ASAL MULA PATIH SAMPUN PEMALANG PATIH SAMPUN

ASAL MULA PATIH SAMPUN PEMALANG PATIH SAMPUN

07:14 0

ASAL MULA PATIH SAMPUN PEMALANG
PATIH SAMPUN
Dalam kepemimpinannya di Kadipaten Pemalang,Sang Adipati Anom (baru) mengadakan pertemuan dengan para Punggawa Kadipaten untuk membahas masalah pembangunan di Pemalang.untuk mempermudah hubungan dengan daerah-daerah di Pemalang kala itu, Adipati Pangeran Benowo memerintahkan kepada Patih Djiwonegoro untuk membangun dua jembatan di sungai banger dan di sungai Srengseng di Kebondalem.pada saat diberi mandat tugas tersebut,dengan spontan Patih Djiwonegoro menjawab “sampun dados (sudah jadi),kanjeng Adipati”.
Mendengar jawaban Patih Djiwonegoro,sang Adipati Pangeran Benowo tercengang dibuatnya.untuk membuktikan kebenaran ucapan Djiwonegoro,pada pagi harinya Pangeran Benowo meninjau lokasi dua jembatan tersebut,dan ternyata apa yang di ucapkan Djiwonegoro benar adanya,di dua sungai tersebut telah terbentang jembatan yang di kehendaki Adipati.maka semakin yakinlah Pangeran Benowo kepada bhakti dan kesetiaan patih Djiwonegoro,putra asli pemalang yang masyhur kesaktiannya.
Pada hari berikutnya,sang Adipati Benowo memerintahkan lagi kepada patih Djiwonegoro untuk membangun lagi dua jembatan di sungai Rambut di Bojongkelor dan sungai Plawangan.namun lagi-lagi dijawab “sampun dados,kanjeng Adipati” oleh Djiwonegoro.namun kali ini Adipati Benowo tak perlu lagi mengecek kebenaran jawaban yang di berikan oleh patihnya,dikarenakan sang Adipati sudah mempercayainya.
Bahkan bulan-bulan berikutnya adipati Pangeran Benowo memerintahkan lagi untuk membangun beberapa jembatan berturut-turut,jembatan-jembatan tersebut antara lain sebagai berikut:
- Jembatan Gianti,terdapat didepan polres lama,Sirandu.
- Jembatan di kali Waluh,Kedungbanjar.
- Jembatan di sungai Comal,kali Comal.
- Jembatan sungai Plawangan, di Lawangrejo.
- Jembatan sungai Sudetan di desa Krasak.
-Jembatan Pesapen, didepan kantor kecamatan Pemalang.
- Jembatan Slarang di sungai Waluh,di perbatasan desa Lenggong,Slarang.
- Jembatan sungai Raja (Siraja) di wilayah Bantar bolang,tepatnya di dukuh Simbang,Pegiringan.
- Jembatan di perkebunan kelapa Gentongreot,Karang moncol.
- Jembatan di desa Mejagong di kali Comal.
- Jembatan di desa Datar,di kali Comal.
- Jembatan Sudetan di daerah Moga,didepan Pesanggragan dan pemandian.
- Jembatan di perbatasan desa Cikasur dan desa Randu dongkal.
- Jembatan di desa Bulakan,dan -
- Jembatan di desa Belik.
DI NOBATKAN SEBAGAI PATIH SAMPUN
Pada pertemuan berikutnya,Adipati pangeran Benowo melibatkan Tumenggung dan seluruh Demang serta para Penatus dan Bekel se kadipaten Pemalang,dalam acara tersebut,Adipati pangeran Benowo mengucapkan terima kasih kepada Patih Djiwonegoro dan para punggawanya atas jasa-jasanya dalam membangun beberapa jembatan di wilayah kadipaten Pemalang,maka,atas jasanya tersebut patih Djiwonegoro diberi gelar “sampun”,dan sejak saat itu Patih Djiwonegoro lebih dikenal sebagai Patih Sampun.
(Sumber:Kyai Sepuh Pemalang)

Foto Setiyono Hadi.
Alas Roban Kabupaten Batang

Alas Roban Kabupaten Batang

05:38 0
Alas Roban Kabupaten Batang
Alas Roban, hutan kecil di sebuah Kecamatan Gringsing, kecamatan yang terletak paling timur di Kabupaten Batang - Jawa Tengah. Jalanan yang begitu menanjak dan berkelok di sebuah bukit dengan rindangnya pepohonan jati berukuran besar. Jalur yang dikenal angker karena banyak kejadian yang tak lazim dan banyaknya kecelakaan. Di jalur lama (tengah) terdapat tugu keselamatan. Tak jauh dari itu terdapat makam petilasan Syekh Jangkung yang dulu pernah berkuasa di daerah itu, namun nisan untuk memperingatinya tumbang di dekat salah satu pohon jati yang cukup besar.
Roban berasal dari kata ‘rob’ yang berarti air naik, kata ini sangat dikenal oleh masyarakat pesisiran. Kampung Roban sendiri ada di Kecamatan Subah. Roban berada di daerah pantai Laut Jawa. Suasana tempat ini hingga sekarang masih saja diselimuti hawa mistik yang kental. Perkampungan Roban dahulu dikenal dengan Roban Siluman. Konon pada waktu yang telah lampau, masyarakat Roban banyak yang memiliki ilmu tinggi hingga dapat merubah dirinya sebagai buaya. Dari sinilah dikenal siluman buaya yang menjadikan Roban sebagai Roban Siluman.
Namun demikian Alas Roban dan Roban memiliki peran penting jika dilihat dari sejarahnya. Kabupaten Batang dahulu dikenal sebagai kawasan Alas Roban yang masih sepi belum seramai pemukiman penduduk sekarang ini. Alas Roban dikenal dengan tempatnya para siluman, lelembut, dan garong (perampok). Kawasannya terhitung mulai Perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Batang saat ini hingga Kota Pekalongan. Pada jaman Pemerintahan Sultan Agung Mataram Islam sekitar tahun 1620an, terjadi penolakan paham antara VOC dan Mataram yang sebelumnya menjalin diplomasi dalam kawasan dan penyediaan persenjataan. Sultan Agung bermaksud menggempur VOC yang berada di Batavia. Pasukan yang terlibat dalam penyerangan berasal dari berbagai tempat di Jawa. Untuk dapat mendukung persediaan logistik maka dibangun pos-pos pendukung logistik di berbagai tempat yang salah satunya di Alas Roban. Dalam membangun pos di Alas Roban, Sultan Agung mengutus Ki Bahurekso untuk membuka Alas Roban. Pembukaan konon dimulai dari Kecamatan Subah ke arah barat. Hal ini dimaksudkan untuk membuka lahan yang akan digunakan untuk menanam berbagai macam sumber makanan untuk mendukung kebutuhan logistik. Pada saat berada di Kali Lojahan (Kramat), Bahurekso berencana membuat bendungan. Namun di tempat yang akan di bangun bendungan terdapat kayu besar yang melintang di sungai. Kemudian beliau bertapa pada Malam Jum’at Kliwon untuk mendapatkan bantuan kekuatan. Kemudian kayu dapat diangkat dan dihancurkan, peristiwa ini disebut Ngembat Watang (Mengangkat Kayu) yang kemudian dijadikan nama Batang. Peristiwa pertapaan Ki Bahurekso kemudian diperingati dengan acara Kliwonan yang dilaksanakan setiap Jum’at Kliwon di Alun-Alun Kota Batang.
Pos yang dibangun diperkirakan berada di daerah Balekambang, Gringsing. Di sini terdapat pesanggrahan yang diyakini peninggalan Sultan Mataram. Ditambah dengan adanya patung ular yang mirip dengan Hardowaliko yang dipamerkan di Kraton Mataram Jogjakarta namun tanpa mahkota. Balekambang adalah sebuah bangunan diatas sumber mata air yang muncul dari tanah. Di sekitarnya terdapat rawa yang cukup luas yang kini berubah menjadi persawahan. Dapat dilihat dengan jelas bahwa persawahan di sekitarnya adalah sawah yang berdiri diatas bekas rawa karena tekstur tanahnya. Balekambang kemudian dijadikan sumber irigasi untuk sawah yang luas.
Jalur Tengah (lama) Alas Roban dibangun oleh Belanda, tak jauh dari jalur lama itu terdapat Goa Jepang. Goa Jepang dibangun sekitar tahun 1942 oleh Jepang. Di Batang ditemukan 2 Goa Jepang yaitu di Alas Roban dan Pantai Roban. Goa Jepang di Alas Roban terdapat sekitar 13 mulut goa buatan saat romusha dan 1 goa alami. 1 goa berkedalaman 30 meter lebih, dan 12 lainnya antara 5-20 meter letaknya berjajar di dekat sungai kecil. 1 goa alami terletak di atas bukit. Untuk goa buatan yang berkedalaman 30 meter lebih konon dapat menampung 8 tank ukuran tank saat itu. Sungai kecil yang ada di dekat goa ternyata adalah bekas jalur tank yang menghubungkan jalur lama dengan jalur lingkar yang baru dibangun tahun-tahun lalu.
Goa Pantai Roban dibangun sekitar 1942 dan digunakan hingga tahun 1948 oleh Jepang. Goa Pantai Roban ini terletak didekat Kali Ngodek yang cukup lebar dan berkedalaman 20 meter. Menurut saksi mata dahulu ini dijadikan pelabuhan Jepang saat memperebutkan Indonesia dengan Belanda. Goa tersebut dijadikan persembunyian oleh jepang. Jepang pada tahun 1945 saat kemerdekaan RI belum pergi dari Indonesia, mereka baru pergi dari Indonesia setelah sekutu melepaskan bom atom ke kota Nagasaki dan Hirosima.
Misteri Alas Roban (RUTE PALING MENYERAMKAN)
Meski terkenal sebagai kawasan hutan jati ‘spooky' di Jawa Tengah , tempat ini punya cerita tersendiri . Khususnya di ‘zaman silam', ketika ruas baru Alas Roban yang dibangun Pemerintah Indonesia belum ada. Semua jenis kendaraan, mulai bus umum, truk sampai kendaraan pribadi harus melintasi rute ini.

