Misteri Kitab Sihir Calonarang

Misteri Kitab Sihir Calonarang

11:08 0
Misteri Kitab Sihir Calonarang
Dalam banyak sejarah dan banyak riwayat, Ilmu sihir memang akan lebih ampuh jika dilakukan oleh seorang wanita. Dalam level ilmusihir yang setingkat, penyihir wanita (Witch) akan lebih unggul dibandingkan penyihir pria (Wizard). Tapi ada pula yang berpendapat bahwa jaman dahulu banyak terjadi perendahan martabat wanita, sehingga banyak wanita yang "dituduh" sebagai tukang sihir jahat.
Besar kemungkinan karena pada masa itu sihir yang paling dikenal adalah sihir dewi Isis yang menggunakan simpul tali (simpul dewi Isis) sebagai medium sihir. Sihir ini berasal dari mesir, dan menyebar ke timur tengah. , hampir semua penyihir yang melestarikan dan menggunakan simpul Isis sebagai medium sihir, berjenis kelamin wanita.
Lepas dari itu, yang pasti bahwa ilmu sihir ini berasal dari jaman Babilonia kuno, yang diajarkan oleh dua orang Malaikat Harut dan Marut sebagai cobaan bagi manusia. Kemudian setelah itu SETAN lah yang mengajarkan ilmu sihir itu kepada manusia pada masa kerajaan Sulaiman. Oleh karena itu siapapun yang mempelajari ilmu sihir, berarti dia telah berada dalam kesesatan yang jauh atau kafir. (termasuk harry potter)
Di Indonesia juga ada sebuah legenda yang berawal dari sebuah sejarah tentang seorang penyihir wanita yang dikenal jahat di masa kerajaan Kediri, yang dikenal dengan nama CALONARANG.
Kisah Calonarang awalnya ditulis di naskah daun lontar (tidak diketahui siapa penulisnya) dengan aksara Bali Kuna. Jumlahnya empat naskah, masing-masing bernomor Godex Oriental 4561, 4562, 5279 dan 5387 (lihat Catalogus Juynboll II. P. 300-301; Soewito Santoso 1975; 11-12).
Meskipun aksaranya Bali Kuna, tetapi bahasanya Kawi atau Jawa Kuna. Naskah yang termuda no. 4561, Beberapa bagian dari naskah 4562-5279 dan 5287 tidak lengkap sehingga dengan tiga naskah ini dapat saling melengkapi. Sebenarnya naskah no. 5279 dan 5287 merupakan satu naskah; naskah no. 5279 berisi ceritera bagian depan, sedangkan no. 5387 berisi ceritera bagian belakang. Naskah tertua no. 5279 berangka tahun 1462 Saka (1540 M). Semua naskah tersebut disimpan di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal – Land – en Volkenkunde van Ned. Indies di Leiden, Belanda.
Naskah Calon Arang pernah diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka (lihat “De Calon Arang” dalam BKI 82. 1926: 110-180) dan pada 1975 diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Dr. Soewito santoso (lihat “Calon Arang Si Janda Dari Girah”, Balai Pustaka 1975). Uraian di bawah ini disarikan dari tulisan Dr. Soewito Santoso tersebut.
Ringkasan kisah dalam naskah tersebut terdiri atas dua bagian:
1.Tentang Calon Arang,
2.Tentang pembagian wilayah kerajaan Airlangga kepada dua puteranya.
Dan yang akan kita bahas adalah yang pertama yaitu kisah CalonArang

Latar Belakang Sejarah
Raja Airlangga (1006-1042 M) memerintah di Jawa Timur sejak 1021 M sesuai dengan isi prasati Pucangan (Calcutta). Pusat kerajaan Airlangga berpindah-pindah karena diserang oleh musuh. Prasasti Terep (1032 M) menyebutkan raja Airlangga lari dari istananya di Watan Mas ke Patakan karena serangan musuh. Prasasti tidak menyebutkan bahwa keraton Airlangga ada di Daha, tetapi naskah Calon Arang ini menyebutkan keraton Airlangga ada di Daha (Kediri).
Pada masa itulah hidup seorang janda yang sangat sakti bernama Dayu Datu dari Desa Girah yaitu Desa pesisir termasuk wilayah Kerajaan Kediri, yang ahli ilmu sihir dan mendirikan sebuah padepokan sihir. Dayu Datu inilah yang kita kenal sebagai Calonarang.
Calon Arang menuliskan semua ilmu sihirnya kedalam sebuah "Kitab", dan kitab sihir inilah yang dalam kisah "dicuri" atau diamankan oleh Mpu Bharadah, yang akhirnya berhasil mengalahkan Calon Arang.

Tidak jelas keberadaan kitab sihir tersebut saat ini, tetapi beberapa orang murid Calon Arang (yang telah mempelajari sebagian ilmu sihir calon arang), melarikan diri ke pulau Bali. Di Bali mereka mengajarkan dan melestarikan sebagian ilmu yang mereka pelajari dari calon arang, dan ilmu itu sekarang kita kenal dengan nama Leak. Oleh karena itulah kisah calon arang ini sangat dekat dengan adat masarakat hindu Bali sehingga calon arang di klaim sebagai orang Bali. Perlu diketahui juga bahwa pada masa itu Bali juga berada dalam kekuasaan Airlangga, dan diperintah oleh adik dari Airlangga sendiri yang bernama Anak Wungsu.
Yang menarik adalah pada masa itu, agama yang populer adalah agama Budha aliran Tantrayana. Tantrayana mengajarkan cara pintas menuju Moksa. Upacara yang dilakukan antara lain menari-nari di atas kuburan dengan iringan musik (instrumen kangsi dan kemanak) yang dilakukan pada malam hari bertelanjang badan. Ajaran ini kemudian juga dianut oleh raja Kertanegara (1268-1292 M) dari Singasari. Dengan cara demikian terjadilah pertemuan jiwa antara pelaku upacara dengan dewanya (lihat juga naskah Tantu Panggelaran disertasi dari Th. Pigeud 1924). Meskipun Ajaran Tantra dimasudkan untuk kebaikan bukan kejahatan, tapi diyakini Calon Arang juga melakukan ritual yang serupa yang dia lakukan untuk menyembah/memohon pada Btari Durga, yang notabene adalah salah satu dewi agama hindu. Sinkritisme?
Lebih menarik lagi fakta yang diketahui bahwa Mpu Bharada beragama Budha, sedangkan muridnya, yaitu raja Airlangga beragama Hindu
Ilmu Leak adalah sebagian dari Ilmu Sihir Calonarang
Di Bali Ilmu leak dikenal masyarakat luas, ilmu ini memang teramat sadis karena dapat membunuh manusia dalam waktu yang relatif singkat. Ilmu Leak dapat juga menyebabkan manusia mati secara perlahan yang dapat menimbulkan penderitaan yang hebat dan berkepanjangan.
Dalam masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu dikenal dengan istilah “Rua Bineda” yaitu Rua berarti dua dan Bineda berarti berbeda yang artinya ada dua yang selalu berbeda, seperti adanya siang dan malam, ada suka dan duka, ada hidup dan mati. Demikian pula dengan ilmu ini ada ilmu yang beraliran kiri disebut Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan dan sebagai penangkalnya ada ilmu yang beraliran kanan atau Ilmu Putih?.
Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan, tergolong "Aji Wegig" yaitu aji berarti ilmu, wegig berarti begig yaitu suatu sifat yang suka menggangu orang lain. Karena sifatnya negative, maka ilmu ini sering disebut "Ngiwa".

Ngiwa asal katanya kiwa (Bahasa Bali) artinya kiri.
Ngiwa berarti melakukan perbuatan kiwa alias kiri.

Ilmu leak ini bisa dipelajari pada lontar – lontar yang memuat serangkaian Ilmu Hitam.
Lontar –lontar atau buku – buku jaman kuno yang terbuat dari daun pohon lontar yang dibuat sedemikian rupa dengan ukuran panjang 30 cm dan lebar 3 cm, diatas lontar diisi tulisan aksara Bali dengan bahasa yang sangat sakral.
Murid2 calonarang yang melarikan diri ke bali menuliskan Ilmu Pengleakan pada kitab lontar dan membuatnya dalam empat kitab yaitu :

1. Lontar Cambra Berag,
2. Lontar Sampian Emas,
3. Lontar Tanting Emas,
4. Lontar Jung Biru.

Ilmu leak ini ada tingkatan – tingkatannya yaitu :
1. Ilmu Leak Tingkat Bawah yaitu orang yang bisa ngeleak tersebut bisa merubah wujudnya menjadi binatang seperti monyet, anjing, ayam putih, kambing, babi betina (bangkung) dan lain – lain.
2. Ilmu Leak Tingkat Menengah yaitu orang yang bisa ngeleak pada tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Burung Garuda bisa terbang tinggi, paruh dan cakarnya berbisa, matanya bisa keluar api, juga bisa berubah wujud menjadi Jaka Tungul atau pohon enau tanpa daun yang batangnya bisa mengeluarkan api dan bau busuk yang beracun.
3. Ilmu Leak Tingkat Tinggi yaitu orang yang bisa ngeleak tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Bade yaitu berupa menara pengusungan jenasah bertingkat dua puluh satu atau tumpang selikur dalam bahasa Bali dan seluruh tubuh menara tersebut berisi api yang menjalar – jalar sehingga apa saja yang kena sasarannya bisa hangus menjadi abu.
Ilmu Pengleakan Bali sangat menakutkan, dan itu baru SEBAGIAN dari apa yang tertulis dalam kitab calonarang. Bayangkan kalau seluruh ilmu sihir yang ada dalam kitab calonarang ditemukan ....

Calonarang sering disebut Rangda Nateng Girah yaitu Rangda artinya Janda, Nateng artinya Raja (Penguasa). Girah adalah nama suatu desa. Jadi ‘’Rangda Nateng Girah’’ artinya Janda Penguasa desa Girah.
Calonarang adalah Ratu Sihir yang sangat sakti, pada jaman itu bisa membuat wilayah Kerajaan Kediri mengalami Gerubug/Pageblug/Epidemi atau wabah yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat, yaitu pada wilayah pesisir termasuk wilayah desa Girah.
Dibawah ini adalah kisah calonarang versi bali, sehingga calonarang disebut ibu, dan ilmu sihirnya disebut leak. Kisah ini pernah juga di filmkan dan diperankan oleh sang artis ratu horor, Suzzana ...

Kisah Calon Arang
Di Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Airlangga yaitu didesa Girah ada sebuah Perguruan Ilmu Hitam atau Ilmu Sihir yang dipimpin oleh seorang janda yang bernama Ibu Calonarang (nama julukan dari Dayu Datu).
Murid – muridnya semua perempuan dan diantaranya ada empat murid yang ilmunya sudah tergolong tingkat senior antara lain : Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, Nyi Sedaksa.
Ibu Calonarang juga mempunyai anak kandung seorang putri yang bernama Diah Ratna Mengali ( Retno Manggali ), berparas cantik jelita, tetapi putrinya tidak ada satupun pemuda yang melamarnya.
Karena Diah Ratna Mangali diduga bisa ngelelak, dengan di dasarkan pada hukum keturunan yaitu kalau Ibunya bisa ngeleak maka anaknyapun mewarisi ilmu leak itu, begitulah pengaduan dari Nyi Larung yaitu salah satu muridnya yang paling dipercaya oleh Ibu Calonarang.

Mendengar pengaduan tersebut, tampak nafas Ibu Calonarang mulai meningkat, pandangan matanya berubah seolah-olah menahan panas hatinya yang membara. Pengaduan tersebut telah membakar darah Ibu Calonarang dan mendidih, terasa muncrat dan tumpah ke otak. Penampilannya yang tadinya tenang, dingin dan sejuk, seketika berubah menjadi panas, gelisah. Kalau diibaratkan Sang Hyang Wisnu berubah menjadi Sang Hyang Brahma, air berubah menjadi api. Tak kuasa Ibu Calonarang menahan amarahnya. Tak kuat tubuhnya yang sudah tua tersebut menahan gempuran fitnah yang telah ditebar oleh masyarakat Kerajaan Kediri.
Ibu Calonarang sangat sedih bercampur berang, sedih karena khawatir putrinya bakal jadi perawan tua, itu berarti keturunannya akan putus dan tidak bisa pula menggendong cucu, berang karena putrinya dituduh bisa ngeleak.
Ibu Calonarang berkata kepada Nyi Larung : “Hai Nyi Larung, penghinaan ini bagaikan air kencing dan kotoran ke wajah dan kepalaku. Aku akan membalas semua ini, rakyat Kediri akan hancur lebur, dan luluh lantak dalam sekejap. Semua orang-orangnya akan mati mendadak. Laki-laki, perempuan, tua muda, semuanya akan menanggung akibat dari fitnah dan penghinaan ini. Kalau tidak tercapai apa yang aku katakan ini, maka lebih baik aku mati, percuma jadi manusia. Kalau Ibu Calonarang ini tidak melakukan balas dendam maka hati ini tidak akan merasa tentram”.
Demikian kata-kata Ibu Calonarang yang sangat mengerikan kalau seandainya hal ini menjadi kenyataan. Nyi Larung kemudian menyahut dan bertanya “Kalau demikian niat Guru, bagaimana kita bisa melakukan hal tersebut”. segera dijawab oleh Ibu Calonarang. “Kau Nyi Larung, ketahuilah, jangan terlalu khawatir akan segala kemampuanku. Aku Ibu Calonarang bukanlah orang sembarangan dan murahan. Kalau tidak yakin dengan diri, maka aku tidak akan sesumbar begitu. Biar mereka tersebut merasakan akibat dari segala perbuatan yang telah mereka lakukan terhadap anakku.
Kau Nyi Larung, Ibu minta agar kau mengumpulkan semua murid-muridku supaya segera masuk ke Pasraman Pengeleakan. “Tunggu sampai tengah malam nanti. Aku akan menurunkan segala ilmu kewisesan yang aku miliki kepada kalian semua. Karena sekarang hari masih terang dan sore, lebih baik engkau semua melakukan pekerjaan seperti biasanya. Aku akan mempersiapkan segala sesuatunya. Nanti malam kita akan berkumpul lagi membicarakan masalah tersebut, dan ingat tidak ada yang boleh tahu mengenai apa yang kita akan lakukan ini, kita akan membuat Kerajaan Kediri gerubung yaitu berupa serangan wabah penyakit yang sulit diobati yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat. Demikian Ibu Calonarang menutup pembicaraannya pada sore hari tersebut, dan semua kembali melakukan kegiatan sebagaimana mestinya.
Gerubug Di Kerajaan Kediri
Diceritakan Rakyat Kerajaan Kediri di siang harinya yang ramai seperti biasanya. Masyarakatnya sebagian besar hidup dari bertani di sawah dengan menanam padi dan palawija. Anak-anak muda semuanya riang gembira bermain sambil mengembalakan sapi dan bebek di sawah. Mereka riang gembira, menemani orang tuanya yang sedang membajak sawah. Ada pula masyarakat yang bekerja sebagai tukang membuat rumah, pondok, bangunan suci seperti pura dan sanggah, atau membuat angkul-angkul atau pintu gerbang, dan lain-lain. Bagi kaum perempuan dan yang bekerja sebagai pedagang dengan menjual kue, nasi, kopi dan ada pula yang menenun kain untuk keperluan sendiri. Ada pula dari golongan pande bekerja khusus membuat perabotan pisau, sabit, parang, cangkul, keris, dan perabotan dari besi lainnya. Bagi yang mempunyai waktu luang yang laki-laki biasanya diisi dengan mengelus-elus ayam aduan, dan bagi yang perempuan digunakan untuk mencari kutu rambut.
Tidak ada terasa hal-hal aneh atau pertanda aneh di siang hari tersebut. Kegiatan masyarakat berlangsung dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam hari. Pada malam hari masyarakat yang senang matembang atau bernyanyi melakukan kegiatannya sampai malam. Demikian pula dengan sekaa gong latihan sampai malam di Balai Banjar. Suasananya nyaman, tentram, dan damai sangat terasa ketika itu.
Setelah tengah malam tiba, semua masyarakat telah beristirahat tidur. Suasananya menjadi sangat gelap dan sunyi senyap, ditambah lagi pada hari tersebut adalah hari Kajeng Kliwon. Suatu hari yang dianggap kramat bagi masyarakat. Masyarakat biasanya pantang pergi sampai larut malam pada hari Kajeng Kliwon. Karena hari tersebut dianggap sebagai hari yang angker. Sehingga penduduk tidak ada yang berani keluar sampai larut malam.
Ketika penduduk Rakyat Kediri tertidur lelap di tengah malam, ketika itulah para murid atau sisya Ibu Calonarang yang sudah menjadi leak datang ke Desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri. Sinar beraneka warna bertebaran di angkasa. Desa-desa pesisir bagaikan dibakar dari angkasa. Ketika itu, penduduk desa sedang tidur lelap. Kemudian dengan kedatangan pasukan leak tersebut, tiba-tiba saja penduduk desa merasakan udara menjadi panas dan gerah. Angin dingin yang tadinya mendesir sejuk, tiba-tiba hilang dan menjadi panas yang membuat tidur mereka menjadi gelisah. Para anak-anak yang gelisah, dan terdengar tangis para bayi di tengah malam. Lolongan anjing saling bersahutan seketika. Demikian pula suara gaok atau burung gagak terdengar di tengah malam. Ketika itu sudah terasa ada yang aneh dan ganjil saat itu. Ditambah lagi dengan adanya bunyi kodok darat yang ramai, padahal ketika itu adalah musim kering. Demikian pula tokek pun ribut saling bersahutan seakan-akan memberitahukan sesuatu kepada penduduk desa. Mendengar dan mengalami suatu yang ganjil tersebut, masyarakat menjadi ketakutan, dan tidak ada yang berani keluar.
Endih atau api jadi-jadian yang berjumlah banyak di angkasa kemudian turun menuju jalan-jalan dan rumah-rumah penduduk desa. Api sebesar sangkar ayam mendarat di perempatan jalan desa, dan diikuti oleh api kecil-kecil warna-warni. Setelah itu para leak yang tadinya terbang berwujud endih, kemudian setelah di bawah berubah wujud menjadi leak beraneka rupa, dan berkeliaran di jalan-jalan desa. Ketika malam itu, ada seorang masyarakat memberanikan diri untuk mengintip dari balik jendela rumahnya. Untuk mengetahui situasi di luar rumah. Namun apa yang dilihatnya? Sangat terkejut orang tersebut menyaksikan kejadian di luar. Orang tersebut, karena saking takutnya, segera ia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya rapat-rapat, serta segera memohon kehadapan Hyang Maha Kuasa agar diberikan perlindungan. Kemudian orang tersebut mengalami sakit ngeeb atau ketakutan yang berlebihan dan tidak mau bicara.
Para murid atau sisya Ibu Calonarang yang berjumlah tiga puluh empat orang ditambah dengan empat orang muridnya yang sudah senior yaitu Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, dan Nyi Sedaksa, semua sudah berada di desa pesisir. Malam yang sangat gelap kemudian ditambah dengan hujan gerimis yang memunculkan bau tanah yang angid, mambuat para leak menjadi semakin bersuka ria. Beberapa bola api bertebaran di angkasa berkejar-kerjaran dan menari-nari. Monyet-monyet besar, anjing bulu kotor, dan babi bertaring panjang berkeliaran di jalan-jalan sepanjang desa wilayah pesisir bercanda bersuka ria. Leak kambing, gegendu kerbau, gegendu jaran tampak jalan-jalan mengitari Kerajaan Kediri. Demikian pula dengan sosok Leak Celuluk yang berkelebat-kelebat dan bersandar di angkul-angkul rumah penduduk. Leak yang berwujud kreb kasa atau kain putih panjang bergulung-gulungan tampak melintang di jalanan. Di perempatan dan pertigaan jalan Desa, sosok Leak berwujud bade atau menara pengusungan mayat sedang menari-nari memenuhi jalanan. Semua leak tersebut menjalankan tugas seperti apa yang diperintahkan oleh gurunya yakni Ibu Calonarang.
Sungguh-sungguh seram memang pada malam itu. Penduduk desa tidak ada yang berani berkutik, apalagi keluar rumah. Para leak di malam itu telah menyebarkan penyakit grubug di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri. Setelah semalaman para leak berpesta pora, maka hari telah menjelang pagi. Tiba saatnya para Leak untuk kembali ke wujud semula. Karena begitulah hukumnya sebagai leak. Waktu mereka adalah di malam hari. Apabila mereka melanggar hukum tersebut maka mereka akan mendapatkan bahaya. Ketika hari menjelang pagi para leak pun kembali ke tempatnya semula, dan pulang ke rumah. Demikian pula dengan Ibu Calonarang beserta Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi dan Nyi Sedaksa kembali pulang ke rumah setelah pesta pora di malam hari. Sekarang mereka hanya tinggal menunggu hasil dari kerja mereka semalam.
Diceritakan keesokan harinya penduduk desa bangun pagi-pagi. Mereka ramai menceritakan keanehan-keanehan dan keganjilan-keganjilan yang terjadi pada malam harinya. Semuanya menceritakan apa yang mereka rasakan atau apa yang mereka sempat saksikan malam itu dirumah masing-masing. Namun sedang asyiknya mereka bercerita, tiba-tiba saja ada seorang penduduk yang menjerit minta tolong. Orang tersebut mengatakan salah seorang keluarganya tiba-tiba saja sakit perut, muntah-muntah, dan mencret-mencret. Ketika mau memberikan pertolongan kepada penduduk di sebelah Barat tersebut, tiba-tiba saja tetangga di sebelah Timur menjerit minta tolong ada salah seorang keluarganya yang muntah dan mencret. Pagi itu, masyarakat desa menjadi panik. Karena mendadak sebagian penduduk mengalami muntah dan mencret. Bahkan pagi itu, ada beberapa yang telah meninggal. Beberapa lagi belum ada yang sempat diberi obat, tiba-tiba sudah meninggal. Demikian semakin panik masyarakat di desa. Segera saja yang meninggal dikuburkan di setra atau tempat pemakaman mayat, namun ketika pulang dari setra, tiba-tiba saja yang tadinya ikut mengubur menjadi sakit dan meninggal. Demikian seterusnya. Penduduk desa dihantui oleh bahaya maut. Seolah-olah kematian ada di depan hidung mereka. Sungguh mengerikan pemandangan di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri ketika itu. Kerajaan Kediri gempar, sehari-hari orang mengusung mayat kekuburan dalam selisih waktu yang sangat singat.
Menghadapi situasi demikian beberapa penduduk dan prajuru desa mencoba untuk menanyakan kepada para balian atau dukun untuk minta pertolongan. Para balian pun didatangkan ke desa-desa yang kena bencana wabah gerubug. Ternyata mereka juga tidak dapat berbuat banyak menghadapi penyakit gerubug yang dialami penduduk desa. Bahkan, si balian atau dukun yang didatangkan tersebut mengalami mutah berak dan meninggal. Setiap hari kejadian tersebut terus berlangsung. Penduduk desa menjadi bingung dan panik. Ada yang berkehendak untuk mengungsi dan menghindar dari grubug tersebut. Mereka berbondong-bondong meninggalkan desanya. Namun ketika sampai di batas desa, mereka itu mengalami muntah berak dan meninggal seketika. Melihat keadaan seperti itu penduduk yang masih hidup menjadi semakin ketakutan. Ketika malam hari, mereka semua tidak ada yang berani tidur sendirian, dan tidak berani keluar rumah. Lolongan anjing tak henti-hentinya di malam hari. Burung gagak, katak dongkang, semuanya ribut saling bersahutan.
Adanya musibah yang menakutkan bercampur dengan sedih, para penduduk mencoba untuk berpasrah diri dan menyerahkan semuanya kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Setiap saat mereka memuja dan memohon kehadapan beliau agar bencana grubug ini segera berakhir, dan semua penduduk yang masih hidup diberkahi keselamatan dan kekuatan. Di samping itu perlindungan-perlindungan magis dipasang di depan pintu masuk pekarangan dan pintu rumah. Sesuai dengan petunjuk orang pintar atau sesuai dengan kebiasaan para tetuanya terdahulu. Penduduk memasang sesikepan atau pelindung magis seperti daun pandan berduri yang ditulisi tapak dara atau tanda palang dari kapur sirih, berisi bawang merah, bawang putih, jangu, juga benang tri datu yaitu benang warna merah, putih, hitam, dan pipis bolong atau uang kepeng. Jadi pada dasarnya semua dilakukan untuk menolak penyakit, dan memohon perlindungan kehadapan Hyang Maha Kuasa.
Setelah berberapa hari mengalami kepanikan, kebingungan dan ketakutan, akhirnya para prajuru desa atau Pengurus Desa, para penglingsir atau tetua, dan para pemangku, mengadakan pertemuan di salah satu Balai Banjar di Desa Girah. Pada intinya mereka membicarakan mengenai masalah atau penyakit gerubug yang menyerang desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Kalau seandainya masalah ini dibiarkan begitu saja, sudah pasti penduduk desa akan habis semuanya.
Mereka tetap berharap agar semua masyarakat meningkatkan astiti bhaktinya atau pemujaan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan agar diberikan keselamatan, kesehatan, perlindungan, dan umur panjang. Disamping itu pula para prajuru desa para penglingsir atau tetua desa beserta dengan para pemangku sepakat untuk melaporkan masalah ini kehadapan Prabu Airlangga Raja Kediri. Mereka berencana memohon kehadapan Raja Airlangga agar beliau berkenan untuk datang ke desa-dewa wilayah pesisir Kerajaan Kediri meninjau rakyatnya yang sedang ditimpa musibah penyakit atau gerubug. Karena beliau sebagai penguasa atau sebagai Raja Kediri berhak tahu dan wajib untuk melindungi rakyatnya dari bencana. Demikian kesepakatan mereka dan merencanakan akan berangkat ke Istana besok pagi.
Ketika para tetua desa dan prajuru disertai dengan para pemangku masih berada di Bale pertemuan, tiba-tiba saja muncul seseorang yang bertubuh tinggi, kepala kribo, berkumis tebal dan brewok. Orang ini berjalan sempoyongan, dengan mata merah, dan bicaranya ngawur. Rupanya orang ini dalam keadaan mabuk. Orang tersebut datang di bale pertemuan dan berkata bahwa anaknya telah meninggal karena muntah mencret. Pemabuk itu kemudian berkata : mana Leak Calonarang yang telah memakan anakku, akan aku santap bola matanya mentah-mentah. Demikian orang tersebut sesumbar dihadapan para sesepuh desa. Ketika setelah mengatakan sesumbar tersebut Si Brewok tiba-tiba saja muntah mencret tak tertahankan, dan akhirnya tewas di tempat.
Setelah beberapa saat Si Brewok tergeletak, kemudian para tetua desa tersebut menjadi teringat dengan kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu ketika di Desa Girah. Mereka baru ingat bahwa Si Brewok inilah yang menjadi biang keladi dari kejadian yang menimpa Diah Ratna Manggali anak Ibu Calonarang. Bersama-sama dengan orang banyak, Si Brewok ini telah membuat fitnah Diah Ratna Mengali bisa ngeleak karena Ibunya Calonarang adalah orang sakti dan bisa ngeleak. Jangan-jangan hal itu yang menjadi penyebab dari penyakit gerubug yang melanda desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri sekarang ini. Karena Calonarang merasa tersinggung dan terhina tidak akan tinggal diam. Mungkin saja ia akan membalas dendam sesuai dengan kemampuannya. Apalagi Calonarang adalah seorang yang sangat sakti dan memiliki murid yang sangat banyak. Sehingga dengan ilmu yang dimiliki mereka mencoba untuk menghancurkan desa-desa di Kerajaan Kediri dengan menebar penyakit gerubug. Rupanya mereka yang ada di sana mempunyai pikiran yang sama, dan sepakat untuk segera melaporkan hal tersebut kehadapan Prabu Airlangga Raja Kediri.
Keesokan harinya para prajuru desa beserta rombongan berangkat menuju Istana Kediri. Sangat cepat perjalanan mereka, sehingga tidak diceritakan sampailah rombongan tersebut di bencingah atau alun-alun Istana Raja. Ketika di Istana rombongan tersebut menyaksikan suatu keadaan yang tenang, damai, dan biasa saja, jauh dari kesusahan, kalau dibandingkan dengan apa yang terjadi di desa sekarang ini. Di bencingah puri tampak sekelompok masyarakat yang sedang duduk-duduk di bawah rimbunnya daun beringin yang sangat besar yang tumbuh di becingah, seolah-olah memayungi rakyat Kediri dari terik sinar matahari. Bangsingnya atau akarnya yang menjulur sampai menyentuh tanah seolah-olah menjulurkan tangannya untuk menolong rakyat Kediri yang kesusahan. Mereka seperti biasa yang laki-laki beristirahat, sambil mengecel atau mengelus ayam aduan. Di sampingnya tampak berderet ayam aduan dengan beraneka warna, dan mekruyuk atau berkokok saling bersahutan. Disana, ada pula dagang kopi, dagang kue, dagang nasi, dengan be guling nyodog atau babi guling yang utuh dan diletakkan di atas meja dagangan.
Rombongan tersebut disapa oleh orang-orang yang ada di bencingah. Mereka kemudian segera masuk ke dalam Istana Raja melalui pemedalan atau pintu keluar candi bentar yang megah, disandingkan dengan bale kulkul yang menjulang tinggi, dan bale bengong yang tampak mempesona, membuat mereka menjadi klangen atau kagum. Di hulu sebelah timur laut terdapat pemerajan puri atau tempat suci keluarga Raja yang sangat disucikan.
Mereka kemudian menghadap Prabu Airlangga di Bale penangkilan atau balai penghadapan. Setelah memberikan penghormatan kehadapan Sang Prabu, rombongan tersebut kemudian menjelaskan segala sesuatu maksud dan tujuannya mengahap ke Istana. Dijelaskan pula secara panjang lebar mengenai masalah yang sedang melanda desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Mereka kemudian memohon agar Sang Prabu berkenan untuk meninjau ke desa-desa. Demikian hatur mereka semua kehadapan Sang Prabu. Kemudian Sang Prabu menjawab dengan kata-kata yang agak berat, dan dengan roma muka yang agak tegang ketika itu.
“Kalau begitu keadaannya, penyebar gerubug di desa-desa wilayah pesisir tidak lain dan tidak bukan adalah Ibu Calonarang. Aku tidak akan meninjau ke desa lagi. Tetapi aku akan segara berupaya untuk menyelesaikan masalah kalian, dan menghadapi Calonarang yang sakti tersebut”.
“Pengrusakan dan penyebaran penyakit di desa-desa oleh Calonarang sebenarnya adalah tantangan langsung bagiku sebagai penguasa di Kerajaan Kediri. Aku akan menghadapi bagaimanapun ririh atau saktinya Calonarang. Calonarang sangat berani kepadaku, dan sangat besar dosanya karena telah membunuh banyak rakyatku yang tidak berdosa. Sangat besar dosanya terhadap kerajaan, sehingga orang tersebut harus mendapatkan ganjaran hukuman yang setimpal”. Demikian sabda Raja Kediri yang menabuh genderang perang terhadap Calonarang.
Sang Prabu juga menyampaikan pesan kepada rombongan Desa Girah sesampai di rumah nanti, beritahukan kepada seluruh rakyatku semuanya. Tenanglah, bersabarlah dan selalulah memuja kebesaran Ida Betara Tri Sakti yang berstana di Pura Kayangan Tiga. Selalulah berjaga-jaga di perbatasan desa sambil menghidupkan api obor sebagai penerangan dan sekaligus mohon perlindungan kehadapan Hyang Betara Brahma. Sebelum itu jangan lupa menghaturkan canang atau sesajen di sanggah atau tempat suci keluarga masing-masing agar para leluhur kita juga ikut membantu melindungi dari bahaya ini. Kemudian mohonlah sesikepan atau sarana magis yang bersarana bawang putih, jangu, benang tri datu, dan pipis bolong, sebagai sarana penolak leak. Demikian perintah dan sekaligus pesan Raja Kediri kepada rakyat beliau yang sedang ditimpa bencana gerubug dan salanjutnya para penghadap tersebut diijinkan untuk pamit kembali pulang. Tidak diceritakan perjalanan mereka, maka sampailah rombongan tersebut di rumah, dan segera memberitahukan apa yang menjadi titah Raja Kediri.
Raja Kediri Murka
Kembali diceritakan Prabu Airlangga Raja Kediri. Sepeninggalan rombongan Desa Girah, maka beliau sendirian duduk termenung di bale penangkilan. Pandangannya menerawang jauh kemana-mana, tangannya dikepalkan, dan tampak gelisah. Duduk bangun, demikianlah Sang Prabu sendirian di Istana. Tampaknya Sang Prabu tak kuasa menahan amarah dan panas hati beliau akibat ulah Calonarang. Sangat menakutkan sekali perangai beliau ketika itu. Diibaratkan macan gading atau harimau kuning yang akan menerkam mangsanya. Tak seorang pun parekan atau punakawan di puri atau istana yang berani menyapa beliau. Istri dan parekan atau punakawan di puri atau istana semuanya terdiam takut melihat gelagat Sang Prabu yang lagi murka. Tidak ada yang berani menghampiri dan menemani beliau ketika itu. Suguhan wedang atau kopi dan juga hidangan yang lainnya tidak disentuh sama sekali. Pikiran beliau hanya tertuju kepada upaya bagaimana mengalahkan Calonarang yang sakti tersebut.
Ketika hari menjelang siang, Sang Prabu belum juga beranjak dari tempat beliau duduk sejak pagi. Kemudian secara tak disangka-sangka datang Ki Patih Madri menghadap Sang Prabu ke Istana. Ia adalah seorang tabeng dada atau pengawal Istana. Ki Patih Madri berperawakan tinggi besar, pintar ilmu silat atau bela diri, dan menguasai beberapa ilmu kanuragan. Ia sangat berpengaruh di kalangan orang-orang di Kerajaan Kediri, namun ia sendiri berpenampilan sangat sederhana, polos, dan sangat setia kepada Istana terutama kehadapan junjungannya yakni Prabu Airlangga Raja Kediri.
Sangat gembira sekali perasaan Sang Prabu ketika Ki Patih Madri muncul di Istana, dan segera Sang Prabu menyuruhnya mendekat untuk diajak bertukar pikiran. Bagaikan diperciki embun pagi yang sejuk perasaan Raja Airlangga ketika Ki Patih Madri datang pada saat yang diperlukan sekali. Sambil menikmati hidangan kopi yang telah disuguhkan, Sang Prabu berkata kepada Ki Patih Madri : “aku hari ini sangat kesal, marah dan bercampur sedih dalam hatiku. Yang menyebabkan adalah ulah onar Calonarang yang telah menebar penyakit gerubug di desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Banyak rakyatku yang sakit dan meninggal di sana. Ia ingin menghancurkan Kerajaan Kediri, serta menghancurkan kekuasaanku. Sekarang karena kebetulan sekali Patih Madri datang ke Istana, maka aku ingin mendapatkan masukan dari engkau mengenai masalah yang menimpa desa tersebut. Bagaimana caranya menumpas dan melenyapkan Calonarang beserta sisya-sisyanya atau murid-muridnya yang telah berbuat onar tersebut. Sebab kalau tidak ditangani segera, maka rakyat desa Kerajaan Kediri akan habis, bahkan ia akan merencanakan untuk menghancurkan Kerajaan Kediri secara keseluruhan”. Demikian kata pembukuan yang cukup panjang dari Sang Prabu kepada Ki Patih Madri.
Mendengar semua itu, merasa kaget Ki Patih Madri, sebab sebelumnya ia sama sekali tidak mendengar adanya masalah ini. Ki Patih Madri berpikir sejenak, kemudian menjawab apa yang dikatakan Sang Prabu. “Mohon ampun Paduka, tidak patut rasanya hamba sebagai patih yang jugul punggung atau sangat bodoh memberikan masukan kehadapan Paduka. Namun atas titah Paduka, maka hamba akan mencoba untuk ikut urun pendapat mengenai masalah ini.
Namun hamba bagaikan nasikin segara atau membuang garam ke laut begitulah ibaratnya”. Lebih lanjut Ki Patih Madri menyampaikan haturnya kehadapan Sang Prabu “Kalau mendengar tingkah laku Calonarang tersebut, maka inilah yang disebut dalam sastra agama sebagai Atharwa yang artinya melakukan pembunuhan yang sangat kejam terhadap orang lain yang tidak berdosa dengan menggunakan Ilmu Hitam. Mereka telah menebar cetik atau racun niskala di wilayah desa. Ini pula digolongkan sebagai Himsa Karma yakni perbuatan membunuh makhluk lain secara sewenang-wenang. Para pelaku dari semua ini harus dihukum berat dan setimpal”. Demikian hatur Ki Patih Madri kehadapan Sang Prabu. Kemudian Ki Patih Madri menambahkan haturnya sekarang Paduka jangan terlalu bersedih dan khawatir. Hamba akan menjalankan Swadharmaning Kawula (kewajiban sebagai rakyat) bersama dengan rakyat Kediri yang lainnya. Hamba akan mengabdikan jiwa dan raga hamba untuk Kediri. Kita akan gempur Calonarang Rangda Nateng Girah, kita hancurkan antek-antek, dan kita musnahkan Calonarang”. Demikian Ki Patih Madri memompa semangat junjungannya. Sungguh lega hati Sang Prabu mendengar apa yang diucapkan oleh Ki Patih Madri.
Raja Airlangga kemudian membuat keputusan untuk menggempur Calonarang Rangda Nateng Girah, dan mempercayakan kepada Ki Patih Madri sebagai pimpinan penyerangan.

