KEN AROK - EMPU GANDRING-15

08:27
KEN AROK - EMPU GANDRING-15
Sementara itu dengan jantung berdebar Joko Handoko memandang kepada kekek itu dengan penuh
perhatian. Ini kiranya orang yang telah menikam dada ayah kandungnya dengan pusaka Nogopasung
yang kini berada padanya. Inilah pembunuh ayahnya. Akan tetapi dia merasakan dengan jelas betapa
hatinya tidak diliputi kebencian atau dendam, dan dia pun merasa lega. Di bawah gemblengan
Panembahan Pronosidhi, dia senatiasa mengamati keadaan hatinya sendiri dan sekarang pun, di samping
mengamati keadaan Ki Bragolo dia pun melakukan pengamatan terhadap dirinya sendiri. Seorang kakek
yang gagah perkasa, tinggi besar dan usinya tentu sudah hampir tujuh puluh tahun. Rambutnya sudah
hampir putih semua, bahkan kumis dan jenggotnya, juga alisnya, sudah berwarna putih. Akan tetapi
wajahnya masih segar penuh semangat dan harus diakui bahwa wajah itu gagah dan berwibawa. Seluruh
tubuh dan pembawaannya membayangkan kekuatan besar yang menggiriskan.
Juga banyak laki-laki tua muda yang hadir di situ, para anggota Sabuk Tembogo rata-rata nampak
gagah perkasa dan walaupun mereka itu membayangkan watak yang kasar namun mereka itu gagah dan
terbuka. Hal ini dapat dilihat dari sinar mata mereka ketika mereka memandang kepada Wulan atau
Dewi Pusporini. Tidak terdapat pandang kurang ajar seperti orang-orang kasar yang menjadi hamba
nafsu dan sudah biasa melakukan kejahatan.
"Ayah, aku sudah tidak tahan lagi membayangkan betapa tiga orang saudara seperguruanku yang tidak
bedosa itu ditawan oleh Senopati Pamungkas, mungkin disiksa atau dibunuh! Karena itu, setelah ayah
gagal meminta mereka dibebaskan dengan jalan membujuk dan minta kepada enopati, aku lalu
mengambil keputusan ini. Harap ayah maafkan, akan tetapi aku tidak melihat jalan lain untuk memaksa
Sang Senopati untuk membebaskan tiga orang anggota kita kecuali menculik puterinya."
"Bodoh! Ini merupakan pemberontakan dan perang terbuka terhadap Tumapel! Apa kau kira Sang
Akuwu Tunggal Ametung akan tinggal diam saja mendengar betapa kita memusuhi Senopati Pamungkas
yang berarti juga memusuhi Tumapel? Kita akan dianggap pemberontak dan ke mana kita akan
menyelamatkan diri kalau begitu? Engkau tahu bahwa pendirian Sabuk Tembogo adalah membela
kebenaran dan mengabdi kepada Tumapel!" Kakek itu marah sekali. "Hayo, kembalikan sekarang juga
Sang Puteri kepada ramandanya dan engkau harus minta maaf kepada Sang Senopati!"
"Akan tetapi, Ayah...."
"Tidak ada tapi! Jangan engkau menambah kesalahpahaman antara kita dengan senopati menjadi
semakin parah dan menjadi permusuhan! Hayo kembalikan Sang Putri ini sekarang juga dan sampaikan
maafku kepada Sang Senopati!"
Wulandari cemberut. "Ayah, enak saja ayah bicara. Keadaannya tidak sesederhana itu. Ada empat
orang perajurit senopati yang tewas, bagaimana aku dapat menghadap ke sana?"
"Apa?" Kakek itu membanting kaki dan mengepal tinju dengan marah, memandang anaknya dengan
mata terbelalak. "Kau.... kau malah membunuh empat orang perajurit Tumapel?"
"Tidak, Ayah. Peristiwanya begini. Tanpa menjatuhkan korban, bahkan tanpa ketahuan aku
mempergunakan aji penyirepan, aku berhasil melarikan Dewi Pusporini keluar dari gedung senopati. Aku
bertemu dengan Joko Handoko ini yang kukenal dalam perjalanan dan dia pun membantuku dan
memijamkan kudanya. Kami melarikan Sang Puteri dan ketika kami tiba di hutan, muncl sepasukan
perajurit Tumapel yang melakukan pengejaran. Aku melayani mereka akan tetapi sudah kujaga benar
agar aku tidak sampai membunuh mereka. Tiba-tiba muncul dua orang yang membantuku dan mereka
berdua itulah yang menurunkan tangan maut membunuh empat orang perajurit. Aku mencegahnya dan
mereka melarikan diri. Melihat tanda tapak tangan berdarah, aku tahu bahwa mereka adalah
orang-orang Hastorudiro, Ayah."
"Ah....!! Adi Kebosoro membantu kita melawan Tumapel? Rasanya tidak mungkin! Adi Kebosoro yang
menjadi ketua Hastorudiro selamanya setia kepada Tumapel. Siapa mau percaya keteranganmu itu?
Tetap saja disangka engkau yang menculik sang puteri. Celaka..... celaka....engkau anak celaka,
mendatangkan malapetaka kepada kita semua!"
Melihat Wulandari hanya menundukan muka dengan sedih dan bingung, Joko Handoko merasa kasihan.
"Maaf, paman. Saya sendiri melihat sebagai saksi bahwa Wulandari sama sekali tidak membunuh orang."
Kakek itu mengangkat muka memandang kepada Joko Handoko dan agaknya baru sekarang ia
memperhatikan pemuda itu karena tadi seluruh perhatiannya, didorong kemarahan ditujukan kepada
putrinya. Dan tiba-tiba dia terbelalak, memandang dengan muka berubah. Sampai lama dia menatap
wajah Joko Handoko kemudian terdengar suara perlahan dan lrih," Kau.... kau....., Siapakah
engkau....?"
"Nama saya Joko Handoko, paman," jawab pemuda itu dengan hati tidak enak karena sikap tuan rumah
itu sungguh aneh.
"Joko Handoko.....? Belum pernah aku mendengar nama itu, akan tetapi di mana kita sudah pernah
saling jumpa?"
"Belum pernah, Paman, baru pertama kali ini....."
"Tidak! Pernah ki9ta saling bertemu.... entah di mana...."
"Ayah, aku bertemu dan berkenalan di tengah hutan ketika aku menolongnya dari kepungan perampok.
Joko Handoko ini tidak pernah bertemu dengan ayah."
"Sudahlah!" Kakek itu teringat lagi akan perbuatan Wulandari. Sekarang, engkau cepat kembali ke
Tumapel, mengembalikan sang puteri."
"Tapi.... Mereka tentu akan menangkapku, ayah."
"Salahmu sendiri. Biar menjadi pelajaran bagimu!"
Kini Dewi Pusporini yang sejak tadi menaruh perhatian dan mendengarkan, mulai berubah pandangan
terhadap keluarga Sabuk Tembogo. Ia mengerti bahwa agaknya memang telah terjadi rahasia yang aneh
di balik semua peritiwa itu yang seolah-olah hendak menaruh Sabuk Tembogo di tempat gelap dan
tersudut sehingga dimusuhi oleh Tumapel. Dari percakapan itu dan sikap ayah dan anak itu,ia merasa
yakin bahwa Sabuk Tembogo sama sekali tidak berniat memberontak atau memusuhi Tumapel.
"Sudahlah, Paman Ki Bragolo. Saya sudah mendengar semuanya dan saya yakin bahwa terjadi
kesalahpahaman antara Sabuk Tembogo dan kami. Memang benar bahwa aku melihat sendiri
orang-orang bertopeng mempergunakan senjata Sabuk Tembogo merampok keluarga kami, akan tetapi
kini aku mulai ragu-ragu apakah benar mereka adalah orang-orang Sabuk Tembogo, ada orang golongan
lain yang menyamar. Biarlah aku di sini dulu, nanti kalau pasukan Tumapel datang, aku yang akan
memberi penjelasan kapada mereka. Aku akan minta, kepada ayah untuk melakukan penyelidikan
seksama dan tidak menimpakan kepada Sabuk Tambogo begitu saja."
Mendengar ucapan Sang Puteri ini, wajah Ki Bragolo menjadi berseri. Hatinya lega sekali. "Ah, sungguh
Andika seorang putri yang bijaksana sekali. Terima kasih, dan kami setuju sekali dengan pendapat
Andika. Hayo, Wulandari, ajak Sang Puteri ke dalam, beri kamar terbaik dan layani dengan baik sebagai
tamu agung kita!"
"Baik Ayah, dan Joko Handoko ini sudah banyak membantuku, Ayah. Biar dia mengaso dan menjadi
tamu kita pula. Marilah, Raden Ajeng Dewi," kata Wulandari dengan sikap hormat dan bersukur karena
bagaimana pun juga, Dewi Pusporini telah menolongnya dari kemarahan ayahnya tadi.
Setelah mereka berdua itu memasuki rumah, Joko Handoko lalu diajak oleh murid kepala menuju ke
pondok di sekeliling rumah besar Ki Bragolo, diberi sebuah kamar untuk beristirahat dan kudanya pun
dimasukkan ke dalam kandang kuda dan diberi makan.
Semantara itu, di Kadipaten Tumapel, Senopati Raden Pamungkas menjadi marah bukan main
mendengar pelaporan para prajurit yang berhasil menyusul penculik puterinya. Laporan itu mengatakan
bahwa yang menculik puterinya adalah Wulandari, puteri Ki Bragolo ketua Sabuk Tembogo. Lebih
marah lagi dia ketika laporan itu mengatakan bahwa ketika pasukannya telah berhasil menyusul
Wulandari dan mengeroyoknya, muncul dua orang berkedok yang mempergunakan ilmu pukulan
berdarah membunuh empat orang perajurit. Pasukan itu telah menemukan empat mayat teman mereka
dan melihat tapak tangan merah yang menewaskan mereka.
"Keparat! Sabuk Tembogo dan Hatorudiro telah berbalik haluan dan menjadi pemberontak? Kita harus
menghajar mereka!" bentaknya dan dia pun memerintahkan perwira bawahannya, membagi pasukan
menjadi dua, dan masing-masing pasukan disuruh menyerbu ke sarang perkumpulan Sabuk Tambogo di
lereng Kawi dan perkumpulan Hastorudiro yang berada di kaki Pegunungan Arjuna. Dia sendiri tidak
ikut dalam penyerbuan itu, karena selain hal itu menurunkan derajatnya sebagai senopati, juga dia harus
cepat-cepat membuat pelaporan tentang pemberontakan dua perkumpulan itu kepada Sang Akuwu
Tunggul Amentung yang menjadi atasannya.
Yang melakukan penyerbuan menuju ke lereng Kawi berjumlah lima puluh orang perajurit, dikepala oleh
seorang perwira bernama Ranunilo, seorang perwira berusia empat puluh tahun yang memiliki
kepandaian tinggi dan tenaga yang kuat. Oleh sang senopati , Ranunilo diberi tugas khusus untuk
menyelamatkan puterinya yang tertawan di sarang Sabuk Tambogo. "Kalau mereka mau membebaskan
Dewi, dan Ki Bragolo beserta puterinya mau menyerahkan diri,maka Sabuk Tambogo akan diampuni
dan tidak perlu dibasmi. Akan tetapi kalau mereka tidak mau menyerahkan Dewi, gempur dan habiskan
mereka!" demikian pesan Sang Senopati dengan marah...
Pagi-pagi hari sekali, pasukan di bawah pimpinan komandan Ranunilo telah tiba di kaki Gunung Kawi.
Selagi perwira itu mengatur pasukan untuk mendaki gunung dengan berpencar arag mereka langsung
mengepung sarang Sabuk Tembogo kalau sudah tiba di lereng, tiba-tiba muncul dua orang, laki-laki yang
menarik perhatian karena mereka itu langsung dating menghadap Ranunilo.
"Kami mendengar tentang pemberontakan Sabuk Tembogo terhadap Tumapel, maka kami kakak
beradik seperguruan siap untuk membantu pasukan Tumapel, untuk menghajar Sabuk Tambogo," kata
mereka.
Ranunilo mengerutkan alisnya dan mengamati dua orang laki-laki itu penuh perhatian. Yang bicara
adalah orang pertama yang bertubuh seperti raksasa, bermuka putih dan halus tanpa, kumis, berjenggot
pendek. Adapun orang ke dua yang lebih muda, bertubuh tinggi kurus dan bemuka hitam. Usia mereka
kurang lebih empat puluh dan tiga puluh lima tahun.
"Hem, kami tidak membutuhkan bantuan. Siapakah kalian?" Tanya perwira itu dengan pandang mata
curiga.
"Kami adalah dua orang kakak beradik dan datang dari pantai Segoro Kidul. Nama saya Gajah Putih
dan adik seperguruan saya ini bernama Gajah Ireng. Kami berdua meninggalkan pantai untuk bekerja
dan mengabdi kepada Kadipaten Tumapel. Mendengar bahwa Sabuk Tembogo kini memberontak, kami
menjadi penasaran dan ingin membantu," kata Gajah Putih yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa itu.
"Hemm, kami pasukan Tumapel tidak membutuhkan bantuan dan kalau kalian ingin mengabdi, sebaiknya
dating saja ke Tumapel dan menghadap yang bertugas di sana," kata pula Ranunilo.
"Maafkan kmi berdua," kata Gajah Putih sambil tersenyum. "Andika akan menyesal kalau tidak meneria
bantuan kami, karena kami sudah mengenal siapa adanya Ki Bragolo dan perkumpulannya Sabuk
Tembogo. Dia seorang yang sakti dan murid-muridnya pun rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Kalau sampai Andika gagal menyerbu Sabuk Tambogo, selain Andika akan menerima kemarahan dari
Sang Senopati dan Sang Akuwu, juga Tumapel akan merasa malu sekali."
Ranuniro memandang dua orang kakak beradik seperguruan itu dengan alis berkerut.
"Hemm, kalau kalian mengira aku akan kalah, apakah kalian berdua akan mampu mengalahkan Ki
Bragolo?"
"Tentu saja kami berdua akan mampu mengalahkan Ki Bragolo!" jawab Gajah Putih dengan tersenyum
lebar dan sombong. "Kalau tidak, kami tidak akan berani mengajukan diri membantu pasukan Tumapel."
"Bagaimana aku dapat yakin bahwa kalian berdua memiliki kemampuan sebesar itu?" perwira itu
mendesak, tertarik juga.
"Ha-ha-ha, sudah kuduga bahwa andika akan minta bukti!" katanya kepada adiknya, Gajah Ireng yang
sejak tadi hanya mendengarkan saja dan menyerahkan kepada kakak seperguruannya menjadi juru
bicara.
Gajah Ireng lalu berkata kepada Ranunilo. "Apakah andika melihat burung emprit di puncak pohon itu?"
Ranulniro mengangkat muka dan melihat adanya seekor burung emprit yang berloncatan dari ranting ke
ranting di puncak sebatang pohon randu alas yang tinggi. Dia mengangguk. "Ya, aku melihatnya."
"Saya akan menangkap burung itu untuk andika seperti saya akan menangkap Ki Bragolo untuk andika."
Berkata demikian, tiba-tiba kedua kaki Gajah Ireng menekan dan menendang tanah dan.... Tubuhnya
sudah mencelat ke atas dengan cepatnya, seperti seekor burung garuda saja tubuh itu melayang ke arah
puncak pohon. Ranuniro memandang dengan mata terbelalak ketika tubuh Gajah Ireng sudah meloncat
turun dan memperlihatkan emprit yang menggelempar di telapak tangannya!
"Hebat......! Engkau hebat.....!" katanya penuh takjub. Orang ini memiliki kecepatan gerakan yang luar
biasa, pikirnya. Kalau kecepatan seperti itu dipakai dalam perkelahian, tentu menggiriskan sekali.
Gerakannnya sukar diikuti saking cepatnya dan berbahaya sekali melawan orang yang memiliki
ketangkasan seperti ini. Melihat kecepatannya saja, maklumlah dia bahwa dia sendiri bukanlah lawan
Gajah Ireng itu.
"Ha-ha-ha, memang adik seperguruanku itu memiliki keringanan tubuh yang menakjubkan. Dan untuk
mengalhkan Ki Bragolo, urusan mudah saja. Saya akan menumbangkan kekuasaan Sabuk Tembogo
seperti ini." Kata Gajah Putih sambil menghampiri pohon randu alas tadi. Dia menggunakan kedua
lengannya yang panjang dan besar untuk memeluk batang pohon sebesar dua kali tubuh orang itu,
mengerahkan tenaga dan menarik. Terdengar suara keras dan pohon itupun jebol akar-akarnya dan
tumbang, mengeluarkan suara gemuruh dan para prajurit cepat berloncatan dan berlarian agar jangan
sampai tertimpa pohon itu! Kini para prajurit bersorak memuji karena demontrasi yang diperlihatkan
Gajah Putih ini sungguh amat menganggumkan hati mereka.
Bukan main girangnya hati Ranunilo. Tadinya dia memang sudah agak gentar dan ragu-ragu ketika
mengatur pasukannya untuk mendaki dan mengepung sarang Sabuk Tembogo. Dia sudah mengenal Ki
Bragolo dan tahu bahwa kakek itu sakti mondroguno. Kini, tiba-tiba muncul dua orang kakak beradik
seperguruan yang memiliki kesaktian hebat dan ingin membantunya. Hal ini meyakinkan hatinya bahwa
dia pasti akan berhasil membawa kembali Dewi Pusporini dan menaklukkan Ki Bragolo.
Setelah menerima kakak beradik itu, dengan hati lapang dan semangat besar, Ranunilo lalu memimpin
pasukannya untuk mendaki naik dan tak lama kemudian dia sudah tiba di depan pintu gerbang
pedukuhan yang menjadi sarang Sabuk Tembogo, dilereng Gunung Kawi.
Tentu saja Ki Bragolo sudah tahu akan kedatangan pasukan Tumapel ini, maka dengan sikap tenang
diapun keluar menyambut ke pintu gerbang. Dia sudah memesan kepada para murid Sabuk Tembogo
yang jumlahnya kurang lebih tiga puluh orang agar berdiam saja di dalam dan tidak menimbulkan
keributan dengan pasukan Tumapel. Dia hanya keluar bersama Wulandari, Joko Handoko, dan Dewi
Pusporini. Kehadiran puteri Senopati Pamungkas itulah yang membesarkan hatinya.
Dan memang, Ranunilo tertegun melihat betapa puteri atasannya itu keluar pula menyambut bersama Ki
Bragolo dan sama sekali tidak kelihtan sebagai seorang tawanan! Akan tetapi, dia bersikap angkuh dan
begitu berhadapan, segera dia berkata dengan suara lantang.
"Heh, Ki Bragolo yang memberontak! Kami diutus oleh Sang Senopati Raden Pamungkas agar engkau
menyerahkan kembali Sang Puteri Dewi Pusporini dan engkau sekeluargamu menyerahkan diri untuk
kami tangkap dan kami bawa sebagai tawanan ke Tumapel. Kalau sudah begitu, barulah tempat ini tidak
akan kami ganggu. Sebaiknya kalau kalian membangkang, terpaksa kami akan membuat tempat ini
menjadi lautan api dan seluruh penghuninya kami bunuh!"
"Ranunilo, semenjak dahulu engkau mengenal Ki Bragolo bukan sebagai pem- berontak! Agaknya
terjadi kesalahpahaman dan biarlah Sang Puteri Dewi Pusporini sendiri yang akan menjelaskan
kepadamu," jawab Ki Bragolo dengan sikap tenang. Jawaban ini tentu saja tidak disangka-sangka oleh
Ranunilo yang menduga bahwa hanya ada dua jawabanm, yaitu Ki Bragolo melawan atau menyerah.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara sang puteri dan terpaksa dia harus hormat mendengar penuh
perhatian.
"Paman Ranunilo," kata Dewi Pusporini dengan suara Halus dan karena semua orang menahan napas
untuk mendengarkan penuh perhatian, biarpun suaranya lembut namun terdengar jelas. "Apa yang
dikatakan oleh paman Ki Bragolo itu memang benar. Ada kesalahpahaman antara Sabuk Tembogo dan
Tumapel. Aku dating ke sini bukan sebagai tawanan melainkan sebagai seorang tamu agung yang
dihormati. Karena itu, janganlah bersikap keras. Aku akan pulang dan paman Ki Bragolo, juga
Wulandari, akan ikut bersamaku menghadap kanjeng romo."
Tentu saja hal ini tidak disangka-sangka oleh Ranunilo. Dia merasa kurang puas karena setelah kini
memiliki dua orang jagoan, dia ingin menunjukkan kemampuannnya. Akan tetapi di situ terdapat Dewi Pusporini, tentu saja dia tidak berani membantah.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »