KEN AROK - EMPU GANDRING-18.

04:57
KEN AROK - EMPU GANDRING-18.
"Jahanam keparat!" Gajah Putih memaki dan tiba-tiba diapun menyerang dengan kedua tangannya,
serangannya kuat sekali karena raksasa itu telah mengerahkan tenaganya untuk menghadapi pemuda
yang dia tahu bukan lawan yang boleh dipandang ringan itu. Joko Handoko juga maklum bahwa
lawannya ini lebih kuat dibandingkan Gajah Ireng, maka dia pun tidak berani memandang rendah, cepat
mengelak dengan loncatan ke samping, membiarkan tubuh lawan meluncur lawat dan dia pun membalas
dengan cengkeraman ke arah pundak lawan dari samping.
"Hehh!!" Gajah Putih membentak dan menangkis dengan tangannya yang bersarung tangan sambil
menggerakkan tenaga karena dia sengaja ingin mengadu tenaga dan mengukur sampai di mana kekuatan
lawan.
"Dukkk!" dua tenaga raksasa bertemu dan Joko Handoko terhuyung-huyung hampir roboh. Semua
orang, terutama Wulandari, terkejut dan semakin khawatir. Hanya seoranglah yang tahu bahwa pemuda
itu hanya pura-pura saja. Tadi ketika terjadi adu tenaga, Gajah Putih merasa betapa tenaga pemuda itu
amat kuatnya, membuat tubuhnya tergeletar hebat.
Saking khawatirnya akan keselamatan pemuda itu, kembali Wulandari berseru nyaring, "Kakang
Handoko, kau harus menggunakan senjata! Kau bisa memakai senjata apakah? Cepat bilang, akan
kuambilkan dan kupinjamkan untukmu!"
Mendengar ini Gajah Putih tertawa dan bangkit kembali kesombongannya. Memang dengan
perlindungan serung tangan, dia tidak takut menghadapi senjata lawan amacam apapun juga. "Ha-ha-ha,
orang muda, cepat kau mengambil senjata sebelum kau mampus di tanganku!"
"Celeng Putih, aku sudah memiliki senjata!" dan Joko Handoko memungut sebatang lidi dari atas tanah.
Agaknya sebatang lidi itu terlepas dari ikatan sapu lidi dan dia menemukan benda itu lalu diambilnya dan
diakuinya sebagai senjata. Tentu saja semua orang berseru kaget dan heran. Mana mungkin orang
berkelahi menggunakan sebatang lidi saja sebagai senjata?
Gajah Putih juga terkejut dan heran. Sudah gilakah pemuda itu? Akan tetapi sebagai seorang yang sudah
banyak makan asam garamnya perkelahian, sikap pemuda itu membuat dia semakin hati-hati. "Engkau
memilih lidi itu untuk senjata? Baik, bocah sombong, aku akan mematah-matahkan semua tulang di
tubuhmu seperti batang lidi itu!" dan diapun sudah menerjang maju lagi dengan kedua tangannya yang
bersarung tangan.
"Heiiiittt........!" dengan tangannya yang besar, Gajah Putih menyerang cepat, tangan kanannya
mencengkeram ke arah kepala Joko Handoko dan tangan kirinya menyusul dengan tonjokan ke arah
perut.
"Ahhh.....!" Joko Handoko mengelak, hanya miringkan tubuh saja dengan menggeser kaki ke belakang.
"Luput....!" ejeknya dan dia pun membuat gerakan seperti orang menari-nari, mengelilingi tubuh lawan.
Gerakannya demikian lemas dan anggun, seperti seorang penari yang mahir sehingga kini semua orang
berseru kagum.
"Hyaaattt.....!" Kembali Gajah Putih menyerang lebih hebat, menubruk dari samping selagi Joko
Handoko menari-nari dan miringkan tubuh membelakanginya. Tubrukan itu berbahaya sekali.
"Eiihhh......?" Joko Handoko dapat mengelak lagi dengan cepat dan membuat gerakan indah, kaki kanan
diangkat, kaki kiri ditekuk dan kedua tangan diangkat ke atas seperti seekor burung hendak terbang, lalu
tiba-tiba tangan kanan yang memegang lidi itu bergerak ke bawah, dan batang lidi itu pun tergetar di
tangannya.
Gajah Putih terkejut ketika melihat batang lidi itu tiba-tiba meluncur ke arah mata kirinya. Biarpun hanya
sebatang lidi, kalau sampai menusuk mata bisa berbahaya juga. Diapun mengerti bahwa benda apa saja,
kalau berada di tangan orang pandai, dapat menjadi senjata yang berbahaya.
"Ihhhh....!" Dia tanpa disadarinya mengeluarkan seruan kaget ini dan cepat memiringkan kapala sambil
menangis dan sekaligus mencengkeram dan merampas batang lidi itu. Akan tetapi, tiba-tiba saja batang
lidi yang amat kecil itu dan digerakkan dengan amat cepatnya itu lenyap dari tangkapan sinar matanya
dan tahu-tahu daun telinga kanannya telah tertembus batang lidi.
