KEN AROK - EMPU GANDRING-23.

17:54
KEN AROK - EMPU GANDRING-23.
Akan tetapi sang begawan tetap tenang dan menyeringai. "Bagi hamba, semua ini hanya siasat untuk
menaklukkan Joko Handoko agar di mau membantu tugas hamba. Mereka adalah musuh-musuh, kalau
tidak mau menyerah hukumannya hanyalah kematian."
"Tidak!" Pangeran Maheso Walungan membentak. "Selama ada aku di sini, kalian tidak boleh bertindak
sewenang-wenang. Joko Handoko dan Wulandari ini tidak bersalah. Mereka harus dibebaskan sekarang
juga."
"Akan tetapi, pangeran!" Begawan buyut Wewenang membantah. "Mereka sudah tahu akan semua
rahasia kita............!"
"Rahasiamu yang busuk, bukan rahasiaku. Kalau Tumapel bersikap memusuhi Daha, jalan satu-satunya
yang patut hanya menggempur dan menghajarnya, bukan dengan cara licik mengadu domba untuk
melemahkannya. Aku adalah seorang senopati, bahasaku hanyalah tindakan yang gagah dan jujur, bukan
dengan car-cara,yang licik dan curang. Joko Handoko dan Wulandari, sekarang kalian pergilah."
"Raden Maheso Walungan! Kalau paduka menentang hamba, berarti paduka menentang perintah
Sribaginda!" Begawan Buyut Wewenang berseru memperingatkan pangeran itu, sengaja mempergunakan
nama Sang Prabu Dandang Gendis untuk menggertak pangeran itu.
"Santi-santi-santi.............!" Tiba-tiba Ki Danyang Maruto melangkah maju dan sepasang matanya
mencorong memandang kepada Begawan Buyut Wewenang. "Buyut Wewenang, biarlah urusan ini
menjadi urusan antara engkau dan au saja. Aku yang membebaskan dua orang muda yang tidak bersalah
ini. Pangeran dan Sribaginda tidak perlu mencampurinya. Aku yang bertanggung jawab, mengingat
bahwa pemuda ini adalah cucu Panembahan Pronosidhi yang menjadi sahabat baikku."
Begawan Buyut Wewenang masih merasa sungkan dan tidak enak hati untuk bertentangan dengan
Pangeran Maheso Walungan yang juga merupakan senopati tangguh dari Daha, akan tetapi menghadapi
Ki Danyang Maruto, dia berbesar hati. Bagaimanapun juga, pendeta Siwa Buddha ini tidak memiliki
kedudukan, bahkan dalam banyak hal seringkali terjadi ketidaksesuaian paham antara para pendeta Siwa
Buddha dengan pendirian Sribaginda.
"Babo-babo, Danyang Maruto, bicaramu seperti seekor katak yang merasa dirinya sebesar bukit!
Engkau agaknya belum pernah mengenal kesaktianku. Lihat nagaku ini!"
Berkata demikian, Begawan Buyut Wewenang yang sengaja hendak memamerkan kesaktiannya,
melontarkan tongkat hitamnya ke udara, sambil mengeluarkan pekik melengking nyaring. Semua orang
terkejut dan memandang ke arah tongkat hitam yang dilontarkan ke atas itu dan semua mata terbelalak
karena melihat betapa tongkat hitam itu telah lenyap bentuknya dan nampaklah seekor ular naga yang
besar dengan sepasang mata mencorong, moncong lebar terbentang dan lidahnya merah seperti
mengeluarkan api dengan suara mendesis-desis! Melihat ini Joko Handoko juga terkejut an diapun cepat
mengerahkan tenaga saktinya. Namun, hal ini tidak melenyapkan bayangan naga itu, hanya naga itu
kadang-kadang nampak seperti tongkat asalnya, dan kadang-kadang berubah menjadi naga lagi dalam
pandang matanya.
"Santi-santi-santi.............! Andika seperti kanak-kanak saja, Buyut Wewenang!" Ki Danyang Maruto
lalu mengambil segemgam tanah damn melemparkan tanah itu ke arah bayangan naga itu sambil berkata,
"Segala sesuatu kembali kepada asalnya."
Dan naga itu pun terjatuh, mengeluarkan suara berkelotakan karena telah berubah menjadi sebatang
tongkat hitam berbentuk ular lagi!. Begawan Buyut Wewenang cepat mengambil tongkaytnya dan dia
nampak marah sekali. Akan tetapi pada saat itu, Pangeran Maheso Walungan sudah meloncat ke depan
dengan sikap marah.
"Paman Begawan Buyut Wewenang! Engkau sudahi semua permainan ini atau akan menganggapmu
sebagai seorang pembangkang!"
Sejenak kedua orang ini saling pandang dengan tajam. Akhirnya Begawan Buyut Wewenang menarik
napas panjang dan menundukkan mukanya. Dia tahu bahwa kalau dia bertekat menentang, tentu
pangeran ini dapat mengerahkan pasukannya dan hal ini tidak akan disukai oleh Sribaginda. Dan
mangedu ilmu di situ, belum tentu dia menang karena di situ terdapat Ki Danyang Maruto yang sakti, guru
dari Pangeran itu.
"Baiklah, Raden. Hamba menaati perintah paduka dan tidak akan menghalangi kalau paduka
membebaskan mereka berdua ini.
Pangeran Maheso Walungan menarik napas lega. Dia tahu bahwa kakek ini memiliki pengaruh di istana,
dan dia pun percaya bahwa kakek ini menjalankan tugas yang diperintahkan oleh kakaknya, Sribaginda.
Kalau sampai terjadi bentrokan, tentu setidaknya dia akan menerima teguran dari kakaknya.
"Joko Handoko dan Ni Wulandari, kalian boleh pergi sekarang," katanya kepada dua orang muda itu.
"Maaf, kanjeng pangeran," kata Joko Handoko. "Keris pusaka hamba dirampas oleh sang Begaawan,
hamba menuntut agar dikembalikan kepada hamba karena keris pusaka itu ciptaan Eyang Empu
Gandring dan merupakan pusaka pemberian ibu hamba."
Sang Pangeran kini memandang kepada Begawan Buyut Wewenang dan suaranya terdengar
memerintah dan penuh wibawa, "Paman begawan, harap andika kembalikan keris pusaka milik Joko
Handoko yang paman sita."
Kakek itu mengerutkan alisnya, merasa sayang kalau harus mengembalikan keris pusaka yang dia tahu
amat ampuh itu. Akan tetapi karena di situ terdapat sang pangeran dan gurunya, diapun tidak berani
membantah. Dengan gerakan marah dia mengambil keris dan sarungnya dari ikat pinggang dan
melemparkannya dengan pengerahan tenaga ke arah Joko Handoko. Pemuda ini cepat menyambut
dengan kedua tangannya dan biarpun lontaran itu amat kuat, dia dapat menerimanya dengan baik, lalu
menyimpan kembali kerisnya di ikat pinggang.
Joko Handoko lalu menghadap sang pangeran. "Kanjang pangeran, terima kasih atas kebaikan hati
paduka yang dilimpahkan kepada hamba berdua. Hamba akan mengingat paduka sebagai seorang
Pangeran yang gagah perkasa, adil dan bijaksana."
"Hamba tidak mungkin dapat melupakan budi kebaikan paduka yang telah menyelamatkan hamba dari
malapetaka," kata pula Wulandari dengan hati terharu. Ia tahu bahwa kalau tidak ada pangeran itu yang
menolongnya, tentu ia akan menderita siksaan yang lebih hebat dari pada segala siksa, walaupun ia masih
percaya bahwa pada saat terakhir, tentu Joko Handoko akan meronta, membebaskan dirinya dan
membelanya mati-matian.
Pangeran Maheso Walungan tersenyum dan memandang kepada mereka berdua dengan kagum.
"Kalau saja di Daha terdapat orang-orang muda seperti kalian......!"hanya demikianlah dia berkata. Joko
Handoko dan Wulandari lalu memberi hormat dan keluar dari dalam gedung itu. Pangeran Maheso
Walungan bersama gurunya, Ki Danyang Maruto juga segera kembali ke kota raja.
Peristiwa ini mengakhiri usaha Begawan Buyut Wewenang yang mengadu domba antara kekuatan yang
ada di Tumapel untuk melumpuhkan dan melemahkan Kadipaten Tumapel. Bukan saja karena Pangeran
Maheso Walungan memprotes, kepada Sribaginda yang segera mencabut kembali perintahnya dan
menyuruh Begawan Buyut Wewenang kembali ke kota raja, akan tetapi juga karena para tokoh di
Tumapel tidak dapat diadu-domba lagi setelah mereka mendengar tentang siasat licik yang dijalankan
oleh orang-orang Daha itu.

****
Para tokoh Tumapel tahu akan siasat itu dari peristiwa yang terjadi di kaki Gunung Arjuno, yaitu di
padukuhan perkumpulan Hastorudiro, seperti telah kita ketahui di bagian depan, empat orang perajurit
yang dipimpin oleh perwira Ranunilo, ketika berusaha merampas kembali Dewi Pusporini, telah terbunuh
oleh dua orang bertopeng yang menggunakan ilmu dari Hastorudiro, yaitu Pukulan maut yang
meninggalkan bekas telapak tangan merah seperti darah. Pukulan ini hanya dimiliki orang-orang
Hastorudiro (Tangan Berdarah), maka tentu saja ketika Ranunilo melapor kepada Senopati Raden
Pamungkas, senopati itu menjadi marah. Setelah melapor kepada Sang Akuwu tunggal Ametung tentang
semua peristiwa yang terjadi, sang akuwu memerintahkan untuk menyerbu perkumpulan Hastorudiro di
kaki Pegunungan Arjuno.
Senopati Raden Pamungkas kini berangkat sendiri memimpin pasukan yang duapuluh losin banyaknya
menuju ke Gunung Arjuno. Pada waktu itu, ketua perkumpulan Hastorudiro adalah Ki Kebosoro,
seorang yang memiliki aji kesaktian tangan berdarah, yang turun-temurun diwarisinya dari keluarganya.
Usianya sudah enampuluh lima tahun, tubuh pendek gemuk dan wataknya keras.
Perkumpulan Hastorudiro tak dapat dinamakan perkumpulan bersih. Sebaliknya malah, perkumpulan ini
condong ke golongan hitam, tidak segan melakukan kejahatan untuk membela kepentingan sendiri atau
memperebutkan harta. Namun, harus diakui bahwa di dalam dada Ki Kebosoro yang keras itu sama
sekali tidak terkandung sifat menentang atau memberontak terhadap Kadipaten Tumapel. Bahkan dia
selalu menekankan kepada para anak buahnya agar jangan melawan Para perajurit Tumapel, apa lagi
melakukan pembunuhan. Sedikitnya ada peragaan dan semangat patriot di dalam dada Ki Kebosoro.
Kalaupun ada anak buahnya yang kadang-kadang melakukan perampokan, maka mereka selalu
melakukan pekerjaan jahat ini di wilayah Daha dan tidak pernah mengganggu rakyat Tumapel sendiri.
Karena inilah, makan nama perkumpulan Hastorudiro tetap baik dan disegani di wilayah Tumapel.
Pada suatu hari, sejak pagi padukuhan Hastorudiro kedatangan banyak sekali tamu. Sejak pagi
orang-orang berdatangan memasuki dusun kecil yang menjadi pedukuhan atau sarang dari perkumpulan
itu. Tidak kurang dari seratus orang anggota Hastorudiro tinggal berkumpul di dusun itu. Sebuah rumah
yang cukup besar berdiri di tengah-tengah dan ini merupakan rumah tinggal dan tempat pertemuan dari
ketua Hstorudiro. Sedangkan para anggotanya tinggal di dalam pondok-pondok yang dibangun di sekitar
rumah besar itu. Para anggota ini tinggal bersama keluarga mereka sehingga perkampungan Hastorudiro
itu memiliki penghuni tidak kurang dari tiga ratus orang.
Pada hari itu, sejak kemarin semua pondok dan terutama sekali rumah besar tempat tinggal Ki
Kebosoro telah dihias dengan janur kuning dan kembang-kembang. Kiranya Hastorudiro sedang
mengadakan Pesta perayaan, merayakan usia delapan windu dari ketua Hastorudiro itu. Tentu saja
undangan disebar, terutama para tokoh-tokoh dan perkumpulan-perkumpulan yang terpandang di
wilayah Tumapel. Itulah sebabnya mengapa sejak pagi para tamu berdatangan dan mereka dipersilakan
duduk di ruangan besar dari rumah KI Kebosoro yang sudah nampak menyambut para tamu dengan
ketawanya yang bergelak dan suaranya yang nyaring. Ki Kebosoro dalam menyambut Para tamu dibantu
oleh dua orang. Laki-laki berusia enam puluh tahun. Yang seorang bertubuh tinggi kurus bermuka hitam
penuh cacar dan orang ini bernama Gagaksampar ada pun orang ke dua yang tinggi besar berwajah
gagah dan tampan bernama Ki Gagakmeto. Kedua orang ini adalah adik-adik seperguruan Ki Kebosoro
dan mereka merupakan pembantu-pembantu dan pimpinan dari perkumpulan Hastorudiro. Para murid
tertua yang jumlahnya belasan orang bertugas menerima tamu dan mempersilakan mereka duduk,
beramah tamah dengan mereka, sedangkan murid-murid rendahan bertugas menjadi pelayan dalam pesta
itu.
Ki Kebosoro sendiri dalam menyambut tamu-tamu kehormatan, ditemani oleh seorang pemuda berusia
duapuluh tahun lebih, berwajah tampan dan gagah, berpakaian mewah. Pemuda ini bernama
Pramudento, putera tunggal Ki Kebosoro. Semenjak kecil, Pramudento ditinggal mati ibunya dan setelah
istrinya mati, Ki Kebosoro tidak mempunyai anak lagi dari para selirnya, walaupun sudah kerap kali dia
berganti selir. Karena itu, tidak mengherankan kalau dia amat sayang kepada Pramudento. Selain
mewarisi ilmu-ilmu dari ayahnya, juga Pramudento oleh ayahnya dikirim kepada Ki Ageng Marmoyo,
terhitung uwa guru dari Ki Kebosoro sendiri, yang berdiam di lereng Gunung Bromo untuk berguru.
Maka, setelah selam tiga tahun digembleng oleh pertapa Bromo itu, kini tingkat kepandaian Pramudento
maju dengan pesatnya sampai melampui tingkat ayahnya! Hal ini membuat Ki Kebosoro manjadi
semakin bangga dan sayang kepada puteranya itu.
Banyak orang tua yang menyayang puteranya dengan hati penuh kebanggaan, dan kebanggaan ini sendiri
sudah menunjukkan, adanya pementingan diri sendiri, menuruti senangnga hati sendiri. Dan cinta kasih
yang sudah dilumuri oleh kepentingan diri sendiri itu tiada bedanya dengan kesenangan terhadap benda
yang dianggap menyenangkan dan berharga, dan sayang seperti itu condong untuk mudah luntur, yakni
apabila yang disayangnya itu tidak lagi mendatangkan kesenangan bagi dirinya! Dan sayang hanya kerena
perasaan bangga dan senang ini condong untuk membuat orang tua memanjakan puteranya. Kalau sudah
begini, maka orang tua meracuni pertumbuhan watak puteranya karena kemanjaan itu hanya
membesarkan si-aku yang selalu harus dituruti kehendaknya. Keinginannya untuk bersenang sendiri tanpa
memperdulikan orang lain. Memanjakan anak, menyanjung dan memuji-mujinya menumbuhkan perasaan
tinggi hati kepada jiwa anak, yang akan merasa bahwa dirinya amat baik, amat pandai, seperti yang
dipuji-puji selalu oleh orang tuanya, dan si anak akan terbiasa oleh gambaran tentang dirinya sendiri yang
terlalu tinggi.
Cinta kasih kepada anak memang membiarkan anak tumbuh wajar dan bebas, seperti penggembala
yang mengamati domba-dombanya, dibiarkan doma-domba itu berkeliaran di padang rumput, tanpa
batas. Hanya mengamati dari belakang, tutwuri handayani, turun tangan kalau melihat dombanya
menyeleweng, bukan demi diri sendiri melainkan demi si domba agar jangan sampai tersesat, jangan
sampai merusak tanaman orang, dan jangan sampai makan benda beracun. Perasaan sayang dan mesra
terhadap yang dikasihi bukanlah tumbuh dari kenginan untuk senang sendiri. Dan pendidikan terbaik
adalah perasaan cinta kasih itu sendiri, karena perasaan ini akan terasa oleh si anak, terasa dalam setiap
ucapan orang tua, setiap gerak-gerik orang tua, baik kalau sedang memberi nasihat atau sedang memberi
peringatan dan larangan.
Demikian pula halnya dengan Pramudento. Rara sayang ayahnya yang penuh pemanjaan ini membuat dia
merasa dirinya tinggi dan hebat, mendatangkan perasaan tinggi hati dan angkuh dalam batin pemuda itu.
Apalagi dia hidup di lingkungan orang-orang yang condong melakukan hal-hal yang jahat seperti
perampok, mempergunakan kekerasan mencapai semua keinginan sendiri, dan sebagainya.
Setelah matahari naik tinggi, di ruangan itu telah berkumpul tidak kurang dari seratus orang tamu dari
berbagai macam golongan. Akan tetapi melihat dandanan dan sikap mereka, sebagian besar adalah
jagoan-jagoan dan tokoh-tokoh pendekar di Tumapel. Kepada setiap tamu terhormat Ki Kebosoro
memperkenalkan puteranya yang baru beberapa bulan pulang dari Gunung Bromo. Semua tamu
memandang dengan kagum Pramudento memang seorang pemuda yang ganteng, gagah perkasa dan
menarik perhatian para tamu yang mempunyai anak perempuan. Akan senang hati mereka kalau
mempunyai seorang mantu seperti pemuda ini! Dan memang hal itu merupakan satu di antara keinginan
hati Ki Kebosoro. Dia ingin mencarikan jodoh puteranya, dan siapa lagi kalau bukan puteri-puteri para
tokoh itu yang pantas mendampingi hidup Pramudento, sebagai isterinya? Puteranya hanya pantas kalau
berjodoh dengan puteri-puteri dari tokoh-tokoh kenamaan di saat itu.
Di antara para tamu terdapat pula kurang lebih dua puluh orang wanita, yaitu isteri atau puteri tamu-tamu
yang membawa keluarganya. Tentu saja para wanita ini lebih tertarik lagi melihat Pramudento dan terjadi
bisik-bisik di antara mereka. Hal ini diketahui oleh Pramudento yang sejak tadi tersenyum-senyum manis
menjual lagak menjual mahal sehingga para tamu wanita itu menjadi semakin terpikat.
Selesai pesta berjalan dengan meriahnya dan tidak ada lagi tamu baru yang datang, tiba-tiba muncul
seorang pemuda dan seorang gadis yang segera menarik perhatian pihak tuan rumah dan para tamu
karena pemuda itu walaupun berpakaian sederhana, nampak halus dan tampan, sedangkan gadis itupun
manis sekali mereka ini Joko Handoko dan Wulandari. Ketika keduanya lolos dari Dusun Memeling
karena pertolongan Pangeran Maheso Walungan dan Ki Danyang Maruto, mereka lalu cepat-cepat pergi
ke Gunung Anjasmoro untuk berkunjung kepada perkumpulan Hastorudiro. Seperti diketahui, eyang dari
Joko Handoko, Panembahan Pronosidhi, telah tewas ketika tempat pertapaannya diserbu oleh
orang-orang dari Hastorudiro. Akan tetapi kunjungan Joko Handoko dan Wulandari ke tempat itu sama
sekali bukan dengan maksud membalas dendam atas kematian kakeknya. Sama sekali tidak. Sebelum
meninggal dunia, Panembahan Pronosidhi sendiri sudah meninggalkan pesan kepada Joko Handoko agar
jangan membalas dendam terhadap Hastorudiro, apalagi setelah dia mendengar dari Buyut Wewenang
dan anak buahnya bahwa semua peristiwa itu memang diatur oleh orang-orang Daha, merupakan siasat
untuk mengadu domba antara orang-orang Tumapel sendiri, Kunjungan ini justeru untuk memberi
peringatan kepada Hastorudiro akan fitnah yang dilakukan oleh orang-orang Daha itu telah membunuh
empat orang perajurit Tumapel dengan pukulan yang meninggalkan bekas tangan merah, dan tentu
Kadipaten Tumapel akan marah kepada perkumpulan ini dan bukan tidak mungkin akan mengirim
pasukan untuk membasmi Hastorudiro yang tentu dianggap memberontak! Juga dia ingin memberi
penjelasan bahwa urusan antara aliran Hati Putih yang dipimpin kakeknya dan Hastorudiro yang dipimpin
Ki Kebosoro, tentu juga disebabkan oleh fitnah keji yang dilakukan oleh orang-orang daha.
Melihat munculnya dua orang tamu baru yang datangnya agak terlambat, Ki Gagaksampar segera
menyambut keluar karena pada saat itu ,Ki Kebosoro dan Pramudento sedang menajamu tamu-tamu
agungnya yang duduk di tempat kehormatan, sedangkan Ki Gagaksampar bertugas juga sibuk di meja
lain melayani para tamu.
Melihat bahwa pemuda dan gadis itu adalah orang-orang yang tidak dikenalnya, Ki Gagaksampar
mengerutkan alisnya. Akan tetapi dia tetap menyambut mereka karena dia mengira bahwa tentu dua
orang ini datang mewakili orang tua atau guru mereka. Apalagi gadis itu demikian cantik manis dan Ki
Gagaksampar yang bermuka hitam penuh cacar itu bukan seorang pria yang alim.
"Selamat datang di padukuhan kami. Andika berdua siapakah dan dari mana? Saya Ki Gagaksampar
mewakili kakang Kebosoro untuk menyambut tamu yang baru datang," katanya sambil menyeringai dan
matanya menatap tajam dan menjelajahi wajah Wulandari yang cantik manis. Berkerut gadis itu betapa
orang bermuka hitam buruk ini memandanginya tanpa menyembunyikan rasa kagumnya dan sinar kurang
ajar bermain di pandang mata itu.
Joko Handoko membungkuk sebagai tanda hormat dan dengan sikap sopan dia pun menjawab,
"Maafkan kami, Paman. Sesungguhnya kami tidak tahu bahwa Hastorudiro sedang mengadakan pesta
perayaan dan maafkan kalau kedatangan kami mengganggu. Akan tetapi kami mempunyai urusan penting
untuk disampaikan kepada ketua Hastorudiro, yaitu paman Kebosoro."
Ki Gagaksampar memandang tak senang. Siapa pemuda ini yang berani mengganggu pesta mereka?
Kalau ada urusan, kenapa tidak datang lain hari saja? Akan tetapi karena di situ ada Wulandari, dia tidak
mau memperlihatkan sikap kasar dan menahan kemarahannya.
"Kisanak, kalau engkau mempunyai keperluan dengan ketua kami, sebaiknya lain hari saja datang lagi ke
sini."
"Akan tetapi urusan yang akan kami sampaikan ini penting sekali, paman," tiba-tiba Wulandari berkata.
"Kalau tidak disampaikan sekarang, takut kalau-kalau akan terlambat. Harap kau panggilkan ketua
Hastorudiro sebentar saja agar kami dapat menyampaikan urusan kami."
Kini Gagaksampar mengamati gadis itu dan mulutnya menyeringai semakin lebar, memperburuk muka
yang tak sedap dipandang itu. "Bocah ayu, ada urusan apa sih engkau demikian ingin bertemu dengan
Kakang Kebosoro?Kalau ada urusan, sampaikan saja kepada aku, Gagaksampar, tentu beres. Aku
memwakili kakang Kebosoro dan aku adalah adik seperguruannya? Nah, bocah manis, lekas katakan,
ada urusan apakah agar jangan mengganggu perayaan kami ini."
"Sekali-lagi maaf, Paman," kata Joko Handoko. "Hanya kepada ketua Hastorudiro saja kami dapat
menyampaikan urusan yang amat rahasia dan penting ini, tidak kepada orang lain."
Ki Gagaksampar memandang marah. Ucapan-ucapan itu, walaupun sopan, baginya berarti bahwa dua
orang muda ini tidak percaya kepadanya! "Hemm, katakan siapa engkau dan dari mana, mungkin aku
akan melaporkan tentang kedatanganmu kepada kakang Kebosoro."
"Nama saya Joko Handoko, paman, dan saya datang dari lereng Anjasmoro......."
"Heh, Andika dari aliran Hati Putih?" Kakek itu membentak dan beberapa orang tamu yang duduknya
agak di pinggir menoleh dan karena mereka melihat seorang gadis manis sekali, mereka tertarik dan terus
memandang keluar.
Joko Handoko menggangguk. "Benar, Paman, saya adalah cucu dari mendiang Eyang Panembahan
Pronosidhi............."
"Babo-babo keparat! Kiranya mata-mata dari Hati Putih yang sengaja datang untuk mengacau!
Mampus kau di tanganku!" Sambil membentak dengan suara nyaring, Ki Gagaksampar menerjang dan
menghantam ke arah kepala Joko Handoko. Tamparan itu hebat sekali karena dilakukan dengan
pengerahan tenaga Hastorudiro{Tangan Berdarah}! Akan tetapi, Joko Handoko cepat mengelak dan
ketika lawannya menyusulkan serangan bertubi-tubi sampai tiga kali, dia masih dapat mengelak dengan
mudah.
"Heiii, engkau ini sungguh kasar dan tidak tahu aturan!" Wulandari membentak dan ia pun sudah melolos
sabuk tembaga dari pinggangnya, lalu menyerang Ki Gagaksampar untuk membantu Joko Handoko yang
didesak oleh kakek itu.
"Wuut-wuuuutt, singg..........!" Sabuk itu menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar.
Ki Gagaksampar meloncat ke belakang untuk mengelak. "Babo-babo! Sabuk Tembogo! Kiranya
engkau ini bocah manis adalah murid Sabuk Tembogo. Kenapa Sabuk Tembogo ikut-ikutan membantu
Hati Putih memusuhi kami?"
Joko Handoko membungkuk lagi. "Paman, harap dengarkan dulu, sesungguhnya kami datang bukan
untuk bermusuhan, melainkan untuk membicarakan hal yang teramat penting dengan ketua Hastorudiro."
"Keparat! Siapa percaya omongan Hati Putih? Namanya saja Hati Putih, akan tetapi hatinya berbulu dan
jahat! Siapa dapat melupakan ini?" Dan dia pun mengangkat sedikit kain penutup kepala yang kiri
sehingga nampak betapa kepalanya botak dan daun telinganya yang kiri buntung dan tinggal sedikit saja.
Inilah luka yang dideritanya ketika dia ikut menyerbu ke Anjasmoro, ketika dalam pembelaan diri
mendiang Panembahan Pronosidhi mempergunakan aji kesaktian Nogopasung. "Kami sudah mendengar
tentang kematian Panembahan Pronosidhi dan kami sudah menganggap habis semua urusan. Eh, tidak
tahunya kamu ini tikus cilik berani datang mencari keributan!"
"Kakang Gagaksampar, apakah yang terjadi? Siapa pemuda ini?" Tiba-tiba Ki Gagakmeto yang berlari
keluar mendengar suara ribut-ribut, bertanya, memandang keduanya dengan penuh perhatian.
Dibandingkan dengan Gagaksampar Ki Gagakmeto ini lebih mata keranjang lagi.
Melihat munculnya seorang laki-laki berusia enam puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan berwajah
tampan gagah, Joko Handoko cepat memberi hormat. "Maaf, apakah paman ketua perkumpulan
Hastorudiro?"
Ki Gagakmeto menoleh kepada Joko Handoko dan menggeleng kepala, lalu dia memandang lagi wajah
Wulandari, melihat sabuk tembaga di tangan gadis itu. "Eh-eh, bukankah itu sabuk tembaga yang berada
di tanganmu, bocah ayu? Ki Bragolo memiliki murid semanis ini? Sungguh mengagumkan!"
Tentu saja Wulandari marah sekali mendengar ucapan itu. Ia dan Joko Handoko bersusah payah datang
ke tempat ini untuk memperingatkan Hastorudiro akan ancaman bahaya yang menjadi akibat fitnah
orang-orang Daha, akan tetapi mereka disambut secara kurang ajar sekali.
"Paman ini adalah cucu Panembahan Pronosidhi!" kata Gagaksampar dan mendengar ini, seketika
Gagakmeto membalikkan tubuhnya, menghadapi Joko Handoko dengan mata melotot marah. Dia
mengangkat lengan kirinya ke atas dan nampak oleh Joko Handoko betapa lengan itu, di bawah siku,
nampak bengkok, tanda bahwa lengan itu pernah patah tulangnya. Dan memang tulang lengan kiri itu
pernah patah terkena sambaran aji kesaktian Nogopasung yang dipergunakan mendiang Panembahan
Pronosidhi ketika membela diri dari pengeroyokan orang-orang Hastorudiro.
"Keparat, engkau harus membayar hutang kakekmu kepadaku!" Dan seperti juga Ki Gagaksampar tadi,
tiba-tiba saja Ki Gagakmeto sudah menyerang dengan pukulan dahsyat ke arah dada Joko Handoko.
Pemuda ini merasa mendongkol juga. Tak disangkanya bahwa orang-orang Hastorudiro begini kasar dan
sukar diajak bicara secara baik. Melihat datangnya pukulan yang amat dahsyat, dia pun mengangkat
lengannya menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Duukkkk........!" Dua lengan yang terisi tenaga sakti yang amat kuat bertemu di udara dan akibatnya,
tubuh Ki Gagakmeto terhuyung ke balakang sedangkan Joko Handoko masih berdiri tegak! Hal ini
bukan saja mengejutkan dua orang adik seperguruan ketua Hastorudiro itu, akan tetapi juga membuat
mereka marah.
"Kalian ini orang-orang kurang ajar, menyambut tamu seperti ini!" Wulandari sudah membentak lagi dan
ia pun memutar sabuk tembaganya menghadang di depan Joko Handoko. Sebaliknya, Joko Handoko
malah khawatir melihat sikap Wulandari yang galak karena dia tahu bahwa tingkat kepandaian dua orang
itu saja sudah lebih tinggi dari tingkat gadis itu.
"Paman berdua mundurlah, biar aku menghadapi pengacau-pengacau ini!" Tiba-tiba terdengar suara
halus dan tiba-tiba saja sebuah tangan yang sudah menangkap ujung sabuk tembaga yang diputar oleh
Wulandari. Gadis itu terkejut, sukar dipercaya bahwa ada orang mampu menangkap ujung sabuk yang
diputarnya, karena hal itu lebih berbahaya dari pada menangkap sebatang pedang tajam yang sedang
diputar. Akan tetapi jelas bahwa sabuknya telah ditangkap ujungnya dan ketika ia mencoba untuk
menariknya, sabuk itu tetap saja terpegang dan tidak terlepas dari pegangan orang. Ia pun memandang
penuh perhatian. Dua pasang mata bertemu dan pemuda yang menangkap ujung sabuk tembaga itu
tersenyum ketika melihat bahwa yang memegang sabuk tembaga adalah seorang gadis yang masih muda
dan cantik manis sekali.
"Ah, kiranya seorang adik yang manis sekali! Sungguh mengherankan, siapakah andika dan mengapa
andika membikin ribut di sini?" Pramudento bertanya sambil melepaskan ujung sabuk tembaga.
"Dua ekor monyet tua ini yang membikin ribut. Kami datang baik-baik dan mereka menyambut dengan
serangan! Wulandari menjawab dengan ketus, agak jenuh karena maklum bahwa pemuda tampan yang
muncul ini tangguh bukan main, dan agaknya lebih tangguh dari pada dua orang kakek itu. Pramudento
menoleh dan memandang kepada dua orang paman gurunya dengan heran mengapa dua orang itu
menerima kunjungan seorang gadis semanis dia dengan kasar.
"Pemuda itu adalah cucu Panembahan Pronosidhi dari Anjasmoro!" teriak Ki Gagaksampar. Mendengar
disebutnya nama ini, Pramudento mengerutkan alisnya, lalu melangkah maju menghadapi Joko Handoko.
"Jadi kamu datang untuk memwakili aliran Hati Putih dan memata-matai kami?" bentak Pramudento
dengan sikap mengejek dan memandang rendah. "Apakah kamu berkepala tiga dan berlengan enam
maka berani sekali menentang kami?" Berkata demikian Pramudento sudah menggerakkan tangan kirinya
menampar. Cepat sekali gerakannya, dan ketika Joko Handoko melangkah mundur mengelak, dia
merasa betapa ada hawa panas sekali keluar dari telapak tangan pemuda itu. Terkejutlah Joko Handoko
karena dia tahu bahwa pemuda ini kejam sekali, begitu menyerangnya telah mempergunakan aji pukulan
yang ganas, yang kalau mengenai sasaran tentu akan berbahaya sekali.
Sebelum Pramudento menyerang lagi, terdengar seruan Ki Kebosoro. "Dento, tahan......." Kakek ketua
aliran Hastorudiro ini tadi mendengar ribut-ribut dan cepat melangkah keluar. Dia segera menahan
puteranya yang kelihatan hendak menyerang seorang pemuda yang tidak dikenalnya.
"Dento, apa yang telah terjadi? Siapakah ki sanak ini?" Dia memandang kepada Joko Handoko. Melihat
kakek yang pendek gemuk dan sikapnya penuh wibawa ini, Joko Handoko menduga bahwa tentu inilah
ketua aliran Hastorudiro, maka dia cepat maju dan membungkuk dengan sikap hormat.
"Maafkan kami, Paman. Saya bernama Joko Handoko dari Gunung Anjasmoro, dan ini adalah diajeng
Wulandari, puteri ketua Sabuk Tambogo. Kami sengaja datang untuk bertemu dengan ketua
Hastorudiro. Apakah paman yang menjadi ketua perkumpulan Hastorudiro?"
Diam-diam Ki Kebosoro juga terkejut mendengar bahwa pemuda itu datang dari Gunung Anjasmoro,
akan tetapi dia dapat menahan perasaannya dan tidak sembrono seperti dua orang adik seperguruannya
atau puteranya.
"Hemmm, orang muda, aku adalah Ki Kebosoro, ketua aliran Hastorudiro. Andika datang dari
Anjasmoro, apakah dari aliran Hati Putih?"
"Tidak keliru, paman Kebosoro, aku adalah cucu mendiang eyang Panembahan Pronosidhi, akan tetapi
kedatanganku ini sama sekali tidak ada urusannya dengan kesalahpahaman yang terjadi antara
Hastorudiro dan Hati Putih, justeru kedatanganku ini untuk menjelaskan segalanya, karena kedua pihak
telah menjadi korban fitnah dan adu domba paman.
Ki Kebosoro mengerutkan alisnya dan memandang wajah itu penuh selidik.
"Orang muda, apa maksud kata-katamu itu?" Joko Handoko menoleh ke kanan kiri dan melihat betapa
banyak tamu yang kini memperhatikan percakapan mereka, dia pun membungkuk lagi. "Paman
Kebosoro, rahasia yang akan kusampaikan ini teramat penting, bahkan menyangkut keselamatan
Hastorudiro yang terancam bahaya. Dapatkah kita bicara di dalam agar tidak terdengar orang lain?"
"Kakang Kebosoro kenapa melayani bocah dari aliran Hati Putih? Biarlah aku membunuhnya" kata Ki
Gagaksampar yang membuka ikat kepala sehingga nampak kepala botaknya dan telinga yang buntung
karena hatinya terasa panas, membuat kepalanya menjadi panas pula. Orang ini memang biasanya
membiarkan kepala botaknya telanjang begitu saja dan hanya karena ada pesta parayaan maka dia
menutup kepala botaknya dengan kain kepala.
Akan tetapi Kebosoro melihat sikap yang amat tenang dan serius dari pemuda itu, dan dia pun dapat
melihat bahwa pemuda ini, betapapun sederhana sikapnya, namun memiliki wibawa yang cukup kuat. Dia
bukan orang yang sembrono mengandalkan kekuatan sendiri saja seperti adik-adik seperguruannya, dan
karena inilah membuat dia berwibawa dan dapat menjadi ketua aliran Hastorudiro yang terkenal.
"Adik Gagaksampar, jangan mengotorkan pesta kita dengan keributan. Kalau dia mau bicara biarkan
dia bicara dulu. Mari, orang muda mari kita masuk ke dalam sebentar."
Joko Handoko dan Wulandari mengikuti tuan rumah dengan hati lega walaupun Wulandari merasa
khawatir kalau-kalau mereka akan terjebak pula seperti pernah terjadi pada diri mereka ketika dijebak
dan ditawan orang-orang Daha. Akan tetapi ia pun tidak mau memperlihatkan rasa khawatirnya dan
berjalan di samping Joko Handoko dengan sikap gagah. Biarpun tidak puas melihat sikap ayahnya yang
mau menerima dua orang tamu muda itu. Namun Pramudento dan dua orang paman seperguruannya
tidak berani membantah kehendak Ki Kebosoro dan mereka bertiga pun berjalan di belakang dua orang
tamu itu. Para tamu yang tadinya mengharapkan untuk dapat melihat keributan atau perkelahian yang
terjadi, menjadi tenang kembali melihat betapa tuan rumah mambawa dua orang muda itu masuk ke
dalam dan pesta pun dilanjutkan dengan meriah.
Ki Kebosoro membawa dua orang tamu muda itu ke belakang yang kosong dan sepi. Dengan sikap
tegas dan singkat dia mempersilakan dua orang muda duduk. Mereka berenam duduk menghadapi meja
panjang dan Ki Kebosoro segera berkata.
"Nah, sekarang engkau boleh bicara. Apa yang hendak kau katakan kepada kami?"
"Paman Kebosoro, sebelum Eyang Panembahan Pronosidhi meninggal dunia, beliau berpesan kepadaku
agar aku tidak menaruh dendam terhadap Hastorudiro atas kematiannya yang disebabkan oleh
penyerbuan orang-orang Hastorudiro ke Anjasmoro........."
"Hemm, kalau mau membalas dendam pun boleh!" tiba-tiba Pramudento memotong dengan suara tegas
dan menantang.
Joko Handoko tersenyum memandangnya. "Sobat, Andika sungguh penuh prasangka." Lalu dia
memandang lagi kepada Kebosoro dan melanjutkan. "Karena itu, sedikit pun tidak terkandung dendam
dalam hatiku terhadap Hastorudiro, apalagi setelah aku melihat kenyataan aliran Hati Putih kena fitnah
dan Hastorudiro tertipu sehingga terjadilah penyerangan ke Anjasmoro itu".
"Orang muda, apa maksudmu?" Ki Kebosoro membentak sambil menatap tajam wajah Joko Handoko.
Peristiwa dengan aliran Hati Putih itu memang merupakan ganjalan di dalam hatinya. Mula-mula ada
empat orang yang mengaku murid aliran Hati Putih mengacau dan menyerang orang-orang Hastorudiro,
kemudian empat orang murid itu melarikan diri kembali ke Anjasmoro, dikejar oleh dua orang adik
seperguruan, yaitu Ki Gagaksampar dan Ki Gagakmeto bersama tiga orang murid kepala.
15Bersambung

Artikel Terkait

Previous
Next Post »