram.
Adi pati Joyo Kusumo gagah berani tampil sebagai pemimpin wilayah Pantai, mereka mengumpulkan Penguasa Utara di Juana. Bahkan ketika pengirimin pasukan untuk menyerang Surabaya ia menjadi panglimanya menggantikan Adipati Sujanapura yang gugur dalam pertempuran. Adipati Joyo Kusumo juga ikut dalam menumpas Pemberontakan Tuban. ‎bersama Lasem bahu membahu untuk menundukan kekuatan dan strategi perang Tuban dengan besar-besaran,. sedangkan palimanya Adipati Martoloyo lebih senang menunggu musuh daripada menyerang dahuluan. Joyo Kusumo juga pernah menjadi ‎panglima yang gagah berani. Ia bahu membahu dengan pasukan Tumenggung Alap-alap
Setelah penyerangan Surabaya selesai, penarikan pasukan kembali ke wilayahnya masing-masing. Temenggung Endranata mulai kasak-kusuk di dalam Keraton Mataram, ia menterjemahkan mimpi Sultan Agung, tentang kedatangan seorang berbaju putih yang mengharuskan menyingkirkan empat orang terkemuka yang dapat menjadi duri dalam daging di Mataram. Temenggung Endratara membisikan siapa saja yang menjadi penghalang Sultan Agung.
Adipati endranata melemparkan isyu bahwa Pati akan mengadakan penyerangan terhadap Mataram.. Pargola memperluas wilayahnya dengan mengangkat enam Bupati MangunJaya, Kanduruwan,Raja Menggala, Toh Pati, Sawunggaling dan Sindurejo. Mereka ia bersumpah sampai titik darah penghabisan
Kisah awal peperangan
Raja Sultan Agung memanggil beberapa adipati menghadap ke Mataram, Raja menanyakan kenapa Adipati Pragola tidak menghadap. Temenggung Endranata menerangkan bahwa Pati tengah menyusun kekuatan dengan penguasa-penguasa pantai utara, kecuali Demak yang masih setia kepada Mataram, hal ini membuat murka Sultan Agung.
Akhirnya Sultan Agung memutuskan Pati di serbu. Pati diserbu dari tiga penjuru, yaitu arah timur, selatan dan barat. Ratusan ribu prajurit Mataram dikerahkan untuk menghancurkan Pati. Kadipaten Pati memang dianggap oleh Sultan Agung yg paling kuat karena satu-satunya wilayah yg belum terkalahkan.
Persiapan dilakukan mulai dari penunjukan para pimpinan, persenjataan, dan perbekalan selama perang. Sebagai Senapati Mataram untuk menyerang Pati ditunjuk Tumenggung Alap-alap.
Raja mengatur pasukan sebelah kanan yang dipimpin Adipati Martoloyo membawai pasukan Mancanegara, pasukan ini bermukim di Pekuwon Juwana bagian timur.
Pasukan Mataram dari arah selatan dipimpin oleh Pangeran Madura yg membawahi prajurit Kedu, Begalan dan Pamijen, pasukan ini mendirikan tenda-tenda perkemahan di kaki Gunung Kendeng sekitar daerah Cengkalsewu sebelah selatan Pati.
Pasukan dari arah barat dipimpin oleh Pangeran Sumedang (Rangga Gempol) yang membawahi pasukan khusus berkuda,pasukan ini mendirikan barak di sekitar wilayah Matraman Margorejo sebelah barat Pati.
Terakhir keluarga Raja yang memimpin pasukan-pasukan Pamejagan mataram. Pengawal pribadi terdiri dari 2.000 prajurit semua kapendak yang ada diantara mereka harus mengikuti raja.
Pasukan mengepung melewati Pajang dan Taji sehingga banyak penduduk berlarian menuju ke Kota Pati. Kadipaten Pati dikepung prajurit dari segala penjuru, pasukan telik sandi Pati melaporkan bahwa ada gerakan dari pasukan menuju Pati yang dipimpin langsung oleh Sultan Agung.
Adipati Pati mengumpulkan rakyatnya yang masih setia untuk berkumpul menyelenggarakan pesta. Untuk pengikutnya yang setia sebab esok akan mengadakan pertempuran habis-habisan.
Jalannya Peperangan
Adipati Pragola II mengetahui wilayah Pati sudah di kepung rapat oleh pasukan musuh.,ia tetap tegar dan tidak akan mundur selangkah pun. Apalagi seluruh rakyat Pati mendukung untuk mempertahankan kedaulatan rakyat Pati hingga titik darah penghabisan. Semua prajurit Kadipaten Pati sudah siap siaga menempati pos-pos pertahanan yg sudah ditentukan. Para punggawa Kadipaten Pati juga tidak tinggal diam, mereka memimpin laskar andalan yg terdiri dari prajurit-prajurit terlatih.
Pasukan Pati mengenakan pakaian yang sama hitam-hitam, sedangkan rakyat berpakaian seadanya. Mereka berkumpul menunggu Adipati Pragola yang sedang siap-siap, ia mandi, mengenakan baju yang sangat bagus, melengkapi diri dengan pakaian-pakain pusaka (Kere Wojo), dan jimat pusaka.
Adipati Pati bersama pasukannya menuju sector kanan, Serangan Pati ditujukan pada sayap kanan pasukan Mataram yang berada dibawah pimpinan Matralaya, dalam pasukan itu juga ada Adipati Endranata berada. Pihak Mataram mengalami kekalahan besar, dihajar dengan pasukanPati dengan kekuatan penuh, sehingga pasukan Mataram ditarik mundur sampai daerah perbatasan. Sisa-sisa Pasukan Mataram kocar-kacir menyelamatkan diri, misalnya Raja Niti, Mangun Oneng dan Kertajaya. Mataram lari ke Kunduruan, Pasukan Mataram meminta pertimbangan dengan Eyang Kunduruan agar membantu pasukan Mataram, namun Eyang tidak mau sehingga terjadi penyerbuan di kenduruan. Eyang Kunduruan telah siap dengan pasukan penuh ditambah Pasukan dari Adipati Pati. Mereka bahu-membahu memukul Pasukan Mataram, Pasukan Eyang Kunduruan mengusir Pasukan Mataram sampai di luar desa.
Melihat kemenangan di tangan Adipati Pati Pragola, dalam pertempuran ini Temenggung Endranata melarikan diri dan membelot ke Pasukan Pati. Juga pusat dan sayap kiri pasukan Mataram menderita kerugian besar, Pasukan Sawung Galing berhasil memporakporandakan pasukan inti Mataram, sehingga hanya keluarga Raja dengan 2000 pengawal yang masih bertahan.
Adipati Pragola mengobrak-abrik strategi Kalajengking, dia menyerang Pasukan tengah menuju ke arah Susuhunan. Pasukan Temenggung Singanaru dihajar habis-habisan sehingga seluruh anak buahnya tewas, Temenggung Singanaru berlari menyelamatkan diri, ia kehilangan seluruh anak buahnya, sehingga menimbulkan keadaan darurat.
Pasukan Adipati Pati terlena, setelah memenangkan pertarungan, sehingga dia menarik pasukan Pati kembali ke markasnya, pengejaran terhadap Pasukan Mataram hanya sampai di tapal batas saja. Mereka tidak mengejar lagi karena menduga sisa Pasukan Mataram kembali ke Mataram.
Raja Mataram memerintahkan mundur semua pasukan, untuk menyusun kembali Pasukan Mataram yang tersisa. Banyak Pasukan Mataram yang kocar-kacir kehilangan induk semangnya. Sultan Mataram memerintahkan Pasukan Mataram yang ada di tiga sector, sayap kanan, kiri dan tengah untuk tidak melakukan serangan, ditahan dulu pasukannya menunggu komando berikutnya.
Raja Mataram di dalam hutan, mengumpulkan para pemimpin pasukan untuk mengkaji ulang strategi perang, dan untuk menemukan stategi baru untuk menundukan Pati. kemudian memukul gong pusaka Kiai Bicak, tetapi tidak berbunyi. Ia kehilangan semangat dan berdoa kepada Allah, setelah itu gong berbunyi lagi dengan suara nyaring, ini menggobarkan semangat para prajurit Mataram, yang tadinya sudah mundur. Sekarang mereka maju lagi untuk bertempur.
Sisa Pasukan Mataram yang bertahan ditapal batas, dan pasukan yang masih di hutan Jepara, Purwodadi, Kudus bergabung kembali dengan Pasukan Sultan Mataram, setelah telik sandi menginstruksikan untuk segera merapat dan bertemu dengan pasukan Sultan Mataram, sambil menunggu bantuan dari Kerajaan Mataram yang akan menyerbu Surabaya, untuk dialihkan dahulu membantu Pasukan Mataram yang mau menyerang Pati.
Meskipun demikian, Adipati Pragola masih yakin akan kemenangannya. Ia mengadakan pembunuhan besar-besaran pada pihak Mataram. Raja Mataram segera mengirim pasukan tambahan danmengarahkan pengawal dan keluarganya, yang dipimpin oleh Pangeran Purbaya dan keluarganya. Mereka merapat bergabung dengan sisa pasukan Mataram dengan menggunakan strategi kombinasi, mengecoh pertahanan Pati. Pasukan Mataram bergerak melawan Adipati Kunduruan di daerah Selatan, Prawirataruna, Temenggung Toh Pati dan Tumenggung Mangunjaya bertahan di arah timur, Tumenggung Sindurejo dan Raja Menggala bertahan di sector Barat melawan gempuran Pasukan Tumenggung Alap-alap. sedangkan Pasukan Tumenggung Sawunggaling kocar-kacir melawan pasukan inti, ia tertangkap Pasukan Mataram dan di ekskusi ditempat.
Meskipun demikian, Adipati Pragola dengan semangat menyala-nyala maju ke depan, tetapi Raja Mataram menyerahkan tombak Kiyai Baru kepada Lurah Kapedak, Naya Derma. Tepat ketika raja sekali lagi memukul gongnya Naya Derma menusuk Pragola sehingga mengakibatkan luka ringan sebelah kiri. Pargola jatuh dari kudanya kemudian ia bangkit, dan memacu kudanya keluar dari kepungan Pasukan Mataram. Dia berlari untuk merawat lukanya, ditengah jalan kudanya berhenti dan Sang Adipati Wafat di Sendang Sani pada hari Jum’at Wage tanggal 4 Oktober 1627 M. . Mendengar Adipati Pragola wafat. Temenggung Endranata dan pasukannya membelot, menganggap ini suatu alasan untuk kembali ke Pasukan Mataram. Semua pasukan Pati dimusnahkan, juga mereka yang ditangkap hidup lebih suka memilih mati.
Raja memerintahkan agar jenazah Pragola ditegakan dan jimat-jimatnya diambil. Melihat percikan darah pada Kiai Baru, raja mengerti bahwa adiknya terbunuh dengan senjata itu.
Sementera itu Tumenggung Mangunjaya melarikan diri ke dalam istana dan menyampaikan berita kekalahan kepada para wanita disana juga kepada empat menteri jaga : Sura Prameya, Rangga Jaladra, Sura Antaka dan Pengalasan. Mereka bertempur terus sampai mati dengan 200 prajurit yang masih ada. Ini dilakukan dialun-alun, hanya Mangunjaya yang membawa berita kekalahan kepada para wanita, mereka cepat berlari meninggalkan Kadipaten Pati menuju ke Gunung Prawata. Melalui pintu belakang bersama putra mahkota yang masih muda.
Temenggung Alap-alap dengan beberapa pasukannya mengobrak-abrik Pasukan Pati, mereka memporakporandakan istana dan menguras habis istana bersama dengan pengikut-pengikutnya, kekayaannya dirampas dan rumahnya dibakar diratakan dengan tanah. ia memerintahkan untuk membawa para wanita ke Mataram.
Sultan Mataram bertemu dengan adiknya yang juga istri Pragola, ia bertanya kenapa Pati harus memberontak terhadap Mataram, janda Pragola menceritakan bahwa Sultan Mataram dan Pragola Pati diadu domba oleh Adipati Endranata. Raja Mataram marah besar, sehingga ia memerintahkan Martalulut dan Singanegara untuk membunuh Adipati Endranata dan dipertontonkan ususnya di Pasar Gede.
Adipati Pragolo Djoyo Kusumo sebagai tokoh Pahlawan Sejati Korban Fitnah dari pejabat yang Lalim.
Dalam pertarungan Adipati Pragola II terluka namun ia tetap melanjutkan pertempuran,lawan yg menghadang diterjang,yg lari diburu, dalam pengejaran musuh di sekitar sumber mata air sani, tiba-tiba kuda sang Adipati mendadak berhenti tidak mau berlari. Adipati Pragola II luka parah dan akhirnya wafat pada hari Jum’at Wage tanggal 4 Oktober 1627 M. Adipati Pragola II rela berkorban hingga titik darah penghabisan, Adipati gugur di medan perang untuk mempertahankan wilayah dan kedaulatan negeri Pati. Namanya harun dikenang dan diagungkan oleh masyarakat Pati. Adipati Pragola II dimakamkan di Dukuh Sani Desa Tamansari Kecamatan Tlogowungu Kabupaten Pati.

Adipati Pragola II rela berkorban hingga titik darah penghabisan, Adipati gugur di medan perang untuk mempertahankan wilayah dan kedaulatan negeri Pati. Namanya harum dikenang dan diagungkan oleh masyarakat Pati.
Tentu saja, tewasnya Adipati junjungannya yang berarti kehancuran Kadipaten Pati dapat dimaklumi secara psikologis membawa luka yang mendalam bagi rakyatnya. Mulai saat itu hingga sekarang sebagai tanda peringatan atas naasnya Adipati Pragola II yang sangat dihormatinya itu hari Jumat Wage menjadi hari yang disakralkan oleh (sebagian) orang-orang Pati.‎

sumber blog wiyonggo seto
Tambahan Kisah lain versi lain .....
Cerita ini sebenarnya berawal dari Karya sastra seorang Pujangga Keraton Kartosuro, pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono II (1727-1749), bernama R. Ngabehi Ronggo Janur, berjudul Serat Pranacitro.
PRAHARA DI BUMI PATI
WASIS JOYOKUSUMO II
Hubungan baik terjalin kembali setelah terdahulunya Pragola I mengadakan pemberontakan terhadap Mataram. Perkawinan adalah sangat efektif digunakan untuk menyatukan dua wilayah yang bertikai, Joyo Kusumo menikah sama adik Sultan Agung. Kerukunan ini terjalin untuk memperluas kekuasaan Mataram di tanah Jawa.
Wasis Joyo Kusumo II mau melamar Putri pengusaha kaya dari Jepara. Ia melamar dengan mengirimkan dua ekor gajah ditambah dengan tiga sampai empat orang terkemuka yang membawa emas,perak, bahkan pakaian yang berharga dan sirih. Akan tetapi peminangan ini ditolak karena gadis tersebut telah dipinang oleh orang lain. Sehingga dibawa pulang seperangkat lamaran kembali ke Pati.
Joyo Kusumo marah, ia mengirimkan beberapa prajurit untuk menyerang rumah orang kaya tersebut. Hal ini didengar oleh Kiai Demang Laksamana kemudian membantu orang kaya tersebut dengan membawa pasukan bersenjata dan seseorang pembesar Jepara juga membantu membawa beberapa prajurit.[1] Mereka bergabung mengantisipasi bahwa Pati akan menguasai daerah-daerah lain sekitarnya. Kia Demang juga mengirim istrinya menghadap ke Mataram guna melaporkan bahwa telah terjadi penyerbuan di wilayah Jepara untuk memperebutkan seorang gadis cantik asal Jepara selain itu juga akan menundukan wilayah Jepara.
Laporan ini membuat Raja Mataram hati-hati sehingga ia mengirimkan telik sandi ke Pati, untuk mengetahui sepak terjang Adipati Joyo Kusumo, laporan yang diterima sesuai dengan apa yang pernah dilaporkan istri Kyai Demang bahwa Pati sedang menyusun kekuatan. Raja Mataram segera mengirimkan pasukan ke Pati.[2] Pasukan ini sebenarnya akan dipersiapkan untuk melawan Surbaya. konsentrasi Mataram sedang disibukan dengan penumpasan Surabaya.. Tapi dialihkan menuju ke wilayah Pati guna mencegah terjadinya pemberontakan di wilayah tersebut.
Perang saudara ini bisa dicegah dengan mengadakan perkawinan politik antara anak Sultan Agung dengan anak Joyo Kusumo, dan ini sangat efektif untuk meredam pemberontakan di Wilayah Pati. Pasukan Mataram kemudian dialihkan kembali ke penyerangan Surabaya Disamping itu juga untuk mencegah terjadinya pemberontakan wilayah, Pati salah satu kekuatan yang menjadi perhitungan politik Sultan Agung, sehingga harus dipertahankan supaya tetap mendukung Mataram.
Adi pati Joyo Kusumo gagah berani tampil sebagai pemimpin wilayah Pantai, mereka mengumpulkan Penguasa Utara di Juana. Bahkan ketika pengirimin pasukan untuk menyerang Surabaya ia menjadi panglimanya menggantikan Adipati Sujanapura yang gugur dalam pertempuran. Adipati Joyo Kusumo juga ikut dalam menumpas Pemberontakan Tuban. Ia bersama Lasem bahu membahu untuk menundukan kekuatan dan strategi perang Tuban dengan besar-besaran,. sedangkan palimanya Adipati Matralaya lebih senang menunggu musuh daripada menyerang dahuluan. Joyo Kusumo juga pernah menjadi panglima yang gagah berani. Ia bahu membahu dengan pasukan Tumenggung Alap-alap
Setelah penyerangan Surabaya selesai, penarikan pasukan kembali ke wilayahnya masing-masing. Temenggung Endranata mulai kasak-kusuk di dalam Keraton Mataram, ia menterjemahkan mimpi Sultan Agung, tentang kedatangan seorang berbaju putih yang mengharuskan menyingkirkan empat orang terkemuka yang dapat menjadi duri dalam daging di Mataram. Temenggung Endratara membisikan siapa saja yang menjadi penghalang Sultan Agung.
Adipati endranata melemparkan isyu bahwa Pati akan mengadakan penyerangan terhadap Mataram.. Pargola memperluas wilayahnya dengan mengangkat enam Bupati MangunJaya, Kanduruwan,Raja Menggala, Toh Pati, Sawunggaling dan Sindurejo. Mereka ia bersumpah sampai titik darah penghabisan
Raja Sultan Agung memanggil beberapa adipati menghadap ke Mataram, raja menanyakan kenapa Adipati Pragola tidak menghadap. Temenggung Endranata menerangkan bahwa Pati tengah menyusun kekuatan dengan penguasa-penguasa pantai utara, kecuali Demak yang masih setia kepada Mataram, hal ini membuat murka Sultan Agung.
Raja mengatur pasukan sebelah kanan yang dipimpin Adipati Matralaya membawai pasukan Mancanegara, pasukan ini bermukim di Pekuwon Juwana. bagian timur sebelah kiri Pangeran Sumedang yang memimpin bagian barat. Orang-orang Madura memimpin bagian tengah, dibelakang itu rakyat dari Kedu, Bagelan dan Pemijen, pasukannya mendirikan benteng pertahanan di kaki Gunung Kendeng, di daerah Cengkal Sewu sebelah selatan Pati. Terakhir keluarga Raja yang memimpin pasukan-pasukan Pamejagan mataram. Pengawal pribadi terdiri dari 2.000 prajurit semua kapendak yang ada diantara mereka harus mengikuti raja.
Pasukan mengepung melewati Pajang dan Taji sehingga banyak penduduk berlarian menuju ke Kota Pati. Kadipaten Pati dikepung prajurit dari segala penjuru, pasukan telik sandi Pati melaporkan bahwa ada gerakan dari pasukan menuju Pati yang dipimpin langsung oleh Sultan Agung. Adipati Pati mengumpulkan rakyatnya yang masih setia untuk berkumpul menyelenggarakan pesta. Untuk pengikutnya yang setia sebab esok akan mengadakan pertempuran habis-habisan.
Pasukan Pati mengenakan pakaian yang sama hitam-hitam, sedangkan rakyat berpakaian seadanya. Mereka berkumpul menunggu Adipati Pragola yang sedang siap-siap, ia mandi, mengenakan baju yang sangat bagus, melengkapi diri dengan pakaian-pakain pusaka (Kere Wojo), dan jimat pusaka.
Adipati Pati bersama pasukannya menuju sector kanan, Serangan Pati ditujukan pada sayap kanan pasukan Mataram yang berada dibawah pimpinan Matralaya, dalam pasukan itu juga ada Adipati Endranata berada. Pihak Mataram mengalami kekalahan besar, dihajar dengan pasukanPati dengan kekuatan penuh, sehingga pasukan Mataram ditarik mundur sampai daerah perbatasan. Sisa-sisa Pasukan Mataram kocar-kacir menyelamatkan diri, misalnya Raja Niti, Mangun Oneng dan Kertajaya. Mataram lari ke Kunduruan, Pasukan Mataram meminta pertimbangan dengan Eyang Kunduruan agar membantu pasukan Mataram, namun Eyang tidak mau sehingga terjadi penyerbuan di kenduruan. Eyang Kunduruan telah siap dengan pasukan penuh ditambah Pasukan dari Adipati Pati. Mereka bahu-membahu memukul Pasukan Mataram, Pasukan Eyang Kunduruan mengusir Pasukan Mataram sampai di luar desa.
Melihat kemenangan di tangan Adipati Pati Pragola, dalam pertempuran ini Temenggung Endranata melarikan diri dan membelot ke Pasukan Pati. Juga pusat dan sayap kiri pasukan Mataram menderita kerugian besar, Pasukan Sawung Galing berhasil memporakporandakan pasukan inti Mataram, sehingga hanya keluarga Raja dengan 2000 pengawal yang masih bertahan.
Adipati Pragola mengobrak-abrik strategi Kalajengking, dia menyerang Pasukan tengah menuju ke arah Susuhunan. Pasukan Temenggung Singanaru dihajar habis-habisan sehingga seluruh anak buahnya tewas, Temenggung Singanaru berlari menyelamatkan diri, ia kehilangan seluruh anak buahnya, sehingga menimbulkan keadaan darurat.
Pasukan Adipati Pati terlena, setelah memenangkan pertarungan, sehingga dia menarik pasukan Pati kembali ke markasnya, pengejaran terhadap Pasukan Mataram hanya sampai di tapal batas saja. Mereka tidak mengejar lagi karena menduga sisa Pasukan Mataram kembali ke Yogyakarta.
Raja Mataram memerintahkan mundur semua pasukan, untuk menyusun kembali Pasukan Mataram yang tersisa. Banyak Pasukan Mataram yang kocar-kacir kehilangan induk semangnya. Sultan Mataram memerintahkan Pasukan Mataram yang ada di tiga sector, sayap kanan, kiri dan tengah untuk tidak melakukan serangan, ditahan dulu pasukannya menunggu komando berikutnya.
Raja Mataram di dalam hutan, mengumpulkan para pemimpin pasukan untuk mengkaji ulang strategi perang, dan untuk menemukan stategi baru untuk menundukan Pati. kemudian memukul gong pusaka Kiai Bicak, tetapi tidak berbunyi. Ia kehilangan semangat dan berdoa kepada Allah, setelah itu gong berbunyi lagi dengan suara nyaring, ini menggobarkan semangat para prajurit Mataram, yang tadinya sudah mundur. Sekarang mereka maju lagi untuk bertempur.
Sisa Pasukan Mataram yang bertahan ditapal batas, dan pasukan yang masih di hutan Jepara, Purwodadi, Kudus bergabung kembali dengan Pasukan Sultan Mataram, setelah telik sandi menginstruksikan untuk segera merapat dan bertemu dengan pasukan Sultan Mataram, sambil menunggu bantuan dari Kerajaan Mataram yang akan menyerbu Surabaya, untuk dialihkan dahulu membantu Pasukan Mataram yang mau menyerang Pati.
Meskipun demikian, Adipati Pragola masih yakin akan kemenangannya. Ia mengadakan pembunuhan besar-besaran pada pihak Mataram. Raja Mataram segera mengirim pasukan tambahan dan mengarahkan pengawal dan keluarganya, yang dipimpin oleh Pangeran Purbaya dan keluarganya. Mereka merapat bergabung dengan sisa pasukan Mataram dengan menggunakan strategi kombinasi, mengecoh pertahanan Pati. Pasukan Mataram bergerak melawan Adipati Kunduruan di daerah Selatan, Prawirataruna, Temenggung Toh Pati dan Tumenggung Mangunjaya bertahan di arah timur, Tumenggung Sindurejo dan Raja Menggala bertahan di sector Barat melawan gempuran Pasukan Tumenggung Alap-alap. sedangkan Pasukan Tumenggung Sawunggaling kocar-kacir melawan pasukan inti, ia tertangkap Pasukan Mataram dan di ekskusi ditempat.
Meskipun demikian, Adipati Pragola dengan semangat menyala-nyala maju ke depan, tetapi Raja Mataram menyerahkan tombak Kiyai Baru kepada Lurah Kapedak, Naya Derma. Tepat ketika raja sekali lagi memukul gongnya Naya Derma menusuk Pragola sehingga mengakibatkan luka ringan sebelah kiri. Pargola jatuh dari kudanya kemudian ia bangkit, dan memacu kudanya keluar dari kepungan Pasukan Mataram. Dia berlari untuk merawat lukanya, ditengah jalan kudanya berhenti dan ia meninggal dunia di Sendang Sani. Mendengar Adipati Pragola wafat. Temenggung Endranata dan pasukannya membelot, menganggap ini suatu alasan untuk kembali ke Pasukan Mataram. Semua pasukan Pati dimusnahkan, juga mereka yang ditangkap hidup lebih suka memilih mati.
Raja memerintahkan agar jenazah Pragola ditegakan dan jimat-jimatnya diambil. Melihat percikan darah pada Kiai Baru, raja mengerti bahwa adiknya terbunuh dengan senjata itu.
Sementera itu Tumenggung Mangunjaya melarikan diri ke dalam istana dan menyampaikan berita kekalahan kepada para wanita disana juga kepada empat menteri jaga : Sura Prameya, Rangga Jaladra, Sura Antaka dan Pengalasan. Mereka bertempur terus sampai mati dengan 200 prajurit yang masih ada. Ini dilakukan dialun-alun, hanya Mangunjaya yang membawa berita kekalahan kepada para wanita, mereka cepat berlari meninggalkan Kadipaten Pati menuju ke Gunung Prawata. Melalui pintu belakang bersama putra mahkota yang masih muda.
Temenggung Alap-alap dengan beberapa pasukannya mengobrak-abrik Pasukan Pati, mereka merampok istana dan menguras habis istana bersama dengan pengikut-pengikutnya, kekayaannya dirampas dan rumahnya dibakar diratakan dengan tanah. ia memerintahkan untuk membawa para wanita ke Mataram.[3]
Sultan Mataram bertemu dengan adiknya yang juga istri Pragola, ia bertanya kenapa Pati harus memberontak terhadap Mataram, janda Pragola menceritakan bahwa Sultan Mataram dan Pragola Pati diadu domba oleh Adipati Endranata. Raja Mataram marah besar, sehingga ia memerintahkan Martalulut dan Singanegara untuk membunuh Adipati Endranata dan dipertontonkan ususnya di Pasar Gede.[4]
RORO MENDUT & PRANACITRO
Pasukan Mataram berhasil membumi hanguskan Kadipaten Pati. Tembok-tembok sebagai benteng runtuh di hancurkan Mataram. Semua harta kekayaan Kadipaten Pati di rampas di bawa pulang ke Mataram.[5] Termasuk boyongan gadis-gadis cantik dari pesisir pantai utara jawa.
Temenggung Wiroguno merupakan salah satu temenggung yang ikut dalm penyerangan Kadipaten Pati, ia memperoleh hadiah putri boyongan dari Pati, yakni Roro Mendut yang masih belia dan jelita. Tetapi Roro Mendut tidak sudi diperistri Wiroguno yang sudah renta itu.
Roro Mendut adalah seorang gadis cantik sehingga banyak pemuda-pemuda naksir kepadanya. Roro Mendut berpacaran dengan pemuda Pati Bernama Bagus Kemuda. Ada juga seorang pemuda asal Madura yang tinggal di Pati bernama Kuda Panoleh, yang mencoba mengganggunya. Namun rasa cintanya kandas karena ia menjadi boyongan Temenggung Wiroguno akibat Kadipaten Pati kalah perang.
Temenggung Wiroguno mencintai Roro Mendut, sehingga ia dibuatkan kaputren untuk ditinggali dengan mbok Mbannya. Roro Mendut selalu bermuram durja karena harus berpisah dengan kekasihnya yang harus mati ditangan orang-orang Mataram. Kesedihannya makin memuncak tatkala ia harus dibawa oleh Temenggung Wiraguno, orang Mataram yang telah merebut kebahagiaanya.
Roro Mendut tidak kuat menahan perasaannya, ia berencana untuk melarikan diri dari Kadipaten, untuk lepas dari cengkraman Temunggung Wiroguno. Pada suatu malam ia Berkemas-kemas mau minggat dari Kaputren.
Roro Mendut menjadi pelarian yang terus dikejar-kejar oleh Temunggung Wiroguno, berpindah-pindah tempat menghindari pasukan Temenggung Wiroguno, sehingga ia harus menyamar sebagai kawulo alit agar tidak dapat dihendus oleh telik sandi temenggung Wiroguno.
Ia memilih berjualan rokok di pinggir jalan yang ternyata laris sekali. Meski harga puntung rokoknya jauh lebih mahal dari pada rokok yang masih utuh, namun ternyata peminatnya justru membludak.
“Hai Roro Mendut mengapa sampai demikian ?” Tanya seorang pembeli yang amat penasaran.
“mau tahu sebabnya?, tentu saja karena puntung rokok itu bekas kena bibirku dan telah leceh dengan air ludahku yang manis dan harum!” jadi tegasnya, semakin pendek puntung bekas hisapan bibir sensual si Mendut, semakin nikmat citra rasanya. Puntung tersebut cukup lama dalam jepitan bibir hangat berliur.
Beberapa waktu kemudian, ia bertemu dengan salah seorang pelanggannya yang masih muda, gagah, tampan dan kaya. Pemuda tersebut Pranacitra, anak lelaki Janda Singobarong. Kemudian keduanya saling mabuk kepayang. Namun hubungan mereka kepergok juga oleh Ki Wiroguno. Mereka diburu serta tertangkap di pinggir Kali Opak (sungai Opak) yang sedang banjir. Akhirnya Pranacitro tewas diujung keris Ki Tumenggung Wiroguno. Rara Mendut ikut Bela-Pati dengan menubrukkan badannya pada keris yang masih berlumuran darah dalam genggaman Tumenggung Wiroguno..” ( versi lain mengatakan bahwa tusukan keris Tumenggung Wiroguna setelah menancap ditubuh pranacitra menembus pula ketubuh rara mendut )
[1]Pasukan Joyo Kusumo mengirim 3000 prajurit untuk menyerang rumah orang kaya tersebut. Hal ini didengar oleh Kiai Demang Laksamana kemudian membantu orang kaya tersebut dengan membawa 400 orang bersenjata dan seseorang pembesar Jepara membawa 300 prajurit.
[2] Pasukan Mataram terdiri dari 30.000 personil.
[3] Tumenggung Alap-alap bersama 1.000 prajurit merampok keraton Pragola yang masih dipertahankan 200 orang dan merampas wanita-wanitanya. Para wanita priyayi harus diangkut dengan tandu.
[4] Ada versi lain bahwa Adipati Alap-alap melakukan bumihangus di kadipaten pati, sehingga istri Pragola Pati, lari dikejar sampai ke barat Desa Puri, maka Desa itu dinamakan Matraman.
[5] Cerita ini sebenarnya berawal dari Karya sastra seorang Pujangga Keraton Kartosuro, pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono II (1727-1749), bernama R. Ngabehi Ronggo Janur, berjudul Serat Pranacitro.
BABAD MANGIR : PEREMPUAN DALAM PUSARAN KEKUASAAN

BABAD MANGIR : PEREMPUAN DALAM PUSARAN KEKUASAAN

05:21 0
BABAD MANGIR : PEREMPUAN DALAM PUSARAN KEKUASAAN
Hendra Kurniawan, M.Pd.