Salah satu kebiasaan yang dilakukan orangtua saya ketika kami -putra-putrinya-masih kecil adalah berwisata dengan mobil pribadi dari Jawa Timur ke Jawa Tengah saat liburan sekolah anak-anak. Dan itu artinya melintasi rute sepanjang Pantura dari Surabaya sampai Semarang, ditambah Jogjakarta, Solo sampai Temanggung dan Parakan.
Salah satu rute favorit kami sebagai anak-anak di bawah limabelas tahun adalah Alas Roban, lengkap dengan segala kisah ‘spooky' yang dimilikinya. Seperti kondisinya sebagai bagian dari Grote Postweg, jalanan licin tanpa penerangan di malam hari dengan lintasan berliku-liku alias meliuk-liuk yang bisa bikin perut mual, sampai begal atau rampok yang menunggu di tempat-tempat strategis.
Termasuk juga ‘wingitnya' atau seramnya si hutan sendiri dalam deskripsi visual. Sebelum masuk hutan dan sesudah keluar hutan, terdapat begitu banyak resto dan warung makanan. Termasuk sate kambing muda Subali di daerah Subah yang cukup terkenal itu. Tapi begitu masuk hutan sejauh 1 km, tak ada warung apapun yang bisa dijadikan tempat ‘ngiras' atau mengudap makanan.
Jelajah Keangkeran Alas Roban, Batang, Jawa Tengah.
Adakah perjalanan yang lebih menyeramkan yang melebihi perjalanan melewati Alas Roban? Zaman dulu Alas Roban terkenal angker, gung liwang-liwung, gawat keliwat liwat menjadi momok menakutkan bagi masyarakat ataupun sopir ketika melewatinya. Bagaimana dengan sekarang? Misteri apa sebenarnya yang menyelimuti hutan angker ini?
Menuju Alas Roban dari Semarang, bisa ditempuh 2 jam perjalanan dengan mengendarai sepeda motor. Setelah perbatasan Kendal di sebelah barat, alas itu bisa dicapai kira-kira lima belas menit perjalanan.
Ada dua jalur yang harus dipilih ketika sampai di Desa Kutosari. Kalau Anda melewati Alas Roban yang sebenarnya, maka ambil jalur kanan. Dari jalur sebelah kanan ini, jalur lurus yang ditempuh juga akan menemui muara 2 jalur lagi. Nah, jalur yang terkenal menyeramkan adalah jalur yang sebelah kiri.
Sebenarnya, saat ini jalur Alas Roban terbagi menjadi tiga. Jalur yang pertama melewati sisi selatan, dengan jalanan menanjak dengan beton putih. Jalur ini dimulai dari Desa Kutosari seperti yang disebutkan di atas. Jalan ini baru dibangun sekitar tahun 2000-an. Kemudian jalur yang kedua, ini dimulai dari Desa Plelen. Jalur dari Plelen ini bercabang dua. Jalur asli Alas Roban yang terletak di kiri. Sementara jalur yang kanan atau jalur yang ketiga, berada di sisi utara yang dibangun sekitar tahun 1990-an.
Keangkeran Alas Roban memang sudah terkenal sejak dulu. Utamanya ketika dua jalur di sisi selatan dan utara belum dibangun. Setiap pengendara pasti mengalami peristiwa yang berbeda-beda ketika melewatinya. Hal ini karena memang jalanan yang turun-naik, menikung tajam, dengan kiri kanan terdapat tebing atau jurang.
Tetapi bukan itu sebenarnya yang menyeramkan. Dahulu, ketika akan lewat jalur ini akan melewati dua tantangan sekaligus. Tantangan pertama, tantangan yang kelihatan mata, yaitu adanya gerombolan penjahat dan bajing loncat yang siap menggasak barang bawaan apa saja. Dulu, karena rawannya, kendaraan yang melintas malam hari tidak berani. Untuk kendaraan yang datang dari arah timur atau Semarang berhenti di depan Pasar Plelen. Sementara dari arah barat atau Jakarta, istirahat di Banyuputih. Mereka baru berani melintasi jalan Alas Roban ketika pukul 05.00 WIB. Kalaupun ada yang berani melintas malam hari, harus menunggu kendaraan lainnya.
Tantangan yang kedua, tantangan makhluk halus, yaitu gerombalan berbagai makhluk halus yang siap ”menggoda” siapa saja. Godaan antara sopir yang satu dengan yang lain jelas berbeda. Dan godaan ini bisa berakibat fatal karena seringkali terjadi kecelakaan karena si sopir melihat sesuatu penampakan.
Jika menengok ke belakang, jalan raya Alas Roban hanya ada satu, yaitu Jalan Raya Poncowati. Jalan itu dibuat pada era pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36. Dia memerintah antara tahun 1808 hingga 1811. Dan untuk membangun jalan ini, ribuan orang Indonesia meninggal karena tak kuat. Orang-orang Indonesia dipaksa. Orang-orang yang meninggal tersebut kemudian dikubur begitu saja.
Namun demikian, Alas Roban memiliki peran penting jika dilihat dari sejarahnya. Kabupaten Batang dahulu dikenal sebagai kawasan Alas Roban yang masih sepi belum seramai pemukiman penduduk sekarang ini. Alas Roban dikenal dengan tempat para siluman, lelembut, dan garong (perampok). Pada zaman Pemerintahan Sultan Agung Mataram Islam sekitar tahun 1620-an, terjadi penolakan paham antara VOC dan Mataram yang sebelumnya menjalin diplomasi dalam kawasan dan penyediaan persenjataan.
CERITA MISTERI ALAS ROBAN@
Warung Makan Gaib
kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman gaib yg cukup membuat kami sekeluarga trauma & berfikir jutaan kali untuk sembarangan berhenti di jalan utk mengisi perut.
waktu itu saya masih tinggal di secang magelang. kami sekeluarga akan pergi ke jakarta menggunakan kendaraan pribadi. sejak pagi saya & keluarga sudah sibuk prepared & packing. kami sekeluarga berniat akan berlibur sekaligus silaturahmi ke saudara di jakarta, lalu kami berniat berangkat dr magelang sore hari. jadi per jalanan akan lebih santai & bapak berniat menghindari keramaian kl melakukan perjalanan jarak jauh disiang hari.
dan berangkatlah kami sekeluarga dr magelang kira2 jam 4 sore dari magelang, rute yang kami ambil melalui jalur utara. selama perjalanan kami tidak memiliki firasat buruk apapun. Dan perjalanan panjang pun dimulai. Tak terasa hari sudah mulai gelap, dan adzan magrib sudah berkumandang. kami memutuskan utk istirahat sejenak dimasjid sekaligus menunaikan sholat magrib. setelah selesai sholat, kami pun melanjutkan perjalanan. semakin jauh kami melaju semakin larut malam yang menemani perjalanan, yang semula di awal perjalanan, suasana didalam mobil begitu ramai & penuh canda tawa saya dan kedua adik saya, berubah perlahan menjadi suasana sepi. mungkin karena ibu & kedua adik saya sudah tidur terlelap. dan yang masih terjaga saat itu hanya saya dan bapak. jam menunjukan pukul 10.30 malam, kami sudah memasuki area alas roban, jalanan berliku ditengah hutan & tanah alas, jauh dari kehidupan kota. disini suasana sudah mulai mencekam. bapak mengurangi laju kecepatan mobil karena kondisi jalan yg gelap & berliku penuh tanjakan turunan yang kiri dan kanan nya jurang. saya & bapak merasa ada hal yg ganjil & aneh, sejak kami memasuki area alas roban, kami tidak berpapasan dengan kendaran lain seperti bus antar provinsi & kendaraan lainnya , padahal jalur ini termasuk rute yang sering digunakan untuk menuju kota tegal. setelah melaju beberapa saat tiba2 ” Bruaaaaakkkk…!!! ” astagfirullah…mobil yang kami naiki menabrak sesuatu ditengah jalan.
Bapak langsung menepikan mobil kepinggir jalan dan mengambil senter yg ada di dashboard. saya & bapak kemudian turun dari mobil melihat situasi apa yang terjadi. ibu & kedua adik yg terbangun mendengar suara benturan tadi. langsung panik & mau keluar mobil, namun bapak melarangnya dan menyuruh ibu & adik2 tetap didalam.kemudian saya bergegas memeriksa bagian depan mobil & bapak memeriksa bagian bawah sampai belakang mobil. saya bener2 yakin benturan sekeras tadi seharusnya bisa membuat bamper mobil penyok atau memecahkan lampu kabut mobil, namun setelah saya periksa dengan seksama, tidak ada satu pun goresan di bagian depan mobil, bahkan debu & sedikit lumpur yang menempel pd bamper mobil pun masih utuh tak tersentuh. jujur saya kaget & heran. lalu bapak yang memeriksa bagian bawah sampai belakang mobil juga tidak menemukan benda yang kami tabrak tadi. kemudian saya memanggil bapak agar ikut memeriksa bagian depan mobil, mungkin dengan mencari berdua bisa menemukan kerusakan mobil akibat benturan keras tadi. kami sudah memeriksa beberapa kali ,setiap sudut bagian depan mobil, tidak ada satupun bekas benturan. lalu, apakah yang kami tabrak tadi? karena kami merasa ada yang tidak beres, saya & bapak lekas masuk kedalam mobil untuk melanjutkan perjalanan. kedua adik ku langsung pindah posisi duduk, yang semula duduk di kursi paling belakang pindah ke kursi tengah bersama ibu, dan saya duduk di kursi depan menemani bapak. kami pun terus melaju di kegelapan malam alas roban, jam menunjukan pukul 12 malam. kedua adik ku sudah tertidur lagi, yang terjaga kali ini saya, bapak & ibu. tidak lama kemudia , hujan mulai turun, hujan nya hanya rintik2 namun cukup menggangu pandangan, sampai bapak harus membunyikan klakson disetiap akan memasuki tikungan yang tajam.
saya & ibu sengaja tidak membahas kejadian tadi, agar bapak tetap tenang & bisa berkonsentrasi dijalan. lalu dr kejauhan terlihat ada sepercik cahaya neon, allhamdullilah. sudah terlihat pemukiman, setelah semakin dekat ternyata itu sebuah warung makan pecel lele kecil tepat di sudut tikungan dibawah pohon, untuk menenangkan suasana kami memutuskan untuk singgah sejenak. saya & keluarga turun dr mobil, entah karena mengantuk atau ceroboh, kaki saya terbentur pasak penanda kilometer area. tertulis disitu kilometer 15. saya & keluarga masuk kedalam warung tersebut. penjualnya menyambut kami dengan ramah tamah, dengan logat khas pekalongan. kami memesan makanan & minuman panas. iseng2 saya bertanya, ” kok jam segini masih buka pak? bapak jual an ny sendirian?” penjual ny menjawab ” iya mas, ini sudah mau tutup kok, eh mas nya dateng, saya jualan sama istri saya. itu istri saya mas,” saya & bapak kaget, sejak kapan ada orang yang berdiri di samping pintu masuk warung. padahal tadi kami masuk lewat arah yang sama dan sekitarnya pohon besar. ya sudah lah, saya tidak terlalu memperdulikannya. karena perhatian saya tertuju pada ayam yang sedang di goreng. he…3x.
kami makan dengan lahap, dan ternyata rasa sambal ny enak, sangat cocok dilidah. sampai saya nambah sambal nya 2x. setelah kenyang menyantap ayam goreng. kami bergegas kembali ke mobil, saat mau masuk mobil, kaki saya terbentur pasak penanda kilometer 15 tadi. oke saya ceroboh. karena letak pasak itu persis didekat pintu mobil. jadi wajar kl saya terbentur pasak itu. mobil kami pun mulai melaju ditemani hujan rintik2 yang terus menguyur area alas roban. setelah beberapa saat akhirnya kami keluar dr area alas roban dan menuju tegal ,
singkat cerita , kami sudah menyelesaikan liburan kami di jakarta, karena tidak ingin mengalami kejadian seperti kemarin lagi. bapak memutuskan untuk berangkat dari jakarta pagi hari jadi ketika memasuki alas roban lagi, hari masih siang. setelah berjam-jam kami menempuh perjalanan. kami memasuki area alas roban sekitar jam 1 siang. lalu saya penasaran dengan warung pecel lele yang waktu itu kami singgah i. rasa sambal nya enak. namun sayang, warung pecel lele biasa nya buka ketika sore menjelang malam hari. adik saya tiba2 ingin buang air kecil. bapak kemudian menepikan mobil di tikungan jalan yg agak luas. dan menyuruh adik untuk buang air kecil mepet dengan mobil. sambil istirahat sejenak sekaligus menikmati pemandangan alas roban di siang hari, tidak dipungkiri kalau pemandangan alas roban sangat indah. kemudian saya melihat pasak kilometer bertuliskan kilometer 15. saya kaget luar biasa. itu pasak yang membentur kaki ku tempo hari. dan posisi pasak itu persis di tepi jurang. dan seingat ku, posisi warung pecel lele waktu itu kira2 3 meter di belakang pasak tadi. saya langsung memanggil bapak & ibu. dan menujukan pasak tadi dan lokasi warung. setelah diamati, tikungan nya persis seperti waktu itu, ada pohon besar ditepi jalan & pasak bertuliskan kilometer 15, namun 1meter belakang pasak itu sudah jurang yang sangat dalam. kesimpulannya. waktu itu kami sedang makan di pinggir jalan tepat melayang diatas jurang. hanya satu hal yang bisa menjelaskan kejadian tersebut. kami singgah di warung gaib.
Alas Roban, angker dan dikenal tempat pembuangan mayat
Cerita misteri soal Alas Roban sudah terdengar sejak dulu. Alas Roban terletak di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Daerah ini sejak dulu terkenal angker.
Setiap pengendara yang ingin melintas jalan raya Alas Roban selalu merinding. Tidak hanya jalannya yang berkelok, tapi cerita-cerita mistis sudah kuat membekas.
Kawasan hutan jati di Plelen, Gringsing itu pernah dikenal sebagai tempat pembuangan mayat pada tahun 1980-an. Mayat-mayat itu adalah korban dari penembak misterius (Petrus). Semua korbannya dibuang ke Alas Roban.
Tidak hanya itu, daerah tersebut sudah sering terjadi puluhan kecelakaan lalu lintas. Sudah banyak yang meninggal di sana akibat kecelakaan. Lalu, muncul cerita-cerita mistis beredar di masyarakat. Ada yang pernah melihat kuntilanak, pocong sampai genderuwo.
Dulu, jika malam hari, sepanjang jalur Alas Roban memang gelap. Masih dikelilingi pohon-pohon jati. Jalannya pun tidak lurus, ada yang berkelok dan menanjak curam. Wajar, jika setiap pengendara melintasi jalan tersebut selalu was-was.
Sekarang, cerita itu sudah berubah. Sekarang sudah dibangun jalan baru. Ada jalur alternatif jika pengendara ingin menuju Semarang atau sebaliknya menuju Jakarta. Ada dua jalan tembus yang dibangun tahun 1990-an dan 2000-an.
Tidak hanya cerita angker saja, jalan raya Alas Roban pernah dikenal rawan tindak kejahatan. Jalur yang berliku dan panjang membuat pengendara takut melewati jalan tersebut sendiri jika malam hari.
Banyak penjahat mulai dari begal sampai bajing loncat. Saking rawannya, kendaraan yang melintas malam hari tidak berani. Untuk kendaraan yang datang dari arah timur Semarang berhenti di depan Pasar Plelen. Sementara dari arah barat Jakarta, istirahat di Banyuputih.
Mereka baru berani melintasi jalan Alas Roban ketika pukul 05.00 WIB. Kalau pun ada yang berani melintas malam hari, harus menunggu kendaraan lainnya. Minimal enam kendaraan.
Sekarang cerita angker dan rawan kejahatan secara perlahan mulai hilang di benak masyarakat. Jalan raya Alas Roban lambat laun mulai ramai baik mobil atau motor. Dan, di sekitar pinggir jalan kini juga sudah banyak orang menjajakan makanan.
Cerita Mistis Alas Roban Yang Angker
Cerita Mistis Keangkeran alas roban Batang jawa tengah, Pengalaman ini terjadi sekitar setahun lalu. Waktu itu ada rombongan rekan YVC Surabaya yang mampir kebatang, tujuan mereka untuk menghadiri pernikahan salah satu membernya yang kebetulan dapat orang batang (pedalaman). Singkat cerita, malam sekitar jam 10an, saya dan Brosigit ketua YVC batang, mengantar rombongan YVC Surabaya ketempat tujuan, kami janjian dengan salah satu kerabat mempelai disebuah kecamatan namanya Tulis (masih wilayah jalan pantura sebelum Alas roban).
(Masuk kepedalaman melewati jalan aspal kabupaten 10km, lalu menyusuri jalan tanah pedesaan sekitar 5 kiloan). sampai ditujuan, kami ngopi-ngopi, makan cemilan dan ngobrol santai, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 1 malam (dini hari). Saya dan brosigitpun pamitan hendak pulang kebatang.. oh..iya..nama desa tersebut wana segara kalau dalam bahasa Indonesia artinya Lautan monyet… Dalam hati berkata.. wah..uji nyali lagi nih.. kami riding beriringan bro sigit didepan saya dibelakang menyusuri jalan pedesaan menuju jalan kabupaten menuju Tulis.Sialnya kami kesasar (suasananya seperti disandiwara radio maklampir).. gelap. sepi dan dingin sekali… tidak ada orang yang bisa ditanya, kamipun riding pake filling saja… ditengah jalan pedesaan..tengkuk saya mulai merinding…krosak..krosak.. terlintas beberapa kelebat bayangan hitam seperti bergelantungan dipohon2 pinggir jalan pedesaan… seperti monyet sedang berayun-ayun.. namun saya berusaha tenang dan membaca-baca do’a sebisa saya.. Alhamdulillah ketemu juga jalan aspal yang menuju tulis, Kami berhenti sejenak..Bro sigit meminta saya agar riding bersebelahan… (saya mengerti maksud bro sigit )..kami melanjutkan perjalanan.. setelah menempuh sekitar 5km,.. srippiit..tercium bau bangkai yang menyengat… tengkuk mulai merinding…dalam hati berkata… waduh kuntilanak nih… sepanjang perjalanan tetap terus membaca doa-doa..sekitar beberapa detik kemudian.. muncul sosok putih berambut putih panjang duduk dibelakang jok brosigit… namun sepertinya brosigit tidak tahu.. hanya saya yang dilihatin mahluk tersebut… jantung mulai berdetak kencang.. badan serasa kaku.. tapi saya berusaha tetap tenang sambil terus membaca-baca do’a… namun simahluk sepertinya menatap kearah saya terus… terlihat lampu depan motor saya dan brosigit agak redup cahayanya… lalu sekitar 10 meter didepan kami melawati pohon besar reflek saya bunyikan klakson… simahlukpun menghilang.. Alhamdulillah kami selamat sampai dibatang… Bro sigit bertanya.. mas tadi kenapa lampu kita redup ya??.. saya nggak cerita apa-apa kebrosigit hingga sekarang…
Begitulah cerita duo riding melewati jalan pedesaan yang angker..
Foto Setiyono Hadi.
PERTEMPURAN KARANGSAMBUNG KEBUMEN (2)