Gugurnya Ki Patih Madri
Diceritakan Ki Patih Madri telah mengumpulkan tokoh masyarakat dan penduduk yang mempunyai ilmu kanuragan atau ilmu kewisesan. Mereka semua dikumpulkan di Istana dan diberikan pengarahan mengenai rencana penyerangan ke tempat Ratu Leak di Desa Girah menggempur Calonarang di malam hari.
Waktu yang ditetapkan untuk penyerangan telah tiba. Menjelang tengah malam mereka berangkat bersama dilengkapi pula dengan senjata tajam, sesikepan, gegemet-gegemet, dan juga sesabukan atau sarana magis pelindung diri.
Karena kesaktian Calonarang, maka serangan dari pihak Kediri yang dipimpin Ki Patih Madri telah diketahui sebelumnya. Sehingga Calonarang memerintahkan kepada seluruh sisya-sisyanya atau murid-muridnya untuk bersiaga di perbatasan Desa Girah. Calonarang beserta sisyanya telah bersiaga menyambut kedatangan para jawara Kediri yang akan menggempurnya. Mereka telah menggelar semua ilmu yang dimiliki dan telah menyengker atau memagari Desa Girah dengan penyengker gaib, sehingga kekuatan musuh tidak dapat menembus pertahanan tersebut.
Pada tengah malam, sampailah Ki Patih Madri dan para jawara Kediri di perbatasan Desa Girah. Mereka langsung menggelar ajian yang mereka miliki dan menyerang musuh yang telah menghadang. Serangan tersebut kemudian dihadang oleh para murid Calonarang yang dipimpin oleh Nyi Larung sehingga terjadilah pertempuran ilmu kanuragan dimalam hari yang sangat dasyat. Bola-bola api beterbangan di antara kedua belah pihak. Taburan cahaya gemerlapan aneka warna di angkasa yang saling berkelebat, berkejar-kejaran, dan saling berbenturan. Langit di Desa Girah pada malam itu bagaikan kejatuhan bintang dari langit yang jumlahnya ribuan. Memang sungguh-sungguh digjaya mereka semua. Tidak beberapa lama pertempuran di malam hari berlangsung, serangan dari para jawara Kediri dapat dipatahkan oleh ketangguhan dari ilmu yang dimiliki oleh murid-murid Calonarang, sedangkan Ki Patih Madri gugur dalam peperangan melawan Nyi Larung dan para jawara Kediri banyak yang tewas. Para jawara Kediri yang masih hidup berhamburan berlari meninggalkan arena pertempuran karena terdesak. Mereka berusaha untuk menyelamatkan diri. Setelah mengalami desakan dari pasukan leak murid-murid Calonarang, maka para jawara Kediri memutuskan untuk berbalik dan kembali ke Istana Kediri, serta melaporkan semuanya kehadapan Prabu Airlangga.
Kekalahan pasukan Kediri menyebabkan pasukan leak Calonarang bergembira. Mereka semua tertawa ngakak yang suaranya nyaring dan keras membelah angkasa. Suaranya mengalun, melengking memenuhi angkasa dan berpantulan di antara bukit-bukit. Sehingga terasa mengerikan sekali suasananya pada malam hari tersebut. Mereka semua menari-nari di angkasa, berwujud bola-bola api saling berkejar-kejaran merayakan kemenangannya.
Diceritakan mengenai perjalanan sisa-sisa pasukan Kediri yang kalah perang. Pada pagi hari mereka telah sampai di Istana Kediri. Segera mereka menghadap Sang Prabu dan melaporkan segala sesuatunya. Demikian pula dengan Sang Prabu yang telah menunggu semalaman dengan harap-harap cemas.

Salah seorang dari pasukan Kediri menghaturkan sembah kehadapan Sang Prabu “mohon ampun Paduka, hamba permaklumkan bahwa murid-murid Calonarang benar-benar teguh atau kuat. Pasukan Kediri tidak mampu mengalahkannya dan Ki Patih Madri gugur dalam peperangan dan banyak pasukan yang tewas. Hamba gagal dalam mengemban tugas yang Paduka titahkan. Atas kegagalan tersebut, hamba mohon ampun, dan siap menjalankan hukuman”. Demikian permakluman prajurit Kediri kehadapan Sang Prabu.
Raja Airlangga yang bijaksana kemudian bersabda “ Wahai prajuri Kediri yang gagah berani beserta semua pasukan, kalah menang dalam peperangan sudah menjadi hukumnya. Yang penting sekarang adalah aku minta engkau agar tidak surut kesetiaanmu terhadap Kediri. Teruskanlah kesetiaanmu terhadap Istana, terhadap Kerajaan Kediri. Janganlah berputus asa, karena masih ada waktu dan masih ada cara lain untuk menumpas Calonarang beserta dengan antek-anteknya. Gempur kembali Calonarang. Sang Prabu melanjutkan wejangannya. “Harus kalian ingat mengenai Swadharmaning ring payudhan atau kewajiban dalam pertempuran. Dalam Shanti Parwa disebutkan bahwa apabila mati dalam peperangan, maka darah yang mengalir muncrat akan menghapus segala dosamu. Dan Sang Jiwa atau Sang Atma akan menuju Indraloka. Itulah yang hendaknya diingat dan dijadikan pedoman. Semuanya itu adalah merupakan sebuah pengorbanan yang suci atau yadnya yang digolongkan yadnya utama”. Demikian Sang Prabu memberikan wejangan kepada Prajurit Kediri yang hampir putus asa karena kalah perang.
Mendengar wejangan tersebut, para pasukan Kediri merasakan hidup kembali dan bersemangat. Bagaikan diberikan kekuatan bebayon atau kekuatan tenanga dalam, sehingga semangat pasukan tumbuh kembali. Prajurit kemudian berkata “baiklah tuanku, sangat senang hamba mendegar wejangan tersebut. Sekarang hamba sadar dan yakin akan diri. Hamba akan membela mati-matian dan menyabung nyawa menghadapi Calonarang beserta dengan murid-muridnya”. Pernyataan Prajurit tersebut dibarengi oleh seluruh pasukan, dan disambut hangat oleh Raja Airlangga. “Baiklah kalau begitu, Aku sebagai Raja Kediri sangat menghargai kesetiaamu.
Buku Rahasia Ilmu Pengeleakan Calonarang
Dengan kalahnya Patih Madri melawan Nyi Larung murid Calonarang, maka Raja Kediri sangat panik sehingga Raja Kediri memanggil seorang Bagawanta (Rohaniawan Kerajaan) yaitu Pendeta Kerajaan Kediri yang bernama Empu Bharadah yang ditugaskan oleh Raja untuk mengatasi gerubug (wabah) sebagai ulah onar si Ratu Leak Calonarang.
Empu Bharadah lalu mengatur siasat dengan cara Empu Bahula putra Empu Bharadah di tugaskan untuk mengawini Diah Ratna Mengali agar berhasil mencuri rahasia ilmu pengeleakan milik Janda sakti itu.

Empu Bahula berhasil mencuri buku tersebut berupa lontar yang bertuliskan aksara Bali yang menguraikan tentang teknik – teknik pengeleakan. serta diketahui pengapesan Calon Arnag
Setelah Ibu Calonarang mengetahui bahwa dirinya telah diperdaya oleh Empu Bharadah dengan memanfaatkan putranya Empu Bahula untuk pura–pura kawin dengan putrinya sehingga berhasil mencuri buku ilmu pengeleakan milik Calonarang.
Ibu Calonarang sangat marah dan menantang Empu Bharadah untuk perang tanding pada malam hari di Setra Ganda Mayu yaitu sebuah kuburan yang arealnya sangat luas yang ada di Kerajaan Kediri.

Pertempuran Penguasa Ilmu Hitam dengan Penguasa Ilmu Putih di Setra Ganda Mayu
Dalam perang besar ini Raja Airlangga mengikutkan Pasukan Khusus Balayuda Kediri dalam menghadapi Calonarang dan pasukan leaknya.

Para Pasukan Balayuda Kediri yang terpilih sebanyak dua ratus orang yang dipimpin oleh Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal. Semua pasukan ini akan mengawal dan membantu Empu Bharadah dalam menumpas kejahatan yang dilakukan oleh Calonarang dan antek-anteknya.
Segala sesuatu perlengkapan segera dipersiapkan seperti senjata tajam berupa tombak, keris, klewang, dan lain-lain. Demikian pula dengan berbagai sarana pelindung badan yang gaib sebagai sarana penolak atau penempur leak, sarana kekebalan, semuanya diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia. Yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan mengenai perbekalan makanan dan minuman yang diperlukan selama penyerangan. Ketika semua persiapan dianggap rampung, maka mereka pun istrirahat agar tenaga cukup kuat untuk penyerangan besok. Keesokan harinya perjalanan penyerangan dilakukan, pasukan khusus atau pasukan pilihan dari Kediri yang disebut dengan Pasukan Balayuda dalam penyerangan tersebut mengawal Empu Bharadah. Sedangkan di depan sebagai pemimpin pasukan dipercayakan kepada Ki Kebo Wirang didampingi Ki Lembu Tal.

Tidak diceritakan perjalanan mereka, akhirnya rombongan Empu Bharadah dan pasukan Kediri sampai di pesisir selatan Desa Lembah Wilis. Di sana rombongan tersebut berhenti sejenak untuk beristirahat dalam persiapan untuk menuju ke Desa Girah. Semua pasukan kemudian menuju Setra Ganda Mayu yang berada di Wilayah Desa Girah.
Diceritakan kemudian Ibu Calonarang dirumahnya diiringi oleh para sisyanya semua melakukan penyucian diri dan mengayat atau memuja kehadapan Ida Betari mohon anugrah kesaktian. Mereka memusatkan pikiran dan memanunggalkan bayu atau tenaga, sabda atau suara, dan idep atau pikiran, memuja Ida Betari bersarana sekar manca warna atau bunga warna-warni, dengan disertai asep menyan majegau atau wangi-wangian yang dibakar yang asapnya membubung ke angkasa, seolah-olah menyampaikan niat Ibu Calonarang kehadapan Ida Betari. Semua pekakas dan sarana pengleakan diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia, dan masing-masing menggunakannya. Di hadapan mereka juga digelar tetandingan jangkep atau sarana sesajen lengkap sesuai dengan keperluan. Calonarang kemudian mulai memejamkan mata dan memusatkan pikiran. Ia tampak berkomat-kamit mengucapkan mantra sakti memohon anugrah kesaktian dan kesidian kehadapan Hyang Maha Wisesa, dengan harapan Empu Bharadah dan Balayuda Kediri dapat dikalahkan.
Setelah beberapa saat melakukan konsentrasi, maka sampailah pada puncaknya. Raja pengiwa pun telah dibangkitkan dan merasuk ke dalam sukma. Kedigjayaan atau kewisesan telah turun dan masuk ke dalam jiwa raga. Calonarang kemudian bangkit dan berkata kepada semua sisyanya “para sisyaku semuanya, permohonan kita kehadapan Hyang Betari telah terkabulkan dan telah mencapai puncaknya. Kesaktian telah kita bangkitkan semuanya, dan telah merasuk ke dalam jiwa dan raga. Kini saatnya kita bertarung menghadapi Empu Bharadah dan Balayuda Kediri. Kita akan pertahankan harga diri kita. Mampuskan semua orang-orang Kediri yang datang ke sini menyerang. Demikian perintah Calonarang kepada seluruh sisyanya. Suaranya ketika itu telah berubah menjadi besar dan menggema, dan bukan merupakan suaranya yang biasa. Kemudian Calonarangpun tertawa ngakak, dan terdengar menakutkan.
Semua sisya Calonarang telah nyuti rupa atau berubah wujud dan siap menyerang. Ada wujud bojog atau monyet yang siap menggigit, ada kambing siap nyenggot atau menanduk, ada sapi dan kuda yang siap ngajet atau menendang, ada kain kasa atau kain putih panjang yang siap menggulung dan membakar, ada bade atau menara pengusungan mayat yang siap membakar, ada babi bertaring panjang yang siap ngelumbih atau membanting dengan kepala, ada awak belig atau badan licin yang mukanya seperti umah tabuan atau sarang tawon. Ada pula api bergulung-gulung yang siap membakar siapa saja yang menghadang. Semua pasukan leak kemudian keluar dari rumah Calonarang dalam rupa bola api beterbangan, kemudian menuju ke Setra Ganda Mayu tempat perjanjian pertempuran dengan Empu Bharadah dan pasukan Balayuda Kediri.
Melihat pasukan leak dengan beraneka rupa datang, pasukan Kediri menjadi kaget dan was-was dan ada yang ketakutan. Semuanya bersiap-siap dan merapatkan diri. Demikian pula dengan Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal, mereka berdua sangat waspada serta selalu berada di dekat Empu Bharadah untuk mengawalnya.
Empu Bharadah tidak sedikitpun gentar melihat kawanan leak tersebut, bahkan semangat untuk bertempur semakin membara. Sambil juga Empu Bharadah mengucap mantra sakti Pasupati. Dilengkapi pula dengan sarana sesikepan, sesabukan, rerajahan kain, dan pripian tembaga wasa atau lempengan tembaga. Sangat ampuh mantra sakti Pasupati tersebut. Empu Bharadah membawa pusaka sakti berupa sebuah keris yang bernama Kris Jaga Satru.
Ibu Calonarang Tewas
Pertarunganpun terjadi dengan sangat seram dan dahsyat antara penguasa ilmu hitam yaitu Calonarang dibantu para sisya atau murid-muridnya dengan penguasa ilmu putih yaitu Empu Bharadah dibantu Pasukan Balayuda Kediri, di Setra Ganda Mayu.
Pertempuran berlangsung sangat lama sehingga sampai pagi, dan karena ilmu hitam mempunyai kekuatan hanya pada malam hari saja, maka setelah siang hari Ibu Calonarang akhirnya tidak kuat melawan Empu Bharadah
Calonarang terdesak dan sisyanya banyak yang tewas dalam pertempuran melawan Empu Bharadah dan Pasukan Balayuda Kediri. Mengetahui dirinya terdesak, Calonarang seperti biasa segera menggelar kesaktian pengiwanya. Ia segera berubah wujud menjadi seekor burung garuda berbulu emas, melesat ke udara, dan bersembunyi di balik awan. Ketika itu, Empu Bharadah segera masuk ke dalam rumah Calonarang . Didapatinya rumah Calonarang telah kosong, tak ada siapa-siapa. Pasukan Balayuda Kediri mengurung rumah Calonarang.
Empu Bharadah kemudian berteriak : “Hai kau Calonarang pengecut, di mana gerangan engkau bersembunyi. Sudah berwujud apa engkau sekarang, aku akan hadapi. Aku menantangmu, ayolah segera tunjukkan batang hidungmu”. Setelah berkata demikian, tiba-tiba ada jawaban dari angkasa. Rupanya Calonarang sudah bersembunyi dari tadi, tanpa sepengetahuan pasukan Kediri. Calonarang berkata : “Hai kau Empu Bharadah, dimana bersembunyi rajamu. Mendengar ejekan si garuda tersebut dari udara membuat Empu Bharadah menjadi naik darah. Segera Empu Bharadah memerintahkan kepada Ki Kebo Wirang untuk membidikan senjata tersebut ke arah si Garuda Calonarang. Namun ketika itu, Ki Kebo Wirang menjadi kebingungan karena musuh yang akan dibidik tidak kelihatan. Hanya suaranya saja yang berkoar-koar. Ditambah lagi dengan adanya kilat dan guntur yang menggelegar di angkasa. Semakin menyulitkan untuk membidik si Garuda Calonarang.
Menghadapi situasi demikian, Empu Bharadah mencoba untuk memikirkan sebuah daya upaya. Empu Bharadah kemudian memerintahkan kepada Ki Lembu Tal sebagai umpan, agar si garuda mau keluar dari persembunyiannya. Ki Lembu Tal mencoba untuk mencari tempat yang agak terbuka. Mereka menari-nari sambil mengibas-ngibaskan senjatanya ke udara sebagai pertanda menantang. Ki Lembu Tal mengejek si garuda : “Hai engkau Calonarang, kenapa engkau bersembunyi. Ayo turun, akan aku potong lehermu, akan aku cincang engkau, bila perlu aku jadikan burung garuda panggang. Hai kau Calonarang, kalau memang engkau sakti mengapa engkau bersembunyi di tempat yang tinggi begitu. Kalau engkau mau, kau boleh hisap pantatku”. Demikian ejekan Ki Lembu Tal yang tidak senonoh, sambil membuka kainnya dan memperlihatkan pantatnya ke arah datangnya suara Calonarang.
Mendengar dan melihat ejekan Ki Lembu Tal, menyebabkan Calonarang menjadi naik darah, dan segera keluar dari persembunyiannya. Si garuda Calonarang dengan secepat kilat terbang dan menyambar Ki Lembu Tal. Pada saat si garuda terbang menyambar Ki Lembu Tal, ketika itu pula Empu Bharadah membidikkan senjata pusaka Jaga Satru dan menembakkannya ke arah sang garuda. Si garuda jelmaan Calonarang tersebut terkena tembakan senjata Jaga Satru dan jatuh tersungkur ke tanah. Segera si garuda mengambil wujud kembali menjadi manusia sosok Calonarang. Ratu Leak Calonarang yang sakti mandraguna tidak berdaya dengan kesaktian senjata pusaka Jaga Satru Empu Bharadah. Semua pasukan Balayuda Kediri segera mendekati Calonarang yang tidak berdaya dan kemudian Calonarang menghembuskan nafas terakhir di Setra Ganda Mayu.
Dengan meninggalnya Ibu Calonarang maka bencana gerubug (wabah) yang melanda Kerajaan Kediri bisa teratasi.
Lokasi Sebenarnya Desa Girah
Ternyata lokasi sebenarnya dari calonarang adalah di Dusun Butuh, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Diperkuat setelah ditemukannya sebuah situs yang diyakini sebagai situs Calonarang yaitu bekas sebuah rumah tempat dimana calonarang pernah tinggal. Situs yang terletak ditengah perkebunan tebu ini sudah sejak lama dirawat oleh penduduk setempat secara mandiri.
"Warga desa kami sangat menghormati tempat ini. Dari dulu sampai sekarang kami secara bergantian membersihkan batu-batu ini saat berangkat atau pulang dari sawah," kata Wage, salah seorang warga yang sedang membersihkan situs Calon Arang, Menurut dia, seharusnya tempat tersebut sudah waktunya mendapat perhatian dari pemerintah. Karena selain memiliki nilai sejarah, jika tidak diperhatikan bisa hilang dicuri orang.
"Meskipun secara ikhlas warga turut menjaga dan merawat tempat ini, tapi bisa saja ada orang yang tidak bertanggungjawab mencuri batu-batu ini. Apalagi lokasinya lumayan jauh dari pemukiman," katanya. Di situs itu terdapat dua buah batu yang merupakan ambang pintu dari bahan batu andesit. Ambang pintu pertama berukuran, panjang 135 cm, lebar 56 cm dan tebal 29 cm. Ambang pintu kedua berukuran: panjang 137 cm, lebar 38 cm dan tebal 23 cm. Keduanya dalam kondisi baik. Pada sisi atas di sebelah akan dan kiri terdapat dua lobang segi empat dan lingkaran. Kemungkinan ini dipakai tempat pilar penyangga semacam kusen pintu.
Selain ambang pintu terdapat 4 buah umpak dari bahan batu andesit yang rata-rata berukuran sekitar: panjang bawah 50 cm, panjang atas 45 cm, lebar bawah 50 cm, lebar atas 45 cm dan tinggi sekitar 50 cm. Keempat umpak batu berbentuk prisma itu diperkirakan merupakan pondasi penyangga empat sudut rumah. Juga terdapat dua buah balok batu dari bahan batu andesit dengan ukuran, batu pertama: panjang 62 cm, lebar 40 cm dan tebal 17 cm. Batu kedua: panjang 67 cm, lebar 47 cm dan tebal 18 cm.
J Sutjahjo Gani, salah seorang budayawan Kota Kediri menjelaskan, tempat tersebut pernah didatangi para ahli sejarah dan budayawan dari Pulau Dewata Bali. Kedatangan mereka untuk membuktikan apakah ada keterkaitan antara situs tersebut dengan dramatari kolosal Calon Arang yang selama ini diklaim sebagai hasil kesenian asli Bali itu. "Situs Calon Arang pernah didatangi tim dari Bali dari Yayasan Bapak Prof. DR. Wyn Mertha Suteja, SH, PhD. Rencananya di atas tanah di mana situs Calon Arang berada dini akan dibangun semacam bangunan," kata Soetjahjo Gani, yang bertahun-tahun menelusuri ikhwal Calon Arang.
Menurut Gani, dengan kedatangan tim dari Bali itu, menunjukkan bahwa kalangan budayawan Bali juga menyepakati bahwa tanah kampung halaman Calon Arang memang di Dusun Butuh, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Bahwa kemudian peristiwa yang terjadi di Kediri ini menjadi inspirasi bagi para budayawan Bali menciptakan dramatari Calon Arang yang terkenal di seluruh penjuru dunia. "Harus diakui bahwa Calon Arang memang asli Kediri. Sudah waktunya sejarah diluruskan dan tempat ini segera dirawat dengan layak agar tidak musnah," kata Gani
Dimanakah Kitab Sihir Calon Arang sekarang berada? apakah sudah dihancurkan oleh Mpu Bharada? wallahualam bishshawab
Misteri Watu Gong

Misteri Watu Gong

20:51 0

Misteri Watu Gong 
Watugong sendiri juga memiliki sejarah. Nama daerah ini diambil dari ditemukannya sebuah batu yang berbentuk seperti gong.Memang ada sebuah tempat peninggalan benda-benda jaman pra sejarah. Benda-benda itu masih terbuat dari batu. Beberapa dari benda sejarah itu berbentuk alat musik mirip gong. Yang namanya benda sejarah itu seringkali mengandung banyak cerita misteri.
Kata orang-orang dulu, setiap malam khususnya malam Jumat
kliwon, benda-benda bersejarah itu mengeluarkan suara mirip musik jaman dulu. Padahal di sana nggak ada siapa-siapa kecuali batu-batu itu.
Iseng-iseng aja beberapa temen penasaran sama cerita misteri yang satu ini. Akhirnya, kami berencana untuk membuktikannya. Kami janjian pas malam Jumat kliwon untuk kemudian pergi ke tempat bersejarah itu. Setelah sampai di tempat tersebut kita tunggu agak lama tapi nggak ada bunyi-bunyi sama sekali. Awalnya, jadi ragu apa iya bener cerita misteri orang-orang di tempat ini. Walaupun agak ragu, kami masih terus menunggu soalnya memang penasaran. beberapa teman
termasuk gue sudah mulai ngantuk karena tidak ada bunyi apa-apa. Tapi
setelah lewat tengah malam ternyata ada suara-suara aneh kami takut bukan kepalang. suaranya memang mirip musik gamelam gitu kalau pas ada kawinan adat Jawa. Selain bunyi-bunyian, bau khas kemenyan juga mulai tercium. Bulu kuduk merinding.
Maunya kita ngelihat lebih deket lagi tapi salah satu temen gue yang udah nggak tahan karena takut langsung lompat dan lari. dan sisa temen-temen pada kaget dan akhirnya ikut lari terbirit-birit. Akhirnya, kami nggak ke sana lagi tapi tiap kali lewat situ rasanya merinding. Gue aja kadang nggak noleh ke tempat itu kalau lewat Tapi intinya, cerita misteri orang-orang tempat itu ternyata beneran. Mereka yang sudah pernah dengar sih acuh aja karena sudah terbiasa. Lagian, mereka tidak perlu diganggu asal tidak mengganggu. Karena misteri inilah mengapa batu itu disebut
watu gong atau batu yang berbentuk gong.
KEN AROK - EMPU GANDRING-16.

KEN AROK - EMPU GANDRING-16.

06:50 0
KEN AROK - EMPU GANDRING-16.
"Baik, baiklah, saya akan mentaati perintah Paduka," jawabnya.
Ki Bragolo tertawa gembira. "ha-ha-ha, girang sekali hatiku, adi Ranunilo. Andika pun bersama
pembantu-pembantu andika menjadi tamu agung kami. Marilah masuk dan kita makan bersama!"
Ranunilo terpaksa pula memenuhi undangan Ki Bragolo. Bersama Gajah Putih dan Gajah Ireng yang
nampak tidak puas dengan hasil penyerbuan itu, dia masuk ke dalam ruangan makan yang luas di mana
telah disediakan hidangan-hidangan yang mewah. Sang Puteri Dewi Pusporini mengundurkan diri ke
ruangan dalam bersama Wulandari, akan tetapi Wulandari keluar lagi untuk menemani ayahnya menjamu
para tamu itu. Juga Joko Handoko hadir di samping murid-murid kepala Sabuk Tembogo dan
pembantu-pembantu perwira yang jumlahnya bersama Ranunilo dan dua orang pembantu barunya itu
seluruhnya ada dua belas orang. Ki Bragolo ditemani oleh puterinya dan Joko Handoko bersama tujuh
orang murid itu bekerja sebagai pelayan-pelayan walaupun mereka juga ikut berpesta.
Setelah diberi kesempatan berkumpul tanpa kehadiran Dewi Pusporini, Gajah Putih yang suka bicara
dan berwatak sombong itu, tidak dapat menahan lagi hatinya yang sejak tadi diliputi perasaan tidak puas
karena dia dan adik seperguruannya sama sekali tidak memperoleh kesempatan untuk mencari jasa dan
memamerkan kepandaian.
"Ah, suasana begini gembira! Kalau di waktu dahulu, di dalam pertemuan antara orang-orang yang
menjujung tinggi kegagahan, setiap peserta makan minum tentu saja disertai pameran ilmu kesaktian. Apa
lagi kalau yang mengadakan pesta seorang gagah perkasa dan sakti seperti Ki Bragolo, ketua dari Sabuk
Tembogo. Ha-ha-ha!"
Ranuniro agaknya maklum ke mana tujuan ucapan pembantu barunya itu. Di lubuk hatinya, dia pun amat
tidak puas dengan hasil tugasnya. Walaupun sang puteri akan diajaknya kembali bersama Ki Bragolo dan
Wulandari, namun kedua orang ini bukan ikut sebagai tawanan. Hal ini tentu saja menurunkan nilai
jasanya. Maka, tahu bahwa pembantunya barunya yang pandai bicara itu sedang "cari-cari", dia pun lalu
tertawa. "Ha-ha-ha, kakang Gajah Putih, dalam suasana damai ini, mana ada kesempatan untuk
mencoba ilmu kepandaian masing-masing?"
Gajah Ireng yang pendiam itupun menyambut. "Kakang Putih, tuan rumah telah bersembunyi dan
berlindung di balik bayangan sang puteri, awas kau jangan mengganggunya. Salah-salah dia bisa melapor
kepada sang puteri dan engkau dihukum!"
"Ha-ha-a-ha!" Gajah Putih tertawa, pura-pura mabuk, lalu menuangkan tuak ke dalam mulutnya.
Suaranya menggelogok ketika tuak itu melewati kerongkongannya. "Aku sudah lama mendengar bahwa
Ki Bragolo adalah seorang laki-laki sejati yang gagah perkasa. Sayang, hari ini dia lebih suka mengambil
jalan aman dan damai." Lalu dia bangkit berdiri. "Heh! Menggunakan wanita untuk berlindung sama
sekali bukan tindakan laki-laki perkasa!"
Ki Bragolo adalah seorang laki-laki kasar yang sejak muda berkecipung di dalam dunia kekerasan dan
kegagahan. Wataknya gagah perkasa dan sifat pengecut atau penakut merupakan pantangan besar
baginya. Kini, mendengar ucapan tiga orang itu, telinganya sudah berubah menjadi merah dan melihat
Gajah Putih bangkit, diapun kini bangkit berdiri, memandang kepada raksasa itu dengan sinar mata
berkilat.
“Gajah Putih, jangan engkau sembarangan bicara! Apakah engkau sengaja hendak mencari keributan di
sini? Jangan sekali-kali menyangka bahwa kami takut kepadamu atau kepada siapa saja! Kami tidak
minta perlindungan sang puteri, melainkan beliau sendiri yang tidak menghendaki kesalahpahaman ini
menjadi berlarut-larut!”
Melihat kesempatan ini Ranunilo lalu bangkit berdiri. “Maafkan kami, Ki Bragolo! Sama sekali kami
tidak bermaksud untuk membantah perintah sang puteri. Hanya saja engkau tentu mengerti betapa
kecewa perasaan orang-orang gagah yang pada saat berada di tepi gelanggang pertempuran, lalu
dihentikan begitu saja. Tidak biasa bagi kami untuk bermanis-manis dan berdamai begini saja. Karena
itu, biarpun kini permusuhan tiada lagi untuk sementara, di antara orang-orang yang suka mengadu
kerasnya tulang tebalnya kulit, bagaimana kalau pesta ini diramaikan dengan adu ilmu secara
persahabatan? Tidak perlu sampai ada korban, cukup untuk melihat siapa yang kalah dan siapa yang
menang, siapa yang kuat dan siapa lemah. Bagaimana pandapatmu?”
Ki Bragolo juga merupakan orang yang biasanya mengunggulkan diri sendiri dan percaya akan
kepandaian sendiri. Maka, tentu saja tantangan ini sempat membuat perutnya menjadi panas. “Ranunilo,
engkau adalah seorang perwira yang sudah cukup mengenal watak Ki Bragolo yang pantang mundur
menghadapi tantangan adu ilmu. Apakah engkau sendiri yang ingin mengadu ilmu?” Ki Bragolo belum
mengenal Gajah Putih dan dia, maka tentu saja dia mengira bahwa di antara semua tamunya, Ranunilo
merupakan orang yang paling tangguh karena dialah pemimpin pasukan itu.
“Adimas perwira Ranunilo adalah pemimpin pasukan. Sebelum dia sendiri yang turun tangan, di sini
masih ada kami dua orang pembantunya yang akan maju menjadi jagoan-jagoannya. Nah, kami berdua
maju, siapakah di antara perkumpulan Sabuk Tembogo yang akan maju?” kembali Gajah Putih berseru.
“Kalau kami berdua keok, barulah dimas Ranunilo yang akan turun tangan sendiri!”
“Manusia sombong, sebelum ketua dan guru kami maju, biarlah kami yang akan maju lebih dulu
mewakili Sabuk Tembogo!” Terdengar bentakan keras dan dua orang laki-laki berusia empat puluh
tahun bangkit berdiri. Mereka tadi memimpin para murid Sabuk Tembogo yang menjadi pelayan dan
juga tuan rumah, dan mereka ini bernama Sentono dan Sentanu dua orang murid kepala dari Ki Bragolo,
mereka berdualah yang memiliki tingkat tertinggi. Hanya Wulandari seoranglah kiranya yang mampu
mengungguli ilmu kepandaian mereka.”
“Ha-ha-ha!” Gajah Putih tertawa bergelak. “Di dalam pertandingan adu ilmu persahabatan ini, harus
diajukan lawan-lawan yang sepadan kepandaiannya agar lebih seru dan menarik. Tingkat kepandaian
dua orang saudara anggota Sabuk Tembogo ini agaknya tidak akan lebih tinggi daripada tingkat adikku.
Adi Ireng, majulah menghadapi mereka!”
Gajah Ireng hanya mengangguk dan tersenyum mengejek, lalu dengan sekali menggerakkan tubuh,
tubuhnya sudah mencelat ke tengah ruangan itu yang kosong dan merupakan ruang yang baik sekali
untuk mengadu ilmu. Melihat ini, semua orang memandang dan kini, para anak buah Sabuk Tembogo
dan pasukan tamu yang sudah mendengar bahwa akan diadakan adu ilmu, sudah ramai memenuhi luar
pintu dan jendela-jendela ruangan makan itu untuk menonton.
“Kalian berdua majulah, mari kita main-main sebentar!” kata Gajah Ireng dengan berdiri tegak dan
kedua tangan bertolak pinggang, sikapnya sombong sekali.
Sentono dan Sentanu saling pandang. Tentu saja mereka tidak sudi maju berdua untuk melakukan
pengeroyokan. Pertandingan adu ilmu adalah suatu peristiwa di mana orang di dunia persilatan
memperlihatkan kegagahan. Mengeroyok berarti akan membuat mereka hina dan dapat dianggap
pengecut. Agaknya pihak lawan sengaja menantang agar mereka mengeroyok, hanya untuk melontarkan
ejekan dan hinaan saja.
Sentanu lalu melangkah ke arah tengah ruangan itu setelah memperoleh anggukan setuju dari Ki Bragolo.
Tuan rumah inipun merasa amat penasaran dan untuk mempertahankan nama dan kehormatan
perguruannya, tentu saja dia tidak dapat menolak tantangan para tamu yang mengajak mengadu
kepandaian. Dan memang tidak ada yang lebih tepat untuk melayani dua orang pembantu Ranunilo itu
kecuali Sentono dan Sentanu. Dua orang murid kepala yang sudah boleh diandalkan kepandaiannya itu.
Setelah berhadapan dengan lawan, Sentanu lalu melolos sabuk tembogo yang menjadi ikat pinggangnya.
Sabuk itu beratnya ada sepuluh kati, menunjukkan bahwa dia merupakan murid Sabuk Tembogo yang
sudah mahir dan tangguh.
“Karena aku merupakan murid Sabuk Tembogo yang sedang mempertahankan nama dan kehormatan
perkumpulan Sabuk Tembogo, maka untuk menguji kepandaian, aku harus mempergunakan sabuk ini
yang menjadi lambing perguruan kami,” kata Sentanu, memperlihatkan senjatanya itu kepada calon
lawannya.
Gajah Ireng tersenyum. “Bagi aku, Gajah Ireng, lawan bersenjata apapun tidak ada bedanya, dan kalian
berdua maju bersama atau maju satu demi satu juga tidak ada bedanya. Akan tetapi perlu aku
mengetahui nama dari calon lawanku.”
“Hemm, engkau agak besar mulut, sobat. Namaku Sentanu dan aku murid kedua dari guruku, juga
ketua perguruan kami. Nah, aku sudah siap, engkau majulah!” Sentanu memasang kuda-kuda dan sabuk
tembaga itu sudah diputar-putarnya dengan tangan kanan.
Di antara para anak buah Sabuk Tembogo dan pasukan Tumapel terjadi kesibukan sendiri karena ada
pula yang bertaruhan! Mereka memang sudah saling mengenal karena sudah sering anak buah Sabuk
Tembogo membantu Kadipaten Tumapel. Bahkan ketika beberapa tahun yang lalu terdapat kerusuhan
yang diakibatkan oleh merajalelanya para bajak Kali Berantas, para pendekar Sabuk Tembogo berjasa
besar, berkelahi bahu-membahu dengan pasukan Tumapel untuk membasmi para bajak. Tadinya
memang ada ganjalan di antara mereka sehubungan ditawannya tiga orang anggota Sabuk Tembogo,
akan tetapi setelah kini di antara mereka ada perdamaian berkat perintah sang puteri, mereka
bercakap-cakap dengan akrab dan kini meraka menganggap adu ilmu itu suatu kegembiraan yang
bersahabat. Karena itu mereka lalu saling bertaruh. Para anak buah Sabuk Tembogo yang percaya
penuh akan ketangguhan Sentanu, berani mempertaruhkan semua uang saku mereka, sedangkan para
perajurit juga tadi sudah menyaksikan kehebatan Gajah Ireng yang dapat “terbang”, tentu saja berani
mempertaruhkan uang mereka.
Gajah Ireng yang tadinya memakai ikat kepala berwarna ungu, kini melolos ikat kepalanya itu dan
agaknya hendak mengimbangi senjata lawan yang terbuat dari tembaga itu dengan senjata kain ikat
kepala! Hal ini oleh Sentanu dianggap suatu sikap yang amat memadang rendah kepadanya dan sombong
sekali.
“Lihat senjata!” bentaknya dan Sentanu sudah menyerang dengan gerakan ganas dam dahsyat sekali ke
depan. Senjata sabuk tembaga itu diputarnya dengan cepat bagaikan kitiran sehingga tidak nampak lagi
bentuknya melainkan berubah menjadi segulungan sinar dan tiba-tiba saja ada sinar mencuat ke arah
dada Gajah Ireng. Akan tetapi, Sentanu mengeluakan seruan kaget ketika tiba-tiba saja lawannya itu
lenyap! Hanya nampak bayangannya berkelebat dan tahu-tahu lawan itu lenyap dan tib-tiba ada angin
menyambar ke arah tengkuknya dari belakang. Dia seorang murid kepala Sabuk Tembogo, tentu saja
sudah banyak pengalaman dalam bertanding. Tahulah dia bahwa lawannya memiliki ajian kecepatan yang
sangat hebat dan tentu angin yang bertiup itu merupakan serangan lawan. Cepat dia memutar tubuh dan
menggerakkan senjatanya menangkis.
"Tukk!" benar saja dugaannya. Ikat kepala yang merupakan kain lemas itu ternyata dapat menyambar
ke arah tengkuknya tadi dan berubah menjadi benda yang keras. Bukan main hebatnya lawan itu. Ketika
sabuknya menangkis, terjadi bentrokan tenaga melalui kedua macam senjata itu dan sabuk tembaga di
tangan Sentanu terpental.
Terdengar Gajah Ireng tertawa kecil. Sentanu menjadi penasaran dan dia pun mempercepat gerakan
sabuk di tangannya sehingga nampak gulungan sinar yang menyilaukan mata, yang melindungi seluruh
tubuh Sentanu dan kadang-kadang dari gulungan sinar itu mencuat sinar yang merupakan serangan ujung
sabuk ke arah lawan. Namun, Gajah Ireng memang memiliki kecepatan yang laur biasa. Setiap kali
diserang, tubuhnya berkelebat lenyap dan diapun membalas serangan lawan dari tempat-tempat yang
tidak terduga. Tentu saja Sentanu yang jauh kalah cepat itu menjadi kewalahan dan setelah lewat dua
puluh jurus, dia menjadi repat dan bingung karena gerakan cepat lawan membuat dia tidak tahu kemana
harus menyerang sedangkan serangan lawan datang bertubi-tubi dari segenap penjuru secara tidak
terduga sama sekali.
Bagi para penonton, jelas nampak betapa Gajah Ireng mempermainkan Sentanu. Para penonton dapat
melihat gerakan Gajah Ireng karena jarak mereka dari orang itu agak jauh, tidak seperti Sentanu yang
berada dekat sekali. Nampak oleh mereka betapa Gajah Ireng berloncatan dengan cepat bukan main
mengintari Sentanu, selalu tak terjangkau oleh gulungan sinar sabuk di tangan murid Ki Bragolo itu,
sebaliknya dari sudut-sudut bebas dia menyerang lawan dengan lecutan kain kepalanya.
Melihat betapa Gajah Ireng mempermainkan lawan dan berada di pihak yang selalu mendesak, para
perajurit Tumapel, terutama mereka yang bertaruhan, mulai bersorak-sorak gembira sebaliknya para
murid Sabuk Tembogo memandang dengan hati gelisah. Mereka pun dapat melihat bahwa kakak
seperguruan mereka terdesak dan berada di ambang kekalahan.
Joko Handoko yang berdiri di pinggiran juga melihat semua ini. Dia menandang ke arah Wulandari yang
berdiri di samping ayahnya. Gadis itu, juga Ki Bragolo, memandang ke arah perkelahian sambil
mengepal-ngepal tinju. Jelas bahwa ayah dan anak itu merasa penasaran sekali.
"Pergilah!" tiba-tiba terdengar bentakan Gajah Ireng disusul bunyi ledakan kain ikat kepalanya yang
menyambar dengan kecepatan kilat. Sentanu tidak mampu mengelak atau menangkis lagi dan terdengar
bunyi kain robek ketika letusan itu mengenai pundak dan dadanya, merobek baju dan juga merobek
sedikit kulit dada dan pundak. Nampak guratan merah pada pundak dan dada itu. Walaupun tidak
terluka parah, hanya lecet-lecet pada kulit itu, namun ini merupakan bukti bahwa Sentanu telah kalah. Dia
pun tahu akan kekalahannya dan segera mengundurkan diri.
Kini Sentono melangkah maju menghadapi Gajah Ireng. "Adikku telah kalah, biarlah aku minta sedikit
petunjuk darimu!" berkata demikian, Sentono memutar sabuk tembaga di tangannya. Dibandingkan
dengan Sentanu, Sentono yang menjadi murid kepala itu hanya sedikit lebih tinggi tingkatannya, yaitu
dalam hal tenaga saja. Ilmu silatnya tiada bedanya dengan Sentanu. Dia sendiri tadi telah menyaksikan
perkelahian antara Sentanu dengan Gajah Ireng, maklum bahwa dia sendiri takkan menang menghadapi
lawan ini. Namun dia tidak takut, bahkan merasa penasaran sekali dan ingin menebus kekalahan adiknya,
walaupun dia tahu hal itu sama sekali tidak mudah.
"Hem, sudah kukatakan, kalian lebih baik maju bersama!" Gajah Ireng berkata dengan nada mengejek.
Ucapan ini membuktikan kesombongannya. Sentono tidak menjawab, melainkan memutar senjatanya
dan menubruk ke depan.
"Lihat sabukku!" namun seperti halnya adiknya tadi, tiba-tiba tubuh lawannya berkelebat lenyap. Dia tadi
sudah menonton pertandingan antara adiknya dan lawan ini, maka dia sudah memutar dan menggerakkan
sabuknya, menyerang ke bagian belakang dan kanan kiri dengan cepat. Akan tetapi kembali Gajah Ireng
dapat mengelak dengan amat mudahnya dan balas menyerang.
Pasar taruhan di luar ruangan itu kini sepi. Para anak buah Sabuk Tembogo tidak ada yang berani
bertaruh karena mereka semua jerih melihat gerak cepat yang luar biasa dari Gajah Ireng dan memang
rasa khawatir mereka beralasan. Sebentar saja, seperti halnya Sentanu tadi, Sentono juga hanya mampu
melindungi dirinya, tidak sempat lagi untuk balas menyerang dan bahkan agaknya Gajah Ireng ingin cepat
mengakhiri pertandingan itu. Lewat lima belas jurus, tiba-tiba ujung sabuk tembaga itu terlihat ujung kain
ikat kepala dan selagi Sentono berusaha manarik kembali sabuk tembaganya, tiba-tiba kaki Gajah Ireng
meluncur dan menendang.
"Dess....!" tubuh Sentono terpelanting keras dan biarpun dia juga tidak terluka parah, namun karena
tubuhnya sudah terbanting, berarti dia sudah kalah. Dia bangkit dengan muka merah dan tanpa berkata
apa-apa lagi dia mengundurkan diri.

9Bersambung KEN AROK EMPU GANDRING 17
SEJARAH BUPATI DI NEGERI TUBAN

SEJARAH BUPATI DI NEGERI TUBAN

07:44 0
Sejarah Bupati Tuban
( Didalanya terdapat Kisah penyerangan Mataram ke Tuban )
SEJARAH BUPATI DI NEGERI TUBAN

1. Bupati ke-1 : Arya Dandang Wacana
Sepeninggalan ayahnya, Arya Dandang Wacana segera melaksanakan wasiat itu. Beliau diikuti oleh para prajurit dan rakyatnya yang setia meninggalkan Lumajang. Mereka bekerja keras membuka hutan Papringan yang membentang dari lereng perbukitan sampai ke pantai utara Pulau Jawa. Setelah berhasil, tempat itu di beri nama Tuban karena didaerah itu banyak ditemukan sumber air. Jadi nama Tuban tersebut berasal dari kata = metubanyu =tubanyu = TUBAN.
Versi lain mengenai kota Tuban ini dapat dilihat dalam buku Hari Jadi Tuban (1986:14) sebagai berikut:
• Tuban berasal dari kata Watu Tiban. Hal ini dikaitkan dengan sebuah cerita bahwa ketika masa kerajaan majapahit berakhir, maka harta kekayaan majapahit dipindahkan ke Demak. Barang-barang yang di pindahkan ke Demak termasuk adalah pusaka yang berbentuk yoni. Guna memindahkannya, maka di percayakan kepada sepasang burung bangau. Sesampai di Tuban, burung-burung tersebut diolok-olok oleh anak-anak yang sedang menggembala. Tampaknya, sepasang burung bangau itu tersinggung dan menjatuhkan barang bawaannya. Daerah tempat jatuhnya batu tersebut kemudian di beri nama Tuban kependekan dari kata wa(tu) ti(ban).
• Menurut kebiasaan masyarakat Tuban yang mudah diarahkan untuk melaksanakan tugas guna membangun negerinya. Sifat-sifat seperti itu dalam bahasa jawa di sebut ” Nges(tu)ake kewaji(ban).”
• Menurut bahasa jawa kawi,Tuban berarti jeram (wojowasito,202)kata jeram dalam bau sastra djawa Indonesia karangan S.Prawiroatmaja diartikan sebagai air lata atau air terjun.
• Menurut pendapat Drs.Soekarto dalam (Hari jadi Tuban,1986:17) kata tuban berasal dari kata Tubo yaitu sejenis tanaman yang bias dibuat racun.hal ini dibuktikan bahwa disebelah barat kota Tuban terdapat daerah yang bernama Jenu. Menurutnya kata Jenu dan Tubo memiliki arti yang tidak jauh berbeda.
Dari hari kehari hutan Papringan yang telah berubah menjadi Tuban itu semakin ramai saja sehingga terbentuklah sebuah kabupaten. Arya Dandang Wacana sendiri menorehkan nama sebagai adipati pertama di Kadipaten Tuban dengan gelar Kyai Agung Papringan.
Setelah menjadi adipati selama 3 tahun kemudian mendirikan pesanggrahan yang sekelilingnya terdapat sungai dan sendang. Lokasi sendang banyak ditumbuhi tumbuhan besar,sehingga udaranya sangat sejuk. Pesanggrahan tersebut diberi nama Bekti.Nama bekti diambil dari kata pangabekti, karena pada waktu Raden Dandang Wacono sedang beristirahat, masyarakat datang berduyun-duyun untuk menunjukkan rasa pengabdian kepada junjungannya (sowan ngabekti). Bekas pesanggrahan tersebut sekarang menjadi Desa Bhektiharjo.
Kyai gedhe Papringan menjadi adipati Tuban selama 30 tahun kemudian meninggal dan dimakamkan di Kali Gunting, Desa Perunggahan,Kecamatan Semanding.

2. Bupati ke-2 : Raden Haryo Ronggolawe
Adipati Tuban pertama, Kyai Gedhe Papringan dikaruniai 2 putri yaitu Nyai Ageng Lanang Jaya dan Nyai Ageng ngesa. Pernikahan antara Nyai Ageng Lanang Jaya dan Arya wiraraja dikaruniai seorang putra Bernama Raden Harya Ronggolawe.
Raden haryo Ranggalawe dilantik sebagai adipati Tuban pada tahun 1215 saka atau 12 November 1293, bersamaan dengan penobatan Raden Wijaya sebagai raja Majapahit. Peristiwa inilah yang dijadikan titik tumpu untuk menetapkan hari jadi kota Tuban.
Sejarah telah mencatat bahwa ketidak puasan Raden Haryo Ronggolawe atas putusan Raden Wijaya yang melantik Nambi sebagai patih amangkubumi memantik terjadinya pertumpahan darah di sungai Tambak beras. Penegakan keadilan dengan cara Raden haryo Ronggolawe tersebut, mengakibatkan ia gugur dimedan perang. Menurut Soewardjan dan Siti Alfiah(1987:18) “ Beliau wafat pada tahun 1217 saka atau 1295 M”.

3. Bupati ke-3 : Raden Sirolawe
Serat Dhamarwulan (HIkayat Tanah Jawa) menerangkan bahwa Raden Haryo Ronggolawe mempunyai 2 putra : 1. Raden Buntaran dan 2. Raden watangan.Padahal di dalam serat Babad Tuban diterangkan bahwa putra ronggolawe hanya semata wayang bernama Raden Sirolawe. Belialah yang menggantikan ayahandanya menjadi adipati Tuban. Mungkin karena etika garis keturunan, Putra tertualah yang berhak menjadi adipati (penguasa).Bisa jadi Raden Buntaran adalah Raden Sirolawe yang menjalankan pemerintahan selama 15 tahun sampai meninggal dunia.

4. Bupati ke-4 : Raden Haryo Sirowenang
Sepeninggalan Raden Sirolawe yang menggantikan sebagai adipati adalah putranya yang bernama Raden Haryo Siriwenang.Lama pemerintahannya selama 43 tahun

5. Bupati ke-5 : Raden Harya Lena
Adipati Tuban yang Ke 5 adalah Raden Haryo Lena, putra Raden Haryo Sirowenang. Lama pemerintahannya sekitar 52 tahun.

6. Bupati ke-6 : Raden Harya Dikara
Raden haryo Dikara menggantikan ayahandanya Raden Haryo Lena. Lama pemerintahannya sekitar 18 tahun. Adipati ke 6 di karuniai 2 orang anak yaitu Raden Ayu haryo Tedjo dan Kyai Ageng Ngraseh.
Raden Ayu Haryo Tedjo di peristri oleh “Syekh Ngabdurrakhman, putra syekh Ngali = Syekh Jalaludin (Kyai Makam Dowo)

7. Bupati ke-7 : Raden Haryo Tedjo
Pengganti Raden Haryo Dikara adalah menantunya(suami Raden Ayu Haryo Tedjo) yaitu syekh Ngabdurrakhman, putra syeh Djalaludin dari Gresik. Setelah menjabat adipati ke-7, Syeh Ngabdurrakhman bergelar Raden Haryo Tedjo. Lama pemerintahannya sekitar 41 tahun.

8. Bupati ke-8 : Raden Haryo wilatekta
Sepeninggalan Raden Haryo Tedjo, penggantinya adalah Raden Haryo Wilatikta. Lama pemerintahanya sekitar 40 tahun. Pada masa pemerintahannya, ada suatu hal yang harus di diskusikan tentang sosok Raden HAryo Wilatikta ini. Suwardjan dan Siti alfiah(1987:19) dengan merujuk keterangan Tome Pires Ketika berkunjung ke Tuban dan menuliskan,”Keluarga rajanya sekalipun beragama islam, sejak pertengahan abad ke-15 tetap mengadakan hubungan baik dengan maharaja Majapahit di pedalaman. Sebagian penduduk tuban pada jaman itu masih kafir, menurut musafir itu, Raja Tuban pada waktu itu disebut Pate vira”. Ia bukan seorang islam yang tat meskipun kakaknya masuk islam.
Raden Haryo Wilatikta dimakamkan di bagian pelataran induk makam Sunan Bonang dan keempat tokoh Tuban yang dianggap dekat dengannya.

9. Bupati ke-9 : Kyai Ageng Ngraseh
Pengganti Raden Haryo Wilatikta adalah menantunya, yaitu Kyai Ageng Ngraseh yang juga adipati ke-6, Raden haryo Dikara. Lama pemerintahannya sekitar 40 tahun.

10. Bupati ke-10 : Kyai Ageng Gegilang
Sepeninggalan Kyai ageng ngraseh jabatan adipati tuban digantikan oleh putranya yang bernama Kyai Ageng Gegilang. Lama pemerintahannya sekitar 38 tahun

11. Bupati ke-11 : Kyai Ageng Batabang
Pengganti Kyai Ageng Gegilang adalah Kyai Ageng Batabang. Lama pemerintahannya sekitar 14 tahun

12. Bupati ke-12 : Raden Haryo Balewot
Adipati Tuban ke-12 adalah putra Kyai Ageng Batabang bernama Raden Haryo Balewot. Beliau dikaruniai 2 putra yaitu pangeran Sekar Tanjung dan pangeran ngangsar. Lama pemerintahannya sekitar 56 tahun.

13. Bupati ke-13 : Pangeran sekar Tanjung
Raden Haryo Balewot kemudian digantikan putra sulungnya bernama Pangeran Sekartandjung. Adipati ke-13 ini mengalami nasib tragis karena meninggal ditangan saudara kandungnya yaitu Pangeran Ngangsar.
Pada waktu Pangeran Sekartandjung sholat jum`at di masjid dalam posisi rukuk Pangeran Sekar tandjung ditikam dari belakang oleh adiknya sendiri yaitu Pangeran Ngangsar. Pangeran dalam mimpinya mendapat wasiat maka dengan senjata keris yang bernama “Kyai Layon” ditikamlah Pangeran Sekartandjung.
Pangeran Sekartandjung menjadi adipati selama 22 tahun. Pangeran Sekartndjung dikaruniai 2 putra yang bernama Pangeran Haryo Pemalat dan Haryo salempe. Namun, pada waktu ayahnya meninggal dunia keduanya masih kecil / masih muda.

14. Bupati ke-14 : Pangeran Ngangsar
Setelah berhasil membunuh saudaranya Pangeran Ngangsar menjadi adipati Tuban yang ke 14. Lama pemerintahannya hanya sekitar 7 tahun.

15. Bupati ke-15 : Pangeran Haryo Permalat
Sepeninggalan Pangeran Ngangsar, penggantinya adalah Pangeran Haryo Permalat. Adipati Tuban yang ke 15 ini adalah menantu Sultan Pajang, Raden Jaka Tingkir. Pangeran. Pangeran Haryo Permalat memang berseteru dengan penguasa mataram yaitu Panembahan Senapati. Selama pemerintahannya, Tuban pernah diserang oleh Mataram yaitu pada tahun 1598 dan 1599. Namun, serangan-serangan Mataram gagal karena Tuban pada waktu itu mempunyai pertahanan yang kuat.
Lama pemerintahannya sekitar 38 tahun. Beliau mempunyai seorang putra yaitu Pangeran Dalem.

16. Bupati ke-16 : Haryo Salempe
Ketika Pangeran Haryo Pemalat mangkat, yang menggantikannya adalah haryo salempe yang juga putra adipati ke 13. Hal ini disebabkan karena pangeran Dalem masih kecil. Lama pemerintahannya sekitar 38 tahun.

17. Bupati ke-17 : Pangeran Dalem
Berakhirnya pemerintahan Adipati Haryo Salempe, yang menggantikannya Pangeran Dalem. Pada tahun 1619, Tuban diserang oleh Mataram. Terjadi pertempuran sengit yang mengakibatkan benteng kumbakarna jatuh ditangan musuh. Siasat penyusupan kekuatan mataram kedalam tubuh pemerintahan Tuban berbuah kemenangan Mataram atas Tuban. Hal ini mengakibat kan Pangeran Dalem jatuh ke Bawean.
Sepeninggal istrinya, Pangeran Dalem menuju ke Rajekwesi, Bojonegoro sampai mangkat dan dimakamkan dikadipaten Bojonegoro. MENGAPA Pangeran Dalem menuju ke Bojonegoro yang begitu dekat dengan Tuban? Ternyata salah satu alasan yang masuk akal adalah karena Pangran Dalem mempunyai saudara yang bernama R.Ayu Djamus yang sangat pengaruh di Bandander, Bojonegoro.
Makam Buyut Dalem berada didalam sebuah cungkup yang terawat dengan baik. Namun, disamping makam utama tersebut bersemayam pula tokoh wanita pujaan hati Buyut Dalem bernama Srihuning yang mendapat julukan mutika Tuban karena semangatnya “ labuh tresna sabaya pati”.
Bersumber dari keterangan pihak Dinas Pariwisata Kabupaten Bojonegoro dan 2 juru kunci makam Buyut Dalem, “Dimakam ini selalu diadakan sedekah bumi yaitu jatuh pada setiap hari rabu wage, bulan September. Kegiatan ritual ini diawali pada hari Rabu pahing dengan “mayu alang-alang” yaitu mengganti atap cungkup yang terbuat dari alang-alang. Selain itu juga dilakukan penggantian pasir yang ada di makam.”

18. Bupati ke-18 Pangeran Podjok
Terusirnya pangeran Dalem dari singgasana Adipati Tuban menandakan pergantian garis keturunan Penguasa Tuban yakni dari garis keturunan Kyai Ageng Papringan ke tangan garis Mataram. Yaitu pangeran Podjok

19. Bupati ke-19 : Pangeran Anom
Setelah Pangeran Podjok meninggal, yang menggantikan adalah adiknya yang bernama Pangeran Anom. Lama pemerintahannya sekitar 12 tahun. Beliau diberhentikan Sultan agung Mataram menjadi adipati Tuban. Menurut R.Soeparmo (1972:84) di Kabupaten Tuban untuk sementara jabatan bupati ditiadakan. Konsekuensinya Tuban diberikan semacam perwakilan yang disebut dengan “umbul” (setingkat Kademangan) sebanyak 4 orang yaitu:
1. Umbul Wongsoprodjo di tempatkan di Jenu
2. Umbul Wongsohito ditempatakan di palang
3. Umbul Wongsotjokro yang ditempatkan di Rengel
4. Umbul Jodoputro ditempatkan di singgahan

20. Bupati ke-20 : Aryo Balabar
Adipati Tuban yang ke20 adalah Aryo Balabar atau Aryo Blender yang juga berasal dari keturunan Mataram. Lama pemerintahannya sekitar 39 tahun. Salah satu yang dilakukan pada memerintah Tuban adalah membuat masjid yang berada disebelah Barat makam Sunan Bonang.

21. Bupati ke-13 : Pangeran Sudjonopuro
Setelah Pangeran Balabar mangkat, penggantinya adalanh Pangeran Soedjonopuro yang semula menjabat bupati japanan (Mojokerto). Lama pemerintahannya 10 tahun sampai beliau wafat.

22. Bupati ke-22 : Pangeran Joedonegoro
Pengganti Pangeran Soedjonopuro yaitu pangeran Joedonegoro, lama pemerintahannya. Sekitar 15 tahun.

23. Bupati ke-23 : Raden Aryo Surodiningrat
Pangeran Joedonegoro setelah wafat yang menggantikan sebagai bupati adalah Raden Aryo Srodiningrat yang berasal dari pekalongan. Lama pemerintahanya 12 tahun.

24. Bupati ke-24 : Raden Aryo Diposono
Pengganti Raden Aryo Surodiningrat adalah Raden Aryo Diposono, karena beliau wafat dalam peperangan. Lama pemerintahannya sekitar 16 tahun.

25. Bupati ke-25 : Kyai Reksonegoro
Jabatan selanjutnya digantikan Oleh Kyai Reksonegoro. Setelah menjabat adipati bergelar kyai Tumenggung Tjokronegoro. Lama Pemerintahannya adalah 47 tahun.

26. Bupati ke-26 : Kyai Purwonegoro
Selanjutnya digantikan oleh Kyai poerwonegoro. Setelah memrintah 24 tahun, Beliau sakitr dan mengambil cuti. Oleh karena itu, beliau terkenal dengan bupati perpol

27. Bupati ke-27 : Kyai Lieder Soerodinegoro
Lama pemerintahannya adalah 3 tahun

28. Bupati ke-28 : Raden Poerjoadiwidjojo
Lama pemerintahannya adalah 12 tahun

29. Bupati ke-29 : Pangeran Tjitrosomo VI (1800-1836)
30. Bupati ke-30 : Pangeran Tjitrosomo VII (1836-1842)
31. Bupati ke-30 : Pangeran Tjitrosomo VIII (1842)
Setelah Pangeran Tjitrosomo VII mangkat, penggantinya adalah Pangeran Tjitrosomo VIII

32. Bupati ke-30 : Pangeran Tjitrosomo IX (1879-1892)
33. Bupati ke-33 : Radenmas Tumenggung Sumbroto (1892)
Panngeran Tjitrosomo IX setelah pension digantikan oleh Radenmas Tumenggung Sumbroto. Lama pemerintahannya 4 tahun.

34. Bupati ke-34 : Raden Adipati Aryo Koesoemodigdo (1893-1911)
Radenmas Tumenggung Sumbroto digantikan oleh Raden Adipati Aryo Koesoemodigdo.Lama pemerintahanya adalah sekitar 16 tahun

35. Bupati ke-35 : Radenmas Tumenggung Pringgowinoto (1911-1919)
Raden Adipati Aryo Koesoemodigdo setelah wafat digantikan kakaknya yaitu Radenmas Tumenggung Pringgowinoto yang berasal dari Rembang. Pada tahun 1920 di Tuban mulai dibangun Jalan kereta api NIS

36. Bupati ke-36 : R.A.A Pringgodigdo/ Kusumodiningrat (1919-1927)
37. Bupati ke-37 : R.M.A.A Koesoemobroto (1927-1944)
BUPATI TUBAN SETELAH KEMERDEKAAN
38. Bupati ke-38 : R.T Soedima Hadiatmaja (1944-1946)
39. Bupati ke-39 : R.H Moestain (1946-1956)
40. Bupati ke-40 : R.TSoendaroe (1956-1958)
41. Bupati ke-41 : R. Istomo (1958-1960)
42. Bupati ke-42 : M. Widagdo (1960-1968)
43. Bupati ke-43 : R. Soeparmo (1968-1970)
44. Bupati ke-44 : R.H Irchamni (1970-1975)
45. Bupati ke-45 : M. Masduki (1975-1980)
46. Bupati ke-46 : Surati Mursam (1980-1985)
47. Bupati ke-47 : Drs. Djuwahiri Marthaprawira(1985-1991)
48. Bupati ke-48 : Drs. Sjoekoer Soeto (1991-1995)
49. Bupati ke-49 : H.Hindarto (1996-2001)
50. Bupati ke-50 : Dra. Hj. Haeny Relawati RW.,M.Si. (2001-2006)
51. Bupati ke-51 : Dra. Hj. Haeny Relawati RW.,M.Si. (2006-2011)
52. Bupati ke-52 : H. Fathul Huda (2011-2016.)
53. Bupati ke-53 : H. Fathul Huda (2016-2021.)
MBAH GARENG NGROTO GUBUG (BUYUT PRESIDEN RI 4)

MBAH GARENG NGROTO GUBUG (BUYUT PRESIDEN RI 4)

07:16 0
MBAH GARENG NGROTO GUBUG (BUYUT PRESIDEN RI 4)
Ada sebuah makam sederhana namun punya nilai khusus yang berada di pekuburan desa Ngroto kec. Gubug. Warga setempat menyebutnya sebagai makam Mbah Gareng yang dipercaya secara turun temurun sebagai kakek buyut dari KH. Abdurahman Wahid alias Gus Dur Presiden RI ke-4. Mbah Gareng adalah nama panggilan dari Kyai Khoiron. Konon kyai Khoiron ini bertubuh kurus dan pendek sehingga dipanggil dengan sebutan “Gareng”.
Kyai Khoiron dulunya adalah pendatang dari daerah Tingkir Salatiga yang belajar mengaji di daerah Ngroto dimana dia dimakamkan sampai saat ini. Kyai Khoiron belajar mengaji kepada seorang guru bernama Kyai Hamidin dan Kyai Sirajudin yang dikenal sebagai ulama pendatang yang mengajarkan agama di daerah Ngroto Gubug. Mbah Gareng dikenal oleh lingkungan setempat kala itu sebagai seorang santri yang sangat menonjol karena ketekunan dan kepandaiannya dalam hal agama. Setelah bertahun-tahun menimba ilmu di pesantren Mbah Gareng semakin terlihat kepandaiannya berdakwah. Banyak warga sekitar yang belajar ilmu agama kepadanya. Setelah menikah dengan seorang wanita yang juga warga setempat maka mbah Gareng memutuskan untuk menetap di daerah Ngroto dan tidak kembali ke Tingkir. Dari hasil pernikahannya Mbah Gareng menurunkan dua orang anak yaitu Asyari dan Asyngari. Asyari merantau untuk memperdalam ilmu agama ke daerah Tuban dan lalu menetap di Jombang. Nah dari Anak Mbah Gareng yang bernama Asyari inilah kemudian menurunkan Kyai Hasyim Asyari yang dikenal sebagai Tokoh pendiri Nahdatul Ulama (NU) yang merupakan kakek dari KH. Abdurahman Wahid atau biasa dipanggil Gus Dur. Silsilahnya berlanjut dari Kyai Hasyim Asyhari menurunkan Kyai Wahid Hasyim yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama RI dan selanjutnya Kyai Wahid Hasyim menurunkan KH. Abdurahman Wahid atau Gusdur.

Versi lain, Kyai Asyari adalah anak dari Kyai Abu Sarwan namun memang betul bahwa Kyai Abu Sarwan berasal dari daerah Tingkir Salatiga. Mbah Gareng juga berasal dari daerah Tingkir Salatiga. Mungkinkah Kyai Khoiron dan Kyai Abu Sarwan itu adalah orang yang sama? Wallahu a'lam
Misteri Siluman Buaya

Misteri Siluman Buaya

08:20 0
Kisah Misteri Siluman Buaya
by : Indospiritual

Kisah ini ditulis berdasarkan kesaksian Supena, yang dituturkan bebera waktu silam. Kejadiannya berlangsung saat Supena menjebat seketris desa atau juru tulis di sebuah desa yang terletak di kecamatan Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Lelaki itu semakin hari semakin menderita setelah ditinggal anak perempuannya. Anaknya yang baru berusia lima tahun itu merenggut ajal di pinggir sungai Cipunagara.
Sejak kehilangan sang anak, Dirta, si lelaki itu, selalu melamun di tepi sungai Cipunagara, dan terkadang dia bicara sendirian lalu tersenyum. Begitulah hari-hari yang dilewati Dirta semenjak empat bulan yang lalu ditinggal mati anak perempuan semata wayangnya. Rasa menyesal di hatinya membuat goncangan hebat di dalam jiwanya.
Bermula dari kemarau panjang, menjelang akhir tahun. Karena kondisi perekonomian yang sulit, banyak warga yang terpaksa makan nasi aking. Kejahatan pun semakin merebak di berbagai perkampungan penduduk.
Kebiasaan mencuri, merampok disertai penganiayaan kepada korban bukan kejadian aneh lagi ketika itu. Aku sebagai juru tulis alias sekdes cukup kewalahan menerima pengaduan dari masyarakat yang menyangkut pencurian, bakik hewan ternak maupun harta benda lainnya yang melanda warga desa. Tak terhitung pula laporan mengenai warga yang busung lapar dan terkena penyakit menular singgah di meja kerjaku yang sudah lapuk.
Begitu banyak laporan itu dan sejujurnya saja sulit untuk ditindak lanjuti mengingat kapasitasku yang hanya sebagai sekertaris desa. Namun dari semuanya, hanya ada satu laporan dari warga yang aku angap menarik untuk ditindak lanjuti, yakni tentang kematian bocah berumur lima tahun yang mati tenggelam di sungai Cipunagara ketika sedang mencari capung dengan teman-temannya.
Hari masih pagi, dan kayuh sepeda tuaku menuju rumah warga yang bernama Dirta. Ada beberapa orang hadir menyambut kedatanganku. Aku mengira jasad bocah itu langsung akan dimakamkan, tetapi setelah diperhatikan wajah-wajah yang menyambutku tampak kebingungan dan mengeluh.
"Jasadnya belum diketemukan, Pa Ulis!" Bisik salah seorang kepadaku.
"Memang kejadiannya kapan?" Tanyaku.
"Kemarin sore, menjelang maghrib," jawabnya.
"Ada bukti atau saksi saat kejadian anak si Dirta tenggelam?" Tanyaku kepada ketua RT.
"Ada Pa Ulis, temannya, anak Ropiah. Dia menangis pulang sambil membawa sepasang sandal anak si Dirta. Dia memberitahukan kejadiannya kepada Bapaknya," papar ketua RT.
Aku merenung sejenak, lantas aku perintahkan semua lelaki menyisir pinggiran sungai Cipunagara menuju ke hilir mumpung hari masih pagi. Aku pun turut serta mencari bersama-sama masyarakat. Tidak sejengkalpun terlewati dari tatapan mata para pencari jasad anaknya Dirta.
Rerimbunan alang-alang dan semak-semak yang tumbuh subur di pinggiran sungai Cipunagara tidak luput dari buruan pencari jasad anak perempuan si Dirta. Teriakan-teriakan memanggil nama korban menambah hiruk-pikuk suasana saat itu.
Menjelang Dzuhur, pencarian masih tetap nihil namun semangat warga masih menggebu-gebu untuk mendapatkan korban. Seingatku hampir semua lelaki yang ada di kampung Kedung Jati turun ikut mencari. Menjelang Maghrib, pencarian dihentikan.
Seluruh masyarakat berkumpul di rumah Dirta untuk bermusyawarah mencari solusi apa yang harus dilakukan guna mendapatkan kembali jasad anak perempuannya. Kalau melihat keadaan sungai Cipunangara saat itu, airnya kecil hampir tidak berarus, ini biasa tiap tahunnya bila musim kemarau, maka tidak mungkin rasanya jasad anak perempuan si Dirta sudah jauh terseret arus. Ya, mustahil sekali.
Saat kebuntuan datang, tiba-tiba salah seorang warga berkata, "Pak Ulis, bagaimana kalau kita memanggil malim buaya (pawang buaya)?"
"Boleh saja. Siapa di antara kalian yang tahu orangnya?" Tanyaku.
"Ada orangnya, tapi bukan orang desa sini. Jauh, Pak Ulis," ucapnya.
"Dimana?" Tanyaku penasaran.
"Di Haurgeulis. Tapi bisa dipanggil kesini!" Jawabnya.
"Ya sudah, besok saja karena sekarang sudah malam," ucapku.
Esok paginya, salah seorang kuperintahkan berangkat ke Haurgeulis. Sambil menunggu sang pawang buaya datang, yang ada kuperintahkan untuk turun kembali mencari jasad yang tenggelam. Siapa tahu sekarang sudah dapat timbul atau mengambang di permukaan air.
Sementara itu, Dirta tidak henti-hentinya menangis sambil berteriak-teriak memanggil anaknya yang tenggelam dua hari lalu. Semenjak bercerai dengan isterinya setahun yang lalu, anaknya itu memang ikut denganya, sedangkan isterinya pulang ke orangtuanya.
Sampai menjelang Dzuhur, yang kuperintahkan ke Haurgeulis belum juga datang. Aku dengan bersabar menunggu di pinggir sungai Cipunagara sambil memperhatikan orang-orang yang sedang mencari jasad anaknya si Dirta.
Memang bila musim kemarau, airnya dangkal hanya sebatas lutut hingga perut orang dewasa. Tetapi ada lokasi-lokasi tertentu yang dipercaya masyarakat di sekitar Cipunagara menyebutnya Kedung (lubang besar dibawah air) yang cukup dalam. Tempat ini adalah lokasi bersemayam makhluk halus, penunggu atau penghuni kerajaan siluman air sungai Cipunagara. Ya, sungai Cipunagara yang membentang dari selatan ke utara itu memang menyimpan mitos daerah-daerah yang dilaluinya. Mulai dari wilayah Kabupaten Sumedang, sampai ke hilir di wilayah Pamanukan, Kabupaten Subang.
Mitos-mitos bermunculan seperti kisah sepasang pengantin di larang menyeberang sungai Cipunagara, atau orang diluar wilayah tersebut janga mandi di sungai itu. Dan memang, mitos itu berlaku hingga sekarang dan terbukti ada yang jadi korban.
Masyarakat sepanjang sungai ketika penumpasan G30S/PKI hampir setiap hari menguburkan mayat-mayat yang mengambang dari hulu menuju hilir, dalam keadaan tidak utuh lagi. Ada yang tangannya hilang atau kepalanya tidak ada, isi perutnya kosong dan alat vital hilang, dan banyak lagi.
Ba’da Ashar, pawing buaya yang ditunggu akhirnya datang. Aku selesai shalat Ashar di surau tidak jauh dari rumah Dirta. Sebelum terjun ke lokasi, Dirta dipanggil ke surau. Orang yang dipanggil Abah dengan keahlian pawang buayanya itu meminta Dirta untuk menceritakan awal kejadianya.
Kadang-kadang aku dan warga ikut nimbrung untuk melengkapi cerita Dirta. Sesekali pria setengah baya bertubuh kecil yang dipanggil Abah itu manggut-manggut, dengan mulut komat-kamit dan matanya dipejamkan beberapa saat.
"Dirta, anakmu ada di suatu tempat yang aman. Makan dan minum disediakan," Ucap Abah sambil tersenyum.
Semua yang hadir saat itu senang mendengarnya.
"Tetapi anak itu bukan di alam manusia!"Demikian tegas Abah.
Suasana hening dan tegang. Apalagi, Dirta ingin segera Abah melanjutkan ucapannya.
"Anakmu ada didunia yang tidak tampak oleh mata sembarangan orang. Persisnya dia ada di alam lelembut penguasa kerajaan Kedung Cipunagara," terang Abah.
"Apakah bisa diambil kembali, Abah?" Tanyaku.
"Bisa!" Jawab Abah, singkat.
"Tetapi nanti bila kita kesana. Abah minta kepada Dirta, apa yang ada di depan matamu harus diakui. Ingat itu!" Ujar Abah memperingatkan Dirta.
"Baiklah, Abah!" Ucap Dirta.
Abah melanjutkan lagi ucapannya, seraya sepasang matanya melihat orang-orang yang ikut riungan saat itu, "Abah minta seorang saksi dari pihak aparat desa sini. Apakah ada?" Tanyanya.
"Ada, Bah. Pak Ulis Supena ini!" Jawab beberapa warga serempak menunjukku.
"Pak Ulis siap jadi saksi?" Tanya Abah.
"Insya Allah siap, Bah!" Jawabku, singkat.
"Nanti kita bertiga…Abah, Dirta dan Pak Ulis berangkat ke raja penguasa Kedung Cipunagara, supaya anak Dirta dikembalikan. Tetapi seperti yang sudah Abah katakan, apapun yang kamu lihat di sana harus diakui. Mengerti, Dirta?" Abah menerangkan sambil mengingatkan kembali kepada Dirta.
Dirta mengangguk, "Ya, Bah!" Tegasnya.
Setelah semua siap, kami berangkat menuju sungai Cipunagara. Warga mengikuti dari belakang, ingin menyaksikan apa yang akan terjadi. Aku sedikit tegang, juga bertanya-tanya di dalam hati, apa yang akan dilakukan sang pawang buaya ini?
Abah menyuruh yang lain agar menunggu saja di bibir sungai. Sementara aku dan Dirta disuruh turun ke air. Sang pawang dengan diapit oleh aku dan Dirta. Tangan kananku dipegang erat-erat oleh tangan kiri Abah, dan tangan kiri Dirta dipegang erat-erat oleh tangan kanan Abah.
Kami disuruh menghadap ke tengah sungai lalu memejamkan mata, dan diminta jangan sekali-kali membukanya sebelum ada perintah dari Abah. "Jangan pula kalian menengok ke belakang!" Pesan Abah.
Entah berapa lama berlalu, kudengar Abah berucap agar kami segera membuka mata. Aneh, saat aku membuka mataku, yang di hadapanku bukan lagi air sungai Cipunagara, melainkan jalan lurus dengan bunga-bunga tumbuh di sampingnya. Indah sekali. Rumah-rumah berderet tertata rapi, bersih tidak ada sampah.
Sepanjang jalan yang kami, lalui aku tidak henti-hentinya berdecak kagum di dalam hati menyaksikan keanehan dan keindahan yang tampak di depan mata. Waktu itu kami juga berpapasan dengan sejumlah penduduk yang ramah-ramah, selalu mengangguk dan tersenyum saat berpapasan dijalan dengan kami.
Uniknya, pakaian yang dikenakan sama warnanya, hitam. Kepala mereka juga memakai ikat warna hitam pula, baik perempuan maupun laki-laki.
Kami bertiga terus saja berjalan, mengikuti Abah dari belakang. Semakin jauh melangkah semakin banyak orang kami temui, seperti layaknya memasuki pusat kota tetapi tidak kutemui kendaraan. Semua berjalan kaki. Sekali-kali Abah bersalaman, berbincang-bincang seperti yang sudah kenal sebelumnya, dengan orang yang dijumpainya.
"Pak Ulis, sekarang ini kita berada di dasar sungai Cipunagara, dan sebentar lagi kita sampai ke tempat dimana anak Dirta berada," bisik Abah kepadaku.
Banyak sekali sebenarnya pertanyaan-pertanyaan di benakku yang akan kusampaikan kepada Abah, seperti kenapa tidak keluar keringat meskipun rasanya aku merasakan berjalan ini sudah lama sekali?
Kenapa aku merasa hari itu terang di siang hari, tetapi ketika aku tengadah tidak melihat letak posisi mataharinya? Kubiarkan pertanyaan-pertanyaan ini memenuhi benakku, sampai selesai tugas ini. Semoga saja kami semua selamat berkat lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Kami berjalan agak sedikit di pelankan ketika melihat di depan ada sepasang gapura dengan dua penjaga memegang tombak dan perisai di tangannya yang kekar berotot. Pakaiannya seperti pakaian wayang orang di televisi. Kelihatannya galak dan berwibawa. Mungkin karena pengaruh postur tubuhnya yang tinggi besar, rambutnya gimbal sepunggung.
"Sampurasun, Gusti Punggawa!" Ucap Abah memberi salam sambil membungkukan badan kepada kedua penjaga pintu gerbang.
"Rampes, Abah. Ada perlu apa Abah ke sini?" Jawab salah seorang punggawa dengan suara menggema, yang sepertinya sudah mengenal Abah
"Abah kangen saja, ingin bertemu dengan paduka raja. Apakah beliau ada di istananya?" Tanya Abah.
"Ada, Abah. Kebetulan kanjeng raja baru pulang berburu, sekarang ada di paseban rempugan dengan para patih," jawabnya.
"Ada masalah apa punggawa?" Tanya Abah.
"Hamba kurang tahu masalahnya, Abah. Lebih baik Abah masuk saja ke paseban kalau ingin menemui raja," ucap penjaga pula sambil mempersilahkan kami masuk dengan sebelah tangannya.
Kami berjalan lagi melewati sebuah lapangan luas seperti alun-alun, sebelum akhirnya kami tiba di sebuah istana yang sangat megah dengan arsitektur mirip dengan istana-istana raja tempo dulu yang masih tersisa hingga sekarang.
Aku seperti di alam mimpi, tetapi saat tanganku kucubit terasa sakit. Dirta juga banyak diam. Mungkin benaknya sama denganku, banyak menyimpan pertanyaan tentang perjalanan ini yang belum sempat ditanyakan kepada Abah.
Kami tiba di paseban. Semua yang diruangan menyambut kami dengan ramah, terutama kepada Abah, yang sepertinya sudah mereka kenal sebelumnya. Kami dipersilahkan duduk bersila setelah bersalaman.
Di kursi yang mewah dan antik, duduk seorang yang dihormati oleh bangsanya. Sosok yang kharismatik berwibawa dengan pakaian kebesaran yang bergemerlapan emas permata.
"Selamat datang di negeri kami. Ada apa gerangan Abah dan rekan-rekan sudi datang ke negeri kami ini?" Tanya sang raja.
"Sebelum Abah menjawab, lebih dahulu terimalah sembah dan sujud Abah dan teman-teman kepada yang mulia paduka raja penguasa kerajaan Kedung Cipunagara," ucap Abah sambil membungkuk badan, lalu diikuti olehku dan Dirta.
"Diterima sembah sujud Abah. Salam sejahtera sebaliknya untuk bangsa manusia yang mempunyai derajat yang lebih tinggi dari pada bangsaku di sisi Yang Maha Kuasa Pencipta Alam Semesta," ucap sang raja merendah, sambil tidak lepas seulas senyum menghias bibirnya.
"Terima kasih atas sambutan dan doa dari padaku raja. Terlebih dahulu Abah akan mengenalkan orang-orang yang Abah bawa, yang pertama adalah juru tulis Supena," ujar Abah menunjuk kepadaku. "Dan ini di sebelahnya Dirta, warga Pak Ulis Supena. Abah datang kesini hanya perantara saja. Abah hanya menolong Dirta, kanjeng raja, yang lagi kesusahan. Coba ceritakan sendiri kesusahanmu Nak Dirta kepada sang raja." Ucap Abah sambil menolek kepada Dirta supaya bicara sendiri maksud kedatangannya.
Dirta kelihatan gugup dan gelagapan saat diberi kesempatan untuk bicara sendiri. Melihat Dirta seperti itu, walau tanpa disuruh, aku yang bicara mengenai maksud kedatangannya.
"Begini, paduka raja. Hamba di sini bicara mewakili Dirta karena selaku pengurus masyarakat, hamba berkewajiban menolong masyarakat hamba yang membutuhkan pertolongan."
"Bagus…bagus, Pak Ulis. Silahkan Pak Ulis yang bicara maksud kedatangan Dirta ke tempat hamba ini!" Ucapnya mempersilahkan aku untuk bicara.
Aku menarik nafas beberapa kali sebelum memulai. "Saat itu, dua hari yang lalu, anak perempuan Dirta sedang main dengan temannya di pinggir sungai Cipunagara. Tetapi temannya pulang mengabarkan ke warga kampung, bahwa anak Dirta terperosok ke sungai kemudian tidak timbul lagi sampai sekarang.
Begitulah maksud kedatangan hambar ke sini, ingin menanyakan apakah anaknya Dirta ada disini, Paduka? Dan sekalian dengan ijin paduka kami ingin membawa pulang kembali!" Ucapku dengan tutur bahasa yang lemah lembuh supaya jangan ada yang tersinggung.
Sebelum membahas mengenai anak perempuan Dirta, sang raja melemparkan pertanyaan ke para patih yang hadir saat itu dengan suara yang nyaring, sehingga membuat aku kaget.
"Wahai para patih, apakah ada di antara kalian yang berani-beraninya mengganggu anak manusia?" Teriaknya menggema mengisi ruangan paseban.
"Ampun gusti, hamba yang hadir di ruangan ini tidak berani melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh paduka raja, bahwa rakyat kerajaan Keduan Cipunagara dilarang mengusik apalagi membawa bangsa manusia ke negeri ini," kata salah seorang patih.
"Pa Ulis…Abah…Dirta, kalian dengan sendiri apa yang dikatakan patihku tadi, bukan?" Ucap raja dengan suara rendah.
"Ampun, gusti! Hamba mendengarnya! Hamba kesini bukan menuduh tetapi hanya bersifat menanyakan semata, hamba tidak menuduh," Abah menjelaskan sembari mengangkat kedua tangannya.
"Maaf beribu maaf, paduka gusti! Seperti yang sudah Abah katakan tadi, kami kesini hanya menanyakan. Kalau memang ada, terima kasih. Tetapi kalaupun tidak ada, kami haturkan terima kasih pula atas keramahtamahan, kesedian paduka raja menerima hamba bertiga datang kesini," kataku melengkapi kata-kata Abah.
"Seperti yang sudah hamba katakan, bahwa bangsa manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada bangsa kawula dan sudah menjadi ketetapan bangsa kawula selama ribuan tahun bahwa nenek moyang bangsa kawula melarang keras mengganggu manusia, apalagi memangsanya. Karena manusia makhluk yang paling mulia di hadapan Sang Pencipta." Sabda sang raja disambut anggukan kepala oleh para patih.
Keadaan hening sejenak di paseban. Semua membisu tidak bersuara.
"Coba ingat-ingat lagi, Patih. Apakah ada laporan dari masyarakat dua hari yang lalu?" Ujar sang raja kepada para patih yang hadir, memecah kehingan.
"Ampun gusti! Hamba hanya menerima laporan dari warga Pancerkulon yang menangkap seekor anak kambing karena mengganggu tanaman sayuran dan sekarang anak kambing itu sudah ditangkap lalu hamba simpan di istal." Ucap salah satu patih memberitahukan kepada rajanya.
"Apakah itu milikmu, Dirta?" Tanya sang raja.
"Ampun gusti. Hamba orang miskin, hamba tidak punya kambing!" Jawab Dirta, singkat.
Mendengar jawaban Dirta seperti itu, mendadak Abah jengkel. Kenapa dia tidak mendengar nasehatnya saat riungan di surau, apa yang dilihat atau dikatakan harus diakui apapun bentuknya. Tapi, Abah tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan sang raja.
Setelah berbasa-basi, kami bertiga akhirnya pamitan pulang. Kami berjalan memotong, bukan jalan yang tadi sewaktu berangkat. Kami berdua disuruh Abah menutup mata, ketika kami disuruh membuka mata kembali, kami sudah berada dipinggir sungai Cipunagara dengan air sebatas lutut kami.
Tapi kenapa bajuku tidak basah? Sungguh pengalaman yang luar biasa, dan tak akan kulupakan seumur hidupku. Penyesalan yang sungguh teramat sangat, ketika Abah menyalahkan Dirta, yang tidak memegang nasehatnya sebelum berangkat.
"Dunia kita dengan dunia siluman buaya sangat berbeda. Tidak sama seperti manusia melihat manusia. Kalau wujud asli buaya tampak di permukaan air memangsa manusia, kemudian menyeretnya ke dalam air, itu yang dilihat buaya bukan wujud manusia lagi, tetapi bisa kambing, celeng, atau hewan-hewan lainnya.
Begitu pula sebaliknya pada manusia, apabila hanya dilihat dengan dua mata kita wujud mereka adalah buaya. Akan tetapi apabila manusia melihatnya dengan mata batin akan timbul keakraban sesama makhluk ciptaan yang Maha Kuasa seperti yang Pak Ulis Supena alami bersama Abah tadi." Kata Abah panjang lebar, sebelum dia kembali ke Haurgeulis.
"Lantas, bagaimana nasib anak Dirta, Abah? Apakah jasadnya akan mengambang dan bisa kami kuburkan sebagaimana layaknya?" Tanyaku, penasaran.
"Mudah-mudahan!" Ujar Abah, datar.
Enam bulan sudah Dirta menanti penantian yang sia-sia di pinggir sungai Cipunagara, anaknya datang hanya didalam mimpi dan memberi senyuman.
"Bapak aku tidak jauh darimu. Tengoklah anakmu menjelang maghrib di Cipunagara. Pasti ada!" Pesannya.
Batinnya terpukul waktu pertama kali menunaikan pesan mimpinya. Di hadapannya ada sesuatu yang besar dan panjang sedang menantinya. Dia tak lebih seekor buaya. Buaya itu menghilang masuk ke air.
Dirta menjerit sekuat tenaga memanggil nama putrinya. Sejak itu, tiap menjelang Maghrib, Dirta duduk di pinggir sungai Cipunagara menanti anaknya. Kadang-kadang tertawa, kadang-kadang meratap-ratap memangil-manggil nama anaknya.
Sampai aku mengundurkan diri jadi juru tulis karena uzur, jasad anak Dirta tidak diketemukan lagi. Bahkan Dirta sendiri menghilang entah kemana. Warga tidak mengetahui, cuma tiap menjelang malam ada bunya kecil suka menampakkan diri pada warga yang sedang mandi di sungai.
Sumber : U.Supratman (Misteri)
LEGENDA RATU PANTAI UTARA PEKALONGAN

LEGENDA RATU PANTAI UTARA PEKALONGAN

06:37 0

LEGENDA RATU PANTAI UTARA PEKALONGAN

Dewi Lanjar sampai sekarang masih merupakan legenda yang hidup didalam masyarakat dan masih berpengaruh dalam jiwa masyarakat terutama di Pekalongan. Dalam segala peristiwa sering kali dihubungkan dengan Dewi Lanjar, apabila ada anak yang sedang bermain-main dipantai hilang tentu mereka berpendapat bahwa si anak itu dibawa Dewi Lanjar. Dan bilamana dapat diketemukan kembali tentulah si anak menyatakan dirinya tersesat disuatu daerah atau suatu kraton yang penghuni-penghuninya juga seperti kita-kita ini. Mereka mempunyai kegiatan membatik, berdagang, menukang, nelayan dan lain-lain yang tidak ubahnya seperti didalam kota saja. Daerah tersebut dikuasai oleh seorang Putri yang cantik ialah Dewi Lanjar.

Diceritakan pada jaman dahulu di suatu tempat Kota Pekalongan hiduplah seorang putri yang sangat cantik jelita, sampai sekarang masih menjadi pembicaraan penduduk, tempat yang terkenal dengan nama Dewi Rara Kuning. Adapun tempat tinggalnya tiada dapat diketahui secara pasti.

Dalam menempuh gelombang hidupnya Dewi Rara Kuning mengalami penderitaan yang sangat berat, sebab dalam usia yang sangat muda ia sudah menjadi janda. Suaminya meninggal dunia setelah beberapa waktu melangsungkan pernikahannya. Maka dari itulah Dewi Rara Kuning kemudian terkenal dengan sebutan Dewi Lanjar. ( Lanjar sebutan bagi seorang perempuan yang bercerai dari suaminya dalam usia yang masih muda dan belum mempunyai anak ). Sejak ditinggal suaminya itu Dewi Lanjar hidupnya sangat merana dan selalu memikirkan suaminya saja. Hal yang demikian itu berjalan beberapa waktu lamanya, tetapi lama kelamaan Dewi Lanjar sempat berpikir kembali bahwa kalau dibiarkan demikian terus akan tidak baik akibatnya. Maka dari itulah ia kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung halamannya, merantau sambil menangis hatinya yang sedang dirundung malang.

Tersebutlah, perjalanan Dewi Lanjar sampai disebuah sungai yaitu sungai Opak. Ditempat ini kemudian bertemu dengan Raja Mataram bersama Mahapatih Singaranu yang sedang bertapa ngapung diatas air di sungai itu. Dalam pertemuan itu Dewi Lanjar mengutarakan isi hatinya serta pula mengatakan tidak bersedia untuk menikah lagi. Panembahan Senopati dan Mahapatih Singoranu demi mendengar tuturnya tergaru dan merasa kasihan. Oleh karena itu dinasehatinya agar bertapa di Pantai Selatan serta pula menghadap kepada Ratu Kidul. Setelah beberapa saat lamanya, mereka berpisahan serta melanjutkan perjalanan masing-masing, Panembahan dan Senopati beserta patihnya melanjutkan bertapa menyusuri sungai Opak sedangkan Dewi Lanjar pergi kearah Pantai Selatan untuk menghadap Ratu Kidul.

Dikisahkan bahwa Dewi Lanjar sesampainya di Pantai Selatan mencari tempat yang baik untuk bertapa. Karena ketekunan dan keyakinan akan nasehat dari Raja Mataram itu akhirnya Dewi Lanjar dapat moksa ( hilang ) dan dapat bertemu dengan Ratu Kidul.

Dalam pertemuan itu Dewi Lanjar memohon untuk dapat menjadi anak buahnya, dan Ratu Kidul tiada keberatan. Pada suatu hari Dewi Lanjar bersama jin - jin diperintahkan untuk mengganggu dan mencegah Raden Bahu yang sedang membuka hutan Gambiren ( kini letaknya disekitar jembatan anim Pekalongan dan desa Sorogenen tempat Raden Bahu membuat api ) tetapi karena kesaktian Raden Bahu, yang diperoleh dari bertapa Ngalong ( seperti Kalong / Kelelawar ), semua godaan Dewi Lanjar dan jin - jin dapat dikalahkan bahkan tunduk kepada Raden Bahu. Karena Dewi Lanjar tiada berhasil menunaikan tugas maka ia memutuskan tidak kembali ke Pantai Selatan, akan tetapi kemudian memohon ijin kepada Raden Bahu untuk dapat bertempat tinggal di Pekalongan. Oleh Raden Bahu disetujui bahkan pula oleh Ratu Kidul. Dewi Lanjar diperkenankan tinggal dipantai utara Jawa Tengah terutama di Pekalongan. Konon letak keraton Dewi Lanjar terletak dipantai Pekalongan disebelah sungai Slamaran. ( Sumber Kantor Pariwisata & Kebudayaan )