LEGENDA BARUKLINTING DAN NYAI LEMBAH (SENTONO RATU DEMAK)

03:14
LEGENDA BARUKLINTING DAN NYAI LEMBAH (SENTONO RATU DEMAK)
DIAWALI dengan puja semedi Sang Ratu Shima, penguasa kerajaan Tertua di pulau Pulau Jawa, Kerajaan Kalingga. Di ikutilah petunjuk dari yang maha kuasa untuk segera mendirikan Candi sebagai tempat pemujaan kepada Shang yhang Widhi sebagai penganut Agama Hindu, maka pada suatu hari berangkatlah rombongan pencarian Gunung Suralaya, atau gunung Ngungrungan, atau Gunung Ungaran, disana dipercaya sebagai pesanggrahan para dewa.
Dalam perjalanan nya sebagai pemimpin rombongan adalah Ki Ajar Salokantoro (Saloka Antara) Seorang pendeta agama hindu yang Tampan rupawan dan gagah perkasa. Pada suatu tempat sang Begawan melarang untuk melakukan apapun, pada tempat tersebut di namakan Dusun Larangan, kemudian dalam perjalanan lebih keatas lereng gunung tersebut ada tempat yang berbau harum, yang dinamakan dusun Darum, dan sampailah pada tempat yang dituju disana Rombongan melakukan Puja Semedi dengan Munutup Babahan Hawa Songo (sembilan lubang pada Tubuh Manusia) atau Nggedong Babahan Howo Songo (Nggedong Artinya Mengikat=Nggedong Bayi) maka sampai sekarang nama tersebut terkenal dengan nama Gedong Songo. 
Dimulailah pembuatan Candi, dalam proses pembuatan candi didisain Candi 1 berjumlah 1 Candi ke 2 berjumlah 2 Candi ke tiga berjmlah 3 dan sampai candi ke Delapan berjumlah 8 candi, dengan sistem ada Candi Induk dan Candi perwara, dalam rombongan mensertakan beberapa dayang dan tukang masak, sebagai Lurah dayang bernama Roro Ari Wulan (Ari = matahari, Wulan = Bulan) Seorang lurah dayang bergelar Matahari dan Bulan adalah sang Ratu Sima Sendiri. Dipesankan jangan memangku pisau (hanya kata sandi) maka Roro Ari Wulan terjadilah Hamil karena melanggar pesan Kisalokantoro. Maka pada bulan yang ditentukan Putra Sang Ratu Shima. Diberilah nama Bra Klinting. Pada saat Roro Ari Wulan hamil Ki salokantoro pergi meninggalkan Gedong songo yang kurang candi ke Sembilan menuju pertapaan di gunung Telomoyo.
Pada suatu hari Bra Klinting bertanya pada ibunya.
BK : Duh kanjeng ibu aku kok tidak pernah melihat Kanjeng Romo, seperti anak2 yang lain, apakah aku tidak punya Romo Kanjeng Ibu?
RAW : Apakah sebabnya ananda selalu menanyakan hal ini?
BK : Buat kesempurnaan hidup ananda, kanjeng ibu, apakah kanjeng ibu tidak Nelangsa melihat Kawontenan Kulo. Engkang Wujud Taksoko.
RAW : Duh Ngger putraningsun, kalau memang begitu tujuanmu pun ibu hanya dapat memberi bekal Sumping buat pertanda bahwa ananda adalah Putraku Bra Klinting.
BK : Duh Kanjeng Ibu Sembah Sungkem Pangabekti saya haturkan tuk Kanjeng, dan ananda mohon pamit untuk mencari Ayahanda untuk menuju kesempurnaan Hidup saya.
RAW : Joyojoyo wijayanti Apapun keinginanmu aku mohonkan kepada Shangyang Widhi agar semua niat baikmu dapat terlaksana.
(baru klinting menghaturkan sembah tiga kali yaitu masih duduk, mau berjalan dan sampai di depan pintu, baru berbalik meneruskan langkahnya). 
RAW : Demi keselamatan ananda harus melewati jalan dibawah tanah, agar tidak bertemu manusia.
BK : Sendika melaksanakan semua pesan Ibunda.
Dalam perjalanan Baru Klinting beberapa kali keluar didaratan untuk melihat sudah sampai dimanakah? Pada waktu yang sudah ditentukan sampailah baru klinting di pucak Gunung Telo Moyo, disanalah Ki Ajar Salokantoro bersemedi.
Bartemulah Baruklinting dengan Ki Ajar Salokantoro.
KAS : Hai siapakah anda perwujudan Taksoko (Ular Besar) hadir menemuiku ada kepentingan apakah?
BK : Duh Sang Pertapa saya bernama Bra Klinting, saya putra Kanjeng Ibu Roro Ari Wulan. Dari Gedong Songo.
KAS : Siapa Roro Ari Wulan itu? (pura 2 tidak tau)
BK : Beliau adalah Kanjeng Ibu Ratu Shima, dari Kerajaan Kalingga, yang sedang mendirikan Candi Di lereng gunung Suroloyo, dan saya diberikan tanda berupa Sumping di telinga saya ini.
KAS : Ha ha ha.Hem… ( salokantoro terdiam sejenak sambil memandangi dengan saksama sumping Bra Klinting)
Terdengar alunan rebab dan seruling mengiringi kesunyian yang terjadi di puncak Telomoyo. Dan kemudian
KAS : Saya adalah seorang Pendeta dapat dikatakan engsun adalah Orang Suci dan tidak menikah, hanya karena Nasehat saya tidak diindahkan Oleh Ibundamu kenapa saya yang harus Mengakuimu sebagai anakku? (dengan nada bertanya) Pada kenyataanya wujudmu bukan Manusia bagaimana mungkin aku memiliki anak berwujud Ular.
BK : Mohon maaf Sang ajar, Semua yang diceritakan Kanjeng ibu kepada saya adalah kebenaran.
KAS : Ya…. Kebenaran itu dapat menurut kamu, tapi belum benar menurut aku
Manurut ingsun Kalau manusia dengan manusia harus punya anak berwujud manusia.
BK : Apakah Kiajar menginginkan pembuktian agar panjenengan percaya bahwa saya adalan Putramu.
KAS : Ya tentu saja, Kalau kau benar2 putraku, Walau kamu tidak punya tangan, coba ambilkan saya Air dari pantai selatan dengan Keranjang MotoEro.
BK : Ya kiAjar saya mohon Doa Restunya semoga semua persyaratan yang KiAjar ajukan kepada saya dapat terlaksana.
(Bra Klinting menghaturkan Sembah dan pergi mencai air dari pantai selatan dengan menggunakan keranjang motoero (keranjang yang lubangya sangat besar-besar.)
Dalam perjalanan menuju pantai selatan Bra Klinting Lewat jalan bawah tanah. Setelah berhasil mendapatkan air pantai selatan Bra Klinting pulang tetapi dalam perjalananya salah arah menuju ke timur. Setelah keluar kedaratan ternyata sampai sebelah timurnya Gunung Lawu perjalanan sudah terlewat terlalu jauh yaitu sampai di Bleduk Kuwu (sumber air garam di kuwu terhubung dengan pantai selatan) dan sampai sekarang di Bleduk Kuwu terdapat sumber Garam ditengah2 daratan. 
Karena salah arah Bra Klinting membuang semua isi keranjangnya dan kembali lagi ke pantai selatan lewat jalan semula agar lebih mudah, baru kemudian mengambil air dan pulang menuju puncak Telomoyo.

BK : Ki Ajar Saya datang memenuhi permintaanmu.
KAS : Yo..Yo..Mari Bra Kliting silahkan masuk. (Setalah Bra Klinting masuk)
Bagaimana kabar perjalananmu setelah sekian tahun mencari Air dari pantai selatan? Apakah menemui Rintangan dan kesulitan?
BK : Atas berkah pangestu KiAjar Semua pekerjaan saya berhasil. Hanya pernah sekali tersasar sampai sebelah timurnya Gunung Lawu.
KAS : Ya ..KiAjar tahu tentang perjalananmu, tetapi Kalau kamu tetap Ingin aku akui sebagai anaku kamu Harus Dapat berubah Ujud menjadi Manusia.
BK : Ya ki Ajar, Saya siap melaksanakan perintahmu, Tetapi bagaimana caranya, mohon petunjuk Ki Ajar.
KAS : Caranya Kamu harus Bertapa Melingkari gunung ini dengan tubuhmu, Sampai ekor dan kepalamu dapat bertemu dan dapat ajur ajer dengan manusia lainnya.
Pada saat itu Bra Klinting ingin sesegera mungkin diakui sebagai Putra Ki Ajar Salokantoro, maka dililitlah Gunung Telomoyo dengan tubuhnya, karena tidak mencukupi diperintahkanya untuk menyambung dengan lidahnya.
BK : Ini lho kanjeng Romo hampir Cukup!!! (Bra Klinting kegirangan)
KAS : Cukup apa ,…? Kalau begitu itu namanya Curang (dengan serta merta lidah Bra Klinting Ditebas Oleh Ki Ajar Salokantoro)

Kemudian potongan lidah tersebut menjelma mejadi berbagai pusaka yang nantinya dimiliki raja-raja tanah jawa seperti yaitu Tumbak Kyai Pleret (pusaka yang dipegang oleh keturunan mataram), Kyai Naga kasur (pusaka yang dipegang oleh keturunan Ki Ageng Selo), Nyai Sentonini & Kyai Sentono (pusaka yang dipegang oleh keturunan Pajang), dan terkhir Kyai Nagasasra (pusaka yang seharusnya dipegang oleh keturunan Demak). Dan tubuh Bra Klinting tetap disitu sebagai pertapa sampai pada jaman yang ditentukan.
HARI demi hari berlalu, bulan demi bulan pun berganti. Baruklinting (Bra Klinthing) bertapa selama ratusan tahun lamanya. Orang tuanya sudah purna, dan orang-orang yang hidup di jamannya pun sudah banyak yang berganti. Tanah tempatnya bertapa, bahkan tubuhnya sendiri, mulai tertutupi rumput dan belukar.
Suatu saat ketika di desa Bono Rowo akan mengadakan pesta rakyat, pada waktu itu sedang musim kemarau yang mengakibatkan paceklik sehingga harus mencari Hewan Buruan jauh masuk ke dalam hutan. Namun hewan hewan pun tak dapat ditemukan, menjelang tengah hari karena kelelahan merekapun beristirahat dibawah pohon sambil nginang.
MS1 : Kang kenopo yo tahun ini dewe kok kabeh sial, rak ono siji-sijio hewan buruan sing dewe delok. Piye yo kang?
MS2 : Nginang nginang dulu to (sambil membelah sebutir jambe dengan parangnya, konon orang jawa jaman dahulu tidak merokok tetapi makan kinang laki-laki maupun perempuan) pada saat mereka menginang ternyata bekas parangannya mengeluarkan darah.
MS1 : Wah kang lah ini kok ono geteh opo awakmu keparang?
MS2 : Orak ik , wah mesti iki kewan? Ayo konco-konco di undang. (mereka teriak-teriak memanggil teman-temannya )
MS1 : Hei…. tulong neng kene ono daging cepat rene ono daging cepat!!!
Masyarakat yang ikut berburu dihutan itu semua berlarian menuju temannya yang mengabarkan bahwa ada daging yang ternyata dari sebuah ular yang sangat besar, maka mereka pun menyembelih ular itu, memotong-motongnya menjadi bagian kecil-kecil untuk disantap bersama. Daging ular itu begitu besar, sehingga setiap warga desa dapat menikmati masakan daging ular tersebut. Dari sekian banyak potongan daging-daging kecil itu, tanpa disadari, ada sepotong daging yang menjelma menjadi seorang bocah laki-laki. Dialah Baruklinting, Seperti janji Ki Ajar Salokantoro, akan di akui dan menjelma menjadi manusia apabila dapat ajur ajer dengan manusia lainnya. Disaat inilah tubuh baru klinting Menyatu dimakan oleh manusia, dan saat itulah penjelmaan terjadi, menjadi Bocah Bajang yang dekil kotor jelek dan gudikan maklumlah karena baru saja terbangun bertapa setelah sekian lama.
Kehadirannya begitu mencolok di tengah-tengah pesta desa, di mana orang-orang lain berdandan rapi dan harum. Mereka makan dan minum sepuasnya, berpesta bersama. Baruklinting mendekat ke arah penduduk desa, dan menemui beberapa orang warganya.
BK : Mas, saya lapar sekali. Bolehkah saya minta makananya sedikit saja?(tanyanya kepada seorang laki-laki gagah. Lelaki itu mengernyitkan dahinya, lalu menutup hidungnya karena bau yang tidak sedap dari tubuh Baruklinting)
MS : Sopo Koe? (laki-laki itu balas bertanya)
BK : Namaku Baruklinting, Mas. Saya melihat ada banyak makanan di sini, dan saya lapar sekali. Kasihanilah saya (katanya memelas)
MS : Baruklinting? Aku tidak mengenalmu. Engkau bukan penduduk desa ini. Dengan tubuh dekil, kudisan, dan bau seperti itu, Engkau tidak pantas makan bersama-sama dengan kami. Pergilah! (laki-laki itu mengusirnya).
Baruklinting kemudian mendekat kepada seorang perempuan yang sedang memasak daging
BK : Nyonya, bukankah Nyonya yang memasak semua makanan ini? (Perempuan itu memandang Baruklinting dengan heran. Dia pun segera menutup hidungnya, tidak tahan dengan bau tubuh Baruklinting) 
MS : Memang betul, saya yang memasaknya. Bapak-bapak mendepatkan seekor ular yang besar, cukup untuk dimakan seluruh penduduk desa ini. Maka kami pun memotong-motong daging ular itu dan memasaknya
BK : Bolehkah aku minta sedikit masakan Nyonya?” tanya Baruklinting.
(Perempuan itu menggeleng)
MS : Tidak, tidak. Pergilah kau, tubuhmu kudisan dan bau. Selera makan penduduk desa ini akan hilang karenamu. Pergilah! (perempuan itu pun mengusir Baruklinting pergi.)
Untuk ketiga kalinya, mendatangi seorang nyai yang bertugas sebagai penanak nasi yang tak lain adalah Nyi Lembah (NL)
BK : Mbok aku ngeleh banget mbok, wis pirang pirang taun ratau maem mbok.
(mbok aku lapar banget mbok Sudah bertaun taun tidak makan.)
NL : Nak ini hanya ada nasi, mbok ndak punya ikan dan sayur, karena mbok Cuma ditugasin masik nasi.
BK : Terimakasih mbok (sambil makan makanya anak kelaparan, ia berpesan) Mbok nanti kalau ada keramaian mbok naiklah lesung dan bawa Enthong itu (sambil menunjuk lesung alat menumbuk padi.)
Jangan lupa ya mbok! 
Selesai makan Bocah Bajang meninggalkan rumah Nyi Lembah. Kemudian pesta dimulai dengan tarian tayuban yang mengalungi sampur kepada kepala kampung adalah penari tercantik disana dan mereka mulailah bersenang-senang. Pada tengah-tengah ramai-ramainya acara, Baruklinting yang datang ke desa Bono Rowo dalam Wujud Anak Bajang menuju tengah keramaian dan mengadakan sayembara Mencabut Lidi (Pusaka Sodho Seler/Sodho Lanang)
BK : Hai wong-wong Bono Rowo siapa saja yang dapat mencabut Lidi yang aku Tancapkan ini, maka aku dapat kau jadikan budak. Tetapi kalau kamu semua tak ada yang dapat mencabut maka daging yang sudah kalian makan harus kau kembalikan semua Ha..ha..ha……….!!!! (sambil tertawa keras sekali memecah keramaian)
MS : Wah siapa tuh sombong banget… ayo..ayo..ayo. (Kemudian ramai-ramai mereka ingin mencabut lidi yang di tancapkan oleh Bocah Bajang).
MS : Lihat nih badanku gede gagah (sambil sombong) dia menunjukkan kegagahannya, Masak mainan anak kecil dipamerkan disini,!!! (pemuda itu dengan melompat tak sabar langsung menyambar lidi yang ditancapkan Bocah bajang, tetapi apa yang terjadi pemuda gagah terbanting keras sekali dan pingsan. (membuatnya disorakin teman temanya)
MS : (dengan serentak mereka maju) Ayo kawan kita Cabut bersama…!!! (walaupun begitu lidi tak dapat goyah walau sedikitpun. Hal itu diulang 2 dengan berbagaigayatetapi tak berhasil)
Dari anak kecil, pemuda kekar, ibu rumah tangga, sampai kakek-kakek, semua tidak mampu mencabut lidi itu. Lidi tersebut seolah-olah memiliki akar kuat yang menancap di tanah itu.
Akhirnya Baruklinting Mendekat dan berkata.
BK : Wahai semua penduduk desa, ketahuilah, aku adalah seorang pertapa. Pertapaanku telah kalian ganggu. Kalian memasak dagingku untuk pesta ini. Dan yang lebih memprihatinkan, kalian tidak mau berbagi kepada sesama yang kekurangan. Seharusnya kalian malu, karena menilai anak kudisan tidak layak makan bersama, padahal dia juga ciptaan Tuhan.Maka hari ini Yang Kuasa akan menghukum kalian!!!
Baruklinting mecabut lidi tersebut, dan dari lubang bekas lidi itu memancar air. Air mengalir terus-menerus, bahkan mulai membanjiri pemukiman penduduk. Mereka pun berlarian menyelamatkan diri. Tetapi terlambat, air sudah menggenangi seluruh daerah itu, menjadi sebuah rawa. Lidi (sodo) tsb karena kerasnya cabutannya sampai terpental jauh beserta tanah bekas cerabutannya dan jadilah lidi (sodo) beserta tanah serabutan menjadi gunung KENDALI SODO, dari lubang bekas cabutan lidi mengucurlah air yang deras yang kelak disebut MUNCUL, jadilah genangan tersebut sebuah rawa bernama RAWA PENING. Adapun Nyai Lembah menyelamatkan diri naik lesung terbawa derasnya air gung terombang ambing tanpa arah hingga terbentuklah Kali Tuntang yang bermuara di Tlatah Glagahwangi (Demak). Sebuah kali legendaris yang nanti akan membawa Jaka Tingkir yang sakti mandraguno dengan menaiki getek dan disurung buaya hingga menarik hati Sultan Demak Raden Trenggono.
Napak tilas makam/petilasan Baruklinting dan Nyai Lembah bisa kita temui di komplek makam Sentono Ratu belakang Masjid Agung Demak, sedangkan kayu bekas lesung yang dibawa dari Rawapening sekarang sudah disahkan Pemerintah sebagai bukti sejarah meskipun tinggal berupa bentuk papan.

Dalam sejarah asal usul kota Ambarawa, sosok Nyai Lembah ini diyakini sebagai istri Kyai Yasir Rahmatullah (Kyai Lembah) yang menjadi cikal bakal/pendiri kota Ambarawa. Nyai Lembah sendiri memiliki nama asli Siti Aminah.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »