ANTARA MITHOS DAN FAKTA

04:44
ANTARA MITHOS DAN FAKTA
* Sebuah kasus literasi perjumpaan Serat dengan Prasasti.

----- Hanya dari sebuah kalimat : "Walu rumambat ing natar" yg tercantum pada isi prasasti Sangguran (850 S = 928 M) dari zaman raja Dyah Wawa di kerajaan Medang.,
dengan kalimat serupa di dlm mithos Ki Ageng Sela; dari "Serat Rerenggan Kraton" (SRK) semasa raja HB IV di kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (1814 M+) - - -
telah tersambung sebuah nilai normatif yg mewakili gambaran bagaimana unsur "LOCAL GENIUS" (kearifan lokal) Nusantara masih lestari, mengarungi 9 abad atau hampir satu millenia peredaran zaman.

I. MITHOS KI AGENG SELA
----- Ki Ageng Sela alias Ki Ngabdul Rohman mrpk sesepuh yg sangat disegani di padukuhan dusun Sela. Mengingat pd zaman doeloe literasi (bacaan) hanya dikenal oleh segelintir golongan saja, maka praktis bagi rakyat yg awam (dan 'buta aksara') mengenal berbagai ceritera secara tutur tinular ; akibatnya kemudian karakter tokoh dari sebuah Serat berkembang menjadi mithos yg hidup bersama dgn masyarakat tradisi Jawa yg menganggap Ki Ageng Sela begitu sakti mandraguna, kharismatik, dan populer.
*] catt. : bahkan bila hari hujan disertai suara guruh dan sambaran petir yg menyiutkan nyali ; orang akan mengucapkan :
" Gandriik - - - saya masih keturunan dari beliau Ki Ageng Sela !!"
tentulah dgn tujuan mengingatkan Petir agar tidak mencelakai dan segera berlalu.

I. A. MENANGKAP PETIR
----- Dikisahkan pd suatu hari, Ki Ageng Sela dikagetkan dgn kedatangan Petir (Jawa: Gelap) yg sosoknya menyerupai seorang lelaki di kebunnya. Sigap Petir itu diringkusnya diikat erat kemudian diserahkan kepada Sultan Alam Akbar (Rd. Patah) Raja di Demak Bintara. Sang Petir dimasukkan di dlm kerangkeng besi untuk tontonan warga Demak selama bbrp waktu, dgn larangan tak boleh memberinya air minum.
Nyi Gelap, pasangan sang Petir setelah menjelma menjadi seorang nenek tua mengecoh para prajurit penjaga dan berhasil memberinya minum, hingga sang Petir pulih dan kabur setelah meledakkan kerangkeng besi.
Semenjak kejadian itu, konon Petir tidak berani lagi menampakkan diri di wilayah Demak.

I.B. BENDHE "KI BICAK"
----- Tersebutlah rombongan pengamen wayang keliling (mbarang jantur) berpentas 'tarkam', dipimpin Dhalang Ki Bicak. Rombongan wayang ini sangat digemari sbg hiburan warga, ditambah istri sang dhalang yg rupawan dan kabar tentang kecantikannya menjadi buah bibir.
Sampailah pd suatu hari rombongan wayang tsb di dusun Sela, dan segera berpentas. 
Ki Ageng demi melihat paras jelita istri Ki Dhalang, berikut bendhe (canang, sejenis Gong kecil) yg bunyinya begitu memikat hati tergiur ingin memiliki, langsung merebut paksa istri dan Bendhe, bahkan sang dhalang menemui ajal dikeroyok warga dusun.
Bendhe ajaib tsb diberi nama "Ki Bicak" sesuai nama sang dhalang, menjadi pusaka ayudha ; sebab bila ditabuh bergaung lantang > pertanda pemiliknya akan menang perang, sebaliknya bila bunyinya tak bersemangat menandakan akan asor. . Ki Ageng mempersembahkan bendhe tsb kepada Sunan Kalijaga sbg tanda baktinya.

I.C. MENAMAN LABU DI HALAMAN
----- Pada suatu siang, Ni Pakismadi ,putri ke-6 yg masih bocah menangis, dgn selendang Ki Ageng mengembannya berusaha menenangkannya di halaman rumah yg ditanami Labu yg menjalar lebat.
Mendadak terjadi keributan, banyak orang berlarian menyelamatkan diri, seseorang mengamuk dgn senjata terhunus mendatangi dan menusuk dari belakang, walau tak terluka Ki Ageng yg bermaksud menghindar terjatuh karena kakinya terserimpet tanaman labu, terlebih kain bermotif cindhe yg dikenakan asal sekenanya seketika terlepas lolos hingga sesaat Ki Ageng telanjang.
Sigap Ki Ageng bangkit membenahi kainnya, lalu dgn sekali tabok pengamuk tadi tewas di tempat.
Akibat kejadian memalukan itu, Ki Ageng menabukan anak keturunannya menanam labu di halaman (Walu rumambat ing natar), apalagi sampai memakan buahnya.
Senada dgn itu juga melarang berkain motif cindhe tanpa diikat bebad dan sabuk.

Il. PRASASTI 
----- Prasasti Sangguran ditemukan di daerah Ngandat - Malang. Peninggalan Dyah Wawa, penguasa Medang -penggagas berpindahnya pusat kerajaan, dari Jateng ke Jatim (sebelum raja mPu Sindok). 
Prasasti ini mengandung ancaman dan kutukan yg mengerikan bagi siapa saja yg berani lancang mengusiknya.

Semasa Raffles berkuasa di Jawa, prasasti batu Sangguran dikapalkan ke Skotlandia lnggris dan berada di rumah Lord Minto (gubernur jendral EIC di lndia), karenanya Prasasti Sangguran juga kerap disebut sbg "Minto Stone", bertanggal 2 Agustus 928 M.
----- Prasasti beraksara Jawa kuna dan berbahasa Sanskerta ini di bagian isinya juga memuat hal "Sukhadukha" atau aturan Hukum (mungkin semacam Rewards & Punishment), yg di antaranya berbunyi :" Walu rumambat ing natar" - - - ditafsirkan sbg larangan terkait sengketa atas hak milik Tanah; yg diibaratkan dgn kalimat PERLAMBANG : tanaman labu yg sulurnya merambat kemana- mana di halaman Rumah. Sebuah pelanggaran berat yg layak dipidana atau dihukum denda.

Ill. TITIK TEMU
----- Bahwa nilai-nilai hukum Lama (sukhadukha) tentang pelanggaran menguasai kepemilikan yg sah atas Tanah orang lain yg bukan hak miliknya, mrpk tindakan tak terpuji dan dapat dikenakan pasal pidana dan atau denda.

Walaupun larangan atau pasal hukum itu ditampilkan melalui PERLAMBANG. - - - ternyata beberapa abad kemudian nilai-nilai semacam itu masih tetap dilestarikan, meski ditemukan di dalam struktur sebuah cerita yg berkembang menjadi mithos di dlm masyarakat penerus tradisi (dlm hal ini : Jawa), bagaimana ayat-ayat hukum di sebuah Prasasti di kemudian hari menjelma muncul kembali dalam bentuk cerita perlambang di sebuah Serat berupa pantangan melakukan pelanggaran hukum sebab akan menuai buah risikonya.
----- Itulah perlambang tentang menanam Labu di halaman.
Bagaimanakah tafsir perlambang atas :
*) Gelap (Petir) ?
*) Bendhe (Canang) ?
*) Berkain cindhe ?
*) dll. Perlambangan di dlm Serat, Babad, Suluk, Kidung lainnya ?

R a h a y u .
========
sumber :
1) Cornelis Christiaan Berg, : "Penulisan Sejarah Jawa", Bhratara Karya Aksara, Jakarta, 1974.
2) Aryono (translit), :"Serat Rerenggan Keraton", Balai Pustaka, Jakarta, 1981.
3) S. Padmosoekotjo, "Ngengrengan Kasusastran Djawa", jilid ll, Penerbit Hien Hoo Sing, Yogyakarta, 1960.
4) Yogi Pradana, "Peran Epigrafi untuk Menyusun Sejarah lndonesia" Blog Arkeologi Djulianto Susatio, hurahuradotwordpressdotcom

======
*) petikan pupuh Asmaradana (SRK)

Artikel Terkait

Previous
Next Post »