Nyai Ageng Tumengkang Sari

08:31
Nyai Ageng Tumengkang Sari
Seperti cerita tentang Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso, ada cerita yang hampir mirip terjadi di Gresik, khususnya di Dusun Sumur Songo yang kini menjadi Desa Sidokumpul. Dan cerita ini semakin dikuatkan oleh penuturan dari pengurus Makam Sumur Songo, Mbah Amin yang sudah berusia 65 tahun yang telah lama mengabdikan diri untuk menjaga makam ini.
Bedanya hanya tipis sekali, yaitu bentuk permintaan yang diberikan oleh si perempuan kepada sang peminangnya. Kalau Roro Jonggrang minta dibuatkan seribu candi dalam waktu semalam oleh Bandung Bondowoso, cerita dari Gresik ini yang tidak lain adalah kisah dari Nyai Ageng Tumengkang Sari yang minta dibuatkan sepuluh sumur oleh seorang Pangeran dari Kerajaan Majapahit.
Syahdan, Nyai Ageng Tumengkang Sari adalah seorang putri yang sangat ayu dan rupawan, yang merupakan putri dari Sunan Wruju, yang tidak lain adalah putra dari Sunan Giri. Tidak jauh berbeda dengan cerita Roro Jonggrang, Nyai Ageng Tumengkang Sari ingin dipinang oleh seorang pangeran tampan dari Kerajaan Majapahit yang juga terkenal sakti mandraguna yang sedang berkunjung ke Kerajaan Giri suatu waktu.
Wajah tampan, kesaktian dimiliki, namun sayang… Pangeran tersebut berbeda agama dengan Nyai Ageng Tumengkang Sari. Hatinya bergejolak, bagaimana bisa ia menerima lamaran dari seseorang yang berbeda keyakinan dengannya??? Ia adalah cucu dari seorang Sunan yang menyebarkan ajaran Agama Islam di Pulau Jawa ini, sedangkan pangeran tersebut berasal dari Kerajaan Majapahit yang dikenal menganut Agama Hindu.
Ingin rasanya Nyai Ageng Tumengkang Sari segera menolaknya, namun ia berpikir panjang. Apabila ia langsung menolak lamaran pangeran tersebut, maka pertumpahan darah pun terjadi, karena bisa dipastikan pangeran tersebut merasa malu dan tidak terima telah ditolak oleh Nyai Ageng Tumengkang Sari. Karena masih belum menemukan alasan yang tepat, akhirnya Nyai Ageng Tumengkang Sari memutuskan untuk turun gunung, meninggalkan Kerajaan Giri dan bersembunyi ke salah satu dusun yang sekarang berada di daerah Jalan Panglima Sudirman.
Dalam persembunyiannya tersebut, ia ditemani oleh pengasuhnya yang bernama Mbah Susilowati dan Mbah Singo sebagai pengawal pribadinya. Dengan mengandalkan keahliannya, ia pun banyak menolong warga setempat yang ingin melahirkan, coro Jowoné ngunu dadi dukun bayi…
Dalam persembunyiannya tersebut, selain ditemani oleh pengasuh dan pengawal pribadinya, ia juga diantu oleh Mbah Mbrojol, yang membantu menyiapkan racikan godhong-godhongan untuk orang yang telah melahirkan. Resep yang sudah diberikan oleh Nyai Ageng Tumengkang Sari, kemudian ditumbuk di sebuah pipisan sing mirip alu karo lumpang, sing biasané digawé ngalusno jamu.
Kembali ke cerita pangeran dari Kerajaan Majapahit…
Mendengar Nyai Ageng Tumengkang Sari melarikan diri dari Kerajaan Giri, pangeran tersebut akhirnya mencari tahu dimana keberadaan putri cantik yang ingin segera dipinangnya itu. Dengan mengerahkan pasukannya dan mengandalkan kesaktian yang dimilikinya, akhirnya pangeran tersebut dapat menemukan panggonané Nyai Ageng Tumengkang Sari dan menanyakan kembali perihal lamarannya yang sempat tertunda itu.

Nyai Ageng Tumengkang Sari pun memutar otak, mencari akal bagaimana caranya ia bisa menolak lamaran tersebut. Sepintas yang ada di pikirannya saat itu adalah memberikan persyaratan yang sekiranya tidak bisa dipenuhi oleh pangeran tersebut.
Maka, ia pun berkata :“Aku gêlêm dadi bojomu, tapiné onok syaraté”, jaré Nyai Ageng Tumengkang Sari.
Ngroso nèk kesaktiané diukur, Pangeran dari Kerajaan Majapahit itu pun sesumbar : “Syarat opo sing Nyai jaluk, mêsthi tak turuti…”
Nyai Ageng Tumengkang Sari pun menyampaikan persyaratannya : “Nèk sak wêngi iki sampèan isyok nggawèkno éson sumur akèhé sepuluh, tak têrimo lamaranmu…”.
Dengan penuh percaya diri, Pangeran dari Kerajaan Majapahit itu pun menyanggupi persyaratan yang diajukan oleh Nyai Ageng Tumengkang Sari. Sementara itu, Nyai Ageng Tumengkang Sari begitu gelisah dan berusaha mencari akal untuk menggagalkan pinangan Pangeran tersebut. Nyai Ageng Tumengkang Sari kemudian berdoa meminta petunjuk dan pertolongan kepada Allah SWT.
Setelah selesai membuat sepuluh sumur sesuai dengan permintaan dari Nyai Ageng Tumengkang Sari, Pangeran pun menunjukkan hasil pekerjaannya dan berniat menagih janji kepada Nyai Ageng Tumengkang Sari untuk menjadi istrinya.
Nyai Ageng Tumengkang Sari akhirnya menemui pangeran dan melihat sumur yang telah di buatnya, kemudian ia menduduki salah satu sumur tersebut. Setelah itu, ia pun menghitung sumur- sumur yang ada tanpa menghitung sumur yang didudukinya…
“Siji, loro, têlu, … songo. Êndi, kok mèk songo ngéné? Kurang siji sumurmu iki, Pangeran…”, kata Nyai Ageng Tumengkang Sari.
Pangeran pun tidak percaya dan mencoba menghitung sumur-sumurnya yang sudah dibuatnya. Mboh gak ndêlok, mboh kêlalèn, Pangeran tersebut tidak menghitung satu sumur yang diduduki oleh Nyai Ageng Tumengkang Sari, hingga pada ahirnya sang Pangeran menyerah dan mengakui kekalahannya.
Karena kegagalannya nglamar Nyai Ageng Tumengkang Sari, pangeran tersebut pun marah dan menyampaikan sumpah serapahnya : “Arèk wèdok dusun kéné ojok onok sing nolak lamarané wong lanang manèh, sampèk onok sing nolak lamaranè wong lanang manèh koyok sing tak rasakno, dadi perawan tuwo sak lawasé…”.
Setelah berhasil menggagalkan lamaran Pangeran tersebut, Nyai Ageng Tumengkang Sari pun kembali melakukan kegiatannya untuk menolong para penduduk yang melahirkan. Namun entah karena terkena sumpah dari sang Pangean atau memang secara kebetulan, beliau meninggal di usia yang masih muda dan belum sempat menikah hingga maut menjemputnya.
Dari cerita inilah, ahirnya dusun tesebut dinamakan Dusun Sumur Songo. Adapun kearifan lokal yang berkembang di dusun ini selanjutya adalah bahwa makam Nyai Ageng Tumengkang Sari ini memiliki karomah, dapat memberikan kegangsaran atau kelancaran dalam proses melahirkan. Air dari Sumur Songo sendiri dipercaya dapat memberikan kesembuhan segala penyakit.
Biasanya, warga yang berasal dari Giri Gresik dan Dusun Sumur Songo, jika akan melahirkan, mereka membawa minyak kelapa kemudian membaca doa meminta kegangsaran kepada Allah SWT atas proses kelahiran anggota keluarganya, sambil mengirim doa kepada Nyai Ageng Tumengkang Sari, kemudian minyak yang dibawaya tersebut ditukarkan kepada sang juru kunci. Setelah mendapatkan minyak baru dari sang juru kunci, minyak tersebut dioleskan pada perut anggota yang mau melahirkan dan diyakini hal tersebut dapat memberikan kegangsaran atas proses persalinan.
Oleh : Lailiyatun Nafiah 
(Sumber: Buku Sang Gresik Bercerita karya komunitas Mata Seger bekerja sama dengan PT Smelting/roz)
sth

Artikel Terkait

Previous
Next Post »