"Keparat!" dia membentak lagi dan menubruk, kedua tangannya dipentang seperti seekor beruang yang
menyerang mangsanya. Joko Handoko mengimbangi gerakannya dan kini kedua orang itu terlibat dalam
gerakan serang-menyerang amat cepat dan kuatnya. Wulandari sudah bereru girang.
"Haa, telinga celeng itu sudah terluka." Ia dan ayahnya dapat melihat ketika daun telinga itu tertembus
batang lidi dan dia pun kagum setengah mati. Kini baru terbuka matanya, baru ia tahu dan yakin benar
bahwa Joko Handoko sesungguhnya adalah seorang pemuda perkasa yang memiliki kesaktian hebat,
jauh lebih tinggi daripada kemampuannya,bahkan jauh lebih hebat daripada ayahnya.
"Ah, lengannya tembus batang lidi!" teriaknya.
"Nah, sekarang pahanya tembus! Pundaknya! Eh, hidungnya....!" Ia berteriak-teriak dan semua
penonton memandang terbelalak penuh keheranan. Mereka, para perajurit dan anggota Sabuk Tembogo
tidak dapat mengikuti perkelahian itu dengan baik, akan tetapi mendengar seruan-seruan Wulandari,
mereka memandang penuh perhatian dan memang benar, bagian yang disebut itu nampak berdarah dan
darah itu mulai menetes-netes turun membasahi lantai.
Memang hebat sekali Joko Handoko dengan batang lidinya. Senjata istimewa itu bergarak cepat dan
seperti jarum saja,batang lidi itu menembus lengan, paha, pundak, bahkan batang hidung Gajah Putih
kebagian pula ditembus lidi dari samping kiri menembus samping kanan. Luka-luka itu kecil saja, akan
tetapi amat perih rasanya dan darah pun menetes-netes.
Namun Gajah Putih sudah menjadi nekat. Dia tahu bahwa dia tidak akan menang, akan tetapi pemuda
itu terlalu menghina dan mempermainkannya dan dia sudah haus darah. Dia harus membunuh pemuda
itu!"
"Celeng busuk, pergilah!" tiba-tiba Joko Handoko berteriak dan begitu kedua tangannya membuat
gerakan mendorong, angin yang keras sekali membuat tubuh Gajah Putih yang tinggi besar itu
terjengkang dan terguling-guling. Itulah jurus Nogopasung yang dilakukan oleh Joko Handoko dengan
mengendalikan tenaganya karena dia tidak ingin membunuh orang.
Gajah Putih bangun dan dibantu oleh Gajah Ireng. Mukanya yang putih belepotan darah yang
menetes-netes dari hidung dan telinganya, juga bajunya penuh darah yang menetes keluar dari luka-luka
tusukan batang lidi. Keduanya menatap Joko Handoko dengan mata mendelik kemudian Gajah Ireng
memondong tubuh kakaknya yang nampak lemas, dan sekali meloncat, dia sudah lenyap dari situ,
melarikan diri keluar dari tempat itu tanpa pamit.
"Kakang Handoko.......!" Wulandari berlari menghampiri Joko Handoko dan tanpa malu-malu lagi gadis
itu memegang kedua tangan pemuda itu dan memandang dengan penuh kekaguman."Engkau nakal,
Kakang! Selama ini engkau menipuku, pura-pura sebagai seorang pemuda lemah dan bodoh! Kiranya
engkau seorang pendekar yang berilmu tinggi!"
Ki Bragolo juga menghampirinya dan berkata, "Anakmas Joko Handoko, terima kasih. Andika teah
membikin terang aliran kami." Kemudian kakek ini menghampiri Ranunilo dan menegur, "Sahabat
Ranunilo, apa artinya semua ini? Siapakah dua orang yang sombong dan hendak menghina kami itu?"
Sejak tadi Ranunilo tertegun. Segala hal yang terjadi dengan amat cepatnya, di luar kekuasaannya. Dia
tadinya girang sekali memperoleh pembantu-pembantu yang sehebat Gajah Putih dan Gajah Ireng. Akan
tetapi diapun merasa tak setuju dan gelisah ketika melihat dua orang itu mepermainkan orang-orang
Sabuk Tembogo dan menghina, namun dia tidak dapat melarang mereka yang baru saja menjadi
pembantunya. Kemudian, muncul pemuda luar biasa itu, yang memberi hajaran kepada dua orang
pembantu barunya sehingga kedua orang itu malarikan diri tanpa berpamit darinya. Dia lalu bangkit
berdiri dengan muka menyesal.
"Maafkan aku, paman Bragolo," katanya dengan hormat. "Sesungguhnya, mereka berdua baru saja
menjadi pemabantu pasukanku ketika kami bertemu di jalan dengan mereka, sehingga aku belum
mengenal benar siapa sebetulnya mereka. Dan aku tidak mengira bahwa adu ilmu untuk menggembirakan
suasana telah berubah menjadi seperti ini. Sungguh membikin kami merasa tidak enak sekali. Sebaiknya
kami pulang saja malam ini ke Tumapel. Kami harap paman suka mengantarkan sang puteri kembali ke
Tumapel besok pagi, menghadap sang senopati agar segala hal dibikin beres."
