KEN AROK - EMPU GANDRING-5

23:45
KEN AROK - EMPU GANDRING-5
Setelah agak besar, Ken Arok lalu disuruh bekerja di sawah ladang, menggembala

kerbau dan sebagainya. Akan tetapi, saking gemarnya berjudi, Ken Arok bahkan
menghabiskan semua raja-kaya (hewan ternak) milik orang tuanya ini, dihabiskan dimeja judi pula.
menghabiskan semua raja-kaya (hewan ternak) milik orang tuanya ini, dihabiskan dimeja judi pula.
Demikian pesan ayah dan ibu itu.
mampu menahan godaan nafsunya sendiri. Sepasang kerbau itu pun diperjudikan dan dia pun kalah lagi! Dua ekor kerbau milik Ki Lurah Lebak itu pun hilang ke tangan orang lain!
bisa, dan kalau sampai dirinya terkena penyakit, maka yang menanggung adalah dirinya sendiri pula.
uang untuk berjudi jauh lebih mudah daripada meminjam uang untuk berdagang. Apalagi kalau sampai rakyat sudah dijangkiti penyakit perjudian ini, wah, sukarlah
memberantasnya dan banyak keluarga akan menjadi sengsara karenanya.
pukulnya untuk mencari kita dan kalau kita tersusul, kita akan celaka. Tidak ada jalan lain, kita harus berpisah anakku. Biarlah kita tidak menyuruh kamu pergi dari sini, akan tetapi kami berdua yang akan meninggalkan kamu. Kami harus pergi ke Dusun Lebak untuk meng- hambakan diri kepada Pak Lurah Lebak, bekeja untuk melunasi hutang dua ekor kerbau itu yang kita hilangkan.”
Biar dalam perkelahian mengalami babak bundas dan kesakitan, dia tidak pernah
menangis, bahkan tidak mau mengeluh. Kini pun hatinya menangis dan ada pula
penyesalan besar di dalam hatinya bahwa dia telah membikin celaka ayah ibunya. Akan tetapi dia tidak memperhatikan tangisnya itu.
keadaan bertapa, orang tidak memikirkan apa-apa lagi dan batin menjadi kosong,
sehingga jernih dan waspada. Berbeda dengan keadaan sehari-hari di mana batin selalu dibisingkan oleh pikiran. Pada hari ke tiga setelah Ki Bango Samparan bertapa, pada suatu malam dia teringat kepada Ken Arok! Dia mengenal anak itu karena sama-sama tukang judi!
adalah keturunan Sang Hyang Brahma. Jarang dia melihat anak seperti itu, masih belum dewasa akan tetapi telah pandai bermain judi, bahkan melawan penjudi-penjudi ulung yang sudah dewasa. Kalau anak itu kalah, hanya karena para penjudi dewasa yang ulung itu menipunya dalam permainan judi. Akan tetapi sesungguhnya anak itu mempunyai bakat yang baik dan juga mempunyai peruntungan yang baik sekali dalam perjudian.


Gembong maling Lembong jatuh miskin. Kini dia sudah lanjut usia, untuk melakukan pekerjaan maling sudah merasa kurang kuat. Kurang kuat membongkar rumah, pintu atau jendela, kurang kuat pula kalau harus membela diri, dan kurang cepat kalau terpaksa harus melarikan diri. Dan semua hartanya yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, hasil pencurian, kelebihan dari yang dimakan sehari-hari,kini diludeskan oleh Ken Arok! Apakah ini yang dikata orang bahwa uang yang mudah didapat akan mudah pula lenyap? Entahlah.
Ki Lembong lalu mencari pekerjaan yang halal. Dia menghadap Ki Lurah Lebak untuk minta agar dipercaya untuk menggaduh (memelihara kerbau orang dengan bagi hasil kalau kerbau itu sudah melahirkan anak-anak) ternak, yaitu sepasang kerbau yang baikdan gemuk.
Sepasang kerbau itu diserahkan oleh Ki Lembong kepada Ken Arok. “Anakku yang bagus,engkau hati-hatilah, Nak. Sepasang kerbau ini milik Ki Lurah Lebak. Jangan sampai sakit apalagi hilang, dan engkau bertobatlah Nak, jangan berjudi lagi. Apalagi kerbau-kerbau ini bukan milik kita, jangan diperjudikan. “
Akan tetapi, cerita lama pun terulang lagi. Ken Arok yang sudah gila judi itu tidak
Di antara segala kebiasaan atau kesenangan yang oleh masyarakat umum dinamakan kemaksiatan, yang paling berbahaya adalah perjudian! Ada lima kemaksiatan yang dinamakan dalam Bahasa Jawa sebagai MA lima, yaitu: madat, mabok, maling, madon, dan main atau dalam bahasa indonesianya: menghisap madat, bermabuk-mabukan,mencuri, main perempuan dan berjudi.
Untuk menghisap madat dan mabuk-mabukan,kalau tidak mempunyai uang tidak akan mampu melakukannya. Dan kalau sampai rusak,yang rusak adalah tubuh sendiri. Mencuri, kalau tertangkap, yang celaka juga dirinya sendiri.
Main perempuan juga membutuhkan uang, kalau tidak punya uang, tidak akan
Akan tetapi judi? Wah, perjudian itu benar-benar merupakan suatu kemaksiatan yang dapat mencelakakan semua orang. Satu orang saja berjudi, sekeluarga bisa berantakan. Dan untuk dapat berjudi, tak perlu pakaian yang baik bahkan kadang-kadang, tanpa uang sepersenpun dapat saja berjudi karena meminjam
Habislah sepasang kerbau milik Ki Lurah Lebak itu, diperjudikan pula oleh Ken Arok.Tentu saja Ki Lembong dan Nyi Lembong menjadi marah dan berduka sekali. Mau diapakan anak mereka yang satu-satunya ini? Kerbau-kerbau itu sudah habis dan untuk menggantinya, mereka tidak punya uang. Semua barang sudah habis dijual untuk makan, dan sebagian besar diperjudikan anak mereka. Padahal, menurut perhitungan Ki Lurah di Dusun Lebak, sepasang kerbau itu dihargai delapan ribu keping uang!
“Aduh, anakku, Ken Arok. Bagaimana pula ini? Celakalah kita sudah!”
“Kita minggat saja meninggalkan Pungkur, Pak,” kata Ken Arok.
“Hemm, ke mana? Dan pula, Ki Lurah Lebak tentu akan menyuruh tukang-tukang
Ken Arok hampir menangis mendengar ini, akan tetapi dia seorang yang amat tabah dan keras hati. Sejak kecilnya, setelah timbul pengertian, hampir tak pernah dia menangis.
“Kalau ayah dan ibu tidak mau pergi bersamaku, biarlah aku pergi sendiri.”
“Ke mana, Ken Arok? Kau hendak pergi ke mana anakku?”
“Aku akan pergi mencari uang pengganti kerbau Pak Lurah Lebak!” katanya dan dia pun larilah meninggalkan rumahnya, Ki dan Nyi Lembong tak dapat menahannya, apalagi memang mereka pun harus pergi cepat-cepat berangkat ke Lebak sebelum Pak Lurah mengambil tindakan. Lebih baik mendahuluinya menghadap ke Lebak, mengakui kesalahan dan menyediakan tenaga mereka untuk bekerja bakti membayar kerugian yang diderita Pak lurah.
=============
Di dalam sebuah gua yang terpencil sunyi di daerah hutan Rabut Jalu, duduk seorang laki-laki yang sedang bertapa. Dia bertapa bukan mencari kesaktian, juga bukan mencari kesucian atau kemajuan batin, melainkan dia bertapa karena putus asa.
Pria berusia limapuluh tahun ini bertubuh tinggi kurus, berkumis lebat, sekepal sebelah,matanya tajam agak kemerahan dan sikapnya seperti orang yang suka melakukan kekerasan.
Akan tetapi pada saat itu, dia putus asa dan nasibnya hampir sama dengan nasib yang menimpa diri anak belum dewasa Ken Arok. Dia telah kalah judi habis-habisan di Dusun Karuman. Demikian besar kekalahannya sehingga bukan hanya uangnya yang habis,juga semua harta bendanya, rumah dan sawah. Yang tinggal hanya keluarga, dua orang istri dan beberapa orang anak yang tidak sehari pun boleh berhenti makan!
Maka, saking bingung dan kesal hatinya,juga putus asa, pergilah dia tanpa pulang lebih dahulu, ke gua Rabut Jalu yang terkenal angker, keramat dan jarang ada orang berani datang memasuki gua itu. Tekadnya, kalau di tidak memperoleh petunjuk dewa dan menemukan jalan keluar untuk mengatasi keadaannya, biarlah dia mati di situ.
Berprihatin atau bertapa, juga berpuasa, amatlah baik bagi kejernihan batin. Dalam
Dan dia pun sudah mendengar desas desus tentang anak itu bahwa anak itu
Bango Samparan merasa terheran-heran mengapa semalam itu wajah Ken Arok selalu terbayang di depan matanya. Seorang keturunan Sang Hyang Brahma, mustahil kalau tidak luar biasa dan tidak mendatangkan berkah, demikian bisikan hatinya.
Setelah malam lewat, pada keesok harinya, pagi-pagi sekali dia sudah keluar meninggalkan gua itu dengan wajah yang cerah, walaupun agak pucat karena perutnya terasa lapar setelah tiga hari tiga malam tidak kemasukan apa-apa. Pikirannya tentang Ken Arok itu dianggapnya sebagai bisikan para dewa! Itulah jalan keluarnya. Dia harus mendekati dan menggandeng Ken Arok, keturunan Sang Hyang Brahma!
Dan setelah mengisi perut sekedarnya, mulailah dia pergi mencari Ken Arok. Akan tetapi baik di Dusun Pangkur maupun di Cempoko, dia tidak dapat menemukan Ken Arok, bahkan ia mendengar bahwa orang tua Ken Arok telah menghambakan diri kepada Lurah Lebak, sedangkan anak itu sendiri entah pergi ke mana.
bersambung KEN AROK - EMPU GANDRING 6

Artikel Terkait

Previous
Next Post »