TRI BRATHA FILOSOFI KEPEMIMPINAN JAWA

19:27
Ketika kita berbicara tentang filosofi maka hikmah menjadi tingkat tertinggi dari sebuah ilmu. Kejaidian yang terjadi tiap detik dalam hidup kita sebenarnya penuh dengan hikmah, namun terkadang kita tidak menyinyisihkan waktu untuk duduk diam dan mengembara ke dalam diri kita.

Wisdom dalam diri seseorang tidak tumbuh begitu saja tetapi melalui sebuah proses perenungan panjang dan kemauan untuk memaknai dan menghargai hidup. Sampai saat ini saya yang baru akan menginjak dua puluh tahun benar- benar sedang berusaha untuk menyelam “travel within “, berusaha mengupas lapisan-lapisan kulit bawang untuk menemukan makna “siapa saya”, sebenarnya ” apa tujuan saya hidup” Pertanyaan-pertanyaan semacam itu perlu untuk kita jawab karena kita akan mengenal Rabb kita ketika kita mampu memehami diri kita sendiri, dua hal tersebut harus berjalan beriringan.

Wisdom dapat dipelajari dari berbagai budaya dan kejadian salah satuya adalah Tri Brata filosofi kepemimpinan jawa Mangkunegara I. Hemat saya hal ini penting untuk dipelajari terutama bagi diri saya sendiri karena saya adalah orang yang lahir dan dibesarkan di Jawa. “Sebuah usaha untuk mempelajari wisdom sekaligus mempelajari budaya sendiri”.

Berikut Tri Brata tersebut:

1. Rumangsa Melu Handarbeni, ( Merasa ikut memiliki )

sebuah semangat meras memiliki. Ketika kita merasa memiliki sesuatu dan menyayangi sesuatu, maka dengan sepenuh hati kita berusaha melindungi dan merawat hal tersebut. Perasaan ikhls tanpa pamrih akan sendirinya muncul jika kita berkorban untuk sesuatu yang kita sayangi. Dalam bahasa inggris disebut dengan sense of belonging.

2. Wajib Melu Hangrungkepi ( wajib ikut membela)

Mengingat yang kita hadapai adalah milik kita, maka kita wajib membela dan melindungi hal tersebut secara suka rela.

3. Mulat Sariro Hangroso Wani (Mawas diri dan bersikap berani)

Mau mengevalusi diri dan bersikap jujur baik bagi diri kita sendiri maupun jujur terhadap orang lain. Apa yang dilakukan seyogyanya selaras antara pikiran perkataan dan perbuatan.

( dikutip dari More about Beyond Leadership, karangan Dr. Djoko Santoso Moeljono dengan perubahan seperlunya)

Artikel Terkait

Previous
Next Post »