Ki Bragolo mengangguk. "Baiklah, besok aku sendiri bersama Wulandari akan mengantar sang puteri
kembali ke Tumapel dan kami akan mengharapkan kebijaksanaan kanjeng senopati untuk membebaskan
murid-murid kami yang memang tidak bersalah."
Ranunilo lalu mengumpulkan anak buahnya dan malam itu juga mereka turun dari lereng Kawi untuk
kembali ke Tumapel. Kepada Senopati Pamungkas, Ranunilo melaporkan keadaan apa adanya di sarang
Sabuk Tembogo, akan tetapi dia tidak berani melaporkan tentang Gajah Putih dan Gajah Ireng yang
menimbulkan kekacauan itu. Mendengar betapa puterinya berada di sarang Sabuk Tembogo sebagai
tamu agung, dan dalam keadaan selamat, bahkan besok pagi akan diantar pulang oleh Ki Bragolo sendiri
bersama puterinya, hati sang senopati menjadi lega. Dan diam-diam dia mulai memikirkan kemungkinan
fitnah yang dijatuhkan orang kepada orang-orang Sabuk Tembogo yang biasanya amat setia kepada
Kadipaten Tumapel.

****
Dengan penuh kagum dan gembira, Ki Bragolo dan semua anak buahnya kini manjamu Joko Handoko.
Bahkan sang puteri Dewi Pusporini yang mendengar dari Wulandari tentang segala keributan yang
terjadi, berkenan keluar dari kamarnya dan ikut pula berpesta untuk menghormati Joko Handoko. Sang
puteri duduk semeja dengan Wulandari, ditemani Ki Bragolo dan Joko Handoko sendiri.
"Sungguh kami tidak menyangka sama sekali, nakmas Handoko. Ketika andika datang bersama
Wulandari, kami semua tidak mengira bahwa andika adalah seorang pendekar sakti akan tetapi, tetap
saja aku merasa seperti pernah mengenalmu, pernah berjumpa denganmu. Yakinkah andika bahwa kita
tidak pernah saling jumpa, namas?"
Joko Handoko tersenyum dan menggeleng kepala, "Saya yakin bahwa baru sekarang ini kita saling
bertemu, Paman."
"Biasanya engkau menyimpan rahasiamu, kakang Handoko. Aih, betapa malu aku kalau teringat betapa
aku telah berusaha melindungimu dari perampok-perampok cilik itu, dan memandang rendah padamu
karena kukira engkau seorang pemuda yang lemah. Sekarang aku baru mengerti mengapa engkau begitu
tenang ketika dikepung perampok. Dulu aku terheran-heran mengapa seorang pemuda lemah memiliki
nyali sebesar itu. Kau sungguh nakal!" Wulandari berkata dan pandang matanya yang ditujukan kepada
wajah pemuda itu penuh kekaguman yang dinyatakan secara terbuka, tanpa tendeng aling-aling sehingga
siapapun akan dapat melihat jelas bahwa gadis ini tergila-gila atau jatuh cinta kepada Joko Handoko.
"Eh, kenapa andika diam saja, mbakayu Dewi? Bagaimana pendapatmu tentang Kakang Handoko?"
Wulandari kini sudah akrab sekali dengan Dewi Pusporini dan menyebutnya mbakayu seperti yang
diminta oleh gadis bangsawan itu yang menyebut diajeng kepada Wulandari.
Dewi Pusporini tersenyum dan mukanya berubah agak merah. "Ah, apa yang harus ku katakan? Ketika
pertama bertemu, aku mengira bahwa Joko Handoko adalah sekutumu, setidaknya murid Sabuk
Tembogo. Kemudian dari percakapan kalian aku baru tahu bahwa di antara kalian tidak ada hubungan
apa-apa. Dan melihat sikapnya yang lemah lembut, aku pun tidak mengira bahwa dia seorang pendekar
yang sakti. Sayang aku tidak menyaksikan adu ilmu yang terjadi di sini."
"Engkau lelah dan perlu istirahat, mbakayu Dewi, maka aku tidak berani mengganggumu. Apalagi,
orang-orang itu kasar-kasar sekali, tentu akan menyinggung perasaanmu yang halus kalau engkau hadir."
Joko Handoko yang tadi hanya tersenyum saja mendengarkan pujian Ki Bragolo dan Wulandari, kini
menundukkan mukanya mendengar ucapan Dewi Pusporini. "Ah, sebetulnya saya hanya orang biasa saja
yang pernah mempelajari satu dua macam jurus pukulan, dan kebetulan saja tadi Gajah Putih dan Gajah
Ireng lengah sehingga saya berhasil mengungguli mereka. Tidak ada yang patut dikagumi."
Sikap Joko Handoko yang merendahkan diri itu membuat Ki Bragolo semakin suka kepada pemuda ini.
Dan diam-diam timbul niat di dalam hatinya. Dia melihat jelas betapa puterinya, yang sejak kecil memang
berwatak polos dan terbuka, telah jatuh hati agaknya kepada Joko Handoko. Dan dia sendiri akan
merasa beruntung kalau pemuda yang sakti ini bisa menjadi mantunya. Dan mengapa tidak? Asal dia tahu
riwayat pemuda ini, siapa orang tuanya, siapa pula gurunya. Mudah-mudahan saja pemuda ini belum
menjadi suami orang.
