KEN AROK - EMPU GANDRING-17.

07:14
KEN AROK - EMPU GANDRING-17.
"Biarlah aku yang mewakili Sabuk Tembogo!" Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan Wulandari
telah meloncat ke tengah ruangan menghadapi Gajah Ireng. Ki Bragolo hendak mencegah namun tidak
keburu sehingga terpaksa diam saja, hanya memandang dengan hati gelisah. Dia tahu bahwa puterinya itu
memiliki kepandaian lebih tinggi dari Sentono, dan terutama sekali memiliki garakan yang jauh lebih
lincah. Akan tetapi dia masih meragukan apakah puterinya akan mampu menandingi Gajah Ireng yang
tangguh itu.
Akan tetapi, tiba-tiba Gajah Putih melangkah maju. "Adi Ireng, engkau sudah cukup berjasa
mengalahkan dua orang jagoan lawan. Mengasolah dan biarkan aku yang menghadapi anak perempuan
yang manis itu."
Gajah Ireng tersenyum lalu mengundurkan diri dan gajah Putih yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa
itu berdiri tegak dengan kedua kaki dipentang lebar, berhadapan dengan Wulandari yang nampak kecil.
Wajah gadis ini sudah menjadi merah mendengar ucapan Gajah Putih yang mengatakan ia seorang anak
perempuan yang manis dengan demikian mengejek.
"Kalau tidak salah, andika adalah puteri Ki Bragolo. Sungguh bahagia sekali Ki Bragolo memiliki
seorang anak yang begitu cantik manis dan gagah perkasa." kata Gajah Putih dengan wajah penuh
senyum menyeringai. "Akan tetapi, anak manis. Lebih baik engkau mundur saja. Sayang kalau sampai
kulitmu yang halus itu lecet atau tubuhmu yanmg kecil ramping dan padat ini terbanting babak bundas.
Engkau sama sekali bukan lawanku!"
"Manusia sombong! Kamu yang tadi mengusulkan pertandingan adu ilmu secara persahabatan, antara
tuan rumah dan tamunya yang dihormati. Akan tetapi kata-katau kotor dan beracun melebihi senjata
seorang mush. Majulah dan jangan kira aku takut menghadapi kebesaran tubuhmu dan kelebaran
mulutmu!"
Ucapan Wulandari ini sungguh pedas dan tajam menusuk, akan tetapi Gajah Putih tetap tersenyum
menyeringai. Dia memang seorang mata keranjang dan kini menghadapi seorang dara remaja yang
demikia manisnya, hatinya gembira sekali. Apalagi dia memperoleh kesempatan untuk mengadu ilmu
dengan gadis ini, hatinya senang bukan main. Inilah kesempatan baik baginya untuk bersentuhan kulit, dan
mempermainkan gadis ini sesuka hatinya tanpa ada yang dapat melarang karena bukankah mereka itu
akan bertanding mengadu ilmu? Pula, andaikata ada yang melarang, diapun tidak takut. "Hem, sudah
kukatakan, kalian lebih baik maju bersama!" Gajah Ireng berkata dengan nada mengejek. Ucapan ini
membuktikan kesombongannya. Sentono tidak menjawab, melainkan memutar senjatanya dan menubruk
ke depan.
"Lihat sabukku!" namun seperti halnya adiknya tadi, tiba-tiba tubuh lawannya berkelebat lenyap. Dia tadi
sudah menonton pertandingan antara adiknya dan lawan ini, maka dia sudah memutar dan menggerakkan
sabuknya, menyerang ke bagian belakang dan kanan kiri dengan cepat. Akan tetapi kembali Gajah Ireng
dapat mengelak dengan amat mudahnya dan balas menyerang.
Pasar taruhan di luar ruangan itu kini sepi. Para anak buah Sabuk Tembogo tidak ada yang berani
bertaruh karena mereka semua jerih melihat gerak cepat yang luar biasa dari Gajah Ireng dan memang
rasa khawatir mereka beralasan. Sebentar saja, seperti halnya Sentanu tadi, Sentono juga hanya mampu
melindungi dirinya, tidak sempat lagi untuk balas menyerang dan bahkan agaknya Gajah Ireng ingin cepat
mengakhiri pertandingan itu. Lewat lima belas jurus, tiba-tiba ujung sabuk tembaga itu terlihat ujung kain
ikat kepala dan selagi Sentono berusaha manarik kembali sabuk tembaganya, tiba-tiba kaki Gajah Ireng
meluncur dan menendang.
"Dess....!" tubuh Sentono terpelanting keras dan biarpun dia juga tidak terluka parah, namun karena
tubuhnya sudah terbanting, berarti dia sudah kalah. Dia bangkit dengan muka merah dan tanpa berkata
apa-apa lagi dia mengundurkan diri.
"Biarlah aku yang mewakili Sabuk Tembogo!" Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan Wulandari
telah meloncat ke tengah ruangan menghadapi Gajah Ireng. Ki Bragolo hendak mencegah namun tidak
keburu sehingga terpaksa diam saja, hanya memandang dengan hati gelisah. Dia tahu bahwa puterinya itu
memiliki kepandaian lebih tinggi dari Sentono, dan terutama sekali memiliki garakan yang jauh lebih
lincah. Akan tetapi dia masih meragukan apakah puterinya akan mampu menandingi Gajah Ireng yang
tangguh itu.
Akan tetapi, tiba-tiba Gajah Putih melangkah maju. "Adi Ireng, engkau sudah cukup berjasa
mengalahkan dua orang jagoan lawan. Mengasolah dan biarkan aku yang menghadapi anak perempuan
yang manis itu."
Gajah Ireng tersenyum lalu mengundurkan diri dan gajah Putih yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa
itu berdiri tegak dengan kedua kaki dipentang lebar, berhadapan dengan Wulandari yang nampak kecil.
Wajah gadis ini sudah menjadi merah mendengar ucapan Gajah Putih yang mengatakan ia seorang anak
perempuan yang manis dengan demikian mengejek.
"Kalau tidak salah, andika adalah puteri Ki Bragolo. Sungguh bahagia sekali Ki Bragolo memiliki
seorang anak yang begitu cantik manis dan gagah perkasa." kata Gajah Putih dengan wajah penuh
senyum menyeringai. "Akan tetapi, anak manis. Lebih baik engkau mundur saja. Sayang kalau sampai
kulitmu yang halus itu lecet atau tubuhmu yanmg kecil ramping dan padat ini terbanting babak bundas.
Engkau sama sekali bukan lawanku!"
"Manusia sombong! Kamu yang tadi mengusulkan pertandingan adu ilmu secara persahabatan, antara
tuan rumah dan tamunya yang dihormati. Akan tetapi kata-katau kotor dan beracun melebihi senjata
seorang mush. Majulah dan jangan kira aku takut menghadapi kebesaran tubuhmu dan kelebaran
mulutmu!"
Ucapan Wulandari ini sungguh pedas dan tajam menusuk, akan tetapi Gajah Putih tetap tersenyum
menyeringai. Dia memang seorang mata keranjang dan kini menghadapi seorang dara remaja yang
demikia manisnya, hatinya gembira sekali. Apalagi dia memperoleh kesempatan untuk mengadu ilmu
dengan gadis ini, hatinya senang bukan main. Inilah kesempatan baik baginya untuk bersentuhan kulit, dan
mempermainkan gadis ini sesuka hatinya tanpa ada yang dapat melarang karena bukankah mereka itu
akan bertanding mengadu ilmu? Pula, andaikata ada yang melarang, diapun tidak takut.
"Ha-ha-ha, sungguh andika seperti seekor kuda betina liar yang amat cantik. Semakin liar semakin
menarik untuk ditundukkan! Kalau tidak salah, nama andika tadi adalah Wulandari. Nama yang amat
manis, semanis orangnya. Wulandari, sebagai puteri Ki Bragolo, aku yakin bahwa semua ilmu dari Sabuk
Tembogo tentu telah kau warisi sehingga dengan melihat ilmu silatmu, sama saja dengan menjajagi
tingginya tingkat kepandaian ketua Sabuk Tembogo. Nah, perlihatkan kepandaianmu, manis!"
Ki Bragolo merasa betapa dadanya panas dan hampir saja dia melompat ke depan untuk memaki dan
menyerang raksasa bermuka putih itu. Akan tetapi, keadaan tidak mengijinkan karena mereka itu tidak
saling bermusuhan, melainkan sebagai tamu yang hendak menguji ilmu kepandaian pihak tuan rumah.
Maka diapun menekan saja kemarahannya, menahan sabar dan memandang ke arah puterinya dengan
hati penuh kekhawatiran.
Joko Handoko mengerutkan alisnya.Sejak tadu diapun diam saja dan menganggap bahwa adu ilmu ini
hanya merupakan pelampiasan kecewa dari pihak pemimpin pasukan Tumapel. Akan tetapi tentu saja
dia tidak dapat mencampuri urusan adu ilmu itu. Betapapun juga, melihat sikap Gajah Ireng dan kini
sikap Gajah Putih yang terlalu menghina dan teramat sombong, diam-diam dia mendongkol bukan main.
Diapun mengerti bahwa melihat tingkat kepandaiannya, Wulandari tidak akan mampu mengalakan Gajah
Ireng, apalagi Gajah Putih yang sabagai kakak Gajah Ireng tentu saja memiliki tingkat kepandaian yang
lebih tinggi lagi. Akan tetapi, dia sendiri hanya seorang tamu, dan dia telah menyembunyikan
kepandaiannya sehingga pihak tuan rumah sendiri tidak tahu dan menganggap dia seorang sahabat baik
yang tidak memiliki kepandaian silat. Bagaimana dia dapat mencampuri kalau pihak tuan rumah maju
sendiri menghadapi tantangan para tamu? Kalau dia campur tangan, hal itu tentu akan menimbulkan
perasaan malu terhadap pihak tuan rumah. Maka biarpun diam-diam dia merasa khawatir sekali, dia
tetap diam saja, hanya siap siaga menjaga segala kemungkinan dan diam-diam diapun bersiap-siap untuk
melindungi Wulandari kalau-kalau gadis itu terancam bahaya.