PERTEMPURAN KARANGSAMBUNG KEBUMEN (2)

07:23 0
PERTEMPURAN KARANGSAMBUNG KEBUMEN (2)
Kondisi yang kelelahan dan kalahnya persenjataan menjadikan pasukan Panjer dapat dipukul mundur oleh bala bantuan Belanda tersebut. Pasukan Senopati Gamawijaya dan KH. Imanadi mundur dari Kaligending ke utara bergabung dengan pasukan Ki Hajar Welaran. Di Selaranda, demang Mertakanda yang menaiki kuda terkena panah beracun. Ia kemudian dibawa kembali ke Pendopo Agung Panjer oleh pasukan Arungbinang IV. Sebelum sampai di sana, tepatnya di sebelah Gunung Pogok, Demang Mertakanda jatuh dari kudanya. Tidak lama kemudian meninggal. Jenazahnya dibawa ke Pendopo Agung Panjer.
Pasukan Banaspati Jayamenggala mundur bergabung dengan pasukan Sigaluh. Bala bantuan Belanda yang terus berdatangan menggempur pasukan Panjer Gunung dan Sigaluh. Pertempuran siang dan malam terus berlanjut.
Pada suatu pagi tersiar kabar bahwa Mayor Verburg meninggal dengan kondisi badannya tertembus beberapa anak panah prajurit Panjer. Belanda dan Arungbinang IV sangat marah. Dikerahkanlah pasukan gabungan secara besar – besaran menyerbu desa Jemur, lalu menuju Cemara Sewu dan memotong ke timur menuju desa Clapar.
Pasukan Belanda dari sisi Barat terus menjepit pasukan Panjer. Pertempuran sengit terjadi hingga terjadi perang satu lawan satu. Di lokasi tersebut, Senopati Sigaluh, Ki Kertadrana luka parah akibat tertembak oleh Belanda. Ia dilarikan oleh prajurit Sigaluh ke tempat persembunyian di Gunung Paras. Keesokan harinya ia dibawa menuju Cemara Sewu. Dalam perjalanan ia meninggal karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Jenazah Ki Kertadrana dimakamkan di bawah pohon Beringin di gunung Pakoh.Pasukan Panjer di Clapar yang dipimpin Ki Hajar Welaran dan Ki Endang Kertawangsa mundur naik ke gunung Paras dan bertahan di sana. Ki Endang Kertawangsa diam – diam menuju ke markas Baniara yang ternyata pada saat itu sedang diserang Belanda. Dia kemudian meneruskan perjalannya ke Gagak Bening untuk menghimpun kekuatan. Desa Clapar telah dikuasai Belanda. Ki Hajar Welaran bertahan di gunung Paras. Komunikasi yang terputus mengakibatkan inisiatif masing – masing pimpinan untuk bergerilya sendiri – sendiri.
Senopati Gamawijaya dan pasukannya mundur dari Kaligending sampai ke pegunungan Wanasara dan Karangsari. Ia bergerilya sampai ke kota. Banaspati Jayamenggala dan pasukannya dari Jemur mundur ke barat naik pegunungan menelusuri setapak sampai ke Kebagoran, Pejagoan, kedawung dan Legok. Setiap malam mereka menyebrangi kali Luk Ula dan bergerilya membakari pos – pos dan rumah kediaman para antek Belanda di sekitar Pendopo Agung Panjer. Strategi gerilya pun dilakukan. Padepokan kecil tersembunyi sebagai tempat berkumpul para gerilyawan Panjer di sebelah timur sungai Luk Ula adalah tempat terdekat dari Pendopo Agung Panjer. Mereka bergerilya juga sampai ke Ambal, Bocor, dan Petanahan, membakar rumah para Demang pengikut Belanda. Gerilya Banaspati Jayamenggala di Wirayudan juga membuat panik Belanda dan Arungbinang IV.Keadaan peperangan yang berlarut di Panjer membuat Gubernur Jenderal Graff Van den Bosch dan Jenderal De Kock memerintahkan untuk mengadakan perundingan. Perundingan diadakan di Pendopo Agung Panjer. Perundingan hanya dihadiri oleh Ki Kartanegara I (Adipati Karanganyar). Tokoh – tokoh Panjer tidak mau menghadiri, waspada dengan kelicikan Belanda .Pertempuran Gerilya tetap diteruskan oleh tokoh – tokoh Panjer di Karangsambung.
Atas perintah Gubernur Jenderal Graff Van Den Bosch dengan pertimbangan peperangan yang tetap berlangsung meski Pendopo Panjer telah dikuasai telah memakan biaya yang cukup besar, maka Belanda yang sudah satu tahun menduduki Pendopo Agung Panjer pun kemudian membumihanguskan tempat tersebut dan menyerahkan ketataprajaan Panjer kepada Arungbinang IV. Kotaraja dan Pendopo Panjer lama dipindah ke tempat yang baru (di daerah yang sekarang menjadi Pendopo Kebupaten Kebumen beserta alun – alunnya).Gerilyapun berakhir dengan tertangkapnya tokoh – tokoh tersebut. Senopati Jayamenggala tertangkap di sebelah timur kali Luk Ula . Dia kemudian digantung di pohon beringin kurung di tengah alun – alun baru. Jenazahnya dikuburkan di sebelah timur laut beringin kurung. KH. Imanadi tertangkap di Ayam Putih, setelah berenang dari Kali Gending saat dikepung oleh Belanda.KH. Imanadi yang menepi di tepian sungai Luk Ula wilayah selatan pun kemudian tertangkap dan di penjara. Beliau kemudian dikeluarkan oleh Arungbinang IV dan dijadikan Pengulu Landrat Kebumen yang pertama. Saat itulah Beliau mendirikan Masjid Kauman kebumen. Kyai Welaran juga wafat dalam pertempuran di Karangsambung dan dimakamkan di pucuk gunung Paras di bawah pohon Jati. Sedangkan Senopati Gamawijaya tertangkap oleh kolektur Mangunprawira dan ditembak mati di daerah Bocor. Jenazahnya dimakamkan langsung ditempat tesebut.Pertempuran berakhir secara keseluruhan pada tahun 1832. Secara resmi Arungbinang IV mulai memerintah kabupaten Panjer pada tahun tersebut serta mengubah nama kabupaten Panjer menjadi Kebumen.
Misteri gunung Lawu

Misteri gunung Lawu

06:48 0
Misteri gunung Lawu
Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.
Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Praja Mangkunegaran.
Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar si pelaku diyakini bakal bernasib naas.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani.
Legenda gunung Lawu
Lawu.jpg

Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas).
Raden Fatah putra Brawijaya V dari putri champa ( Anarawati ) setelah dewasa beragama islam, berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak).
Melihat kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkannya wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.
Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem.
Saat itu Sang Prabu bertitah, "Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib dengan wilayah ke barat hingga wilayah gunung Merapi/gunung Merbabu, ke timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.
Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini.
Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.
Foto Setiyono Hadi.
SEJARAH SINGKAT CADAS PANGERAN