"Anakmas Joko Handoko, kalau boleh kami mengetahui, anakmas datang dari manakah?"
"Saya datang dari lereng Gunung Anjasmoro, paman."
"Dari lereng Anjasmoro? Ah, dari dusun manakah?"
"Dari.... Kadipaten Wonoselo, Paman." Jawab Joko Handoko, teringat akan ayah tirinya yang menjadi
yang menjadi kaponakan Adipati Wonoselo dan tinggal di sana. Dia harus barhati-hati sekali. Kalau
sampai Ki Bragolo mengatahui bahwa dia adalah putera kandung mendiang Raden Ginantoko, tentu saja,
tentu pertemuan itu akan berubah menjadi amat tidak enak. Tidak perlu dia merusak suasana dengan
memperkenalkan ayahnya.
"Ah, aku tahu tempat itu," kata Ki Bragolo mengangguk-angguk. "Dan siapakah ayahmu?Ayahmu orang
Wonoselo kah?"
Joko Handoko manunduk mukanya sebentar sambil menggeleng. "Bukan, Paman. Ayah kandungku
telah meninggal dunia. Kini hanya tinggal ibu dan ayah tiriku."
"Siapakah ayah tirimu?" Ki Bragolo tidak mendesak menanyakan nama ayah kandung yang sudah
meninggal dunia itu.
"Ayah tiri saya bernama Pringgojoyo."
Ki Bragolo mengangguk-angguk. Dia tidak mengenal nama itu, akan tetapi nama itu manunjukkan
bahwa ayah tiri pemuda ini adalah seorang bangsawan, hal ini dapat diketahui dari namanya. Setidaknya,
bukan nama seorang dusun.
"Dan ilmu silatmu yang hebat itu, dari aliran manakah dan siapa yang mengajarmu, anakmas?"
"Dari seorang pendeta bernama Panembahan Pronosidhi yang sakti mandraguna itu! Aku tahu siapa
beliau. Apakah sang Panembahan masih sehat-sehat saja?"
Joko Handoko menundukkan mukanya. "Beliau telah meninggal dunia, paman."
"Ah, sayang sekali. Akan tetapi tentu anakmas telah mewarisi ilmu-ilmu kapandaiannya. Kini aku tidak
heran mengapa semuda ini anakmas telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, kiranya murid sang
Panembahan Pronosadhi!"
"Ayah, kakang Handoko malah kenal baik dengan Empu Gandring."
"Begitukah? Pantas....pantas.....seorang pendekar muda sakti tentu saja kenal baik dengan seorang sakti
seperti Empu Gandring!" Ki Bragolo manjadi semakin girang dan kagum.
Joko handoko diam saja karena membicarakan kakeknya dan Empu Gandring berarti sedikit-sedikit
menyingkap tabir rahasia keluarganya dan dia tidak atau belum mau memperkenalkan keluarganya,
terutama mendiang ayah kandungnya kepada keluarga Sabuk Tembogo ini.
Setelah makan minum selesai, Ki Bragolo mengajak Joko Handoko untuk bercakap-cakap di ruangan
depan, sedangkan Dewi Pusporini dan Wulandari masuk ke ruangan belakang.
"Anakmas Joko Handoko, maafkan pertanyaanku ini kalau terlalu menyangkut urusan pribadi," setelah
duduk berdua saja, Ki Bragolo bertanya.
Berdebar juga rasa jantung dalam dada Joko Handoko. Dia mengira bahwa tuan rumah ini akan
bertanya tentang ayah kandungnya. Di bawah sinar bulan yang terang ditambah sinar lampu di ruangan
serambi depan itu, dia memandang tajam ke arah wajah tuan rumah. Angin malam semilir mendatangkan
hawa sejuk."
"Bicaralah, paman. Urusan apakah yang hendak paman tanyakan?" katanya dengan suara ditenangkan
karena dia merasa tidak enak juga. Ki Bragolo ini sudah tahu bahwa dia murid mendiang Panembahan
Pronosidhi walaupun tidak menduga bahwa gurunya itu juga kakeknya. Akan tetapi kalau Ki Bragolo
mendesak dengan pertanyaan-pertanyaan pribadi, dapatkah dia menyangkal dan merahasiakan terus?
Dan kalau dia membuka rahasianya, apakah tidak akan terjadi sesuatu diantara mereka?
"Begini, anakmas Joko Handoko. Kalau boleh akau bertanya, apakah anakmas sudah.......sudah
berkeluarga?"
Sejenak Joko Handoko tidak dapat mengerti, akan tetapi setelah saling pandang agak lama, diapun
dapat menangkap apa yang dimaksudkan orang itu dan dia tersenyum sambil berkata, "Kalau yang
paman maksudkan itu apakah saya sudah menikah, maka jawabannya dalah belum. Saya masih muda,
belum berpengalaman dan belum mempunyai penghasilan sedikitpun, bagaimana berani berpikir untuk
membentuk keluarga, paman?"
Ki Bragolo tertawa bergelak saking lega dia tahu bahwa Wulandari seorang gadis yang amat baik, dan
andai kata dia mau juga, ibunya tentu akan menentang dengan keras.
"Anakmas Joko Handoko, ketahuilah bahwa anakku Wulandari mencintaimu dan hidupnya akian
bahagia sekali kalau ia dapat menjadi isterimu. Dan kulihat hubunganmu dengan Wulandari demikian
akrab. Bukankah andika juga amat suka kepadanya?" Ki Bragolo yang sudah biasa bicara secara jujur
dan terbuka itu mendesak.
"Memang saya suka sekali kepada diajeng Wulandari, akan tetapi hubungan kami hanyalah sebagai
sahabat, paman. Dan memang perjodohan, bagaimanapun juga saya tidak berani melancangi ibu
saya......"
"Tentu saja, anakmas. Urusan ini harus seijin ibu andika. Asal anakmas sejutu lebih dulu, urusan orang
tua akan mudah dibereskan dan kalau perlu, aku akan pergi menghadap orang tuamu di Wonoselo."
"Harap paman tidak tergesa-gesa dan berilah saya kesempatan untuk berpikir. Saya baru saja keluar
meninggalkan rumah dan pergi merantau untuk memperdalam pengetahuan dan hatinya. "Ha-ha-ha-ha,
orang muda seperti anakmas ini, apa sukarnya mencari jodoh dan apa sukarnya mendapatkan
kedudukan yang baik? Sang Akuwu Tunggal Ametung di Tumapel tentu akan menerima anakmas dengan
tangan terbuka dan anakmas tentu akan memperoleh kedudukan tinggi, setidaknya senopati muda."
"Ah, paman terlalu memuji......"
"Tidak, anakmas. Aku bicara sesungguhnya. Dan tentang jodoh, kalau anakmas tidak menganggap kami
terlalu rendah, aku dan Wulandari akan merasa berbahagia sekali kalau anakmas sudi menerima anakku
Wulandari sebagai isteri."
Joko Handoko sekali ini terkejut bukan main, jantungnya berdebar dan mukanya berubah kemerahan.
"Paman.....!" serunya bingung. Tak disangkanya sama sekali bahwa kakek ini berniat menjodohkan dia
dengan Wulandari. Dia tahu bahwa Wulandari bukanlah anak kandung Galuhsari, selir Ki Bragolo yang
menjadi kekasih mendiang ayahnya dan yang menyebabkan kematian ayahnya. Akan tetapi, ayahnya
tewas di tangan Ki Bragolo, bagaimana mungkin kini dia menjadi mantu pembunuh ayahnya? Walaupun
memperluas pengalaman, belum ingin terikat seuatu."
"Tapi ini bukan berarti anakmas menolak....."
Tiba-tiba terdengar suara jerit melengking di tengah malam itu. Karena suara jerit wanita itu datang dari
belakang, keduanya terkejut bukan main. Joko Handoko mengenal suara Dewi Pusporini yang menjerit
itu, maka sekali melompat tubuhnya sudah lenyap dari depan Ki Bragolo. Kakek inipun cepat melompat
dan berlari ke belakang untuk melihat apa yang telah terjadi.
Kebun belakang rumah besar pedukuhan yang menjadi sarang Sabuk Tembogo ini luas dan cukup
terang oleh sinar bulan dan juga oleh lampu-lampu gantung yang dipasang di belakang rumah. Ketika
tubuh Joko Handoko berkelebat memasuki kebun, dia melihat dua orang kakek mengamuk dikeroyok
oleh belasan orang murid Sabuk Tembogo. Dia mengenal dua orang kakek itu sebagai Gajah Putih dan
Gajah Ireng. Akan tetapi yang lebih mengejutkan hatinya adalah ketika dia melihat seorang kakek lain
yang usianya tentu sudah enampuluhan tahun, berdiri di bawah pohon nonton perkelahian itu. Kakek ini
tubuhnya bengkok seperti udang,memegang sebatang tongkat hitam, rambutnya panjang dibiarkan
raip-riapan dean lengan kirinya memanggul tubuh seorang wanita yang bukan lain adalah Dewi Pusporini
yang nampaknya pingsan dan lemas terkulai.
Tiba-tiba muncul Wulandari. "Kakek iblis, lepaskan mbakayu Dewi! Bentaknya dan gadis ini menyerang
kakek itu dengan sabuk tembaga yang barada di tangannya. Agaknya gadis ini telah memperoleh sebuah
sabuk tembaga lain sebagai ganti sabuknya yang dirusak oleh lawan ketika ia betanding melawan Gajah
Putih sore tadi.
"Heh-heh-heh!" kakek itu terkekeh, suara ketawanya seperti ringkik kuda dan sekali dia mengangkat
tongkat hitamnya menangkis, lalu mendorong, Wulandari terlempar sampai hampir roboh dan
terhuyung-huyung.
"Apa yang terjadi?" Joko Handoko bertanya.
"Kami sedang bercakap-cakap ketika muncul dua orang jahanam itu. Ketika aku mengejar dan
menyerang mereka, tiba-tiba mbakayu Dewi yang kutinggalkan menjerit dan tahu-tahu telah ditawan oleh
kakek iblis itu. Dia sakti, kakang....."