Kisah ini pada dasarnya berkisar pada masalah pembangkangan Ki Ageng Mangir terhadap Senapati Ingalaga, Raja Mataram yang baru saja membangun istananya di Pasar Gede atau Kuta Gede. Menurut Babad, Ki Ageng Mangir tidak mau datang ke istana Senapati untuk menunjukkan ketundukkannya sebagai kawula Senapati, sekalipun daerah lain yang jauh dari pusat kerajaan telah tunduk pada Senapati, seperti daerah Kedu, Bagelen, Pati, Jepara, Madiun, Kediri, Pajang, dan Semarang. Alasan Ki Ageng Mangir yaitu (1) keyakinan agama, “Pan Allah kang andarbeni bumi, aku suwita ing Allah huta’ala, ora ngawula Senapati, jer pada titahing Pangeran” (Bukankah Allah yang memiliki bumi ini, dan aku hanya menghamba kepada Allah Swt saja, bukan kepada Senapati, karena Senapati hanyalah sesama umat Tuhan saja). (2) Ki Ageng Mangir ingin mempertahankan tanah warisan nenek moyangnya, karena nenek moyangnya telah membuka tanah dengan susah payah. (3) Mangir merasa cukup kuat untuk menghadapi Senapati karena memiliki tombak yang bernama Kyai Barukuping. Menurut cerita, siapa saja yang terkena tombak itu baik manusia, binatang, atau tumbuhan akan mati.
Ki Ageng Mangir adalah cucu dari Ki Ageng Wanabaya, yaitu pendiri Desa Mangir, dan bergelar Ki Ageng Mangir (I). Ia pula yang mewariskan tombak Kyai Barukuping kepada anaknya yang juga bergelar sama, yaitu Ki Ageng Mangir (II). Pada waktu Senapati mulai mengusik ketenangan daerah Mangir di pinggir Sungai Progo, penguasa daerah ini adalah Ki Ageng Mangir yang terakhir. Ki Ageng Mangir (III) ini seorang perjaka yang bagus rupanya, pemberani, dan cukup wibawa. Bersama para pengikutnya, para bekel, dan kepala desa yang ada di bawah pengaruhnya, Mangir tetap tegar tidak mau tunduk pada Senapati.
Bagi Senapati, belum tunduknya daerah Mangir berarti belum tuntasnya kekuasaan Mataram, dan akan merugikan Senapati secara ekonomis maupun politis. Atas saran Adipati Mandakara, yaitu Ki Juru Martani pamannya sendiri, usaha menundukkan Mangir dilakukan secara halus. Caranya dengan memasukkan Mangir dalam perangkap perkawinan secara tersamar dengan putri Senapati sendiri. Sehingga Mangir akan menyerah dan tunduk pada Senapati karena ikatan perkawinan tanpa perlu pertumpahan darah.
Senapati segera menyusun rencana penjebakan Mangir melalui pengiriman rombongan pertunjukan wayang kulit keliling secara diam-diam. Rombongan ini terdiri dari seorang dalang, beberapa penabuh gamelan, dan putri raja yang menyamar sebagai anak dalang tersebut. Tumenggung Jayasupanta ditunjuk menjadi dalang, dengan berganti nama Ki Sandiguna. Saradipa sebagai pengendang, Saradula menjadi penabuh kenong, Tumenggung Bocor menjadi penabuh kempul, dan Nyi Tumenggung Adisara menjadi penabuh gender, sekaligus menjaga putri Senapati yang menyamar sebagai anak Ki Sandiguna, yaitu Dewi Retna Pembayun. Sebelumnya, Senapati telah meminta putrinya memikat Mangir sampai mau mengawininya dan kemudian menghadapnya. Dengan berat hati, Pembayun menerima tugas itu demi kekuasaan ayahnya.
Dengan mengaku sebagai pengikut Bupati Kediri yang mati dalam perjalanan menghadap Senapati, rombongan mencari penghidupan melalui pertunjukan wayang barangan dari desa ke desa. Sesampai di desa Mangir, rombongan diterima oleh Ki Ageng Mangir dan diminta mementaskan pagelaran wayangnya beberapa kali. Ki Ageng Mangir tidak hanya terpikat pada pertunjukannya, tetapi juga terpikat pada kecantikan Pembayun. Ki Ageng Mangir benar-benar jatuh cinta dan meminang Pembayun, maka gadis itu mengaku yang sebenarnya yaitu putri Senapati. Pembayun beralasan jika dia melarikan diri dari istana karena tidak mau dipaksa ayahnya untuk menikah dengan pria yang tidak dia cintai. Kemudian di perjalanan dia bertemu dengan dalang Sandiguna yang memungutnya sebagai anak. Karena kecintaannya kepada Pembayun, Ki Ageng Mangir tidak dapat menolak bujukan Pembayun untuk datang menghadap dan mohon ampun pada ayahnya di istana. Ki Ageng Mangir semula agak berat hati dan khawatir, maka ia menyiapkan pengikutnya dan siap dengan tombaknya untuk datang ke istana Kota Gede, ke tempat mertua sekaligus musuhnya.
Senapati yang mendengar keberhasilan rencananya itu merasa gembira dan melakukan penyambutan yang meriah. Dalam babad diceritakan bahwa keberangkatan Ki Ageng Mangir beserta rombongan pada hari Respati Manis (Kamis Legi). Setelah sampai di depan istana, Ki Ageng Mangir disambut dan masuk ke pendapa keraton sebelum bertemu raja, sementara para pengikutnya ditempatkan di luar dan dijamu secara meriah. Sebelum Ki Ageng Mangir bertemu Senapati, pusaka Kyai Barukuping dilarang untuk ikut dibawa dengan alasan etika keraton tidak membenarkan. Setelah Ki Ageng Mangir mendekat di hadapan Senapati untuk bersujud menghaturkan sembahnya kepada sang mertua dan hendak mencium lutut Senapati, serta merta Senapati menggeser lututnya dan dengan cepat kepala Ki Ageng Mangir dibenturkan ke watu gilang, singgasana yang didudukinya, sehingga Ki Ageng Mangir tewas seketika. Mayatnya diusung lewat pintu belakang dan dikuburkan di tempat yang telah disiapkan sebelumnya. Makam Ki Ageng Mangir di Kota Gede sekarang, sebagian berada di dalam pagar dan sebagian berada di luar pagar. Hal ini dikarenakan Ki Ageng Mangir dianggap sebagai anggota keluarga (menantu Senapati), tetapi juga musuh Senapati.
Dalam Babad Mangir versi Raden Ngabehi Suradipura menyebutkan kematian Ki Ageng Mangir dengan candra sangkala “Tri Boja Tata Bumi” atau tahun 1523 Saka (Jawa) atau tahun 1601 M. Angka tahun itu agak meragukan karena sama dengan angka tahun kematian Senapati yaitu 1601. Meskipun mungkin saja keduanya meninggal di tahun yang sama. Akan tetapi dalam Babad Mangir versi lain yang tidak menyebutkan angka kematian Mangir, memberi kesan bahwa setelah kematian Mangir, Senapati kemudian dihadapkan pada pemberontakan Pati. Setelah pemberontakan Pati, Babad menceritakan kematian Senapati. Dalam kajian de Graaf disimpulkan bahwa pemberontakan Pati terjadi tahun 1600, setahun sebelum kematian Senapati. Maka diduga kematian Ki Ageng Mangir terjadi sebelum tahun pemberontakan Pati atau dapat juga terjadi di tahun yang sama dengan pemberontakan tersebut.
Para pengikut Mangir dilucuti dan berjanji tunduk pada Senapati. Desa Mangir dibagikan kepada orang yang berjasa menundukkan Mangir. Terkait dengan pusaka tombak Kyai Barukuping menjadi berpindah tangan ke Senapati dan menjadi pusaka keraton. Tombak itu menurut Babad, diperoleh Ki Ageng Wanabaya atau Ki Ageng Mangir (I) secara mistis. Dikisahkan dalam Babad, seorang gadis desa di lereng gunung Merbabu hamil dan melahirkan ular ketika secara tidak sengaja menduduki pisau Wanabaya yang dipinjamnya ketika membantu tetangga yang punya kerja. Ular besar yang dilahirkan itu bernama Baru Klinting dan tinggal di Rawa Pening. Untuk membuktikan apakah ular besar itu benar-benar anaknya, maka Wanabaya memerintahkan ular tersebut melingkari gunung Merbabu. Ketika berusaha meraih ekor dengan lidahnya untuk dapat melingkari gunung, Wanabaya memotong lidah ular besar tersebut yang kemudian menjelma menjadi tombak.
Babad dibuat sebagai alat legitimasi penguasa agar memperoleh pengakuan dari rakyat demi eksistensi kekuasaannya. Hal ini dapat terjadi dikarenakan asal-usul Senapati yang sebenarnya berasal dari keluarga petani yang kemudian mendapat hadiah tanah Mataram karena ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, berhasil membantu Hadiwijaya (Jaka Tingkir) mengalahkan Arya Penangsang. Babad Tanah Jawi (BTJ) yang dibuat pada masa Sultan Agung menggambarkan bagaimana Mataram didirikan oleh Senapati atas dasar wangsit yang diperolehnya melalui pertapaannya di Lipura. Dikisahkan dalam BTJ, Senapati didatangi oleh tokoh mitos yaitu penguasa Laut Selatan, Nyai Rara Kidul yang menyampaikan bahwa Senapati dan keturunannya akan menjadi penguasa Jawa (Raja Jawa), meskipun nantinya di masa cicitnya berkuasa akan terjadi perpecahan di Mataram. Demikian juga halnya dengan Babad Mangir, kemungkinan besar sengaja dibuat sebagai pelengkap dari BTJ. Babad Mangir pada akhirnya juga menjadi alat legitimasi bagi Senapati. Keberhasilan Senapati sebagai penguasa hebat yang menaklukan daerah Mangir dan memperoleh pusaka tombak Kyai Barukuping semakin menegaskan hegemoninya.
Selain simbol-simbol legitimasi tersebut, BTJ juga menjelaskan silsilah raja-raja Mataram yang dimulai dari Nabi Adam, para nabi lainnya, tokoh-tokoh pewayangan, hingga raja-raja Majapahit. Legitimasi genealogis ini sengaja dibuat agar terlihat bahwa raja-raja Mataram bukan keturunan orang sembarangan melainkan leluhurnya adalah orang-orang hebat.
Dalam Babad Mangir yang telah dijabarkan sebelumnya terlihat bahwa peranan wanita sebagai alat politik sudah ada sejak dulu. Kesediaan putri Senapati, Dewi Retna Pembayun, memenuhi permintaan ayahnya untuk memancing Mangir menunjukkan bahwa wanita dapat menjadi sarana meraih kekuasaan. Wanita menjadi alat yang halus namun ampuh dan berhasil meluluhlantakkan hati Mangir hingga bersedia datang menemui Senapati. Jika kita mengamati sisi lain dari kisah Mangir ini, terlihat bahwa pada awalnya Pembayun enggan untuk mendukung rencana ayahnya tersebut, akan tetapi dengan terpaksa Pembayun melakukannya juga. Hal ini perlu dikaji lebih mendalam mengenai perasaan Pembayun setelah mengenal Mangir. Sosok Mangir muda yang gagah perkasa, berani, dan memiliki kepribadian yang baik dapat saja menumbuhkan benih cinta dalam hati Pembayun. Akan tetapi ketika perasaan itu barangkali muncul, Pembayun harus merelakan Mangir yang telah menjadi suaminya itu mati di tangan ayahnya.
KH HASYIM AL ASY'ARI

KH HASYIM AL ASY'ARI

03:48 0
KH HASYIM AL ASY'ARI
KH Hasyim Al Asy’ari adalah seorang ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Ia juga pendiri pesantren Tebuireng, Jawa Timur dan dikenal sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan agama dalam pesantren, ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.
Karya dan jasa Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja Pajang (keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir).

Kelahiran Dan Masa Kecil
Tidak jauh dari jantung kota Jombang ada sebuah dukuh yang bernama Ngedang Desa Tambak Rejo yang dahulu terdapat Pondok Pesantren yang konon pondok tertua di Jombang, dan pengasuhnya Kiai Usman. Beliau adalah seorang kiai besar, alim dan sangat berpengaruh, istri beliau Nyai Lajjinah dan dikaruniai enam anak:
1. Halimah (Winih)
2. Muhammad
3. Leler
4. Fadli
5. Arifah
Halimah kemudian dijodohkan dengan seorang santri ayahandanya yang bernama Asy’ari, ketika itu Halimah masih berumur 4 tahun sedangkan Asy’ari hampir beruisa 25 tahun. Mereka dikarunia 10 anak:
1. Nafi’ah
2. Ahmad Saleh
3. Muhammad Hasyim
4. Radiyah
5. Hasan
6. Anis
7. Fatonah
8. Maimunah
9. Maksun
10. Nahrowi, dan
11. Adnan.

Muhammad Hasyim, lahir pada hari Selasa Tanggal 24 Dzulqo’dah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Pebruari 1871 M. Ada yang mengisahkan beliau lahir di wilayah Gubug, tepatnya di Desa Ngroto. Yang pada masa itu masih masuk wilayah Kabupaten Demak. Ketika berkunjung ke rumah sang kakek, yang dikenal dengan nama Mbah Gareng.
Masa dalam kandungan dan kelahiran KH.M. Hasyim Asy’ari, nampak adanya sebuah isyarat yang menunjukkan kebesarannya. diantaranya, ketika dalam kandungan Nyai Halimah bermimpi melihat bulan purnama yang jatuh kedalam kandungannya, begitu pula ketika melahirkan Nyai Halimah tidak merasakan sakit seperti apa yang dirasakan wanita ketika melahirkan.
Di masa kecil beliau hidup bersama kakek dan neneknya di Desa Ngedang, ini berlangsung selama enam tahun. Setelah itu beliau mengikuti kedua orang tuanya yang pindah ke Desa Keras terletak di selatan kota Jombang dan di desa tersebut Kiai Asy’ari mendirikan pondok pesantren yang bernama Asy’ariyah.
Principle of early learning, mungkin teori ini layak disandang oleh beliau, berdasarkan kehidupan beliau yang mendukung yaitu hidup dilingkungan pesantren, sehingga wajar kalau nilai-nilai pesantren sangat meresap pada dirinya, begitu pula nilai-nilai pesantren dapat dilihat bagaimana ayahanda dan bundanya memberikan bimbingan kepada santri, dan bagaimana para santri hidup dengan sederhana penuh dengan keakraban dan saling membantu..
Belajar Pada Keluarga
Perjalanan keluarga beliau pulalah yang memulai pertama kali belajar ilmu-ilmu agama baik dari kakek dan neneknya. Desa Keras membawa perubahan hidup yang pertama kali baginya, disini mula-mula ia menerima pelajaran agama yang luas dari ayahnya yang pada saat itu pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Asy’ariyah. Dengan modal kecerdasan yang dimiliki dan dorongan lingkungan yang kondusif, dalam usia yang cukup muda, beliau sudah dapat memahami ilmu-ilmu agama, baik bimbingan keluarga, guru, atau belajar secara autodidak. Ketidakpuasannya terhadap apa yang sudah dipelajari, dan kehausan akan mutiara ilmu, membuatnya tidak cukup hanya belajar pada lingkungan keluarganya. Setelah sekitar sembilan tahun di Desa Keras (umur 15 tahun) yakni belajar pada keluarganya, beliau mulai melakukan pengembaraanya menuntut ilmu.
Mengembara ke Berbagai Pesantren
Dalam usia 15 tahun, perjalanan awal menuntut ilmu, Muhammad Hasyim belajar ke pondok-pondok pesantren yang masyhur di tanah Jawa, khususnya Jawa Timur. Di antaranya adalah Pondok Pesantren Wonorejo di Jombang, Wonokoyo di Probolinggo, Tringgilis di Surabaya, dan Langitan di Tuban (sekarang diasuh oleh K.H Abdullah Faqih), kemudian Bangkalan, Madura, di bawah bimbingan Kiai Muhammad Khalil bin Abdul Latif (Syaikhuna Khalil).
Ada cerita yang cukup mengagumkan tatkala KH.M. Hasyim Asy’ari “ngangsu kawruh” dengan Kiai Khalil. Suatu hari, beliau melihat Kiai Khalil bersedih, beliau memberanikan diri untuk bertanya. Kiai Khalil menjawab, bahwa cincin istrinya jatuh di WC, Kiai Hasyim lantas usul agar Kiai Khalil membeli cincin lagi. Namun, Kiai Khalil mengatakan bahwa cincin itu adalah cincin istrinya. Setelah melihat kesedihan di wajah guru besarnya itu, Kiai Hasyim menawarkan diri untuk mencari cincin tersebut didalam WC. Akhirnya, Kiai Hasyim benar-benar mencari cincin itu didalam WC, dengan penuh kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan, akhirnya Kiai Hasyim menemukan cincin tersebut. Alangkah bahagianya Kiai Khalil atas keberhasilan Kiai Hasyim itu. Dari kejadian inilah Kiai Hasyim menjadi sangat dekat dengan Kiai Khalil, baik semasa menjadi santrinya maupun setelah kembali ke masyarakat untuk berjuang. Hal ini terbukti dengan pemberian tongkat saat Kiai Hasyim hendak mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ yang dibawa KH. As’ad Syamsul Arifin (pengasuh Pondok Pesantren Syafi’iyah Situbondo).
Setelah sekitar lima tahun menuntut ilmu di tanah Madura (tepatnya pada tahun 1307 H/1891 M), akhirnya beliau kembali ke tanah Jawa, belajar di pesantren Siwalan, Sono Sidoarjo, dibawah bimbingan K. H. Ya’qub yang terkenal ilmu nahwu dan shorofnya. Selang beberapa lama, Kiai Ya’qub semakin mengenal dekat santri tersebut dan semakin menaruh minat untuk dijadikan menantunya.
Pada tahun 1303 H/1892 M., Kiai Hasyim yang saat itu baru berusia 21 tahun menikah dengan Nyai Nafisah, putri Kiai Ya’qub. Tidak lama setelah pernikahan tersebut, beliau kemudian pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan ibadah haji bersama istri dan mertuanya. Disamping menunaikan ibadah haji, di Mekah beliau juga memperdalam ilmu pengetahuan yang telah dimilkinya, dan menyerap ilmu-ilmu baru yang diperlukan. Hampir seluruh disiplin ilmu agama dipelajarinya, terutama ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hadits Rasulullah SAW yang menjadi kegemarannya sejak di tanah air.

Perjalanan hidup terkadang sulit diduga, gembira dan sedih datang silih berganti.demikian juga yang dialami Kiai Hasyim Asy’ari di tanah suci Mekah. Setelah tujuh bulan bermukim di Mekah, beliau dikaruniai putra yang diberi nama Abdullah. Di tengah kegembiraan memperoleh buah hati itu, sang istri mengalami sakit parah dan kemudian meninggal dunia. empat puluh hari kemudian, putra beliau, Abdullah, juga menyusul sang ibu berpulang ke Rahmatullah. Kesedihan beliau yang saat itu sudah mulai dikenal sebagai seorang ulama, nyaris tak tertahankan. Satu-satunya penghibur hati beliau adalah melaksanakan thawaf dan ibadah-ibadah lainnya yang nyaris tak pernah berhenti dilakukannya. Disamping itu, beliau juga memiliki teman setia berupa kitab-kitab yang senantiasa dikaji setiap saat. Sampai akhirnya, beliau meninggalkan tanah suci, kembali ke tanah air bersama mertuanya.
Kematangan Ilmu di Tanah Suci
Kerinduan akan tanah suci rupanya memanggil beliau untuk kembali lagi pergi ke kota Mekah. Pada tahun 1309 H/1893 M, beliau berangkat kembali ke tanah suci bersama adik kandungnya yang bernama Anis. Kenangan indah dan sedih teringat kembali tatkala kaki beliau kembali menginjak tanah suci Mekah. Namun hal itu justru membangkitkan semangat baru untuk lebih menekuni ibadah dan mendalami ilmu pengetahuan. Tempat-tempat bersejarah dan mustajabah pun tak luput dikunjunginya, dengan berdoa untuk meraih cita-cita, seperti Padang Arafah, Gua Hira’, Maqam Ibrahim, dan tempat-tempat lainnya. Bahkan makam Rasulullah SAW di Madinah pun selalu menjadi tempat ziarah beliau. Ulama-ulama besar yang tersohor pada saat itu didatanginya untuk belajar sekaligus mengambil berkah, di antaranya adalah Syaikh Su’ab bin Abdurrahman, Syaikh Muhammad Mahfud Termas (dalam ilmu bahasa dan syariah), Sayyid Abbas Al-Maliki al-Hasani (dalam ilmu hadits), Syaikh Nawawi Al-Bantani dan Syaikh Khatib Al-Minang Kabawi (dalam segala bidang keilmuan).
Upaya yang melelahkan ini tidak sia-sia. Setelah sekian tahun berada di Mekah, beliau pulang ke tanah air dengan membawa ilmu agama yang nyaris lengkap, baik yang bersifat ma’qul maupun manqul, seabagi bekal untuk beramal dan mengajar di kampung halaman.
Mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng
Sepulang dari tanah suci sekitar Tahun1313 H/1899 M, beliau memulai mengajar santri, beliau pertama kali mengajar di Pesantren Ngedang yang diasuh oleh mediang kakeknya, sekaligus tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Setelah itu belaiu mengajar di Desa Muning Mojoroto Kediri. Disinilah beliau sempat menikahi salah seoarang putri Kiai Sholeh Banjar Melati. Akungnya, karena berbagai hal, pernikahan tersebut tidak berjalan lama sehingga Kiai Hasyim kembali lagi ke Jombang.
Ketika telah berada di Jombang beliau berencana membangun sebuah pesantren yang dipilihlah sebuah tempat di Dusun Tebuireng yang pada saat itu merupakan sarang kemaksiatan dan kekacauan. Pilihan itu tentu saja menuai tanda tanaya besar dikalangan masyarakat, akan tetapi semua itu tidak dihiraukannaya.
Nama Tebuireng pada asalnya Kebo ireng (kerbau hitam). Ceritanya, Di dearah tersebut ada seekor kerbau yang terbenam didalam Lumpur, dimana tempat itu banyak sekali lintahnya, ketika ditarik didarat, tubuh kerbau itu sudah berubah warna yang asalnya putih kemerah-merahan berubah menjadi kehitam-hitaman yang dipenuhi dengan lintah. Konon semenjak itulah daerah tadi dinamakan Keboireng yang akhirnya berubah menjadi Tebuireng.
Pada tanggal 26 Robiul Awal 1317 H/1899 M, didirikanlah Pondok Pesantren Tebuireng, bersama rekan-rekan seperjuangnya, seperti Kiai Abas Buntet, Kiai Sholeh Benda Kereb, Kiai Syamsuri Wanan Tara, dan beberapa Kiai lainnya, segala kesuliatan dan ancaman pihak-pihak yang benci terhadap penyiaran pendidikan Islam di Tebuireng dapat diatasi.
KH. M. Hasyim Asya’ri memulai sebuah tradisi yang kemudian menjadi salah satu keistimewaan beliau yaitu menghatamkan kitab shakhihaini “Al-Bukhori dan Muslim” dilaksanakan pada setiap bulan suci ramadlan yang konon diikuti oleh ratusan kiai yang datang berbondong-bondong dari seluruh jawa. Tradisi ini berjalan hingga sampai sekarang (penggasuh PP. Tebuireng KH. M.Yusuf Hasyim). Para awalnya santri Pondok Tebuireng yang pertama berjumlah 28 orang, kemudian bertambah hingga ratusan orang, bahkan diakhir hayatnya telah mencapai ribuan orang, alumnus-alumnus Pondok Tebuireng yang sukses menjadi ulama’ besar dan menjadi pejabat-pejabat tinggi negara, dan Tebuireng menjadi kiblat pondok pesantren.
Mendirikan Nahdlatul Ulama’
Disamping aktif mengajar beliau juga aktif dalam berbagai kegiatan, baik yang bersifat lokal atau nasional. Pada tanggal 16 Sa’ban 1344 H/31 Januari 1926 M, di Jombang Jawa Timur didirikanlah Jam’iyah Nahdlotul Ulama’ (kebangkitan ulama) bersama KH. Bisri Syamsuri, KH. Wahab Hasbullah, dan ulama’-ulama’ besar lainnya, dengan azaz dan tujuannya: “Memegang dengan teguh pada salah satu dari madzhab empat yaitu Imam Muhammad bin Idris Asyafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah An-Nu’am dan Ahmad bin Hambali. Dan juga mengerjakan apa saja yang menjadikan kemaslahatan agama Islam”. KH. Hasyim Asy’ari terpilih menjadi rois akbar NU, sebuah gelar sehingga kini tidak seorang pun menyandangnya. Beliau juga menyusun qanun asasi (peraturan dasar) NU yang mengembangkan faham ahli sunnah waljama’ah.

Nahdlatul ulama’ sebagai suatu ikatan ulama’ seluruh Indonesia dan mengajarkan berjihad untuk keyakinan dengan sistem berorganisasi. Memang tidak mudah untuk menyatukan ulama’ yang berbeda-beda dalam sudut pandangnya, tetapi bukan Kiai Hasyim kalau menyerah begitu saja, bahwa beliau melihat perjuangan yang dilakukan sendiri-sendiri akan lebih besar membuka kesempatan musuh untuk menghancurkannya, baik penjajah atau mereka yang ingin memadamkan sinar dan syi’ar Islam di Indonesia, untuk mengadudomba antar sesama. Beliau sebagai orang yang tajam dan jauh pola pikirnya dalam hal ini, melihat bahaya yang akan dihadapkannya oleh umat Islam, dan oleh karena itu beliau berfikir mencari jalan keluarnya yaitu dengan membentuk sebuah organisasi dengan dasar-dasar yang dapat diterima oleh ulama’ulama lain.
Jam’iyah ini berpegang pada faham ahlu sunnah wal jama’ah, yang mengakomodir pada batas-batas tertentu pola bermadzhab, yang belakangan lebih condong pada manhaj dari pada sekedar qauli. Pada dasawarsa pertama NU berorentasi pada persoalan agama dan kemasyarakatan. Kegiatan diarahkankan pada persoalan pendidikan, pengajian dan tabligh. Namun ketika memasuki dasawarsa kedua orentasi diperluas pada persoalan-persolan nasional. Hal tersebut terkait dengan keberadaannya sebagai anggota federasi Partai dan Perhimpunan Muslim Indonesia (MIAI) NU bahkan pada perjalanan sejarahnya pernah tampil sebagai salah satu partai polotik peserta pemilu, yang kemudian menyatu dengan PPP, peran NU dalam politik praktis ini kemudian diangulir dengan keputusan Muktamar Situbono yanh menghendaki NU sebagai organisasi sosial keagamaan kembali pada khitohnya.
Pejuang Kemerdekaan
Peran KH. M. Hasyim Asy’ari tidak hanya terbatas pada bidang keilmuan dan keagamaan, melainkan juga dalam bidang sosial dan kebangsaan, beliau terlibat secara aktif dalam perjuangan membebaskan bangsa dari penjajah belanda.
Pada tahun 1937 beliau didatangi pimpinan pemerintah belanda dengan memberikan bintang mas dan perak tanda kehormatan tetapi beliau menolaknya. Kemudian pada malam harinya beliau memberikan nasehat kepada santri-santrinya tentang kejadian tersebut dan menganalogkan dengan kejadian yang dialami Nabi Muhammad SAW yang ketika itu kaum Jahiliyah menawarinya dengan tiga hal, yaitu:
• Kursi kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan
• Harta benda yang berlimpah-limpah
• Gadis-gadis tercantik
Akan tetapi Nabi SAW menolaknya bahkan berkata: “Demi Allah, jika mereka kuasa meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku dengan tujuan agar aku berhenti dalam berjuang, aku tidak akan mau menerimanya bahkan nyawa taruhannya”. Akhir KH.M. Hasyim Asy’ari mengakhiri nasehat kepada santri-santrinya untuk selalu mengikuti dan menjadikan tauladan dari perbuat Nabi SAW.
Masa-masa revolusi fisik di Tahun 1940, barang kali memang merupakan kurun waktu terberat bagi beliau. Pada masa penjajahan Jepang, beliau sempat ditahan oleh pemerintah fasisme Jepang. Dalam tahanan itu beliau mengalami penyiksaan fisik sehingga salah satu jari tangan beliau menjadi cacat. Tetapi justru pada kurun waktu itulah beliau menorehkan lembaran dalam tinta emas pada lembaran perjuangan bangsa dan Negara republik Indonesia, yaitu dengan diserukan resolusi jihad yang beliau memfatwakan pada tanggal 22 Oktober 1945, di Surabaya yang lebih dikenal dengan hari pahlawan nasional.
Begitu pula masa penjajah Jepang, pada tahun 1942 Kiai Hasyim dipenjara (Jombang) dan dipindahkan penjara Mojokerto kemudian ditawan di Surabaya. Beliau dianggap sebagai penghalang pergerakan Jepang.
Setelah Indonesia merdeka Pada tahun 1945 KH. M. Hasyim Asy’ari terpilih sebagai ketua umum dewan partai Majlis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI) jabatan itu dipangkunya namun tetap mengajar di pesantren hingga beliau meninggal dunia pada tahun 1947.
Keluarga Dan Sisilah
Hampir bersamaan dengan berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng (1317 H/1899 M), KH. M. Hasyim Asya’ri menikah lagi dengan Nyai Nafiqoh putri Kiai Ilyas pengasuh Pondok Pesantren Sewulan Madiun. Dari perkawinan ini kiai hasyim dikaruniai 10 putra dan putri yaitu:
1. Hannah
2. Khoiriyah
3. Aisyah
4. Azzah
5. Abdul Wahid
6. Abdul hakim (Abdul Kholiq)
7. Abdul Karim
8. Ubaidillah
9. Mashurroh
10. Muhammad Yusuf.
Menjelang akhir Tahun 1930, KH. M. Hasyim Asya’ri menikah kembali denagn Nyai Masruroh, putri Kiai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Kecamatan Pagu Kediri, dari pernikahan tersebut, beliua dikarunia 4 orang putra-putri yaitu:
1. Abdul Qodir
2. Fatimah
3. Chotijah
4. Muhammad Ya’kub
Garis keturunan KH. M. Hasyim Asy’ari (Nenek ke-sembilan )
Muhammad Hasyim bin Asy’ari bin Abdul Wahid (Pangeran Sambo) bin Abdul Halim (Pangeran Benowo) bin Abdul Rahman (Mas Karebet/Jaga Tingkir) yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya bin Abdullah (Lembu Peteng) yang bergelar Brawijaya VI
Wafatnya Sang Tokoh
Pada Tanggal 7 Ramadhan 1366 M. jam 9 malam, beliau setelah mengimami Shalat Tarawih, sebagaimana biasanya duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat. Tak lama kemudian, tiba-tiba datanglah seorang tamu utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Sang Kiai menemui utusan tersebut dengan didampingi Kiai Ghufron, kemudian tamu itu menyampaikan pesan berupa surat. Entah apa isi surat itu, yang jelas Kiai Hasyim meminta waktu semalam untuk berfikir dan jawabannya akan diberikan keesokan harinya.

Namun kemudian, Kiai Ghufron melaporkan situasi pertempuran dan kondisi pejuang yang semakin tersudut, serta korban rakyat sipil yang kian meningkat. Mendengar laporan itu, Kiai Hasyim berkata, “Masya Allah, Masya Allah…” kemudian beliau memegang kepalanya dan ditafsirkan oleh Kiai Ghufron bahwa beliau sedang mengantuk. Sehingga para tamu pamit keluar. Akan tetapi, beliau tidak menjawab, sehingga Kiai Ghufron mendekat dan kemudian meminta kedua tamu tersebut untuk meninggalkan tempat, sedangkan dia sendiri tetap berada di samping Kiai Hasyim Asy’ari. Tak lama kemudian, Kiai Ghufron baru menyadari bahwa Kiai Hasiyim tidak sadarkan diri. Sehingga dengan tergopoh-gopoh, ia memanggil keluarga dan membujurkan tubuh Kiai Hasyim. Pada saat itu, putra-putri beliau tidak berada di tempat, misalnya Kiai Yusuf Hasyim yang pada saat itu sedang berada di markas tentara pejuang, walaupun kemudian dapat hadir dan dokter didatangkan (Dokter Angka Nitisastro).
Tak lama kemudian baru diketahui bahwa Kiai Hasyim terkena pendarahan otak. Walaupun dokter telah berusaha mengurangi penyakitnya, namun Tuhan berkehendak lain pada kekasihnya itu. KH.M. Hasyim Asy’ari wafat pada pukul 03.00 pagi, Tanggal 25 Juli 1947, bertepatan dengan Tanggal 07 Ramadhan 1366 H. Inna LiLlahi wa Inna Ilaihi Raji’un.
Kepergian belaiu ketempat peristirahatan terakhir, diantarkan bela sungkawa yang amat dalam dari hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama dari para pejabat sipil maupun militer, kawan seperjuangan, para ulama, warga NU, dan khususnya para santri Tebuireng. Umat Islam telah kehilangan pemimpin besarnya yang kini berbaring di pusara beliau di tenggah Pesantrn Tebuireng. Pada saat mengantar kepergianya, shahabat dan saudara beliau, KH. Wahab hazbulloh, sempat mengemukakan kata sambutan yang pada intinya menjelaskan prinsip hidup belaiu, yakni, “berjuang terus dengan tiada mengenal surut, dan kalau perlu zonder istirahat”.
Karya Kitab Klasik
Peninggalan lain yang sangat berharga adalah sejumlah kitab yang beliau tulis disela-sela kehidupan beliau didalam mendidik santri, mengayomi ribuan umat, membela dan memperjuangkan bumi pertiwi dari penjajahan. Ini merupakan bukti riil dari sikap dan perilakunya, pemikirannya dapat dilacak dalam beberapa karyanya yang rata-rata berbahasa Arab.
Tetapi sangat disayangkan, karena kurang lengkapnya dokumentasi, kitab-kitab yang sangat berharga itu lenyap tak tentu rimbanya. Sebenarnya, kitab yang beliau tulis tidak kurang dari dua puluhan judul. Namun diakungkan yang bisa diselamatkan hanya beberapa judul saja, diantaranya:
1. Al-Nurul Mubin Fi Mahabati Sayyidi Mursalin. Kajian kewajiban beriman, mentaati, mentauladani, berlaku ikhlas, mencinatai Nabi SAW sekaligus sejarah hidupnya
2. Al-Tanbihat al-Wajibat Liman Yashna’u al-Maulida Bi al-Munkarat. Kajian mengenai maulid nabi dalam kaitannya dengan amar ma’ruf nahi mungkar
3. Risalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Kajian mengenai pandangan terhadap bid’ah, Konsisi salah satu madzhab, dan pecahnya umat menjadi 73 golongan
4. Al-Durasul Muntasyiroh Fi Masail Tis’a ‘asyaraoh. Kajian tentang wali dan thoriqoh yang terangkum dalam sembilan belas permasalahan.
5. Al-Tibyan Fi Nahyi’an Muqatha’ah al-Arham Wa al-Aqrab Wa al-Akhwal. Kajian tentang pentingnya jalinan silaturahmi antar sesama manusia
6. Adabul ‘Alim Wa Muata’alim. Pandangan tentang etika belajar dan mengajar didalam pendidikan pesantrren pada khususnya
7. Dlau’ al-Misbah Fi Bayani Ahkami Nikah. Kajian hukum-hukum nikah, syarat, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan
8.Ziyadah Ta’liqot. Kitab yang berisikan polemic beliau dengan syaikh Abdullah bin yasir Pasuruaan
LEGENDA BARUKLINTING DAN NYAI LEMBAH (SENTONO RATU DEMAK)

LEGENDA BARUKLINTING DAN NYAI LEMBAH (SENTONO RATU DEMAK)

03:14 0
LEGENDA BARUKLINTING DAN NYAI LEMBAH (SENTONO RATU DEMAK)
DIAWALI dengan puja semedi Sang Ratu Shima, penguasa kerajaan Tertua di pulau Pulau Jawa, Kerajaan Kalingga. Di ikutilah petunjuk dari yang maha kuasa untuk segera mendirikan Candi sebagai tempat pemujaan kepada Shang yhang Widhi sebagai penganut Agama Hindu, maka pada suatu hari berangkatlah rombongan pencarian Gunung Suralaya, atau gunung Ngungrungan, atau Gunung Ungaran, disana dipercaya sebagai pesanggrahan para dewa.
Dalam perjalanan nya sebagai pemimpin rombongan adalah Ki Ajar Salokantoro (Saloka Antara) Seorang pendeta agama hindu yang Tampan rupawan dan gagah perkasa. Pada suatu tempat sang Begawan melarang untuk melakukan apapun, pada tempat tersebut di namakan Dusun Larangan, kemudian dalam perjalanan lebih keatas lereng gunung tersebut ada tempat yang berbau harum, yang dinamakan dusun Darum, dan sampailah pada tempat yang dituju disana Rombongan melakukan Puja Semedi dengan Munutup Babahan Hawa Songo (sembilan lubang pada Tubuh Manusia) atau Nggedong Babahan Howo Songo (Nggedong Artinya Mengikat=Nggedong Bayi) maka sampai sekarang nama tersebut terkenal dengan nama Gedong Songo. 
Dimulailah pembuatan Candi, dalam proses pembuatan candi didisain Candi 1 berjumlah 1 Candi ke 2 berjumlah 2 Candi ke tiga berjmlah 3 dan sampai candi ke Delapan berjumlah 8 candi, dengan sistem ada Candi Induk dan Candi perwara, dalam rombongan mensertakan beberapa dayang dan tukang masak, sebagai Lurah dayang bernama Roro Ari Wulan (Ari = matahari, Wulan = Bulan) Seorang lurah dayang bergelar Matahari dan Bulan adalah sang Ratu Sima Sendiri. Dipesankan jangan memangku pisau (hanya kata sandi) maka Roro Ari Wulan terjadilah Hamil karena melanggar pesan Kisalokantoro. Maka pada bulan yang ditentukan Putra Sang Ratu Shima. Diberilah nama Bra Klinting. Pada saat Roro Ari Wulan hamil Ki salokantoro pergi meninggalkan Gedong songo yang kurang candi ke Sembilan menuju pertapaan di gunung Telomoyo.
Pada suatu hari Bra Klinting bertanya pada ibunya.
BK : Duh kanjeng ibu aku kok tidak pernah melihat Kanjeng Romo, seperti anak2 yang lain, apakah aku tidak punya Romo Kanjeng Ibu?
RAW : Apakah sebabnya ananda selalu menanyakan hal ini?
BK : Buat kesempurnaan hidup ananda, kanjeng ibu, apakah kanjeng ibu tidak Nelangsa melihat Kawontenan Kulo. Engkang Wujud Taksoko.
RAW : Duh Ngger putraningsun, kalau memang begitu tujuanmu pun ibu hanya dapat memberi bekal Sumping buat pertanda bahwa ananda adalah Putraku Bra Klinting.
BK : Duh Kanjeng Ibu Sembah Sungkem Pangabekti saya haturkan tuk Kanjeng, dan ananda mohon pamit untuk mencari Ayahanda untuk menuju kesempurnaan Hidup saya.
RAW : Joyojoyo wijayanti Apapun keinginanmu aku mohonkan kepada Shangyang Widhi agar semua niat baikmu dapat terlaksana.
(baru klinting menghaturkan sembah tiga kali yaitu masih duduk, mau berjalan dan sampai di depan pintu, baru berbalik meneruskan langkahnya). 
RAW : Demi keselamatan ananda harus melewati jalan dibawah tanah, agar tidak bertemu manusia.
BK : Sendika melaksanakan semua pesan Ibunda.
Dalam perjalanan Baru Klinting beberapa kali keluar didaratan untuk melihat sudah sampai dimanakah? Pada waktu yang sudah ditentukan sampailah baru klinting di pucak Gunung Telo Moyo, disanalah Ki Ajar Salokantoro bersemedi.
Bartemulah Baruklinting dengan Ki Ajar Salokantoro.
KAS : Hai siapakah anda perwujudan Taksoko (Ular Besar) hadir menemuiku ada kepentingan apakah?
BK : Duh Sang Pertapa saya bernama Bra Klinting, saya putra Kanjeng Ibu Roro Ari Wulan. Dari Gedong Songo.
KAS : Siapa Roro Ari Wulan itu? (pura 2 tidak tau)
BK : Beliau adalah Kanjeng Ibu Ratu Shima, dari Kerajaan Kalingga, yang sedang mendirikan Candi Di lereng gunung Suroloyo, dan saya diberikan tanda berupa Sumping di telinga saya ini.
KAS : Ha ha ha.Hem… ( salokantoro terdiam sejenak sambil memandangi dengan saksama sumping Bra Klinting)
Terdengar alunan rebab dan seruling mengiringi kesunyian yang terjadi di puncak Telomoyo. Dan kemudian
KAS : Saya adalah seorang Pendeta dapat dikatakan engsun adalah Orang Suci dan tidak menikah, hanya karena Nasehat saya tidak diindahkan Oleh Ibundamu kenapa saya yang harus Mengakuimu sebagai anakku? (dengan nada bertanya) Pada kenyataanya wujudmu bukan Manusia bagaimana mungkin aku memiliki anak berwujud Ular.
BK : Mohon maaf Sang ajar, Semua yang diceritakan Kanjeng ibu kepada saya adalah kebenaran.
KAS : Ya…. Kebenaran itu dapat menurut kamu, tapi belum benar menurut aku
Manurut ingsun Kalau manusia dengan manusia harus punya anak berwujud manusia.
BK : Apakah Kiajar menginginkan pembuktian agar panjenengan percaya bahwa saya adalan Putramu.
KAS : Ya tentu saja, Kalau kau benar2 putraku, Walau kamu tidak punya tangan, coba ambilkan saya Air dari pantai selatan dengan Keranjang MotoEro.
BK : Ya kiAjar saya mohon Doa Restunya semoga semua persyaratan yang KiAjar ajukan kepada saya dapat terlaksana.
(Bra Klinting menghaturkan Sembah dan pergi mencai air dari pantai selatan dengan menggunakan keranjang motoero (keranjang yang lubangya sangat besar-besar.)
Dalam perjalanan menuju pantai selatan Bra Klinting Lewat jalan bawah tanah. Setelah berhasil mendapatkan air pantai selatan Bra Klinting pulang tetapi dalam perjalananya salah arah menuju ke timur. Setelah keluar kedaratan ternyata sampai sebelah timurnya Gunung Lawu perjalanan sudah terlewat terlalu jauh yaitu sampai di Bleduk Kuwu (sumber air garam di kuwu terhubung dengan pantai selatan) dan sampai sekarang di Bleduk Kuwu terdapat sumber Garam ditengah2 daratan. 
Karena salah arah Bra Klinting membuang semua isi keranjangnya dan kembali lagi ke pantai selatan lewat jalan semula agar lebih mudah, baru kemudian mengambil air dan pulang menuju puncak Telomoyo.

BK : Ki Ajar Saya datang memenuhi permintaanmu.
KAS : Yo..Yo..Mari Bra Kliting silahkan masuk. (Setalah Bra Klinting masuk)
Bagaimana kabar perjalananmu setelah sekian tahun mencari Air dari pantai selatan? Apakah menemui Rintangan dan kesulitan?
BK : Atas berkah pangestu KiAjar Semua pekerjaan saya berhasil. Hanya pernah sekali tersasar sampai sebelah timurnya Gunung Lawu.
KAS : Ya ..KiAjar tahu tentang perjalananmu, tetapi Kalau kamu tetap Ingin aku akui sebagai anaku kamu Harus Dapat berubah Ujud menjadi Manusia.
BK : Ya ki Ajar, Saya siap melaksanakan perintahmu, Tetapi bagaimana caranya, mohon petunjuk Ki Ajar.
KAS : Caranya Kamu harus Bertapa Melingkari gunung ini dengan tubuhmu, Sampai ekor dan kepalamu dapat bertemu dan dapat ajur ajer dengan manusia lainnya.
Pada saat itu Bra Klinting ingin sesegera mungkin diakui sebagai Putra Ki Ajar Salokantoro, maka dililitlah Gunung Telomoyo dengan tubuhnya, karena tidak mencukupi diperintahkanya untuk menyambung dengan lidahnya.
BK : Ini lho kanjeng Romo hampir Cukup!!! (Bra Klinting kegirangan)
KAS : Cukup apa ,…? Kalau begitu itu namanya Curang (dengan serta merta lidah Bra Klinting Ditebas Oleh Ki Ajar Salokantoro)

Kemudian potongan lidah tersebut menjelma mejadi berbagai pusaka yang nantinya dimiliki raja-raja tanah jawa seperti yaitu Tumbak Kyai Pleret (pusaka yang dipegang oleh keturunan mataram), Kyai Naga kasur (pusaka yang dipegang oleh keturunan Ki Ageng Selo), Nyai Sentonini & Kyai Sentono (pusaka yang dipegang oleh keturunan Pajang), dan terkhir Kyai Nagasasra (pusaka yang seharusnya dipegang oleh keturunan Demak). Dan tubuh Bra Klinting tetap disitu sebagai pertapa sampai pada jaman yang ditentukan.
HARI demi hari berlalu, bulan demi bulan pun berganti. Baruklinting (Bra Klinthing) bertapa selama ratusan tahun lamanya. Orang tuanya sudah purna, dan orang-orang yang hidup di jamannya pun sudah banyak yang berganti. Tanah tempatnya bertapa, bahkan tubuhnya sendiri, mulai tertutupi rumput dan belukar.
Suatu saat ketika di desa Bono Rowo akan mengadakan pesta rakyat, pada waktu itu sedang musim kemarau yang mengakibatkan paceklik sehingga harus mencari Hewan Buruan jauh masuk ke dalam hutan. Namun hewan hewan pun tak dapat ditemukan, menjelang tengah hari karena kelelahan merekapun beristirahat dibawah pohon sambil nginang.
MS1 : Kang kenopo yo tahun ini dewe kok kabeh sial, rak ono siji-sijio hewan buruan sing dewe delok. Piye yo kang?
MS2 : Nginang nginang dulu to (sambil membelah sebutir jambe dengan parangnya, konon orang jawa jaman dahulu tidak merokok tetapi makan kinang laki-laki maupun perempuan) pada saat mereka menginang ternyata bekas parangannya mengeluarkan darah.
MS1 : Wah kang lah ini kok ono geteh opo awakmu keparang?
MS2 : Orak ik , wah mesti iki kewan? Ayo konco-konco di undang. (mereka teriak-teriak memanggil teman-temannya )
MS1 : Hei…. tulong neng kene ono daging cepat rene ono daging cepat!!!
Masyarakat yang ikut berburu dihutan itu semua berlarian menuju temannya yang mengabarkan bahwa ada daging yang ternyata dari sebuah ular yang sangat besar, maka mereka pun menyembelih ular itu, memotong-motongnya menjadi bagian kecil-kecil untuk disantap bersama. Daging ular itu begitu besar, sehingga setiap warga desa dapat menikmati masakan daging ular tersebut. Dari sekian banyak potongan daging-daging kecil itu, tanpa disadari, ada sepotong daging yang menjelma menjadi seorang bocah laki-laki. Dialah Baruklinting, Seperti janji Ki Ajar Salokantoro, akan di akui dan menjelma menjadi manusia apabila dapat ajur ajer dengan manusia lainnya. Disaat inilah tubuh baru klinting Menyatu dimakan oleh manusia, dan saat itulah penjelmaan terjadi, menjadi Bocah Bajang yang dekil kotor jelek dan gudikan maklumlah karena baru saja terbangun bertapa setelah sekian lama.
Kehadirannya begitu mencolok di tengah-tengah pesta desa, di mana orang-orang lain berdandan rapi dan harum. Mereka makan dan minum sepuasnya, berpesta bersama. Baruklinting mendekat ke arah penduduk desa, dan menemui beberapa orang warganya.
BK : Mas, saya lapar sekali. Bolehkah saya minta makananya sedikit saja?(tanyanya kepada seorang laki-laki gagah. Lelaki itu mengernyitkan dahinya, lalu menutup hidungnya karena bau yang tidak sedap dari tubuh Baruklinting)
MS : Sopo Koe? (laki-laki itu balas bertanya)
BK : Namaku Baruklinting, Mas. Saya melihat ada banyak makanan di sini, dan saya lapar sekali. Kasihanilah saya (katanya memelas)
MS : Baruklinting? Aku tidak mengenalmu. Engkau bukan penduduk desa ini. Dengan tubuh dekil, kudisan, dan bau seperti itu, Engkau tidak pantas makan bersama-sama dengan kami. Pergilah! (laki-laki itu mengusirnya).
Baruklinting kemudian mendekat kepada seorang perempuan yang sedang memasak daging
BK : Nyonya, bukankah Nyonya yang memasak semua makanan ini? (Perempuan itu memandang Baruklinting dengan heran. Dia pun segera menutup hidungnya, tidak tahan dengan bau tubuh Baruklinting) 
MS : Memang betul, saya yang memasaknya. Bapak-bapak mendepatkan seekor ular yang besar, cukup untuk dimakan seluruh penduduk desa ini. Maka kami pun memotong-motong daging ular itu dan memasaknya
BK : Bolehkah aku minta sedikit masakan Nyonya?” tanya Baruklinting.
(Perempuan itu menggeleng)
MS : Tidak, tidak. Pergilah kau, tubuhmu kudisan dan bau. Selera makan penduduk desa ini akan hilang karenamu. Pergilah! (perempuan itu pun mengusir Baruklinting pergi.)
Untuk ketiga kalinya, mendatangi seorang nyai yang bertugas sebagai penanak nasi yang tak lain adalah Nyi Lembah (NL)
BK : Mbok aku ngeleh banget mbok, wis pirang pirang taun ratau maem mbok.
(mbok aku lapar banget mbok Sudah bertaun taun tidak makan.)
NL : Nak ini hanya ada nasi, mbok ndak punya ikan dan sayur, karena mbok Cuma ditugasin masik nasi.
BK : Terimakasih mbok (sambil makan makanya anak kelaparan, ia berpesan) Mbok nanti kalau ada keramaian mbok naiklah lesung dan bawa Enthong itu (sambil menunjuk lesung alat menumbuk padi.)
Jangan lupa ya mbok! 
Selesai makan Bocah Bajang meninggalkan rumah Nyi Lembah. Kemudian pesta dimulai dengan tarian tayuban yang mengalungi sampur kepada kepala kampung adalah penari tercantik disana dan mereka mulailah bersenang-senang. Pada tengah-tengah ramai-ramainya acara, Baruklinting yang datang ke desa Bono Rowo dalam Wujud Anak Bajang menuju tengah keramaian dan mengadakan sayembara Mencabut Lidi (Pusaka Sodho Seler/Sodho Lanang)
BK : Hai wong-wong Bono Rowo siapa saja yang dapat mencabut Lidi yang aku Tancapkan ini, maka aku dapat kau jadikan budak. Tetapi kalau kamu semua tak ada yang dapat mencabut maka daging yang sudah kalian makan harus kau kembalikan semua Ha..ha..ha……….!!!! (sambil tertawa keras sekali memecah keramaian)
MS : Wah siapa tuh sombong banget… ayo..ayo..ayo. (Kemudian ramai-ramai mereka ingin mencabut lidi yang di tancapkan oleh Bocah Bajang).
MS : Lihat nih badanku gede gagah (sambil sombong) dia menunjukkan kegagahannya, Masak mainan anak kecil dipamerkan disini,!!! (pemuda itu dengan melompat tak sabar langsung menyambar lidi yang ditancapkan Bocah bajang, tetapi apa yang terjadi pemuda gagah terbanting keras sekali dan pingsan. (membuatnya disorakin teman temanya)
MS : (dengan serentak mereka maju) Ayo kawan kita Cabut bersama…!!! (walaupun begitu lidi tak dapat goyah walau sedikitpun. Hal itu diulang 2 dengan berbagaigayatetapi tak berhasil)
Dari anak kecil, pemuda kekar, ibu rumah tangga, sampai kakek-kakek, semua tidak mampu mencabut lidi itu. Lidi tersebut seolah-olah memiliki akar kuat yang menancap di tanah itu.
Akhirnya Baruklinting Mendekat dan berkata.
BK : Wahai semua penduduk desa, ketahuilah, aku adalah seorang pertapa. Pertapaanku telah kalian ganggu. Kalian memasak dagingku untuk pesta ini. Dan yang lebih memprihatinkan, kalian tidak mau berbagi kepada sesama yang kekurangan. Seharusnya kalian malu, karena menilai anak kudisan tidak layak makan bersama, padahal dia juga ciptaan Tuhan.Maka hari ini Yang Kuasa akan menghukum kalian!!!
Baruklinting mecabut lidi tersebut, dan dari lubang bekas lidi itu memancar air. Air mengalir terus-menerus, bahkan mulai membanjiri pemukiman penduduk. Mereka pun berlarian menyelamatkan diri. Tetapi terlambat, air sudah menggenangi seluruh daerah itu, menjadi sebuah rawa. Lidi (sodo) tsb karena kerasnya cabutannya sampai terpental jauh beserta tanah bekas cerabutannya dan jadilah lidi (sodo) beserta tanah serabutan menjadi gunung KENDALI SODO, dari lubang bekas cabutan lidi mengucurlah air yang deras yang kelak disebut MUNCUL, jadilah genangan tersebut sebuah rawa bernama RAWA PENING. Adapun Nyai Lembah menyelamatkan diri naik lesung terbawa derasnya air gung terombang ambing tanpa arah hingga terbentuklah Kali Tuntang yang bermuara di Tlatah Glagahwangi (Demak). Sebuah kali legendaris yang nanti akan membawa Jaka Tingkir yang sakti mandraguno dengan menaiki getek dan disurung buaya hingga menarik hati Sultan Demak Raden Trenggono.
Napak tilas makam/petilasan Baruklinting dan Nyai Lembah bisa kita temui di komplek makam Sentono Ratu belakang Masjid Agung Demak, sedangkan kayu bekas lesung yang dibawa dari Rawapening sekarang sudah disahkan Pemerintah sebagai bukti sejarah meskipun tinggal berupa bentuk papan.

Dalam sejarah asal usul kota Ambarawa, sosok Nyai Lembah ini diyakini sebagai istri Kyai Yasir Rahmatullah (Kyai Lembah) yang menjadi cikal bakal/pendiri kota Ambarawa. Nyai Lembah sendiri memiliki nama asli Siti Aminah.