SEJARAH SINGKAT CADAS PANGERAN

06:54 0
SEJARAH SINGKAT CADAS PANGERAN
Cadas Pangeran yaitu nama sebuah tempat yang dilalui jalan raya Bandung-Cirebon. Disanalah terdapat patung pangeran kornel yang sedang bersalaman menggunakan tangan kiri dengan deandels,sedangkan tangan kanannya memegang senjata.
Kisah diawali dengan wafatnya bupati Sumedang yaitu bupati Surya Negara,anaknya yang bernama Raden Jamu yang pada saat itu masih berumur 20 tahun,sehingga belum dapat diangkat menjadi bupati untuk menggantikan ayahnya karena tidak memenuhi syarat. Akhirnya setelah melalui mufakat dipilihlah Demang Tanubaya sebagai Bupati yang baru,tak lama ia digantikan oleh Demang Patrakusumah. Raden Jamu melarikan diri saat akan dinikahkan dengan Raden Ayu Candranegara menuju Limbangan. Dari limbangan, Raden Jamu menuju Cianjur disana Raden Jamu di angkat menjadi Wedana di Cikalong. Melihat keadaan Sumedang yang semrawut Bupati Cianjur mengirimkan surat untuk Gubernur di Batavia. Akhirnya Bupati Sumedang yang pada saat itu adalah Tanubaya II di gantikan oleh Raden Jamu dengan gelar Adipati Suryanegara atau Pangeran Kusumahdinata atau Pangeran Kornel sebagai adipati Sumedang yang ke-12.
Dibawah pimpinan Pangeran Kusumahdinata Sumedang mencapai kemakmurannya. Namun pada saat itu pemerintah Belanda mengutus Herman Willem Daendels sebagai gubernur Jendral dihindia Belanda. Daendelslah yang memerintahkan untuk membangun jalan sepanjang 100km dari Anyer-Panarukan. Pembuatan jalan ini dimulai dari Anyer terus ke Serang, ke Tanggerang, ke Jakarta, Bogor, Bandung dan sampailah diSumedang.
Ribuan pekerja rodi yang meninggal paling banyak didaerah Bandung-Sumedang. Didaerah tersebut memang memiliki medan yang berbukit cadas dan rawan longsor. Bila tidak hati-hati,banyak pekerja yang meninggal karena tertimbun tanah longsor maupun tertimpa bebatuan besar. Banyak pula yang terjerembab kejurang selama pembangunan jalan itu.

======
'''Cadas Pangeran''' adalah nama suatu tempat, kira-kira enam kilometer sebelah barat daya kota Sumedang, yang dilalui jalan raya Bandung—Cirebon. Pemberian nama ini terkait dengan pembangunan Jalan Raya Pos Daendels yang melintasi daerah ini. Karena medan yang berbatu cadas, lima ribuan jiwa pekerja kehilangan nyawanya. Hal ini membuat marah penguasa Kabupaten Sumedang, Pangeran Kusumadinata (1791-1828) yang lebih populer dengan sebutan Pangeran Kornel, dan ia memprotes Daendels atas kesemena-menaan dalam pembangunan jalan itu.

Adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels yang memprakarsai pembangunan jalan "maut" tersebut pada tahun 1809. Dahsyatnya, proyek jalan itu hanya membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Jalur Anyer-Panarukan itu dibangun mula-mula sebagai jalan raya pos yang menghubungkan Pulau Jawa pada tahun 1809. Namun, keberhasilan Daendels itu tak terlepas dari penderitaan ratusan ribu warga Jawa yang disuruh kerja paksa atau rodi tanpa bayaran sesen pun. Tak terhitung lagi, ribuan pribumi yang tewas, baik yang melawan maupun meninggal dunia akibat kerja rodi.

Maklum saja, Daendels terkenal dengan kekejamannya dan berlaku sangat keras, yang disukai oleh Kaisar Prancis Napoleon--Prancis saat itu menguasai Kerajaan Belanda. Sebaliknya, bagi bangsa Indonesia, kekejian Daendels sangat dibenci hingga ia mendapat julukan "Mas Galak" atau "Mas Guntur". Julukan itu sesuai dengan tindak tanduknya yang kerap menekan kekuasaan raja-raja atau penguasa setempat, khususnya terhadap wong cilik. Walau begitu, sejumlah "inlader" akhirnya nekat menentang Daendels meski nyawa menjadi taruhan. Namun, tak seluruh rakyat memberontak terhadap kehendak "Si Tuan Besar" itu.

Satu di antara yang menonjol adalah Peristiwa Cadas Pangeran. Betapa tidak, ribuan pekerja rodi yang meninggal paling banyak terjadi di kawasan antara Bandung-Sumedang sepanjang kurang lebih tiga km. Di daerah tersebut memang memiliki medan yang berbukit cadas dan rawan longsor. Bila tak hati-hati, banyak pekerja yang mati ketimbun tanah longsor maupun tertimpa batu-batu besar. Banyak pula yang terjerembab ke jurang selama pembangunan jalan itu. Belum lagi sejumlah binatang buas yang kerap memangsa beberapa buruh rodi yang keletihan di malam hari.


Kabar mengenai ribuan penduduk Sumedang yang tewas akibat kerja rodi tentu membuat gusar penguasa setempat saat itu, yaitu Pangeran Kusumahdinata atau lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Kornel. Dia pun merasa terpanggil untuk membela rakyatnya dari tindasan Daendels. Pangeran Kornel segera mengutus beberapa orang kepercayaannya ke lokasi pembuatan jalan yang masih berupa hutan belantara, bercadas keras dengan berbagai binatang buas yang masih berkeliaran. Setelah meneliti keadaan di lapangan, orang-orang suruhan Pangeran Kornel mengungkapkan bahwa kondisi para pekerja paksa sangat memprihatinkan. Bahkan, mereka cuma mempergunakan peralatan atau perkakas yang tergolong sederhana untuk memapras tebing.


Selain kurang peralatan, hambatan lain dalam pembuatan jalan itu adalah perbekalan makanan yang tak mencukupi. Tak heran, buruh rodi banyak yang terjangkit sejumlah penyakit, seperti malaria. Gangguan binatang buas dan hawa dingin yang menusuk di malam hari, turut menambah kesengsaraan para pekerja.


Atas kenyataan itulah, Pangeran Kornel berencana secara terang-terangan melawan Daendels di hadapan para pekerja dan masyarakat Sumedang. Disusunlah rencana pemberontakan terhadap Mas Galak. Setelah rencana dianggap matang, Pangeran Kornel bersama sejumlah pengawalnya pergi ke lokasi kerja rodi tersebut. Dia pun sabar menanti kedatangan Daendels.


Akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga. Di kejauhan tampak Daendels menunggang kuda dengan didampingi segelintir pasukannya. Daendels memang secara rutin kerap mengawasi pembuatan jalan di daerah bercadas tersebut. Pangeran Kornel mencegat rombongan Gubernur Jenderal yang kejam itu, tepatnya di Desa Ciherang.

Tentu saja Daendels kegirangan melihat kedatangannya disambut sendiri oleh penguasa setempat. Tanpa rasa curiga, dia segera mengulurkan tangan kepada Pangeran Kornel. Bukan kepalang terkejutnya Daendels, saat Pangeran Kornel menyambut ulurannya dengan tangan kiri. Tak cuma itu, penguasa Sumedang ini juga menghunus keris Naga Sastra di tangan kanannya.
Dengan pancaran mata yang tajam tanpa berkedip, Pangeran Kornel terus menatap lawannya. Sontak, keangkuhan Daendels luntur seketika. Dia pun terheran-heran dengan perlakuan dari Pangeran Kornel atau Bupati Sumedang itu. Setelah hilang rasa kagetnya, Daendels bertanya kepada Pangeran Kornel mengenai sikapnya itu.

Tanpa perasaan takut, Pangeran Kornel menjawab bahwa pekerjaan yang dibebankan kepada rakyat Sumedang terlalu berat. Setelah mengucapkan alasannya, Pangeran Kornel menantang Daendels duel satu lawan satu. Layaknya seorang ksatria, Pangeran Kornel berkata bahwa regent (bupati) Sumedang yang bernama Pangeran Kusumahdinata lebih baik berkorban sendiri ketimbang harus mengorbankan rakyat Sumedang yang tak berdosa.


Mendengar alasan yang tegas dan jelas tersebut, serta sadar akan situasi yang tidak menguntungkan baginya, Daendels pun luluh keberaniannya. Kemudian Daendels berjanji akan mengambil alih pekerjaan pembuatan jalan oleh Pasukan Zeni Belanda. Sedangkan rakyat Sumedang diperkenankan hanya membantu saja.

Ternyata itu hanyalah akal-akalan Daendels. Buktinya, beberapa hari kemudian, dia membawa ribuan pasukan Kompeni dan hendak menumpas perlawanan Pangeran Kornel. Pertempuran pun berkecamuk di sana. Rakyat Sumedang serta merta angkat senjata membantu junjungan mereka. Lantaran kekuatan yang tak seimbang, akhirnya tentara penjajah berhasil memadamkan pemberontakan Pangeran Kornel dengan memakan korban yang tak sedikit. Sedangkan Pangeran Kornel yang gagah berani itu gugur di ujung bedil pasukan Belanda.

Semenjak itulah, jalan yang melintasi medan berbukit itu dinamakan Cadas Pangeran. Ini untuk mengenang keberanian Pangeran Kornel yang rela gugur dalam memperjuangkan atau membela kepentingan rakyat Sumedang yang sangat dicintainya.(ANS/Dari Berbagai Sumber dan Tradisi Sejarah Lisan Masyarakat Pasundan)

=================
Kisah Misteri Cadas Pangeran Sumedang
Bagi masyarakat Sumedang nama Cadas Pangeran memang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga dalam hal keangkerannya. Pasalnya kisah misteri cadas pangeran Sumedang kerap sekali diperbincangkan dari mulut ke mulut oleh berbagai kalangan masyarakat. Benarkah terdapat keganjilan dengan tempat dan lokasi tersebut? Simak langsung di bawah ini.
kisah-misteri-cadas-pangeran-sumedang-jawa-barat

Cadas Pangeran merupakan nama sebuah wilayah di daerah Sumedang Jawa Barat yang sangat terkenal akan sejarah di masa lalunya.
Peristiwa pembuatan jalan yang menghubungkan antara Kabupaten Cirebon dan Bandung merupakan salah satu peristiwa besar yang hingga kini masih kerap menjadi cerita masyarakat Indonesia tentang menggambarkan kekejaman penjajahan di Indonesia.
Bagaimana tidak, pembangunan jalan raya ini diwarnai dengan peristiwa-peristiwa kejam dari bangsa Belanda terhadap penduduk pribumi.
Menurut berbagai sumber yang menuliskan sejarah kota Sumedang pada masa kekuasaan Pangeran Kusumadinata ke-9 pembangunan jalan di wilayah Cadas Pangeran ini menimbulkan korban jiwa lebih dari lima ribu pekerja paksa.
Selain tekstur tanah berupa cadas kanan dan kiri tempat tersebut yang berupa jurang tajam membuat ribuan pekerja meninggal dunia. Karena peristiwa ini pula konon Pangeran Kusumadinata IX marah dan mengecam aksi Belanda yang tidak manusiawi.
Jauh setelah peristiwa mengenaskan itu terjadi kini Jlan cadas pangeran kerap disebut-sebut sebagai salah satu jalan yang menakutkan serta kerap terjadi peristiwa-peristiwa aneh diluar nalar manusia di sepanjang jalan tersebut.
Tak heran jika banyak orang yang menganggap cadas pangeran merupakan jalan terangker yang terdapat di wilayah Sumedang Jawa Barat.
Tanjakan curam serta belokan yang tajam diwarnai dengan jurang di kanan kiri jalan seakan tepat menggambarkan jalan raya penghubung cirebon dan bandung ini. Selain pemandangan alam yang indah di kanan kiri bukit rupanya kisah misteri kerap pula terjadi di wilayah ini khususnya kisah tentang makhluk gaib yang kerap dituturkan masyarakat.
Sebut saja Rinto, seorang perantau di Bandung yang sedang melakukan perjalanan menuju kampung halamannya di Jawa Tengah memasuki ruas jalan Cadas Pangeran sudah terlalu larut sekitar pukul 01.15 WIB. Meskipun ia memakai kendaraan roda dua sendirian namun tekad nya untuk segera sampai ke kampung halaman untuk memastikan istri nya baik-baik saja setelah melakukan persalinan anak pertama mereka.
Sekitar 10 menit melewati jalan berliku tersebut Rinto sebenarnya sudah sangat tidak nyaman, terlebih suasana pada malam itu tidak seperti biasanya. Jalanan terlihat sangat sepi dari kendaraan.
Sial bagi Rinto ketika melewati tanjakan yang curam motornya mogok entah karena apa, kemudian ia memutuskan untuk menepikan motor dan mencoba memperbaikinya.
Tak jauh dari tempat ia membongkar perlengkapan bengkelnya tiba-tiba ia melihat sosok bayangan hitam dari seberang jalan tepatnya di bawah pohon besar yang ia tak mengetahui apa jenisnya.
Belum juga motornya menyala ia mencoba untuk memperhatikan suara gemerosak seperti benda jatuh dari atas tersebut. Tiba-tia ia melihat sosok hitam berbulu seperti tikus namun kian lama kian membesar hingga tubuhnya saja menjadi tinggi setinggi pohon yang berada di samping jalan cadas pangeran sehingga ia pun harus mendangak untuk melihat wajah dari makhluk itu yang tidak pula tertampak.

Segera setelah dikagetkan dengan makhluk hitam berbulu lebat tersebut ia segera mengemasi peralatan nya dan menyurung motornya untuk turun melaju menuju ke bawah dengan motor tetap mogok.
Untung saja setelah lewat dari suasana menakutkan itu , motornya bisa diperbaiki dan bisa hidup lagi, dan bisa selamat sampai dirumah.......... ( kisah ini boleh dipercaya boleh tidak, karena kisahnya kurang meyakinkan )
ASAL USUL DESA NGROTO

ASAL USUL DESA NGROTO

07:35 0
ASAL USUL DESA NGROTO
VERSI I
Ngroto, Bukan sekedar kata yang tanpa makna. Ngroto bisa berarti daerah yang rata,”merata”. Dalam tutur sejarah desa yang diriwayatkan secara turun temurun, dikisahkan Pada saat dulu kala ketika daerah Ngroto dan sekitarnya masih berupa hutan belantara yang belum berpenduduk, datanglah Nyai Ragil ke tempat ini dan kemudian membuka lahan yang ditumbuhi bermacam tumbuhan untuk dijadikan tempat tinggal. Setelah melihat kontur tanah yang sebelumnya penuh pohon dan tumbuhan menjadi daerah yang rata, datar, dan nampak berbeda dengan yang terlihat disebelah selatan daerah ini berupa jajaran gundukan bukit kapur, Nyai Ragil kemudian menamakan daerah ini sebagai Ngroto.
VERSI II
di Persia dulu terdapat keluarga Nyi Syamsiyah yang telah lama ditinggal suaminya pergi ke tanah Jawa. Nyi Syamsiyah mempunyai putra bernama Abdurrahman. Setelah dewasa, Abdurrahman mengajak ibunya mencari ayahnya ke tanah Jawa. Sesampainya di Jawa beliau dan Ibunya berguru pada Kanjeng Sunan Kalijaga. Setelah beberapa tahun nyantri kepada Kanjeng Sunan, beliau ingat tujuan beliau datang ke tanah Jawa yaitu untuk mencari ayahnya. Beliau yakin ayahnya masih berada di tanah Jawa. Maka segeralah berpamitan dengan Ibunya dan mohon restu pada Kanjeng Sunan. Kanjeng Sunan Kalijaga menyarankan agar beliau menyisir kali tuntang karena suatu saat ayahnya pasti lewat kali tersebut. Setelah berpamitan, beliau pun menyisir kali tuntang dengan perahu. Sampailah Abdurrahman pada suatu tempat yang di tunjukkan Kanjeng Sunan. Beliau pun turun dan mendirikan gubugan kecil disana yang tak jauh dari perkampungan.
Setelah beberapa tahun tinggal dan ikut berjuang syiar agama di sana, suatu hari dijumpainya seorang Kyai yang terhenti sampannya ketika melewati kali tuntang tersebut. Abdurrahman pun membantunya dan berkenalan. Tak disangka ternyata Kyi tersebut tidak lain adalah ayahnya yang bertahun-tahun beliau cari. Beliau sangat bersyukur dan meminta ayahnya untuk tinggal. Namun karena masih ada tugas yang harus diselesaikan ayahnya pun melanjutkan perjalanan ke Demak. Abdurrahman tetap tinggal dan melanjukan syiar Islam di daerah tersebut. Nyi Syamsiah akhirnya menyusul putranya ikut tinggal di perkampungan tersebut. Lama-lama daerah itu semakin ramai. Karena daerah itu banyak ditumbuhi tanaman glagah dan merata maka daerah tersebut kemudian diberi nama Roto kemudian menjadi Ngroto.
Kyai Abdurrahman mendapat gelar Ganjur
Para Wali Sembilan yang berhasil mendirikan Kesultanan Demak akhirnya membentuk pasukan yang dipimpin Sayyid Abdurrahman dari Desa Ngroto. Sayyid Abdurrahman dipilih oleh Wali Sembilan karena memiliki keterampilan membuat alat musik pukul, sehingga dia diberi gelar Ki Ageng Ganjur (alat musik pukulan di bawah gong dalam perangkat gamelan wayang). Alat musik Ganjur tersebut dipakai sebagai alat komunikasi dengan pasukan-pasukannya dan sarana dakwah.
Wallahu a'lam
Jolotundo

Jolotundo

06:54 0

Jolotundo

Petirtaan Jolotundo, adalah sebuah bangunan masa lampau yang dulu merupakan pemandian atau kolam yang dibuat pada masa kerajaan Kahuripan. Petirtaan Jolotundo terletak di desa Seloliman, Trawas, Kabupaten Mojokerto, tepatnya terletak di lereng Gunung Bekal, yaitu salah satu puncak Gunung Penanggungan. Petirtaan Jolotundo memiliki panjang 16,85 M, lebar 13,52 M dan kedalaman 5,20 M dengan material utama dari batu andesit.

Menurut sejarahnya, petirtaan ini merupakan kolam cinta yang dibangun oleh Udhayana, raja Bali, yang menikah dengan putri Guna Priya Dharma dari Jawa. Dari perkawinan tersebut lahirlah Airlangga pada 991 M. Lalu pada tahun 997 M, raja Udhayan membangun kolam ini, sesuai dengan angka yang tertera di dinding kolam, yang disiapkan untuk menyambut kelahiran putra Airlangga.

Saat ini kolam ini bisa dikunjungi siapa saja, sebagai salah satu warisan budaya Indonesia. Selain dari nilai histori yang ada, petirtaan Jolotundo ini semakin unik karena memiliki debit air yang tak pernah kering, walaupun di saat musim kemarau. Memiliki kandungan mineral yang tinggi, membuat air dalam kolam Jolotundo dinyatakan sebagai air terbaik di dunia setelah zam-zam.

Sedangkan, untuk Petirtaan Belahan, lebih dikenal dengan candi Belahan adalah sebuah pemandian bersejarah dari abad ke 11, di masa kerajaan Airlangga. Petirtaan Belahan terletak di sisi timur gunung Penanggungan, tepatnya di Dusun Belahan Jowo, Wonosunyo, Kecamatan Gempol. Menurut sejarah, selain sebagai tempat pertapaan Prabu Airlangga, petirtaan ini juga di fungsikan sebagai pemandian selir-selir Prabu Airlangga. Oleh karena itu, sebagai bentuk pengabdian dibangunlah 2 patung permaisuri Prabu Airlanga, yaitu Dewi Laksmi dan Dewi Sri. Pada dua patung tersebut, mengalir aliran air dari bentuk Payudara patung, dan karenanya petirtaan ini terkadang di sebut sebagai Sumber Tetek (Tetek : Payudara, Jawa).
KEN AROK - EMPU GANDRING-21.

KEN AROK - EMPU GANDRING-21.

07:46 0
KEN AROK - EMPU GANDRING-21.
Melihat kakek itu seorang diri saja di tepi jalan, Ken Arok bertanya, "Paman hendak pergi kemanakah?"
"Saya baru saja pulang dari Kebalon dan hendak pulang kembali ke Turyatopodo, akan tetapi saya
mendengar bahwa di perjalanan tidak akan aman karena munculnya seseorang perampok muda yang
ganas."
Ken Arok tesenyum, maklum siapa yang dimaksudkan. Wajah kakek ini mendatangkan kesan baik
dalam hatinya. Dia membutuhkan bantuan orang yang akan menampungnya untuk bersembunyi, apalagi
kakek ini memiliki wajah yang membayangkan orang berilmu.
"Harap paman jangan khawatir. Mari saya antar paman ke Turyantopodo, kalau muncul perampok itu
akan saya hajar dia!"
Karena pemuda itu berwajah tampan dan bertubuh tinggi tegap membayangkan kekuatan, maka Empu
Palot girang sekali menerima penawaran itu dan mereka pun melakukan perjalanan menuju ke
Turyantopodo. Di sepanjang perjalanan, Ken Arok mendengar bahwa kakek ini adalah seorang pandai
emas yang mahir, maka timbul niat di hatinya untuk berguru kepada Empu Palot. Hal ini dikemukakannya
dan Empu Palot yang merasa berhutang budi, menerimanya dengan gembira. Mulailah Ken Arok hidup di
Dusun Turyantopodo sebagai murid Empu Palot.
Pada suatu hari Empu Palot menyuruh Ken Arok pergi ke Kabalon untuk memperdalam ilmu membuat
perhiasan dari emas kepada seorang pendeta sahabatnya di Kebalon. Pergilah Ken Arok ke sana. Akan
tetapi ternyata dia tidak disambut manis oleh penduduk Kabalon, bahkan dicurigai. Marahlah Ken Arok
dan dia pun mengamuk, merobohkan beberapa orang yang berani memperlihatkan sikap tidak manis dan
curiga kepadanya. Dia pun dikeroyok dan dikepung dan muncul pula orang-orang Daha yang segera
melakukan pengejaran.
Ken Arok melarikan diri lagi, sampai ke Tunggaran. Akan tetapi, kepala dusun Tunggaran juga
mencurigainya dan tidak mau menerimanya tinggal di dusun itu. Hal ini amat menyakitkan hati Ken Arok.
Ketika Ken Arok berada di luar dusun, dia bertemu dengan seorang gadis yang sedang bertaman kacang
di ladang. Ketika oleh Ken Arok diketahui bahwa gadis itu adalah puteri Kepala Desa Tunggaran,
terbukalah kesempatan baginya untuk membalas dendam atas penolakan kepala desa terhadap dirinya.
Ditangkapnya gadis itu dan diperkosanya, lalu ditinggalkannya untuk melanjutkan pelariannya.
Setelah menjadi buruan lagi, lari dari hutan ke hutan, dari dusun ke dusun, bertemulah dia dengan
seorang nenek dari dusun Panitikan dan nenek yang arif ini menasehatinya untuk bertapa di Gunung
Lejar. Maka pergilah Ken Arok ke gunung itu dan bertapa. Baru dia telepas dari pengejaran
orang-orang Daha.
Setelah merasa aman dan bebas dari pengejaran, Ken Arok berani meninggalkan tempat pertapaannya
dan segera dia menjadi langganan tempat perjudian di dusun Kaloka. Dan di tempat inilah bintangnya
mulai terang. Pada suatu hari, seorang pendeta Brahmana dari India yang bernama Danyang Lohgawe,
bertemu dengannya di tempat perjudian itu. Sampai lama pendeta itu menatap wajah dan bentuk tubuh
Ken Arok dan pendeta yang arif dan bijaksana ini maklum bahwa dalam diri Ken Arok terdapat wahyu
yang akan mengangkat pemuda itu kelak menjadi orang yang besar. Setelah merasa yakin akan bisikan
hatinya, dia lalu mendekati dan menegurnya!
"Orang muda, tempatmu bukan di sini. Tinggalkan meja perjudian ini dan marilah ikut bersamaku."
Ken Arok yang sedang kalah itu terkejut melihat ada orang yang berani menegurnya, dan dia
memandang kakek itu dengan penuh perhatian. Kakek itu bertubuh jangkung, berkulit kehitaman dan
wajahnya asing. Hidungnya mancung sekali. Akan tetapi sepasang matanya mencorong seperti
memandang bara api yang panas. Diam-diam Ken Arok kagum dan dapat menduga bahwa kakek ini
tentu seorang pendeta yang pandai. Pakaiannya demikian sederhana, hanya kain dilibat-lihatkan tubuhnya
yang jangkung.
"Siapakah engkau, paman? Pergilah dan jangan menggangguku. Aku sedang berjudi mengejar
kekalahanku." Jawab Ken Arok sambil mengibaskan tangannya dengan hati sebal.
"Hemm, engkau mengejar kemenangan? Mengejar uang? Mari keluar bersamaku kalau engkau
mengejar kemenangan uang!" Berkata demikian, kakek itu melangkah keluar dari rumah perjudian,
seolah-olah merasa yakin bahwa orang muda itu tentu akan mengikutinya. Dan benar saja. Ken Arok
meninggalkan arena perjudian, biar pun dia sudah menderita kalah sampai hampir habis uang bekal yang
dipakai modal berjudi tadi. Ada sesuatu dalam suara pendek itu yang menarik hatinya dan membuatnya
ingin tahu sekali. Dia lalu mengikuti pendeta itu keluar.
"Apa maksudmu dengan kemenangan dan uang paman?" setelah tiba di luar, Ken Arok bertanya.
Danyang Lohgawe tertawa. "Kau pungut batu-batu itu dan lihat!"
Ken Arok masih tidak mengerti, akan tetapi dia lalu mengambil kerikil yang bertebaran di bawah
kakinya. Diambil dan dikepalnya kerikil-kerikil itu dan ketika dilihanya, matanya terbelalak.
Kerikil-kerikil yang tadi merupakan batu-batu tak berharga itu kini nampak olehnya telah menjadi emas,
benda berkilau yang indah!
"Emas...............!" serunya dan diperiksanya kerikil itu. Dia pernah berguru kepada Empu Palot dan dia
pandai membedakan mana emas mana bukan dan benda-benda yang berada di tangannya itu
benar-benar emas!
"Demikianlah, anakku. Di dalam tangan orang yang mengandung wahyu, batu pun dipegang berubah
menjadi emas. Akan tetapi apa gunanya semua emas itu? Kalau tidak pandai-pandai engkau
mengusahakan dan menempatkan diri sesuai dengan wahyu itu, semua emas itu pun akan mudah habis
dan engkau kembali ke asalmu."
Mendengar ucapan ini, Ken Arok sadar dan diapun membuang kerikil-kerikil itu. Selama ini dia telah
menyia-nyiakan waktu dan usianya. Maka dia lalu berlutut dan menyembah kepada Danyang Lohgawe.
"Paman panembahan, saya mohon petunjuk."
Danyang Lohgawe lalu menyentuh pundaknya, menariknya bangkit berdiri. "Mulai detik ini, engkau
menjadi anak angkatku. Aku ada Danyang Lohgawe."
"Nama saya Ken Arok dan saya akan menaati semua petunjuk Bopo Danyang!"
"Mari ikut bersamaku, Ken Arok anakku, tempatmu bukan di sini, melainkan di dekat para bangsawan
tinggi."
Hari itu juga, Danyang Lohgawe mengajak Ken Arok pergi ke Tumapel. Tentu saja Ken Arok terkejut
setengah mati dan hampir membangkang karena mana mungkin dia pergi ke Tumapel? Bukankah itu
sama artinya seperti harimau masuk perangkap? Akan tetapi, bersama Danyang Lohgawe, dia dapat
memasuki Kadipaten Tumapel dengan selamat. Mungkin karena aji kesaktian Danyang Lohgawe, atau
memang karena Ken Arok jarang dapat dilihat oleh perajurit dan selama ini yang mengejar-ngejarnya
adalah orang Daha, maka dia dapat masuk ke Tumapel dengan selamat. Tak seorangpun dapat
mengenalnya sebagai perampok muda yang selama ini dikejar-kejar.
Di Tumapel, pendeta Brahmana dari india itu segera terkenal kepandaiannya mengobati, meramal dan
ilmu kesaktian lain. Kepandainnya terkenal sekali sampai ke istana Sang Akuwu Tunggal Ametung, Ken
Arok bekerja sebagai murid pendeta ini dan pada suatu hari, Tunggal Ametung mengundang Danyang
Lohgawe untuk mengobati seorang di antara selir-selirnya yang menderita sakit berat. Bersama Ken
Arok, Danyang Lohgawe segera menghadap dan dengan pengetahuannya yang luas, akhirnya dia
berhasil menyembuhkan selir Tunggal Ametung.
Tentu saja Sang Akuwu menjadi girang dan berterima kasih dan kesempatan ini dipergunakan oleh
Danyang Lohgawe untuk memintakan pekerjaan bagi anak angkatnya, Ken Arok. Melihat pemuda yang
tampan, tegap dan cekatan itu, Tunggal Ametung merasa suka dan segera diterimanya Ken Arok sebagai
seorang perajurit pengawal. Bahkan Danyang Lohgawe juga diberi kedudukan sebagai tabib dan
pensehat dan mereka diberi pondok yang cukup mewah tak jauh dari istana Sang Akuwu sendiri.
Mulailah keadaan hidup ini Ken Arok meningkat, tepat seperti yang dilihat oleh Danyang Lohggawe, dan
merasa yakin bahwa anak angkatnya itu akan meningkat lebih tinggi lagi kedudukannya.

****
Joko Handoko dan Wulandari yang sedang sarapan di sebuah warung di dusun itu, menoleh ketika
menderap derap kaki dua ekor kuda berhenti di depan warung. Ketika Joko Handoko melihat dua orang
penunggang kuda itu, cepat dia membayar harga makanan dan minuman the, menyambar tangan
Wulandari diajak menyelinap keluar dari pintu samping warung. Mereka lalu bergegas keluar dari
samping sehingga tidak terlihat wajah mereka oleh dua orang penunggang kuda yang memasuki warung
sambil bercakap-cakap.
"Kita masih banyak waktu dan dusun Memeling sudah tidak jauh lagi. Perutku lapar, mari kita sarapan
dulu," kata seorang. Temannya mengangguk setuju dan keduanya sambil bercakap-cakap memasuki
warung itu dan memesan makanan ketan kelapa dan air teh panas.
Sementara itu, Joko Handoko dan Wulandari sudah menyelinap dan bersembunyi di balik pohon besar
yang tumbuh tak jauh dari warung, sambil mengintai. Kini Wulandari juga mengenal dua orang itu, itu
bukan lain adalah Gajah Putih dan Gajah Ireng, dua orang yang pernah membantu Tumapel dan hampir
saja membikin malu dan merusak nama dan kehormatan Sabuk Tembogo kalau saja tidak ada Joko
Handoko yang hadir dan mengalahkan mereka. Wulandari merasa heran mengapa temannya itu
menyingkir dan kelihatan seperti takut menghadapi mereka. Padahal, ia tahu benar bahwa dua orang itu
bukanlah lawan Joko Handoko. Agaknya, pemuda itu dapat membaca isi hatinya.
"Wulan, kita harus membayangi mereka dengan diam-diam. Siapa tahu mereka akan membawa kita
kepada pemecahan rahasia yang kita selidiki."
Wulandari mengangguk. Ia seorang gadis cerdik dan tahulah ia sekarang. Memang tepat sekali. Dua
orang itu muncul bersama pasukan Tumapel dan menyudutkan Sabuk Tembogo. Sikap mereka itu
seolah-oleh hendak mengadu domba antara Sabuk Tembogo dan pasukan Tumapel. Mereka patut
dicurigai. Apalagi kalau diingat betapa mereka muncul lagi bersama guru mereka. Ki Danyang
Bagaskoro, yang bermaksud menculik, bahkan membunuh Dewi Pusporini.
"Mereka tadi bilang hendak pergi ke Dusun Memeling, sebaiknya kita mendahului mereka ke sana dan
di sana kita membayangi mereka," bisiknya. Joko Handoko mengangguk dan merasa kagum akan
kecerdasan Wulandari. Memang tidak mudah membayangi dua orang berkuda dan mereka berkuda
pula. Tentu akan mudah ketahuan. Tadi, tanpa disengaja mereka mendengar Gajah Putih mengatakan
kedua orang itu hendak pergi ke Tumapel, maka sebaiknya kalau mereka mendahului ke sana dan
membayangi dua orang itu di sana
Dengan hati-hati mereka lalu mengambil kuda yang tadi mereka tambatkan di pohon tak jauh dari
warung itu, dan mereka lalu menunggangi kuda mereka, menuju ke utara, ke Dusun Memeling yang tidak
begitu jauh lagi. Wulandari sudah mengenal daerah ini, maka ia tahu di mana Dusun Memeling.
Tak lama kemudian tibalah mereka di luar Dusun Memeling. Joko Handoko lalu menitipkan dua ekor
kuda pada seorang petani yang miskin dan tinggal di dusun itu dengan memberi upah yang cukup banyak.
Kemudian mereka berjalan kaki menuju ke pintu gerbang dusun dan bersembunyi, mengintai dan menanti
datangnya dua orang yang akan mereka bayangi.
Dusun itu berada di tapal batas antara Tumapel dan Kerajaan Daha, sebuah dusun yang cukup besar,
dikelilingi hutan lebat dan di tepi sebuah sungai yang menjadi anak Sungai Brantas. Penghuni dusun itu
sudah dikuasai oleh pengaruh Kerajaan Daha dan hal ini tidak diketahui oleh Joko Handoko dan
Wulandari.
Pada waktu itu, yang menjadi raja di Daha atau Kediri adalah Sang Prabu Dandang Gendis, nama lain
dari Sang Prabu Kertajaya. Sang Prabu Dandang Gendis mendenga akan sikap Sang Akuwu Tunggal
Ametung yang hidup seperti seorang raja muda di Tumapel, dan di dalam hatinya tidak rela tunduk
kepada Kerajaan Daha. Akan tetapi karena Tunggal Ametung tidak terang-terangan menentangnya, dia
mengingat bahwa Kadipaten Tumapel cukup kuat, terutama dibantu oleh orang yang memiliki kesaktian,
maka raja Kediri itu masih bersikap sabar. Diam-diam Sang Prabu Dandang Gendis atau Kertajaya
berunding dengan para penasehatanya, kemudian diambil keputusan untuk rahasia berusaha melemahkan
Tumapel dengan jalan mengadu domba. Dipilihlah orang-orang sakti di bawah pimpinan seorang senopati
untuk melakukan serangan gelap terhadap Tumapel. Usaha-usaha itulah yang mengakibatkan
peristiwa-peristiwa yang kini sedang diselidiki oleh Joko Handoko dan Wulandari dan tanpa mereka
sadari, mereka kini mendekati sarang persekutuan rahasia dari kerajaan Daha atau Kediri itu!
Joko Handoko dan Wulandari tidak usah menunggu terlalu lama. Segera terdengar derap kaki kuda dan
mereka melihat Gajah Putih dan Gajah Ireng menunggang kuda mereka menuju ke pintu gerbang dusun
itu. Setelah tiba di pintu gebang, mereka menahan kuda dan memasuki dusun itu dengan perlahan-lahan.
Setelah mereka masuk agak jauh, Joko Handoko dan Wulandari cepat menyelinap keluar dan
membayangi mereka dari jauh. Mudah saja membayangi dua orang yang masuk dusun dengan
menunggang kuda itu, apalagi kuda mereka lari congklang dengan lambat. Melihat sikap para penduduk
dusun menyambut dua orang penunggang kuda itu dengan senyum lambaian tangan, Joko Handoko
dapat menduga bahwa hubungan antara dua orang itu dengan penduduk dusun amat baik. Hal ini
membuat dia lebih hati-hati lagi. Dari jauh mereka melihat betapa dua orang itu memasuki perkarangan
sebuah rumah besar yang berada di ujung dusun. Giranglah hati Joko Handoko karena rumah itu berdiri
agak terpencil dan keadaannya cukup sunyi sehingga akan memudahkan dia dan Wulandari untuk
melakukan pengintaian. Mereka terus berjalan melewati depan pekarangan itu dan melihat betapa dua
ekor kuda yang masih berpeluh itu ditambatkan di dalam pekarangan depan. Akan tetapi pekarangan itu
sunyi, tidak nampak ada seorang pun manusia. Tentu saja mereka sama sekali tidak menduga bahwa
keadaan mereka kini sudah berbalik sama sekali. Bukan mereka yang membayangi orang, melainkan
gerak-gerik merekalah yang dibayangi orang! Sama sekali mereka tidak menduga bahwa pada saat
mereka menitipkan kuda mereka kepala petani di luar dusun, mereka telah terperangkap. Petani dusun
yang miskin itu yang menerima titipan dua ekor kuda dengan menerima upah yang cukup banyak, sudah
mengkhianati mereka! Kiranya petani itu adalah seorang yang setia kepada Kerajaan Daha, bahkan dia
bertugas sebagai mata-mata persekutuan rahasia yang bersarang di dusun Memeling.
Petani atau mata-mata Daha itu sudah lebih dahulu melapor kepada para pimpinan yang berada di dusun
Memeling tentang munculnya seorang pemuda dan seorang gadis yang gerak-geriknya mencurigakan.
"Mereka menitipkkan kuda kepada saya dengan memberi upah yang cukup besar, lalu memasuki dusun
ini dengan berjalan kaki dan dengan sikap yang berhati-hati. Mereka patut dicurigai." demikian antara lain
petani itu melapor, mendahului Joko Handoko dan Wulandari dengan mengambil jalan memotong yang
lebih dekat.
Laporan itu menarik perhatian para pimpinan, apalagi mengingat bahwa pada saat itu datang pula dua
orang tokoh yang menjadi utusa mereka, yaitu Gajah Putih dan Gajah Ireng. Demikianlah, tanpa
diketahui Joko Handoko dan Wulandari,kedatangan mereka ke dusun itu, yang tadinya bermaksud untuk
membayangi dua orang bekas musuh itu, kini berbalik merekalah yang dibayangi dan diintai setiap
gerak-gerik mereka. Dan itu pula sebabnya ketika mereka memasuki pekarangan rumah itu, mereka
hanya melihat dua ekor kuda yang tadi ditunggangi Gajah Putih dan Gajah Ireng tertambat di pekarangan
itu, dan tidak melihat dua orang itu sedangkan keadaan di situ sunyi sekali.
Pada saat itu, Kerajaan Daha atau Kediri yang dipimpin oleh Sang Prabu Dandang Gendis atau Sang
Prabu Kertajaya, sedang kuat-kuatnya. Sang Prabu Dandang Gendis memerintah negaranya dengan
tangan besi, akan tetapi harus diakui bahwa dia adalah seorang raja yang pandai dan kuat. Selain dia
memiliki kesaktian, juga dia dibantu oleh dua orang kakak beradik yang tadinya merupakan
pertapa-pertapa yang tekun. Begawan Saritomo, yang tua telah berusia enam puluh lima tahun dan dialah
yang diangkat oleh Sang Prabu Dandang Gendis menjadi puruhita (pendeta keraton) di Kerajaan Daha,
sebagai penasehat dan juga guru terakhir dari Sang Prabu Dandang Gendis. Sang Begawan Sarutomo ini
dibantu oleh adiknya yang bernama Begawan Buyut Wewenang, pada waktu itu berusia enam puluh
tahun, seorang pertapa yang sakti mendraguna, bahkan cerdik sekali. Dua orang pendeta inilah yang
selain mengajarkan ilmu-ilmu kesaktian kepada Sang Prabu, juga menjadi penasehat dan semua nasihat
mereka dipenuhi dan dituruti belaka oleh Sang Prabu Dandang Gendis sehingga tentu saja kekuasaan
mereka semakin besar.
Adalah dua orang pedeta ini pula yang memberi nasihat dan membujuk Sang Prabu Dandang Gendis
dari Kediri untuk melakukan siasat adu domba di antara kekuatan-kekuatan di Tumapel untuk
melemahkan kedudukan Tumapel yang dianggap memperlihatkan tanda-tanda tidak menghargai
kedaulatan kerajaan besar Kediri. Dan Sang Begawan Buyut Wewenanglah yang mendapatkan tugas
membentuk suatu kekuatan untuk mengatur siasat memecah belah dan mengadu domba untuk
mengacaukan dan melemahkan kedudukan Tumapel. Begawan Buyut Wewenang memilih dusun
Memeling untuk menjadi pusat kegiatannya, karena dusun itu terlatak di tapal batas antara wilayah aha
dan Tumapel. Dalam tugas ini dia dibantu oleh banyak orang pandai dari Kediri, dan di antara mereka,
yang menjadi kepercayaannya adalah Gajah Putih dan Gajah Ireng, bersama guru mereka, yaitu Ki
Danyang Bagaskoro yang kemudian tewas ketika bertanding melawan Joko Handoko.
Demikian keadaan di dusun Memeling pada saat itu. Ketika petani yang merangkap menjadi mata-mata
yang banyak disebar oleh Buyut Wewenang itu datang melapor, yang berada di dalam dusun itu adalah
Begawan Buyut Wewenang sendiri bersama tiga orang lain yang juga merupakan orang-orang sakti yang
menjadi pembantu-pembantu pendeta ini. Mereka adalah Ki Bajulbiru, Ki Suroyudo, dan Ki
Banyakluwo, jagoan-jagoan dari Kerajaan Kediri pada waktu itu. Begitu mendengar pelapoan petani,
Begawan Buyut Wewenang lalu mengajak mereka bertiga untuk melakukan pengintaian.
Joko Handoko dan Wulandari yang merasa kehilangan dua orang yang mereka bayangi, dengan berani
lalu menyelinap ke samping bangunan itu di mana terdapat sebuah kebun yang luas. Mereka menyelinap
di antara pohon-pohon di kebun itu,mendekati bangunan dan mengintai. Namun, keadaan sunyi saja dan
tidak nampak seorangpun di sekitar bangunan itu.
"Hemm, sunyi benar seperti tidak ada penghuninya," bisik Wulandari.
"Tidak mungkin kosong," bisik Joko Handoko kembali. "Jelas bahwa dua orang itu telah masuk ke
dalam dan agaknya mereka sedang melakukan perundingan di dalam. Penting sekali bagi kita untuk
dapat melihat siapa yang berunding dan apa yang sedang dipercakapkan."
"Kalau begitu, mari kita masuk dari pintu belakang itu." Wulandari menuding ke arah sebuah pintu
belakang dan kecil. Joko Handoko mengangguk dan mereka berloncatan dengan gerakan seperti dua
ekor kucing saja menuju ke pintu itu.
Joko Handoko mendorong daun pintu dan ternyata tidak terkunci. Mereka masuk ke dalam,
berindap-indap. Tiba-tiba keduanya berhenti dan cepat bersembunyi ke balik ruangan yang ada di situ.
Dua orang yang mereka bayangi tadi, Gajah Putih dan Gajah Ireng, muncul dari sebuah pintu ke dalam
ruangan besar di depan mereka keduanya nampak bicara perlahan, lalu keduanya berpencar. Gajah
Putih melalui pintu kiri dan Gajah Ireng masuk melalui pintu kanan!
Tentu saja Joko Handoko dan Wulandari menjadi bingung. "Kau ikuti dia, dan aku akan membayangi
yang lain," kata Joko Handoko. Gadis itu mengangguk berani, lalu mereka berpencar, menyelinap ke
kanan dan kiri. Joko Handoko membayangi Gajah Putih sedangkan gadis itu mengikuti Gajah Ireng.
Mudah bagi Joko Handoko untuk memabayangi Gajah Putih tanpa dapat diketahui oleh orang itu. Dan
dia mendapatkan kenyataan bahwa bangunan itu sungguh luas sekali. Gajah Putih telah keluar masuk
ruangan-rungan yang luas dan belum juga nampak ada manusia lain. Selagi Joko Handoko yang terus
mengikutinya itu merasa heran dan mulai menduga bahwa mungkin ruang besar ini memang kosong dan
yang ada hanya dua orang yang mereka bayangi tadi, tiba-tiba Gajah Putih memasuki sebuah ruangan
dan lenyap! Joko Handoko terkejut. Dia tidak melihat jelas ke arah mana lenyapnya orang yang
dibayanginya, maka dia pun cepat masuk ke dalam ruangan itu. Sebuah rungan yang lebarnya tidak
kurang dari empat daun pintu di situ. Dia tidak tahu ke pintu mana Gajah Putih tadi menghilang.
Joko Handoko berdiri di tengah ruangan itu, bingung menduga-duga ke mana Gajah Putih pergi dan
tiba-tiba saja ke empat daun pintu dari empat jurusan itu terbuka dan muncullah dari masing-masing pintu
seorang kakek yang diikuti oleh lima orang pengawal. Mereka menghadang di depan pintu dan dengan
demikian Joko Handoko telah terkepung. Dari pintu yang dilaluinya tadi, muncul seorang kakek yang
agaknya menjadi pemimpin mereka,karena kakek ini mengeluarkan suara ketawa yang meringkik seperti
kuda sedangkan yang lain hanya diam saja, memandang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik.
"Hi-heh-heh-heh! Orang semuda ini berani masuk ke sini sebagai maling? Orang muda, apakah engkau
sudah bosan hidup?" bentak kakek yang memiliki suara seperti meringkik kuda itu.
Joko Handoko membalikkan tubuhnya untuk menghadapi kakek itu. Dia memandang penuh perhatian
dan merasa belum pernah mengenal kakek ini, juga belum pernah mendengar kakek yang memiliki suara
seperti ringkik kuda. Kakek ini buruk sekali. Tubuhnya kurus dan agak bongkok, usianya tentu sudah
enam puluh tahunan, mukanya hitam dan saking kurusnya nampak seperti tengkorak dengan kedua mata
yang cekung dalam menghitam. Tangan kanannya memegang sebatang tongkat hitam yang bentuknya
seperti ular. Pakiannya juga serba hitam akan tetapi terbuat dari kain yang halus dan potongannya juga
indah, dihias benang emas dan kancing emas dengan batu permata. Dia sama sekali tidak tahu bahwa dia
sedang berhadapan dengan Begawan Buyut Wewenang, orang kedua setelah Begawan Sarutomo yang
yang berkuasa di Keraton Daha sebagai guru dan penasehat raja! Joko Handoko memperhatikan tiga
orang kakek yang lain.
Yang seorang bertubuh tinggi besar dan berbadan kokoh kuat seperti raksasa, mukanya yang hitam
kasar itu penuh cambang bawuk, kelihatan menyeramkan. Kakek ini berusia sekitar lima puluh tahun dan
dia adalah Ki Bajulbiru, senjata ruyungnya yang berat selalu tergantung di pinggang kanan. Orang kedua
juga berusia sebaya, mukanya pucat seperti orang berpenyakitan, tubuhnya tinggi kurus dan pakaiannya
seperti pakaian seorang penggembala. Di pinggang belakang terselip gagang sebatang pecut yang
ujungnya dipasangi besi kaitan! Kakek ini bernama Ki Surodoyo. Orang ketiga yang usianya juga lima
puluhan, bernama Ki Banyakluwo, tubuhnya gendut bundar, mukanya selalu tersenyum menyeringai
seperti orang mengejek, gerak-geriknya lucu akan tetapi dia kejam sekali dan mudah mengayun golok
besarnya untuk membunuh orang. Tiga ini adalah para pembantu Begawan Buyut Wewenang dan
mereka memiliki kepandaian yang tinggi karena mereka bertiga ini tunggal guru dengan Ki Danyang
Bagaskoro, dari perguruan Blambangan.
Melihat mereka, Joko Handoko merasa tidak enak hatinya dan malu. Bagaimana pun juga dia tidak
mengenal mereka, tidak tahu rumah siapa yang dimasukinya dan yang jelas, dia telah bersalah, memasuki
rumah orang tanpa ijin, seperti seorang pencuri! Oleh karena itu, dia merendahka diri, membungkuk
dengan hormat kepada kakek bongkok di depannya itu.
"Harap para paman yang terhorat suka memaafkan saya. Saya bukan seorang pencuri dan tidak
bermaksud mencuri walaupun benar saya telah memasuki rumah ini. Akan tetapi saya masuk kerena
membayangi seorang yang pernah mengacau di padukuhan Sabuk Tembogo. Dia bernama gajah Putih
dan seorang temannya lagi bernama Gajah Ireng ang tadi saya lihat masuk ke dalam rumah ini."
"Tidak perlu banyak alasan lagi! Engkau sudah masuk seperti maling, dan karena itu berlutut dan
menyerahlah untuk kami tangkap," kata pula Begawan Buyut Wewenang yang belum mengenal adannya
pemuda ini, hanya tahu dari padepokan patani bahwa pemuda ini dan gadis temannya amat
mencurigakan. Keika Gajah Putih dan Gajah Ireng memasuki rumah itu, dia dan para pembantunya tahu
betapa pemuda dan gadis itupun membayangi, maka cepat dia memberi isyarat kepada Gajah Putih dan
Gajah Ireng untuk berpencar agar pemuda dan gadis itupun melakukan pengejaran, secara berpisah.
Joko Handoko mengerutkan alisnya. Tak salah lagi, pikirnya. Mereka ini tentulah teman-teman Gajah
Putih dan dia memang dipisahkan dari Wulandari timbul kekhawatiran hatinya terhadap keselamaan
Wulandari.
"Saya tidak bermaksud buruk, tidak ingin mencuri dan tidak ingin bermusuhan. Karena itu, harap paman
suka memaafkan saya dan biarlah saya keluar lagi dari rumah ini" katanya dengan sikap masih hormat.
"Ha-ha-ha, waaahh, enaknya! Berkeliaran di rumah orang tanpa ijin lalu minta maaf begitu saja dan
hendak pergi. Heh-heh, boleh, boleh, boleh asal mau merasakan dulu tajamnya golokku!" kata Ki
Banyakluwo sambil terkekeh.
"Biar kuhajar dia dengan pecutku!" kata Ki Suryudo dan dia pun sudah mencabut Pecutnya, memutar
pecut di udara dan terdengar bunyi pecut meledak-ledak.
"Berikan saja kepadaku, biar kuhantam kepalanya dengan ruyungku, hendak kulihat hanya bujat ataukah
pecah berantakan!" kata pula Ki Bajulbiru dengan suaranya yang gemuruh seperti auman harimau.
Melihat sikap mereka, Joko Handoko melklum bahwa dia telah berada di gua harimau, dan agaknya
akan sedikit sekali harapan untuk dapat keluar dari situ dengan damai.
"Nah, engkau mendengar sendiri pendapat teman-temanku, orang muda. Maka, berkutut dan
menyerahlah sebelum kami menggunakan kekerasan!" kata pula Begawan Buyut Wewenang yang segera
menduduki sebuah kursi yang dibawa datang oleh seorang pengawal. Kakek ini memandang rendah
kepada Joko Handoko dan dia sendiri sebagai pemimpin tertinggi tidak pernah atau jarang sekali turun
tangan sendiri. Cukup dengan para pengawal dan anak buahnya, atau para pembantunya saja.
Mendengar ucapan ini, Joko Handoko berdiri tegak dan kini suaranya terdengar mantap dan tegas
ketika dia berkata, "Sekali lagi aku mohon agar paman membiarkan aku keluar dari tempat ini dengan
aman dan damai."
"Dan sekali lagi kami tekankan agar engkau berlutut dan menyerah!" bentak Begawan Buyut
Wewenang.
"Kalau aku tidak menyerah?" tanya Joko Handoko, suaranya menetang.
Kini Begawan Buyut Wewenang sudah kehabisan kesabaran. "Tangkap bocah ini!" katanya kepada
para pengawalnya. Sepuluh orang perajurit pengawal berlompatan maju mengepung dan berlomba
hendak menangkap pemuda itu yang nampaknya hanya seorang pemuda yang lemah lembut
gerak-geriknya. Ajkan tetapi, Joko Handoko yang maklum bahwa kalau dia membiarkan dirinya
ditangkap maka nyawanya akan terancam bahaya, sudah dengan cepat sekali mengerakkan kaki
tangannya dan sekali dia menyambut terjangan mereka itu, empat orang perajurit terpelanting ke kanan
dan sambil mengaduh-aduh! Melihat ini, sisa para perajurit yang jumlahnya ada enam belas orang lagi itu
menjadi marah dan mereka tanpa dikomando lagi lalu menerjang ke dalam ruangan itu. Empat orang
kakek itu hanya nonton saja, membiarkan para perajurit menangkap pemuda kendel itu karena betapa
pun juga mereka, terutama sekali Begawan Buyut Wewenang merasa sungkan dan malu kalau turun
tangan sendiri menghadapi seorang pemuda yang masih hijau. Tentu saja mereka harus menjaga nama
kedudukan mereka sebagai jagoan-jagoan Kerajaan Daha.
Ruangan itu memang luas, akan tetapi kalau ada belasan orang mengeroyok, tentu saja menjadi sempit.
Dan para perajurit itu seperti serombongan nyamuk menerjang lilin saja layaknya. Setiap kali menerjang
dan disambut oleh Joko Handoko, mereka tentu terpelanting dan tersungkur atau terjengkang karena
tamparan dan tendangan pemuda perkasa itu. Suara mereka mengaduh-aduh memenuhi ruangan itu.
Tiba-tiba terdengar seruan Gajah Ireng dari luar pintu. "Para paman yang berada di dalam. Dia adalah
Joko Handoko yang telah membunuh Bopo Guru Ki Danyang Bagaskoro!"
Tiga orang kakek itu, Ki Bajulbiru, Ki Suroyudo dan Ki Banyakluwo adalah saudara-saudara
seperguruan dari mendiang Ki Danyang Bagaskoro. Mereka berempat adalah jagoan-jagoan dari
perguruan Blambangan yang dalam perantauan mereka ke barat lalu menetap di Daha dan diterima
sebagai pembantu-pembantu oleh Begawan Sarutomo dan Begawan Buyut Wewenang. Kedudukan
empat orang dari Blambangan ini sudah cukup tinggi. Ketika mereka mendengar bahwa pemuda inilah
yang membunuh saudara mereka, tentu saja mereka menjadi marah bukan main.
"Babo-babo..........! Jadi inikah jahanam itu?" bentak Ki Bajulbiru sambil mengambil ruyung besar yang
tergantung di pinggangnya.
"Dojleng-dojleng iblis laknat. Aku harus membalaskan kematian kakang Bagaskoro!" teriak Ki
Suroyudo yang melolos pula pecut yang tadi telah diselipkannya lagi ke ikat pinggangnya.
"Para perajurit mundurlah! Kami akan menghadapi tikus ini!" Ki Banyakluwo juga membentak. Sambil
mencabut golok besarnya.
Tadi tiga orang ini merasa sungkan dan malu menandingi pemuda itu karena mereka memandang rendah
dan menurunkan derajat mereka kalau mengeroyok seorang pemuda hijau. Akan tetapi setelah
mendengar bahwa pemuda itu adalah pembunuh saudara mereka, merekapun tahu bahwa pemuda itu
memiliki kesaktian, dan kemarahan membuat mereka tidak malu-malu lagi untuk maju bersama
melakukan pengeroyokan terhadap seorang lawan yang begitu masih muda.
Para perajurit pengawal cepat mundur sambil menarik teman-teman yang terluka keluar dari ruangan itu.
Hati merasa lega karena mereka tadi masih belum roboh sebelumnya mereka merasa gentar sekali
mengahapi amukan pemuda perkasa itu. Pemuda itu demikian kuatnya,bahkan menangkisi senjata tajam
dengan kedua tangan begitu saja tanpa terluka sedikitpun. Kini mereka keluar dan hanya berjaga di luar
pintu untuk mengepung pemuda itu. Begawan Buyut Wewenang hanya nonton, masih duduk di kursinya,
sikapnya tenang seolah-olah kehebatan pemuda itu bukan apa-apa baginya. Dia ingin melihat apakah tiga
orang pembantunya akan berhasil mengalahkan pemuda perkasa ini.
Kini tiga orang kakek itu sudah melangkah maju dengan senjata masing-masing, mengepung Joko
Handoko dengan membentuk segi tiga. Seorang, yaitu Ki Bajulbiru, langsung berhadapan dengan
pemuda itu sedangkan dua orang temannya. Ki Suroyudo dan Ki Banyakluwo datang diri kanan kiri
agak ke belakang Joko Handoko dkepung dari tiga penjuru dan dia berdiri tegak dengan sikap tenang.
Dia maklum bahwa bicara lagi tidak ada gunanya. Agaknya merek ini merupakan komplotan dari Gajah
Putih dan Gajah Ireng bersama guru mereka. Dia sudah membunuh Ki Danyang Bagaskoro, maka tentu
saja mereka tidak akan mau melepaskan dia begitu saja. Yang membuat dia merasa gelisah adalah kalau
dia teringat kepada Wulandari. Bagaimana nasib gadis itu? Gadis itu tadi membayangi Gajah Ireng dan
kini Gajah Ireng sudah muncul di situ, ketika berteriak memperenalkan dirinya. Akan tetapi, dalam
keadaan gawa seperti itu, Dia menyingkirkan rasa khawatirnya terhadap keselamatan Wulandari dan
bersikap waspada menghadapi pengepungan tiga orang lawannya. Dia dapat menduga bahwa mereka
tentulah orang-orang pandai yang memiliki tingkat seperti Ki Danyang Bagaskoro. Karena itu, melihat
betapa tiga orang lawan sudah memegang senjata masing-masing, diapun cepat maraba gagang kerisnya
dan segera, nampak sinar berkilat ketika Keris Pusaka Nogopasung sudah telanjang dalam genggaman
tangan kanannya.
"Tar-tar-taaaarrrr..................!" Cambuk berujung kaitan besi di tangan Ki Suroyudo meledak-ledak di
atas kepala Joko Handoko. Akan tetapi garakan itu hanya merupakan gertak saja Joko Handoko
tetap.......berdiri tegak, tidak menjadi panik.
Aaahhhhhhh......................!" Ki Bajulbiru menggereng dan tiba-tiba tubuhnya yang tinggi dan besar itu
menerjang ke depan, ruyung di tanga kanannya menyambar. Ruyung itu beratnya tidak kurang dari dua
puluh lima kati, digerakkan oleh tenaga yang kuat maka menyambar dahsyat sekali ke arah kepala Joko
Handoko dalam serangan pertama yang langsung datang dari depan itu.
Joko Handoko dengan sikap tenang menggeser kaki dan memutar tubuhnya miring ke kiri.
"Wuutttttt......." Ruyung itu menyambar di samping kepala Joko Handoko. Angin pukulan yang dahsyat
itu masih bertiup dan membuat rambut pemuda itu berkibar.
"Singgggg........!" Golok menyambar ke arah lambung Joko Handoko ketika Ki Banyakluwo menyambut
elakannya dari sambaran ruyung tadi, disusul oleh suara ledakan pecut dari atas.
"Syuuuuuuuttt............!" Ujung cambuk itu menyambar turun, seperti patuk seekor burung menyerang
ubun-ubun kepala pemuda itu!

13BersambungKEN AROK - EMPU GANDRING-22.