Ki Bragolo telah tiba di situ dan melihat dua orang yang sore tadi sudah membuat kacau itu kini
mengamuk, dia menjadi marah sekali. "Kiranya, kalian berdua memang pengacau busuk!" Dan dia pun
sudah terjun ke dalam pertempuran, ikut mengeroyok Gajah Putih dan Gajah Ireng.Sementara itu, Joko
Handoko sudah meloncat ke depan kakek yang kini memandang kepadanya sambil menyeringai. Mulut
kakek itu terbuka dan nampak betapa giginya sudah sudah banyak yang tanggal, dan yang tersisa di
mulutnya berwarna hitam mengerikan. Akan tetapi melihat sepasang mata yang kecil seperti dipejamkan
itu mengeluarkan sinar mencorong, tahulah Joko Handoko, bahwa dia berhadapan dengan seorang
kakek yang sakti.
“Heh-heh, agaknya engkau inilah orang muda yang telah mengalahkan dua orang muridku? Hemm,
siapakah gurumu, orang muda?”
“Tidak perlu banyak bicara, yang penting, lepaskan Dewi Pusporini!” bentak Joko Handoko.
“Heh-heh, tanpa kau beritahupun aku akan dapat menebak setelah kita bertempur, orang muda, apakah
engkau mampu merampas tubuh si denok ini dari tanganku?” Tangan kiri kakek itu yang merangkul paha
yang tergantung di pundaknya, secara kurang ajar sekali menepuk-nepok pinggul Dewi Pusporini yang
pingsan.
Joko Handoko menjadi bukan main. “Kakek jahanam kau!” bentaknya dan diapun sudah menerjang
dengan pukulan tangan kiri menampar kearah kepala sedangkan tangan kanannya membentuk cakar
untuk mencengkeram dan merampas tubuh Dewi Pusporini.
“Plak! Plak!” Kakek itu menangkis dengan tongkat hitamnya dan kedua orang itu terkejut. Tangkisan
tongkat itu terasa oleh Joko Handoko amat kuat dan membuat kedua lengannya yang tertangkis tergetar
hebat. Sebaliknya, kakek itupun terkejut setengah mati ketika merasa bahwa tongkatnya tergetar dan
pemuda itu berani mengadu lengan dengan tongkatnya tanpa terluka sidikitpun.
Kakek itu mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau dan tiba-tiba saja tubuhnya melesat ke depan
dengan amat cepatnya. Tongkatnya berubah menjadi sinar hitam yang meluncur lalu bergulung-gulung
menyerang kearah Joko Handoko. Pemuda ini bersikap hati-hati, cepat dia mengelak dengan
berloncatan sambil berusaha membalas. Dia tahu bahwa sebagai guru Gajah Putih yang bertenaga
raksasa dan Gajah Ireng yang memiliki keringanan tubuh istimewa, tentu kakek ini selain amat kuat, juga
memiliki ilmu meringankan tubuh yang tak boleh di pandang ringan.
Biarpun kakek itu melakukan serangan bertubi-tubi, namun Joko Handoko mampu menghindarkan diri
dan serangan balasannya membuat kakek itu repot. Bagaimanapun juga, karena memanggul tubuh Dewi
Pusporini, kakek itu tidak dapat bergerak dengan leluasa. Apalagi setelah Joko Handoko memainkan
Ilmu Silat Nogokredo, yaitu ilmu aliran Hati Putih yang terkenal kuat, kakek itu mengeluarkan suara
kaget.
“Aih, Nogokredo, ya? Kau tentu murid Pronosidi!” teriaknya.
“Bagus kalau sudah tahu,kakek sesat! Bebaskan sang puteri dan pergilah!” Joko Handoko membentak.
Kakek itu tertawa terkekeh-kekeh. “Heh-heh-heh, bocah masih ingusan berani menggertakku!
Menghadapi Pronosidhi sendiri aku tidak takut, apalagi hanya muridnya yang masih bocah seperti
engkau.”
“Lepaskan sang puteri!” Joko Handoko membentak dan diapun sudah menyerang lagi, kini dia
mengeluarkan jurus-jurus terampuh dari Nogokredo. Kedua tangannya membentuk cakar naga, dan
kedua lengannya membuat gerakan seperti tubuh ular laga mengamuk. Dari kedua telapak tangannya
keluar hawa sakti yang amat kuat ketika dua tangan itu menyerang dengan kecepatan kilat, yang kanan
menampar ke arah ulu hati.
Kakek yang terlalu memandang rendah lawan itu memutar tongkat hitamnya melindungi tubuh.
“Plak! Desss…..!” Dua kali tongkatnya menangkis dan memang kakek itu berhasil menangkis pukulan
berganda dari Joko Handoko, akan tetapi akibat benturan tenaga itu dia terhuyung ke belakang.
Kini marahlah kakek itu. Dia melemparkan tubuh Dewi Pusporini yang masih pingsan ke atas rumput di
bawah pohon, dan diapun melompat ke depan Joko Handoko, matanya mencorong seperti mata kucing
dalam gelap. “Babo-babo si keparat! Tak dapat diberi hati, kau berani melawan Ki Danyang Bagaskoro,
berarti sudah bosan hidup kau!”
Diam-diam Joko Handoko terkejut. Mendiang kakeknya seringkali menceritakan kepadanya tentang
adanya orang-orang sakti di dunia ini dan pernah kakeknya menyebut nama Ki Danyang Bagaskoro
adalah seorang tokoh yang sakti di Kerajaan Doho, dan termasuk orang yang condong ke golongan
sesat. Akan tetapi, dia tidak merasa gentar. Betapapun saktinya kakek ini adalah orang sesat yang harus
dilawan dan dibasminya, dan seorang yang begitu tinggi hati dan sombong sehingga menggunakan nama
julukan Bagaskoro yang berarti Matahari, tentu tidak akan diberkahi para dewata!
“Heeeeeeeeeeekkkkhhhhh.......!!”
Kakek itu mengeluarkan seruan dahsyat seperti suara iblis sendiri di tengah kuburan, dan tubuhnya
melesat ke depan, didahului gulungan sinar hitam itu mencuat dan menusuk kearah bagian kemaluan,
pusar, uluhati, tenggorokan, pundak kanan, pundak kiri, dan di antara mata. Satu saja bagian ini terkena,
tentu akan mendatangkan malapetaka hebat.
“Hyaaaaaaaaahhhhhhhhh.......!” Joko Handoko yang menghadapi serangan hebat itu cepat
menggerakkan tenaga kaki menggenjot tanah dan tubuhnya sudah mencelat ke atas, seperti terbang
sehingga serangan bertubi-tubi itu luput semua. Dan dari atas, Joko Handoko berjungkir balik. Kini
dengan kepala di bawah didahului oleh kedua tangan yang membentuk cakar, dia meluncur dan
melakukan serangan belasan. Hebat sekali gerakan ini yang disebut jurus Nogosungsang, sebuah jurus
hebat dari Ilmu Silat Nogokredo. Hanya murid-murid dari tingkat tertinggi saja dari perguruan Hati Putih
yang mampu melakukan jurus Nogosungsang sebaik yang dilakukan oleh Joko Handoko di saat itu.
Namun Ki Danyang Bagaskoro yang sombong dan memandang rendah lawan itu, tidak menjadi
gentar,bahkan dia memkik lagi dan tubuhnya juga mencelat ke atas menyambut serangan lawan di udara,
tongkat hitamnya diputar dan diobat-abitkan sehingga mengeluarkan suara bercuitan dan angina yang
menyambar-nyambar ganas.
“Plak! Plak! Desss.... bretttttt....!”
Keduanya berjungkir balik mambuat salto beberapa kali baru turun ke atas tanah dan Joko Handoko
memandang dan meraba bajunya yang robek di bagian dada dengan muka berubah. Sungguh hebat
gerakan kakek itu sehingga walaupun dia mampu menghindarkan diri dari akibat yang parah dan
benturan di udara tadi, namun tetap saja tubuhnya tergoncang dan bajunya robek.
“Heh-heh-heh, bocah ingusan. Sekarang bajumu yang robek, nanti dadamu yang akan kurobek menjadi
empat potong, heh-heh!” Ki Danyang Bagaskoro membual sambil terkekeh untuk menyembunyikan rasa
kagetnya. Tadi dia sudah mengerahkan kepandaian dan tenaganya namun dia hanya mampu merobek
baju lawan, sedangkan benturan tenaga itu membuat dadanya sendiri terguncang hebat.
Sementara itu, Wulandari yang melihat betapa ayahnya dan para murid Sabuk Tembogo sudah
mengeroyok dua orang lawan, cepat turun ke dalam kancah pertempuran dan ikut mengeroyok. Dua
orang murid Ki Danyang Bagaskoro itu m,asih lelah, bahkan sudah menderita luka ketika mereka
berkelahi melawan Joko Handoko sore tadi, terutama sekali Gajah Putih sudah kehilangan banyak darah
dan tenaga. Maka, kini dikeroyok oleh Ki Bragolo, Wulandari, dan murid-murid Sabuk Tembogo yang
sudah berkumpul semua dan jumlahnya empat puluh orang itu, tentu saja mereka terdesak hebat. Mereka
tadi mengandalkan guru mereka untuk turun tangan. Tak mereka sangka bahwa kini pemuda itu pula
yang sanggup menahan amukan Ki Danyang. Karena mereka berdua terancam maut di antara
sabuk-sabuk tembaga yang berterbangan itu akhirnya mereka tidak kuat menahan lagi dan keduanya lalu
meloncat ke dalam kegelapan malam dan melarikan diri.
Kini Ki Bragolo, Wulandari dan para murid Sabuk Tembogo mengurung tempat itu dan mereka melihat
betapa Joko Handoko terobek bajunya dan kakek itu terkekeh mengejek.
Ki Bragolo dan puterinya sudah mengayun sabuk tembaga mereka untuk maju membantu Joko
Handoko, akan tetapi pemuda itu cepat mencegah mereka. “Paman dan diajeng, harap jangan ikut-ikut.
Dia adalah lawanku, dan aku belum kalah!” Pemuda itu mencegah karena dia tahu betapa hebatnya
kakek itu dan kalau Ki Bragolo dan Wulandari maju, sangat boleh jadi ayah dan anak itu akan tewas
menjadi korban. Dicegah oleh Joko Handoko, ayah dan anak itu mundur kembali dan hanya menonton
dengan hati gelisah. Mereka dapat menduga akan kesaktian kakek bungkuk itu, akan tetapi karena Joko
Handoko melarang, mereka tidak berani maju. Memaksakan pengeroyokan berarti akan merendahkan
derajat Joko Handoko dan seorang yang gagah perkasa seperti Joko Handoko tentu lebih
mempertahankan kehormatan daripada nyawa.
Ki Danyang Bagaskoro sudah melangkah maju lagi. Langkahnya pendek-pendek dan kakinya
sebetulnya tidak terangkat, bukan melangkah melainkan menggeser ke depan, tongkat hitamnya yang
ampuh itu diputar-putar di depan tubuhnya, siap untuk melakukan serangan dahsyat lagi.
Joko Handoko maklum bahwa kalau dia hanya mengandalkan Ilmu Silat Nogokredo saja, agaknya dia
tidak akan mampu mengalahkan kakek ini. Maka, perlahan-lahan dia lalu menggerakkan tubuhnya, kaki
kiri ke depan dengan lutut ditekuk sehingga tubuhnya merendah, kaki kanan di belakang, terjulur lurus
dengan ujung ibu jari kaki kanan saja yang menyentuh tanah, tangan kiri melintang di depan dada dengan
jari-jari terbuka membentuk cakar naga, tangan kanan terlentang menempel pinggang dengan membentuk
cakar naga pula. Muka menghadap lurus ke depan, mata mencorong dan mulut agak terbuka. Tiga kali
dia menghirup hawa dari lubang hidung dan mengeluarkannya sedikit demi sedikit melalui mulutnya.
Dadanya terasa mengembung dan penuh dengan hawa sakti, tanda bahwa kuda-kuda jurus Nogopasung
yang dilakukannya itu sudah sempurna dan dia sudah siap memainkan jurus Nogopasung itu.
Ki Danyang Bagaskoro sudah tahu bahwa pemuda itu adalah murid perguruan. Hati Putih dan
menguasai Ilmu Silat Nogokredo. Akan tetapi dia tidak mengenal jurus Nogopasung, yang diciptakan
baru saja oleh Panembahan Pronosidhi. Khusus untuk Joko Handoko. Maka dia pun memandang rendah
dan tidak tahu bahwa tubuh yang agak merendah dari pemuda itu mulai menghimpun tenaga sakti yang
amat dahsyat.
“Heiiiiiiiittttt.......” Kakek itu sudah meloncat lagi ke depan dan memutar tongkatnya untuk menyerang.
“Aaaaaarrrghh.....!” Joko Handoko juga menerjang ke depan, kedua tangan yang membentuk cakar
naga itu bergerak-gerak dengan cepat menyambut terjangan lawan.
“Deessss........!!” Hebat bukan main tumbukan yang terjadi antara dua orang itu, terasa oleh semua
orang yang nonton seolah-olah kilat menyambar dan guntur menggelegar dan akibatnya tubuh kakek itu
terlempar dan melayang seperti sehelai daun kering terhempas angin lalu jatuh terbanting dengan keras.
Semua orang memandang dengan hati tegang. Ternyata kakek itu benar-benar sakti atau memiliki tubuh
yang amat kebal. Biarpun dia terlempar dan terbanting sedemikian kerasnya, dia masih mampu bangkit
kembali. Matanya mencorong, tangannya mengusap bibir yang berdarah dan dia mendengus penuh
kemarahan. Mulutnya mengeluarkan desis seperti ular marah.
“Keparat......! Kalau aku tidak mampu membunuhmu jangan sebut aku Ki Danyang Bagaskoro......!”
Kemarahannya memuncak dan tiba-tiba dia memindahkan tongkat hitam ke tangan kirinya, sedangkan
tangan kanan mencabut keluar sebatang keris yang mengeluarkan sinar hitam menyilaukan mata. Keris itu
tidak panjang, hanya dua jengkal saja, berlekuk tiga. Itulah Keris Ki Bango Dolog yang ampuh karena
selain di “isi” dengan kekuatan ilmu hitam, juga mengandung racun yang sangat ampuh. Tergores sedikit
saja, kulit akan melepuh dan nyawanya sukar diselamatkan lagi.
Kini dengan keris pusaka di tangan kanan dan tongkat hitam di tangan kiri , Ki Danyang Bagaskoro
berlari dan menerjang kea rah Joko Handoko. Pemuda ini mengelak, akan tetapi hawa dan pengaruh
keris pusaka yang mengandung hawa ilmu hitam itu membuat dia terkejut dan bulu tengkuknya
meremang. Rasa takut menyelinap di dalam hatinya dan hal ini membuat gerakannya kurang cepat.

11Bersambung KEN AROK - EMPU GANDRING-19.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »