Tumenggung Macan Kopek

07:56

Tumenggung Macan Kopek

Pada masa kejayaan Kadipaten Posono yang pada saat itu dipimpin oleh Raden Mas Tumenggung Purwodiningrat (Tumenggung Pertama). Beliau didampingi istri permaisuri R. Ayu Tumenggung Purwodiningrat selain cantik, beliau bijaksana sangat mencintai rakyatnya, dikisahkan beliau juga memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa. Jadi peran beliau selain sebagai seorang istri yang harus senantiasa melayani dan menyelesaikan tugas kewajibannya sebagai seorang istri Tumenggung yang baik. Selain itu pula beliau juga ikut serta menjaga kedamaian dan ketentraman rakyat Kadipaten Posono dan khususnya rakyat desa Pakuncen. Pada saat tentara kolonial Belanda mengejar dan menyerbu laskar-laskar pejuang RI yangbersembunyi di desa Pakuncen, tiba-tiba desa tersebut hialng dari pandangan mata para tentara Belanda, setelah R. Ayu Tumenggung Purwodiningrat melepas dan menggelar selendangnya.

Pada suatu hari beliau sakit dan meninggal dunia. Hal ini menimbulkan masalah, sebab harus dikebumikan dimana jenazah beliau yang masih kerabat Mataram. Kemudian atas petunjuk dan izin Kanjeng Sultan Paku Buwono I. Jenazah beliau dikebumikan di sebelah barat masjid Kauman Baitur Rohman. Setelah 3 hari pemakaman beliau pada malam Jumat Legi ada penampakan sosok gaib seekor macan putih betina teteknya (payudara) besar sampai menyentuh tanah. Dan sosok gaib tersebut diyakini masyarakat Pakuncen adalah jelmaan dari Nyai Tumenggung Purwodiningrat hingga makam di barat masjid Baitur Rohman Pakuncen tersebut dijuluki makam Tumenggung Kopek. Dalam kisahnya sosok gaib Mbah Tumenggung Kopek tidak pernah mengganggu atau membuat resah rakyat Pakuncen. Justru kemunculan beliau diyakini membawa ketentraman dan kedamaian masyarakat desa Pakuncen dan sekitarnya.

Petilasan Kadipaten Posono

Sesuai dengan UU No. 5 tahun 1992 yaitu “ Benda cagar budaya adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergertak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun atau mewakili masa gaya yang khas yang mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan”. Benda-benda tersebut antaranya :

Masjid kuno (Masjid Baiturrahman)
2 buah gentong yang terbuat dari batu
Kompleks makam priyai-priyai agung dari Mataram

Yang ada di petilasan Kadipaten Posono diantaranya :
Pohon beringin dipinggir utara perempatan jalan Desa Ngrombot.
Kolam, konon tempat jamuam tamu-tamu asing dan tempat mandi para kadang sentono.
Kompleks pemukiman atau tempat tinggal para kadang sentono dulu.

Pohon Beringin

Masjid Baiturrahman

Makam Priyai

Gentong Batu

sumber Museum Online Nganjuk...

Artikel Terkait

Previous
Next Post »