KEN AROK - EMPU GANDRING-7

08:23
KEN AROK - EMPU GANDRING-7
Ken Arok yang melarikan diri itu sampai ke Dusun Kapundungan. Hari sudah siang ketika memasuki dusun itu dan di sebuah tegalan yang sunyi dia melihat sebuah perkelahian. Seorang pemuda remaja sedang dikeroyok olah enam pemuda lain, bahkan di antara para pengeroyok itu ada yang sudah besar dan dewasa.
Akan tetapi anak yang bertubuh tinggi kurus itu melakukan perlawanan dengan gigih.Pakaiannya sudah robek-robek dan tubuhnya sudah babak-belur, akan tetapi dia masih terus melawan pengeroyokan enam orang itu.
“Tangkap dia!”
“Hantam saja pencuri itu!”
“Mentang-mentang anak pinisepuh desa mau main curi milik orang saja!”
Biarpun Ken Arok mendengar ucapan-ucapan itu yang menyatakan bahwa anak yang sedang dikeroyok itu agaknya mencuri sesuatu, namun jiwa keadilannya memberontak melihat seorang anak dikeroyok begitu banyak orang. Apalagi kalau hanya mencuri, dia sendiri pernah melakukannya karena dia pun anak pencuri!
Maka timbul jiwa setia kawan dan tanpa banyak cakap lagi Ken Arok terjun ke
gelanggang perkelahian iu membela anak tinggi kurus.
Semua anak yang mengeroyok tidak mengenal Ken Arok, akan tetapi Ken Arok yang tadi sudah memungut sepotong kayu dan kini mengamuk, mengejutkan dan membuat mereka gentar karena diantara mereka ada yang terkena pukulan di kepalanya sampai benjol-benjol dan larilah mereka berhamburan meninggalkan Ken Arok dan anak yang tadi dikeroyok.

“Terima kasih, Kawan,” Kata anak tinggi kurus itu sambil tersenyum.
Ken Arok merasa semakin suka. Anak ini tabah sekali, pikirnya. Sudah pakaiannya robek-robek,badannya babak belur, hidungnya dan bibirnya berdarah, masih dapat tersenyum dan berterima kasih padanya.

“Tidak mengapa sobat. Sebetulnya kau mencuri apa sih sampai mereka itu begitu marah mengeroyokmu?”
Wajah pemuda kurus itu berubah agak khawatir dan sampai lama dia tidak menjawab, hanya memandang wajah Ken Arok penuh selidik. Melihat ini, Ken Arok tertawa.
“Jangan khawatir, aku pun kadang-kadang mencuri kalau terpaksa dan kalau kelaparan.”
Wajah pemuda itu nampak lega dan tersenyum kembali. “Aku tidak kelaparan dan keluargaku cukup mampu. Ketahuilah bahwa ayahku adalah Ki Ageng Sagenggeng, buyut (ketua dusun) di Sagenggeng.”
Ken Arok membelalakkan matanya. “Wah ini baru namanya aneh sekali! Anak seorang buyut kok nyolong! Apa sih yang kau curi?”
“Aku mencuri bukan karena kelaparan akan tetapi karena tidak dapat manahan keinginan mulutku. Aku mencuri ini......!” Dia lalu lari ke balik semak dan keluar kembali membawa sebuah paha kambing yang
sudah dikuliti, paha yang gemuk bergajih.

“Ha-ha-ha!” Ken Arok tertawa bergelak.
“Aku setuju seratus persen kau mencurinya. Baru melihatnya saja sudah keluar air liurku. Mari kita cepat panggang dan makan bersama, sobat baik!”
Keduanya tertawa cekikikan dan segera membuat api unggun dan memanggang paha kambing itu lalu makan bersama tanpa banyak cakap lagi. Setelah merasa puas, kenyang dan paha itu tinggal tulangnya saja, barulah ia bertanya, “Sobat yang gagah, siapakah engkau?”

“Namaku Ken Arok.”
“Dan namaku Tito, panjangnya Panji Tito.”
“Namamu gagah seperti orangnya. Kau berani menghadapi pengeroyokan enam orang tanpa lari,sungguh gagah sekali.”
“Kau lebih gagah lagi. Setelah kau mengamuk dengan kayu itu, tikus-tikus itu lari tunggang langgang,ha-ha-ha,” Panji Tito tertawa girang lalu disambungnya,
“Eh, Ken Arok, engkau dari mana dan hendak ke manakah? Di mana rumahmu?”
“Rumahku?” Ken Arok membentangkan kedua tangannya sambil berdiri tegak dengan kedua kaki terentang. “Semua inilah rumahku, lihat, langit itu atapku. T anah ini lantai rumahku, pohon-pohon dangunung-gunung itu dinding rumahku!”
Panji Tito tertawa geli. “Wah, katakan saja engkau ini seorang gelandangan yang tak mempunyai rumah.
Eh, Ken Arok, kalau begitu, mari ikut saja dengan aku. Akan kuhadapkan kau kepada ayahku dan akan kuminta agar dia suka menerimamu.”

Tentu saja ini sangat menyenangkan hati Ken Arok dan berangkatlah kedua orang pemuda itu menuju kerumah Panji Tito di Dusun Sagenggeng, sebuah dusun yang agak jauh juga dari tempat itu.
Ki Ageng Sahoyo, yaitu pinisepuh Dusun Sagenggeng menerima Ken Arok dengan senang hati.
Anaknya, Panji Tito, dikabarkan nakal di luaran maka ia mengharap agar Ken Arok, pemuda yang nampaknya pendiam dan cerdik itu, akan dapat menemaninya dan membawanya menjadi seorang anak yang baik. Sama sekali dia tidak menduga bahwa Ken Arok adalah anak seorang pencuri, bahkan
seorang penjudi besar! Dia seolah-olah memasukkan seekor harimau untuk menghajar seekor kucing!

Di Dusun Sagenggeng itu terdapat seorang pendeta yang berjuluk Begawan Jumantoko seorang kakek yang usianya sudahlimapuluh tahun lebih dan terkenal sebagai seorang ahli sastra, juga ahli pencak silat yang sakti mandraguna.
Bagawan ini hanya mempunyai sebuah cacat saja, yaitu dia suka sekali kepada
wanita yang cantik sehingga sudah terkenallah kalau ada wanita yang cantik berguru kepadanya tentu wanita itu akan digodanya dan akhirnya, berkat kepandaiannya dan kesaktiannya, wanita itu menjadi kekasihnya.

Di padepokannya yang luas itu entah tedapat berapa wanita-wanita muda yang menjadi murid, juga pelayan, juga kekasihnya! Namun karena pendeta itu memang pandai dan suka menolong orang, wanita-wanita itu dengan rela menyerahkan diri kepada pendeta itu, bukan karena paksaan.
Begawan Jumantoko ini memang bukan sembarangan orang. Dia masih terhitung kadang (saudara seperguruan) dari Panembahan Pronosidi yang bertapa di Lereng Gunung Anjasmoro, dan sungguh pun dalam hal ilmu kanuragan dan kesaktian dia belum dapat menandingi kakak seperguruannya itu, namun dalam hal sastra dia jauh lebih menang.
Setelah Ken Arok menjadi anak angkat Ki Ageng Sahono, pinisepuh Dusun Sagenggeng, Ki Ageng Sahono lalu membujuk puteranya untuk suka menjadi murid dan mengabdi kepada Begawan Jumantoko.
Sudah berkali-kali dia membujuk tapi anak itu tidak suka berguru kepada kakek yang gila peerempuan itu. Akan tetapi setelah kini Ken Arok menemaninya, akhirnya Panji Tito mau juga menerima bujukan itu.
Ken Arok sendiri merasa gembira bukan main ketika diajak pergi berguru. Dia memang ingin memperlihatkan bahwa dia sesungguhnya keturunan Sang Hyang Brahma, pandai dan sakti, tidak kalah oleh orang lain!

Demikanlah, mulai hari itu, mereka berdua diterima menjadi murid dan atau cantrik dari Begawan Jumantoko yang tentu saja merasa girang memperoleh bantuan tenaga dua orang pemuda yang akan meringankan pekerjaan para pelayan atau muridnya. Dan di tempat inilah, berbeda dengan Panji Tito
yang tidak suka berdekatan dengan wanita genit, Ken Arok menjadi semakin dewasa dan cepat matang berkat asuhan dan bimbingan para murid perempuan yang cantik-cantik dan genit-genit itu.!

****
"Angger, Joko Handoko, bukan begitu caraya melakukan jurus itu. Masih kurang "isi", karena yang kau mainkan itu hanya kulitnya saja, hanya nampak indah namun tanpa memiliki daya serang yang besar.
Lihat pohon di depanmu itu hanya bergoyang daunnya saja."

Ucapan itu keluar dari mulut Panembahan Pronosidhi yang duduk bersila di atas batu hitam, sedangkan di depannya, seorang pemuda yang berkulit kuning putih dan berwajah tampan sedang memperlihatkan latihan ilmu pencak silat. Sejak tadi, panembahan itu hanya menonton saja, kadang-kadang mengangguk-angguk karena cucunya ini ternyata telah mampu mewarisi hampir seluruh ilmu pencak silat yang diajarkannya semenjak anak itu masih kecil sekali.
Joko Handoko adalah cucunya, putera dari anak perempuannya, Dyah Kanti. Seperti yang kita ketahui, ayah anak ini adalah mendiang Ginantoko yang tewas ketika anak itu masih dalam kandungan ibunya. Oleh Panembahan Pronosidhi, Dyah Kanti yang menjadi janda itu diajak pulang ke padepokannya di lereng Pegunungan Anjasmoro.
Setelah anak itu terlahir, oleh kakeknya diberi nama Joko Handoko dan anak ini memang tampan sekali, seperti mendiang ayahnya.
Karena menerima gemblengan dari kakeknya sendiri penuh kasih sayang, apalagi karena memang Joko Handoko memiliki bakat yang amat baik, maka setelah kini berusia delapan belas tahun, Joko Handoko telah menjadi seorang pemuda yang sakti mandraguna, bukan hanya pandai memainkan jurus-jurus ampuh dari pencak silat aliran Hati Putih dari kakeknya, akan tetapi juga memiliki kekuatan sakti didalam tubuhnya berkat latihan semadhi dan bertapa.

Akan tetapi diam-diam dia merasa penasaran karena hanya mendengar bahwa ayahnya telah meninggal dunia ketikia dia masih dalam kandungan tanpa
diketahuinya apa sebab kematiannya karena baik ibunya maupun kakeknya tidak pernah bercerita tentang kematian ayahnya itu.

"Eyang Panembahan, jurus yang paling akhir Eyang berikan kepada saya ini memang sukar bukan main,"
Pemuda itu mengakhiri gerakan silatnya dan menyeka keringat yang membasahi leher, dada dan mukanya.
Sang panembahan tersenyum dan mengelus jenggotnya yang sudah putih semua walaupun usianya baru enam puluh tahun. Ketika dia tersenyum, nampak bahwa giginya masih utuh dan putih bersih, tanda bahwa panembahan ini menjaga baik-baik kesehatan tubuhnya.

"Angger, cucuku, jangan merasa heran kalau jurus itu tidak mudah, karena jurus itu, walaupun pada dasarnya masih bersumber kepada aliran Hati Putih, yaitu aliran silat kita, akan tetapi jurus itu adalah ciptaanku sendiri yang kuberi nama Jurus Nogopasung!"
"Nogopasung......." Pemuda itu terperanjat. "Eyang, bukankah Nogopasung itu nama keris pusaka milik ibu yang katanya merupakan peninggalan dari ayah, dan ciptaan atau tempaan dari Eyang Empu Gandring?"

BERSAMBUNG - KEN AROK - EMPU GANDRING 8.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »