KEN AROK - EMPU GANDRING-11

07:57
KEN AROK - EMPU GANDRING-11
Panembahan Pronosidhi melihat telapak tangan merah itu dan diam-diam dia pun terkejut. Orang-orang
ini sesungguhnya tidak dapat digolongkan kaum pendekar yang menjunjung tinggi kebenaran dan
keadilan, penentang kejahatan. Dia pun menggerakkan tangan kirinya menangkis.
“Plakk!” kakek tua renta itu merasa betapa lengannya dijalani hawa panas yang dapat ditekannya
dengan kekuatan hawa sakti di tubuhnya, akan tetapi sebaliknya, kakek tinggi besar itu terpental dan
terhuyung. Tentu saja kakek tinggi besar itu terkejut! Ternyata ketua Hati Putih ini, biarpun sudah tua
sekali, masih memiliki tenaga yang bukan main kuatnya, Dia pun maju lagi dengan lebih hati-hati.
Kakek botak melihat betapa kawannya terpental tadi dan dia pun maklum bahwa Panembahan
Pronosidhi bukan lawan yang lemah, maka diapun cepat membantu dan mengeroyok dari samping kiri,
mulai melakukan penyerangan yang dahsyat. Tiga orang murid keponakan mereka pun sudah mengepung
dan menyerang dari belakang.
Terjadilah perkelahian yang amat seru. Panembahan Pronosidhi memang bukan orang yang suka
berkelahi, bahkan ia tidak pernah berkelahi. Namun, dia seorang sakti yang memiliki ilmu kepandaian
tinggi. Imu silat Nogokredo yang diciptakannya merupakan ilmu yang hebat dan langka, gerakannya
gagah dan kedua tangannya membentuk cakar seperti cakar naga, tubuhnya juga meliuk-liuk seperti
tubuh naga. Bahkan ke sana-sini dan kadang-kadang dapat digunaan untuk menangkis serangan lawan
atau menyerang dengan tendangan-tendangan ampuh! Karena itu, biarpun dikeroyok lima orang yang
memiliki tenaga besar dan ilmu-ilmu pukulan dahsyat, dia dapat melakukan perlawanan dengan cukup
gigih, bahkan dapat pula kadang-kadang membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah
dahsyatnya.
Namun, dalam hal penggunaan tenaga badan, memang usia mempunyai pengaruh yang amat besar. Usia
tua merupakan penyakit yang menggerogoti kekuatan badan dari sebelah dalam, sedikit demi sedikit
digerogoti sehingga yang mempunyai badan sendiri tak merasakannya. Usia semakin meningkat, tanpa
dirasakan, tahu-tahu badan sudah menjadi semakin loyo dan lemah! Kenyataan ini, merupakan hukum
alam, tidak dapat dielakkan pula oleh seorang sakti seperti Panembahan Pronosidhi sekali pun. Setelah
melakukan perlawanan dengan gigih selama puluhan jurus, napasnya mulai terengah-engah dan tenaganya
mulai berkurang. Tenaga yang berkurang ini mengakibatkan gerakannya menjadi lamban pula.
“Plakk......!” Sebuah tamparan yang cukup keras dari tangan kakek botak dengan telah mengenai
lambung panembahan itu.
“Hukkh.....!” Sang Panembahan menahan napas, akan tetapi tetap saja darah segar muncrat dari dalam
perut ke tenggorokannya, dan ada yang keluar dari bibirnya. Dia tahu bahwa pukulan maut itu telah
mengakibatkan luka parah di sebelah calam tubuhnya. Maka dia pun teringat akan ilmu baru yang
diciptakannya khusus untuk Joko Handoko. Cepat dan otomatis tubuhnya membuat kuda-kuda Jurus
Nogopasung. Tubuhnya merendah, kaki kiri ditekuk di depan, kaki kanan melurus ke belakang badan.
Ibu jari di atas tanah, kedua tangan membentuk cakar naga di depan dada dan di pinggang, kemudian
mulutnya mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya bergerak maju dan berputar.
“Heiiiiiiiikkk.....!”
Lima tokoh Hastorudiro itu seperti dilanda angin badai yang amat kuat. Tubuh mereka tak dapat mereka
pertahankan lagi, terlempar dan terbanting ke kanan kiri. Dua orang di antara murid-murid Hastorudiro
tak mampu bangkit kembali karena nyawa mereka telah putus. Mereka yang paling dekat dan paling
hebat menerima hantaman jurus Nogopasung. Murid ke tiga muntah-muntah darah sedangkan dua orang
kakek itu pun bangkit dengan napas terengah-engah dan muka pucat sekali. Mereka telah menderita luka
di sebelah dalam tubuh mereka.
Melihat betapa Panembahan Pronosidhi berdiri dengan tegak, dengan mata mencorong dan mulut agak
terbuka dua orang kakek itu sudah kehilangan nyali mereka. Tanpa banyak cakap lagi, dibantu oleh
seorang murid keponakan yang tidak tewas, mereka lalu pergi sambil membawa tubuh dua orang murid
yang sudah tek bernyawa lagi, pergi Suasana menjadi sunyi di sekitar tempat itu. Hanya desir angin
bermain dengan daun-daun pohon yang terdengar, selebihnya hening bersih dan tenteram. Seperti inilah
keadaan alam kalau hawa nafsu angkara murka dari manusia tidak merajalela.meninggalkan tempat itu
dengan cepat.
Kakek panembahan itu masih berdiri tegak beberapa lama. Setelah orang-orang itu pergi tak kelihatan
bayangan mereka lagi, barulah dia menarik napas panjang, memuntahkan darah dari mulutnya dan
tubuhnya terguling dan terkulai lemas, jatuh di dekat mayat- mayat lima orang cantriknya.
Suasana menjadi sunyi di sekitar tempat itu. Hanya desir angin bermain dengan daun-daun pohon yang
terdengar, selebihnya hening bersih dan tenteram. Seperti inilah keadaan alam kalau hawa nafsu angkara
murka dari manusia tidak merajalela.
Sesosok tubuh yang menggendong bangkai seekor kijang nampak datang barlari dengan cepat seperti
terbang. Joko Handoko tadi mendengar pekiki kakeknya dan dia mengenal pekik itu. Pekik
Nogopasung! Mungkinkah kakeknya sedang berlatih seorang diri? Ah, tak mungkin kiranya. Dia tahu
bahwa bagi kakeknya berlatih ilmu Nogopasung menghabiskan tenaganya. Karena ingin sekali tahu, Joko
Handoko lalu mempergunakan ilmunya meringankan tubuh dan di berlari secepat lari kijang, menuju
pulang.
Kini dia berhenti dan matanya terbelalak ketika dia memandang kepada tubuh yang berserakan di atas
tanah itu. Sampai beberapa lama dia tidak mampu mengeluarkan suara, bahkan tidak mampu bergerak
seolah-olah tubuhnya sudah menjadi patung. Penglihatan itu terlalu hebat baginya sehingga dia tidak mau
percaya bahwa semua itu merupakan hal yang sungguh-sungguh dan nyata.
“Eyanggg....!!” Akhirnya dia menjerit, melepaskan bangkai kijang dan menubruk tubuh eyangnya.
Dilihatnya eyangnya memejamkan mata dan napasnya empis-empis, mukanya pucat dan mulutnya masih
mengalir darah. Dia lalu memeriksa keadaan lima orang cantrik dan dia terkejut mendapat kenyataan
bahwa mereka berlima itu tewas sama sekali.
“Eyaaaanggg......!” Kembali dia menjerit dan sekali lagi memeriksa tubuh eyangnya, mengangkat dan
memangku kepala yang terkulai lemas itu.
Perlahan-lahan Sang Panembahan membuka kedua matanya, lalu berusaha untuk tersenyum ketika dia
mengenal wajah cucunya. “Joko.....” bisiknya lemah.
“Eyang Panembahan! Apakah yang telah terjadi? Siapa yang melakukan semua ini? Dan mengapa?”
Kakek itu sudah hempir tidak kuat bicara, wajahnya sudah pucat sekali dan terlalu banyak darah keluar
dari mulutnya tadi. “Joko.... ini perbuatan...... Hastorudiro.....ingat pesanku......” Dia berhenti dan
memejamkan mata.
“Eyaaaaanggg.....! Apakah pesan Eyang?” Joko Handoko menjerit dan iar matanya sudah bercucuran.
Dia memang sudah mempelajari ilmu memperkuat batinnya, akan tetapi peristiwa ini terlalu hebat baginya
dan dia tidak ingin menahan kedukaannya lagi.
“Joko..... jangan.... jangan....menden...dam....” Kepala itu terkulai dan nyawanya melayang. Joko
Handoko seperti dapat merasakan hal ini karena tubuh bagian atas yang dipangkunya itu tiba-tiba saja
kehilangan seluruh kekuatannya, menjadi lemas dan berat walaupun masih hangat.
“Eyaaaaaaagggg........!” Dia menjerit lagi dan menagisi mayat eyangnya.
Sambil menahan kedukaannya, Joko Handoko mengangkat tubuh eyangnya dan lima orang cantrik,
dibawanya masuk ke dalam pondok dan direbahkan berjajar dengan rapi. Kemudian, dia mengerahkan
seluruh tenaganya menuju ke Wonoselo, menghadap ibunya. Dengan air mata bercucuran dia
menceritakan akan keadaan di padepokan lereng Gunung Anjasmoro. Ibunya, Dyah Kanti, terkejut dan
menangis pula. Raden Pringgoloyo lalu menyertai isterinya dan Joko Handoko, juga belasan orang
pembantu, naik kuda menuju ke padepokan. Hujan tangis terdengar di padepokan itu ketika Dyah Kanti
tiba.
Jenazah Panembahan Pronosidhi dan lima orang cantriknya itu diperabukan, diiringi tangis Dyah Kanti
dan Joko Handoko. Pemuda yang sejak kecilnya dididik oleh kakeknya itu merasa kehilangan sekali.
Kakek itu baginya bukan hanya sebagai kakek, melainkan juga sebagai guru dan pengganti ayah yang
sejak lahir tak pernah dikenalnya itu.
Kembali Joko Handoko menolak ketika ibunya dan ayah tirinya mebujuk agar dia ikut ke Wonoselo.
Bahkan ayah tirinya membujuk bahwa kalau pemuda itu mau ikut ke sana, dia akan membantu agar Joko
Handoko memperoleh kedudukan di kadipaten. Setidaknya, demikian Raden Pringgoloyo, pamuda itu
telah memiliki modal, yaitu kepandaian dan kekuatan, untuk menjadi seorang senopati muda.
“Maaf dan terima kasih,” jawab pemuda itu. “Bukan saya menolak budi kecintaan Kanjeng Romo, akan
tetapi saya ingin merantau dan meluaskan pengalaman. Juga saya ingin melakukan penyelidikan mengapa
mendiang eyang dan para cantriknya dibunuh orang seperti itu.”
“Handoko,” kata ibunya dengan suara lembut. “Aku yakin bahwa eyangmu tidak akan setuju kalau
engkau hendak melakukan balas dendam.” Wanita ini tahu benar akan watak ayahnya. Ketika suaminya,
ayah kandung Handoko, dibunuh orang pun, ayahnya melarang ia untuk mendendam.
Pemuda itu mengangguk. “Saya mengerti, Ibu. Saya melakukan penyelidikan bukan untuk karena
dendam, hanya ingin tahu duduknya persoalan. Kalau aliran Hastorudiro bertindak sesat dan angkara
murka, saya akan bertindak, bukan dengan alasan dendam, melainkan sudah menjadi kewajiban saya
untuk menentang kelaliman dan kejahatan.”
Dyah Kanti maklum bahwa biarpun kelihatan tenang dan sabar, namun puternya itu memiliki kekerasan
dan ketabahan hati yang amat besar. Karena Joko Handoko bukan anak kecil lagi, melainkan sudah
menjadi seorang laki-laki dewasa dan di samping itupun sudah memiliki ilmu kepandaian yang cukup
sebagai bekal dan pelindung dirinya, maka ibunya dan ayah tirinya tidak dapat melarangnya lagi. Raden
Pringgoloyo membekali uang cukup banyak dan seekor kuda yang baik. Mula-mula Joko Handoko
menolaknya, akan tetapi ayah tirinya berkata, “Anakku Joko Handoko. Aku tidak, bermaksud
meremehkanmu dengan bekal dan kuda ini, akan tetapi ketahuilah, Nak, bahwa bagaimanapun juga, kita
tidak dapat melepaskan diri kebutuhan hidup sehari-hari yang memerlukan penggunaan benda berharga
ini. Untuk membeli nasi, membeli pakaian kalau rusak, keorluan lain-lain lagi, bahkan dapat dipergunakan
untuk menolong sesama hidup yang dilanda kekurangan. Terimalah, anakku. Aku menyerahkan suka rela
dan demi kepentinganmu.”
Ibunya juga membujuknya dan akhirnya Joko Handoko terpaksa, menerimanya juga karena merasa
tidak enak kalau menolaknya terus. Lalu berangkatlah dia menunggang kuda meninggalkan lereng
pegunungan Anjasmoro, diikuti pandan mata ibu kandungnya dan ayah tirinya yang sengaja datang ke situ
untuk mengantarkan bekal-bekal itu.
“Semoga dia berbahagia....”bisik Dyah Kanti ketika derap kaki kuda yang ditunggangi puteranya itu
makin menjauh. Ada dua titik air mata membasahi kedua matanya.
Lengan suaminya merangkulnya dari belakang dengan lembut.
Sang surya tersenyum cerah di ufuk timur, memancarkan cahaya kemerahan yang semakin lama menjadi
semakin cerah dan berubah menjadi cahaya keemasan, dengan hangat dan lembut, sinar sang surya
membelai dan membangunkan segala sesuatu dengan cahayanya yang mujijat. Rumput-rumput yang
malam tadi basah kedinginan, kini bersemi dengan mutiara menghias pucuknya, juga daun-daun di pohon,
digantungi mutiara embun yang cemerlang. Garis-garis cahaya menerobos celah-celah daun pohon,
menciptakan garis-garis cahaya lembut dan hangat. Burung-burung menyambut datangnya fajar dengan
kicau yang riang gembira, sibuk membuat persiapan untuk mencari makan di hari itu. Demikian pula,
orang-orang di dusun sudah bangun, dibangunkan oleh kokok ayam jantan dan biarpun tidak segembira
burung-burung pohon, mereka juga membuat persiapan untuk keperluan hari itu. Kaum prianya
memanggul cangkul menuju ke sawah ladang, kaum wanitanya sibuk mengurus rumah tangga. Setiap
orang sibuk dan memulai pekerjaan sehari-hari. Apakah atinya hidup kalau tidak diisi dengan pekerjaan,
dengan kesibukan? Setiap manusia membutuhkan kesibukan, dan kalau sudah terendam kesibukan lalu
mengeluh. Aneh dan lucu tetapi nyata. Kiranya, jarang dapat ditemukan orang yang dapat bertahan untuk
hidup tanpa melakukan apa pun juga. Dia akan merasa hampa, tidak berarti, dan penuh kegelisahan dan
kekecewan.
Derap kaki kuda itu meninggalkan dusun. Joko Handoko meninggalkan dusun di mana dia semalam
menginap. Di rumah ketua dusun yang amat ramah dan yang dapat menjadi tuan rumah yang baik,
menyambut kedatangan seorang pendatang asing yang melakukan perjalanan jauh.
Setelah meninggalkan Pegunungan Anjasmoro, Joko Handoko merantau dan tanpa diketahuinya, dia
telah tiba di kaki Pegunungan Kawi. Dia merasa bersyukur akan kebijaksanaan ayah tirinya. Ternyata
bekal uang dn kudanya amat menolongnya. Bukan saja dia dapat melakukan perjalanan tanpa banyak
lelah, akan tetapi juga dia dapat mempergunakan uang bekalnya untuk membeli makanan, bahkan perlu
pula untuk membalas kebaikan orang-orang dusun yang memberinya tempat menginap dengan
membelikan sesuatu untuk mereka. Kalau dia tidak mempunyai uang, biarpun ada di antara para
penduduk dusun yang mau menerimanya dan memberinya tempat menginap,namun dia akan merasa rikuh
karena tidak mampu membalas keramahan dan kebaikan hati mereka.
Suasan pagi yang amat cerah itu mendatangkan kegembiraan di dalam hati Joko Handoko.
Perjalanannya menuju ke Tumapel karena dia ingin berkunjung ke tempat tinggal kakek gurunya, yaitu Ki
Empu Gandring. Mendiang ayah kandungnya, Ginantoko, sudah tidak mempunyai ayah lagi dan Joko
Handoko merasa enggan untuk mengunjungi keluarga ayahnya yang terdiri dari bangsawan-bangsawan di
Kadipaten. Dia lebih suka berkunjung kepada Empu Gandring yang sudah didengar namanya, yang
dipuji-puji oleh mendiang kakeknya, pembuat keris Pusaka Nogopasung yang sekarang disimpan di balik
bajunya. Juga Empu Gandring adalah guru mendiang ayah kandungnya, seorang sahabat baik sekali dari
mendiang kakeknya. Dia dapat mengabarkan tentang kematian kakeknya kepada Empu Gandring
sekalian mohon petunjuknya.
Pagi itu indah. Kadang-kadang Joko Handoko terpesona oleh keindahan pagi itu sehingga seringkali dia
menghentikan kudanya, hanya untuk dapat lebih menikmati apa yang dilihatnya. Cahaya sinar matahari
yang membuat garis keemasan lembut di permukaan air rawa, kemudian rumpun padi muda menghijau
seperti lautan yang nampak menjadi hijau pupus kekuningan tertimpa sinar matahari pagi. Melihat
burung-burung berterbangan di angkasa sambil mengeluarkan bunyi menuju ke arah tertentu dengan
terbang berbondong-bondong, atau seekor burung elang melayang sendirian jauh tinggi di angkasa,
meluncur dengan terbang layang tanpa menggerakkan sayap, kepalanya menoleh ke kanan kiri penuh
perhatian, agaknya mencari mangsa untuk mengisi perutnya yang lapar. Melihat bapak-bapak tani
memanggul cangkul atau menggembala kerbau menuju ke sawah ladang. Melihat ibu-ibu menggendong
senik (keranjang bambu) berisi hasil kebun atau sayuran, keranjang berisi penuh beban di punggung, dan
anak bayi menetek dan bergelantung di dada. Ada pula, dara-dara ayu dengan sikap kenes berlomba
jalan dengan teman-temannya sambil berkelakar, suara ketawa mereka itu melengking nyaring di pagi
cerah.
Setelah meninggalkan jalan raya dan membelok menuju hutan yang sunyi untuk memotong jalan menuju
ke Tumapel, Joko Handoko mulai melarikan kudanya. Akan tetapi, ketika dia tiba di tepi hutan yang
sunyi, tiba-tiba belasan orang laki-laki bermunculan dari balik semak-semak dan pohon-pohon atau
batu-batu besar. Mereka itu kelihatan kasar dan bengis, dan masing-masing memegang sebatang senjata,
golok dan keris. Ada pula yang memegang tombak. Mereka itu seperti sekelompok orang yang siap
untuk pergi bertempur.
Joko Handoko baru sadar bahwa mereka itu bukan orang yang hendak, bertempur untuk perang,
melainkan sekawanan perampok yang ingin merampok-nya ketika mereka itu tiba-tiba menghadang di
tengah perjalanan dan ketika dia menghentikan kudanya, mereka mengepung!
“Eh, andika sekalian ini mau apa menghentikan perjalananku?” Dia bertanya, pura-pura tidak tahu apa
kehendak mereka.
Gerombolan perampok itu tertawa bergelak dan seorang di antara mereka, yang berkumis tebal panjang
sekepal sebelah dan berjenggot pendek seperti sapu, melangkah maju dan suara ketawanya paling keras
di antara mereka. Orang ini berpakaian serba hitam, bertubuh pendek akan tetapi besar dan perutnya
gendut kedua lengannya yang telanjang memperlihatkan otot-otot di balik kulit yang penuh bulu.
Sepasang matanya melotot lebar, dan ketika dia tebelalak, nampaklah giginya yang hitam semua karena
dia biasa mengunyah tembakau.
“Hua-ha-ha-ha! Anak bagus, engkau yang masih setengah kanak-kanak dan tidak berpengalaman,
sudah berani melakukan perjalanan jauh seorang diri. Engkau ingin tahu mengapa kami menghentikanmu?
Ha-ha-ha! Kami adalah begal!”
“Begal? Apakah itu, Paman?” tanya Joko Handoko dengan sikap masih pura-pura karena dia sedang
mencari akal bagaimana dapat lolos dari kepungan orang-orang ini tanpa harus berkelahi dengan mereka.
Mendengar pertanyaan ini, si jenggot pendek kumis tebal itu tertawa semakin keras. Demikian geli dia
sampai dia tidak mampu bicara, hanya tertawa sambil menudingkan telunjuknya ke arah pemuda di atas
kudanya itu. “Ha-ha-ha-ha.....! Kau tidak tahu artinya begal? Perampok! Dan aku adalah kepalnya,
namaku Kolowiryo. Kami adalah perampok, begal atau kecu. Serahkan kudamu yang bagus ini, dan
buntelan di pinggangmu itu, juga pakaian yang ada di tubuhmu. Ha-ha-ha, dan engkau sendiri boleh
menjadi kekasihku, menghiburku di kala kesepian, ha-ha-ha!” Kepala perampok itu tertawa dan tiga
belas anak buhnya ikut pula tertawa geli. Apalagi melihat tarikan muka pemuda itu begitu keheranan
sehingga nampak bodoh, membuat mereka menjadi semakin geli.
Memang Joko Handoko merasa terheran-heran. Mendengar dia berhadapan dengan kawanan
perampok, tentu saja tidak mengherankan hatinya. Sudah banyak dia mendengar penuturan ibunya dan
kakeknya bahwa di dunia ini banyak terdapat orang-orang jahat, dan terdapat pula perampok-perampok
yang mengganggu orang-orang di sepanjang jalan yang sunyi. Akan tetapi, yang membuat dia melongo
keheranan sehingga nampak bodoh adalah ketika kepala perampok itu menyakan keinginannya untuk
mengambil dia sebagai kekasih ini merupakan hal baru baginya. Tadinya dia mengira bahwa kepala
perampok itu sengaja mempermainkan dan menghinanya, akan tetapi ketika melihat betapa sepasang
mata yang melotot lebar itu ditujukan kepadanya dengan penuh gairah, Joko Handoko merasa bulu
tengkuknya meremeng saking ngerinya. Pemuda itu belum berpengalaman, dan baru saja keluar dari
tempat di mana sejak kecil dia mempelajari ilmu. Ibu dan kakeknya tentu saja belum pernah bercerita
kepadanya tentang pria-pria yang suka berksih-kasihan dan bermain cinta dengan sesama pria.
“Jangan main-main, Paman. Aku adalah seorang laki-laki sejati,” katanya, heran dan juga memancing
karena dia ingin sekali mendengar apakah benar-benar orang itu tidak main-main.
“Ha-ha-ha, siapa main-main, bocah bagus? Engkau begini tampan, kulitmu halus seperti kulit
perempuan, tentu nikmat sekali tidur bersama engkau dalam pelukan. Ha-ha, engkau mau, bukan?
Jangan khawatir, kalau engkau menjadi kekasihku, tak seorang pun di dunia ini akan berani
mengganggumu. Bahkan, aku akan melarang anak buahku untuk mengambil barang-barangmu atau
mengganggumu. Mau, bukan? Turunlah dan kesinilah, sayang.”
Joko Handoko bergidik, terang-terangan dia menggerak-gerakkan pundaknya dengan seluruh bulu pada
tubuhnya meremang. “Tidak..... aku tidak mau.....!” katanya tegas.
Wajah si kumis tebal menjadi keruh dan matanya melotot semakin lebar. “Kalau begitu, engkau memilih
mampus?”
“Kakang Kolo, seret saja dia dari atas kuda itu!” teriak seorang di antara mereka dan kepungan
terhadap Joko Handoko menjadi semakin rapat.
Belasan orang itu kini menghampiri kuda yang ditunggangi Joko Handoko dengan wajah bengis.
Agaknya kuda itu pun dapat mencium tanda bahaya dan dia mengangkat kaki depannya ke atas,
mengeluarkan suara ringkik ketakuan dan kemarahan.
Tiba-tiba terdengar bentakan halus. “Perampok-perampok jahat jangan ganggu orang!”
Semua perampok terkejut dan cepat menoleh, Joko Handoko memandang terkejut dan heranlah dia
melihat bahwa yang membentak itu seorang gadis yang entah dari mana tiba-tiba sudah muncul di tempat
itu. Kepala perampok bernama Kolowiryo segera membalik dan menghadapi gadis itu, memandang
penuh perhatian lalu tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha, wah, mimpi apa kalian semalam, kawan-kawan? Baru saja kita mendapatkan seekor
kambing gemuk, sekarang muncul seekor kelinci gemuk. Gadis ini biar pun masih amat muda, nampak
bersemangat dan kuat, tentu kalian semua bisa mendapatkan bagian, sedangkan pemuda itu untukku
seorang, ha-ha-ha!”
Diam-diam Joko Handoko memandang gadis itu penuh perhatian. Seorang gadis yang usianya kira-kira
lima belas tahun, bertubuh singset, tegap berisi, kulitnya hitam lembut dan halus, wajahnya manis bukan
main, dengan mulut yang panas dan mata yang memancarkan sinar tajam penuh keberanian. Pakaiannya
mewah dan pinggangnya yang kecil ramping itu diikat dengan sabuk tembaga yang berukir indah.
Diam-diam Joko Handoko mengeluh. Tadi dia masih tenang saja karena yakin akan dapat melindungi
dirinya terhadap para perampok ini. Akan tetapi sekarang, muncul seorang gadis yang tentu saja harus
dilindunginya. Bagaimana pun juga, dia merasa kagum melihat keberanian anak perawan itu. Gadis-gadis
lain tentu sudah menangis ketakutan melihat gerombolan perampok yang bengis dan ganas itu.
“Tikus-tikus pecomberan! Maut sudah menghadang di depan mata dan kalian masih berani membuka
mulut besar!” perawan tanggung itu membentak dengan suara penuh tantangan.
Tentu saja belasan orang itu memandang rendah kepadanya. “Kawan-kawan, siapa yang dapat lebih
dulu menangkapnya, dialah yang memperoleh bagian pertama!” kata Kolowiryo dan seruan ini disambut
suara ketawa dan sorakan, kemudian bagaikan segerombolan anjing serigala, tiga belas orang itu
mengepung dan menubruk untuk memperebutkan gadis hitam manis itu.
Joko Handoko sudah siap untuk menolong gadis itu, seluruh urat syaraf di tubuhnya sudah menegang.
Akan tetapi dia menahan diri ketika melihat sikap gadis itu sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut,
bahkan dia melihat betapa lincah kedua kaki gadis itu menyambut serangan lawan. Kini dia dapat
menduga bahwa tentu gadis itu memiliki kepandaian maka sikapnya seberani itu dan hal ini menimbulkan
keinginan tahunya untuk melihat begaimana gadis itu akan mampu melawan pengeroyokan tiga belas
orang yang ganas itu.
Dan dia pun tertegun penuh kagum ketika melihat betapa tubuh yang kecil langsing itu bergerak dengan
amat cepatnya, mendahului sebelum para pengeroyok itu datang dekat, melocat ke depan dan empat
kaki tangannya bergerak cepat sekali membagi tamparan dan tendangan yang ternyata merupakan
serangan-serangan seorang ahli karena tangan dan kaki itu tiba di bagian-bagian tubuh yang lemah.
“Plak! Buk! Plak! Dess....!” Dan empat orang pengeroyok terpelanting sambil mengaduh karena
tamparan-tamparan mengenai leher dan pelipis, tendangan-tendangan memasuki lambung dan dada!
Melihat ini, sembilan orang lainnya terkejut, akan tetapi mereka menjadi marah dan kini mereka
menerjang dengan maksud bukan hanya untuk menangkap, melainkan menyerang!
Betapapun lincahnya, menghadapi sengaran penuh kemarahan dari sembilan orang yang rata-rata
memiliki tenaga kerbau, gadis itu merasa kewalahan juga. Ia mengelak sambil berloncatan ke belakang.
Yang membuat ia semakin kewalahan adalah bau keringat dan bau napas para pengeroyoknya. Mereka
itu adalah orang-orang kasar yang kotor dan tidak pernah mandi sehingga tubuh mereka mengeluarkan
bau yang ledis dan apak, sedangkan mulut yang tak pernah dibersihkan itu bau tuwak{arak} sehingga
memuaskan perut gadis yang dikeroyok.
Tiba-tiba saja nampak sinar berkelebat dan dua orang roboh mandi darah. Semua orang terkejut dan
memandang dengan mata terbelakak melihat betapa dua orang kawan mereka roboh dengan dada dan
perut robek! Kiranya gadis hitam manis itu telah melolos sabuk tembaga yang tadi melilit pinggangnya
dan sekali sabuk itu bergerak, dua orang pengeroyok telah roboh!
Melihat ini, Kolowiryo terkejut sekali dan juga marah. Tadi, melihat gadis itu merobohkan empat orang
anak buahnya dengan tamparan dan tendangan, dia masih merasa yakin behwa anak buahnya akan
mampu membekuk gadis liar itu. Akan tetapi melihat betapa dua orang anak buah roboh lagi dengan luka
parah, marahlah dia.
“Setan betina yang bosan hidup, berani kau melukai kawan-kawanku!” bentaknya dan Kolowiryo yang
gendut pendek ini sudah mencabut sebatang golok yang tergantung di pinggangnya. Dengan gemas dia
mengayunkan goloknya mambacok ke arah kepala gadis. Sampai terdengar suara berdesing saking
kuatnya golok itu dibacokkan. Namun dengan gesit gadis itu miringkan tubuh sehingga golok menyambar
lewat, dan kaki gadis itu sudah menyambar dari samping dengan sebuah tendangan melintang, mengarah
lambung lawan.
“Hehh!” Kolowiryo menggerakkan siku kiri ke bawah untuk menangkis tendangan. Demikian kuatnya
gerakan Kolowiryo ini sehingga ketika sikunya bertemu kaki, tubuh gadis itu terdorong dan agak
terhuyung. Melihat kemenangan tenaga ini, Kolowiryo terkekeh dan timbul kesombongannya. Dia pun
menubruk sambil memutar goloknya, merasa yakin bahwa kini dia akan berhasil menyembeleh gadis yang
membuat perutnya merasa panas itu. Memang sejak muda, Kolowiryo tidak suka kepala wanita, lebih
suka kepada pria-pria ganteng untuk menjadi kekasihnya. Karena itu, kini dia sama sekali tidak merasa
sayang untuk membantai dan membunuh gadis hitam manis yang akan menggerakkan gairah hati setiap
pria biasa itu.
Kembali Joko Handoko yang sejak tadi hanya menjadi penonton di atas kudanya, menjadi tegang dan
seluruh urat syaraf di tubuhnya siap siaga untuk menggerakkan tubuhnya menolong gadis itu kalau-kalau
terancam bahaya. Namun, sikap gadis itu yang membuat dia menahan diri. Diserang secara hebat, si
gadis manis nampak tersenyum dan tetap tenang, bahkan kini tubuhnya meluncur ke depan, tubuhnya
diputar cepat sehingga membentuk gulungan sinar keemasan yang menyilaukan mata. Kolowiryo terkejut
karena bagi dia tiba-tiba tubuh gadis itu lenyap terbungkus atau tertutup gulungan sinar keemasan. Hal ini
membuat dia ragu-ragu dan goloknya menyambar ke depan dengan sinar.
“Trangg.... siingg.....crottt.....!” Kolowiryo mengeluarkan pekikan kesakitan dan dia melotot ke belakang
sambil memandang terbelalak ke arah pangkal lengan kirinya yang terluka. Darah mengalir keluar dari
baju yang robek di bagian itu.
Sementara itu, anak buahnya sudah menyerang dari belakang. Tujuh orang itu sudah menyerang dengan
senjata mereka sehingga keris, golok dan tombak meluncur dan menghujani tubuh gadis hitam manis itu.
“Sing-sing-singgg.....!” Sinar keemasan itu bergulung-gulung dan kadang-kadang, ada sinar mencuat dari
dalamnya, disusul robohnya seorang pengeroyok, lalu seorang dan seorang lagi! Tiga orang berturut-turut
roboh dengan mandi darah!
“Wah......! Sabuk Tembaga......!” Terdengar teriak seorang di antara sisa pengeroyok, agaknya baru
teringat melihat kehebatan sabuk dari tembaga yang dipegang gadis itu. Mendengar itu, Kolowiryo
terkejut bukan main dan mukanya berubah pucat.
“Kau..... kau..... masih terhitung apakah dengan Ki Bragolo ketua Sabuk Tembaga?” tanyanya gagap.
Gadis itu tersenyum berdiri tegak dengan tangan kanan memegang sabuk tembaga yang tipis dan diukir
indah itu, sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang, sikapnya manis, lucu akan tetapi juga gagah
perkasa.
“Dia adalah ayahku,” jawabnya tenang saja.
Sepasang mata yang lebar dari Kolowiryo terbelalak dan dia mengeluh, “Celaka.....” Kemudian tanpa
banyak cakap lagi dia memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk pergi dari situ sambil membantu
teman-teman yang terluka. Gadis itu hanya memandang dengan senyum mengejek dan tidak menghalangi
mereka pergi.
Tempat itu menjadi sunyi dan tenang kembali setelah para perampok itu melarikan diri. Gadis itu masih
tetap berdiri tegak dan Joko Handoko juga masih duduk di atas kudanya. Pemuda itu tertegun ketika
mendengar pengakuan gadis hitam manis itu. Puteri Ki Bragolo! Teringatlah dia akan penuturan mendiang
eyangnya bahwa ayah kandungnya yang bernama Ginantoko telah tewas di ujung Nogopasung yang
ditusukan oleh KI Bragolo! Dan gadis itu mengaku puterinya, puteri dari orang yang membunuh ayah
kandungnya. Sejak mendengar nasihat dan penuturan Panembahan Pronosidhi, hatinya sama sekali tidak
disentuh oleh dendam terhadap Ki Bragolo. Dia merasa yakin bahwa kematian ayahnya itu adalah akibat
ulah ayahnya sendiri. Bukanlah ayahnya telah merusak pagar ayu, menggoda isteri Ki Bragolo bernama
Galuhsari yang juga kemudian tewas di ujung keris pusaka Nogopasung? Biarpun demikian, secara
tiba-tiba dia berhadapan dengan puteri Ki Bragolo, sungguh merupakan hal mengejutkan dan
membuatnya tertegun. Kalau begitu, gadis ini adalah puteri Ki Bragolo dan Galuhsari! Ibu gadis ini adalah
kekasih ayah kandungnya.
“Heii, apakah engkau gagu?” tiba-tiba terdengar suara gadis itu memecah kesunyian dan sekali
meloncat, tubuhnya berada di depan kuda yang terlonjat kaget.
“Siapa gagu? Aku tidak gagu,” jawab Joko Handoko dan suaranya tidak ramah karena masih teringat
bahwa gadis ini adalah puteri pembunuh ayahnya, dan sikap gadis ini yang galak, yang mengatakan dia
gagu membuat hatinya jengkel juga.
“Kalau tidak gagu, kenapa sejak tadi kau terdiam saja di atas kuda? Kenapa sekarang tidak cepat turun
dan menghaturkan terima kasih kepadaku?” Gadis itu menyerang dengan kata-kata, alisnya berkerut
tanda bahwa hatinya merasa tidak puas dengan sikap pemuda yang sudah dibebaskannya dari
melapetaka itu.
“Kenapa aku harus berterima kasih kepadamu?” Joko Handoko bertanya.
“Wah! Bukankah baru saja aku telah menolongmu?”
“Akan tetapi aku tidak pernah minta tolong kepadamu.”
“Ih kiranya engkau seorang yang tak tahu terima kasih! Kalau tadi aku tidak turun tangan, bukankah
engkau kini sudah menjadi mayat?”
“Belum tentu!”
“Hemm, engkau angkuh dan sombong, penuh keberanian. Apakah ada yang kau andalkan?”
Joko Handoko menggeleng kepala. “Aku mungkin tidak sepandai dan segagah engkau, akan tetapi
belum tentu kalau aku akan mati akan mati sekiranya engkau tidak muncul. Mati hidup di tangan para
Dewa, bukan di tangan perampok-perampok itu, bukan?”
“Hus, engkau memang pandai berdebat. Aku sudah bersusah payah menolongmu, menyelamatkanmu
dari bencana, dari ancaman orang-orang jahat. Dan dalam menolongmu itu aku pun terancam bahaya.
Dan sekarang, engkau bersikap angkuh, berterimakasih pun tidak. Kalau tahu begini......”
“Engkau tentu takkan menolongku dan membiarkan aku terbunuh. Bukankah begitu?”
“Mungkin saja......”
“Kalau begitu, aku ingin bertanya. Apakah ketika engkau turun tangan menyerang mereka itu, engkau
berpamrih untuk mendapatkan pernyataan terima kasihku?”
Joko Handoko memandang tajam dan sejenak gadis itu termangu-mangu. Kemudian ia menggeleng
kepala.
“Tidak, aku tidak mengharapkan apa-apa, hanya merasa bahwa sudah menjadi kewajibanku untuk
membela yang lemah dan penentang yang jahat.”
“Nah, kalau begitu, kenapa engkau menuntut terima kasih dariku? Bukankah kalau aku berterima kasih,
maka pertolonganmu itu menjadi ternoda oleh pamrih?”
Gadis itu nampak bingung, kemudian manarik napas panjang. “Sudahlah, engkau memang aneh! Tidak
berkepandaian, lemah, melakukan perjalanan seorang diri menunggang kuda begini baik, membawa
buntalan besar. Tentu saja menarik perhatian kaum perampok! Kemudian, sudah dikepung
perampok-perampok ganas engkau masih, enak-enak saja duduk di atas kuda, sedikitpun tidak merasa
takut. Dan setelah ditolong orang, engkau pun tidak peduli. Orang macam apa sih engkau ini? Siapa
namamu dan di mana tempat tinggalmu?”
Merasa tidak enak bicara dengan seorang gadis muda duduk di atas kudanya, Joko Handoko lalu turun
dari atas punggung kuda. Gadis itu memandang, dan sinar kagum memancar dari pandang matanya
melihat pemuda tampan yang memiliki bentuk tubuh tegap itu.
“Namaku Joko Handoko dan tempat tinggalku.... ah, aku seperti sehelai daun yang tertiup angin,
terbang ke mana saja angin meniupku, tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap.”
“Hemm, semakin aneh penuh rahasia saja engkau. Akan tetapi namamu indah sekali. Joko Handoko!
Biarpun engkau tidak memiliki tempat tinggal, setidak-tidaknya engkau mempunyai tujuan perjalanan.
Hendak kemanakah engkau?”

6Bersambung
KEN AROK - EMPU GANDRING-11

Artikel Terkait

Previous
Next Post »