Kini Gajah Putih sudah mengeluarkan sepasang sarung tangan hitam dan mengenakan sepasang sarung
tangan itu untuk melindungi kedua tangannya. Itulah senjatanya, sepasang sarung tangan yang amat kuat,
tahan menghadapi bacokan senjata tajam. Banda itu terbuat dari semacam sutera yang amat ulet dan kuat
merupakan benda kuno yang datang dari Negeri Cina dan di tangan Gajah Putih yang bertenaga raksasa
itu, sarung tangan ini menjadi senjata yang amat ampuh.
Sementara itu, Wulandari sudah tidak sabar lagi. Begitu lawannya sudah selesai mengenakan sarung
tangan, ia mengelebatkan sabuk tembaganya sambil membentak nyaring, sebagai tanda bahwa ia mulai
dengan serangannya. Akan tetapi yang diserang tidak menggerakkan tubuhnya, hanya kedua tangannya
saja bergerak.
"Tak-tring-trang.........!" Bekali-kali sabuk tembaga itu bertemu dengan kedua tangan yang berlindung
sarung tangan dan selalu sabuk itu terpental. Makin keras Wulandari mengayun senjatanya, semakin kuat
pula senjatanya terpental sehingga ia merasa betapa telapak tangannya menjadi panas dan perih. Ia
merasa terkejut bukan main dan ia pun cepat mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk berloncatan ke
sana sini mengitari tubuh lawan dan mengayun sabuk tembaganya untuk menyerang bagian-bagian yang
berbahaya seperti tengkuk, ubun-ubun kepala, lambung, pusar, sekitar muka, pergelangan tangan, siku,
lutut dan sebagainya. Gadis ini memang memiliki gerakan lincah, walaupun tidak secepat gerakan Gajah
Ireng, namun cukup cepat sehingga tubuhnya nampak berkelebatan. Sebaliknya, Gajah Putih hanya
mengeluarkan suara ketawa-ketawa dan tubuhnya tetap tegak hanya kakinya yang bergeser maju
mundur, sehingga tubuhnya berbalik ke sana sini, menghadapi lawan ke mana saja lawan meloncat dan
menangkis setiap lecutan sabuk tembaga dengan kedua tangannya yang dilindungi sarung tangan.
Terdengar lagi suara nyaring berdentingan ketika sabuk itu bertemu sarung tangan.
"Ha-ha-ha, engkau hebat juga, anak manis!" Gajah Putih mengejek dan tiba-tiba saja tangan kanannya
menangkap ujung sabuk tembaga, tangan kiri mencengkeram ke arah siku kanan Wulandari. Dara ini
terkejut bukan main, terpaksa melepaskan sabuknya dan menarik tangannya karena kalau tidak, tentu
sikunya akan kena cengkeram. Gajah Putih tertawa bergelak, kedua tangannya menekuk-nekuk dan
sabuk tembaga itu patah-patah menjadi empat potong lalu dilemparkannya ke atas tanah. Dengan sikap
sombong dia pun kini melepaskan sepasang sarung tangannya dan menyimpannya kembali.
"Keparat, berani kau merusak senjataku!" Wulandari yang marah sekali bahwa ia berhadapan dengan
lawan yang jelas lebih tangguh darinya. Tubuhnya sudah mencelat ke depan dan kedua tangannya sudah
menyerang dengan ganas, yang kanan mencengkeram ke arah kepala, yang kiri menghantam ke arah ulu
hati. Serangan ini hebat sekali dan andaikata mengenai sasaran, biarpun Gajah Putih memiliki kepandaian
tinggi, dapat menimbulkan bahaya maut baginya.
"Plak! Plak!" Gajah Putih menyambut kedua tangan dan tahu-tahu kedua tangan gadis itu telah
ditangkapnya pada pergelangan. Tentu Wulandari terkejut bukan main, apalagi ketika lawan itu tertawa
bergelak dengan muka yang begitu dekat dengan mukanya sehingga dara itu ini dapat mencium bau
busuk dari mulut yang terbuka itu. Dengan cepat, Wulandari mempergunakan tenaga tangkapan lawan
pada kedua pergelangan tangannya untuk mengangkat tubuh, menggerakkan kedua kakinya menendang
ke arah pusar dan muka lawan.
Gajah Putih sudah merasa girang sekali mempermainkan gadis itu dan berhasil menangkap kedua
pergelangan tangan yang kulitnya helus dan hangat itu. Akan tetapi, dia terkejut sekali melihat betapa
gadis yang telah ditangkapnya itu ternyata masih mampu melakukan serangan yang demikia hebatnya.
Serangan itu amat berbahaya sehingga dia mengeluarkan seruan kaget dan terpaksa mendorong tubuh itu
ke atas, melepaskan pegangannya agar dia terhindar dari ancaman kedua kaki Wulandari. Tubuh gadis
itu telempar ke atas. Wulandari menggerakkan tubuhnya dan berjungkir balik sampai tiga kali di udara.
Akan tetapi, Gajah Putih melihat kesempatan baik dan dia pun meloncat, tangannya mencengkeram.
"Iiihhh......!" Wulandari menjerit ketika ujung kemben{sabuk} di pinggangnya tertangkap lawan dan
ketika Gajah Putih menarik dengan bentakan kuat, tubuh itu berputar dan kembennya sudah tertarik
separuh, hampir telepas. Semua orang terkejut dan memandang dengan menahan napas karena kalau
sampai kemben atau sabuk itu terlepas, tentu kain yang membungkus tubuh gadis itu akan terlepas dan
merosot turun.
"Gajah Putih, jangan kurang ajar engkau!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan nampak sinar
terang berkelebat menyambar ke arah kemben dan putuslah kemben itu dan Wulandari terlepas dari
ancaman ditelanjangi oleh Gajah Putih. Gadis itu dengan muka merah hampir menangis saking marahnya
dan malunya, terpaksa mundur dan berdiri di pinggir dengan mata melotot ke arah Gajah Putih.
Kiranya yang membikin putus kemben itu untuk menghindarkan Wulandari dari penghinaan adalah Ki
Bragolo sendiri. Orang tua ini sudah mempergunakan sabuk tembaganya unguk menyelamatkan muka
puterinya dan kini, dengan muka saking marahnya, dia berdiri menghadapi Gajah Putih. Dua orang yang
sama tinggi besarnya, hanya bedanya kalau muka Ki Bragolo agak kehitaman dan gagah perkasa, muka
lawannya putih halus.
Gajah Putih masih menyeringai. "Ha-ha, akhirnya Ki Bragolo maju sendiri. Memang sudah lama sekali
aku mendengar nama besar Ki Bragolo ketua Sabuk Tembogo dan sungguh beruntung hari ini aku dapat
merasakan sendiri sampai di mana kehebatannya, apakah kepandaiannya yang sebesar namanya."
"Gajah Putih!" Ki Bragolo membentak. "Apakah sebenarnya yang menjadi kehendakmu?"
"Eh? Apa kehendakku? Ki Bragolo, bukankah kita berhadapan sebagai tuan rumah dan tamu yang
hendak memeriahkan suasana dengan mengadu ilmu?"
"Gajah Putih! Sudah bertahun-tahun kami membantu Kadipaten Tumapel dan mengenal
tokoh-tokohnya. Akan tetapi baru hari ini kami mengenal namamu dan melihat engkau dan Gajah Ireng
membantu pasukan Tumapel. Akan tetapi sikapmu tidak bersahabat. Selain engkau memancing
diadakannya adu kepandaian, juga engkau dan adikmu sengaja hendak melakukan penghinaan terhadap
kami. Jelas bahwa di balik adu kepandaian ini, tersembunyi sesuatu yang busuk dalam benakmu!"
"Ha-ha-ha, Ki Bragolo. Memang baru hari ini kami menghambakan diri kepada Tumapel. Dan apakah
anehnya kalau adu kepandaian ada yang menang dan kalah? Dan tidak aneh pula kalau pihak yang kalah
menjadi pahit dan marah-marah seperti sikapmu sekarang ini. Ha-ha-ha!"
Tentu saja Ki Bragolo menjadi semakin marah.Di situ terdapat Ranunilo sebagai pemimpin pasukan
Tumapel dan perwira ini tidak berkata sesuatu, maka dia merasa terdesak omongan dan hal ini
membuatnya menjadi semakin marah. "Gajah Putih, manusia sombong! Keluarkan senjatamu dan
majulah!"
Gajah Putih sudah mengenakan sepasang sarung tangan hitam tadi dan kini sambil menyeringai lebar dia
melangkah maju. "Aku sudah siap untuk menghadapi pertandingan terakhir ini. Ingat, Ki Bragolo, dua
orang muridmu dan puterimu sudah kalah, maka kalau sekali ini engkau kalah, berarti Sabuk Tembogo
harus mengakui keunggulan kami!"
"Hentikan ocehanmu dan lihat senjataku!" Ki Bragolo dan diapun sudah maju dengan cepat. Sabuk
Tembaga di tangannya merupakan senjata yang amat berat dan ampuh, dan ketika dia menyerang, maka
serangannya ini sama sekali tidak boleh disamakan dengan serangan sabuk tembaga di tangan kedua
muridnya atau puterinya tadi. Gajah Putih juga tidak berani memandang rendah, maklum betapa hebatnya
sabuk tembaga yang berat dan digerakkan dengan tenaga kuat itu. Dia cepat mengelak dan dengan
tamparan tangannya kea rah dada lawan.
Ki Bragolo berhasil mengalak pula dan membalas kini dengan hantaman lebih kuat ke arah leher lawan.
Sabuk tembaga di tangannya lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar yang panjang berkilauan. Gajah
Putih menggerakkan tangan kanannya, menyambut senjata itu dengan tangannya yang terlindung sarung
tangan.
"Trakkk.....!" Keduanya terdorong mundur. Kiranya mereka memiliki tenaga yang seimbang
kekuatannya. Terjadilah pertandingan yang mata seru dan kini mereka yang menonton di luar ruangan itu
sudah sibuk lagi membuat taruhan yang lebih berani dan besar jumlahnya. Bagaimanapun juga, para
murid Sabuk Tembogo tentu saja menjagoi guru mereka karena mereka yakin bahwa guru mereka itu
amat sakti. Sebaliknya, para perajurit Tumapel yang sudah mendapat hati dengan
kemenangan-kemenangan berturut-turut dari kedua orang jagoan mereka, kini menyambut taruhan itu
dengan berani pula.
Setelah lewat lima puluh jurus, nampaklah bahwa Gajah Putih mulai dapat mendesak lawannya. Dia baru
berusia empat puluh dua tahun sedangkan Ki Bragolo sudah berusia hampir tujuh puluh tahun. Usia tua
membuat Ki Bragolo kalah daya tahan dan panjang napasnya, apalagi dia harus mainkan sabuk tembaga
yang beratnya belasan kati, sedangkan lawannya yang melindungi kedua tangan dengan sarung tangan itu
bertangan kosong saja. Dan Memang, tingkat kepandaian Gajah Putih masih sedikit lebih unggul
dibandingkan Ki Bragolo. Hal ini diketahui dengan jelas oleh Joko Handoko sehingga pemuda ini
menjadi semakin mendongkol saja. Dia juga melihat betapa Wulandari dapat menduga akan kedaan
ayahnya sehingga gadis itu hampir menangis saking gelisah, marah, dan malunya. Hancurlah nama Sabuk
Tembogo sekali ini, piker Joko Handoko. Seharusnya dia merasa senang dan puas, karena bukankah Ki
Bragolo itu pembunuh ayah kandungnya? Biarpun dia tidak mendendam , setidaknya dia seharusnya puas
dan senang melihat Sabuk Tembogo dihancurkan orang lain. Akan tetapi sungguh aneh. Dia sama sekali
tidak merasa puas atau senang. Sebaliknya, dia malah merasa mendongkol dan tidak senang kepada
Gajah Putih yang amat sombong itu. Dan diapun, seperti Ki Bragolo, mulai menaruh perasaan curiga
terhadap kedua orang itu. Jelaslah bahwa sebagai pembantu-pembantu baru dari Tumapel, mereka
berdua itu terlalu menonjolkan niat mereka untuk membikin malu dan menghina Sabuk Tembogo,
seolah-olah mereka berdua menaruh dendam atau membenci perkumpulan itu.
Saat yang dinanti-nanti dan dikhawatirkan Joko Handoko pun tiba. Ketika dengan tenaga yang tersisa
tidak berapa banyak lagi itu Ki Bragolo dengan nekat menyerang dengan sabetan sabuk tembaga di
tangannya, mengarah kepada lawan, Gajah Putih menyambutnya dengan kedua tangan sambil
menggerakkan tenaga.
"Dess......!" Tubuh Ki Bragolo terhuyung dan sabuk tembaga hampir terlepas dari tangannya. Pada saat
itu, Gajah Putih sudah mengirim tendangan yang sudah diperhitungkan sebelumnya.
"Bukk....!" Tendangan itu mengenai paha Ki Bragolo yang mencoba mengelak. Dan tubuh kakek itupun
terjengkang dan terbanting keras! Ki Bragolo bangkit berdiri menahan sakit. Dengan muka merah dia lalu
berkata, "Aku yang sudah tua dan tiada guna ini mengaku kalah."
"Ha-ha-ha!" Gajah Putih tertawa bergelak dan berdiri tegak, bertolak pinggang dan sengaja dia
memandang ke arah Wulandari yang menundukkan muka dengan sedih.
"Masih adakah jagoan Sabuk Tembogo yang mau mencoba untuk maju? Ataukah hanya sekian saja
kehebatan Sabuk Tembogo? Dengan kekuatan seperti itu saja berani untuk mengusik seorang senopati
Tumapel!"
Ranunilo mengerutkan alisnya. Gajah Putih sudah keterlaluan bicaranya, pikir perwira ini. Bukankah dia
sudah setuju dan menanti permintaan Dewi Pusporini dan meraka semua dijamu sebagai tamu? Mengadu
ilmu kepandaian antara orang-orang gagah adalah wajar, akan tetapi sikap Gajah Putih ini sungguh
keterlaluan, seolah-olah sengaja mencari perkara!
Tiba-tiba terdengar suara yan tenang namun lantang. "Aku masih ada, sebagai wakil Sabuk Tembogo
untuk menerima pelajaran!"
Semua orang memandang dan Wulandari hampir saja berteriak kaget. Kiranya yang maju adalah Joko
Handoko! Ia tahu bahwa pemuda itu tidak pandai apa-apa, seorang yang lemah walaupun pemberani
dan dia menduga bahwa majunya Joko Handoko karena penasaran melihat sikap sombong Gajah Putih.
Pemuda itu hanya maju bermodalkan keberanian belaka. Juga Ki Bragolo terkejut dan khawatir. Akan
tetapi ayah dan anak ini tentu saja tidak dapat melarang karena mereka berada di tempat yang dihadiri
oleh banyak tamu. Maka mereka hanya memandang dengan alis berkerut dan sinar mata membayangkan
kekhawatiran.
Gajah Putih juga memandang dan melihat majunya seorang pemuda yang bersikap tenang, berpakaian
sederhana namun memiliki sinar mata mencorong penuh keberanian, diapun bersikap hati-hati. "Siapakah
andika? Apakah seorang murid Sabuk Tembogo?" tanyanya.
Joko Handoko menggeleng kepala. "Bukan, aku hanya seorang tamu biasa saja yang tidak rela melihat
tuan rumah diejek dan dihina. Karena itu, aku akan maju menghadapimu, Gajah Putih."
"Kakang Handoko, jangan, engkau tidak biasa berkelahi, bagaimana mau melawan dia?" Wulandari
berteriak dan gadis ini sudah lari memasuki arena itu, menghadapi Gajah Putih. "Gajah Putih, engkau
sudah berhasil mengalahkan kami, sudahlah. Dia ini sahabat dan tamu kami, sama sekali tidak biasa
berkelahi dan tidak memiliki ilmu kepandaian silat, maka mundurlah dan pertandingan dinyatakan
selesai!"
"Benar!" kata Ki Bragolo. "Dan biarkan aku atas nama Sabuk Tembogo mengaku kalah terhadap
kepandaian kalian berdua." Kakek inipun tidak menghendaki tamunya celaka.
"Ha-ha-ha-ha!" Gajah Putih tertawa bergelak dengan lagak sombong. "Pemuda yang lemah ini dengan
berani hendak melawan aku, berarti dia hendak membela Sabuk Tembogo dengan nekat. Aihh, agaknya
dibalik kenekatanmu ini ada pamrihnya!" dia melirik ke arah Wulandari dan melanjutkan. "Dan agaknya
aku tahu apa pamrihnya, heh-heh, tentu karena melihat puteri Sabuk Tembogo yang cantik manis!"
"Tutup mulutmu yang busuk!" Wulandari membentak marah.
Joko Handoko lalu berkata kapada Wulandari, "Wulan, mundurlah. Paman Bragolo, maafkan, kalau
saya tidak boleh mewakili Sabuk Tembogo, saya akan maju atas nama sendiri. Sebagai seorang tamu,
tentu saya pun bebas untuk mengadu ilmu dengan mereka, bukan?"
Wulandari dan ayahnya saling pandang. Ki Bragolo kini berpikiran lain. Dia lalu menarik tangan anaknya
dan diajaknya mundur. Dia menduga bahwa mungkin sekali tamu mudanya yang nampak lemah lembut ini
menyimpan rahasia. Kalau tidak demikian, tentu tidak akan segila itu menantang Gajah Putih yang sudah
mengalahkan dia.
Joko Handoko kini menghadapi Gajah Putih. "Orang sombong engkau mendengar sendiri. Aku kini
menantangmu untuk mengadu ilmu, bukan sebagai wakil Sabuk Tembogo, melainkan atas namaku
sendiri."
"Babo-babo, engkau agaknya bosan hidup!" Gajah Putih kini memandang marah. "Siapakah engkau,
orang muda, dan dari aliran mana?"
"Namaku Joko Handoko dan aku bukan dari aliran manapun."
"Mundurlah, kakang Putih, biar aku yang menghajarnya. Engkau sudah dua kali melawan musuh."
Tiba-tiba Gajah Ireng maju dan melihat ini, Gajah Putih tertawa mundur. Dia pun merasa agak rikuh
kalau harus melawan seorang pemuda lemah yang tidak mempunyai aliran, maka biarlah adiknya yang
akan menghajar pemuda lancang itu.
"Heh, orang muda lancing. Tahukah engkau bahwa mengadu ilmu bukan halmain-main? Besar sekali
kemungkinannya akan keluar dengan tubuh babak budas, lecet-lecet bahkan setengah mati!" kata Gajah
Ireng.
"Gajah Ireng, kemungkinan itu berlaku pula atas dirimu," jawab Joko Handoko dengan sikap masih
tenang. "Engkau manusia sombong, besar kepala, kejam, dan kurang ajar. Sama sekali bukan seperti
seekor gajah yang biasanya tenang dan sabar. Engkau lebih pantas memakai nama tikus, tikus ireng
karena mukamu hitam, dan watakmu seperti tikus, licik dan mengandalkan kecepatan."
Semua orang yang mendengarkan ucapan Joko Handoko ini terbelalak. Alangkah beraninya pemuda ini.
Gajah Ireng jelas amat sakti, telah mengalahkan dua orang murid kepala dari Sabuk Tembogo dan kini
pemuda itu berani memaki dan mengejeknya seperti itu. Ada pula yang Manahan ketawa, yaitu para
murid Sabuk Tembogo. Bagaimanapun juga,mereka merasa penasaran dan membenci dua orang Gajah
itu, akan tetapi tidak berdaya. Kalau sekarang ada orang berani menghina dan mempermainkan dua
orang musuh itu, tentu saja hati mereka merasa geli dan senang, walaupun mereka tahu bahwa pemuda
tampan itu sungguh mencari penyakit saja.
Dan Gajah Ireng memang menjadi marah sekali. Mukanya yang hitam menjadi semakin hitam karena
darahnya naik ke muka, matanya melotot dan mulutnya cemberut. Dia memang pendiam, tidak pandai
bicara seperti kakaknya. Saking marahnya, dia semakin tak pandai bicara.
"Bersiaplah untuk mampus!" bentaknya dan dia pun sudah menyerang dengan kedua tangan dikepal,
menghantam dari kanan kiri kea rah muka dan dada Joko Handoko. Serangan itu hebat sekali, cepat dan
mengandung tenaga kuat. Kedua tangannya bergerak dengan kecepatan yang sukar diikuti pandang mata
sehingga para anggota Sabuk Tembogo menjadi silau dan gelisah. Juga Wulandari menonton dengan
kedua tangan saling mencengkeram. Hatinya gelisah sekali. Diam-diam Wulandari teloah jatuh cinta pada
Joko Handoko, maka melihat betapa pria yang dikasihaninya terancam, ia merasa khawatir bukan main.
Joko Handoko mengeluarkan seruan kaget dan mengelak dengan kaku sehingga dua pukulan itu hampir
menyerempet sasaran. Dia memang sengaja melakukan hal ini, padahal tentu saja dia sudah dapat
mengikuti gerakan lawan dengan baik sehingga mudah baginya untuk menghindarkan diri. Hal ini tentu
saja membuat semua orang semakin khawatir dan mereka menahan napas. Sebaliknya, Gajah Ireng
menjadi gembira sekali semangatnya bertambah dan sambil menyeringai lebar dia pun mendesak lagi
dengan serangan-serangan yang lebih cepat. Ingin dia merobohkan pemuda ini secepat mungkin, dengan
pukulan keras agar pemuda lancing ini tahu rasa. Akan tetapi, kini dialah yang harus menahan seruan
heran dan aneh. Pemuda itu terhuyung ke sana sini, mengelak dengan kaku, akan tetapi semua
serangannya luput. Sampai sepuluh jurus dia terus menerus melakukan serangan, makin lama semakin
cepat, dean semua serangannya tetap tak dapat menyentuh lawan.
Kini semua orang mengikuti perkelahian ini dengan kedua mata terbelalak dan mulut ternganga, hampir
tak pernah berkedip karena tidak ingin melepaskan pandang dari jalannya perkelahian yang luar biasa itu.
Wulandari juga terbelalak seperti ayahnya, dan gadis ini hampir tidak dapat mempercayai pandang
matanya sendiri. Biarpun gerakannya kacau sampai terhuyung-huyung, dan biarpun pukulan-pukulan
Gajah Ireng itu kadang-kadang nyaris mengenai sasaran, namun begitu jauh, semua pukulan Gajah Ireng
itu tidak ada yang mengenai tubuh Joko Handoko.
"Heiiii, Tikus Ireng, kenapa kau tidak memukul sungguh-sungguh? Jangan main-main, pukullah dengan
cepat,masa dari tadi luput melulu!" Joko Handoko berteriak dan hampir saja lambungnya menjadi
sasaran sebuah tendangan lawan. Dimiringkan tubuh hampir terjengkang, dan tidak sengaja tangannya
bergerak ke bawah.
"Tukk!!" Dua buah jari tangannya yang mengandung tenaga sakti amat kuat itu telah mengetuk tulang
kering di kaki kiri yang menendang.
"Ouwww........!" Gajah Ireng tidak dapat menahan teriakannya karena tulang kering yang diketuk
rasanya nyeri bukan main, kiut miut rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum yang menembus ke jantungnya.
Dia mengangkat kaki kiri, memeganginya dan berjingkrak-jingkrak dengan kaki kanan, berputar-putaran.
Tulang kering pada kaki itu tidak patah, akan tetapi nyerinya bukan alang kepalang.
Kalau semua orang tadi melongo menahan napas dan tidak berkedip, kini meledaklah suara ketawa dan
sorak sorai para anak buah Sabuk Tembogo melihat betapa Gajah Ireng jingkrak-jingkrak memegangi
kaki kiri sambil berputaran.
"Heii, tikus Ireng, kau kenapa sih? Mau adu ilmu ataukah menari? Kalau mau menari pun yang baik
jangan berjingkrak seperti monyet kepedasen begitu!" Joko Handoko sengaja mengejek dan semua
orang tertawa geli. Mereka para murid Sabuk Tembogo, tidak melihat bagaimana Gajah Ireng terketuk
tulang keringnya karena gerakan Gajah Ireng tadi terlampau cepat. Akan tetapi Wulandari dan ayahnya
melihat dan kini meraka saling bertukar pandang. Mereka masih keheranan karena sebegitu jauhnya Joko
Handoko sama sekali belum memperlihatkan bahwa dia pandai bersilat. Gerakan –gerakannya masih
kaku dan selalu mengelak dengan kacau, maka bagaimanan mungkin kini tahu-tahu Gajah Ireng terpukul
kakinya sampai kesakitan seperti itu? Kalau tidak melihat sendiri, tentu mereka akan menduga bahwa
Gajah Ireng hanya pura-pura saja untuk mempermainkan Joko Handoko.
Gajah Ireng menjadi marah bukan main. Matanya merah dan mulutnya berbusa. Dia merasa penasaran
sekali dan masih belum sadar bahwa dia berhadapan dengan lawan yang tingkat kepandaiannya jauh
lebih tinggi darinya. Dia mengira pukulan pada tulang kering kakinya tadi hanya kebetulan saja.
Betapapun juga, karena rasanya nyeri bukan main, kemarahannya memuncak dan dia sudah melolos kain
ikat kepalanya yang menjadi senjata istimewa baginya dan dia tadi telah mempermainkan dua murid
kepala dari Ki Bragolo dengan senjatanya itu. Melihat ini, kembali Wulandari merasa gelisah sekali dan
kedua kakinya sampai menggigil ketika ia membayangkan betapa ampuhnya senjata ini dan betapa Joko
Handoko kini benar-benar terancam bahaya maut. Akan tetapi, ia tidak dapat berbuat apapun kecuali
nonton dengan jantung berdebar tegang.
"Hei, tikus!" Joko Handoko mengejek lagi. "Kau berani membuka kepalamu tanpa ikat kepala?Awas,
bisa masuk angin nanti, dan lebih mudah bagiku untuk mengetuk kepalamu sampai benjol-benjol!"
"Keparat, mampuslah kau! Gajah Ireng kini hampir gila saking marahnya dan dia pun sudah meloncat
dengan kecepatan terbang sambil mengayun kain ikat kepalanya. Terdengar suara ledakan-ledakan kecil
ketika kain itu melecut-lecut seperti ujung cambuk. Seperti tadi, Joko Handoko terhuyung-huyung dan
selalu mengelak, nampaknya terhuyung dan kacau namun lecutan kain itu tak pernah menyentuh
tubuhnya. Dan betapapun cepatnya Gajah Ireng bergerak, tetap saja kainnya tidak pernah dapat
menyentuh tubuhnya. Dan betapapun cepatnya Gajah Ireng bergerak, tetap saja kainnya tidak pernah
dapat menyentuh lawan. Tentu saja dia menjadi semakin penasaran.
Para penonton kini bersorak-sorak, bukan hanya para anggota Sabuk Tembogo, bahkan ada perajurit
pasukan Tumapel yang bertepuk tangan memuji Joko Handoko. Sukar diterima akal mereka betapa
pemuda yang nampaknya tidak pandai silat itu dapat menghindarkan diri dari serangan-serangan yang
demikian cepat dan gencarnya. Gerakan Gajah Ireng amat cepat, namun ternyata Joko Handoko lebih
cepat lagi walaupun nampaknya kacau dan terhuyung-huyung.
"Kakang Handoko, balaslah! Balaslah!" tiba-tiba Wulandari berteriak, suaranya nyaring melengking
mengatasi sorak sorai para penonton yang merasa lucu, juga tegang dan gembira menyaksikan jalannya
perkelahian yang aneh itu.
"Hem, Tikus Ireng, kau dengar itu? Aku harus membalas. Awas kepalamu yang tidak bertutup kain,
kubikin benjol-benjol!"
Tiba-tiba saja semua orang terkejut karena tubuh Joko Handoko seperti lenyap, dan tahu-tahu
terdengar suara Gajah Ireng mengaduh-aduh. Segera nampak tubuhnya terpelanting dan kini orang-orang
melihat lagi Joko Handoko berdiri tegak memandang kepada bekas lawannya yang merangkak bangun,
kedua tangan meraba-raba kepalanya dan benar-benar di kepala itu nampak benjolan-benjolan sebesar
telur-telur ayam. Akibat ketukan-ketukan jari tangan Joko Handoko. Dia tidak memberi pukulan maut,
namun cukup mambuat kepala itu benjol-benjol dan terasa nyeri. Dengan mulut masih mengaduh-aduh,
Gajah Ireng lalu terhuyung menghampiri kakaknya dan menjatuhkan diri di atas kursi.
Gajah Putih kini meloncat dan terdengar dia mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau
marah. Matanya melotot mamandang ke arah wajah Joko Handoko dan dia pun membentak marah,
"Joko Handoko! Tak perlu engkau berpura-pura seperti orang bodoh! Katakan siapa gurumu dan dari
aliran mana agar aku tidak salah tangan membunuh orang yang tidak punya nama!"
"Sudah kukatakan bahwa namaku Joko Handoko, dan engkau bernama Celeng Putih....."
"Gajah Putih!" bentak raksasa bermuka putih itu marah dan terdengar banyak orang tertawa riuh rendah.
"Siapa bilang Gajah Putih? Coba tanyakan saudara-saudara itu, bukankah engkau lebih patut bernama
Celeng Putih?"
"Keparat, kau hendak menyembunyikan aliranmu, pengecut!" Gajah Putih berteriak dan dia sudah
mengenakan sepasang sarung tangannya yang yang ampuh.
"Engkaulah yang menyembunyikan keadaanmu yang sebenarnya, dan engkaulah yang pengecut maka
kau banyak cerewet dan tidak lekas turun tangan menyerangku."

10Bersambung KEN AROK - EMPU GANDRING-18.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »